Anda di halaman 1dari 31

LABORATORIUM FITOKIMIA

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Ketepeng Cina (Casia alata) dan Bunga Kecubung (Datura metel)

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 4
- Bobby Sugara

N111 13 064

- Dhelvy Delianty

N111 13 315

- Hutri Ardiyanto

N111 13 519

- Jeni Almasi

N111 13 076

- Nurul Iftikhan

N111 13 343

- Veronica Toban

N111 13 008

- Yunita Boron

N111 13 040

Asisten : Asmawati

MAKASSAR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Sejak dahulu, tanaman telah menjadi bahan obat yang digunakan
oleh masyarakat. Bahan yang diolah dijadikan sebagai obat untuk
mengobat berbagai macam penyakit yang diperoleh dari berbagai macam
pengalaman serta turun menurun dari nenek moyangnya. Pada saat itu
orang hanya tahu suatu khasiat tanaman berdasarkan dari cerita orang
yang lebih tua seperti dari ibu ke anaknya. Suatu tanaman obat sering
mempunyai khasiat yang berbeda dari tiap daerah (1).
Didaerah-daerah pedalaman, banyak masyarakat yang masih
menggunakan tumbuh-tumbuhan yang mereka anggap mempunyai
khasiat untuk pengobatan untuk beberapa penyakit tertentu, tanpa
pengetahuan

dasar.

Ada

beberapa

kasus,

dimana

masyarakat

menggunakan suatu obat, yang ternyata setelah diketahui zat aktifnya


melalui ekstraksi dan identifikasi komponen kimia, ternyata memberikan
efek yang berlawanan, hal ini tentunya membahayakan bagi jiwa manusia
(1).
Dari alasan tersebut di atas, maka dianggap perlu pengetahuan
yang cukup untuk mengenal berbagai macam tumbuhan yang berkhasiat
obat, mulai dari morfologi, kegunaan, prinsip-prinsip ekstraksi, isolasi dan

identifikasi komponen kimia yang terdapat dalam suatu simplisia,


khususnya bagi seorang farmasis (1).
I.2 Maksud Percobaan
Maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui
metode penentuan kimia secara kromatografi lapis tipis.
I.3 Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk menentukan
campuran senyawa fase dengan metode kromatografi lapis tipis dan untuk
mengetahui nilai Rf dari sampel Ketepeng Cina (Casia alata) dan Bunga
Kecubung (Datura metel).
I.4 Prinsip Percobaan
Suatu metode pemisahan komponen kimia yang berdasarkan
prinsip partisi dan adsorpsi secara selektif, komponen kimia bergerak naik
mengikuti cairan pengembang karena daya serap adsorben terhadap
komponen-komponen kimia tidak sama maka komponen dapat bergerak
dengan kecepatan yang berbeda dan hal inilah yang menyebabkan
terjadinya pemisahan. Pemisahan senyawa pada ekstrak daun sirih
dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menggunakan silika gel GF
254 sebagai fase diam dan fase gerak campuran hexan-eti asetat 10 : 1
(non polar) dan 2 : 3 (polar).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan
Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar,
selain

kromatografi

kertas

dan

elektroforesis.

Berbeda

debgan

kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas di


dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan
yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung
oleh lempeng kaca, plat aluminium atau plat plastik. Meskipun demikian,
kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari
kromatografi kolom. (1)
Kromatografi
campuran

Lapis

senyawa

Tipis

menjadi

(KLT)
senyawa

merupakan
murninya

cara

pemisahan

dan

mengetahui

kuantitasnya yang menggunakan lempeng . Kromatografi juga merupakan


analisis cepat yang memerlukan bahan yang sangat sedikit, baik penyerap
maupun cuplikannya. (2)
KLT dapat dipakai untuk dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya
sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif.
Kedua, dipakai untuk menjajaki system pelarut dan system penyangga

yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja
tinggi. (2)

Adapun manfaat dari Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yaitu :


1. Pemeriksaan kualitatif dan kemurnian senyawa obat.
2. Pemeriksaan simplisia hewan dan tanaman.
3. Pemeriksaan komposisi dan komponen aktif sediaan obat.
4. Penentuan kualitatif masing-masing senyawa aktif campuran senyawa
obat.
II.2. Pelaksanaan KLT
1. Fase Diam (1)
Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap
berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 m.
Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semakin
sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT
dalam hal efisiensi dan resolusinya.
Penjerap yang paling sering digunakan adalah silika dan
serbuk selulosa, sementara mekanisme yang utama pada KLT
adalah adsorpsi dan partisi.
Beberapa contoh penyerap yang digunakan untuk pemisahan
dalam kromatografi lapis tipis adalah sebagai berikut : (2)
1. Silika gel
Ada beberapa jenis silika gel, yaitu :

a. Silika gel G
Silika gel G adalah silika gel yang mengandung 13 %
kalsium sulfat sebagai perekat. Jenis silika gel ini biasanya
mengandung ion logam, terutama ion besi. Kandungan ion besi
dapat dihilangkan dengan mengembangkan plat TLC silika gel G
dengan sstem pelarut metanol : asam HCl pekat 9 : 1.
b. Silika gel H
Perbedaan silika gel G dan silika gel H ialah, bahwa silika
gel H tidak mengandung perekat kalsium sulfat. Silika gel H
dipakai untuk pemisahan yang bersifat spesifik, terutama lipida
netral.
c. Silika gel PF
Jenis silika gel ini diketemukan belakangan, yang dibuat
sedemikian rupa sehingga senyawa-senyawa organik terikat
pada plat ini dapat mengadakan fluoresensi. Oleh karena itu
visualisasinya dapat dikerjakan dengan menempatkan plat yang
telah dikembangkan di dalam ruangan gelap atau dengan sinar
ultra violet yang bergelombang pendek.
2. Alumina
Penggunaan

alumina

dalam

TLC,

yang

semula

diperkenalkan oleh peneliti dari Cekoslowakia, tidak sesering


silika gel. Sebenarnya alumina netral mempunyai kemampuan
untuk memisahkan bermacam-macam senyawa, seperti terpena,

alkaloid, steroid, dan senyawa-senyawa alisklik, alifatik, serta


aromatik. Sebagai zat perekat alumina tidak mengandung zat
perekat, memepunyai sifat alkalis dan dapat digunakan baik
tanpa maupun dengan aktivasi. (3)
3. Kieselguhr
Kieselguhr merupakan adsorben yang lebih lemah dari
silika gel dan alumina, oleh karena itu lebih cocok untuk
memisahkan senyawa-senyawa polar (4)
Penjerap

Mekanisme sorpsi

Silika gel

Adsorpsi

Penggunaan
As.amino, hidrokarbon,
vitamin, alkaloid
Senyawa-senyawa non

Silika + hidrokarbon

Partisi termodifikasi
polar
As.amino, nukleotida,

Serbuk selulosa

Partisi
karbohidrat
Hidrokarbon,ion logam,

Alumina

Adsorpsi

pewarna makanan,
alkaloid
Gula, asam-asam

Kieseguhr

Partisi
lemak
As.nukleat, nukleotida,

Selulosa penukar ion

Pertukaran ion

halida dan ion-ion


logam
Polimer, protein,

Gel sephadex

Ekslusi
kompleks logam
Interaksi adsorpsi,

-siklodekstrin

Campuran enansiomer
stereospesifik

2. Fase Gerak
Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering
dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar.
Sistem yang paling sederhana ialah campuran 2 pelarut organik karena
daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian
rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Berikut adalah
beberapa petunjuk dalam memilih dan mengoptimasi fase gerak :
a. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena
KLT teknik yang sensitif.
b. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga
Rf terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.
c. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti
silika gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi
solute yang berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut
yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non
polar seperti metil benzene akan meningkatkan harga Rf secara
signifikan.
d. Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan campuran
pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan metanol
dengan perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam etanoat
atau ammonia masing-masing akan meningkatkan solute-solut yang
bersifat basa dan asam. (1)
3. Aplikasi (Penotolan) Sampel

Untuk memperoleh roprodusibilitas, volume sampel yang ditotolkan


paling sedikit 0,5 l. Jika volume sampel yang ditotolkan lebih besar dari
2-10 l, maka penotolan harus dilakukan secara bertahap dengan
dilakukan pengeringan antar totolan. (1)
4. Pengembangan
Bila sampel telah ditotolkan maka tahap selanjutnya adalah
mengembangkan sampel dalam bejana kromatografi yang sebelumnya
telah dijenuhi dengan uap fase gerak. Tepi bagian bawah lempeng tipis
yang telah ditotoli sampel dicelupkan kedalam fase gerak kurang lebih
0,5-1 cm. Tinggi fase gerak dalam bejana harus dibawah lempeng yang
telah berisi totolan sampel.
Bejana kromatografi harus tertutup rapat dan sedapat mungkin volume
fase gerak sedikit mungkin (akan tetapi harus mampu mengelusi lempeng
sampai ketinggian lempeng yang telah ditentukan). Untuk melakukan
penjenuhan fase gerak, biasanya bejana dilapisi dengan kertas saring.
Jika fase gerak telah mencapai ujung dari kertas saring, maka dapat
dikatakan bahwa fase gerak telah jenuh. (1,4)
Gambar berikut ini menunjukkan posisi dari totolan sampel,
posisi lempeng dalam bejana serta ketinggian eluen dalam
bejana :

Gambar 1 : Lempeng dalam beaker(chamber) dengan


garis pembatas
penotolan sampel dan batas eluen.

Gambar 2 : Lempeng dengan penunjukan kenaikan bercak dan batas


atas pengelusian.
5. Deteksi Bercak
Deteksi bercak pada KLT dapat dilakukan secara kimia dan fisika.
Cara kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak
dengan suatu pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak
menjadi jelas. Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan

bercak adalah dengan dengan cara pencacahan radioaktif dan fluorosensi


sinar ultraviolet. Fluorosensi sinar ultraviolet terutama untuk senyawa
yang dapat berfluorosensi, membuat bercak akan terlihat jelas.
Berikut adalah cara-cara kimiawi untuk mendeteksi bercak :
a. Menyemprot lempeng KLT dengan reagen kromogenik yang
akan

bereaksi

secara

kimia

dengan

solute

yang

mengandung gugus fungsional tertentu sehingga bercak


menjadi

berwarna.

Kadang-kadang

dipanaskan

terlebih

dahulu untuk mempercepat reaksi pembentukan warna dan


intensitas warna bercak.
b. Mengamati lempeng dibawah

lampu

ultraviolet

yang

dipasang panjang gelombang emisi 254 atau 366 untuk


menampakkan solut sebagai bercak yang gelap atau bercak
yang berfluorosensi terang pada dasar yang berfluorosensi
seragam. Lempeng yag diperdagangkan dapat dibeli dalam
bentuk

lempeng

yang

sudah

diberi

dengan

senyawa

fliorosen yang tidak larut yang dimasukkan ke dalam fase


diam untuk memberikan dasar fluorosensi atau dapat pula
dengan menyemprot lempeng dengan reagen fluorosensi
setelah dilakukan pengembangan.
c. Menyemprot lempeng dengan asam sulfat pekat atau asam
nitrat pekat lalu dipanaskan untuk mengoksidasi solut-solut
organik yang akan nampak sebagai bercak hitam sampai
kecoklat-coklatan.

d. Memaparkan lempeng dengan uap iodium dalam chamber


tertutup.
e. Melakukan scanning pada permukaan lempeng dengan
densitometer, suatu instrument yang dapat mengukur
intensitas

radiasi

yang

direfleksikan

dari

permukaan

lempeng ketika disinari dengan lampu UV atau lampu sinar


tampak. Solut-solut yang mampu menyera[p sinar akan
dicatat sebagai puncak (peak) dalam pencatatan (recorder).
(1,4)
Reagen yang umum digunakan sebagai penampak bercak
dalam KLT dapat dibedakan menjadi 2, yaitu reagen umum (yang
berlaku untuk hampir semua senyawa organik) sebagaimana
ditunjukkan tabel 1 dan reagen spesifik yang hanya mendeteksi
jenis atau golongan senyawa tertentu (tabel 2).
Tabel 1
Beberapa reagen umum yang digunakan pada KLT
Metode deteksi
Asam fosfomolibdat
+ pemanasan

Warna bercak solut


Biru gelap

Penggunaan
Beberapa senyawa
organik

Asam sulfat pekat +


pemanasan

Hitam kecoklatan

Semua senyawa
organik

Uap iodium

Coklat

Beberapa senyawa
organik

Tabel 2
Beberapa reagen spesifik yang digunakan pada KLT
Metode deteksi
Ninhidrin
2,4-dinitrofenil

Warna bercak solut


Pink ke ungu
Orange/merah

Penggunaan
Asam-asam amino
Senyawa-senyawa

hidrazon
Bromokresol

Kuning

karbonil
Asam-asam organik

hijau/biru
2,7-Fluoresein
Vanilin/asam asetat
Rhodamin B

Kuning-kehijauan
Merah/hijau/pink
Berfluoresensi

Senyawa organik
Alkohol, keton
Lemak

Anisaldehid/antimon

merah
Berbagai macam

Steroid

triklorida
Difenil amin/seng

Berbagai macam

Pestisida

6. Perhitungan Nilai Rf

Gambar 3 : Perbandingan jarak bercak dan jarak tempuh eluen


Faktor retensi (Rf) adalah jarak yang ditempuh oleh komponen
dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh eluen, dengan persamaan :
Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut

Nilai

Rf

dinyatakan

hingga

angka

1,0

beberapa

pustaka

menyatakan nilai Rf yang baik yang menunjukkan pemisahan yang cukup


baik adalah berkisar antara 0,2-0,8. (4)
Beberapa faktor yang mempengaruhi nilai Rf adalah :

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Pelarut
Bahan pengembang (jenis dan ketebalan lapisan)
Kejenuhan ruangan akan pelarut
Kelembaban udara
Konsentrasi
Komposisi larutan diperiksa
Panjang trayek migrasi
Senyawa asing
Ketidak homogenan kertas
Arah serabut kertas
Mutu dan sifat dari lapisan adsorbsi dan kertas
Derajat kejenuhan bejana pemisah

BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah batang pengaduk, aluminium foil,
botol eluen, pipa kapiler, camber, penutup camber, pipet tetes, lempeng,
lampu UV, penggaris, pensil, beaker, gelas ukur, cutter.
III.1.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan adalah air suling, ekstrak larut


heksan ketepeng cina (Cassia alata) , ekstak larut BJA ketepeng cina
(Cassia alata) , ekstrak asli daun ketepeng cina (Cassia alata), dan
ekstrak larut heksan bunga kecubung (Datura metel), ekstak larut BJA
bunga kecubung (Datura metel) , ekstrak asli daun (Datura metel) , etil
asetat, metanol, kloroform, heksan.
III.2 Cara Kerja
III.2.1. Ketepeng Cina ( Cassia alata)
a. Penyiapan Lempeng KLT
1. Lempeng KLT diaktifkan dalam oven
2. Lempeng dikeluarkan dan digunting dengan ukuran tertentu
3. Lempeng siap digunakan.
b. Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dilarutkan sampel ketepeng cina (Cassia alata) dalam vial dengan
pelarut yang telah ditentukan (dalam hal ini ekstrak awal, ekstrak
larut heksan dan ekstrak larut BJA).
3. Masing-masing ekstrak ditotolkan pada lempeng yang telah
disediakan
4. Dimasukkan eluen ke dalam chamber dengan perbandingan 3:1.
5. Eluen dijenuhkan dengan kertas saring
6. Lempeng yang telah ditotolkan dengan ekstrak kemudian dielusi
sampai tanda batas atas
7. Lempeng diangkat dari chamber, biarkan sampai pelarutnya
menguap
8. Amati pada UV 366/254
9. Hitung nilai Rfnya.

III.2.2. Bunga Kecubung ( Datura metel)


a. Penyiapan Lempeng KLT
1. Lempeng KLT diaktifkan dalam oven
2. Lempeng dikeluarkan dan digunting dengan ukuran tertentu
3.Lempeng siap digunakan.
b. Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dilarutkan sampel bunga kecubung (Datura metel)dalam vial
dengan pelarut yang telah ditentukan (dalam hal ini ekstrak awal,
ekstrak larut heksan dan ekstrak lartu BJA).
3. Masing-masing ekstrak ditotolkan pada lempeng yang telah
disediakan
4. Dimasukkan eluen ke dalam chamber dengan perbandingan 2:1.
5. Eluen dijenuhkan dengan kertas saring
6. Lempeng yang telah ditotolkan dengan ekstrak kemudian dielusi
sampai tanda batas atas
7. Lempeng diangkat dari chamber, biarkan sampai pelarutnya
menguap
8. Amati pada UV 366/254
9. Hitung nilai Rfnya.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Gambar Pengamatan
LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Alat yang digunakan

Alat yang digunakan untuk


mengelusi

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Ekstrak yang digunakan


(ekstrak awal, ekstrak-heksan,
ekstrak BJA)

Ekstrak larut Cassia alata

Hasil KLT ketepeng cina pada


lampu UV 366

Bahan yang digunakan

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Hasil KLT pada lampu UV 254

Proses penyemprotan dengan


H2SO4

Hasil KLT penyemprotan


H2SO4

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM FITOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

KLT non polar ketepeng Cina


UV 254

KLT heksan: etil asetat 1:1


bunga kecubung

KLT heksan: etil asetat 2:1


ketepeng Cina

LABORATORIU
M FITOKIMIA
FAKULTAS
FARMASI
UNIVERSITAS
HASANUDDIN

KLT polar UV
254 bunga
kecubung

LABORATORI
UM FITOKIMIA
FAKULTAS
FARMASI
UNIVERSITAS
HASANUDDIN

KLT polar UV
366 bunga
kecubung

LABORATORI
UM
FITOKIMIA
FAKULTAS
FARMASI
UNIVERSITA
S
HASANUDDI
N

KLT heksan:
etil asetat 1:1
bunga
kecubung

Laboratorium Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

KET: Profil KLT Ekstrak


bunga kecubung

Laboratorium Fitokimia
Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

KET: Profil KLT Ekstrak


ketepeng Cina
IV.2 Perhitungan

IV.2.1. Eluen non polar


Rf noda ekstrak awal
Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
2,54 cm
=
5,8 cm
=

0.438

Rf noda larut heksan


Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
2,74 cm
=
5,8 cm
=

0,473

Rf noda larut butanol jenuh air


Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
1,52 cm
=
5,8 cm
=

0,263

IV.2.2. Eluen polar


Rf noda ekstrak awal
Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut

5,4 cm
=
5,7 cm
=

0.948

Rf noda larut heksan


Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
5,5 cm
=
5,7 cm
=

0,965

Rf noda larut butanol jenuh air


Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
4,61 cm
=
5,7 cm
=

0,81

BAB V
PEMBAHASAN
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan kromatografi yang
menggunakan lempeng gelas atau alumunium yang dilapisi dengan
lapisan tipis alumina, silika gel, atau bahan serbuk lainnya.Kromatografi
lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponen-komponen atas dasar
perbedaan

adsorpsi

oleh

fase

diam

di bawah

gerakan

pelarut

pengembang.Percobaan yang dilakukan kali ini adalah kromatografi lapis tipis.


Dalam percobaan ini, langkah awal yang dilakukan adalah menyiapkan pelat
KLT yang permukaannya telah terdapat zat penyerap (adsorben) yaitu
silika gel. Pada umumnya silika gel digunakan sebagai fase diam. Salah
satu alasan mengapa digunakan silika gel adalah karena ukuran partikelnya. Untuk
meningkatkan hasil dari suatu pemisahan diperlukan penyerap yang butirannya halus.
Alasan lainnya yaitu permukaan silika gel sangat polar dan karenanya gugus
-OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang
sesuai di sekitarnya.
Pada percobaan ini terlebih dahulu Lempeng yang akan digunakan
harus diaktifkan terlebih dahulu. Pengaktifan lempeng bertujuan untuk
mengurangi kadar air (gugus OH) silika gel agar pada proses elusi

lempeng silika gel dapat menyerap dan berikatan dengan sampel namun
tidak membentuk ikatan hidrogen sehingga sulit dielusi oleh pelarut/eluen
(pengembang) yang digunakan. Pengaktifan lempeng dilakukan dalam
oven. Sebagai fase gerak digunakan eluen non polar yaitu heksan : etil
asetat sebanyak 3 : 1 dan eluen polar yaitu metanol : kloroform sebanyak
4 : 1. Eluen yang digunakan merupakan kombinasi dari dua atau tiga
macam pelarut, hal ini dimaksudkan untuk mencapai semua tingkat
kepolaran sehingga diharapkan eluen ini dapat mengangkat noda dengan
tingkat kepolaran yang berbeda-beda pula. Dengan perbandingan jumlah
pelarut yang digunakan adalah perbandingan yang didasarkan pada
perhitungan bahwa eluen tersebut dapat menarik komponen kimia yang
maksimal. Namun jika pada penampakan noda belum didapat jumlah
noda yang maksimal atau posisi noda yang terlalu ke atas atau ke bawah
maka perbandingan eluen yang digunakan dapat dimodifikasikan kembali.
Selanjutnya lempeng dielusi di chamber berisi eluen yang terlebih dahulu
sudah dijenuhkan menggunakan kertas saring. Chamber diketahui jenuh
bila kertas saring yang dimasukkan ke dalam chamber telah basah
semua. Tujuan penjenuhan chamber ini yaitu untuk menghilangkan uap air
atau gas lain yang mengisi fase penjerap yang akan menghalangi laju
eluen.Kemudian lempeng tersebut diberi batas atas 0,5 cm dan batas
bawah 1 cm. Batas bawah digunakan untuk menotolkan sampel. Tujuan
diberi batas bawah ini adalah untuk mencegah agar sampel tidak sampai
tercelup dan larut dalam eluen. Batas atas digunakan untuk mengakhiri

proses elusi

yang ditandai bahwa migrasi eluen sampai tanda batas.

Proses migrasi eluen ini diharapkan agar sampel juga ikut bermigrasi
keatas. Selain itu juga batas atas dan batas bawah pelat harus diberi
tanda dengan pensil karena jika menggunakan bolpoin maka noda bolpoin
akan ikut terelusi atau mengembang. Setelah jenuh, masing-masing
ekstrak ( awal, larut heksan dan larut BJA).
Lempeng yang telah dielusi selanjutnya dikeringkan dan diamati
noda-noda yang tampak pada lampu UV 254 nm dilanjutkan ke lampu UV
366 nm. Penampakan noda pada lampu UV 254 nm dan 366 nm adalah
karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor
yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut. Yang
dimaksud dengan gugus kromofor adalah suatu gugus fungsi yang
memiliki peranan menyebabkan suatu senyawa memiliki warna. Gugus
kromofor juga merupakan
menyerap

radiasi

dalam

gugus kovalen tidak jenuh yang dapat


daerah

UV-Vis.

Sedangkan

auksokrom

merupakan gugus fungsi yang mempunyai peranan untuk memberikan


warna yang lebih intensif pada suatu senyawa. Auksokrom tidak lepas
kaitannya dengan adanya kromofor di dalam senyawa tersebut.
Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang
dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari
tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali
ke keadaan semula sambil melepaskan energi.

Energi inilah yang

menyebabkan perbedaan fluoresensi warna yang dihasilkan oleh tiap

noda. Bedanya, pada UV 254 warna noda yang nampak adalah berwarna
gelap karena lempeng yang digunakan adalah lempeng dengan penjerap
silika gel GF 254 yang berfluorosensi pada lampu UV 254 nm sehingga
penjerap disekitar noda berfluorosensi terang sedangkan nodanya
berwarna gelap

atau dengan

kata

lain

yang

berpendar adalah

lempengnya. Sedangkan pada lampu UV 366 nm, penjerap tidak


berfluorosensi sehingga yang berfluorosensi benar-benar adalah noda
sehingga warna noda yang tampak adalah terang atau dengan kata lain
nodanya yang berpendar.
Untuk menghindari noda berekor, maka ekstrak yang ditotolkan
dibuat dalam konsentrasi yang rendah. Apabila konsentrasi ekstrak terlalu
pekat maka akan diperoleh noda yang berekor atau bertumpuk.
Setelah dilihat penampakan noda-nodanya, maka diukur jarak noda
dari titik awal (batas bawah) serta jarak eluen. Hasilnya akan digunakan
untuk menentukan harga Rf.
Dari hasil percobaan didapatkan pemisahan dengan eluen polar
lebih baik dibandingkan dengan eluen nonpolar

BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Untuk kedua sampel didapatkan eluen terbaik untuk bunga
kecubung yaitu heksan:etil asetat 1:1. Dan eluen untuk ketepeng cina
yaitu heksan: etil asetat 1:2.
VI.2 Saran
a. Laboratorium
Diharapkan agar dapat melengkapi alat-alat di laboratorium
sehingga pelaksanaan praktikum dapat berjalan dengan efisien dan
efektif.
b. Asisten
Diharapkan

kepada

semua

kakak

asisten

aga

bisa

lebih

menjelaskan baik itu pada saat pengumpulan laporan maupun pada saat
mendampingi dalam praktikum, terkait dengan percobaan yang sedang
dilakukan.
c. Praktikum
Diharapkan untuk kedepannya agar semua metode yang ada bisa
dipraktekkan.

LAMPIRAN
SKEMA KERJA
Persiapan lempeng KLT
Disiapkanalatdanbahan lempeng

Lempeng dipotong dengan ukuran 2x7 cm dan diberi batas atas dan batas
bawah pada lempeng.

Dijenuhkan dengan pelarut (eluen) di dalam chamber dengan


mencampurkan pelarut heksan : etil asetat dengan perbandingan (3:2)

Diambil sedikit ekstrak (ekstrak awal dan ekstrak hasil partisi). Masing
masing dimasukkan ke dalam botol vial yang berbeda. Ekstrak awal,
ekstrak larut heksan dan ekstrak larut BJA dilarutkan dengan metanol.

Ditotolkan ekstrak yang dilarutkan pada lempeng yaitu ekstrak awal,


ekstrak larut heksan dan ekstrak larut BJA.

Dimasukkan ke dalam chamber hasil totolan sampai eluennya


mencapai batas atas.

Diamati di bawah sinar UV.

DAFTAR PUSTAKA
1. Steenis, C. G. G. J. van., (1988),Flora : Untuk Sekolah Di Indonesia,
PT Pradnya Paramitha, Jakarta.
2. Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi
Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
3. Anonim. http:// repository.usu.ac.id/ bitstream/ 123456789/ 21191/ 4/
4.

Gritter, Roy J. dkk. (1991). Pengantar Kromatografi Edisi II. Penerbit ITB :
Bandung.
5. Anonim. http://www.scribd.com/doc/54821830/11/ Spektrofotometer
UV-Vis. Diakses pada tanggal 23 Maret 2015
6. DEPKES

RI.,

(1989),

Sediaan

Galenik,

Direktorat

Jenderal

Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.


7. Sudjadi, (1994), Metode Pemisahan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
8. Syamsuhidayat S. dan Ria J. 1991. Inventarisasi Tanaman Obat
Indonesia. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
9. Tjtrosoepomo, G. 2005.Morfologi tumbuhan.Yogyakarta :Gadjah Mada
University.

LAMPIRAN
SKEMA KERJA
Persiapan lempeng KLT
Disiapkanalatdanbahan lempeng

Lempeng dipotong dengan ukuran 2x7 cm dan diberi batas atas dan batas
bawah pada lempeng.

Dijenuhkan dengan pelarut (eluen) di dalam chamber dengan


mencampurkan pelarut heksan : etil asetat dengan perbandingan (3:2)

Diambil sedikit ekstrak (ekstrak awal dan ekstrak hasil partisi). Masing
masing dimasukkan ke dalam botol vial yang berbeda. Ekstrak awal,
ekstrak larut heksan dan ekstrak larut BJA dilarutkan dengan metanol.

Ditotolkan ekstrak yang dilarutkan pada lempeng yaitu ekstrak awal,


ekstrak larut heksan dan ekstrak larut BJA.

Dimasukkan ke dalam chamber hasil totolan sampai eluennya


mencapai batas atas.

Diamati di bawah sinar UV.