Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum Farmakokinetika

Analisis Obat dalam Darah

Disusun oleh:
Kelompok 1 Siang
Ayu Intansari R. Putri

1206225201

Binerta Bai Agfa

1206222805

Fikry Dwi Anjani

1206211083

Rosita Kurniawan

1206260053

Sarah

1206228670

Tahmida Diazputri Utami

1206230422

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014

I. TUJUAN
a

Mahasiswa diharapkan mampu menganalisis obat dalam darah secara in vitro.

Mahasiswa diharapkan mampu menggunakan data yang diperoleh untuk


mendapatkan persamaan farmakokinetiknya.

II. PRINSIP KERJA


Darah dipisahkan dari proteinnya dengan menggunakan TCA. Plasma darah
diasamkan dengan HCl dan ditambahkan Natrium Nitrit. Lalu diberikan asam sulfamat
dan terakhir larutan NaOH. Senyawa diazo yang terbentuk diukur dengan
spektrofotometer. Data yang diperoleh digunakan untuk menyusun persamaan
farmakokinetika dan memprediksi cara pemberian tersebut.
III.

TEORI DASAR
Untuk memberikan efek biologis, obat dalam bentuk aktifnya harus berinteraksi

dengan reseptor, tempat aksi atau sel target dengan kadar yang cukup tinggi. Sebelum
mencapai reseptor, obat terlebih dahulu harus melalui proses farmakokinetik. Fasa
farmakokinetik meliputi proses fasa II dan fasa III. Fasa II adalah proses absorbsi
molekul obat yang menghasilkan ketersediaan biologis obat, yaitu senyawa aktif dalam
cairan darah yang akan didistribusikan ke jaringan atau organ tubuh. Fasa III adalah fasa
yang melibatkan proses distribusi, metabolism dan ekskresi obat, yang menentukan
kadar senyawa aktif pada kompartemen tempat reseptor berada.
Faktor-faktor penentu dalam proses farmakokinetik adalah:
1. Sistem kompartemen dalam cairan tubuh, seperti: cairan intrasel, eksternal
(plasma darah, cairan interstisial, cairan cerebrospinal) dan berbagai fasa lipofil
dalam tubuh.
2. Protein plasma, protein jaringan dan berbagai senyawa biologis yang mungkin
dapat mengikat obat.
3. Distribusi obat dalam berbagai sistem kompartemen biologis, terutama
hubungan waktu dan kadar obat dalam berbagai sistem tersebut, yang sangat
menentukan kinetika obat.

4. Dosis sediaan obat, transport antar kompartemen seperti proses absorbs,


bioaktivasi, biodegradasi dan ekskresi yang menentukan lama obat dalam tubuh
(Siswandono, 1998)
Konsentrasi obat adalah elemen penting untuk menentukan farmakokinetik suatu
individu maupun populasi, konsentrasi obat diukur dalam sampel biologi seperti air
susu, saliva, plasma dan urin. Sensitivitas, akurasi, dan presisi dari metode analisis
harus ada untuk pengukuran Secara langsung obat dalam matriks biologis. Untuk itu
metode penetapan kadar Secara umum perlu divalidasi sehingga informaasi yang akurat
didapatkan untuk monitoring farmakokinetik dan klinik (Shargel, 1999).
Pengukuran konsentrasi obat di darah, serum atau plasma adalah pendekatan
secara langsung yang paling baik untuk menilai farmakokinetik obat tubuh. Darah
mengandung elemen seluler mencakup sel darah merah, sel darah putih, keeping darah
dan protein seperti albumin dan globulin. Pada umumnya serum atau plasma digunakan
untuk pengukuran obat. Untukmendapatkan serum, darah dibekukan dan serum diambil
dari supernatant setelah disentrifugasi. Plasma diperoleh dari supernatant darah yang
disentrifugasi dengan ditambahkan heparin. Oleh karena ituserum dan plasma tidak
sama. Plasma mengalir keseluruh jaringan tubuh termasuk semua elemen seluler darah.
Dengan berasumsi bahwa obat di plasma dalam kesetimbangan equilibrium dengan
jaringan, perubahan konsentrasi obat akan merefleksikan perubahan konsentrasi obat di
jaringan (Shergel, 1999).
Dalam sebuah analisis obat dalam cairan hayati, ada hal-hal penting dalam
farmakokinetik yang digunakan sebagai parameter-parameter, antara lain yaitu:
1. Tetapan laju invasi atau tetapan absorpsi.
2. Volume distribusi menghubungkan jumlah obat di dalam tubuh dengan
konsentrasi obat (C) di dalam darah atau plasma.
3. Ikatan protein.
4. Laju eliminasi dan waktu paruh dalam plasma (t ).
5. Bersihan (Clearance) renal, ekstrarenal dan total.
6. Luas di bawah kurva dalam plasma (AUC), dan
7. Ketersediaan hayati.

IV.

ALAT DAN BAHAN


A. ALAT

B. BAHAN

1. Alat Sentrifugasi

1. Asam triklorasetat (TCA) 50%

2. Vortex

2. Natrium nitrit 10% (dibuat

3. Stopwatch

baru)

4. Spektrofotometer UV-Vis

3. Asam sulfamat 15%

5. Tabung reaksi

4. Asam klorida 6 N

6. Pipet volume

5. Sampel darah

7. Pipet ukur

6. Antikoagulan

8. Labu takar 10,0 ml

7. Parasetamol baku

9. Balon karet

8. NaOH 10%

C.
V. PROSEDUR KERJA
a. Prosedur Penetapan Kadar
1. Sampel darah diambil sebanyak 2,0 ml pada jam ke 0,25; 0,5; 1,0; 2,0;
4,0; 6,0; 9,0; dan 12,0.
2. Dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge darah, lalu ditambahkan 2,0
ml TCA 50% kemudian di sentrifuge selama 7 menit dengan kecepatan
4000 rpm.
3. Dipipet 1,0 ml bagian supernatan yang jernih, lalu dimasukkan ke
dalam tabung reaksi lain. Ditambahkan 0,5 ml HCl 6N serta 1,0 ml
NaNO2 10%. Diamkan selama 5 menit.
4. Ditambahkan dengan hati-hati larutan asam sulfamat 15% sebanyak
1,0 ml, kemudian ditambahkan larutan NaOH 10% sebanyak 2,5 ml.
Didiamkan selama 3 menit di dalam beaker berisi es.
5. Serapan diukur dengan spektrofotometer pada maksimum 435 nm.
D.
b. Uji Perolehan Kembali
E.

Buat campuran plasma dengan larutan baku parasetamol sehingga

diperoleh kadar parasetamol dengan konsentrasi 10,052 ppm, 100,52 ppm,


dan 502,6 ppm. Tetapkan kadar masing-masing sampel terhadap baku
parasetamol, nilai UPK, serta kesalahan sistematik untuk tiap besaran
kadar.
F.
G.

VI. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


H. A. Data Kurva Kalibrasi
I. Tabel 1. Data kurva kalibrasi pada max 435 nm

J. Konsentrasi
(ppm)

K. Serapan (A)

L. 100

M. 0,233

N. 200

O. 0,312

P. 300

Q. 0,488

R. 400

S. 0,522

T. 500

U. 0,613

V. 600

W. 0,718

X.
Y.

Kurva Kalibrasi pada max 436 nm


0.6

0.55

0.5
0.4
Serapan (A)

0.39

0.3

0.29

0.2

0.15
0.12

0.1
0
0

200

400

600

800

1000

Konsentrasi (ppm)

Z.

Gambar 1. Kurva kalibrasi sampel darah pada max 436 nm

1200

AA.
AB.
AC.
AD.
AE.

Dengan data tersebut didapatkan:


b = x 10-4

AF.a = 0,
AG.

r = 0,

Persamaan linear kurva kalibrasi:


AH.

y = a + bx
AI. y = + x

AJ. Keterangan :
AK.

a = intersep

b = slope

x = konsentrasi (ppm)

= serapan (A)
AL.
AM.

B. Data Serapan Sampel


AN.

AO.

Tabel 2. Data serapan sampel pada max 435 nm


AP.Sera

Jam ke-

pan

AQ.

AR.

Cp

(A)

(pp

AS.

Cp

C
p - Cp

(pp

(ppm)

AT.0,25

AU.

m)
AV.1360

AW.

AX.

AY.0,50

1,452
AZ.

BA.

1175
BB.

BC.

BD.

1,300
BE.

1202
BF.1182

1145
BG.

BK.

1095
BL.

BM.

BO.

852
BP.812

BQ.

BR.

0,925
BT.0,76

BU.

BV.

BW.

CA.

CB.

CG.

1,0
BI. 2,0

1,281
BJ. 0,96
4

BN.
4,0
BS.6,0

5
BX.

BY.

645
BZ.

9,0
CC.

0,715
CD.

593
CE.

12,0

0,494

363

m)

CF.-

1
85
5
7

BH.

8
7

CH.
CI. Perhitungan Analisis
CJ. Kurva hubungan antara konsentrasi obat dalam plasma terhadap waktu
dapat dilihat pada lampiran (kertas semilog). Dari hasil ektrapolasi, didapatkan:
CK. A = 1192 g/ml

B = 240 g/ml

CL. Kdistribusi = a

Keliminasi = b

CM.

Konstanta Eliminasi
CN. b = ln C1 - ln C2
CO.

CP.

t2 - t1
= ln 645 ln 363
CQ.

CR.

12 - 9

b = 0,1916 jam -1

Konstanta Distribusi
CS.

a=

ln C1 - ln C2
CT.

CU.

t2 t1
= ln 1360 - ln 1182
CV.

CW.

1 0,25

a = 0,1870 jam -1

CX.

Waktu Paruh
CY. t = 0,693 = 0,693 = 3,6169 jam.
CZ.

0,1916

DA.

Persamaan Farmakokinetik
DB.

Cp = A e-at + B e-bt

DC.

Cp = e-0,1870t + e -0,1916t

DD.

Cp = e-0,1870x3,6169+ e -0,1916x3,6169
DE.

= g/ml

DF.

AUC (Area Under Curve)


DG. AUC = A + B = 1192 +

240 = 7626,9412 g.jam/ml

DH.

0,1870

0,1916

DI.

Volume Distribusi
DJ. Diketahui dosis tunggal 500 mg
DK.

VdArea = Db0

Vd Ekstrapolasi = Db0 = 500000 g = 2083,3333 ml

DN.

= 405,1747 ml

AUC.b 6440,6867 g.jam/ml x 0,1916 /jam

DL.
DM.

500000 g

240 g/ml

Klirens
DO.

Cl = b x Vd area

DP.

= 0,1916 jam x 405,1747 ml

DQ.

= 77,6315 ml/jam

DR.

Perhitungan UPK (Uji Perolehan Kembali)


DS.

Tabel 4. Hasil Perhitungan UPK dan Kesalahan Sistematik

DT.Konsent
rasi

DU.
Serapan

(ppm)

DY.

2
50

ED.

00
EI. 1000

(A)

DZ.
1,004
EE. 1,05
0
EJ. 1,32

DV.Kada
r
teruk
ur
(ppm
)

DW.
UPK
(%
)

EA.
89.446,89

EB. 6,3
2

EF. 94.23

EG. 12,

5,71

78

EK.
123.072,7
6

EL. 29,

87

DX.
Kesala
han
sist
em
ati
k
(%
)
EC. 93,
68

EH.
87,22
EM.
70,13

EN.
EO.

Perolehan Kembali

=
100% = R%

EP. Kesalahan sistematik


EQ.

= 100% - R%

ER.
Konsentrasi 10 ppm

0,137 - 0,0606 = 158,83 ppm


ES.
4,81 . 10-4

ET.
EU.

UPK =
EV.
EW.

EX.

x 100%
= 10,052 x 100% = 6,32%
158,83

Kesalahan sistematik

= 100% - 6,32% = 93,68%

EY.

EZ.
Konsentrasi 100 ppm

0,439 0,0606 = 786,89 ppm


FA.
4,81 . 10-4

FB.

FC.
UPK = 100,52
x 100% = 12,78%
FD.
786,69
FE.
Kesalahan sistematik = 100% - 12,78% = 87,22%
FF.
FG.
Konsentrasi 500 ppm = 0,870 0,0606 = 1682,74 ppm
FH.
4,81 . 10-4
FI.

VI.

FJ.
UPK = 502,6
x 100% = 29,87%
FK.
1682,74
FL.
Kesalahan sistematik = 100% - 29,87% =70,13%
FM.
PEMBAHASAN
FN.

Pada praktikum kali ini praktikan melakukan percobaan mengenai

analisa obat dalam darah. Tujuan dari praktikum ini adalah menetapkan kadar
parasetamol dalam darah yang terdapat sejumlah parasetamol yang dibuat dalam
konsentrasi tertentu, dan disiapkan dalam waktu sekitar 12 jam. Sampel darah
yang di ukur ada 7 buah yaitu untuk analisa pada jam ke 0,25; 0,5; 1,0; 2,0; 4,0;
6,0; 9,0 dan 12,0.
FO.

Obat yang akan dianalisa adalah parasetamol. Prinsip yang

digunakan dalam menetapkan kadar parasetamol dalam darah yaitu pembentukan


garam diazonium dari gugus amin aromatis sekunder yang terdapat pada
parasetamol. Pembentukan garam diazonium dilakukan dengan terlebih dulu
gugus amin sekunder ini dihidrolisis menjadi amin aromatis primer. Pembentukan

garam diazonium terjadi apabila suhu percobaan, baik itu suhu sampel dan reagen,
berkisar antara 5-15C.
FP.

Pada percobaan kali ini dibutuhkan reagen berupa TCA, HCl,

NaNO2, Asam Sulfamat, dan NaOH. Sampel darah harus dipisahkan terlebih
dahulu dari protein-protein darah dengan menggunakan TCA. TCA berfungsi
untuk mengendapkan protein darah sehingga didapatkan cairan jernih/supernatan
yang digunakan untuk proses selanjutnya. Supernatan yang diperoleh,
ditambahkan HCl untuk menghidrolisis gugus amin sekunder menjadi amin
aromatis primer pada parasetamol. Gugus tersebut akan bereaksi dengan NaNO 2
membentuk garam diazonium. Penambahan asam sulfamat pada reaksi
selanjutnya akan membentuk banyak busa. Asam sulfamat ini berguna untuk
memberikan suasana asam kuat pada reaksi diazotasi sehingga garam diazonium
bisa terbentuk sempurna. Penambahan NaOH 10% bertujuan untuk menetralkan
asam. Berdasarkan perhitungan analisis dan grafik yang diperoleh, menunjukkan
kadar parasetamol yang semakin menurun membentuk garis yang tidak linear
sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian obat ini adalah secara intravena
bolus (dua kompartemen). Dari grafik inilah dapat ditentukan nilai Vd, Cp, k e, kd,
t1/2, AUC dan Cl.
FQ.
FR.

Selain menetapkan kadar parasetamol dalam darah,

praktikan juga melakukan uji perolehan kembali (UPK) dan menghitung nilai
kesalahan sistematik dengan konsentrasi 10,052 ppm; 100,52 ppm; dan 502,6
ppm. Nilai UPK dan kesalahan sistematik yang kami dapatkan menunjukkan nilai
kesalahan sistematik yang begitu besar. Kesalahan ini kemungkinan disebabkan
oleh beberapa hal yaitu:
1. Kurang hati-hatinya praktikan dalam menambahkan reagen.
2. Kesalahan dalam prosedur pembacaan spektrometer Uv vis dimana masih
terdapatnya gelembung udara di dalam larutan supernatan.

3. Kurang jernihnya cairan supernatan yang dipipet, yang dapat mengganggu


pengukuran absorbansi.
4. Suhu yang kurang optimal untuk pembentukan garam diazonium.
FS.
VII.

KESIMPULAN
a. ke = 0,0345 jam -1
b. kd = 0,9511 jam -1
c. A = 1610 g/ml
d. B = 720 g/ml
e. Cp = 360,139 g/ml
f. t = 20,08 jam.
g. Vd area = 642,342 ml
h. Vd ekstrapolasi = 694,44 ml
i. AUC = 22562,342 g.jam/ml
j. Cl = 22,161 ml/jam

FT.
FU.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
FV. Mansur, Umar., dkk. 2011. Penuntun Praktikum Farmakokinetika.
Depok: Universitas Indonesia.
FW.Shargel, Leon, et. al. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan, edisi kedua. Surabaya: Aquadestlangga University Press.
FX.

IX. LAMPIRAN

FY.
FZ.