Anda di halaman 1dari 4

Bagi orang yang telah menempuh jalan makrifat, ia tidak butuh keistimewaan.

Keistimewaan yang mana? Sesungguhnya keistimewaan orang makrifat itu tidak


menurut pandangan manusia, namun menurut pandangan Allah. Sehingga engkau
tidak pernah tahu orang yang mendapat keistimewaan atau tidak.
Kalaupun ada orang yang mengaku dirinya sudah makrifat dan mempunyai
keistimewaan, misalnya doanya makbul mustajab, bisa meramal nasib, mengaku
bisa bertemu dengan roh yang sudah mati atau segala macam bualan, maka hal itu
merupakan suatu kebohongan.
Kadang orang terkesan dengan gaya bicara atau keanehan materi pembicaraan
oran tersebut tentang Allah yang konon dimakrifatinya itu. Sehingga orang awam
mengira bahwa dia sudah Makrifat.
Kita malah justru harus hati hati dengan seorang guru yang sering menceritakan
kehebatan kehebatannya, bisa inilah bisa itulah, ketemu sama inilah ketemu sama
itulah. guru yang demikian berarti ilmunya ketauhidannya belum sempurna karena
masih ada istilah aku.
Guru yang benar adalah guru yang sudah tidak mengunggulkan keakuannya.
Bagaimana Guru tersebut mau mengajarkan ilmu makrifat sedangkan dia sendiri
tidak mengamalkan ilmu makrifat yang dimiliki. Orang tidak boleh tertipu dan
terpedaya dengan adanya kekeramatan-kekeramatan ini sebelum dibuktikan
kuatnya syariat yang bersangkutan.
Kekeramatan ini tidak menjadi tujuan dan tidak pula menjadi ukuran.
Yang menjadi tujuan adalah dekat kepada Allah, mendapat ridla-Nya dan yang
menjadi ukurannya mengamalkan syariat dengan berhakikat sempurna.
Sesungguhnya ia telah sangat bersyukur kepada Allah, sebab baginya bisa
menjalankan wirid (amalan tertentu secara kontinu) merupakan warid (karunia yang
sangat besar dari Allah). Dia menyadari secara ikhlas, tanpa adanya warid (karunia)
maka ia tak akan mampu menjalankan wirid.
Jadi, kenikmatan menurut pandangan orang awam, barangkali berbeda dengan
kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang makrifat. Bagi orang makrifat,
pertolongan Allah yang membuatnya mampu menggerakkan dirinya secara kontinu
menjalankan wirid, merupakan karunia yang besar.
Orang yang makrifat sudah pasti ahlaknya baik, mampu mengendalikan hawa nafsu
dan senantiasa mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang positif. Jika kemudian
ada orang yang mengaku telah makrifat tapi ahlaknya masih buruk maka hal itu
jelas belum bermakrifat alias ngaku-ngaku saja.
Salah satu sumbangsih orang yang telah bermakrifat adalah mampu menegakan
perdamaian. Mereka memiliki toleransi yang tinggi terhadap sesamanya. Meski
berbeda pendapat bahkan berbeda keyakinan dengan orang lain, mereka tetap
akan menghormatinya. Mereka tidak akan berebut benar sebab kebenaran cuma
milik Allah semata.
Salahnya sangat sederhana tapi fatal, gara gara sudah mengenal Allah secara
ruhaniah kemudian menghentikan aktivitas sholatnya atau amal ibadah wajib
lainnya. Ingat bahwa kita terdiri dari dua unsur yaitu jasad dan Ruh, yang mengenal
itu bukan jasad yang mengenal itu adalah Ruh, sedangkan yang sholat bukanlah
Ruh saja tapi juga jasad. jadi meski sudah mengenal Allah tetap saja harus sholat.
Orang baru boleh tidak sholat lagi jika antara jasad dan Ruh sudah
terpisah, alias kalau sudah mati.
Jika orang tidak memahami unsur dalam diri ini maka dianggapnya bahwa ketika
sudah mengenal Allah maka tidak perlu lagi sholat. Untuk apa sholat toh sholat
tujuannya untuk mengenal Allah. Kalau sudah bisa ingat kepada Allah untuk apa

Sholat toh sholat tujuannya untuk mengingat Allah. inilah kesalahan orang dalam
bermakrifat kepada Allah, pokoknya selama kita ada jasad dan masih bersatu
dengan Ruh maka kewajiban kewajiban yang dilakukan jasad harus di lakukan
seperti apa yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Nah Fungsi makrifat sebenarnya adalah untuk beribadah, bukan setelah
bermakrifat malah meninggalkan ibadah. kalau kita beribadah dengan
mengenal Allah atau bermakrifat kepada Allah maka ibadah kita akan khusyu. tapi
jika beribadah tidak bermakrifat pasti tidak akan khusyu.
ilmu ini memang sekarang tergolong langka, jarang sekali ada seorang guru yang
mau mengajarkan ilmu ini kepada khalayak umum. Selain juga sedikit orang yang
memiliki kelebihan ilmu ini. saking langkanya ilmu ini maka banyak orang mencari
dan akhirnya tersesat. Semula mengira bahwa ia akan mengajarkan ilmu hakikat
makrifat ternyata mengajarkan yang bukan itu dan bahkan mengajarkan kesyirikan.
Buku buku yang membahas ilmu tersebut memang sudah banyak beredar namun
hal itu tidak dapat digunakan untuk pegangan dalam mempelajari ilmu ini. ilmu ini
adalah wilayah pengalaman sehingga harus diajarkan oleh seorang guru yang
memiliki pengalaman tentang hal tersebut. jadi hati hati lah untuk memilih guru,
kyai, syech..dst, kalau perlu test guru tersebut benar benar sudah makrifat atau
tidak atau hanya sekedar berilmu saja belum mengamalkan.
Makrifat bukanlah sekedar ilmu namun suatu kesadaran dengan sebenar benar
sadar bahwa tidak ada illah selain allah.
Orang kalau sudah makrifat sama allah dia akan lebih banyak diam sebab
wilayahnya adalah wilayah pengalaman pribadi jadi tidak untuk didiskusikan.
Seorang gurupun tidak mampu untuk memberikan kemampuan ini hanya saja
sang guru tersebut memberikan suatu metode masalah makrifat atau tidak itu
sangat tergantung dari Allah.
Allah lah yang akan memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dikehendaki
untuk memakrifati Dia. semoga kita diberi kemudahan Allah untuk mengenal NYa
Amin ya rabbal alamin.
Ada sebagian orang yang berpura-pura mengaku pengamal tasawuf tapi tidak
mengamalkan syariat. Yang demikian ini adalah sesat, karena sangat bertentangan
dengan Al Qur'an dan Al Hadis dan sangat bertentangan dengan kenyataan yang
dilaksanakan oleh para tokoh sufi pengamal tarikat Al Muktabarah. Pengakuanpengakuan yang demikian ini umumnya datang dari orang yang berpura- pura
pengamal tasawuf.
Para sufi menekankan peramalannya harus didasarkan kepada at Taslim
(penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT), At Tafwidh (berserah diri
sepenuhnya kepada Allah SWT), At Tabarri Minan Nafsi (Pembebasan diri dari hawa
nafsu), dan At Tauhid bil Khalqi wal Masyi'ah (mengesakan hanya Allah sajalah yang
Maha Pencipta dan Maha Berkehendak).
Pengamal tasawuf yang telah memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman
dan beribadat, ketentraman dan ketenangan adalah suatu bukti bahwa dia telah
menjalani atau menempuh jalan yang benar dan mengamalkan syariat yang haq.
Al Ghazali mengatakan, "Ketahuilah bahwa banyak orang yang mengaku, dia
adalah menempuh jalan (tarikat) kepada Allah, tapi yang sesungguhnya,
yang bersungguh-sungguh menempuh jalan itu adalah sedikit. Adapun
tanda orang yang menempuh jalan yang sungguh-sungguh dan benar,
diukur dari kesungguhannya melaksanakan syariat. Kalaupun ada orang
yang mengaku bertasawuf dan bertarikat dan telah menampakkan
semacam kekeramatan-kekeramatan, melalaikan atau tidak mengamalkan

syariat, ketahuilah bahwa itu adalah tipu muslihat, sebab orang yang
bijaksana (orang tasawuf) mengatakan : Jika kamu melihat seseorang
mampu terbang di angkasa dan mampu berjalan di atas air, tetapi ia
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka ketahuilah
bahwa sebenarnya ia itu adalah setan."
Abu Yazid Al Bustami, menyatakan : Andaikata kamu melihat seseorang yang
diberi kekeramatan hingga dapat naik ke udara, maka janganlah kamu
tertipu dengannya sehingga kamu dapat melihat dan meneliti bagaimana
dia melaksanakan perintah dan larangan agama serta memelihara
ketentuan-ketentuan hukum agama dan bagaimana dia melaksanakan
syariat agama.
Sahl at Tasturi At Tasturi mengungkapkan tentang pokok-pokok tasawuf yang
terdiri dari tujuh pokok jalan (tarikat), yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Berpegang kepada Al Kitab (Al Qur'an),


Mengikuti Sunnah Rasul,
Makan dari hasil yang halal,
Mencegah gangguan yang menyakiti,
Menjauhkan diri dari maksiat,
Selalu melazimkan tobat dan
Menunaikan hak-hak orang lain.

Junaid al Baghdadi Al Junaidi mengomentari orang yang mengaku ahli makrifat


tetapi dalam gerak geriknya meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan
meninggalkan mendekatkan diri kepada Allah, maka beliau mengatakan
"Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan".
Selanjutnya beliau mengatakan : Ucapan itu adalah ucapan suatu kaum yang
mengatakan adanya pengguguran amalan-amalan. Bagiku hal itu
merupakan suatu kejahatan yang besar, dan orang yang mencuri atau
orang yang berzina adalah lebih baik daripada orang yang berpaham
seperti itu.
Abul Hasan As Syazili As Syazili mengatakan : Jika pengungkapanmu
bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Rasul, maka hendaklah
engkau berpegang kepada Al Qur'an dan Sunnah Rasul itu, sambil engkau
mengatakan kepada dirimu sendiri "sesungguhnya Allah SWT telah
menjamin diriku dari kekeliruan dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasul". Allah
tidak menjamin dalam segi pengungkapan, ilham, maupun musyahadah
(penyaksian), kecuali setelah menyesuaikan perbandingannya dengan Al
Qur'an dan Sunnah Rasul.
Sebagai kesimpulan, semua pengamalan kaum sufi harus mengikuti semua Nash Al
Qur'an dan As Sunnah dan meneladani amaliah-amaliah Rasulullah, sebagai
panutan tertinggi para sufi.
Nabi SAW ditanya tentang suatu kaum yang meninggalkan amalan-amalan
agama, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbaik sangka
kepada Allah SWT. Maka jawab Nabi SAW, "Mereka telah berdusta. Karena
jika mereka berbaik sangka, tentu amal perbuatan mereka juga adalah
baik."
Berkata guru besar, Yahya bin Mu'adz Al-Razi : "Jauhkan masyarakat dari tiga
golongan manusia, ulama-ulama yang lalai, para pembaca Al-Qur'an yang
munafik dan orang-orang bodoh yang mengaku pengikut jalan tasawauf".
Penipu-penipu sesat yang mengaku pengikut jalan tasawuf tak pernah berguru
kepada seorang ahli keruhanian, bukan pula murid seorang Syaikh dan tanpa
pengalaman apapun.