Anda di halaman 1dari 24

BAB I

ISLAM SEBAGAI SISTEM HIDUP YANG SEMPURNA

A. Pendahuluan
Dinul islam adalah suatu sistem hidup komprehensif yang Allah
SWT turunkan melalui Rasul-Nya Muhammad SAW yang meliputi
aqidah, ubudiah, muamalah, muasyarah dan akhlak yang memandu
manusia sehingga hidup penuh kemuliaan. Aqidah adalah konsep
yang paling penting dan mendasar, sebab konsep yang pertama
adalah dasar pelaksanaan segala aktivitas, baik yang menyangkut
ubudiah, muamalah, muasyarah hingga akhlak.
Ibadah merupakan landasan kedua dalam ber-muamalah dan
ber-akhlak. Sedangkan muamalah adalah suatu aktivitas yang
berhubungan dengan sesama manusia di mana wujudnya munakahat
(pernikahan), warisan, jihad (menegakkan agama), jual beli, akadakad/transaksi (Al-Musyarakah, Al-Mudharabah, Al-Bai/jual beli dan
sebagainya).
Muasyarah

berkaitan

dengan

etika

atau

perilaku

dalam

berhubungan terhadap sesama manusia. Sedangkan akhlak ialah


institusi yang bersemayam dihati tempat munculnya tindakan-tindakan
sukarela, tindakan benar atau salah, terkait kelemahlembutan, sabar,
dermawan, berani, jujur, adil dan lain-lain.
B. Prinsip Dasar Ekonomi Islam
Menurut Abdul Manan (1993) landasan ekonomi islam didasarkan
pada tiga konsep fundamental, yaitu keimanan kepada Allah (tauhid),
kepemimpinan (khilafah) dan keadilan (adalah). Tauhid adalah konsep
yang paling penting dan mendasar, sebab konsep yang pertama
adalah dasar pelaksanaan segala aktivitas baik yang menyangkut
ubudiah/ibadah mahdah (berkaitan dengan sholat, zikir, shiam, tilawat
Al-Quran, dsb).

Dapat diambil kesimpulan bahwa ekonomi atau iqtishod yang


merupakan bagian dari muamalah secara umum di dalam konsep
islam harus memperhatikan prinsip tauhid, khalifah dan keadilan
(adalah), yang harus berdampingan manakala akan mewujudkan
suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera (Al-falah).
Tujuan syariah islam adalah menciptakan keadilan

dan

kesejahteraan dalam berbisnis dan berusaha (istilah keadilah mencari


fadillah/karunia Allah).

C. Pentingnya Mempelajari Ekonomi Islam


Alasan-alasan mengapa kita perlu merekonstruksi ekonomi islam
dan sub-subnya menurut Muhammad (2004), adalah sebagai berikut :
1. Dalam Al Quran dan As Sunnah, banyak informasi yang jelas
mengemukakan pokok-pokok perekonomian. Informasi ini kita
jadikan postulat. Jadi, dengan menggunakan postulat, informasi
dan bahan yang tersedia, ilmu ekonomi islam perlu disusun
walaupun dalam taraf azas-azasanya saja.
2. Umat islam perlu memiliki tata nilai yang mengatur tingkah laku
umat islam agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang nista,
dengan cara menetapkan nilai haram atau halal, makruh atau
mubah, wajib atau sunnah, fardhu ain atau kifayah.
3. Ilmu ekonomi umum tidak dapat menjelaskan mengapa riba
dilarang, mengapa warisan dan perkawinan itu diatur sedemikian
rupa,

sehingga

membantu

pemerataan

pendapatan

atau

kekayaan di kalangan masyarakat islam.


4. Sudah banyak sekali ilmu yang ditumbuhkan dari khazanah islam
sendiri, kemudian berkembang bersama zamannya. Akan tetapi,
karena masalah keduniaan nampaknya ilmu ekonomi islam tidak
menjadi sentral pemikiran islam oleh karena itu, konsep ekonomi
islam menjadi ketinggalan zaman dan tidak pernah tersentuh serta
berkembang.

5. Penyusunan, pengembangan dan penerapan ekonomi islam


dimaksud agar umat islam mendapat kepastian kesertaannya
dalam pembangunan ekonomi.
D. Istilah Ekonomi Islam
Istilah Ekonomi Islam sering menjdi masalah atau beragam
sebutannya. Ada yang menyebut ekonomi illahiyah, ekonomi syariah,
atau ekonomi qurani. Di dalam Al Quran pun tidak ada istilah khusus,
hanya saja sebutan nama tersebut untuk lebih mengidentifikasikanya
dari

ekonomi

lainnya

seperti

kapitalis,

ekonomi

sosialis

dan

sebagainya.
Ekonomi kapitalis adalah ekonomi yang dijiwai oleh ajaran-ajaran
kapitalis, ekonomi sosialis adalah ekonomi yang dijiwai ajaran-ajaran
sosialis, sehingga logikanya ekonomi islam adalah ekonomi yang
dijiwai ajaran-ajaran islam.
Adapun definisi-definisi tentang pemahaman ekonomi islam,
antara lain :
1. Muhammad bin Abdullah Al Arabi dalam At Tariqi (2004),
menurutnya ekonomi islam adalah kumpulan prinsip-prinsip
umum tentang ekonomi yang kita ambil dari Al Quran dan Sunnah
Nabi Muhammad SAW dan pondasi ekonomi yang kita bangun
atas dasar pokok-pokok itu dengan mempertimbangkan kondisi
lingkungan dan waktu.
2. Muhammad Abdul Manan (1993) mendefinisikan ekonomi islam
sebagai ilmu pengetahuan social yang mempelajari masalahmasalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai islami.
3. Metwally (1995), menurutnya ekonomi islam dapat didefinisikan
sebagai ilmu yang mempelajari perilaku muslim (yang beriman)
dalam suatu masyarakat islam yang mengikuti Al Quran dan
Sunnah Nabi SAW, ijma, dan qiyas.
4. Muhammad Syauki Al Fanjari dalam At Tariqi (2004), bahwa
ekonomi islam adalah segala sesuatu yang mengendalikan dan
mengatur aktivitas ekonomi sesuai dengan pokok-pokok islam dan
politik ekonominya.

5. Abdullah Abdul Husain At Tariqi (2004), mendefinisikan ekonomi


islam sebagai ilmu tentang hukum-hukum syariat aplikatif yang
diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci tentang persoalan yang
terkait

dengan

mencari,

membelanjakan,

dan

cara-cara

mengembangkan harta.

E. Karakteristik Ekonomi Islam


Terdapat beberapa karakteristik yang merupakan kelebihan dalam
sistem ekonomi islam menurut Abdullah At Tariqi (2004), antara lain :
1. Bersumber dari Illahiyah
Sumber awal ekonomi islam yang merupakan bagian dari
muamalah, berbeda dengan sumber sistem ekonomi lainnya
karena merupakan peraturan dari Allah.
2. Ekonomi pertengahan dan berimbang
Ekonomi islam memadukan kepentingan

pribadi

dan

kemaslahatan masyarakat dalam bentuk yang berimbang. Di


antara bukti sifat pertengahan dan keberimbangan ekonomi islam
antara lain adalah posisi tengah yang diberikan kepada negara
untuk melakuan intervensi bidang ekonomi.
3. Ekonomi berkecukupan dan berkeadilan
Ekonomi islam memiliki kelebihan dengan

menjadikan

manusia sebagai fokus perhatian. Manusia diposisikan sebagai


pengganti Allah di bumi untuk memakmurkannya dan tidak hanya
untuk mengeksplorasi kekayaan dan memanfaatkannya saja.
4. Ekonomi pertumbuhan dan keberkahan
Ekonomi islam memiliki kelebihan dari sistem yang lain yaitu
beroperasi atas dasar pertumbuhan dan investasi harta secara
legal, agar tidak terhenti dari rotasinya dalam kehidupan sebagai
bagian dari meditasi jaminan kebutuhan pokok bagi manusia.
F. Urgensi Implementasi Ekonomi Islam
Menurut Abdul Manan (1993)

sejumlah

masalah

yang

berhubungan dengan keberadaan implementasi ekonomika islam yang


berkembang akhir-akhir ini :

1. Apakah ilmu ekonomi atau ekonomika islam adalah suatu ilmu


pengetahuan normatif positif atau keduanya?
Ilmu ekonomi islam berakar dari tuntunan Al Quran dan Hadits
dimana kedua sumber ini merupakan hukum integrative yang
2.

berisi seluruh aspek hidup manusia, baik normatif dan positif.


Apakah teori ekonomika islam diperlukan mengingat tidak ada
ekonomika yang aktual?
Sebagai konsep yang integrative, ekonomika islam mampu
menangkap sekaligus menyelesaikan berbagai permasalahan
perekonomian di masyarakat, baik masyakat lokal maupun
internasional

atau

global.

Misalnya,

konsep

ekonomi

yag

berlandaskan Tauhid (ketuhanan) yang justru telah banyak


mengendalikan perilaku ekonomi, sehingga para pelaku ekonomi
bertindak lebih etis, efektif dan efisien.
3. Apakah ekonomika islam itu suatu

sistem

taukah

ilmu

pengetahuan?
Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa apabila masing-masing
individu sadar akan kebenaran konsep ekonomika islam, maka
akan menimbulkan suatu rangkaian dimana satu sistem dan yang
lainnya saling berhubungan dengan tingkat intensitas tertentu. Hal
ini akan membentuk sistem ekonomi islam.

BAB II
LANDASAN HUKUM EKONOMI ISLAM

A. Pendahuluan
Para ulama, khususnya yang berfaham ahlusunnah wal jamaah
bersepakat bahwa sumber hukum dalam islam adalah Al Quran, As
Sunnah, Ijma dan Qiyas.
B. Al Quran
1. Pengertian Al Quran dan Periode Turunnya

Al Quran adalah wahyu kalam Allah SWT yang diturunkan


melalui Rasulullah SAW yang disampaikan kepada umat manusia
(muslim) dalam rangka menuntun kehidupan di dunia. Al Quran
menurut Departemen Agama RI terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6.236
ayat dan 324.345 huruf (Depag RI, 1989). Menurut turunnya,
wahyu dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Wahyu (surat) yang turun di Mekkah disebut juga Makiyyah.
Pada umumnya berisi persoalan-persoalan keyakinan (aqidah),
dan hubungan manusia dengan khaliqnya (Allah).
2. Wahyu (surat) yang turun di Madinah disebut juga Madaniyyah.
Pada

umumnya

berisi

persoalan-persoaln

hubungan

kemanuisaan seperti akhlak, muamalah, dan muasyarah.


2. Fungsi Al Quran
Dilihat dari isinya, Al Quran mempunyai berbagai fungsi,
namun dari fungsi-fungsi tersebut dirangkum menjadi dua fungsi
(Syarifuddin, 1997) yaitu :
1. Sebagai rahmat yang dikaruniakan Allah kepada umat
manusia bila mereka menerima dan mengamalkan keseluruhan
isi Al Quran, maka akan mendapatkan kehidupan yang bahagia
di dunia dan kesenangan hidup di akhirat.
2. Sebagai hudan atau petunjuk.
3. Kandungan Al Quran
Al Quran merupakan sumber petunjuk bagi kehidupan
manusia. Petunjuk Al Quran itu dapat diklasifikasikan ke dalam dua
bentuk, yaitu :
1. Ada ayat-ayat yang sudah mengatur hukum secara jelas atau
eksplisit dan terinci yang tidak memungkinkan untuk penafsiran
lain, namun hal ini berlaku dalam jumlah yang sangat terbatas.
2. Ayat-ayat Al Quran yang secara implisit mengatur dan
menjelaskan secara garis besar saja.
4. Al Quran Sebagai Sumber Hukum Ekonomika Syariah
Kedudukan Al Quran sebagai sumber utama atau pokok
hukum islam, berarti Al Quran itu menjadi sumber dari segala

sumber hukum. Oleh karena itu, jika akan menggunakan sumber


hukum lain di luar Al Quran, maka harus sesuai dengan petunjuk Al
Quran dan tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan
dengan Al Quran.
C. As Sunnah
1. Pengertian As Sunnah
As sunnah secara harfiah berarti cara, adat istiadat, kebiasaan
hidup yang mengacu kepada perilaku Nabi SAW yang dijadikan
teladan. Sunnah dalam istilah ulama ushul adalah apa-apa yang
diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, baik dalam bentuk
ucapan,

perbuatan,

maupun

pengakuan

dan

sifat

Nabi

(Syarifuddin, 1997). Sedangkan sunnah dalam istilah ulama fiqih


adalah

sifat

hukum

bagi

suatu

perbuatan

yang

dituntut

melakukannya dalam bentuk tuntutan yang tidak pasti dengan


pengertian diberi pahala orang yang melakukannya dan tidak
berdosa orang yang tidak melakukannya.
2. Macam As Sunnah
Sunnah menurut pemahaman ulama ushul fiqh dibagi menjadi
tiga macam :
a. Sunnah Qauliyah, adalah ucapan lisan Nabi Muhammad SAW
yang didengar dan dinukilkan oleh sahabatnya, namun yang
diucapkan Nabi itu bukan wahyu Al Quran.
b. Sunnah Filiyah, adalah semua perbuatan dan tingkah laku
Nabi SAW.
c. Sunnah Taqririyah, yaitu apabila seseorang sahabat r.a.
melakukan sesuatu perbuatan atau mengemukakan suatu
ucapan di hadapan Nabi, dimana Nabi mengetahui apa yang
dilakukan orang itu dan Nabi mendiamkannya atau tidak
menyanggahnya. Dengan kata lain diamnya Nabi SAW berarti
menyetujui perbuatannya.
3. Dasar Hukum As Sunnah Sebagai Sumber Hukum

Dasar hukum hadits atau sunnah sebagai rujukan setiap


persoalan termasuk bidang manajemen setelah Al Quran adalah
surat Al Hasyr ayat 7 : Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka
terimalah, an apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
D. Ijma
1. Pengertian Ijma
Menurut istilah ahli ushul fiqih ijma adalah kesepakatan imam
mujtahid di antara umat islam pada suatu masa setelah Rasulullah
wafat, terhadap hukum syara tentang suatu masalah.
Ijma adalah suatu prinsip penetapan hukum, yang muncul
sebagai akibat dari penalaran yang dilakukan atas suatu peristiwa
hukum yang berkembang dengan cepat akibat perubahan
fenomena

masyarakat.

namun

demikian

kedudukan

dari

kehujjahan ijma menurut pendapat para ulama, bahwa ijma


tersebut terletak dibawah deretan Al Quran dan As Sunnah dan
ijma tidak boleh menyalahi nash yang qathi.
2. Jenis Ijma
Jenis ijma antara lain :
a. Ijma Bayani, yaitu suatu pendapat dari para ahli ukum (fiqih)
yang mengeluarkan pendapatnya untuk menentukan suatu
masalah. Ijma ini dilakukan dengan ijtihad, yaitu berpikir
sungguh-sungguh dengan menggunakan intelektual atau akal.
Hal ini dilakukan dengan cara mempelajari sumber hukum
islam yang asli (murni), yaitu Al Quran dan hadits Rasul
kemudian

mengalirkan

garis

hukum

baru

daripadanya

(Ramulyo, 2004).
b. Ijma Sukuti, adalah suatu pendapat dari seseorang atau
beberapa ahli hukum, tetapi ahli-ahli hukum linny tidak
membantah (Ramulyo, 2004). Misalnya semasa hidupnya Nabi
Muhammad SAW melakuan shalat tarawih sebanyak 8 rakaat,
di zaman Umar r.a. menjadi 20 rakaat dan para sahabat tidak
membantah, maka shalat tarawih diterima dengan ijma sukuti.

E. Qiyas
1. Pengertian Qiyas
Menurut bahasa berarti mengukur dan menyamakan sesuatu
hal dengan hal lain yang sudah ada. Sedangkan secara istilah,
qiyas artinya menyamakan hukum suatu hal yang tidak terdapat
ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadits karena adanya
persamaan penyebab. Sedangkan qiyas, menurut Mannan (1993)
adalah memperluas hukum-hukum ayat kepada persoalan yang
tidak termasuk dalam bidang syarat-syaratnya.
2. Qiyas Sebagai Dalil Hukum Syara
Dalil atau petunjuk yang membolehkan qiyas sebagai landasan
hukum dalam fiqh islam termasuk fiqih muamalah adalah dalam
surat An-Nisa ayat 59 : Hai, orang-orang yang beriman, taatilah
Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dari hari kemudian,
yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Perintah menaati Allah berarti mengikuti hukum dalam Al
Quran,

perintah

mengikuti

Rasul

berarti

perintah

untuk

melaksanakan hukum yang terdapat dalam Sunnah dan perintah


menaati ulul amri berarti perintah mengikuti hukum hasil ijma
ulama. Sedangkan kata-kata di akhir ayat berbunyi jika kamu
berselisih paham tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada
Allah dan Rasul.

BAB III
KEPEMILIKAN DALAM ISLAM

A. Pendahuluan
Menurut Abdul Salam al Abadi (1987), kepemilikan adalah hak
khusus manusia terhadap kepemilikan barang yang diizinkan bagi
seseorang untuk memanfaatkan dan mengalokasikan tanpa batas
hingga terdapat alasan yang melarangnya. Dengan demikian,
kepemilikan dalam islam adalah kepemilikan harta yang didasarkan
atas agama. Kepemilikan ini tidak berarti memberi hak mutlak kepada
pemiliknya

untuk

menggunakannya

sesuai

keinginan

sendiri,

melainkan harus sesuai dengan beberapa aturan. Hal ini dikarenakan


kepemilikan harta pada esensinya hanya sementara, tidak abadi, dan
tidak lebih dari pinjaman terbatas dari Allah SWT.
B. Arti dan Tujuan Kepemilikan Umum
1. Arti kepemilikan umum
Kepemilikan umum adalah hukum syari yang terkandung pada
suatu barang atau kegunaan yang menuntut adanya kesempatan
seluruh manusia secara umum atau salah seorang di antara
mereka untuk memanfaatkan dan menggunakan dengan jalan
penguasaan.
Al Khailani (dalam At Tariqi, 2004) menyebutkan bahwa
kepemilikan umum ini dapat disamakan dengan kepemilikan
negara, sehingga ia mendefinisikan kepemilikan umum atau
kepemilikan negara sebagai nilai kegunaan yang berkaitan dengan

10

semua kewajiban negara kepada rakyatnya, termasuk bagi


kelompok nonmuslim.
2. Tujuan kepemilikan umum
Menurut At Tariqi (2004) tujuan kepemilikan umum adalah
sebagai berikut :
a. Pelayanan yang mempunyai fungsi sosial
b. Jaminan pendapatan Negara
c. Pengembangan dan penyediaan semua jenis pekerjaan
produktif bagi masyarakat yang membutuhkan
d. Urgensi kerjasama antarnegara dalam usaha menciptakan
kemakmuran bersama
e. Investasi harta untuk mencapai kemakmuran bersama
C. Sumber dan Jenis Kepemilikan Umum
Sumber -sumber kepemilikan umum menurut syara antara lain :
1. Wakaf
Menurut Al Halawi (1999), wakaf adalah menahan suatu harta
yang manfaatnya disalurkan untuk kepentingan agama Allah.
2. Proteksi Pemerintah
Proteksi adalah perlindungan dari penguasa (Amirul Mukminin)
terhadap tanah yang tidak bertuan yang diperbolehkan bagi
kepentingan kaum muslimin, tidak dikhususkan bagi satu orang
tertentu.
3. Kebutuhan Pokok
Kebutuhan-kebutuhan pokok seperti air, rumput dan sinar
matahari merupakan bagian dari barang-barang yang berhak
dimiliki oleh semua manusia.
4. Barang-barang Tambang
Menurut Ibnu Qudamah dalam al Mughni, barang-barang
tambang yaitu segala sesuatu yang keluar dari dalam bumi berupa
apa yang diciptakan oleh Allah di dalamnya dari yang selainnya,
dari hal-hal yang memiliki nilai.
Para fuqaha membagi dua

(Al

Haritsi,

2008)

tentang

pengaturan kepemilikan barang tambang, yaitu :


a. Tambang lahir, yaitu barang tambang yang sampai kepadanya
tanpa biaya yang dikeluarkan oleh manusia dan mereka
memanfaatkannya, seperti garam, air, dan belerang.

11

b. Tambang batin, yaitu barang tambang yang tidak sampai


kepadanya melainkan dengan kerja keras dan dengan biaya,
seperti tambang emas dan perak.
5. Pantai, Lautan, Padang Pasir, Gunung dan Tanah Mati
Setiap padang pasir, bukit, gunung, limbah, tanah mati (tanah
yang tidak nampak dimiliki oleh seseorang, serta tidak nampak
bekas-bekas apapun, seperti pagar, tanaman, pengelolaan ataupun
yang lain) yang tidak terurus dan belum pernah ditanami atau yang
pernah ditanami kemudian terbengkalai karena tidak dikelola, maka
tanah tersebut menjadi milik negara lain dan khalifah megaturnya
untuk kemaslahatan rakyat.
6. Ash-Shawafi
Yaitu tanah yang dikumpulkan khalifah dari tanah-tanah negeri
taklukan dan ditetapkan untuk Baitul Mal. Yang meliputi tanah-tanah
yang dahulunya milik negara yang ditaklukan, milik penguasa, atau
para pemimpin yang terbunuh di medan perang, atau yang lari dari
peperangan dan meninggalkan tanahnya, maka khalifah yang
mengatur semua itu untuk kebaikan dan kemaslahatan islam dan
kaum muslim.
7. Istana dan Bangunan
Yang termasuk dalam golongan ini adalah setiap istana,
bangunan, balairung yang dikuasai oleh negara-negara yang
ditaklukan, yang sebelumnya digunakan untuk struktur lembagalembaga negara yang ditaklukan, untuk urusan administrasinya,
untuk organisasi-organisasi dan badan pengawas, perguruan tinggi,
sekolah-sekolah,

rumah

sakit,

museum,

perusahaan,

atau

bangunan-bangunan yang dimiliki negara itu, orang yang terbunuh


di medan perang, atau bangunan milik penduduk yang ditinggalkan.
Itu semua menjadi ghanimah dan fai bagi kaum muslim, juga
setiap balairung atau bangunan yang dihadiahkan atau dihibahkan
kepada negara atau diwasiatkan untuk negara atau yang tidak
memiliki ahli waris atau milik orang murtad yang meninggal, semua
itu menjadi hak Baitul Mal dan menjadi milik negara.

12

Fai ialah harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa


terjadinya

pertempuran.

Sedangkan

ghanimah

ialah

harta

rampasan yang diperoleh dari musuh setelah terjadi pertempuran.

D. Pengelolaan Kepemilikan Umum


Dalam mengelola harta milik umum, pengelolaannya diserahkan
pada khalifah). Khalifah diberi wewenang secara syariat untuk
mengatur urusan umat islam dalam meraih kemaslahatan mereka
serta memenuhi kebutuhan sesuai ijtihadnya.
Menurut Zallum dalam Sholahuddin (2007) pengelolaan harta milik
umum oleh negara dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Penjualan atau penyewaan.
2. Pengelolaan tanah ladang yang berpohon.
3. Pengelolaan atas tanah-tanah pertanian yang sangat luas dengan
menyewa para petani pekerja untuk mengelola tanah tersebut.
4. Menghidupkan tanah endapan sungai, rawa-rawa, hutan belukar,
tambak, tanah yang menahan air, tanah yang bergaram, dengan
cara menegelolanya sampai tanah tersebut layak untuk menjadi
tanah pertanian dan dapat ditanami pepohonan.
5. Pembagian tanah

E. Arti dan Tujuan Kepemilikan Khusus


Kepemilikan khusus adalah sebagai

hukum

syari

yang

diberlakukan untuk memberikan hal khusus bagi manusia atau


seseorang dalam kepemilikan benda atau manfaat serta hak khusus
bagi manusia atau seseorang dalam kepemilikan benda atau manfaat
serta hak untuk membelanjakannya tanpa adanya sesuatu yang
melarang.
Tujuan kepemilikan khusus menurut At Tariqi (2004) adalah :
1. Meningkatkan kerjasama internasional melalui kerjasama
antarindividu dan kelompok-kelompok nonpemerintah.
2. Merealisasikan kebaikan, kemakmuran, dan kemanfaatan umum
melalui persaingan sehat antarprodusen.

13

3. Negara tidak diperkenankan melakukan investasi jika hanya akan


menghambat kreativitas individu.
4. Memenuhi dan menginvestasikan naluri cinta materi dalam bidang
yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

F. Jenis Kepemilikan Khusus


Berdasarkan definisi kepemilikan khusus dan analisis syara, jenis
kepemilikan khusus dikategorikan ke dalam tiga macam, yaitu :
1. Kepemilikan pribadi
Merupakan kepemilikan yang manfaatnya haya berkaitan dengan
satu orang saja, tidak ada orang lain yang ikut andil dalam
kepemilikan itu. Contohnya : kepemilikan rumah, kendaraan, dsb.
2. Kepemilikan perserikatan (organisasi)
Merupakan kepemilikan yang manfaatnya dapat dipergunakan
oleh beberapa orang yang dibentuk dengan cara tertentu, seperti
kerjasama yang melibatkan orang tanpa melibatkan sekelompok
orang lain.
3. Kepemilikan kelompok
Merupakan kepemilikan yang tidak boleh dimiliki oleh perorangan
atau kelompok kecil, namun pembagiannya harus didasarkan
pada persebaran terhadap banyaknya pihak, dimana manfaatnya
diprioritaskan untuk orang-orang yang sangat membutuhkan dan
dalam keadaan kritis, seperti property dan kekayaan penduduk
desa terhadap tanah bersama, jalan, sekolah dan fasilitas umum.

G. Sebab Kepemilikan Pribadi


Kategori kegiatan yang dapat menyebabkan adanya kepemilikan
pribadi, antara lain :
1. Bekerja
Tujuan bekerja adalah untuk mendapatkan harta agar seseorang
dapat memenuhi kebutuhannya, menikmati kesejahteraan hidup

14

dan perhiasan dunia. Pekerjaan yang dilakukan tersebut haruslah


pekerjaan yang halal agar aktivitas bekerja ini juga bernilai ibadah.
2. Penguasaan
Penguasaan adalah beberapa mediasi yang dapat digunakan oleh
manusia untuk menguasai

harta

orang

lain

tanpa

harus

melakukan usaha keras atau perniagaan. Contohnya adalah


warisan, pemberian sedekah, zakat dan wasiat.
3. Kepemilikan barang-barang yang halal
Dimana seseorang memiliki sesuatu yang belum pernah dimiliki
oleh orang lan, seperti mencuri kayu bakar di hutan dan
menangkap ikan di laut.
4. Harta dari pemberian negara kepada raktyat atau individu
Melalui lembaga Baitul Mal, negara dapat memberikan sebagian
harta kepada rakyat dengan jalan memberikan berbagai sarana
dan fasilitas sehingga individu rakyat dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya atau agar dapat memanfaatkan kepemilikan mereka.
H. Batasan Kepemilikan Khusus
1. Batasan kepemilikan khusus
Kepemilikan khusus dalam islam tidaklah absolut, tapi terkait
karena kepemilikan absolut tanpa ikatan hanyalah milik Allah yang
di dalamnya tidak berlaku hukum larangan, tidak disertai orang lain
dan

tidak

bergantung

pada

hukum

apapun.

Sedangkan

kepemilikan khusus begantung atau terikat pada hukum-hukum


Allah yang ditujukan demi kepentingan mereka.
Beberapa batasan kepemilikan khusus antara lain sebagai
berikut :
a. Untuk memperoleh hak kepemilikan itu hendaknya dilakukan
dengan cara legal.
b. Tidak terdapat hal

yang

secara

langsung

dapat

membahayakan keselamatan seseorang atau kelompok pada


proses kepemilikan, pengalokasiaan dan pemanfaatan barang.
c. Menjaga kepentingan umum tanpa menciptakan kegoncangan
di dalamnya.
d. Alokasi kepemilikan yang tepat.
Di antara bentuk buruk pengalokasian harta adalah menumpuk
harta kemudian menolak untuk mensirkulasikannya di tengah

15

masyarakat. Akibatnya banyak manusia yang terhalang untuk


menggunakannya. Oleh karena itu, islam melarang penumpukan
harta. Hikmahnya terlihat dalam dua hal :
1. Penumpukan harta artinya menjadikan harta sebagai tujuan
akhir dang mengabaika pelaksanaan kewajiban. Hal itu
dilarang secara jelas oleh berbagai teks Al Quran dan
penjelasan Hadits Nabi.
2. Penumpukan harta sesungguhnya menghambat kegiatan
ekonomi dan rotasi modal, padahal harta merupakan tujuan
ekonomi masyarakat. harta hanya dapat berkembang dengan
cara menginvestasikannya dalam bidang-bidang legal.
2. Kewajiban dalam kepemilikan khusus
Beberapa kewajiban yang dibebankan islam kepada orang
yang memiliki harta, antara lain :
a. Memberikan kepada mereka yang berhak seperti istri, anakanak yang belum bekerja.
b. Zakat, bagian dari fardlu yang diwajibkan Allah dalam harta
orang-orang kaya dan dialokasikan kepada orang-orang
miskin.
c. Beberapa hak yang harus ditunaikan selain zakat. Ketika
zakat belum ditunaikan, maka semua hak selain zakat harus
ditunaikan terlebih dahulu, sebagai bentuk pelaksanaan
kewajiban.

16

BAB IV
PRODUKSI DALAM ISLAM

A. Pendahuluan
Produksi dalam islam konvensional adalah mengubah sumbersumber dasar ke dalam barang jadi, atau proses dimana input diolah
menjadi output. Dalam istilah ini kita mengkaitkannya dengan konsep
efisiensi ekonomis, yaitu suatu usaha yang meminimalkan biaya
produksi

dari

beberapa

tingkat

output

selama

periode

yang

dibutuhkan.
Pemahaman produksi dalam islam memiliki arti bentuk usaha
keras dalam pengembangan faktor-faktor sumber yang diperbolehkan
secara syariah dan melipatgandakan pendapatan dengan tujuan
kesejahteraan masyarakat, menopang eksistensi, serta meninggikan
derajat manusia (At Tariqi, 2004).
B. Urgensi Produksi Dalam Islam
1. Motivasi Produksi dalam Islam
a. Produksi merupakan pelaksanaan fungsi manusia sebaai
khalifah
b. Berproduksi merupakan ibadah
c. Produksi sebagai sarana pencapaian akhirat
2. Tujuan Produksi
Terdapat upaya-upaya untuk mengetahui tujuan produksi dalam
ekonomi islam. Menurut Nejatullah Shiddiqi (1996), pertumbuhan
ekonomi yang merupakan wujud produksi dalam islam bertujuan :
a. Merespons kebutuhan produsen secara pribadi dengan bentuk
yang memiliki ciri keseimbangan
b. Memenuhi kebutuhan keluarga

17

c. Mempersiapkan sebagian kebutuhan terhadap ahli warisnya


dan generasi penerusnya
d. Pelayanan sosial dan berinfak di jalan Allah
Sedangkan tujuan produksi menurut perspektif fiqih ekonomi
khalifah Umar Bin Khatab adalah sebagai berikut (Al Haritsi, 2008) :
a. Merealisasikan keuntungan seoptimal mungkin
b. Merealisasikan kecukupan individu dan keluarga
c. Tidak mengandalkan orang lain
d. Melindungi harta dan mengembangkannya
e. Mengeksplorasi
sumber-sumber
ekonomi
dan
mempersiapkannya untuk dimanfaatkan
f. Pembebasan dari belenggu ketergantungan ekonomi
g. Taqarrub kepada Allah SWT
C. Prinsip Produksi Dalam Islam
1. Motivasi berdasarkan keimanan
2. Berproduksi berdasarkan azas manfaat dan maslahat
3. Mengoptimalkan kemampuan akalnya
4. Adanya sikap tawazun (keberimbangan)
5. Harus optimis
6. Menghindari praktik produksi yang haram
D. Bidang-bidang Produksi
1) Perdagangan (tijarah)
2) Pertanian dan Perekebunan
3) Industri

BAB V
KONSUMSI DALAM ISLAM

A. Pendahuluan
Dalam pandangan ekonomi islam, kerja adalah setiap tenaga
jasmani maupun kemampuan akal yang dikeluarkan manusia dalam
kegiatan perekonomian sesuai dengan syariah, yang bertujuan untuk
mendapatkan penghasilan dan penghidupan. Sedangkan Baqir
Quraisyi (dalam Muhammad,2004) mendefinisikan setiap kegiatan
18

yang dilakukan manusia secara sadar dan sengaja, dan merasakan


penderitaan dalam melakukan kegiatan tersebut, dengan tujuan
mendapatkan harta untuk memenuhi berbagai kebutuhan, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
B. Urgensi dan Tujuan Konsumsi Dalam Islam
1. Urgensi konsumsi
Konsumsi memiliki urgensi yang sangat besar dalam setiap
perekonomian, karena tidak ada kehidupan bagi manusia tanpa
konsumsi.
2. Tujuan konsumsi
Tujuan konsumsi seseorang dalam ajaran islam antara lain :
a. Untuk mengharap ridha Allah SWT
b. Untuk mewujudkan kerjasama antaranggota masyarakat dan
tersedianya jaminan social
c. Untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab individu terhadap
kemakmuran diri, keluarga dan masyarakat sebagai bagian
aktivitas dan dinamisasi ekonomi
d. Untuk meminimalisasi pemerasan dengan menggali sumbersumber nafkah
e. Supaya negara melakukan kewajibannya terhadap warga
negara yang masih miskin.
C. Prinsip Konsumsi Muslim
1. Prinsip syariah
a. Memperhatikan tujuan konsumsi
b. Memperhatikan kaidah ilmiah
c. Memerhatikan bentuk konsumsi
2. Prinsip kuantitas
a. Sederhana, tidak bermewah-mewahan
b. Kesesuaian antara pemasukan dengan konsumsi
3. Prinsip prioritas
Prioritas atau urutan konsumsi alokasi harta menurut syariat islam,
antara lan :
a. Untuk nafkah diri, istri, anak dan saudara
b. Untuk memperjuangkan agama Allah
4. Prinsip moralitas
Perilaku konsumsi seorang muslim dalam berkonsumsi juga
memerhatikan nilai prinsip moralitas, dimana mengandung arti
ketika berkonsumsi terhadap suatu barang, maka dalam rangka
19

menjaga martabat manusia yang mulia berbeda dengan makhluk


Allah lainnya.

BAB VI
DISTRIBUSI DALAM ISLAM
A. Pendahuluan
Perbedaan

kepemilikan

harta

dalam

kehidupan

manusia

merupakan hukum dan ketetapan Allah yang mempunyai banyak


hikmah dan maknanya bagi kehidupan manusia. Ketidakbenaran
dalam distribusi menjadikan alokasi harta menjadi tidak seimbang.
Sebagai alat atau instrumen distribusi tersebut adalah melalui zakat,
sedekah, infaq dan lainnya guna menjaga keharmonisan dalam
kehidupn sosial, selain juga berkaitan mengajarkan kepada umat
islam rasa keimanan dan kecintaan kepada Khaliknya.
B. Kepentingan Distribusi Kepemilikan Dalam Islam
Dalam distribusi pendapatan terdapat beberapa masalah, seperti :
1) instrumen apa saja yang digunakan untuk mengatur adanya
distribusi pendapatan?
2) Apa hikmah atau manfaat di balik perintah untuk melaksanakan
instrumen distribusi pendapatan tersebut?
3) Dan bagaimana cara melaksanakan

instrumen

distribusi

pendapatan tersebut, serta yang dilakukan haruskah mengarah


pada pembentukan masyarakat yang mempunyai pendapatan
yang sama?
Jawaban sementara masalah ini, islam telah menganjurkan untuk
mengerjakan zakat, infaq dan shodaqoh. Kemudian Baitul Mal
membagikan kepada orang yang membutuhkan untuk meringankan

20

masalah hidup orang lain dengan cara memberi bantuan langsung


maupun tidak langsung.

C. Instrumen Distribusi Kepemilikan Utama Dalam Islam


Dalam wacana fiqh islam, peraturan terhadap redistribusi
pendapatan antara lain adalah :
1. Zakat (hukumnya wajib)
a. Hakekat dan fungsi zakat
Menurut Sulaiman Rasyid (2005) zakat adalah kadar harta
tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerimanya
dengan beberapa syarat. Fungsi pokok zakat adalah untuk
membuktikan keimanan hanya kepada Allah, karena rezeki
sesungguhnya milik Allah sehingga kecintaan terhadap harta
tidak mengalahkan cinta kepada Allah SWT. Selain itu fungsi
lainnya adalah mengatur distribusi alokasi harta (rezeki) supaya
merata dalam mengatur perilaku konsumsi terhadap hasil
perekonomian masyarakat.
b. Kegunaan (hikmah) zakat
Kegunaan zakat menurut Sulaiman Rasyid (2005) antara
lain:
1) Menolong orang lemah dan susah agar dia dapat
menunaikan kewajibannya terhadap Allah dan terhadap
makhluk Allah (masyarakat)
2) Membersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak yang tercela,
serta mendidik diri agar bersifat mulia dan pemurah dengan
membiasakan membayarkan amanat kepada orang yang
berhak dan berkepentingan.
3) Sebagai ucapan syukur dan terima kasih atas nikmat
kekayaan yang diberikan kepadanya.
4) Guna mencegah kejahatan yang akan timbul dari si miskin
yang lemah iman dan lemah pemahaman agamanya.

21

5) Guna mendekatkan hubungan kasih sayang dan cintamencintai antara si kaya dan si miskin.
c. Objek zakat
Menurut Al Ghazali dalam kitabnya Asrar ash-Shaum dan
Asrar az-Zakat, bahwa objek zakat terdiri atas enam jenis
antara lain zakat hewan ternak, zakat emas dan perak, zakat
perdagangan, zakat rikaz dan tambang, zakat pertanian dan
zakat fitrah.
d. Distribusi zakat
Beberapa hal menyebabkan seseorang berhak menerima
zakat atau menjadikannya sebagai mustahiq. Seseorang tidak
berhak menerima zakat (tidak dianggap sebagai mustahiq)
kecuali seorang muslim yang merdeka (bukan budak), bukan
seorang anggota suku Bani Hasyim atau Bani Muthalib, dan
harus memiliki salah satu sifat di antara sifat-sifat delapan
ashnaf (kelompok) yang tersebut dalam Al Quran yaitu :
Fakir
Miskin
Amil
Muallaf
Budak
Orang yang berutang
Pejuang di jalan Allah
Ibnu sabil
2. Sedekah dan Infaq
Penjelasan menurut ahli tafsir tentang wamimma razaqna
hum yun-fiquun (menafkahkan sebagian rezeki) ialah memberikan
sebagian dari harta yang telah direzekikan oleh Tuhan kepada
orang-orang yang disyariatkan oleh agama memberinya, seperti
orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak
yatim dan lain-lain.
3. Ghanimah
Menurut Al Mawardhi, ghanimah dan fai adalah harta yang di
dapatkan kaum muslimin dari kaum musyrikin atau mereka
22

menjadi penyebab perolehan harta tersebut. Sedangkan menurut


Ibnu Taimiyah, ghanimah adalah harta yang diambil dari orangorang kafir lewat peperangan. Ghanimah dan fai memiliki dua
kesamaan di antara keduanya adalah didapatkan dari orang-orang
kafir dan alokasi seperlima keduanya sama. Sedangkan dua
perbedaan diantara keduanya adalah sebagai berikut :
Fai diambil dengan sukarela, sedangkan ghanimah diambil

secara paksa.
Alokasi empat perlima fai berbeda dengan alokasi empat
perlima harta ghanimah.

4. Fai
Fai menurut Imam Al Mawardhi adalah semua harta yang
didapatkan kaum muslimin dari orang-orang musyrik dengan
sukarela tanpa melalui pertempuran, tanpa derap kaki kuda dan
pengendaranya, maka ia seperti uang perdamaian, jizyah, dan
sepersepuluh bisnis mereka.
5. Jizyah
Pajak dan jizyah adalah hak yang diberikan Allah Taala
kepada

kaum

muslimin

dari

orang-orang

musyrik.

Hukum

keduanya juga banyak. Adapun titik kesamaan antara pajak


dengan jizyah adalah sebagai berikut :
Keduanya didapatkan dari orang musyrik sebagai bentuk

penghinaan bagi mereka


Keduanya adalah harta fai dan didistribusikan kepada penerima

fai
Keduanya wajib ditunggu satu tahun dan sebelum satu tahun
keduanya tidak berhak memiliki

6. Al-Kharaj (pajak)
Pajak adalah uang yang dikenakan terhadap tanah dan
termasuk hak-hak yang harus ditunaikan. Tanah pajak berbeda
dengan tana zakat dalam hal kepemilikan dan hokum. Semua itu
terbagi menjadi empat bagian :

23

a. Tanah yang sejak awal dihidupkan kaum muslimin


b. Tanah yang pemiliknya masuk islam
c. Tanah yang didapatkan dari orang-orang musyrik dengan jalan
kekerasan senjata
d. Tanah yang didapatkan dari orang-orang musyrik dengan jalan

damai.

24