Anda di halaman 1dari 34

LONGCASE

RHINOSINUSITIS MAKSILARIS AKUT DUPLEX


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Kepanitraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh :
Muarrifa Muflihati
20090310064
Diajukan Kepada :
dr. Asti Widuri, Sp.THT KL

ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK


RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

BAB I
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS

Nama

: Ny. N

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 42 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: -

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Alamat

: Gedongtengen Yogyakarta

II.

ANAMNESA

Anamnesis

: Autoanamnesis

Keluhan utama

: Hidung tersumbat

Keluhan tambahan

: Kepala bagian dahi serta pipi terasa nyeri

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke poliklinik THT dengan keluhan hidung tersumbat sejak 1
minggu yang lalu. Keluhan disertai pilek yang hilang timbul sejak 3 minggu terakhir. Os
mengaku keluar cairan dari hidung yang berwarna putih agak kekuningan dan kental dan
tidak berbau. Dirasakan ada ingus yang mengalir dari hidung ke mulut (+). Gejala
tersebut kemudian disertai nyeri kepala di daerah sekitar dahi yang menyebar ke daerah
pipi dan demam yang suhunya tidak terlalu tinggi. Nyeri tersebut dirasakan terutama bila
dalam posisi sujud. Batuk (+) tidak terlalu sering, sedikit, dahak (+). Pasien belum
meminum obat apapun untuk mengatasi gejalanya.
Hidung tersumbat dan bersin-bersin terutama pada pagi hari disangkal. Hidung
tersumbat yang menetap di sangkal pasien. Riwayat trauma pada daerah muka disangkal,
riwayat adanya benjolan atau tumor pada hidung disangkal, riwayat perdarahan pada
hidung disangkal.

Pasien pernah sakit gigi dan mengaku memiliki gigi berlubang pada gigi geraham
yang kedua kiri atas dan geraham yang pertama pada kanan atas yang menghitam dan
belum diobati.
Riwayat penyakit dahulu:
Riwayat penyakit lain seperti diabetes melitus dan hipertensi juga disangkal os.
Os sebelumnya belum pernah mengalami gejala serupa, asma (-)
Riwayat ISPA (+) 1 tahun yang lalu.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat asma pada penderita dan keluarga disangkal.
III.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

: baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital

: TD : 120/70 mmHg
N : 80x/mnt
R : 20x/mnt
T : 36,5 C

Status Generalis
Kepala

: Simetris

Mata

: - Konjungtiva
- Sklera

Tidak anemis

Tidak ikterik

- Pupil : Isokor, Central


Leher

: Lihat status lokalis

Toraks

: Dalam batas normal (vesikuler +)

Abdomen

: Dalam batas normal (s1s2 reguler)

Ekstremitas

: Edema (-/-)
Sianosis (-/-)

Status Lokalis
Telinga
Bagian

Preaurikula

Aurikula

Retroaurikula

Kelainan
Kelainan kongenital

Auris
Dextra
-

Sinistra
-

Radang

tumor

Trauma

Nyeri tekan tragus


Kelainan kongenital

Radang

tumor

Trauma
Edema

Hiperemis

Nyeri tekan

Sikatriks

Fistula

Fluktuasi
Kelainan kongenital

Kulit

Tenang

Tenang

Sekret

Ada

Ada

Edema

Jaringan granulasi

Massa

Canalis
Acustikus
Externa

Serumen

Warna

Putih keabuan

Putih keabuan

Intak

(+)

(+)

Reflek cahaya

(+)

(+)

Membrana
Timpani

Cavum timpani

Tes Pendengaran

Auris
Dextra

Sinistra

Tes Rinne

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

Tes Weber

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

Tes Schwabach :

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

Hidung
Pemeriksaan
Keadaan Luar

Nasal
Dextra

Sinistra

Ukuran

Dalam batas normal

Dalam batas normal

Massa

Sikatriks (-)
Hiperemis

Sikatriks (-)
Hiperemis

Sekret

(+) mukopurulen

(+) mukopurulen

Krusta

Oedem (+),

Oedem (+),

hiperemis (+)

hiperemis (+)

Oedem (+),

Oedem (+),

hiperemis (+)

hiperemis (+)

Bentuk dan

Kulit
Mukosa

Concha inferior

Concha media
Rhinoskopi
anterior

Meatus media

Hiperemis (+), secret


mukopurulen (+)

Hiperemis (+), secret


mukopurulen (+)
Hiperemis (+)

Meatus inferior
Septum

Mukosa

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

Koana

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

Sekret

(+)

(+)

Torus tubarius

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

Fossa

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

Rosenmuller

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

Massa / tumor

Post nasal drip

Pasase udara

posterior

Tidak ada deviasi


-

Polip/tumor

Rhinoskopi

Hiperemis (+)

Massa,
Nyeri tekan,
Palpasi
Sinus Paranasal

Nyeri lepas
-/-/-

Sinus Frontalis
Sinus Maxillaris

-/+/+

- / +/ +

Sinus Ethmoidalis

-/-/-

-/-/-

Pemeriksaan Transluminasi : tidak di lakukan


Mulut Dan Orofaring
Bagian
Mukosa mulut
Lidah
Gigi geligi

Uvula
Pilar
Halitosis
Mukosa
Besar

Faring

Bersih, Simetris
Lengkap, caries gigi (+) di radix M2 superior
sinistra dan M1 superior dextra

Mulut

Tonsil

Keterangan
Tenang

Kripta :

Simetris / tidak deviasi


Tidak hiperemis / tidak udem
(-)
Tenang / tidak hiperemis
T1 T1 Tenang
Tidak membesar

Detritus :

(-/-)

Perlengketan

(-/-)

Mukosa

Tenang / tidak hiperemis

Granula

(-)

Post nasal drip

(+)

Epiglotis

Tidak diperiksa

Kartilago aritenoid

Tidak diperiksa

Plika ariepiglotis

Tidak diperiksa

Plika vestibularis

Tidak diperiksa

Plika vokalis

Tidak diperiksa

Cincin trachea

Tidak diperiksa

Rima glotis

Tidak diperiksa

Keterangan :
Laring

1.

Epiglotis

2.

Cartilago
aritenoid

3.

Plika
vestibular

4.

Pita vokalis

5.

Plika
ariepiglotika

6.

Rima glottis

7.

Cincin
trachea

Maksilofasial

Leher

Bentuk

: Simetris

Parese N.Kranialis

: Tidak ada

Kelenjar getah bening : Tidak teraba membesar


Massa

: Tidak ada

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Foto polos (posisi waters):
Kesan: Terdapat air fluid level di daerah sinus maksilaris dextra dan sinistra
V. RESUME
Os perempuan, 42 tahun, datang ke Poli THT RS PKU Muhammadiyah dengan
keluhan hidung tersumbat sejak 1 minggu lalu. Riwayat pilek 3 minggu lalu yg hilang
timbul. Cairan dari hidung (+), kekuningan dan kental. Dirasakan ada ingus yang
mengalir dari hidung ke mulut (+). Nyeri sekitar dahi serta pada pipi (+), nyeri bertambah
saat posisi sujud (+). Riwayat sakit gigi dan gigi berlubang (+). Dari pemeriksaan fisik
ditemukan status generalis dalam batas normal.
Dari pemeriksaan status lokalis;
cavum nasi dextra dan sinistra ditemukan mukosa hiperemis (+),
sekret (+)
concha inferior dextra dan sinistra hipertrofi (+),
Palpasi sinus paranasal; Sinus maxillaris dextra dan sinistra, nyeri tekan dan nyeri lepas
(+),
Post nasal drip (+).
Caries gigi di M2 superior sinistra dan M1 superior sinistra (+)
VI. DIAGNOSA KERJA
Rhinosinusitis maxillaris akut duplex
DD: Rhinitis Alergika

VII. USULAN PEMERIKSAAN

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan apus mukosa hidung

Pemeriksaan kultur dan resistensi

CT Scan

VIII. PENATALAKSANAAN
Umum

Kompres air hangat, bila ada nyeri di wajah

Jangan berenang dan menyelam

Bila ada nyeri telinga, nyeri menelan atau sakit kepala hebat segera periksa ke
dokter

Konsultasi ke dokter gigi pro ekstraksi gigi geraham kedua kiri atas dan gigi
geraham pertama kanan atas

Khusus
1. Antibiotik : Claneksi 500mg 3x/hari selama 5 hari
2. Decongestan : Rhinos SR tab 2x/hari selama 5 hari
3. Paracetamol 3 x 500 mg 3x/hari

X. NASEHAT UNTUK PASIEN


1. Hindari mengkorek-korek hidung dan hindari mengeluarkan cairan hidung (ingus)
atau kotoran dengan paksa.
2. Berobat atau kontrol kembali bila gejala tidak dirasakn membaik atau bahkan
bertambah parah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI SINUS PARANASAL


Sinus paranasal adalah rongga-rongga berisi udara yang dilapisi mukosa yang terletak di
dalam tulang wajah dan tengkorak.
2. PERKEMBANGAN SINUS PARANASAL
Keempat sinus paranasal mulai berkembang di akhir bulan ke-3 setelah konsepsi,
sebagai hasil invaginasi dari rongga hidung. Sinus paranasal pada mulanya berkembang
menjadi dinding tulang rawan dan atap dari fosa nasalis melalui proses pneumatisasi
(primer) menjadi tulang maksila, tulang sfenoid, tulang frontalis, dan tulang etmoidalis.
Sinus-sinus tersebut akhirnya membesar menjadi tulang keras yang disebut pneumatisasi
sekunder.
Pneumatisasi dari tulang-tulang paranasal terjadi berbeda-beda pada tiap sinus.
Pada sinus maksilaris pneumatisasi primer terjadi pada minggu ke-10 post-konsepsi, di
mana terbentuk tulang rawan ectethmoid dari meatus medius. Dan pneumatisasi sekunder
untuk menjadi tulang maksila terjadi pada bulan ke-5.
Pada sinus sfenoidales, pneumatisasi primer terjadi pada bulan ke-4 post-konsepsi
melalui konstriksi bagian superoposterior dari resesus sfenoethmoid. Dan pneumatisasi
sekunder terjadi pada umur 6-7 tahun .
Pada sinus etmoidalis, pneumatisasi primer terjadi ketika sel-sel udara ethmoid yang
berasal dari meatus medius dan meatus inferior serta resesus sfenoethmoid menginvasi
kapsula nasal ectethmoid. Hal tersebut terjadi pada bulan ke-4 post-konsepsi.
Pneumatisasi sekunder terjadi pada saat setelah bayi lahir sampai dengan usia 2 tahun.
Pada sinus frontalis, pneumatisasi primer terjadi dengan adanya invaginasi mukosa di
resesus frontalis dari meatus medius fosa nasalis. Proses ini terjadi pada bulan ke-3
sampai ke-4 post-konsepsi. Pneumatisasi sekunder tidak akan terjadi pada usia 6 bulan

sampai 2 tahun setelah lahir dan tidak akan terlihat pada pemeriksaan radiografi sampai
dengan usia 6 tahun.
3. ANATOMI SINUS PARANASAL

Gambar 1. Paranasal Sinuses ( Diambil dari : www.octc.kctcs.edu)

Gambar 2. Schematic representation of the lateral wall of the nasal cavity, with the
turbinates removed to expose the sinus ostia.

Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar, yaitu sinus
maksilaris, sinus frontalis, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal
merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga berbentuk rongga dalam
tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung.
SINUS MAKSILA
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila
bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai
ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa.
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah
1. Dasar dari anatomi sinus maksilaris sangat berdekatan dengan akar gigi rahang
atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi
taring (C) dan gigi molar M3, bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke
dalam sinus, sehigga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan
sinusitis;
2. Sinusitis maksila dapat menimbulka komplikasi orbita
3. Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase
kurang baik, lagipula drainase juga harus melalui infundibulum yang sempit.
Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat
radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan
selanjutnya menyebabkan sinusitis.
SINUS FRONTAL
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan keempat
fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah
lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran
maksimal sebelum usia 20 tahun.
Sinus frontal kana dan kiri biasanya tidak simetris satu lebih besar dari pada
lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang
dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak
berkembang.

Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2
cm. Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya
gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto rontgen menunjukkan
adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan
fossa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini.
Sinus frontalis berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal.
Resesus frontal adalah bagian dari sinus etmoid anterior.
SINUS ETMOID
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon,
yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara koka
media dan dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi antara 4-17 sel (ratarata 9 sel). Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior
yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus
superior. Sel-sel sinus etmiod anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya di bawah
perlekatan konka media, sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar
dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di postero-superior dari perlekatan konka media.
Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus
frontal, yang berhubungan dengan sinus frontalis. Sel etmoid yang terbesar disebut bula
etmoid. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyenpitan yang disebut infundibulum,
tempat bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus
frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di infundubulum dapat
menyebabkan sinusitis maksilaris.
SINUS SFENOID
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus
sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm
tingginya, dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari 5-7,5 ml.
Saat sinus berkembang, pembuliuh darah dan nervus di bagian lateral os sfenoid akan
menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada
dinding sinus sfenoid.

Batas-batasnya ialah, sebelah superior terdapat fossa serebri media dan kelenjar
hipofise, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus
kavernosus dan arteri karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah
posteriornya berbatasan dengan fossa serebri posterior di daerah pons.
KOMPLEKS OSTIO-MEATAL (KOM)
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, ada muaramuara saluran dari sinus maksilaris, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Daerah ini
rumit dan sempit, dan dinamaka kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri dari infundibulu
etmoid yang terdapat di belakang processus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan
sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.
4.

FUNGSI SINUS PARANASAL

Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara


lain :
Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk mamanaskan dan mengatur kelembaban
udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000
volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk
pertukaran udara total dalam sinus
Sebagai panahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai (buffer) panas, melindungi orbita dan fossa serebri dari
suhu rongga hidung yang berubah-ubah.
Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan
tetapi, bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan
pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini tidak dianggap
bermakana.
Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini akan berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya
pada waktu bersin dan beringus.

Membantu produksi mukus


Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang
turut masuk dalam udara.
SINUSITIS
A. DEFINISI SINUSITIS

Sinusitis disebut rhinosinusitis

Sinusitis jarang tanpa disertai rinitis.

Rhinitis = radang membaran mukosa hidung

Sinusitis = radang pada satu atau lebih sinus paranasal

Rhinosinusitis = radang membran mukosa hidung & sinus paranasal


Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai anatomi sinus yang

terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan
sinusitis sfenoid.
Yang paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila dan sinusitis etmoid,
sinusitis frontal dan sinusuitis sfenoid lebih jarang.
Sinus maksila disebut juga antrum High more, merupakan sinus yang seringter infeksi,
oleh karena;
(1) merupakan sinus paranasal yang terbesar,
(2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret atau drainase dari
sinusmaksila hanya tergantung dari gerakan silia,
(3) dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi
dapat menyebabkan sinusitis maksila,
(4) ostium sinus maksila terletak di meatus medius , disekitar hiatus semilunaris yang
sempit, sehingga mudah tersumbat.
B.

KLASIFIKASI SINUSITIS

Klasifikasi sinusitis dibuat berdasarkan ;


1.

Gejala kliniknya (akut,subakut,kronik)

2.

Lokasi anatomik yang terkena.

3.

Organisme yang brtanggung jawab ( virus,bakteri,jamur)

4.

Onset / Perjalanan penyakit


`

Menurut Spector dan Benstein (1998) klasifikasi sinusitis adalah


1.

Sinusitis akut : Gejala berlangsung selama 3-4 minggu, gejala yang ditimbulkan

meliputi infeksi saluran pernafasan atas yang menetap, adanya rhinorea yang purulen,
post nasal drip, anosmia, sumbatan hidung, nyeri fasial, sakit kepala, demam dan batuk.
2.

Sinusistis kronik: Gejala timbul lebih dari 4 minggu. Beberapa penderita tidak

memberikan gejala yang khas sehingga umumnya ditemukan kelainan CT atau MRI.
3.

Sinusitis rekuren : Bila episode sinusitis akut berulang hingga 3-4 kali dalam satu

tahun dan kemungkinan disebabkan oleh infeksi yang berbeda pada setiap episodenya.
Menurut Adams, berdasarkan perjalanan penyakitnya terbagi atas :
-

Sinusitis akut, bila infeksi beberapa hari sampai beberapa minggu

Sinusitis subakut, bila infeksi beberapa minggu sampai beberapa bulan

Sinusitis kronik, bila infeksi beberapa bulan sampai beberapa tahun ( bila sudah
lebih dari 3 bulan).

Klasifikasi rhinosinusitis pada dewasa


Klasifikasi Durasi
Akut

History, examination Special notes

Up to four weeks The presence of two Fever or facial pain/pressure does


or more Major signs not constitute a suggestive history
and symptoms; one in the absence of other nasal
Major and two or signs and symptoms. Consider
more Minor signs or acute bacterial rhinosinusitis if
symptoms; or nasal symptoms worsen after five days,
purulence
examination*

on if symptoms persist for 10 days


or

with

proportion

symptoms

out

to

typically

those

associated with viral infection.

of

Subacute

Four to <12 weeks Same

Complete

Recurrent

Four

effective medical therapy.


--

acute

episodes per year

or

more Same

resolution

after

with each episode


of at least seven
days'

duration;

absence
intervening
Chronic

of
signs

and symptoms
12 weeks or more Same

Facial pain/pressure does not


constitute a suggestive history in
the absence of other nasal signs
and symptoms.

*--See Table 2 for listing of Major and Minor signs and symptoms.
Adapted with permission from Lanza D, Kennedy DW. Adult rhinosinusitis defined.
Otolaryngol Head Neck Surg 1997;117(3 pt 2):S1-7.
Table 1. Classification of Adult Rhinosinusitis
Diambil dari Adult Rhinosinusitis Diagnosis and Management - January 1, 2001 - American
Family Physician

Berdasarkan gejalanya disebut akut bila terdapat tanda-tanda radang akut, subakut bila
tanda akut sudah mereda dan perubahan histologik mukosa sinus masih reversibel, dan
kronik bila perubahan tersebut sudah ireversibel, misalnya menjadi jaringan granulasi
atau polipoid.
C.

ETIOLOGI DAN FAKTOR PREDISPOSISI SINUSITIS

Penyebab sinusitis tergantung dari klasifikasi sinusitis yaitu akut dan kronis.
Penyebab sinusitis akut :
rinitis akut
infeksi faring, seperti faringitis, adenoiditis, tonsilitis akut

infeksi gigi rahang atas M1, M2, M3, serta P1 dan P2 (dentogen)
berenang dan menyelam
trauma, dapat menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal
barotrauma dapat menyebabkan nekrosis mukosa
Penyebab sinusitis kronis :
polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa
hidung
alergi dan defisiensi imunologi juga dapat menyebabkan perubahan mukosa hidung
infeksi baik oleh virus maupun bakteri
obstruksi osteomeatal complex
kelainan anatomi
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara dingin dan kering
serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan
merusak silia.
D.

PATOFISIOLOGI SINUSITIS
Dalam keadaan fisiologis, sinus adalah steril. Sinusitis dapat terjadi bila klirens

silier sekret sinus berkurang atau ostia sinus menjadi tersumbat, yang menyebabkan
retensi sekret, tekanan sinus negatif, dan berkurangnya tekanan parsial oksigen.
Lingkungan ini cocok untuk pertumbuhan organisme patogen.
Bila terjadi edema di kompleks ostiomeatal, mukosa yang letaknya berhadapan
akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan.
Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi didalam sinus, sehingga silia menjadi
kurang aktif dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga
sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi yang awalnya serous. Kondisi seperti ini
bisa dianggap rinosinusitis non-bakterial. Bila kondisi ini menetap, lendir yang
diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk
tumbuhnya bakteri patogen. Keadaan ini disebut rinosinusitis akut bakterial dan
memerlukan terapi antibiotik.

Bila sumbatan berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga
timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi
hipertrofi, polipoid atau pembentukan kista. Polip nasi dapat menjadi manifestasi klinik
dari penyakit sinusitis. Polipoid berasal dari edema mukosa, dimana stroma akan terisi
oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses
terus berlanjut, di mana mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian turun ke
dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terjadilah polip.

Perluasan infeksi dari sinus ke bagian lain dapat terjadi :


1. Melalui suatu tromboflebitis dari vena yang perforasi
2. Perluasan langsung melalui bagian dinding sinus yang ulserasi atau nekrotik
3. Dengan terjadinya defek
4. Melalui jalur vaskuler dalam bentuk bakterimia.
Pada dasarnya patofisiologi dari sinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu
obstruksi drainase sinus (sinus ostia),
kerusakan pada silia, dan
kuantitas dan kualitas mukosa.

E.

GEJALA KLINIS SINUSITIS

Tabel 1.

Kriteria diagnosis sinusitis

Mayor

Minor

Nyeri atau rasa tertekan pada wajah

Sakit kepala

Sekret nasal purulen

Batuk

Demam

Rasa lelah

Kongesti nasal

Halitosis

Obstruksi nasal

Nyeri gigi

Hiposmia atau anosmia

Nyeri atau rasa tertekan pada telinga

Diagnosis memerlukan dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor dengan dua kriteria
minor pada pasien dengan gejala lebih dari 7 hari.
Sumber: Boies ET. (2001)
Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke
alveolus hingga terasa di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga. Wajah
terasa bengkak, penuh, dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya
sewaktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan
menusuk, serta nyeri pada palpasi dan perkusi. Selama berlangsungnya sinusitis
maksilaris akut, pemeriksaan fisik akan mengungkapkan adanya pus dalam hidung.
Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. Batuk iritatif
non produktif seringkali ada.
Gambaran radiologik sinusitis akut mula-mula berupa penebalan mukosa,
selanjutnya opasifikasi sinus lengkap akibat mukosa yang membengkak hebat, atau
akibat akumulasi cairan yang memenuhi sinus. Biakan bakteri yang muncul biasanya
Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, bakteri anaerob, Branghamella
catarrhalis. Jika tidak mendapatkan penanganan yang adekuat Sinusitis maksilaris akut
dapat berubah menjadi sinusitis maksilaris kronis yang berlangsung selama beberapa
bulan atau tahun.
Gejala sinusitis dapat dibagi menjadi gejala mayor dan gejala minor :
1. Gejala mayor
nyeri pada wajah atau dengan penekanan
rasa penuh atau tersumbat di wajah
sumbatan di hidung
sekret pada hidung
gangguan penciuman

purulen pada rongga hidung


2. Gejala minor
sakit kepala
demam
halitosis
lemah
sakit gigi
batuk
nyeri telinga atau terasa penuh pada telinga
Pada pemeriksaan fisik, pasien dengan infeksi akut ditemukan bengkak pada
dareah maksila serta kemerahan pada kulit sekitarnya. Palpasi pada daerah ini untuk
melihat adanya nyeri tekan. Transiluminasi dapat membantu mendiagnosa, walaupun
tidak akurat. Pemeriksaan dengan anterior rhinoskopi lebih dipilih.
Pemeriksaan untuk menilai adanya deviasi septum nasal perlu dilakukan bila ada
gejala obstruksi. Mukosa dari nasal diamati, pada infeksi aktif mukosa edema dan
kemerahan. Sedangkan pada alergi, mukosa edema dengan warna pucat. Daerah
nasofaring diamai untuk mecari adanya hipertrofi adenoid, massa dan postnasal purulen.

SINUSITIS AKUT
A. Gejala Subyektif
Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama
pada anak kecil), berupa pilek dan batuk yang lama, lebih dari 7 hari.
Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu, serta
gejala lokal yaitu hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke

nasofaring (post nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari, nyeri
di daerah sinus yang terkena, serta kadang nyeri alih ke tempat lain
1. Sinusitis Maksilaris
Sinus maksila disebut juga Antrum Highmore, merupakan sinus yang sering
terinfeksi oleh karena
(1) merupakan sinus paranasal yang terbesar,
(2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus
maksila hanya tergantung dari gerakan silia,
(3) dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi
dapat menyebabkan sinusitis maksila,
(4) ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang
sempit sehingga mudah tersumbat
2. Sinusitis Ethmoidalis
Sinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak, seringkali
bermanifestasi sebagai selulitis orbita. Karena dinding leteral labirin ethmoidalis (lamina
papirasea) seringkali merekah dan karena itu cenderung lebih sering menimbulkan
selulitis orbita.
Pada dewasa seringkali bersama-sama dengan sinusitis maksilaris serta dianggap
sebagai penyerta sinusitis frontalis yang tidak dapat dielakkan.
Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius,
kadang-kadang nyeri dibola mata atau belakangnya, terutama bila mata digerakkan. Nyeri
alih di pelipis, post nasal drip dan sumbatan hidung
3. Sinusitis Frontalis
Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinus
etmoidalis anterior.

Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas, nyeri berlokasi di atas alis mata,
biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan
mereda hingga menjelang malam.
Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin
terdapat pembengkakan supra orbita.
4. Sinusitis Sfenoidalis
Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, di belakang
bola mata dan di daerah mastoid. Namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari
pansinusitis, sehingga gejalanya sering menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya
Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah posisi waters, PA dan lateral. Akan
tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level)
pada sinus yang sakit.
Pemeriksaan mikrobiologik sebaiknya diambil sekret dari meatus medius atau
meatus superior. Mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora
normal di hidung atau kuman patogen, seperti pneumococcus, streptococcus,
staphylococcus dan haemophylus influensa. Selain itu mungkin juga ditemukan virus
atau jamur.

SINUSITIS SUBAKUT
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya
(demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda.
Pada rinoskopi anterior tampak sekret di meatus medius atau superior. Pada
rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi
tampak sinus yang sakit, suram atau gelap.

SINUSITIS KRONIS

Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya
sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor
penyebab dan faktor predisposisinya.
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa
hidung. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik,
sehingga mempermudah terjadinya infeksi, dan infeksi menjadi kronis apabila
pengobatan sinusitis akut tidak sempurna.
A. Gejala Subjektif
Bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari :

Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pada hidung dan sekret pasca nasal (post

nasal drip) yang seringkali mukopurulen dan hidung biasanya sedikit tersumbat.
Gejala laring dan faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan.
Gejala telinga berupa pendengaran terganggu oleh karena terjadi sumbatan tuba

eustachius.
Ada nyeri atau sakit kepala.
Gejala mata, karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis.
Gejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau

bronkhiektasis atau asma bronkhial.


Gejala di saluran cerna mukopus tertelan sehingga terjadi gastroenteritis.

B. Gejala Objektif
Temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat
pembengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental,
purulen dari meatus medius atau meatus superior, dapat juga ditemukan polip, tumor atau
komplikasi sinusitis. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau
turun ke tenggorok.
Dari pemeriksaan endoskopi fungsional dan CT Scan dapat ditemukan etmoiditis
kronis yang hampir selalu menyertai sinusitis frontalis atau maksilaris. Etmoiditis kronis
ini dapat menyertai poliposis hidung kronis.

F. DIAGNOSIS SINUSITIS
Diagnosis sinusitis dapat ditegakkan dengan :
1. Anamnesis yang cermat
2. Pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior
3. Pemeriksaan transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal, yakni pada daerah
sinus yang terinfeksi terlihat suram atau gelap.
4. Pemeriksaan radiologik, posisi rutin yang dipakai adalah posisi Waters, PA dan
Lateral. Yang dimaksud dengan posisi Waters adalah untuk memproyeksikan tulang
petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan
kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Posisi ini
terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi
posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan posisi lateral untuk menilai sinus frontal,
sphenoid dan etmoid. Pada sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa penebalan
mukosa, opasifikasi sinus (berkurangnya pneumatisasi), gambaran aie fludi level yang
khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada foto Waters.
5. Kultur. Karena pengobatan harus dilakukan dengan mengarah kepada organisme
penyebab, maka kultur dianjurkan. Bahan kultur dapat diambil dari meatus medius,
meatus superior, atau aspirasi sinus
6. Sinoskopi sinus maksilaris, dengan sinoskopi dapat dilihat keadaan dalam sinus,
apakah ada sekret, polip, jaringan granulasi, massa tumor atau kista dan bagaimana
keadaan mukosa dan apakah osteumnya terbuka. Pada sinusitis kronis akibat
perlengketan akan menyebabkan osteum tertutup sehingga drenase menjadi terganggu.
7. Pemeriksaan histopatologi dari jaringan yang diambil pada waktu dilakukan sinoskopi.
8. Pemeriksaan meatus medius dan meatus superior dengan menggunakan nasoendoskopi.
9. Pemeriksaan CT-Scan, merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber
masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak :
penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu
atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus- kasus
kronik)

G.

DIAGNOSIS BANDING SINUSITIS


1. Polip nasi
Keluhan utama penderita polip nasi ialah hidung terasa tersumbat dari yang
ringan sampai ke yang berat, rinore mulai dari yang jernih sampai purulen,
hiposmia atau anosmia.Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung
disertai sakit kepala di daerah frontal.
Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga
hidungtampak mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan
rinoskopi anterior terlihatsebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari
meatus medius dan mudah digerakkan.
2. Rhinitis alergi
Pada anamnesa didapatkan hidung tersumbat hilang timbul, jarang disertai nyeri
wajah, cairan yang keluar tidak berwarna dan cair. Keluhan disertai bersin
bersin yang berulang, biasanya muncul karena terkena paparan allergen. Pada
pemeriksaan fisik hidung ditemukan chonca media hipertrofi dan hiperemis.

H.

PENATALAKSANAAN SINUSITIS

Tujuan utama penatalaksanaan sinusitis adalah:


1.

Mencapai fungsi dan anatomis yang normal dari sinonasal

2.

Mempercepat penyembuhan

3.

Mencegah komplikasi

4.

Mencegah perubahan menjadi kronik.

SINUSITIS AKUT

Pengobatan umum

Istirahat
Penderita dengan sinusitis akut yang disertai demam dan kelemahan sebaiknya
beristirahat ditempat tidur. Diusahakan agar kamar tidur mempunyai suhu dan

kelembaban udara tetap.


Higiene

Harus tersedia sapu tangan kertas untuk mengeluarkan sekrat hidung. Perlu
diperhatikan pada mulut yang cenderung mengering , sehingga setiap selesai makan
dianjurkan menggosok gigi.

Medikamnetosa
Kuman
penyebab
sinusitis

akut

yang

tersering

adalah

Streptococcus

pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Diberikan terapi medikamentosa berupa


antibiotik empirik (2x24 jam). Antibiotik yang diberikan lini I yakni golongan
penisilin atau cotrimoxazol dan terapi tambahan yakni obat dekongestan oral +
topikal,

mukolitik

untuk

memperlancar

drenase

dan

analgetik

untuk

menghilangkan rasa nyeri. Pada pasien atopi, diberikan antihistamin atau


kortikosteroid topikal. Jika ada perbaikan maka pemberian antibiotik diteruskan sampai
mencukupi 10-14 hari. Jika tidak ada perbaikan maka diberikan terapi antibiotik lini II
selama 7 hari yakni amoksisilin klavulanat/ampisilin sulbaktam, cephalosporin generasi
II, makrolid dan terapi tambahan. Jika ada perbaikan antibiotic diteruskan sampai
mencukupi 10-14 hari.

Jika tidak ada perbaikan maka dilakukan rontgen-polos atau CT Scan dan atau
naso-endoskopi.Bila dari pemeriksaan tersebut ditemukan kelainan maka dilakukan terapi
sinusitis kronik. Tidak ada kelainan maka dilakukan evaluasi diagnosis yakni evaluasi
komprehensif alergi dan kultur dari fungsi sinus.

Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang diperlukan, kecuali bila telah terjadi
komplikasi ke orbita atau intrakranial, atau bila ada nyeri yang hebat karena ada sekret
tertahan oleh sumbatan.
SINUSITIS SUBAKUT

Terapinya mula-mula diberikan medikamentosa, bila perlu dibantu dengan

tindakan, yaitu diatermi atau pencucian sinus.

Obat-obat yang diberikan berupa antibiotika berspektrum luas atau yang sesuai
dengan resistensi kuman selama 10 14 hari. Juga diberikan obat-obat simptomatis
berupa dekongestan. Selain itu dapat pula diberikan analgetika, anti histamin dan
mukolitik.

Tindakan dapat berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (Ultra Short

Wave Diathermy) sebanyak 5 6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki
vaskularisasi sinus. Kalau belum membaik, maka dilakukan pencucian sinus.

Pada sinusitis maksilaris dapat dilakukan pungsi irigasi. Pada sinusitis ethmoid,
frontal atau sphenoid yang letak muaranya dibawah, dapat dilakukan tindakan pencucian
sinus cara Proetz.
SINUSITIS KRONIS

Jika ditemukan faktor predisposisinya, maka dilakukan tata laksana yang sesuai
dan diberi terapi tambahan. Jika ada perbaikan maka pemberian antibiotik
mencukupi 10-14 hari. Antibiotik diberikan sesuai dengan kultur dan uji

sensitivitas.
Jika faktor predisposisi tidak ditemukan maka terapi sesuai pada episode akut lini

II + terapi tambahan. Sambil menunggu ada atau tidaknya perbaikan, diberikan antibiotik
alternative 7 hari atau buat kultur. Jika ada perbaikan teruskan antibiotik mencukupi 1014 hari, jika tidak ada perbaikan evaluasi kembali dengan pemeriksaan naso-endoskopi,
sinuskopi (jika irigasi 5 x tidak membaik). Jika ada obstruksi kompleks osteomeatal maka
dilakukan tindakan bedah yaitu BSEF atau bedah konvensional. Jika tidak ada obstruksi
maka evaluasi diagnosis.

Diatermi gelombang pendek di daerah sinus yang sakit.

Pada sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedang sinusitis
ethmoid, frontal atau sfenoid dilakukan tindakan pencucian Proetz.

Pembedahan
Radikal
a. Sinus maksila dengan operasi Cadhwell-luc.
b. Sinus ethmoid dengan ethmoidektomi.
c. Sinus frontal dan sfenoid dengan operasi Killian.
Non Radikal
a. bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya dengan membuka dan
membersihkan daerah kompleks ostiomeatal.

Sudah lama, operasi sinus dengan menggunakan system kamera ini dan
mempunyai standart operasi dalam penanganan pembedahan sinusitis.Dengan ini
mengenali teknologi sinus dengan system balon,dan ini juga salah satu cara dan mengatur
kurangnya infeksi dari sinus yang tersedia saat ini.
Alat perlengkapan ini sinus ini sangat bersih(steril),pipa kateter,yang dirancang
yang sangat spesifik agar dapat mengikuti anatomi daripada sinus yang berlikuliku.Sistem Relieva Sinus Ballon pada sinusistis ini digunakan untk membuka jalan yang
telah menyumbat sinus itu sendiri,dan banyak kasus-kasus yang lain.tanpa ada
membuang jaringan atau tulang manapun. Menggunakan system Relieva Sinus Balloon
ini dilakukan dengan sangat hati-hati.

Ballon Sinuplasti LUMA


Balon Sinuplasti ini adalah satu jalan revolusi dalam menangani sinus. Dengan

menggunakan kawat penunjuk dan balon untuk membesarkan yang menghalangi


sinus.Biasanya posisi dari pada balon ini diikuti dengan menggunakan sinar X(X-RAY)
selama operasi berlangsung.Teknologi ini telah mempunyai perkembangan yang lebih
dimana X-RAY tidak dibutuhkan lagi,malahan kawat penunjuk ini berdempetan dengan
satu sumber lampu yang digunakan untuk memastikan dimana lokasi dari sinus
tersebut.Teknologi yang terbaru in dinamakan system Releiva LUMA.Kini kami telah
berhasil menggunakan system tersebut dalam menjalankan operasi sinus.

I. KOMPLIKASI SINUSITIS
1. Komplikasi orbita
Karena letak anatomisnya yang dekat dengan sinus. Infeksi dapat menyebar
melalui arteri, vena , limfatik, atau juga langsung melalui lamina papyracea. Pemeriksaan
pada perubahan penglihatan, tekanan okuler dan pergerakan mata.
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering.
Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut, namun sinus
frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi
isi orbita.

Terdapat lima tahapan :

Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi
sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak, karena
lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering kali

merekah pada kelompok umur ini.


Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi

orbita namun pus belum terbentuk.


Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita

menyebabkan proptosis dan kemosis.


Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita.
Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang
lebih serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan
kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang

makin bertambah.
Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri melalui
saluran vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu tromboflebitis
septik.
Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari :
a. Oftalmoplegia.
b. Kemosis konjungtiva.
c. Gangguan penglihatan yang berat.

Kelemahan pasien.
Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang berdekatan
dengan saraf kranial II, III, IV dan VI, serta berdekatan juga dengan otak.

2. Mukokel
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus,
kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista
retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya.

Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan
melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi
sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke
lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan
penglihatan dengan menekan saraf didekatnya.
Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel
meskipun lebih akut dan lebih berat.
Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua
mukosa yang terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus.
1. Komplikasi Intra Kranial

Penyebaran ke dalam intrakranial dapat menyebabkan abses subdural atau


epidural, meningitis, abses otak dan trombosis sinus cavernous. Osteomyelitis
pada tulang frontal dan maksila jarang terjadi. Rhinorrhea cairan serebrospinal
harus dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat cedera kepala. Pilek persisten
unilateral dengan epistaksis dapat mengarah kepada neoplasma atau benda asing
nasal. Tension headache, cluster headache, migren, dan sakit gigi adalah
diagnosis alternatif pada pasien dengan sefalgia atau nyeri wajah.

Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis
akut, infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau
langsung dari sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus

frontalis atau melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.
Abses dura, adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering
kali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya
mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan

tekanan intra kranial.


Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau

permukaan otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura.


Abses otak, setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka
dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak.

Terapi komplikasi intra kranial ini adalah antibiotik yang intensif, drainase secara
bedah pada ruangan yang mengalami abses dan pencegahan penyebaran infeksi.

4. Osteomielitis dan abses subperiosteal


Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis
adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala sistemik
berupa malaise, demam dan menggigil.
1. Kelainan paru
seperti bronchitis kronik dan bronkietaksis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai
dengan kelainan paru inidisebut sinobronkitis.
CT-Scan penting dilakukan dalam menjelaskan derajat penyakit sinus dan derajat infeksi
di luar sinus, pada orbita, jaringan lunak dan kranium. Pemeriksaan ini harus rutin
dilakukan pada sinusitis refrakter, kronis atau berkomplikasi.

J. PROGNOSIS SINUSITIS
Dengan penanganan yang adekuat, prognosis baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ballinger, JJ. 1994. Radiologi Sinus Paranasal dalam Penyakit Telinga, Hidung,
Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid I. Edisi 13. Binarupa Aksara. Jakarta.
2. Boeis, Adam H. 1997. Buku Ajar Penyakit THT : Sinus Paranasalis. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC
3. Madiadipoera, Teti. Bahan Kuliah Ilmu Kesehatan THT-KL : Sinusitis. Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSHS.

4. Mangunkusumo, Endang dan Rifki, Nusjirwan. 2002. Buku ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher : Sinusitis . Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
5. Anggraini DR. Anatomi dan Fungsi Sinus Paranasal.2006. USU Respiratory. Diunduh
sari http://library.usu.ac.id/download/fk/06001191.pdf