Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

ASI EKSKLUSIF MP ASI

Pembimbing :
dr. Tundjungsari, Sp.A

Oleh :
HENNY HASYYATI
1320221108

KEPANITERAAN KLINIK PEDIATRIK


DEPARTEMEN ANAK
RSUD AMBARAWA
PERIODE 16 MARET 23 MEI 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Yang dengan izinnya maka
refrat ini dapat diselesaikan. Refrat ini merupakan diskusi topik pertama pada program
kepaniteraan di RSUD Ambarawa periode Maret-Mei 2015, dengan judul ASI Eksklusif dan
MP ASI.
Saya mengucapkan terima kasih kepada pembimbing diskusi topik dr. Tundjungsari,
Sp.A atas segala pengarahan dan

bimbingan yang telah dicurahkan selama proses

kepaniteraan.
Tujuan dari pembuatan diskusi topik ini adalah sebagai laporan dan penunjang dari
tugas kepaniteraan dan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian.
Saya menyadari bahwa diskusi topik ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, maka
dari itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar
kami dapat lebih baik lagi untuk kedepannya.
Terimakasih atas perhatiannya dan semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Jakarta,Maret 2015

Henny Hasyyati

DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL.................................................................................................

SURAT KETERANGAN..........................................................................................

ii

DAFTAR ISI.............................................................................................................

iii

A. Latar Belakang ..........................................................................................................


B.. .Tinjauan Umum Tentang ASI ...............................................................................
C.. .Perilaku IMD dan Pemberian ASI Eksklusif.........................................................
D.. .Manajemen Laktasi ..............................................................................................
E....Makanan Pendamping ASI ...................................................................................

1
4
15
18
20

DAFTAR PUSTAKA

ASI EKSKLUSIF
A. Latar Belakang
Masalah gizi terjadi di setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam kandungan (janin),
bayi, anak, dewasa dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa
kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.
Gangguan kekurangan gizi tingkat buruk yang terjadi pada periode ini bersifat permanen,
tidak dipulihkan walaupun kebutuhan gizi selanjutnya terpenuhi.
Untuk mendapatkan gizi yang baik pada bayi yang baru lahir maka ibu harus sesegera
mungkin menyusui bayinya karena ASI memberikan peranan penting dalam menjaga
kesehatan dan mempertahankan kelangsungan hidup bayi. Oleh karena itu, bayi yang
berumur kurang dari enam bulan dianjurkan hanya diberi ASI tanpa makanan pendamping.
Makanan pendamping hanya diberikan pada bayi yang berumur enam bulan ke atas (Suraji,
2003).
Berdasarkan data Susenas tahun 2004-2008 cakupan pemberian ASI ekslusif di
Indonesia berfluktuasi dan cenderung mengalami penurunan. Cakupan pemberian ASI
eksklusif pada bayi 0-6

bulan turun dari 62,2% (2007) menjadi 56,2% tahun 2008,

sedangkan pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% (2007) menjadi 24,3% (2008)
(Minarto,

2011).

Data

Survei

Demografi

dan

Kesehatan

Indonesia

1997-2007

memperlihatkan terjadinya penurunan prevalensi ASI eksklusif dari 40,2% pada tahun 1997
menjadi 39,5% dan 32% pada tahun 2003 dan 2007 (Fikawati dan Syafiq, 2010).
Hasil Riskesdas 2010 menunjukkan penurunan persentase bayi yang menyusu eksklusif
sampai dengan 6 bulan hanya 15,3%. Pemberian ASI kurang dari 1 jam setelah bayi lahir
tertinggi di Nusa Tenggara Timur (56,2%) dan terendah di Maluku (13%) dan di Sulawesi
Selatan hanya 30,1%. Sebagian besar proses menyusui dilakukan pada kisaran waktu 1- 6
jam setelah bayi lahir, namun masih ada 11,1 % yang dilakukan setelah 48 jam (Riskesdas,
2010). Jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif di Sulawesi Selatan tahun 2008 yaitu 57,48%
dan tahun 2007 57,05% (Profil kesehatan Sul-Sel, 2008), sedangkan di kota parepare,

prevalensi ASI eksklusif sampai 6 bulan rata-rata perbulan tahun 2011 yaitu 6,48% dan
prevalensi IMD 27,4% (Dinas Kesehatan Kota Parepare). .
Program peningkatan penggunaan ASI menjadi prioritas karena dampaknya yang luas
terhadap status gizi dan kesehatan balita, upaya peningkatan kualitas hidup manusia harus
dimulai sejak dini yaitu sejak masih dalam kandungan hingga usia balita. Dengan demikian
kesehatan anak sangat tergantung pada kesehatan ibu terutama masa kehamilan, persalinan
dan masa menyusui (Zainuddin, 2008)
Pada masa kehamilan perlu dipersiapkan tentang pengetahuan, sikap, perilaku dan
keyakinan ibu tentang menyusui, asupan gizi yang cukup, perawatan payudara dan persiapan
mental agar mereka siap secara fisik dan psikis untuk menerima, merawat dan menyusui
bayinya sesuai dengan anjuran pemberian ASI eksklusif hingga bayi berusia enam bulan dan
tetap menyusui hingga anaknya berusia 24 bulan (Zainuddin, 2008).
Pemerintah telah menetapkan target cakupan pemberian ASI Eksklusif pada tahun 2010
pada bayi 0-6 bulan sebesar 80% (Depkes, 2007; Minarto, 2011) sehingga berbagai kebijakan
dibuat pemerintah untuk mencapai kesehatan yang optimal yaitu Keputusan Menteri
Kesehatan (Kemenkes) Nomor 237 tahun 1997 tentang pemasaran Pengganti Air Susu Ibu
dan Kepmenkes No. 450/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu secara ekslusif pada Bayi di
Indonesia.
Program ASI Eksklusif merupakan program promosi pemberian ASI saja pada bayi
tanpa memberikan makanan atau minuman lain. Tahun 1990, pemerintah mencanangkan
Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian ASI (PPASI) yang salah satu tujuannya adalah
untuk membudayakan perilaku menyusui secara eksklusif kepada bayi dari lahir sampai usia
4 bulan. Tahun 2004, sesuai dengan anjuran WHO, pemberian ASI eksklusif ditingkatkan
menjadi 6 bulan sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia no.450/MENKES/SK/VI/2004
Undang-undang no. 7/1997 tentang pangan serta Peraturan Pemerintah No. 69/1999
tentang label dan iklan pangan. Dalam Kepmenkes no. 237/ 1997 antara lain diatur bahwa

sarana pelayanan kesehatan dilarang menerima sampel atau sumbangan susu formula bayi
dan susu formula lanjutan atau menjadi ajang promosi susu formula.
Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan juga menjadi provinsi pertama yang
mengesahkan Peraturan daerah tentang ASI melalui Perda no. 6 tahun 2010. Tujuan dari
pengaturan ASI Eksklusif adalah untuk menjamin terpenuhinya hak bayi, menjamin
pelaksanaan kewajiban ibu memberi ASI Eksklusif, dan mendorong peran keluarga,
masyarakat, badan usaha dan pemerintah daerah dalam pemberian ASI Eksklusif. Hak
seorang ibu untuk mendapatkan informasi tentang Inisiasi Menyusu Dini dan kolostrum, serta
kesempatan ibu bersalin dan bayi untuk melakukan inisiasi menyusu ini, dijelaskan dalam
pasal 10 ayat 1, 2, dan 3. Yang berbunyi, institusi pelayanan kesehatan dan penolong
persalinan wajib menyediakan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang manfaat
Inisiasi Menyusu dini (IMD) dan wajib memberikan kesempatan dan membantu ibu dan bayi
melakukan inisiasi menyusu dini. Kemudian, pasal 11 ayat 2 dijelaskan pula bahwa insitusi
pelayanan dan/atau penolong persalinan wajib membantu ibu melakukan pemberian
kolostrum pada bayi (Perda No. 6 Tahun 2010).
IMD dalam 30 menit pertama kelahiran merupakan salah satu dari 10 langkah menuju
keberhasilan menyusui yang berdasarkan Inisiatif Rumah Sakit Sayang Bayi (Baby Friendly
Hospital Initiative (BFHI)) tahun 1992. Di dalam langkah keempat tertulis bantu ibu mulai
menyusui dalam 30 menit setelah bayi lahir yaitu dengan metode breast crawl dimana
setelah bayi lahir lalu didekatkan di perut ibu dan dibiarkan merangkak untuk mencari sendiri
puting ibunya dan akhirnya menghisapnya tanpa bantuan (Yohmi, 2009; Katherine et al,
2005).
IMD, ASI Ekslusif selama 6 bulan dan umur pengenalan makanan pendamping ASI
merupakan intervensi utama dalam mencapai tujuan MDGs 1 dan 4 dalam menanggulangi
mortalitas dan malnutrisi pada anak (Bhutta et al, 2008 ; Dadhich and Agarwal, 2009).
Alasan yang menjadi penyebab kegagalan praktek ASI eksklusif bermacam-macam seperti
misalnya budaya memberikan makanan prelaktal, memberikan tambahan susu formula karena
6

ASI tidak keluar, menghentikan pemberian ASI karena bayi atau ibu sakit, ibu harus bekerja,
serta ibu ingin mencoba susu formula. Studi kualitatif Fikawati & Syafiq melaporkan faktor
predisposisi kegagalan ASI eksklusif adalah karena faktor pengetahuan dan pengalaman ibu
yang kurang dan faktor pemungkin penting yang menyebabkan terjadinya kegagalan adalah
karena ibu tidak difasilitasi melakukan IMD (Fikawati dan Syafiq, 2009).
B. Tinjauan Umum Tentang ASI
1. Pengertian
ASI merupakan makanan pertama, utama dan terbaik bagi bayi yang bersifat alamiah.
ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Definisi WHO menyebutkan bahwa ASI ekslusif yaitu bayi hanya diberi
ASI saja, tanpa cairan atau makanan padat apapun kecuali vitamin, mineral atau obat dalam
bentuk tetes atau sirup sampai usia 6 bulan (WHO (2002) dalam Aprilia, 2009). .
Sebelum tahun 2001, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk
memberikan ASI eksklusif selama 4-6 bulan. Namun pada tahun 2001, setelah melakukan
telaah artikel penelitian secara sistematik dan berkonsultasi dengan para pakar, WHO
merevisi rekomendasi ASI eksklusif tersebut dari 4-6 bulan menjadi 6 bulan (180 hari),
kemudian dilanjutkan selama 2 tahun dengan panambahan makanan pendamping yang tepat
waktu, aman, benar dan memadai (WHO, 2010).
Pemberian ASI secara dini dan ekslusif sekurang-kurangnya 4-6 bulan akan membantu
mencegah berbagai penyakit anak, termasuk gangguan lambung dan saluran nafas, terutama
asma pada anak-anak. Hal ini disebabkan adanya antibody penting yang ada dalam kolostrum
ASI (dalam jumlah yang lebih sedikit), akan melindungi bayi baru lahir dan mencegah
timbulnya alergi. Untuk alasan tersebut, semua bayi baru lahir harus mendapatkan kolostrum
(Rahmi (2008) dalam Aprilia, 2009)
Selain itu inisiasi menyusu dini dan ASI ekslusif. selama 6 bulan pertama dapat
mencegah kematian bayi dan infant yang lebih besar dengan mereduksi risiko penyakit
infeksi, hal ini karena (WHO, 2010):

a. Adanya kolostrum yang merupakan susu pertama yang mengandung sejumlah besar
faktor protektif yang memberikan proteksi aktif dan pasif terhadap berbagai jenis
pathogen.
b. ASI esklusif dapat mengeliminasi mikroorganisme pathogen yang yang terkontaminasi
melalui air, makanan atau cairan lainnya. Juga dapat mencegah kerusakan barier
imunologi dari kontaminasi atau zat-zat penyebab alergi pada susu formula atau
makanan.
2. Komposisi ASI
Air susu ibu (ASI) selalu mengalami perubahan selama beberapa periode tertentu.
Perubahan ini sejalan dengan kebutuhan bayi (Anonim, 2010):
a. Kolostrum
Kolostrum terbentuk selama periode terakhir kehamilan dan minggu pertama setelah
bayi lahir. ia merupakan ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke-4 yang
kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi. Kandungan proteinnya 3 kali lebih banyak
dari ASI mature. Cairan emas ini encer dan seringkali berwarna kuning atau dapat
pula jernih yang mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah putih yang dapat
membunuh kuman penyakit. Kolostrum merupakan pencahar yang ideal untuk
membersihkan mekonium dari usus bayi yang baru lahir. Volumenya bervariasi antara
2 dan 10 ml per feeding per hari selama 3 hari pertama, tergantung dari paritas ibu.
b. ASI peralihan/transisi
Merupakan ASI yang dibuat setelah kolostrum dan sebelum ASI Mature (Kadang
antara hari ke 4 dan 10 setelah melahirkan). Kadar protein makin merendah,
sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi. Volumenya juga akan makin
meningkat
c. ASI mature

ASI matang merupakan ASI yang keluar pada sekitar hari ke-14 dan seterusnya,
komposisi relative konstan. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI
merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai
umur enam bulan, Tidak menggumpal jika dipanaskan
Tabel 1. Komposisi kolostrum dan ASI (setiap 100 ml)
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Zat-zat Gizi
Energi
Protein
Kasein
Laktosa
Lemak
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin B2
Vitamin B12
Kalsium
Zat besi
Fosfor

Satuan
Kkal
G
Mg
G
G
Ug
Ug
Ug
Ug
Mg
Mg
Mg

Kolostrum
58.0
2.3
140.0 mg
5.3
2.9
151.0
1.9
30.0
0.05
39.0
70.0
14.0

ASI
70
0.9
187.0
7.3
4.2
75.0
14.0
40.0
0.1
35.0
100.0
15.0

3. Kandungan nutrisi dalam ASI


ASI mengandung komponen makro dan mikro nutrisi. Yang termasuk makronutrien
adalah karbohidrat, protein dan lemak sedangkan mikronutrien adalah vitamin dan mineral
(Baskoro, 2008)
a. Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu
sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir dua kali. rasio
jumlah laktosa dalam ASI dan PASI adalah 7 : 4 sehingga ASI terasa lebih manis
dibandingkan dengan PASI, Hal ini menyebabkan bayi yang sudah mengenal ASI dengan
baik cenderung tidak mau minum PASI. Karnitin mempunyai peran membantu proses
pembentukan energi yang diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh.
Konsentrasi karnitin bayi yang mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang
mendapat susu formula.
9

Hidrat arang dalam ASI merupakan nutrisi yang penting untuk pertumbuhan sel
syaraf otak dan pemberi energi untuk kerja sel-sel syaraf. Selain itu karbohidrat
memudahkan penyerapan kalsium mempertahankan faktor bifidus di dalam usus (faktor
yang menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya dan menjadikan tempat yang baik
bagi bakteri yang menguntungkan) dan mempercepat pengeluaran kolostrum sebagai
antibodi bayi
b. Protein
Protein dalam ASI lebih rendah dibandingkan dengan PASI. Namun demikian
protein ASI sangat cocok karena unsur protein di dalamnya hampir seluruhnya terserap
oleh sistem pencernaan bayi yaitu protein unsur whey. Perbandingan protein unsur whey
dan casein dalam ASI adalah 65 : 35, sedangkan dalam PASI 20 : 80. Artinya protein pada
PASI hanya sepertiganya protein ASI yang dapat diserap oleh sistem pencernaan bayi dan
harus membuang dua kali lebih banyak protein yang sukar diabsorpsi. Hal ini yang
memungkinkan bayi akan sering menderita diare dan defekasi dengan feces berbentuk biji
cabe yang menunjukkan adanya makanan yang sukar diserap bila bayi diberikan PASI.
c. Lemak
Kadar lemak dalam ASI pada mulanya rendah kemudian meningkat jumlahnya.
Lemak dalam ASI berubah kadarnya setiap kali diisap oleh bayi dan hal ini terjadi secara
otomatis. Komposisi lemak pada lima menit pertama isapan akan berbeda dengan hari
kedua dan akan terus berubah menurut perkembangan bayi dan kebutuhan energi yang
diperlukan.
Jenis lemak yang ada dalam ASI mengandung lemak rantai panjang yang dibutuhkan
oleh sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna karena mengandung enzim Lipase.
Lemak dalam bentuk Omega 3, Omega 6 dan DHA yang sangat diperlukan untuk
pertumbuhan sel-sel jaringan otak.

10

Susu formula tidak mengandung enzim, karena enzim akan

mudah rusak bila

dipanaskan. Dengan tidak adanya enzim, bayi akan sulit menyerap lemak PASI sehingga
menyebabkan bayi lebih mudah terkena diare. Jumlah asam linoleat dalam ASI sangat
tinggi dan perbandinganya dengan PASI yaitu 6 : 1. Asam linoleat adalah jenis asam lemak
yang tidak dapat dibuat oleh tubuh yang berfungsi untuk memacu perkembangan sel
syaraf otak bayi
d. Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap walaupun kadarnya relatif rendah, tetapi
bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai berumur 6 bulan. Zat besi dan kalsium dalam ASI
merupakan mineral yang sangat stabil dan mudah diserap dan jumlahnya tidak dipengaruhi
oleh diet ibu. Dalam PASI kandungan mineral jumlahnya tinggi tetapi sebagian besar tidak
dapat diserap, hal ini akan memperberat kerja usus bayi serta mengganggu keseimbangan
dalam usus dan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan sehingga
mengakibatkan kontraksi usus bayi tidak normal. Bayi akan kembung, gelisah karena
obstipasi atau gangguan metabolisme.
e. Vitamin
ASI mengandung vitamin yang lengkap yang dapat mencukupi kebutuhan bayi
sampai 6 bulan kecuali vitamin K, karena bayi baru lahir ususnya belum mampu
membentuk vitamin K. Kandungan vitamin yang ada dalam ASI antara lain vitamin A,
vitamin B dan vitamin C.
4. Volume ASI
Pada bulan-bulan terakhir kehamilan sering ada sekresi kolostrum pada payudara ibu
hamil. Setelah persalinan apabila bayi mulai mengisap payudara, maka produksi ASI
bertambah secara cepat. Dalam kondisi normal, ASI diproduksi sebanyak 10- 100 cc pada
hari-hari pertama. Produksi ASI menjadi konstan setelah hari ke 10 sampai ke 14. Bayi yang

11

sehat selanjutnya mengkonsumsi sebanyak 700-800 cc ASI per hari. Namun kadang-kadang
ada yang mengkonsumsi kurang dari 600 cc atau bahkan hampir 1 liter per hari dan tetap
menunjukkan tingkat pertumbuhan yang sama. Keadaan kurang gizi pada ibu pada tingkat
yang berat, baik pada waktu hamil maupun menyusui dapat mempengaruhi volume ASI.
Produksi ASI menjadi lebih sedikit yaitu hanya berkisar antara 500-700 cc pada 6 bulan
pertama usia bayi, 400-600 cc pada bulan kedua dan 300-500 cc pada tahun kedua usia anak
(Depkes, 2005).
5. Manfaat ASI
a. Manfaat ASI bagi bayi
Banyak manfaat pemberian ASI khususnya ASI ekslusif yang dapat dirasakan yaitu (1)
ASI sebagai nutrisi. (2) ASI meningkatkan daya tahan tubuh (3) menurunkan risiko
mortalitas, risiko penyakit akut dan kronis, (4) Meningkatkan kecerdasan, (5) Menyusui
meningkatkan jalinan kasih sayang (6) Sebagai makanan tunggal untuk memenuhi semua
kebutuhan pertumbuhan bayi sampai usia selama enam bulan. (7) Mengandung asam lemak
yang diperlukan untuk untuk pertumbuhan otak sehingga bayi yang diberi ASI Ekslusif lebih
pandai. (8) Mengurangi resiko terkena penyakit kencing manis, kanker pada anak dan
mengurangi kemungkinan menderita penyakit jantung. (9) Menunjang perkembangan
motorik (WHO, 2010; Roesli (2000) dalam Haniarti, 2011).
b. Manfaat ASI bagi ibu
Manfaat ASI bagi ibu antara lain (1) Pemberian ASI memberikan 98% metode
kontrasepsi yang efisien selama 6 bulan pertama sesudah kelahiran bila diberikan hanya ASI
saja (ekslusif) dan belum terjadi menstruasi kembali, (2) menurunkan risiko kanker payudara
dan ovarium, (3) membantu ibu menurunkan berat badan setelah melahirkan (4) menurunkan
risiko DM Tipe 2 (5) Pemberian ASI sangat ekonomis, (6) mengurangi terjadinya perdarahan
bila langsung menyusui setelah melahirkan (7) mengurangi beban kerja ibu karena ASI
tersedia dimana saja dan kapan saja (8) meningkatkan hubungan batin antara ibu dan bayi
(WHO, 2010; Aprilia, 2009).
12

c. Manfaat ASI bagi keluarga


Adapun manfaat ASI bagi keluarga (1) Tidak perlu uang untuk membeli susu formula,
kayu bakar atau minyak untuk merebus air, susu atau peralatan (2) Bayi sehat berarti keluarga
mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam perawatan kesehatan dan berkurangnya
kekhawatiran bayi akan sakit, (3) Penjarangan kelahiran karena efek kontrasepsi dari ASI
ekslusif, (4) Menghemat waktu keluarga bila bayi lebih sehat (5) Pemberian ASI pada bayi
(meneteki) berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI selalu siap tersedia (Aprilia, 2009).
6. Faktor penyebab berkurangnya ASI
a. Faktor Menyusui
Hal-hal yang dapat mengurangi produksi ASI adalah tidak melakukan inisiasi,
menjadwal pemberian ASI, bayi diberi minum dari botol atau dot sebelum ASI keluar,
kesalahan pada posisi dan perlekatan bayi pada saat menyusui .
b. Faktor Psikologi Ibu
Persiapan psikologi ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui. Ibu yang
tidak mempunyai keyakinan mampu memproduksi ASI umunya produksi ASI akan
berkurang. Stress, khawatir, ketidak bahagiaan ibu pada periode menyusui sangat
berperan dalam mensukseskan pemberian ASI ekslusif. Peran keluarga dalam
meningkatkan percaya diri ibu sangat besar.
c. Faktor Bayi
Ada beberapa faktor kendala yang bersumber pada bayi misalnya bayi sakit,
prematur, dan bayi dengan kelainan bawaan sehingga ibu tidak memberikan ASI-nya
menyebabkan produksi ASI akan berkurang .
c.

Faktor Fisik Ibu


Ibu sakit, lelah, menggunakan pil kontrasepsi atau alat kontrasepsi lain yang
mengandung hormon, ibu menyusui yang hamil lagi, peminum alkohol, perokok atau

13

ibu dengan kelainan anatomis payudara dapat mengurangi produksi ASI (Depkes, 2005;
)
7. Faktor yang mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI eksklusif
1. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil stimulasi informasi yang diperhatikan, dipahami dan
diingatnya. Informasi dapat berasal dari berbagai bentuk termasuk pendidikan formal maupun
non formal, percakapan harian, membaca, mendengar radio, menonton televisi dan dari
pengalaman hidup lainnya (Aprilia, 2009).
Menurut Roesli (2005) , bahwa hambatan utama tercapainya ASI ekslusif yang benar
adalah karena kurang sampainya pengetahuan yang benar tentang ASI ekslusif pada para ibu.
Seorang ibu harus mempunyai pengetahuan yang baik dalam menyusui. Kehilangan
pengetahuan tentang menyusui berarti kehilangan besar akan kepercayaan diri seorang ibu
untuk dapat memberikan perawatan terbaik untuk bayinya dan bayi akan kehilangan sumber
makanan yang vital dan cara perawatan yang optimal. Pengetahuan yang kurang mengenai
ASI ekslusif terlihat dari pemanfaatan susu formula secara dini di perkotaan dan pemberian
atau nasi sebagai tambahan ASI di pedesaan (Afifah, 2009).
2. Lingkungan
Menurut Perinasia (2003) lingkungan menjadi faktor penentu kesiapan ibu untuk
menyusui bayinya. Setiap orang selalu terpapar dan tersentuh oleh kebiasaan di
lingkungannya serta mendapat pengaruh dari masyarakat, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Pada kebanyakan wanita di perkotaan, sudah terbiasa menggunakan susu formula
dengan pertimbangan lebih modern dan praktis. Menurut penelitian Valdes dan Schooley
(1996) wanita yang berada dalam lingkungan modern di perkotaan lebih sering melihat ibuibu menggunakan susu formula sedangkan di pedesaan masih banyak dijumpai ibu yang
memberikan ASI tetapi cara pemberian tidak tepat. jadi pemberian ASI secara Ekslusif di
pengaruhi oleh lingkungan (Briawan, 2004 dalam Haniarti, 2011).
14

3. Pengalaman
Menurut hasil penelitian Diana (2007) pengalaman wanita semenjak kecil akan
mempengaruhi sikap dan penampilan wanita dalam kaitannya dengan menyusui di kemudian
hari. Seorang wanita yang dalam keluarga atau lingkungan mempunyai kebiasaan atau sering
melihat wanita yang menyusui bayinya secara teratur maka akan mempunyai pandangan yang
positif tentang menyusui sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Tidak mengherankan bila
wanita dewasa dalam lingkungan ini hanya memiliki sedikit bahkan tidak memiliki sama
sekali informasi, pengalaman cara menyusui dan keyakinan akan kemampuan menyusui.
Sehingga pengalaman tersebut mendorong wanita tersebut untuk menyusui dikemudian
harinya dan sebaliknya
4. Dukungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan ibu menyusui bayinya secara esklusif. Keluarga (suami, orang tua, mertua, ipar
dan sebagainya) perlu diinformasikan bahwa seorang ibu perlu dukungan dan bantuan
keluarga agar ibu berhasil menyusui secara ekslusif. Bagian keluarga yang mempunyai
pengaruh yang paling besar terhadap keberhasilan dan kegagalan menyusui adalah suami.
Masih banyak suami yang berpendapat salah, yang menganggap menyusui adalah urusan ibu
dan bayinya. Peranan suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (let
down reflek) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu (Roesli, 2008).
Infant feeding behaviours

Proximate
Determinant

Maternal choices
Opportunities to act on these choice

Infant feeding information and physical social support during pregnancy, childbirth and postpartum

Intermediate
Determinants
Gambar 1. Model determinan perilaku menyusui (Lutter (2000) dalam WHO, 2003)

Familial, medical and cultural, attitudes and norms


Demographics and economic
15 condition
Underlying
Commercial pressures
Determinants
National and polices and norms

WHO dalam communitybased strategies for breastfeeding promotion and support in


developing countries pada tahun 2003 telah membuat justifikasi dan framework mengenai
faktor faktor yang mempengaruhi pemberian ASI dapat dilihat pada gambar 1 di atas.
C. Perilaku inisiasi menyusu dini (IMD) dan Pemberian ASI Ekslusif
Perilaku atau keterampilan adalah hasil dari latihan yang berulang, yang dapat disebut
perubahan yang meningkat atau progresif oleh orang yang mempelajari ketrampilan tersebut
sebagai hasil dari aktivitas tertentu. Perilaku atau keterampilan dapat terwujud melalui hasil
dari pengalaman, pengetahuan dan sikapnya.
Menurut Green (2000), terdapat tiga faktor utama yang dapat mempengaruhi perilaku
individu atau masyarakat, yaitu: 1) faktor dasar (predisposing factors) yang meliputi: (a)
pengetahuan individu; (b) sikap; (c) kepercayaan; (d) tradisi; (e) unsur-unsur yang terdapat
dalam diri individu dan masyarakat dan; (f) faktor demografi; 2) faktor pendukung (enabling
factors) yang meliputi: sumberdaya dan potensi masyarakat seperti lingkungan fisik dan
sarana yang tersedia dan; 3) faktor pendorong (reinforcing factors) yang meliputi sikap dan
perilaku orang lain seperti teman, orang tua, dan petugas kesehatan. Begitu pula dengan
perilaku pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini dan pemberian ASI Eksklusif baik oleh ibu
maupun petugas kesehatan terutama bidan, semuanya sangat dipengaruhi oleh faktor faktor
tersebut diatas. Faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD dan pemberian ASI
Eksklusif terutama faktor sikap, motivasi, maupun pengetahuan, baik sikap, motivasi, dan
pengetahuan ibu, maupun petugas kesehatan khususnya bidan (Aprilia, 2009).
1. Pengertian IMD
Inisiasi menyusu dini dalam 30 menit pertama kelahiran merupakan salah satu dari 10
langkah menuju keberhasilan menyusui yang berdasarkan Inisiatif Rumah Sakit Sayang Bayi
(Baby Friendly Hospital Initiative: BFHI) tahun 1992. Di dalam langkah keempat tertulis
bantu ibu mulai menyusui dalam 30 menit setelah bayi lahir dengan memfokuskan pada
kemampuan alami yang ajaib bagaimana bayi memulai menyusu dengan cara bayi

16

merangkak di dada ibunya yang disebut breast crawl dan penjelasannya yaitu Setiap bayi,
saat diletakkan di perut ibunya segera setelah lahir mempunyai kemampuan untuk
menemukan payudara ibunya dan mengambil minum pertamanya dengan kemampuannya
sendiri (Yohmi, 2009).
Tahun 2006 BFHI merevisi penjelasan langkah ke-4 ini menjadi Letakkan bayi dalam
posisi tengkurap di dada ibunya, kontak kulit-ke-kulit dengan ibu segera setelah lahir paling
sedikit selama 1 jam dan dorong ibu mengenali tanda-tanda bayi siap menyusu, dan bila perlu
tawarkan bantuan. Dalam hal ini yang ditekankan adalah pentingnya kontak kulit-ke- kulit
dan kesiapan bayi (Yohmi, 2009).
2. Manfaat IMD
a. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) untuk Bayi (Bergstrom, 2007)
1). Menurunkan angka kematian bayi karena hypothermia
2) Dada ibu menghangatkan bayi dengan suhu yang tepat.
3) Bayi mendapatkan kolostrum yang kaya akan antibodi, penting untuk pertumbuhan
usus dan ketahanan bayi terhadap infeksi
4) Bayi dapat menjilat kulit ibu dan menelan bakteri yang aman, berkoloni di usus bayi
dan menyaingi bakteri pathogen
5) Menyebabkan kadar glukosa darah bayi yang lebih baik pada beberapa jam setelah
persalinan
6) Pengeluaran mekonium lebih dini, sehingga menurunkan intensitas ikterus normal
pada bayi baru lahir
b. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) untuk Ibu
1) Ibu dan bayi menjadi lebih tenang.
2) Jalinan kasih sayang ibu dan bayi lebih baik sebab bayi siaga dalam 1-2 jam pertama.
3) Sentuhan, jilatan, usapan pada putting susu ibu akan merangsang pengeluaran hormon
oxyitosin.
4) Membantu kontraksi uterus, mengurangi risiko perdarahan dan mempercepat
pelepasan plasenta

17

Dua studi terbaru yang melibatkan hampir 34.000 bayi yang baru lahir menunjukkan
bahwa risiko kematian meningkat dengan peningkatan penundaan inisiasi menyusu (Edmond
et al, 2006; Mullany et al, 2008). Di Ghana, neonatus 2,5 kali lebih mungkin meninggal saat
inisiasi menyusu dimulai setelah 24 jam dibanding menyusui yang dimulai dalam satu jam
pertama setelah lahir. Di Nepal, neonatus 1,4 kali lebih mungkin untuk meninggal jika
pemberian ASI dimulai setelah 24 jam pertama. Para penulis memperkirakan bahwa sekitar
seperlima dari semua kematian bayi (22% di Ghana dan 19% di Nepal) dapat dihindari jika
ASI mulai diberikan dalam satu jam pertama kehidupan semua bayi yang baru lahir. Manfaat
inisiasi menyusu dini khususnya bagi bayi prematur dan berat lahir rendah (Lucas et al, 1994;
Lucas & Cole, 1990). IMD dan ASI ekslusif selama 6 bulan merupakan kontribusi utama
dalam menurunkan mortalitas bayi dan anak-anak. Pentingnya IMD merupakan salah satu
rekomendasi WHO (WHO, 2010).
Berbagai studi juga telah melaporkan bahwa IMD terbukti meningkatkan keberhasilan
ASI eksklusif. Salariya et al menemukan bahwa bayi yang menyusu dalam 30 menit setelah
lahir kemungkinan besar akan menyusu dalam jangka waktu yang lama (Gupta, 2007). Hasil
penelitian Fikawati dan Syafiq (2003) menemukan bahwa Ibu yang memberikan immediate
breastfeeding 2 sampai 8 kali lebih besar kemungkinannya untuk memberikan ASI secara
eksklusif sampai 4 bulan dibandingkan dengan ibu yang tidak immediate breastfeeding.
kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif telah dimulai sejak 3 hari pertama kelahiran yaitu pada
saat makanan/minuman pralakteal diberikan. Studi kualitatif lainnya melaporkan faktor
predisposisi kegagalan ASI eksklusif adalah karena faktor predisposisi yaitu pengetahuan dan
pengalaman ibu yang kurang dan faktor pemungkin penting yang menyebabkan terjadinya
kegagalan adalah karena ibu tidak difasilitasi melakukan IMD (Fikawati dan Syafiq, 2010).
D. Manajemen Laktasi
1. Pengertian

18

Manajemen laktasi adalah tata laksana yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan
menyusui. Dalam pelaksanaanya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah
persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya (Depkes, 2005).
2. Periode dalam manajemen laktasi
a. Pada masa kehamilan (antenatal)
Hal-hal yang perlu dilakukan pada masa kehamilan :
1) Memberikan komunikasi, informasi dan edukasi tentang keunggulan ASI, manfaat
menyusui bagi ibu dan bayi, serta dampak negative pemberian susu formula.
2) Ibu memeriksakan kesehatan tubuh pada saat kehamilan, kondisi puting payudara dan
memantau kenaikan berat badan saat hamil.
3) Ibu melakukan perawatan payudara sejak kehamilan berumur 6 bulan hingga ibu siap
untuk menyusui, ini bermaksut agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI
yang mencukupi kebutuhan bayi.
4) Ibu senantiasa mencari informasi tentang gizi dan makanan tambahan sejak kehamilan
trimester ke-2. Makanan tambahan saat hamil sebanyak 1 1/3 kali dari makanan yang
dikonsumsi sebelum hamil (Depkes, 2005; Prasetyono, 2009).
b. Pada masa segera setelah melahirkan
Hal yang dilakukan segera setelah melahirkan :
1). Dalam waktu 30 menit setelah melahirkan, ibu dibantu dan dimotivasi agar mulai
kontak dengan bayi (skin to skin contact) dan mulai meyusui bayi. Karena pada
saat ini bayi dalam keadaan paling peka terhadap rangsangan, selanjutnya bayi
akan mencari payudara ibu secara alamiah
1) Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) dalam waktu 2 minggu
setelah melahirkan
2) Bayi harus disusui dengan cara yang benar, baik posisi maupun cara perlekatan
bayi pada payudara ibu (Depkes, 2005; Prasetyono, 2009).
c. Masa menyusui (Postnatal)
Hal yang harus diperhatikan dalam manajemen laktasi setelah melahirkan :
1) Bayi hanya diberi ASI saja (Secara ekslusif) selama 6 bulan pertama usia bayi
2) Meyusui tanpa dijadwal atau setiap bayi meminta (on demand)
3) Bila bayi terpaksa dipisah dari ibukarena indikasi medik, bayi arus tetap mendapat
ASI dengan cara memerah ASI untuk mempertahankan produksi ASI tetap lancar

19

4) Mempertahankan kecukupan gizi dalam makanan ibu menyusui sehari-hari. Ibu


menyusui harus makan 1 kali lebih banyak dari biasanya dan minum minimal 10
gelas air per hari
5) Cukup istirahat, menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan fisik
yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat
6) Mengatasi bila ada masalah menyusui (payudara bengkak, bayi tidak mau
menyusu, puting lecet, dll) (Depkes, 2005).
3. Tehnik menyusui yang benar
Teknik menyusui yang benar, dapat kita amati melalui beberapa respon dari bayi, jika
ibu menyusui dengan teknik yang tidak benar mengakibatkan puting susu menjadi
lecet. Untuk mengetahui bayi telah menyusu dengan teknik yang benar, dapat dilihat
antara lain (1) tubuh bagian depan menmpel pada tubuh ibu, (2) dagu bayi menempel
pada payudara (3) dada bayi menempel pada dada ibu (4) mulut bayi terbuka lebar
dengan bibir bawah yang terbuka (5) sebagian besar areola tidak tampak, (6) bayi
menghisap dengan dalam dan perlahan (7) bayi tampak tenang dan puas pada akhir
menyusu, (8) terkadang terdengar suara bayi menelan (9) puting susu tidak terasa sakit
atau lecet (Depkes, 2005).
E. MAKANAN PENDAMPING ASI
Gizi sangat berperan dalam tumbuh kembang anak. Tujuan pemberian gizi yang baik
adalah mencapai tumbuh kembang anak yang adekuat. Pada bayi dan anak,
kekurangan gizi akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang
apabila tidak diatasi secara dini akan berlanjut hingga dewasa.
Usia 0-24 bulan merupakan masa kritis dalam pertumbuhan dan perkembangan anak,
karena dimasa inilah periode tumbuh kembang anak yang paling optimal baik untuk
intelegensi maupun fisiknya. Periode ini dapat terwujud apabila anak mendapatkan
asupan gizi sesuai dengan kebutuhannya secara optimal.
Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.450/MenKes SK/IV
tanggal 7 April 2004, yang mengacu pada resolusi World Health Assembly
(WHO,2001) menyatakan bahwa untuk mencapai pertumbuhan, perkembangan, dan
kesehatan yang optimal bayi harus diberi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Hasil
survei menunjukkan salah satu penyebab terjadinya gangguan tumbuh kembang bayi
20

dan anak usia 12-24 bulan di Indonesia adalah rendahnya mutu MP-ASI.
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah makanan atau minuman yang
mengandung zat gizi yang diberikan kepada bayi atau anak yang berusia lebih dari 6
bulan guna memenuhi kebutuhan zat gizi selain dari ASI. Hal ini dikarenakan ASI
hanya mampu memenuhi duapertiga kebutuhan bayi pada usia 6-9 bulan, dan pada
usia 9-12 bulan memenuhi setengah dari kebutuhan bayi.
Dalam pemberian MP-ASI, yang perlu diperhatikan adalah usia pemberian MP-ASI,
jenis MP-ASI, frekuensi dalam pemberian MP-ASI, porsi pemberian MP-ASI, dan
cara pemberian MP-ASI pada tahap awal. Pemberian MP-ASI yang tepat diharapkan
tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, namun juga merangsang
keterampilan makan dan merangsang rasa percaya diri pada bayi. Pemberian makanan
tambahan harus bervariasi, dari bentuk bubur cair kebentuk bubur kental, sari buah,
buah segar, makanan lumat, makanan lembek dan akhirnya makanan padat.
Widodo dalam penelitiannya pada tahun 2003 menyebutkan bayi yang diberi ASI
eksklusif memiliki pertambahan berat badan rata-rata tiap bulan lebih besar dari bayi
yang diberi MP-ASI dini sebelum usia 4 bulan. Terjadinya gangguan pertumbuhan ini
dapat disebabkan karena MP-ASI yang diberikan pada umumnya tidak mengandung
energi serta zat gizi mikro seperti seng, dan zat besi yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan bayi.
Diet harian yang baik, jumlahnya harus adekuat dan mencakup makanan yang kaya
energi. Prinsip dasar dalam tatalaksana nutrisi adalah untuk memberikan diet dengan
makanan yang mengandung cukup energi dan protein kualitas tinggi. Makanan
dengan kandungan tinggi minyak atau lemak juga dapat diberikan. Jumlah lemak
yang dapat diberikan dapat mencapai 30-40% kebutuhan kalori. Beri anak makan
sesering mungkin agar anak mendapatkan asupan energi yang tinggi. Jika masih perlu
tambahan zat gizi, berikan tambahan multivitamin dan mineral.
Anak harus dibujuk untuk makan dalam porsi kecil namun sering. Jika anak dibiarkan
untuk makan sendiri, atau harus makan bersaing dengan saudaranya mungkin anak
tidak akan mendapatkan cukup makanan.
Makanan yang diberikan pada anak harus :

Enak (untuk anak)

Mudah dimakan (lunak atau cair)

Mudah dicerna
21

Bergizi dan kaya energi dan nutrien

Anjuran pemberian makan selama anak sakit dan sehat :


Sampai anak berumur 6 bulan :

Beri ASI sesering mungkin sesuai keinginan anak, paling sedikit 8 kali, pagi, siang
dan malam.

Jangan berikan makanan dan minuman lain selain ASI

hanya jika anak berumur lebih dari 4 bulan dan terlihat haus setelah diberi ASI, dan
tidak bertzmbah berat sebagaimana mestinya:
-

tambahkan MP-ASI

berikan 2-3 sendok makan MP -ASI 1 Atau 2 kali sehari setelah anak menyusu

Anak umur 6 sampai 9 bulan :

teruskan pemberian ASI sesuai keinginan anak

mulai memberi makanan pendamping ASI (MP-ASI) sperti bubur susu, pisang,
papaya lumat halus, air jeruk, air tomat saring.

secara bertahap sesuai pertambahan umur, berikan bubur tim lumat ditambah kuning
telur/ayam/ikan/ tempe/ tahu/daging sapi/wortel/bayam/kacang hijau/santan/minyak.

setiap hari berikan makanan sebagai berikut :


>umur 6 bulan : 2 x6 sdm peres
>umur 7 bulan : 2-3 x 7 sdm peres
>umur 8 bulan : 3x8 sdm peres

Umur anak 9 bulan sampai 12 bulan :

teruskan pemberian ASI sesuai keinginan anak

Berikan makanan pendamping ASI yang lebih padat dan kasar, seperti bubur nasi,
nasi tim, nasi lembik.

tambahkan telur/ayam/ikan/tempe/tahu/ daging sapi/wortel/bayam/santan/kacang


hijau/minyak

setiap hari (pagi, siang dan malam) diberikan makanan sebagai berikut :
>umur 9 bulan :3 x 9 sdm peres
22

>umur 10 bulan : 3x10 sdm peres


>umur 11 bulan : 3x11 sdm peres

beri makanan selingan 2 kali sehari di antara waktu makan ( biskuit, buah, kue)

Anak umur 12 bulan sampai 24 bulan:

teruskan pemberian ASI sesuai keinginan anak

berikan makanan keluarga secara bertahap sesuai dengan kemampuan anak

berikan 3 kali sehari, sebanyak 1/2 porsi makan orang dewasa terdiri dari nasi, lauk
pauk, sayur, buah

berikan makanan selingan kaya gizi 2 kali sehari diantara waktu makan (biskuit,kue)

perhatikan variasi makanan

Anak umur 2 tahun lebih :

berikan makanan keluarga 3 kali sehari, sebanyak 1/3 sampai setengah porsi makan
orang dewasa yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur dan buah

berikan makanan selingan kaya gizi 2 kali sehari diantara waktu makan

DAFTAR PUSTAKA

Afifah, 2009. Inisiasi Menyusu Dini dan Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif di Kecamatan
Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat. Tesis Medan. Universitas Sumatra
Utara
.
Anonim. Turun, jumlah bayi yang dapat ASI eksklusif. Gizi Net (online
http://www.gizi.net/cgiin/berita/fullnews.cgi?newsid1173324133,39743,
diakses 13 Desember 2009)
_______, 2010. Composition of breast milk. (online, http. Breastfeesing-mom.com, diakses
27 Februari 2012)
23

Aprilia, Y. Analisis Sosialisasi Program Inisiasi Menyusu Dini Dan Asi Eksklusif Kepada
Bidan Di Kabupaten Klaten. Tesis Universitas Diponegoro Semarang 2009.
Apurba et al. Infant and Young Child-feeding Practices in Bankura District, West Bengal,
India. J Health Popul Nutr. 2010 June; 28(3): 294299
Baskoro, A, 2008. ASI Panduan Praktis Ibu menyusui, Banyu media
Bergstrom, A., Okong, P., & Ransjo-Arvidson, A. Immediate maternal thermal response to
skin-to-skin care of newborn. Acta Paediatr, 96(5), 655-658, 2007
Bhutta ZA, Ahmed T, Black RE, Cousens S, Dewey K, Giugliani E, et al. What works?
Interventions for maternal and child undernutrition and survival. Lancet.
2008;371:41740
Dadhich JP, Agarwal RK. Mainstreaming early and exclusive breastfeeding for improving
child survival. Indian Pediatr. 2009;46:117
Dahlan, S. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan ed.3. Jakarta : Salemba Medika
Depkes, 2005. Manajemen Laktasi. Buku Panduan Bagi Bidan dan Petugas Kesehatan di
Puskesmas. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
______, 2007. Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Konseling Menyusui Dan Pelatihan
Fasilitator Konseling Menyusui, Jakarta.
Dinesh K. Et al. Influence of Infant Feeding Practices on Nutritional Status of Under Five
Children. Indian Journal of Pediatrcs, Vol 73-May, 2006
Dyson L, McCormick F, and Renfrew MJ. Interventions for promoting the initiation of
breastfeeding (Review). The Cochrane Library 2007, Issue 4
Edmond KM, Zandoh C, Quigley MA, Amenga-Etego S, Owusu-Agyei S, Kirkwood BR.
Delayed breastfeeding initiation increases risk of neonatal mortality.
Pediatrics. 2006;117:380-6.
___________, Kirkwood BR, Amenga-Etegos S, Owusu-Agyei S, Hurt LS. Effect of early
infant feeding practices on infection-specific neonatal mortality: an
investigation of the causal links with observational data from rural Ghana.
Am J Clin Nutr. 2007;86:112631
Ertem IO, Votto N and Leventhal JM. The timing and predictors of early termination of
breastfeeding.
Pediatrics
2001:
107;
543-548.
Available
at
http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/107/3/543
Februhartanty J, Strategic Roles of Fathers in Optimizing breastfeeding Practices; Study in an
Urban Setting Of Jakarta, UI, Jakarta, 2008

24

Fikawati, S. dan Syafiq, A. Kajian Implementasi Dan Kebijakan Air Susu Ibu Eksklusif Dan
Inisiasi Menyusu Dini Di Indonesia. Makara, kesehatan, vol. 14, no. 1, juni
2010: 17-24
_________ .Praktik pemberian ASI eksklusif, penyebab-penyebab keberhasilan dan
kegagalannya. Jurnal Kesmas Nasional 2009; 4(3):120-131
_________, Hubungan Antara Menyusui Segera (Immediate Breastfeeding) dan Pemberian
ASI eksklusif Sampai Dengan Empat Bulan. J Kedokter Trisakti. MeiAgustus 2003, Vol.22 No.2
Giugliani ERJ. Common problems during lactation and their management. J Pediatr (Rio J)
2004; 80 (5 Suppl): S147-S154
Gupta, A., 2007. Initiating breastfeeding within one hour of birth. Presented at Thirty Fourth
Session of the Standing Committee on Nutrition
Hadju, V., 1997. Penentuan Status Gizi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Hasanuddin Makassar
Haniarti, 2011. Pengaruh Edukasi Terhadap Perubahan Pengetahuan dan Sikap Inisiasi
Menyusui Dini dan Manajemen Laktasi Pada Ibu Hamil di Kota Parepare.
Tesis Tidak Diterbitkan. Universitas Hasanuddin Makassar
Hidayat dkk, 2004. Upaya Pemeliharaan Kesehatan dan status Gizi Bayi Berat Badan Lahir
Rendah. Media Gizi dan Keluarga, Juli Vol 28.
Katherine et al, 2005. The CDC guide to breastfeeding intervention. Department of health
and human services CDC.
Kori B. Flower, et al. 2008. Understanding Breastfeeding Initiation and Continuation in Rural
Communities: A Combined Qualitative/Quantitative Approach. Matern Child
Health J. 2008 May ; 12(3): 402414
Kurniawati, D., 2005. Hubungan Antara Pengetahuan Gizi Ibu, Tingkat Konsumsi Energi dan
Status Gizi Balita di Desa Tawangharjo Kecamatan Widarijaksa Kabupaten
Pati Tahun 2005. Skripsi diterbitkan. Semarang: Universitas Semarang
Laporan Riset Kesehatan Dasar 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Lucas, A.M. et al. A randomized multicentre study of human milk versus formula and later
development in preterm infants. Arch Dis Child. 70: F141-F146 (1994).
Lucas, A. & Cole, T.J. Breast milk and neonatal necrotising enterocolitis. The Lancet. Dec
22-29;336 (8730): 1519-1523 (1990).
Luke, et al. Breast-Feeding Patterns, Time to Initiation, and Mortality Risk among Newborns
in Southern Nepal. J. Nutr. 138: 599603, 2008

25

Minarto, 2011. Rencana aksi pembinaan gizi masyarakat tahun 2010-2014. Online
(www.gizikia.depkes.go.id, diakses 18 Februari 2012)
Muchina EN and PM Waithaka. Relationship betwen breastfeeding practices and nutritional
status of children aged 0-24 months in Nairobi, Kenya. Ajfand Online Vol. 10
No.4 April 2010.
Mullany, L.C. et al. Breast-feeding patterns, time to initiation, and mortality risk among
newborns in Southern Nepal. J Nutr. 138: 599-603 (2008).
Mushaphi et al. Infant-feeding practices of mothers and the nutritional status of infants in the
Vhembe District of Limpopo Province. S Afr J Clin Nutr 2008;21(2):36-41
Notoatmojo,S., 2007. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Asdi Maha Satya
Owor M, Tumwine JK and JK Kaukauna. Socio-economic risk factors for severe protein
energy malnutrition among children in Mulago Hospital Kampala.
E.Afr.Me.J.2000;Vol.77(9): 471-474
Pedoman penulisan Tesis dan Disertasi ed.4. Program Pascasarjana Universitas Hasanudin
Makassar 2009
Prasad, Bindeshwar, and Anthony M de L Costello. Impact and Sustainability of a Baby
Friendly Health Education Intervention at a District Hospital in Bihar, India.
British Medical Journal. 310 (11 March 1995):621-623)
Putra A. Analisis Praktek Bidan dalam Pelayanan bagi Ibu Bersalin dan Bayi Baru Lahir 0-7
Hari (Minggu Pertama) Pasca Persalinan di Kecamatan Lembah Gumanti
Kabupaten Solok Tahun 2007 (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas
Alahan Panjang). Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Indonesia. Indonesia, 2007
Roesli, U., 2005. Mengenal ASI Ekslusif. Jakarta : PT Pustaka Pembangunan Swadaya
Nusatara
_____, U., 2008. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Esklusif. Jakarta: Pustaka Bunda
Siregar, A. 2004. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI oleh ibu melahirkan.
Tesis tidak diterbitkan. Bagian Gizi Kesehatan Mayarakat FKM Universitas
Sumatera Utara
Soekirman, 2000. Gizi, Morbiditas dan Mortalits Bayi di Indonesia. Gizi Indonesia Vol X
no.1
Suraji, R. 2003. Manajemen Laktasi. Program Manajemen laktasi Perkumpulan Perinatologi
di RSU Tapak Tuan, Aceh.
UNICEf, 2007. Breast Crawl ; Initiation of Breastfeeding by Breast Crawl, Breast Crawl.org

26

World Health Organization. Community-Based strategies for Breastfeeding Promotion and


Support in Developing Countries. 2003
__________,. Early Initiation of Breastfeeding: the Key to Survival and Beyond. 2010
Yang Q, Wen SW, Dubois L, Chen Y, Walker MC, Krewski D. Determinants of breastfeeding and weaning in Alberta, Canada. J Obstet Gynaecol Can. 2004
Nov;26(11):975-81
Yohmi, E. 2009. Inisiasi menyusu dini. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Online (www.
Idai.or.id, diakses 18 Februari 2012)
Zainuddin, 2008. Pengaruh Konseling Ibu Hamil Terhadap Inisiasi Menyusu Dini Di
Kabupaten Pangkep Tahun 2008. Tesis tidak diterbitkan. Program
Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar

27