Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH KIMIA ANILITIK DASAR

Tentang
IODIMETRI

OLEH:
KELOMPOK 12
Dilla Amanda Edwin
Nilam Sari
Nindya Erina R
Yuni Elsa Rakhmawati

DOSEN PEMBIMBING:
Azizah, SKM
Yonaniko Dephinto, M.Si

KELAS D-IV A GIZI


KEMENTERIAN KESEHATAN
JURUSAN GIZI POLTEKKES PADANG
2014
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Titrasi iodometri dan iodimetri adalah salah satu metode titrasi yang didasarkan pada reaksi
oksidasi reduksi. Pada makalah ini akan dibahas tentang titrasi iodimetri. Metode ini lebih
banyak digunakan dalam analisa jika dibandingkan dengan metode lain. Alasan dipilihnya
metode ini karena perbandingan stoikometri yang sederhana pelaksanannya praktis dan tidak
benyak masalah dan mudah.
Titrasi iodimetri merupakan titrasi langsung terhadap zat zat yang potensial oksidasinya
lebih rendah dari sistem iodium iodida, sehingga zat tersebut akan teroksidasi oleh iodium.
Dalam bidang farmasi metode ini digunakan untuk menentukan kadar zat-zat yang mengandung
oksidator misalnya Cl2, Fe (III), Cu (II) dan sebagainya, sehingga mengetahui kadar suatu zat
berarti mengetahui mutu dan kualitasnya.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalahnya adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan iodimetri?
2. Apakah perbedaan reaksi iodimetri dan iodometri?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Agar mahasiswa mengetahui reaksi iodimetri
2. Agar mahasiswa mengetahui perbedaan reaksi iodimetri dengan reaksi iodometri

BAB II

PEMBAHASAN
Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri). Iodimetri
merupakan titrasi langsung dan merupakan metoda penentuan atau penetapan kuantitatif yang
pada dasar penentuannya adalah jumlah I2 yang bereaksi dengan sample atau terbentuk dari hasil
reaksi antara sample dengan ion iodida . Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I2 sebagai penitar.
Titrasi iodimetri merupakan titrasi langsung terhadap zat zat yang potensial oksidasinya
lebih rendah dari sistem iodium iodida, sehingga zat tersebut akan teroksidasi oleh iodium.
Cara melakukan analisis dengan menggunakan senyawa pereduksi iodium yaitu secara langsung
disebut iodimetri, dimana digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang
dapat dioksidasi secara kuantitatif pada titik ekivalennya.
Iodimetri adalah oksidasi kuantitatif dari senyawa pereduksi dengan menggunakan iodium.
Iodimetri ini terdiri dari 2, yaitu;
a. Iodimetri metode langsung, bahan pereduksi langsung dioksidasi dengan larutan baku
Iodium.

Contohnya pada penetapan kadar Asam Askorbat.

b. Iodimetri metode residual ( titrasi balik), bahan pereduksi dioksidasi dengan larutan baku
iodium dalam jumlah berlebih, dan kelebihan iod akan dititrasi dengan larutan baku natrium
tiosulfat. Contohnya pada penetapan kadar Natrium Bisulfit.
Dalam titrasi iodimetri, iodin dipergunakan sebagai sebuah agen pengoksidasi, namun dapat
dikatakan bahwa hanya sedikit saja substansi yang cukup kuat sebagai unsur reduksi yang
dititrasi langsung dengan iodin. Karena itu jumlah dari penentuan-penentuan iodimetrik adalah
sedikit. Substansi-substansi penting yang cukup kuat sebagai unsur-unsur reduksi untuk dititrasi
langsung dengan iodin yaitu zat-zat dengan potensial reduksi yang jauh lebih rendah adalah
tiosulfat, arsenik (III), antimon (III), sulfida, sulfit, timah (II) dan ferosianida, zat-zat ini bereaksi
lengkap dan cepat dengan iod bahkan dalam larutan asam. Dengan zat pereduksi yang agak
lemah, misal arsen trivalen atau stibium trivalen, reaksi yang lengkap hanya akan terjadi bila
larutan dijaga tetap netral atau sangat sedikit asam, pada kondisi ini potensial reduksi dari zat
pereduksi adalah minimum atau daya mereduksinya adalah maksimum.
Iodium merupakan kristal hitam mengkilat yang mudah dimurnikan dengan cara
sublimasi (resublimated Iodine), tidak larut dalam air,larut dalam alkohol dan dalam larutan
KI,karena terbentuknya ion triiodida menurut reaksi:

I2

I3

Iodium merupakan indicator yang relative lemah dibanding dengan kalium kromat,
senyawa serium (IV), brom, dan kalium bikromat.
2I-

I2 + 2 e

E0 = 0,535 V

Karena potensial oksidasinya rendah, maka justru system ini lebih menguntungkan
karena ia dapat mereduksi oksidator-oksidator kuat, sehingga iodida dapat mereduksi oksidator
tersebut dan kemudian dibebaskan iodium. Iodium yang dibebaskan ini kemudian dapat dititrasi
dengan larutan baku natrium tiosulfat.

Perbedaan Iodimetri

Iodometri

jenis
Jumlah

Langsung
Satu
I2 +

Tidak Langsung
Dua

Iodium

dengan KI dan menghasilkan

Contoh
reaksi
Analat
Larutan
Baku

KIO3 + 5KI + 3H2SO4 I2- +


2Na2S2O4 2NaI +
K2SO4 + 3H2O
Na2S4O6
Reduktor lemah
Oksidator
KIO3 yang
direaksikan
iodium

Pada Penggunaan iodium untuk titrasi,ada dua sumber kesalahan yang perlu diperhatikan
yaitu :
1.

Hilangnya yodium karena mudahnya menguap, dapat menyebabkan hasil titrasi terlalu

tinggi karena dapat mengoksidasi ion iodida menjadi I2 dengan reaksi sebagai berikut:
O 2 + 4 I- + 4 H +
2.

------>

2 I2 + 2H2O

Pada pH tinggi muncul bahaya lainnya yaitu bereaksinya I 2 yang terbentuk dengan air

(hidrolisa) dan hasil reaksinya bereaksi lanjut:


I2 + H2O -----> HOI + I- +H+
4 HOI + S2O32- + H2O ------> 2 SO42- + 4 I- + 6 H+
3.

Pemberian amilum terlalu awal. Penambahan amilum harus menunggu sampai mendekati

titik akhir titrasi, maksudnya agar amilum tidak membungkus iod dan menyebabkan sukar lepas
kembali. Hal itu akan berakibat warna biru sulit sekali lenyap sehingga titik akhir tidak kelihatan

tajam lagi. Bila iod masih banyak sekali bahkan dapat menguraikan amilum dan hasil penguraian
ini mengganggu perubahan warna pada titik akhir.
4.

Banyak reaksi analat dengan KI yang berjalan lambat. Karena itu seringkali harus ditunggu

sebelum titrasi, sebaliknya menunggu terlalu lama tidak baik karena kemungkinan iod menguap.
I2 merupakan zat padat yang sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam KI, membentuk ion
I3- yang merupakan suatu kompleks lemah.
Penguapan dari iodida dapat dikurangi dengan adanya kelebihan iodida, kerena terbetuk
ion iodida. Dengan 4% KI, maka penguapan iodium dapat diabaikan, asal titrasinya tidak terlalu
lama. Selain itu KI juga dapat menambah kelarutan dari iod.
Indikator dalam Iodimetri
Pada titrasi iodimetri ini dilakukan dalam keadaan netral atau dalam kisaran asam lemah
sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka iodine dapat mengalami reaksi
disproporsionasi menjadi hipoiodat.
I2 + 2OH- <-> IO3- + I- + H2O
Sedangkan pada keadaan asam kuat maka biasanya indikator yang digunakan adalah
kanji/amilum. Indikator yang digunakan pada titrasi iodimetri dan iodometri adalah larutan
kanji .Kanji atau pati disebut juga amilum yang terbagi menjadi dua yaitu: Amilosa (1,4) atau
disebut b-Amilosa dan Amilopektin (1,4) ; (1,6) disebut a-Amilosa. Namun untuk indicator, lebih
lazim digunakan larutan kanji, karena warna biru tua kompleks pati iod berperan sebagai uji
kepekaan terhadap iod. Kepekaan itu lebih besar dalam larutan sedikit asam daripada dalam
larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida. Molekul iod diukat pada permukaan
beta amilosa, suatu konstituen kanji. Indikator kanji yang dipakai adalah amilosa, karena jika
dipakai amilopektin, maka akan membentuk kompleks kemerah-merahan (violet) dengan
iodium, yang sulit dihilangkan warnanya karena rangkaiannya yang panjang dan bercabang
dengan Mr= 50.000 1.000.000. Warna dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga
iodin dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu
atau violet yang intens untuk zat-zat pelarut seperti karbon tetraklorida dan kloroform dan
terkadang kondisi ini dipergunakan dalam mendeteksi titik akhir dari titrasi-titrasi. Namun, pada
percobaan iodimetri kali ini kita menggunakan larutan kanji sebagai indikator. Kanji bereaksi
dengan iod, dengan adanya iodida membentuk suatu kompleks yang berwarna biru kuat, yang
akan terlihat pada konsentrasikonsentrasi iod yang sangat rendah. Kepekaan reaksi warna ini
adalah sedemikian rupa sehingga warna biru akan terlihat bila konsentrasi iod adalah 2 x 10-5 M
dan konsentrasi iodida lebih besar daripada 4 x 10-4 M pada 20oC. Kepekaan warna berkurang
dengan naiknya temperatur larutan. Kanji tidak dapat digunakan dalam medium yang sangat
asam karena akan terjadi hidrolisis pada kanji itu sendiri. Keunggulan pada pemakaian kanji ini

yaitu bahwa harganya murah, namun terdapat kelemahan-kelemahan yaitu sebagai berikut : (i)
bersifat tidak dapat larut dalam air dingin; (ii) ketidak stabilan suspensinya dalam air; (iii)
dengan iod memberi suatu kompleks yang tak dapat larut dalam air, sehingga kanji tidak boleh
ditambahkan terlalu dini dalam titrasi (karena itu, dalam titrasiiod larutan kanji hendaknya tak
ditambahkan sampai tepat sebelu m titik akhir, ketika warna mulai memudar). Iodida pada
konsentrasi < 10-5 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum. Sensitivitas warnanya
tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan kecil
dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi amilum yang dipakai sebagai
indikator akan terhidrolisis, selain itu pada keadaan ini iodide (I-) yang dihasilkan dapat diubah
menjadi I2 dengan adanya O2 dari udara bebas, reaksi ini melibatkan H+ dari asam.
4I- + O2 + 4H+ -> 2I2 + 2H2O
Titrasi dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indicator dimana titik akhir
titrasi diketahui dengan terjadinya kompleks amilum-I2 yang berwarna biru tua. Beberapa reaksi
penentuan denga iodimetri ditulis dalam reaksi berikut:
H2S + I2 -> S + 2I- + 2H+
SO32- + I2 + H2O -> SO42- + 2I- + 2H+
Sn2+ + I2 -> Sn4+ + 2IH2AsO3 + I2 + H2O -> HAsO42- + 2I- + 3H+

Penentuan Titik Akhir Titrasi Iodimetri


Seperti yang telah kita ketahui bahwa titik akhir titrasi (TAT) redoks dapat dilakukan dengan
megukur potensial larutan dan dengan menggunakan indikator. Penentuan titik akhir titrasi
didasarkan adanya I2 yang bebas. TAT dengan mengukur potensial memerlukan peralatan yang
agak lebih banyak deperti penyediaan voltameter dan elektroda khusus, dan kemudian diikuti
dengan pembuatan kurva titrasi redoks maka dengan alasan kemudahan dan efisiensi maka TAT
dengan menggunakan indikator yang lebih banyak untuk diaplikasikan
Peranan Iodimetri dalam bidang farmasi
Dalam Farmakope Indonesia, titrasi iodimetri digunakan untuk menetapkan kadar obat
obatan. Salah satu contohnya adalah untuk menetapkan kadar asam askorbat atau vitamin C,
natrium askorbat, metampiron (antalgin), serta natrium tiosulfat dan sediaan injeksinya.
Penetapan Kadar Vitamin C Cara Iodimetri

Dasar : Kadar vitamin C yang ditetapkan secara iodimetri menggunakan iod sebagai penitar.
Vitamin C dalam Contoh bersifat reduktor kuat akan dioksidasikan oleh I 2 dalam suasana asam
dan I2 tereduksi menjadi ion iodide. Indikator yang digunakan adalah kanji dengan titik akhir
biru.
Alat :
a.

Erlenmeyer Asah 250 ml

b.

Gelas Ukur 100 ml

c.

Buret Scelbach 50 ml

d.

Pipet Tetes

e.

Statif

f.

Neraca Analitik

Bahan :
a.

Contoh Iberet Folic-500

b.

H2SO4 10 %

c.

Larutan I2 0.05 M

d.

Indikator Kanji

e.

Air Suling

Cara Kerja :
1.

Ditimbang contoh sejumlah Y gram kedalam Erlenmeyer asah.

2.

Dilarutkan dengan air dan ditambahkan 25 ml H2SO4 10 %.

3.

Dititrasi dengan I2 0,05 M dengan indicator kanji hingga titik akhir berwarna biru.

Perhitungan :
Kadar Vit. C = Vp X Mp X BE Vit. C X 100 X Bobot rata X100%

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Iodimetri merupakan titrasi langsung dengan menggunakan baku iodium (I 2) dan


digunakan untuk analisis kuantitatif senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi lebih
kecil daripada sistem iodium-iodida atau dengan kata lain digunakan untuk senyawa-senyawa
yang bersifat reduktor yang cukup kuat seperti Vitamin C, tiosulfat, arsenit, sulfide, sulfit,
Stibium (III), timah (II), dan ferosianida. Namun, metode iodimetri ini jarang dilakukan karena
iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah.

DAFTAR KEPUTAKAAN
Day RA. Jr dan Al Underwood.1992. Analisis
Erlangga:Jakarta.

Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.:

Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Mulyono, 2011. Membuat Reagen Kimia. Bumi Aksara : Jakarta
Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Penerbit UI: Jakarta
Anonim (http://nurirjawati.wordpress.com/bout-pharmacy/colap/iodo-iodimetri/) diakses tanggal
29 Oktober 2014