Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penentuan jarak tanaman harus relevan dengan tujuan pengusahaan hutan,
karena akan berpengaruh terhadap nilai tegakan. Jarak tanaman yang rapat
akan mengakibatkan persaingan yang cukup tinggi terhadap unsur hara dan
cahaya matahari, sehingga akan membentuk populasi pohon dengan
karakteristik

lurus,

percabangan

sedikit,

akan

tetapi

perkembangan

diameternya relatif kecil. Sebaliknya jarak tanam yang lebar akan memberikan
ruang tumbuh yang cukup besar, dimana persaingan terhadap unsur bara dan
cahaya matahari relatif berkurang, sehingga akan membentuk populasi pohon
dengan pertumbuhan diameter yang cukup besar, akan tetapi umumnya
memiliki percabangan banyak.
Untuk tujuan pengusahaan hutan tertentu seperti kayu konstruksi atau kayu
pertukangan diperlukan karakteristik pohon yang urus, tinggi, diameter besar,
percabangannya sedikit dan tinggi bebas cahang tinggi, oleh karena itu, para
silvikulturis menyiasatinya dengan memadukan jarak tanam, dirnana pada
masa awal pertumbuhan digunakan jarak tanam yang rapat, dan pada masa
perkembangannya digunakan jarak tanam yang cukup lebar mulai pelaksanaan
penjarangan.
Anonim (1992), mengemukakan bahwa penjarangan pohon adalah suatu
kegiatan pembinaan hutan dalam rangka meningkatkan nilai tegakan dengan
cara mengurangi individu pohon dalam suatu populasi pada kawasan hutan

tertentu, dengan tujuan memberikan ruang tumbuh yang cukup pada pohonpohon terpilih atau pohon-pohon yang akan dipelihara sampai akhir daur.
Di Perum Perhutani kegiatan penjarangan dilakukan dengan cara membuat
Petak Coba Penjarangan (PCP) (Anonim 1996). Kegiatan ini akan penulis
paparkan dalam makalah ini.

B. Batasan Masalah
Penulis hanya mampu melaksanakan kegiatan praktik di lapangan belum
sampai pada tahap administrasi secara menyeluruh, adapun kegiatan
administrasi yang diberikan hanya sebatas pengenalan.
Pada penyusunan makalaj ini penulis membahas Makalah Prakerin
mengenai Pembuatan Petak Coba Penjarangan.
C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Menguraikan kegiatan praktik yang telah dilaksanakan.
2. Sebagai bukti tertulis serta wujud tanggung jawab setelah melaksanakan
kegiatan Praktik Kerja Industri sesuai dengan ketentuan sekolah.
3. Menguraikan kegiatan-kegiatan atau informasi-informasi perkembangan
bidang kehutanan yang diperoleh selama mengikuti kegiatan praktik kerja
sebagai bahan referensi bagi sekolah khususnya kompetensi keahlian
kehutanan.

D. Prosedur Pemecahan Masalah


Kegiatan pembuatan Petak Coba Penjarangan (PCP) dibagi kedalah
beberapa tahapan antara lain :
a. Orientasi lapangan
b. Bahan dan Alat
c. Pembuatan Blok

d. Pembuatan PCP
e. Pengisian

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Petak Coba Penjarangan merupakan perak berbentuk lingkaran yang
memiliki luas 0.1 Ha (Jari-jari 17,8 m) yang meewakili 1 blok atau 4 Ha, dan
merupakan alat bantu dalam pelaksanaan penjarangan.
B. Urutan Pembuatan Petak Coba Penjarangan (PCP)

1. Persiapan Awal
a. Alat-alat yang digunakan
- Tambang berukuran 50 m dan 17,8 m.
- Kompas
- Alat Tulis
- Golok
- Cat Warna Putih
- Kuas
- Meteran (untuk mengukur keliling pohon)
- Tinta atau Crayon (untuk penomoran pohon)
- Hagga

b. Keselamatan Kerja
- Sarung tangan
- Topi/Helm Kerja
- Sepatu Boots
- Baju kerja lengan panjang

2. Pembuatan Petak Coba Penjarangan (PCP)


a. Pembuatan Blok
Berdasarkan peta yang sudah dibuat, dengan pembagian blok yang
sudah ditentukan maka dibuatlah blok lapangan. 1 blok memiliki luas 4
Ha. Pada petak 44 D yang memiliki luas 32,84 Ha maka dapat dibuat
menjadi 8 blok.

Gambar 1. Tanda Batas Blok Pada Persimpangan Jalan

Gambar 2. Tanda Batas Blok Tengah/Tanda Batas Persimpangan Blok Lain


b. Menentukan letak PCP

Kegiatan penentuan letak PCP dilakukan dengan cara menarik


tambang sejauh 25 m (minimal) dari batas blok, batas jalan atau 100 m
sampai 100 m dari PCP ke PCP lainnya.

Gambar 3 : Jarak Dari Alur/Jalan ke PCP

Gambar 4 : Tanda Arah PCP atau Weser

c. Pemilihan pohon induk


Pohon induk dipilih sebagai pohon sentral, memuat keterangan
berupa papan informasi dalam 1 PCP yang mewakili satu blok (4 Ha)
dan pohon induk harus berbatang sehat, merupakan hasil dari 5 atau 10
pohon sekaligus rata-rata tinggu pohon PCP atau Blok tersebut. Untuk
mengukur tinggi pohon bisa menggunakan Hagga.
Misalkan menggunakan hagga skala : 20
1. Apabila pangkal pohon sejajar atau datar dengan pengukur :
Karena hagga diatur berskala 20 maka jarak pengukur harus 20
m dari pohon yang ingin diukur. Bidikan hagga kearah pohon,
maka jarum akan bergerak ke belakang angka nol, misalnya

menunjukan angka 1,2 (P1 = -1,2 m).


Selanjutnya bidikan harga kearah pucuk pohon, maka jarum
akan mengarah kedepan angka nol, misalnya menunjukan angka

18,3 (P2 = 18,3 m).


Jadi tinggi pohon P2 (18,3 m) P1 (-1,2 m), 18,3 m + 1,2 m =
19,5 m.

Papan informasi dalam pohon induk harus menghadap ke arah alur


atau jalan untuk memudahkan dalam pemeriksaan.

Gambar 5 : Gambar Pohon Induk dan Papan Informasi

d. Pembuatan jari-jari (17,8 m)


Pembuatan jari-jari dilakukan dengan cara, menarik tambang atau
meteran dari pohon induk tersebut kea rah utara terlebih dahulu sejauh
17,8 m dan selanjutnya membentuk lingkaran dengan 4 arah mata
angina atau membentuk arah vertical dan horizontal dengan menandai
pohon atau batas tepi setinggi 150 cm dan ditandai dengan cara
mengkelupas kulit pohon, melingkar sepanjang 20 cm atau berbentuk
gelang satu dan di cat menggunakan cat berwarna putih (karena pohon
rimba).

Gambar 6 : Batas Lingkaran Dalam PCP

Gambar 7 : Pohon Batas Tepi

e. Melakukan babad tumbuhan bawah


Pembersihan tumbuhan bawah yang berada di dalam lingkaran
PCP, dimaksudkan supaya memudahkan penghitungan pohon.

f. Penomoran pohon
Pemberian nomor pada pohon yang berada dalam lingkaran PCP
berjari-jari 17,8 m. Penomoran pohon juga harus menghadap pada
pohon induk untuk memudahkan pengontrolan terhadap pohon yang
belum diberi nomor, pohon induk sekaligus pohon no 1 perhitungan
pohon dalam PCP. Penomoran pohon dilakukan kearah utara terlebih
dahulu membentuk lingkaran searah jarum jam, sehingga diketahui
jumlah pohon normal (Nn) yang sudah ditentukan jumlah pohonnya
pada tabel penjarangan. Sehingga diketahui petak tersebut perlu atau
tidaknya dilakukan penjarangan pada 2 tahun kedepan (T-0) dengan
rumus Np Nn (dengan melihat table penjarangan) seperti yang
terdapat pada pohon induk blok III pada petak 44 D. Pohon dalam PCP
sebanyak 45 pohon dikurangi pohon normal 64 pohon hasilnya -19
pohon, yang artinya petak tersebut sudah keras dalam arti tidak perlu
dilakukan lagi penjarangan.

10

Gambar 8 : Penulisan Nomor/Sensus Pohon


g. Pengisian Papan informasi yang ada pada pohon induk
Kegiatan terakhir pembuatan PCP yaitu melakukan pengisian
data pohon tengah. Data pohon tengan ditulis 110 cm diatas
permukaan tanah dan harus menghadap ke arah jalan untuk
memudahkan pemeriksaan.

Gambar 9 : Pengisian Pohon Induk/Papan Informasi


h. Tunjuk Tolet (penentuan pohon yang akan dimatikan)
Kegiatan klem pohon adalah kegiatan mengukur keliling pohon
setinggi 130 cm di atas permukaan tanah yang tertinggi, selanjutnya
memberi nomor urut pohon.
Setelah penomoran pohon, berikutnya menentukan pohon yang di
tolet atau dimatikan. Jika pohon atau jumlah pohon dalam PCP lebih
daripada jumlah normal Np > Nn (menurut tabel penjarangan) maka
dilakukan penoletan atau pengkleman untuk dilakukan penjarangan 2
tahun kedepan (T-0).
Contoh perhitungan pohon yang dimatikan dalam satu blok atau
satu petak, misalnya pohon yang dimatikan dalam satu PCP (Nmn) ada

11

3 pohon, maka 3x10=30 pohon per-Ha, dalam satu blok 30x4=120


pohon dalam 4 Ha.
Penulisan pohon yang dimatikan keliling 20 cm dan pohon lain
yang mengganggu diberi tanda silang (X) setinggi 150 cm.
Kriteria pohon yang dimatikan adalah sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Penyakit/hama
Cacat (growing, terbakar)
Tertekan (merana tingginya kurang dari peninggi)
Tajuk Rapat
Tumbuhan lain
Pesaing (pohon yang tajuknya berkembang secara dominan)

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Pada petak-petak yang akan dipelihara melalui penjarangan sangatlah
penting dalam penyusunan jumlah pohon dalam tiap-tiap petak atau blok yang
sudah dibuat, sehingga memudahkan untuk pengontrolan dalam skala per
hektar sekalipun.
Petak Coba Penjarangan (PCP) adalah petak berbentuk lingkaran yang
luasnya 0,1 Ha (radius 17,8 m) yang merupakan alat bantu dalam pelaksanaan
penjarangan di lapangan, Pembuatan PCP dibuat dua tahun sebelum
pelaksanaan penjarangan atau pemeliharaan. Selain itu, pembuatan PCP
berfungsi sebagai pengamatan untuk mengetahui jumlah pohon dan tingkat
pertumbuhan.
Pembuatan PCP sangatlah jarang dilakukan pada tanaman-tanaman yang
ada di masyarakat, oleh karena itu ilmu pengetahuan tentang pembuatan PCP

12

sangatlah penting untuk dipelajari secara umum terutama oleh orang-orang


yang bersangkutan dengan kayu atau hutan. Banyaknya pohon yang terkena
penyakit dan tidak ada harapan untuk hidup diakhir tinggal, sehingga
mempengaruhi kualitas kayu yang tumbuh lebih besar maka dilakukan
penjarangan.
Tujuan dibuatnya PCP ialah kegiatan silvikultur untuk memberikan
tempat dan ruang tumbuh optimal guna memperoleh tegakan akhir dengan
masa kayu yang sebesar-besarnya dan kualitas kayu setinggi-tingginya sesuai
dengan tujuan pembangunan hutan dan kemampuan tempat tumbuh tumbugan
yang bersangkutan, agar sasaran yang di inginkan bias terlaksana, seperti
memperoleh tegakan hutan yang sehat, bertajuk normal, berbatang lurus dan
tersebar merata di seluruh lapangan pada jarak yang sesuai dengan kebutuhan
ruang tumbuh bagi pohon tersebut.

13

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1992 Manual Kehutanan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia.
Jakarta
Anonim. 1996 Pedoman Penjarangan Hutan Tanaman Kayu Pinus, Surat
Keputusan
Direksi Perum Perhutani no 345/kep/dir/96.
Anonim. 1998 Petunjuk Tekhnis Pelaksanaan Penjarangan Hutan Tanaman Pinus
(Pinus merkusii). Biro Pembinaan Hutan Bandung

14