Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah mempunyai peranan penting dalam siklus hidrologi. Kondisi tanah
menentukan jumlah air yang masuk ke dalam tanah dan mengalir pada permukaan
tanah. Jadi tidak hanya berperan sebagai media pertumbuhan tanaman tetapi juga
sebagai media pengatur air. Analisis tanah membantu penyelidikan produktivitas dan
penentuan tindakan pengolahan tanah. Hal ini dibutuhkan karena kondisi setiap tanah
berbeda-beda bergantung pada proses pembentukannya. Proses pembentukan tanah
dipengaruhi oleh faktor lingkungan (pedogenesis) maupun kegiatan manusia
(metapedogenesis).
Tanah mempunyai sifat sangat kompleks, terdiri atas komponen padatan yang
berinteraksi dangan cairan dan udara.

Komponen

pembentuk

tanah

y a n g berupa padatan, cair, dan udara jarang berada dalam kondisi


kesetimbangan, selalu berubah mengikuti perubahan yang terjadi di atas
permukaan tanah yang dipengaruhi oleh suhu udara, angin, dan sinar matahari.Untuk
bidang pertanian, tanah merupakan media tumbuh tanaman. Media yang baik bagi
pertumbuhan tanaman harus mampu menyediakan kebutuhan tanaman seperti air,
udara, unsure hara, dan terbebas dari bahan-bahan beracun dengan konsentrasi yang
berlebihan. Dengan demikian sifat-sifat fisik tanah sangat p e n t i n g u n t u k
dipelajari agar dapat memberikan media tumbuh yang ideal bagi
tanaman. Pengambilan contoh tanah merupakan tahapan penting untuk
penetapan sifat-sifat fisik tanah di laboratorium.
Dalam bidang pertanian tanah mempunyai peranan yang sangat penting,
diantaranya adalah sebagai tempat penyimpanan air yang nantinya akan
dimanfaatkan oleh mahkluk hidup yang ada disekitar tanah tersebut.Tanah terdiri dari
3 fase yaitu : Padat, Cair dan Gas. Fase cair adalah tanah mengisi sebagian atau
keseluruhan ruang kosong diantara zara-zarah padat serta proses kohesi air.

Air terdapat di dalam tanah karena ditahan/diserap oleh masa tanah, tertahan
oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik.
Berikut ini merupakan kegunaan air bagi pertumbuhan tanaman adalah :
a. Sebagai unsur hara tanaman
b. Tanaman memerlukan air dari tanah dan CO2 dari udara untuk membentuk
gula dan karbohidrat dalam proses fotosintesis.
c. Sebagai pelarut unsur hara
d. Unsur unsur hara yang terlarut dalam air diserap oleh akar akar tanaman
dari larutan tersebut.
e. Sebagai bagian dari sel sel tanaman
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air
terhadap volume tanah. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah
tanah basah dikering ovenkan dalam oven pada suhu 1000 C 1100 C untuk waktu
tertentu. Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang
terkandung dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-mula
menggantikan udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro.
Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada
tanah.
Dua fungsi yang saling berkaitan dalam penyediaan air bagi tanaman yaitu
memperoleh air dalam tanah dan pengaliran air yang disimpan ke akar-akar tanaman.
Jumlah air yang diperoleh tanah sebagian bergantung pada kemampuan tanah yang
menyerap air cepat dan meneruskan air yang diterima dipermukaan tanah ke bawah.
Akan tetapi jumlah ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti jumlah curah
hujan tahunan dan sebaran hujan sepanjang tahun.
Air tanah merupakan air dibawah permukaan tanah dimana rongga-rongga di
dalam tanah berada pada hekekatnya terdiri dari air. Pergerakan air tanah keatas oleh
kapilarisasi oleh permukaan air tanah kedalam daerah akar dapat merupakan sumber
air yang utama untuk pertumbuhan tanaman-tanaman. Di dalam tanah air berada
pada ruang pori tanah, terikat pada padatan tanah (baik organic maupun anorganik),
serta menjadi komponen bahan mineral. Air dapat ditahan matriks tanah akibat
adhesi langsung molekul air ke permukan tanah.

Kadar air tanah dinyatakan dalam persentase volume air terhadap volume
tanah. Dua fungsi yang saling berkaitan dengan penyediaan air bagi tanaman yaitu
memperoleh air dalam tanah dan pengaliran air yang disimpan pada akar tanaman.
B. Tujuan
Praktikum penentuan kadar air ini bertujuan untuk menentukan nilai kadar air
pada tanah.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Kadar Air
Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan
berdasarkan berat basah atau berdasarkan berat kering. Kadar air suatu bahan dapat
dinyatakan dalam dua cara yaitu berdasarkan bahan kering (dry basis) dan
berdasarkan bahan basah (wet basis). Kadar air secara dry basis adalah perbandingan
antara berat air di dalam bahan tersebut dengan berat keringnya. Bahan kering adalah
berat bahan asal setelah dikurangi dengan berat airnya. Sedangkan kadar air secara
wet basis adalah perbandingan antara berat air di dalam bahan tersebut dengan berat
bahan mentah (Anonimc, 2009).

Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air
terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat memberikan
gambaran tentang ketersediaan air bagi tanaman pada volume tanah tertentu. Cara
penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah tanah basah dikering ovenkan
dalam oven pada suhu 1000 C 1100 C untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena
pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung dalam tanah tersebut. Air
irigasi yang memasuki tanah mula-mula menggantikan udara yang terdapat dalam
pori makro dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang bergerak melalui tanah
berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah. Air tambahan berikutnya akan
bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air jenuh. Penggerakan air tidak
hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal. Gaya gravitasi tidak berpengaruh
terhadap penggerakan horizontal (Hakim et.al., 1986).
Air terdapat di dalam tanah Alfisol ditahan (diserap) oleh massa tanah,
tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Baik
kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Fungsi air tanah yaitu sebagai pembawa unsur hara dalam tanah serta keseluruhan
bagian tanaman. Kadar air selalu berubah sebagai respon terhadap faktor-faktor
lingkungan dan gaya gravitasi. Karena itu contoh tanah dengan kadar air harus
disaring, diukur, dan biasanya satu kali contoh tanah akan dianalisis untuk penerapan
suatu sifat. (Hakim et.al., 1986).
Kadar air dalam tanah Alfisol dapat dinyatakan dalam persen volume yaitu
persen volume air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena
dapat memberikan gambaran tentang ketersediaan air pada pertumbuhan pada
volume tanah tertentu. Cara penetapan kadar air tanah dapat digolongkan dengan
beberapa cara penetapan kadar air tanah dengan gravimetrik, tegangan atau hisapan,
hambatan listrik dan pembauran neutron. Daya pengikat butir-butir tanah Alfisol
terhadap air adalah besar dan dapat menandingi kekuatan tanaman yang tingkat
tinggi dengan baik begitupun pada tanah Inceptisol dan Vertisol, karena itu tidak
semua air tanah dapat diamati dan ditanami oleh tumbuhan (Hardjowigeno, S.,
1993).

Menurut Hanafiah (2007) bahwa koefisien air tanah yang merupakan


koefisien yang menunjukkan potensi ketersediaan air tanah untuk mensuplai
kebutuhan tanaman, terdiri dari :
a. Jenuh atau retensi maksimum, yaitu kondisi di mana seluruh ruang pori tanah
b.

terisi oleh air.


Kapasitas lapang adalah kondisi dimana tebal lapisan air dalam pori-pori
tanah mulai menipis, sehingga tegangan antarair-udara meningkat hingga

lebih besar dari gaya gravitasi.


c. Koefisien layu (titik layu permanen) adalah kondisi air tanah yang
ketersediaannya sudah lebih rendah ketimbang kebutuhan tanaman untuk
aktivitas, dan mempertahankan turgornya.
d. Koefisien Higroskopis adalah kondisi di mana air tanah terikat sangat kuat
oleh gaya matrik tanah.
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah.
Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada
tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir
umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat.
Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman. Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya curah hujan atau air
irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi (penguapan
langsung melalui tanah dan melalui vegetasi), tingginya muka air tanah, kadar bahan
organik tanah, senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam, dan kedalaman
solum tanah atau lapisan tanah (Madjid, 2010).
Air tersedia biasanya dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas
lapangan dan koefisien layu. Kadar air yang diperlukan untuk tanaman juga
bergantung pada pertumbuhan tanaman dan beberapa bagian profil tanah yang dapat
digunakan oleh akar tanaman. Tetapi untuk kebanyakan mendekati titik layunya,
absorpsi air oleh tanaman kurang begitu cepat, dapat mempertahankan pertumbuhan
tanaman. Penyesuaian untuk menjaga kehilangan air di atas titik layunya telah
ditunjukkan dengan baik (Buckman and Brady, 1982).
Jumlah air yang ditahan oleh tanah dapat dinyatakan atas dasar berat dan isi.
Begitupula pada tanah Alfisol pada umunya, dasar penentuannya adalah pengukuran
kehilangan berat dari suatu contoh tanah yang lebih lembab setelah dikeringkan pada

suhu 105oC selama 24 jam. Kehilangan berat sama dengan berat air yang terdapat
dalam contoh tanah. Kadar air (0) dihitung secara gravimetrik dengan satuan g / g,
yaitu berat air yang terdapat di dalam suatu massa tanah kering (0 = tanah lembabberat kering oven). (Pairunan et.al., 1985)
Faktor tumbuhan dan iklim mempunyai pengaruh yang berarti pada jumlah
air yang dapat diabsorpsi dengan efisien tumbuhan dalam tanah. Kelakukan akan
ketahanan pada kekeringan, keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah faktor
tumbuhan yang berarti. Temperatur dan perubahan udara merupakan perubahan iklim
dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat
hilang melalui saluran evaporasi permukaan tanah. Diantara sifat khas tanah yang
berpengaruh pada air tanah yang tersedia adalah hubungan tegangan dan
kelembaban, kadar garam, kedalaman tanah, strata dan lapisan tanah. (Buckman dan
Brady, 1982).
Air tanah merupakan salah satu bagian penyusun tanah. Air tanh hamper
seluruhnya berasal dari udara dan atau atmosfer terutama didaerah tropis air hujan itu
dapat mrembes ke dalam tanah yang disebut infiltrasi. Sedangkan sisanya mengalir
di permukaan tanah sebagai aliran permukaan tanah (run off). Air infiltrasi tadi bila
dalam jumlah banyak dan terus merembes kedalam tanah secara vertical dan
meninggalkan daerahnya perakaranya yang disebut perkolasi, yang akhirnya sampai
pada lapisan yang kedap air yang kemudian ekumpul disitu menhjadi air tanah atau
sering disebut ground water. Mengetahui banyaknya air di dalam tanah yang tersedia
bagi tanaman adalah penting sekali terutama dalam hal penentuan pemberian air pada
tanaman atau pengairan tanaman agar supaya tidak terjadi kelebihan ataupun
kekurangan air (Poewidodo, 1991)
Banyaknya air yang tersedia bagi tanaman dicari dengan jalan penentuan
kandungan air pada tanaman lapang (Pf 2,53) dikurangi dengan persentase keadaan
tanah padaa titik layu permanen (Pf 4,2). Dalam hal ini nilai-nilainya sangat
ditentukan terutama oleh tekstur tanah. Tekstur tanah yang lebih tinggi mempunyai
tekstur yang halus, sebaliknya tekstur yang rendah mempunyai tekstur yang kasar
nilainya akan lebih rendah lagi dibandingkan dengan hal yang tadi (Hanifah,2004)
Kapasitas kandungan air tanah maksimum adalah jumlah air maksimal yang
dapat ditampung oleh tanah setelah hujan turun dengan sangat lebat atau besar.

Semua pori-pori tanah baik makro maupun mikro, dalam keadaan terisi oleh angin
sehingga tanah menjadi jenuh dengan air. Untuk pertumbuhan yang baik atau
optimum bagi tanaman diperluakn suatu keadaan taat air yang baik dan seimbang
sehingga akar tanaman dengan mudah akan menyerap unsure hara. Tata air dan udara
yang baik ini adalah jika pori terisi air minimum 10% dan pori terisi udara minimal
10% atau lebih. Air tanah merupakan salah satu bagian penyusun pada tanaman. Air
tanah hamper seluruhnya berada pada udara atau atmotsfer. Tanah mempunyai
kapilaritas yang berbeda-beda untuk menyerap dan mempertahankan kelembapannya
tergantung kepada struktur, tekstur, dan kandungan bahan organic yang terdapat di
dalam tanah (Kemas, Ali.,2007)
B. Hubungan Tekstur Tanah dan Kadar Air
Tekstur tanah yang berbeda mempunyai kemampuan menahan air yang
berbeda pula. Tanah bertekstur halus, contohnya: tanah bertekstur liat, memiliki
ruang pori halus yang lebih banyak, sehingga berkemampuan menahan air lebih
banyak. Sedangkan tanah bertekstur kasar, contohnya: tanah bertekstur pasir,
memiliki ruang pori halus lebih sedikit, sehingga kemampuan manahan air lebih
sedikit pula. Sketsa yang menggambarkan hubungan antara tekstur tanah dengan
kemampuan tanah dalam menahan air disajikan dalam Gambar 18 berikut.

Gambar 18. Kapasitas menahan air yang berbeda dari tanah dengan kelas
tekstur berbeda. Tanah bertekstur liat atau clay soil (B) memiliki daya menahan air
lebih banyak dibandingkan dengan tanah dengan kondisi optimum atau optimum soil
(A), dan sebaliknya tanah bertekstur pasir atau sandy soil (C) memiliki daya
menahan air yang jauh lebih rendah daripada tanah bertekstur optimum (A).
Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan
(diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan
drainase yang kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya
gaya-gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Karena adanya gaya-gaya tersebut maka air
dalam tanah dapat dibedakan menjadi:
1. Air hidroskopik, adalah air yang diserap tanah sangat kuat sehingga tidak dapat
digunakan tanaman, kondisi ini terjadi karena adanya gaya adhesi antara tanah

dengan air. Air hidroskopik merupakan selimut air pada permukaan butir-butir
tanah.
2. Air kapiler, adalah air dalam tanah dimana daya kohesi (gaya tarik menarik

antara sesama butir-butir air) dan daya adhesi (antara air dan tanah) lebih kuat
dari gravitasi. Air ini dapat bergerak secara horisontal (ke samping) atau vertikal
(ke atas) karena gaya-gaya kapiler. Sebagian besar dari air kapiler merupakan air
yang tersedia (dapat diserap) bagi tanaman.
Dalam menentukan jumlah air tersedia bagi tanaman beberapa istilah
dibawah ini perlu dipahami, yaitu:
1. Kapasitas Lapang: adalah keadaan tanah yang cukup lembab yang menunjukkan
jumlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.
Air yang dapat ditahan oleh tanah tersebut terus menerus diserap oleh akar-akar
tanaman atau menguap sehingga tanah makin lama semakin kering. Pada suatu
saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air tersebut sehingga tanaman
menjadi layu (titik layu permanen).
2. Titik Layu Permanen: adalah kandungan air tanah dimana akar-akar tanaman

mulai tidak mampu lagi menyerap air dari tanah, sehingga tanaman menjadi layu.
Tanaman akan tetap layu baik pada siang ataupun malam hari.
3. Air Tersedia: adalah banyaknya air yang tersedia bagi tanaman, yaitu selisih

antara kadar air pada kapasitas lapang dikurangi dengan kadar air pada titik layu
permanen.
Kandungan air pada kapasitas lapang ditunjukkan oleh kandungan air pada
tegangan 1/3 bar, sedangkan kandungan air pada titik layu permanen adalah pada
tegangan 15 bar. Air yang tersedia bagi tanaman adalah air yang terdapat pada
tegangan antara 1/3 bar sampai dengan 15 bar.

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM


A. Tempat dan Waktu

Praktikum penentuan kadar air tanah ini dilaksanakan setiap hari selasa
pukul 14.00 - 16.00, bertempat di Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian,
Universitas Sriwijaya, Indralaya.

B. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah 1) palu, 2) cangkul, 3) papan,
4) plastik, 5) spidol, 6) cawan, 7) oven, 8) desikator, 9) neraca analitik, 10) penjepit
cawan, 11) nampan, 12) sendok.
Bahan yang digunakan pada praktikum kadar air ini adalah sampel tanah
terganggu.

C. Cara Kerja
1. Tentukan lokasi dimana sampel tanah akan diambil, pastikan lokasi
merupakan tanah alami yang belum terganggu.
2. Gali tanah sedalam 35 cm, lalu ambil sampel tanah terganggu setelah
mengambil sampel tanah pada ring sampel yang di tanam sedalam 5 cm.
3. Tutup ring sample dengan kain kasa lalu ikat dan tutp kembali dengan
kantong plastic selanjutnya masukkan ring sample ke dalam kantong plastic.
4. Masukkan sampel tanah terganggu kedalam kantong plastik dan pastikan
kantong diikat.
5. Lakukan percobaan 1 sampai 4 pada Sembilan titik lokasi yang berbeda untuk
mendapatkan masing-masing sampel tanah.
6. Beri label dibagian bawah cawan pada masing-masing cawan. (A1 sampai
A9)
7. Masukkan cawan ke dalam oven selama 1 jam pada suhu oven 103 2 oC.
8. Kemudian setelah dioven selama 1 jam cawan tersebut didinginkan dalam
desikator yang telah diisi dengan biji desikator selama 15 menit,
memindahkan cawan kedalam desikator ataupun memegang cawan harus
dengan menggunakan penjepit cawan, ini bertujuan untuk menjaga cawan
agar tetap bersih, dan tidak terkontaminasi.
9. Timbang cawan dengan timbangan analitik. Catat berat cawan. Pastikan
timbangan digital dikalibrasi pada angka 0 g.

10

10. Timbang sample tanah terganggu dengan cepat kurang lebih 3 gram sampel
yang telah dihomogenkan dalam cawan. Timbang cawan dan sampel dengan
menggunakan neraca analitik. Lakukan kalibrasi sebelum ditingbang. Catat
hasilnyaLakukan langkah nomor 9 dan 10 untuk masing-masing sampel tanah
A1 sampai A9.
11. Masukkan masing-masing cawan yang berisi sampel tanah kedalam oven
pada suhu 103 2 oC selama 20 jam 24 jam.
12. Setelah itu keluarkan cawan dari oven dengan menggunakan penjepit. Lalu
masukkan kedalam desikator selama 15 menit.
13. Lalu timbang masing-masing cawan yang telah didesikator.
14. Catat hasil berat cawan setelah di oven.
15. Setelah didapat hasilnya. Keringkan kembali dalam oven sampai diperoleh
berat konstan, atau tidak terjadi perbedaan berat yang terlalu jauh.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Nama

Berat

Berat tnah

Berat

Berat

Berat

Rata-

sample

cawan

basah (gr)

tanah

tanah

tanah

rata

A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
A8
A9

(gr)
3,0936
3,0303
3,2623
3,17
3,2169
3,3175
3,1754
3,0370
2,9956

6,1878
6.0305
6,2721
6,1756
6,2234
6,3193
6,1840
6,0420
6,0036

kering 1
5,6529
5,5107
5,8251
5,7479
5,7185
5,8341
5,7317
5,5480
5,5019

kering 2
5,5754
5,4290
5,7665
5,5004
5,5232
5,7513
5,6190
5,4636
5,4165

kering 3
5,2050
5,4002
5,7459
5,3971
5,4087
5,7309
5,5790
5,4367
5,3459

BTK
5,4778
5,4467
5,7792
5,5484
5,5501
5,7721
5,6432
5,4827
5,4214

11

Perhitungan :

KA ( basis basah) =

( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 22,94%
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 19,45%
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 16,37 %
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 20,86 %

12

x 100%

( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 22,38 %
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 18,22 %
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 17,97 %
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 18,61 %
( basis basah) =

x 100%

x 100%

= 19,35 %
B. Pembahasan
13

Kadar air tanah adalah perbandingan antara berat air yang terkandung dalam
tanah dengan berat tanah kering setelah di oven. Pada praktikum kali ini adalah kadar
air tanah. Penentuan kadar air tanah ini dilakukan pada 9 sampel tanah yang diambil
dari 9 titik tanah terganggu yang berbeda-beda. Sampel tanah yang telah diambil
sebelumnya diberi label A1 sampai A9 yang kemudian dimasukkan kedalam masingmasing cawan dan ditimbang. Setelah itu cawan-cawan yang telah berisi sampelsampel tanah tersebut dimasukkan kedalam oven selama 20 - 24 jam. Lalu
dimasukkan kedalam desikator selama 15 menit. Disini desikator berfungsi sebagai
penyerap uap panas pada cawan yang telah dioven dan juga sebagai sterillisasi.
Selama melakukan percobaan, cawan tidak boleh disentuh langsung oleh kulit
tangan, harus menggunakan penjepit untuk memindahkan cawan supaya cawan
tersebut tidak terkontaminasi. Setelah keluar dari desikator, timbang masing-masing
cawan dengan menggunakan timbangan digital analitik yang ada di laboratorium.
Lalu masukkan lagi kedalam oven, sehingga didapat berat terakhir dimana berat
tidak akan berubah kembali.
Pada percobaan ini didapatlah bahwa kadar air sampel A1 lebih besar
dibandingkan dengan sample-sample lainnya yaitu sebesar 22,94 %, sementara itu
untuk kadar air yang paling rendah terdapat pada sample tanah A3 yaitu sebesar 16,37
%. Kadar air tanah ini dipengaruhi oleh kadar bahan organic tanah dan kedalaman
solum, makin tinggi kadar bahan organic tanah akan semakin tinggi pula kadar air
tanah, begitu juga sebaliknya.
Tanah yang diovenkan beratnya akan berkurang dari berat awal. Hal ini
dikarenakan hilangnya kadar air yang terkandung pada tanah tersebut. Energi yang
telah dilepaskan ketika air berubah dari uap air menjadi cairan. Pembebasan panas
dan pembentukan air hujan merupakan sumber energi utama untuk sistem hujan.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

14

1. Kadar air tanah adalah perbandingan antara berat air yang terkandung dalam
tanah dengan berat tanah kering setelah di oven.
2. Makin tinggi bahan organic tanah maka akan semakin tinggi pula kadar air
tanah tersebut.
3. Makin rendah bahan organic yang terkandung maka akan semakin rendah
pula kadar air tanah tersebut.
4. Oven yang digunakan berfungsi sebagai alat pengering tanah dan digunakan
suhu untuk pengeringan yaitu 103 2 oC.
5. Desikator berfungsi sebagai alat penyerap uap panas pada cawan + tanah
setelah dilakukan pengeringan didalam oven, didalam desikator selama 15
menit.
6. Kadar air suatu bahan dapat dinyatakan dalam dua cara yaitu berdasarkan
bahan kering (dry basis) dan berdasarkan bahan basah (wet basis).
7. Pada saat proses penentuan kadar air semua alat dan bahan yang digunakan
tidak boleh terkontak langsung dengan tangan karena akan berpengaruh
terhadap berat dari pada sample.
B. Saran
Saran saya untuk praktikum kali ini adalah untuk terlebih dahulu dpelajari
teori dalam melakukan percobaan khususnya pengukuran kadar air, karena dapat
terjadi kesalah dalam pengukuran yang berdampak salahnya data saat melakukan
percobaan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. (http://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/kadar-air-tanah/, diakses
Kamis, 15 November 2012 pukul 16:45)
Anonim. 2011. (http://science-cermin.blogspot.com/2011/03/i.html, diakses Kamis,
22 November 2012 pukul 14:17)
Anonim. 2012. (http://id.scribd.com/doc/72881739/15/Kadar-Air-Tanah, diakses
Kamis, 15 November 2012 pukul 16:57)
Anonim. 2012. (http://id.scribd.com/doc/85403015/Kadar-Air-Tanah, diakses Kamis,
15 November 2012 pukul 16:55)
Anonim. 2012. (http://iinmutmainna.blogspot.com/2012/05/kadar-air-tanah.html,
diakses Kamis, 15 November 2012 pukul 16:40)

15

Anonim.

2012.

(http://madi-cmos.blogspot.com/2012/03/kadar-air-tanah.html,

diakses Kamis 15 November 2012 pukul 16:45)


Buckman, H. O., and Brady. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara : Jakarta.
Dede. 2012. (http://de-dehouse.blogspot.com/2012/04/laporan-penetapan-kadar-airtanah.html, diakses Kamis, 15 November 2012 pukul 16:45)
Gusmiati, Navis. 2012. (http://navisgusmiati.blogspot.com/2012/04/penetapan-kadarair-tanah.html, diakses Kamis, 15 November 2012 pukul 16:55)
Hakim. N., dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung :
Lampung.
Hanafiah, K., A. 2007. Dasar-Dasar ILmu Tanah. Rajawali Pers : Jakarta.
Hanifah. 2004. Dasar-Dasar Ilmu Tanah; PT. Raja Gravindo; Jakarta
Hardjowigeno. S., 1993. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta.
Kemas, Ali.2007. Proses Pembentukan Genesis Tanah. PT. Gravindo; Jakarta
Madjid. 2010. (http://repository.usu.ac.id.pdf//Kadar-Air-Tanah, diakses tanggal 22
November 2012 pukul 14:15)

16