Anda di halaman 1dari 15

SINDROMA NEFROTIK

A.

Pendahuluan
Demam Dengue (demam berdarah dengue) merupakan suatu bentuk infeksi

berat yang disebabkan oleh virus dengue. DBD ini dapat menjadi fatal jika tidak
segera dikenali dan ditangani dengan benar. Dengan penanganan medis yang baik,
angka kematian akibat DBD dapat kurang dari 1%. Faktor risiko penting pada
DBD adalah serotipe virus, dan faktor penderita seperti umur, status imunitas, dan
predisposisi genetis. [1]
Demam dengue dan DBD menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes betina
yang sebelumnya telah terinfeksi oleh virus dengue. Nyamuk tersebut terinfeksi
oleh virus dengue setelah satu minggu sebelumnya menggigit dan menghisap
darah seseorang yang menderita demam dengue atau DBD. Bila nyamuk ini
menggigit orang lain yang sehat, orang tersebut dapat menderita demam dengue
atau DBD. Virus dengue tidak dapat menyebar langsung dari seseorang ke orang
lain. [1]
Seluruh wilayah Indonesia mempunyai risiko untuk terjangkit penyakit
Demam Berdarah Dengue karena nyamuk penularnya tersebar luas baik di rumah
maupun tempat-tempat umum, kecuali yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter
diatas permukaan laut. Pada saat ini seluruh Propinsi di Indonesia sudah terjangkit
penyakit ini baik di kota maupun desa terutama yang padat penduduknya dan arus
transportasinya lancar. Menurut laporan Ditjen PPM clan PLP penyakit ini telah
tersebar di 27 propinsi di Indonesia. Dari 300 kabupaten di 27 propinsi pada tahun
1989 (awal Pelita V) tercatat angka kejadian sebesar 6,9 % dan pada akhir Pelita
V meningkat menjadi 9,2 %. Pada kurun waktu yang sama angka kematian
tercatat sebesar 4,5 %. [2]
Sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini obat untuk membasmi virus
dan vaksin untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue belum tersedia.
Cara yang tepat guna untuk menanggulangi penyakit ini secara tuntas adalah
memberantas vektor/nyamuk penular. [
B. Laporan Kasus

1. Identitas Pasien
Nama
No. RM
Tanggal lahir/Umur
Jenis kelamin
Agama
Alamat
Bangsa/suku
BB/TB
Tanggal MRS
Tanggal KRS
Ruang Perawatan
Orang Tua

: An. SI
: 058155
: 9 Oktober 2009 / 4,8 tahun
: Laki-laki
: Islam
: Kebun cengkeh/SBT
: Indonesia
: 14 kg/93 cm
: 5 Juni 2014
: 10 Juni 2014
: Bangsal Anak Nusaina, Ruang A
: (Ayah: Tn. I dan Ibu W)

2. Status Umum
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis terhadap ibu dan ayah pasien
pada tanggal 7 Juni 2014 saat pasien dirawat di Ruang Kanak-Kanak
(RKK).
a. Keluhan Utama :
Panas
b. Keluhan Tambahan :
Batuk pilek, sakit kepala dan belum BAB sejak 4 hari sebelum masuk
RS.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
:
Pasien masuk RS dengan keluhan panas tinggi yang dialami 1 minggu
sebelum masuk RS. Panas yang dialami naik turun, panas naik terutama
pada sore dan malam hari. 10 hari sebelum masuk RS pasien mengalami
batuk dan pilek, batuk yang dialami tanpa lendir. 8 hari sebelum masuk
RS panas timbul dan naik pada sore dan malam hari. Kemudian pasien
dibawa ke puskesmas dan diberi pengobatan tetapi keluhan batuk pilek
dan panasnya tidak berkurang. 4 hari sebelum masuk RS panas tinggi

dari pagi hingga malam dan pasien terlihat pucat sehingga pasien dibawa
ke RS. Keluhan juga disertai sakit kepala dan belum BAB sejak 4 hari
sebelum masuk RS. Pasien sempat dibawa ke tempat praktek dr. Sp. A 2
hari SMRS dan diberi obat kemudian keluhan batuk pasien berkurang
tetapi panasnya masih menetap.
Kejang (-), Penurunan kesadaran (-), Sesak Napas (-), makan/minum
baik, BAK normal.
d. Riwayat Penyakit Sebelumnya :
Pasien belum pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
:
Ayah pasien mempunyai riwayat batuk berlendir sejak 2 bulan terakhir
tetapi tidak pernah berobat ke dokter.
f. Riwayat dan Respon Pengobatan :
Pasien pernah melakukan pengobatan di Puskesmas, namun keluhan
batuk pilek dan panas pasien tidak berkurang. Pasien juga pernah dibawa
ke tempat praktek dr. Sp. A 2 hari SMRS dan diberi obat kemudian
keluhan batuk pasien berkurang tetapi panasnya masih menetap.
g. Riwayat Penyakit Lain
Cacar
:Polio
:Lain-lain : -

Difteri : Pertusis : Tetanus : -

Thypoid : Difteri : -

TBC
:Hepatitis : -

3. Status Neonatal dan Tumbuh Kembang


Tempat lahir : RS/RB/Rumah
Lahir : Spontan/SC/Vacum
BCB/BKB/BLB (tidak diketahui)
BBL
: tidak diketahui
Riwayat IMD : Anak (Ke 5 dari 5 anak)

Ditolong oleh : dr/bidan/dukun


A/S : Ketuban : Jernih/keruh/tidak ada
SMK/KMK (tidak diketahui)
PBL : tidak diketahui
Vit K : Ibu Riwayat Keguguran : -

Berbalik : 6 bulan
Berdiri : 1 tahun

Duduk
: 9 bulan
Jalan sendiri : 1,2 tahun

Gigi pertama : 8 bulan


Bicara : 1 tahun

BB
PB

L. Kepala
: 51 cm
L. Lengan Atas : 13 cm

L. Dada
L. Perut

: 14 kg
: 93 cm

: 56 cm
: 55 cm

Status Gizi : Gizi Baik (berdasarkan Z-Score pasien tergolong dalam 2


SD sampai + 2 SD).
3

Makanan
ASI

: Nasi, sayur, ikan


: Umur 3hari

Sampai Umur

: 1,2 tahun

4. Status Imunisasi
Vaksin
BCG
Hep B
Polio
DPT
Campak

Jumlah

Belum Pernah

Hib
PVC
Influenza
MMR
Tifoid

Hep. A
Varisela
HPV
Lain-lain
Lengkap

5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum

Tidak Tahu

: Tampak sakit sedang

Gizi

: Gizi Baik

Kesadaran
: Compos Mentis
GCS : E4M6V5
Tekanan Darah
: 100/80 mmHg
Nadi : 130 x/menit
Pernapasan
: 36 x/menit
Suhu : 38,20C
Kepala
: Normocephal
Rambut
: Hitam, terdistribusi normal, tidak mudah tercabut.
Ubun-ubun besar
: Tertutup
L. Kepala
: 51 cm
Wajah
: Pucat (+) Ikterus : (-) Edema : (+) periorbital, sembab
Mata
: Ca +/+, Si -/Tenggorokan : Hiperemis (-)
+
Hidung
: Rhinorea /+
Leher : Pembesaran KGB (-)
Bibir
: Sianosis (-)
Telinga
: Othorea (-)
Gigi
: Intak (-)
Tonsil
: T1/T1
Caries
: (-)
Kel. Limfe : Pembesaran (-)
b. Neurologi
Refleks pupil : +/+
N. Kranialis : Dalam batas normal

Refleks cahaya : RCL+/+ , RCTL+/+

c. Kardiovaskular
Bentuk dada : Normochest
Batas kiri
: Linea midclavicularis kiri
Batas kanan : Linea parasternalis kanan
Batas atas
: ICS III sinistra

Lingkar dada : 56 cm
Irama : BJ I/II reguler
Ictus cordis : Tidak terlihat
Thrill
: (-)
Shouffle
: (-)

d. Respirologi
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Pergerakan napas simetris kiri dan kanan


: VF +/+, Nyeri tekan (-)
: Sonor
: Buyi pernapasan dasar Vesikuler +/+
Bunyi tambahan Rh +/+ Wh -/e. Gastrointestinal
Inspeksi
: Datar, Distensi (+)
Auskultasi
: Peristaltik (+) normal
Palpasi
: Nyeri Tekan (-)
Lien
: Tidak teraba
Konsistensi : (-)
Permukaan: (-)
Hepar : Tidak teraba
Konsistensi : (-)
Permukaan: (-)
Tepi
: (-)
Perkusi
: Timpani
f. Genitalia dan Pubertas
Tidak ditemukan kelainan
g. Ekstremitas
Kol. Vertebralis
: Skoliosis (-), Gibus (-)
KPR
: +/+
Refleks Patologis : (-)
Kekuatan : 5
APR
: +/+
Refleks Fisiologis : (+)
5
L. Lengan Atas
: 13 cm Tonus
: Eutoni
Edema
: (+), pada kedua kaki.
h. Tanda Rangsang Meningeal
5
Kaku kuduk
: (-)
Kernig Sign
: (-)
Brudsinki I : (-) II : (-) III : (-) IV : (-)
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan Darah Rutin (4 Juni 2014) di Prodia
HEMATOLOGI
WBC
PRC
HGB
HCT
PLT
LED
MCV

HASIL
9.56
3.96
10.1
27.1
12*
13
68.4

NILAI RUJUKAN
5.5 15.5
3.7 5.7
10.7 14.7
31.0 - 43.0
217 497
0 15
72 - 88

UNIT
[103/mm3]
[106/mm3]
[g/dL]
[%]
[103/mm3]
[mm/jam]
[fL]
5

MCH
25.5
23 - 31
[pg]
MCHC
37.3
32 - 36
[pg]
Neutrofl
37.6*
50 - 70
[%]
Limfosit
22.2*
25 - 40
[%]
Monosit
40.3
2-8
[%]
Eosinofil
0.4
2-4
[%]
Basofil
0.5
0-1
[%]
GOLDA
O
Kesan : neutropenia, monositosis, dan trombositopenia.
2) Pemeriksaan Imuno Serologi Widal di Prodia (4 Juni 2014)
Nama pemeriksaan
Hasil
Nilai rujukan
Widal S. typhi O
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Widal S. par. A-O
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Widal S. par. B-O
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Widal S. par. C-O
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Widal S. typhi H
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Widal S. par. A-H
Negatif
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Widal S. par. B-H
Negatif
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Widal S. par. C-H
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Kesan : ditemukan Plasmodium flacifarum dan Plasmodium vivax stadium
tropozoit. Hasil pemeriksaan trombosit secara manual = 8000/uL.
7. Resume Pasien
Pasien anak (laki-laki, usia 4,7 tahun, BB 14 Kg) masuk RS dengan keluhan
panas tinggi yang dialami 1 minggu sebelum masuk RS. Panas yang
dialami naik turun, panas naik terutama pada sore dan malam hari. 10 hari
sebelum masuk RS pasien mengalami batuk dan pilek, batuk yang dialami
tanpa lendir. 8 hari sebelum masuk RS panas timbul dan naik pada sore dan
malam hari. Kemudian pasien dibawa ke puskesmas dan diberi pengobatan
tetapi keluhan batuk pilek dan panasnya tidak berkurang. 4 hari sebelum
masuk RS panas tinggi dari pagi hingga malam dan pasien terlihat pucat
sehingga pasien dibawa ke RS. Keluhan juga disertai sakit kepala dan belum
BAB sejak 4 hari sebelum masuk RS. Pasien sempat dibawa ke tempat
praktek dr. Sp. A 2 hari SMRS dan diberi obat kemudian keluhan batuk
pasien berkurang tetapi panasnya masih menetap. Pada pemeriksaan
laboratorium pada tanggal 4 juni 2014 di Prodia ditemukan neutropenia,

monositosis, trombositopenia, ditemukan plasmodium flacifarum dan


plasmodium vivax stadium tropozoit.
8. Diagnosis Kerja
Mix Malaria + Bronkopneumoni Ringan
9. Diagnosis Banding
Bronkitis akut
TB Paru
10. Anjuran pemeriksaan
Pemeriksaan darah rutin
Uji tuberculin
11. Terapi
Pasien diberikan terapi sebagai berikut :
- IVFD D5% 21 tetes/menit
- Paracetamol syrup 3 x 11/2 cth
- Ambroxol syrup
- Amoxicillin syrup
- Artesunat
- Amodiaquin
- Primaquin
12. Follow-Up
Tanggal/
Jam

HASIL PEMERIKSAAN, ANALISA DAN TINDAK LANJUT


CATATAN PERKEMBANGAN
S
(subjective)
O
(objective) A P (planning)
(Assesment)

6/6/2014

S: demam (+), batuk (+) berkurang, pilek R/


(+) berkurang, sesak (-),wajah sembab, - IVFD RL 36 tpm
edema kelopak mata (+), edema tungkai - Drip kina 140mg
dalam 100 cc
(+), makan dan minum baik, BAK
D5%/ 8 jam
normal, sudah BAB
- Buffect syrup 3x1
O: N : 120 x/m
P : 40 x/menit
cth
S : 38,00C
- Psidii syrup 1x1
TD : 90/60 mmHg
cth
BB : 14 kg
- Domperidone
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+
syrup 3x1 cth
Paru : BND Ves +/+ Rh +/+, Wh -/(kalau perlu)
Jantung : BJ I/II murni regular.
- Darah rutin ulang
Abdomen : peristaltik (+), distensi (-),
7

hepar teraba 2 jari dibawah arcus costa


Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
Skoring TB :
- Kontak
:1
- Uji tuberculin
:0
- Batuk
:0
- Demam
:0
- Gizi
:0
- Pembesaran KGB
:0
- Pembengkakan sendi : 0
- Foto thorax
: 0, total 1
A: Mix Malaria + Bronkopneumoni
Ringan
DD: Bronkitis akut, suspek ISK

Urin rutin

Pemeriksaan Darah Rutin di Apotik Mulia (6 Juni 2014)


JENIS
HGB
PLT
WBC
Malaria (DDR)

NILAI
10.2
163
11.6
Negatif

SATUAN
g/dL
103/l
[103/mm3]

KISARAN NORMAL
11,5-17,0
150-500
4-11

Pemeriksaan Urin di Apotik Mulia (6 Juni 2014)


Parameter
Warna
Berat jenis
pH
Protein
Bilirubin
Blood
Urobilinogen
Keton
Glukosa
Eritrosit
Leukosit
Eosinofil
Basofil

7/6/2014

Hasil
Kuning muda
1,005
4,6
(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
5-6
11-14
(+)
(+)

Kisaran normal
1,003
7,0
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
0-2/LPB
0-5/LPB
(-)
(-)

S: demam (-), batuk (+), pilek (-), sesak (-), R/


muntah (+),wajah sembab, edema kelopak - IVFD RL 36 tpm
8

9/6/2014

10/6/201
4

mata (+), edema tungkai (+), makan dan - Buffect syrup 3x1
minum baik, BAK normal, BAB sedikitcth (kalo perlu)
Psidii syrup 1x1
sedikit.
O: N : 120 x/m
cth stop
P : 30 x/menit
- Domperidone
S : 37,20C
syrup 3x1 cth
TD : 90/60 mmHg
(kalau perlu)
BB : 14 kg
Cefixim 2x75 mg
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+,
- Urin tampung
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/- Kultur urin
Jantung : BJ I/II murni regular.
- Periksa ureum,
Abdomen : peristaltik (+), distensi (-),
kreatinin, protein
hepar teraba 2 jari dibawah arcus costa
albumin, globulin
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
dan kolestrol
A: Bronkopneumoni Ringan, suspek
Sindroma nefrotik
DD: Bronkitis akut, ISK
S: demam (+), batuk (-), pilek (-), sesak (-), R/
muntah (-),wajah sembab, edema kelopak - IVFD RL 8 tpm
mata (+), edema tungkai (+), makan dan - Inj cefotaxim
3x250 mg
minum baik, BAK tidak nyeri tapi merah,
Inj furosemide
BAB sedikit-sedikit.
2x15 mg
O: N : 130 x/m
- Kultur urin
P : 38 x/menit
0
- Periksa ureum,
S : 38,3 C
TD : 100/60 mmHg
kreatinin, protein
BB : 14 kg
albumin, globulin
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+,
dan kolestrol
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/- Ukur TD tiap 4
Jantung : BJ I/II murni regular.
jam
Abdomen : peristaltik (+), distensi (-),
- Tampung urin tiap
hepar teraba 2 jari dibawah arcus costa
BAK/24 jam
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
- Ukur lingkar perut
Urin tampung : gross hematuria, total per
tiap pagi sebelum
24 jam : 0,8 ml
makan
A: Suspek GNA
DD: Sindroma nefrotik, black water fever, - Diet rendah garam
(lapor petugas
mix malaria
gizi)
S: demam (-), batuk (-), pilek (-), sesak (-),
muntah (-), wajah sembab, edema kelopak
mata (+) berkurang, edema tungkai (+),
makan dan minum baik, BAK tidak nyeri

R/
- IVFD RL 8 tpm
- Restriksi cairan
- Microlax supp

tapi merah, BAB sedikit-sedikit.


O: N : 128 x/m
P : 34 x/menit
S : 37,00C
TD : 100/60 mmHg
BB : 14 kg
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), distensi (-),
hepar teraba 2 jari dibawah arcus costa
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
Urin tampung : gross hematuria, total per
24 jam :
TD
LP
A: Suspek GNA
DD: Sindroma nefrotik, black water fever.

Inj cefotaxim
3x250 mg
Inj furosemide
2x15 mg
Kultur urin
Periksa ureum,
kreatinin, protein
albumin, globulin
dan kolestrol
Diet rendah
garam, protein 12mg/kgBB

C. Diskusi
Pasien anak (perempuan, 4,3 tahun, BB : 14 Kg) masuk rumah sakit
dengan keluhan panas tinggi, panas dialami sejak 7 hari yang lalu, timbul tibatiba dan terus menerus. Pasien baru pertama kali mengalami gejala seperti ini.
Keluhan lain yang menyertai seperti mimisan, nafsu makan menurun, sakit perut,
lemas, muntah, dan pada kaki pasien timbul bintik-bintik merah dan
pembengkakan.

Pada

pemeriksaan

rumple

leed

(+),

trombositopenia,

hemokonsentrasi (-).
Berdasarkan gejala klinis dan tanda klinis yang ditampilkan maka pasien
didiagnosis menderita demam dengue karena tidak memenuhi kriteria diagnosis
untuk demam berdarah dengue (DBD) dan cenderung menenuhi kriteria demam
dengue.
Manifestasi yang muncul adalah sebagai berikut sesuai World Health
Organization (WHO 1997), adalah Demam tinggi mendadak. Ditambah gejala
penyerta 2 atau lebih : [2]
1.
2.

Nyeri kepala.
Nyeri retro orbita.
10

3.
4.
5.
6.
7.

Nyeri otot dan tulang.


Ruam kulit.
Meski jarang dapat disertai manifestasi perdarahan.
Leukopenia.
Uji HI > 1280 atau IgM/IgG positif.

Tidak ditemukan tanda kebocoran plasma (hemokonsentrasi, efusi pleura,


asites, hipoproteinemia).
Sedangkan berdasarkan WHO World Health Organization (WHO 1997),
demam berdarah dengue didiagnosis dengan kriteria dua kriteria klinis pertama
ditambah satu dari kriteria laboratorium (atau hanya peningkatan hematokrit)
cukup untuk menegakkan Diagnosis Kerja DBD. [3]
Gejala klinis berikut harus ada, yaitu : Demam tinggi mendadak tanpa
sebab yang jelas, berlangsung terus

menerus selama 2-7 hari. Terdapat

manifestasi perdarahan ditandai dengan: [3]


1.
2.
3.
4.
5.

uji bendung positif.


petekie, ekimosis, purpura.
perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi.
hematemesis dan atau melena.
Pembesaran hati.
Syok, ditandai nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba, penyempitan

tekanan nadi (20 mmHg), hipotensi sampai tidak terukur, kaki dan tangan dingin,
kulit lembab, capillary refill time memanjang (>2 detik) dan pasien tampak
gelisah. Sedangkan pemeriksaan laboratorium menunjukan trombositopenia
(100.000/l atau kurang). Adanya kebocoran plasma karena peningkatan
permeabilitas kapiler, dengan manifestasi sebagai berikut :
1. Peningkatan hematokrit yaitu 20% dari nilai standar.
2. Penurunan hematokrit yaitu 20%, setelah mendapat terapi cairan.
3. Efusi pleura/peri kardial, asites, hipoproteinemia.
Pada kasus ini pasien menujukan gejala yang signifikan seperti demam
tinggi timbul mendadak. Walaupun menunjukan adanya manifestasi perdarahan
yaitu uji bendung (+), petekie (+), epistaksis (+), sedangkan pemeriksaan
laboratorium tidak menunjukan adanya trombositopenia atau peningkatan
hematokrit. Berdasarkan hal ini, pasien tidak memenuhi kriteria diagnosis Demam
Berdarah Dengue yaitu dua kriteria klinis pertama ditambah satu dari kriteria
laboratorium (atau hanya peningkatan hematokrit) sehingga lebih tepat
didiagnosis sebagai demam dengue. Selain itu, walaupun tekanan darah pasien
11

berdasarkan pemeriksaan fisik menunjukan tanda syok yaitu penyempitan tekanan


nadi (20 mmHg), namun hal ini tidak didukung dengan manifesatsi klinis lainnya
seperti nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba, hipotensi sampai tidak terukur,
kaki dan tangan dingin, kulit lembab, capillary refill time memanjang (>2 detik)
atau pasien tampak gelisah. Sehingga secara klinis dapat dikemukan bahwa
diagnosis demam dengue pada pasien lebih tepat. [3]
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang banyak
ditemukan di sebagian besar wilayah tropis dan subtropis, terutama Asia
Tenggara, Amerika tengah, Amerika dan Karibia. Host alami DBD adalah
manusia, Agentnya adalah Virus dengue yang termasuk kelompok Arthropoda.
Borne Viruses (Arbovirosis), famili Flaviridae dan genus Flavivirus, terdiri dari 4
serotipe yaitu Den-1, Den-2, Den-3 dan Den-4, ditularkan ke manusia melalui
gigitan nyamuk yang terinfeksi, khususnya nyamuk Aedes aegypti dan Ae.
Albopictus yang terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia. Penelitian di
Indonesia menunjukan yang terbanyak adalah Den-2 dan Den-3 namun Den-3
merupakan serotype virus yang dominan menyebabkan kasus yang berat.[4,5,6]
Jumlah kasus DBD tidak pernah menurun di beberapa daerah tropik dan
sub-tropik bahkan cenderung terus meningkat

dan banyak menimbulkan

kematian pada anak 90% di antaranya menyerang anak di bawah 15 tahun. Pada
kasus ini pasien berumur 4,3 tahun sehingga masih tergolong kelompok yang
berisiko.[4]
Manifestasi yang muncul pada kasus ini timbul sebagai akibat reaksi tubuh
terhadap masuknya virus yang berkembang di dalam peredaran darah dan
ditangkap oleh makrofag. Selama dua hari akan tejadi viremia (sebelum timbul
gejala) dan berakhir setelah lima hari timbul gejala panas. Makrofag akan menjadi
aantigen presenting cell (APC) dan mengaktifasi sel T-Helper dan menarik
makrofag lain untuk memfagosit lebih banyak virus. T-helper akan mengaktivasi
banyak sel T-sitotoksik yang akan memfagosit makrofag yang telah memfagosit
virus, juga mengaktifkan sel B yang akan melepas antibodi. Ada 3 jenis antibodi
yang telah dikenali yaitu antibodi netralisasi, antibodi hemaglutinasi, dan antibodi
fiksasi komplemen. Proses tersebut akan merangsang pelepasan mediatormediator yang menimbulkan gejala sistemik seperti demam, malaise dan gejala

12

lainnya. Antibodi yang muncul pada umumnya adalah IgG dan IgM, pada infeksi
dengue primer antibodi mulai terbentuk dan pada infeksi sekunder kadar antibodi
yang telah ada menjadi meningkat. Antibodi terhadap virus dengue dapat
ditemukan di dalam darah sekitar demam hari ke-5, meningkat pada minggu
pertama sampai dengan ketiga. Kinetik kadar IgG berbeda dengan kinetik kadar
antibodi IgM, oleh karena itu kinetik antibodi IgG meningkat sekitar demam hari
ke-14 sedangkan pada infeksi sekunder antibodi IgG meningkat pada hari kedua.
Diagnosis dini infeksi primer hanya dapat ditegakan dengan mendeteksi antibodi
IgM setelah hari kelima, diagnosis infeksi sekunder dapat ditegakan lebih dini
dengan adanya peningkatan antibodi IgG dan IgM yang cepat.[4,6]
Talaksana pada pasien ini dengan pemberian cairan intravena tepat untuk
mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas
kapiler dan perdarahan yang ditemukan secara klinis yaitu adanya epistaksis pada
pemeriksaan fisik, sedangkan antipiretik dapat diberikan dengan menganjurkan
pemberian parasetamol bukan aspirin sudah tepat. Pengobatan yang dilakukan
pada pasien ini dengan pemberian psidii perlu dilakukan karena psidii merupakan
ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava Linn.) yang mengandung kelompok
senyawa tanin dan flavonoid sebagai quersetin dalam ekstrak daun jambu biji
yang berfungsi dalam menghambat aktivitas enzim reverse trancriptase sehingga
dapat menghambat pertumbuhan virus dengue. Ekstrak daun jambu biji juga dapat
meningkatkan jumlah megakariosit dalam sumsum tulang sehingga dapat
meningkatkan jumlah trombosit dalam darah. Sedangkan pemberian antibiotik
pada pasien ini sebenarnya tidak terlalu bermakna karena penyebab demam
dengue adalah virus dengue yang bersifat self limmiting disease. Jika penggunaan
antibiotik pada kasus ini didasarkan pada hasil pemeriksaan fisik yaitu ditemukan
adanya

faringitis,

penggunaan

antibiotik

pada

kasus

ini

tetap

harus

dipertimbangkan karena salah satu gejala klinis yang dapat ditemukan pada
infeksi virus dengue adalah nyeri tenggorok dengan faring yang hiperemis.[7,8]
Pada kasus ini, pasien diperbolehkan pulang pada perawatan hari ke tiga
karena telah memenuhi kriteria pulang yaitu tidak demam selama 24 jam tanpa
antipiretik, nafsu makan membaik, secara klinis tampak perbaikan, hematokrit

13

stabil, jumlah trombosit >50.000/ml dan tidak dijumpai adanya distress


pernapasan.[8]
Prognosis pada pasien ini baik karena berespon pada pengobatan yang
diberikan. Selain itu kekebalan pasien terhadap infeksi dipengaruhi oleh faktor
status usia dan gizi. Usia lanjut akan menurunkan respon imun dan penyerapan
gizi sedangkan pasien berusia muda yaitu 4,3 tahun dengan status gizi yang baik.
Status gizi salah satunya dipengaruhi oleh keseimbangan asupan dan penyerapan
gizi makro yang berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh. Pasien berumur 4,3
tahun dengan BB : 14 kg dan TB : 90 cm memiliki status gizi baik berdasarkan
berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) yaitu berdasarkan Z-Score pasien
tergolong dalam -2 SD sampai +2 SD. Namun perlu diingat bahwa prognosis
pasien yang telah mengalami demam dengue akibat terinfeksi virus dengue
cenderung akan berbeda yaitu mudah mengalami dengue haemorrhagic fever
(DHF) bila terinfeksi lagi dengan serotype virus dengue yang berbeda. Hal ini
didasarkan pada hipotesis infeksi heterolog sekunder (the secondary heterologous
infection hypothesis atau sequential infection hypothesis) yaitu seseorang akan
menderita DHF apabila mendapatkan infeksi berulang oleh serotype virus dengue
yang berbeda dalam jangka waktu tertentu, yaitu 6 bulan 5 tahun. Patofisiologi
Demam Berdarah Dengue dan Dengue Syok Sindrom sampai sekarang belum
jelas. Oleh karena itu muncul banyak teori tentang respon imun. Pada infeksi
pertama antibodi memiliki aktivitas netralisasi yang mengenali protein E dan
monoklonal antibodi terhadap NS1, pre M dan NS3 dari virus penyebab infeksi
akibatnya terjadi lisis sel yang terinfeksi virus melalui aktivitas netralisasi atau
aktivitas komplemen. Akhirnya banyak virus yang dilenyapkan dan penderita
mengalami penyembuhan, selanjutnya terjadilah kekebalan seumur hidup
terhadap seritipe virus yang sama, tetapi apabila terjadi antibodi non-netralisasi
yang memiliki sifat memacu replikasi virus, keadaan penderita akan menjadi
parah apabila epitop virus yang masuk tidak sesuai dengan antibodi yang tersedia
di hospest. Pada infeksi kedua yang dipicu virus dengue dengan serotype yang
berbeda, virus dengue berperan sebagai super antigen setelah difagosit oleh
monosit dan makrofag. Makrofag ini menampilkan antigen presenting cell (APC)

14

yang mengandung polipeptida spesifik yang berasal dari mayor histocompatibility


complex (MHC).[4,5,6,8]
D. Kesimpulan
Kesimpulan berdasarkan kasus yang telah dibahas pada pasien (perempuan,
umur 4,3 tahun, berat badan 14 kg) adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan gejala klinis dan tanda klinis yang ditampilkan maka pasien
didiagnosis menderita demam dengue karena tidak memenuhi kriteria
diagnosis untuk demam berdarah dengue (DBD) dan cenderung menenuhi
kriteria demam dengue.
2. Tatalaksana suportif seperti pemberian cairan intravena, antipiretik dan psidii
sudah tepat, sedangkan pemberian antibiotik pada pasien ini sebenarnya tidak
terlalu bermakna karena penyebab demam dengue adalah virus dengue yang
bersifat self limmiting disease.
3. Pada kasus ini, pasien diperbolehkan pulang pada perawatan hari ke tiga
karena telah memenuhi kriteria pulang.
4. Prognosis pada pasien ini baik karena berespon pada pengobatan yang
diberikan. Selain itu kekebalan pasien terhadap infeksi dipengaruhi oleh faktor
status usia dan gizi. Namun perlu diingat bahwa prognosis pasien yang telah
mengalami demam dengue akibat terinfeksi virus dengue cenderung akan
berbeda yaitu mudah mengalami dengue haemorrhagic fever (DHF) bila
terinfeksi lagi dengan serotype virus dengue yang berbeda.

15