Anda di halaman 1dari 18

1.

2.

BAB III

EMBRIOLOGI USUS BELAKANG/HIND GUT DAN KELAINANNYA


3.

3.1. Embriologi Usus Belakang (Hind Gut)


4.

Sebagai hasil dari lipatan mudigah ke arah sefalokaudal dan lateral, sebagian
dari rongga kantung kuning telur yang dilapisi endoderm bergabung ke dalam
mudigah membentuk usus primitif. Dua bagian lain dari rongga erlapis
endoderm tersebut, kantung kuning telur dan allantois, tetap berada di luar
mudigah. Di bagian kepala dan ekor mudigah, usus primitif membetuk sebuah
tabung berujung buntu, masing-masing usus depan dan usus belakang. Bagian
tengah, yaitu usus tengah, untuk sementara tetap berhubungan dengan kantung
kuning telur melalui duktus vitellinus atau tangkai kuning telur.

5.

Perkembangan usus primitif dan turunannya biasanya dibahas dalam empat


bagian; (a) usus faringeal atau faring, yang membentang dari membran
bukofaringeal hingga ke ventrikulum trakeobronkialis (b) usus depan , yang
terletak di sebelah kaudal tabung faring tersebut, serta membentang ke kaudal
hingga ke tunas hati; (c) usus tengah, mulai dari sebelah kaudal tunas hati dan
berjalan sampai ke suatu titik tempat kedudukan, pada orang dewasa, pertemuan
dua pertiga kanan dan sepertiga kiri kolon tranversum; dan (d) usus belakang,
yang membentang dari sepertiga kiri kolon tranversum hingga ke membrana
kloakalis.

6.
7.
8.

Usus Belakang (Hind Gut)


Usus belakang membentuk sepertiga distal kolon desendens, sigmoid,
rektum, bagian atas kanalis ani. Endoderm usus belakang ini juga membentuk
lapisan dalam kandung kemih dan uretra. Bagian akhir usus belakang bermuara
ke dalam kloaka, suatu

rongga yang dilapisi endoderm yang berhubungan

langsung dengan ektoderm permukaan. Daerah pertemuan antara endoderm dan


ektoderm membentuk dengan membentukmembran kloaka. Hindgut meluas dari
midgut hingga ke membran kloaka, membran ini tersusun dari endoderm kloaka,
dan ektoderm dari protoderm / analpit .

9.

Pada perkembangan selanjutnya, timbulnya timbul suatu rigi melintang, yaitu


septum urorektal, pada sudut antara allantois dan usus belakang . Sekat ini
tumbuh ke arah kaudal, karena itu membagi kloaka menjadi bagian depan,
yaitu sinus urogenitalis primitif, dan bagian posterior, yaitu kanalis anorektalis.
Ketika mudigah berumur 7 minggu, septum urorektal mencapai membran
kloaka, dan di daerah ini terbentuklah korpus perinealis. Membrana kloakalis
kemudian

terbagi

menjadi membrana

analis dibelakang,

dan

membrana

urogenitalis di depan.
10.

11.

12.
13.
14.

Sementara itu, membrana analis dikelilingi oleh tonjol-tonjol mesnkim, dan


pada minggu ke-8 selaput ini terletak di dasar cekungan ektoderm, yang dikenal
sebagai celah anus atau proktodeum . Pada minggu ke-9, membrana analis
koyak, dan terbukalah jalan antara rektum dan dunia luar.

15.

Bagian atas kanalis analis berasal dari endoderm dan diperdarahi oleh
pembuluh nadi usus belakang, yaitu arteri mesenterika inferior. Kanalis analis
berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi ektoderm, sedangkan
rektum berasal dari endoderm. Karena perbedaan asal anus dan rektum ini maka
perdarahan, persarafan, serta penyaliran vena dan limfanya juga berbeda,
demikian pula epitel yang menutupinya. Rektum dilapisi oleh mukosa glanduler

usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan epitel
berlapis gepeng kulit luar. Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai
dengan perubahan jenis, epitel. Kanalis analis dan kulit luar di sekitarnya kaya
akan persarafan sensoris somatik dan peka terhadap rangsangan nyeri,
sedangkan mukosa rektum mempunyai persarafan autonom dan tidak peka
terhadap nyeri.
16.

Sepertiga bagian bawah kanalis analis berasal ari ektoderm dan diperdrahi
oleh aa.rektales, yang merupakan cabang dari arteri pudenda interna. Tempat
persambungan antara bagian endoderm dan ektoderm dibentuk oleh linea
pektinata, yang terdapat tepat di bawah kolumna analis. Pada garis ini, epitel
berubah dari epitel torak menjadi epitel berlapis gepeng.

17.

18.
19.
3.2. Malformasi Anorektal
3.2.1. Definisi
20.

Malformasi anorektal merupakan suatu spektrum dari anomali

kongenital yang terdiri dari anus imperforata dan kloaka persisten. Anus
imperforata merupakan kelainan kongenital tanpa anus atau dengan anus tidak
sempurna, sedangkan

kloaka persisten diakibatkan karena pemisahan antara

traktus urinarius, traktus genitalia dan traktus digestivus tidak terjadi. Ketika
malformasi terjadi, otot dan saraf yang berhubungan dengan anus juga sering
mengalami malformasi dalam derajat yang sama. Tulang belakang dan saluran
urogenital juga dapat terlibat.
21.

Kerusakan yang paling sering terjadi pada pria adalah anus

imperforata denga fistula rektouretra, diikuti fistula rektoperineum kemudian


fistula rektovesika atau bladder neck. Pada wanita, yang tersering adalah defek

rektovestibuler, kemudian fistula kutaneusperineal. Yang ketiga yang tersering


adalah persisten kloaka. Lesi ini adalah malformasi yang berspektrum luas dimana
rektum, vagina, dan traktus urinarius bertemu dan bersatu membentuk satu
saluran. Pada pemeriksaan fisik, dapat dilihat satu lubang saja pada perineum.
Dan terletak dimana uretra biasanya ada. Pada keaadaan ini, genital eksternanya
hipoplastik.
22.
3.2.2. Epidemiologi
23.

Malformasi anorektal terjadi setiap 1 dari 5.000 kelahiran.

Malformasi ini lebih sering terjadi pada pria dan pria dua kali lebih banyak
mengalami malformasi anorektal letak tinggi atau intermediet. Empat puluh
sampai tujuh puluh persen dari penderita mengalami satu atau lebih defek
tambahan dari sistem organ lainnya. Defek urologi adalah anomali yang paling
sering berkaitan dengan malformasi anorektal, diikuti defek pada vertebra,
ekstrimitas dan sistem kardiovaskular.
24.

Cara berpikir dan bertindak dalam menangani malformasi

anorektal banyak berubah sejak tahun 1980-an. Douglas Stephen dan Durham
Smith (1965) (FD Stephen dan ED Smith keduanya ahli bedah anak dari
Melbourne, Australia) yang pertama menganjurkan penanganan malformasi
anorektal sesuai letak ujung atresia terhadap otot dasar panggul (levator ani),
sehingga timbul pembagian anomali tersebut menjadi supra levator, translevator
dan intermediet (konsensus international, Melbourne 1970).
25.

Alberto Pena dan de Vries (1982) (A Pena, ahli bedah anak Mexico

dan P de Vries, ahli bedah anak Kansas, USA) memperkenalkan cara eksplorasi
malformasi anorektal melalui deseksi postern sagital mulai dari os coccygeus ke
distal tanda anus melalui garis tengah. Deseksi ini dapat memperlihatkan
komponen otot dasar panggul dan jugs ketiga ikat serabut sfingter ani eksterna
yang diabaikan pada metode yang terdahulu. Cara operasi seperti ini dikenal
dengan nama postern sagital anorektoplastik. Suatu konsensus international
tentang malformasi anorektal ini diadakan di Wingspread (1984), sehingga timbul

klasifikasi Wingspread yang membedakan malformasi pada laki-laki dan wanita


menjadi 2 golongan.
3.3. Embriologi
26. Usus terbentuk mulai minggu keempat disebut sebagai primitif gut.
Kegagalan perkembangan yang lengkap dari septum urorektalis menghasilkan
anomali letak tinggi atau supra levator. Sedangkan anomali letak rendah atau infra
levator berasal dari defek perkembangan proktoderm dan lipatan genital. Pada
anomali letak tinggi, otot levator ani perkembangannya tidak normal. Sedangkan
otot sfingter eksternus dan internus dapat tidak ada atau rudimenter.
27.

Tahap-tahap pertumbuhan terjadi pada formasi anatomi normal dari bagian

bawah yaitu anus, rektum dan saluran urogenital. Pada minggu ke-4 pertumbuhan
terdapat kloaka dan struktur yang disebut membran kloaka. Kloaka adalah
struktur normal pada burung dan ada pada manusia untuk waktu yang singkat
pada tahap pertumbuhan. Sebelum manusia lahir, kloaka adalah struktur dimana
kolon, saluran urin, dan genital bermuara kemudian keluar dari tubuh melalui satu
lubang. Manusia melalui suatu tahap pertumbuhan dimana kloaka merupakan
struktur yang normal, kemudian tumbuh lubang yang terpisah untuk rektum dan
traktus urin dan pada wanita juga terbentuk vagina. Perkembangan normal ini juga
terjadi pada perkembangan struktur yang disebut membran kloaka. Jika membran
ini tidak berkembang normal, kloaka mungkin masih terdapat setelah kelahiran
pada wanita atau pada pria akan berkembang bentuk dari anus imperforata.
28.
3.4. Patofisiologi
29. Malformasi anorektal terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal
pada kehidupan embrional. Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan
adanya fistula. Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan,
muntah dengan segala akibatnya. Apabila urin mengalir melalui fistel menuju
rektum, maka urin akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperchloremia,
sebaliknya feses mengalir kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang.
Pada keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rektum dengan organ
sekitarnya. Pada wanita 90% dengan fistula ke vagina (rektovagina) atau

perineum (rektovestibuler). Pada laki2 biasanya letak tinggi , umumnya fistula


menuju ke vesika urinaria atau ke prostate. (rektovesika). pada letak rendah fistula
menuju ke urethra (rektourethralis).
30.

Atresia anorektal terjadi karena ketidaksempurnaan dalam proses

pemisahan. Secara embriologis hindgut dari apparatus genitourinarius yang


terletak di depannya atau mekanisme pemisahan struktur yang melakukan
penetrasi sampai perineum. Pada atresia letak tinggi atau supra levator, septum
urorektal turun secara tidak sempurna atau berhenti pada suatu tempat jalan
penurunannya
31.

Urorektal dan rektovaginal bisa terjadi karena septum urorektal

turun ke bagian kaudal tidak cukup jauh, sehingga lubang paling akhir dari
hindgut berbelak ke anterior sehingga lubang akhir hindgut menuju ke uretra atau
ke vagina. Atresia rektoanalmungkin dapat meninggalkan jaringan fibrous atau
hilangnya segmen dari rektum dan anus, defek ini mungkin terjadi karena adanya
cedera vaskular pada regio ini sama dengan yang menyebabkan atresi pada bagian
lain dari usus. Anus imperforata terjadi ketika membran anal gagal untuk hancur.
32.
3.5. Klasifikasi
33. Melbourne membagi berdasarkan garis pubocoxigeus dan garis yang
melewati ischii kelainan disebut :
34.

Letak tinggi rektum berakir diatas m.levator ani (m.pubo coxigeus)

35.

Letak intermediet akhiran rektum terletak di m.levator ani

36.

Letak rendah akhiran rektum berakhir bawah m.levator ani

37.
38.

Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan,


yaitu:

39.

1. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus

40.

2. Membran anus yang menetap

41.

3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada

bermacam-macam jarak dari peritoneum


42.

4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung rektum

43.
44.
45. Modifikasi Klasifikasi (Wingspread 1984)
46. Penggolongan anatomis untuk terapi dan prognosis:
47. Laki-laki:
48. Golongan I

Tindakan

1.

Fistel urine

Kolostomi neonatus

2.

Atresia rekti

Operasi definitif

3.

Perineum datar

Usia 4-6 bulan

4.

Tanpa fistel. Udara > 1 cm


49.

dari kulit pada invertogram

50.
51. Invertogram adalah teknik pengambilan foto untuk menilai jarak puntung
distal rektum terhadap marka anus di kulit peritoneum. Pada teknik bayi
diletakkan erek terbalik (kepala di bawah) atau tidur telungkup (prone), dengan
sinar horisontal diarahkan ke trohanter mayor. Dinilai ujung udara yang ads di
distal rektum ke marka anus.
52.
53. Golongan II

Tindakan

1.

Fistel perineum

2.

Membran anal meconeum tract

Operasi definitif pada neonatus

3.

Stenosis ani

Tanpa kolostomi

4.

Bucket handle
5. Tanpa fistel. Udara < 1 cm
54.

dari kulit pada invertogram

55.
56. Wanita:
57. Golongan I

Tindakan

1. Kloaka
2. Fistel vagina

Kolostomi neonatus

3. Fistel vestibulum ano atau

Usia 4-6 bulan

58.

rekto, vestibules

4. Atresia rekti
5. Tanpa fistel. Udara > 1 cm
59.

dari kulit pada invertogram

60.
61. Golongan II

Tindakan

62. Fistel perineum


63. Stenosis

Operasi definitif pada neonatus

64. Tanpa fistel. Udara > 1 cm


dari kulit pada invertogram
65. 3.6.Diagnosis
66. Untuk menegakkan diagnosis Malformasi anorektal adalah dengan anamnesis
dan pemeriksaan perineum yang teliti .
67.

Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir

68.

Tidak ditemukan anus, kemungkinan ada fistula

69.

Bila ada fistula pada perineum (mekoneum +) kemungkinan letak rendah

70. Persisten kloaka dapat didiagnosa secara klinik. Adanya lubang tunggal pada
perineum merupakan suatu petunjuk klinik dari kloaka persisten. Genitalia
eksternanya sering berukuran kecil. Pada pemeriksaan abdomen terkadang dapat
ditemukan massa pada abdomen, yang mungkin merupakan vagina yang
mengalami distensi (hidrokolpos) dan ini ada pada 50% pasien dengan kloaka
persisten.
71.
72. PENA menggunakan cara sebagai berikut:
73. 1

Bayi laki-laki dilakukan pemeriksaan perineum dan urine bila :

74.

Fistel perianal (+) , bucket handle, anal stenosis atau anal

membran berarti atresia letak rendah, dilakukan Minimal PSARP tanpa


kolostomi
75.

Mekoneum (+) atresia letak tinggi dilakukan kolostomi terlebih

dahulu dan 8 minggu kemudian dilakukan tindakan definitif.

76. Apabila pemeriksaan diatas meragukan dilakukan invertrogram .Bila


77.

Akhiran rektum < 1 cm dari kulit disebut letak rendah

78.

Akhiran rektum > 1 cm disebut letak tinggi

79. Pada laki-laki fistel dapat berupa rectovesikalis, rektourethralis dan


rektoperinealis.
80.
81. 2

Pada bayi perempuan 90 % malformasi anorektal disertai dengan fistel.

Bila ditemukan
82. Fistel perineal (+) minimal PSARP tanpa kolostomi.
83. Fistel rektovaginal atau rektovestibuler dilakukan kolostomi terlebih
dahulu.
84. Fistel (-) invertrogram :
85. - Akhiran < 1 cm dari kulit dilakukan postero sagital anorektoplasti
86. - Akhiran > 1 cm dari kulit dilakukan kolostomi terlebih dahulu
87.
88.

Leape (1987) menyatakan bila mekonium didadapatkan pada

perineum, vestibulum atau fistel perianal berarti letak rendah . Bila Pada
pemeriksaan Fistel (-) Letak tinggi atau rendah
89.

Pemeriksaan foto abdomen setelah 18-24 jam setelah lahir agar

usus terisi udara, dengan cara Wangenstein Reis (kedua kaki dipegang posisi
badan vertical dengan kepala dibawah) atau knee chest position (sujud) bertujuan
agar udara berkumpul didaerah paling distal. Bila terdapat fistula lakukan
fistulografi.
90.
91. A. Pemeriksaan klinis
1. pemeriksaan neonates secara keseluruhan untuk mengetahui umur kehamilan,
berat, temperature, warna, tangisan, pernapasan, ada tidaknya jaundice,
distensi abdomen, septicemia, dan anomaly congenital lainnya.
92.

Yang harus dipertimbangkan adalah: a. dengan malformasi apakah

bayi tersebut lahir, b. apa yang sudah diakibatkan malformasi tersebut pada
bayi.

2. Pemeriksaan untuk menentukan tipe dan asal dari anomaly. Secara klinik
dapat dilakukan pada bayi perempuan tetapi tidak semua bayi laki-laki. Pada
wanita jumlah lubang pada perineum sangatlah signifikan. Jika terdapat tiga
lubang berarti masalah dapat diatasi cukup dari perineum, sedangkan jika
hanya ada dua atau satu lubang berarti memerlukan pembedahan.
3. Ada atau tidaknya anomali yang berkaitan. Periode embriologi pada saat
ujung kaudal dari fetus berdiferensiasi (5-24 minggu) merupakan waktu
dimana sistem tubuh lainnya juga sedang berkembang. Sehingga tidak sulit
untuk membayangkan jika terjadi defek embriologi pada waktu ini yang
menyebabkan malformasi anorektal juga akan menyebabkan insidensi yang
tinggi dari anomali lainnya. Istilah asosiasi VACTERL telah ditentukan
untuk menunjukkan grup non-acak dari anomali yang berkaitan.
93.
94. 1. Pemeriksaan Umum
95.

Pemeriksaan rutin tetap harus dilakukan untuk mencari ke lain-lain

50% sampai 60% penderita ini mempunyai kelainan kongenital di tempat lain.
96. Yang sering ditemukan adalah:
a.

pada traktus genito urinarius

b.

kelainan jantung

c.

traktus

gastrointestinal,

misalnya

atresia

esofagus,

atresia

duodenum
d.

tulang, misalnya tulang radius tidak ada.

97.
98. 2. Pemeriksaan khusus untuk kelainan anorektal
99. a. Wanita
100.Umumnya pada 80-90% wanita ditemukan fistula ke vestibulum atau
vagina, hanya pada 10-20% tidak ditemukan fistel.
101.Golongan 1
1.

Kloaka

102.Pemisahan antara traktus urinarius, traktus genitalia dan traktus digestivus


tidak terjadi. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat
dilakukan kolostomi.
2.

Fistel vagina
103.Mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi feses bisa tidak lancar,
sebaiknya cepat dilakukan kolostomi.

3.

Fistel vestibulum
104.Muara fistel di vulva di abwah vagina. Umumnya evakuasi feses lancar
selama penderita hanya minum susu. Evakuasi mulai terhambat saat penderita
mulai makan makanan padat. Kolostomi dapat direncanakan bila penderita
dalam keadaan optimal.

105.
4.

Atresia rekti
106.Kelainan dimana anus tampak normal, tetapi pada pemeriksaan colok
dubur jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi sehingga
perlu segera dilakukan kolostomi.

5.

Tanpa fistel
107.Udara > 1 cm dari kulit pada invertogram. Tidak ada evakuasi sehingga
perlu segera dilakukan kolostomi.

108.
109.Golongan 2
1.

Fistel perineum
110. Terdapat lubang antara vulva dan tempat dimana lokasi anus normal.
Dapat berbentuk anus anterior, tulang anus tampak normal, tetapi marks anus
yang rapat ada di posteriornya. Umumnya menimbulkan obstipasi.

2.

Stenosis ani
111. Lubang anus terletak di lokasi normal, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses
tidak lancar. Sebaiknya secepat mungkin lakukan tetapi definitif

3.

Tanpa fistel
112. Udara < 1 cm dari kulit pada invertogram. Tidak ada evakuasi sehingga
perlu segera dilakukan kolostomi.
113.
114. b. laki-laki
115. Perlu diperhatikan hal-hal seperti berikut:

1.

Perineum: bentuk dan adanya fistel

2.

Urine: dicari ada tidaknya butir-butir mekonium di urin.


116. Dari kedua hal tersebut di atas pada anak laki dapat dibuat golongangolongan seperti berikut:
117. Golongan 1

1.

Fistel urine
118.

Tampak mekonium keluar dari orificium urethrae eksternum.

Fistula dapat terjadi bila terdapat fistula baik ke urethra maupun ke vesika
urinaria. Cara praktis untuk membedakan lokasi fistel ialah dengan memasang
kateter urine. Bila keteter terpasang dan urine jernih, berarti fistel terletak di
urethra yang terhalang kateter. Bila dengan kateter, urine berwarna hijau,
berarti fistel ke vesika urinaria. Evakuasi feses tidak lancar, dan penderita
mernedukan kolostomi segera.
2.

Atresia rekti. Sama dengan wanita. Perineum datar. Menunjukkan bahwa otot
yang berfungsi untuk kontinensi tidak terbentuk sempurna.

3.

Tanpa fistel
119. Udara > 1 cm dari kulit pada invertogram. Karena tidak ada evakuasi feses
maka perlu segera dilakukan kolostomi.
120.
121.Golongan 2
1. Fistel perineum. Sama dengan wanita.

122.
2. Membran anal. Anus tertutup selaput tipis dan sering tampak bayangan
jalan mekonium di bawah kulit. Evaluasi feses tidak ada. Secepat mungkin
sebaiknya dilakukan terapi definitif.
3. Stenosis ani. Sama dengan wanita.
4. Bucket handle (gagang ember).
123.

Daerah lokasi anus normal tertutup kulit yang berbentuk

gagang ember. Evakuasi feses tidak ada. Perlu secepatnya dilakukan terapi
definitif.
5. Tanpa fistel
124.

Udara < 1 cm dari kulit pada invertogram. Tidak ada

evakuasi feses, sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.


125.
126.Penatalaksanaan
127.

Penatalaksanaan malformasi anorektal tergantung klasifikasinya.

Pada malformasi anorektal letak tinggi harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu.
Pada beberapa waktu lalu penanganan malformasi anorektal menggunakan
prosedur abdominoperineal pullthrough, tapi metode ini banyak menimbulkan
inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. Pena dan Defries
pada tahun 1982 memperkenalkan metode operasi dengan pendekatan postero
sagital anorektoplasty, yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter eksternus
dan muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rektum dan
pemotongan fistel .
128.

Bedah tradisional tidak memperbolehkan tindakan pada bagian

posterior midline Karena otot pada bagian ini dipercaya menyebabkan


inkontinensia pada anak-anak. Sehingga pendekatan dokter bedah untuk

malformasi ini menggunakan kombinasi melalui, abdomen, sacral, dan perineum


dengan lapang pandang yang terbatas
129.

Abdominoperineal pullthrough dilakukan dengan membuka rongga

abdomen agar mendapat visualisasi yang jelas dan identifikasi yang tepat dari otot
puborektalis. Pada operasi pullthrough ini bagian usus yang terbawah
dimobilisasi, dan saluran baru dibuat melalui dinding pelvis dengan menggunakan
satu pasang forsep kurva melaluinya, dipertahankan agar tetap dekat dengan
uretra, menuju letak dari anus yang baru dimana rectum dijahit dengan kulit
perineum, membentuk hubungan mukokutaneus.
130.

Secara umum, ketika terdapat lesi letak rendah, yang diperlukan

hanyalah operasi daerah perineal tanpa kolostomi, sedangkan lesi letak tinggi
memerlukan kolostomi segera setelah lahir. Ketika terdapat kloaka persisten,
saluran urin perlu dievaluasi lebih teliti pada saat membuat kolostomi untuk
memastikan bahwa pengosongan yang normal dapat terjadi dan menentukan
apakah buli-buli perlu didrainase dengan vesikostomi. Jika ada keraguan terhadap
jenis lesi, lebih aman untuk melakukan kolostomi daripada membahayakan
kesempatan jangka panjang kontinensia pada bayi dengan melakukan operasi
perineal yang tidak tepat.
131.

Keberhasilan penatalaksanaan malformasi anorektal dinilai dari

fungsinya secara jangka panjang, meliputi anatomisnya, fungsi fisiologisnya,


bentuk kosmetik serta antisipasi trauma psikis. Sebagai Goalnya adalah defekasi
secara teratur dan konsistensinya baik.
132.

Untuk menangani secara tepat, harus ditentukankan ketinggian

akhiran rektum yang dapat ditentukan dengan berbagai cara antara lain dengan
pemeriksaan fisik, radiologis dan USG. Komplikasi yang terjadi pasca operasi
banyak disebabkan oleh karena kegagalan menentukan letak kolostomi, persiapan
operasi yang tidak adekuat, keterbatasan pengetahuan anatomi, serta ketrampilan
operator yang kurang serta perawatan post operasi yang buruk. Dari berbagai
klasifikasi penatalaksanaannya berbeda tergantung pada letak ketinggian akhiran
rektum dan ada tidaknya fistula.
133.

Leape (1987) menganjurkan pada :

Atresia letak tinggi & intermediet sigmoid kolostomi atau TCD dahulu,
setelah 6 12 bulan baru dikerjakan tindakan definitif (PSARP)

Atresia letak rendah perineal anoplasti, dimana sebelumnya dilakukan tes


provokasi dengan stimulator otot untuk identifikasi batas otot sfingter ani
ekternus,

Bila terdapat fistula cut back incicion

Stenosis ani cukup dilakukan dilatasi rutin , berbeda dengan Pena dimana
dikerjakan minimal PSARP tanpa kolostomi.

134.
135.

Pena secara tegas menjelaskan bahwa Malformasi anorektal letak

tinggi dan intermediet dilakukan kolostomi terlebih dahulu untuk dekompresi dan
diversi. Operasi definitif setelah 4 8 minggu. Saat ini tehnik yang paling banyak
dipakai adalah posterosagital anorektoplasti, baik minimal, limited atau full
postero sagital anorektoplasti
136.

Prinsip pengobatan operatif pada malformasi anorektal dengan

eksplorasi postero sagital anorektal plastik, akan banyak menggunakan kolostomi


perlindungan atau kolostomi sementara. Ada dua tempat kolostomi yang
dianjurkan dipakai pada neonatus dan bayi, yaitu: transversokolostomi (kolostomi
di kolon transversum) dan sigmoidostomi (kolostomi di sigmoid). Bentuk
kolostomi yang mudah dan aman adalah laras ganda (double barrel).
137.

Kolostomi dilakukan pada saat neonates, manfaat melakukan

kolostomi adalah
a. mengatasi obstruksi usus
b. memungkinkan pembedahan rekonstruktif untuk dikerjakan dengan
lapangan operasi yang bersih
c. memberi kesempatan pada ahli bedah untuk melakukan pemeriksaan
lengkap dalam usaha menentukan letak ujung rektum yang buntu serta
menemukan kelainan bawaan yang lain.
138.
139.

Setelah dilakukan kolostomi, tindakan definitif akan dilakukan 3-4

bulan kemudian. Dengan alasan pasien diharapkan telah memiliki keadaan umum

yang baik, fungsi peristaltis dari pasien sudah membaik. Dan komplikasikomplikasi untuk tindakan bedah sudah teratasi seperti gangguan sirkulasi,
gangguan jalan napas, dan keseimbangan cairan elektrolit telah terjaga. Kenapa
diambil waktu 3-4 bulan karena menurut Albanese et al, semakin cepat perbaikan
dari suatu malformasi keongenital semakin baik hasil yang didapatkan dan juga
lebih cepat untuk melatih reflex defekasi dari otak merupakan hal yang sangat
penting
140.
141.DAFTAR PUSTAKA
142.Anonim. 2008. Atresia Ani. Available from http://www.bedahugm.net
(accessed: 1st January 2009).
143.Bhargava P, Mahajan J. K, Kumar A. 2003. Anorectal Malformations in
Children. J Indian Assoc Pediatric Surgery/Jul-Sept/Vol 11/Issue 3
144.Brunicardi F C. 2003. Schwartzs principal of surgery: eight edition. New
york: McGraw-Hill medical publishing division
145.Chandler L R. Congenital Malformations Of The Rectum And Anus: Their
Surgical Treatment. California And Western Medicine Journal Vol. 51, No.
2
146.Joseph D. 2005. Management Of Anorectal Malformations And Hirschsprung
Disease In

Guyana. Dept. of Pediatric Surgery Georgetown Public

Hospital Corporation
147.Kella N, Memon A B, Qureshi G. A. 2006. Urogenital Anomalies Associated
with Anorectal Malformation in Children. World Journal of Medical
Sciences 1 (2): 151-154
148.Mittal A, et al. 2004. Associated Anomalies with Anorectal Malformation.
Indian Journal of Pediatrics, Volume 71--June, 2004
149.O'Neill. 2003. Principle of Pediatric Surgery: Imperforate Anus. Elsevier
150.Sadler T W. 2000. Embriologi Kedokteran Langman: edisi ke-7. Jakarta: EGC
penerbit buku kedokteran
151.Sjamsuhidajat R, de Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah: edisi 2. Jakarta:
EGC penerbit buku kedokteran

152.Thayeb. A. Malformasi Anorektal. Pada: Reksoprodjo, S editor. Kumpulan


Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara
153.
154. 2.4 Patofisiologi

155.
156. Gambar 3. Macam-macam Fistula pada Laki-laki & Perempuan8

157.
158.

159.
160.

161.
162.
163.
164.
165.