Anda di halaman 1dari 21

KONsep Dasar ICU (Intensive Care Unit)

Kamis, Oktober 27, 2011 Manajemen No comments

ICU (Intensive Care Unit)


Perawatan intensif merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu
untuk di kembangkan di Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan bagi pasien
dengan penyakit berat yang potensial reversibel, memberikan asuhan pada pasien
yang memerlukan pbservasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat
diberikan diruang perawatan umum memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien
dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru mengurangi kesakitan
dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan penyakit kritis (Adam
& Osbone, 1997)
1. Pengertian
Adalah suatu tempat atau unit tersendiri di dalam Rumah Sakit yang memiliki staf
khusus, peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena
penyakit, trauma atau komplikasi penyakit lain.
2. Staf Khusus
adalah dokter dan perawat yang terlatih, berpengalaman dalam Intensive Care
(Perawatan dan terapi Intensif) dan yang mampu memberikan pelayanan 24 jam.
3. Peralatan Khusus ICU
adalah alatalat pemantauan, alat untuk menopang fungsi vital, alat untuk prosedur
diagnostic dan alat Emergency lainnya
4. Tujuan Pengelolaan di ICU

Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya kematian atau cacat

Mencegah terjadinya penyulit

Menerima rujukan dari level yang lebih rendah & melakukan rujukan ke level
yang lebih tinggi

5. Macam macam ICU


Menurut fungsi ICU dibagi menjadi beberapa unsur yaitu :
a. ICU Khusus
Dimana dirawat pasien payah dan akut dari satu jenis penyakit
Contoh :
- ICCU (Intensive Coronary Care Unit)
yaitu pasien dirawat dengan gangguan pembuluh darah
Coroner.

- Respiratory Unit
Pasien dirawat yang mengalami gangguan pernafasan
- Renal Unit
dimana pasien yag dirawat dg.gg. ginjal.
b. ICU Umum
Dimana dirawat pasien yang sakit payah akut di semua bagian RS menurut umur ICU
anak & neonatus dipisahkan dengan ICU dewasa
6. Klasifikasi Pelayanan ICU
a. ICU Primer
b. ICU Sekunder
c. ICU Tersier
a. ICU Primer

Mampu memberikan pengelolaan


respirasi jangka pendek

Memantau dan mencegah penyulit pasien dan bedah yang berisiko

Ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa


jam

Ruangan dekat dengan kamar bedah

Kebijakan / criteria pasien masuk, keluar dan rujukan

Kepala : dokter spesialis anestesi

Dokter jaga 24 jam, mampu RJP

resusitasi

segera,

tunjangan,kardio

Konsultan dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat

Jumlah perawat cukup dan sebagian besar terlatih

Pemeriksaan Laborat : Hb, Hct, Elektrolit,GD, Trombosit

Kemudahan Rontgen dan Fisioterapi

b. ICU Sekunder

Memberikan pelayanan ICU umum yang mampu mendukung kedokteran umum,


bedah, trauma, bedah syaraf, vaskuler dsb.

Tunjangan ventilasi mekanik lebih lama.

Ruangan khusus dekat kamar bedah

Kebijakan dan kriteria pasien masuk, keluar dan rujukan

Kepala intensivis, bila tidak ada SpAn.

Dokter jaga 24 jam mampu RJP ( A,B,C,D,E,F )

Ratio pasien : perawat = 1 : 1 untuk pasien dengan ventilator,RT dan 2 : 1 untuk


pasien lainnya.

50% perawat bersertifikat ICU dan pengalaman kerja minimal 3 tahun di ICU

Mampu melakukan pemantauan invasife

Lab, Ro, fisioterapi selama 24 jam

c. ICU Tersier

Memberikan pelayanan ICU tertinggi termasuk dukungan hidup multi sistem


( ventilasi mekanik , kardiovaskuler, renal ) dalam jangka waktu tak terbatas

Ruangan khusus

Kebijakan/ indikasi masuk, keluar dan rujukan

Kepala : intensivis

Dokter jaga 24 jam, mampu RJP (A,B,C D,E,F )

Ratio pasien : perawat = 1:1 untuk pasien dengan ventilator, RT dan 2 : 1 untuk
pasien lainnya.

75% perawat bersertifikat ICU atau minimal pengalaman kerja di ICU 3 tahun

Mampu melakukan pemantauan / terapi non invasive maupun invasive.

Laborat, Ro, Fisioterapi selama 24 jam

Mempunyai pendidikan medik dan perawat

Memiliki prosedur pelaporan resmi dan pengkajian Memiliki staf administrasi,


rekam medik dan tenaga lain

7. Syarat - syarat Ruang ICU

Letaknya di sentral RS dan dekat dengan kamar bedah serta kamar pulih sadar (
Recovery Room)

Suhu ruangan diusahakan 22-25 C, nyaman , energi tidak banyak keluar.

Ruangan tertutup & tidak terkontaminasi dari luar

Merupakan ruangan aseptic & ruangan antiseptic dengan dibatasi kaca- kaca.

Kapasitas tempat tidur dilengkapi alat-alat khusus

Tempat tidur harus yang beroda dan dapat diubah dengan segala posisi.

Petugas maupun pengunjung memakai pakaian khusus bila memasuki ruangan


isolasi.

Tempat dokter & perawat harus sedemikian rupa sehingga mudah untuk
mengobservasi pasien

8. Ketenagaan
a. Tenaga medis
b. Tenaga perawat yang terlatih
c. Tenaga Laboratorium
d. Tenaga non perawat : pembantu perawat , cleaning servis
e. Teknisi
9. Sarana & Prasarana yang harus ada di ICU

Lokasi : satu komplek dengan kamar bedah & Recovery Room

RS dengan jumlah pasien lebih 100 orang sedangkan untuk R.ICU antara 1-2 %
dari jumlah pasien secara keseluruhan.

Bangunan : terisolasi dilengkapi dengan : pasienmonitor, alat komunikasi,


ventilator, AC, pipaair, exhousefan untuk mengeluarkan udara, lantai mudah
dibersihkan, keras dan rata, tempat cuci tangan yang dapat dibuka dengan
siku & tangan, v pengering setelah cuci tangan

R.Dokter & R. Perawat

R.Tempat buang kotoran

R. tempat penyimpanan barang & obat

R. tunggu keluarga pasien

R. pencucian alat Dapur

Pengering setelah cuci tangan

R.Tempat buang kotoran

R. tempat penyimpanan barang & obat

Sumber air Sumber listrik cadangan/ generator, emergency lamp Sumber O2


sentral Suction sentral Almari alat tenun & obat, instrument dan alat
kesehatanAlmari pendingin (kulkas)Laborat kecil

Alat alat penunjang a.l.: Ventilator, Nabulaizer, Jacksion Reese, Monitor ECG,
tensimeter mobile, Resusitato, Defibrilator, Termometer electric dan
manual,Infus pump, Syring pump,O2 transport, CVP, Standart infuse, Trolly
Emergency,Papan resusitasi,Matras anti decubitus, ICU kid, Alat SPO2, Suction
continous pump dll.

R.Dokter & R. Perawat

9. Indikasi Masuk ICU


a. Prioritas 1
Penyakit atau gangguan akut pada organ vital yang memerlukan terapi intensif dan
agresif.

Gangguan atau gagal nafas akut

Gangguan atau gagal sirkulasi

Gangguan atau gagal susunan syaraf

Gangguan atau gagal ginjal

b. Prioritas 2

Pementauan atau observasi intensif secara ekslusif atas keadaan-keadaan yang dapat
menimbulkan ancaman gangguan pada sistem organ vital
Misal :

Observasi intensif pasca bedah operasi : post


laparatomy dengan komplikasi,dll.

Observasi intensif pasca henti jantung dalam keadaan stabil

Observasi pada pasca bedah dengan penyakit jantung.

trepanasi, post open heart, post

c. Prioritas 3
Pasien dalam keadaan sakit kritis dan tidak stabil yang mempunyai harapan kecil
untuk penyembuhan (prognosa jelek). Pasien kelompok ini mugkin memerlukan terapi
intensif untuk mengatasi penyakit akutnya, tetapi tidak dilakukan tindakan invasife
Intubasi atau Resusitasi Kardio Pulmoner
NB : Px. prioritas 1 harus didahulukan dari pada prioritas 2 dan 3

10. Indikasi Keluar ICU

Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan cukup stabil.

Terapi dan perawatan intensif tidak memberi hasil pada pasien.

Dan pada saat itu pasien tidak menggunakan ventilator.Pasien mengalami mati
batang otak.

Pasien mengalami stadium akhir (ARDS stadium akhir)

Pasien/keluarga menolak dirawat lebih lanjut di ICU (pl.paksa)

Pasien/keluarga memerlukan terapi yang lebih gawat mau masuk ICU dan
tempat penuh.

Prioritas pasien keluar dari ICU


1. Prioritas I dipindah apabila pasien tidak membutuhkan perawatan intensif lagi,
terapi mengalami kegagalan, prognosa jangka pendek buruk sedikit
kemungkinan bila perawatan intensif dilanjutkan misalnya : pasien yang
mengalami tiga atau lebih gagal sistem organ yang tidak berespon terhadap
pengelolaan agresif.
2. Prioritas II pasien dipindah apabila hasil pemantuan intensif menunjukkan
bahwa perawatanintensif tidak dibuthkan dan pemantauan intensif selanjutnya
tidak diperlukan lagi
3. Prioritas III tidak ada lagi kebutuhan untuk terapi intensive jika diketahui
kemungkinan untuk pulih kembali sangat kecil dan keuntungan terapi hanya
sedikit manfaatnya misal : pasien dengan penyakit lanjut penyakit paru kronis,
liver terminal, metastase carsinoma
11. Tugas Perawat ICU
1. Identifikasi masalah
2. Observasi 24 jam

Kardio vaskuler : peredaran darah, nadi, EKG, perfusi periver, CVP

Respirasi : menghitung pernafasan , setting ventilator, menginterprestasikan


hasil BGA, keluhan dan pemeriksaan fisik dan foto thorax.

Ginjal : jumlah urine tiap jam, jumlah urine selama 24 jam

Pencernaan : pemeriksaan fisik, cairan lambung, intake oral, muntah , diare

Tanda infeksi : peningkatan suhu tubuh/penurunan (hipotermi), pemeriksaan


kultuur, berapa lama antibiotic diberikan

Nutrisi klien : enteral, parenteral

Mencatat hasil lab yang abnormal.

Posisi ETT dikontrol setiap saat dan pengawasan secara kontinyu seluruh proses
perawatan

Menghitung intake / output (balance cairan)

- Selain hal itu peran perawat juga :


Caring Role
Therapeutic Role
- Dalam penanganan pasien gawat diperlukan 3 kesiapan :
Siap Mental
Siap pengetahuan dan ketrampilan
Siap alat dan obat
- Urutan prioritas penanganan kegawatan didasarkan pada 6B yaitu :

B-1 Breath - Sistem pernafasan

B-2 Bleed - Sistem peredaran darah

B-3 Brain

B-4 Blader - Sistem urogenital

B-5 Bowel -Sistem pencernaan

B-6 Bone

- Sistem syaraf pusat

- Sistem tulang dan persendian

12. Pasien Kritis


Fisiologis tidak stabil dan memerlukan monitoring serta terapi intensif.
- Ruang Lingkup Keperawatan Intensive :
a. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit akut yang mengancam nyawa dan
dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari
b. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekalipun melakukan
pelaksanaan spesifik pemenuhan kebutuhan dasar
c. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang
ditimbulkan oleh :

Penyakit

Kondisi pasien yang memburuk karena pengobatan atau terapi

Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang tergantung pada fungsi alat /
mesin dan orang lain

13. Standar minimum pelayanan ICU :


a. Resusitasi jantung paru.
b. Pengelolaan jalan nafas
c. Terapi oksigen
d. Pemantauan EKG, pulse Oksimetri kontinyu
e. Pemberian nutrisi enteral dan parental
f. Pemeriksaan Laboratorium dengan cepat
g. Pelaksanaan terapi tertitrasi
h. Memberi tunjangan fungsi Vital selama transportasi
i. Melakukan fisioterapi.
Sumber : Ayute.blogspot.com
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Kebijakan Bag. ICU ( Intensive Care Unit)


By adminNov 11, 2011Intensive Care (ICU), Kebijakan RS
http://akreditasi.web.id/2012/ip=1687
I.

PENGGUNAAN DAN PENGELOLAAN RUANG ICU

1. Pelayanan ICU adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien yang dalam keadaan
sakit berat dan perlu dirawat khusus, serta memerlukan pantauan ketat dan terus
menerus serta tindakan segera.
2. Pelayanan ICU adalah pelayanan yang harus mampu memberikan tunjangan
ventilasi mekanis lebih lama, mampu melakukan tunjangan hidup yang lain tetapi
tidak terlalu kompleks sifatnya.
3. Ruang ICU terletak dekat dengan kamar operasi, ruang perawatan lainnya, dan
memiliki akses yang mudah ke IGD, Radiologi dan ke Laboratorium.
4. Area pasien :

Unit terbuka 12-16 m2/ tempat tidur.

Jarak antara tempat tidur 2 meter.

Mempunyai 1 tempat cuci tangan setiap 2 tempat tidur.

Outlet oksigen 1 / tempat tidur.

Stop kontak 4 / tempat tidur.

5. Indikasi pasien masuk ICU :


1. Prioritas 1 :Pasien yang mengalami gangguan akut pada organ vital yang
memerlukan tindakan dan terapi yang intensif cepat yaitu utamanya pada

pasien dengan gangguan pada sistem Pernafasan (B1), Sirkulasi Darah (B2),
Susunan syaraf pusat (B3) yang tidak stabil
2. Prioritas 2 :Pasien yang memerlukan pemantauan alat canggih utamanya pada
pasien yang mengalami pasca pembedahan mayor
3. Prioritas 3 :Pasien yang dalam kondisi kritis dan tidak stabil yang mempunyai
harapan kecil untuk disembuhkan atau manfaat dari tindakan yang didapat
sangat kecil. Pasien ini hanya memerlukan terapi intensif pada penyakit
akutnya tetapi tidak dilakukan intubasi atau Resusitasi Kardiopulmoner.
6. Pasien yang masuk ke ICU boleh dari IGD, Poliklinik, Ruang rawat inap, Kamar
Operasi, Rujukan / pindahan dari RS lain dan dari dokter praktek, asalkan sesuai
dengan kriteria pasien masuk ICU berdasar prioritas 1,2,3 di atas.
7. Yang menentukan pasien bisa masuk ICU adalah dokter kepala ICU.
8. Apabila ICU dalam keadaan kosong, maka semua dokter diperkenankan untuk
merawat pasien di ruang ICU sesuai dengan kriteria pasien masuk ICU berdasarkan
Prioritas 1, 2, 3 diatas.

9. Indikasi Pasien Keluar ICU :


Pada pasien yang dengan terapi atau pemantauan intensif tidak diharapkan atau tidak
memberikan hasil, sedangkan pasien pada waktu itu tidak menggunakan alat bantu
mekanis ( ventilator ) yaitu :
Pasien yang mengalami MBO ( mati batang otak )
Pasien terminal / pasien ARDS stadium akhir

Pada pasien yang telah membaik dan cukup stabil sehingga tidak memerlukan
terapi atau pemantauan intensif lebih lanjut.

Pasien yang hanya memerlukan observasi intensif saja, sedangkan ada pasien
yang lebih gawat dan lebih memerlukan terapi atau pemantauan intensif lebih
lanjut.

Pasien atau keluarga menolak untuk dirawat lebih lanjut di ICU / pulang paksa.

10. Apabila ICU tidak terisi penuh, maka yang menentukan pasien keluar ICU adalah
dokter primer yang merawat pasien tersebut.
11. Pasien bisa keluar ICU selain berdasar kriteria 1,2,3 diatas adalah apabila pasien /
keluarga menolak untuk dirawat lebih lanjut di ICU (keluar paksa).
12. Apabila ICU terisi penuh, maka pengaturan pasien masuk dan keluar ICU dilakukan
oleh dokter Kepala ICU
13. Apabila dokter Kepala ICU berhalangan, maka koordinasi penggunaan ruang ICU
dilaksanakan oleh dokter jaga
14. Jadwal jaga ICU dibuat oleh Kepala ICU
15. Cara Pengisian Status ICU berdasarkan JUKNIS pengisian status ICU.

16. Berkas Status ICU dimasukkan dalam berkas status rawat inap kemudian disimpan
di rekam medis paling lambat 2 x 24 jam setelah pasien tersebut pulang atau rujuk ke
RS yang lebih tinggi tingkat kemampuannya, atau pasien tersebut pulang paksa, atau
pindah RS lain.
17. Bila pasien keluar ICU tetapi masih dirawat di ruang perawatan lain dalam RS ,
maka berkas status ICU disertakan dalam status rawat inap pasien tersebut.
18. Pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan ICU ditulis dalam Buku Register
Pasien, buku laporan harian tiap shif dan sensus harian.
19. Evaluasi hasil perawatan pasien dilakukan dengan melakukan analisa berdasarkan
kasus 10 penyakit terbanyak ICU, berdasarkan pasien meninggal lebih dari 24 jam
serta kurang dari 24 jam, dan berdasar data kunjungan pasien per tahun.
20. Tersedianya obat obat emergency yang memadai untuk menunjang life saving,
seperti Sulfas Atropin, Adrenalin, Cordaron, lidokain. Obat obat tersebut diletakkan
di troley Emergency untuk memudahkan dalam penggunaan saat tindakan Emergency
ke pasien.
21. Tersedianya Alkes, cairan infus dan alat alat yang menunjang untuk kebutuhan
emergency yang diletakkan di troley Emergency, seperti : Nasopharing, Oropharing,
Laringoscop, Endotrakeal Tube, alat ventilasi manual, masker oksigen, infus RL, Nacl
0,9 %, Hes 6 %, dan juga spuit dari ukuran 1 cc hingga 50 cc beserta water injeksi .
22. Prosedur penyediaan obat dan alkes dilakukan dengan mengajukan budjet pada
Direktur RS, dengan tembusan pada ka.sie keperawatan dan ka. keuangan dan
program.
23. Pemeriksaan laboratorium ICU terpusat di laboratorium dan bisa dilakukan 24 jam
on site.

Bila ada pemeriksaan laborat, maka petugas ICU memberitau ke petugas


Laborat tentang pemeriksaan yang diminta.

Petugas ICU membuatkan surat permintaan pemeriksaan laborat pada lembar


pemeriksaan laborat, sesuai dengan permintaan dokter.

Petugas laborat datang ke ICU untuk melakukan pengambilan sampel darah


untuk pemeriksaan laborat sesuai dengan surat permintaan tersebut.

Petugas laborat menuliskan rekening pemeriksaan pada lembar rekening


pasien.

Bila hasil pemeriksaan sudah ada, maka petugas laborat mengantarkan hasilnya
ke ICU.

Bila ada pemeriksaan radiologi maka petugas ICU memberitaukan ke petugas


radiologi tentang pemeriksaan radiologi yang diminta.

Khusus untuk Thorax foto, petugas radiologi datang ke ICU kemudian


melakukan pemeriksaan thorax foto (alatnya bisa mobile)

Petugas radiologi menuliskan di rekening pasien tentang pemeriksaan yang


dilakukan.

Untuk pemeriksaan selain Thorax foto, dilakukan di radiologi karena alatnya


tidak mobile

Bila pemeriksaan dilakukan di radiologi, maka petugas ICU mengantarkan


pasien ke radiologi untuk dilakukan pemeriksaan

Bila hasil pemeriksaan sudah ada, maka petugas radiologi mengantar hasilnya
ke ICU.

Petugas ICU harus memakai skort , alas kaki dan masker khusus ruang ICU.

Petugas harus mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

Untuk tindakan-tindakan tertentu petugas harus memakai sarung tangan steril.

Perlindungan dari penyakit menular bagi petugas ICU dilakukan sesuai prosedur.

Tersedianya APAR di ruang ICU

Karena sebagian besar alat ICU menggunakan listrik, maka dilakukan


pemeliharaan rutin untuk mencegah terjadinya lonjatan listrik baik ke petugas
maupun ke pasien.

24. Pemeriksaan Radiologi terpusat di radiologi dan bisa dilakukan 24 jam on site.
25. Pelaksanaan keselamatan kerja, kebakaran dan kewaspadaan bencana (K3) :
II. PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL ICU :
1. Lingkungan ICU
1. Pintu ruang ICU (luar dan dalam) harus selalu dalam keadaan tertutup
2. Pemasangan alas lantai didepan pintu dalam ICU harus tetap terpasang
dan dalam kondisi basah dengan larutan desinfektan.
3. Pengaturan batas tegas antara daerah semi steril dan non steril sesuai
prosedur.
4. Melakukan pembersihan rutin ruang ICU dan peralatan ICU sesuai jadwal
yang telah ditentukan.
5. Melakukan sterilisasi ruangan (UV) setelah pembersihan ruangan sesuai
prosedur.
6. Penanganan sampah pembuangan BAB dan BAK pasien sesuai dengan
prosedur.
7. Petugas ICU (dokter dan perawat).
1. Petugas ICU harus memakai skort dan alas kaki khusus ruang ICU.
2. Petugas harus mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
tindakan.
3. Pemakaian handscoen dalam melakukan tindakan perawatan
terhadap pasien.
4. Penggunaan softa-man bagi petugas setiap selesai kontak dengan
pasien.

5. Untuk Pasien ICU


1. Pasien harus ganti baju, celana khusus ruang ICU.
2. Penggantian alat tenun pasien dilakukan setiap shift jaga
atau bila kotor.
3. Pembersihan tempat tidur dan alat-alat yang dipakai pasien
setelah pasien keluar, dengan menggunakan cairan
desinfektan.
4. Untuk pengunjung pasien ICU / keluarga pasien
1. Pengunjung bila masuk ruang ICU harus memakai
baju (skort) pengunjung dan alas kaki khusus ruang
ICU.
2. Sebelum dan sesudah berkunjung ke pasien,
pengunjung cuci tangan terlebih dahulu atau
membasahi tangan dengan menggunakan softa-man.
3. Pengunjung hanya bisa masuk pada saat jam
berkunjung (1 orang)
5. Mengenai Peralatan Ruang ICU
1. Peralatan yang berupa set instrumen, alat kesehatan disposible harus dalam
keadaan steril.
2. Resterilisasi alat ICU dilakukan setiap 3 x 24 jam sekali.
3. Instrumen, alat alat suction, sirkuit ventilator bila aelesai dipakai pada pasien
direndam dengan cairan desinfektan baru kemudian disterilkan di ruang
sterilisasi.
4. Setiap pasien yang memerlukan suction harus mempunyai slang suction sendirisendiri dan diganti dalam waktu 1 x 24 jam.
5. Penggunaan kom untuk suction diganti dalam waktu 1 x 24 jam dan tiap-tiap
pasien sendiri-sendiri
III. FASILITAS DAN PERALATAN
1. Tersedia peralatan meliputi :

Tempat tidur khusus yang bisa dirubah posisinya sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan pasien.

Alat pengukur tekanan darah monitor

Pulse oxymetri dewasa, anak, dan bayi

ECG 12 lead

Alat pengukur tekanan Vena Central

Alat Pengukur suhu tubuh pasien.

Alat penghisap (suction) tidak sentral tetapi tekanannya bisa diatur


berdasarkan kebutuhan.

Alat ventilasi manual dewasa, anak dan bayi dan alat penunjang jalan nafas.

Peralatan akses vaskuler

Ventilator

Oksigen sentral

Lampu untuk melakukan tindakan

Defibrilator Biphasic

Peralatan drain thoraks

Troley emergency yang berisi alat dan obat obat untuk emergency

Infus pump dan syringe pump

Peralatan portable untuk transportasi pasien

Hemodialisa

Semua peralatan diatas dapat berfungsi dengan baik disertai adanya program
kalibrasi dan pemeliharaan masing-masing alat

Penggunaan alat dicatat dalam buku pemakaian peralatan dan masing masing
alat ada buku pemakaiannya sendiri-sendiri

SOP penggunaan Alat alat sudah terpasang pada masing masing alat
tersebut.

Pemeliharaan Peralatan dilakukan setiap selesai dipergunakan, dan


pemeliharaan rutin satu kali seminggu, kemudian dicatat dalam lembar
pemeliharaan alat. Masing masing alat punya catatan pemeliharaan sendiri.

Program Perencanaan peralatan dilakukan pada awal tahun dan apabila ada hal
hal yang insidentil dan mendesak bisa dilaksanakan pada saat itu.

Peremajaan peralatan dilakukan bekerjasama dengan IPS RS dan Pihak Suplier


alat tersebut.

IV. KEPALA ICU


Kepala ICU adalah seorang dokter spesialis Anesthesi.
V.

TENAGA PERAWATAN ICU

1. Tenaga perawatan ICU adalah tenaga perawat terlatih dengan pendidikan


minimal lulus BLS dan ECG dasar.
2. Bila ICU dalam keadaan kosong, maka petugas ICU sebagian membantu keruang
rawat inap lainnya yang lebih banyak membutuhkan tenaga, sebagian
mengerjakan administrasi dan melakukan perawatan alat alat.
VI. TATA CARA PENILAIAN PEGAWAI

1. Penilaian Pegawai dilakukan rutin dan teratur tiap tahun, disertai adanya
rekomendasi dan tindak lanjut.
2. Yang menentukan jadwal / waktu untuk penilaian masing-masing pegawai
adalah dari bagian personalia.
3. Format penilaian pegawai dari personalia.
4. Yang melakukan penilaian adalah Kepala Pelayanan Keperawatan ICU dengan
mengetahui Ka.sie Keperawatan.
5. Dokumen hasil penilaian tersebut disimpan terpusat di personalia.
6. Untuk pegawai (Perawat) baru dan yang masih orientasi, selain penilaian rutin
tahunan, juga dilakukan penilaian 3 bulanan dalam bentuk cek list pelaksanaan
instrumen C.
7. Dokumen hasil dari penilaian instrumen C, disimpan di ICU dan rekapan
hasilnya dilaporkan pada Ka.sie Keperawatan.
VII. PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN
Pelaksanaan program pengembangan tenaga dilakukan oleh kepala ICU dan Kepala
Pelayanan Keperawatan ICU beserta Diklat Rumah Sakit sesuai dengan kebutuhan dan
pengajuan program pengembangan tenaga.
VIII. KERJASAMA DENGAN UNIT PELAYANAN RUJUKAN
1. ICU melakukan rujukan ke Rumah Sakit yang mempunyai tingkat pelayanan
yang lebih tinggi kemampuannya.
2. Hubungan kerjasama dengan Rumah Sakit tersebut diatur dalam MOU antar
rumah sakit rujukan.
3. Pasien rujuk / pindah rumah sakit berdasarkan :
1. Saran dokter yang merawat dengan pertimbangan akan mendapatkan
terapi lebih lanjut dan terapi serta alat yang lebih tinggi tingkat
kemampuannya.
2. Permintaan dari keluarga pasien tersebut.
3. ICU RS menerima rujukan dari Rumah sakit atau klinik yang tingkat
pelayanannya lebih rendah.
4. Kriteria pasien rujukan yang masuk ICU sesuai dengan kebijakan pasien
masuk ICU.

Manajemen ICU
Jumat, 05 Oktober 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Sebagaimana yang kitaketahuibahwaIntensive Care Unit (ICU) merupakan ruang
perawatan dengan tingkat resiko kematian pasien yang tinggi. Tindakan keperawatan
yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan pasien. Pengambilan
keputusan yang cepat ditunjang data yang merupakan hasil observasi dan monitoring
yang kontinu oleh perawat. Tingkat kesibukan dan standar perawatan yang tinggi
membutuhkan manajemen ICU dan peralatan teknologi tinggi yang menunjang.
Secaraumum, Manajemen itumemiliki ciri-ciri : adanya tujuan yang ingin
dicapai, adanya sumber daya, upaya penggerakan sumber daya, adanya orang yang
menggerakan sumber daya (manajer), adanya prosesperencanaan pengorganisasian
penggerakan pelaksanaan pengarahan dan pengendalian. Begitu pun manajemen
yang
ada
di
rumahsakitterutama
di
ruang
ICU,
kitasebagaiseorangperawatjugaharusbetul-betulmemahamisepertiapatugastugasdantanggungjawabmasing-masingpelaksanakesehatan,
mengetahuisepertiapalayaknyaruang ICU danmasihbanyaklainnya.
Atasdasarhaltersebutmaka kami mengangkatjudul ManajemenRuang Intensive
Care Unit (ICU).

B.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkanlatarbelakangdiatas ,makarumusanmasalahnyaadalah :
1.
Bagaimanamanajemenrumahsakitkhususnya di ruang intensive care unit (ICU) ?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapuntujuanpenulisandarimakalahiniadalahsebagaisalahsatutugasmatakuliahm
anajemenkesehatandanuntukmengetahuisertamemahamimanajemenrumahsakitkhusus
nya di ruang intensive care unit (ICU).
D. MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat yang ingin kami capai dalampenulisanmakalahiniadalah untuk
memberikan informasi kepada para pembacamengenaisepertiapamanajemen di ruang
ICU.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.

DEFINISIMANAJEMEN SECARA UMUM


Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan
dan pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber dayasumber daya organisasi lainnya agar rnencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan.
Dari defenisi di atas terlihat bahwa Stoner telah menggunakan kata "proses",
bukan "seni". Mengartikan manajemen sebagai "seni" mengandung arti bahwa hal itu
adalah kemampuan atau keterampilan pribadi. Sedangkan suatu "proses" adalah cara
sistematis untuk melakukan pekerjaan. Manajemen didefenisikan sebagai proses
karena semua manajer tanpa harus rnemperhatikan kecakapan atau ketrampilan
khusus, harus melaksanakan kegiatan-kegiatan yang saling berkaitan dalam
pencapaian tujuan yang diinginkan.
Begitupun proses yang terjadi di rumah sakit .Rumahsakitadalah salah satu
subsistem pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan dua jenis pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan dua jenis pelayanan untuk masyarakat yaitu
pelayanan kesehatan dan pelayanan administrasi, olehnya itu diperlukan suatu
manajemen
yang
dapat
menunjang
pelaksanaan
pemberian
pelayanan
tersebut.Tidakhanyamencakupmanajemenrumahsakitsecaraumum,namunsetiapbagian

darirumahsakititupunjugamemiliki structural dan proses manajemen yang berbedabeda.


Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa pada dasarnya manajemen
merupakan kerjasama dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan
dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengawasan
(controlling).
B.
DEFINISI MANAJEMEN ICU
Perawatan intensif care unit merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini
sangat perlu untuk di kembangkan di Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan
bagi pasien dengan penyakit berat yang potensial reversibel, memberikan asuhan
pada pasien yang memerlukan observasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang
tidak dapat diberikan diruang perawatan umum memberikan pelayanan kesehatan
bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru mengurangi
kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan penyakit
kritis (Adam & Osbone, 1997).
C. TUJUAN PELAYANAN ICU
Adapuntujuanpelayanan yang dilakukan di ruang intensive care unit antara lain
sebagaiberikut :
a.
Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya kematian atau cacat.
b.
Mencegah terjadinya penyulit
c.
Menerima rujukan dari level yang lebih rendah & melakukan rujukan ke level yang
lebih tinggi
d.
Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien
e.
Mengurangi angka kematian pasien kritis dan mempercepat proses penyembuhan
pasien
D. JENIS-JENIS ICU
Menurut fungsinya intensive care unit (ICU) dibagi menjadi beberapa unsur
yaitu :
a.
ICU Khusus
Dimana pasien dirawat denganpayah dan akut dari satu jenis penyakit. Adapun
contohnyayaitu :
1)
ICCU (Intensive Coronary Care Unit) yaituruanguntuk pasien yang dirawat dengan
gangguan pembuluh darah Coroner.
2)
Respiratory Unit yaituruanguntuk pasien yang dirawat dengan mengalami gangguan
pernafasan.
3)
Renal Unit yaituruanguntukpasien yag dirawat dengangangguangagal ginjal.
b.
ICU Umum
Dimana pasien dirawatdengan sakit payah akut di semua bagian RS. Menurut
umur, ICU anak & neonatus dipisahkan dengan ICU dewasa.
E.
SYARAT - SYARAT RUANG ICU
1. Letaknya di sentral RS dan dekat dengan kamar bedah serta kamar pulih sadar
( Recovery Room)
2. Suhu ruangan diusahakan 22-25oC, nyaman , energi tidak banyak keluar.
3. Ruangan tertutup & tidak terkontaminasi dari luar
4. Merupakan ruangan aseptic & ruangan antiseptic dengan dibatasi kaca- kaca.
5. Kapasitas tempat tidur dilengkapi alat-alat khusus
6. Tempat tidur harus yang beroda dan dapat diubah dengan segala posisi.
7. Petugas maupun pengunjung memakai pakaian khusus bila memasuki ruangan isolasi.
8.
Tempat dokter & perawat harus sedemikian rupa sehingga mudah untuk
mengobservasi pasien
F.
INDIKASI MASUK ICU
a.
Prioritas 1
Penyakit atau gangguan akut pada organ vital yang memerlukan terapi intensif dan
agresifsepertiGangguan atau gagal nafas akut , Gangguan atau gagal sirkulasi,
Gangguan atau gagal susunan syaraf , Gangguan atau gagal ginjal .
b.
Prioritas 2
Pemantauan atau observasi intensif secara ekslusif atas keadaan-keadaan yang dapat
menimbulkan ancaman gangguan pada sistem organ vital MisalnyaObservasi intensif
pasca bedah operasi : post trepanasi, post open heart, post laparatomy dengan

komplikasi,Observasi intensif pasca henti jantung dalam keadaan stabil , danObservasi


pada pasca bedah dengan penyakit jantung.
c.

Prioritas 3
Pasien dalam keadaan sakit kritis dan tidak stabil yang mempunyai harapan kecil
untuk penyembuhan (prognosa jelek). Pasien kelompok ini mugkin memerlukan terapi
intensif untuk mengatasi penyakit akutnya, tetapi tidak dilakukan tindakan invasife
Intubasi atau Resusitasi Kardio Pulmoner. NB : Pasien prioritas 1 harus didahulukan
dari pada prioritas 2 dan 3.
G. INDIKASI KELUAR ICU
Adapunindikasikeluar ICU antara lain sebagaiberikut :
a.

Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan cukup stabil.

b.

Terapi dan perawatan intensif tidak memberi hasil pada pasien.

c.

Dan pada saat itu pasien tidak menggunakan ventilator.

d.

Pasien mengalami mati batang otak.

e.

Pasien mengalami stadium akhir (ARDS stadium akhir)

f.

Pasien/keluarga menolak dirawat lebih lanjut di ICU (pulangpaksa)

g.

Pasien/keluarga memerlukan terapi yang lebih gawat mau masuk ICU dan tempat
penuh.

BAB III
STRUKTURAL MANAJEMEN ICU
Intensive care unit (ICU) adalah suatu kesatuan perawatan dan aktivitas medis
yang beroperasi mandiri dalam suatu rumah sakit dan didalamnya fasilitas sumber
daya manusia, keterampilan profesional, piranti teknis dan ruang yang memadai.
Bagian ini di gunakan untuk merawat pasien gawat akibat pembedahan, trauma dan
penyakit kritis, yang dengan terapi intensif dan terapi penunjang fungsi vital
kehidupan (life support) dapat harapkan sembuh dan menjalanui hidup normal
kembali.

1.

Kepala ICU
Tanggung jawab penatalaksanaan medis dan administrasi dibebankan pada
seorang dokter yang bekerja full time atau minimal 50 % waktu kerjanya
dicurahkan untuk memberikan pelayanan intensif dan secara fisik dapat dihubungi dan
tidak terikat kewajiban lain yang menyita waktu dan kedudukannya sebagai kepala
ICU . Kepala ICU hanya memiliki tanggung jawab medis dan administratif untuk bagian
yang dibawahinya, dan posisi ini sebaiknya tidak dirangkap dengan tanggung jawab
sebagai atasan di bagian atau fasilitas lain di rumah sakit tersebut. Kepala ICU
bertanggungjawab atas pelayanan yang dilakukan bersama profesi terkait baik yang
menjadi penanggungjawab pasien sebelum dirujuk ke ICU maupun bersama profesi
yang memberi konsultasi dan atau yang ikut melakukan perawatan/terapi. Kepala ICU
sebaiknya seorang yang telah mendalami spesialisasi anestesiologi, ilmu penyakit
dalam, bedah ,ilmu kesehatan anak atau bagian lain dan pernah menjalani pelatihan
dan pendidikan formal di bidang kedokteran perawatan intensif.
2.
Staf medis
Kepala ICU dibantu oleh dokter yang ahli di bidang perawatan intensif.
Jumlahnya dihitung menurut jumlah tempat tidur di bagian itu, jumlah pergantian

kerja tiap hari , jumlah hari kerja per minggu dan sebagai fungsi dari beban kerja
klinis, riset dan pendidikan. Untuk menjamin kelangsungan kerja, ICU dianjurkan
setidaknya mempekerjakan 4 orang dokter yang ahli di bidang perawatan intensif tiap
6 - 8 tempat tidur.
Staf medis bertugas melaksanakan dan mengkoordinir rencana perawatan/terapi
bersama dokter yang memasukkan pasien dan konsultan lain, serta menampung dan
menyimpulkan opini yang berbeda dari konsultan-konsultan tersebut sehingga
tercapai pelayanan dan pendekatan yang terkoordinir pada pasien dan keluarga.
Untuk tujuan tersebut mereka perlu mengatur visite harian untuk memberitahukan
rencana terapi dan perawatan. Pada acara ini semua staf sebaiknya dilibatkan. Dokter
pemilik/perujuk pasien sebaiknya datang setiap hari untuk mengetahui hasil diskusi,
saran-saran dan perkembangannya. Anggota staf medis ICU bertanggungjawab atas
perawatan medis dan administratif pasien yang dirawat di unit tersebut. Mereka
merumuskan kriteria masuk dan keluar serta bertanggungjawab atas protokol
diagnostik dan terapi guna standarisasi perawatan di bagian tersebut.
v Setiap dokter dan perawat yang bekerja di ICU wajib
1)
Memperdalam pengetahuannya dengan mengikuti perkembangan ilmu dari
kepustakaan, seminar, lokakarya dsb.
2)
Secara berkala mengikuti pendidikan kedokteran berkelanjutan/pendidikan
keperawatan dalam bidang intensive care.
3.
Bagian staf keperawatan
Untukstafkeperawatandalamruang ICU terdiriatas :
a.
Kepala Perawat
Kepala perawat ICU adalah Perawat anestesi (D III atau sederajat) atau perawat yang
telah mendapat pelatihan dan pendidikan di bidang perawatan atau terapi intensif
sekurang-kurangnya 6 bulan atau perawat yang telah membantu pelayanan di ICU
minimal 1 tahun. Dalam menjalankan tugasnya kepala perawat dibantu oleh seorang
wakil kepala perawat yang sewaktu-waktu bisa menggantikannya.
Kepala perawat harus mampu menjaga kelangsungan pendidikan bagi staf perawat.
Kepala perawat dan wakilnya sebaiknya tidak dilibatkan dalam aktivitas keperawatan
rutin.
b.
Staf Perawat
Perawat ruang intensif adalah perawat yang telah mendapat pelatihan dan
pendidikan di bidang perawatan atau terapi intensif sekurang-kurangnya 6 bulan atau
perawat yang telah bekerja pada pelayanan di ICU minimal 1 tahun. Setiap perawat
yang bertugas di ICU harus memiliki kualifikasi tertentu, memahami fungsi ICU ,tata
kerja dan peralatan yang digunakan untuk menjaga mutu pelayanan, mencegah
timbulnya penyulit dan mencegah kerusakan pada alat-alat canggih/mahal.
Jumlah perawat yang dibutuhkan adalah (rasio jumlah perawat terhadap pasien)
adalahIdeal = 1:1 , Optimal = 1:2, Minimal = 1:3.
Pelayanan perawatan dilaksanakan 24 jam terus-menerus dan pengaturan tenaganya
dibagi dalam 3 shift jaga. Pada setiap shift ditunjuk perawat penanggungjawab dan
dilakukan serah terima pasien. Untuk setiap penderita sebaiknya ditunjuk seorang
perawat yang bertanggungjawab mengenai perawatan, penyediaan alat-alat medik
dan obat-obatan. Perawat yang sedang menjalani pelatihan bidang perawatan
intensif dan keperawatan gawat darurat harus dilatih dan di bawah pengawasan staf
perawat terlatih. Mereka tidak dapat penuh menggantikan staf perawat reguler.
4.
Ahli Fisioterapi
Untuk setiap 12 tempat tidur harus tersedia seorang ahli fisioterapi yang bekerja 7
hari dalam seminggu.
5.
Ahli Radiologi
Ahli radiologi sebaiknya dapat dihubungi setiap waktu dalam 24 jam. Interpretasi hasil
pemeriksaan oleh radiolog harus tersedia setiap waktu.
6.
Ahli Gizi
Harus dapat dihubungi setiap waktu selama jam kerja normal.
7.
Tenaga analis obat
ICU sebaiknya mempunyai seorang analis yang tugasnya memeriksa pengadaan obat.
8.
Ahli Teknik
Perawatan kalibrasi dan perbaikan peralatan teknis di bagian ini perlu ditangani
dengan cermat.oleh seorang ahli tehnik, yang tersedia 24 jam.
9.
Tenaga Administrasi

Untuk setiap 6 tempat tidur sebaiknya disediakan seorang tenaga administrasi yang
mengurusi administrasi pasien, dokumen medis,laboratorium dan lain-lain.
10. Tenaga Kebersihan
Di ICU sebaiknya tersedia grup bagian kebersihan yang khusus. Mereka perlu
mengetahui protokol pencegahan infeksi dan bahaya dari peralatan medis.

BAB IV
PEMBAHASAN
A.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

STANDAR KUALIFIKASI INTENSIVE CARE UNIT


Ruangan ICU merupakan suatu unit di RS yang dibandingkan dengan ruagan lain,
banyak perbedaan ,tingkat pelayanannya. Tingkat pelayanan ini ditentukan oleh
jumlah staf,fasilitas,pelayanan penunjang,jumlah dan macam pasien yang dirawat,
untuk itu harus ditunjang oleh tenaga yang memenuhi kualifikasi standart ICU.
Pelayanan ICU harus memiliki kemampuan minimal sebagai berikut :
Resusitasi jantung paru
Pengelolaan jalan nafas termasuk intubasi trakeal dan penggunaan ventilator
sederhana
Terapi oksigenasi
Pemamtauan EKG ,pulse oximetri terus menerus
Pemberian nutrisi enteral dan panenteral
Pelaksanaan terapi secara titrasi
Kemampuan melaksanakan teknik khusus sesuai kondisi pasien
Memberikan tunjangan fungsi vital dengan alat alat portabel selama transportasi
pasien gawat
Kemampuan melakukan fisioterapi dada

B.
1.

SARANA DAN PRASARANA


Lokasi
Dianjurkan satu komplek dengan kamar bedah dan kamar pulih sadar dan berdekatan
atau mempunyai akses yang mudah ke unit gawat darurat,laboratorium dan radiologi.
2.
Desain
Standart ICU yang memadai ditentukan desain yang baik dan pengaturan ruang yang
adekuat.Adapunbangunan ICU Sebaiknyaterisolasidan mempunyai standart tertentu
terhadapBahaya Api, Ventilasi, AC, Pipa air, Komunikasi, Bakteorologis, Exhausts fan,
Kabel monitor, dan Lantai mudah dibersihkan ,keras dan rata.
3.
Area pasien
a)

Unit terbuka 12-16 M2/pertempat tidur

b)

Unit tertutup 16 20 m2 pertempat tidur

c)

Jarak antara TT : 2 m

d)

Unit terbuka mempunyai 1 tempat cuci tangan, setiap 2 TT

e)

Unit tertutup 1 ruangan terdiri 1 tempat tidur dan 1 tempat cuci tangan.

f)

Harus ada sejumlah outlet yang cukup sesuai dengan level ICU

g)

Pencahayaan cukup dan adekuat untuk observasi khusus dengan lampu TL 10 watt /
m . Jendela dan akses tempat tidur menjamin kenyamanan pasien dan petugas,
desain dari unit memperhatikan privasi pasien.
2

4.

Area Kerja meliputi :

a)

Ruang yang cukup untuk staf dan menjaga kontak visual perawat dengan pasien.

b)

Ruang yang cukup untuk memonitor pasien peralatan resusitasi dan penyimpanan
obat dan alat (lemari pendingin)

c)

Ruang yang cukup untuk X-Ray mobil dan mempunyai tekanan negatif.

d)

Ruang untuk telpon dan sistem komunikasi lain seperti komputer, koleksi data, alat
untuk penyimpanan alat tulis.

5.

Lingkungan
Mempunyai pendingin / AC yang dapat mengontrol suhu dan kelembaban sesuai
dengan luas ruangan . Suhu 220 250.
Ruang Isolasi
Dilengkapi dengan tempat cuci tangan dan tempat ganti pakaian sendiri.
Ruang Penyimpanan Peralatan dan Barang Bersih.
Untuk penyimpanan monitor, ventilator, pompa infus dan pompa syringe, peralatan
dialisi, alat-alat hisap, linen dan tempat penyimpanan barang dan alat bersih.
Ruang Tempat Pembuangan Alat atau Bahan Kotor.
Ruang untuk membersihkan alat-alat, pemeriksaan urine, pengosongan dan
pembersihan pispot dan botol urine.
Desain untuk menjamin tidak ada kontaminasi

6.
7.
8.
a)
b)
9.

Ruang Perawat
Terdapat ruang terpisah yang dapat digunakan oleh perawat yang bertugas dan kepala
ruangan.
10. Ruang Staf Dokter.
11. Ruang Tunggu Keluarga Pasien.
12. Laboratorium yang terpusat.
C.
PERALATAN YANG HARUS TERSEDIA
1.
Jumlah dan macam peralatan yang ada, sesuai dengan tipe ICU sekunder.
2.
Terdapat prosedur pemeriksaan berkala untuk keamanan alat yaitu ada program
kalibrasi dan pemeliharaan alat , ada buku pemakaian alat serta pemeliharaan alat,
ada protap-protap pemakaian kalibrasi dan pemeliharaan alat-alat.
3.
Untuk di ICU sendiri sekarang terdapat peralatan dasar, yang meliputi :
a)
Ventilator.
b)
Alat ventilasi manual dan alat penunjang jalan nafasseperti :

Alat hisap atau suction.

Peralatan akses vaskuler.

Peralatan monitor unvasif dan non invasif

Defibrilator dan alat pacu jantung

Alat pengatur suhu pasien.

Peralatan drain thorak.

Pompa infus dan pompa syringe

Peralatan portable untuk transportasi.

Tempat tidur khusus

Lampu untuk tindakan.

Ruang Hemodialisa juga tersedia untuk mendukung fungs ICU


4. Monitoring Peralatan.
Hal-hal yang sangat vital sangat ditekankan pada pemantauannya termasuk peralatan
yang digunakan untuk transportasi pasienyaitu :

Mengerti dan tahu tentang tanda bahaya kegagalan pasokan gas


Mengerti trentang kegagalan pasokan oksigen ,maka alat yang secara otomatis
teraktifasi untuk memonitor penurunan tekanan pasokan oksigen yang selalu
terpasang di ventilator
Pemantauan konsentrasi oksigen :Semua petugas diruang ICU diharapkan
mengetahui tentang bahaya kegagalan ventilator atau diskonsentrasi sistem
pernafasan.Pada pengguna ventilator otomatis,harus ada alat yang didapat segera
mendeteksi kegagalan sistem pernafasan atau ventilator secara terus menerus
Volume dan tekanan ventilator terpantau secara akurat dan berkesinambungan.
Harus memantau suhu alat pelembab (humidifier) apabila terjadi peningkatan suhu
udara inspirasi.
Terpasang alat elektro kardiograf pada setiap pasien dan dapat dipantau terus
menerus
Harus tersedia pulse oksimetri pada setiap pasien ICU

Apabila ICU memungkinkan apabila ada indikasi klinis harus tersedia peralatan
untuk mengukur variabel visiologis lain seperti tekanan intra arterial dan tekanan
pulmunalis, curah jantung, tekanan intra karnial, suhu, transmisi neuromuskular,kadar
CO2 respirasi.

BAB V
PENUTUP
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dengan melihat tinjauan teori, dan
pembahasannya maka kami dapat mengemukakan kesimpulan makalah ini sebagai
berikut :
A.

KESIMPULAN
Dari hasil uraian makalah ini dimana penulis telah merangkum tinjauan teoritis
dan tinjauan kasus, serta pembahasan dari keduanya maka dapat diuraikan bahwa
Perawatan intensif merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu
untuk di kembangkan di Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan bagi pasien
dengan penyakit berat yang potensial reversibel, memberikan asuhan pada pasien
yang memerlukan Observasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat
diberikan diruang perawatan umum
Ruangan ICU adalahsuatu unit di RS yang dibandingkan dengan ruagan lain,
banyak perbedaan ,tingkat pelayanannya. Tingkat pelayanan ini ditentukan oleh
jumlah staf,fasilitas,pelayanan penunjang,jumlah dan macam pasien yang dirawat,
untuk itu harus ditunjang oleh tenaga yang memenuhi kualifikasi standart ICU.
B.
SARAN
Adapun saran kami dalampenulisanmakalahiniyaitukami berharap dengan adanya
makalah ini, dapat dipergunakan sebagai mana mestinya sehingga dapat dijadikan
acuan
perawatdalammengaturataumemanagetugastugasnyadalampemberianpelayanankeperawatan di rumahsakitkhusunyapadabagian
intensive care unit (ICU) danjugasebagaiacuandalam peningkatan pendidikan dan
pengetahuan dalam pemberian pelayanan kesehatan demi terciptanya kualitas dan
mutu pelayanan kesehatan yang optimal.

Diposkan oleh Nurhijrani Said di 21.31Tidak ada komentar:


http://blogicumanajemen.blogspot.com/