Anda di halaman 1dari 7

ACARA III

TEKSTUR TANAH
I. ABSTRAK
Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah acara III dengan judul Tekstur Tanah telah dilaksanakan
pada hari Selasa, 6 Mei 2014 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas
Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan
tekstur berbagai jenis tanah dengan metode kualitatif dalam keadaan basah. Prinsip dari metode
ini adalah menentukan fraksi tanah yang dominan dengan menggunakan indera peraba. Contoh
tanah yang digunakan dalam praktikum ini yaitu Alfisol, Entisol, Vertisol, Ultisol, dan Mollisol.
Mula-mula tanah dibasahi dengan akuades dan diremas-remas hingga homogen dan liat. Adonan
tanah tersebut dibuat berbagai bentuk dan dirasakan tingkat kekasarannya. Dari percobaan yang
telah dilakukan, tanah dapat digolongkan ke dalam berbagai kelas tekstur tanah. Hasil percobaan
menunjukkan tekstur tanah Alfisol berupa lempung, Entisol berupa geluh lempung pasiran,
Vertisol berupa lempung, Ultisol berupa lempung debuan, dan Mollisol berupa lempung.
Percobaan ini berguna sebagai bahan acuan dalam menentukan tanaman apa yang cocok di daerah
dengan jenis tekstur tanah tersebut.
Kata kunci : tekstur tanah, fraksi tanah, metode kualitatif

II. PENGANTAR
Dalam tanah terdapat berbagai
jenis sifat fisis dan kimia. Sifat fisis
meliputi banyak hal diantaranya tekstur,
struktur, dan aerasi, sedangkan sifat
kimia meliputi pH tanah, kapasitas
pertukaran ion, kandungan bahan
organik, koloid tanah, dan lainnya.
Tekstur tanah perludipelajari sebab
tanah berpengaruh penting pada
tanaman melalui hubungannya dengan
udara dan air. Tanah mempengaruhi
pertumbuhan
pohon
terutama
keberhasilan pembibitan. Selain itu,
tanah juga berfungsi untuk mengetahui
fraksi yang dokinan dalam proporsi dan
komposisinya antara jenis tanah satu
dengan tanah yang lain yang berbedabeda. Tekstur tanah juga sering
digunakan untuk menduga asal bahan
induk tanah dan proses-proses yang
berlangsung pada suatu bentang alam.
Tekstur tanah ialah perbandingan relatif

(dalam persen) fraksi-fraksi pasir, debu,


dan liat. Tekstur tanah penting kita
ketahui oleh karena komposisi ketiga
fraksi butir-butir tanah tersebut akan
menentukan sifat-sifat fisika, fisikakimia, dan kimia tanah (Bailey, 1984).
Tekstur
tanah
dibedakan
menurut ukuran partikel tanah. Tekstur
tanah ini terdiri dari proporsi pasir,
debu, dan lempung. Pada umumnya
tekstur
sering
digunakan
untuk
menggambarkan bagaimana keadaan
tanah atau cara bertanam. Tekstur tanah
dibedakan oleh beberapa metode. Ada 2
metode
laboratorium
untuk
menganalisis bentuk partikel, yaitu
Bouyoucus atau Ketode hydrometer dan
metode pipet. Definisi yang paling tepat
untuk tanah adalah penggabungan
perbedaan batas ukuran dari diameter
partikel penyusun tanah (Blaitan and
Lombin, 1984).

Semakin
besar
kombinasi
persediaan unsur hara, maka semakin
banyak hasil dan akumulasi bahan
organik dalam tanah bertekstur halus.
Tanah
yang
bertekstur
kasar
menunjukkan struktur tanah yang
kurang mantap dan sangat berpengaruh
terhadap aerasi dan gerakan air tanah
(Budiyanto, 2001).
Tekstur tanah diklasifikasikan
menjadi sejumlah kelas. Ada berbagai
sistem klasifikasi tekstur tanah yang
saling berbeda dalam hal tatanama,
klasifikasi tekstur fraksi tanah dan atau
kriteria kelas tekstur tanah mengenai
interval proporsi nisbi antar fraksi tanah
dalam batasan kelas tekstur. Sistem
yang lebih banyak digunakan adalah
yang disusun USDA berdasarkan sistem
klasifikasi
fraksi
dan
subfraksi
tanahnya. Menurut sistem USDA ada 12
kelas tekstur yang ditetapkan dengan
diagram segitiga sama sisi, yaitu
lempung (clay), lempung debuan (silty
clay), geluh lempungan (silty loam),
geluh pasiran (sandy loam), debu (silty),
pasir geluhan (loam sandy), dan pasir
(sand) (Notohadiprawiro, 1998).
Sifat fisik tanah mempunyai
banyak kemungkinan untuk dapat
digunakan
sesuai
dengan
kemmapuannya
yang
dibebankan
kepadanya. Kemampuan untuk menjadi
keras dan menyangga, kapasitas untuk
melakukan drainase dan menyimpan air,
plastisitas, kemudahan untuk ditembus

akar, aerasi, dan kemampuan menahan


retensi unsur-unsur hara tanaman,
semuanya erat hubungannya dengan
kondisi fisik tanah. Tekstur merupakan
sifat tanah yang lebih permanen dan
terpenting (Foth, 1994).
Keragaman sifat tanah dari suatu
tempat ke tempat lain dalam suatu
bentang lahan merupakan akibat dari
banyak faktor yang berbeda dan saling
berinteraksi satu dengan yang lainnyq.
Topografi dan tipe penutupan lahan
merupakan faktor penentu proses
geokorfik yang terjadi pada gilirannya
mempengaruhi keragaman tanah yang
terbentuk (Darusman dan Abubakar,
1998).
Kepadatan tanah akibat beban
dan tekanan yang bekerja pada tanah
terdiri dari tekanan arah horizontal dan
vertikal. Tekanan arah horizontal
disebabkan oleh kerja implement
(bajak), sedangkan tekanan arah vertikal
disebabkan berat dinamis traktor. Sifat
reaksi tanah terhadap beban ini adalah
memberikan penahanan dengan arah
horizontal dan kemampuan menyangga
beban dinamis traktor ke arah vertikal,
serta kekerasan tanah atau kemampuan
penetrasi. Ketiga bentuk sifat mekanis
ini ditentukan oleh kandungan koloid,
bahan pengikat partikel-partikel tanah,
tekstur, dan struktur tanah (Yunus,
2006).

III. METODOLOGI

Praktikum acara III berjudul


Tekstur
Tanah
dilaksanakan
di
Laboratorium Tanah Umum, Jurusan
Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
pada ahri Selasa 6 April 2014. Bahanbahan yang digunakan adalah tanah
kering berukuran 2 mm dan akuades.
Sedangkan alat-alat yang digunakan
adalah piring, pisau, dan sendok.
Prosedur
kerjanya
adalah
pertama, segenggam tanah diambil dan
disimpan ke dalam piring, diremasremas supaya semua agregatnya
terlepas. Tanah dibasahi sedikit demi
sedikit
sambil
diremas-rema.
Kemudian, tanah dibentuk bola dengan
cara dikepal-kepal. Bila tanah tersebut
tidak dapat dibentuk bola maka tanah
tersebut bertekstur pasir. Bila dapat,
tanah tersebut dibuat pita dengan cara
mendorong secara hati-hati oleh ibu jari

dan alas telunjuk sampai ujung tanah


melampaui ujung jari telunjuk atau
ujungnya patah. Jika tidak dapat, maka
tanah bertekstur pasir geluhan. Bila
dapat, jika panjangnya kurang dari 2,5
cm termasuk kelompok geluhan, jika
panjangnya
2,5-5
cm
termasuk
kelompok geluh lempungan dan jika
lebih dari 5 cm maka tanah tersbeut
termasuk kelompok lempungan.
Kemudian, tanah dibuat bubur
dan digosok-gosokkan dengan jari pada
telapak tangan. Jika terasa kasar, maka
dikategorikan tanah tersebur geluh
pasiran (< 2, 5 cm), geluh lempung
pasiran (2,5-5 cm), dan lempung pasiran
(> 5 cm). Namun jika bertekstur licin,
tanah dikategorikan geluh debuan, debu,
geluh lempung debuan atau lempung
debuan, dan jika bertekstur kasar dan
halus seimbang tanah dikategorikan
geluh, geluh lempungan atau lempung.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Jenis Tanah
Alfisol
Entisol
Vertisol
Ultisol
Mollisol
Pada praktikum acara III yang
berjudul Tekstur Tanah (kualitatif) ini,
praktikan dapat menetapkan tekstur
tanah secara kualitatif dalam keadaan
basah. Tekstur tanah merupakan
proporsi (perbandingan relatif) dari
komposisi fraksi-fraksi penyusun tanah
(fraksi pasir, debu, dan lempung).
Pada percobaan ini digunakan
lima jenis tanah, yaitu entisol, vertisol,
mollisol, alfisol, dan ultisol. Kelima

Tekstur
Lempung
Geluh Lempung Pasiran
Lempung
Lempung Debuan
Lempung
jenis tanah tersebut memiliki tekstur
yang berbeda-beda. Tanah yang
digunakan adalah tanah dengan ukuran
2 mm dibuat adonan dengan
ditambahkan air sedikit demi sedikit
sambil diremas-remas sampai sifat
keliatan (plasticity) muncul. Setiap jenis
tanah mendapat perlakuan yang sama
untuk menentukan teksturnya.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi pembentukan tekstur

tanah yaitu bahan-bahan induk yang


telah mengalami pelapukan berupa
desintegrasi
dan
dekomposisi.
Desintegrasi mengakibatkan perubahan
sifat fisik batuan tanpa perubahan
komposisi
melalui
proses-proses
fluktuasi
pemanasan-pendinginan,
pencairan-pembekuan, pengikisan oleh
angin, erosi dan pelapukan oleh
makhluk
hidup.
Dekomposisi
mengakibatkan perubahan komposisi
atau keteguhan, susunan kimia batuan
melalui serangkaian oksidasi-reduksi,
hidrolisa dan pelarutan. Baik jenis, asal
kejadian, dan macam batuan induk akan
mempengaruhi sifat tanah dalam hal
susunan mineralogy (kandungan unsur
kimia), struktur (pola ikatan), dan
tekstur (kekasaran). Faktor yang
mempengaruhi tekstur tanah yang kedua
yaitu proses genesis pada batuan dan
mineral yang ada di permukaan bumi
dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan
organism yang tumbuh. Batuan dapat
terurai melalui proses pelapukan dan
hasil
dari
pelapukan
tersebut
membentuk mineral sekunder terlebih
dahulu. Sedangkan faktor umur
memberikan peluang terjadinya proses
pembentukan tanah, semakin lama
bahan induk dan tanah muda
bersinggungan dengan lingkungan maka
akan menentukan jenis tanah yang akan
terbentuk dan berkembang.
Berdasarkan percobaan yang
telah dilakukan diperoleh hasil sebagai
berikut, tanah entisol bertekstur geluh
lempung pasiran karena pada saat
praktikum didapati entisol tidak dapat
dibentuk bola dengan cara dikepal.
Ketika dibuat pita dengan cara ditekan
dan didorong dnegan ibu jari dan dialasi

jari telunjuk didapati ukuran pitanya


sebesar 3 cm. Pada entisol diletakkan di
telapak
tangan
dan
ditentukan
teksturnya, karakteristik pasir sangat
mendominasi, dan sedikit tekstur yang
geluh. Menurut (Arifin, 20xx), entisol
lahan pertanian dan hutan mempunyai
kelas tekstur pasir geluhan, hal ini
berbeda dengan hasil percobaan karena
dimungkinkan pada saat pemberian air
pada tanah terlalu sedikit sehingga pita
yang terbentuk menjadi lebih panjang
sebesar 3 cm. Pada tanah mollisol
berdasarkan hasil percobaan didapatkan
bahwa tekstur tanahnya yaitu lempung.
Tanah mollisol dapat dibentuk pasta dan
bola serta ketika dibentuk pilin
permukaan
mollisol
tidak
ada
kerekatan. Ketika mollisol diletakkan di
telapak tangan dan diberi akuades
dirasakan dominan halus licin dan sama
rata. Menurut (Nurcholis, 2003), tanah
mollisol didominasi oleh fraksi debu
dan lempung. Bahan induk yang
terkandung didalam tanah akan sangat
mempengaruhi tekstur tanah. Tanah
percobaan didapatkan hasil bahwa tanah
ultisol memiliki tekstur lempung
debuan
karena
pada
percobaan
membuat pita, panjang pita > 5 cm dan
dirasakan dominan halus licin. Hal ini
sesuai
dengan
teori
menurut
(Hardjowigeno, 1992). Tanah ultisol
mempunyai komposisi dengan liat <
45%, sifat tanah ini remah sampai
gumpal, gembur, dan warna tanahnya
seragam dengan batas, batasan horizon
yang kabur. Tekstur tanah ini memiliki
kadar debu yang lebih banyak daripada
kadar pasirnya, sehingga tanah ini
digolongkan dalam kelas tekstur
lempung debuan. Pada tanah vertisol

berdasarkan hasil percobaan didapati


memiliki tekstur lempung. Menurut
(Hardjowigeno, 1992), tanah vertisol
merupakan tanah dengan kadar liat >
40%
bersifat
mengembang
dan
mengerut. Pada musim kering, tanah
keras dan retak-retak karena mengerut
dan bila basah menjadi lengket karena
mengembang. Komposisi debu dalam
tanah vertisol lebih tinggi daripada
komposisi pasir, sehingga tanah vertisol
termasuk dalam tekstur lempung
debuan. Hal ini berbeda dengan hasil
percobaan, karena pada saat praktikan
merasakan tanah yang diletakkan di
telapak tangan dominan halus licin dan
sama rata sehingga menetapkannya
sebagai tekstur lempung. Tanah alfisol
berdasarkan
percobaan
ditetapkan
sebagai tekstur lempung. Berdasarkan
jurnal penelitian Wirosoedarmo dalam
pendekatan
teori
Fractal
untuk
menentukan kurva retensu air pada
vertisol dan alfisol hasil olah tanah,
disebutkan bahwa tekstur alfisol adalah
debu pasiran.

Adapun manfaatnya di bidang


pertanian setelah kita mempelajari dan
mengetahui struktur tanah yaitu kita
dapat menentukan tanaman apa yang
cocok ditanam pada lahan tersebut.
Tekstur tanah sendiri dapat berpengaruh
terhadap
pertumbuhan
tanaman.
Tanaman yang tumbuh pada tanah yang
bertekstur halus seperti berlempung
tinggi sulit mengembangkan akarnya
karena sulit bagi akar untuk menyebar
akibat rendahnya pori tanah. Akar
tanaman akan mengalami kesulita untuk
menembus struktur tanah sehingga
perakaran tersumbat.
Hubungan antara tekstur dengan
sifat tanah sangat erat kaitannya.
Tekstur tanah akan mempengaruhi sifat
fisik tanah seperti daya dukung tanah,
daya
serap
dan
simpan
air,
permeabilitas, erodibilitas, penetrasi
akar, drainase, kemudahan terolah,
plastisitas, dan kelekatan. Tekstur tanah
merupakan sifat fisik tanah yang tidak
mudah berubah.

V. KESIMPULAN

Tekstur tanah pada lima jenis tanah yang digunakan dalam percobaan berbedabeda.
Pada jenis tanah alfisol, vertisol, dan mollisol memiliki tekstur lempung.
Pada jenis tanah entisol memiliki tekstur geluh lempung pasiran, dan pada tanah
ultisol memiliki tekstur lempung debuan.

VI. PENGHARGAAN
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberkan kesempatan
dna kesehatan kepad akami dalam menyelesaikan laporan ini. Tidak lupa kami ucapkan
terimakasih kepada Bapak Suci Handayani, Ir., MP. Selaku koordinator praktikum
dasar-dasar ilmu tanah ini. Kami juga ucapkan terimakasih kepada seluruh asistenasisten laboratorium terutama kepada kak Danny Utama Putra Tambunan selaku asisten
kelompok kami karena telah membimbing serta membantu dalam pelaksanaan
praktikum di laboratorium, serta memberikan masukan-masukan dan pengetahuan baru
sehingga kami lebih paham dan mengerti dalam praktikum dasar-dasar ilmu tanah ini.
Tidak lupa juga kami ucapkan terimakasih pada teman-teman satu golongan maupun
kelompok yang telah bekerjasama dengan baik saat jalannya praktikum dan pembuatan
laporan ini. Tanpa adanya kerjasama yang baik dan kedisiplinan teman-teman,
praktikum yang berlangsung di laboratorium dan penyelesaian laporan ini tidak akan
berjalan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Z. 2008. Analisis Indeks Kualitas Tanah Entisol pada Penggunaan Lahan yang
Berbeda. <http://fp.unram.ac.id/data/2012/04/21-1_06-Zaenal-Rev-ProfSuwardji.pdf>. Diakses pada 1 Juni 2014.
Bailey, H. 1984. Kuliah Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Ilmu Tanah, Palembang.
Blaitan, S.O. and G. Lambin. 1984. Introduction to Tropical Soil Science. Macmillan
Publishers, Ltd., London and Baringtake.
Budiyanto, G. 2001. Pemanfaatan campuran lempung dan blontong dalam upaya
memperbaiki sifat tanah pasir Pantai Selatan Yogyakarta (Tyipic
Tropopsamment). Jurnal Agronomi UMY IX (1): 1-12.
Darusman dan A.K. Bakar. 1998. Keragaman spasial sifat-sifat fisk tanah Andisol
sebagai fungsi lereng pada 3 tipe penutupan lahan di Aceh Tengah. Agrista 2: 100-101.
Foth, H.D. 1994. Fundamental of Soil Science 10th ed. John Willey and Sons Inc.,
Singapore.
Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Edisi ketiga. PT. Mediyatama Sarana Prakasa,
Jakarta.
Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Wirosoedarmo, S. 2012. Drainase Pertanian. UB Press, Malang.
Yunus, Y. 2006. Perubahan sifat fisika-mekanika akibat lintasan pengolahan tanah
dengan traktor pada lahan miring dan efeknya terhadapa kedelai. Jurnal
Penelitian Pertanian 5: 19-20.