Anda di halaman 1dari 40

Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Tutorial Klinik Gizi, Tumbang & Endokrin

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

GIZI BURUK + PNEUMONI ASPIRASI +


LARINGOMALACIA.

Disusun oleh:
ANDI AMALIA NEFYANTI

1410029033

RITA YULIANA

1410029036

Pembimbing:
dr. Diane M. Supit, Sp. A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2015

Tutorial Klinik

GIZI BURUK + PNEUMONI ASPIRASI +


LARINGOMALACIA.

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian stase Anak


ANDI AMALIA NEFYANTI
RITA YULIANA

Menyetujui,
dr. Diane M. Supit, Sp. A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan yang
berjudul GIZI BURUK + PNEUMONI ASPIRASI + LARINGOMALACIA
Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulisan referat ini tidak lepas
dari bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :
1. dr. Diane M. Supit, Sp. A., sebagai dosen pembimbing klinik selama stase anak.
2. Seluruh pengajar yang telah mengajarkan ilmunya kepada penulis hingga
pendidikan saat ini.
3. Rekan sejawat dokter muda angkatan 2014 yang telah bersedia memberikan
saran dan mengajarkan ilmunya pada penulis.
4. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.
Akhir kata, Tiada gading yang tak retak. Oleh karena itu, penulis
membuka diri untuk berbagai saran dan kritik yang membangun guna
memperbaiki laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semuanya.

Samarinda, 17 April 2015

Penulis

BAB 1
RESUME
Pasien MRS pada tanggal 13 Maret 2015 melalui IGD RSU A.W.
Sjahranie Samarinda rujukan dari RS. Islam. Pasien dirawat di ruang PICU dan
dipindahkan ke ruang melati pada 10 April 2015.
1. Identitas Pasien:
Nama
: An. VY
Umur
: 3 bulan
Jenis kelamin
: Perempuan
Alamat
: Muara ancalong
Tanggal masuk
: 13 Maret 2015
No. RM
: 2015 831789
2. Identitas Ayah Pasien:
Nama
: Bpk. A
Umur
: 41 tahun
Pekerjaan
: Buruh
Pendidikan terakhir : SD
Alamat
: Muara ancalong
3. Identitas Ibu Pasien:
Nama
: Ibu. I
Umur
: 23 tahun
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Pendidikan terakhir : SMP
Alamat
: Muara ancalong
4. Anamnesis:
a. Keluhan Utama
Sesak nafas
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien sesak sejak lahir, namun memburuk sejak 4 hari sebelum masuk
rumah sakit. Sesak muncul terus menerus hingga dada terlihat tertarik ke dalam.
Sesak disertai dengan nafas yang berbunyi mengi. Pasien juga sering tersedak tiap
kali minum susu, walaupun ibu pasien sudah memberikan susu secara pelan dan
selalu menepuk nepuk punggung pasien hingga pasien bersendawa. Pasien
tersedak hingga muntah lewat mulut dan hidung. Muntah berwarna hijau. Ibu

pasien khawatir, dan membawa pasien ke Rumah Sakit Islam. Dirumah sakit
Islam, pasien sempat dirawat 4 hari namun tidak mengalami perbaikan dan
mengalami penurunan berat badan. Dari berat awal 4,4 kg menjadi 3,3 kg. Lalu
pasien dirujuk ke rumah sakit AWS dan dirawat di ruang PICU selama 1 bulan.
Pasien dipindah ke ruang melati setelah pasien stabil. Saat ini pasien masih sesak
dengan nafas yang berbunyi serta mengalami penurunan berat badan.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluhan serupa pada anggota keluarga disangkal.
d. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Post Persalinan
1. Selama hamil ibu pasien sering memeriksakan kehamilan ke bidan 1
bulan sekali. Pernah dilakukan USG sebanyak 1 kali. Hasil USG
menyatakan bayi letak sungsang. Ibu pasien tidak pernah sakit selama
hamil, tidak pernah mengalami keputihan atau perdarahan selama
kehamilan. Ibu pasien hanya mengkonsumsi obat yang didapat dari
bidan. Ibu pasien teratur makan selama hamil 3 kali sehari.
2. Bayi lahir dengan usia kehamilan 12 bulan dengan berat badan 3,5 kg
dan panjang badan 53 cm. Ibu pasien mengaku tidak pernah merasakan
adanya kontraksi pada kehamilan, sehingga pada usia kehamilan 9
bulan, ibu pasien memeriksakan dirinya ke bidan dan bidan menyatakan
belum ada pembukaan. Namun dengan induksi kehamilan pun, bayi
tetap tidak lahir. Pada usia kehamilan 12 bulan, bayi lahir spontan di
bidan. Namun yang keluar hanya kaki pasien. Karena letak bayi
sungsang. Bidan yang menolong, merujuk pasien ke Rumah sakit islam,
lalu dilakukan tindak section saesaria. Ketuban berwarna hijau.
3. Dari pengakuan dokter yang menolong, pasien menelan air ketuban.
Hingga terjadi aspirasi meconium. Sehingga pasien sesak. Setelah itu
pasien dirawat diruang incubator karena sesak selama 2 minggu.
Keadaan pasien membaik dan dibawa pulang oleh orang tua pasien.
selama dirumah berat badan pasien naik dari berat badan lahir 3,5 kg
menjadi 4,1 kg.
4. Pasien tidak pernah mendapatkan imunisasi.
5. Riwayat Makanan & Minuman

ASI

: Pasien tidak pernah minum ASI sejak lahir, karena ASI ibu pasien
tidak keluar. Sehingga, sejak lahir pasien minum susu formula.

Setelah pasien ditegakan menderita gizi buruk, pasien mendapatkan susu


F75 yang dimasukan melalui selang NGT.
6. Pertumbuhan dan perkembangan anak
BB Lahir

: 3500 gr

BB sekarang

: 2600 mg

PB Lahir

: 53 cm

TB sekarang

: 55 cm

Gigi keluar

:-

Berdiri

:-

Tersenyum

:-

Berjalan

:-

Miring

:-

Berbicara 2 suku kata : -

Tengkurap

:-

Masuk TK

:-

Duduk

:-

Masuk SD

:-

Merangkak

:-

Sekarang kelas

:-

7. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
: tampak sakit berat
Kesan
: pasien menangis kuat, lemah, gerak tidak aktif
Tanda-tanda vital
1. Tekanan darah
2. Frekuensi nadi
3. Frekuensi nafas
4. Suhu

:
:
:
:

126 x/menit
64 x/menit
36,7oC

Status Gizi
Berat Badan

: 2600 mg

Tinggi Badan

: 55 cm

BB/PB

: BB ideal untuk anak usia 3 bulan adalah 4,5 kg.


Sedangkan BB pasien adalah 2,6 kg.
z-score <-3 SD = gizi buruk.
6

Lingkar kepala

: 36 cm -2 SD < mean < +2 SD (normal)

Status generalisata
Kepala

Bentuk : Normal, wajah tampakan old man face


Rambut : Hitam, agak tipis, tidak mudah dicabut
Mata
: Cowong (-), pandangan terlihat sayu, konjungtiva
tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, refleks
cahaya (+/+)
Hidung :

Bentuk dan ukuran dalam batas normal,

nafas cuping hidung -|- , sekret (-)


Telinga : Sekret (-), darah (-)
Mulut :
mukosa bibir kering, tidak pucat, sianosis
(-), faring tidak hiperemis, tonsil dalam batas normal
Leher

KGB

: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

Thorax
7

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: gerakan dinding dada simetris, retraksi (+), iga gambang.


: vokal fremitus sama kanan dan kiri
: sonor di semua lapangan paru, batas jantung normal
Auskultasi :
suara nafas vesikuler, wheezing (+/
+), Ronchi (+/+), stridor (+/+) bunyi jantung I & II
normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

Palpasi

bentuk normal, simetris, cekung (+),

scar (-), protruding mass / hernia umbilikalis (-)


: soefl, tidak ada nyeri tekan, hepatomegali

-),

Perkusi

splenomegali (-)
: timpani
8

Auskultasi : bising usus normal

Ekstremitas
Akral hangat (+), pucat (-), edema (-), baggy pants (+), turgor kulit
menurun (+)
Genitalia
Dalam batas normal
1. Diagnosa Kerja Sementara:
Gizi buruk + pneumoni aspirasi + laringomalacia
2. Pemeriksaan Penunjang:
1. Pemeriksaan laboratorium
Lab

Value
6/4/2015

7/4/2015

Normal

Haemoglobin

10,8

19,7

11-16,5 g/dl

Leukosit

13000

13400

4000-10000/

Trombosit

353000

210000

150000-450000/

Hematokrit

45,0

56,0

37,0-54,0 %

Na

137

135-155 mmol/L

4,5

3,6-5,5 mmol/L

Cl

8,8

95-108 mmol/L

Albumin

3,8

3,2-4,5

10 April 2015 (Hari I)


S

11 April 2015 (Hari II)

batuk (+), Sesak (-), muntah (-), Kejang (-), Demam (-), muntah (-),
Demam (+) lemas (+)

susah tidur (-), lemas (+), tiap makan


BAB cair (+)

HR: 128x/menit RR: 59x/menit

HR: 126x/menit RR: 55x/menit

T: 37,10C BB: 3 kg

T: 36,00C BB: 3 kg

Kepala: ane (-/-), ikt (-), sianosis (-), Kepala: ane (-/-), ikt (-), sianosis (-),
napas cuping hidung (-) tonsil dan napas cuping hidung (-) tonsil dan
faring dbn, Thorax: retraksi (+), whe faring dbn, Thorax: retraksi (+), whe
(-), rho (+), s1s2 tunggal reguler

(-), rho (+), s1s2 tunggal reguler

Abdomen:nyeri tekan (-), BU (+)N,

Abdomen:nyeri tekan (-), BU (+)N,

Hepatomegali (-), splenomegali (-)

Hepatomegali (-), splenomegali (-)

Ekstremitas: akral hangat, CRT <2 Ekstremitas: akral hangat, CRT <2
detik
P

detik

1. IVFD KAEN 4A 15 tpm


2. Inj. Cortidex 3x1 mg
3. Nebulasi 2x/hari (ventolin 1
fl

aquadest

cc/

1. IVFD KAEN 4A 15 tpm


2. Inj. Cortidex 3x1 mg
3. Nebulasi 2x/hari (ventolin 1
fl

aquadest

cc/

budesonide 1 fl+ aquadest 4

budesonide 1 fl+ aquadest 4

cc)

cc)

10

4. ASI + PASI 8x45 cc


5. Rehidrasi : RL 27 28 tpm
6. oralit

12 April 2015 (Hari III)


S

4. ASI + PASI 8x45 cc

13 April 2015 (Hari IV)

Kejang (-), Demam (-), muntah (-), Sesak (+), Batuk (-), demam (-)
susah tidur (-), lemas (+), tiap makan
BAB cair (+)

HR: 126x/menit RR: 55x/menit

HR: 130x/menit RR: 56 x/menit

T: 36,00C BB: 3 kg

T: 36,90C BB: 2,8 kg

Kepala: ane (-/-), ikt (-), sianosis (-), Kepala: ane (-/-), ikt (-), sianosis (-),
napas cuping hidung (-) tonsil dan napas cuping hidung (-) tonsil dan faring
faring dbn Thorax: retraksi (+), whe dbn Thorax: retraksi (+), whe (+), rho
(-), rho (+), s1s2 tunggal reguler

(+), s1s2 tunggal Nplenom

Abdomen:nyeri tekan (-), BU (+)N,

Abdomen:nyeri tekan (-), BU (+)N,

Hepatomegali (-), splenomegali (-)

Hepatomegali (-), Nplenomegaly (-)

Ekstremitas: akral hangat, CRT <2 Ekstremitas: akral hangat, CRT <2 detik
detik
P

1. IVFD KAEN 4A 15 tpm


2. Inj. Cortidex 3x1 mg
3. Nebulasi 2x/hari (ventolin 1 fl

1. IVFD KAEN 4A 8 tpm


2. Inj. Cortidex 3x1 mg
3. Nebulasi 2x/hari (ventolin 1 fl +

+ aquadest 4 cc/ budesonide 1

aquadest 4 cc/ budesonide 1 fl+

fl+ aquadest 4 cc)


4. ASI + PASI 8x45 cc

aquadest 4 cc)
4. Nistatin 2 x 0,5 mg
5. Terapi
gizi
sesuai

hasil

perhitungan RDA
Kalori : 180-225 kkal
Protein : 4,5-6,75 g
Cairan : 495 ml

11

12

3. Penatalaksanaan
a. IVFD KAEN 4A 8 tpm
b. Inj. Cortidex 3x1 mg
c. Nebulasi 2x/hari (ventolin 1 fl + aquadest 4 cc/ budesonide 1 fl+ aquadest
4cc
d. Nistatin 2 x 0,5 mg
e. Terapi gizi sesuai hasil perhitungan RDA
Kalori : 180-225 kkal
Protein : 4,5-6,75 g
Cairan : 495 ml

13

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

MARASMUS
Definisi
Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk atau kekurangan kalori
protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis yang sering
ditemui pada balita 2,5,6.
Etiologi
Marasmus disebabkan oleh karena asupan makanan yang kurang terutama
pemasukan kalori, atau protein atau keduanya yang tidak mencukupi akibat
kekurangan dalam susunan makanan, dan kebiasaan makan makanan yang tidak
tepat 3,5.
Marasmus dapat terjadi pada semua umur, akan tetapi sering dijumpai
pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya
atau sering diserang diare. Marasmus dapat terjadi akibat berbagai penyakit
seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan (misalnya penyakit
Hirschprung, deformitas palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosis pilorus,
hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pankreas), kelainan jantung bawaan,
prematuritas, malabsorpsi, gangguan metabolik (misalnya renal asidosis,
idiopathic hypercalcemia, galactosemia, intoleransi laktosa), penyakit ginjal
menahun dan gangguan saraf pusat 3,5.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya marasmus 5:

Faktor diet.
Menurut konsep klasik, diet kurang energi walaupun zat-zat gizi esensialnya
seimbang akan menyebabkan anak menjadi penderita marasmus.

Peranan faktor sosial.


Pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah turuntemurun dapat mempengaruhi terjadinya penyakit KEP.
14

Peranan kepadatan penduduk.


Mc Laren (1982) memperkirakan bahwa marasmus terdapat dalam jumlah
yang banyak akibat suatu daerah terlalu padat penduduknya dengan higiene
yang buruk.

Faktor infeksi.
Terdapat interaksi sinergistis antara infeksi dan malnutrisi. Infeksi berat dapat
memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan dan meningginya
kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Infeksi yang berat dan lama
menyebabkan

marasmus,

terutama

infeksi

enteral

misalnya

infantil

gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital.

Faktor kemiskinan.
Dengan penghasilan yang rendah, ketidakmampuan membeli bahan makanan
ditambah timbulnya banyak penyakit infeksi karena kepadatan tempat tinggal
dapat mempercepat timbulnya KEP.

Patofisiologi
Pada keadaan marasmus terjadi pertumbuhan yang kurang atau terhenti
disertai atrofi otot dan menghilangnya lemak di bawah kulit. Pada mulanya
kelainan demikian merupakan proses fisiologis. Untuk kelangsungan hidup
jaringan diperlukan sejumlah energi yang dalam keadaan normal dapat dipenuhi
dari makanan yang diberikan. Kebutuhan ini tidak terpenuhi pada intake yang
kurang, karena itu untuk pemenuhannya digunakan cadangan protein sebagai
sumber energi. Karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh
sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat
sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya
katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam
amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal 5,6.
Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak saja membantu
memenuhi energi tetapi juga memungkinkan sintesis glukosa dan metabolit
esensial lainnya seperti berbagai asam amino. Karena itu pada marasmus kadangkadang masih ditemukan kadar asam amino yang normal, sehingga hati masih
dapat membentuk albumin 5,6.
15

Gejala Klinis 3,5,6,7

Pertumbuhan berkurang atau terhenti. Pada mulanya, ada kegagalan

menaikkan berat badan sampai berakibat kurus.


Mula-mula bayi mungkin cengeng dan rewel, walaupun telah mendapat
minum atau disusui, sering bangun pada waktu malam, kemudian menjadi

lesu, dan nafsu makan hilang.


Keadaan yang terlihat mencolok adalah hilangnya lemak subkutan, terutama
pada wajah, akibatnya ialah wajah si anak lonjong, berkeriput dan tampak

lebih tua (old man face).


Vena superficialis tampak lebih jelas, ubun-ubun besar cekung, tulang pipi dan

dagu kelihatan menonjol, mata tampak besar dan dalam.


Otot-otot lemah dan atropi, bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan
maka anggota gerak terlihat seperti kulit dengan tulang, dan kulit kehilangan

turgornya sehingga menjadi kerut dan longgar atau keriput.


Tulang rusuk tampak lebih jelas.
Dinding abdomen dapat kembung/membuncit, cekung atau datar, dengan

gambaran usus yang jelas.


Diare atau konstipasi.
Kadang-kadang tampak rambut yang kering, tipis, dan mudah rontok.
Baggy pant

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis serta pengukuran
antropometri. Anak didiagnosis marasmus apabila 3,7:

BB/TB < -3 SD atau <70% dari median


Jika BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur, gunakan tanda klinis berupa anak
tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak mempunyai jaringan
lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu, lengan, pantat dan paha; tulang
iga terlihat jelas, tanpa adanya edema.

Penilaian awal anak gizi buruk


Pada setiap anak gizi buruk lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Anamnesis
terdiri dari anamnesis awal dan anamnesis lanjutan 7.
Anamnesis awal (untuk kedaruratan):
16

Kejadian mata cekung yang baru saja muncul


Lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari bahan muntah dan

diare (encer/darah/lendir)
Kapan terakhir berkemih
Sejak kapan tangan dan kaki teraba dingin.
Bila didapatkan hal tersebut di atas, sangat mungkin anak mengalami
dehidrasi dan/atau syok, serta harus diatasi segera.

Anamnesis lanjutan (untuk mencari penyebab dan rencana tatalaksana


selanjutnya, dilakukan setelah kedaruratan ditangani):

Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit


Riwayat pemberian ASI
Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari terakhir
Hilangnya nafsu makan
Kontak dengan pasien campak atau tuberkulosis paru
Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
Batuk kronik
Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung
Berat badan lahir
Riwayat tumbuh kembang: duduk, berdiri, bicara dan lain-lain
Riwayat imunisasi
Apakah ditimbang setiap bulan
Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak)
Diketahui atau tersangka infeksi HIV

Pemeriksaan fisik

Apakah anak tampak sangat kurus, adakah edema pada kedua punggung kaki.

Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB


Tanda dehidrasi: tampak haus, mata cekung, turgor buruk (hati-hati

menentukan status dehidrasi pada gizi buruk).


Adakah tanda syok (tangan dingin, capillary refill time yang lambat, nadi

lemah dan cepat), kesadaran menurun.


Demam (suhu aksilar 37.5 C) atau hipotermi (suhu aksilar < 35.5 C).
Frekuensi dan tipe pernapasan: pneumonia atau gagal jantung
Sangat pucat
Pembesaran hati dan ikterus
Adakah perut kembung, bising usus melemah/meninggi, tanda asites, atau
adanya suara seperti pukulan pada permukaan air (abdominal splash)

17

Pencegahan

Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi

yang paling baik untuk bayi.


Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi mulai umur 6

bulan keatas.
Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan

dan kebersihan perorangan.


Pemberian imunisasi.
Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu

kerap.
Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat

merupakan usaha pencegahan jangka panjang.


Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang
endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.

Penatalaksanaan
Penanganan umum meliputi 10 langkah dan terbagi dalam 3 fase yaitu:
fase stabilisasi fase transisi, dan fase rehabilitasi 2,7.

Hipoglikemia
Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula darah < 3
mmol/L atau < 54 mg/dl) sehingga setiap anak gizi buruk harus diberi makan atau

18

larutan glukosa/gula pasir 10% segera setelah masuk rumah sakit. Pemberian
makan yang sering sangat penting dilakukan pada anak gizi buruk.
Jika fasilitas setempat tidak memungkinkan untuk memeriksa kadar gula darah,
maka semua anak gizi buruk harus dianggap menderita hipoglikemia dan segera
ditangani sesuai panduan.
Tatalaksana

Segera

beri

F-75

pertama

atau

modifikasinya

bila

penyediaannya

memungkinkan.
Bila F-75 pertama tidak dapat disediakan dengan cepat, berikan 50 ml larutan
glukosa atau gula 10% (1 sendok teh munjung gula dalam 50 ml air) secara

oral atau melalui NGT.


Lanjutkan pemberian F-75 setiap 23 jam, siang dan malam selama minimal

dua hari.
Bila masih mendapat ASI teruskan pemberian ASI di luar jadwal pemberian F-

75.
Jika anak tidak sadar (letargis), berikan larutan glukosa 10% secara intravena
(bolus) sebanyak 5 ml/kg BB, atau larutan glukosa/larutan gula pasir 50 ml

dengan NGT.
Beri antibiotik.

Pemantauan
Jika kadar gula darah awal rendah, ulangi pengukuran kadar gula darah setelah 30
menit.

Jika kadar gula darah di bawah 3 mmol/L (< 54 mg/dl), ulangi pemberian

larutan glukosa atau gula 10%.


Jika suhu rektal < 35.5 C atau bila kesadaran memburuk, mungkin
hipoglikemia disebabkan oleh hipotermia, ulangi pengukuran kadar gula darah
dan tangani sesuai keadaan (hipotermia dan hipoglikemia).

Pencegahan
Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin atau jika perlu,
lakukan rehidrasi lebih dulu. Pemberian makan harus teratur setiap 2-3 jam siang
malam.

19

Hipotermia (suhu aksilar < 35,50 C)


Tatalaksana

Segera beri makan F-75 (jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu).
Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya). Tutup dengan selimut
hangat dan letakkan pemanas (tidak mengarah langsung kepada anak) atau
lampu di dekatnya, atau letakkan anak langsung pada dada atau perut ibunya
(dari kulit ke kulit: metode kanguru). Bila menggunakan lampu listrik,
letakkan lampu pijar 40 W dengan jarak 50 cm dari tubuh anak.
Beri antibiotik sesuai pedoman.

Pemantauan

Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi 36.5 C

atau lebih. Jika digunakan pemanas, ukur suhu tiap setengah jam.
Hentikan pemanasan bila suhu mencapai 36.5 C
Pastikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut, terutama pada

malam hari
Periksa kadar gula darah bila ditemukan hipotermia

Pencegahan

Letakkan tempat tidur di area yang hangat, di bagian bangsal yang bebas angin

dan pastikan anak selalu tertutup pakaian/selimut


Ganti pakaian dan seprai yang basah, jaga agar anak dan tempat tidur tetap

kering
Hindarkan anak dari suasana dingin (misalnya: sewaktu dan setelah mandi,

atau selama pemeriksaan medis)


Biarkan anak tidur dengan dipeluk orang tuanya agar tetap hangat, terutama di

malam hari
Beri makan F-75 atau modifikasinya setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin,

sepanjang hari, siang dan malam.


Jangan menghangati anak dengan air panas dalam botol

Dehidrasi
Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi yang
berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi buruk. Hal ini
disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara tepat pada anak
dengan gizi buruk, hanya dengan menggunakan gejala klinis saja. Anak gizi buruk
20

dengan diare cair, bila gejala dehidrasi tidak jelas, anggap dehidrasi ringan. Tanda
klinis yang sering dijumpai pada anak penderita KEP berat/Gizi buruk dengan
dehidrasi adalah :

Ada riwayat diare sebelumnya


Anak sangat kehausan
Mata cekung
Nadi lemah
Tangan dan kaki teraba dingin
Anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama.

Tatalaksana

Jangan gunakan infus untuk rehidrasi, kecuali pada kasus dehidrasi berat

dengan syok.
Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT, lakukan lebih lambat dibanding
jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik.
- beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama
- setelah 2 jam, berikan ReSoMal 510 ml/kgBB/jam berselang-seling
dengan F-75 dengan jumlah yang sama, setiap jam selama 10 jam.
Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak mau, volume tinja

yang keluar dan apakah anak muntah.


Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam
Jika masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia < 1 th: 50-100 ml
setiap buang air besar, usia 1 th: 100-200 ml setiap buang air besar.

*ReSoMal mengandung 37.5 mmol Na, 40 mmol K, dan 3 mmol Mg per liter.
Pemantauan
Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis setiap setengah
jam selama 2 jam pertama, kemudian tiap jam sampai 10 jam berikutnya.
Waspada terhadap gejala kelebihan cairan, yang sangat berbahaya dan bisa
mengakibatkan gagal jantung dan kematian.
Periksalah:
frekuensi napas
frekuensi nadi
frekuensi miksi dan jumlah produksi urin

21

frekuensi buang air besar dan muntah


Selama proses rehidrasi, frekuensi napas dan nadi akan berkurang dan mulai ada
diuresis. Kembalinya air mata, mulut basah; cekung mata dan fontanel berkurang
serta turgor kulit membaik merupakan tanda membaiknya hidrasi, tetapi anak gizi
buruk seringkali tidak memperlihatkan tanda tersebut walaupun rehidrasi penuh
telah terjadi, sehingga sangat penting untuk memantau berat badan.
Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas meningkat 5x/menit dan
frekuensi nadi 15x/menit), hentikan pemberian cairan/ReSoMal segera dan
lakukan penilaian ulang setelah 1 jam.
Pencegahan

Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama dengan pada
anak dengan gizi baik, kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai pengganti

larutan oralit standar.


Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI
Pemberian F-75 sesegera mungkin
Beri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap buang air besar cair.

Gangguan keseimbangan elektrolit


Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium dan magnesium yang
mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih untuk memperbaikinya.
Tatalaksana

Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan Magnesium, yang


sudah terkandung di dalam larutan Mineral-Mix yang ditambahkan kedalam

F-75, F-100 atau ReSoMal


Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi

Infeksi
Pada gizi buruk, gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti demam, seringkali
tidak ada, padahal infeksi ganda merupakan hal yang sering terjadi. Oleh karena
itu, anggaplah semua anak dengan gizi buruk mengalami infeksi saat mereka

22

datang ke rumah sakit dan segera tangani dengan antibiotik. Hipoglikemia dan
hipotermia merupakan tanda infeksi berat.

Tatalaksana
Berikan pada semua anak dengan gizi buruk:

Antibiotik spektrum luas


Vaksin campak jika anak berumur 6 bulan dan belum pernah
mendapatkannya, atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah diberi
vaksin sebelum berumur 9 bulan. Tunda imunisasi jika anak syok.

Pilihan antibiotik spektrum luas

Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata, beri Kotrimoksazol per

oral (25 mg SMZ + 5 mg TMP/kgBB setiap 12 jam selama 5 hari.


Jika ada komplikasi (hipoglikemia, hipotermia, atau anak terlihat letargis atau
tampak sakit berat), atau jelas ada infeksi, beri:
- Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari), dilanjutkan
dengan Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8 jam selama 5 hari) ATAU,
jika tidak tersedia amoksisilin, beri Ampisilin per oral (50 mg/kgBB setiap
-

6 jam selama 5 hari) sehingga total selama 7 hari, DITAMBAH:


Gentamisin (7.5 mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari selama 7 hari.
Catatan: Jika anak anuria/oliguria, tunda pemberian gentamisin dosis ke2 sampai ada diuresis untuk mencegah efek samping/toksik gentamisin

Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam, tambahkan Kloramfenikol (25
mg/kgBB IM/IV setiap 8 jam) selama 5 hari.

UMUR

KOTRIMOKSASOL

AMOKSISILIN

ATAU

(Trimetoprim + Sulfametoksazol)

Beri 3 kali

BERAT BADAN

Beri 2 kali sehari selama 5 hari

sehari untuk
5 hari

23

Tablet dewasa

Tablet Anak

Sirup/5ml

Sirup

80 mg trimeto

20 mg trimeto

40 mg trimeto

prim + 400 mg

prim + 100 mg prim + 200 mg

125 mg

sulfametok

sulfametok

sulfametok

per 5 ml

sazol

sazol

sazol

(4 - < 6 kg)
4 sampai 12 bulan

2,5 ml

2,5 ml

(6 - < 10 Kg)
12 bln s/d 5 thn

5 ml

5 ml

(10 - < 19 Kg)

7,5 ml

10 ml

2 sampai 4 bulan

Jika diduga meningitis, lakukan pungsi lumbal untuk memastikan dan obati
dengan Kloramfenikol (25 mg/kg setiap 6 jam) selama 10 hari.
Jika ditemukan infeksi spesifik lainnya (seperti pneumonia, tuberkulosis, malaria,
disentri, infeksi kulit atau jaringan lunak), beri antibiotik yang sesuai.
Beri obat antimalaria bila pada apusan darah tepi ditemukan parasit malaria.
Walaupun tuberkulosis merupakan penyakit yang umum terdapat, obat anti
tuberkulosis hanya diberikan bila anak terbukti atau sangat diduga menderita
tuberkulosis.
Pengobatan terhadap parasit cacing
Jika terdapat bukti adanya infestasi cacing, beri mebendazol (100 mg/kgBB)
selama 3 hari atau albendazol (20 mg/kgBB dosis tunggal). Beri mebendazol
setelah 7 hari perawatan, walaupun belum terbukti adanya infestasi cacing.
Pemantauan
Jika terdapat anoreksia setelah pemberian antibiotik di atas, lanjutkan pengobatan
sampai seluruhnya 10 hari penuh. Jika nafsu makan belum membaik, lakukan
penilaian ulang menyeluruh pada anak.
Defisiensi zat gizi mikro

24

Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Meskipun
sering ditemukan anemia, jangan beri zat besi pada fase awal, tetapi tunggu
sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai bertambah berat
badannya (biasanya pada minggu kedua, mulai fase rehabilitasi), karena zat besi
dapat memperparah infeksi.
Tatalaksana
Berikan setiap hari paling sedikit dalam 2 minggu:

Multivitamin
Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)
Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)
Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)
Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase rehabilitasi)
Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1

Jika ada gejala defisiensi vitamin A, atau pernah sakit campak dalam 3 bulan
terakhir, beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada hari ke 1, 2, dan 15.
UMUR
DAN

TABLET BESI/FOLAT

SIRUP BESI

Sulfas ferosus 200 mg + 0,25

Sulfas ferosus 150 ml

mg Asam Folat

BERAT BADAN
6 sampai 12 bulan

Berikan 3 kali sehari

Berikan 3 kali sehari


tablet

2,5 ml (1/2 sendok teh)

tablet

5 ml (1 sendok teh)

(7 - < 10 Kg)
12 bulan sampai 5 tahun

Bila anak diduga menderita kecacingan berikan Pirantel Pamoat dengan


dosis tunggal sebagai berikut :

UMUR ATAU BERAT BADAN

PIRANTEL PAMOAT (125mg/tablet)

25

(DOSIS TUNGGAL)
4 bulan sampai 9 bulan (6-<8 Kg)

tablet

9 bulan sampai 1 tahun (8-<10 Kg)

tablet

1 tahun sampai 3 tahun (10-<14 Kg)

1 tablet

3 Tahun sampai 5 tahun (14-<19 Kg)

1 tablet

Vitamin A oral berikan 1 kali dengan dosis

Umur

Kapsul Vitamin A

Kapsul Vitamin A

200.000 IU

100.000 IU

6 bln sampai 12 bln

1 kapsul

12 bln sampai 5 Thn

1 kapsul

Pemberian makanan awal


Pada fase awal, pemberian makan (formula) harus diberikan secara hati-hati sebab
keadaan fisiologis anak masih rapuh.
Tatalaksana
Sifat utama yang menonjol dari pemberian makan awal adalah:
Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah osmolaritas maupun
rendah laktosa
Berikan secara oral atau melalui NGT, hindari penggunaan parenteral
Energi: 100 kkal/kgBB/hari
Protein: 1-1.5 g/kgBB/hari
Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari)
Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan bahwa jumlah F-75
yang ditentukan harus dipenuhi.

26

Pemberian makan sepanjang malam hari sangat penting agar anak tidak terlalu
lama tanpa pemberian makan (puasa dapat meningkatkan risiko kematian).
Apabila pemberian makanan per oral pada fase awal tidak mencapai kebutuhan
minimal (80 kkal/kgBB/hari), berikan sisanya melalui NGT. Jangan melebihi 100
kkal/kgBB/hari pada fase awal ini.
Pada cuaca yang sangat panas dan anak berkeringat banyak maka anak perlu
mendapat ekstra air/cairan.
Pemantauan
Pantau dan catat setiap hari:
Jumlah makanan yang diberikan dan dihabiskan
Muntah
Frekuensi defekasi dan konsistensi feses
Berat badan.
Tumbuh kejar
Tanda yang menunjukkan bahwa anak telah mencapai fase ini adalah:
Kembalinya nafsu makan
Edema minimal atau hilang.
Tatalaksana

Lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75) ke formula tumbuh-

kejar (F-100) (fase transisi):


Ganti F 75 dengan F 100. Beri F-100 sejumlah yang sama dengan F-75 selama
2 hari berturutan.

27

Selanjutnya naikkan jumlah F-100 sebanyak 10 ml setiap kali pemberian


sampai anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit. Biasanya hal ini

terjadi ketika pemberian formula mencapai 200 ml/kgBB/hari.


Dapat pula digunakan bubur atau makanan pendamping ASI yang
dimodifikasi sehingga kandungan energi dan proteinnya sebanding dengan F100.

Setelah transisi bertahap, beri anak:

pemberian makan yang sering dengan jumlah tidak terbatas (sesuai

kemampuan anak).
energi: 150-220 kkal/kgBB/hari.
protein: 4-6 g/kgBB/hari.

Bila anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI tetapi pastikan anak
sudah mendapat F-100 sesuai kebutuhan karena ASI tidak mengandung cukup
energi untuk menunjang tumbuh-kejar. Makanan-terapeutik-siap-saji (ready to use
therapeutic food = RUTF) yang mengandung energi sebanyak 500 kkal/sachet 92
g dapat digunakan pada fase rehabilitasi.

Pemantauan
Hindari terjadinya gagal jantung. Amati gejala dini gagal jantung (nadi cepat
dan napas cepat). Jika nadi maupun frekuensi napas meningkat (pernapasan naik
5x/menit dan nadi naik 25x/menit), dan kenaikan ini menetap selama 2 kali

28

pemeriksaan dengan jarak 4 jam berturut-turut, maka hal ini merupakan tanda
bahaya (cari penyebabnya).
Lakukan segera:
kurangi volume makanan menjadi 100 ml/kgBB/hari selama 24 jam
kemudian, tingkatkan perlahan-lahan sebagai berikut:
-

115 ml/kgBB/hari selama 24 jam berikutnya


130 ml/kgBB/hari selama 48 jam berikutnya
selanjutnya, tingkatkan setiap kali makan dengan 10 ml sebagaimana

dijelaskan sebelumnya.
atasi penyebab.

Penilaian kemajuan
Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan setelah tahap transisi
dan mendapat F-100:

Timbang dan catat berat badan setiap pagi sebelum diberi makan.
Hitung dan catat kenaikan berat badan setiap 3 hari dalam gram/kgBB/hari;
Jika kenaikan berat badan:
- kurang (< 5 g/kgBB/hari), anak membutuhkan penilaian ulang lengkap.
- sedang (5-10 g/kgBB/hari), periksa apakah target asupan terpenuhi, atau
-

mungkin ada infeksi yang tidak terdeteksi.


baik (> 10 g/kgBB/hari).

Stimulasi sensorik dan dukungan emosional


Pada KEP berat/gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan
perilaku, karenanya berikan :
-

Kasih sayang

Ciptakan lingkungan yang menyenangkan

Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 30 menit/hari

Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh

Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dsb)

29

Prognosis
Malnutrisi yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi, kematian
sering disebabkan oleh karena infeksi; sering tidak dapat dibedakan antara
kematian karena infeksi atau karena malnutrisi sendiri.
Prognosis tergantung dari stadium saat pengobatan mulai dilaksanakan.
Dalam beberapa hal walaupun kelihatannya pengobatan adekuat, bila penyakitnya
progesif kematian tidak dapat dihindari, mungkin disebabkan perubahan yang
irreversibel dari set-sel tubuh akibat under nutrition.
GAGAL TUMBUH
Definisi
Gagal tumbuh bukan merupakan suatu diagnosis tersendiri, tetapi
menggambarkan bahwa seorang anak, yang tidak dapat mencapai potensi
pertumbuhan sesuai usianya. Meskipun sering ditemukan pada usia dibawah 2
tahun, tetapi gagal tumbuh dapat terjadi kapan saja pada masa anak anak.7,8
Ada 3 kriteria umum untuk menentukan gagal tumbuh, dengan
menggunakan kurva pertumbuhan NCHS/CDC-2000 7,8:
a. Anak umur kurang dari 2 tahun, dengan berat badan dibawah persentil
ke-3 sesuai usianya pada lebih dari 1 kali pengukuran.
b. Anak umur kurang dari 2 tahun, dengan berat badan per umur kurang
dari 80%.
c. Anak umur kurang dari 2 tahun, dengan penurunan berat badan
memotong 2 persentil mayor atau lebih pada kurva pertumbuhan.
Ada beberapa hal yang perlu diperatikan sehubungan dengan kriteria
tersebut diatas, antara lain; anak dengan perawakan pendek, bayi kecil masa
kehamilan, dan bayi premature. Selama pertumbuhan anak mengikuti / pararel
garis kurva pertumbuhan normal. Maka tidak dapat sebagai gagal tumbuh.
Etiologi
Gagal tumbuh dapat disebabkan oleh faktor non-organik dan faktor organic.
Faktor non-organik umumnya terjadi akibat faktor lingkungan dan psikososial,

30

dan sering dihubungkan dengan interaksi yang buruk antara ibu dan bayi, baik
selama masa kandungan maupun setelah lahir. Keadaan ini menyebabkan asupan
makanan yang tidak adekuat. Gagal tumbuh akibat faktor organic umumnya
disebabkan oleh masalah medis sebagai berikut7,8 :

kongenital : kelainan kromosom (sindrom down, Russell silver dll)


dysplasia skeletal (akondroplasia)
metabolik
sistem imun : HIV, TBC, Infeksi berulang, ISK
gastrointestinal : kelainan anatomis oral dan esophagus, GERD, stenosis

pylorus
renal : GGK, renal tubular asidosis
kardiopulmonal : gagal jantung, asma, fibrosis kistik
neurologi : serebral palsi
endokrin : hipotiroid, DM tipe 1
lain lain : keganasan, penyakit reumatik.

Diagnosis
Untuk menentukan seorang anak mengalami gagal tumbuh, maka harus dilakukan
pendekatan secara menyeluruh, meliputi 8:

menilai penanganan diet, pemberian makan, atau kebiasan makan, respon

anak terhadap pemberian makanan.


Riwayat kelahiran (berat badan, panjang badan, lingkar kepala saat lahir

dan data riwayat kehamilan ibu)


Data tinggi badan orang tua untuk menilai, tinggi potensi genetic anak
Data pertumbuhan sebelumnya, riwayat perkembangan, gambaran pola
tidur anak, riwayat kesehatan anak untuk mencari apakah terdapat
penyakit kronis, peyakit genetic, alergi atau adanya suatu sindrom dan

gangguan gizi sebagai penyebab gagal tumbuh.


Riwayat pengobatan sebelumnya maupun pengobatan yang sekarng

didapat.
Faktor sosial keluarga, interaksi ibu dan anak, serta lingkungan tempat
anak dibesarkan.

Pemeriksaan fisik yang lengkap ditujukan untuk8

31

1. Mengidentifikasi adanya gambaran dismorfik untuk melihat kemungkinan


adanya kelainan bawaan, kelainan endokrin atau suatu sindrom tertentu.
Hal ini dilakukan dengan mengukur tinggi atau panjang badan, berat
badan, dan lingkar kepala. Pengukuran ini harus dilakukan dua sampai tiga
kali, untuk meningkatkan akurasi hasil pengukuran sebelumnya. Untuk
melihat proposi tubuh, dilakukan dengan inspeksi dan pengukuran rentang
lengan, segmen atas (SA) dan segmen bawah (SB) tubuh, serta rasio
SA/SB. Pada saat lahir, rasio SA/SB sekitar 1,7 dan berkurang menjadi 1,0
pada umur 10 tahun, dan rasio ini menetap hingga dewasa. Bila hasil
pemeriksaan ditemukan disporposi tubuh, maka dipikirkan suatu dysplasia
skeletal. Status pubertas diperiksa dengan menggunakan stadium Tanner.
Disamping itu perlu dicari tanda tanda spesifik suatu syndrome seperti
webbed neck, wide carrying angle (cubitus valgus), low posterior hair line,
high arched palate, short fourth metacarpal, multiple nevi. Perlu dicari
kelainan endokrin yang menyebabkan gagal tumbuh, seperti hipotiroid,
defisiensi hormon pertumbuhan, dan insufisiensi adrenal.
2. Deteksi adakah tanda tanda adakah penyakit kronik atau penyakit
sistemik, seperti :
Penyakit susunan saraf pusat : mikrosefali, sindrom diencafali.
Penyakit jantung : sianosis, jari tabu,
Gangguan gastrointestinal dan penyakit hati seperti colitis ulseratif

dan penyakit crohn.


Gagal ginjal kronik, asidosis tubular renal
Penyakit paru kronik misalnya kistik fibrosis, penyakit jaringan

ikat dermatomiositis.
3. Penilaian kemungkinan adanya tanda tanda kekerasan pada anak.
4. Penilaian adanya tanda tanda malnutrisi.
Pemeriksaan penunjang,
Pemeriksaan laboratorium dibutuhkan untuk menunjang temuan klinis yang
didapat dari anamnesis dan pemeriksaan fisis. Pemeriksaan laboratorium pada
anak gagal tumbuh antara lain 8:

Darah lengkap serta LED


Urinalisis
Analisis feses rutin
32

Tes tuberculin
AGD dan elektrolit serum
Fungsi ginjal
Fungsi hati
Skrining HIV
TSH dan T4 bebas untuk menyingkirkan hipotiroid dan panhipotuitarisme

sebagai penyebab perawakan pendek dan gagal tumbuh.


IGF-1, IGFP-3 dan GH.
Analisa kromosom

Pemeriksaan pencitraan yang diperlukan dalam membantu menetukan etiologi


gagal tumbuh meliputi 8:

Bone age
Bone survey
USG, MRI, echocardiografi (atas indikasi)

Diagnosis banding
a. Gagal tumbuh dengan mikrosefali. Anak dengan mikrosefali dibagi lagi
atas ada tidaknya kelainan neurologis. Anak dnegan mikrosefali tetapi
tidak menunjukan kelainan neurologis, kemungkinan pertumbuhan kepala
terhambat akibat malnutrisi berat. Jika disertai dengan kelaianan
neurologis perlu dicari adanya infeksi TORCH, genetic, serta trauma otak
8

.
b. Gagal tumbuh dengan perawakan pendek tanpa mikrosefali, perlu
dievaluasi apakah perawakan pendek tiu bersifat primer atau terjadi akbat
pertambahan berat badan yang tidak adekuat. Pada anak perawakan
pendek primer perlu dievaluasi kemungkinan adanya sindrom genetic yang
berhubungan dengan perawakan pendek. Demikian juga keadaan
teratogenik dan endokrinologik 8.
c. Gagal tumbuh dengan tinggi badan terhadap umur dan lingkar kepala yang
normal. Evaluasi penyebab sebaiknya dimulai dari menilai apakah nutrisi
yang masuk telah adekuat. Jika nutrisinya belum adekuat, maka dokter
harus menentukan apakah keadaan ini karena kelalaian atau tidak
disengaja. Sering ditemukan anak yang tidak mampu atau tidak ingin
meneruma makanan yang diberikan. Pada kasus ini, anak mempunyai

33

selera makan yang kurang, malas, tidak menghendaki jenis makanan


tertentu atau terdapat disfungsi oromotor (gangguan neurologis untuk
menghisap, menguyah dan menelan). Selera makan yang jelek menjadi
kebiasasn pada anak yang pernah sakit atau kurang gizi. Mereka erbiasa
dengan masukan kalori yang tidak adekuat. Kondisi lain yang perlu
dipertimbangkan pada anak dengan berat badan rendah tetapi tinggi badan
dan lingkar kepalanya normal adalah adanya kehilangan kalori lewat
muntah, malabsorbsi atau keadaan hipermetabolik8.
Tatalaksana
Tatalaksana utama pada gagal tumbuh adalah mengetahui penyebab yang
mendasarinya dan memperbaiki keadaan tersebut. Hal ini membutuhkan
pendekatan bertahap sesuai klinis dan respon pengobatan sehingga diperlukan
kerja sama yang komperhensif antara dokter, perawat, ahli gizi, pekerja sosial dan
ahli rehabilitasi medic. Sebagian besar kasusmembutuhkan intervensi nutrisi dan
modifikasi perilaku yang bermakna. Edukasi keluarga mengenai kebutuhan gizi
dan cara pemberian makan pada anak sangat penting dalam tata laksana anak
dengan gagal tumbuh. Anak yang tidak respon terhadap modifikasi nutrisi dan
perilaku membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Ada dua hal utama yang dibutuhkan
anak dengan gagal tumbuh yaitu kebutuhan akan diet tinggi kalori untuk tumbuh
kejar dan pemantauan minimal satu kali senulam sampai tercapai pertumbuhan
yang normal. Perawatan dirumah sakit jarang dibutuhkan kecuali jika gagal
dengan tata laksana rawat jalan, pada gagal tumbuh yang berat atau gagal tumbuh
yang disertai penyakit berat yang membutuhkan perawatan dirumah sakit 4,5,8.
Gagal tumbuh pada bayi dan anak harus diintervensi sesegera mungkin
terutama jika kurva pertumbuhan berat badan berdasarkan panjang badan <70%.
Malnutrisi yang terjadi pada usia yang lebih dini dapat berakibat buruk pada
perkembangan otak. Setelah diatasi kedaruratanya, prioritas penanganan
selanjutnya adalah observai selama beberapa minggu untuk memonitor asupan,
keluaran, pertumbuhan, pola makan, interaksi dan ciri bayi dan anak. Dahulu
observasi ini dilakukan dirumah sakit, tetapi saat ini akan lebih baik dilakukan
dilingkungannya sendiri sampai penyebab gagal tumbuh dapat diidentifikasi 4,5,8.
34

Terapi ditujukan paa penyebab yang mendasari terjadinya gagal tumbuh


dasar. Terapi substitusi hormon tiroid perlu diberikan jika gagal tumbuh
disebabkan oleh hipotiroid, demikian juga apabila disebabkan karena penyakit
sistemik maka diatasi penyakitnya tersebut. Terapi gagal tumbuh bersifat
multifactorial dan secara umum dibagi menjadi pengobatan jangka panjang dan
jangka pendek, melibatkan ibu dan ligkungan serta tingkah laku, serta mengatasi
komplikasi yang terjadi. Pendekatan tata laksana pada ibu dan lingkungan
memerlukan identifikasi dan modifikasi stressor lingkungan dan perbaikan sistem
perlindungan. Perbaikan interaksi ibu-anak dibutuhkan jika keberhasilan
perawatan di RS dilanjutkan di rumah 4,5,8.
Prognosis
Untuk mencapai pertumbuhan dewasa yang normal, maka prognosis gagal
tumbuh tergantung dari penyebab gagal umbuh itu sendiri. Intervensi dini sangat
penting untuk mengurangi risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang
berkelanjutan atau menetap. Gangguan pertumbuhan dalam 6 bulan pertama
berhubungan dengan gangguan mental dan psikomotor pada tahun kedua. Makin
cepat timbulnya gangguan tumbuh dan makin berat penyakit yang mendasarinya
maka prognosisnya makin yang kurang baik. Gagal tumbuh jangka panjang sering
disertai penyakit kronik yang berat atau malnutrisi sejak dini. Banyak anak,
terutama dinegara berkembang yang menderita malnutrisi ringan atau sedang dan
anak anak cendrung memiliki prognosis yang lebih baik, terutama jika
dilakukan intervensi sejak dini. Terdapat kondisi spesifik mempengaruhi hasil
keluaran intervensi yang dilakukan pada anak dengan gagal tumbuh. Sebagai
contoh, bayi premature atu bayi yang mengalami pertumbuhan janin terhambat
simetris. Perlu diingat bahwa faktor genetic juga sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan seorang anak 8.
Dampak terhambatnya pertumbuhan terhadap perkembangan intelektual
dan tingkah laku tergantung dari penyebabnya. Malnutrisi berat yang lama dan
timbul dari berhubungan dengan gangguan perkembangan sistem saraf cendrung
bersifat permanen. Defisiensi mikronutrien berhubungan dengan gangguan
tingkah laku. Gangguan pertubuhan selama bayi dan anak merupakan faktor risiko
35

potensial untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Prognosisnya baik


jika kebutuhan medis, nutrisi dan psikososial anak dan keluarga tercukupi 8.

36

BAB 3
ANALISA KASUS
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, Pasien by.VY usia 3 bulan
datang bersama orang tuanya ke IGD RSU AWS Samarinda pada 13 Maret 2015
dengan keluhan utama sesak. Pasien sesak sejak lahir, namun memburuk sejak 4
hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak muncul terus menerus hingga dada terlihat
tertarik ke dalam. Sesak disertai dengan nafas yang berbunyi mengi. Pasien juga
sering tersedak tiap kali minum susu, walaupun ibu pasien sudah memberikan
susu secara pelan dan selalu menepuk nepuk punggung pasien hingga pasien
bersendawa. Pasien tersedak hingga muntah lewat mulut dan hidung. Muntah
berwarna hijau. Ibu pasien khawatir, dan membawa pasien ke Rumah Sakit Islam.
Dirumah sakit Islam, pasien sempat dirawat 4 hari namun tidak mengalami
perbaikan dan mengalami penurunan berat badan. Dari berat awal 4,4 kg menjadi
3,3 kg. Lalu pasien dirujuk ke rumah sakit AWS dan dirawat di ruang PICU
selama 1 bulan. Pasien dipindah ke ruang melati setelah pasien stabil. Saat ini
pasien masih sesak dengan nafas yang berbunyi serta mengalami penurunan berat
badan.
TEORI

KASUS
ANAMNESIS

Tertelan

dari

menyebabkan

meconium
aspirasi

dapat

Pasien lahir usia kehamilan 12

meconium

bulan, lahir secara SC dan saat

sehinggga menimbulkan pneumonia

lahir tertelan air ketuban ibu yang

aspirasi.
Ketuban berwarna hijau, menandakan

berwarna hijau.
Sejak lahir pasien sesak disertai

adanya infeksi.
Gejala pneumoni :
Demam, batuk dengan napas cepat,
pernapasan cuping hidung, tarikan

penarikan dinding dada kedalam

dinding dada bagian bawah kedalam


dan merintih (grunting).
Pada keadaan laringomalacia, pasien

dan nafas yang berbunyi.


Saat dirumah, pasien

selalu

muntah tiap kali minum susu.


Muntah berwarna hijau keluar
dari hidung dan mulut.
Bayi mengalami penurunan berat
37

akan gampang tersedak tiap kali


minum.
Pasien

dengan

gizi

buruk

badan.
Bayi tidak minum ASI sejak lahir.

akan

mengalami penurunan berat badan.


Gizi buruk dapat terjadi akibat intake
kurang maupun akibat infeksi yang
lama.
PEMERIKSAAN FISIK
Manifestsi pneumonia adalah :
Status gizi : gizi buruk
Demam, batuk dengan napas cepat Stridor, ronki dan retraksi dinding
ronki, pernapasan cupung hidung, dada.
Tampak old man face, mata terlihat
retraksi, grunting dan sianosis.
sayu, kulit tampak kering dan
Pada pasien didapatkan stridor,
keriput, rambut hitam tipis, tulang
ronki dan retraksi diding dada.
rusuk gambang (tampak lebih jelas),
Akibat laringomalacia pada pasien,
abdomen cekung, tangan dan kaki
muncul stridor.
Manifestasi gizi buruk sesuai terlihat seperti kulit dengan tulang,
dengan

yang

didapatkan

pada terdapat baggy pant dan terdapat

kasus

kelemahan
PEMERIKSAAN PENUNJANG

o Pada

infeksi

pneumonia

dapat o Laboratorium: leukositosis


o Laboratorium lain dalam batas
terjadi peningkatan jumlah leukosit.
o Pada keadaan dimana terjadi
normal.
penurunan jumlah nutrisi dalam
tubuh,

umumnya

juga

terjadi

penurunan jumlah elektrolit, Hb, dll.


DIAGNOSIS
Pneumonia
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Pencitraan

Demam, batuk, sesak nafas.


Retraksi, terdengar ronki dan

wheezing saat pemeriksaan fisik.


Pada foto polos radiologi terdapat
gambaran bronkopneumonia

Laringomalacia
38

Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Penunjang

Gizi buruk
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Penunjang

Anak sering tersedak ketika


makan. Anak muntah tiap kali
minum susu.

Penurunan berat badan

Belum dilakukan

pemeriksaan

penunjang dengan menggunakan


laringoskopi.

Tampak old man face, mata


terlihat sayu, kulit tampak kering
dan keriput, rambut hitam tipis,
tulang rusuk gambang (tampak
lebih jelas), abdomen cekung,
tangan dan kaki terlihat seperti
kulit dengan tulang, terdapat
baggy

pant

dan

terdapat

kelemahan

BB = 2,6 kg. Z-score < -3 SD =


gizi buruk.

PENATALAKSANAAN
Sesuai

dengan

10

langkah

pentalaksanaan gizi buruk menurut


WHO fase stabilisasi

a. IVFD KAEN 4A 8 tpm


b. Inj. Cortidex 3x1 mg
c. Nebulasi 2x/hari (ventolin 1
fl

aquadest

cc/

budesonide 1 fl+ aquadest 4


cc)
d. Nistatin 2 x 0,5 mg
e. Terapi gizi sesuai

hasil

perhitungan RDA
Kalori : 180-225 kkal
Protein : 4,5-6,75 g
Cairan : 495 ml

39

DAFTAR PUSTAKA
1.

IDAI 2011. Buku ajar nutrisi pediatrik dan penyakit metabolik jilid I. Jakarta

2.

Nelson, behrman, & kliegman. 2000. Nelson teks book of pediatric. vol. 1.
Ed 15. alih bahasa A Samik Wahab. Jakarta. EGC.

3.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jilid
I. FKUI. Jakarta.; 360-66.

4.

WHO. 2008. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta.
Depkes RI.

5.

WHO. 2006. Child Growth Standards: Methods and development. Geneva:


World Health Organization.

6.

Rusmil, K. 2006. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi


Dini

7.

Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Departemen


Kesehatan RI

8.

IDAI 2010. Buku Ajar Endokrinologi Anak Jilid I. Jakarta

40