Anda di halaman 1dari 45

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

KLIEN DENGAN FRAKTUR


COLES

Oleh :
Kelompok 10
Nizar Aquita

(130915088)

Eliza Zihni Z

(130915108)

Fika Irianawati

(130915118)

Ayunda Rustalia PN

(131011086)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
1 | Keperawatan Muskuloskeletal

2012

2 | Keperawatan Muskuloskeletal

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb,


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Fraktur Coles dengan lancar dan tepat waktu.
Tak lupa pula kami menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Sriyono,
M.Kep.Ns., Sp.Kep.M.B. selaku fasilitator yang telah berkenan membimbing kami dalam
penyusunan makalah ini, serta teman teman satu kelompok yang telah bekerjasama sehingga
makalah ini dapat terwujud.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca. Makalah ini tentunya masih
jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami menanti kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan makalah kami berikutnya.

Penulis
Surabaya, 6 Juni 2012

3 | Keperawatan Muskuloskeletal

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................

DAFTAR ISI....................................................................................................

ii

Bab I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang..........................................................................

1.2 Rumusan Masalah.....................................................................

1.3 Tujuan ......................................................................................

1.4 Manfaat.....................................................................................

Bab II Tinjauan Pustaka


2.1

Definisi Fraktur Coles...............................................................

2.2

Anatomi Fraktur Coles.............................................................

2.3

Klasifikasi Fraktur Coles..........................................................

2.4

Etiologi Fraktur Coles...............................................................

2.5

Patofisiologi Fraktur Coles.......................................................

2.6

Manifestasi Klinis Fraktur Coles..............................................

2.7

Trauma/ Kelainan yg Berhubungan..........................................

2.8

Pemeriksaan Diagnostik Fraktur Coles....................................

2.9

Penatalaksanaan Fraktur Coles.................................................

11

2.10 Komplikasi Fraktur Coles.........................................................

21

2.11 WOC.........................................................................................

23

Bab III Asuhan Keperawatan


3.1 Contoh Kasus..............................................................................

24

3.2 Pengkajian...................................................................................

24

3.3 Analisa Data................................................................................

29

3.4 Diagnosa.....................................................................................

31

3.5 Intervensi....................................................................................

31

Bab IV Penutup
4.1

Kesimpulan...............................................................................

35

4.2

Saran.........................................................................................

35

Daftar Pustaka................................................................................................

36

4 | Keperawatan Muskuloskeletal

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fraktur Colles adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius
bagian distal yang berjarak 1,5 inchi dari permukaan sendi radiocarpal
dengan deformitas ke posterior, yang biasanya terjadi pada umur di atas
45-50 tahun dengan tulangnya sudah osteoporosis (Apley, 1995).
Kejadian fraktur colles cukup tinggi, tetapi sampai sekarang masih
banyak perbedaan mengenai klasifikasi, reposisi, metoda fiksasi, factor
yang memepengaruhi hasil akhir serta prognosis (Kreder dkk, 1996).
Hasil yang baik dapat dicapai dengan diagnose yang tepat, reposisi yang
akurat, fiksasi yang adekuat serta rehabilitasi yang memadai. Reposisi
tertutup biasanya tidak sulit, tetapi sulit untuk mempertahankan hasil
reposisi, terutama pada fraktur kominutif. Selama ini metode fiksasi yang
banyak dianut adalah dengan gips sirkuler 0, lengan bawah panjang
sampai di atas siku dengan posisi siku fleksi 90 pronasi, pergelangan
tangan fleksi dan deviasi ulna (Salter, 1984). Sejak jaman Hipocrattes
sampai awal abad 19, fraktur distal radius masih disalah artaaikan
sebagai dislokasi dari pergelangan tanagn. Abraham Colles (1725-1843)
pada tahun 1814 mempublikasikan sebuah artikel yang berjudul On the
fracture of the carpal extremity of the radius. Sejak saat itu fraktur jenis
ini diberi nama sebagai fraktur colles sesuai dengan nama Abraham
Colles. (Appley, 1995).
Fraktur distal radius terutama fraktur Colles lebih sering
ditemukan pada wanita, dan jarang ditemui sebelum umur 50 tahun
(Clancey, 1984; Cooney, 1982). Secara umum insidennyakira-kira 8
15% dari seluruh fraktur dan diterapi di ruang gawat darurat.
Dari suatu surveye p i d e m i o l o g i y a n g d i l a k u k a n d i S w e d i a ,
d i d a p a t k a n a n g k a 7 4 , 5 % d a r i s e l u r u h f r a k t u r p a d a lengan
5 | Keperawatan Muskuloskeletal

bawah merupakan fraktur distal radius (Cooney,1980). Umur di


atas 50 tahun pria danwanita 1 berbanding 5. Sebelum umur 50
tahun, insiden pada pria dan wanita lebih kurang sama di mana fraktur
Colles lebih kurang 60% dari seluruh fraktur radius (Cooney,1980). Sisi
kananle bi h

s e r in g

da r i

s is i

k i ri .

An gka

ke ja di a n

ra ta - ra ta

p e r ta hu n 0 ,9 8 %. U s ia te rb a n ya k d ike n a i adalah antara umur 50


59 tahun (Dias dkk, 1980; Sarmiento dkk, 1980).
Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan
tangan biasanya merupakan trauma langsung, yaitu jatuh pada
permukaan tangan sebelah volar atau dorsal. Jatuh pada permukaan
tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi fragmen fraktur sebelah
distal ke arah dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah
dan

tangan

bila

dilihat

dari

samping

menyerupai

garpu.

(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).


Penatalaksanaan fraktur colles bisa dilakukan sesuai kondisi
fraktur seperti; fraktur bergeser, tak bergeser dan kominutif. Fraktur
Colles,

meskipun

telah

dirawat

dengan

baik,

seringnya

tetap

menyebabkan komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu memerlukan


perawatan khusus. Dalam perawatannya, ada 3 hal prinsip yang perlu
diketahui, sebagai berikut: Tangan bagian ekstensor memiliki tendensi
untuk menyebabkan tarikan dorsal sehingga mengakibatkan terjadinya
pergeseran fragmen; Angulasi normal sendi radiokarpal bervariasi
mulai dari 1 sampai 23 derajat di sebelah palmar, sedangkan angulasi
dorsal tidak; Angulasi normal sendi radioulnar adalah 15 sampai 30
derajat.

Sudut

dipertahankan

ini
untuk

dapat
waktu

dengan
yang

mudah
lama

dicapai,

sampai

tapi

terjadi

sulit
proses

penyembuhan kecuali difiksasi.


1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Apa definisi dari Fraktur Colles?


Bagaimana anatomi dari Fraktur Colles?
Bagaimana klasifikasi dari Fraktur Colles
Bagaimana etiologi dari Fraktur Colles?
6 | Keperawatan Muskuloskeletal

5. Bagaimana manifestasi klinis dari Fraktur Colles?


6. Bagaimana patofisiologi dari Fraktur Colles?
7. Apa saja pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada pasien dengan Fraktur
Colles?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari Fraktur Colles?
9. Apa saja komplikasi dari Fraktur Colles?
10. Bagaimana woc (web of caution) dari Fraktur Colles?
11. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Fraktur Colles?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan pengertian dari Fraktur Colles dan asuhan keperawatan pada
klien dengan Fraktur Colles.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Menjelaskan definisi dari Fraktur Colles.
2. Menjelaskan anatomi dari Fraktur Colles.
3. Menjelaskan klasifikasi dari Fraktur Colles.
4. Menjelaskan etiologi dari Fraktur Colles.
5. Menjelaskan manifestasi klinis dari Fraktur Colles.
6. Menjelaskan patofisiologi dari Fraktur Colles.
7. Menjelaskan pemeriksaan penunjang dari Fraktur Colles.
8. Menjelaskan penatalaksanaan pasien dengan Fraktur Colles.
9. Menjelaskan komplikasi dari Fraktur Colles.
10. Menjelaskan WOC dari Fraktur Colles.
11. Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan Fraktur Colles.
1.4 Manfaat
Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami dan membuat
asuhan

keperawatan

pada

pasien

dengan

fraktur

colles,

serta

mampu

mengimplementasikannya dalam proses keperawatan.

7 | Keperawatan Muskuloskeletal

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Fraktur Colles
Fraktur Colles adalah fraktur metafisis distal radius, biasanya
terjadi 3 sampai 4 cm dari permukaan sendi dengan angulasi volar apeks
fraktur (deformitas garpu perak/ silver fork deformity), dislokasi fragmen
distal ke arah dorsal, dan disertai pemendekan radius. Fraktur Colles
dapat dengan atau tanpa disertai fraktur styloideus ulnae (Hoppenfeld,
2011).
Fraktur Colles yaitu cedera pada pergelangan tangan yang disebut
fraktur radius distal paling sering terjadi pada orang tua yang jatuh
bertumpu pada telapak tangan dengan tangan dalam posisi dorsofleksi.
Secara klinis biasanya sudah ditemukan deformitas khas yang disebut
bentuk garpu (Sjamsuhidajat, 2004).
Fraktur Colles terjadi pada metafisis distal radius. Kebanyakan
dijumpai pada penderita-penderita wanita > umur 50 tahun, karena
tulang pada wanita > 50 tahun mengalami osteoporosis post menepouse
(Staff Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI, tt).
Fraktur Colles adalah fraktur melintang pada radius tepat diatas
pergelangan tangan, dengan pergeseran dorsal fragmen distal. Ini adalah
fraktur yang paling sering ditemukan pada manula, insidennya yang
tinggi berhubungan dengan permulaan osteoporosis pasca menepouse.
Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh pada
tangan yang terentang (Apley, 1995).

8 | Keperawatan Muskuloskeletal

Gambar: Fraktur Colles (http://www.eatonhand.com/hw/hw020.htm)

Gambar: Fraktur Colles (http://www.eatonhand.com/hw/hw020.htm)


2.2 Anatomi
Radius bagian distal bersendi dengan tulang karpus yaitu tulang
lunatum dan navikulare ke arah distal, dan dengan tulang ulna bagian
distal ke arah medial. Bagian distal sendi radiokarpal diperkuat dengan
simpai di sebelah volar dan dorsal, dan ligament radiokarpal kolateral
ulnar dan radial. Antara radius dan ulna selain terdapat ligament dan
simpai yang memperkuat hubungan tersebut, terdapat pula diskus
artikularis, yang melekat dengan semacam meniskus yang berbentuk
segitiga, yang melekat pada ligamen kolateral ulna. Ligamen kolateral
ulna bersama dengan meniskus homolognya dan diskus artikularis
bersama ligament radioulnar dorsal dan volar, yang kesemuanya
menghubungkan radius dan ulna, disebut kompleks rawan fibroid
triangularis (TFCC = triangular fibro cartilage complex) (Sjamsuhidayat &
de Jong, 1998).
Gerakan sendi radiokarpal adalah fleksi dan ekstensi pergelangan
tangan serta gerakan deviasi radius dan ulna. Gerakan fleksi dan ekstensi
dapat mencapai 90 derajat oleh karena adanya dua sendi yang bergerak
yaitu sendi radiolunatum dan sendi lunatum-kapitatum dan sendi lain di
korpus. Gerakan pada sendi radioulnar distal adalah gerak rotasi.
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).
Sendi radiokarpal normalnya memiliki sudut 1 - 23 derajat pada
bagian palmar (ventral) seperti diperlihatkan pada gambar 1a. Fraktur
yang melibatkan angulasi ventral umumnya berhasil baik dalam fungsi,
9 | Keperawatan Muskuloskeletal

tidak seperti fraktur yang melibatkan angulasi dorsal sendi radiokarpal


yang pemulihan fungsinya tidak begitu baik bila reduksinya tidak
sempurna. Gambar 1b memperlihatkan sudut normal yang dibentuk
tulang ulna terhadap sendi radiokarpal, yaitu 15 - 30 derajat. Evaluasi
terhadap angulasi penting dalam perawatan fraktur lengan bawah bagian
distal,

karena

kegagalan

atau

reduksi

inkomplit

yang

tidak

memperhitungkan angulasi akan menyebabkan hambatan pada gerakan


tangan oleh ulna. (Simon & Koenigsknecht, 1987).

Gambar: Sudut normal


Gambar: Sudut normal
sendi radiokarpal di
yang dibentuk oleh
bagian ventral
ulna terhadap sendi
(tampak lateral)
radiokarpal
2.3 Klasifikasi Fraktur Colles
Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan pada fraktur
ekstensi dari radius distal. Namun yang paling sering digunakan adalah
sistem klasifikasi oleh Frykman. Berdasarkan sistem ini maka fraktur
Colles dibedakan menjadi 4 tipe berikut : (Simon & Koenigsknecht, 1987)
Tipe IA
: Fraktur radius ekstra artikuler
Tipe IB
: Fraktur radius dan ulna ekstra artikuler
Tipe IIA
: Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal
Tipe IIB
: Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi
Tipe IIIA
Tipe IIIB
Tipe IVA

radiokarpal
: Fraktur radius distal yang mengenai sendi radioulnar
: Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radioulnar
: Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal dan
sendi
radioulnar

10 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

Tipe IVB

: Fraktur

radius

distal

dan

ulna

yang

radiokarpal

mengenai

sendi
dan

sendi radioulnar

Gambar: Klasifikasi Fraktur Colles


2.4 Etiologi Fraktur Colles
Menurut, Hoppenfeld dalam bukunya yang berjudul Terapi dan Rehabilitasi
Fraktur tahun 2011 etiologi fraktur colles diakibatkan karena jatuh dengan menumpu
pada tangan yang mengakibatkan fraktur dan dislokasi radius distal.
Menurut Sjamsujidajat dalam bukunya yang berjudul Buku Ajar Ilmu Bedah
tahun 2004 etiologi fraktur colles paling sering ditemukan di kehidupan normal
karena jatuh bertumpu tangan.
Etiologi dan Faktor Resiko
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Usia lanjut
Postmenopause
Massa otot rendah
Osteoporosis
Kurang gizi
Olahraga seperti sepakbola dll
Aktivitas seperti skating, skateboarding atau bike riding
Kekerasan
ACR (albumin creatinin ratio) yang tinggi
Efek ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan sekresi 1,25 hidroksi
vitamin D yang menyebabkan malabsorpsi kalsium (Dani, 2010 pada
http://www.scribd.com/doc/2293 8507/fraktur-colles).
11 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

2.5 Patofisiologi Fraktur Colles


Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan
tangan biasanya merupakan trauma langsung, yaitu jatuh pada
permukaan tangan sebelah volar atau dorsal. Jatuh pada permukaan
tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi fragmen fraktur sebelah
distal ke arah dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah
dan

tangan

bila

dilihat

dari

samping

menyerupai

garpu.

(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).


Benturan mengena di sepanjang lengan bawah dengan posisi
pergelangan tangan berekstensi. Tulang mengalami fraktur pada
sambungan kortikokanselosa dan fragmen distal remuk ke dalam
ekstensi dan pergeseran dorsal. (Apley & Solomon, 1995)
Garis fraktur berada kira-kira 3 cm proksimal prosesus styloideus
radii. Posisi fragmen distal miring ke dorsal, overlapping dan bergeser
ke radial, sehingga secara klasik digambarkan seperti garpu terbalik
(dinner fork deformity). (Armis, 2000)
2.6 Manifestasi Klinis Fraktur Colles
Pada inspeksi bentuk khas yang dapat dilihat seperti sendok
makan (dinner fork deformity). Gejala-gejala yang lain seperti lazimnya
gejala patah tulang, ada pembengkakan, nyeri tekan, nyeri gerak (Staff
Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI, tt).
Kita dapat mengenali fraktur ini (seperti halnya Colles jauh
sebelum radiografi diciptakan) dengan sebuah sebutan deformitas garpu
makan, dengan penonjolan punggung pergelangan tangan dan depresi di
depan. Pada pasien dengan sedikit deformitas mungkin hanya terdapat
nyeri tekan local dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan. Pada
sinar

terdapat

fraktur

radius

melintang

pada

sambungan

kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus ulnar sering putus. Fragmen


radius (1) bergeser dan miring ke belakang, (2) bergeser dan mirirng ke
radial, dan (3) terimpaksi. Kadang-kadang fragmen distal mengalami
peremukan dan kominutif (Apley, 1995).
12 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

Gambar: Dinner Fork Deformity (The Internet Journal of Orthopedic


Surgery)
2.7 Trauma/Kelainan yang Berhubungan
Fraktur ekstensi radius distal sering terjadi berbarengan dengan
trauma

atau

luka

yang

berhubungan,

Koenigsknecht, 1987)
1. Fraktur prosesus styloideus (60 %)
2. Fraktur collum ulna
3. Fraktur carpal
4. Subluksasi radioulnar distal
5. Ruptur tendon fleksor
6. Ruptur nervus medianus dan ulnaris
2.8 Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis
fraktur
dengan

antara

fragmen

lain:

(Simon

terdislokasi

&

tidak

menimbulkan kesulitan. Secara klinis dengan mudah dapat dibuat


diagnosis patah tulang Colles. Bila fraktur terjadi tanpa dislokasi
fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis
patah tulang. (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).
Pemeriksaan radiologik juga diperlukan

untuk

mengetahui

derajat remuknya fraktur kominutif dan mengetahui letak persis


patahannya (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998). Pada gambaran
radiologis dapat diklasifikasikan stabil dan instabil. Stabil bila hanya
terjadi satu garis patahan, sedangkan instabil bila patahnya kominutif.
Pada keadaan tipe tersebut periosteum bagian dorsal dari radius 1/3
distal tetap utuh. (Staff Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI, tt).
Terdapat
fraktur
radius
melintang
pada
sambungan
kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus ulnar sering putus. Fragmen
radius (1) bergeser dan miring ke belakang, (2) bergeser dan miring ke

13 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

radial, dan (3) terimpaksi. Kadang-kadang fragmen distal mengalami


peremukan dan kominutif yang hebat (Apley & Solomon, 1995).

Gambar: Hasil X ray Fraktur Colles (http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?


topic=a00412)

Gambar: (a) deformitas garpu makan malam, (b) fraktur tidak masuk dalam
sendi pergelangan tangan, (c) Pergeseran ke belakang dan ke radial (Apley,
1995)
Proyeksi

AP

dan

lateral

biasanya

sudah

cukup

untuk

memperlihatkan fragmen fraktur. Dalam evaluasi fraktur, beberapa


pertanyaan berikut perlu dijawab:
1. Adakah fraktur ini juga menyebabkan fraktur pada prosesus
styloideus ulna atau pada collum ulna.
2. Apakah melibatkan sendi radioulnar.
3. Apakah melibatkan sendi radiokarpal.
Proyeksi lateral perlu dievaluasi

untuk

konfirmasi

adanya

subluksasi radioulnar distal. Selain itu, evaluasi sudut radiokarpal dan


sudut radioulnar juga diperlukan untuk memastikan perbaikan fungsi
telah lengkap. (Simon & Koenigsknecht, 1987)
2.9 Penatalaksanaan
1. Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur
dibebat dalam slab gips yang dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah
dan pergelangan tangan dan dibalut kuat dalam posisinya.
14 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

2. Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan


dipegang dengan erat dan traksi diterapkan di sepanjang tulang itu
(kadang-kadang

dengan

ekstensi

pergelangan

tangan

untuk

melepaskan fragmen; fragmen distal kemudian didorong ke tempatnya


dengan

menekan

kuat-kuat

pada

dorsum

sambil

memanipulasi

pergelangan tangan ke dalam fleksi, deviasi ulnar dan pronasi. Posisi


kemudian diperiksa dengan sinar X. Kalau posisi memuaskan, dipasang
slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher
metakarpal dan 2/3 keliling dari pergelangan tangan itu. Slab ini
dipertahankan pada posisinya dengan pembalut kain krep. Posisi
deviasi ulnar yang ekstrim harus dihindari; cukup 20 derajat saja pada
tiap arah.

Gambar: Reduksi : (a) pelepasan impaksi, (b) pronasi dan pergeseran ke


depan, (c) deviasi ulnar
Pembebatan : (d) penggunaan sarung tangan, (b) slab gips yang basah, (f)
slab yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan hingga gips mengeras
(Apley, 1995)
Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan
bahu dan jari segera dimulai setelah pasien sadar. Kalau jari-jari
membengkak, mengalami sianosis atau nyeri, harus tidak ada keraguraguan

untuk

membuka

pembalut. Setelah

7-10

hari

dilakukan

pengambilan sinar X yang baru; pergeseran ulang sering terjadi dan


biasanya

diterapi

dengan

reduksi

ulang;

sayangnya,

sekalipun

manipulasi berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi. Fraktur


menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan
secara radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan
pembalut kain krep sementara.
15 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

Gambar: (a) Film pasca reduksi, (b) gerakan-gerakan yang perlu


dipraktekkan oleh pasien secara teratur (Apley, 1995)
3. Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan
dengan gips; untuk keadaan ini sebaiknya dilakukan fiksasi luar,
dengan pen proksimal yang mentransfiksi radius dan pen distal,
sebaiknya mentransfiksi dasar-dasar metakarpal kedua dan sepertiga.
(Apley & Solomon, 1995).
Fraktur Colles, meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap
menyebabkan komplikasi jangka panjang. Karena itulah hanya fraktur
Colles tipe IA atau IB dan tipe IIA yang boleh ditangani oleh dokter IGD.
Selebihnya harus dirujuk sebagai kasus darurat dan diserahkan pada ahli
orthopedik. Dalam perawatannya, ada 3 hal prinsip yang perlu diketahui,
sebagai berikut :
1. Tangan bagian ekstensor memiliki tendensi untuk menyebabkan
tarikan dorsal sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran fragmen
2. Angulasi normal sendi radiokarpal bervariasi mulai dari 1 sampai 23
derajat di sebelah palmar, sedangkan angulasi dorsal tidak
3. Angulasi normal sendi radioulnar adalah 15 sampai 30 derajat. Sudut
ini dapat dengan mudah dicapai, tapi sulit dipertahankan untuk waktu
yang lama sampai terjadi proses penyembuhan kecuali difiksasi
Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik,
maka beberapa hal berikut dapat dilakukan:
1. Lakukan tindakan di bawah anestesi regional
2. Reduksi dengan traksi manipulasi. Jari-jari ditempatkan pada Chinese
finger traps dan siku dielevasi sebanyak 90 derajat dalam keadaan
fleksi. Beban seberat 8-10 pon digantungkan pada siku selama 5-10
menit atau sampai fragmen disimpaksi.
3. Kemudian lakukan penekanan fragmen distal pada sisi volar dengan
menggunakan ibu jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen proksimal

16 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

menggunakan jari-jari lainnya. Bila posisi yang benar telah didapatkan,


maka beban dapat diturunkan.
4. Lengan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau
midposisi terhadap pergelangan tangan sebanyak 15 derajat fleksi dan
20 derajat deviasi ulna.
5. Lengan bawah sebaiknya dibalut dengan selapis Webril diikuti dengan
pemasangan anteroposterior long arms splint
6. Lakukan pemeriksaan radiologik pasca reduksi untuk memastikan
bahwa telah tercapai posisi yang benar, dan juga pemeriksaan pada
saraf medianusnya
7. Setelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat selama
72 jam untuk mengurangi bengkak. Latihan gerak pada jari-jari dan
bahu sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan pemeriksaan radiologik
pada hari ketiga dan dua minggu pasca trauma. Immobilisasi fraktur
yang tak bergeser selama 4-6 minggu, sedangkan untuk fraktur yang
bergeser membutuhkan waktu 6-12 minggu.

Gambar: Reduksi pada Fraktur Colles


Metode Penanganan Fraktur Colles menurut Hoppenfeld dalam
bukunya yang berjudul Terapi dan Rehabilitasi Fraktur tahun 2011:
1. Gips
a. Biomekanika: Alat stress-sharing.
b. Cara
penyembuhan
tulang:

Sekunder

dengan

disertai

pembentukan kalus.

17 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

c. Indikasi: Reduksi tertutup dan pemasangan gips merupakan


penanganan fraktur yang tidak memerlukan fiksasi bedah. Cara ini
diindikasikan

untuk

pasien

dengan

fraktur

tanpa

dislokasi

(nondisplaced) atau dengan dislokasi minimal tanpa kominutif


yang banyak. Radiograf pascareduksi harus memperlihatkan
pemulihan kemiringan palmar dan panjang radius. Secara umum
pasien berusia lebih dari 60 tahun (secara fisiologis) biasanya
ditangani dengan short arm cast untuk mencegah kekakuan siku.
Setelah pemasangan long arm cast selama 3 sampai 6 minggu
pertama, akan diteruskan dengan pemasangan short arm cast.
Long arm cast memberikan dukungan yang lebih baik untuk
fraktur kominutif tidak stabil serta memberikan kontrol rotasional
dan kontrol nyeri yang lebih baik. Fraktur tanpa dislokasi dapat
ditangani dengan short arm cast.
2. Fiksator Eksterna
a. Biomekanika: Alat stress-sharing (lebih rigid sehingga lebih
melindungi fraktur disbanding gips).
b. Cara penyembuhan tulang: Sekunder

dengan

disertai

pembentukan kalus.
c. Indikator: Fiksator eksterna sangat berguna untuk fraktur
kominutif, fraktur dengan dislokasi dan fraktur terbuka yang
tidak dapat ditangani dengan reduksi tertutup atau fiksasi
interna. Kadang-kadang pin perkutaneus atau fiksasi interna
dapat digunakan sebagai adjuvant fiksasi eksterna.
3. Reduksi Terbuka dan Fiksasi Interna (Pelat atau Pin Perkutaneus)
a. Biomekanika: Alat stress-shielding untuk fiksasi pelat dan alat
stress-sharing untuk fiksasi pin.
b. Cara penyembuhan tulang: Secara primer, jika tercapai fiksasi
solid dengan pelat sehingga tidak terbentuk kalus. Secara
sekunder, jika fiksasi solid tidak tercapai atau pada pin
perkutaneus.
c. Indikasi: Metode ini terutama diindikasikan pada fraktur
arrtikular

dengan

dislokasi.

Gips

pasca

operasi

18 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

biasanyadianjurkan selama 2 sampai 6 minggu, bergantung


pada stabilitas fiksasi (Hoppenfeld, 2011).
Penanganan:
Penaganan: Awal sampai Segera
Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Tidak ada
Stadium penyembuhan tulang: Fase inflamasi.
Hematoma fraktur akan dikolonisasi oleh sel-sel radang dan
debridement fraktur dimulai
Sinar X: Tidak ada kalus; garis fraktur masih tampak
Instruksi
Awal sampai Segera (Satu hari sampai satu minggu)
Peringatan
Tidak boleh melakukan supinasi dan pronasi.
Tidak boleh melakukan kisaran gerakan pada pergelangan
tangan
Kisaran gerakan
Kisaran

gerakan

aktif

jari-jari

articulations

metacarpophalangeal.
Oposisi ibu jari penuh.
Kekuatan
Usahakan latihan isometric untuk otot-otot intrinsic tangan.
Aktivitas fungsional
Gunakan ekstremitas yang sehat untuk perawatan diri dan
aktivitas hidup sehari-hari.
Penanggung beban
Ekstremitas yang sakit tidak boleh menanggung beban.
SEGERA SAMPAI SATU MINGGU
Gips

Stabilita
s

Tidak ada

Fiksator
Eksterna

Tidak ada

Reduksi Terbuka
dan Fiksasi
Interna
Tidak ada

19 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

Orthopa
edi

Rehabili
tasi

Potong gips sampai


tuberostatis
metacarpophalange
ae (MCP) di sebelah
dorsal dan sampai
lipatan
palmar
proksimal di sebelah
volar.
Kisaran
gerakan
bahu dan jari-jari.

Evaluasi
Potong
gips
tempat
pin sampai
dan
fungsi tuberostatis
tendon
(MCP) di sebelah
dorsal
dan
sampai
lipatan
palmar proksimal
di sebelah volar.
Kisaran
Kisaran gerakan
gerakan bahu, bahu, siku dan
siku dan jari- jari-jari.
jari.

Penaganan: Dua Minggu


Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Tidak ada sampai minimal
Stadium
penyembuhan
tulang:
Mulai
fase
reparative
penyembuhan tulang. Sel osteoprogenitor mulai berdiferenisasi
menjadi

osteoblas,

yang

kemudian

membentuk

anyaman

tulang.
Sinar X: Tidak ada sampai kalus awal, garis fraktur masih
terlihat.
Instruksi
Dua Minggu
Peringatan
Tidak boleh melakukan supinasi dan pronasi jika fraktur
ditangani

dengan

gips

serta

reduksi

terbuka

dan

fiksasi

interna.
Tidak boleh melakukan kisaran gerak pasif.
Kisaran gerakan
Kisaran gerakan penuh articulations metacarpophalangeal dan
interphalangeal manus.
Usahakan

kisaran

gerakan

aktif

secara

perlahan

pada

pergelangan tangan jika ditangani dengan reduksi terbuka dan


fiksasi interna serta dalam keadaan rigid.
20 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

Kekuatan
Latihan isometric diberikan pada otot-otot intrinsic tangan
serta fleksor dan ekstensor pergelangan tangan.
Aktivitas fungsional
Ekstremitas yang sehat dapat digunakan untuk perawatan diri
dan aktivitas hidup sehari-hari.
Penanggung beban
Ekstremitas yang sakit tidak boleh menanggung beban.
DUA MINGGU
Gips

Stabilita
s
Orthopa
edi

Rehabili
tasi

Fiksator
Eksterna

Reduksi Terbuka
dan Fiksasi
Interna
ada Tidak ada sampai
minimal

Tidak ada
minimal

sampai Tidak
sampai
minimal
Potong gips sampai Evaluasi
tuberostatis (MCP) di tempat
pin
sebelah dorsal dan dan
fungsi
sampai
lipatan tendon
palmar proksimal di
sebelah volar.
Kisaran
gerakan Kisaran
bahu dan jari-jari.
gerakan bahu,
siku dan jarijari.

Lepas
jahitan
dan gips
Ganti gips jika
fiksasinya
tidal
rigid
Kisaran gerakan
bahu, siku dan
jari-jari. Kisaran
gerak
aktif
pergelangan
tangan
jika
fiksasinya rigid.

Penaganan: Empat sampai Enam Minggu


Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Dengan adanya briding callus,
fraktur

biasanya

telah

stabil;

konfirmasikan

dengan

pemeriksaan fisik.
Stadium penyembuhan tulang: Fase reparative. Organisasi
kalus lebih lanjut dan pembentukan tulang lamellar dimulai.
Jika kalus telah terlihat menjembatani tempat fraktur, biasanya
21 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

fraktur telah stabil. Namun, kekuatan kalus ini, terutama pada


beban

puntiran,

lebih

rendah

disbanding

tulang

lamellar

normal.
Sinar X: Bridging callus terlihat. Dengan ridgiditas yang lebih
baik, lebih sedikit kalus yang akan terlihat, dan penyembuhan
disertai

oleh

kalus

endosteal

mendominasi.

Garis

fraktur

menjadi tidak jelas.


Instruksi
Empat sampai Enam Minggu
Peringatan
Tidak ada kisaran gerak pasif.
Kisaran gerakan
Kisaran gerak aktif penuh sendi pergelangan tangan, serta
metacarpophalageal dan interphalangeal manus.
Dianjurkan untuk melakukan supinasi dan pronasi. Deviasi
ulnar dan deviasi radial aktif.
Kekuatan
Latihan tahanan ringan diberikan pada jari-jari tangan.
Perbaikan Kekuatan Pegangan
Latihan isometric pada fleksor, ekstensor pergelangan tangan
dan deviator ulnar dan radial. Latihan ringan diberikan pada
pergelangan tangan jika ditangani dengan reduksi terbuka dan
fiksasi eksterna.
Aktivitas fungsional
Ekstremitas yang sakit dapat digunakan untuk penyeimbang
aktivitas

dua

tangan.

Paisen

dapat

berusaha

melakukan

perawatan diri dengan ekstremitas yang sakit.


Penanggung beban
Hindari penggunaan beban sampai akhir minggu ke 6.
EMPAT SAMPAI ENAM MINGGU
Gips

Fiksator
Eksterna

Reduksi Terbuka
dan Fiksasi
Interna

22 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

Stabilitas
Orthopae
di

Stabil
Pendekkan
atau
lepas
gips.
Bidai
mungkin
masih
diperlukan
pada
malam hari.
Mulai kisaran gerak
aktif
pergelangan
tangan jika gips telah
dilepas.

Rehabilit
asi

Stabil
Lepas fiksator
pada minggu 68.
Ganti
dengan
gips
bila tidak stabil
Mulai
kisaran
gerak
aktif
pergelangan
tangan jika gips
telah dilepas.

Stabil
Lepas gips

Mulai
kisaran
gerak
aktif
pergelangan
tangan jika gips
telah dilepas.

Penaganan: Enam sampai Delapan Minggu


Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Dengan adanya briding callus,
fraktur

biasanya

telah

stabil;

konfirmasikan

dengan

pemeriksaan fisik.
Stadium penyembuhan tulang: Fase reparative. Organisasi
kalus lebih lanjut dan pembentukan tulang lamellar dimulai.
Jika kalus telah terlihat menjembatani tempat fraktur, biasanya
fraktur telah stabil. Namun, kekuatan kalus ini, terutama pada
beban

puntiran,

lebih

rendah

disbanding

tulang

lamellar

normal.
Sinar X: Bridging callus terlihat. Jika ridgiditasnya baik, kalus
terlihat lebih sedikit, dan penyembuhan yang disertai oleh
kalus endosteal mendominasi. Garis fraktur mulai tidak jelas.
Instruksi
Enam sampai Delapan Minggu
Peringatan
Tidak

ada,

kecuali

dicurigai

adanya

pseudoartrosis

atau

nonunion.
Kisaran gerakan
Kisaran gerak penuh pada semua sendi ekstremitas atas.
Tekanan supinasi dan deviasi ulnar.
Kisaran gerak aktif dengan bantuan sampai pasif atau coba
23 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

dimulai.
Kekuatan
Latihan tahanan ringan jarii-jari dan pergelangan tangan.
Tingkatkan kekuatan pegangan.
Aktivitas fungsional
Ekstremitas yang sakit digunakan untuk perawatan diri dan
aktivitas hidup sehari-hari.
Penanggung beban
Penagguangan beban sesuai dengan toleransi karena fraktur
sudah stabil.
ENAM SAMPAI DELAPAN MINGGU
Gips

Stabilitas

Rehabilit
asi

Fiksator
Eksterna

Reduksi Terbuka
dan Fiksasi
Interna
Stabil
Stabil
Stabil
Lepas gips jika belum Lepas fiksator. Lepaskan
gips
dilakukan
Gunakan bidai jika
belum
pada
malam dilakukan
hari
untuk
kenyamanan.
Pasang
gips
bila
fraktur
belum sembuh.
Kisaran gerak aktif Kisaran gerak Kisaran
gerak
dan
pasif aktif dan pasif aktif dan pasif
pergelangan tangan
pergelangan
pergelangan
tangan sebatas tangan.
Latihan
yang
dapat tahanan
ringan
ditoleransi.
pada pergelangan
Latihan
tangan.
tahanan ringan

Penaganan: Delapan sampai Dua Belas Minggu


Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Stabil
Stadium penyembuhan tulang: Fase remodeling.
Tulanga anyam diganti dengan tulang lamellar.
24 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

Proses

remodeling

berlangsung

berbulan-bulan

sampai

bertahun-tahun untuk selesai.


Sinar X: Kalus jelas terlihat. Garis fraktur mulai menghilang;
seiring waktu kontur tulang mulai kembali seperti semula.
Daerah metafisis tidak menghasilkan kalus sebanyak daeerah
diafisis.
Instruksi
Delapan sampai Dua Belas Minggu
Peringatan
Tidak ada.
Kisaran gerakan
Kisaran gerak penuh, gerakan aktif pasif pada semua bidang
gerak

pergelangan

tangan

dan

jari-jari.

Tekankan

gerak

supinasi dan deviasi ulnar..


Kekuatan
Latihan tahanan progresif pada pergelangan tangan dan jarijari serta semua kelompok otot.
Aktivitas fungsional
Pasien dapat mneggunakan ekstremitas yang sakit untuk
perawatan diri dan aktivitas hidup sehari-hari.
Penanggung beban
Penagguangan

beban

penuh

sesuai

dengan

yang

dapat

ditoleransi ekstremitas yang terkena.


DELAPAN SAMPAI DUA BELAS MINGGU
Gips
Fiksator
Eksterna
Stabilitas
Orthopae
di
Rehabilit
asi

Reduksi Terbuka
dan Fiksasi
Interna
Stabil

Stabil
Stabil
Lepas gips jika belum Lepas fiksator
dilakukan
jika
belum
dilakukan
Kisaran gerak aktif Kisaran gerak Kisaran
gerak
dan
pasif
serta aktif dan pasif aktif dan pasif
latihan
tahanan serta
latihan serta
latihan
25 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

progresif

tahanan
progresif

tahanan progresif
(Hoppenfeld,
2011)

2.10 Komplikasi
1. Dini
a. Sirkulasi darah pada jari harus diperiksa; pembalut yang menahan
slab perlu dibuka atau dilonggarkan.
b. Cedera saraf jarang terjadi, dan yang mengherankan tekanan saraf
medianus pada saluran karpal pun jarang terjadi. Kalau hal ini
terjadi, ligament karpal yang melintang harus dibelah sehingga
tekanan saluran dalam karpal berkurang.
c. Distrofi refleks simpatetik mungkin amat sering ditemukan, tetapi
untungnya ini jarang berkembang lengkap menjadi keadaan atrofi
Sudeck. Mungkin terdapat pembengkakan dan nyeri tekan pada
sendi-sendi jari, waspadalah jangan sampai melalaikan latihan setiap
hari. Pada sekitar 5 % kasus, pada saat gips dilepas tangan akan
kaku

dan

nyeri

serta

terdapat

tanda-tanda

ketidakstabilan

vasomotor. Sinar X memperlihatkan osteoporosis dan terdapat


peningkatan aktivitas pada scan tulang.
2. Lanjut
a. Malunion sering ditemukan, baik karena reduksi tidak lengkap atau
karena pergeseran dalam gips yang terlewatkan. Penampilannya
buruk, kelemahan dan hilangnya rotasi dapat bersifat menetap. Pada
umumnya terapi tidak diperlukan. Bila ketidakmampuan hebat dan
pasiennya relatif lebih muda, 2,5 cm bagian bawah ulna dapat
dieksisi untuk memulihkan rotasi, dan deformitas radius dikoreksi
dengan osteotomi.
b. Penyatuan lambat dan non-union pada radius tidak terjadi, tetapi
prosesus styloideus ulnar sering hanya diikat dengan jaringan fibrosa
saja dan tetap mengalami nyeri dan nyeri tekan selama beberapa
bulan.

26 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

c. Kekakuan pada bahu, karena kelalaian, adalah komplikasi yang


sering ditemukan. Kekakuan pergelangan tangan dapat terjadi akibat
pembebatan yang lama.
d. Atrofi Sudeck , kalau tidak diatasi, dapat mengakibatkan kekakuan
dan pengecilan tangan dengan perubahan trofik yang berat.
e. Ruptur tendon (pada ekstensor polisis longus) biasanya terjadi
beberapa minggu setelah terjadi fraktur radius bagian bawah yang
tampaknya sepele dan tidak bergeser. Pasien harus diperingatkan
akan kemungkinan itu dan diberitahu bahwa terapi operasi dapat
dilakukan. (Apley & Solomon, 1995).

27 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

2.11 WOC
Etiologi dan Faktor Resiko
Usia lanjut
Post menopause
Massa otot rendah
Osteoporosis
Kurang gizi
Olahraga
Aktivitas seperti skating, skateboarding
atau bike riding
8. Kekerasan
9. Albumin Creatinin Ratio (ACR) yg tinggi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Fraktur
terbuka
Port de
entre kuman
MK: Resiko
tinggi infeksi

Trauma
jaringan,
cedera
jaringan
MK: lunak
Kerusakan
integritas

Jatuh
Menumpu
pada tangan

Fraktur dan
dislokasi radius
distal

(FRAKTUR COLLES)
Kerusakan
Dislokasi ke
neuromuskul
arah dorsal
ar
Ketidakmampuan
Dinner
menggerakkan
fork
pergelangan tangan
deformity
MK: Hambatan
mobilitas fisiik,
Defisit perawatan
diri

Spasme otot,
gerakan
fragmen tulang
Nyeri tekan
dan nyeri
gerak
MK: Nyeri

Kurang
informasi ttg
kondisi
fraktur
MK:
Kurang
Pengetahuan
MK: Ansietas

28 | K e p e r a w a t a n M u s k u l o s k e l e t a l

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LEMBAR PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Tanggal MRS

: 28 Mei 2012

Jam Masuk

: 13.00 WIB

Tanggal Pengkajian

: 29 Mei 2012

No. RM

: xx.xx.xx.xx

Jam Pengkajian

: 12.00 WIB

Diagnosa Masuk : Fr.Colles tertutup


tipe IA

IDENTITAS
1. Nama Pasien : Ny. M
2. Umur
: 56 tahun
3. Suku/ Bangs: Sunda/Indonesia
4. Agama
: Islam
5. Pendidikan : Tamat SMU
6. Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
7. Alamat
: Kenjeran, Surabaya

Penanggung jawab Biaya : Umum


Nama : Tn.N
Alamat : Kenjeran Surabaya

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


1. Keluhan Utama
: Nyeri pada bagian tangan kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang : pasien dibawa ke IRD RS UA sesaat setelah
terjatuh dan mengeluh tangan kanannnya nyeri hebat, terjadi pembengkakan
dan terjadi perubahan bentuk yaitu penonjolan punggung tangan kanan.
Awalnya pasien terjatuh di dapur,karena karena terpeleset dan bertumpu pada
tangan kanannya. Pasien menopause sejak 4 tahun yang lalu.
HT (-). DM (-), asma (-).

21

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


1. Pernah dirawat
: ya
tidak
2. Riwayat penyakit kronik dan menular
Riwayat kontrol : -

ya

kapan : tidak

diagnosa : jenis -

Riwayat penggunaan obat : 3. Riwayat alergi


4. Riwayat operasi

ya
ya

tidak
tidak

jenis kapan -

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Ya
tidak
jenis Masalah Keperawatan :

OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK


1. Tanda tanda vital

Nyeri Akut

S : 36,50C

N : 104 x/menit

T : 130/90 mmHg

Kesadaran
Koma

Compos Mentis

Apatis

RR : 24 x/menit

Somnolen

Sopor

2. Sistem Pernafasan
a. Keluhan :
Batuk

sesak

nyeri waktu nafas

produktif

tidak produktif

Sekret : -

Konsistensi : -

Warna : -

Bau : -

b. Irama nafas

teratur

tidak teratur

c. Jenis

Dispnoe

Kusmaul

d. Suara nafas

Vesikuler

Bronko vesikuler

Ronki

Wheezing

e. Alat bantu napas

ya
Jenis -

tidak
Flow - lpm

Lain-lain : -

22

Cheyne Stokes
Masalah Keperawatan :

Tidak ada Masalah

3.

Sistem Kardio vaskuler


a. Keluhan nyeri dada
b. Irama jantung
S1/S2 tunggal
c. Suara jantung

ya

tidak

Masalah Keperawatan :

reguler

ireguler

Tidak ada Masalah

ya

tidak

normal

murmur

gallop

lain-lain -

panas

dingin

meningkat

menurun

d. CRT : 2 detik
e. Akral
basah

hangat

kering

merah
f. JVP

normal

Lain-lain : -

4. Sistem Persyarafan
a. GCS : 4 5 6

Masalah
Keperawatan :

b. Refleks fisiologis

patella

triceps

biceps

c. Refleks patologis

babinsky

budzinsky

kernig

d. Keluhan pusing

ya

tidak

e. Pupil

Isokor

Anisokor

Diameter..

f. Sclera/Konjunctiva

anemis

ikterus

ananemis

g. Gangguan pandangan ya

tidak

Jelaskan -

h. Gangguan pendengaranya

tidak

Jelaskan -

i. Gangguan penciuman ya

tidak

Jelaskan -

j. Isitrahat/Tidur : 8 Jam/Hari
mengawali

Gangguan tidur : sulit untuk

Gangguan pola

tidur karena nyeri

23

5. Sistem perkemihan
a. Kebersihan

Bersih

b. Keluhan Kencing

Masalah Keperawatan
:

Kotor

Nokturi

Inkontinensia
Tidak ada

Gross hematuri

Poliuria

Disuria

Oliguria

Retensi

Hesistensi

Anuria

c. Produksi urine : 1200 ml/hari


amoniak

Warna: kuning jernih

Bau :
(khas
urine)

d. Kandung kemih :

Membesar

ya

tidak

Nyeri tekan

ya

tidak

e. Intake cairan

oral : 1500 cc/hari

f. Alat bantu

kateter

parenteral : - cc/hari

ya

tidak

Jenis : -

Sejak tanggal : -

Lain-lain : -

6. Sistem pencernaan
a. Mulut
bersih

kotor

berbau

kering

stomatitis

Masalah Keperawatan
:

b. Mukosa

lembab

c. Tenggorokan

sakit menelan

kesulitan menelan

pembesaran tonsil

nyeri tekan

tegang

kembung

ascites

ya

tidak

d. Abdomen
Nyeri tekan

24

Luka operasi

ada

tidak

Jenis operasi :Keadaan :

Tanggal operasi :-

Lokasi : Drain

ada

tidak

Jumlah : -

Warna : -

Kondisi area sekitar insersi : e. Peristaltik : 6 x/menit


f. BAB : 2 hari sekali
Konsistensi

keras

g. Diet

padat

h. Nafsu makan
i. Porsi makan

Terakhir tanggal : 28 Juni 2012


lunak

cair

lunak

cair

baik
habis

menurun
tidak

lendir/darah

Frekuensi: 3 x/hari

Keterangan : pasien makan


dengan
disuapin

Lain-lain: -

7. Sistem muskulo skeletal dan integumen


a. Pergerakan sendi
bebas
b. Kekuatan otot X

terbatas
Masalah Keperawatan :

c. Kelainan ekstremitas

ya

tidak

d. Kelainan tulang belakang

ya

tidak

e. Fraktur

ya

tidak

f. Traksi / spalk /gips

ya

tidak

g. Kompartemen syndrome

ya

tidak

h. Kulit
ikterik
hiperpigmentasi

sianosis

kemerahan

25

Hambatan mobilitas
fisik ; Risiko Disfungsi
Neurovaskuler perifer

i. Turgor
j. Luka

baik
jenis :-

kurang
luas :-

jelek
bersih

kotor

Lain-lain: pasien terpasang gips sejak tanggal 29 Mei 2012, terdapat edema
pada tangan kanan.

8. Sistem Endokrin
Pembesaran kelenjat tyroid

ya

tidak

Pembesaran Kelenjar getah beningya

tidak

Hipoglikemia

ya

tidak

Hiperglikemia

ya

tidak

Luka gangren

ya

tidak

Masalah Keperawatan :

Tidak ada Masalah

Lain-lain: -

Masalah
keperawatan :

PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL

Tidak ada

a. Persepsi klien terhadap penyakitnya


Cobaan Tuhan

hukuman

lainnya

b. Ekspresi klien terhadap penyakitnya


Murung/diam
c. Reaksi saat interaksi

gelisah

tegang

marah/menangis

kooperatif

tidak kooperatif

ya

tidak

curiga
d. Gangguan konsep diri
Lain-lain: PERSONAL HYGIENE & KEBIASAAN
a. Mandi : 2 x/hari
b. Keramas : - x/hari

f. Ganti pakaian : 2 x/hari


g. Sikat gigi : 2 x/hari

26

Masalah
Keperawatan :

Tidak ada

c. Memotong kuku : jika kuku terlihat panjang


d. Merokok : -

ya

tidak

e. Alkohol : -

ya

tidak

PENGKAJIAN SPIRITUAL
Kebiasaan beribadah
a. Sebelum sakit

sering

kadang- kadang tidak pernah

b. Selama sakit

sering

kadang- kadang tidak pernah

Masalah
Keperawatan :

Tidak ada

PEMERIKSAAN PENUNJANG (Laboratorium,Radiologi, EKG, USG )

X-Ray menunjukkan f r a k t u r d a n a b n o r m a l i t a s p a d a l e n g a n
b a g i a n d i s t a l d a n r e g i o pergelangan tangan

TERAPI

DATA TAMBAHAN LAIN :


TINDAKAN OPERASI :

Surabaya, ..

()

27

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

FORMAT ANALISA DATA

DATA

ETIOLOGI

Pasien menunjukkan raut


wajah kesakitan
(meringis)

Fraktur colles

MASALAH

DO :

Nyeri akut
Spasme otot,gerakan
fragmen tulang

DS :
P : nyeri bertambah jika
tangan digerakkan

Nyeri tekan, nyeri gerak

Q : nyeri menusuk
R : pergelangan tangan

Nyeri akut

S:7
T : sepanjang waktu

Fraktur colles
DO : pasien terpasang
gips pada tangan
kanannya,

DS : pasien mengatakan
merasa nyeri

Risiko Disfungsi
Neurovaskuler perifer

Terpasang gips

Immobilisasi dan terdapat


penekanan

Risiko Disfungsi

28

Neurovaskuler perifer
DO :

Fraktur colles

Pasien terlihat dibantu


suami dalam perawatan
dirinya.

Dislokasi arah dorsal

Pasien disuapkan saat


makan.

Dinner fork deformity

DS :
Pasien mengatakan
mengalami kesulitan dan
butuh bantuan dalam
memenuhi kebutuhannya

Ketidakmampuan
menggerakkan pergelangan
tangan

Hambatan mobilitas fisik

29

Hambatan mobilitas
fisik

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR PRIORITAS MASALAH

Nama

: Ny.M

Tanggal : 29 Mei 2012

No. Reg

: xx.xx.xx.xx

1. Nyeri Akut
2. Risiko Disfungsi Neurovaskuler perifer
3. Hambatan Mobilitas Fisik

NO

TANGGAL

PRIORITAS

MASALAH

1.

29 Mei 2012

Nyeri Akut

29 Mei 2012

Risiko

Disfungsi

Neurovaskuler perifer
3

29 Mei 2012

Hambatan

Mobilitas

Fisik

30

TAMBAHAN/KETERANGAN

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

RENCANA INTERVENSI

No
4.

Tanggal
29 Mei
2012

Diagnosa keperawatan (tujuan, kriteria


hasil)

Rencana intervensi

rasional

Nyeri akut b.d trauma jaringan dan reflek 1. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit
1.
dengan
gips
spasme otot sekunder akibat fraktur
2. Tinggikan bagian ekstremitas yang sakit
3. Lakukan metode distraksi dengan aktivitas yang2.
disukai pasien
Tujuan: individu menyatakan peredaan setelah4. Evaluasi skala nyeri
3.
suatu tindakan peredaan yang memuaskan dan 5. Kolaborasi dengan tim medis : pemberian
analgesik
4.
dibuktikan oleh skala nyeri yang berkurang

Mengurangi dan mencegah


kesalahan posisi tulang / tegangan
jaringan yang edema.
Meningkatkan aliran balik vena,
menurunkan edema dan
menurunkan nyeri
Mengurangi nyeri
Mempengaruhi pilihan /
pengawasan keefektifan intervensi
5. Tindakan dependent perawat,
dimana analgesik berfungsi untuk
memblok stimulasi nyeri

Kriteria Hasil :
- Nyeri berkurang atau hilang
- klien tampak tenang

2.

29 Mei
2012

Risiko Disfungsi Neurovaskuler perifer b.d


pembatasan perlindungan sekunder akibat
gips

Tujuan : individu melaporkan perubahan pada


sensasi perifer

Kriteria hasil :
-

Nadi perifer dapat teraba


Ekstremitas hangat
Pengisian kembali kapiler <2 detik

1. Kaji status neurovaskuler (denyut


perifer, suhu, warna kulit, CRT)
sedikitnya setiap jam pada 24 jam
pertama dan bandingkan dengan anggota
gerak yang sehat.
2. Kaji kemampuan untuk hiperekstensi ibu
jari dan keempat jari, abduksi seluruh
jari jari, sentuhkan ibu jari ke jari
kelingking
3. Kaji sensasi tekanan dari benda tajam
(celah ruang antara ibu jari dan jari
telunjuk, bantalan lemak distal pada jari
kelingking, permukaan distal jari
telunjuk)
4. Instruksikan untuk melaporkan sensasi
yang tidak biasa, baru dirasakan atau
berbeda (misal: kesemutan, kebas,
dan/atau penurunan kemampuan untuk
menggerakkan jari tangan)
5. Melepaskan perhiasan dari anggota
gerak yang sakit dan meninggikan

1. Merupakan tanda awal


terjadinya disfungsi
neurovaskuler perifer
2. Ketidakmampuan
menggerakkan jari jemari
merupakan tanda terjadinya
disfungsi neurovaskuler
3. Ketidakmampuan merasaka
sensasi tekanan merupakan
tanda terjadinya disfungsi
neurovaskuler
4. Gejala perubahan sensasi
yang dirasakan pasien
merupakan indikasi adanya
disfungsi neurovaskuler
5. Mengurangi edema dan
meningkatkan aliran balik
vena ke jantung.
6. Mengurangi edema dan
memberikan rasa nyaman
pada area yang sakit

3.

29 Mei
2012

Hambatan mobilitas fisik b.d kekuatan dan


ketahanan sekunder akibat fraktur dan
pemasangan gips.

Tujuan : individu menunjukkan tingkat


mobilitas maksimal

Kriteria hasil :
- individu dapat melakukan perawatan diri
secara mandiri
- menggunakan tindakan pengamanan (mitella)
untuk meminimalkan kemungkinann cedera.

ekstremitas yang sakit


6. Berikan kompres dingin (es) disekitar
area yang sakit,beri alas kain antara es
dan kulit
7. Segera melaporkan pada dokter jika
terjadi : perubahan dalam sensasi,
1. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan1.
oleh cedera/pengobatan dan perhatikan
persepsi pasien terhadap imobilisasi
2. Optimalkan pasien untuk melakukan 2.
ROM aktif pada sisi yang sehat dan
ROM pasif pada sisi yang sakit
3. Dorong dan libatkan pasien dalam
3.
perawatan diri.

7. Laporan sesegera mungkin


dapat mengurangi dampak
yang lebih buruk.

Pasien mungkin dibatasi oleh


pandangan diri / persepsi diri tentan
keterbatasa fisik aktual
Meningkatkan aliran darah ke otot
dan tulang, meningkatkan tonus
otot,mempertahankan gerak sendi.
Meningkatkan kekuatan otot dan
sirkulasi, dan meningkatkan kontrol
pasien dalam sirkulasi, dan
meningkatkan kesadaran diri
langsung

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

EVALUASI

1.
2.
3.
4.

Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan


Dapat bergerak dengan ketidaknyamanan minimal
Berpartisipasi dalam aktivitas sehari hari
Pasien menunjukkan tingkat mobilitas optimal

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Fraktur Colles adalah fraktur metafisis distal radius, biasanya
terjadi 3 sampai 4 cm dari permukaan sendi dengan angulasi volar apeks
fraktur (deformitas garpu perak/ silver fork deformity), dislokasi fragmen
distal kea rah dorsal, dan disertai pemendekan radius. Fraktur Colles
dapat dengan atau tanpa disertai fraktur styloideus ulnae (Hoppenfeld,
2011).
Pada inspeksi bentuk khas yang dapat dilihat seperti sendok
makan (dinner fork deformity). Gejala-gejala yang lain seperti lazimnya
gejala patah tulang, ada pembengkakan, nyeri tekan, nyeri gerak (Staff
Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI, tt).
Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat
remuknya fraktur kominutif dan mengetahui letak persis patahannya
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998). Pada gambaran radiologis dapat
diklasifikasikan stabil dan instabil. Stabil bila hanya terjadi satu garis
patahan, sedangkan instabil bila patahnya kominutif. Pada keadaan tipe
tersebut periosteum bagian dorsal dari radius 1/3 distal tetap utuh. (Staff
Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI, tt).
4.2 Saran
Penatalaksanaan fraktur colles bisa dilakukan sesuai kondisi
fraktur seperti; fraktur bergeser, tak bergeser dan kominutif. Fraktur
Colles,

meskipun

telah

dirawat

dengan

baik,

seringnya

tetap

menyebabkan komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu memerlukan


perawatan khusus.

DAFTAR PUSTAKA
Apley, A. Graham. 1995. Buku Ajar Sistem Ortopedi dan Fraktur Apley.
Jakarta: Widya Medika
Carpenitto, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta:
EGC
Dani.
2010.
Fraktur
Colles.
Diakses
dari
http://www.scribd.com/doc/22938507/fraktur-colles tanggal 12 Mei
2012 pukul 18.30
Hoppenfeld, S. 2011. Terapi dan Rehabilitasi Fraktur. Jakarta: EGC
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC
Rasjad, Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Malang: Yarsif
Watampone
Sjamsuhidajat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
Staff Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI. tt. Kumpulam Kuliah Ilmu Bedah.
Tangerang: FK UI
Dept of Orthopaedics, Royal Free Hospital London UK. 2007. The Internet
Journal of Orthopedic Surgery Volume 5 Number 1. Diakses dari
http://www.ispub.com/
journal/theinternet-journal-of-orthopedicsurgery/volume-5number-1/the-dinner-fork-deformity.html tanggal 12
Mei 2012 pukul 18.05

Anda mungkin juga menyukai