Anda di halaman 1dari 42

BAB I

HASIL DESKRIPSI
1.1

Preparat Nomor M.0.4


Perbesaran

: 4x

Tekstur
Granularitas

: Inequigranular

Kristalisasi

: Hipokristalin

Fabrik

: Hypidiomorf

Tekstur Khusus : Intergranular


Komposisi Mineral :

Plagioklas

: colourless/ kembaran carlsbad-albit/ relief sedang/

prismatik
Olivin
Klorit

: pecahan concoidal/ relief tinggi


: warna kehijauan/ pecahan sangat tidak beraturan/

relief rendah
Klinopiroksen : gelapan miring/ belahan 1 arah
Mineral

Plagioklas
Olivin
Klorit
Klinopiroksen
Opaq

Sudut

Sudut

Sudut

Pandang 1
60%
15%

Pandang 2
55 %
15 %

20%
5%

20 %
10 %

Pandang 3
50 %
5%
25 %
10 %
10 %

Kelimpahan Mineral:
Mineral
Plagioklas
Olivin
Klinopiroksen
Klorit
Opaq
Gambar

Kelimpahan (%)
55 %
11,67 %
16,67 %
8,33 %
8,33 %

MP 1 :
1

Gambar 1.1 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 1
Preparat M.0.4

MP 2 :

Gambar 1.2 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 2
Preparat M.0.4

MP 3 :

Gambar 1.3 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 3
Preparat M.0.4

Petrogenesa :
Berdasarkan deskripsi secara mikroskopis pada preparat nomor M.0.4
menunjukan granu;aritas inequigranular, derajat kristalisasi tergolong

hipokristalin

kenampakan

kristalisasi

holokristalin.

Tekstur

khusus

menunjukkan tekstur porfitritik. Hal ini menunjukan bahwa waktu batuan


ini terbentuk dengan waktu pembentukan mineral yang tidak seragam,
fabrik berupa hypidiomorf hal ini menunjukan bahwa bidang batas mineral
kurang jelas. Komposisi mineral penyusun batuan ini tersusun oleh
plagioklas dengan kelimpahan 55%, olivin 11,67%, klinopiroksen 16,67%,
klorit sebesar 8,33% serta mineral opaq sebesar 8,33%. Berdasarkan
komposisi mineral maka dapat diintepretasikan bahwa batuan ini berasal
dari magma yang cenderung basa. Berdasarkan deret reaction bowen
mineral olivin terbentuk pada suhu 12000 C dan dilanjutkan terbentuknya
piroksen pada suhu 9000 - 8000 C. Berdasarkan 7 busur magmatisme
terbentuknya batuan ini dinterpretasikan didaerah MOR yang merupakan ,
zona ini adalah zona dimana lempeng samudera dan lempeng samudera
saling menjauh (divergen). Hal ini dikontrol oleh arus konveksi yang terjadi
pada mantel bumi hingga magma keluar dan membentuk pegunungan lantai
samudera. Lempeng samudera mengandung banyak mineral Fe dan Mg
sehingga batuan yang dihasilkan di zona ini bersifat basa-ultra basa. Selain
itu dapat juga terbentuk pada zona subduksi.
Nama Batuan

1.2

Olivin Gabbronorite

( IUGS, 1976 )

Preparat Nomor R.13.22


Perbesaran

: 4x

Tekstur
Granularitas

: Inequigranular Porfiritik

Kristalisasi

: Holokristalin

Fabrik

: Hypidiomorf

Tekstur Khusus : Porfiritik


Komposisi Mineral :

Plagioklas
Olivin
Kuarsa
Klinopiroksen

Gelapan miring/ Relief sedang


Hornblende
: relief tinggi/pleokroisme tinggi/ belhan 1 atau 2

arah
Orthopiroksen : colourless/ Terdapat pecahan dan belahan/ gelapan

: Colourless/ Relief rendah/ kembaran carlsbad-albit


: Kekuningan/ Relief sedang
: Colourless/ Gelapan bergelombang/ Relief rendah
: Colourless/ Terdapat pecahan/ Belahan 1 arah/

sejajar/ relief sedang-tinggi.


Mineral
Plagioklas
Olivin
Kuarsa
Klinopiroksen
Hornblende
Opaq
Orthopiroksen

Sudut

Sudut

Sudut

Pandang 1
50 %
10 %
5%
20 %
10 %
5%

Pandang 2
60 %

Pandang 3
60 %

10 %
5%
5%
20 %

25 %
5%
10 %

Kelimpahan Mineral:
Mineral
Plagioklas (bitownit 440 )
Olivin
Kuarsa
Klinopiroksen
Hornblende
Opaq
Orthopiroksen
Gambar

Kelimpahan (%)
56,67 %
3,33 %
1,67 %
10 %
13,33 %
5%
10 %

MP 1 :

Gambar 1.4 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 1
Preparat R.13.22

MP 2 :

Gambar 1.5 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 2
Preparat R.13.22

MP 3 :

Gambar 1.6 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 3
Preparat R.13.22

Petrogenesa :

Berdasarkan deskripsi secara mikroskopis pada preparat nomor


R.13.22 menunjukan granu;aritas inequigranular dengan tipe porfiritik,
derajat

kristalisasi

tergolong

hipokristalin

kenampakan

kristalisasi

holokristalin. Tekstur khusus menunjukkan tekstur porfitritik. Hal ini


menunjukan bahwa waktu batuan ini terbentuk dengan waktu pembentukan
mineral yang tidak seragam, fabrik berupa hypidiomorf hal ini menunjukan
bahwa bidang batas mineral kurang jelas. Komposisi mineral penyusun
batuan ini tersusun oleh plagioklas dengan kelimpahan 56,67%, olivin
3,33%, kuarsa 1,67%, klinopiroksen 10%, hornblende sebesar 13,33%,
orthopiroksen 10% serta mineral opaq sebesar 5%. Berdasarkan komposisi
mineral maka dapat diintepretasikan bahwa batuan ini berasal dari magma
yang bersifat basa. Berdasarkan deret reaction bowen mineral olivin
terbentuk pada suhu 12000 C namun karena kelimpahannya sangat sedikit
kemungkinan dalam pembentukan olivin hanya sebentar. Dan dalam waktu
yang bersaman terbentuk plagioklas yangkaya akan Ca menuju Na,
berdasarkan hasil pengukran sudut kembaran sebesar 440, sehingga dapat
digolongkan plagioklasnya berjenis bitownit. Selanjutnya pembentukan
piroksen dan dilanjutkan terbentuknya piroksen pada suhu 900 0 - 8000 C.
Lalu dilanjutkan dengan terbentuknya hornblende yang komposisinya cukup
melimpah sebesar 15%, dan yang terakhir kuarsa yang tergolong mineral
resisten namun komposisinya hanya sedikit dalam sayatan batuan ini
sebesar 2%. Selama pembentukan batuan tersebut terdapat opaq yang dapat
disebut juga sebagai pengotor atau inklusi. Berdasarkan 7 busur
magmatisme terbentuknya batuan ini dinterpretasikan didaerah subduksi
yaitu daerah penujaman antara lempeng samudera dengan lempeng benua.
Hal ini dikontrol oleh arus konveksi yang terjadi pada mantel bumi hingga
magma keluar dan membentuk pegunungan lantai samudera. Lempeng
samudera mengandung banyak mineral Fe dan Mg sedangkan lempeng
benua kaya akan Si. Karena komposisinya menunjukkan batuan ini bersifat
basa maka magmanya diinterpretasikan bersifat basa dan dlam zona

subduksi ini diinterpretasikan lebih dominan penujaman terhadap lempeng


samudera.
Nama Batuan

1.3

Gabbronorite ( IUGS, 1976 )

Preparat Nomor M.12.9


Perbesaran

: 4x

Tekstur
Granularitas

: Inequigranular Faneroporfiritik

Kristalisasi

: Holokristalin

Fabrik

: Hypidiomorf

Tekstur Khusus :
Komposisi Mineral :

Olivin

: Kekuningan/ Relief sedang

Klinopiroksen : Colourless/ Terdapat pecahan/ Belahan 1 arah/


Gelapan miring/ Relief sedang
Mineral

Olivin
Klinopiroksen
Opaq

Sudut

Sudut

Sudut

Pandang 1
50 %
50 %

Pandang 2
60 %
37 %
3%

Pandang 3
22 %
75 %
3%

Kelimpahan Mineral:
Mineral
Olivin
Klinopiroksen
Opaq
Gambar

Kelimpahan (%)
44 %
54 %
2%

MP 1 :

Gambar 1.7 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 1
Preparat M.12.9

MP 2 :

Gambar 1.8 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 2
Preparat M.12.9

MP 3 :

Gambar 1.9 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 3
Preparat M.12.9

Petrogenesa :
Berdasarkan deskripsi secara mikroskopis terhadap preparat nomor
M.12.9 yang memiliki tekstur dengan tingkat granularitas yang tergolong
inequigranular bertipe faneroporfiritik, diinterpretasikan mineral ini
terbentuk dibagian dalam bumi sebagai batuan plutonik sehingga mineral
masih dapat diamati dan berukuran besar namun karena tumbuhnya tidak
secara bersamaan sehingga memiliki ukuran yang berbeda-beda. Derajat
kristalisasi yang dimana sayatan batuan ini terdiri dari seluruhnya kristal
sehingga tergolong holokristalin. Pembentukan kristal yang tidak dalam satu
waktu bersamaan maka akan membentuk bentuk bidang kristal yang tidak
dibatasi oleh bidang kristal itu sendiri sehingga fabriknya tergolong
hypidiomorf serta mempengaruhi ukuran kristalnya yang tidak seragam
terbentuk fenokris yang dikelilingi oleh mineral yang berukuran lebih halus/
afanitik dan massa dasar sehingga tergolong memiliki tekstur khusus berupa
porfiritik. Proses pendinginan magma penbentukan sayatan batuan ini
dimulai dengan penurunan suhu mineral, dimana yang terbentuk pertama
sesuai dengan Deret Reaction Bowen yaitu olivin terbentuk lebih dahulu
pada suhu 12000. Selanjutnya yang terbentuk yaitu klinopiroksen yang

terbentuk pada suhu 9000 8000 C. Seiring pembentukan mineral tersebut


berlangsung terdapat inklusi sebagai pengotor dalam batuan tersebut,
sehingga didalam pengamatan petrografis akan terlihat bagian hitam pada
saat PPL, XPL, maupun ketika sudah dimasukkan baji kuarsa. Batuan ini
terbentuk oleh magma bersifat basa dengan kandungan silika 45-52%.
Diinterpretasikan sayatan batuan ini bersifat basa yang terbentuk dari proses
partial melting pada daerah lempeng samudera yakni pada zona MOR (Mid
Oceanic Redge). berdasarkan 7 busur magmatisme, zona ini adalah zona
dimana lempeng samudera dan lempeng samudera saling menjauh
(divergen). Hal ini dikontrol oleh arus konveksi yang terjadi pada mantel
bumi hingga magma keluar dan membentuk pegunungan lantai samudera.
Lempeng samudera mengandung banyak mineral Fe dan Mg sehingga
batuan yang dihasilkan di zona ini bersifat basa-ultra basa.
Nama Batuan

1.4

: Lherzolite ( IUGS, 1976 )

Preparat Nomor C
Perbesaran

: 4x

Tekstur
Granularitas

: Inequigranular Porfiritik

Kristalisasi

: Holokristalin

Fabrik

: Hypidiomorf

Tekstur Khusus : Porfiritik


Komposisi Mineral :

Nepheline

: Colourless/ putih atau kekuningan/ Belahan

berbentuk prismatik/ terdapat peccahan

10

Leucite

pecahan concoidal
Plagioklas
: Colourless/ kembaran carlsbad-albit/ relief sedang/

: Transparant/ trasnlucent/ tidak terdapat belahan/

prismatik
Mineral
Nepheline
Leucite
Plagioklas
Opaq

Sudut

Sudut

Sudut

Pandang 1
60 %
15 %
20%
5%

Pandang 2
5%
60 %
30 %
5%

Pandang 3
40 %
30 %
25 %
5%

Kelimpahan Mineral:
Mineral
Nepheline
Leucite
Plagioklas
Opaq
Gambar

Kelimpahan (%)
35 %
35 %
25 %
5%

MP 1 :

Gambar 1.10 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 1
Preparat C

MP 2 :

11

Gambar 1.11 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 2
Preparat C

MP 3 :

Gambar 1.12 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 3
Preparat C

Petrogenesa :
Berdasarkan hasil deskripsi secara mikroskopis terhadap sayatan
batuan nomor C, pembentukan kristalnya dalam waktu yang berbeda beda
sehingga besar kristalnya tidak seragam membentuk granularitas yang
tergolong faneroporfiritik. Sayatan batuan ini terdapat fenokris yang
dikelilingi oleh massa dasar yang berupa kristal juga namun berbeda
ukurannya. Karena batuan ini terbentuk oleh seluruhnya kristal maka derajat
kristalisasinya tergolong holokristalin. Bentuk bidang kristal yang tidak
dibentuk oleh bidang kristal itu sendiri sehingga fabriknya tergolong
hypidiomorf. Tekstur khusus yang dimiliki sayatan ini berupa porfiritik,
karena keterdapatan fenokris yang tertanam dalam massa dasar yang berupa
mikro kristalin. Dalam sayatanbatuan ini ditemukan adanya komposisi
12

nephelin dan leucite, yang merupakan kelompok mineral feldspatoid.


Dimana mineral ini merupakan mineral kelompok silikat yang mempunyai
kandungan silika lebih sedikit dibandingkan kandungan alumuniumnya
yang lebih tinggi. Berdasarkan sifat pembentuk batuan tersebut merupakan
mineral yang kaya akan kandungan alkalinnya dibanding silikanya.
Didalam feldspatoid lebih banyak ditemukan kation alkali, seperti sodium,
potasium, dan kalsium,dimana kation alkali tersebut dibutuhkan untuk
menstabilkan feldspatoid. Biasanya mineral ini terbentuk pada batuan beku
peralkalin yang mengandung sedikit silika dan kaya akan alkalin, yang
membuatnya sebagai mineral indikator untuk batuan tidak jenuh silika.

Nama Batuan

1.5

: Syenite ( IUGS, 1976 )

Preparat Nomor TW 039/03 Tri Winarno


Perbesaran

: 4x

Tekstur
Granularitas

: Inequigranular Faneroporfiritik

Kristalisasi

: Hipokristalin

Fabrik

: Hypidiomorf

Tekstur Khusus : Porfiritik


Komposisi Mineral :

Plagioklas

: Colourless, kembaran carlsbad-albit, pecahan dan

belahan tidak ada, tidak mempunyai pleokroisme, relief sedang

13

Kuarsa

terdapat belahan, tidak terdapat pecahan, gelapan bergelombang.


Orthoklas
: colourless, kembaran carlsbad, pecahan tidak ada,

belahan tidak ada, tidak terdapat pleokroisme, relief sedang


Mineral opaq : warna hitam, relief tinggi, tanpa belahan, terdapat

: Colourless, relief sedang, bentuk prismatic, tidak

pecahan, tidak terdapat kembaran, tidak tembus cahaya


Mineral

Sudut

Sudut

Sudut

Kuarsa
Plagioklas
Orthoklas
Gelasan
Mineral opaq

Pandang 1
25 %
50 %
15 %
5%
5%

Pandang 2
25 %
50 %
15 %
5%
5%

Pandang 3
20 %
55 %
15%
5%
5%

Kelimpahan Mineral:
Mineral
Kuarsa
Plagioklas
Orthoklas
Gelasan
Mineral opaq
Gambar

Kelimpahan (%)
25 %
50 %
15 %
5%
5%

MP 1 :

Gambar 1.13 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 1
Preparat TW 039/03 Tri Winarno

MP 2 :

14

Gambar 1.14 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 2
Preparat TW 039/03 Tri Winarno

MP 3 :

Gambar 1.15 Pengamatan PPL (A), XPL (B), dan BAJI KUARSA (B) pada MP 3
Preparat TW 039/03 Tri Winarno

Petrogenesa :
Batuan peraga bernomor peraga TW 039/03 ini memiliki warna
colourless pada kenampakan PPL dan warna hitam keabuan pada
kenampakan XPL. Memiliki tekstur yang hampir seluruh batuan terdiri atas
kristal dan sebagian gelasan atau disebut dengan hipokristalin. Dimana
batuan ini kristalnya juga tidak sama ukurannya atau disebut dengan
inequigranular. Kemudian batas atas kristalnya terlihat tidak begitu jelas.
Komposisi mineralnya terdiri atas mineral plagioklas, kuarsa, orthoklas,
opaq,

dan

gelasan.

Berdasarkan

deskripsi

diatas

maka

dapat

diinterpretasikan apabila batuan ini terdiri atas mineral mineral felsik dan
juga beberapa mineral mafik dimana mineral mineral tersebut mencirikan

15

batuan yang bersifat intermediet, sehingga dapat diketahui apabila batuan


ini merupakan batuan beku intermediet hal ini juga didukung dengan
mineral k-feldspar yang lebih dari 10%. Dan berdasarkan teksturnya yang
holokristalin dapat diinterpretasikan apabila batuan ini terbentuk pada
bagian plutonik atau dibawah permukaan dikarenakan bentuk kristalnya
yang besar. Berdasarkan teksturnya yang inequigranular maka dapat
diinterpretasikan apabila mineral ini terbentuk pada waktu dan suhu yang
tidak bersamaan. Dan berdasarkan teksturnya yang subhedral maka dapat
diinterpretasikan waktu pembentukannya diinterpretasikan tidak cepat.
Nama Batuan : Granodiorit ( IUGS, 1976 )

BAB II
PEMBAHASAN
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari pembekuan magma secara
langsung. Praktikum petrografi acara batuan beku non fragmental dilakukan
selama 2 sesi pertemuan pada tanggal 1 September 2014 dan 8 September 2014.
Pada praktikum ini praktikkan diharapkan dapat mendeskripsikan sayatan batuan
secara mikroskopis dan dapat menentukan nama batuan berdasarkan klasifikasi
yang telah diberikan serta dapat menentukan setting tektonik tempat terbentuknya
batua tersebut. Berikut ini hasil pembahasan dari deskripsi secara mikroskopis
untuk beberapa sayatan yang telah dideskripsi di laboratorium :
2.1

Preparat Nomor M.0.4

16

Berdasarkan pengamatan secara megaskopis terhadap sayatan tipis


batuan beku non fragmental dengan nomor M.0.4 dengan perbesaran 4X,
memiliki tekstur dengan bentuk kristal yang cenderung tidak seragam
sehingga tergolong granularitasnnya berupa inequigranular. Sayatan batuan
yang terbentuk dari sebagian kristal dan gelasan sehingga derajat
kristalisasinya tergolong hipokristalin. Bentuk kristal yang dibatasi oleh
bidang kristal itu sendiri dan sebagian dibatasi oleh bidang kristal
disekitarnya, sehingga fabriknya tergolong Hypidiomorf (subhedral).
Sayatan ini memiliki kenampakan ukuran kristal yang tidak seragam,
dimana mineral mafik yang euhedral (piroksen dan olivin) dijumpai diantara
mineral-mineral plagioklas yang memanjang secara random, sehingga
sayatan batuan ini memiliki tekstur khusus yang tergolong intergranular.
Sayatan batuan M.0.4 memiliki komposisi mineral berupa mineral
pertama dengan sifat optik berupa warna colourless, memiliki kembaran
carlsad-albit, relief sedang dan bentuknya prismatik berdasarkan sifat optik
tersebut mineral ini merupakan mineral plagioklas, dimana kelimpahan
mineral ini dapalam sayatan batuan M.0.4 sebesar 55%. Mineral kedua
memiliki sifat dengan warna kehijauan, pecahan tidak beratuan, relief
tinggi, berdasarkan sifat optik tersebut mineral kedua ini merupakan mineral
Olivin, dengan kelimpahan dalam sayatan ini sebesar 11,67%. Mineral
ketiga memiliki gelapan miring dan belahan 1 arah, berdasarkan ciri tersebut
mineral ini bernama klinopiroksen dengan kelimpahannya sebesar 16,67%.
Mineral keempat merupakan mineral chlorite dengan kelimpahan sebesar
8,33%. Selain kristal sayatan batuan ini terbentuk oleh mineral opaq sebesar
8,33% yang dianggap sebagai inklusi didalam batuan dan tidak dapat
dideteksi kenampakan secara mikroskopis berwana hitam di PPL, XPL
maupun ketika dimasukkan baji kuarsa.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 1,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

17

Seluruh mineral pada keadaan PPL memiliki warna Colourless. Ketika


dalam keadaaan XPL terdapat mineral pertama dengan ciri terdapat belahan
1 arah, pecahan, berwarna kecoklatan, berbentuk prismatik, dan yang paling
utama yaitu ketika diukur sudut gelapannya sebesar 1400 700 = 700,
sehingga tergolong memiliki gelapan miring. Berdasarkan sifat tersebut
maka

mineral

tersebut

merupakan

mineral

Klinopiroksen

yang

kelimpahannya dalam sudut medan pandang pertama ini sebesar 20%.


Mineral kedua memiliki ciri dengan warna kuning kehijauan transparant,
dengan ciri utama pecahan yang sangat tidak beraturan dan tidak memiliki
belahan. Berdasarkan sifat tersebut maka mineral ini merupakan mineral
olivin, dimana kelimpahannya dalam sudut medan pandang pertama ini
sebesar 15%. Mineral ketiga memiliki kembaran carlsbad-albit dengan relief
sedang dan berbentuk prismatik berdasarkan ciri tersebut merupakan
mineral plagioklas dengan kelimpahannya sebesar 60%. Dan mineral opaq
yang memiliki kenampakkan pada saat PPL, XPL, dan ketika dimasukkan
bajikuarsa berwarna hitam, dimana kelimpahnnya sebesar 5%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 2,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda, pada sudut medan pandang kedua ini mineral piroksen
memiliki sudut gelapan sebesar 1200 500 = 700, sehingga mineral ini

18

merupakan

mineral

klinopiroksen

yang

memiliki

gelapan

miring.

Kelimpahan mineral klinopiroksen ini dalam sudut medan pandang kedua


sebesar 200. Mineral kedua yaitu mineral olivin dengan kelimpahannya
didalam sudut medan pandang kedua sebesar 15%. Mineral plasgioklas
kelimpahannya sebesar 55%. Pada medan pandang kedua ini terdapat
mineral opaq yang berupa inklusi dengan kelimpahannya sebesar 10 %.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 3,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda, pada sudut medan pandang ketiga ini mineral piroksen
mineral ini merupakan mineral klinopiroksen yang memiliki gelapan miring.
Kelimpahan mineral klinopiroksen ini dalam sudut medan pandang ketiga
sebesar 100. Mineral kedua yaitu mineral olivin dengan kelimpahannya
didalam sudut medan pandang kedua sebesar 5%. Mineral plasgioklas
kelimpahannya sebesar 50%. Klorit kelimpahannya sebesar 25%. Pada
medan pandang ketiga ini terdapat mineral opaq yang berupa inklusi dengan
kelimpahannya sebesar 10%.
Berdasarkan deskripsi secara mikroskopis terhadap preparat nomor
M.0.4, yang memiliki tekstur dengan tingkat granularitas yang tergolong
inequigranular bertipe faneroporfiritik, diinterpretasikan mineral ini
terbentuk dibagian dalam bumi sebagai batuan plutonik sehingga mineral
masih dapat diamati dan berukuran besar namun karena tumbuhnya tidak
secara bersamaan sehingga memiliki ukuran yang berbeda-beda. Derajat
kristalisasi yang dimana sayatan batuan ini terdiri dari kristal dan gelasan
sehingga tergolong hipokristalin. Pembentukan kristal yang tidak dalam satu
waktu bersamaan maka akan membentuk bentuk bidang kristal yang tidak

19

dibatasi oleh bidang kristal itu sendiri sehingga fabriknya tergolong


hypidiomorf. Terdapat mineral mafik euhedral (piroksen dan olivin) yang
dijumpai dintara mineral-mineral plagioklas yang memanjang random,
sehingga tergolong memiliki tekstur khusus berupa Intergranular. Proses
pendinginan magma penbentukan sayatan batuan ini dimulai dengan
penurunan suhu mineral, dimana yang terbentuk pertama sesuai dengan
Deret Reaction Bowen yaitu olivin terbentuk lebih dahulu pada suhu 12000.
Karena pembentukan olivin lebih awal maka lebih banyak ruang untuk
proses pembentukkan mineral tersebut. Dan dalam waktu yang bersamaan
terbentuk mineral plasgioklas yang kaya akan Ca ke Na. Selanjutnya
dilanjutkan dengan pembentukan piroksen. Berdasarkan hasil deskripsi
mineral selanjutnya yang terbentuk yaitu klinopiroksen yang terbentuk pada
suhu 9000 8000 C. Seiring pembentukan mineral tersebut berlangsung
terdapat inklusi sebagai pengotor dalam batuan tersebut, sehingga didalam
pengamatan petrografis akan terlihat bagian hitam pada saat PPL, XPL,
maupun ketika sudah dimasukkan baji kuarsa. Serta mineral klorit yang
merupakan lapukan dari mineral plagioklas. Batuan ini terbentuk oleh
magma bersifat basa dengan kandungan silika 45-52%.

Gambar 2.1 Klasifikasi Batuan Beku Plutonik Basa (IUGS)

Ket :
Olivin
Klinopiroksen
Plagioklas
Berdasarkan klasifikasi IUGS tahun 1973, dapat diidentifikasi dari
keterdapatan mineral olivin 15%, Klinopiroksen 25%, mineral plagioklas
20

sebesar 60%, maka dapat disimpulkan sayatan batuan preparat M.0.4


bernama Olivin Gabbronorite ( IUGS, 1976 ).
Berdasarkan hasil klasifikasi IUGS, 1973 sayatan batuan nomor
peraga M.0.4 tergolong batuan beku ultra basa - basa. Sifat kimia batuan ini
adalah basa dimana magma pembentuk batuan ini diinterpretasikan bersifat
basa yang terbentuk dari proses

partial melting pada daerah lempeng

samudera yakni pada zona MOR (Mid Oceanic Redge). berdasarkan 7 busur
magmatisme, zona ini adalah zona dimana lempeng samudera dan lempeng
samudera saling menjauh (divergen). Hal ini dikontrol oleh arus konveksi
yang terjadi pada mantel bumi hingga magma keluar dan membentuk
pegunungan lantai samudera. Lempeng samudera mengandung banyak
mineral Fe dan Mg sehingga batuan yang dihasilkan di zona ini bersifat
basa-ultra basa. Selain itu dapat juga terbentuk pada zona subduksi dengan
lebih dominan penujaman oleh lempeng samudera.

Gambar 2.2 Busur Magmatisme Preparat M.0.4

2.2

Preparat Nomor R.13.22


Berdasarkan pengamatan secara megaskopis terhadap sayatan tipis
batuan beku non fragmental dengan nomor R.13.22 dengan perbesaran 4X,
memiliki tekstur dengan bentuk kristal yang cenderung tidak seragam
sehingga tergolong granularitasnnya berupa inequigranular. Sayatan batuan
yang terbentuk dari seluruhnya kristal sehingga derajat kristalisasinya
tergolong holokristalin. Bentuk kristal yang dibatasi oleh bidang kristal itu
sendiri dan sebagian dibatasi oleh bidang kristal disekitarnya, sehingga
fabriknya tergolong Hypidiomorf (subhedral). Sayatan ini memiliki

21

kenampakan ukuran kristal yang tidak seragam, dimana mineral yang


berukuran kasar (fanerik) sebagai fenokris yang dikelilingi oleh kristal yang
lebih halus sebagai massa dasar/ matriks halus kristalin sehingga sayatan
batuan ini memiliki tekstur khusus yang tergolong porfiritik.
Sayatan batuan R.13.22 memiliki komposisi mineral berupa mineral
pertama dengan sifat optik berupa warna colourless, relief rendah, dan
memiliki kembaran carlsbad-albit berdasarkan sifat optik tersebut mineral
ini merupakan mineral plagioklas, dimana kelimpahan mineral ini dapalam
sayatan batuan R.13.22 sebesar 56,67%. Mineral kedua memiliki sifat
dengan warna hijau kekuningan, relief sedang-tinggi, pecahan tidak
beraturan, berdasarkan sifat optik tersebut mineral kedua ini merupakan
mineral olivin, dengan kelimpahan dalam sayatan ini sebesar 3%. Mineral
ketiga memiliki ciri warna colourless, memiliki gelapan bergelombang, dan
relief rendah, berdasarkan ciri tersebut mineral ini bernama kuarsa, dimana
kelimpahannya pada sayatan ini sebesar 2%. Mineral keempat memiliki ciri
warna colourless, terdapat pecahan, belahan, relief rendah, serta gelapan
miring, berdasarkan ciri tersebut mineral ini bernama klinopiroksen, dimana
kelimpahannya dalam sayatan ini sebesar 10%. Mineral keempat memiliki
ciri relief tinggi, pleokroisme tinggi, belahan 1 atau 2 arah berdasarkan ciri
tersebut mineral tersebut bernama hornblende, dengan kelimpahannya
sebesar 15%. Mineral kelima memiliki ciri relief tinggi

Selain kristal

sayatan batuan ini terbentuk oleh mineral opaq sebesar 5% yang dianggap
sebagai inklusi didalam batuan dan tidak dapat dideteksi kenampakan secara
mikroskopis berwana hitam di PPL, XPL maupun ketika dimasukkan baji
kuarsa.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 1,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

22

Seluruh mineral pada keadaan PPL memiliki warna Colourless. Ketika


dalam keadaan XPL terdapat perbedaan kenampakan, sitemukan mineral
pertama dengan ciri warna colourless, relief rendah, dan memiliki kembaran
carlsbad-albit berdasarkan sifat optik tersebut mineral ini merupakan
mineral plagioklas, dimana kelimpahan mineral ini dalam medan pandang
pertama sebesar 50%. Mineral kedua memiliki sifat dengan warna hijau
kekuningan, relief sedang-tinggi, pecahan tidak beraturan, berdasarkan sifat
optik tersebut mineral kedua ini merupakan mineral olivin, dengan
kelimpahan dalam medan pandang pertama sebesar 10%. Mineral ketiga
memiliki ciri warna colourless, memiliki gelapan bergelombang, dan relief
rendah, berdasarkan ciri tersebut mineral ini bernama kuarsa, dimana
kelimpahannya pada sudut medan pandang pertama sebesar 5%. Mineral
keempat memiliki ciri warna colourless, terdapat pecahan, belahan, relief
rendah, serta gelapan miring, berdasarkan ciri tersebut mineral ini bernama
klinopiroksen, dimana kelimpahannya dalam medan pandang pertama
sebesar 20%. Mineral keempat memiliki ciri relief tinggi, pleokroisme
tinggi, belahan 1 atau 2 arah berdasarkan ciri tersebut mineral tersebut
bernama hornblende, dengan kelimpahannya dalam medan pandang pertama
sebesar 10%. Mineral kelima memiliki ciri relief tinggi

Selain kristal

sayatan batuan ini terbentuk oleh mineral opaq sebesar 5%.


Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 2,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

23

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda untuk setiap mineral, pada sudut medan pandang kedua ini
mineral plagioklas kelimpahannya sebesar 60%. Kelimpahan mineral
klinopiroksen ini dalam sudut medan pandang kedua sebesar 100. Mineral
hornblende dengan kelimpahannya didalam sudut medan pandang kedua
sebesar 5%. Mineral orthopiroksen kelimpahannya sebesar 20%. Pada
medan pandang kedua ini terdapat mineral opaq yang berupa inklusi dengan
kelimpahannya sebesar 5%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 3,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda, pada sudut medan pandang ketiga ini mineral hornblende
kelimpahannya sebesar 25%, plagioklas kelimpahannya sebesar 60%,
orthopiroksen kelimpahannya sebesar 10% dan mineralopaq kelimpahnnya
sebesar 5%.
Berdasarkan deskripsi secara mikroskopis terhadap preparat nomor
R.13.22 yang memiliki tekstur dengan tingkat granularitas yang tergolong
inequigranular bertipe porfiritik, diinterpretasikan mineral ini terbentuk
dibagian dalam bumi sebagai batuan plutonik sehingga mineral masih dapat
diamati dan berukuran besar namun karena tumbuhnya tidak secara
bersamaan sehingga memiliki ukuran yang berbeda-beda. Derajat

24

kristalisasi yang dimana sayatan batuan ini terdiri dari seluruhnya kristal
sehingga tergolong holokristalin. Pembentukan kristal yang tidak dalam satu
waktu bersamaan maka akan membentuk bentuk bidang kristal yang tidak
dibatasi oleh bidang kristal itu sendiri sehingga fabriknya tergolong
hypidiomorf serta mempengaruhi ukuran kristalnya yang tidak seragam
terbentuk fenokris yang dikelilingi oleh mineral yang berukuran lebih halus/
afanitik dan massa dasar sehingga tergolong memiliki tekstur khusus berupa
porfiritik. Proses pendinginan magma penbentukan sayatan batuan ini
dimulai dengan penurunan suhu mineral, dimana yang terbentuk pertama
sesuai dengan Deret Reaction Bowen yaitu olivin terbentuk lebih dahulu
pada suhu 12000. Karena pembentukan olivin lebih awal maka lebih banyak
ruang untuk proses pembentukkan mineral tersebut, selanjutnya dilanjutkan
dengan pembentukan piroksen. Berdasarkan hasil deskripsi mineral
selanjutnya yang terbentuk yaitu klinopiroksen yang terbentuk pada suhu
9000 8000 C. Seiring pembentukan mineral tersebut berlangsung terdapat
inklusi sebagai pengotor dalam batuan tersebut, sehingga didalam
pengamatan petrografis akan terlihat bagian hitam pada saat PPL, XPL,
maupun ketika sudah dimasukkan baji kuarsa. Batuan ini terbentuk oleh
magma bersifat basa dengan kandungan silika 45-52%.

Gambar 2.3 Klasifikasi IUGS untuk Batuan Plutonik Basa

Ket :
Plagioklas
Klinopiroksen
Orthopiroksen
Berdasarkan klasifikasi IUGS tahun 1973, dapat diidentifikasi dari
keterdapatan

mineral

plagioklas

60%,

Klinopiroksen

10%,

dan

25

Orthopiroksen 10% maka dapat disimpulkan sayatan batuan preparat


R.13.22 bernama Gabbronorite.
Berdasarkan hasil klasifikasi IUGS, 1973 sayatan batuan nomor
peraga M.12.9 tergolong batuan beku ultra basa - basa. Sifat kimia batuan
ini adalah basa dimana magma pembentuk batuan ini diinterpretasikan
bersifat basa yang terbentuk dari proses

partial melting pada daerah

lempeng samudera yakni pada zona MOR (Mid Oceanic Redge).


berdasarkan 7 busur magmatisme, zona ini adalah zona dimana lempeng
samudera dan lempeng samudera saling menjauh (divergen). Hal ini
dikontrol oleh arus konveksi yang terjadi pada mantel bumi hingga magma
keluar dan membentuk pegunungan lantai samudera. Lempeng samudera
mengandung banyak mineral Fe dan Mg sehingga batuan yang dihasilkan di
zona ini bersifat basa-ultra basa.

Gambar 2.4 Busur Magmatisme Preparat M.0.4

2.3

Preparat Nomor M.12.9


Berdasarkan pengamatan secara megaskopis terhadap sayatan tipis
batuan beku non fragmental dengan nomor M.12.9 dengan perbesaran 4X,
memiliki tekstur dengan bentuk kristal yang cenderung tidak seragam
sehingga tergolong granularitasnnya berupa inequigranular. Sayatan batuan
yang terbentuk dari seluruhnya kristal sehingga derajat kristalisasinya
tergolong holokristalin. Bentuk kristal yang dibatasi oleh bidang kristal itu
sendiri dan sebagian dibatasi oleh bidang kristal disekitarnya, sehingga
fabriknya tergolong Hypidiomorf (subhedral). Sayatan ini memiliki
kenampakan ukuran kristal yang tidak seragam, dimana mineral yang

26

berukuran kasar (fanerik) sebagai fenokris yang dikelilingi oleh kristal yang
lebih halus sebagai massa dasar/ matriks halus kristalin sehingga sayatan
batuan ini memiliki tekstur khusus yang tergolong porfiritik.
Sayatan batuan M.12.9 memiliki komposisi mineral berupa mineral
pertama dengan sifat optik berupa warna kekuningan, relief sedang-tinggi,
dan memiliki pecahan yang sangat tidak beraturan (concoidal) berdasarkan
sifat optik tersebut mineral ini merupakan mineral olivin, dimana
kelimpahan mineral ini dapalam sayatan batuan M.12.9 sebesar 44%.
Mineral kedua memiliki sifat dengan warna colourless, terdapat pecahan,
belahan 1 arah, gelapan miring dan relief rendah, berdasarkan sifat optik
tersebut mineral kedua ini merupakan mineral Klinopiroksen, dengan
kelimpahan dalam sayatan ini sebesar 54%. Selain kristal sayatan batuan ini
terbentuk oleh mineral opaq sebesar 2% yang dianggap sebagai inklusi
didalam batuan dan tidak dapat dideteksi kenampakan secara mikroskopis
berwana hitam di PPL, XPL maupun ketika dimasukkan baji kuarsa.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 1,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Seluruh mineral pada keadaan PPL memiliki warna Colourless. Ketika


dalam keadaaan XPL terdapat mineral pertama dengan ciri terdapat belahan
1 arah, pecahan, berwarna kecoklatan, berbentuk prismatik, dan yang paling
utama yaitu ketika diukur sudut gelapannya sebesar 1500 800 = 700,
sehingga tergolong memiliki gelapan miring. Berdasarkan sifat tersebut
maka

mineral

tersebut

merupakan

mineral

Klinopiroksen

yang

kelimpahannya dalam sudut medan pandang pertama ini sebesar 50%.


Mineral kedua memiliki ciri dengan warna kuning kehijauan trasparant,
dengan ciri utama pecahan yang sangat tidak beraturan dan tidak memiliki

27

belahan. Berdasarkan sifat tersebut maka mineral ini merupakan mineral


olivin, dimana kelimpahannya dalam sudut medan pandang pertama ini
sebesar 50%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 2,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda, pada sudut medan pandang kedua ini mineral piroksen
memiliki sudut gelapan sebesar 265 0 1900 = 750, sehingga mineral ini
merupakan

mineral

klinopiroksen

yang

memiliki

gelapan

miring.

Kelimpahan mineral klinopiroksen ini dalam sudut medan pandang pertama


sebesar 370. Mineral kedua yaitu mineral olivin dengan kelimpahannya
didalam sudut medan pandang kedua sebesar 60%. Pada medan pandang
kedua ini terdapat mineral opaq yang berupa inklusi dengan kelimpahannya
sebesar 3%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 3,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda, pada sudut medan pandang ketiga ini mineral piroksen
memiliki sudut gelapan sebesar 270 0 3400 = 700, sehingga mineral ini
merupakan

mineral

klinopiroksen

yang

memiliki

gelapan

miring.

Kelimpahan mineral klinopiroksen ini dalam sudut medan pandang pertama

28

sebesar 750. Mineral kedua yaitu mineral olivin dengan kelimpahannya


didalam sudut medan pandang kedua sebesar 22%. Pada medan pandang
ketiga ini terdapat mineral opaq yang berupa inklusi dengan kelimpahannya
sebesar 3%.
Berdasarkan deskripsi secara mikroskopis terhadap preparat nomor
M.12.9 yang memiliki tekstur dengan tingkat granularitas yang tergolong
inequigranular bertipe faneroporfiritik, diinterpretasikan mineral ini
terbentuk dibagian dalam bumi sebagai batuan plutonik sehingga mineral
masih dapat diamati dan berukuran besar namun karena tumbuhnya tidak
secara bersamaan sehingga memiliki ukuran yang berbeda-beda. Derajat
kristalisasi yang dimana sayatan batuan ini terdiri dari seluruhnya kristal
sehingga tergolong holokristalin. Pembentukan kristal yang tidak dalam satu
waktu bersamaan maka akan membentuk bentuk bidang kristal yang tidak
dibatasi oleh bidang kristal itu sendiri sehingga fabriknya tergolong
hypidiomorf serta mempengaruhi ukuran kristalnya yang tidak seragam
terbentuk fenokris yang dikelilingi oleh mineral yang berukuran lebih halus/
afanitik dan massa dasar sehingga tergolong memiliki tekstur khusus berupa
porfiritik. Proses pendinginan magma penbentukan sayatan batuan ini
dimulai dengan penurunan suhu mineral, dimana yang terbentuk pertama
sesuai dengan Deret Reaction Bowen yaitu olivin terbentuk lebih dahulu
pada suhu 12000. Karena pembentukan olivin lebih awal maka lebih banyak
ruang untuk proses pembentukkan mineral tersebut, selanjutnya dilanjutkan
dengan pembentukan piroksen. Berdasarkan hasil deskripsi mineral
selanjutnya yang terbentuk yaitu klinopiroksen yang terbentuk pada suhu
9000 8000 C. Seiring pembentukan mineral tersebut berlangsung terdapat
inklusi sebagai pengotor dalam batuan tersebut, sehingga didalam
pengamatan petrografis akan terlihat bagian hitam pada saat PPL, XPL,
maupun ketika sudah dimasukkan baji kuarsa. Batuan ini terbentuk oleh
magma bersifat basa dengan kandungan silika 45-52%.

29

Gambar 2.5 Klasifikasi IUGS untuk Batuan Ultramafic

Ket :
Olivin
Klinopiroksen
Berdasarkan klasifikasi IUGS tahun 1973, dapat diidentifikasi dari
keterdapatan mineral olivin 45%, Klinopiroksen 54%, maka dapat
disimpulkan sayatan batuan preparat M.12.9 bernama Lherzolit.
Berdasarkan hasil klasifikasi IUGS, 1973 sayatan batuan nomor
peraga M.12.9 tergolong batuan beku ultra basa - basa. Sifat kimia batuan
ini adalah basa dimana magma pembentuk batuan ini diinterpretasikan
bersifat basa yang terbentuk dari proses

partial melting pada daerah

lempeng samudera yakni pada zona MOR (Mid Oceanic Redge).


berdasarkan 7 busur magmatisme, zona ini adalah zona dimana lempeng
samudera dan lempeng samudera saling menjauh (divergen). Hal ini
dikontrol oleh arus konveksi yang terjadi pada mantel bumi hingga magma
keluar dan membentuk pegunungan lantai samudera. Lempeng samudera
mengandung banyak mineral Fe dan Mg sehingga batuan yang dihasilkan di
zona ini bersifat basa-ultra basa.

30

Gambar 2.6 Busur Magmatisme Preparat M.12.9

3.4

Preparat Nomor C
Berdasarkan pengamatan secara megaskopis terhadap sayatan tipis
batuan beku non fragmental dengan nomor C dengan perbesaran 4X,
memiliki tekstur dengan bentuk kristal yang cenderung tidak seragam
sehingga tergolong granularitasnnya berupa inequigranular dengan tipe
faneroporfiritik. Sayatan batuan yang terbentuk dari seluruhnya kristal
sehingga derajat kristalisasinya tergolong holokristalin. Bentuk kristal yang
dibatasi oleh bidang kristal itu sendiri dan sebagian dibatasi oleh bidang
kristal disekitarnya, sehingga fabriknya tergolong Hypidiomorf (subhedral).
Sayatan ini memiliki kenampakan ukuran kristal yang tidak seragam,
dimana mineral yang berukuran kasar (fanerik) sebagai fenokris yang
dikelilingi oleh kristal yang lebih halus sebagai massa dasar/ matriks halus
kristalin sehingga sayatan batuan ini memiliki tekstur khusus yang tergolong
porfiritik.
Sayatan batuan C memiliki komposisi mineral berupa mineral
pertama dengan sifat optik berupa warna colourless atau putih kekuningan,
belahan berbentuk prismatik dan terdapat pecahan berdasarkan sifat optik
tersebut mineral ini merupakan mineral Nepheline, dimana kelimpahan
mineral ini dapalam sayatan batuan C sebesar 35%. Mineral kedua memiliki
sifat trnsparant-translucent, tidak terdapat belahan, dan pecahanya
concoidal, berdasarkan sifat optik tersebut mineral kedua ini merupakan
mineral Leucite, dengan kelimpahan dalam sayatan ini sebesar 35%.
Mineral ketiga memiliki ciri berwarna colourless, memiliki kembaran

31

carlsbad-albit, relief sedang dan berbentuk prismatik, berdasarkan sifat


tersebut mineral ini bernama plasgioklas dengan kelimpahannya didalam
sayatan ini sebesar 25%. Selain kristal sayatan batuan ini terbentuk oleh
mineral opaq sebesar 5% yang dianggap sebagai inklusi didalam batuan dan
tidak dapat dideteksi kenampakan secara mikroskopis berwana hitam di
PPL, XPL maupun ketika dimasukkan baji kuarsa.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 1,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Seluruh mineral pada keadaan PPL memiliki warna Colourless. Ketika


dalam keadaaan XPL terdapat mineral pertama dengan ciri seperti
hornblende hanya saja tidak terdapat pleokroisme, berdasarkan sifat tersebut
maka mineral tersebut merupakan mineral Nepheline yang kelimpahannya
dalam sudut medan pandang pertama ini sebesar 60%. Mineral kedua
memiliki ciri dengan warna transparant, tidak terdapat belahan dan memiliki
pecahan concoidal, berdasarkan sifat tersebut maka mineral ini merupakan
mineral Leucite, dimana kelimpahannya dalam sudut medan pandang
pertama ini sebesar 15%. Selanjutnya terdapat mineral plasgioklas dengan
kelimpahannya sebesar 20% pada sudut medan pandang pertama ini, dan
terdapat mineral opaq sebesar 5%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 2,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

32

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda, pada sudut medan pandang kedua mineral Leucite
kelimpahannya sebesar 60%, mineral plagioklas sebesar 30%, mineral
Nepheline sebesar 5%, dan mineral opaq sebesar 5%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 3,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda, pada sudut medan pandang ketiga ini mineral plagioklas
kelimpahannya sebesar 25%, mineral nepheline sebesar 40%, mineral
leucite sebesar 30%, dan mineral opaq sebesar 5%.
Berdasarkan hasil deskripsi secara mikroskopis terhadap sayatan
batuan nomor C, pembentukan kristalnya dalam waktu yang berbeda beda
sehingga besar kristalnya tidak seragam membentuk granularitas yang
tergolong faneroporfiritik. Sayatan batuan ini terdapat fenokris yang
dikelilingi oleh massa dasar yang berupa kristal juga namun berbeda
ukurannya. Karena batuan ini terbentuk oleh seluruhnya kristal maka derajat
kristalisasinya tergolong holokristalin. Bentuk bidang kristal yang tidak
dibentuk oleh bidang kristal itu sendiri sehingga fabriknya tergolong
hypidiomorf. Tekstur khusus yang dimiliki sayatan ini berupa porfiritik,
karena keterdapatan fenokris yang tertanam dalam massa dasar yang berupa
mikro kristalin. Dalam sayatanbatuan ini ditemukan adanya komposisi
nephelin dan leucite, yang merupakan kelompok mineral feldspatoid.
Dimana mineral ini merupakan mineral kelompok silikat yang mempunyai
kandungan silika lebih sedikit dibandingkan kandungan alumuniumnya
yang lebih tinggi. Berdasarkan sifat pembentuk batuan tersebut merupakan
mineral yang kaya akan kandungan alkalinnya dibanding silikanya.

33

Didalam feldspatoid lebih banyak ditemukan kation alkali, seperti sodium,


potasium, dan kalsium,dimana kation alkali tersebut dibutuhkan untuk
menstabilkan feldspatoid. Biasanya mineral ini terbentuk pada batuan beku
peralkalin yang mengandung sedikit silika dan kaya akan alkalin, yang
membuatnya sebagai mineral indikator untuk batuan tidak jenuh silika.

Gambar 2.7 Klasifikasi IUGS untuk Batuan Mafic

Ket :
Alkali feldspar (nepheline + leusite)
Plagioklas
Berdasarkan klasifikasi IUGS tahun 1973, dapat diidentifikasi dari
keterdapatan mineral nepheline 37%%, Leucite 36%, dan mineral plagioklas
sebesar 27% maka dapat disimpulkan sayatan batuan preparat C bernama
Syenite.
Berdasarkan hasil klasifikasi IUGS, 1973 sayatan batuan nomor
peraga C tergolong beku basa. Sifat kimia batuan ini adalah basa dimana
magma pembentuk batuan ini diinterpretasikan bersifat basa yang terbentuk
dari proses partial melting pada daerah lempeng samudera yakni pada zona
MOR (Mid Oceanic Redge). berdasarkan 7 busur magmatisme, zona ini
adalah zona dimana lempeng samudera dan lempeng samudera saling
menjauh (divergen). Hal ini dikontrol oleh arus konveksi yang terjadi pada
mantel bumi hingga magma keluar dan membentuk pegunungan lantai
samudera. Lempeng samudera mengandung banyak mineral Fe dan Mg
sehingga batuan yang dihasilkan di zona ini bersifat basa-ultra basa. Dan

34

dapat terbentuk pada zona subduksi dimana lebih dominan penujaman oleh
lempeng samudera.

Gambar 2.8 Busur Magmatisme Preparat C

3.5

Preparat Nomor TW 039/03 Tri Winarno


Berdasarkan pengamatan secara megaskopis terhadap sayatan tipis
batuan beku non fragmental dengan nomor TW 039/03 dengan perbesaran
4X, memiliki tekstur dengan bentuk kristal yang cenderung tidak seragam
sehingga tergolong granularitasnnya berupa inequigranular dengan tipe
faneroporfiritik. Sayatan batuan yang terbentuk dari seluruhnya kristal
sehingga derajat kristalisasinya tergolong holokristalin. Bentuk kristal yang
dibatasi oleh bidang kristal itu sendiri dan sebagian dibatasi oleh bidang
kristal disekitarnya, sehingga fabriknya tergolong Hypidiomorf (subhedral).
Sayatan ini memiliki kenampakan ukuran kristal yang tidak seragam,
dimana mineral yang berukuran kasar (fanerik) sebagai fenokris yang
dikelilingi oleh kristal yang lebih halus sebagai massa dasar/ matriks halus
kristalin sehingga sayatan batuan ini memiliki tekstur khusus yang tergolong
porfiritik.
Sayatan batuan TW 039/03 memiliki komposisi mineral berupa
mineral pertama dengan sifat optik berupa warna Colourless, kembaran
carlsbad-albit, pecahan dan belahan tidak ada, tidak mempunyai
pleokroisme, relief sedang berdasarkan sifat optik tersebut mineral ini
merupakan mineral Plagioklas, dimana kelimpahan mineral ini daalam
sayatan batuan TW 039/03 sebesar 50%. Mineral kedua memiliki sifat
Colourless, relief sedang, bentuk prismatic, tidak terdapat belahan, tidak

35

terdapat pecahan, gelapan bergelombang, berdasarkan sifat optik tersebut


mineral kedua ini merupakan mineral Kuarsa, dengan kelimpahan dalam
sayatan ini sebesar 25%. Mineral ketiga memiliki ciri colourless, kembaran
carlsbad, pecahan tidak ada, belahan tidak ada, tidak terdapat pleokroisme,
relief sedang, berdasarkan sifat tersebut mineral ini bernama Prthoklas,
dengan kelimpahannya didalam sayatan ini sebesar 15%. Selain kristal
sayatan batuan ini terbentuk oleh mineral opaq sebesar 5% yang dianggap
sebagai inklusi didalam batuan dan tidak dapat dideteksi kenampakan secara
mikroskopis berwana hitam di PPL, XPL maupun ketika dimasukkan baji
kuarsa. Serta terdapan komposisi elasan sebesar 5%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 1,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Seluruh mineral pada keadaan PPL memiliki warna Colourless. Ketika


dalam keadaaan XPL terdapat mineral pertama berupa kuarsa dengan
kelimpahannya sebesar 25%, plagioklas sebesar 50%, orthoklas sebesar
15%, gelasan sebesar 5% dan mineralopaq sebesar 5%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 2,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda, pada sudut medan pandang kedua mineral kuarsa

36

kelimpahannya sebesar 25%, mineral plagioklas sebesar 50%, mineral


orthoklas sebesar 15%, gelasan sebesar 5% dan mineral opaq sebesar 5%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan sudut medan pandang 3,
mineral yang dapat dilihat yaitu sebagai berikut :

Ciri yang sudah disebutkan sebelumnya sama hanya saja kelimpahannya


yang berbeda, pada sudut medan pandang ketiga ini mineral kuarsa
kelimpahannya sebesar 20%, mineral plagioklas sebesar 55%, orthoklas
sebesar 15%, gelasan sebesar 5%, dan mineral opaq sebesar 5%.

Gambar. Diagram IUGS

Dilihat dari tabel IUGS tahun 1973, dapat diidentifikasi dari


keterdapatan mineral kuarsa 25%, plagioklas 50%, dan Orthoklas 15% maka
dapat disimpulkan batuan beku non fragmental pada preparat TW 039/03
bernama Granodiorite.
Batuan peraga bernomor peraga TW 039/03 ini memiliki warna
colourless pada kenampakan PPL dan warna hitam keabuan pada

37

kenampakan XPL. Memiliki tekstur yang hampir seluruh batuan terdiri atas
kristal dan sebagian gelasan atau disebut dengan hipokristalin. Dimana
batuan ini kristalnya juga tidak sama ukurannya atau disebut dengan
inequigranular. Kemudian batas atas kristalnya terlihat tidak begitu jelas.
Komposisi mineralnya terdiri atas mineral plagioklas, kuarsa, orthoklas,
opaq,

dan

gelasan.

Berdasarkan

deskripsi

diatas

maka

dapat

diinterpretasikan apabila batuan ini terdiri atas mineral mineral felsik dan
juga beberapa mineral mafik dimana mineral mineral tersebut mencirikan
batuan yang bersifat intermediet, sehingga dapat diketahui apabila batuan
ini merupakan batuan beku intermediet hal ini juga didukung dengan
mineral k-feldspar yang lebih dari 10%. Dan berdasarkan teksturnya yang
holokristalin dapat diinterpretasikan apabila batuan ini terbentuk pada
bagian plutonik atau dibawah permukaan dikarenakan bentuk kristalnya
yang besar. Berdasarkan teksturnya yang inequigranular maka dapat
diinterpretasikan apabila mineral ini terbentuk pada waktu dan suhu yang
tidak bersamaan. Dan berdasarkan teksturnya yang subhedral maka dapat
diinterpretasikan waktu pembentukannya diinterpretasikan tidak cepat.

Gambar. 1 Busur magmatisme

Berdasarkan sifat magmanya yang intermediet dan berasal dari


magma basa yang naik ke atas dan bercampur dengan batuan samping hingga
menuju permukaan. Magma intermediet terbentuk di zona subduksi dimana
zona ini merupakan zona yang terdapat pergerakan antar lempeng yang mana
terjadi tabrakan antara lempeng benua dengan lempeng samudra sehingga
membentuk intrusi dan pembentukan batuan ini. Pada magma yang bersifat

38

intermediet ini awal mulanya terbentuk diawali pada magma basa yang ada
pada mantel itu yang ketika naik ke atas lalu mengalami proses diferensiasi
magma, pada saat magma tersebut mulai naik, pada ketinggian suhu yang
berbeda membentuk mineral yang mengambil sifat basa yang kemudian lama
kelamaan semakin magma itu naik ke atas maka sifat magmanya yang basa
akan menjadi berubah menjadi intermediet sampai asam. Hal tersebut tidak
hanya dipengaruhi oleh factor itu saja akan tetapi dapat dikarenakan oleh
adanya proses asimilisi atau pencampuran antar batuan samping sehingga
menyebabkan pencampuran magma basa yang kemudian bercampur dengan
batuan samping yang bersifat asam, sehingga sifat magma yang tadinya basa
menjadi intermediet sampai asam. Sehingga dapat diketahui apabila dapat
diketahui sifat magma dan zona pembentukannya berada pada zona
Contingental Rift ataupun zona Contingental Interplate, zona subduksi,
contingental intraplate, dan contingental rift.

39

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Berdasarkan deskripsi pengamatan sayatan dengan mikroskop
dari warna sampai dengan bentuk kristal kemudian dilanjutkan
deskripsi mineralnya, lalu yang terakhir genesa pembentukannya
batuan ini menurut klasifikasi batuan beku basa merupakan
3.1.2

batuan bernama Olivin Gabbronorite.


Berdasarkan deskripsi pengamatan sayatan dengan mikroskop
dari warna sampai dengan bentuk kristal kemudian dilanjutkan
deskripsi mineralnya, lalu yang terakhir genesa pembentukannya
batuan ini menurut klasifikasi batuan beku basa merupakan

3.1.3

batuan bernama Gabbronorite.


Berdasarkan deskripsi pengamatan sayatan dengan mikroskop
dari warna sampai dengan bentuk kristal kemudian dilanjutkan
deskripsi mineralnya, lalu yang terakhir genesa pembentukannya
batuan ini menurut klasifikasi batuan beku basa merupakan
batuan bernama Lherzolite.

40

3.1.4

Berdasarkan deskripsi pengamatan sayatan dengan mikroskop


dari warna sampai dengan bentuk kristal kemudian dilanjutkan
deskripsi mineralnya, lalu yang terakhir genesa pembentukannya
batuan ini menurut klasifikasi batuan beku basa merupakan

3.1.5

batuan bernama Syenite.


Berdasarkan deskripsi pengamatan sayatan dengan mikroskop
dari warna sampai dengan bentuk kristal kemudian dilanjutkan
deskripsi mineralnya, lalu yang terakhir genesa pembentukannya
batuan ini menurut klasifikasi batuan beku basa merupakan
batuan bernama Granodiorite.

3.2 Saran
3.2.1 Praktikkan sebaiknya diberi waktu lebih banyak dalam pengamatan
sehingga menghindari kesalahan dlam melakukan pendeskripsian

41

DAFTAR PUSTAKA
Endarto, Danang.2005. Pengantar Geologi Dasar. Surakarta: Universitas Sebelas
Maret
Tim Asisten Praktikum Petrografi.2012.Buku Panduan Praktikum Petrografi.
Semarang: Universitas Diponegoro

42