Anda di halaman 1dari 6

Potensiometri dan Konduktometri

Yusri Ratna Puspitasari (G44110060), Mohamad Rafi


Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Pertanian Bogor Bogor, Indonesia

Abstrak
Penentuan konsentrasi larutan standar NaOH dan Ka asam asetat dengan
menggunakan metode analisis potensiometri dan konduktometri. Hasil
pengukuran dibandingkan dengan metode spektrofotometri. Pada metode analisis
potensiometri serta konduktometri digunakan standardisasi NaOH yang nantinya
akan dititrasi dengan asam kuat maupun asam lemah. Sehingga diperoleh data
konsentrasi asam kuat (HCl) sebenarnya serta asam lemah (CH3COOH)
sebenrnya yang nantinya juga dapat dilihat %RSD dan konstanta ionisasi.
Berdasarkan teori konsentrasi larutan serum yang diperoleh pada metode
potensiometri 4,28 ppm dan 4,08 ppm pada metode spektrofotometri.

Pendahuluan
Potensiometri adalah satu cara elektrokimia untuk analisa ion secara
kuantitatif berdasarkan pengukuran potensial dari elektroda yang peka terhadap
ion yang bersangkutan. Metode ini digunakan untuk menentukan konsentrasi
suatu ion, pH larutan, dan titik akhir titrasi serta digunakan sebagai salah satu
metode untuk mengukur konsentrasi suatu larutan, yang dijelaskan melalui
persamaan Nerst. Elemen yang digunakan dalam potensiometri adalah elektroda
pembanding, elektroda Indikator, jembatan garam, dan larutan yang dianalisis.
Elektroda pembanding dibagi menjadi dua ,yaitu elektroda pembanding primer
dan elektroda pembanding skunder (elektroda kalomel dan elektroda perak).
Elektroda Indikator dibagi menjadi dua yaitu elektroda Logam dan elektroda
membran. Elektroda logam terdiri dari tiga macam, antara lain elektroda jenis
pertama, kedua, dan ketiga. Sedangkan elektroda membran dibagi menjadi
elektroda membran kaca, elektroda membran padat, elektroda membran cair, dan
elektroda membran gas. Salah satu teknik saat ini yang digunakan untuk analisis
tanah adalah potensiometri yang berbasis elektroda selektif ion yaitu suatu
elektroda yang berfungsi sebagai sensor yang bekerja secara potensiometri dan
akan memberikan respon berupa potensial listrik terhadap ion tertentu secara
selektif. Pengukuran menggunakan elektroda selektif ion mempunyai kelebihan
antara lain relatif murah, mudah digunakan dan memiliki jangkauan aplikasi yang
sangat luas, selektif dan memiliki waktu respons cepat (Restu Tri Utami.2013)

Titrasi potensiometri adalah suatu metode analisis volumetri dengan


pengukuran potensial sel (dengan sebuah elektroda ESI dan sebuah elektroda
pembanding). Secara skematis analisis ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut:

Gambar 1 Skema Metode Titrasi Potensiometri


Pada metode titrasi potensiometri titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan
potensial yang mencolok. Sistem ini memperoleh ketelitian yang lebih baik
daripada titik ekivalen yang ditandai dengan perubahan warna maupun adanya
endapan (Suyanta, Susanto I.R, Buchari, Indra N.2004)
Titrasi konduktometri merupakan metode analisa kuantitatif yang
didasarkan pada perbedaan harga konduktansi masing-masing ion. Dalam
konduktometri diperlukan sel konduktometrinya, yaitu alat mengukur tahanan sel.
Namun titrasi ini kurang bermanfaat untuk larutan dengan konsentrasi ionik yang
terlalu tinggi. Biasanya konduktometri merupakan prosesur titrasi, sedangkan
konduktometri bukanlah prosedur titrasi. Metode konduktasi dapat digunakan
untuk mengikuti reaksi titrasi jika perbedaan antara konduktasi cukup besar
sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui. Sehingga
selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus tetap, tetapi
pengenceran akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear dengan
konsentrasi (Khopkar. 2008).

Tujuan
Mengetahui ketelitian hasil analisis menggunakan metode analisis secara
potensiometri dan konduktometri dalam menentukan konsentrasi NaOH dan Ka
asam asetat.

Metode

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan yaitu potensiometer, elektrode kaca kombinasi,
pengaduk magnet, gelas piala, buret 50 ml, pipet volumetrik 10 ml dan 25 ml, pH
meter, konduktometer, gelas Ukur 100 ml. Bahan yang digunakan adalah NaOH
0,1 N, HCl 0,1 N, CH3COOH 0,1 N, H2SO4 0,1 N, dan asam oksalat 0,1 N, asam
asetat 0,1 N, bufer standar 4, 7, 10 atau 9,2 , Larutan KCl standar.
Prosedur
Potensiometri
Kalibrasi pH meter
pH meter dikalibrasi menggunakan 2 nilai pH. Ukur nilai potensial dari
bufer yang disediakan.
Standardisasi NaOH
Asam oksalat 0,1 N dipipet lalu dimasukkan ke dalam gelas piala 200 ml.
Larutan tersebut kemudian diencerkan sampai 100 ml dengan akuades. Elektrode
kaca kombinasi dicelupkan dan stirer dimasukkan ke dalam larutan kemudian
baca potensial awalnya. Titrasi dengan NaOH yang telah disediakan dengan
penambahan NaOH sebesar 0,5 ml (1-9 ml), 0,1 ml (9-11 ml), dan 0,5 ml (11-18
ml). Baca potensial setelah penambahan NaOH tersebut dan titrasi dilakukan
triplo.
Titrasi HCl dengan Basa Kuat
HCl 0,1 N dipipet sebanyak 10 ml lalu dipindahkan ke dalam gelas piala
400 ml dan diencerkan dengan 100 ml akuades. Alat dipasang dan dihubungkan
elektrode dengan potensiometer lalu alat diberi sumber arus. Tepatkan titik nol
dari potensiometer dan tetapkan besarnya potensial larutan dengan memakai skala
0 - 100 mV. Titrasi dengan NaOH 0,1 N. Pada 1-5 ml tiap kali penambahan 1 ml,
kemudian 0.5 ml. Bila mendekati titik ekuivalen penambahan 0.1 ml ( antara 9 11 ml ).
Penentuan Konstanta Ionisasi Asam Lemah
Asam asetat 0,1 M sebanyak 10 ml diambil lalu dimasukkan ke dalam
gelas piala 250 ml. Larutan tersebut kemudian diencerkan sampai 100 ml dengan
akuades. Elektrode gelas kombinasi dicelupkan dan stirer ditempatkan pula ke
dalam larutan lalu potensial larutan dibaca. Titrasi dengan NaOH 0,1 M dengan
penambahan 0.5 ml sampai 20 ml.

Koduktometri

Kalibrasi konduktometer
Konduktometer dikalibrasi menggunakan larutan KCl yang disediakan.
Standardisasi NaOH
Asam oksalat 0,1 N sebanyak 10 ml dipipet kemudian dimasukkan ke
dalam gelas piala 250 ml. Akuades lalu ditambahkan ke dalam gelas piala hingga
volumenya menjadi 100 ml. Elektrode dicelupkan serta stirrer dimasukkan ke
dalam larutan tersebut. Konduktan larutan kemudian dibaca setiap penambahan
titran (0-20 ml).
Titrasi HCl dengan NaOH
HCl 0.1N Sebanyak 10 ml dipipet lalu dimasukkan ke dalam gelas piala
250 ml. Setelah itu di encerkan dengan 100 ml air. Konduktan larutan kemudian
diukur lalu dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N. Pada 1-5 ml tiap kali
penambahan 1 ml, kemudian 0.5 ml dan setelah 15 ml penambahan 1 ml dst
sampai 20 ml. Tiap kali penambahan diukur konduktannya. Titrasi dilakukan
duplo.
Penentuan HCl
HCl Sebanyak 10 ml dipipet lalu dimasukkan ke dalam gelas piala dan
diencerkan dengan 100 ml akuades. Elektrode lalu dicelupkan dan stirer
dimasukkan pula ke dalam larutan. Konduktan larutan kemudian dibaca dan
larutan lalu dititrasi dengan NaOH 0,1 N dengan penambahan 0.5 ml sampai 20
ml.
Penentuan Asam Asetat
Asam asetat Sebanyak 10 ml dipipet lau dimasukkan ke dalam gelas piala
250 ml dan diencerkan dengan 100 ml akuades. Elektrode lalu dicelupkan dan
stirer dimasukkan pula ke dalam larutan. Konduktan larutan kemudian dibaca dan
larutan lalu dititrasi dengan NaOH 0.1 N dengan penambahan 0,5 ml sampai 20
ml.
Hasil dan Pembahasan
Potensiometri merupakan teknik pengukuran kuantitatif dalam kimia
analitik selain voltametri. Prinsip kerja potensiometri adalah beda potensial dari
suatu sistem diukur tanpa adanya aliran listrik dalam sistem tersebut. Bersadarkan
teori, nilai beda potensial yang terukur diperoleh dari perbedaan dua buah
elektroda yang digunakan. Elektroda yang dimasukkan kedalam larutan akan
mengalami pemisahan muatan yang berada di elektroda dan di larutan, adanya
perbedaan ini yang menyebabkan timbulnya potensial.

Titrasi dilakukan untuk menetapkan kemolaran suatu larutan dengan


menggunakan larutan lain yang telah diketahui secara pasti kemolarannya.
Larutan peniter itu disebut larutan standar primer. Ketepatan (akurasi) dari
konsentrasi larutan yang dititer salah satunya bergantung pada ketepatan dari
kemolaran larutan standar primer. Pada praktikum ini, larutan standar yang
digunakan adalah larutan NaOH 0.1M. Tidak semua zat dapat dibuat larutannya
dengan kemolaran yang akurat. Larutan asam oksalat 0,1 N ditritrasi
menggunakan NaOH untuk proses standarisasi. Standarisasi adalah suatu proses
membakukan larutan baku sekunder (asam oksalat) dengan larutan baku primer
(NaOH). Tujuan dilakukan standarisasi NaOH adalah untuk menentukan secara
pasti kemolaran (konsentrasi) dari asam oksalat yang mungkin saja berubah
karena proses penyimpanan. Serta digunakan sebagai titrasi HCl dengan basa kuat
dan penentuan Ka asam asetat.
Pada metode analisis secara konduktometri juga dilakukan perlakuan yang
sama dengan perlakuan potensiometri. Dilakukan standardisasi NaOH yang
nantinya juga dilakukan titrasi HCl dengan basa kuat dan penentuan Ka asam
asetat. Penambahan NaOH mempunyai range 0,5 ml sampai 1 ml hingga
didapatkan titik akhir yang ditandai dengan naiknya angka DHL setelah turun.
Data yang didapatkan harus dibuat dalam bentuk grafik supaya titik akhir bisa
dibaca dan diketahui. Pada penentuan titik ekuivalen antara larutan HCl dan
larutan NaOH diketahui kedua larutan merupakan penghantar listrik yang baik.
Setiap proses titrasi, dilakukan proses pengadukan dengan magnetik stirer. Hal ini
dilakukan agar dapat mengoptimalkan kemampuan daya hantar listrik sehingga
ionnya dapat menyebar merata
Dari hasil pengamatan diperoleh konduktans larutan yang semakin kecil
dan saat volume NaOH yang ditambahkan sebanyak 5 ml, terjadi kenaikan
konduktans yang menandai tercapainya titik ekivalen. Daya hantar listrik menurun
sampai titik ekivalen tercapai karena jumlah H+ dalam larutan semakin
berkurang sedangkan daya hantar OH- bertambah setelah titik ekivalen (TE)
tercapai karena jumlah OH- dalam larutan bertambah. Menurut teori, titik ekivalen
(TE) tercapai pada volume 24 mL. Sedangkan dari hasil percobaan diperoleh titik
ekivalen (TE) pada volume 5 ml. Perbedaan ini dapat terjadi akibat beberapa
faktor yaitu kualitas bahan yang digunakan, maupun suhu ruangan saat proses
percobaan dilakukan. Data yang diperoleh ialah Titik ekivalen juga terjadi pada
penambahan sebanyak 8,50 ml saat titrasi HCl dengan NaOH sehingga didapat
konsentrasi HCl sebenarnya sebesar 4,29 x 10 -8 dan %RSD sebesar 0.00 %.
Selanjutnya penambahan sebanyak 0,30 ml saat titrasi CH3COOH dengan NaOH
sehingga didapat konsentrasi CH3COOH sebenarnya sebesar 7.85 x 10-5 N,
sebesar 0,0231, dan Konstanta ionisasi asam atau basa lemah yang dapat
ditentukan dengan dasar kurva titrasi potensiometrinya sebesar 4,29 x 10-8.
Simpulan

Berdasarkan percobaan menggunakan metode analisis potensiometri dan


konduktometri diperoleh titik ekuivalen pada setiap penambahan beberapa ml
yang nantinya dapat diketahui konsentrasi sebenarnya HCL maupun CH3COOH.
Sehingga diperoleh %RSD sebesar 0.00 % serta Ka sebesar 4,29 x 10-8.

Daftar Pustaka
Khopkar, S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press.
Restu Tri Utami. 2013. [skripsi] Desain Ekstraktor untuk Analisa Nitrat dan
Kalium Dalam Tanah Pertanian dengan Metode Potensiometri. Jember :
UNEJ.
Suyanta, Susanto I.R, Buchari, Indra N. 2004. Kinerja Elektroda Selektif ion
Lantanum dengan Ionophore DACDA. Proseding Semnas FMIPA UNY.