Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

POST LAPARATOMI ATAS INDIKASI ILEUS OBSTRUKTIF


DI RUANG ICU RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA

Disusun Guna Memenuhi Syarat Praktik


Program Studi Profesi Ners Stase Emergency Nursing Care

DISUSUN OLEH :
OLIVIA EKHLEIMA CARROLINA
J.230.145.086

PROGRAM PROFESI NERS PRODI KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
1

A. PENGERTIAN
Ileus obstruktif adalah blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan
makanan, dapat secara mekanis atau fungsional (Iin Inayah, 2004 : 202).
Ileus obstruktif terjadi ketika terdapat rintangan terhadap aliran normal dari isi usus, bisa
juga karena hambatan terhadap rangsangan saraf untuk terjadinya peristaltik atau karena adanya
blockage (Barbara C. Long, 1996 : 242).
Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ileus obstruktif adalah penyumbatan yang
terjadi secara parsial atau komplit, mekanik atau fungsional, yang terjadi bisa diusus halus
ataupun diusus besar, dapat mengakibatkan terhambatnya pasase cairan, flatus dan makanan.
B. ANATOMI FISIOLOGI
Obstruksi usus menyebabkan rektif hiperperistaltik (gerakan meliuk-liuk saluran cerna
yang meningkat), distensi lumen usus oleh gas dan cairan dan pertumbuhan kuman-kuman.
Terjadi kolik atau distensi (tindakan meregangkan) sehingga menjadi obstruksi proksinal muntah
terjadi lebih dini, sedang pada obstruksi distal muntah terjadi lebih lambat. Obstruksi disertai
dengan strangulasi (tercepit) sehingga terjadi nyeri hebat yang terlokalisir dan gangguan
eliminasi alvi. Ketika dilakukan tindakan medis (laparotomi) sehingga timbul gangguan rasa
nyaman nyeri dan gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi akibat dari anoreksia.
C. ETIOLOGI
Susan C Smeltzer & Brenda G. Bare (2002), Susan Martin Tucker (1998), Christian
Stone M.D (2004) dan Barbara C Long (1996) mengatakan bahwa penyebab dari ileus obstruktif
adalah :
a. Mekanis
- Adhesi, sebagai perlengketan fibrosa (jaringan ikat) yang abnormal di antara permukaan
peritoneum yang berdekatan, baik antar peritoneum viseral maupun antara peritoneum viseral
dengan parietal.
- Hernia, terjebaknya bagian usus pada lubang abnormal.
- Karsinoma, tumor yang ada dalam dinding usus meluas ke lumen usus, atau tumor diluar usus
mendesak dinding usus.
Massa makanan yang tidak dicerna.
- Sekumpulan cacing.
- Tinja yang keras.
- Volvulus, terplintir atau memutarnya usus.
- Intussusception, masuknya satu segmen usus kedalam usus itu sendiri.
D. PATOFISIOLOGI

Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan terenggang oleh cairan dan gas (70 %
dari gas yang tertelan) akibat penekanan intralumen menurunkan pengaliran air dan natrium dari
lumen usus kedarah. Sekitar 8 liter cairan diekskresi kedalam saluran cerna setiap hari, karena
tidak adanya absorpsi mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan
penyedotan usus setelah pengobatan merupakan sumber utama kehilangan cairan dan elektrolit.
Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang ekstra sel yang mengakibatkan syok
hipotensi. Pengaruh curah jantung, pengurangan perfusi jaringan dan asidosis metabolik. Efek
lokal peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat
nekrotik, disertai absorbsi toksin-toksin bakteri kedalam rongga peritoneum dan sirkulasi
sistemik. Kehilangan sodium dan ion-ion klorida menyebabkan keluarnya potassium dari sel,
mengakibatkan alkalosis hipovolemik.
Menurut Susan C Smeltzer & Brenda G. Bare (2002), akumulasi isi usus, cairan dan gas
terjadi didaerah diatas usus yang mengalami obstruksi. Distensi dan retensi cairan mengurangi
absorpsi cairan dan merangsang lebih banyak sekresi cairan lambung. Dengan peningkatan
distensi, tekanan darah lumen usus meningkat, menyebabkan penurunan tekanan kapiler vena
dan arteriola. Pada gilirannya hal ini akan menyebabkan edema, kongesti, nekrosis, dan akhirnya
ruptur atau perforasi. Muntah refluk dapat terjadi akibat distensi abdomen.
E. MANIFESTASI KLINIS
Susan Martin Tucker (1998), Christian Stone, M.D (2004) dan Barbara C Long (1996)
menemukan bahwa tanda dan gejala dari ileus obstruktif adalah :
a. Obstruksi Usus Halus
1) Mual
2) Muntah, pada awal mengandung makanan tak dicerna, selanjutnya muntah air dan
mengandung empedu, hitam dan fekal.
3) Nyeri seperti kram pada perut, disertai kembung, nyerinya bisa berat dan menetap.
4) Demam sering terjadi, terutama bila dinding usus mengalami perforasi. Perforasi
dengan cepat dapat menyebabkan perdangan dan infeksi yang berat serta menyebabkan
syok.
5) Obstipasi dapat terjadi terutama pada obstrusi komplit.
6) Abdominal distention.
7) Tidak adanya flatus.
b. Obstruksi Usus Besar
1) Distensi berat.

2)

Nyeri biasanya terasa didaerah epigastrium, nyeri yang hebat dan terus menerus

menunjukkan adanya iskemi atau peritonitis.


3) Konstipasi dan obstipasi adalah gambaran umum obstruksi komplet.
4) Muntah fekal laten.
5) Dehidrasi laten.
6) Penyumbatan total menyebabkan sembelit yang parah, sementara penyumbatan
sebagian menyebabkan diare.
Manifestasi Klinik Laparatomi:
1. Nyeri tekan.
2. Perubahan tekanan darah, nadi dan pernafasan.
3. Kelemahan.
4. Gangguan integumuen dan jaringan subkutan.
5. Konstipasi.
6. Mual dan muntah, anoreksia.
G. KOMPLIKASI
a. Ketidakseimbangan elektrolit, akibat dari lumen usus yang tersumbat, secara progresif akan
teregang oleh cairan dan gas (70 % gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen,
yang menurunkan aliran air dan natrium dari lumen usus ke darah. Oleh karena itu sekitar
delapan liter cairan diekskresi kedalam saluran cerna setiap hari, tidak ada absorbsi
mengakibatkan penimbunan intra lumen dengan cepat, muntah dan penyedotan usus.
b. Asidosis metabolik.
c. Perforasi, akibat dari terlalu tingginya tekanan intra lumen.
d. Syok, akibat dari kehilangan cairan yang berlebih kedalam lumen usus dan kehilangan cairan
menuju ruang peritoneum setelah terjadi perforasi.
H. PENATALAKSANAAN
Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan,
menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok bila
ada dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali
normal.
a.

Resusitasi

Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda - tanda vital, dehidrasi dan
syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan
elektrolit sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti ringer laktat. Respon terhadap terapi
dapat dilihat dengan memonitor tanda - tanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain
4

pemberian cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT). NGT
digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum bila muntah dan
mengurangi distensi abdomen.
b. Farmakologis
Pemberian obat - obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis. Antiemetik
dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah.
c. Operatif
Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik untuk mencegah sepsis
sekunder. Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang
disesuaikan dengan hasil eksplorasi selama laparotomi. Berikut ini beberapa kondisi atau
pertimbangan untuk dilakukan operasi: Jika obstruksinya berhubungan dengan suatu simple
obstruksi atau adhesi, maka tindakan lisis yang dianjurkan. Jika terjadi obstruksi stangulasi maka
reseksi intestinal sangat diperlukan. Pada umumnya dikenal 4 macam cara/tindakan bedah yang
dilakukan pada obstruksi ileus:
1) Koreksi sederhana (simple correction).
Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya
pada hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
2) Tindakan operatif by-pass.
Membuat saluran usus baru yang melewati bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor
intralurninal, Crohn disease dan sebagainya.
3) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya pada
Ca stadium lanjut.
4) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus untuk
mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinoma colon, invaginasi, strangulata
dan sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif
bertahap, baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya
pada Ca sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan
reseksi usus dan anastomosis (Sabara, 2007).
I. PENGKAJIAN
a. Identitas
1) Identitas klien
Data yang terdapat berupa nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat,
tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor registrasi, diagnosa medik.
5

2) Identitas penanggung jawab


Mencakup nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, hubungan dengan
klien.
b. Riwayat keperawatan
1) Keluhan utama
Gangguan utama/terpenting yang dirasakan klien sehingga segera butuh pertolongan.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat penyakit sekarang yang ditemukan ketika dilakukan pengkajian yang dijabarkan dari
keluhan utama dengan menggunakan teknik PQRST. Pasien ileus obstruktif sering ditemukan
nyeri kram, rasa ini lebih konstan apalagi bila bergerak akan bertambah nyeri dan menyebar pada
distensi, keluhan ini mengganggu aktivitas klien, nyeri ini bisa ringan sampai berat tergantung
beratnya penyakit dengan skala 0 sampai 10. Klien post laparatomi pun mengeluh nyeri pada
luka operasi, nyeri tersebut akan bertambah apabila klien bergerak dan akan berkurang apabila
klien diistirahatkan, sehingga klien biasanya hanya berbaring lemas. Nyeri yang dirasakan klien
seperti disayat-sayat oleh benda tajam letaknya disekitar luka operasi, dengan skala nyeri lebih
dari 5 (0-10).
3) Riwayat kesehatan dahulu
Klien dengan ileus obstruktif mempunyai riwayat pernah dioperasi pada bagian abdomen, yang
mengakibatkan terjadinya adhesi. Klien post laparatomi biasanya mempunyai riwayat penyakit
pada sistem pencernaan.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat dalam keluarga sedikit sekali kemungkinan mempunyai ileus obstruktif karena kelainan
ini bukan merupakan kelainan genetik, ada kemungkinan pada keluarga dengan ileus obstruktif
dan post laparatomi mempunyai riwayat penyakit kanker dan dapat pula mempunyai riwayat
cacingan pada keluarga.
5) Situasi riwayat pekerjaan
Tempat bekerja dan lingkungan.
6) Riwayat geografi
Kondisi lingkungan tempat tinggal.
7) Riwayat sosial
Ada perubahan peran, pekerjaan, atau aktivitas, klien akan merasa tergantung dan membutuhkan
bantuan orang lain untuk kesembuhan penyakit.
8) Pola kebiasaan sehari-hari
Adanya kesulitan dalam melakukan aktivitas, adanya gangguan dalam nutrisi biasanya tidak
mampu makan dan minum karena mual dan muntah, gangguan dalam tidur/istirahat, kesulitan
BAB (konstipasi atau obstipasi), personal hygiene kurang terpenuhi.
6

c. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
2) Sistem pernafasan (breath)
3) Sistem kardiovaskuler (blood)
4) Sistem pencernaan (bowel)
5) Sistem persyarafan (brain)
6) Sistem muskuloskeletal (bone)
7) Sistem perkemihan (bladder)
8) Sosial
9) Spiritual
d. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada pasien obstruksi usus sebagai berikut :
1)

Laboratorium : BUN, hematokrit, berat jenis urin meningkat, penurunan kadar serum

natrium, klorida dan kalium, leukosit meningkat, terdapat penurunan sodium dan potassium.
2)
Enema barium membantu menentukan bila obstruksi didalam kolon.
3)
Pemeriksaan radiologis abdomen, foto rontgen bisa menunjukkan lingkaran usus yang
melebar, yang menunjukkan lokasi dari penyumbatan dan juga bisa menunjukkan adanya udara
di sekitar usus di dalam perut yang merupakan tanda adanya perforasi.
4)
Skan CT, MRI (magnetic resonance imaging), atau ultrasound membantu memastikan
diagnosis.
5)
Proktosigmoidoskopi membantu menentukan penyebab obstruksi bila didalam kolon
klien setelah laparotomi dibutuhkan pemeriksaan penunjang
e. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien ileus obstrutif menurut Judith M.
Wilkinson (2005) dan Susan Martin Tucker, et al (1998) sebagai berikut :
a. Inefektif pola napas berhubungan dengan nyeri akut, distensi abdomen.
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah abnormal, kehilangan cairan
abnormal, status puasa, mual dan muntah.
c. Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen pembedahan.
d. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan nekrosis jaringan.
J. INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervansi keperawatan pada ileus obstruktif menurut Judith M.Wilkinson (2005) dan
Susan Martin Tucker, et al (1998) :
a. Inefektif pola napas berhubungan dengan nyeri akut, distensi abdomen.
Kriteria hasil :
7

- Menunjukkan pernapasan yang dalam dan dangkal.


- Memiliki pola nafas dan frekuensi dalam batas normal.
- Kepatenan jalan nafas adekuat.
- Status tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi:
1. Fasilitasi kepatenan jalan nafas.
2. Kaji pucat dan sianosis.
3. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan.
4. Auskultasi suara nafas, ada/tidaknya bunyi nafas tambahan.
5. Posisikan pasien dengan semi fowler.
6. Suction sesuai kebutuhan.
7. Pantau terapi oksigen.
8. Kaji dan ajarkan pasien untuk membalik dan batuk setiap setiap 4 jam dan napas dalam
setiap jam.
Rasional:
1. Kepatenan jalan nafas mengindikasikan efektivitas respirasi.
2. Hipoksia dapat diindikasikan dengan adanya pucat dan sianosis.
3. Hipoventilasi berhubungan dengan penekanan diafragma menurunkan tekanan arterial
oksigen secara parsial.
4. Crackels mengindikasikan komplikasi sistem pernafasan.
5. Posisi supine meningkatkan resiko obstruksi jalan nafas oleh lidah, bila dimiringkan maka
pasien akan mengalami aspirasi. Semi fowler adalah pilihan yang tepat untuk kenyamanan,
pengembangan ekspansi paru yang optimal, menghindari aspirasi.
6. Sekresi mempengaruhi efektifitas pola nafas sehingga diperlukan penghisapan untuk
memberikan kebersihan jalan nafas.
7. Menjaga status pernapasan klien agar tetap optimal, memberikan

terapi sesuai yang

dibutuhkan klien. Terapi oksigen dilakukan untuk meningkatkan atau memaksimalkan


pengambilan oksigen.
8. Meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan mobilisasi serta mengeluarkan sekret.
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah abnormal, kehilangan
cairan abnormal, status NPO, mual.
Kriteria hasil :
- Pasien menunjukan tanda vital stabil : sistolik tekanan darah 90140 mmHg, diastolik 50 -90
mmHg, nadi = 60 -100/menit.
- Urin output adekuat > 60 ml/jam.
- Membrane mukosa baik, turgor kulit baik.
- Menunjukan level elektrolit, BUN, hematokrit dan serum osmolalitas dalam keadaan normal.
Intervensi:
8

1.

Monitor dan perbaiki intake output, antara setiap jam dan perbandingkan. Ukur dan

dokumentasikan output urine setiap 1-4jam. Laporkan sebagai berikut :


- Urine output lebih dari 200ml/jam selama 2 jam.
- Urine output kurang dari 30ml/jam selama 2 jam.
2. Monitor hasil laboratorium sesuai indikasi. Laporkan sebagai berikut :
- Osmolalitas urine, kurang dari 200mOsm/kg.
- Osmolalitas serum, lebih dari 300 mOsm/kg.
- Serum sodium, lebih dari 145 mEq/L.
- Peningkatan level BUN dan hematokrit.
3. Monitor ECG dan tekanan hemodinamika secara periodik.
Perhatikan adanya :
- Adanya gelombang U, QT memanjang, depresi segmen ST dan gelombang T memendek.
- Tekanan hemodinamika kardiak output rendah.
4. Berikan terapi sesuai indikasi, biasanya cairan isotonik dengan penambahan potassium
klorida jika serum potassium rendah. Pantau akses IV, antisipasi peningkatan pemberian cairan
jika hipertermia atau adanya infeksi.
5. Pantau tanda-tanda vital dan observasi kesadaran serta gejala syok.
6. Pertahankan puasa, kaji tingkat hidrasi.
7. Pantau cairan perenteral dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin.
8. Kaji keadaan kulit sebagai tanda-tanda dehidrasi, turgor kulit jelek, kulit dan membran
mukosa kering, pucat. Kaji juga kehausan, khususnya pada lansia.
9. Kaji dan laporkan adanya perubahan tingkat kesadaran, kelemahan otot dan koordinasi.
10. Siapkan untuk pembedahan sesuai indikasi.
11. Timbang berat badan setiap hari bila memungkinkan.
Rasional
1. Terapi diuretik, hipertermia, pembatasan intake cairan dapat menimbulkan kekurangan
cairan. Pengukuran tiap jam dan perbandingannya dapat mendeteksi kekurangan.
- Urine output lebih dari 200ml/jam biasanya menunjukan diabetes insipidus. Pasien dengan
peningkatan TIK. Diabetes insipidus dihasilkan dari kegagalan gland pituitary dalam mensekresi
ADH karena kerusakan hipotalamus. Seperti gangguan karena neurosurgery, tapi hal itu juga
dapat terjadi sebagai sekunder dari lesi vaskuler atau trauma kepala berat.
- Indikasi adanya defisit volume cairan.
2. Hasil laboratorium menambah keadaan objektif dari ketidakseimbangan. Penurunan
osmolalitas urin berhubungan dengan diuresis, peningkatan serum osmolalitas, serum sodium
dan hematokrit menunjukkan hemokonsentrasi.
3. Pemantauan secara periodik menunjang peringatan secepatnya apabila terjadi kondisi yang
fatal.
- Tanda ECG menunjukkan penurunan responsibilitas stimulus sel kardiak, menghasilkan
hipokalemia sekunder akibat pengeluaran potassium.

4. Penurunan tekanan menunjukkan hipovolemia dan penurunan kardiak output menunjukkan


preload insufisiensi. Cairan isotonik adalah pengganti cairan untuk kehilangan cairan tubuh.
Produk darah, koloid atau albumin, dapat digunakan untuk peningkatan MAP. Monitor
digunakan untuk mencegah overload volume cairan. Cairan dengan potassium harus dipantau
dengan seksama karena potassium mengiritasi vena dan infus potassium yang cepat dapat
menyebabkan hiperkalemia. Hipertermia dan infeksi terjadi akibat kehilangan cairan karena
peningkatan metabolik, peningkatan keringat dan ekskresi cairan melalui pernafasan.
5. Takikardi dan hipotensi dapat mengindikasikan syok hipovolemi. Perubahan ortostatik
(tekanan darah menurun 10 mmHg atau lebih dan nadi meningkat 20 kali/menit atau lebih)
mengindikasikan hipovolemik.
6. Pemberian makanan dan minuman pada pasien dapat menyebabkan muntah lebih sering dan
mengakibatkan alkalosis metabolik hipokalemia atau hiponatremia. Pemenuhan volume
intravaskuler dan tambahan oksigen mengurangi efek kehilangan darah dalam jaringan hingga
perdarahan terkontrol.
7. Pengawasan akurat intake output menandakan keseimbangan pemberian sehingga tidak
terjadi syok hipovolemik.
8. Turgor kulit jelek, kulit dan membran mukosa kering, peningkatan kehausan dapat
mengindikasikan hipovolemia sehingga terjadi penurunan volume cairan ekstraseluler.
9. Confusion, stupor dapat menjadi indikasi hipovolemi dan ketidakseimbangan elektrolit.
Penurunan kesadaran akibat hipoksia serebral karena hipovolemia. Kehilangan potassium dapat
menyebabkan kelemahan otot.
10. Pembedahan dapat dindikasikan bila obstruksi berkelanjutan. Persiapan pembedahan
melingkupi pasien, peralatan, anastesi dan tenaga medis.
11. Berat badan sangat menunjukkan perubahan yang signifikan ketidakseimbangan cairan.
c. Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen pembedahan.
Kriteria hasil:
- Mempertahankan level nyeri pada skala nyeri yang dapat ditoleransi (skala 0-10).
- Menunjukan rileks.
- Pasien akan menunjukan teknik relaksasi individu yang efektif dalam mencapai kenyamanan.
- Melaporkan keadaan fisik dan psikis sudah membaik.
- Penggunaan analgesik untuk menghilangkan nyeri.
Intervensi
1. Pemberian anlgesik sesuai indikasi.
2. Kaji skala nyeri atau ketidaknyamanan dengan skala 0 10.

10

3. Ajarkan teknik manajemen nyeri : nafas dalam, guide imagery, relaksasi, visualisasi dan
aktivitas terapeutik.
4. Kaji secara komprehensif kondisi nyeri termasuk lokasi, karakteristik, onset, durasi,
frekuensi, kuantitas atau kualitas nyeri dan faktor presipitasi/pencetus.
5. Observasi secara verbal atau nonverbal ketidaknyamanan.
6. Instruksikan pasien untuk melaporkan nyeri bila sangat hebat.
7. Informasikan pasien prosedur yang dapat meningkatkan nyeri tawarkan koping adaptif.
8. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang nyaman, seperti semifowler.
9. Kaji dan ajarkan melakukan latihan rentang gerak aktif atau pasif setiap 4 jam. Dorong
ambulasi dini.
10. Ubah posisi dengan sering dan berikan gosokan punggung dan perawatan kulit.
Rasional
1. Agen farmakologik untuk menurunkan/menghilangkan nyeri dan dapat menurunkan laju
metabolik dan iritasi usus karena oksin sirkulasi/lokal, yang membantu menghilangkan nyeri dan
meningkatkan penyembuhan.
2. Analisa secara seksama karekteristik nyeri membatu differensial diagnosis nyeri.
Standarisasi skala nyeri menunjang keakuratan.
3. Manajemen pengalihan fokus perhatian nyeri. Pendidikan pada pasien untuk mengurangi
nyeri, setiap orang memiliki perbedaan derajat nyeri yang dirasakan.
4. Laporan pasien merupakan indikator terpercaya mengenai eksistensi dan intensitas nyeri
pada pasien dewasa. Baru atau peningkatan nyeri memerlukan medikal evaluasi segera.
5. Respon verbal dapat menjadi indikasi adanya dan derajat nyeri yang dirasakan. Respon non
verbal menampilkan kondisi nyeri.
6. Partisipasi langsung dalam penanganan dan deteksi dini untuk pengelolaan nyeri secara
segera setelah dilaporkan.
7. Tindakan persiapan kondisi pasien sebelum prosedur dan membantu pasien menetapkan
koping sehubungan dengan kebutuhan penanganan stres akibat nyeri.
8. Membantu mengontrol nyeri dengan mengurangi kebutuhan untuk kontraksi otot, dengan
posisi semifowler mengurangi tegangan abdomen.
9. Menurunkan kekakuan otot atau sendi. Ambulasi membalikkan organ keposisi normal dan
meningkatkan kembalinya fungsi ketingkat normal.
10. Meningkatkan relaksasi, memfokuskan lagi perhatian dan meningkatkan kemampuan
koping.
d. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kemungkinan nekrosis.
Kriteria hasil :
- Temperatur tubuh normal.
- Menunjukan tidak ada tanda-tanda infeksi.
Intervensi

11

1. Awasi dan laporkan indikasi infeksi, yaitu : tanda-tanda vital, temperatur tubuh, bising usus,
suara nafas, karakter urin, adanya abses dalam distensi abdomen dan ikterus.
2. Berikan antibiotik sesuai indikasi.
3. Sediakan kultur untuk dan testing sensitivitas sesuai indikasi, lakukan sebelum terapi
antibiotik.
4. Gunakan prosedur teknik septik dan aseptik selama proses tindakan.
Rasional
1. Pengawasan ketat dibutuhkan karena infeksi tampak tidak hanya pada peningkatan suhu dan
wbc, tetapi penggunaan medikasi immunosupresi dan kondisi kronik dapat terjadi infeksi.
2. Tipe antibiotik spectrum luas seperti sulfasalazine (azulfidine) sesuai indikasi yang
dibutuhkan.
3. Kultur dan tes sensitivitas menjadi tidak akurat apabila setelah pemberian antibiotik.
4. Pasien dengan ileus obstruktif kemungkinan terjadi inflamasi.

12

13

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddart. 2002 . Buku Ajar Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC.
Corwin. 2003. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.
Doengoes, Marillyn. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawata Edisi 3. Jakarta: EGC.
Harjono. M . 2001. Ilmu Bedah. Jakarta: Erlangga.
Inayah, Iin. 2004. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Subiston, D. C. 2001. Buku Ajar Bedah. Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith. M. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.

14