Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh
tubuh kita yang berfungsi untuk membantu pengaturan atau proses kegiatan
tubuh. Vitamin C merupakan suplemen yang sangat penting bagi tubuh manusia
dimana dianjurkan sebesar 30-60 mg per hari. Kegunaan dari vitamin C yaitu,
sebagai senyawa utama tubuh yang dibutuhkan dalam berbagai proses penting
mulai dari pembuatan kolagen, pengangkut lemak, sampai dengan pengatur
tingkat kolesterol (Basset.j.dkk, 1994).
Vitamin C mempunyai rumus C6H8O6 dalam bentuk murni merupakan
kristal putih, tak berwarna, tidak bau dan mencair pada suhu 190-1920C. Senyawa
ini bersifat reduktor kuat dan mempunyai rasa asam. Sifat yang paling utama dari
vitamin C adalah kemampuan mereduksi yang kuat dan mudah teroksidasi yang
dikatalis oleh beberapa logam terutama Cu dan Ag (Golberg,2003).
Asam asetil salisilat (aspirin) adalah termasuk dalam jenis
asam lemah dengan harga pka 3,8. Aspirin di gunakan secara
luas dalam bentuk murni atau campuran dengan obat lain, baik
sebagai obat penghilang rasa nyeri (analgesik) atau obat
demam. Analisis kadar aspirin dalam tablet dapat dilakukan
dengan cara titrasi menggunakan larutan basa seperti NaOH
dengan

menggunakan

indikator

fenolftalein

(Hardjono

Sastrohamidjojo. 2005)
Penentuan kadar aspirin dan vitamin C dapat dilakukan
dengan metode titrasi. Titrasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui
konsentrasi dari larutan standar sekunder, yaitu larutan yang dimana
konsentrasinya didapat dengan cara pembakuan. Yang dubantu dengan larutan
standar sekunder atau larutan yang konsentrasinya dapat diketehui secara
langsung dari hasil penimbangan, yang ditambahkan indikator pH sebagai penentu
tingkat keasaman suatu

larutan. Ada beberapa macam titrasi, beberapa di

antaranya yaitu asidi alkali metri ( asam basa) dan juga titrasi iodometri dan iodi
metri (Khopkar. 2003).
Asidi-alkalimetri merupakan titrasi yang berhubungan dengan asam dan
basa. Secara sederhana, asam merupakan larutan yang memiliki pH diatas 7
sedangkan basa merupakan larutan yang memiliki pH kurang dari 7 (Khopkar.
2003)
Iodimetri merupakan titrasi langsung dan merupakan metoda penentuan
atau penetapan kuantitatif yang dasar penentuannya adalah jumlah I 2 yang
bereaksi dengan sampel atau terbentuk dari hasil reaksi antara sampel dengan ion
iodide. Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I 2 sebagai pentiternya. Dalam reaksi
redoks harus selalu ada oksidator dan reduktor , sebab bila suatu unsur bertambah
bilangan oksidasinya (melepaskan electron), maka harus ada suatu unsur yang
bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap electron) (Khopkar. 2003)
Pada proses titrasi di kenal istilah titran dan juga titrat, titrat merupan
suatu zat yang yang ingin kita cari kadar atau konsentrasinya, atau dengan kata
lain titrat merupakan zat atau sampel yang belum di ketahui konsentrasinya. Titran
merupakan suatu zat atau pun larutan baku yang di ketahui kadar atau
konsentrasinya dan di gunakan sebagai penitrrasi sampel yang ingin di cari
konsentrasinya (Keenan, dkk. 1984).

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Hasil pengamatan
2.1.1 Penentuan Aspirin

NO

PERLAKUAN

HASIL PENGAMATAN

Ditimbang 0,5 gram serbuk tablet aspirin,

0,5 gram aspirin yang

dipindahkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml

dihaluskan.

Ditambahkan 25 ml etanol

V etanol = 25 ml

Diaduk hingga larut sempurna

Larutan tercampur tapi


masih ada aspirin yang
belum larut.

Dipanaskan di atas penangas air

Larutan jadi panas dan


tercampur.

Ditambahkan 10 ml H2O dan 2 tetes PP

Akuades 10 ml, dan PP 2


tetes

Dititrasi dengan larutan NaOH

0,42 gram NaOH (0,1 M)

Dcatat volume NaOH, di lakukan duplo

V1 = 9,4 ml
V2 = 14,5 ml

2.1.2 Penentuan Vitamin C

NO

PERLAKUAN

Hasil pengamatan

Ditimbang 0,5 gram serbuk vitamin C dan di

0,1 gram vitamin C yang

pindahkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml

telah dihaluskan.

Dilarutkan serbuk tablet menggunakan 50 ml

Akuades 50 ml, larutan

H2O, diaduk hingga homogeny

tercampur.

3
4

Ditambah 5 ml larutan indikator amilum


Dititrasi menggunakan larutan iod 0,1 N

5 ml
Warna jadi gelap

Dicatat volume larutan iod yang di perlukan

V1 = 5,1 ml, V2 = 3,9 ml,

Dilakukan duplo

Percobaan dilakukan

duplo.

2.2 Pembahasan
Aspirin di perkenalkan dalam pengobatan oleh dreser pada
tahun 1899. Aspirin di buat dengan mengubah asam salisilat

yang pertama kali di buat oleh kalbe pada tahun 1874 dengan
anhidrid asetat. Atom hidrogen pada gugus hidroksil dari asam
salisilat telah di ganti dengan gugus asil dalam asetil salisilat.
Asam asetil salisilat (aspirin) termasuk dalam jenis asam lemah
dengan harga pka 3,8. Aspirin di gunakan secara luas dalam
bentuk murni atau campuran dengan obat lain, baik sebagai obat
penghilang rasa nyeri (analgesik) atau obat demam (Fessenden
1991).
Analisi kadar aspirin dalam suatu tablet dapat dilakukan dengan
menitrasi larutan aspirin dengan titran berupa NaOH yang telah
diketahui kadarnya dan dengan menambahkan beberapa tetes
indikator Fenolftalein.
Struktur Fenolftalein, sering disingkat PP, adalah sebagai berikut (Hardjono
Sastrohamidjojo. 2005) :

OH

HO

O-

HO

H+ +

O
C

CO2-

tak berwarna
PP
dalam bentuk asam (HIn)

merah
basa konjugat PP
dalam bentuk basa (In-)

Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan
memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit.

Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam
askorbat. Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu
menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular. Beberapa karakteristiknya antara
lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya,dan logam. Meskipun jeruk
dikenal sebagai buah penghasil vitamin C terbanyak, sebenarnya salah besar,
karena lemon memiliki kandungan vitamin C lebih banyak 47% dari pada jeruk
(Padmaninarum.R.T,2008).
Asam askorbat (vitamin C) adalah suatu heksosa dan
diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan
monosakareda. Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan
mungkin pula secara difusi pada bagian atas khusus halus lalu
masuk keperedaran darah melalui fena porta Vitamin C mempunyai
rumus C6H8O6 dalam bentuk murni merupakan kristal putih, tak berwarna,

tidak

bau dan mencair pada suhu 190-1920C. Senyawa ini bersifat reduktor kuat dan
mempunyai rasa asam. Sifat yang paling utama dari vitamin C adalah kemampuan
mereduksi yang kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalis oleh beberapa logam
terutama Cu dan Ag.
Berikut adalah bentuk struktur dari asam askorbat atau vitamin C (Shevla, G.
1985) :

Gambar 2.2 Rumus struktur Asam Askorbat


2.2.1 Analisis prosedur dan Hasil
Penentuan kadar Aspirin
Pembuatan aspirin didahului dengan menimbang sebanyak 0,5
gram aspirin, lalu di larutkan dengan etanol sebanyak 10 ml. Alasan
kenapa di gunakan etanol pada proses pelarutannya, itu disebabkan karena
aspirin sukar larut dalam pelarut biasa seperti air selain itu tidak cukup
hanya dengan di aduk saat melarutkan aspirin tetapi di perlukan juga
adanya proses pemanasn agar aspirin bisa larut lebih sempurna. Setelah
aspirin larut sempurna selanjutnya yang harus di lakukan yaitu membuat
larutan NaOH 0,1M dari padatan NaOH. Terlebih dahulu kita tentukan
berapa masa yang di perlukan untuk membuat larutan NaOH sebanyak
100 ml, setelah di hitung di dapatlah masa NaOH yang harus di timbang
yaitu sebanyak 0,42 gram.
sebanyak 0,42 gram padatan NaOH di timbang dan di larutkan
dengan aquades dan tepatkan hingga 100 ml. Yang selanjutnya adalah
melakukan titrasi dengan menjadikan NaOH sebagai titran dan larutan
aspirin sebagai titrat, namun sebelumnya terlebih dahulu di tambahkan 23 tetes indikator pp. Fungsi indikator di sini untuk mengetahui titik akhir
titrasi. Jika indikator yang digunakan tepat, maka indikator tersebut akan
berubah warnanya pada titik akhir titrasi. Indikator pp memiliki trayek
antara 8,3 - 10 (tidak berwarna - merah), setelah itu diti trasi sampai ter
capai titik ekuivalen atau terjadi perubahan menjadi merah muda, dan di
lakukan duplo. Tujuan duplo di sini yaitu untuk mendapatkan hasil yang
mendekati sempurna. Dari percobaan titik ekuivalen terjadi pada voleme
9,4 ml dan 14,5 ml titran yang terpakai.
Penentuan kadar Vitamin C
Penentuan kadar vitamin C di dahului dengan menimbang tablet
vitamin c sebanyak 0,1 gram vitamin c, lalu di tumbuk hingga halus agar
mudah di larutkan dengan aquades. Vitamin c 0,1 gram di larutkan dengan

50 ml akuades dan di aduk agar lebih cepat larutnya. Setelah larut


sempurna selanjutnya di tambahkan amilum sebagai indikator pada saat
titrasi nantinya. Titrasi dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai
indikator dimana titik akhir titrasi diketahui dengan terjadinya kompleks
amilum-I2 yang berwarna biru tua. Hal ini disebabkan karena dalam
larutan pati, terdapat unti-unit glukosa membentuk rantai heliks karena
adanya ikatan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini
menybabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium
yang dapat masuk ke dalam spiralnya., sehingga menyebabkan warna biru
tua pada kompleks tersebut. Warna biru akan terlihat bila konsentrasi ios 2
X 10-5M. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan.
Kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan kecil dalam air sehingga
biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi (Khopkar, 2002).
Berikutnya adalah menyiapkan iod sebagai penitrasi. Larutan
iodium merupakan larutan yang tidak stabil, sehingga perlu distandarisasi
berulang kali. Sebagai Oksidator lemah, iod tidak dapat bereaksi terlalu
sempurna, karena itu harus dibuat kondisi yang menggeser kesetimbangan
kearah hasil reaksi antara lain dengan mengatur pH atau dengan
menambahkan bahan pengkompleks. Larutan iod sebanyaqk 25 ml di
masukan dalam buret dan selanjutnya di lakukan titrasi sampai tercapai
titik ekuivalen yang di tandai dengan terjadi perubahan warna menjadi
biru tua dan di lakukan duplo. Titik ekuivalen tercpai saat volume titran
5,1 ml dan 3,9 ml.

BAB III
KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan dapat di simpulkan bahwa kadar
aspirin dan vitamin C dapat di tentukan melalui metode titimetri yaitu
menitrasi aspirin dengan NaOH dengan indikator pp, Vitamin C dengan
Larutaniod dengan indikator amilum dan di dapatkan hasil akhir yaitu
kadar aspirin sebanyak 43,02 % dan kadar vitamin C sebanyak 21 %

DAFTAR PUSTAKA
Basset.J,Denny.R.C,Jeffrey.G.H.1994.Kimia analisis kuantitatif
anorganik.Edisi 4. Hal 259-262. Jakarta: bukukedokteran EGC.
Brady, J.E, 1999, Kimia Universitas Asas dan Struktur, Jilid 1, hal 619,
Binapura Aksara, Tanggerang.
Golberg, D.E, 2003, Kimia Untuk Pemula, Edisi ketiga, Alih Bahasa :
Suminar Setiati Achmadi, hal 95, Erlangga, Jakarta.

Khopkar, S M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas


Indonesia
Padmaninarum.R.T.2008.Titrasi iodometri.yogyakarta:UNY hal 2
Pratama.A, Darjat, Setiawan.I,2013.Aplikasi labview sebagai
pengukur kadar vitamin C dalam larutan menggunakan metode
titrasi iodmetri. Semarang: universitas Dipenogoro.
Sastrohamidjojo, Handjono. 2005. Kimia Dasar. Yogjakarta : Gajah Mada
University Press
Shevla, G. 1985. Vogel Analisis Anorgami Kualitatif Makro dan
Semimikro. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka

Perhitunga
a. Penentuan Aspirin
1).Diketahui: BM aspirin = 180 g/mol
V NaOH

= 11,95 ml

M NaOH

= 0,1 M

Ditanya : kadar aspirin ?


Jawab

: Gram aspirin = BM aspirin (volume M NaOH)

= 180 g/mol (11,9510-3 0,1 M)


= 0,2151 gram
Aspirin teoritis 0,5 gram
Kadar aspirin dalam tablet:

gram aspirin hasil


100%
gram aspirin teoritis

0,2151 gram
0,5 gram

:43,02 %

2).Diketahui: V iod

= 2,4 ml, 0,1 N

V vit C = 50 ml
Ditanya : kadar vitamin C
Jawab

: mol iod

= mol vitamin C

(2,4 0,1) = (50 N)


0,24

= 50 N

= 0,0048 N

N=

gram(C 6 H 6 O 8)
BE

Hasil(gram)=N BE 1/1000 50
=0,0048 88,07 0,05
=0,021 gram
Kadar vitamin C =

0,021 gram
0,1

= 21%

100%

100%