Anda di halaman 1dari 10

TERAPI BERMAIN

TINJAUAN TEORITIS
A. LATAR BELAKANG
Aktifitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak secara optimal.
Bermain merupakan cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dari dirinya. Bermain
tidak sekedar mengisi waktu,tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan,
perawatan, cinta kasih, dan lain sebagainya. Anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk
kesehatan fisik, mental dan perkembangan emosinya.
Bermain dapat mengungkapkan bahasa dan keinginan dalam mengungkapkan konflik dari anak yang
tidak disasarinya serta dialami dengan kesenangan yang diekspresikan melalui psikososio yang
berhubungan dengan lingkungan tanpa memperhitungkan hasil akhirnya.
Dari data yang didapat di RSUD Pontianak di ruang anak ( G ) di temukan data pada tanggal 21
Januari sampai 26 Januari 2008 adalah sebagai berikut.: Anak-anak yang dirawat umur 0-1 tahun
berjumlah 14 orang, dalam hal ini tidak semua pasien diambil untuk terapi bermain akan tetapi
diambil 2 orang karena orang tersebut sudah termasuk dalam kondisi perawatan minimal (minimal
care). Kemudian umur 1-3 tahun berjumlah 6 orang, dalam hal ini tidak semua pasien diambil
untuk terapi bermain akan tetapi diambil 3 orang karena orang tersebut sudah termasuk dalam
kondisi perawatan minimal (minimal care). Dan umur diatas 3 tahun berjumlah 5 orang, dalam hal
ini tidak semua pasien di ambil untuk terapi bermain akan tetapi diambil 1 orang karena orang
tersebut sudah termasuk dalam kondisi perawatan minimal (minimal care). Pasien yang diambil
untuk TAK berjumlah 6 orang, karena jumlah terapis 6 orang.
Dalam kondisi sakit atau sehat anak dirawat di Rumah Sakit, aktivitas bermain ini tetap perlu
dilaksanakan, namun harus sesuai dengan kondisi anak.Oleh karena itu kelompok mengambil terapi
bermain di ruang perawatan anak RSUD Dr Soedarso Pontianak, karena kelompok kami ingin
memberikan waktu bermain pada anak meskipun keadaan anak itu sakit, akan tetapi kita tidak
lepas juga melihat kondisi pasien yaitu yang sudah dinyatakan oleh dokter perawatan minimal
(minimal care) sehingga bisa membuat anak senang.
B. TOPIK
Adapun topiknya adalah menstimulasi fungsi kognitif, motorik kasar, motorik halus dan tumbuh
kembang anak pada usia : 0-12 bulan, 1-3 tahun dan diatas 3 tahun.
C. TUJUAn
1. Melatih imajinasinya (menyusun gambar).
2. Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, mengenal, membedakan warna dan dapat
membentuk objek).
3. Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.

D. LANDASAN TEORITIS
Aktifitas bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Dengan aktifitas
bermain anak juga akan memperoleh stimulasi mental yang merupakan cikal bakal dari proses
belajar pada anak untuk pengembangan, kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreatifitas,

agama, kepribadian, moral, etika dan sebagainya.


Bermain secara garis besar dapat dibagi kedalam dua kategori yaitu : aktif dan pasif (hiburan).
Bermain harus seimbang artinya : harus ada keseimbangan antara bermain aktif dan yang pasif
yang biasa disebut hiburan. Adapun bermain aktif kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat
mereka sendiri sedangkan bermain pasif kesenangan didapat dari orang lain.
1. Bermain Aktif
a. Bermain mengamati/menyelidiki
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut. Anak
memperhatikan alat, mengocok-ngocok apakah ada bunyi, mencium, meraba, menekan dan kadangkadang berusaha membongkar.
b. Bermain Konstruksi
Pada anak umur 3 tahun misalnya dengan menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan.
c. Bermain Drama
Misalnya main sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan saudara-saudaranya atau temantemannya.
d. Bermain bola, tali dan sebagainya.
2. Bermain Pasif
Dalam hal ini anak berperan pasif antara lain dengan melihat dan mendengar bermain pasif adalah
ideal, apabila anak sudah lelah bermain aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi
kebosanan dan keletihannya.
Pada anak terdapat tingkat perkembangan motorik dan sensorik anak sesuai dengan usianya
adalah :
1. Umur 0 - 1 bulan
a. Motorik :
1). Mengangkat kepala dibantu.
2). Ditengkurapkan kepala menoleh kanan - kiri.
3). Reflek primitif; sucking, rooting, morrow, menelan dan menggengam.
b. Sensorik :
1). Mengikuti sinar ketengah.
2. Umur 2 - 3 bulan
a. Motorik :
1). Dada ditahan dengan tangan angkat kepala.
2). Memasukkan tangan kemulut.
3). Meraih benda menarik.
4). Dapat didudukkan dengan punggung disokong.
5). Mulai bermain dengan jari dan tangannya.
b. Sensorik :
1). Dapat mengikuti sinar ketepi.
2). Koordinasi vertikal - horizontal.
3). Mendengarkan suara.
3. Umur 4 - 5 bulan
a. Motorik :
1). Bila didudukkan kepala sudah mulai seimbang dan punggung sudah kuat.

2). Bila ditengkurapkan sudah bisa miring,kepala sudah bisa tegak lurus.
3). Refleks primitif mulai hilang.
4). Meraih benda dengan tangan.
b. Sensorik :
1). Sudah mengenal orang.
2). Akomodasi mata positif.
4. Umur 6 - 7 bulan
a. Motorik :
1). Membalikkan badan.
2). Memindahkan benda dari tangan satu ketangan lain.
3). Mengambil mainan dengan tangan.
4). Senang memasukkan kaki & mulut.
5). Sudah mulai memasukkan makanan kemulut.
b. Sensorik :
1). Sudah dapat membedakan orang yang dikenal / tidak dikenal.
2). Dapat menyebut m.....m....m.....m...........
3). Dapat menangis & cepat tertawa.
5. Umur 8 - 9 bulan
a. Motorik :
1). Sudah bisa duduk sendiri.
2). Koordinasi tangan kemulut lebih sering.
3). Bayi mulai tengkurap sendiri & belajar merangkak.
b. Sensorik :
1). Bayi tertarik dengan benda yang kecil.
6. Umur 10 - 12 bulan
a. Motorik :
1). Sudah mulai berdiri tapi tidak lama.
2). Belajar berjalan tanpa bantu.
3). Sudah bisa berdiri & duduk sendiri.
4). Bisa bermain ci........luk.......ba..........
5). Mulai senang mencoret kertas.
b. Sensorik :
1). Sudah dapat membedakan bentuk.
7. Umur 15 bulan
a. Motorik kasar :
1). Sudah bisa jalan sendiri.
b. Motorik halus :
1). Memegang cangkir.
2). Memasukkan jari kelubang.
3). Membuka kotak.
4). Melempar kotak atau benda.

8. Umur 18 bulan
a. Motorik kasar :
1). Berlari tapi masih sering jatuh.
2). Menarik mainan.
3). Senang naik tangga tetapi masih dibantu.
b. Motorik halus :
1). Sudah menggunakan sendok.
2). Bisa membuka halaman buku.
3). Belajar menyusun balok.
9. Umur 24 bulan
a. Motorik kasar :
1). Dapat berlari dengan baik.
2). Naik tangga sendiri dengan kedua kaki tiap tahap.
b. Motorik halus :
1) Bisa membuka pintu.
2). Membuka kunci.
3). Menggunting.
4). Minum sendiri dengan gelas.
10. Umur 36 bulan
a. Motorik kasar :
1). Bisa naik turun tangga tanpa bantuan.
2). Memakai baju dengan bantuan.
3). Mulai bisa bersepeda roda tiga.
b. Motorik halus :
1). Menggambar lingkaran.
2). Mencuci tangan sendiri.
3). Menggosok gigi.
11. Umur 4 tahun
a. Motorik kasar :
1). Berjalan jinjit.
2). Melompat.
3). Melompat dengan satu kaki.
4). Menangkap bola dan melempar dari atas kepala.
b. Motorik halus :
1). Dapat menggunting dengan lancar.
2). Dapat menggambar kotak dan garis vertikal.
3). Membuka dan memasang kancing.
12. Umur 5 tahun
a. Motorik kasar :
1). Berjalan mundur dan jinjit.
2). Menangkap dan melempar bola dengan baik.
3). Melompat dengan kaki bergantian.
b. Motorik halus :

1). Menulis dengan angka.


2). Menulis dengan huruf & kata-kata.
3). Belajar menulis nama.
4). Belajar mengikat tali sepatu.
Menurut Soetjaningsih (1995) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar
aktivitas bermain bisa menjadi stimulus yang efektif sebagaimana berikut ini :
1. Energi
Anak bermain sangat diperlukan ekstra energi. Anak yang sakit sangat kecil kemungkinannya
untuk mengikuti permainan.
2. Waktu
Untuk mengikuti terapi bermain anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain, karena
mengingat kondisi anak yang harus diperhatikan.
3. Ruangan
Untuk terapi bermain ruangan tidak usah terlalu lebar dan tidak perlu ruangan khusus untuk
bermain, yang terpenting anak bisa bermain di ruang keluarga, di halaman, bahkan di kamar
tidurnya.
4. Peralatan
Untuk bermain diperlukan alat permainan yang sesuai dengan umur dan taraf perkembangannya.
5. Pengetahuan
Anak belajar bermain melalui mencoba-coba sendiri, meniru teman-temannya atau diberi tahu
caranya oleh orang lain. Cara yang terakhir adalah yang terbaik karena anak tidak terbatas
pengetahuannya dalam menggunakan alat permainannya dan anak-anak akan mendapat keuntungan
lain lebih banyak.
6. Teman Bermain
Dalam bermain anak harus merasa yakin bahwa ia mempunyai teman bermain, mendapat
keuntungan apakah itu saudaranya, pembantu, orang tuanya atau temannya. Karena kalau anak
bermain sendiri, maka ia akan kehilangan kesempatan belajar dari teman-temannya. Sebaliknya
kalau terlalu banyak bermain dengan orang lain, maka dapat mengakibatkan anak tidak mempunyai
kesempatan yang cukup untuk menghibur diri sendiri dan menemukan kebutuhannya sendiri. Bila
kegiatan bermain dilakukan bersama orang tuanya, maka hubungan orang tua dengan anak menjadi
akrab dan ibu atau ayah akan segera mengetahui setiap kelainan yang terjadi pada anak mereka
sendiri.
Adapun fungsi dari bermain antara lain :
1. Perkembangan sensori motorik
Melalui permainan anak akan mampu mengungkapkan kemampuan fisiknya :
1). Bayi dengan penglihatan, taktil dan rangsangan.
2). Todler (balita) dan pra sekolah melalui gerakan tubuh.
3). Kematangan dan maturitas akan membedakan perbedaan masing-masing usia.
2. Perkembangan kognitif / intelektual
Diperoleh dengan melakukan eksplorasi dan manipulasi benda sekitarnya baik dalam hal warna,
ukuran dan pentingnya benda tersebut. Contoh : bermain teka-teki.
3. Perkembangan sosial
a. Anak belajar berinteraksi denan orang lain.

b. Anak akan mempelajari peran dalam kelmpok.


c. Belajar memberi dan menerima.
d. Anak dapat belajar benar-salah.
e. Anak dapat mengenal moral dan tanggung jawab.
4. Perkembangan moral
a. Perkembangan moral dapat diperoleh dari permainan dan interaksi dengan orang lain.
b. Anak akan menyesuaikan aturan kelompok.
c. Anak bersikap jujur dengan kelompok.
5. Perkembangan kreativitas
a. Anak melakukan percobaan tentang ide.
b. Anak bermain melalui semua media.
c. Anak puas dengan kreativitas baru.
d. Minat terhadap lingkungan tinggi.
6. Perkembangan kesadaran sendiri.
Anak belajar memahami kemampuan dirinya, kelemahannya dan tingkah laku terhadap orang lain.
7. Fungsi terapi.
Dapat mengekspresikan yang tidak enak, misalnya marah, takut, kesal dan lain-lain.
8. Perkembangan komunikasi
a. Bermain merupakan alat komunikasi pada anak.
b. Dapat menyatakan perasaannya secara verbal, menyusun gambar.
E. KLIEN
1. Karakteristik / kriteria.
a. Klien dalam kondisi baik dan tidak beresiko.
b. Usia klien 1-2 tahun.
2. Proses Seleksi
a. Pengkajian oleh mahasiswa.
b. Penggolongan berdasarkan usia.
c. Penyeleksian berdasarkan keadaan umum dan kemampuan melakukan aktivitas.
3. Jumlah Klien : 6 orang
F. PENGORGANISASIAN
1. Waktu
a. Hari / Tanggal : Sabtu, 26 Januari 2008
b. Waktu : 10.00 - 10.30 WIB
c. Tempat : Ruang G ( Anak ) RSUD Dr. Soedarso Pontianak
2. Tim Terapi Kelompok
Setting : Peserta dan terapis di dalam suatu ruangan

K : Klien
L : Leader
C: Co Leader

O : Observer
M: Mainan
F : Fasilitator
3. Tim Terafis dan Perannya
a. Leader :
Uraian Tugas :
1) Menjelaskan tujuan pelaksanaan TAK.
2) Menjelaskan peraturan kegiatan TAK sebelum kegiatan dimulai.
3) Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok.
4) Mampu memimpin TAK dengan baik.
b. Co Leader :
Uraian Tugas:
1) Menyampaikan Informasi dari fasilitator ke leader tentang aktivitas klien.
2) Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang.
3) Mengingatkan leader tentang waktu.
c. Fasilitator :
Uraian Tugas :
1) Memfasilitasi klien yang kurang aktif.
2) Berperan sebagai role model bagi klien selama kegiatan berlangsung.
3) Mempertahankan kehadiran peserta.
d. Observer :
Uraian Tugas :
1) Mengobservasi jalannya / proses kegiatan.
2) Mencatat perilaku verbal dan nonverbal klien selama kegiatan berlangsung.
4. Metode dan Media.
1) Metode yang digunakan antara lain :
a) Komunikasi kepada ibu dan anak.
b) Bermain permainan menyusun gambar.
c) Mainan di letakkan di tengah-tengah kemudian klien di bebaskan memilih gambar sesuai dengan
keinginannya.
2) Media.
a). Alat yang dapat dipegang dengan tangan dan dapat disusun.
b). Musik.
G. PROSES PELAKSANAAN.
1. Persiapan.
a. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
b. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok.
c. Memberi kesempatan klien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya ( BAB, BAK, makan dan
minum ).
2. Orientasi.
a. Salam Teraupetik.
" Assalammuallaikum Wr...Wb.... ( Selamat pagi Ibu-Ibu dan adik-adik semua ) "
b. Evaluasi / Validasi

" Bagaimana dengan kondisi anak-anaknya Bu...........semoga semakin membaik ya Bu........... Baiklah
mungkin selama anaknya dirawat di Rumah Sakit ini, anak-anak Ibu tidak ada kesempatan untuk
bermain, karena kondisi anak-anak Ibu yang sedang sakit.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu memenuhi kebutuhan bermain saat anak sakit.
" Ibu-Ibu, sekarang kita akan melakukan kegiatan bersama-sama dengan cara mengajak anakanak ibu bermain. Adapun tujuan kegiatan kita ini memenuhi kebutuhan bermain anak walaupun
dalam kondisi sakit, jadi walaupun sakit, ia tidak kehilangan kesempatan untuk bermain, karena
bermain itu penting Ya.........Ibu............. yaitu untuk memenuhi tahapan perkembangan fisik maupun
mentalnya "
2) Menjelaskan aturan main
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis.
b) Lama kegiatan 20 menit.
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
" Ibu-Ibu permainan ini akan dilakukan selama 20 menit, kami mengharapkan ibu-ibu dapat
membantu anak-anak ibu masing-masing untuk dapat mengikuti kegiatan ini dari awal hingga akhir,
dan apabila mau meninggalkan ruangan harus ijin terlebih dahulu. Didalam terapi bermain ini, di
tengah-tengah kita ada satu macam permainan dengan beraneka gambar, anak-anak ibu boleh
memilih gambar apa saja yang sesuai dengan keinginan anak-anak ibu, jika anak ibu susah untuk
bergerak, ibu tolong dekatkan anak ke tempat mainan."
3) Tahap kerja
a) Fasilitator-fasilitator mengajak bermain anak-anak dengan cara menunjukan mainan yang ada
di tengah atau menggerak-gerakkan mainan tersebut hingga anak-anak tertarik diiringi dengan
lagu anak-anak.
b) Leader menjelaskan pentingnya bermain dengan menggenggam mainan untuk melatih refleks
dan motorik kasar maupun halus anak tersebut, fasilitator harus bersabar. Perhatikan
kemampuan dan minat anak setelah anak-anak memilih mainan masing-masing fasilitator dan
observer harus mengawasi tingkah-laku dan pola anak-anak dalam bermain.
c) Janganlah orang tua atau fasilitator menuntut anak di luar kemampuannya.
d) Hentikan permainan bila si anak tidak ingin bermain.
3. Feed Back/timbal balik
Dalam pelaksanaan terapis diharapkan setelah mengikuti terapi bermain, anak tidak merasa bosan
selama di Rumah Sakit. Diharapkan kepada keluarga bahwa walaupun sakit, kebutuhan bermain
untuk anak tetap dipenuhi, karena selama sakit khususnya jika anak di rawat di RS, anak akan
berhadapan dengan sebuah lingkungan yang asing yang belum dikenal, sehingga anak menjadi
takut dan bosan serta masih banyak lagi dampak dari hospitalisasi yang akan dirasakan oleh anak.
h. kesimpulan
Setelah dilakukan terapi bermain tadi anak-anak kelihatan senang dan Ibu-ibunya juga
mengatakan senang sekali dengan adanya terapi bermain ini. Sehingga kelompok kami
menganjurkan kepada Ibu semua untuk tidak melarang anak-anaknya untuk bermain, walaupun
kondisi anak sedang sakit, karena bermain merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi

bagi anak-anak. Jadi terapi bermain ini tidak hanya dilakukan di Rumah Sakit saja, tetapi dapat
dilakukan dirumah maupun diluar rumah.
Tetapi didalam proses permainan tadi ada 2 orang anak yaitu yang berumur 1,5 tahun dan 2 tahun
tidak dapat mengikuti kegiatan bermain sampai selesai, karena anak tersebut sedang
diperiksakan ke dokter. Sedangkan yang lainnya dapat mengikuti kegiatan bermain sampai selesai.

LAPORAN
TERAPI BERMAIN
A. KLIEn
Terdiri dari 6 orang anak yaitu:
1. An. Ibnu ( Bed A06 ) berumur 10 bulan
2. An. Frans ( Bed A05 ) berumur 10 bulan
3. An. Reki ( Bed B11 ) berumur 11 bulan
4. An. Irma ( Bed A03 ) berumur 1,5 tahun
5. An. Della (bed C19 ) berumur 2,3 tahun
6. An. Anisah ( Bed B13 ) berumur 3,2 tahun
B. WAKTU/TEMPAT
Hari /Tanggal : Sabtu, 26 Januari 2008
Waktu : 10.30 -11.00
Tempat : Di ruang G (Anak) RSUD Dr.Soedarso Pontianak
C. Media
- Benda yang aman untuk dimasukkan dalam mulut / dipegang.
- Alat permainan berupa bola plastik, balok - balok kayu.
- Alat yang dapat dipegang dengan tangan dan dapat disusun.
- Buku bergambar yang dapat diwarnai dengan krayon atau pensil berwarna.
D. TEAM TERAPIS
1. Dian Mardiana
2. Ferda Rianda
3. Nurpratiwi
4. Siti Nurlinda
5. Syf. Ade Kurnia E.
6. Yurisawati
E. PROSES PELAKSANAAN
Proses pertama terapi diadakan pengenalan terlebih dahulu, kemudian pengenalan jenis permainan
dilanjutkan dengan terapi bermain.dalam proses permainan semua anak bermain dengan aktif,
proses permainan dan memainkan permainan tersebut secara baik.
Tetapi didalam proses permainan tadi ada 2 orang anak yaitu yang berumur 1.5 tahun dan 2 tahun
tidak mengikuti kegiatan bermain sampai akhir, karena anak tersebut sedang di periksakan ke
dokter. Sedangkan yang lainnya dapat mengikuti kegiatan bermain sampai selesai.
Setelah dilakukan terapi bermain tadi anak-anak kelihatan senang dan Ibu-ibunya juga
mengatakan senang sekali dengan adanya terapi bermain ini.Sehingga kelompok kami
menganjurkan kepada Ibu-Ibu semua untuk tidak melarang anak-anaknya untuk bermain,walaupun

kondisi anak sedang sakit, karena bermain merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi
bagi anak-anak.Jadi terapi bermain ini tidak hanya dilakukan di Rumah Sakit saja,tetapi dapat
dilakukan dirumah maupun diluar rumah.
http://www.perfspot.com/blogs/blog.asp?BlogId=121151