Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK LANJUT


JUDUL PERCOBAAN

ISOLASI KURKUMINOID DARI KUNYIT


DISUSUN OLEH:
Ayu Rahayu Anggraeni

(125090200111047)

Lilis Diah Puspitasari

(125090200111048)

Indah Rizki Ulya

(125090200111049)

Meyta Restu Wigati

(125090200111051)

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kunyit adalah tanaman rempah yang banyak tumbuh di daerah tropis seperti
India, Cina, Malaysia, dan Indonesia. Kunyit memiliki banyak manfaat yaitu sebagai
bumbu masakan, zat pewarna alami, dan bahan baku obat. Kandungan kunyit sangat
banyak yang bermanfaat untuk antioksidan dan anibakteri (Aggarwal dkk, 2006).Salah
satu komponen kunyit yang sangat bermanfaat dan jumlahya paling banyak adalah
kurkumin. Kurkumin dapat diambil dari rimpang kuyit dengan cara diekstrak. Secara
umum eksraksi didefinisikan sebagai proses pemisahan dan isolasi senyawa suatu zat
degan penambahan pelarut tertentu untuk mengeluarkan komponen campuran dari zat
padat atau zat cair. Dalam hal ini fraksi padat yag diinginkan bersifat larut dalam pelarut.
Sedangakn fraksi padat lainnya tidak dapat larut. Proses tersebut akan sempurna jika zat
terlarut dipisaknan dari pelarutnya dengan cara distilasi penguapan (Wahyuni dan
Yamewav, 2004).
1.2 Tujuan
Tujuan dari percobaan adalah melakukan isolasi kurkuminoid dari rimpang
kunyit, mengetahui teknik pemisahan kurkuminoid dan turunannya menggunakan metode
KLT, dan melakukan karakterisasi panjang gelombang menggunakan spektrofotometer
UV-Visible dan karakterisasi gugus fungsi menggunakan spektrofotometer IR.
1.3 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari percobaan ini antara lain dapat mengetahui serta
melakukan isolasi kurkuminoid dari kunyit, dapat mengetahui proses dan teknik
pemisahan kurkumin dan turunannnya dengan metode KLT, serta dapat melakukan
karakterisasi dengan spektrofotometer UV-Visible dan spektrofotometri IR.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori


Kunyit merupakan tanaman dari family jahe dengan nama latin Curcuma longa
Koen atau Curcuma domestica Val. Kunyit ini dikenal luas di Indonesia sebagai bahan
pewarna dan penyedap makanan, rimpangnya sudah sejak dulu dipakai untuk mewarnai
kapas, wol, sutera, tikar, dan barang-barang kerajinan lainnya. Senyawa utama yang
terkandung dalam rimpang kunyit adalah senyawa kurkuminoid yang memberi warna
kuning pada kunyit. Kurkuminoid ini (kebanyakan berupa kurkumin) menjadi pusat
perhatian para peneliti yang mempelajari keamanan, sifat antioksidan, antiinflamasi, efek
pencegah kanker, ditambah kemampuannya menurunkan resiko serangan jantung
(Sudarsono, 2006).
Kunyit merupakan tanaman dari family jahe dengan nama latin Curcuma longa
Koenatau Curcuma domestica Val. Kunyit mempunyai banyak kandungan kimia,
diantaranya minyak atsiri sebanyak 6% yang terdiri dari golongan senyawa monoterpen
dan sesquiterpen (meliputi zingiberen, alfa dan beta turmeron), zat warna kuning yang
disebut kurkuminoid sebanyak 5% (meliputi kurkumin 50 60%,
monodesmetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin), protein, fosfor, kalium, besi dan
vitamin C. Dari ketiga senyawa kurkuminoid tersebut, kurkumin merupakan komponen
terbesar (Sudarsono, 2006).
Kurkumin (1,7-bis(4 hidroksi-3 metoksifenil )-1,6 heptadien, 3,5-dion merupakan
komponen penting dari Curcuma longa Linn. yang memberikan warna kuning yang khas.
Kurkumin termasuk golongan senyawa polifenol dengan struktur kimia mirip asam
ferulat yang banyak digunakan sebagai penguat rasa pada industri makanan (Jaruga dan
Pan, 2008). Serbuk kering rhizome (turmeric) mengandung 3-5% kurkumin dan dua
senyawa derivatnya dalam jumlah yang kecil yaitu desmetoksi kurkumin dan
bisdesmetoksikurkumin, yang ketiganya sering disebut sebagai kurkuminoid (Dandekar
dan Gaikar, 2002).Kurkumin tidak larut dalam air tetapi larut dalam etanol atau
dimetilsulfoksida (DMSO).Degradasi kurkumin tergantung pada pH dan berlangsung
lebih cepat pada kondisi netral-basa (Sastry, 2010).

Gambar 1: Struktur kurkumin (Sastry, 2010).


Kurkumin merupakan salah satu senyawa aktif yang diisolasi dari rimpang
Curcuma longa (kunyit). Namun berdasarkan penelitian terbaru, kurkumin juga dapat
diisolasi dari Curcuma zedoaria dan Curcuma aromatica. Senyawa turunan kurkumin
antara lain (Hemalatha et al, 2008):

Gambar 2: Senyawa turunan kurkumin (Hemalatha et al, 2008).

Prinsip kerja dari ekstraksi Soxhlet adalah salah satu model ekstraksi (pemisahan
atau pengambilan) biasa dapat menggunakan pelarut yang selalu baru dalam
mengekstraknya sehingga terjadi ekstraksi yang kontinyu dengan adanya jumlah pelarut
konstan yang juga dibantu dengan pendingin balik (Fessenden, 2009).
Prinsip dari rotary evaporator terletak pada penurunan tekanan pada labu alas
bulat dan pemutaran labu alas bulat hingga berguna agar pelarut dapat menguap lebih
cepat di bawah titik didihnya. Hasil dari instrumen ini sangat akurat. Instrumen ini
memiliki teknik yang berbeda dengan pemisahan yang lainnya. Tekniknya bukan hanya
terletak pada pemanasannya tapi dengan menurunkan tekanan pada labu alas bulat dan
memutar labu alas bulat dengan kecepatan tertentu. Dengan begitu, suatu pelarut akan
menguap dan senyawa yang larut dalam pelarut tersebut tidak ikut menguap. Dengan
pemanasan dibawah titik didih pelarut, senyawa yang terkandung dalam pelarut tidak
rusak oleh suhu tinggi (Sharma, 2007).
Prinsip kerja kromatrografi lapis tipis yaitu memisahkan sampel berdasarkan
perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya
menggunakan fase diam dari plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan sampel
yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen.
4

Semakin dekat sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak
tersebut (Subagio, 2005).
Prinsip dari spektrofotometer IR adalah ketika suatu senyawa diberikan energi
radiasi inframerah maka molekul tersebut akan mengalami vibrasi dengan syarat energi
yang diberikan molekul cukup untuk mengalami vibrasi. Macam vibrasi ada 2 yaitu
vibrasi regangan (stretching) dan vibrasi tekuk (bending). Vibrasi stretching ada 2 tipe
yaitu stretching asimetris dan simetris. Perbedaannya stretching simetris merupakan
perubahan panjang ikatan menjadi lebih panjang atau lebih pendek namun tidak
menyebabkan perubahan momen dipol (momen dipil=0) sehingga IR aktif (Alimia dan
Irfan, 2007).
Prinsip spektofotometer UV-Vis adalah dengan memancarkan sinar pada daerah
UV-Vis pada ujung gelombang tertentu melalui kuvet yang berisi larutan dan jatuh pada
sel poloelektrik yang merubah energi radiasi menjadi energi listrik yang terukur oleh
suatu galvanometer. Spektrofotometer UV-Vis digunakan untuk mengamati spektrum
absorbansi suatu senyawa dalam larutan, yang teramati adalah absorbansi dari energi
cahaya atau radiasi elektromagnetik, dimana eksitasi elektron dari keadaan dasar ke
keadaan tereksitasi singlet pertama dari senyawa atau material (Gandhimati dkk, 2012).
2.2 Tinjauan Bahan
2.2.1 Kunyit
Kunyit merupakan tanaman dari family jahe dengan nama latin Curcuma
longa Koen atau Curcuma domestica Val. Senyawa utama yang terkandung dalam
rimpang kunyit adalah senyawa kurkuminoid yang memberi warna kuning pada
kunyit. Kunyit memiliki banyak kandungan kimia, diantaranya minyak atsiri
sebanyak 6%, zat warna kuning yang disebut kurkuminoid sebanyak 5%, protein,
fosfor, kalium, besi dan vitamin C (Sudarsono, 2006).
2.2.2 Etanol
Etanol berbentuk cair, berbau seperti alkohol, mempunyai pH netral, titik
didih 78,5 C (173,3 F), titik lebur -114 C (-173,4 F), suhu kritis 243 C (469,4 F)
dan tekanan uap 5,7 kPa (@20 C). Etanol mudah larut dalam air dingin, air panas,
methanol, dietileter, dan larut dalam aseton (Sciencelab1, 2013).
2.2.3 Kloroform
Kloroform atau CHCl3 berbentuk cair, tidak berwarna, memiliki bau yang
sedap, manis, seperti eter dan tidak memyebabkan iritasi serta memiliki rasa yang
membakar dan manis. Kloroform memiliki berat molekul 119,38 gram/mol, titik
didih 61 oC, titik lebur -63,5 oC dan temperature kritis 263,33 oC (Sciencelab2, 2013).
2.2.4 Toluen
Toluen berbentuk cair, tidak berwarna, dan memiliki bau yang manis
seperti benzena. Toluene memiliki berat molekul sebesar 92,14 g/mol, titik didih
110,6 C (231,1 F), titik lebur -95 C (-139 F). Toluen larut dalam aseton dan
dietileter, sedikit larut dalam air dingin, larut dalam etanol, benzene, kloroform,
asam asetat glacial, karbon disulfida (Sciencelab3, 2013).
5

2.3 Tinjauan Hasil


Pada percobaan ini akan dihasilkan kurkumin yang berasal dari kunyit. Kurkumin
merupakan komponen penting dari kunyit yang memberikan warna kuning yang
khas.Kurkumin termasuk golongan senyawa polifenol dengan struktur kimia mirip asam
ferulat yang banyak digunakan sebagai penguat rasa pada industry makanan (Jaruga dan
Pan, 2008).

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat
Peralatan yang digunakan pada percobaan ini antara lain seperangkat alat gelas
(gelas kimia, pipet tetes, pipet ukur, gelas arloji), seperangkat ekstraktor Soxhlet,
seperangkat rotary evaporator, spektrofotometer UV-Visible, spektrofotometer IR, bejana
pengembang dan pipa kapiler, KLT, botol sampel, neraca analitik, bola hisap, botol
semprot.
3.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain kunyit, etanol teknis, etanol
p,a 96 %, kloroform, toluen, dan akuades.
3.3 Diagram Alir Percobaan
3.3.1 Ekstraksi Kurkumin dari Kunyit

Kunyit

Dicuci dengan air bersih


Ditiriskan
Dipotong tipis
Dikeringkan
Kunyit Kering
Disiapkan timbel dari kertas saring

Ditimbang timbel

Diisikan kunyit kering dalam timbel

Ditimbang untuk mengetahui massa kunyit (20 gram)

Dimasukkankedalam ekstraktor sokhlet (labu alas bulat)

Ditambahkan pelarut etanol teknis sebanyak 250 ml

Dirangkaikan ekstraktor sohklet

Dilakukan proses sokhlet hingga 6 kali siklus

Ekstrak Kunyit
Diuapkan pelarutnya dengan evaporator rotary hingga volume ekstrak 15 ml
Filtrat dianalisis dengan spektrofotometer IR untuk mengetahui struktur
molekul dalam ekstrak
Hasil

3.3.2

Pemisahan kurkumin dan turunannya dengan metode KLT

Plat KLT
Diambil dengan ukuran 5 x 10 cm
Ditandai degan pensil 1,5 cm dari batas bawah; 0,5 cm dari batas atas
Disiapkan bejana pengembang
Diisi dengan larutan eluen campuran larutan kloroform : toluena : etanol 96 %
= 4,5 : 4,5 : 1
Ditotolkan ekstrak pada garis batas bawah degan menggunakan pipa kapiler
Dimasukkan kedalam bejana pengembang
Dielusikan spot ekstrak hingga batas atas
Diangkat plat KLT dari dalam bejana pengembang
Dikeringkan di udara terbuka
Spot hasil pemisahan dilihat di bawah sinar UV
Diukur nilai Rf masing-masing spot hasil pemisahan
Dikerok masing-masing spot

Hasil Kerokan
Diekstrak degan melarutkannya dalam pelarut etanol
Filtrat diencerkan dan diukur absorbansinya dengan Spektrofotometer UV-VIS
untuk mendapatkan panjang gelombang maksimum larutan
Hasil

3.4 Gambar Alat

Ekstraktor Soxhlet

Rotary Evaporator

Kromatografi Lapis Tipis

Spektrofotometer UV-Visible

Spektrofotometer Infrared

BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN
4.1 Ekstraksi Soxhlet dengan Bahan Kunyit
No

Perlakuan

Pengamatan

Kunyit dicuci dengan bersih dan ditiriskan Kunyit berwarna orange dengan kulit
berwarna kecoklatan

Dipotong tipis dan dipotong-potong


hingga ukuran kecil dan dikeringkan

Kunyit berwarna kuning dengan kulit


kecoklatan menjadi kering dan
mengkerut

Disiapkan timbel dari kertas saring dan


ditimbang

Timbel memiliki berat 0,76 gram

Diisi timbel dengan irisan kunyit dan


ditimbang kembali

Berat kunyit = 20,00 gram

Timbel berisi sampel dimasukkan ke


dalam ekstraktor Soxhlet

Timbel berada di dalam Soxhlet

Ekstraktor Soxhlet dirangkai dan


ditambahkan etanol teknis

Etanol berbentuk cair, tidak berwarna


dan berbau. Setelah terkena timbel yang
berisi kunyit, etanol berwarna orange
bening

Dilakukan ekstraksi sebanyak 6 kali


sirkulasi

Siklus

Waktu (menit)

21

12

13

12

15

14

Ekstrak yang diperoleh diuapkan


pelarutnya hingga volume ekstrak 15 mL
dengan rotary evaporator
Ekstrak yang diperoleh dari ekstraksi
Soxhlet dimasukkan ke dalam labu
alas bulat

Ekstrak berwarna jingga kecoklatan,


keruh

Botol tempat ekstrak dibilas dengan

Botol sampel bersih dari ekstrak


10

etanol
Dirangkai alat rotary evaporator

Rotary evaporator siap digunakan

Ekstrak diuapkan pelarutnya

Hasil penguapan berupa larutan jernih


tidak berwarna. Endapan berwarna
hitam.
Massa botol = 118,80 gram
Massa botol + ekstrak = 126,20 gram
Massa ekstrak = 7,40 gram
%rendemen =

7,40 gram
100%
20 gram

= 37 %
4.2 Pemisahan Kurkumin dan Turunannya dengan Metode KLT
No

Perlakuan

Pengamatan

Plat KLT ukuran 2x10 cm diambil dan


ditandai dengan pensil dengan batas
bawah 1,5 cm dan batas atas 0,5 cm

Plat KLT telah siap digunakan, plat


berwarna putih berukuran 2x10 cm

Bejana pengembang disiapkan dan diisi


dengan eluen campuran kloroform :
toluene : etanol (4,5 : 4,5 : 1)

Eluen tercampur dan jenuh, berada pada


bejana pengembang

Ekstrak ditotolkan pada garis batas bawah


dengan pipa kapiler dan dimasukkan ke
bejana pengembang

Terbentuk warna kuning pekat pada titik


totolan.

Dielusi spot ekstrak hingga batas atas

Ekstrak terelusi hingga batas atas


Pada penotolan pertama terjadi tailing,
eluat tidak terpisah.

Plat KLT diangkat dari bejana dan


dikeringkan di udara

Pada penotolan kedua eluat terpisah


menjadi 2 spot, eluat atas berwarna kuning
dan eluat bawah berwarna kecoklatan
(terelusi lebih pendek.
Tinggi sampel = 5,6 cm

Nilai Rf diukur pada spot

Tinggi eluen = 8,0 cm


5,6 cm

Rf = 8,0 cm = 0,7
7

Spot yang terbentuk dikerok

Hasil kerokan berwarna kuning berbentuk


11

serbuk berada pada tabung reaksi


8

Diekstrak hasil kerokan dengan dilarutkan


dalam etanol

Larutan kuning dan terdapat endapan


putih

Ekstrak kurkumin dianalisis dengan


spektrofotometer UV-Visible dengan
menggunakan hasil pemisahan dengan
KLT

Pada pengukuran dengan spektrofotometer


UV-Visible diperoleh panjang gelombang
maksimal ekstrak = 422,0 nm dan
absorbansi (A) = 0,386

10

Analisis spektrofotometer IR dilakukan


dengan ekstrak kurkumin hasil destilasi
Soxhlet yang telah dievaporasi

Pada pengukuran dengan spektrofotometer


IR diperoleh beberapa peak yang
menunjukkan adanya gugus fungus dari
kurkumin.

12

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Analisa Prosedur
Prinsip isolasi kurkumin dari kunyit adalah memisahkannya dengan beberapa
tahapan sehingga kurkuminoid murni.Tahapannya ialah ekstraksi Soxhlet, evaporasi,
kromatografi lapis tipis. Proses pertama ialah pemisahan dengan ekstraksi Soxhlet yaiu
destilasi uap (destilasi padat-cair) secara berulang. Dimana pelarut etanol teknis yang
digunakan akan melarutkan kurkumin dalam kunyit, ektraksi dilakukan beberapa kali
hingga kurkumin terekstrak sempurna. Ekstrak kurkumin dan beberapa senyawa yang
terlarut dalam etanol akan tertinggal dalam labu alas bulat dan memekat semakin dengan
semakin banyak siklus ekstraksi dilakukan. Ekstrak kurkumin yang masih mengandung
pelarut etanol kemudian dipekatkan dengan metode evaporasi, dalam keadaan vakum dan
dengan pengadukan, menggunakan rotary evaporator. Ekstrak yang telah terpekatkan
dipisahkan dari komponen-komponennya dengan menggunakan kromatografi lapis tipis
dengan eluen toluen:kloroform:etanol p.a. 96 % (4,5:4,5:1). Pemisahan ini didasarkan
pada kepolaran dari komponen-komponen dalam sampel. Komponen yang memiliki sifat
polar lebih besar akan tertahan lama dalam kolom sehingga nilai Rfnya kecil. Sedangkan
komponen dengan sifat kepolaran yang relatif kecil akan lebih mudah mengelusi dan
memiliki nilai Rf yang besar. Plat KLT yang mengandung ekstrak kurkumin kemudian
dikerok untuk diambil kurkuminnya dan dilarutkan dalam etanol untuk memisahkan
kurkumin dengan silika dari plat KLT. Kurkumin yang terekstrak kemudian di uji struktur
senyawanya dengan menggunakan spektrofotometer IR dan dilakukan pengukuran
panjang gelombang maksimum dan dibandingkan dengan literatur untuk uji kualitatif
kurkumin.
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah kunyit, etanol, campuran
toluen:kloroform:etanol p.a. 96 % (4,5:4,5:1), plat KLT. Kunyit digunakan sebagai bahan
yang akan diekstrak kurkuminnya. Etanol berfungsi sebagai pengekstraksi pada ekstraksi
Soxhlet.Digunakan etanol karena etanol bersifat semipolar sehingga dapat melarutkan
kurkumin dengan baik, dan mengeksraksi kurkumin dari kunyit sebanyak mungkin.
Campuran toluen:kloroform:etanol p.a. 96 % (4,5:4,5:1) digunakan sebagai eluen pada
metode pemisahan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis, dan menurut
hasil penelitian campuran toluen:kloroform:etanol (4,5:4,5:1) dapat memisahkan
kurkumin dengan komponen lainnya dengan baik. Plat KLT digunakan sebagai fasa diam
dalam kromatrografi lapis tipis, bersifat polar, berfungsi sebagai tempat terjadinya
pemisaha komponen-komponen ekstrak kunyit.
Kunyit yang akan diekstrak pertama-tama dipotong tipis-tipis untuk memperbesar
luas permukaan dan dibiarkan pada udara terbuka untuk mengurangi kadar air
didalamnya, sehingga tidak terbawa atau bahkan mengganggu hasil ektraksi Soxhlet.
Kunyit kemudian ditimbang dan dibungkus dengan timbel sebelum dimasukkan ke dalam
ekstraktor Soxhlet untuk mencegah tercecernya kuyit dan kontamninan selama ekstraksi
berlangsung, serta memudahkan memasukkan dan mengambil kembali kunyit sebelum
dan setelah ekstraksi.Setelah timbel dimasukkan kedalam ekstraktor Soxhlet, kemudian
dituangkan etanol hingga melebihi batas sifon atas untuk memastikan pelarut yang
digunakan cukup.Jumlah pelarut harus lebih banyak beberapa mL dari batas sifon untuk
13

memasikan etanol dapat turun ke labu dasar bulat setelah penguapan dan masih tersisa
sedikit larutan dalam labu alas bulat. Labu alas bulat tidak boleh koson karena bila kosong
akan menyebabkan ekstrak kurkumin menjadi kering dan pecahnya labu. Ekstraksi
dilakukan sebanyak lima kali siklus, bertujuan agar semakin banyak kurkumin yang
terekstrak. Setelah ekstraksi selesai, ekstrak dipisahkan dengan pelarutnya dengan
menggunakan rotary evaporator berfungsi untuk memekatkan ekstrak kurkumin yang
diperoleh. Suhu evaporator diset pada maksimal 70 OC, hal ini dilakukan karena dengan
menggunakan rotary evaporator, kurkumin akan menguap pada temperatur dibawah titik
didihnya karena pengaruh tekanan. Ekstrak kurkumin kemudian diteteskan pada plat KLT
beberapa kali kemudian dimasukkan kedalam bejana pengembang yang telah jenuh
dengan larutan eluen. Penotolan dilakukan beberapa kali bertujuan agar kurkumin hasil
pemisahan cukup jelas untuk diamati dan digunakan untuk uji selanjutnya. Penotolan
dilakukan ketika hasil penotolan sebelumnya setengah kering, karena apabila dilakukan
ketika hasil penotolan sebelumnya masih basah menyebabkan hasil penotolan meluas dan
bila hasil penotolan dilakukan setelah kering hasilnya sama dengan penotolan tunggal.
Hasil pemisahan dengan KLT dikerok pada bagian yang mengandung kurkumin
dan dilarutkan dalam etanol untuk memisahkan kurkumin dan media KLT yang ikut
terbawa saat dikerok.Larutan dan endapan dipisahkan dan diambil filtratnya. Dilakukan
uji dengan spektrofotometri UV-Vis dan spektrofotometri Infrared untuk mengetahui
senyawa yang terdapat pada hasil isolasi kurkumin.

5.2 Analisa Hasil


Ekstrak yang dihasilkan berwarna kuning dengan rendemen sebesar 37 %, namun
menurut literatur dalam kunyit hanya terdapat 5 % kurkumin (Sudarsono, 2006). Besarnya
rendemen ini diakibatkan karena ketika mengukur massa rendemen, masih terdapat
pelarut dalam jumlah yang cukup banyak serta belum mengalami pemisahan lebih lanjut
sehingga masih mengandung senyawa lain di dalamnya. Kurkumin yang dipisahkan dari
campurannya melalui KLT menunjukkan spot yang berpendar dibawah sinar UV,
menandakan adanya senyawa kukumin. Spot kurkumin berwarna kuning tipis hampir
tidak berwarnla, berada di bawah spot berwarna kekuningan. Faktor retensi, Rf,
merupakan perbandingan jarak elusi antara komponen dengan jarak elusi eluen, nilai Rf
dari kurkumin yang didapatkan sebesar 0,7.
Fasa diam pada plat KLT dikerok, pada bagian yang menunjukkan adanya
kurkumin, kemudian dilarutkan dalam etanol 96%. Larutan berwarna sedikit kekuningan,
merupakan warna khas dari kurkumin. Pengujian panjang gelombang maksimum dengan
menggunakan spektrofotometer UV-Vis menunjukkan bahwa panjang gelombang
maksimun larutan kurkumin adalah 422,0 nm. Menurut literatur panjang gelombang
maksimum untuk kurkumin adalah sebesar 430 nm.Perbedaan panjang gelombang kearah
yang lebih rendah disebabkan adanya efek pelarut etanol yang menyebabkan terjadinya
hipokromik.

14

Dari hasil pengukuran dengan spektrofotometer IR, pada ekstrak kurkumin hasil
destilasi Soxhlet yang telah dievaporasi, didapatkan spektrum serapan di beberapa panjang
gelombang yang ditunjukkan pada tabel 3.1.
Tabel 3.1. Spektrum hasil pengukuran dengan spektrometer IR
No.

Serapan
-1

Ciri serapan

Gugus Fungsi

3438,84 cm dan
3421,48 cm-1

Tumpul melebar,
panjang

-OH

2977,89 cm-1

Tajam, medium

-CH3

2142,77 cm

-1

Bergerigi, seperti rumput


disepanjang zona III

(benzena)

1643,24 cm-1

Tajam

C=O

1452,30 dan
1392,51 cm-1

Tajam

OH fenolik dan
karboksilat

1045,35 cm-1

Tajam

CO
pada
senyawa eter

Pada panjang gelombang 3438,84 cm-1, 3421,48 cm-1, 2977,89 cm-1, 2900,74 cm-1,
1643,24 cm-1, 1452,30 cm-1, 1392,48 cm-1, dan 1045,35 cm-1. Spektrum yang diperoleh,
dibandingkan nilainya dengan nilai pada tabel korelasi IR. Serapan pada panjang
gelombang yang cukup tajam dan melebar menunjukkan adanya gugus fungsi OH.
Serapan pada panjan gelombang yang cukup tajam menunjukkan adanya subtituen CH 3.
Namun, secara teori, kurkumin tidak memiliki C dengan hibridisasi sp 3, serapan pada
panjang gelombang ini dimungkinkan adanya pergeseran serapan panjang gelombang ke
arah panjang gelombang yang lebih pendek, hipokromik. Serapan pada panjang
gelombang 2900,74 cm-1 merupakan serapan yang cukup pendek, diperkirakan sebagai
serapa dari noise. Serapan seperti rumput pada sepanjang zona III atau pada panjang
gelombang sekitar 2142,77 cm-1 menandakan adanya gugus benzena pada ekstrak.
Serapan pada C=O. panjang gelombang 1643,24 cm-1 menunjukkan adanya gugus fungsi
karbonil, Serapan pada daerah finger print atau zona V yaitu pada panjang gelombang
1452,30 dan 1392,51 cm-1 menunjukkan adanya gugus OH fenolik dan karboksilat.
Serapan pada panjang gelombang 1045,35 cm-1 menunjukkan adanya ikatan CO pada
senyawa eter. Serapan yang didapat sesuai dengan gugus-gugus yang dimiliki oleh
kurkumin pada literatur, dengan struktur sebagai literature, seperti yang ditunjukkan pada
gambar 3.1.

Gambar 3.1. Struktur Kurkumin

15

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa isolasi
kurkumin dari kunyit dapat dilakukan dengan metode ekstraksi Soxhlet menggunakan
pelarut etanol.Hasil kurkuminoid yang diperoleh berbentuk cair, berwarna kuning pekat,
tidak larut dalam air.Kurkuminoid terdiri dari tiga senyawa yaitu kurkumin, dimetoksi
kurkumin, dan bis-dimetoksi kurkumin.Nilai Rf yang diperoleh dari proses kromatografi
lapis tipis (KLT) adalah 0,7. Berdasarkan karakterisasi dengan spektrofotometer IR
diperoleh serapan sinar inframerah pada panjang gelombang 3438,84 cm-1, 3421,48 cm-1,
2977,89 cm-1, 2900,74 cm-1, 1643,24 cm-1, 1452,30 cm-1, 1392,48 cm-1, dan 1045,35 cm-1
yang menunjukkan adanya gugus kurkuminoid. Panjang gelombang yang diperoleh
berdasarkan spektrofotometer UV-Visible sebesar 422 nm dengan nilai absorbansi 0,386.
6.2 Saran
Saat proses pengeringan sebaiknya dipastikan kunyit telah benar-benar kering
tanpa terkena sinar matahari. Selain itu proses ekstraksi sebaiknya dilakukan dengan
maksimal dan pada saat percobaan akan dilanjutkan dilain hari pastikan ekstrak tertutup
rapat dengan alumunium foil.

16

DAFTAR PUSTAKA
Aggarwal, B.B., Sundaram C., Malani N., dan H. Ichikawa, 2006, Curcumin: The Indian
Solid Gold, SUNY332-Aggarwal, hal: 1-76
Alimia, Muh Yunus dan Irfan Idris, 2007, Kimia Analitik, AII Audin Press, Makassar
Dandekar dan Gaikar, 2002, Microwave Assisted Extraction Of Curcuminoids From Curcuma
longa, Separation Science and Technology, 37 (11): 2669-2690
Fessenden, 2009, Kimia Organik I, Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN
DunanGunung Djati, Bandung
Gandhimarti, R., et al, 2012, Analytical Proccess of Drugs by Ultravioletu (UV) Spectroscopy
a Review, International Journal of Pharmaceutical Research Analysis, 2 (2) : 72-78
Hemalatha et, al.2008, Microwave assisted extraction of curcumin by samplesolvent
dualheating mechanism using Taguchi L orthogonal design, Journal of Pharmaceutical
& Biomedical Analysis; Vol. 46 (2) : 322-327
Jaruga dan Pan , 2008, Kunyit (Curcuma longa Linn.), UGM Press, Yogyakarta
Sastry, B.S. 2010. Curcumin Content of Turmeric. Res. Ind., 15 (4) : 258260
Sciencelab1, 2013, Matrial Safety Data Sheet Ethanol, http://www.sciencelab.com, diakses
tanggal 12 Oktober 2014
Sciencelab2, 2013, Matrial Safety Data Sheet Chloroform, http://www.sciencelab.com, diakses
tanggal 12 Oktober 2014
Sciencelab3, 2013, Matrial Safety Data Sheet Toluene, http://www.sciencelab.com, diakses
tanggal 12 Oktober 2014
Sharma, S.D., 2007, Basit of Electrical Engineering, I.K Internaional, New Delhi
Subagio, 2005, Kimia Analitik II, UM Press, Malang
Sudarsono, 2006, Kunyit (Curcuma longa Linn.), UGM Press, Yogyakarta
Wahyuni, A. Hardjono dan P.H. Yamewav, 2004, Ekstraksi Kurkumin Kunyit, Prosiding
Seminar Nasional Rekayasa Ilmiah.

17