Anda di halaman 1dari 129

Laporan Mikrobiologi Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba

10 Desember 2013 pukul 5:33


Laporan Mikrobiologi Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba

A. TUJUAN PRAKTIKUM

Agar mahasiswa mampu mengukur pengaruh suhu (temperatur) terhadap pertumbuhan


mikroorganisme

Agar mahasiswa mampu membuktikan bahwa pertumbuhan mikroorganisme terjadi pada


kaisaran suhu tertentu

B.

DASAR TEORI

Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan,
perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Hal ini
dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan
faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan mikroba secara optimum. Mikroba tidak
hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi menunjukkan respon yang menunjukkan
respon yang berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba diperlukan suatu
kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai (Pelczar & Chan, 1986).

Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan hal yang penting dalam
ekosistem pangan. Suatu pengetahuan dan pengertian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
kemampuan tersebut sangat penting untuk mengendalikan hubungan antara mikroorganismemakanan-manusia. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme
meliputi suplai zat gizi, waktu, suhu, air, pH dan tersedianya oksigen
(Buckle, 1985).

Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan tetapi juga
mempengaruhi keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH dari medium tempat ia hidup,
perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi atas
faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Di mana, faktor-faktor biotik terdiri atas makhlukmakhluk hidup, yaitu mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme,
dapat dalam bentuk simbiose, sinergisme, antibiose dan sintropisme. Sedangkan faktor-faktor
abiotik terdiri atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban, sinar
gelombang dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya senyawa toksik atau senyawa kimia
lainnya (Hadioetomo, 1993).

Karena semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dan karena laju reaksi-reaksi
ini dipengaruhi oleh temperatur, maka pola pertumbuhan bakteri dapat sangat dipengaruhi oleh
temperatur. Temperatur juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan
organisme. Keragaman temperatur dapat juga mengubah proses-proses metabolik tertentu serta
morfologi sel (Pelczar & Chan, 1986).

Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam atau basa. Kebanyakan bakteri
tidak tumbuh dalam kondisi terlalu basa, dengan pengecualian basil kolera (Vibrio cholerae). Pada
dasarnya tak satupun yang dapat tumbuh baik pada pH lebih dari 8. Kebanyakan patogen, tumbuh
paling baik pada pH netral (pH7) atau pH yang sedikit basa (pH 7,4). Beberapa bakteri tumbuh
pada pH 6;tidak jarang dijumpai organisme yang tumbuh baik pada pH 4 atau 5. Sangat jarang
suatu organisme dapat bertahan dengan baik pada pH 4; bakteri autotrof tertentu merupakan
pengecualian. Karena banyak bakteri menghasilkan produk metabolisme yang bersifat asam atau
basa (Volk&Wheeler,1993).

Di dalam alam yang sewajarnya, bakteri jarang menemui zat-zat kimia yang menyebabkan ia
sampai mati karenanya. Hanya manusia di dalam usahanya untuk membebaskan diri dari kegiatan
bakteri meramu zat-zat yang dapat meracuni bakteri, akan tetapi tidak meracuni diri sendiri atau
meracuni zat makanan yang diperlukannya. Zat-zat yang hanya menghambat pembiakan bakteri
dengan tidak membunuhnya disebut zat antiseptik atau zat bakteriostatik (Dwidjoseputro,1994).
Desinfektan adalah bahan kimia yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan
mikroorganisme. Faktor utama yang menentukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar dan
suhu desinfektan, waktu yang diberikan kepada desinfektan untuk bekerja, jumlah dan tipe
mikroorganisme yang ada, dan keadaan bahan yang didesinfeksi. Jadi terlihat sejumlah faktor
harus diperhatikan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin dalam perangkat suasana yang ada.
Desinfeksi adalah proses penting dalam pengendalian penyakit, karena tujuannya adalah perusakan
agen agen patogen. Berbagai istilah digunakan sehubungan dengan agen agen kimia sesuai

dengan kerjanya atau organisme khas yang terkena. Mekanisme kerja desinfektan mungkin
beraneka dari satu desinfektan ke yang lain. Akibatnya mungkin disebabkan oleh kerusakan pada
membran sel atau oleh tindakan pada protein sel atau pada gen yang khas yang berakibat kematian
atau mutasi (Volk dan Wheeler, 1993).

C.

BAHAN DAN ALAT

Bahan :

Biakan jamur
PDA
NaCl
Antibotik

Alat :
Jarum ent
Bor gabus
Tabung reaksi
Gelas ukur
Pipet ukur
Kertas milimeter
Lampu spritus

Ruang inkubasi

D.

CARA KERJA

Sterilisasikan ruang inkubasi dengan alkohol


Medium dituangkan kedalam 4 cawan petri dan setelah medium memadat, diinokulasikan
dengan biakan jamur satu bor gabus, sehingga diperoleh biakan baru
Biakan diinkubasikan pada ruangan yang berbeda masing-masing 1 cawan petri diberi NaCl,
antibiotik, PDA, kemudian pada suhu dingin diletakkan dalam lemari es
Setelah 3 hari, diamati pertumbuhannya kemudian bandingkan
Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan cara mengukur luas koloni dan menimbang berat
kering

E.

DATA HASIL PRAKTIKUM

Dari hasil percobaan di dapat hasil sebagai berikut :


Pada suhu kamar biakan jamur NaCl selama 3 hari luasnya adalah 29 x 0,25 = 7,25 cm2
Pada suhu kamar biakan jamur antibiotik selama 3 hari luasnya adalah 2,75 cm2
Pada suhu kamar biakan jamur selama 3 hari luasnya adalah 6,5 cm2
Pada suhu dingin biakan jamur selama 3 hari tidak atau belum tumbuh

F.

PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

Pertumbuhan Mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi.
Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme yaitu faktor abiotik, meliputi
pengaruh suhu, pH dan pengaruh daya desinfektan. Selain itu juga pengaruh biotik yaitu antibiose.

Adapun pengaruh pH pada pertumbuhan mikroorganisme yaitu suatu mikroorganisme dapat


tumbuh dengan baik pada pH yang tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa. Hanya beberapa jenis
bakteri tertentu yang dapat bertahan dalam suasana asam ataupun basa. Suatu mikroorganisme
memerlukan kondisi lingkungan yang cocok untuk melakukan metabolisme.

Selain itu temperatur juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan
mikroorganisme. Pengaruh temperatur pada petumbuhan mikroorganisme dapat dibedakan atas
tiga golongan yaitu: Mikroorganisme Psikofilik, adalah bakteri yang dapat bertahan hidup antara
temperatur 0oC sampai 30oC. Sedangkan temperatur optimumnya antara 10oC sampai 20oC.
Mikroorganisme mesofilik adalah bakteri yang dapat bertahan hidup antara temperatur 5oC
sampai 60oC. Sedangkan temperatur optimumnya antara 25oC sampai 40oC. Mikroorganisme
Termofilik adalah bakteri yang dapat bertahan hidup antara temperatur 55oC sampai 65oC,
meskipun bakteri ini juga dapat berkembang biak pada temperatur yang lebih rendah ataupun lebih
tinggi dengan batas optimumnya antara 40oC sampai 80oC.

Temperatur optimum adalah temperatur yang lebih mendekati temperatur maksimum dari pada
temperatur minimum. Di mana pada saat temperatur minimum, pertumbuhan mikroba kurang
berkembang dengan baik. Berbeda dengan temperatur optimum, pertumbuhan mikroba dapat
tumbuh dengan baik. Sedangkan temperatur maksimum adalah pertumbuhan mikroba yang telah
berkembang melewati batas optimumnya. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi yang masih dapat
menumbuhkan mikroba, tetapi pada tingkat kegiatan fisiologi yang rendah.

Desinfektan merupakan bahan kimia yang menyebabkan desinfeksi, yaitu proses untuk membunuh
atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme terutama yang bersifat patogen. Desinfektan
membunuh bakteri dengan tidak merusaknya sama sekali, tetapi zat-zat kimia seperti basa dan
asam organik menyebabkan hancurnya bakteri. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan
bakteri adalah umur bakteri. Bakteri yang muda daya tahannya terhadap desinfektan lebih kurang
daripada bakteri tua. Pekat encernya konsentrasi, lamanya berada di bawah pengaruh desinfektan,
merupakan faktor-faktor yang diperhitungkan. Kenaikan temperatur menambah daya desinfektan.
Medium seperti susu, plasma darah, dan zat-zat lainnya yang serupa protein sering melindungi
bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Sedangkan antibiotik adalah bahan yang mampu
menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan atau bersifat patogen. Antibiotik
merupakan zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit
mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain.

Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan kebutuhan terhadap oksigen, antara lain


mikroorganisme aerob, mikroorganisme anaerob, mikroorganisme anaerob fakultatif dan
mikroorganisme mikro aerofilik. Mikroorganisme aerob adalah mikroorganisme yang memerlukan
oksigen untuk metabolismenya. Mikroorganisme anaerob adalah mikroorganisme yang tidak
memerlukan oksigen untuk metabolismenya. Mikroorganisme anaerob fakultatif adalah
mikroorganisme yang dapat hidup secara aerob atau pun anaerob dan mikroorganisme mikro
aerofilik adalah mikrooganisme yang dapat hidup dengan menggunakan sedikit oksigen.

G.

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hasil sebagai
berikut :
Pertumbuhan mikroba sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, pH, desinfektan
dan antibiotik.
Pada suhu kamar pertumbuhan mikroba lebih cepat dibandingkan pada suhu dingin
pH yang dapat digunakan mikroba untuk tumbuh dengan baik adalah pH yang bersifat netral
(pH = 7).
Desinfektan merupakan zat-zat yang mempunyai daya penghambat atau mematikan mikroba
dalam pertumbuhan dengan membentuk zona hambat dalam medium.

H.

DAFTAR BACAAN

Brooks, dkk., 1994, Mikrobiologi Kedokteran Edisi 2, Penerbit buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Dwidjoseputro, 1994, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambaran, Jakarta.

Fardiaz, S., 1992, Analisa mikrobiologi Pangan, Gramedia, Jakarta.

Hadioetomo, R.S., 1993, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi, Gramedia,
Jakarta.

Pelczar, M.J. dan Chan, E.C.S. 1986, Dasar-Dasar Mikrobiologi, UI-Press, Jakarta.

Volk &Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar jilid 1. Erlangga. Jakarta.

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA


PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM
PERCOBAAN VII
PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA

Oleh

NAMA : RIKHAL H.
NIM : FICI 09 004
KELOMPOK : LIMA (V)
ASISTEN : SARIPUDDIN

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar, demikian juga jasat renik.
Makhluk-makhluk halus ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan, sehingga
untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Beberapa faktor lingkungan yang
mempengaruhi kehidupan mikroorganisme meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia), dan
faktor biotik.
Mikroba seperti makhluk hidup lainnya memerlukan nutrisi pertumbuhan. Pengetahuan akan
nutrisi pertumbuhan ini akan membantu di dalam mengkultivasi, mengisolasi, dan
mengidentifikasi mikroba. Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam
persyaratan pertumbuhannya. Ada mikroba yang bisa hidup hanya pada media yang mengandung
sulfur dan ada pula yang tidak mampu hidup dan seterusnya. Karakteristik persyaratan
pertumbuhan mikroba inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya media penunjang
pertumbuhan mikroba.
Pertumbuhan mikroba diartikan sebagai pembelahan sel atau semakin banyaknya organisme yang
terbentuk. Mikroba akan semakin cepat pertumbuhannya apabila ia diinkubasi dalam suasana yang
disukai oleh mikroba. Kondisi pertumbuhan suatu mikroba tidak akan lepas dari faktor fisikokimia, seperti pH, suhu, tekanan, salinitas, kandungan nutrisi media, sterilitas media, kontaminan
dan paparan radiasi yang bersifat inhibitor.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam percobaan kali ini yaitu bagaimana pengaruh lingkungan terhadap
pertumbuhan mikroba.

C. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap
pertumbuhan mikroba.

D. Manfaat
Manfaat yang diperoleh setelah melakukan percobaan ini yaitu dapat mengetahui pengaruh
lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mikroba termasuk ke dalam kelompok jasad hidup yang sangat peka terhadap adanya perubahan
pada lingkungannya, sehingga dengan adanya perubahan yang kecil di dalam temperatur atau
cahaya misalnya akan cepat mempengaruhi kehidupan dan aktivitasnya. Tetapi mikroba juga
termasuk kelompok jasad hidup yang dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan adanya
perubahan lingkungan (Suryawiria, 1996).
Pertumbuhan adalah penambahan secara teratur semua komponen sel suatu jasad. Pembelahan sel
adalah hasil dari pertumbuhan sel. Pada jasad bersel tunggal (uniseluler), pembelahan atau
perbanyakan sel merupakan pertambahan jumlah individu. Misalnya pembelahan sel pada bakteri
akan menghasilkan pertambahan jumlah sel bakteri itu sendiri. Pada jasad bersel banyak
(multiseluler), pembelahan sel tidak menghasilkan pertambahan jumlah individunya, tetapi hanya
merupakan pembentukan jaringan atau bertambah besar jasadnya. Dalam membahas pertumbuhan
mikrobia harus dibedakan antara pertumbuhan masing- masing individu sel dan pertumbuhan
kelompok sel atau pertumbuhan populasi (Suharjono, 2006). Menurut Darkuni (2001)
pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengaruh faktor ini
akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang berbedadan pada
akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya.
Kebanyakan mikroba dapat tumbuh pada kisaran sebesar pH 3 4 unit pH atau kisaran 1000
10000 kali konsentrasi ion hydrogen. Kebanyakan bakteri mempunyai pH optimum sekisar pH 6
7.5, Khamir mempunyai pH 4-5 dan tumbuh pada kisaran pH 2.5 8 dan kapang mempunyai pH
optimum antara 5 dan 7 dan dapat tumbuh pada kisaran pH 3 8.5. Dalam fermentasi, control pH
penting sekali dilakukan karena pH yang optimum harus tetap dipertahankan (Ninis dan
Mohammad, 2009).
Selain untuk menyediakan nutrien yang sesuai dengan kultivitas, mikroba juga perlu disediakan
kondisi fisik yang memungkinkan pertumbuhan optimum mikroba khususnya bakteri yang sangat
bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan respon yang berbeda-beda
terhadap kondisi fisik di dalam lingkungannya. Untuk berhasilnya kultivitas berbagai variasi
mikroorganisme, dibutuhkan suatu kombinasi nutrien serta lingkungan fisik yang sesuai. Selain itu
suhu juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme. Keragaman
suhu dapat juga mempengaruhi atau merubah proses metabolik tertentu serta morfologi sel. Suhu
inkubasi yang memungkinkan pertumbuhan tersepat selama periode waktu yang singkat (12sampai
24 jam) yang dikenal sebagai suhu pertumbuhan yang optimum. PH optimum pertumbuhan
kebanyakan bakteri terletak 6,5 sampai 7,5. Namun, beberapa yang dapat tumbuh dalam keadaan

yang sangat masam atau yang sangat alkalin. Kebanyakan yang mempunyai nilai PH minimum
dan maksimum ialah 4 dan 9 (Pelczar, dkk., 1986).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 12 November 2011, pada pukul 09.00
WITA sampai selesai. Dan bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kendari.

B. Pembahasan
Pertumbuhan merupakan suatu proses kehidupan yang irreversible artinya tidak dapat dibalik
kejadiannya. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan
struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan jumlah,
pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa dan parameter lain. Sebagai hasil
pertambahan ukuran dan pembelahan sel atau pertambahan jumlah sel maka terjadi pertumbuhan
populasi mikroba. Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda,
yang berturut-turut disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian.
Pada fase kematian eksponensial tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri,
kecuali bila kematian dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi.
Kecepatan pertumbuhan merupakan perubahan jumlah atau massa sel per unit waktu. Pertumbuhan
mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang berturut-turut disebut
dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Pada fase kematian
eksponensial tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila kematian
dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi.

Setiap spesies mikroba memiliki aktivitas yang berbeda-beda dalam melakukan pertumbuhan.
Pertumbuhan mikroba diartikan sebagai pembelahan sel atau semakin banyaknya organisme yang
terbentuk. Mikroba akan semakin cepat pertumbuhannya apabila ia diinkubasi dalam suasana yang
disukai oleh mikroba. Kondisi pertumbuhan suatu mikroba tidak akan lepas dari faktor fisiko-

kimia, seperti pH, suhu, tekanan, salinitas, kandungan nutrisi media, sterilitas media, kontaminan
dan paparan radiasi yang bersifat inhibitor. Dalam proses pertumbuhannya setiap makhluk hidup
membutuhkan nutrisi yang cukup serta kondisi lingkungan yang mendukung demi berlangsungnya
proses pertumbuhan tersebut, termasuk juga bakteri. Pertumbuhan bakteri pada umumnya akan
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di
dalam kehidupan. Beberapa jenis mikroba dapat hidup di daerah temperatur yang luas sedang jenis
lainnya pada daerah yang terbatas. Pada umumnya batas daerah tempetur bagi kehidupan mikroba
terletak di antara 0oC dan 90oC, sehingga untuk masing -masing mikroba dikenal nilai temperatur
minimum, optimum dan maksimum. Temperatur minimum suatu jenis mikroba ialah nilai paling
rendah dimana kegiatan mikroba masih berlangsung. Temperatur optimum adalah nilai yang paling
sesuai /baik untuk kehidupan mikroba. Temperatur maksimum adalah nilai tertinggi yang masih
dapat digunakan untuk aktivitas mikroba tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling
minimal.
Daya tahan mikroba terhadap temperatur tidak sama untuk tiap-tiap spesies. Ada spesies yang mati
setelah mengalami pemanasan beberapa menit didalam medium pada temperature 60oC;
sebaliknya bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan genus Clostridium tetap
hidup setelah dipanasi dengan uap 100oC atau lebih selama 30 menit. Oleh karena itu, proses
sterilisasi untuk membunuh setiap spesies bakteri yakni dengan pemanasan selama 15-20 menit
dengan tekanan 1 atm dan temperatur 121oC di dalam autoklaf.
Bakteri memiliki batasan suhu tertentu dia bisa tetap bertahan hidup, ada tiga jenis bakteri
berdasarkan tingkat toleransinya terhadap suhu lingkungannya:
1. Mikroorganisme psikrofilik yaitu mikroorganisme yang suka hidup pada suhu yang dingin,
dapat tumbuh paling baik pada suhu optimum dibawah 20oC. Kebanyakan golongan ini tumbuh di
tempat-tempat dingin, baik di daratan maupun di lauatan.
2. Mikroorganisme mesofilik, yaitu mikroorganisme yang dapat hidup secara maksimal pada suhu
yang sedang, mempunyai suhu optimum di antara 20oC sampai 50oC.
3. Mikroorganisme termofilik, yaitu mikroorganisme yang tumbuh optimal atau suka pada suhu
yang tinggi, mikroorganisme ini sering tumbuh pada suhu diatas 40oC, bakteri jenis ini dapat
hidup di tempat-tempat yang panas bahkan di sumber-sumber mata air panas bakteri tipe ini dapat
ditemukan.
Percobaan kali ini bertujuan untuk megetahui pengaruh lingkungan seperti suhu/temperatur,
tekanan osmotik dan radiasi UV terhadap pertumbuhan mikroba. Dan dari hasil percobaan yang
telah dilakukan, terlihat bahwa mikroba yang tumbuh akan sesuai dengan pH yang diberikan. Pada
tekanan osmotik, semakin besar kadar atau persentase NaCl yang diberikan, akan semakin banyak
pula bakteri tumbuh yang ditandai dengan semakin keruhnya larutan. Sedangkan pada penyinaran
UV, mikroba yang tumbuh akan s.emakin sedikit dengan semakin banyaknya penyinaran UV yang
dilakukan terhadap mikroba tersebut.

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada praktikum ini maka dapat disimpulkan bahwa
pengaruh suhu/temperatur, tekanan osmotik dan radiasi UV merupakan beberapa faktor lingkungan
pertumbuhan mikroorganisme yang berdampak nyata terhadap mikroba tersebut

DAFTAR PUSTAKA
Darkuni, M. N. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi, dan Mikologi). Universitas Negeri
Malang. Malang

Pelczar, M.J dan E.C.S Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. UI Press. Jakarta.

Puspitasari, Ninis dan Sidik, Mohammad. 2009. Pengaruh jenis Vitamin B dan Sumber Nitrogen
Dalam Peningkatan Kandungan Protein Kulit Ubi kayu Melalui Proses Fermentasi. Seminar
Tugas Akhir S1 Teknik Kimia. UNDIP. Semarang.

Suharjono, 2006. Komunitas Kapang Tanah di Lahan Kritis Berkapur DAS Brantas Pada Musim
Kemarau. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya. Malang.

Suriawiria, U. 1996. Mikrobiologi Air dan Dasar-dasar Pengolahan Buangan Secara Biologis.
Penerbit Alumni. Bandung.

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Pendahuluan

Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau substansi atau masa zat suatu
organisme, misalnya kita makhluk makro ini dikatakan tumbuh ketika bertambah tinggi,
bertambah besar atau bertambah berat. Pada organisme bersel satu pertumbuhan lebih diartikan
sebagai pertumbuhan koloni, yaitu pertambahan jumlah koloni, ukuran koloni yang semakin besar
atau subtansi atau massa mikroba dalam koloni tersebut semakin banyak, pertumbuhan pada
mikroba diartikan sebagai pertambahan jumlah sel mikroba itu sendiri[1].
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang mencukupi serta kondisi
lingkungan yang mendukung demi proses pertumbuhan tersebut, termasuk juga bakteri.
Pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengaruh faktor ini
akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang berbeda dan pada
akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya[2].
Aktifitas mikroorganisme umumnya sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, antara lain
faktor fisik, misalnya suhu, pH, tekanan osmosis, kandungan oksigen, dan lain-lain. Faktor kimia,
misalnya logam-logam beracun dan zat toksin. Faktor biologis, misalnya antibiotik, interaksi
dengan mikroorganisme lainnya[3].

B.

Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kali ini adalah untuk dapat mengetahui
pengaruh faktor lingkungan terhadap pertumbuhan mikroorgannisme.

[1]Pertumbuhan Bakteri dan Suhu I q b a l A l i . c o m.htm, http://iqbalali.com /


2008/04/21/pertumbuhan_bakteri_dan_suhu/track_back/ (11 Desember 2009).

[2]Ibid.
[3]Hafsah, Mikrobiologi Umum (Makassar: UIN Alauddin, 2009), h. 33.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang berturut-turut
disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Pada fase kematian
eksponensial tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila kematian
dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi[1].
Semua mahluk hidup membutuhkan nutrien untuk pertumbuhan dan reproduksinya. Nutrien
merupakan bahan baku yang digunakan untuk membangun komponen-komponen seluler baru dan
untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan dalam proses-proses kehidupan sel. Nutrisi
merupakan indikasi dari kompleksitas fisiologis mikroba. Umumnya diketahui nutrien dibutuhkan
oleh mikroba secara langsung mencerminkan kemampuan fisiologisnya. Sebagai contoh beberapa
anggota genus lactobacillus membutuhkan sejumlah asam amino, vitamin B dan nutrien-nutrien
lainnya untuk pertumbuhannya. Sebaiknya mikroba autotrof hanya memerlukan cahaya dan
karbondioksida dan gas nitrogen untuk tumbuh[2].
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang mencukupi serta kondisi
lingkungan yang mendukung demi proses pertumbuhan tersebutt, termasuk juga bakteri.
Pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengaruh faktor ini
akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang berbeda dan pada
akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya[3].
Kebutuhan mikroorganisme untuk pertumbuhan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu:
kebutuhan fisik dan kebutuhan kimiawi atau kemis. Aspek-aspek fisik dapat mencakup suhu, pH
dan tekanan osmotik. Sedangkan kebutuhan kemis meliputi air, sumber karbon, nitrogen oksigen,
mineral-mineral dan faktor penumbuh[4].
Beberapa faktor abiotik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri, antara lain: suhu,
kelembapan, cahaya, pH, AW dan nutrisi. Apabila faktor-faktor abiotik tersebut memenuhi syarat,
sehingga optimum untuk pertumbuhan bakteri, maka bakteri dapat tumbuh dan berkembang
biak[5].
Bakteri merupakan organisme kosmopolit yang dapat kita jumpai di berbagai tempat dengan
berbagai kondisi di alam ini. Mulai dari padang pasir yang panas, sampai kutub utara yang beku
kita masih dapat menjumpai bakteri. Namun bakteri juga memiliki batasan suhu tertentu dia bisa
tetap bertahan hidup, ada tiga jenis bakteri berdasarkan tingkat toleransinya terhadap suhu
lingkungannya:

1. Mikroorganisme psikrofil yaitu mikroorganisme yang suka hidup pada suhu yang dingin,
dapat tumbuh paling baik pada suhu optimum dibawah 20oC.
2. Mikroorganisme mesofil, yaitu mikroorganisme yang dapat hidup secara maksimal pada suhu
yang sedang, mempunyai suhu optimum di antara 20oC sampai 50oC
3. Mikroorganisme termofil, yaitu mikroorganisme yang tumbuh optimal atau suka pada suhu
yang tinggi, mikroorganisme ini sering tumbuh pada suhu diatas 40oC, bakteri jenis ini dapat
hidup di tempat-tempat yang panas bahkan di sumber-sumber mata air panas bakteri tipe ini dapat
ditemukan, pada tahun 1967 di yellow stone park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air
panas bersuhu 93-94oC[6].
Dalam menentukan jumlah sel yang hidup dapat dilakukan penghitungan langsung sel secara
mikroskopik, melalui 3 jenis metode yaitu metode: pelat sebar, pelat tuang dan most-probable
number (MPN). Sedang untuk menentukan jumlah total sel dapat menggunakan alat yang khusus
yaitu bejana Petrof-Hausser atau hemositometer. Penentuan jumlah total sel juga dapat dilakukan
dengan metode turbidimetri yang menentukan: Volume sel mampat, berat sel, besarnya sel atau
koloni, dan satu atau lebih produk metabolit. Penentuan kuantitatif metabolit ini dapat dilakukan
dengan metode Kjeldahl[7].
Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Faktorfaktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu,
kelembapan, dan cahaya[8].
Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan
kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses
pembekuan dan pengeringan[9].
Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel
mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi
komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Pengaruh
cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan.
Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia
tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang
anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut
endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung
air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak
menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik
kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengah-tengah
sel bakteri atau pada salah satu ujungnya

Dalam pertumbuhannya bakteri memiliki suhu optimum dimana pada suhu tersebut pertumbuhan
bakteri menjadi maksimal. Dengan membuat grafik pertumbuhan suatu mikroorganisme, maka
dapat dilihat bahwa suhu optimum biasanya dekat puncak range suhu. Di atas suhu ini kecepatan

tumbuh mikroorganisme akan berkurang. diperlukan suatu metode. Metode pengukuran


pertumbuhan yang sering digunakan adalah dengan menentukan jumlah sel yang hidup dengan
jalan menghitung koloni pada pelat agar dan menentukan jumlah total sel atau jumlah massa sel.
Selain itu dapat dilakukan dengan cara metode langsung dan metode tidak langsung.

[1]Pertumbuhan Bakteri dan Suhu I q b a l A l i . c o m.htm, http://iqbalali.com /


2008/04/21/pertumbuhan_bakteri_dan_suhu/track_back/ (11 Desember 2009).

[2]Hafsah, Mikrobiologi Umum (Makassar: UIN Alauddin, 2009), h. 70.


[3]Noviar Darkuni. Mikrobiologi (Malang: JICA, 2001), h. 127.

[4]Jeneng Tarigan. Pengantar Mikrobiologi ( Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 175.

[5]Utami Sri Haastuti. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi (Malang: Universitas Negeri Malang,
2008), h. 98.
[6]Ibid. h. 99.

[7]Ibid.

[8]Rizki, Pertumbuhan Bakteri, Blog Rizki. http://pertumbuhan-bakteri.blogspot.com (13


Desember 2009).

[9]Filzahazny. Faktor Pertumbuhan Bakteri, Blog Filzahazny. http://faktor-pertumbuhanbakteri.blogspot.com (13 Desember 2009).

[10]Alfianzyah. Faktor-Faktor Pertumbuhan Bakteri, Blog Alfianzyah. http://faktorpertumbuhan-bakteri.blogspot.com (13 Desember 2009).

BAB III
METODE KERJA

A. Waktu dan tempat


Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah :
Hari / tanggal

: kamis / 10 desember 2009

Pukul

: 15.00 17.00 wita

Tempat

: Laboratorium Biologi Lantai III Gedung B

Fakultas Sains Dan Teknologi


Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Samata, Gowa.

B.

Alat dan bahan

1.

Alat

Adapun alat yang digunakan untuk praktikum kali ini adalah cawan petri, tabung reaksi, rak
tabung, inkubator, ose, bunsen, spoit dan mistar.
2.

Bahan

Adapun bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah biakan E. coli, Staphylococcus aureus,
medium NB dan medium NA, detergent, tetra siklik, uang logam, paper disc dan alkohol.

C.

Cara kerja

1.

Pengaruh faktor suhu

a.
Melakukan inokalasi pada biakan E.coli kedalam 3 tabung medium NB masing-masing 0,5
ml (2 ose).
b.
Melakukan hal yang sama untuk biakan Staphylococcus aureus ke dalam tiga tabung
medium.
c.

Membiarkan 3 buah tabung tidak diinokulasi dan menggunakannya sebagai kontrol.

d.
Mengikubasi pada suhu 5oC, 30oC dan 50oC selama 24 - 48 jam. Mengamati pertumbuhan
yang terjadi dan mencacat hasilnya.
2.

Pengaruh faktor pH

a.

Menginokulasi biakan E. coli ke dalam 3 tabung medium NB masing-masing 0,5 ml.

b.

Membiarkan hal yang sama untuk biakan Staphylococcus aureus.

c.

Membiarkan 3 buah tabung tidak diinokulasi dan menggunakan sebagai kontrol.

3.

Pengaruh faktor senyawa beracun

a.
Membuat biakan dengan metode cawan tuang dalam 2 cawan petri masing-masing dengan
biakan E. coli dan Staphylococcus aureus.
b.
Meletakkan secara aseptis 4 paper disk yang telah dijenuhkan dalam larutan alcohol 70%,
HgCl2 0,1%, antibiotic 1 % dan air suling steril di atas medium agar.

DAFTAR PUSTAKA

Alfianzyah. Faktor-Faktor Pertumbuhan Bakteri, Blog Alfianzyah. http://faktor-pertumbuhanbakteri.blogspot.com (13 Desember 2009).
Filzahazny. Faktor Pertumbuhan Bakteri, Blog Filzahazny. http://faktor-pertumbuhanbakteri.blogspot.com (13 Desember 2009).
Hafsah. Mikrobiologi Umum. Makassar: UIN Alauddin, 2009.
Jeneng Tarigan. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Universitas Indonesia, 1988.

Noviar Darkuni. Mikrobiologi. Malang: JICA, 2001.


Pertumbuhan Bakteri dan Suhu I q b a l A l i . c o m.htm, http://iqbalali.com /
2008/04/21/pertumbuhan_bakteri_dan_suhu/track_back/ (11 Desember 2009).
Rizki, Pertumbuhan Bakteri, Blog Rizki. http://pertumbuhan-bakteri.blogspot.com (13
Desember 2009).
Utami Sri Haastuti. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: Universitas Negeri Malang, 2008.

Pengaruh lingkungan Terhadap Mikrobia

Laporan Hasil Praktikum Mikrobiologi V


Pengaruh lingkungan Terhadap Mikrobia

A. Hari tanggal

: Rabu, 14 Januari

B. Acara Pratikum : Pengaruh Lingkungan Terhadap Mikrobia


C. Tujuan

: 1. Mengetahui dan mengerti pengaruh factor


lingkungan terhadap pertumbuhan mikrobia.
2. Mampu melakukan pemeriksaan
Pertumbuhan mikrobia dari pengruh
beberapa faktor secara baik dan benar.

D. Dasar Teori

Kegiatan suatu mikrobia dipengruhi oleh faktor lingkungan. Perubahan yang terjadi pada
faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologis mikrobia.
Faktor lingkungan meliputi faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor abiotik adalah faktor yang
dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika dan kimia. Diantara faktor-faktor yang
diperlukan adalah :

1. Temperatur
Masing-masing mikrobia memerlukan temperatur tertentu untuk hidupnya. Temperatur
pertumbuhan suatu mikrobia dapat dibedakan dalam temperatur minimum, optimum, dan
maksimum. Berdasarkan temperatur pertumbuhannya mikrobia dapat dibedakan menjadi
Psikhrofil, mesofil, dan termofil. Daya tahan terhadap temperatur tiap spesies berbeda-beda.
2. pH
Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu. Setiap mikrobia mempunyai pH minimum,
optimum, dan maksimum untuk pertumbuhannya. Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk
pertumbuhannya dapat dibedakan mikrobia yang asidofil, neotrofil, dan alkalofil. Untuk menahan
perubahan pH ke dalam medium sering ditambahkan larutan buffer.
3. Tekanan Osmotik
Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan yang hipertonis, karena selsel mikrobia dapat mengalami plasmolisa. Di dalam larutan yang hipotonik sel sel mengalami
plasmoptika yang dapat diikuti pecahnya sel.
4.

Daya Oligodinamik

Ion-ion logam berat pada kadar yang sangat rendah bersifat toksik terhadap mikrobia, karena ionion dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel. Daya bunuh logam-logam berat pada
kadar yang sangat rendah ini disebut daya oligodinamik.
5. Kelembaban
Tiap jenis mikrobia membutuhkan kelembaban optimum tertentu untuk pertumbuhannya. Pada
umumnya khamir dan bakteri memerlukan kelembaban yang tinggi, sedangkan jamur dan
aktinomisetes memerlukan kelembaban yang rendah untuk pertumbuhannya.

18

E. Alat dan Bahan :


Alat :
1. Tabung reaksi

2. Petridish
Bahan :
1. Bakteri
2. m.c asam,m.c basa,m.c netral
3. Larutan NaCl
4. Larutan gula
5. Uang logam

F.Cara Kerja :
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Melakukan percobaan dari beberapa faktor yang mempengaruhi :
Suhu
Mempoleskan bakteri dengan cara stregh pada media dengan suhu 37C, 44C, suhu dingin, dan
suhu ruang.
pH
Mempoleskan bakteri dengan cara stregh pada media m.c asam, m.c basa, m.c netral. Kemudian di
bungkus dengan kertas paying. Lalu dimasukkan dalam inkubator pada suhu 37C.

Larutan NaCl
a.
Menyiapkan 4 tabung reaksi yang berisi bakteri. Masing-masing bakteri di ambil
menggunakan ose tumpul dan dimasukkan pada tabung reaksi yang berisi larutan NaCl 30%, 3%,
0.3%, 0%.
b.
Menyiapkan 4 buah petridish yang dibagi menjadi 4 bagian menggunakan spidol. Masingmasing bagian diberi tanda 0, 10, 20, 30.
c.
Memoleskan bakteri dengan ose tumpul pada petridish yang sudah diberi tanda 0, kemudian
ulangi percobaan tersebut pada menit ke-10,20, dan 30.

d.
Setelah selesai, petridish dibungkus dengan kertas payung dan dimasukkan dalam incubator
pada suhu 37C.
Larutan gula
a.
Menyiapkan 4 tabung reaksi yang berisi bakteri. Masing-masing bakteri di ambil
menggunakan ose tumpul dan dimasukkan pada tabung reaksi yang berisi larutan gula 40%, 4%,
0.4%, 0%.
b.
Menyiapkan 4 buah petridish yang dibagi menjadi 4 bagian menggunakan spidol. Masingmasing bagian diberi tanda 0, 10, 20, 30.
c.
Memoleskan bakteri dengan ose tumpul pada petridish yang sudah diberi tanda 0,kemudian
ulangi percobaan tersebut pada menit ke-10 ,20 ,dan 30.
d.
Setelah selesai, petridish dibungkus dengan kertas payung dan dimasukkan dalam inkubator
pada suhu 37C.
Oligodinamik
a.

Bakteri yang sudah disiapkan dipoleskan ke petridish dengan cara stregh.

b.

Menyiapkan uang logam, lalu mensterilkannya dengan cara dipanaskan sampai membara .

c.
Menunggu uang logam sampai dingin ,setelah itu uang logam di letakkan pada petridish
yang sudah dipoles dengan bakteri.
d.
Setelah selesai, petridish dibungkus dengan kertas payung dan dimasukkan dalam incubator
pada suhu 37C.

G.Hasil :
Suhu
Suhu
Pertumbuhan
37C
++
44C

Suhu dingin
Suhu ruang
++

Keterangan :
+

: sedikit

++

: banyak

: tidak ada

pH
pH
Pertumbuhan
Asam
++
netral
+
Basa
+++

Keterangan :
+

: sedikit

++

: banyak

+++

: banyak sekali

Larutan NaCl
Larutan NaCl
Waktu
0
10
20
30
30%
+
+
+
3%
++
+
+
+
0.3%
+++
++

+
+
0%
+++
+++
++
++

Keterangan :
+

: sedikit

++

: banyak

+++

: banyak sekali

: tidak ada

Larutan gula
Larutan gula
Waktu
0
10
20
30

40%
+
+++
+++
++
4%
++++
++++
++
0.4%
++
+
+++
+++
0%
++++
++++
+++
+++

Keterangan :
+

: sedikit sekali

++

: sedikit

+++

: banyak

++++

: banyak sekali
: tidak ada

Oligodinamik
Di sekitar logam masih terdapat adanya bakteri.

1. Kesimpulan :
2. Pada percobaan suhu, bakteri masih dapat tumbuh pada suhu 37C dan suhu ruang.
3. Pada percobaan pH, bakteri banyak tumbuh pada media m.c basa.
4. Pada percobaan larutan NaCl dan larutan gula, semakin konsentrasi larutan rendah semakin
banyak bakteri yang tumbuh.
5. Pada percobaan oligodinamik, di sekitar logam masih ditemukan bakteri. Hal ini tidak
sesuai dengan teori karena seharusnya bakteri tidak tumbuh di sekitar logam.

Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau subtansi atau masa zat suatu
organisme, misalnya kita makhluk makro ini dikatakan tumbuh ketika bertambah tinggi,
bertambah besar atau bertambah berat. Pada organisme bersel satu pertumbuhan lebih diartikan
sebagai pertumbuhan koloni, yaitu pertambahan jumlah koloni, ukuran koloni yang semakin besar
atau subtansi atau masssa mikroba dalam koloni tersebut semakin banyak, pertumbuhan pada
mikroba diartikan sebagai pertambahan jumlah sel mikroba itu sendiri.
Pertumbuhan merupakan suatu proses kehidupan yang irreversible artinya tidak dapat dibalik
kejadiannya. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan
struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan jumlah,
pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa dan parameter lain. Sebagai hasil
pertambahan ukuran dan pembelahan sel atau pertambahan jumlah sel maka terjadi pertumbuhan
populasi mikroba (Sofa, 2008).
Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang berturut-turut
disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Pada fase kematian
eksponensial tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila kematian
dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi (Sofa, 2008).
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang mencukupi serta kondisi
lingkungan yang mendukung demi proses pertumbuhan tersebutt, termasuk juga bakteri. Menurut
Darkuni (2001) pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Pengaruh faktor ini akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatanb jumlah sel
yang berbedadan pada akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya.
Sedangkan menururt Tarigan (1988) kebutuhan mikroorganisme untuk pertumbuhan dapat
dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: kebutuhan fisik dan kebutuhan kimiawi atau kemis. Aspekaspek fisik dapat mencakup suhu, pH dan tekanan osmotik. Sedangkan kebutuhan kemis meliputi
air, sumber karbon, nitrogen oksigen, mineral-mineral dan faktor penumbuh.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hastuti (2007) bahwa terdapat beberapa faktor abiotik yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan bakteri, antara lain: suhu, kelembapan, cahaya, pH, AW dan nutrisi.
Apabila dfaktor-faktor abiotik tersebut memenuhi syarat, sehingga optimum untuk pertumbuhan
bakteri, maka bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak.

Bakteri merupakan organisme kosmopolit yang dapat kita jumpai di berbagai tempat dengan
berbagai kondisi di alam ini. Mulai dari padang pasir yang panas, sampai kutub utara yang beku
kita masih dapat menjumpai bakteri. Namun bakteri juga memiliki batasan suhu tertentu dia bisa
tetap bertahan hidup, ada tiga jenis bakteri berdasarkan tingkat toleransinya terhadap suhu
lingkungannya:

Mikroorganisme psikrofil yaitu mikroorganisme yang suka hidup pada suhu yang dingin, dapat
tumbuh paling baik pada suhu optimum dibawah 20oC.

Mikroorganisme mesofil, yaitu mikroorganisme yang dapat hidup secara maksimal pada suhu
yang sedang, mempunyai suhu optimum di antara 20oC sampai 50oC

Mikroorganisme termofil, yaitu mikroorganisme yang tumbuh optimal atau suka pada suhu yang
tinggi, mikroorganisme ini sering tumbuh pada suhu diatas 40 oC, bakteri jenis ini dapat hidup di
tempat-tempat yang panas bahkan di sumber-sumber mata air panas bakteri tipe ini dapat
ditemukan, pada tahun 1967 di yellow stone park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air
panas bersuhu 93-94oC (Anonim, 2008).
Mikroorganisme termasuk di dalamnya dari golongan bakteri, kebanyakan hidup dalam range
atau kisaran suhu tertentu saja, mereka memiliki suhu maksimum dan minimum. Apabila kondisi
suhu lingkungsn keluar dari kisaran tersebut maka bakteri tersebut pertumbuhannya akan
terhambat, bahkan mati.
Dalam pertumbuhannya bakteri memiliki suhu optimum dimana pada suihu tersebut pertumbuhan
bakteri menjadi maksimal. Dengan membuat grafik pertumbuhan suatu mikroorganisme, maka
dapat dilihat bahwa suhu optimum biasanya dekat puncak range suhu. Di atas suhu ini kecepatan
tumbuh mikroorganisme akan berkurang. diperlukan suatu metode. Metode pengukuran
pertumbuhan yang sering digunakan adalah dengan menentukan jumlah sel yang hidup dengan
jalan menghitung koloni pada pelat agar dan menentukan jumlah total sel/jumlah massa sel. Selain
itu dapat dilakukan dengan cara metode langsung dan metode tidak langsung. Dalam menentukan
jumlah sel yang hidup dapat dilakukan penghitungan langsung sel secara mikroskopik, melalui 3
jenis metode yaitu metode: pelat sebar, pelat tuang dan most-probable number (MPN). Sedang
untuk menentukan jumlah total sel dapat menggunakan alat yang khusus yaitu bejana PetrofHausser atau hemositometer. Penentuan jumlah total sel juga dapat dilakukan dengan metode
turbidimetri yang menentukan: Volume sel mampat, berat sel, besarnya sel atau koloni, dan satu

atau lebih produk metabolit. Penentuan kuantitatif metabolit ini dapat dilakukan dengan metode
Kjeldahl (Sofa, 2008).
daftar pustaka:
Hastuti, Utami Sri. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: Universitas Negeri Malang.
Darkuni, Noviar. 2001. Mikrobiologi. Malang: JICA
Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan.

1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semua makhluk hidup sangat bergantung


pada lingkungan sekitar, begitupun mikroorganisme. Mikroorganisme tidak dapat
sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan sehingga untuk hidupnya sangat
bergantung kepada lingkungan sekitar. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari
faktor lingkungan adalah dengan cara menyesuaikan diri (adaptasi) kepada faktor dari luar.
Penyesuaian mikroorganisme terhadap faktor lingkungan dapat terjadi secara cepat dan ada
yang bersifat sementara tetapi ada juga perubahan itu bersifat permanen sehingga
mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologik secara turun temurun.
Kehidupan mikroorganisme tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan akan tetapi
juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Misalnya, bakteri termogenesis menimbulkan
panas di dalam medium tempat tumbuhnya, beberapa mikroba dapat pula mengubah pH
dari medium tempat hidupnya. Hubungan percobaan ini dengan farmasi yaitu dapat
mengetahui aktifitas suatu mikroorganisme di dalam sediaan baik itu obat ataupun
makanan serta dapat mengetahui keaktifan suatu mikroorganisme dari pengaruh lingkungan
baik itu suhu, pH, dan cahaya. Melihat pernyataan di atas, percobaan ini sangat penting dan
perlu untuk dilakukan. B. Maksud dan Tujuan 1. Maksud Percobaan Mengetahui dan
memahami pertumbuhan mikroorganisme. 1 faktor lingkungan terhadap

2. 2. Tujuan Percobaan Mengetahui pengaruh faktor lingkungan (suhu, pH, dan cahaya)
terhadap pertumbuhan mikroorganisme. C. Prinsip Percobaan 1. Penentuan pengaruh suhu
optimum terhadap pertumbuhan bakteri pada medium NB berdasarkan perbandingan
kekeruhan terhadap kontrol yang diinkubasi selama 1x24 jam. 2. Penentuan pengaruh pH
optimum terhadap pertumbuhan bakteri pada medium NB antara pH 3, pH 7, dan pH 9
dengan kontrol yang diinkubasi selama 1x24 jam. 3. Penentuan pengaruh cahaya terhadap
jumlah bakteri pada medium NA berdasarkan sinar matahari dibungkus kertas karbon atau
tanpa dilakukan perlakuan pada matahari bebas dan diinkubasi selama 1x24 jam. 2

3. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Uraian Bahan 1. Agar (Dirjen POM, 1979 : 74)
Nama resmi : AGAR Nama lain : agar, agar-agar Pemerian : berkas pembuluh memanjang,
tipis seperti selaput dan berlekatan, berbentuk keeping, serpih, atau butiran, jingga lemah
kekuningan, abu-abu kekuningan sampai kuning pucat dan tidak berwarna, tidak berbau
atau berbau lemah Kelarutan Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik Kegunaan 2. :
praktis tidak larut dalam air, larut dalam air mendidih : bahan pemadat medium Alkohol
(Dirjen POM, 1979 : 65) Nama resmi : AETHANOLUM Nama lain : etanol, alkohol RM :
C2H6O Pemerian : tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas,
rasa panas, mudah terbakar Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P,
dan dalam eter P Penyimpanan Kegunaan 3. : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari
cahaya : bahan pensterilisasi Aquadest (Dirjen POM, 1979 : 96) Nama resmi : AQUA
DESTILLATA Nama lain : air suling, aquadest, air baterig RM : H2O BM : 18,20 3

4. Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan Kegunaan 4. : dalam wadah tertutup baik : sebagai pelarut Ekstrak Beef
(Dirjen POM, 1979 : 671) Nama resmi Nama lain : kaldu nabati dan kaldu hewani
Pemerian : berbau dan berasa pada lidah Kelarutan : larut dalam air dingin Penyimpanan :
dalam wadah tertutup baik Kegunaan 5. : BEEF EXTRAK : sebagai sumber nutrien
mikroba Pepton (Dirjen POM, 1979 : 721) Nama resmi : PEPTON Nama lain : pepton

Pemerian : serbuk, kuning kemerahan seperti coklat, bau khas, tidak busuk Kelarutan : larut
dalam air, memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang bereaksi agak asam,
praktis tidak larut dalam etanol 95% P dan dalam eter P Penyimpanan : dalam wadah
tertutup baik Kegunaan : sebagai sumber nutrient mikroba B. Uraian Medium 1. Medium
NA Ekstrak Beef : 3 gram Pepton : 5 gram Agar : 15 gram Aquadest ad :1L 4

5. 2. Medium NB Ektrak Beef : 3 gram Pepton : 5 gram Aquadest ad :1L C. Uraian Bakteri
1. Bacillus subtilis (www.wikipedia.org) Kingdom : Bacteria Phylum : Scotabacteria
Class : Bacilo Ordo : Bacillales Family : Bacillaceae Genus : Bacillus Spesies : Bacillus
subtilis Morfologi : bakteri gram positif, memiliki sel batang berukuran 0,3-2,3 m x 1,27,0 m, bakteri yang umum ditemukan di tanah, aerobic, mampu membentuk endospora,
memiliki kemampuan memproduksi anribiotik dalam bentuk lipopeptida 2. Escheria coli
(www.wikipedia.org) Kingdom : Bacteria Phylum : Proleophyta Class : Ehilumusceales
Ordo : Eubacteriales Family : Enterobacteriaceae Genus : Escheria Spesies : Escheria coli
Morfologi : batang lurus dengan flagella politinum, gram negatif dan tumbuh pada nutrient
yang sederhana, praktis difermentasi oleh sebagian besar jalur dengan produksi asam 5

6. 3. Pseudomonas aeruginosa (www.wikipedia.org) Kingdom : Bacteria Phylum :


Proleobacteria Class : Proteobacteriales Ordo : Pseudomonales Family : Pseudomonaceae
Genus : Pseudomonas Spesies : Pseudomonas aeruginosa Morfologi : bakteri berbentuk
batang berukuran 0,6-2,0 m, bergerak aktif dengan flagel monotika, tidak berspora, tidak
mempunyai selubung, dan bersifat gram negatif 4. Salmonella thyposa
(www.wikipedia.org) Kingdom : Bacteria Phylum : Protobacteria Class :
Gammaproteobacteria Ordo : Eubacteriales Family : Eubacteriaceae Genus : Salmonella
Spesies : Salmonella thyposa Morfologi : suatu jenis bakteri gram negatif berbentuk
batang, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, panjangnya bervariasi, bakteri ini
bias hidup dalam air yang dibekukan dalam waktu yang lama 5. Staphylococcus aureus
(www.wikipedia.org) Kingdom : Bacteria Phylum : Firmicutes Class : Cocci Ordo :
Lactobacillales Family : Staphylococcaceae Genus : Staphylococcus Spesies :
Staphylococcus aureus 6

7. Morfologi : berbentuk basil dan merupakan gram positif yang berbentuk kokus/lingkaran
6. Streptococcus mutans (www.wikipedia.org) Kingdom : Monera Phylum : Firmicutes
Class : Bacilli Ordo : Lactobacillales Family : Streptococcaceae Genus : Streptococcus
Spesies : Streptococcus mutans Morfologi : bakteri gram positif, tidak bergerak, bakteri
anaerob, memiliki bentuk kokus yang sederhana berbentuk bulat tersusun dalam rantai 7.
Vibrio sp (www.wikipedia.org) Kingdom : Bacteria Phylum : Protobacteria Class :
Schizomicetes Ordo : Eubacteriales Family : Vibrionaceae Genus : Vibrio Spesies : Vibrio
sp Morfologi : bakteri ini bersifat gram negatif, fakultatif anaerob, fermentatif berbentuk
sel batang dengan ukuran panjang antara 2-3 m, menghasilkan katalase dan oksidase, dan
bergerak dengan satu flagella pada ujung sel 7

8. D. Prosedur Kerja 1. Pengaruh Suhu - Isi 3 tabung reaksi steril dengan medium NB
sebanyak 10 mL - Inokulasi biakan E. coli dengan spoit steril 0.5 mL ke dalam tabung
reaksi yang telah diisi NB - Inkubasi setiap satu tabung reaksi pada suhua kulkas, suhu
kamar, dan inkubator selama 1x24 jam 2. Pengaruh pH - Isi 3 tabung reaksi steril dengan

medium NB sebanyak 10 mL - Inokulasi biakan E. coli dengan spoit steril 0,5 mL ke dalam
tabung reaksi yang telah diisi NB yang pHnya sudah diatur (pH 3, pH 7, an pH 9) 3.
Inkubasi pada suhu 37 oC selama 1x24 jam Pengaruh Cahaya - Isi 3 cawan petri steril
dengan medium NA sebanyak 10 mL dan biarkan memadat - Inokulasi biakan E. coli
dengan spoit steril 0,5 mL ke dalam cawan yang telah diisi NA dan sebarkan secara merata
- Sinari cawan 1 dengan sinar matahari langsung selama 15-20 menit - Sinari cawan 2
dengan sinar matahari langsung selama 15-20 menit, selanjutnya bungkus dengan kertas
karton - Bungkus cawan 3 dengan kertas karbon segera setelah diinokulasikan - Inkubasi
pada suhu 37 oC selama 1x24 jam - Amati dan bandingkan pertumbuhan pada ke-3 cawan
petri tersebut 8

9. BAB III METODE KERJA A. Alat dan Bahan 1. Alat Alat yang digunakan dalam
percobaan ini adalah botol semprot, Bunsen, cawan petri, enkas, erlenmeyer, inkubator,
kulkas, pinset, rak tabung, spoit, dan tabung reaksi. 2. Bahan Bahan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah alkohol, aquadest, asam sitrat, NaOH, dan Streptococcus mutans. B.
Cara Kerja 1. Pengaruh Suhu - Disiapkan tiga tabung reaksi - Dimasukkan 10 mL medium
NB masing-masing tabung reaksi - Ditambahkan 0,5 mL Streptococcus mutans masingmasing tabung reaksi - Disimpan tabung I pada kulkas, tabung II pada LAF, dan tabung III
pada inkubator 2. Dibiarkan selama 1x24 jam Diamati hasil Pengaruh pH - Disiapkan tiga
tabung reaksi - Dimasukkan 10 mL medium NB masing-masing tabung reaksi Ditambahkan 0,5 mL Streptococcus mutans masing-masing tabung reaksi - Untuk tabung I
ditambahkan 2-3 tetes asam sitrat, tabung II tidak ditambahkan apa-apa, dan tabung III
ditambahkan 2-3 tetes NaOH 9

10. 3. Diinkubasi selama 1x24 jam Diamati hasil Pengaruh Cahaya - Disiapkan tiga cawan
petri - Dimasukkan 0,5 mL Streptococcus mutans masing-masing cawan petri Ditambahkan 10 mL medium NA dan dibiarkan memadat - Cawan I ditaruh di bawah sinar
matahari selama 15-20 menit - Cawan II ditaruh di bawah sinar matahari selama 15-20
menit lalu dibungkus dengan kertas karbon - Cawan III dibungkus dengan kertas karbon
tanpa ditaruh di bawah sinar matahari - Diinkubasi selama 1x24 jam - Diamati hasil 10

11. BAB IV HASIL PENGAMATAN A. Tabel Pengamatan Suhu (oC) 5 25 37 Bakteri 3


pH 7 9 C Cahaya C+K.K K.K Streptococcus mutans - ++ + + + + + ++ + Staphylococcus
aureus - ++ +++ ++ +++ + +++ ++ +++ Salmonella thyposa - + +++ + ++ +++ +++ +++ ++
Staphylococcus aureus - ++ +++ ++ +++ + + +++ ++ Pseudomonas aeruginosa + ++ +++ +
++ ++ + + +++ ++ Staphylococcus epidermidis - + + +++ + ++ +++ ++ + Vibrio sp - +++ +
++ ++ +++ + ++ +++ ++ Bacillus subtilis - ++ +++ ++ +++ + ++ +++ + Keterangan : C :
cahaya (sinar matahari) K.K : kertas karbon - : jernih (tidak keruh) + : agak keruh ++ :
keruh B. Gambar 1. Pengaruh Suhu 5 oC 25 oC 11 37 oC

12. 2. Pengaruh pH pH 3, pH 7, dan pH 9 3. Pengaruh Cahaya Cahaya Cahaya + Kertas


Karbon 12 Kertas Karbon

13. BAB IV PEMBAHASAN Kehidupan mikroorganisme tidak hanya dipengaruhi oleh


keadaan lingkungan, akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Misalnya,
bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam medium tempat tumbuhnya. Beberapa

mikroba dapat pula mengubah pH dan medium tempat hidupnya. Aktifitas mikroba
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan
perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Beberapa kelompok mikroba sangat
resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Mikroba tersebut dapat dengan cepat
menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Faktor-faktor tersebut meliputi : - Faktor
fisik : suhu, tekanan osmose, kandungan oksigen, pH, dan lain-lain - Faktor kimia :
senyawa racun dan lain-lain - Faktor biologi : interaksi dengan mikroorganisme lain Pada
percobaan pengaruh suhu, pertama disiapkan alat dan bahan. Disiapkan 3 tabung reaksi
dimana ketiga tabung reaksi ini diberi label untuk menandai perlakuan suhu 5 oC, 25 oC,
dan 37 oC. Dimasukkan medium NB 10 mL ke setiap tabung lalu ditambahkan 0,5 mL
bakteri Streptococcus mutans ke dalamnya dengan menggunakan spoit. Untuk shu 5 oC
dimasukkan ke dalam kulkas, suhu 25 oC disimpan di LAF, dan suhu 37 oC diinkubasi
pada inkubator. Didiamkan ketiganya selama 1x24 jam. Pada percobaan pengaruh pH,
disiapkan 3 tabung reaksi lalu diberi label untuk menandai perlakuan pH 3, pH 7, dan pH 9.
Dimasukkan NB 10 mL ke setiap tabung lalu ditambahkan 0,5 mL bakteri Streptococcus
mutans ke dalamnya dengan menggunakan spoit. Untuk pH 3 ditambahkan 2-3 tetes asam
sitrat untuk memberikan suasana asam, untuk pH 7 tidak diberi apa-apa, dan untuk pH 9
ditambahkan 2-3 tetes NaOH untuk memberikan suasana basa. Ketiga tabung tadi
dimasukkan ke inkubator dan diinkubasi selama 1x24 jam. 13

14. Pada percobaan pengaruh cahaya, disiapkan 3 cawan petri dan dimasukkan 0,5 mL
bakteri Streptococcus mutans ke setiap cawan petri dengan menggunakan spoit.
Ditambahkan NA 10 mL ke setiap cawan petri dan dibiarkan memadat. Setelah memadat,
cawan 1 dibungkus dengan kertas karbon (diganti dengan kantong plastik hitam), cawan 2
ditaruh di bawah sinar matahari selama 15-20 menit lalu dibungkus dengan kertas karbon
(diganti dengan kantong plastik hitam), cawan 3 ditaruh di bawah sinar matahari selama
15-20 menit, tidak dibungkus. Setelah itu, dimasukkan ketiga cawan tadi ke dalam
inkubator lalu diinkubasi selama 1x24 jam. Dari percobaan ini diperoleh hasil, untuk
pengaruh suhu, pada suhu 5 oC tidak terdapat koloni (-), pada suhu 25 oC keruh, dan pada
suhu 37 oC agak keruh. Untuk pengaruh pH, pada pH 3, 7, dan 9 ketiganya agak keruh.
Untuk pengaruh cahaya, cawan yang disinari matahari lalu dibungkus kantong plastik
hitam hasilnya keruh dan cawan yang disinari tanpa dibungkus dan cawan yang dibungkus
kantong plastik hitam hasilnya agak keruh. Hubungan percobaan ini dengan dunia farmasi,
kita dapat mengetahui aktifitas suatu mikroorganisme di dalam sediaan baik itu obat
ataupun makanan serta dapat meengetahui keaktifan suatu mikroorganisme pada pengaruh
suhu, pH, dan cahaya tertentu. 14

15. BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Dari percobaan ini, dapat diambil kesimpulan
bahwa kebanyakan bakteri dapat tumbuh pada suhu 25 oC dan 37 oC tetapi tidak dapat
tumbuh pada suhu 5 oC, bakteri dapat tumbuh pada pH 3, 7, dan 9, serta bakteri dapat
tumbuh cahaya tertentu. B. Kritik dan Saran 1. Laboratorium Alat sudah memadai, tinggal
bahan yang perlu dilengkapi. 2. Asisten Dalam menjelaskan materi mudah dimengerti.
Terima kasih atas bimbingannya. 15

16. DAFTAR PUSTAKA Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta :
DEPKES RI Djide, Natsir dan Sartini. 1995. Dasar-Dasar Mikrobiologi Farmasi.

Makassar : UNHAS Handayani, G. N. dan Armisman, A. 2012. Penuntun Praktikum


Mikrobiologi Farmasi Dasar. Makassar : UIN Alauddin Makassar www.wikipedia.com 16

17. SKEMA KERJA 1. Pengaruh Suhu Disiapkan tiga tabung reaksi Dimasukkan 10 mL
medium NB masing-masing tabung reaksi Ditambahkan 0,5 mL biakan bakteri masingmasing tabung reaksi Disimpan tabung I pada kulkas, tabung II pada LAF, dan tabung III
pada inkubator Ditambahkan 0,5 mL biakan bakteri masing-masing tabung reaksi
Dibiarkan selama 1x24 jam Diamati hasil 2. Pengaruh pH Disiapkan tiga tabung reaksi
Dimasukkan 10 mL medium NB masing-masing tabung reaksi Ditambahkan 10 mL
medium NA dan dibiarkan memadat Untuk tabung I ditambahkan 2-3 tetes asam sitrat,
tabung II tidak ditambahkan apa-apa, dan tabung III ditambahkan 2-3 tetes NaOH
Ditambahkan 0,5 mL biakan bakteri masing-masing tabung reaksi Dibiarkan selama 1x24
jam Diamati hasil 17

18. 3. Pengaruh Cahaya Disiapkan tiga cawan petri Dimasukkan 0,5 mL biakan bakteri
masing-masing cawan petri Ditambahkan 0,5 mL biakan bakteri masing-masing tabung
reaksi Cawan I ditaruh di bawah sinar matahari selama 15-20 menit Cawan II ditaruh di
bawah sinar matahari selama 15-20 menit lalu dibungkus dengan kertas karbon Dibiarkan
selama 1x24 jam Diamati hasil 18 Cawan III dibungkus dengan kertas karbon tanpa ditaruh
di bawah sinar matahari

Laporan Praktikum Mikrobiologi Terapan 1

ABSTRAK
Nurjannah, Fitri. 2013. Laporan Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Bakteri
Eschericia coli, Salmonella typhosa, dan Staphylococcus aureus. Program Studi Pendidikan
Biologi. Program Sarjana (S1), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas
Muhammadiyah Palembang, Dosen Pengasuh Susi Dewiyeti, S.Si., M.Si.
Kata Kunci : E. coli, Salmonella typhosa, dan Staphylococcus aureus, faktor pertumbuhan bakteri
E. coli, Salmonella typhosa, dan Staphylococcus aureus.
E. coli dan Salmonella typhosa adalah salah satu jenis bakteri gram negative. Kedua bakteri ini
berbahaya bagi tubuh manusia jika berada di bagian-bagian tertentu. Seperti E. coli dapat
menyebabkan diare dan Salmonella typhosa dapat menyebabkan penyakit typus. Sedangkan
bakteri Staphylococcus aureus merupakan salah satu jenis bakteri gram positif. Bakteri ini juga
dapat menyebabkan penyakit bagi tubuh manusia, yaitu khususnya pada bagianp kulit.
Pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap pertumbuhan
bakteri E. coli, Salmonella typhosa, dan Staphylococcus aureus. Dari hasil pengamatan yang
dilakukan, diperolehlah hasil bahwa faktor lingkungan mempengaruhi pertumbuhan bakteri.
Bakteri tidak dapat hidup di tempat yang kadar pH nya terlalu asam ataupun terlalu basa. Namun
ada beberapa bakteri yang mampu hidup di tempat-tempat tersebut. Begitupun juga dengan suhu,
bakteri tidak dapat hidup di suhu yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah, hanya bakteri-bakteri
tertentu saja yang dapat hidup di daerah-daerah ekstrim tersebut. Dari hasil pengamatan ini dapat
disimpulkan, bahwa pH dan suhu sangat mempengaruhi pertumbuhan bakteri E. coli, Salmonella
typhosa, dan Staphylococcus aureus.

A.
B.

PRAKTIKUM KE
JUDUL

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI TERAPAN


:1
: PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN

TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Eschericia coli, Salmonella typhosa, Staphylococcus


aureus
C.

TUJUAN
: Untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan
Terhadap Pertumbuhan bakteri Eschericia coli, Salmonella typhosa, Staphylococcus aureus
D. DASAR TEORI
:
Bakteri adalah organisme prokariotik dimana selnya tidak memiliki selaput inti. Jadi,
1.

Eschericia coli, Salmonella typhosa, dan, Staphylococcus aureus termasuk organism prokariotik.
Bakteri Escherichia coli
Eschericia coli dijuluki sebagai kelinci percobaan biologi molekular. Eschericia coli
merupakan salah satu spesies bakteri jenis gram negatif. Bakteri ini termasuk simbion yang tak
berbahaya dalam usus manusia, namun galur-galur patogenik yang menyebabkan diare dengan
perdarahan telah mucul (Campbell dan Reece, 2008:135).
Bakteri E. coli berbentuk batang dari pendek sampai kokus, saling terlepas antara satu
dengan yang lainnya tetapi ada juga yang bergandeng dua-dua (diplobasil) dan ada juga yang
bergandeng seperti rantai pendek, tidak membentuk spora maupun kapsula, berdiameter 1,1 1,5
x 2,0 6,0 m, dapat bertahan hidup di medium sederhana dan memfermentasikan laktosa
menghasilkan asam dan gas, kandungan G+C DNA ialah 50 sampai 51 mol (Pelczar dan Chan,
1988:949). Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri ini adalah antara 8C-46C, tetapi suhu
optimumnya adalah 37C. Oleh karena itu, bakteri tersebut dapat hidup pada tubuh manusia dan
vertebrata lainnya.

Gambar 1 Escherichia coli


(Sumber: Anonim, 2013:1)
Menurut Pelczar dan Chan (1988:809-810),

mengatakan Escherichia coli merupakan

bagian dari mikrobiota normal saluran pencernaan. Escherichia coli dipindahsebarkan dengan
kegiatan tangan ke mulut atau dengan pemindahan pasif lewat makanan atau minuman. Morfologi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

dan ciri-ciri pembeda Escherichia coli yaitu:


Merupakan batang gram negative
Terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek
Biasanya tidak berkapsul
Tidak berspora
Motil atau tidak motil, peritrikus
Aerobik, anaerobik fakultatif
Penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi.
Escherichia coli dalam usus besar bersifat patogen apabila melebihi dari jumlah normalnya.
Galur-galur tertentu mampu menyebabkan peradangan selaput perut dan usus (gastroenteritis)
(Pelczar dan Chan, 1988:809-810). Bakteri ini menjadi patogen yang berbahaya bila hidup di luar
usus seperti pada saluran kemih, yang dapat mengakibatkan peradangan selaput lendir (sistitis)
(Pelczar dan Chan, 1988:545).
Escherichia coli dapat dipindahsebarkan melalui air yang tercemar tinja atau air seni orang
yang menderita infeksi pencernaan, sehingga dapat menular pada orang lain. Infeksi yang timbul
pada pencernaan akibat dari serangan bakteri Escherichia coli pada dinding usus menimbulkan
gerakan larutan dalam jumlah besar dan merusak kesetimbangan elektrolit dalam membran mucus.

Hal ini dapat menyebabkan penyerapan air pada dinding usus berkurang dan terjadi diare .(Pelczar
dan Chan, 1988:810).
Menurut Emingko (2011:1), E. coli memiliki manfaat dan bahaya bagi kehidupan manusia.
Adapun manfaatnya adalah bakteri E. coli yang berada di dalam usus besar manusia berfungi
untuk menekan pertumbuhan bakteri jahat, dia juga membantu dalam proses pencernaan termasuk
pembusukan sisa-sisa makanan dalam usus besar. Fungsi utama yang lain dari E. coli adalah
membantu memproduksi vitamin K melalui proses pembusukan sisa makan. Vitamin K berfungsi
untuk pembekuan darah misalkan saat terjadi perdarahan seperti pada luka/mimisan vitamin K bisa
membantu menghentikannya. Sedangkan bahayanya adalah dalam jumlah yang berlebihan bakteri
E. coli dapat mengakibatkan diare, dan bila bakteri ini menjalar ke sistem/organ tubuh yang lain
dapat menginfeksi. Seperti pada saluran kencing, jika bakteri E. coli sampai masuk ke saluran
kencing dapat mengakibatkan infeksi saluran kemih/kencing (ISK), umumnya terjadi pada perilaku
sek yang salah (anal sek) juga resiko tinggi bagi wanita karena posisi anus dan saluran kencingnya
cukup dekat sehingga kemungkinan bakteri menyebrang cukup besar tepatnya ketika
membersihkan anus setelah BAB [Buang Air Besar] untuk itu arahkan air juga tangan ke arah
belakang saat membersihkan anus jangan ke depan agar tidak mengkontaminasi saluran kencing.
Menurut Ruth (2009:13) faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri E.
coli ada dua, yaitu faktor biotik yaitu makhluk hidup dan faktor abiotik yaitu faktor alam dan
a.
1)

kimia.
Faktor alam
Temperatur
Daya tahan terhadap temperatur tidak sama bagi tiap tiap species. Ada species yang mati
setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam medium cair, sebaliknya ada juga species
yang tahan hidup setelah dipanasi dengan uap 100C bahkan lebih (bakteri yang membentuk
spora). E. coli tumbuh baik pada temperatur antara 8C - 46C dan temperatur optimum 37C.

Bakteri yang dipelihara di bawah temperatur minimum atau sedikit di atas temperatur maksimum,
tidak akan segera mati melainkan berada di dalam keadaan tidur atau dormansi.

2)

Kelembapan
Sebenarnya bakteri menyenangi keadaan basah bahkan hidup di dalam air. Tetapi di dalam

air yang tertutup, bakteri tidak dapat hidup subur karena udara yang dibutuhkan tidak mencukupi.
3)
Perubahan nilai osmosis
Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi
sel bakteri. Jika bakteri ditempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik maka akan mengalami
plasmolisis terhadap isi sel bakteri. Sebaliknya bakteri yang ditempatkan di dalam larutan
hipotonik (air suling) maka bakteri akan mengalami plasmoptisis yaitu pecahnya sel bakteri karena
4)

air akan masuk ke dalam sel bakteri.


Sinar
Kebanyakkan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis bahkan setiap radiasi dapat
berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang lebih pendek gelombangnya yaitu gelombang antara
240mu - 300mu dapat membahayakan kehidupan bakteri, demikian juga penyinaran pada jarak

dekat, sinar X, sinar radium dan sinar ultra ungu dapat membunuh bakteri.
5)
Mekanik
Pengaruh tekanan udara terhadap kehidupan bakteri dapat diketahui dari hasil percobaan
yaitu untuk menghentikan pembiakan bakteri diperlukan tekanan sebanyak 600 atm, untuk
mematikannya diperlukan tekanan sebanyak 6000 atm sedang untuk membunuh spora diperlukan
12.000 atm. Untuk memecahkan sel bakteri diperlukan pengguncangan 9000 kali per detik. Proses
b.
1)

ini sering digunakan untuk melepaskan enzim-enzim dan endotoksin.


Faktor kimia
Oksidasi
Zat-zat seperti H2O2, Na2BO4, KMnO4 mudah sekali melepaskan O2 untuk menimbulkan
oksidasi. Klor di dalam air menyebabkan bebasnya O 2 sehingga zat ini merupakan desinfektan.

2)

Hubungan klor dengan protoplasmapun dapat menimbulkan oksidasi.


Koagulasi

Banyak zat seperti air raksa, perak, tembaga dan zat-zat organik seperti fenol,
formardehida, etanol menyebabkan penggum-palan protein yang merupakan konstituen dari
protoplasma. Protein yang telah menggumpal adalah protein yang mengalami denaturasi dan di
3)

dalam keadaan yang demikian itu protein tidak berfungsi lagi.


Depresi dan ketegangan permukaan
Sabun dapat mengurangi ketegangan permukaan, oleh karena itu dapat menyebabkan
hancurnya bakteri. Empedu juga mempunyai khasiat seperti sabun, hanya bakteri yang hidup di
dalan usus mempunyai daya tahan terhadap empedu. Pada umumnya diketahui bahwa bakteri gram

2.

negatif lebih tahan terhadap pengurangan ketegangan permukaan dari pada bakteri gram positif.
Bakteri Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif pada pengecatan gram terlihat bentuk
kokus ukurannya 0.8-1.0 mm dengan diameter 0.7-0.9 mikron. Bakteri ini tumbuh secara anaerbik
fakultatif dengan membentuk kumpulan sel-sel yang bentuknya seperti buah anggur, tidak
bergerak ditemukan satu-satu, berpasangan berantai pendek atau bergerombol menyerupai buah
anggur (Anonim:2010:1).
Staphylococcus aureus tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologi dibawah
suasana aerobik atau mikroaerofilik. Koloni akan tumbuh dengan cepat pada temperatur 37C
namun pembentukan pigmen terbaik adalah pada temperatur kamar (20C-35C) koloni pada
media padat akan berbentuk bulat, lembut, dan mengkilat. Pada pembenihan cair menyebabkan
kekeruhan yang merata tidak membentuk pigmen. Pada nutrien agar setelah diinkubasi selama 24
jam koloni berpigmen kuning emas, ukuran 2-4mm, bulat, cembung, tepi rata(Anonim:2010:1).

Gambar 2 Taphylococcus aureus


(Sumber: Puji,2012,1)

Klasifikasi Staphylococcus aureus


Kingdom
: Monera
Divisi
: Firmicutes
Class
: Bacilli
Order
: Bacillales
Family : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Species
: Stapylococcus aureus

a.
b.

Menurut Irfa (2012:1), bakteri Staphilococcus aureus memiliki ciri-ciri sbb:


Berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur.
Jika ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcus memiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan

c.
d.

koloni berwarna kuning.


Tumbuh dengan cepat pada temperatur 20 - 35C dengan koloni pada media padat.
Staphylococcus tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologi di bawah suasana aerobik
atau mikroaerofilik.
Menurut Puji (2012:2), salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah
suhu. Suhu optimum untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 35C 37C dengan suhu
minimum 6,7C dan suhu maksimum 45,4C. Bakteri ini dapat tumbuh pada pH 4,0 9,8 dengan
pH optimum 7,0 7,5. Pertumbuhan pada pH mendekati 9,8 hanya mungkin bila substratnya
mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Bakteri ini membutuhkan asam nikotinat
untuk tumbuh dan akan distimulir pertumbuhannya dengan adanya thiamin. Pada keadaan
anaerobik, bakteri ini juga membutuhkan urasil. Untuk pertumbuhan optimum diperlukan sebelas
asam amino, yaitu valin, leusin, threonin, phenilalanin, tirosin, sistein, metionin, lisin, prolin,
histidin dan arginin. Bakteri ini tidak dapat tumbuh pada media sintetik yang tidak mengandung
asam amino atau protein. Adapun faktor lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri dapat
dilihat pada tabel 1.

Tabel 1Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri


No

Faktor Pengaruh

Pertumbuhan

Optimu
m

Kisaran

1 Suhu

37C

4-48C

2 pH

6.0-7.0

4.0-9.8

3 Atmosfer

Aerobik

Anaerobik hingga
aerobic

4 Natrium klorida

0.5-0.4% 0-20%

(Sumber: Anonim,2011,2)
Menurut Tjahjadi (2007:262), bakteri Staphylococcus aureus termasuk bakteri patogen
yang menghasilkan eksotoksin. Eksotoksin merupakan protein bakteri yang diproduksi dan
dikeluarkan ke lingkungannya selama pertumbuhan bakteri patogen. Berdasarkan struktur dan
aktivitasnya, eksotoksin dibedakan menjadi eksotoksin A-B, eksotoksin perusak membran, dan
eksotoksin superantigen. Dinamakan eksitoksin A-B karena bagian B eksotoksin (terpisah dari
bagian A) yang mengikat reseptornya, melakukan aktivitas enzimatik yang dapat menghancurkan
sel inang. Dinamakan eksotoksin perusak membran karena membuat lubang pada sel inang,
sehingga sitoplasma sel inang keluar dan air masuk ke dalam sel inang. Akibatnya sel inang pecah.
Dinamakan eksotoksin superantigen karena membuat suatu jembatan MHC II dengan sel T.
Staphylococcus aureus ini termasuk dalam penghasil eksotoksin superantigen. Target sel inangnya
yaitu sel T dan Makrofag dengan cara mempersulit produksi sitokin oleh sel T sehingga
3.

menyebabkan demam dan sindrom shock.


Bakteri Salmonella typhosa
Salmonella adalah suatu genus bacteria enterobakteria gram negatif berbentuk tongkat yang
mengakibatkan penyakit paratifus, tifus, dan penyakit foodborne. Salmonella merupakan kuman
gram negatif, tidak berspora dan panjangnya bervariasi. Kebanyakan species bergerak dengan
flagel peritrih. Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak meragikan sukrosa

dan laktosa. Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan manosa. Kuman ini
bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat
kimia tertentu misalnya hijau brilian, natrium tetrationat, dan natrium dioksikholat. Senyawa ini
menghambat kuman koliform dan karena itu bermanfaat untuk isolasi salmonella dari tinja
(Mothatha: 2011:1).

Gambar 3 Salmonella typhosa


(Sumber: Anonim,2012:1)
Klasifikasi Salmonella typhosa
Kingdom
: Bakteria
Phylum
: Proteobakteria
Classis : Gamma proteobakteria
Ordo
: Enterobakteriales
Familia
: Enterobakteriakceae
Genus : Salmonella
Species
: Salmonella typosa
Salmonella thyphosa salah satu spesies dari genus Salmonella. Salmonella thyposa, basil
gram negatif yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya
tiga macam antigen yaitu antigen O (somatik, terdiri dari zat komplekliopolisakarida, antigen
H(flagella), antigen V1 dan protein membrane hialin.

Bakteri ini berbentuk batang, gram negatif berukuran 2 sampai 4 x 0,6 bergerak kecuali
Salmonella galinarum dan Salmonella pullorum. Tidak berspora mempunyai fibria (Mothatha,
2011:6).
Salmonella typhosa bersifat aerob dan aerob fakultatif, suhu optimum untuk
pertumbuhannya 37oC dan pH optimum 6 sampai 8 dan dapat dibunuh oleh pemanasan pada suhu
60oC selama 15-20 menit, pasteurisasi, pendidihan serta kionisasi (Mothatha, 2011:1).
Salmonella typhosa ini termasuk bakteri gram negatif dan berkembang biak dengan cara
konjugasi. Pada umumnya, bakteri gram negatif dapat berkonjugasi dengan banyak macam bakteri
gram negatif dan dapat memindahkan DNA plasmid. Akan tetapi efisiensi kawin interspesifik dan
intergenik bermacam-macam. Pada tabel dibawah ini memperlihatkan kisaran yang diamati bila Flac dipindahkan dari sel satu genus bakteri enteric gram negatif ke sel yang lain. Galur F + dan Ftelah dibuat pada banyak bakteri golongan enteric dengan perpindahan plasmid yang sesuai dari
E.coli K12. Dalam beberapa hal plasmid ini menjdai penggabungan dengan kromosom penerima,
yang membentuk sel donor Hfr; Hfr seperti itu telah dihasilkan pada Salmonella, Yeresinia
pseudotuberculosis, dan Erwinia amylovora (Roger, Edward, dan John, 1986:179).
Tabel 2

Efisiensi konjugasi diantara genera bakteri Gram-negatif berbeda

Donor F-lac

Penerima

Frequensi Perpindahan F-lac

Salmonella typhosa Escherichia coli

10-4 10-5

Salmonella typhosa Proteus mirabilis

10-4 10-5

Salmonella typhosa Serratia marcescens 10-7 10-8


Salmonella typhosa Vibrio comma
(Sumber:Roger, 1986,180)

10-5 10-6

E.
1.
a.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
WAKTU DAN TEMPAT
Waktu
: 1) Praktik: Kamis 10 Oktober 2013 jam 09.00-11.00 WIB
2) Pengamatan : Jumat 11 Oktober 2013 jam 11.00 WIB

b.

Tempat

: Laboratorium Biologi Program Studi Pendidikan Biologi


FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang
2.
ALAT DAN BAHAN
a.
Alat : Tabung reaksi, pinset, Bunsen, rak tabung reaksi, jarum
ose, pipet tetes, autoclave,inkubator, kertas HVS, beaker glass, gelas ukur
b. Bahan
: NaOH, suspense bakteri Eschericia coli, Salmonella
typhosa, Staphylococcus aureus, kapas, spritus, tissue, alkohol 70%, asam cuka, Aquadest, air
panas, es batu, kertas pH, kertas label
3.
CARA KERJA
a. Perlakuan pH (Asam Cuka dan NaOH)
1) Ukur terlebih dahulu pH aquadest steril, asam cuka, dan NaOH. Hasil pengukuran dicatat
2) Siapkan 3 (tiga) buah tabung reaksi, masing-masing tabung reaksi dimasukkan 10ml asam cuka,
NaOH, dan aquadest steril secara aseptis
3) Pada tabung reaksi yang telah berisi asam cuka, NaOH, dan aquadest steril, dimasukkan 2-3 tetes
4)
5)
6)
b.
1)

suspense bakteri secara aseptis


Sumbat mulut tabung reaksi dengan kapas kemudian bungkus dengan kertas putih
Inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37C dalam inkubator
Setelah masa inkubasi amati perubahan yang terjadi pada tabung reaksi (warna/keruh)
Perlakuan Suhu (Es Batu dan Air Panas)
Siapkan 2 (dua) buah tabung reaksi, masukkan pecahan es batu dengan pinset sampai setengah

panjang tabung reaksi dan 10ml air panas ke dalam masing-masing tabung reaksi secara aseptis
2) Ukur suhu kedua tabung reaksi yang berisikan es batu dan air panas. Catat
3) Pada tabung reaksi yang beirisikan es batu dan air panas, masukkan 2-3 tetes suspense bakteri
secara aseptis
4) Sumbat mulut tabung dengan kapas kemudian bungkus dengan kertas putih
5) Inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37C dalam inkubator
6) Setelah masa inkubasi amati perubahan yang terjadi pada tabung reaksi (warna/keruh)

F.
1.

abel 1

HASIL DAN PEMBAHASAN


HASIL PRAKTIKUM
Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Eschericia coli
No. Perlakuan
Warna
1
Aquadest steri + bakteri E.coli
Keruh
2
NaOH + bakteri E.coli
Jernih
3
Asam cuka + bakteri E.coli
Keruh
4
Es batu + bakteri E.coli
Keruh
5
Air panas + bakteri E.coli
Jernih

Tabel 2

Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus

abel 3

No. Perlakuan
Warna
1
Aquadest steril + bakteri Staphylococcus aureus
Keruh
2
NaOH + bakteri Staphylococcus aureus
Keruh
3
Asam cuka + bakteri Staphylococcus aureus
Keruh
4
Es batu + bakteri Staphylococcus aureus
Keruh
5
Air panas + bakteri Staphylococcus aureus
Keruh
Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhosa
No. Perlakuan
Warna
1
Aquadest steril + bakteri Salmonella typhosa
Keruh
2
NaOH + bakteri Salmonella typhosa
Keruh
3
Asam cuka + bakteri Salmonella typhosa
Keruh
4
Es batu + bakteri Salmonella typhosa
Keruh
5
Air panas + bakteri Salmonella typhosa
Jernih
2.
a.

PEMBAHASAN
Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Eschericia coli
E. coli adalah bakteri bakteri Eschericia coli adalah salah satu jenis bakteri gram negatif
yang bersifat fermentatif. Eschericia coli hidup di dinding usus besar manusia dan berfungsi
sebagai pengurai sisa-sisa makanan yang tidak terserap dalam sistem pencernaan manusia. Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri E. coli ini salah satunya adalah suhu dan pH (Anonim,
2013:1) .

Dari praktikum yang telah dilakukan, digunakan dua perlakuan, yaitu perlakuan suhu dan
perlakuan pH. Pada perlakuan suhu, digunakan media es batu dan air panas. Suhu es batunya 2C.
Es batu sebagai media cairnya, kemudian es batu akan dicampurkan dengan suspensi bakteri E.
coli dan diinkubasi dengan suhu 37C selama 24 jam. Dari hasil pengamatan pada tabel 1, hasil
dari suspensi bakteri dan media air es yang telah diinkubasi terjadi perubahan warna pada media
tersebut. Media menjadi keruh atau terdapat benda yang sangat kecil melayang-layang pada media
tersebut atau yang disebut mikroorganisme. Ini menandakan bahwa bakteri ini dapat tumbuh pada
suhu yang sangat rendah atupun tidak mati, hanya saja mengalami dormancy. Sedangkan dari hasil
pengamatan dengan media air panas dengan suhu 93C yang telah dicampur suspensi bakteri dan
diinkubasi dengan suhu 37C selama 24 jam tidak terjadi perubahan warnaatau warna media tetap
jernih, menandakan bahwa tidak adanya pertumbuhan bakteri di dalamnya. Menurut Ruth (2009:3)
E. coli tumbuh baik pada temperatur antara 8 - 46C dan temperatur optimum 37C. Bakteri yang
dipelihara di bawah temperatur minimum atau sedikit di atas temperatur maksimum, tidak akan
segera mati melainkan berada di dalam keadaan tidur atau dormanci.
Sedangkan pada perlakuan pH digunakan media aquadest steril dengan pH 7, NaOH
dengan pH13, dan asam cuka dengan pH 2. Dari hasil pengamatan pada aquadest steril dengan pH
7 yang dicampur dengan suspensi bakteri E. coli yang kemudian diinkubasi dengan suhu 37C
selama 24 jam terjadi perubahan warna atau warna media berubah menjadi keruh (terdapat benda
yang sangat kecil yang melayang-layang pada media tersebut). Hal ini menandakan terjadi
pertumbuhan bakteri pada media aquadest steril. Sesuai pernyataan berikut dimana pH optimum
untuk pertumbuhan Escherichia coli adalah 6,5-7,5 (Agus, 2010:5).

Dari hasil pengamatan

melalui perlakuan pH pada media NaOH dengan pH 13 yang dicampur dengan suspensi bakteri
E.coli dan kemudian diinkubasi dengan suhu 37C selama 24 jam, yang terjadi pada media
tersebut tidak ada perubahan warna pada media NaOH. Ini dikarenakan pH terlalu basa untuk

pertumbuhan bakteri. Menurut Anonim 2 (2011:4) untuk pertumbuhannya minimal pH adalah 4


dan pH maksimal sebesar 9. Escherichia coli banyak memproduksi asam pada mdium glukosa
dan juga memproduksi indol. Dan pada perlakuan pH yang terakhir adalah pada asam cuka dengan
pH 2 yang dicampur suspensi bakteri dan diinkubasi dengan suhu 37C selama 24 jam, terjadi
perubahan warna pada media cair atau warna media akan nampak keruh (terdapat benda yang
sangat kecil melayang di dalam media tersebut). Untuk pertumbuhanbakteri ini minimal pH adalah
4 dan pH maksimal sebesar 9 Anonim 2 (2011:4). Sedangkan pada pH asam cuka adalah 2. Ini
menandakan bahwa E. coli dapat hidup pada pH yang asam, hanya saja pertumbuhannya sedikit
terhambat ataupun tidak optimum.
b.

Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus


Dari hasil pengamatan pada tabel 2, setelah bakteri Staphylococcus aureus diinkubasi
selama 24 jam dengan media cair seperti aquadest steril, asam cuka, dan NaOH dengan suhu 37C
pada inkubator, jelas sekali terlihat pada kelima media tersebut adanya pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus. Dengan adanya perubahan warna media yang menjadi keruh atau
terdapatnya seperti benda kecil yang melayang-layang di media tersebut yang merupakan
mikroorganisme. Pada masing-masing media tersebut banyaknya benda yang sangat kecil yang
melayang (mikroorganisme) berbeda-beda. Ada yang banyak dan ada yang sedikit. Tapi yang
jelas, pada media tersebut terjadi perubahan warna yang menjadi keruh dibanding saat media
tersebut belum dicampur suspensi bakteri dan diinkubasi. Menurut Anonim (2010:1) ini
dikarenakan koloni akan tumbuh dengan cepat pada temperatur 37C namun pembentukan pigmen
terbaik adalah pada temperatur kamar (20C-35C) koloni pada media padat akan berbentuk bulat,
lembut, dan mengkilat. Pada pembenihan cair menyebabkan kekeruhan yang merata tidak
membentuk pigmen.

Jika dilihat dari perlakuan pH, pada media aquadest steril dengan pH 7 yang dicampur
suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan diinkubasi dengan suhu 37C selama 24 jam, disana
nampak terlihat seperti ada benda yang sangat kecil melayang pada media aquadest tersebut.
Benda yang sangat kecil itu adalah mikroorganisme yang menunjukkan adanya pertumbuhan
bakteri pada media tersebut. Hasil ini bisa dibenarkan karenasesuai dengan pernyataan-pernyataan
bahwa bakteri Staphylococcus aureus dapat tumbuh baik di suhu optimum 37C dan pH optimum
7. Menurut Anonim 1 (2011:2), pada umumnya, S. aureus tumbuh pada kisaran suhu 7-48.5C
dengan suhu optimum pertumbuhan 30-37C. Kisaran pH pertumbuhan antara 4,5 hingga 9,3,
dengan pH optimum 7,0-7,5. Sedangkan pada media asam cuka yang memiliki pH 2 yang
dicampur suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan diinkubasi dengan suhu 37C selama 24 jam
juga mengalami pertumbuhan bakteri didalamnya yang ditandai dengan adanya benda yang sangat
kecil yang melayang-layang di media cair tersebut. Dari hasil pengamatan tersebut dapat
disimpulkan bahwa bakteri Staphylococcus aureus dapat tumbuh pada pH yang sangat asam yaitu
2. dan pada perlakuan pH yang terakhir adalah pada media cair NaOH dengan pH 13 atau pH
yang sangat basa. Seharusnya pada pH yang sangat basa ini bakteri tidak dapat tumbuh, seperti
pada pernyataan yang telah ditemukan. Menurut Puji (2012:1), bakteri ini dapat tumbuh pada pH
4,0 9,8 dengan pH optimum 7,0 7,5. Pertumbuhan pada pH mendekati 9,8 hanya mungkin bila
substratnya mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Tapi dari hasil pengamatan
yang telah dilakukan ditemukannya benda yang melayang-layang di media cair (NaOH) tersebut.
Jika dari perlakuan suhu, dilihat dari pengamatan pada air panas dengan suhu 90C yang
dicampur suspensi bakteri S.aureus, nampak terlihat jelas bahwa pada media tersebut terdapat
pertumbuhan bakteri. Karena pada media tersebut terlihat jelas ada mikroorganisme yang
bergerombol yang melayang-layang. Sedangkan pada perlakuan suhu dengan menggunakan air es
dengan suhu 2C nampak terlihat juga ada benda yang sangat kecil melayang-layang pada media

tersebut. Namun tidak sebanyak yang ada pada media air panas. Bakteri ini dapat tumbuh dengan
suhu awal air panas yang mencapai 90C dan air dingin 2C dikarenakan bakteri telah disimpan
dengan menggunakan inkubator dengan suhu 37C yang merupakan suhu optimum dimana bakteri
dapat tumbuh baik. Menurut Anonim (2009:1), inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau
memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan
pengatur waktu. Jadi, dengan inkubator ini suhu bakteri dapat terkontrol agar bakteri dapat tumbuh
c.

baik.
Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhosa
Salmonella typhosa bersifat aerob dan aerob fakultatif, suhu optimum untuk
pertumbuhannya 37oC dan pH optimum 6 sampai 8 dan dapat dibunuh oleh pemanasan pada suhu
60oC selama 15-20 menit, pasteurisasi, pendidihan serta kionisasi. (Mothatha, 2011:1).
Pada bakteri ini juga dilakukan dua perlakuan untuk mengetahui pertumbuhannya, yaitu
perlakuan pH dan suhu. Pada perlakuan pH, asam cuka dengan pH 2, aquadest steril dengan pH 7,
dan NaOH dengan pH 13. Dari hasil pengamatan dengan menggunakan media cair aquadest steril
yang memiliki pH 7 yang telah dicampur dengan suspensi bakteri S. typhosa dan diinkubasi selama
24 jam, terlihat benda yang sangat kecil (mikroorganisme) melayang-layang di media tersebut.
Menandakan bahwa terjadi pertumbuhan bakteri S. typhosa di pH 7 yang merupakan pH optimum
dari rata-rata bakteri yang ada. Sedangkan pada perlakun pH dengan menggunakan media NaOH
yang dicampur suspensi bakteri S. typhosa, yang diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37C
terjadi perubahan warna pada media cairnya. Warna media menjadi keruh (terdapat benda yang
sangat kecil melayang pada media cair tersebut). Ini menandakan bahwa bakteri ini dapat tumbuh
di pH yang basa. Sedangkan dari hasil pengamatan dengan menggunakan asam cuka pH 2 dengan
perlakuan yang sama seperti sebelum-sebelumnya, disana terlihat ada benda yang sangat kecil
(mikroorganisme) yang melayang-layang . Seharusnya, menurut penelitian-penelitian sebelumnya
pada pH yang sangat asam yaitu paada pH 2 tidak terjadi pertumbuhan bakteri S.typhosa. Menurut

Hanna (2005:1),

penelitian ini bersifat eksperimental dan bertujuan untuk mengetahui pH

minimum di mana Salmonella typhi dapat hidup dan mengetahui pengaruh pH terhadap
pertumbuhan Salmonella typhi. Suspensi Salmonella typhi berumur 18 - 24 jam dengan
pengenceran 1/1.000.000 ditanamkan pada medium SS agar dengan pH 2,5 - 8 menggunakan
metoda streak plate, kemudian diinkubasi selama 24 jam. pH medium diatur dengan menambahkan
HCl pekat atau NaOH 2N ke dalam SS agar cair. Jumlah kuman yang tumbuh dihitung dalam
colony forming unit (CFU) dikalikan faktor pengenceran, diambil rata-ratanya, kemudian
dibandingkan dengan rata-rata jumlah kuman pada kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan
tidak ada Salmonella typhi yang tumbuh pada medium dengan pH 2,5 dan 3. Rata-rata jumlah
kuman pada medium dengan pH 3,5 adalah 30.333.333, pH 4 = 35.000.000, pH 5 = 44.666.667,
pH 6 = 75.666.667, pH 7 = 71.000.000 dan pH 8 = 66.000.000. Rata-rata jumlah kuman pada
medium kontrol positif adalah 50.666.667. Disimpulkan bahwa Salmonella typhi mulai dapat
tumbuh pada pH 3,5 dan pertumbuhannya menunjukkan peningkatan dari pH 3,5-6 serta tumbuh
optimal pada pH 6-8 .
Pada perlakuan suhu dari hasil pengamatan, pada es batu dengan suhu 8C yang dicampur
suspensi bakteri dan diinkubasi selama 24 terlihat benda yang sangat kecil melayang-layang dalam
media tersebut. Hal itu menandakan pada suhu tersebut dapat ditumbuhi bakteri S. typhi.
Sedangkan pada suhu 90C dengan perlakuan yang sama seperti sebelumnya, tidak nampak terlihat
benda yang sangat kecil melayang-layang pada media tersebut. Hal itu menandakan bahwa tidak
G.
1.
2.

terjadinya pertumbuhan bakteri pada suhu yang tinggi tersebut.


KESIMPULAN
Bakteri dapat tumbuh baik pada suhu optimum, yaitu 37C
pH optimum untuk pertumbuhan bakteri berbeda-beda. Karena ada beberapa jenis bakteri yang

bisa hidup di pH yang sangat asam ataupun basa


3.
E.coli yang berada dibawah suhu minimal ataupun sedikit di atas suhu maksimal tidak langsung
mati tapi mengalami dormanci

4.
5.

Staphylococcus aureus dapat hidup pada suhu yang sangat asam


Salmonella typhosa tidak dapat tumbuh pada suhu yang sangat panas yaitu di atas suhu 56C

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2009. Teknik Pengenalan, Penyiapan dan Penggunaan Alat
LaboratoriumMikrobiologi.(Online).
(http://firebiology07.wordpress.com/2009/
teknik-pengenalanpenyimpanan-alat-laboratorium-mikrobiologi, diakses 18 Oktober 2013)
Anonim.2010.Staphylococcus
aureus.(Online).(http://digilib.unimus.ac.id/
files/disk1/105/jtptunimus-gdl.indartigo3-5224-2-bab2.pdf, diakses 15
Oktober 2013)
Anonim1.2011.KarakteristikStaphylococcusaureus.(Online).
(http://repository.ipb.ac.id/Bitstream/handle/123456789/BAB%2011%20Tinjauan%20ustaka.pdf?
sequence=4, diakses 16 Oktober 2013)
Anonim2.2011.BakteriAsamLaktat.(Online).
(http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/55928/BAB%20II%20Tinjauan
%20Pustaka.pdf?sequence=3, diakses 19 Oktober 2013)
Anonim.2013.Mengenal
bakteri
Ercherichia
coli.(Online).(http://spiritok.blogspot.com/2013/03/mengenal-bakteri-e-coli.html, diakses 13 Oktober 2013)
Budiyanto, Krisno Agus.2010.Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Mikroba. (Online).
(http://zaifbio.wordpress.com/2010/11/08/faktor-lingkungan-yang mempengaruhi-mikroba/html,
diakses 12 Oktober 2013)

Campbell,N.A
dan
Reece,J.B.2012.Biologi
2.Jakarta:Erlangga.441 halaman

Edisi

Kedelapan

Jilid

Emingko.2011.Manfaat dan Bahaya Bakteri. (Online). (http://www.emingko.


com/2011/06/manfaat-dan-bahaya-bakteri-e-coli.html,
diakses
17
Oktober 2013)
Irfa.2011.Karakteristik Bakteri Pseudomonas.(Online).(http://irfa.blogspot. com/2011 /12/karakteristikbakteri-pseduomonas.html, diakses 13 Oktober 2013)
Melliawati,Ruth.2009.Escherichia
coli
dalam
Kehidupan
Manusia.
(Online).
(http://www.biotek.lipi.go.id/images/stories/biotrends/vol4no1/EcoliR.Melliawati1014.pdf, diakses
15 Oktober 2013)
Mothatha.2011.Salmonella typhosa.(Online).(http://mothatha.blogspot.
diakses 16 Oktober 2013)

com/2011/06/Bakteriologi.html,

Pelczar,M.J dan Chan,E.C.S.1988.Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2.Jakarta: Universitas Indonesia.997


halaman
Puji.2012.Bakteri Staphylococcusaureus.(Online).(http:// pujipeje. blogspot.
com/2012/ 05/bakteri-staphylococcus.html, diakses 15 Oktober 201
Purwoko,Tjahjadi.2007.Fisiologi Mikrobe.Jakarta:Bumi Aksara.285 halaman
Ratnawati, Hana dan Tyasrini,Endah.2005.Pengaruh pH Terhadap Pertumbuhan S.typhi.(Online).
(http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/ Search.html?act=tampil&id=42080&idc=24, diakses 20
Oktober 2013)
Stainer,R.Y,dkk.1986.Dunia
halaman

Mikrobe

3.Jakarta:Bhratara

Karya

Aksara.290

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Setiap makhluk hidup keselamatannya sanGat tergantung kepada lingkungan sekitarnya, terlebihlebih mikroorganismenya. Makhluk-makhluk halus seperti ini tidak dapat menguasai factor-faktor
luar sepenuhnya, sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekitarnya.
Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah dengan menyesuaikan diri atau adaptasi
kepada faktor-faktor luar. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara
waktu akan tetapi dapat pula perubahan ini bersifat permanent. Kehidupan bakteri tidak hanya
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan tetapi juga mempengaruhi faktor lingkungan.
Misalnya, bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh.
Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi atas faktor biotik dan abiotik, dimana faktor biotic
terdiri atas makhluk hidup sedangkan faktor abiotik terdiri dari faktor-faktor alam dan faktor-faktor
kimia.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud percobaan
Mengetahui dan memahami pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroorganisme.
I.2.2 Tujuan praktikum
Mengetahui pengaruh faktor lingkungan berupa pengaruh suhu, cahaya, pH, dan bahan-bahan
kimia terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis, Escherchia coli, dan Staphylococcus aureus.
I.3 Prinsip percobaan
1. Pengaruh suhu
Penentuan pengaruh suhu terhadap pertumbuhan mikroba dengan mengikatkan menginkubasi
Escherichia coli dengan menggunakan medium NB selama 124 jam.suhu 37oc.
1. Pengaruh Cahaya

Penentuan pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan mikroba Bacillus subtilis dengan medium TEA
yang diinkubasi selama 124 jam. Suhu 370c
1. Pengaruh Kimia
Penentuan pengaruh kimia terhadap pertumbuhan mikroba Staphylococcus aureus dengan medium
NA yang diinkubasikan selama 124 jam. Suhu 370c

II.1 Teori Umum


Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau substansi atau masa zat suatu
organisme, misalnya kita makhluk makro ini dikatakan tumbuh ketika bertambah tinggi,
bertambah besar atau bertambah berat. Pada organisme bersel satu pertumbuhan lebih diartikan
sebagai pertumbuhan koloni, yaitu pertambahan jumlah koloni, ukuran koloni yang semakin besar
atau subtansi atau massa mikroba dalam koloni tersebut semakin banyak, pertumbuhan pada
mikroba diartikan sebagai pertambahan jumlah sel mikroba itu sendiri. (Utami Sri Haastuti ;34)
Kehidupan mikroorganisme pada umumnya sangat tergantung pada faktor lingkungan. Faktor
lingkungan itu meliputi faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor abiotik adalah faktor luar seperti
suhu, pH, tekanan osmose dan lain-lain. Sedangkan faktor biotik adalah dari mikroorganisme itu
sendiri (M. Natsir Djide: 56).
Faktor- faktor tersebut meliputi (M.Natsir Djide : 56)
1. Faktor fisik, misalnya suhu, tekanan osmose, kandungan oksigen, pH, dan lain-lain.
2. Faktor kimia, misalnya senyawa racun dan lain-lain.
3. Faktor biologi, misalnya interaksi dengan mikroorganisme lain.
Yang digolongkan sebagai faktor-faktor alam yaitu : temperatur, kebasahan, nilai osmotik dari
medium, radiasi oleh sinar biasa dan radiasi oleh sinar-sinar yang lain, dan penghancuran secara
mekanik (D.widjoseputro ; 90).
Daya tahan terhadap temperature tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Ada spesies yang mati setelah
mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada temperature 60oC, sebaliknya
bakteri yang membentuk spora genus Bacillus dan genus Clostridium itu tetap hidup setelah
dipanasi dengan uap 100oC atau lebih selama kira-kira setengah jam (D.widjoseputro ; 90-91).
Dalam menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut
(D.widjoseputro ; 91)

Berapa tinggi temperatur.

Berapa lama spesies itu berada dalam temperature tersebut.

Apakah pemanasan bakteri itu dilakukan di dalam keadaan kering ataukah dalam keadaan
basah.

Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu dipanasi.

Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu dipanasi. Misalnya, bakteri yang dipanasi
dalam air lebih lekas mati dari pada jika pemanasan itu dilakukan di dalam buih.

Mengenal pengaruh temperatur terhadap kegiatan fisiologi maka seperti halnya dengan makhlukmakhluk lain, mikroorganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batasan temperature tertentu.
Berdasarkan itu ada tiga golongan bakteri, yaitu (D.widjoseputro ; 93)

Bakteri termofil (politermik), yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada
temperature setinggi 55oC 65oC , meskipun bakteri ini jua dapat berkembangbiak pada
temperatur lebih rendah ataupun lebih tinggi, yaitu dengan batas 40oC 80oC.

Bakteri mesofil (mesotermik), yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5oC dan 60oC, sedang
temperatur optimalnya adalah antara 25oC 40oC.

Bakteri psikofil (oligotermik), yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0oC 30oC, sedang
temperatur optimumnya antara 10oC 20oC.

Bakteri sebenarnya makhluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air.
Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur, hal ini disebabkan karena
kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah baik bagi kehidupam bakteri
(D.widjoseputro ; 94-95).
Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri adalah medium yang isotobik terhadap isi sel
bakteri. Jika bakteri ditempatkan di dalam suatu larutan hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri
akan mengalami plasmolisis. Sebaliknya bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan
kemasukan air sehingga menyebabkan pecahnya bakteri dengan kata lain bakteri dapat mengalami
plasmoptisis (D.widjoseputro ; 95).
Pada umumnya kerusakan bakteri itu dapat dibagi atas 3 golongan, yaitu oksidasi, koagulasi,
depresi, dan ketegangan permukaan. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat
pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawa-senyawa lain yang
sejenis formaldehida, alcohol, iodium, persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulfonamide dan
antibiotik (D.widjoseputro ; 98-99).
Pembagian sel dengan cara membelah umum terjadi pada semua sel sedang tumbuh aktif pada
tumbuhan dan hewan. Namun pada tumbuhan dan hewan multiseluler, pembagian sel secara
aseksual hanya mengakibatkan pertumbuhan individu tumbuhan atau hewan itu. Pada bakteri

proses tersebut mengakibatkan terbentuknya dua organisme baru masing-masing lalu dapat
mengulangi proses tersebut (Pelczar, Jr dan Chan, E ; 140).
Dalam pertumbuhan mikroorganisme, perlu dibedakan antara pertumbuhan masing-masing sel (sel
individu) dan pertumbuhan kelompok sel-sel, baik pada medium padat maupun pada medium cair.
Pertumbuhan pada medium cair, biasanya pertumbuhannya homogen, tetapi tergantung dari jenis
mikroorganismenya. Kapang atau jamur biasanya tumbuh pada permukaan medium berupa
gumpalan-gumpalan miselium yang melayang-layang dalam medium. Sedangkan pada medium
padat terjadi pertumbuhan pada permukaan mediumnya, biasanya dalam bentuk koloni ( Drs. M.
Natsir Djide, MS dan Dra. Sartini, Msi ; 194).
Antiseptika adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menghambat atau mematikan
mikroorganisme pada jaringan hidup, yang mempunyai efek membatasi dan mencegah infeksi agar
tidak menjadi lebih parah. Desinfektan adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menghambat
atau mematikan mikroorganisme, yang digunakan pada benda mati dan dengan cepat
menghasilkan efek letal yang tidak terpulihkan. Antiseptika dan desinfektansia dapat merusak sel
dengan cara koagulasi atau denaturasi protein sel atau menyebabkan sel mengalami lisis, yaitu
dengan mengubah struktur membran sitoplasma sehingga menyebabkan kebocoran sel (Drs. M.
Natsir Djide, MS dan Dra. Sartini, Msi : 254).

II. 2 Uraian Mikroba


1)

Staphylococcus aureus (Jr.Pelczar dan Chan ; 231)


1. Klasifikasi

Kingdom

Procaryotae

Divisio

Protophyta

Class

Schizomycetes

Ordo

Eubactereriules

Famili

Micrococcoreae

Genus

Staphylococcus

Species

Staphylococcus aureus

1. Morfologi
Biasanya berbentuk batang lurus 0,4-0,6 nm,x1,3nm berbentuk koloni dan bentuk inflasi sering kai
di jumpai berpasangan atau dalam rantai (Jr.Pelczar dan Chan ; 839)

2)

Escherchia coli
1. Klasifikasi

Kingdom

Procaryotae

Divisio

Schizophyta

Class

Schizomycetes

Ordo

Famili

Eubacteriales
Enterobacteriaceae

Genus

Escherchia

Species

Escherchia coli

1. Morfologi
Lazimnya terdapat pada usus besar manusia, dan vertebrata lainnya. Golongan bakteri yang
menunjukkan sifat-sifat yang mereduksi fungsi, terdapat dalam tanah ataupun udara, sebagian
hidup sebagai parasit pada tumbuhan tingkat tinggi, kolono berwarna tergantung subtratnya.
( Jr.Pelczar dan Chan ; 949 )
3)

Bacillus subtilis (Jr.Pelczar dan Chan ; 84).

a)

Klasifikasi

Kingdom

Procaryotae

Divisi

Protophgto

Class

Shizomy cetes

Ordo

Eubacteriales

Family

Bacillacece

Genus

Bacillas

Spesies :

Bacillus subtilis

b)

Morfologi

Berbentuk batang dengan ukuran 0,5-2,5 niliron tersusun dalam sepanjang sepasang atau
bentuk rantai, dimana meliputi seluruh permukaan sel dan hidup secara aerab atau anaerob. PH
pertumbuhan 5,5-8,5 miliron (Jr.Pelczar dan Chan ; 81).
II.3 Uraian Bahan
1. Aquadest (Dirjen POM FI III : 96)
Nama resmi

: AQUA DESTILLATA

Nama lain

: Air suling, aquadest

Pemberian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berasa

RM/BM

: H2O/18,02

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup


2. Alkohol (Dirjen POM FI III : 65)
Nama resmi

: AETHANOLUM

Nama lain

: Etanol/Alkohol.

Pemerian
: Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas;
rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Penyimpanan
nyala api.
Kegunaan

: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya; di tempat sejuk, jauh dari
: Sebagai antiseptik.

3. Asam tartrat (Dirjen POM FI III : 53)


Nama resmi

: ACIDUM TARTARICUM

Nama lain

: Asam Tartrat

RM/BM

: C4H6O6/ 150,09

Pemerian
: Hablur, tidak berwarna atau bening atau serbuk hablur halus sampai granul,
warna putih; tidak berbau; rasa asam dan stabil di udara.
Kelarutan
Penyimpanan

: Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol.


: Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan

: Sebagai dapar asam.

4. Natrium Hidroksida (Dirjen POM FI III : 412)


Nama resmi

: NATRII HYDROXIDUM

Nama lain

: Natrium Hidroksida

RM/BM

: NaOH/ 40,00

Pemerian
: Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keeping, kering, keras, rapuh dan
menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera
menyerap karbondioksida.
Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan

: Sebagai dapar basa.

5. Kapsul kloramfenikol (Dirjen POM FI III : 144)


Nama resmi
Nama lain

: CHLORAMPHENIKOL CAPSULAE
: klramfenikol kapsul

Pemerian
: Hablur harus berbentuk jarum atau lempengan memanjang, putih kelabu
atau putih kekuningan, rasa pahit.
Kelarutan
: Larut dalam lebih kurang 400 bagian air, dalam 2,5 bagian etanol (95%) dan
7 bagian propilenglikol.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya.

Kegunaan

: Sebagai sampel untuk bahan kimia

6. Pepton (Dirjen POM FI III : 721)


Pemerian

Serbuk; kuning kemerahan sampai coklat; bau khas tidak busuk.

Kelarutan
: Larut dalam air; memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang
bereaksi agak asam; praktis tidak larut dalam etanol (95%) P dan dalam eter P.
Kegunaan

: Sebagai komposisi medium.

7. Agar (Dirjen POM FI III ; 74)

Nama resmi

: AGAR

Nama lain

: Agar-agar

Pemerian
: Berkas potongan memanjang, tipis seperti selaput dan berlekatan, atau
berbentuk keeping, serpih atau butiran; jingga lemah kekuningan, abu-abu kekuningan sampai
kuning pucat atau tidak berwarna; tidak berbau atau berbau lemah; rasa berlendir; jika lembab liat;
jika kering rapuh.
Kelarutan
Penyimpanan

:
:

Kegunaan

Praktis tidak larut dalam air; larut dalam air mendidih.


Dalam wadah tertutup baik.

: Sebagai komposisi medium.

8. Dekstrosa (Dirjen POM FI IV : 300)


Nama resmi

Nama lain
RM/BM

DEXTROSUM
: Dekstrosa, Glukosa

: C6H12O6/180,1

Pemerian

: Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau serbuk

raputih; tidak berbau; rasa manis.


Kelarutan
Penyimpanan
Kegunaan

: Mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam


:

Dalam wadah tertutup baik.


: Sebagian komposisi medium.

9. Sukrosa (Dirjen POM FI IV : 762)


Nama resmi

SUCROSUM

Nama lain

: Sakarosa

RM/BM

: C12H22O11/ 342,30

Pemerian
: Hablur putih atau tidak berwarna; massa hablur atau berbentuk kubus,
atau serbuk hablur putih; tidak berbau, rasa manis, stabil di udara. Larutannya netral terhadap
lakmus.

Kelarutan
: Sangat mudah larut dalam air; lebih mudah larut dalam air mendidih;
sukar larut dalam etanol; tidak larut dalam kloroform dan dalam eter.
Penyimpanan

Kegunaan

Dalam wadah tertutup baik.


: Sebagai komposisi medium.

10. Ekstrak daging sapi (Dirjen POM FI IV ; 1152)


Kaldu daging sapi konsentrat diperoleh dengan mengekstraksi daging sapi segar tanpa lemak,
dengan cara merebus dalam air dan menguapkan kaldu pada suhu rendah dalam hampa udara
sampai terbentuk residu kental berbentuk pasta.
Pemerian
: Massa berbentuk pasta, berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua,
bau dan rasa seperti daging, sedikit asam.
Penyimpanan

: Wadah tidak tembus cahaya, tertutup rapat.


BAB III
METODE KERJA

III.1 Alat Dan Bahan


III. 1.1 Alat
Autoklaf.batang pengaduk, botol pengeceran, cawan putri, inkubator aerob jangka sorong, kulkas,
bunsen, cawan petri, tabung reaksi, rak tabung, ose, spoit dan mistar.
III.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah biakan E. coli, Staphylococcus aureus,
medium NB dan medium NA, dettol, paper disc dan alkohol.
III.2 Cara Kerja
1. 1.

Pengaruh suhu

Ambil tabung reaksi yang steril sebanyak 4 lalu dipipet medium NB (nutrient Broth)
sebanyak 5 ml.

Ambil biakan bakteri Proteus vulgaris menggunakan ose bulat dan dimasukkan ke dalam
4 tabung reaksi dengan dicelupkan lalu dihomogenkan.

Inkubasi selama 124 jam masing-masing pada suhu 5C (kulkas), 25oC (suhu kamar),
37C (inkubator), dan 50 C (inkubator).

Amati perubahan yang terjadi.

1. 2.

Pengaruh pH

Siapkan alat dan bahan.

Nyalakan lampu spiritus, diambil medium NB 5 ml

Ambil 3 tabung reaksi yang telah disterilkan sebelumnya, kemudian berikan label ketiga
tabung tersebut pada pH 3, pH 7, pH 9 dan control.

Masukkan 5 ml medium NB pada masing-masing tabung.

Ukur pH masing-masing tabung, jika tidak sama sesuai labelnya maka untuk asam
ditambahkan asam tartrat, dan basa ditambahkan NaOH.

Kemudian ditambahkan biakan bakteri Proteus vulgaris sebanyak 1 ose bulat lalu
dicelupkan pada tabung reaksi pada pH 3, pH 7, dan pH 9

Setelah itu dihomogenkan dengan menggulung-gulung tabung reaksi pada kedua tangan.

Kemudian di masukkan dalam incubator aerob pada suhu 37oC selama 1 x 24 jam.

1. 3.

Pengaruh cahaya

Masukkan medium NA (Nutrien Agar) sebanyak 5 ml kedalam 3 cawan petri steril secara
aseptis, biarkan sampai setengah memadat.

Setelah medium NA setengah memadat, ke dalam setiap cawan petri dimasukkan suspensi
biakan bakteri Proteus vulgaris sebanyak 1 ml pengerjaan dilakukan secara aseptis..

Cawan petri I dibungkus kertas karbon lalu diletakkan di bawah sinar matahari selama 15
menit.

Cawan petri II dibungkus tanpa cahaya lampu UV.

Cawan petri III diletakkan pad lampu UV selama 15 menit lalu dibungkus

Cawan diinkubasi di inkubator selama 124 jam.

Amati dan dibandingkan pertumbuhan ketiga cawan petri tersebut.

1. 4.

Pengaruh bahan kimia

Tuangkan medium NA ke dalam 2 cawan petri tesebut secara aseptis

dan dihomogenkan, dibiarkan sampai memadat.

Masukkan 0,5 mL suspensi biakan Proteus vulgaris dengan

menggunakan spoit steril.

Paper disk di celupkan ke dalam sampel wipol, porteks, listerin, bayclin kloramfenikol, dan
alcohol 70%.

Letakkan paperdisk yang telah dicelup tersebut ke dalam cawan yang berisi medium NA
yang telah memadat dan suspensi bakteri.

Untuk cawan petri I, 3 paperdisk untuk wipol, listerin dan porteks

Untuk cawan petri II, 3 paperdisk juga untuk bayclin, kloramfenikol, dan alkohol 70%.

Inkubasi di inkubator selama 1x 24 jam pada suhu 37oC.

Amati perubahan yang terjadi.


BAB IV
DATA PENGAMATAN

IV.1 Data Pengamatan

Pengaruh suhu

Suhu
No

1.

Bakteri

Escherichia coli

100C

250C

370C

Keterangan :
- = Tidak ada perubahan

Pengaruh Cahaya

Suhu
No

1.

Bakteri

Bacillus subtilis

+++

+++

+++

Keterangan :
+++ = Sangat keruh
A = Perlakuan disinar cahaya dibungkus kertas karbon
B = Perlakuan disinar cahaya tidak dibungkus kertas karbon
C = Perlakuan tidak disinar cahaya dibungkus kertas karbon
+ = Agak buruk
++ = Keruh
+++ = Sangat keruh

Pengaruh Kimia

No

Bakteri

Wipol

Aseptol

Alkohol

Dettol

Staphyloccus aureus

0,304

Keterangan : = Tidak ada perubahan

Pengaruh pH

pH
No

1.

Bakteri

E.scherichia coli

Keterangan :
- = Tidak ada perubahan
BAB V
PEMBAHASAN
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan mikroba antara lain factor abiotik
yang meliputi temperature, kelembaban, tekanan osmosis, pengaruh pH, pengaruh lpgam berat
serta pengaruh zat kimia. Sedangkan faktor biotik meliputi bebas hama serta asosiasi.
Untuk pertumbuhan jasad hidup dalam mikroba, banyak faktor faktor lingkungan yang
berpengaruh. Maka adanya faktor lingkuan tersebut akan memberi jumlah peningkatan sel atau
populasi keseluruhan yang berbeda akhirnya mempengaruhi gambaran kurva pertubuhan yang
berlainan pula.
Mikroorganisme mempunyai penyebaran yang sangat luas, ada di dalam air, di udara, bahan
makanan, minuman, dalam sediaan farmasi, dalam tubuh manusia, bahkan mikroorganisme masih
dapat ditemukan di atmosfer sampai ketinggian 10 km.
Berdasarkan temperatur bakteri digolongkan menjadi 3 yaitu:

1. Bakteri termofil ( politermik ) yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada
temperatur setinggi 55C sampai 65C, meskipun bakteri itu juga dapat berkembangbiak
pada temperatur lebih rendah atau lebih tinggi dari pada itu. Yaitu batas batas 40C dan
80C.
2. Bakteri mesofil ( mesotermik ) yaitu bakteri yang hidup baik diantara 50C dan 60C,
sedang temperatur optimumnya ialah antara 25C 40C.
3. Bakteri psikrofil ( oligotermik ) yaitu bakteri yang dapat hidup diantara 0C 30C,
sedang temperatur optimumnya antara 10C 20C.

Bakteri sebenarnya makhluk yang suka akan basah, bahkan bisa hidup dalam air. Hanya didalam
air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur. Hal ini disebabkan kerena kurangnya udara bagi
mereka. Tanah yang cukup basah lebih baik untuk kehidupan bakteri. Kandungan air dalam
likungan mikroorganisme juga mempengaruhi pertumbuhan itu sendiri.

Dalam praktikum yang dilakukan adalah faktor suhu, pH, zat kimia, dan cahaya.
1. Faktor Suhu
Berdasarkan literatur jenis jenis bakteri dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok berdasarkan
suhu pertumbuhannya. Kelompok 1 adalah bakteri Psychrophil. Kelompok bakteri ini memiliki
suhu pertumbuhan minimum 0C. suhu optimum pertumbuhannya antara 15 20C dan suhu
maksimumnya sebesar 30C. Kelompok bakteri ini biasanya hidup di tempat yang dingin dan
dalam air. Kelompok 2 yaitu bakteri mesophile. Kelompok bakteri ini memiliki suhu pertumbuhan
minimum antara 15 20C, suhu optimum pertumbuhan 37C dan suhu maksimum sebesar 43C.
kelompok bakteri ini hanya terdapat banyak dalam air, tanah, dan sumber sumber air lainnya.
Kelompok 3 yaitu bakteri thermofil. Kelompok bakteri ini memiliki suhu pertumbuhan minimum
antara 24 25C, suhu optimum pertumbuhan antara 50 55C. dan suhu maksimumnya sebesar
85C. kelompok bakteri ini dapat hidup dengan baik pada temperature rendah maupun tinggi.
Dari percobaan ini bila dilihat dari hasilnya, yaitu dalam faktor suhu tidak ada yang berhasil pada
suhu 10C, 25C dan 37C dan tidak ada perubahan yang terjadi.
1. Faktor Cahaya
Dalam percobaan ini dilakukan 3 perlakuan: perlakuan 1, disinari matahari kemudian dibungkus
dengan kertas karbon. Perlakuan 2, disinari matahari, tidak ditutup kertas karbon. Dan perlakuan 3
tidak disinari matahari dan ditutupi kertas karbon.

Perlakuan 1 dan 2 dipaparkan matahari dengan maksud untuk memperoleh sinar matahari
secukupnya yang dapat digunakan untuk berbagai proses dalam tubuhnya, apakah itu proses
fotosintesis untuk menghasilkan energi ataukah untuk proses metabolisme lain.
Pemaparan dilakukan selama 15 menit karena waktu penyerapan cahaya ini optimum pada waktu
ini, bila terlalu lama maka kemungkinan besar bakterinya akan mati karena radiasi, sedangkan
perlakuan III tidak dipaparkan matahari, tetapi dibungkus langsung kertas karbon yang berwarna
hitam dapat mencegah keluarnya hasil proses yang dilakukan bakteri selama inkubasi sehingga
dapat dilakukan pertumbuhan karena penggunaan optimum dari hasil, alternativ untuk menyerap
cahaya dari sumber lain tidak ada karena kertas karbon yang hitam menahan sinar. Dalam hal ini,
kertas karbon itu berfungsi untuk menyerap cahaya (absorpsi). Dari hasil pengamatan dapat dilihat
bakteri Basillus subtilis dapat tumbuh dengan baik, pada cawan petri yang disinari oleh matahari
dan ditutup dengan kertas karbon, tetapi pada saat dikontrol dia hanya hidup sedikit. Kemudian
pada cawan petri yang hanya disinari tanpa dibungkus, bakteri juga dapat tumbuh bahkan pada
capet yang langsung ditutup kertas karbon tanpa disinari terlebih dahulu, bakteri ini hanya sedikit
yang tumbuh bahkan pada kontrol bakteri ini tidak tumbuh sama sekali.
1. Faktor bahan kimia,
Dalam percobaan ini digunakan beberapa jenis zat yaitu wipol, detol, asepsodan alcohol, untuk
mengatur kemampuan semua bahan itu dapat dilihat dari luasnya diameter zona hambat yang
dihasilkan olehnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Zona hambat adalah daerah di sekitar
zat kimia yang tidak terdapat mikroba, karena bakteri menjauhi daerah tersebut. Zona
oligoolienamik adalah daerah disekeliling zat kimia karena pergerakan bakteri.
Asepso merupakan sabun kesehatan yag dapat membunuh bakteri yang mengandung garam
natrium. Asepso merupakan detergen/sabun yang mengandung garam natrium (sabun padat keras)
atau kalium (sabun lunak) dan juga merupakan sabun antiseptik yang mengandung zat aktif
terhadap bakteri tidak seperti sabun kecantikan. Asepso bekerja dengan menganggu permebilitas
dinding sel mikroba.
Detol merupakan antiseptik cair yang biasanya digunakan dengan dicampurkan pada air untuk
mencuci atau mandi. Mengandung kloroxilenol yang dapat merusak protein bakteri yang ada.
Wipol merupakan suatu desinfektan yang merupakan campuran antara sabun dengan kresol yang
bekerja menghambat pertumbuhan yang digolongkan faktor-faktor alam yang mempengaruhi
tumbuhnya mikroorganisme yaitu temperatur, kebasahan, nilai osmotik dari medium, radiasi oleh
sinar biasa radiasi oleh sinar-sinar yang lain dan penghancuran mekanik.
Dalam praktikum ini yang hanya dilakukan adalah faktor atau pengaruh suhu, cahaya, zat kimia
dan pH.

1. Faktor suhu

Dari hasil percobaan didapatkan bahwa pada suhu 100C tidak memperlihatkan adanya kehidupan
bakteri, hal ini disebabkan karena bakteri ditempatkan pada suhu rendah, yaitu 100C. temperature
rendah dapat mengakibatkan gangguan pada metabolisme. Pada suhu 250C yaitu pada suhu kamar
memperlihatkan kekeruhan yang agak banyak, berarti ada sejumlah bakteri yang tumbuh, ini
menandakan bahwa pada percobaan ini suhu tersebut merupakan suhu minimum pertumbuhan
bakteri. Pada suhu 370C yaitu pada suhu inkubator, memperlihatkan banyaknya kekeruhan berarti
banyak bateri yang tumbuh, ini menandakan bahwa suhu optimum bakteri tersebut tumbuh yaitu
pada suhu 370C.
Dari percobaan ini, bila dilihat dari hasilnya maka berdasarkan literatur yang ada, bakteri
Escherichia coli dapat digolongkan menjadi bakteri mesophil (mesotermik) karena dapat hidup
pada suhu 25 370C. dan sangat sedikit sekali koloni yang berada pada suhu lebih dari 370C.
Adapaun hasil negativ pada percobaan kami, kami tidak mendapatkan hasil yang sesuai karena
adanya kesalahan dari oven dan pada saat menginkubasi bakteri dan percobaan ini gagal.
1. Faktor cahaya
Dalam percobaan ini dilakukan 3 perlakuan : perlakuan pertama disinari oleh matahari kemudian
dibungkus dengan kertas karbon. Perlakuan II, disinari matahari, tidak ditutup kertas karbon, dan
perlakuan III tidak disinari matahari dan dibungkus dengan kertas karbon. Perlakuan I dan II
dipaparkan matahari dengan maksud untuk memperoleh sinar matahari secukupnya yang dapat
digunakan untuk berbagai proses dalam tubuhnya, apakah itu proses fotosintesis untuk
menghasilkan energy ataukah untuk proses metabolism lain.
1. Faktor bahan kimia
Pembentukan zona hambat yaitu dengan cara paper disk yang mengandung sample bahan kimia ,
disimpan dalam capet yang mengandung medium NA dan biakan Staphylococcus aureus, maka
bahan-bahan kimia menghambat pertumbuhan biakan Staphylococcus areus penghambatan terlihat
sebagai wilayah jernih di sekitar pertumbuhan mikroorganisme. Zona hambat terbesar dihasilkan
oleh detol dengan besarnya diameter 24,33 alkohol 23,10 wipol, 20,03 asepso 8,2.
Jadi, dari bahan-bahan kimia ini yang lebih efektif menghambat pertumbuhan mikroba adalah
detol karena memiliki zona hambat yang besar disusul oleh alkohol dan lain-lain. Dikatakan
demikian karena bahan ini yang pada pengamatan memiliki zona hambat terhadap mikroba yang
besar. Jadi dapat dikatakan bahwa bahan kimia ini mampu menghambat mikroba dengan baik.
1. faktor pH
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa kekeruhan tidak banyak seperti pada pH 8 berarti,
menandakan bahwa sedikitnya pertumbuhan bakteri pada pH tersebut, pada pH 7 hanya ada sedikit
kekeruhan yang terlihat berarti tidak begitu banyak pertumbuhan bakteri pada pH tersebut yang
sama halnya dengan pH 4. Kebanyakan bakteri mempunyai pH optimum yaitu pH dimana
pertumbuhan maksimalnya sekitar pH 6,5-7,5 pada pH di alam bawah 5,0 dan di atas 8,5 bakteri
tidak tumbuh atau dapat tumbuh dengan jumlah yang sedikit.

Kurva pertumbuhan bakteri yang khas

Ket.

A: fase lamban

B: fase log (logaritmik) atau eksponensial

C: fase statis
D: fase penurunan atau kematian
Dari sini dapat dilihat bahwa ada suatu periode awal yang tampaknya tanpa pertumbuhan awal
(fase lamban atau log phase) diikuti oleh suatu periode pertumbuhan yang cepat (fase log),
kemudian mendatar (fase statis atau stationary phase), dan diikuti oleh suatu penurunan populasi
sel-sel hidup (fase penurunan atau kematian ). Diantara setiap fase ini ada suatu periode peralihan
(bagian yang lengkung). Ini lamanya waktu yang berlalu sebelum semua sel memasuki fase yang
baru.
Suhu berperan penting dalam mengatur jalannya metabolism bagi semua mahluk hidup.
Khususnya bagi bakteri, suhu lingkungan yang berada lebih tinggi dari suhu yang dapat
ditoleransi akan menyebabkan denaturasi protein dan komponen sel esensial lainnya sehingga sel
akan mati. Demikian pula bila suhu lingkungannya berada di bawah batas toleransi, membran
sitoplasma tidak akan berwujud cair sehingga transportasi nutrisi akan terhambat dan proses
kehidupan sel akan terhenti. Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi 4 golongan,
psikrofil, mesofil, termofil, hipertermofil. selain suhu, cahaya juga merupakan salah satu faktor
yang
PENUTUP

IV.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :
1. Suhu optimum dari bakteri Escherichia coli adalah 27C, sehingga bakteri ini termasuk
bakteri mesofilik
2. Pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis dipengaruhi oleh cahaya
3. Dettol merupakan bahan kimia yang paling efektif mempengaruhi pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus dengan besarnya diameter zona hambatan sebesar 24,34 mm
4. pH optimun bakteri Escherichia coli adalah 8
IV.2 Saran
Sebaiknya asisten lebih memperhatikan praktikannya.
LAMPIRAN
1. 1.

Komposisi Medium

1. Medium NB (Nutrien Broth) :


Ekstrak Beef

3g

Pepton 5 g
Air suling ad

1000 mL

1. Medium NA (Nutrien Agar) :


Ekstrak Beef

3g

Pepton 5 g
Agar

15 g

Air Suling

1000 Ml

pertumbuhan bakteri. Secara umum bakteri dan mikroorganisme lainnya dapat hidup dengan baik
pada paparan cahaya normal. Akan tetapi, paparan cahaya dengan intensitas sinar UV tinggi dapat
berakibat fatal bagi pertumbuhan bakteri.

1.1

Latar Belakang
Pertumbuhan adalah peristiwa perubahan biologis yang terjadi pada makhluk hidup karena
perubahan ukuran yang bersifat irreversible yakni tidak dapat berubah kembali ke asal karena
adanya penambahan substansi dan perubahan bentuk yang terjadi saat proses pertumbuhan. Dalam
pertumbuhan terjadi penambahan ukuran, volume, panjang (tinggi) dan pertambahan massa.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan makhluk hidup dapat berasal dari dalam
maupun luar. Faktor dalam meliputi gen dan hormon. Sedangkan faktor luarnya meliputi nutrisi
atau makanan, suhu, cahaya, air dan kelembaban.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor lingkungan fisis
terhadap pertumbuhan mikroorganisme dan untuk dapat melakukan pengujian terhadap faktor
lingkungan fisis pertumbuhan mikroorganisme.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pertumbuhan Mikroba
Pertumbuhan bagi suatu mikroba merupakan penambahan secara teratur semua komponen sel
suatu mikroba. Pembelahan sel adalah hasil pertumbuhan sel. Pada mikroba bersel tunggal
( uniseluler), pembelahan atau perbanyakan sel merupakan pertambahan jumlah individu. Pada
mikroba bersel banyak (multiseluler) pembelahan sel tidak menghasilkan pertambahan jumlah
individunya, tetapi hanya merupakan pembentukan jaringan atau bertambah besarnya suatu
mikroba (Suharjono, 2006).
Suatu mikroorganisme tumbuh tergantung dari beberapa faktor, salah satunya adalah air.
Bahan-bahan yang terlarut dalam air digunakan oleh mikroorganisme untuk membentuk bahan sel
dan memperoleh energi agar mendapat bahan makanan. Berbagai mikroorganisme mempunyai
susunan larutan makanan yang berbeda-beda. Oleh karenanya banyak cara untuk membuat media
hidup bagi mikroorganisme.
Dalam pertumbuhannya, mikroorganisme memiliki dua faktor yang mendukung, yaitu faktor
fisik dan faktor kimiawi. Faktor fisik dapat berupa kadar air, cahaya dan suhu. Sedangkan factor
kimianya adalah pH dan tekanan osmosis.

2.2

Pengaruh Suhu

Suhu merupakan faktor penting dalam pertumbuhan mikroba. Pada umumnya batas suhu
pertumbuhan mikroba terletak antar 00C sampai 900C, sehingga dikenal suhu minimum, optimum,
dan maksimum.
Berdasarkan kisaran suhunya, mikroba dibagi menjadi tiga kelompok:
a)

Psikofilik adalah kelompok mikroba yang dapat hidup dan tumbuh pada daerah dengan suhu

00C sampai 300C dengan temperature optimumnya 150C.


b)
Mesofilik adalah kelompok mikroba yang dapat tumbuh dan bertahan hidup pada keadaan
c)

dengan suhu optimum antara 250C-370C, minimum 150C, dan maksimum di sekitar 550C.
Termofilik adalah kelompok mikroba yang hidup pada suhu yang tinggi. Suhu optimum untuk
mikroba kelompok ini adalah 550C-600C. minimum 400C, dan maksimum 750C. bakteri ini
biasanya terdapat pada sumber air panas dan tempat-tempat denga keadaan suhu tinggi.

2.3 Pengaruh pH
Setiap organisme memiliki pH hidup yang berbeda-beda. Kebanyakan organisme dapat tumbuh
pada kisaran pH 5-8. Berdasarkan pH yang ada, mikroba dibagi menjadi tiga kelompok mikroba
yaitu asidofil, neutrofil, dan alkalifil. Asidofil adalah mikroba yang dapat tumbuh dengan kisaran
pH 2-5. Nutrofil adalah bakteri yang hidup pada pH 5,5-8,0. Sementara alkalifil dapat tumbuh
pada kisaran pH 8,4-9,5. Bakteri meiliki pH minimum, optimum dan maksimum. pH optimum
bakteri adalah kisaran 6,5-7,5, sedangkan jamur memiliki kisaran pH yang lebih luas (Suriawiria,
2003).
2.4

Pengaruh Kadar Air


Semua bakteri dan jamur tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab.
Kenyataan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan proses pengeringan. Air
sangat penting bagi kehidupan, karena mikroorganisme hanya dapatr mengambil makanan dari luar
ke dalam larutan (holophytis) (Suhartini, 2006).

2.5

Pengaruh Cahaya
Sebagian besar bakteri adalah chemothrope, karena itu pertumbuhannya tidak tergantung pada
adanya cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena

pengaruh sinar UV. Pada beberapa mikroba lainnya, intensitas cahaya bukan merupakan factor
terpenting yang membatasi pertumbuhan mikroba tersebut (Entijang, 2003).
2.6

Pengaruh Tekanan Osmosis


Tekanan osmosis sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Apabila mikroba diletakkan
pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami plamolisis., yaitu terlepasnya membran
sitoplasma dari dari diniding sel akibat mengkerutnya sitoplasma.apabila diletakkan pada larutan
hipotonis, maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk
ke dalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah.

2.7

Media Pertumbuhan
Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, dan memperbanyak jumlah, menguji
sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba, dimana proses pembuatannya harus
disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media
(Sumarsih, 2003).
Berdasarkan bentuknya, media dibagi atas medis cair, semi cair dan padat. Sedang menurut
susunannya, media dapat dibagi atas media kompleks dan media sintetik. Media biakan ada yang
berbentuk padat, cair dan semi padat . Media padat adalah media biakan yang dipadatkan dengan
agar, ada yang bersifat reversible (dapat dibalik) seperti agar nutrien dan ada yang
bersifat ireversible (tidak dapat dibalik) seperti serum darah terkoagulasi. Dalam kedokteran,
media padat yang bersifat irreversible paling sering digunakan. Sedang agar nutrient banyak
digunakan dalam media lain.
BAB III
METODELOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut :

a)

Erlenmeyer 250 ml

2 buah

b)

Gelas ukur

c)

Cawan petri

1 buah
16 buah

d)

Tabung reaksi

13 buah

e)

Tabung durham

8 buah

f)

Magnetic stirer

1 buah

g)

Jarum ose

1 buah

h)

Kertas sampul

secukupnya

i)

Inkubator (Cleanbench)

peralatan

j)

Autoclave

peralatan

3.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang diperlukan selama praktikum adalah sebagai berikut :
a.

Ekstrak daging

b.

Larutan glukosa

c.

Agar

d.

Pepton

e.

Glukosa

f.

Aquadest

g.

NaCl

h.

Ragi

i.

Kentang

j.

Ekstrak kentang

k.

Ekstrak belimbing
3.2. Prosedur kerja
3.2.1 Proses Autoclave

a.

Alat dibungkus dengan menggunakan kertas sampul coklat. Alat seperti Erlenmeyer dan

sejenisnya, permukaannya ditutup dengan menggunakan kapas;


b.
Diperiksa bagian bawah autoclave apakah berisi air atau tidak, jika air tidak ada maka
dimasukkan air ke dalam tempat air pada bagian bawah autoclave;

c.

Dibuka autoclave, dikeluarkan keranjang yang ada didalam autoclave, kemudian diisi dengan

alat-alat yang akan disterilisasikan.


d. Dimasukkan kembali keranjang tersebut ke dalam autoclave, kemudian ditutup autoclave;
e.
Ditekan tombol start, kemudian tunggu sampai suhu 121C sampai alarm berbunyi;
f.
Setelah alarm berbunyi, ditekan tombol exhaust kemudian ditunggu sampai suhu turun 60-70C,
g.

lalu dibuka autoclave; dan


Sterilisasi selesai.
3.2.2 Pembuatan NA

a.
b.
c.
d.

Dicampurkan agar-agar 1,5 gram, NaCl 0,8 gram, glukosa 0,6 gram dan aquades sebanyak 100
ml di dalam Erlenmeyer;
Erlenmeyer dibungkus dengan kertas sampul
Dimasukkan kedalam Autoclave sampai prosenya selesai
Diletakkan ke dalam cawan petri dan didinginkan.
3.2.3 Uji Pengaruh suhu

a.
b.
c.
d.

Disiapkan 4 tabung reaksi yang dilengkapi dengan tabung durham;


Dimasukkan media kaldu glukosa pada 2 tabung reaksi kemudian selebihnya dimasukkan
ekstrak belimbing. Lalu di tambah 3 ml air parit Tugu Unsyiah pada masing-masing tabung reaksi.
Diinkubasikan pada suhu 30C di clean bench, dan 50C di oven; dan
Diamati perumbuhan bakteri setelah 24 - 72 jam.
3.2.4 Uji Pengaruh pH

a.
b.

Disiapkan 3 tabung reaksi yang dilengkapi dengan tabung durham;


Dimasukkan ekstrak belimbing, ekstrak kentang dan dan air detergen ke dalam masing-masing

c.

tabung reaksi yang dilengkapi tabung durham, kemudian diukur pH;


Dimasukkan sampel bakteri E. Coli dari air parit Tugu Unsyiah ke dalam tabung reaksi

sebanyak 3 ml;
d. Dimasukkan ke dalam clean bench
e.
Diamati pertumbuhan bakteri setelah 24, 48 dan 72 jam
3.2.5 Uji Pengaruh Kadar Air
a.

Disiapkan 4 cawan petri dan ditambahkan media kentang rebus yang telah dihaluskan;

b.

Cawan petri A diperlakukan dengan memberi sedikit air, cawan petri B diberi air sampai
permukaan media terendam, cawan petri C diperlakukan sama seperti cawan petri A kemudian

c.

ditambahkan cuka, cawan petri D sama seperti cawan petri B dan ditambahi cuka;
Saccharomyces cereviciae yang diambil dari ragi disuspensi dan diratakan di atas permukaan

media;
d. Dimasukkan ke dalam clean bench
e.
Diamati pertumbuhan bakteri setelah 24, 48 dan 72 jam
3.2.6 Uji Pengaruh Cahaya
a.
b.
c.
d.
e.

Disiapkan 4 cawan petri yang telah diisi dengan NA


Digoresi permukaan NA berbentuk garis zig-zag
Suspensi saccharomyces cerevisiae yang diambil dari ragi dimasukkan masing masing ke dalam
cawan petri dengan di beri penyinaran selama 0, 10, 20, dan 35 menit
Dimasukkan ke dalam clean bench
Diamati pertumbuhan mikroorganisme setelah 24 ,48, 72jam
3.2.7 Uji Pengaruh Tekanan Osmosis

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Disiapkan 6 tabung reaksi tanpa tabung durham;


Dimasukkan media NB 3 ml ke masing masing tabung
Dimasukkan media kaldu glukosa pada 3 tabung reaksi dengan konsentrasi 5, 10, dan 25 %
Ditambah larutan NaCl dengan konsentrasi yang sama pada 3 tabung reaksi lainnya
Ditambahkan suspense ragi saccharomyces cereviciae pada masing-masing tabung
Dimasukkan ke dalam clean bench
Diamati pertumbuhan mikroorganisme setelah 24,48, 72 jam

BAB IV
PEMBAHASAN
Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai peningkatan jumlah komponen (semua komponen)
organisme secara teratur. Oleh karena itu penambahan ukuran yang terjadi pada saat sel mengambil
air/menimbun

lipid/polisakarida

bukanlah

pertumbuhan

yang

sebenarnya.

Pertumbuhan

menyebabkan jumlah individu yang membentuk suatu populasi (Brooks, 2004).


Fakor-faktor lingkungan fisis yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme adalah
adanya pengaruh suhu, pH, kelembaban, cahaya dan tekanan osmosis. Adapun pertumbuhan
mikroba ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

4.1 Pengujian Pengaruh Suhu


Pada pengujian ini digunakan 2 sampel yaitu media kaldu glukosa dan ekstrak belimbing
dengan penambahan bakteri E. Coli dari air parit Tugu Unsyiah. Komposisi yang terkandung
dalam media glukosa adalah NaCl, glukosa, dan aquades. Air pari dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang telah terdapat tabung durham. Dan telah diisi dengan sampel. Media tersebut
diinkubasi pada suhu 30oC di dalam cleanbench dan 50oC di dalam oven.
Setelah diinkubasikan selama 72 jam, sampel media kaldu glukosa terdapat banyak gelembung
pada tabung durham pada suhu 30oC dibandingkan dengan suhu 50oC. ekstrak belimbing pada
suhu 30oC timbul gelembung udara yang jumlahnya lebih sedikit daripada media kaldu glukosa,
begitu pula pada ekstrak belimbing 50oC.
4.2 Pengaruh Pengujian pH
Pada pengujian ini digunakan 3 sampel yaitu ekstrak belimbing, ekstrak kentang rebus, dan air
detergen. Kemudian diukur masing-masing pH dengan mengunakan kertas lakmus. Diperoleh data
ph 3 untuk ekstrak belimbing, ph 6 untuk ekstrak kentang dan ph 11untuk air detergen. Pada
percobaan diperoleh hasil, bakteri tumbuh baik pada media ekstrak kentang dengan pH 6. Hal ini
menunjukkan bahwa bakteri termasuk ke dalam kelompok neitrofil dengn kisaran pH 5,5-8,5.
Bakteri tidak bisa tumbuh pada ekstrak belimbing karena pH yang terlalu asam akan menghambat
pertumbuhan. Pada air detergen bakteri tidak dapat bertahan lama karena pH yang telalu basa.

4.3 Pengaruh Pengujian Kadar Air


Pada pengujian kali ini kentang rebus dihaluskan dan diletakkan pada cawan petri sebagai
media. Diberikan 4 perlakuan berbeda, yaitu lembab, tergenang air, lembab ditambah cuka, dan
tergenang air ditambah cuka. Setelah pengamatan selama 72 jam, pada media dengan keadaan
lembab tumbuh banyak bakteri, sedangkan pada media yang tergenang air tidak banyak tumbuh
bakteri. Beda halnya dengan media yang di tambah dengan cuka. Pada media lembab yang
ditambahkan cuka, sedikit jamu yang tumbuh, dan timbul warna kemerahan. Sedangkan pada
media yang tergenang air dan ditambahi cuka tidak terjadi perubahan warna dan pertumbuhan
jamur.
4.4 Pengujian Pengaruh Cahaya

Pada percobaan ini digunakan Nutrient Agar sebagai media padat. NA dibuat dengan
campuran bahan glukosa, agar, NaCl dan aquades yang kemudian semua bahan tersebut
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Lalu diaduk dengan menggunakan magnetic stirrer hingga
homogeny. Setelah itu dimasukkan ked alma autoclave guna untuk mensterilisasi bahan tersebut.
Kemudian dituangkan ke dalam 4 cawan petri dan didinginkan. Setelah dingin permukaan NA
digores secara zig-zag menggunakan kawat oase. Lalu disuspensikan ragi diatasnya. Diberikan
penyinaran selama 0 menit, 10 menit, 20 menit dan 35 menit. Kemudian diinkubasikan ke dalam
cleanbench dan diamati selama 24-72 jam.
Setelah 72 jam perubahan yang terjadi pada sampel adalah menyusutnya garis zig-zag yang
disuspensikan ragi. Dan kejadian tersebut terlihat jelas pada media tanpapenyinaran. Hal ini dapat
menjelaskan bahwa bakteri dalam air parit tugu unsyiah tidak dapat bertahan lama di bawah sinar
matahari.

4.5 Pengaruh Tekanan Osmosis


Tekanan osmosis sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Apabila mikroba diletakkan
pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami plamolisis, yaitu terkelupasnya membrane
sitoplasma dari sel akibat mengkerutnya dinding sitoplasma. Apabila diletakkan pada larutan
hipotonis, maka sel mikroba akan mengalami plamoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk
ke dalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah (Sumarsih, 2003).
Pada pengujian ini langkah yang pertama kali dilakukan adalah membuat Nutrient Broth
sebagai media cair. Kemudian 3 tabung reaksi dimasukkan dektrosa dengan konsentrasi 5, 10, dan
25 % sedangkan 3 tabung reaksi lainnya dimasukkan larutan NaCl dengan konsentrasi yang sama.
Pada hasil pengamatan, terdapat perubahan yang terjadi yaitu timbulnya gelembung serta endapan
dan warna berubah menjadi keruh. Pada media yang ditambahi dektrosa 25% menimbulkan
banyak gelembung, hal ini dikarenakan pada konsentrasi tersebut mikroba berada pada keadaan
yang isotonis, sedangkan pada konsentrasi 5 dan 10 % bakteri berada pada keadaan yang
hipotonis.

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :


a.

Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme adalah suhu, pH, kadar
air, cahaya, dan tekanan osmosis. Mikroba dapat tumbuh dengan baik pada keadaan optimum
tertentu tergantung jenisnya.

b.

Mikroorganisme dalam hal ini E. Coli tidak dapat hidup dengan baik pada suhu 50 oC. Namun
pada suhu 30oC bakteri tumbuh dengan baik karena bakteri ini hidup optimum pada suhu 37oC.

c.

Pada pengaruh pH, E. Coli tumbuh optimum pada ekstrak kentang dengan pH 6. Hal ini
menunjukkan bahwa bakteri E. Coli adalah bakteri neutrofilik yaitu bakteri yang hidup pada
keadaan pH netral dengan rentang 5,5 8,5.

d.

Pada kadar air, jamur hidup optimum pada keadaan lembab. Karena tempat yang lembab adalah
habitat yang baik bagi jamur untuk hidup.

e.

Pada pengaruh cahaya, mikroba banyak tumbuh pada media yang tidak mendapatkan cahaya,
karena sebagian mikroba tidak dapat hidup bertahan lama dibawah sina matahari.

f.

Pada tekanan osmosis, saccharomyces dapat hidup baik pada konsentrasi 25% pada larutan
dektrosa karena konsetrasi tersebut merupakan keadaan yang isotonis bagi mikroba. Sedangkan
NaCl 25%, mikroba tidak tumbuh dengan baik karena mikroba termasuk kelompok halodurik.

DAFTAR PUSTAKA
Brooks, Geo F. Janet S. Butel, dan Stephen A. Mourse . 2004 . Mikrobiologi Kedokteran . Penerbit Buku
Kedokteran : Jakarta.
Entijang, Indan . 2003 . Mikrobiologi dan Parasitologi . P.T. Citra Aditya Bakti : Bandung.
Suharjono . 2006 . Komunitas Kapang Tanah di Lahan Kritis Berkapur DAS Brantas Pada Musim
Kemarau. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya : Malang.
Suhartini, Sri . 2006 . Mikrobiologi Industri . Penerbit Andi : Yogyakarta.
Sumarsih, Sri . 2003 . Diktat Kuliah Mikrobiologi Dasar . UPN Veteran Yogyakarta : Yogyakarta.
Suriawiria, Unus . 2003 . Mikrobiologi Air . P.T. Alumni : Bandung.
Wellyar, Gandjar . 2006 . Mikrobiologi Dasar dan Terapan . Yayasan Obor : Jawa Barat.

BAB I
PENDAHULUAN

I .1

Latar Belakang

Kehidupan semua makhluk hidup tergantung pada lingkungan sekitar, baik lingkungan
biotik maupun abiotik. Demikiian pula kehidupan mikroorganisme, tergantung pula pada
lingkungan sekitarnya. Mikroorganisme ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya,
sehingga hidupnya sama sekali tergantung pada keadaan sekelilingnya. Satu-satunya cara untuk
mempertahankan hidupnya ialah menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungannya.

Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu akan tetapi dapat pula
terjadi perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk dan morfologi serta sifatsifat fisiologi yang turun temurun. Bakteri dapat pula mempengaruhi pH medium tempat ia hidup.
Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi atas faktor-faktor biotic dan abiotik.
Faktor-faktor ini sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu
mikroorganisme, sehingga sangatlah perlu kita ketahui sehingga dilakukan percobaan ini.

I .2

Maksud dan Tujuan Percobaan

I .2.1 Maksud percobaan


Mengetahui dan memahami faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan
mikroba

I .2.2 Tujuan percobaan


Menentukan pengaruh suhu, pengaruh kimia, pengaruh cahaya dan pengaruh pH terhadap
pertumbuhan Candida albicans, Salmonella thyposa, dan Streptococcus epidermis.

I .3

Prinsip percobaan

1.

Penentuan pengaruh suhu terhadap pertumbuhan mikroba dengan menginkubasi Candida


albicans dengan menggunakan medium PDB serta Salmonella thyposa dan Streptococcus
epidermis dengan menggunakan medium NB pada suhu 5C, 27C, 37C, dan 50C. Untuk
Candida albicans diinkubasi selama 3 x 24 jam dan untuk Salmonella thyposa dan Streptococcus
epidermis diinkubasi selama 1 x 24 jam.

2.

Penentuan pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan mikroba dengan memberikan perlakuan


berbeda yaitu disinari langsung kemudian dibungkus karbon, dibungkus karbon kemudian disinari
disinari dan dibungkus karbon tanpa disinari kemudian diinkubasi. Untuk Candida albicans
diinkubasi pada suhu 25 oC selama 3 x 24 jam dan untuk Salmonella thyposa dan Streptococcus
epidermis diinkubasi pada suhu 37 oC selama 1 x 24 jam.

3.

Penentuan pengaruh bahan kimia terhadap pertumbuhan mikroba berdasarkan zona hambatan
yang dihasilkan dengan pemberian paper disk yang telah direndam dalam cairan Wipol, Portex,
Antis dan Listerine. Untuk Candida albicans diinkubasi pada suhu 25 oC selama 3 x 24 jam dan
untuk Salmonella thyposa dan Streptococcus epidermis diinkubasi pada suhu 37 oC selama 1 x 24
jam.

4.

Penentuan pengaruh pH terhadap pertumbuhan Candida albicans, Salmonella thyposa, dan


Streptococcus epidermis dengan variasi pH yaitu pH 5, pH 7, dan pH 9 lalu di inkubasi. Untuk
Candida albicans diinkubasi pada suhu 25 oC selama 3 x 24 jam dan untuk Salmonella thyposa
dan Streptococcus epidermis diinkubasi pada suhu 37 oC selama 1 x 24 jam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II .1 Teori Umum
Kehidupan mikroorganisme pada umumya sangat tergantung pada faktor lingkungan. Faktor
lingkungan itu meliputi faktor abiotik dan faktor biotic. Faktor abiotik adalah faktor luar seperti
suhu, pH, tekanan osmosis. Sedangkan faktor biotik adalah dari mikroorganisme itu sendiri (1;56).
Faktor-faktor tersebut meliputi (1;56) :
1. Faktor fisik, misalnya : suhu, tekanan osmosis, kandungan oksigen, pH, dan lain-lain.
2. Faktor kimia, misalnya senyawa racun.
3. Faktor biologi, misalnya interaksi dengan mikroorganisme lain.
Untuk pertumbuhan tiap-tiap jasad mempunyai suhu pertumbuhan yang berbeda-beda, yaitu
ada maksimum dan optimum (2;90).

Temperatur maut (Termal Death Point) adalah temperature yang serendah-rendahnya yang
dapat membunuh bakteri yang berada dalam standar medium selama 10 menit. Tidak semua
individu dari suatu spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Biasanya individu
yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatu pemanasan sehingga tepat bila
kita katakana adanya angka kematian pada suatu temperatur (Termal Death Rate). (2;91).
Mengenai pengaruh temperatur terhadap kegiatan fisiologi, maka mikroorganisme dapat
bertahan di dalam suatu batas temperatur tertentu. Berdasarkan atas batas temperatur itu, bakteri
dapat dibagi atas : (2;93)
1.
2.

Bakteri termofilik (politermik) yaitu bakteri yang tumbuh baik sekali pada temperature 55o-60oC.
Bakteri mesofil (mesotermik) yaitu bakteri yang dapat hidup dengan baik antara 5 o-60oC,
temperature optimumnya 25o-40oC.

3.

Bakteri psikofil (oligotermik) yaitu bakteri yang dapat hidup antara 0-30 oC, temperature
optimumnya 10o-20oC.
Akan tetapi diatas suhu tertentu, protein, asam nukleat, dan komponen-komponen sel
lainnya mengalami kerusakan permanen. Selain berpengaruh pada laju pertumbuhan, temperatur
yang ekstrim dapat membunuh mikroorganisme. (3; 93)
Oksigen seringkali diduga diperlukan untuk pertumbuhan. Tapi keadaan ini tidak
selamanya benar karena beberapa mikroorganisme dapat tumbuh tanpa oksigen, tetapi ada pula
kelompok mikroorganisme yang tidak dapat tumbuh dan mati bila ada oksigen. (4:56)

Fase-Fase Pertumbuhan Mikroorganisme

A.

Fase permulaan

Pada fase tersebut mikroorganisme melakukan penyesuaian diri dengan lingkungannya yang
baru. Sel-sel pada fase ini mulai membesar, tetapi belum melakukan pembelahan sel (5;184).
B. Fase pertumbuhan yang dipercepat
Pada fase ini mikroorganisme mulai melakukan pembelahan diri, tetapi waktu generasinya
masih panjang (5;184).

C. Fase logaritma
Pada fase pertumbuhan ini kecepatan pertumbuhan paling cepat, waktu generasinya pendek
dan konstan. Selama fase ini, metabolisme paling cepat dan pesat, jadi sintesa bahan sel sangat
cepat dan konstan. Keadaan tersebut berlangsung sampai salah satu atau beberapa nutrient habis
atau telah terjadi penimbunan hasil-hasil metabolisme yang bersifat racun, sehingga menyebabkan
terhambatnya pertumbuhan mikroorganisme (5;184).

D. Fase pertumbuhan yang mulai terhambat

Pada fase ini pertumbuhan mulai terhambat, hal ini disebabkan karena adanya pengurangan
nutrient dan mulai terjadi penimbunan hasil-hasil metabolisme yang bersifat racun, juga terjadi
perubahan seperti pH dan lain-lain (5;185).

E.

Fase stasioner yang maksimum


Karena adanya penurunan kadar nutrient dan adanya penimbunan zat-zat yang bersifat racun,
maka kecepatan pertumbuhan dan perbanyakan mikroorganisme akan terhambat. Selain itu, jumlah
mikroorganisme yang mati makin meningkat, sehingga jumlah mikroorganisme yang mati sam
adengan yang hidup (5;185).

F. Fase kematian yang dipercepat dan fase kematian logaritma


Kedua fase ini sering disebut sebagai fase penurunan kematian. Pada fase ini, kecepatan
kematian meningkat terus-menerus, sedangkan kecepatan pembelahan menjadi nol. Setelah sampai
ke fase kematian logaritma, kecepatan kematian mencapai maksimum (5;186).
Antiseptika adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menghambat atau mematikan
mikroorganisme pada jaringan hidup, yang mempunyai efek membatasi dan mencegah infeksi agar
tidak menjadi lebih parah. Desinfektan adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menghambat
atau mematikan mikroorganisme, yang digunakan pada benda mati dan dengan cepat
menghasilkan efek letal yang tidak terpulihkan. Antiseptika dan desinfektansia dapat merusak sel
dengan cara koagulasi atau denaturasi protein sel atau menyebabkan sel mengalami lisis, yaitu
dengan mengubah struktur membran sitoplasma sehingga menyebabkan kebocoran sel ( 5 : 254).

si

si Oleh

II.2 Uraian Sampel


v Listerine (Netto 80 ml)
:

Encaliptol (0.0996), Methyl Salycilate (0.06 %), Pluranic F-127,

Sorbitol Solution, Sodium Citrate, Acid Citric, FD & C Green no. 3 D, C Yellow no. 10 K 7059,
Thymol, Moutwash Flavour 129580, Benzoic Acid, Water Alkohol 21.6 %.
:

PT. Bayer Indonesia Jakarta, Indonesia

PT. Pfizer Indonesia, Jakarta, Indonesia.

v Portex (Netto 500 ml)


o Komposisi

: Main Ingredients, Nonlonic Surfactant, Hydrochlone Acid.

o Diproduksi Oleh

: PT. Soenoes Ikamulya, Jakarta Indonesia.

DEPKES RI PKD 20304400778

v Wipol (Netto 450 ml)


o Komposisi

: Pine Action, Aroma Cerama

o Diproduksi Oleh

: PT. Millenium, Massa Manunggal Gunung Putri-Bogor.

o Untuk

: PT. Unilever Indo TBK, DEPKES RI KD. 20502600133.

v Antis (Netto 85 ml)


o Komposisi

: Triclosan

o Diproduksi Oleh

: PT. Lionindojaya

o Untuk

: PT. Saya Mas Utama Jakarta Indonesia

POM PD. 0501200350.

II.3. Uraian Bakteri


1.

Streptococcus epidermis (6;123)


Regnum
: Plantae
Divisio

: Schizophyta

Class

: Bacteria

Ordo

: Eubacteriales

orfologi

orfologi

Family

: Lactobacillaceae

Genus

: Streptococcus

Species

: Streptococcus epidermis

Berbentuk coccus / bulat, terdapat tunggal dan berpasangan membentuk kelompok

serupa garis atau rantai. Sel berbentuk bola, terdapat tunggal dan berpasang-pasangan secara khas,
membelah diri pada satu bidang sehingga bergerombol tidak beraturan dan bersifat non motil.

2.

Salmonella thyposa (6;123)


Regnum
: Plantae
Divisio

: Schizophyta

Class

: Bacteria

Ordo

: Eubacteriales

Family

: Enterobacteriaceae

Genus

: Salmonella

Species

: Salmonella thyposa

Bentuk batang gram negatif, fakultatif aerob, bergerak dengan flagel peritrich,

mudah tumbuh pada perbenihan biasa dan tumbuh baik pada perbenihan empedu.

3.

Candida albicans (6 ; 86)


Regnum
: Plantae
Divisio

: Eumycaphyta

Class

: Ascemycetes

Ordo

: Saccharomycetales

Family

: Cryptococcaceae

Genus

: Candida

Spesies

: Candida albicans

Morfologi

: Bercirikan pembentukan askus.

Beberapa askomiset membentuk tubuh buah yang melindungi askus beserta askospora.

II. 4. Uraian Bahan


1. Air suling (7:96)
Nama resmi

Aqua Destillata.

Nama lain

Air suling/aquades.

RM/BM

H2O/18,02.

Pemerian

Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mempunyai

Dalam wadah tertutup baik.

rasa.
Penyimpanan

Kegunaan

2.

Sebagai pelarut & larutan pengencer.

Nama resmi

Aethanolum.

Nama lain

Etanol/Alkohol.

Pemerian

Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak;

Alkohol (7;65)

bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Penyimpanan

Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya; di tempat sejuk,

Sebagai antiseptik.

Nama resmi

Agar

Nama lain

Agar-agar

Pemerian

Berkas potongan memanjang, tipis seperti selaput dan berlekatan,

jauh dari nyala api.


Kegunaan

3.

Agar (7:74)

atau berbentuk keeping, serpih atau butiran; jingga lemah kekuningan, abu-abu kekuningan sampai

kuning pucat atau tidak berwarna; tidak berbau atau berbau lemah; rasa berlendir; jika lembab liat;
jika kering rapuh.

4.

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam air; larut dalam air mendidih.

Penyimpanan

Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan

Sebagai komponen pemadat medium

Pepton (7:721)
:

Serbuk; kuning kemerahan sampai coklat; bau khas tidak busuk.

Larut dalam air; memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang

bereaksi agak asam; praktis tidak larut dalam etanol (95%) P dan dalam eter P.

5.

Sebagai komponen medium

Ekstrak daging sapi (7:1152)


Kaldu daging sapi konsentrat diperoleh dengan mengekstraksi daging sapi segar tanpa lemak,
dengan cara merebus dalam air dan menguapkan kaldu pada suhu rendah dalam hampa udara
sampai terbentuk residu kental berbentuk pasta.
: Massa berbentuk pasta, berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua, bau an rasa seperti
daging, sedikit asam.

Penyimpanan

Wadah tidak tembus cahaya, tertutup rapat.

Kegunaan

Sebagai komponen medium.

Nama Resmi

Dextrosa Monohydrat

Nama Lain

Gula jagung, gula kentang

RM / BM

C6H12O6H2O / 198,17

Pemerian

Hablur tidak berwarna, serbuk granul putih / serbuk hablur, rasa

6.

Dekstrosa (7;175)

manis, tidak berbau.


:

Praktis tidak larut dalam kloroform P dan eter P, larut dalam etanol (95%)

P, gliserin, dan air


Penyimpanan

Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

Sebagai komponen medim.

BAB III
CARA KERJA

III.1

Alat dan bahan

III .1.1 Alat


Botol pengencer, tabung reaksi, rak tabung reaksi, Cawan Petri, Inkubator anaerob,
Inkubator suhu kamar, Ose bulat, Ose lurus, Lampu spiritus, Spoit 1 ml,

5 ml dan 10 ml,

Tabung reaksi, pinset, Oven dan Lemari Es.


III .1.2 Bahan
Air steril, Alkohol, Asam Tartrat, NaOH, Biakan Candida albicans, Salmonella thyposa,
dan Streptococcus epidermis, Kapas, Kertas karbon, kertas pH Universal, Listerine, Antis, Wipol
dan Portex, Medium PDA, PDB, NA dan NB

III.2

Cara Kerja

A. Pengaruh suhu
Disiapkan 4 buah Tabung reaksi. Dipipet sebanyak

1ml suspensi biakan bakteri

Salmonella thyposa, dan Streptococcus epidermis dan 1 ml suspensi jamur Candida albicans
masing-masing di masukkan ke dalam 4 buah Tabung reaksi tersebut kemudian ditambahkan ke
dalam tabung reaksi tersebut 5 ml medium NB untuk Bakteri dan 5 ml medium PDB untuk Jamur.
Tabung I diinkubasi pada suhu 5C di lemari es, Tabung II di inkubasi pada suhu 25C ( Suhu
kamar ), Tabung III di inkubasi pada suhu 37C di Incubator aerob, tabung IV di inkubasi pada
suhu 50C didalam oven yang suhunya di atur 50 oC. Dilakukan pengamatan setelah 1 x 24 jam
untuk bakteri dan 3 x 24 jam untuk jamur.

B. Pengaruh cahaya
Disiapkan 3 buah Cawan Petri. Dipipet sebanyak 1 ml suspensi biakan bakteri Salmonella
thyposa, dan Streptococcus epidermis dan 1 ml suspensi jamur Candida albicans dan masingmasing di masukkan ke dalam tiga cawan Petri tersebut, lalu ditambahkan 10 ml medium NA
untuk Bakteri dan 10 ml medium PDA untuk Jamur. Pada cawan Petri I, dipaparkan di bawah sinar
matahari selama 15 menit setelah itu dibungkus dengan kertas karbon. Pada cawan petri II,
dipaparkan di bawah sinar matahari selama 15 menit setelah dibungkus dengan kertas karbon.
Pada cawan petri III, tidak dipaparkan, tetapi lansung dibungkus dengan kertas karbon. Setelah itu
diinkubasi. Untuk Candida albicans diinkubasi pada suhu 25 oC selama 3 x 24 jam dan untuk
Salmonella thyposa dan Streptococcus epidermis diinkubasi pada suhu 37 oC selama 1 x 24 jam.

C. Pengaruh pH
Disiapkan empat buah tabung reaksi. Dipipet sebanyak 0.5 ml suspensi biakan bakteri
Salmonella thyposa dan Streptococcus epidermis dan 0.5 ml suspensi jamur Candida albicans dan
masing-masing di masukkan ke dalam 4 tabung reaksi tersebut kemudian ditambahkan ke dalam
tabung tersebut 5 ml medium NB untuk Bakteri dan 5 ml medium PDB untuk Jamur. Pada tabung
reaksi I, di tambahkan Asam Tartrat untuk memberikan suasana asam (pH 5). Pada tabung reaksi

II, pada pH netral (pH 7). Pada tabung reaksi III, ditambahkan natrium hidroksida untuk memberi
suasana basa (pH 9). Dan tabung reaksi IV sebagai kontrol (Tanpa penambahan). Keempat tabung
reaksi tersebut lalu diinkubasi. Untuk Candida albicans diinkubasi pada suhu 25 oC selama 3 x 24
jam dan untuk Salmonella thyposa dan Streptococcus epidermis diinkubasi pada suhu 37 oC selama
1 x 24 jam.

D. Pengaruh Bahan Kimia


Disiapkan sebuah Cawan Petri kemudian dibagi menjadi 4 bagian sama besar pada alas
bagian luar Cawan Petri tersebut dengan menggunakan tipe-ex. Dipipet sebanyak 1 ml suspensi
biakan bakteri Salmonella thyposa atau 1 ml suspensi biakan bakteri Streptococcus epidermis atau
1 ml suspensi jamur Candida albicans dan dimasukkan ke dalam Cawan Petri tersebut, lalu
ditambahkan 10 ml medium NA untuk Bakteri dan 10 ml medium PDA untuk Jamur. Pinset di
pijarkan diatas nyala api, lalu diambil 4 buah paper disk. Paper disk I, dicelupkan pada Wipol
setelah itu dimasukkan kedalam 1 bagian Cawan Petri. Paper disk II, dicelupkan pada Listerine
setelah itu dimasukkan ke dalam bagian yang lain dari Cawan Petri. Paper disk III, dicelupkan
pada Antis setelah itu dimasukkan ke dalam bagian yang lain dari Cawan petri. Pada paper disk IV,
dicelupkan pada Porstek setelah itu dimasukkan ke dalam bagian yang lain lagi dari Cawan petri.
Kemudian di inkubasi. Untuk Candida albicans diinkubasi pada suhu 25 oC selama 3 x 24 jam
dan untuk Salmonella thyposa dan Streptococcus epidermis diinkubasi pada suhu 37 oC selama 1 x
24 jam.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

II.1. Tabel Pengamatan

A. Pengaruh pH

Mikro

pH
5

Kontrol

+++

++

++

+++

++

+++

+++

+++

+++

Organisme
Streptococcu
s epidermis
Salmonella
thyposa
Candida
albicans

B. Pengaruh Suhu

Suhu (oC)

Mikro
5

25

37

50

Kontrol

++

+++

+++

++

+++

+++

++

++

Organisme
Streptococcus
epidermis
Salmonella
thyposa
Candida
albicans

C. Pengaruh Cahaya
Pengaruh Cahaya
Cahaya 15

Bungkus Dan

Dan dibungkus

beri Cahaya

++

+++

++

+++

+++

+++

+++

Mikro
Tanpa Cahaya
Organisme
Streptococcus
epidermis
Salmonella
thyposa
Candida
albicans

D. Pengaruh Bahan Kimia


Mikro

Pengaruh Bahan Kimia


Wipol

Porstek

Antis

Listerine

20.33

26.33

11.67

9.67

9.33

35

14.67

11.33

29.33

12.33

Organisme
Streptococcu
s epidermis
Salmonella
thyposa
Candida
albicans

Keterangan :
-

: Jernih

++

: Keruh

: Agak Keruh

+++

: Sangat Keruh

BAB V
PEMBAHASAN

Pertumbuhan ialah pertambahan teratur semua komponen sel suatu mahluk hidup
(organisme). Dalam pertumbuhan tersebut diperlukan adanya sintesa bermacam-macam komponen
sel antara lain; inti sel, mitokondria, kloroplas, dinding sel, membran sitoplasma dan bahan-bahan
sitoplasma lainnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme yaitu :

1.

Suhu
Pada suhu yang terlalu rendah (suhu minimum) dan terlalu tinggi (suhu maksimum)
pertumbuhan mikroorganisme akan terhambat bahkan mati, oleh sebab itu ada suhu yang optimal
bagi mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang biak. Atas dasar suhu pertumbuhannya,
mikroba dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu psikofil, mesofil dan termofil. Mikroba
psikofil / kriofil dapat tumbuh pada suhu antara 0o C sampai 30o C, dengan suhu optimum 15o C.
Kebanyakan tumbuh di tempat dingin, baik di daratan maupun lautan. Jasad mesofil mempunyai
suhu optimum antara 25o C sampai 37o C dengan suhu minimum 15o C dan suhu maksimum antara

45o C sampai 55o C. Jasad ini banyak hidup dalam saluran pencernaan, tanah, dan perairan.
Mikroorganisme termofil adalah golongan jasad dengan suhu pertumbuhan antara 40 o C sampai
75o C dengan suhu optimum 55o C sampai 60o C. Pada jasad termofil dikenal pula stenotermofil
(termofil obligat), yaitu mikroba yang dapat tumbuh baik pada suhu 60 o C dan tidak dapat tumbih
pada suhu 30o C dan euritermofil (termofil fakultatif) yaitu yang mampu tumbuh di bawah 30oC.
Pada pengaruh suhu, biakan Salmonella thyposa, Streptococcus epidermis dan Candida
albicans masing-masing dipipet 1 ml lalu dimasukkan dalam 4 buah tabung reaksi yang berbeda,
Kemudian ditambahkan medium. Medium NB untuk Salmonella thyposa dan Streptococcus
epidermis sedangkan medium PDB untuk Candida albicans dimana pada tabung I pada suhu 5C,
tabung II pada suhu 25C, tabung III pada suhu 37C, pada tabung tabung IV pada suhu 50C.
Suhu 5C di simpan pada lemari es, tabung II pada suhu 25C disimpan pada incubator suhu
kamar, tabung III pada suhu 37C di simpan pada incubator aerob, dan pada tabung tabung IV
pada suhu 50C disimpan pada oven.
Setiap bakteri memiliki suhu optimum, pada suhu optimum ini pertumbuhan bakteri
berlangsung dengan cepat. Berdasarkan hasil pengamatan, maka dapat diketahui bahwa bakteri
Salmonella thyposa dan Streptococcus epidermis mempunyai suhu yang baik untuk tumbuh yaitu
37 C. Ini berarti bahwa bakteri ini bersifat mesofil. Namun berdasarkan literature, bakteri ini
adalah golongan bakteri thermofil. Hal ini mungkin disebabkan karena pada saat pengerjaan, suhu
ruang yang digunakan mungkin diatas dari 37C.

Sedangkan untuk Candida albicans, suhu optimumnya yaitu 25 oC namun pada hasil
percobaan, Candida albicans tumbuh baik pada suhu 37 oC. Hal ini mungkin disebabkan oleh
karena terjadi kontaminasi dengan mikroba lainnya.
2.

pH
Pada pH yang terlalu asam ataupun basa, dapat menyebabkan pertumbuhan pada
mikroorganisme akan terhambat bahkan mati. Berdasarkan pH yang ada, jasad dikenal dengan
asidofil, neurofil, dan alkalifil. Asidofil adalah mikroba yang dapat tumbuh pada pH antara 2.0-5.0.
Mikroba neurofil adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kisaran pH 5.5-8.0 sementara alkalifil
adalah dapat tumbuh pada kisaran pH 8.4-9.5. Bakteri memerlukan pH 6.5-7.5; khamir 4.0-4.5;
sedang jamur mempunyai kisaran pH yang luas.
Pada pengaruh pH, biakan Salmonella thyposa, Streptococcus epidermis dan Candida
albicans masing-masing dipipet 1ml lalu dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah berisi
medium NB untuk Salmonella thyposa, Streptococcus epidermis dan medium PDB untuk Candida
albicans, dimana pada tabung I pada pH 5 ( dengan penambahan Asam Tartrat ), pada tabung II
pada pH 7(netral), pada tabung III pada pH 9 ( dengan penambahan NaOH). Setelah itu di inkubasi
selama 1 x 24 jam pada suhu 37 oC untuk Salmonella thyposa, Streptococcus epidermis dan 3 x 24
jam pada suhu kamar untuk Candida albicans. Setelah itu dilakukan pengamatan pada daya ambat
dari sampel tersebut.

Pada hasil percobaan, Streptococcus epidermidis dan Salmonella thyposa tumbuh baik pada
pH 7. hal ini sesuai dengan literature, bahwa bakteri Salmonella thyposa dan Streptococcus
epidermidis tumbuh baik pada pH netral. Untuk Candida albicans, berdasarkan hasil percobaan,

tumbuh baik pada semua suasana sedangkan pada literature, Candida albicans mempunyai pH
optimum 4.0 4.5 (pH asam) hal ini mungkin disebabkan oleh karena adanya asam tartrat yang
ditambahkan ke dalam medium pada saat pengaturan pH medium atau terjadi kontaminasi dengan
mikroba lain.

3.

Zat kimia
Zat kimia yang mengandung logam berat biasanya mempunyai daya hambat yang lebih baik
terhadap pertumbuhan mikroorganime. Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au dan Pb pada
kadar yang sangat rendah dapat bersifat toksik. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut
daya oligodinamik

Pada pengaruh zat kimia, biakan Salmonella thyposa, Streptococcus epidermis dan
Candida albicans masing-masing dipipet 1ml lalu dimasukkan ke dalam cawan petri setelah itu
dimasukkan medium NA untuk Salmonella thyposa dan Streptococcus epidermis serta medium
PDA untuk Candida albicans. dalam cawan petri ini akan dimasukkan 4 paper disk yang telah
dicelupkan pada zat kimia. Paper disk I dicelupkan dalam Wipol, II dicelupkan dalam Listerine, III
dicelupkan dalam Porstek, IV dicelupan dalam Antis. Setelah itu di inkubasi selama 1 x 24 jam
pada suhu 37 oC untuk Salmonella thyposa, Streptococcus epidermis dan 3 x 24 jam pada suhu
kamar untuk Candida albicans. Setelah itu dilakukan pengamatan pada daya ambat dari sampel
tersebut.
Wipol dan Porstek bersifat sebagai desifektansia yaitu zat-zat yang digunakan untuk
mendesinfeksi bermacam-macam permukaan dengan zat kimiawi, yaitu dengan mematikan atau
menghentikan pertumbuhan hama patogen yang terdapat padanya. Antis dan Listerine merupakan
antiseptika (Yun : sepsis = busuk) yaitu istilah yang diberikan kepada desinfektansia yang terutama
digunakan pada jaringan hidup. Zat-zat ini khususnya digunakan dalam dermatologi untuk infeksi
kulit dan selaput lendir (mulut, tenggorok dan sebagainya).
Mekanisme kerja desinfektansia dan antiseptika berdasarkan proses-prosesnya adalah:

Denaturasi protein mikroorganisme, yakni perubahan strukturnya sehingga sifat-sifat khasnya


hilang.

Pengendapan protein dalam protoplasma (Zat-zat halogen, fenol, alkohol dan garam logam).

Oksidasi protein (oksidansia)

Mengganggu sistem dan proses enzim (za-zat halogen, alkohol dan garam-garam logam)

Modifikasi dinding sel dan / atau membrane sitoplasma (desinfektansia dengan aktivitas
permukaan).

4.

Cahaya
Pada daerah atau tempat yang kurang mendapat cahaya (sinar matahari), biasanya
pertumbuhan mikroorganismenya lebih baik dibandingkan dengan daerah yang terkena sinar
matahari langsung. Hal ini terjadi karena banyak mikroorganisme yang tidak tahan dengan cahaya
walaupun ada juga mikroorganisme yang tahan.
Pada pengaruh cahaya, biakan Salmonella thyposa, Streptococcus epidermis dan Candida
albicans masing-masing dipipet 1ml lalu dimasukkan ke dalam cawan petri dan ditambahkan 9 ml
medium dan dibiarkan hingga memadat. Medium NA untuk Salmonella thyposa, Streptococcus
epidermis dan medium PDA untuk Candida albicans Kemudian diberi perlakuan, pada cawan
petri I dipaparkan dibawah sinar matahari selama 15 menit kemudian dibungkus dengan kertas
karbon, cawan II dibungkus dengan kertas karbon kemudian dipaparkan dibawah matahari selama
15 menit, cawan III langsung dibungkus kertas karbon tanpa dipaparkan dengan sinar matahari
langsung. Setelah itu di inkubasi selama 1 x 24 jam pada suhu 37 oC untuk Salmonella thyposa,
Streptococcus epidermis dan 3 x 24 jam pada suhu kamar untuk Candida albicans. Setelah itu
dilakukan pengamatan pada daya ambat dari sampel tersebut.
Umumnya cahaya mempunyai daya merusak kepada sel-sel mikroba yang tidak
mempunyai pigmen fotositesis.
Berdasarkan hasil percobaan, semua media pertumbuhan yang dipisahkan berdasarkan
pengaruh cahaya mengalami pertumbuhan. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa Mikroba
(Salmonella thyposa, Streptococcus epidermidis dan Candida albicans) tumbuh baik pada
perlakuan ke II yaitu dipaparkan di bawah cahaya selama 15 menit agar mikroba melakukan proses
metabolisme kemudian dimungkus dengan kertas karbon agar hasil metabolisme tidak keluar dari

cawan petri. Hal ini mungkin disebabkan oleh pencahayaan di dalam ruangan yang cukup baik
sehingga sebelum cawan petri dibungkus dengan kertas karbon, mikroba telah melakukan proses
metabolisme dengan cahaya yang ada.
Digunakan kertas karbon karena tidak dapat menyerap sinar matahari sehingga mikroba
dalam cawan petri dapat terlindungi dari sinar matahari langsung dan menjaga agar hasil
metabolisme tidak keluar dari dalam cawan petri..
BAB VI
PENUTUP

VI.I. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan yaitu :
v Untuk Salmonella thyposa
1. Suhu optimum bakteri Salmonella thyposa yaitu 37C dan 50 oC sehingga termasuk bakteri
mesofil
2.
3.

pH optimum pertumbuhan bakteri Salmonella thyposa adalah pH 7 dan termasuk bakteri Neurofil
Zat kimia dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thyposa dimana Prostex
memberikan efek penghambatan yang paling kuat.

4.

Cahaya dapat mempengaruhi pertumbuhan Salmonella thyposa dimana pertumbuhan optimum


terdapat pada perlakuan dipaparkan di bawah cahaya selama 15 menit kemudian dibungkus dengan
kertas karbon.

Untuk Streptococcus epidermis

1.

Suhu optimum bakteri Streptococcus epidermis yaitu 37C dan 50 oC sehingga termasuk bakteri
mesofil

2.

pH optimum pertumbuhan bakteri Streptococcus epidermis adalah pH 7 dan termasuk bakteri


Neurofil

3.

Zat kimia dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus epidermis dimana Prostex
memberikan efek penghambatan yang paling kuat.

4.

Cahaya dapat mempengaruhi pertumbuhan Streptococcus epidermis dimana pertumbuhan


optimum terdapat pada perlakuan dibungkus dengan kertas karbon kemudian dipaparkan di bawah
cahaya selama 15 menit.

v Untuk Candida albicans


1.

Suhu optimum Jamur Candida albicans yaitu 37C sehingga termasuk bakteri mesofil

2.

pH optimum pertumbuhan Jamur Candida albicans adalah pH 5, 7, 9 sehingga dapat dikatakan


Jamur Candida albicans dapat hidup pada semua kondisi (baik asam maupun basa)

3.

Zat kimia dapat menghambat pertumbuhan Jamur Candida albicans dimana Prostex memberikan
efek penghambatan yang paling kuat.

4.

Cahaya tidak mempengaruhi pertumbuhan Jamur Candida albicans sehingga pertumbuhan Jamur
Candida albicans dapat dilangsungkan pada ketiga perlakuan tersebut.

VI.2. Saran

Dalam Praktikum, diharapkan para Asisten harus lebih memperhatikan praktikan agar
praktikan dapat bekerja dengan lebih hati-hati segingga tidak terjadi gangguan pada kesehatan
praktikan dan asisten akibat mikroba berbahaya yang dipakai.

DAFTAR FUSTAKA

1.

Tim Dosen, (2003),

Buku Pegangan Mikrobiologi Farmasi, Laboratorium Mikrobiologi

Farmasi UNHAS, Makassar.


2.

Dwijoseputro, (1994), Dasar-dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta

3.

Brooks, Geo F, dkk . 2005 . Mikrobiologi Kedokteran . Salemba Medika, Jakarta.

4.

Tim Dosen, (2003), Penuntun Praktikum Instrumentasi mikrobiologi Farmasi Dasar.


Laboratorium Mikrobiologi, UNHAS, Makassar.

5.

MS., Djide, M.Natsir Drs, ; Msi. Sartini, Dra, 2006, Mikrobiologi Farmasi Dasar, Universitas
Hasanuddin, Makassar.

6.

Pekzar M, Z, (1986), Dasar-dasar Mikrobiologi. UI, Jakarta.

7.

Dirjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta

I.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang mencukupi serta
kondisi lingkungan yang mendukung demi proses pertumbuhan tersebut, termasuk juga bakteri.
Pertumbuhan bakteri pada umumnya akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengaruh faktor ini
akan memberikan gambaran yang memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang berbeda dan pada
akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya. Faktor temperatur
merupakan faktor lingkungan terpenting yang mempengaruhi peertumbuhan dan kehidupan
mikroba karena enzim yang menjalankan metabolisme sangat peka terhadap temperatur.
Berdasarkan temperatur minimum, optimum dan maksimum yang dimiliki mikrobia digolongkan
ke dalam tiga kelompok yaitu mikrobia psikrofil, mikrobia mesofil, dan mikrobia termofil
(Suharni, 2009)
Bakteri termasuk jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan
hidup. Bakteri merupakan mikroba yang mengalami pertumbuhan yang cepat ditandai dengan
pertumbuhan dengan membentuk semacam koloni. Waktu generasi pada setiap bakteri tidak sama,
ada yang hanya memerlukan 20 menit bahkan ada yang memerlukan sampai berjam-jam atau
berhari-hari
Dari sudut yang berbeda Mikroorganisme banyak yang bermanfaat dan banyak pula yang
merusak dan membahayakan manusia, termasuk dalam dunia pertanian. Hal ini tampak pada
kemampuannya

untuk

membantu

tumbuhan,

menginfeksi

tumbuhan

sampai

dengan

mikroorganisme penghasil racun. Oleh karena itu, perlu adanya prosedur untuk mengendalikannya
agar yang bermanfaat dapat lebih menguntungkan dan yang merusak tidak merugikan manusia.
Salah satu upaya untuk mencegah pertumbuhan bakteri khususnya pada bahan pangan
adalah dengan metode pemanasan, Pemanasan yang digunakan untuk membunuh spora pada
bakteri , namun tergantung juga pada bakteri dan ketahanan nya pada temperature yang berbeda beda. Untuk itu praktikum pengaruh pemanasan terhadap mikroba ini perlu dilakukan.

Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemanasan (suhu tinggi) terhadap
kematian mikroba.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Mikroba (Bakteri)
Mikroba adalah organisme berukuran mikroskopis yang antara lain terdiri dari bakteri,
fungi dan virus. Bakteri berkembang biak secara aseksual yaitu dengan pembelahan diri menjadi
dua (binary fission) dan secara konyugasi. Sel-sel akan memanjang dan apabila sudah mencapai
dua kali ukuran normal akan membelah di bagian tengah menjadi dua sel yang selanjutnya akan
mengalami pembelahan. Seksual yaitu pertukaran materi genetik dengan bakteri lainnya.
Pertukaran materi genetik disebut rekomendasi genetik atau rekomendasi DNA. Rekombinasi
genetik menghasilkan dua sel bakteri yang masing-masing memiliki kombinasi materi genetik dari
dua sel induk. Rekombinasi dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : Transformasi, Transduksi dan
Konyugasi

Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik bahkan satu gen saja dari satu sel
bakteri ke sel bakteri yang lainnya Streptococcus pneumonia; Neiseeria gonorrhoeae; Bacillus dan
Rhizobium.

Transduksi adalah pemindahan sedikit materi genetik satu sel bakteri ke bakteri lainnya dengan
perantara organisme lainnya yaitu bacteriophage.

Konyugasi : terjadi penggabungan gen antara dua sel. Sel bakteri mempunyai plasmid yang
membawa gen disebut faktor sek, memberikan gen tersebut kepada sel yang tidak mempunyai
faktor sek. Faktor sek tersebut diberikan melalui jembatan sitoplasma yang terbentuk diantara dua
sel. Jembatan sitoplasma yang menghubungkan dua sel itu disebut pili sek. Jenis kelamin bakteri
tidak dapat ditentukan, hanya saja bakteri yang memberikan DNA disebut jantan dan sebaliknya
bakteri penerima DNA disebut betina.
Pertumbuhan mikroba
Pertumbuhan mikroba umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor
lingkungan, perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan
fisiologi. Hal ini dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk
kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan optimumnya.
Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan respon
yang berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba.

Pertumbuhan didefiniskkan sebagai penambahan jumlah sel atau biomassa yang berurutan
dan teratur seiring dengan waktu. Pertumbuhan meliputi jumlah sel, berat kering, kandungan
protein, kandungan asam nukleat, dan sebagainya. Nutrisi yang tersedia untuk kultivasi mikroba
harus di dukung oleh kondisi fisik yang menghasilkan pertumbuhan optimum. Proses pertumbuhan
bergantung pada reaksi kimiawi dan karena laju reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh suhu, maka pola
pertumbuhan bakteri tentunya juga dipengaruhi oleh suhu. Selain itu suhu juga mempengaruhi laju
pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme (Pelczar & Chan, 1986).
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme meliputi suplai
zat gizi, waktu, suhu, air, pH dan tersedianya oksigen (Buckle, 1985). Kemampuan
mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan suatu hal yang penting untuk diketahui.
Pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba sangat penting di
dalam mengendalikan mikroba.
Berikut ini faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba yaitu
diantaranya :
1.

Air
Semua organisme membutuhkan air untuk kehidupannya. Air berperan dalam reaksi
metabolik dalam sel dan merupakan alat pengangkut zat gizi ke dalam sel atau hasil metabolit ke
luar sel. Semua kegiatan ini membutuhkan air dalam bentuk cair dan apabila air tersebut
mengalami kristalisasi dan membentuk es atau terikat secara kimiawi dalam larutan gula atau
garam, maka air tersebut tidak dapat digunakan oleh mikroorganisme. Pengaruh air terhadap
pertumbuhan mikroorganisme dinyatakan sebagai aktivitas air (Aw), yaitu jumlah air bebas yang
tersedia dan dapat digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan makanan. Jenis
mikroorganisme yang berbeda membutuhkan jumlah air yang berbeda untuk pertumbuhannya.
Kebanyakan bakteri dapat hidup pada Aw >0.90, sedangkan kebanyakan kapang dan
khamir berturut-turut dapat hidup pada Aw >0.70 dan Aw >0.80. Pada Aw yang rendah,
mikroorganisme akan mati karena sel-sel di mikroorganisme akan berdifusi ke luar sebagai akibat
terjadinya proses kesetimbangan osmotik. Dengan kata lain, selama konsentrasi solut di luar sel
lebih besar dibanding di dalam sel, maka migrasi air akan terjadi untuk menyeimbangkan
konsentrasi. Migrasi air dari dalam sel menyebabkan sel mati disebabkan oleh dehidrasi.

2.

Suplai Nutrisi

Mikroba sama dengan makhluk hidup lainnya, memerlukan suplai nutrisi sebagai sumber
energi dan pertumbuhan selnya. Unsur-unsur dasar tersebut adalah : karbon, nitrogen, hidrogen,
oksigen, sulfur, fosfor, zat besi dan sejumlah kecil logam lainnya. Ketiadaan atau kekurangan
sumber-sumber nutrisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba hingga pada akhirnya dapat
menyebabkan kematian. Kondisi tidak bersih dan higinis pada lingkungan adalah kondisi yang
menyediakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan mikroba sehingga mikroba dapat tumbuh
berkembang di lingkungan seperti ini. Oleh karena itu, prinsip daripada menciptakan lingkungan
bersih dan higinis adalah untuk mengeliminir dan meminimalisir sumber nutrisi bagi mikroba agar
pertumbuhannya terkendali.
3.

Suhu / Temperatur
Suhu merupakan salah satu faktor penting di dalam mempengaruhi dan pertumbuhan
mikroorganisme. Berdasarkan hal di atas, maka suhu yang berkaitan dengan pertumbuhan
mikroorganisme digolongkan menjadi tiga, yaitu : a. Suhu minimum yaitu suhu yang apabila
berada di bawahnya maka pertumbuhan terhenti. b. Suhu optimum yaitu suhu dimana
pertumbuhan berlangsung paling cepat dan optimum. (Disebut juga suhu inkubasi). c. Suhu
maksimum yaitu suhu yang apabila berada di atasnya maka pertumbuhan tidak terjadi.
Sehubungan dengan penggolongan suhu di atas, maka mikroba digolongkan menjadi :
Tabel 1 : Penggolongan bakteri menurut suhu
Kelompok
Psikrofil

Suhu
Minimum
- 15o C.

Suhu
Optimum
10o C.

Suhu
Maksimum
20o C.

Psikrotrof

- 1o C.

25o C.

35o C.

Mesofil

5 10o C.

30 37o C.

40o C.

Thermofil

40o C.

45 55o C.

60 80o C.

Thermotrof

15o C.

42 46o C.

50o C.

Berdasarkan ketahanan panas mikroba dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu : a. Peka
terhadap panas, apabila semua sel rusak apabila dipanaskan pada suhu 60oC selama 10-20 menit.
b. Tahan terhadap panas, apabila dibutuhkan suhu 100oC selama 10 menit untuk mematikan sel. c.
Thermodurik, dimana dibutuhkan suhu lebih dari 60oC selama 10-20 menit tapi kurang dari 100oC
selama 10 menit untuk mematikan sel.

Psikrofil adalah kelompok mikroba yang dapat tumbuh pada suhu 0-30 o C dengan suhu
optimum sekitar 15oC. Mesofil adalah kelompok mikroba pada umumnya, mempunyai suhu
minimum 15oC suhu optimum 25-37oC dan suhu maksimum 45-55oC. Mikroba yang tahan hidup
pada suhu tinggi dikelompokkan dalam mikroba termofil. Mikroba ini mempunyai membran sel
yang mengandung lipida jenuh, sehingga titik didihnya tinggi. Selain itu dapat memproduksi
protein termasuk enzim yang tidak terdenaturasi pada suhu tinggi. Di dalam DNA-nya
mengandung guanin dan sitosin dalam jumlah yang relatif besar, sehingga molekul DNA tetap
stabil pada suhu tinggi. Kelompok ini mempunyai suhu minimum 40 o C, optimum pada suhu 5560o C dan suhu maksimum untuk pertumbuhannya 75oC. Untuk mikroba yang tidak tumbuh
dibawah suhu 30oC dan mempunyai suhu pertumbuhan optimum pada 60 oC, dikelompokkan ke
dalam mikroba termofil obligat. Untuk mikroba termofil yang dapat tumbuh dibawah suhu 30 oC,
dimasukkan kelompok mikroba termofil fakultatif. Bakteri yang hidup di dalam tanah dan air,
umumnya bersifat mesofil, tetapi ada juga yang dapat hidup diatas 50 oC (termotoleran). Contoh
bakteri termotoleran adalah Methylococcus capsulatus. Contoh bakteri termofil adalah Bacillus,
Clostridium, Sulfolobus, dan bakteri pereduksi sulfat/sulfur. Bakteri yang hidup di laut (fototrof)
dan bakteri besi (Gallionella) termasuk bakteri psikrofil.
4.

Kelembaban Air
Kelembaban sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat
mengambil makanan dari luar dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada
media yang basah dan udara yang lembab. Dan tidak dapat tumbuh pada media yang kering.
Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi
dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85%, sedang untuk jamur dan aktinomiset
diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80%. Kadar air bebas didalam larutan merupakan
nilai perbandingan antar tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1 / 100 dari
kelembaban relatif. Nilai kadar air bebas didalam larutan untuk bakteri pada umumnya terletak
diantara 0,90 sampai 0,999 sedang untuk bakteri halofilik mendekati 0,75.
Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama
seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, kamidiospora dan kista. Seperti halnya dalam
pembekuaan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti.
Pengeringan secara perlahan menyebabkan kerusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan
pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut.

5. Keasaman atau Kebasaan (pH)


Setiap organisme memiliki kisaran pH masing-masing dan memiliki pH optimum yang
berbeda-beda. Faktor kimia yaitu pH, setiap jenis bakteri mempunyai pH lingkungan yang optimal
(Neutrofil 6.0-8.0), minimal (Asidofil 2.0-5.0), dan maksimal (Alkalofil, 8.4-9.5) dalam kegiatan
fisiologisnya. Kegiatan fisiologis bakteri berguna dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan
melakukan proses biokimia yang berkelanjutan. Dimana proses ini dikatalisi oleh enzim-enzim.
Kemudian adanya zat kimia, dapat berupa desinfektan dan antiseptik, seperti garam-garam logam,
fenol, formaldehid, alkohol, yodium, zat-zat warna, detergen/sabun, dan antibiotik.
6. Ketersediaan Oksigen
Mikroorganisme memiliki karakteristik sendiri-sendiri di dalam kebutuhannya akan
oksigen. Mikroorganisme dalam hal ini digolongkan menjadi :
a.

Aerobik : hanya dapat tumbuh apabila ada oksigen bebas.

b.

Anaerob : hanya dapat tumbuh apabila tidak ada oksigen bebas.

c.

Anaerob fakultatif : dapat tumbuh baik dengan atau tanpa oksigen bebas.

d.

Mikroaerofilik : dapat tumbuh apabila ada oksigen dalam jumlah kecil.

7. Tekanan osmosis
Suatu tekanan osmose akan sangat mempengaruhi bakteri jika tekanan osmose lingkungan
lebih besar (hipertonis) sel akan mengalami plasmolisis. Sebaliknya tekanan osmose lingkungan
yang hipotonis akan menyebabkan sel membengkak dan juga dapat mengakibatkan rusaknya sel.
Olah karena itu dalam mempertahankan hidupnya, sel bakteri harus berada pada tingkat tekanan
osmose yang sesuai, walaupun sel bakteri memiliki daya adaptasi, perbedaan tekanan osmose
dengan lingkugannya tidak boleh terlalu besar.
8.

Faktor kimia
Mengubah permeabilitas membran sitoplasma sehingga lalu lintas zat-zat yang keluar

masuk sel mikroorganisme menjadi kacau. Oksidasi, beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi
unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur terganggu. Misal, mengoksidasi suatu enzim. Terjadinya
ikatan kimia, ion-ion logam tertentu dapat megikatkan diri pada beberapa enzim. Sehigga fungsi
enzim terganngu. Memblokir beberapa reaksi kimia,misal preparat zulfat memblokir sintesa folic
acid di dalam sel mikroorganisme. Hidrolisa, asam atau basa kuat dapat menghidrolisakan struktur
sel hingga hancur. Mengubah sifat koloidal protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati.
Faktor zat kimia yang mempengaruhi pertumbuhan:

v Logam-logam berat
v Klor dan senyawa klor
v Fenol dan senyawa-senyawa sejenis
v Zulfonomida
v Alkohol
v Detergen
v Aldehit
v Zat pewarna
v Yodium
v Peroksida
9. Pengaruh mikroorganisme di sekitarnya
Kehidupan organisme di alam tidak dapat dipisahkan dari adanya organisme lain. Seperti
halnya manusia tidak dapat hidup bila tidak ada tumbuhan atau hewan. Organisme-organisme di
alam ini berada dalam suatu keseimbangan yang disebut keseimbangan biologis. Kehidupan
bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan tetapi juga mempengaruhi
keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH dari medium tempat ia hidup, perubahan ini
disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi atas faktor-faktor
biotik dan faktor-faktor abiotik. Di mana, faktor-faktor biotik terdiri atas makhluk-makhluk hidup,
yaitu mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme, dapat dalam
bentuk simbiose, sinergisme, antibiose dan sintropisme. Sedangkan faktor-faktor abiotik terdiri
atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban, sinar gelombang
dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya senyawa toksik atau senyawa kimia lainnya
(Hadioetomo, 1993).
Eschericia coli
Bakteri ini bisa menggandakan tubuhnya atau yang disebut pula dengan generasi dalam
waktu 15 hingga 20 menit saja. dalam waktu tersebut bakteri ini mampu menggandakan tubuhnya
menjadi dua kali lipat. Dalam bagan geometrik eksponensiall, tercatat dalam waktu 10 jam saja
satu sel bakteri ini bisa menggandakan tubuhnya dan berkembang menjadi lebih dari 1 triliun sel.
Escherichia coli dapat tumbuh di medium nutrien sederhana, dan dapat memfermentasikan laktosa
dengan menghasilkan asam dan gas (Pelczar dan Chan, 2005:169).

Kecepatan berkembangbiak bakteri ini adalah pada interval 20 menit jika faktor media,
derajat keasaman dan suhu tetap sesuai. Selain tersebar di banyak tempat dan kondisi, bakteri ini
tahan terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun. Suhu yang baik untuk pertumbuhan
bakteri ini adalah antara 80C-460C, tetapi suhu optimumnya adalah 370C. Oleh karena itu, bakteri
tersebut dapat hidup pada tubuh manusia dan vertebrata lainnya (Dwidjoseputro, 1978:82).
Bacillus cereus
Bacillus cereus merupakan Bacteri endemik (Dalam epidemiologi , suatu infeksi dikatakan
endemik dalam populasi ketika infeksi dipertahankan dalam populasi tanpa input dari luar) ,
bakteri terestial, Gram-positif , berbentuk batang , beta hemolitik bakteri, bersifat aerobik, dan
mampu membentuk spora yang dapat ditemukan di tanah, pada sayuran maupun produk pangan
(Tay, et al., 1982). Bacillus sp termasuk kedalam family Bacillaceae. Spora dari jenis bakteri ini
tahan terhadap panas dan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan dan mampu membentuk
kecambah dalam larutan yang mengandung NaOH dan HCL (Vecci dan Drago, 2006).
Bakteri Bacillus cereus memiliki nilai waktu generasi dan konstanta laju pertumbuhan sebesar 18
menit dan 2,27 jam (Dwipayana dan Ariesyady, 2009)
Apabila Memasak di suhu kurang dari atau sama dengan 100 C (212 F)memungkinkan
beberapa B. spora cereus untuk bertahan hidup. Masalah ini diperparah ketika makanan itu tidak
benar didinginkan , yang memungkinkan endospores untuk berkecambah. makanan dimasak tidak
dimaksudkan untuk dipakai sendiri atau pendinginan yang cepat dan pendinginan harus disimpan
pada suhu di atas60 C (140 F). Perkecambahan dan pertumbuhan umumnya terjadi antara 1050 C (50-122 F).
III.
Bahan
Biakkan Eschericia coli dan Bacillus cereus
Medium NA
Akuades
NaCl 0,85%
Alat
Tabung Reaksi
Penangas Air

METODE

Petridish
Pipet steril

Prosedur kerja
IV.
A.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Mikrob
a

Waktu
Pemanasa
n

E.coli

0 menit
10 menit
20 menit

B.cereu
s

30 menit
0 menit
10 menit
20 menit
30 menit

Jumlah Mikroba
Suhu 50C
Suhu 70C
24 Jam
48 Jam
24 Jam
48 Jam
10 10 10 10 10 10 10 10

25
2
188
10
25
2
188
10
17
0
21
0
286 137 672 340
65
8
94
23 1092 820 134 120
8
8
184
3
204
7
188 335 168 286
672 544 748 580 672 544 748 580
62
1
72
3
1692 151 186 184
4
0
8
357
41
391
51
392 252 472 364
710 178 178 183 1036 267 967 270
0
0

Gambar 1. Grafik pemanasan E.coli yang diinkubasi selama 24 jam

Gambar 2. Grafik pemanasan E.coli yang diinkubasi selama 48 jam


Gambar 3. Grafik pemanasan B.cereus yang diinkubasi selama 24 jam

Gambar 4. Grafik pemanasan B.cereus yang diinkubasi selama 48 jam


B.

Pembahasan
Pada praktikum ini, digunakan 16 tabung reaksi yang diisi dengan bakteri E.coli dan
B.cereus. Masing-masing tabung mendapat perlakuan yang berbeda. 4 tabung yang berisi E.coli
dipanaskan pada suhu 50oC dengan lama pemanasan 0, 10, 20, dan 30 menit. 4 tabung yang juga

berisi E.coli dipanaskan pada suhu 70oC dengan lama pemanasan 0, 10, 20, dan 30 menit.
Sedangkan 4 tabung yang berisi B.cereus dipanaskan pada suhu 50oC dengan lama pemanasan 0,
10, 20, dan 30 menit. Dan 4 tabung yang juga berisi B.cereus dipanaskan pada suhu 70oC dengan
lama pemanasan 0, 10, 20, dan 30 menit.
Pada umumnya semakin tinggi suhu pertumbuhan bakteri, resistensi terhadap pemanasan
semakin tinggi. Dari hasil pengamatan di waktu 24 jam inkubasi, diperoleh data bahwa untuk
E.coli pada pemanasan suhu 50oC mengalami kenaikan jumlahnya saat dipanaskan waktu 0, 20 dan
30 menit di pengenceran 10-4 yaitu 25, 65, 184 cfu/g dan sempat turun dari 25 cfu/g ke 17 cfu/g
saat dipanaskan 10 menit. Untuk pengenceran 10-5 pertumbuhan mikroba tidak tetap, pemanasan 010 menit menurunkan jumlah mikroba dari 2 ke 0 cfu/g. dari pemanasan 10-20 menit teradi
peningkatan tumbuh dari 0 ke 8 cfu/g. dan kemudian di pemanasan 30 menit turun lagi menjadi 3
cfu/g. Untuk E. coli dengan suhu pemanasan 70oC di waktu pemanasan 0, 10, 20 menit baik
dengan pegenceran 10-4 dan 10-5 terjadi keseragaman peningkatan pertumbuhan yaitu berturut turut
25, 286, 1092 cfu/g , dan 2, 137, 820 cfu/g, sedangkan di pemanasan 30 menit sama sama terjadi
penurunan di pengenceran 10-4 adalah 188 cfu/g, dan di pengenceran 10-5 adalah 335 cfu/g. Hal ini
mungkin terjadi dikarenakan saat memasukkan koloni mikroba ke cawan petri terjadi kontaminasi
dari luar, sehingga mikroba yang seharusnya semakin lama waktu pemanasannya semakin sedikit,
justru terjadi ketidakstabilan pertumbuhan, sehingga ada yang menurun dan ada juga yang
meningkat seiring lama waktu pemanasan.
Untuk inkubasi 24 jam terhadap bakteri B. cereus di suhu pemanasan 50o C untuk
pengenceran 10-4 dan 10-5 di waktu 0 sampai 10 menit terjadi penurunan jumlah koloni yakni dari
672 ke 62 cfu/g, dan dari 544 ke 1 cfu/g. Sedangkan di pemanasan 20 sampai 30 menit teradi
kenaikan pertumbuhan dari 357 ke 710 cfu/g, dan dari 41 ke 178 cfu/g. Untuk yang pemanasan di
suhu 70o C di pengenceran 10-4 dan 10-5 dengan waktu 0 ke 10 justru mengalami peningkatan yaitu
dari 672 ke 1692 cfu/g dan dari 544 ke 1514 cfu/g, lalu di waktu 20 ke 30 menit untuk
pengenceran 10-4 mengalami kenaikan dari 392 ke 1036 cfu/g, sama halnya di pengnceran 10 -5
kenaikan pun terjadi namun tidak signifikan yaitu 252 ke 267 cfu/g.
Selanjutnya adalah pengamatan kami di hari kedua, dengan inkubasi selama 48 jam, untuk
E. coli di suhu 50o C untuk pengenceran 10-4 di waktu 0 menit terdapat 188 cfu/g, 20 menit
terdapat 21 cfu/g mikroba, 30 menit terdapat 94 cfu/g mikroba, dan 30 menit pemanasan terdapat
204 cfu/g mikroba. Sedangkan, di pengenceran 10-5 dari 0 ke 10 menit terjadi penurunan tumbuh

mikroba dari 10 ke 0 cfu/g, dan meningkat lagi di 20 menit sebanyak 23 cfu/g, lalu turun lagi di 30
menit yaitu 7 cfu/g. Di suhu 70 o C dengan pengenceran 10-4 dan 10-5 terjadi kenaikan pertumbuhan
mulai 0, 10 sampai 20 menit, yaitu 188 ke 672 ke 1348 cfu/g, lalu dari 10 ke 340 ke 1208 cfu/g.
namun di waktu pemanasan 30 menit sama sama terjadi penurunan tumbuh, untuk 10 -4 sebanyak
168 cfu/g, dan untuk 10-5 adalah 286 cfu/g.
Untuk bakteri B. cereus inkubasi 48 jam. Di suhu 50o C Saat pengenceran 10-4 di waktu 0
menit terdapat 748 cfu/g, 20 menit terdapat 72 cfu/g mikroba, 30 menit terdapat 391 cfu/g
mikroba, dan 30 menit pemanasan terdapat 1780 cfu/g mikroba. Sedangkan, di pengenceran 10-5
dari 0 ke 10 menit terjadi penurunan tumbuh mikroba dari 580 ke 3 cfu/g, dan meningkat lagi di 20
menit sebanyak 51 cfu/g, lalu turun lagi di 30 menit yaitu 183 cfu/g. Di suhu 70 o C dengan
pengenceran 10-4 dan 10-5 terjadi kenaikan pertumbuhan mulai 0 ke 20 menit, yaitu 748 ke 1860
cfu/g, lalu dari 580 ke 1848 cfu/g. namun di waktu pemanasan 20 menit sama sama terjadi
penurunan tumbuh, untuk 10-4 sebanyak 472 cfu/g, dan untuk 10-5 adalah 364 cfu/g. dan di suhu 30
menit terjadi kenaikan pertumbhan lagi. Untuk yang pengenceran 10-4 sebanyak 967 cfu/g,
sedangkan pengenceran 10-5 sebanyak 2700 cfu/g.
Berdasarkan gambar 1 dan gambar 2 kita bisa melihat dengan jelas bahwa E. coli tumbuh
meningkat, ini memang sesuai pada pustaka bahwa Escherichia coli dapat tumbuh di medium
nutrien sederhana, dan dapat memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas
(Pelczar dan Chan, 2005:169). Kecepatan berkembangbiak bakteri ini adalah pada interval 20
menit jika faktor media, derajat keasaman dan suhu tetap sesuai. Selain tersebar di banyak tempat
dan kondisi, bakteri ini tahan terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun.
Sedangkan di gambar 3 dan gambar 4 kita bisa melihat bahwa bakteri B. cereus tidak
stabil pertumbuhannya, B. cereus memiliki suhu optimum pertumbuhan berkisar antara 35 40 oC,
sumber lain juga mengatakan bacillus adalah bakteri termotoleran, sehingga ia dapat bertahan
hidup di suhu 50oC.
Untuk data dari praktikum ini adalah asli dari praktikan, grafik yang naik turun juga diduga
adalah terjadinya kontaminasi saat praktikan memasukkan stater bakteri dari pengenceran menuju
cawan petri.

V.
A.

PENUTUP

Kesimpulan
Dengan melihat hasil praktikum dan dari Gambar 1, gambar 2, gambar 3, dan gambar 4
dapat disimpulkan bahwa untuk E. coli semakin tinggi suhu pertumbuhan bakteri, maka resistensi
terhadap pemanasan semakin tinggi, karena E. coli tahan terhadap suhu ekstrim, sedangkan untuk
B. cereus tidak stabil pertumbuhannya, B. cereus memiliki suhu optimum pertumbuhan berkisar
antara 35 40o C, sumber lain juga mengatakan bacillus adalah bakteri termotoleran, sehingga ia
dapat bertahan hidup di suhu 50o C.

B.

Saran

1.

Seharusnya foto dikoordinir

2.

Alat yang sudah dipakai langsung dicuci sendiri sehingga tidak merepotkan orang yang ingin
menggunakan

3.

Saat pengamatan seharusnya dihitung secara teliti agar data yang didapatkan valid.

DAFTAR PUSTAKA.
Buckle, K. A, 1985, Ilmu Pangan, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Drago I, Mombelli B, De Vecchi E, Fassina MC, Tocalli L, Gismondo MR. 2002. In vitro
antimicrobial activity of propolis dry extract. J Chemotherapy.
Dwidjoseputro. 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Dwipayana dan Ariesyady, H.D. 2009. Identification of Bacterial Diversity in Waste Recycling Paint
Sludge by Conventional Microbiological Technique. Environmental Enggineering Study Program.
Bandung
Hadioetomo,
R.S.,
1993, Teknik
dan
Prosedur
Dasar
Laboratorium
Mikrobiologi, Gramedia, Jakarta
Pelczar, M. J. dan Chan, E. C. S., 2005, Dasar-dasar Mikrobiologi 1, Alih bahasa: Hadioetomo, R. S.,
Imas, T., Tjitrosomo, S.S. dan Angka, S. L., UI Press, Jakarta
Pelczar, M. J., Chan, E.C.S. 2007. Elements of Microbiology. Mc Graw Hill Book Company. New York.
Suharni, Theresia Tri dkk. 2008. Mikrobiologi Umum. Penerbit Universitas Atma Jaya.