Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I

HIDROGEN
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan
: Mempelajari cara pembuatan dan sifat hydrogen
Hari, tanggal
: Rabu, 17 Maret 2010
Tempat
: Laboratorium Kimia Dasar Lantai III, Fakultas MIPA,
Universitas Mataram

B. LANDASAN TEORI
Hidrogen berasal dari bahasa latin hydrogenium atau bahasa Yunani hydro yaitu air dan
genes yang berarti pembentukan. Hidrogen telah digunakan bertahun-tahun sebelum akhirnya
dinyatakan sebagai unsur yang unik oleh Cavedish pada tahun 1776. Hidrogen diperkirakan
membentuk komposisi lebih dari 90% atom-atom di alam semesta (sama dengan tiga perempat
masa alam semesta). Unsur ini ditemukan di bintang-bintang dan memainkan peranan yang
penting dalam memberikan sumber energi jagad raya melalui reaksi-reaksi proton-proton dan
siklus karbon-nitrogen. Proses fusi atom-atom hydrogen menjadi helium di matahari
menghasilkan jumlah energi yang sangat besar. Hydrogen dalam bnetuk cair sangat penting
untuk bidang penelitian suhu rendah (cryogenics) dan studi uperkonduktivitas karena titik
cairnya hanya 20 derajat di atas 0 Kelvin (Porwoko, 2001: 321).
Hydrogen adalah unsur tersederhana terdiri dari satu proton dan satu elektron, dan paling
melimpah di lam semesta. Di bumi kemelimpahannya ketiga setelah oksigen dan silikon sekitar
1% massa semua unsur di bumi. Sebagian besar hydrogen di bumi ada sebagai air. Karena
kepolarannya dapat berubah dengan mudah antara hidrida (H-), atom (H) dan proton (H+),
hydrogen juga membentuk berbagai senyawa dengan banyak unsur termasuk oksigen dan
karbon. Oleh karena itu, hydrogen sangat penting dalam kimia (Saito, 2008: 55).
Karena unsur hydrogen di dapat di laam sebagai senyawanya, maka molekul H2 harus
disediakan atau dibuat dari senyawanya. Di laboratorium bahan utamanya yaitu air dan asam. (1)
Elektrolisis air dengan electrode Pt/C dan katalisator elektrolit garam Na 2SO4 akan menghasilkan
gas hydrogen pada ruang katode dan oksigen pada ruang anode menurut persamaan reaksi
berikut:

Katode : 2H2O(l) + 2e 2OH- (aq) + H2(g)


Anode

: 2OH-(aq)

H2O(l) + 1/2 O2(g) +2e

(2) Reaksi logam dengan asam akan menghasilkan garam dan hydrogen, dengan serat
logam M haruus terletak di sebelah kiri (H). pada deret tegangan Nernst Volta (deret
elektrokimia) dan asamnya bersifat nonoksidator. (3) Reaksi beberapa logam dengan air, yaitu:
2K(s)+2H2O(l) 2KOH(aq) + H2(g), reaksi terjadi sangat hebat di dalam air dingin. 2Na(s)+H2O(l)
2NaOH(aq) + H2(g) (reaksi hebat dalam air dingin). Reaksi Ca(s)+H2O(l) Ca(OH)2(aq) +H2(g) (reaksi
berlangsung dalam air panas). Dalam industri/perdagangan, gas hydrogen dibuat antara lain
sebagai berikut yaitu dengan proses Bosch yaitu uap panas dialirkan melalui karbon sebagai
pereduksi pada temperatur tonggi. Kemudian terjadi reaksi lebih lanjut menurut persamaan
reaksi:
C(s) + H2O(l) CO (g) + H2(g)
CO(g) + H2O (g) CO2(g) + H2(g)
Gas CO2 yang terjadi dapat dipisahkan dengan mengalirkan campuran gas ini ke dalam air
dengan tekanan tinggi atau ke dalam larutan karbonat; maka gas CO2 akan larut dalam air atau
mengendap sebagai karbonat, sedangkan gas H2 lolos (Sugiyarto, 2003 : 6.7).
Pada suhu kamar hydrogen adalah gas tak berwarna, tak berbau, tak berasa. Gas ini berupa
dwiatom dan terdiri atas molekul nonpolar yang tersusun oleh dua atom hindrogen yang diikat
dengan ikatan kovalen. Untuk memutuskan ikatan 1 mol H 2 menjadi atom H diperlukan energi
103 kkal. Karena proses disosiasi ini adalah endotermis, maka kecepatannya bertambah dengan
naiknya suhu. Pada 4000K dan tekanan 1 atm sekitar 60% H2 terdisosiasi. Ketika H2 bereaksi
salah satu tahapan adalah terputusya ikatan H-H. karena diperlukan energi yang besar pada tahap
ini maka energi aktivasinya adalah sangat tinggi sehingga reaksi H2 lambat. Sebagian besar
senyawa hydrogen mengandung H+ atau H-. Potensial inisasinya sebesar 13, 06 e.v., sekitar dua
setengah kali potensial ionisasi sodium afinitas elektronnya adalah 0,72 e.v., atau seperlima dari
klor(Agus, 2002 : 3).
Hydrogen berada dalam lebih banyak senyawa dibandingkan unsur-unsur lainnya, tetapi
tidak semua senyawa tersebut sama memadai sebagai bahan awal untuk pengadaaan H2(g).
senyawa yang paling banyak digunakan, tentunya, ialah senyawa yang paling banyak jumlahnya,

yaitu air (H2O). Hanya sedikit senyawa yang dapat diuraikan menjadi unsur-unsurnya melalui
pemanasan sampai suhu sedang, tetapi tidak termasuk H 2O. bahkan pada suhu 2000oC, kurang
dari 1%, air terurai menjadi H 2 dan O2. Suatu teknik yang telah lama digunakan oleh ahli-ahli
kimia bila peruraian tidak mungkin secara termal ataupun dengan metode-metode kimia lain
adalah elektrolisis, yaitu peruraian dengan arus lstrik. Reaksi yang berlangsung adalah: 2H 2O(l)
2H2(g) +O2(g) (Petrucci, 1999: 99-100).
Reaksi-reaksi lainnya dalam proses pembentukan hidrogw adalah sebagai berikut: Cara
industri : (a) Elektrolisis air yang sedikit diasamkan yaitu 2H 2O(l) 2H2(g)+O2(g); (b) 3Fe(pijar) +
4H2O(l) Fe3O4(s) + 4H2(g); (c) 2C(pijar) +2H2O(g) 2H2(g)+2CO(g). sedangkan cara laboratorium
adalah : (a) mereaksikan gas metana dengan uap air pada suhu tinggi dan katalis terhadap
rekasinya adalah:
CH4(g) + H2O(g) CO(g) + 3H2(g)
CO(g) + H2O(l) CO2(g) + H2(g)
Campuran gas H2 dan CO2 dapat dipisahkan bila dialirkan ke dalam air kapur sebab CO 2
akan bereaksi dengan air kapur menjadi CaCO 3(padat), (b) menarik oksigen dari molekul air
pada suhu 1000oC; (c) mereaksikan logam dengan Eoko>0 ditambah asam kuat encer, contohnya :
Zn(s) + 2HCl(aq) ZnCl2(aq) +H2(g); larutan HCl dapat pula diganti dengan H2SO4, sehingga
reaksinya menjadi: Zn(s)+H2SO4ZnSO4(aq) + H2(g); (d) merewaksikan logam amfoter dengan
basa kuat dengan reaksi:
Zn (s) +NaOH Na2ZnO2(aq) +H2(g)
2Al(s) + 6NaOH(aq) 2Na3AlO3(aq) + 3H2(g) (Rigden, 2002: 343).
Logam seng, cadmium, dan raksa dianggap tidak sepenuhnya sebagai unsur transisi karena
orbital d-nya terisi penuh. Elektron valensinya terisi dua elektron (s2), maka bilangan oksidasi
yang tertinggi adalah +2. bilangan oksidasi seng dan cadmium hanya +2, sedangkan raksa +1
dan +2. logam seng dan cadmium menyerupai perak bersifat reaktif dan larut dalam asam yantg
bukan pengoksidasi (Newton, 1994: 325).
Zn(s) + H2SO4(aq) ZnSO4 + H2(g)
Logam Zn (seng) dapat dibuat dan diuji dari bijih seng (yang mengadung ZnS dan ZnCO 3),
direduksi dengan karbon, dan dapat pula dengan mengelektrolisis larutan ZnSO 4. Logam seng

dipakai untuk melindungi besi dan baja, seperti atap seng, yaitu plat besi yang dilapisi dengan
seng. Pelapisan itu disebut galvanizing. Lapisan itu dapat melindungi dengan dua cara. Pertama,
uap air atau CO2 bereaksi dengan Zn membentuk Zn2(OH)2CO3 yang menghalangi oksidasi dan
uap air bereaksi dengan seng di bagian bawah. Kedua, bila lapisan itu tembus, maka seng masih
dapat terlindungi oleh besi dengan aksi elektrolitik. Seng lebih mudah teroksidasi dibandingkan
dengan besi. Sehingga besi tetap sebagai katoda dan seng sebagai anoda (Syukri, 1999: 627628).
Banyak kesamaan sifat-sifat fisika dan kimia unsur-unsur golongan 2 dengan unsur-unsur
golonagn 12, terutama berkaitan dengan kemiripan karakter konfigurasi elektron, ns2 untuk
golongan 2 dan (n-1) d10 ns2. dalam beberapa hal logam zink juga mirip dnegan aluminium,
misalnya kationnya bersifat asam Lewis kuat dan terhidrolisis dalam air menghasilkan lautan
asam dan logamnya bersifat amfoterik : (Sugiayarti, 2003: 5.80).
Zn(s) + 3H3O+(aq) + 2H2O (l) [Zn(H2O)4]2+ (aq) + H2(g)
Zn(s) + OH- (aq) + 2H2O (l) [Zn(OH)4]2- (aq) + H2(g)
Aluminium termasuk unsur yang banyak terdapat di kulit bumi. Umumnya aluminium
ditemukan bergabung dengan silikon dan oksigen, seperti dalam alumininosilikat, yang terdapat
dalam karang sebagai granit dan tanah liat. Logam aluminium berwarna putih, mengkilat,
mempunyai titik leleh tinggi yaitu sekitar 660 oC, moderat lunak dan lembek lemah jika dalam
keadaan murni, tetapi menjadi keras dan lunak jika dibuat paduan dengan logam-logam lain.
Densitasnya dangat ringan sebesar 2,73 gcm-3. aluminium merupakan konduktor panas dan
konduktor listrik yang baik, namun sifat ini lebih rendah dibandingkan dengan sifat konduktor
tembaga. Atas dasar sifat-sifat tersebut, logam aluminium sangat banyak manfaatnya. Dalam
industri rumah tangga, misalnya untuk peralatan masak/dapur, dalam induustri makanan
misalnya untuk pembungkus makanan, kaleng minuman, pembugkus pasta gigi dan lain
sebagainya. Serbuk aluminium terbakar dalam api menghasilkan debu awan aluminium oksida
menurut persamaan reaksi:
4Al(s) + 3O2(g) 2Al2O3(s). logam aluminium bersifat amfoterik, bereaksi dengan asam kuat
membebaskan gas hydrogen, dan dengan basa membentuk aluminat dan gas hydrogen menurut
persamaan reaksi: (Sugianto, 2003: 4.3-4.5).

2Al(s) + 6H3O+(aq) 2Al3+(aq) + 6H2O(l) + 3H2(g)


2Al(s) + OH-(aq) + 6H2O(l) 2[Al(OH)4]-(aq) +3H2(g)

C. ALAT DAN BAHAN


Alat
Tabung reaksi
Sumbat berlubang
Pipa u
Pipa kaca dan pipa karet
Klem
Statif
Pemanas spiritus
Bak air (gelas kimia besar)
Penjepit tabung reaksi
Pipet tetes
Penjepit pipa karet (klem pipa karet)

Bahan
Aluminium (Al)
Larutan asam sulfat (H2SO4) 1M
Larutan tembaga (II) sulfat (CuSO4) 2M
Larutan natrium hidroksida (NaOH) 0,5 M
Seng (Zn)
Aquades (H2O)
Tissue
Kertas label
Korek api

D. SKEMA KERJA
a. Pembuatan Hidrogen dan Asam
2 keping seng (Zn)
-dimasukkan dalam tabung reaksi
+ larutan CuSO4 (beberapa tetes)
Zn + CuSO
4
Ditutup
dengan sumbat berlubang dan corong + pipa kaca
+ 3 ml larutan H2SO4
Unjung pipa dimasukkan dalam tabung reaksi penuh air
Gas hasil reaksi

Setelah terisi gas, tabung reaksi diangkat


Dekatkan api pada tabug reaksi

Hasil diamati
b.

Pembuatan Hidrogen dan Basa Kuat


2 keping Aluminium
+ 5 ml NaOH 0,5 M
Dimasukkan dalam tabung reaksi yang disusun dengan
pipa
Al + NaOH
Al + NaOH

Dibakar gas yang keluar dari pipa

Hasil diamati
E. HASIL PENGAMATAN
Pembuatan Hidrogen dan asam

No
1

Percobaan

Hasil pengamatan

Penambahan CuSO4 pada 2

Zn (seng) memiliki warna putih mengkilap

keping Zn di dalam tabung

(silver), ketika ditambahkan dengan larutan

reaksi

CuSO4 (berwarna biru tua) belum terjadi


perubahan menyeluruh, larutan tidak mengalami
perubahan warna begitu pula Zn. Hanya saja,
timbul

adanya

sedikit

gelemmbung

di

permukaan larutan dalam tabung reaksi


2

Penambahan H2SO4 ke dalam


tabung

reaksi

yang

berisi

larutan CuSO4 dan Zn

Setelah ditambahkan larutan H2SO4, larutan


CuSO4 yang semula berwarna biru tua lamakelamaan berubah warna menjadi biru muda
dan akhirnya menjadi jernih (bening). Proses
perubahan warna ini akan lebih cepat tejadi jika
pada proses penambahan Zn dengan CuSO4,
lartan H2SO4 secepatnya ditambahkan. Akan
tetapi, jika rentan waktu penambahan larutan
H2SO4 ke dalam tabung reaksi yang berisi
larutan CuSO4 dan Zn lama, maka CuSO4 dan
Zn akan terlebih dahulu bereaksi membentuk
lapisan

yang

menghambat

proses

penguraian/perubahan warna larutan dalam


tabung. Meskipun demikian, proses penguraian
yang lambat, lama-kelamaan semakin cepat
terjadi sehingga larutan dalam tabung menjadi
bening (larutan CuSO4).
Pada proses penguraian, lama kelamaan logam
di bagian bawah tabung reaksi berubah warna
menjadi merah bata agak kecoklatan (seperti
keropos)

yang

menandakan

reaksi

telah

berlangsung.
3

Pembentukan

gas

yang

mengalir melalui pipa.

Pada proses reaksi yang terjadi, pada pipa,


tabung reaksi

lama-kelamaan timbul adanya

gelembung udara dengan jumlah semakin


banyak.
4

Terbentuknya gelembung dari

Pada proses terkumpulnya gas pada pipa, tabung

hasil reaksi yang mengalir

reaksi, gas yang ada dialirkan dan dibakar

melalui pipa menuju tabung

dengan ujung pipa kaca didekatkan pada spiritus

reaksi,

maka pada ujung kaca timbul nyala api (ewarna

dilanjutkan

denga

B. Pembuatan Hidrogen dan Basa Kuat

No
1

Percobaan
Penambahan larutan NaOH

Hasil Pengamatan

pada Al

Pada prosesnya, larutan NaOH yang semula


bening, setelah dimasukkan ke dalam Al
menimbulkan / menyebabkan larutan menjadi
sedikit keruh.

Proses pemanasan campuran

(Al + NaOH)

Pada prosesnya, larutan semakin berubah


menjadi berwarna putih keruh dan timbul
banyak

gelembung.

pembakaran/pemanasan

Yang

jika

lebih

dilakukan
lama

lagi

menyebabkan gelembung keluar melalui pipa


kaca yang kemungkinan gelembung yang keluar
akan berbahaya karena dapat menimbulkan
letupan dan dapat mempengaruhi hasil.
3

Proses pembakaran gas pada

ujung pipa

Pada proses pembakaran gas yang keluar dari


ujung pipa kaca, menimbulkan nyala api pada
ujung pipa kaca, yang membuktikan adanya gas

hydrogen yang terbakar dan bukan kaca.


Nyala api yang dihasilkan cukup besar dan
bertahan cukup lama dibandingkan dengan
percobaan pertama.

Akhir pembakaran

Terdapat sisa aluminium berwarna hitam dan


larutan yang berwarna keruh.

F. ANALISIS DATA
Persamaan Reaksi Pembuatan Hidrogen dan Asam

Persamaan reaksi pada proses penambahan larutan CuSO4 ke dalam keeping Zn


Zn(s) + CuSO4(aq) Zn2+ + Cu + SO42Persaan reaksi pada proses penambahan H2SO4 ke dalam campuran Zn dan CuSO4
Cu + Zn2+ + H2SO4 Cu(s) (merah bata) + 2ZnSO4(aq)(bening) + H2(g)(gelembung)
Persamaan Reaksi Pembuatan Hidrogen dan Basa Kuat
Al(s) + 3OH- Al(OH)3(s)
Al(s) + 2NaOH (aq) + 6 H2O 2[Al(OH)4]-(aq) + Na+ + 3H2(g)

G. PEMBAHASAN
Hydrogen adalah unsur yang terdiri dari satu proton dan satu elektron, dan paling
melimpah di lam semesta. Karena hydrogen di dapat di alam semesta sebagai senyawanya yang
artinya hydrogen tidak tersedia secara langsung dalam bentuk H 2, maka molekul H2 harus dibuat
dalam bentuk senyawanya. Pembuatan hydrogen terdiri dari 2 cara, yaitu cara industri dan cara
laboratorium.
Pada praktikum hydrogen ini bertujuan untuk mempelajari cara dan juga sifat-sifat dari
hydrogen. Pada percobaan hydrogen ini bertujuan untuk mempelajari cara pembuatan dan juga
sifat-sifat dari hydrogen. Pada percobaan ini terdiri dari 2 bagian yaitu pada percobaan pertama
dengan mereaksikan antara logam dengan larutan asam, sedangkan pada percobaan kedua
dilakukan dengan cara mereaksikan antara logam dengan larutan basa kuat yang dilanjutkan
dengan proses pembakaran.
Pada pecobaan pertama, yaitu proses mereaksikan antara asam dengan logam, bahan yang
digunakan adalah logam Zn, larutan CuSO4 dan larutan H2SO4. Pada percobaan pertama ini,
diawali dengan proses penambahan larutan CuSO4 ke dalam tabung reaksi yang berisi ogam Zn.
Berdasarkan hasil pengamatan, Zn ketika ditambahkan dengan larutan CuSO 4 belum
menunjukkan adanya perubahan secara jelas dan menyeluruh, hanya saja timbul adanya sedikit
gelembung di permukaan larutan dalam tabung raksi yang menandakan bahwa reaksi mulai
terjadi. Setelah ditambahkan dengan larutan H2SO4, larutan dalam tabung reaksi yang semula
berwarna biru tua lama-kelamaan berubah warna menjadi biru muda dan akhirnya larutan
menjadi bening (jernih). Proses perubahan warna ini akan lebih cepat terjadi jika pada proses
penambahan Zn dengan CuSO4, larutan H2SO4 ditambahkan secapatnya. Akan tetapi, jika
rentang waktu penambahan H2SO4 cukup lama, maka CuSO4 dan Zn akan terlebih dahulu
bereaksi membentuk lapisan yang menghambat proses penguraian atau perubahan warna dan
reaksi yang terjadi. Meskipun demikian, proses penguraian yang lambat lama-kelamaan berjalan
dengan baik.

Berdasarkan hasil pengamatan, reaksi yang terjadi dalam percobaan tersebut adalah sebagai
berikut:
Zn(s) + CuSO4(aq) Zn2+ + Cu + SO42(1)
Cu + Zn2+ + H2SO4 Cu(s) (merah bata) + 2ZnSO4(aq)(bening) + H2(g)(gelembung)
(2)
Dari persamaan reaksi tersebut, pada proses pertama terjadi reaksi redoks (reduksioksidasi). Dimana dengan adanya penambahan larutan CuSO4 ke dalam logam Zn akan
menyebabkan logam Zn teroksidasi dan melepaskan 2 elektron membentuk Zn 2+ sedangkan
larutan CuSO4 akan terurai menjadi Cu2+ dan SO42-, dimana Cu2+ yang terurai akan tereduksi
menjadi Cu. Teroksidasinya Zn menjadi Zn2+ dan tereduksinya Cu2+ menjadi Cu dikarenakan
adanya perbedaan energipotensian sel standar (Eosel) antara Zn dengan Cu. Dimana Eosel Cu
lebih besar dibandigkan dengan Zn. Sehingga Cu lebih cenderung tereduksi sedangkan Zn lebih
cenderung teroksidasi.
Pada percobaan selanjutnya (reaksi kedua), dengan adanya penambahan H 2SO4 reaksi
lama-kalamaan semakin cepat berlangsung. Hal ini ditandai dengan terdapatnya banyak
gelembung yang terbentuk dari reaksi tersebut. Hal tersebut dikarenakan dengan adanya
penambahan H2SO4 yang merupakan asam kuat, maka akan menyebabkan penguraian antarion
yang semakin cepat dan semakin banyak. Ini juga dikarenakan H2SO4 yang merupakan asam
kuat, akan terurai sempurna di dalam larutan menjadi ion-ionnya yaitu ion H + dan SO42-. Dimana
dengan adanya penguraian H2SO4 ini mengacu terbentuknya energi kinetic yang semakin besar
terhadap ion-ion Zn dan CuSO4, sehingga energi tumbukan antarion dalam proses pengikatan
membentuk senyawa baru menghasilkan energi dan tekanan yang sangat besar ditandai dengan
terbentuknya gelembung. Sedangkan tekanan yang terbentuk akan menekan gas H2 dari hasil
reaksi melewati pipa karet menuju tabung reaksi kedua yang ada pada gelas kimia besar.
Semakin meningkatnya reaksi yang terjadi, maka semakin banyak gelembung dan gas yang
dihasilkan. Gas hydrogen yang melewati pipa karet, dengan adanya tekanan yang tinggi akan
mendesak tabung reaksi pada tabung deaksi kedua, sehingga volume air dalam tabung reaksi
berkurang.
Di dalam proses kedua, terbentuknya H2 karena proses penguraian ion-ion dari arutan
H2SO4 dengan Zn2+ yang telah mengalami proses oksidaso. Terbentuknya ZnSO4 ditandai oleh
terjadinya perubahan warna larutan yang menjadi bening. Sedangkan warna logam yang berubah
menjadi coklat dan ada pula yang menjadi merah bata menunjukkan adanya ion Cu 2+ yang telah
tereduksi menjadi Cu. Pada prinsipnya logam Zn terurai (teroksidasi) menjadi Zn yang berikatan
dengan SO42- membentuk larutan. Sedangkan ion Cu2+ akan tereduksi dan mengendap menjadi

Cu yang ditandai dengan perubahan warna logam menjadi merah bata. Selain itu, dari hasil
penguraian ion H+ yang merupakan kation dengan terlepasnya elektron yang dimilikinya, untuk
dapat stabil maka ion H+ harus berikatan. Kecenderungan ion H+ untuk berikatan adalah dengan
membentuk ikatan kovalen dengan cara pelepasan proton dan pemakaian bersama elektron
dengan unsur sejenisnya yaitu membentuk molekul H2.
Pada percobaan selanjutnya, setelah gas di dalam tabungt reaksi kedua (dalam gelas kimia
besar) cukup terisi ogas yang didapatkan dari oendesakan air oleh reaksi kimia yang terjadi,
maka gas tersebut dikeluarkan melalui pipa kaca yang di bagian ujung dari pipa kaca tersebut
dibakar dengan menggunakan korek api atau spiritus. Hal ini bertujuan untuk mengetahui atau
membuktikan bahwa gas yang ada adalah H2. Berdasarkan hasil pengamatan terdapat adanya
nyala api pada ujung kaca denga gas yang keluar memiliki cirri-ciri tidak berbau, tidak berasa,
tidak berwarna erta tidak larut dalam air menunjukkan bahwa gas yang dihasilkan benar-benar
H2. Dari hasil percobaan ini diperoleh nyala api yang kecil dengan nyala yang tidak bertahan
lama. Hal ini disebabkan adanya kesalahan dalam praktikum akibat masuknya air ke dfalam pipa
U. sehingga volume gas yang keluar hanyalah sedikit akibat terdesak oleh air yang masuk.
Pada percobaan kedua, yaitu dengan mereaksikan antara aluminium dengan basa kuat. Pada
percobaan ini digunakan logam Al dan bukan Zn , karena logam aluminium lebih mudah
teroksidasi dibandingkan dengan Zn karena memiliki Eosel yang lebih rendah dibandingkan
dengan Eosel pada logam Zn. Kecenderungan ini disebabkan proses percobaan menggunakan
larutan basa kuat. Yang maan, dibandingkan dengan asam kuat, basa kuat lebih sukar untuk
bereaksi atau terurai dengan logam untuk menghasilkan H2. Sehingga prosdes ini digunakan
logam yang mudah terurai atau teroksidasi seperti Al. dalam prosesnya, percobaan ini dibantu
oleh pembakaran yang bertujuan untuk meningkatkan energi ionisasi atau energi kinetic sehingga
proses pembentukan senyawanya dapat berjalan lebih cepat.
Berdasarkan hasil pengamatan, setelah ditambahkan larutan NaOH ke dalam logam Al
beberapa saat setelah pembakaran timbul gelembung (buih) yang cukup banyak dengan warna
larutan putih keruh. Jika dilakukan pemanasan lebih lama lagi buih yang terbentuk akan keluar
melalui pipa kaca akibat adanya tekanan tinggi yang dihasilkan pada proses pemanasan yang
mana, jika terkena api akan menimbulkan letupan. Timbulnya perubahan warna dikarenakan
terbentuknya ion kompleks [Al(OH)4]- dan terurainya ion Na+ (dari larutan NaOH) dengan
perubahan warna menjadi putih keruh. Meskipun demikian, pada proses ini aluminium tidak
terurai seluruhnya mejadi ion kompleks [Al(OH)4]-,hal ini ditunjukkan oleh masih adanya

kepingan logam Al yang berwarna hitam. Sehingga reaksi yang terjadi merupakan reaksi
reversible karena masih terdapatnya reaktan yang direaksikan. Sedangkan buih yang terbentuk
merupakan gas H2 yang masih bergabung dengan NaOH. Pada proses pembuktian adanya gas H 2
diperoleh nyala yang lebih besar dan bertahan lama, dimana gas yang keluar tidak berbaun tidak
berwarna dan berasa. Nyala api yang lebih besar ini sesuai dengan persamaan reaksi, dimana
koefisien hasil reaksi untuk H2 jauh lebih besar dibandingkan dengan percobaan pertama. Selain
itu, gasa yang dihasilkan pastinya memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan
jumlah gas H2 yang dihasilkan pada percobaan pertama.
H. PENUTUP
Kesimpulan
1. Sifat hydrogen adalah tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna dan tidak larut
2.

dalam air.
Hydrogen dapat diperoelh secara laboratorium dnegan cara mereaksikan antara

3.
4.

logam dengan asam mauun mereaksikan logam dengan basa kuat.


Pada percobaan pertama H2 diperoleh melalui proses reaksi reduksi-oksidasi.
H2 yang diperoleh dapat dibuktikan dari timbulnya nyala api pada ujung pipa kaca

5.

yang dialirkan gas hasil reaksi.


Gas yang dihasilkan pada percobaan kedua lebih banyak dibandingkan dengan gas
pada percobaan pertama. Hal ini dapat dilihat dari nyala api yang dihasilkan pada
percobaan kedua yang lebih besar dan bertahan lama dibandingkan dengan nyala api
pada percobaan pertama.

Saran
1. Pada percobaan yang dilakukan dibutuhkan dalam menggunakan alat-alat yang
2.
3.

berbahan dasar kaca pada proses pembakaran karena sangan mudah pecah.
Berhati-hati pada saat mereaksikan senyawa yang bersifat asam kuat.
Dibutuhkan kehati-hatian pad asaat proses pembakaran gas maupun pemanasan
campuran.

KIMIA BELERANG
A. PELAKSAAN PRAKTIKUM
Tujuan
: mempelajari beberapa modifikasi belerang
Mempelajari sifat hydrogen sulfide dan sifat asam sulfat
Hari, tanggal : Rabu, 24 Maret 2010
Tempat: Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.
B. LANDASAN TEORI
Belerang adalah unsur yang ditemukan dalam keadaan bebas dan sebagian dalam
senyawa logam sulfida. Pada mulanya unsur ini disebut brimstone yang berarti batu yang
mudah terbakar. Belerang juga terdapat dalam gas alam, minyak bumi, dan batu bara. Atom
belerang membutuhkan dua elektron agar stabil dan dalam keadaan bebas adalah alotropi
(mempunyai beberapa bentuk kristal) dengan struktur dan sifat yang kompleks, dan belum
sepenuhnya dipahami. Ada dua kristal yang umum, yaitu ortorombik dan monoklin
bermolekul S8, yang berstuktur cincin. Pada suhu 25oC, belerang berbentuk ortorombik
berwarna kuning, dan pada suhu 95,2oC, berubah menjadi monoklin (Syukri, 1999: 594).
Belerang mempunyai beberapa alllotrop yang cukup rumit, tetapi yang terpenting adalah
bentuk rhombik fdan monoklin yang berbeda satu sama lain dlaam simetri kristalnya. Dalam
bentuk rhombik, ynag stabil pada suhu kamar, atom-atom belerang terikat satu sama lain
membentuk cincin beranggotakan delapan atom, yang posisi atom ke satu di atas dan atom
berikutnya di bawah secara selang-seling sehingga terdapat empat atom yang di atas dan
empat atom yang di bawah. Kecenderungan terjadinya katenasi dalam bentuk molekul
belerang adalah tinggi dan menghasilkan pembentukan baik cincin-cincin dalam berbagai
ukuran maupun rantai-rantai. Allotrop dari struktur yang dikenal meliputi siklik S6, S7, S8,
S9, S10, S11, S12, S18, dan S20. Allotrop yang palin stabil adalah belerang rhombik (yaitu
bentuk- dan keadaan standar unsur) dan terdapat secara lamiah sebagai kristal besar
berwarna kuning di daerah gunung berapi (Siahaan, 2008: 25-26).
Dalam proses Frasch, suatu campuran air yang lewat panas dan uap (pada 106oC dan 16
atm) ditekan ke dalam pipa bagian terluar dari tiga pipa konsentris, diteruskan ke dalam
lapisan batuan yang mengandung beleranga. Belerang mencair dan membentuk kolam cairan.
Udara yang ditekan dilewatkan melelui pipa yang tersedia. Pada permukaan, belelrang cair
dikumpulkan dalam bak yang besar dan dibiarkan membeku, menghasilkan belerang padat
dengan kemurnian 99,5% (Petrucci, 1989: 130).

Hidrogen sulfide larut dalam air menghasilkan suatu larutan kira-kira 0,1M pada 1 atm.
Tetapan sisosiasinya adalah;
H2S+ H2O H3O+ + HS-

K= 1x10-7

HS- + H2O H3O+ + S2-

K= 10-14

Tokssitas H2S ajuh melampaui HCN. Kestabilan termal dan kekuatan ikatan menurun
dari atas ke bawah dalam dereran tersebut. Sedangkan keasaman dalam airnya bertambah.
Sehubungan dengan reaksi di atas, tetapan disosiasi kedua yang kecil, benar-benar hanya ion SHyang ada dalam larutan sulfide ionik, dan S2- hanya terdapat dalam larutan yang sangat bersifat
basa (>8M NaOH) sebagai (Cotton, 2009: 365).
S2- + H2O SH- + OH-

K1

Hidrogen sulfide berupa gas yang tidak berwarna, berbau seperti telur busuk, dan yang
sangat bersifat beracun. Hydrogen sulfida diproduksi secara alamiah oleh bakteri anaerob,
misalnya yang terjadi pada proses pembusukan. Dalam laboratorium gas H2S dipreparasi dari
reaksi antara sulfida logam dengan asam encer, seperti besi (II) sulfida dengan asam hidroklorida
menurut persamaan reaksi: FeS(s) + 2HCl(aq) FeCl2(aq) + H2S(g). reaksi uji terhadap gas
H2S yang ada, biasanya menggunakan kertas yang dibasahi oleh larutan timbel (II) asetat yang
akan menghasilkan warna coklat- hitam PbS menurut reaksi: Pb(CH3COO)2(aq) +
H2S(g)PbS(s) + CH3COOH(aq). Struktur molekul H2S mengadopsi bentuk V seperti halnya
air, demikian juga H2Se; sudut ikatan pada molekul H2O, H2S, dan H2Se, secara berurutan yaitu
104,5o, 92,5o, dan 90o. hal ini berkaitan dengan menurunnya sifat keelktronegativitas atom
pusat yang parallel dengan berkurangnya pemakaian orbital hibrida (sp3) daripada orbital p
murninya (Sugiyarto, 2001: 10.7).
Asam sulfat merupakan asam kuat, bila dicampur dengan air terjadi panas pengenceran
yang tinggi sehingga membahayaka bagi pemakaiannya. Asam sulfat pekat merupakan oksidator
kuat sehingga dapat mengoksidasi unsur lain. Asam sulfat bersifat hihigroskopis dan dehydrator.
H2S banyak terdapat di daerah gunung berapi pada temperatur biasa berbentuk telur busuk dan
bersifat beracun. Dalam laboratorium gas H2S dibuat dalam kits dari garam-garam sulfide
dengan asam klorida (Syukri, 1999: 597).

H2SO4 murni adalah cairan pada suhu kamar yang membeku pada 10oC, dalam hanyak
hal, H2SO4 cair mirip air. Misalnya, ia penghantar listrik lemah, kemungkinan karena seperti air,
mengalami disosiasi menjadi ion : 2HSO4 H3SO4+ + HSO4-. Lebih lanjut, seperti air ia dapat
melarutkan banyak senyawa, sekalipun padatan ionik. Akan tetapi H2SO4 berbeda dari air dalam
hal derajat disosiasinya lebih besar dan H2SO4 mampu memaksa proton ke dalam zat terlarut.
H2SO4 mempunyai afinitas besar terhadap air dan membentuk beberapa senyawa, atau hidrat,
dengan air seperti H2SO4.H2O dan H2SO4. 2H2O. asam sulfat pekat yang biasa tersedia secara
kopmersial kira-kira H2SO4 93% berat dan dianggap sebagai larutan H2SO4 dan H2SO4. H2O.
monohidratnya kemungkinan H3O+ dan H2SO4-, dan panas tinggi yang dibebaskan ketika asam
sulfat pekat ditambahkan ke dalam air kemungkinan karena pembentukan H3O+ dan dilanujtkan
dengan hidrasi terhadapnya dan terhadap HSO4-. Seringkali, H2SO4 pekat digunakan sebagai
dehydrator, seperti misalnya, dalam desikator untuk menujaga zat tetap kering (Purwoko, 2001:
60).
Asam sulfat merupakan bahan kimia yang diproduksi secara besar-besaran, metode
pembuatannya baik menurut proses kontak maupun kamar timbale selalu menggunakan belerang
dioksida yang dapat disiapkan dari pembakaran lelehan beleranbg dalam udara kering. Oksidasi
lebih lanjut dapat dilakukan dengan mencampurkan belerang dioksida danudara kering kemudian
mengalirkannya lewat katalisator V2O5 dalam suatu pendukung inert pada temperatur 400500oC. Dengan air, belerang trioksida bereaksi hebat dan bukan merupakan proses yang
mengutungkan untuk keperluan industri. Tetapi, belerang trioksida bereaksi dengan asam sulfat
pekat secara terkontrol menghasilkan pirosulfat, yang kemudian dapat direaksikan dengan air
untuk mendapatkan asam sulfat pekat menurut persamaan reaksi (Sugiyarto, 2004: 10. 4.4).
SO3(g) + H2SO4(l)

H2S2O7(l)

H2S2O7(l) + H2O(l) 2H2SO4(l)


Logam tembaga yang diperoleh dari bijihnya biasanya mengandung sejumlah pengotor
seperti seng, besi, perak, dan emas. Logam yang lebih elektropositif diambil dengan proses
elektrolisis diambil dengan proses elektrolisis di mana pada proses ini tembaga takmurni
bertindak sebagai anoda dan tembaga murni bertindak sebagai katoda dalam larutan asam sulfat
yang berisi ion Cu2+. Setengah reaksinya adalah:
Anoda : Cu(s0 Cu2+ +2e

Katoda : Cu2+(aq) +2e Cu(s)


Seperti halnya tembaga dan zink, besi terdapat di alam sebagai sulfidanya, FeS atau Fe2S3
(Chang, 2004: 225).
Asbestos (asbes) adalah sebuah grup mineral metamorphosis berfiber. Nama ini berasal
dari penggunaannya di lampu wick, karena tahan api asbes telah digunakan dalam banyak
aplikasi. Paraffin adalh nama umum untuk hidrokarbon alkana dengan formula CnH2n+2.
Molekul paraffin paling simple adalah metana, CH4, sebuah gas dalm temperatur ruangan.
Anggota jenis ini yang paling berat, seperti oktan C8H18, muncul sebagai cairan pada
temperatur ruangan. Bentuk padatan paraffin, disebut lilin paraffin, berasal dari molekul terberat
mulai C20H42 hingga C40H82 (Tarr, 2007: 543).
Asam kromat adalah sebuah senyawa kromium (Cr), yang memiliki basa konjugat berupa
ion kromat dan dikromat, yang dapat membentuk beberapa garam misalnya kalium dikromat,
K2Cr2O7. Pada asam kromat, dikromat ataupun semua turunannya, atom kromium mempunyai
bilangan oksidasi +6. Kromium (III) oksida, Cr2O3, merupakan oksida kromium yang paling
stabil mengadopsi struktur corundum, dan digunakan untuk pigmen hijau (Sugiyarto, 2003: 5.26
-5.27).
C. ALAT DAN BAHAN
Alat
Pembakar spiritus
Penjepit tabung reaksi
Kaca arloji
Sendok plastik kecil
Cawan penguapan (cawan porselin)
Gelas ukur
Corong
Tabung reaksi
Rak tabung reaksi
Penangas
Sumbat berlubang
Pipa kaca
Pipet tetes
Gelas kimia
Bahan
Parafin
Belerang serbuk

Asbes
FeS
HCl 2M
Gula pasir
CH3COOH
C2H5OH
(CH3COO)2Pb
Temabga
H2SO4 pekat
K2Cr2O7 1M
H2SO4 2M
CS2
Kertas saring
Kertas label
Tissue
Aquadest (H2O)

D. SKEMA KERJA
a. Modifikasi Belerang
Serbuk belerang
+ 5mL CS2
Dituangkan ke kaca arloji
Ditutup dengan kertas saring (sebagian terbuka untuk
menguapkan CS2)
Kristal yang terbentuk diamati
1 sendok serbuk
belerang dalam cawan penguapan
Dimasukkan
(jangan sampai berwarna coklat)
Belerang meleburPemanasan
(kuning coklat)
dihentikan
Dibiarkan membeku
Garis kristal diamati
Serbuk belerang
(dalam tabung reaksi)
Tabung digoyangkan
Belerang mendidih

Diperhatikan warna, viskositas dari meleleh sampai


mendidih
Belerang mendidih
Dituangkan dalam gelas kimia yang berisi air
Terbentuk batang panjang dan
tipis
b. Hidrogen Sulfida
Paraffin + belerang+ asbes
Dimasukkan dalam tabung reaksi

Diuji dengan timbal asetat


gas
Hasil pengujian diamati
1 butir FeS
Dimasukkan dalam tabung reaksi + pipa kaca
+ HCl encer
FeS + Diuji
HCl dengan timbal asetat
Dibakar
Dikenakan cawan penguapan di atas nyala api
Hasil diamati

c. Sifat Asam Sulfat

1 keping tembaga
Dimasukkan dalam tabung reaksi
+ H2SO4 pekat
(tidak sampai mendidih)
Hasil

Ditutup mulut tabung (kertas saring yang dibasahi


K2Cr2O7 yang diasamkan pada percobaan0
Hasil dicatat
Gula Dimasukkan dalam tabung reaksi
+ H2SO4 pekat
Hasil dicatat
2ml CH3COOHDimasukkan
+ 2mL alkohol
dalam tabung reaksi
+ 2mL H2SO4 pekat
( dalam penangas air)
Hasil diamati (dicatat)

E. HASIL PENGAMATAN
F. ANALISIS DATA
G. PEMBAHASAN
Belerang adalah unsur nonlogam dari golongan VIA.kemelimpahan belerang di alam
memang tidak terlalu besar, hanya sekitar 0,05%. Tetapi belerang dapat ditemukan secara
luas dalam berbagai bentuk, mulai dari unsure bebas hingga dalam berbagai bentuk senyawa
seperti H2S, SO2, mineral/bijih logam sulfide dan sulfat seperti cufes2,gips, anhidrat dan lain
sebagainya. Dalam keaadaan padatan belerang memiliki 2 bentuk kristal (modifikasi), yaitu
rhombik dan monoklinik. Belerang rhombik merupakan allotrop yang paling stabil. Pada
suhu kamar, atom-atom belerang terikat satu sama lain membentuk cincin beranggotakan
delapan atom, yang posisinya atom kesatu di atas dan atom berikutnya di bawah secara
selang-seling sehingga terdapat 4 atom di atas dan 4 atom di bawah. Di atas suhu 96oc
bentuk monoklin terdiri dari 6 lingkar S3 dalam satu unit selnya meleleh pada suhu 119oc
menghasilkan belerang cair.

Pada praktikum ini, terdiri dari 9 macam percobaan yang digolongkan menjadi 3 jenis
percobaan. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari modifikasi belerang,
mempelajari sifat hydrogen sulfide dan sifat hydrogen sulfat. Untuk tujuan pertama, yaitu
modifikasi belerang terdiri dari 4 macam percobaan. Pada percobaan ini akan diperoleh hasil
akhir berupa kristal/padatan yang terbentuk dari belerang serbuk. Pada percobaan pertama,
serbuk belerang dicampur dengan 5 ml CS2, yang menghasilkan larutan berwarna kunimg.
Dalam prosesnya, cairan diuapkan dalam kaca arloji , dimana kaca arloji ditutup dengan
kertas saring yang sebagian kecil bagiannya dibuka, bertujuan agar penguapan dapat berjalan
secara maksimal. Digunakannya kertas saring pada percobaan ini adalah agar pada proses
pembentukan kristal, tidak ada zat pengotor yang dapat mempengaruhi hasil dari kristal yang
terbentuk baik warna maupun struktur dari kristal tersebut. Kristal ynag terbentuk dari
percobaan pertama ini berwarna kuning dengan bentuk memanjang seperti jarum.
Berdasarkan hasil yang diperoleh ini, menunjukkan bahwa kristal yang ada merupakan kristal
monoklin.
Pada percobaan kedua, yaitu pemanasan serbuk belerang. Pada prosesnya, pemanasan
belerang yang semula berwarna kuning lama-kelamaan mulai mencair dan berubah warna
menjadi orange. Dalam proses ini, belerang yang dipanaskan tidak boleh berubah warna
menjadi coklat dikarenakan pada saat belerang berubah warna menjadi coklat, maka
kekentalannya akan makin tinggi. Sehingga diperoleh hasil (kristal) yang tidak diinginkan.
Pada percobaan ini, diperoleh padatan (kristal) berwarna kuning dari hasil pendinginan cairan
sulfur dengan garis-garis kristal yang terbentuk memanjang yang menyatakan bahwa kristl
yang diperoleh adalah kristal monoklin.
Pada percobaan ketiga, belerang dipanaskan sampai mendidih. Seperti percobaan
sebelumnya, serbuk belerang yang semula berwarna kuning, lama-kelamaan mulai mencair
dan berubah warna menjadi orange dengan viskositas yang sangat rendah. Akan tetapi,
setelah beberapa lama dipanaskan cairan yang berwarna orange mulai mengental dan
berubah warna menjadi merah bata (kunig kecoklatan) dengan viskositas yang tinggi. Setelah
mencapai titik didihnya, cairan belerang kembali mencair dengan viskositas rendahdan warna
larutan menjadi lebih pekat. Terjadiya perubahan viskositas disebabkan membukanya cincin
S8 (akibat peningkatan suhu) yang kemudian bergabung membentuk rantai panjang yang

kurang mobile. Rantai ini kemudian putus menjadi fragmen-fragmen yang lebih kecil seiring
dengan bertambahnya energi kinetic.
Percobaan ketiga ini kemudian dilanjutkan dengan pecobaan keempat di mana belerang yang
mendidih dituangkan ke dalam gelas kimia brisi air sehingga terbentuk suatu kristal
padatyang berbentu bulat (rhombik) dan berwarna kuning.pada proses ini, hanya terbentuk
kristal bulat yang merupakan kristal dhombik dengan sifatnya yang tidak elastis. Seharusnya,
dalam proses ini, kristal ynag terbentuk berupa batang memanjang yang tipis dan berwarna
kuning yang lama-kelamaan mulai rapuh dan membentuk kristal bulat rhombik yang elastis
sehingga disebut dengan belerang plastis. Akan tetapi, dalam percobaan ini tidak terbentuk
kristal seperti itu. Hal ini disebabkan pada percobaan ini jumlah serbuk belerang yang
digunakan sangat sedikit sehingga cairan yang terbentuk sedikit pula. Selain itu, kemunkinan
cairan yang dituangkan ke dalam gelas kimia belum cukup mendidih(mencair), sehingga
kristal memanjang yang tipis (monoklin) tidak terbentuk, sebab kristal monoklin yang stabil
akan terbentuk pada suhu di atas 96oc. Pada percobaan ini, selain kristal juga diperoleh uap
dari sulfur yang berwarna kuning dengan bau yang sangat menyengat. Terbentuknya uap
dikarenakan belerang yang dipanaskan telah cukup mendidih tetapi belum berada di atas
96oc.
Pada jenis percobaan selanjutnya, yaitu pada percobaan sifat asam sulfide terdiri dari 2
macam percobaan, yaitu pada percobaan pertama campuran antara paraffin, belerang dan
asbes dipanaskan agar diperoleh diperoleh hasil berupa gas H2S. Pada percobaan ini,
berdasarkan hasil pengamatan, asbes yang semula berbentuk padatan mulai melebur dan
terbentuk larutan yang terdiri dari 3 lapisan di mana pada bagian bawah larutan berwarna
hitam (dari larutan ynag berwarna orange), di bagian tengah terdapat asbes yang melebur
(berwarna putih keabuan) dan di bagian permukaan larutan berwarna orange. Berubahnya
warna di bagian bawah dari orange menjadi itam dikarenakan serbuk belerang mulai bereaksi
dengan paraffin dan asbes yang melebur akibat suhu tinggi. Akan tetapi, asbes tidak
seluruhnya berakasi dengan sulfur. Hal ini dapt dilihat dari terdapatnya asbes pada bagian
tengaha yang berwarna putih keabuan. Untuk dapat bereaksi secara sempurna dibutuhkan
suhu yang lebih tinggi lagi. Dari hasil percobaan ini diperoleh gas yang tidak berwarna dan
memiliki bau busuk yang menunjukkan sifat dari gas H2S. Slain itu, untuk mengetahui
kebenarannya , gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi dengan larutan timbale

asetat. Terdapatnya warna coklat pada kertas saring menunjukkan adanya gas H2S yang
terbentuk.
Pada percobaan kedua, yaitu mereaksikan fes dengan hcl encer, melalui proses pembakaran
diperoleh hasil berupa gas yang berwarna hitam dengan bau yang sangat menyengat. Warna
gas yang hitam tidak sesuai dengan sifat dari H2S. Akan tetapi, bau yang sangat menyengat
merupakan sifat dari H2S. Sehingga untuk lebih memastikannya maka gas yang diperoleh
diuji dengan menggunakan kertas Pbasetat yang mana menghasilkan warna hitam
kecoklatan.warna hitam kecoklatan menunjukkan adanya gas H2S yang diperoleh.
Kemungkinan warna gas yang hitam dikarenakan kesalahan atau ketidak telitian praktikan
sehingga terjadi kesalahan pada hasil pengamatan.
Pada percobaan terakhir yaitu asam sulfat terdapat 3 macam percobaan, di mana pada
percobaan pertama dilakukan proses pemanasan antara keeping tembaga dengan larutan
H2SO4 pekat. Pada percobaan ini diperoleh gas yang tidak berwarna dan tidak berbau
dengan warna larutan hitam kehijauan. Gas yang terbentuk ini merupkan gas SO2, sedangkan
larutan yang berwarna hitam berasal dari ion CU2+ dari hasil reaksi. Pada proses ini, asam
sulfat bertindak sebagai pendehidrasi, dimana asam sulft akan mengoksidasi Cu menjadi ion
Cu2+, sedangkan sulfat (H2SO4) akan tereduksi menjadi ion sulfat, SO42- sesuai dengan
reaksi:

Dari hasil pengamatan dan reaksi di atas dapat diketahui bahwa asam sulfat memiliki sifat
sebagai pengoksidasi. Dalam proses selanjutnya, kertas saring yang diletakkan pada mulut
tabung dari percobaan di atas yang sebelumnya telah dibasahi oleh K2Cr2O7 menghasilkan
warna yang kehijauan pad akertas saring. Warna kehijuan ini berasal dari ion Cr3+ yang
terbentuk dari hasil reduksi oleh gas SO3. Dengan adanya perubahan warna menjadi hijau
pada kertas saring, dapat membuktikan bahwa terdapt adanya gas SO2 yang terbentuk dari
hasil reaksi sebelumnya (Cu dengan H2SO4). Persaman reaksi dari percobaan ini adalah:

Reaksi di atas merupakan reaksi redoks, di mana dalam prosesnya, K2Cr2O7 akan terurai
menjadi K+ dan Cr2O72- akan tereduksi dari semula memiliki bilangan oksidasi +4 menjadi
+6.
Pada percobaan kedua, yanitu mereaksikan antara gula dengan H2SO4, dari hasil
pengamatan, campuran yang semula berwarna coklat, lama-kelamaan berubah warna menjadi
hitam dengan timbul panas pada dasar tabung. Berdasarkan proses ini, asam sulfat memiliki
kemampuan untuk melelnyapkan komponen air dari struktur formula suatu senyawa seperti
gula. Di mana gula diubah menjadi karbon dan air melelui suatu reaksi eksotermik, yang
ditandai dengan timbulnya panas pada bagian dasar tabung. Pada proses ini, reaksi yang
terjadi adalah:
C12H22O11(s) + H2SO4(l) 12C(s) + 11H2O(l) + H2SO4(aq)
Adanya karbon yang dihasilkan inilah yang menyebabkan timbulnya warna hitam dalam
larutan yang lama-kelamaan warna hitam ini akan mengendap di dasar tabung.
Pada percobaan ketiga, yaitu mereaksikan asam asetat dan alkohol dengan H2SO4 pekat
kemudian dipanaskan dengan penangas air. Berdasarkan hasil pengamatan, setelah dipanaskan,
campuran yang semula berwarna sedikit orange (bening teh) lama-kelamaan berubah warna
menjadi pekat (warna coklat teh), dengan timbul adanya bau harum seperti bau balon tiup. Bau
harum ini menandakan bahwa telah terbentuk ester dari hasil reaksi. Berdasarkan proses ini,
reaksi yang terjadi adalah:
H2SO4

CH3COOH(aq) + C2H5OH(aq)

CH3COOH(aq) + H2O(l)

Berdasarkan hasil pengamatan dan reaksi tersebut, menunjukkan bahwa terbentuk produk ester,
di mana H2SO4 bertinddak sebagai katalis atau pengaktifasi reaksi yang menyebabkan
CH3COOH terurai menjadi CH3COOH2+, sedangkan C2H5OH akan terurai menjadi
C2H5OC2H5 (eter) dan H2O, berdasarkan reaksi:
CH3COOH + H2SO4 HSO4- + CH3COOH2+
H2SO4

2C2H5OH

C2H5OC2H5 + H2O

Berdasarkan reaksi ini, ion CH3COOH2+ akan bereaksi membentuk ester dan didapatkan
pula H2SO4 yang kembali terbentuk.

H. PENUTUP
Kesimpulan
Belerang mempunyai 2 allotrop, yaitu rhombik dan monoklin
Belerang rhombik merupakan allotrop yang paling stabil, sedangkan monoklin stabil

pada suhu di atas 96oC.


Pada percobaan pertama yaitu modifikasi belerang, terbentuk kristal monoklin pada
percobaan pertama dan kedua, sedangkan pada percobaan keempat terbentuk kristal

rhombik
H2S merupakan gas yang tidak berwarna, dan berbau sangat menyengat (seperti

telur busuk)
H2S dapat diuji dengan kertas Pb asetat yang menunjukkan perubahan warna coklat

hitam
Dari percobaan sifat asam sulfat, asam sulfat memiliki sifat : sebagai oksidator, dan
pengering air.

Saran
Sebelum memulai praktikum, prosedur kerja harus dibaca dengan teliti agar tidak

terjadi kesalahan dalam praktikum


Dibutuhkan kehati-hatian pada saat mereaksikan senyawa yang bersifat toksik
maupun korosif dan juga pada proses pembakaran.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I


BILANGAN OKSIDASI NITROGEN
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan
: mempelajari reaksi redoks asam nitrat dan garam nitrat
mempelajari reaksi redoks nitrit, reaksi redoks amonia dan ion
amonia
Hari, tanggal
Tempat

: Rabu, 31 Maret 2010


: Laboratorium Kimia Dasar Lantai III, Fakultas MIPA,

Universitas Mataram

B. LANDASAN TEORI
Nitrogen adalah gas tak berwarna dan tak berasa yang menempati 78,1% atmosfer (persen
volume). Nitrogen dihasilkan dalam jumlah besar bersama oksigen dengan mencairkan
udara dan diikuti proses fraksionasi nitrogen. Nitrogen adalah gas inert di suhu kamar
namun dikonversi menjadi senyawa nitrogen dari proses fiksasi biologis dan melalui sintesis
menjadi ammonia di industri. Sebab dari keinertannya adlah tingginya energi ikatan rangkap
tiga NN (Saito, 2008: 66).
Nirotgen dapat berikatan kovalen dengan beberapa unsur bukan logam, terutama hidrogen
dan oksigen. Keelktronegatifan nitrogen lebih besar daripada hidrogen, tetapi lebih kecil
daripada oksigen. Akibatnya, bilangan oksidasi nitrogen jika bersenyawa dengan hidrogen
bertanda positif, sedangkan jika bersenyawa dengan oksigen bertanda negatif. Ammonia
(NH3) adalah senyawa nitrogen yang sangat penting karena merupakan bahan baku untuk
membuat senyawa nitrogen penting lainnya. Seperti urea dan nitrogen oksida. Ammonia
secara komersil dibuat dengan proses Haber, yaitu mencampur gas N2 dan H2 dengan
katalis besi (Syukri ,1999: 579).
H2(g) + 3H2(g)

Nitrogewn bias bertindak sebagai zat pengoksidasi dan zat pereduksi. Bila bertindak sebagai
zat pengoksidasi, nitrogen mencapai keadaan oksidasi +1, +2, +3, +4 dan +5. Keadaan
oksidasi yang paling umum adalah +3, -3 dan +5. Sifat kimia yang paling menyolok dari

nitrogen adalah kereaktifan nitrogen unsur. Ia tahan terhadap penggabungan dengan atomatom lain, karena afinitas bias dimiliki atom nitrogen yang satu terhadap sesamanya
(Keenan, 1999: 290).
Senyawa nitrogen dapat berada pada bilangan oksidasi +4, +3, +2, +1, 0, -1, dan -2 maupun
+5 dan +3. Beberapa senyawa diantaranya adalah: (1) Bilangan oksidasi +5; selain pada
asam nitrat dan nitrat, nitrogen dengan bilangan oksidasi +5 dijumpai dalam nitrogen
pentoksida, N2O5; (2) bilangan Oksidasi +4. Jika asam nitrat pekat direduksi oleh logam
dihasilkan
C. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
Pipet tetes

b. Bahan
Aquades (H2O)
Tissue
Kertas label
Korek api
D. PEMBAHASAN
Nitrogen adalah gas tidak berwarna dan tidak berasa yang menempati 78,1% atmosfer.
Nitrogen dapat berikatan kovalen dengan beberapa unsur bukan logam, terutama hidrogen
dan oksigen. Nitrogen dapat bertindak sebagai zat pengoksidasi dan zat pereduksi. Bila
bertindak sebagai zat pengoksidasi, nitrogen mencapai keadaan oksidasi -1, -2, dan -3. Bila
bereaksi sebagian zat pereduksi, diperoleh keadaan oksidasi +4, +3, +2, +1, 0, -1, -2, -3, dan
+5. Beberapa senyawa diantaranya, adalah: HNO3, N2O5, NO2, NaNO2, N2O, N2, NO,
NH3 dan lain sebaginya.
Pada praktikum ini terdiri dari 3 jenis percobaan, dengan masing-masing percobaan terdiri
atas beberapa eksperimen. Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari tentang reaksi redoks
asam nitrat dan garam nitrat serta mempelajari tentang reaksi nitrit, reaksi redoks ammonia
dan ion ammonia. Pada percobaan pertama terdiri dari 3 macam eksperimen. Untuk
eksperimen pertama terdiri dari 2 macam percobaan, yaitu mereaksikan antara asam nitrit
dengan logam Cu pada 2 keadaan konsentrasi larutan asam nitrat yang berbeda yaitu asam
nitrat pekat dan asam nitrat encer dengan konsentrasi 7M. pada proses (percobaan) pertama,

berdasarkan hasil pengamatan larutan yang semula bening setelah ditambahkan Cu larutan
berubah warna menjadi hijau dan logam Cu pun melebur. Warna hijau yang terbentuk
disebabkan oleh terjadinya proses oksidasi pada logam Cu menjadi Cu2+ yang kemudian
akan berikatan membentuk senyawa Cu(NO3)2 dengan ion NO3- (dari penguraian HNO3).
Pada proses ini logam Cu bereaksi secara sempurna. Hal ini dapat dilihat dari meleburnya
logam Cu secara menyeluruh. Pada proses ini selain perubahan warna, juga terdapat gas
yang terbentuk dari reaksi antara asam nitrat dengan logam Cu. Timbulnya gas dikarenakan
dalam proses reaksi terjadi penguraian secara reduksi-oksidasi yang menimbulkan energi
serta tekana yang cukup besar sehingga terbentuk sebagian produk dari nitrogen yang
berupa gas.
Pada proses kedua, digunakan asam nitrat encer dengan konsentrasi 7M yang direaksikan
dengan logam Cu. Berdasarkan hasil pengamatan, larutan yang semula bening setelah
dimasukkan logam Cu lama-kelamaan larutan berubah menjadi putih dan kemudian menjadi
biru kehijauan (biru muda). seperti pada proses pertama adanya perubahan warna warna
dikarenakan terjadi proses oksidasi Cu menjadi Cu2+ yang kemudian bereaksi dengan ion
NO3- membentuk senyawa Cu(NO3)2. Dalam proses ini warna larutan yang menjadi warna
biru kehijauan yang menyatakan terbentuknya larutan Cu(NO3)2 lebih lama dibandingkan
pada proses pertama. Hal ini dikarenakan konsentrasi HNO3yang digunakan jauh lebih
encer dibandingkan dengan konsentrasi HNO3 pada proses pertama. Pada proses ini juga
terbentuk gas tidak berwarna yang kemudian berubah warna menjadi coklat dengan timbul
sedikit bau seperti bau kaporit. Gas yang tidak berwarna ini menunjukkan bahwa dalam
proses ini terbentuk gas NO dari hasil reaksi sedangkan gas coklat yang terbentuk
disebabkan oleh terjadinya oksidasi secara capeat dari NO menjadi NO2. Pada proses ini
reaksi yang terjadi adalah:
3 Cu(s) + 8 HNO3(aq, encer) 3 Cu(NO3)2(aq) + 4 H2O(l) + 2 NO(g)
2 NO(g) + O2(g) 2 NO2(g)
Proses oksidasi NO menjadi NO2 terjadi di udara, yaitu bereaksi dengan oksigen
membentuk NO2. Jika dibandingkan dengan proses pertama, diperoleh hasil reaksi secara
langsung yang berbeda (karena untuk memperoleh hasil reaksi yang sama yaitu NO2
dibutuhkan 2 tahap yaitu bereaksi dengan o2), dikarenakan konsentrasi pada proses kedua
jauh lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi HNO3 pada proses pertama, sehingga

energi ikatan dan energi disosiasi yang dihasilkan jauh lebih rendah. Selain itu, pada proses
kedua logam Cu tidak seluruhnya bereaksi. Hal ini dapt dilihat dari logam Cu yang masih
tersisa dan tidak melebur seluruhnya pada reaksi tersebut.
Pada eksperimen 2, terdiri dari 2 proses, yaitu untuk proses pertama dilakukan pemanasan
pada padatan KNO3. Berdasarkan hasil pengamatan terbentuk gas berwarna putih dan
larutan bening dari padatan putih KNO3 yang meleleh. Gas yang terbentuk berwarna putih
dan larutan bening dari padatan putih KNO3 yang meleleh. Gas yang terbentuk sebenarnya
tidaklah berwarna, hanya saja terlihat berwarna putih pada dinding tabung. Gas yang tidak
berwarna ini merupakan gas O2 dari dekomposisi termal KNO3, sedangkan larutan bening
merupakan KNO2 yang terbentuk dari KNO3. Reaksi yang terjadi adalah:
Pada proses kedua yaitu dilakukan pemanasan padatan Cu(NO3)2. Berdasarkan hasil
pengamatan Cu(NO3)2 yang berwarna biru tua lama-kelamaan meleleh dan berubah warna
menjadi hijau dengan bagian dasarnya berwarna hitam. Terjadinya perubahan warna
dikarenakan terjadinya dekomposisi termal dengan bantuan O2. Sedangkan warna dasar
yang berubah menjadi hitam menunjukkan adanya padatan CuO yang mulai terbentuk dari
dekomposisi Cu(NO3)2 tersebut. Selain terbentuknya CuO, terdapat pula gas tak berwarna
(berwarna putih) yang mana merupakan perpaduan dari gas NO2 dan O2 dari hasil
dekomposisi. Karena seharusnya NO2 memiliki warna coklat hanya saja karena adanya gas
O2 maka terbentuknya warna coklat sangatlah sedikit. Rekasi yang terjadi adalah:
Pada eksperimen ketiga, yaitu reaksi antara HNO3, NaOH encer dan logam Al yang
kemdian dipanaskan. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh gas tak berwarna, dan ketika
gas diuji dengan kertas lakmus merah, warna kertas berubah menjadi biru. Pada eksperimen
ini terjadi reaksi:
Reaksi di atas menunjukkan bahwa untuk proses pertama produk berupa AlO3 akan
terbentuk jika tidak dilakukan proses pemanasan. Akan tetapi karena campuran dipanaskan
maka ion Al3+ akan cenderung berikatan denagn OH- membentuk kompleks [al(OH)4]-.
Reaksi di atas merupakan reaksii redoks, di mana Al mengalami proses oksidasi 0 menjadi
-3. Proses ini berlangsung dalam suasana basa karena adanya ion OH- dari reaksi tersebut.
Pada percobaan selanjutnya, yaitu reaksi redoks asam nitrit, digunakan H2SO4 encer yang
didinginkan dengan es batu selama 5 menit sebelum direaksikan dengan NaNO2. Proses
pendinginan dilakukan terhadap H2SO4 encer untuk mengoptimalkan hasil reaksi adalah

agar diperoleh HNO3 100% dan tidak terdapat zat reaktan yang tersisa. Karena
kecenderungan bahwa H2SO4 yang bereaksi dengan NaNO2 berlangsung secara reversible
sehingga hasil reaksi tidak maksimal. Berdasarkan hasil pengamatan, terbentuk larutan
keruh dari semula bening yang kemidian larutan putih keruh itu berubah lagi menjadi
bening dan terdapat gelembung dengan bagian atas permukaannya berwarna coklat. Dalam
proses ini larutan yang berwarna bening menjadi keruh (putih keruh) merupakan asam nitrit,
sedangkan gelembung yang terbentuk merupakan Na2SO4 yang terbentuk dari proses
disosiasi/ penguraian secara sempurna. Terbentuknya warna coklat di bagian atas permukaan
tabung merupakan suatu hal yang dapat menunjukkan adanya proses disosiasi membentuk
senyawa HNO2 dan Na2SO4.
Pada proses selanjutnya larutan hasil reaksi tersebut dibagi 3 dengan 3 macam perlakuan.
Untuk perlakuan pertama yaitu larutan pada tabung I dibakar sehingga dihhasilkan gas
berwarna coklat dengan larutan bening dan terdapat gelembung yang naik ke permukaan.
Dalam prosesnya asam nitrit (HNO2) dari hasil reaksi akan terdekomposisi secara termal
dengan bantuan O2 sehingga diperoleh prosuk berupa gas NO, HNO3(aq) dan H2O. dimana
reaksi yang terjadi adalah:
Reaksi ini dapat pula ditulis:
Berdfasarkan persamaan reaksi menun jukkan bahwa reaksi yang terjadi merupakan reaksi
disproporsionasi.
E. PENUTUP
a. Kesimpulan