Anda di halaman 1dari 26

Referat

UPAYA PEMBERANTASAN INFEKSI SALURAN


PERNAPASAN AKUT MELALUI PERAN AKTIF KADER
POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

Oleh
Didiek Pangestu Hadi
I1A001057

Pembimbing
d r. F a r i d a H e r i y a n i

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)


FA K U LTA S K E D O K T E R A N
U N I V E R S I TA S L A M B U N G M A N G K U R AT
BANJARBARU
April 2008

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI......................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................

1. Latar Belakang........................................................................................

2. Permasalahan..........................................................................................

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN.............................................................

1. Definisi ..................................................................................................

2. Epidemiologi..........................................................................................

3. Etiologi...................................................................................................

4. Klasifikasi...............................................................................................

5. Diagnosis................................................................................................

6. Faktor Resiko .........................................................................................

7. Pengobatan..............................................................................................

8. Pemberantasan ISPA..............................................................................

14

BAB III KESIMPULAN....................................................................................

21

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 L a t a r B e l a k a n g
Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih merupakan salah
satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan tingginya
angka kesakitan dan kematian pada balita karena ISPA. Di negara berkembang
setiap tahun kira-kira 12 juta anak meninggal sebelum ulang tahunnya yang
kelima dan sebagian besar terjadi sebelum tahun pertama kehidupanya. Tujuh dari
sepuluh kematian itu disebabkan ISPA.1
Di Indonesia penyakit infeksi terutama ISPA masih merupakan penyakit
utama, baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan
bawah.2 ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien disarana
kesehatan. Sebanyak 40%-60% kunjungan berobat di Puskesmas dan 15%-30%
kunjungan berobat dibagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit disebabkan
oleh ISPA.1,2
ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Episode penyakit
batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan sebesar 3 sampai 6 kali per
tahun. Ini berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak
3 sampai 6 kali setahun.1
Sudarti tahun 1999 melaporkan bahwa rendahnya pengetahuan masyarakat
berpengaruh pada tindakan masyarakat dalam pencarian pengobatan yang tepat.
Pada sisi lain, rendahnya pengetahuan petugas kesehatan tentang ISPA berakibat

rendahnya mutu pelayanan kesehatan yang diberikan. Hanya 4% dari yang


membawa anaknya berobat kepada petugas kesehatan yang mendapat penjelasan
yang memadai tentang ISPA.2
Disamping itu hasil penelitian yang dilakukan Leida tahun 1997 di
Kabupaten Cianjur menunjukkan pula bahwa kemampuan petugas dalam
menyampaikan

pesan

masih

kurang

yakni

hanya

20%

petugas

yang

menyampaikan pesan secara benar. Laporan yang sama disampaikan oleh


Praptiningsih tahun 2000 bahwa petugas yang memahami komunikasi ISPA hanya
24,75%.2
Di Puskesmas Landasan Ulin Banjarbaru sepanjang tahun 2007 penyakit
ISPA menduduki peringkat pertama dari 10 penyakit terbanyak. Selain itu juga
pada periode Januari sampai Maret tahun 2008 ISPA masih merupakan kasus
terbanyak dari semua kunjungan. Di Puskemas Landasan Ulin Banjarbaru
penderita ISPA ditemukan hanya oleh petugas puskesmas dan tidak ada yang
ditemukan oleh kader posyandu. Peran aktif dari kader posyandu masih kurang,
sehingga salah satu upaya yang diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan
ISPA adalah dengan meningkatkan peran aktif kader posyandu.
1.2 P e r m a s a l a h a n
Bagaimana upaya menurunkan angka kesakitan ISPA melalui peran aktif
kader posyandu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan Pneumonia


Istilah ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan
Akut dan mulai diperkenalkan pada tahun 1984 setelah dibahas dalam
lokakarya Nasional ISPA di Cipanas, istilah ini merupakan padanan istilah
bahasa Inggris Acute Respiratory infection (ARI). Program Pemberantasan
Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu
pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat
beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit
batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian
atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia.1,3,4
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut adalah penyakit infeksi yang
menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari
hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan
adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura 1,4
Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari,
walaupun beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA dapat
berlangsung lebih dari 14 hari, misalnya pertusis.5
ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak kecil
terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan

lingkungan yang tidak hygiene. Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena
meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya terlalu
besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya
atau berlebihannya pemakaian antibiotik 4
Pneumonia
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru
paru (alveoli). Terjadinya Pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan
terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut bronkopneumonia.
Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA semua bentuk Pneumonia
(baik Pneumonia maupun bronkopneumonia) disebut Pneumonia saja.1,2
II.2 Etiologi
1) Etiologi ISPA
Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan
riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptokokus.
Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium.
Virus Penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus,
Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.1
Infeksi saluran pernapasan bagian atas yang disebabkan oleh virus,
sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim
dingin.4
2) Etiologi Pneumonia
Etiologi Pneumonia pada balita sukar untuk ditetapkan karena dahak
biasanya sukar diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi

belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya


bakteri sebagai penyebab Pneumonia. Hanya biakan dari aspirat paru serta
pemeriksaan spesimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu
penetapan etiologi Pneumonia. Meskipun pemeriksaan spesimen aspirat
paru merupakan cara yang sensitif untuk mendapatkan dan menentukan
bakteri penyebab Pneumonia pada balita akan tetapi fungsi paru merupakan
prosedur yang berbahaya dan bertentangan dengan etika, terutama jika
hanya dimaksudkan untuk penelitian. Oleh karena alasan tersebut diatas
maka penetapan etiologi Pneumonia di Indonesia masih didasarkan pada
hasil penelitian di luar Indonesia..1
II.3 Gejala dan Klasifikasi ISPA
Tabel 1. Manifestasi Klinis ISPA7

ISPA RINGAN
Batuk

ISPA SEDANG
Tanda ISPA ringan

Pilek

Serak

Demam -/+

Wheezing

Congekan . 2 minggu

Demam

Nafas

cepat

39oC

atau sedang

>

50x/menit, (tanda utama)

atau

Chest Indrawing

Stridor

Tak mampu dan tak

lebih

tanpa sakit telinga

ISPA BERAT
Tanda ISPA ringan

mau makan

Sakit Telinga

Sianosis

Campak

Nafas Cuping Hidung

Kejang

Dehidrasi

Kesadaran Menurun

Selaput Difteri

Klasifikasi ISPA pada Balita


Kriteria untuk menggolongkan pola ISPA pada balita adalah dengan gejala
batuk dan atau kesukaran bernapas.
Dalam penentuan klasifikasi dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok
untuk umur 2 bulan -<5 tahun dan kelompok untuk umur < 2 bulan.

Untuk kelompok umur 2 bulan -<5 tahun klasifikasi dibagi atas :


Pneumonia berat, Pneumonia dan bukan Pneumonia.

Untuk kelompok umur <2 bulan klasifikasi dibagi atas : Pneumonia berat
dan bukan Pneumonia. Dalam pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit
(MTBS) klasifikasi pada kelompok umur <2 bulan adalah infeksi yang
serius dan infeksi bakteri lokal.

Klasifikasi Pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran
bernapas disertai sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
(chest indrawing) pada anak usia 2 bulan -< 5 tahun. Untuk kelompok umur <
2 bulan diagnosis Pneumonia berat ditandai dengan adanya napas cepat (fast
breathing), dan tarikan kuat pada dinding dada bagian bawah kedalam (severe
chest indrawing).
Klasifikasi Pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran
bernapas disertai adanya napas sesuai umur, batas napas cepat (fast brething)
pada anak usia < 2 bulan 60 kali per menit, pada usia 2 bulan -<1 tahun 50 kali
per menit dan 40 kali per menit untuk anak usia 1-<5 tahun.
Klasifikasi bukan-Pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan
batuk yang tidak menunjukan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak

menunjukan adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam. Dengan


demikian klasifikasi bukan Pneumonia mencakup penyakit-penyakit ISPA lain
diluar Pneumonia seperti batuk pilek bukan Pneumonia (common cold,
pharyngitis, tonsilitis, otitis).1,4
II.4 Cara Penularan dan Faktor Resiko
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara
pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat
kesaluran pernapasannya.4
Penularan ISPA melalui udara yang tercemar masuk ke dalam tubuh
melalui saluran pernafasan. Adanya bibit penyakit di udara umumnya
berbentuk aerosol yakni suatu suspensi yang melayang di udara, dapat
seluruhnya berupa bibit penyakit atau hanya sebagian daripadanya. Adapun
bentuk aerosol dari penyebab penyakit tersebut ada 2, yakni: droplet nuclei
(sisa dari sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan dari tubuh secara
droplet dan melayang di udara); dan dust (campuran antara bibit penyakit
yang melayang di udara).5,6
Faktor lingkungan rumah seperti ventilasi juga berperan dalam
penularan ISPA, dimana ventilasi dapat memelihara kondisi atmosphere yang
menyenangkan dan menyehatkan bagi manusia. Suatu studi melaporkan
bahwa upaya penurunan angka kesakitan ISPA berat dan sedang dapat
dilakukan di antaranya

dengan membuat ventilasi yang

cukup

untuk

mengurangi polusi asap dapur dan mengurangi polusi udara lainnya


termasuk asap rokok.5,6

Faktor lain yang mempengaruhi ISPA adalah merokok. Satu batang


rokok dibakar maka akan mengeluarkan sekitar 4000 bahan kimia seperti
nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrogen cianida, amonia,
acrolein, acetilen, benzoldehide, urethane, methanol,

conmarin,

4-ethyl

cathecol, ortcresor peryline dan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian Surjadi,


ISPA yang terjadi pada ibu dan anak berhubungan dengan penggunaan bahan
bakar untuk memasak dan kepadatan hunian rumah, demikian pula terdapat
pengaruh pencemaran di dalam rumah terhadap ISPA pada anak dan orang
dewasa. Pembakaran pada kegiatan rumah tangga dapat menghasilkan
bahan pencemar antara lain asap, debu, grid (pasir halus) dan gas (CO dan
NO). Demikian pula pembakaran obat nyamuk, membakar kayu di dapur
mempunyai efek terhadap kesehatan manusia terutama Balita baik yang
bersifat akut maupun kronis. Gangguan akut misalnya iritasi saluran
pernafasan dan iritasi mata.5,6
II.5 Pengobatan ISPA
Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus
yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program
(turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik
dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA).4

Tabel 2. Bagian Klasifikasi dan Tatalaksana ISPA untuk Bayi Kurang dari 2 Bulan
8,9

Tanda

Bila

ada

tanda-tanda

bahaya lihat bagan tanda bahaya

Tarikan dinding dada ke

(60 x/mnt

dalam yang kuat

Klasifikasi
Pengobatan

Nafas Cepat (> 60 x/menit)


PNEUMONIA BERAT

Kirim segera ke rumah

Tak

ada

tarikan

dinding dada

BUKAN PNEUMONIA
Beri nasehat cara perawatan di
rumah:

sakit

Tak ada nafas cepat

Beri antibiotika satu dosis

Jaga bayi agar tidak


kedinginan

(bila tidak mungkin dirujuk)

Teruskan

pemberian

ASI lebih sering

Bersihkan hidung bila


mampet

Anjurkan

untuk

kembali

kontrol bila

Keadaan

bayi

memburuk

Nafas menjadi cepat

Bayi sulit bernafas

Bayi

sulit

untuk

minum

10

Tabel 3. Bagian Klasifikasi dan Tatalaksana ISPA pada Anak Umur 2 bulan
sampai 5 tahun 8,9
Tanda

Bila ada tanda bahaya


lihat bagan tanda bahaya

tarikan

dinding

cepat

ada

ke dalam

Disertai
nafas

Bila ada wheezing

Tidak

tarikan dinding dada

dada ke dalam

Tarikan dinding dada


ke dalam

ada

Tidak

>

Tidak ada nafas


cepat

>

50x/mnt

berulang lihat pengobatan

50x/mnt

untuk

untuk usia 2 bulan -<

wheezing

usia 2 bulan - < 1

1 tahun , > 40x/mnt

tahun, > 40 x/mnt

utrk usia 1 thn - 5thn

untuk usia 1 thn5thn

Tarikan
dinding dada ke
dalam

Klasifikasi PNEUMONIA BERAT


Kirim segera
Pengobatan

PNEUMONIA
ke

Rumah Sakit

Nasihati ibu

untuk tindakan

Beri Antibiotik

perawatan di

Bila ada wheezing,

rumah

obati

BUKAN PNEUMONIA

Beri

Bila batuk > 30


hari rujuk

Obati
lain (bila ada)

Nasehati

antibiotik selama 5

untuk

hari

rumah

Anjuran ibu

untuk control 2
hari atau lebih
cepat bila keadaan

penyakit

ibu

perawatan

di

Bila

demam

Bila

ada

obati

wheezing obati

memburuk

Bila demam
obati

11

Bila ada
wheezing obati

Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan


seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik,
Sedangkan pada penderita pneumoni bila tidak diobati dengan antibiotik, dapat
mengakibat kematian.4
A. Pnemonia Berat
Dirawat di rumah sakit. Diberikan antibiotik parenteral, oksigen dan
sebagainya. Bila penderita tidak dapat atau tidak mau dirujuk, maka petugas
kesehatan dapat memberikan perawatan yang perlu sebagai berikut :10
1. Diobati dengan antibiotik yang efektif
Anak umur 2 bulan sampai 5 tahun :
Diberikan khloramfenikol intramuskuler kepada seorang anak yang
tidak mampu minum. Diberikan selama 5 hari dengan takaran dan frekuensi
yang sesuai.
Bila khloramfenikol suntikan tidak tersedia, yang terbaik adalah
khloramfenikol oral yang diminumkan atau melalui sonde lambung.
Pemberian khloramfenikol oral dosisnya sama dengan khloramfenikol
suntikan.
Bila khloramfenikol dalam bentuk apapun tidak tersedia, anak
diberikan antibiotik untuk pnemonia yang dipakai di puskesmas (misal
suntikan prokain penisilin, tablet kotrimoksasol, ampisilin, amoksisilin).
Diberikan selama 5 hari dengan dosos dan frekuesi yang telah ditetapkan. Bila
anak muntah-muntah diulangi dosis itu.

12

Bayi Umur kurang 2 bulan :


Diberikan prokain penisilin dan gentamisin intramuskuler selama 5
hari dengan takaran dan frekuensi yang telah ditetapkan.
Bila prokain penisilin dan gentamisin intramuskuler tidak tersedia,
diberikan antibiotik untuk pnemonia yang digunakan di puskesmas secara oral
atau dengan sonde lambung (ampisilin, amoksisillin, kotrimoksasol).
Diberikan selama 5 hari.
Takaran antibiotik intramuskuler dalam keadaan darurat :
Anak umur 2 bulan sampai 5 tahun :
Khloramfenikol intramuskuler 25 mg per kg BB setiap 6 jam (larutkan 1 g
dengan 4 ml air steril dalam vial).
Bayi umur kurang dari 2 bulan :
Prokain penisilin : 50.000 unit per kg BB 1 kali sehari ditambah
Gentamisin intramuskuler : 2,5 mg per kg BB/hari dengan frekuensi
pemberian sebagai berikut :

Umur < 1 minggu setiap 12 jam

Umur 1 minggu 2 bulan setiap 8 jam

2. Dijaga agar bayi selalu hangat


Bayi kecil dan sakit cepat kehilangan panasnya, terutama bila udara
dingin. Rabalah tangan-tangan dan kaki si bayi. Mereka harus hangat.
Menjaga bayi yang sangat kecil agar selalu hangat adalah sangat penting.
Untuk mempertahankan suhu tubuh, jagalah agar tidak basah dan
bungkuslah dengan baik. Bungkusan harus longgar agar terdapat udara antara

13

si bayi dan selimut yang hangat dan kering itu. Bila mungkin, usahakan agar
bayi selalu berada di samping tubuh ibunya. Sebuah topi atau tutup kepala
akan membantu mencegah kehilangan panas dari kepalanya. Jagalah kamar
agar tetap hangat bila mungkin.
3. Membersihkan cairan hidung
Bila hidung tersumbat, cairan hidung diisap dengan hati-hati. Hidung
yang tersumbat dapat mengganggu pemberian makan.
4. Diobati demam, bila ada
Demam meningkatkan pemakaian oksigen. Untuk umur 2 bulan
5 tahun mengatasi demam dengan memberikan parasetamol setiap 6 jam.
5. Mengatur pemberian cairan secara hati-hati
Anak-anak dengan pnemonia berat atau penyakit lain yang sangat berat
dapat timbul kelebihan cairan dengan mudah. Mereka jangan diberikan cairan
terlalu banyak.
Sebaliknya, anak-anak dengan pnemonia atau penyakit sangat berat
lainnya sering kehilangan cairan selama menderita infeksi pernafasan terutama
bila terdapat demam.
Mereka akan mengalami shock bila tidak mendapatkan cairan yang
cukup. Oleh karena itu, cairan harus diberikan secara hati-hati.
Ibu dianjurkan untuk meneruskan pemberian air susunya. Bila anak
sakit terlalu parah, ibu dapat memeras keluar air susunya dan memberikan
kepada anak dengan gelas dan sendok dengan hati-hati.

14

Bila anak tidak mampu minum, dapat dimasukkan melalui sonde


lambung. ASI atau susu formula untuk berat badan : < 10 kg = 4 ml/kg/jam;
10 20 kg =

5 6 ml/kg/jam.

6.

Pnemonia

Diberi obat kotrimoksasol per oral. Bila penderita tidak mungkin diberi
kotrimoksasol, atau ternyata dengan pemberian kotrimoksasol keadaan penderita
menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti kotrimoksasol. Antibiotik
pengganti kotrimoksasol yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain. Bila
penderita memburuk menjadi pnemonia berat, rujuklah ke RS.10
7.

Bukan Pnemonia (batuk pilek biasa)

Diberikan perawatan di rumah : untuk batuk dapat digunakan obat batuk


tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan
seperti codein, dekstrometorfan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun
demam yaitu parasetamol.10
Tabel 4. Jenis dan Dosis Obat untuk Pengobatan ISPA10

Umur
2 bulan - 6 bulan
6 bulan 3 tahun
3 tahun 5 tahun

Dosis per hari


Parasetamol 500 mg
Kotrimoksasol 480 mg
4 x 1/8 tablet
4 x tablet
4 x tablet

2 x tablet
2 x tablet
2 x 1 tablet

Catatan :
Kotrimoksasol diberikan selama 5 hari
Dosis kotrimoksasol berdasarkan berat badan ialah 48 mg/kg BB/hari
Bila digunakan kotrimoksasol tablet pediatrik atau sirup maka perlu diketahui
bahwa :

15

1 tablet dewasa = 4 tablet pediatrik (1 tablet pediatrik = 120 mg)


= 2 sendok takar (10 ml) srup
Dosis parasetamol berdasarkan berat badan adalah 10 mg/kg BB/kali
Antibiotik pengganti kotrimoksasol
Ada 3 jenis antibiotik pengganti kotrimoksasol yaitu: amoksisilin,
ampisilin dan penisilin prokain.10
Tabel 5. Dosis pemberian amoksisilin/ampisilin10

Umur
2 bulan 6 bulan
6 bulan 3 tahun
3 tahun 5 tahun

Dosis tiap kali pemberian


Kapsul/tablet 250 mg
Sirup 125 mg/5 ml
1/4
1/2
1

sendok (2 ml)
1 sendok ( 5 ml)
2 sendok (10 ml)

Catatan :
-

Ampisilin diberikan 4 x / hari selama 5 hari

Amiksilin diberikan 3 x / hari selama 5 hari

Prokain penisilin
-

Diberikan sekali sehari selama 5 hari, dengan suntikan intramuskuler

Dosis: - 2 bulan 6 bulan

300.000 unit.

- 6 bulan 3 tahun

600.000 unit

- 3 tahun 5 tahun

750.000 unit

Obat Batuk
Dianjurkan pemberian obat batuk tradisional atau ekspektoran seperti obat
batuk

putih

(OBP),

yang

tidak

mengandung

antihistamin,

kodein,

dekstrometorfan.10
Contah obat tradisional

16

Jeruk nipis sendok teh, dicampur dengan kecap atau madu sendok
taeh, diberikan 3 kali sehari.10
II.6 Pemberantasan ISPA
Tugas pemberantasan penyakit ISPA merupakan tanggung jawab bersama.
Kepala puskesmas bertanggung jawab bagi keberhasilan pemberantasan di
wilayah kerjanya. Sebagian besar kematian akibat penyakit pnemonia terjadi
sebelum penderita mendapat pengobatan petugas puskesmas. Karena itu peran
serta aktif masyarakat melalui aktifitas kader akan sangat membantu menemukan
kasus-kasus pnemonia yang perlu mendapat pengobatan antibiotik dan kasuskasus pnemonia berat yang perlu segera dirujuk ke rumah sakit.10
Berikut ini ialah peran yang diharapkan dari dokter puskesmas,
perawat/paramedis/puskesmas/Pustu serta kader kesehatan.10
Dokter puskesmas
Membuat

rencana

aktifitas

pemberantasan

ISPA sesuai

dengan

dana/sarana, dan tenaga yang tersedia.


Melakukan supervisi dan memberikan bimbingan penatalaksanaan standar
kasus-kasus ISPA kepada perawat/paramedis.
Melakukan pemeriksaan/pengobatan kasus-kasus pnemonia berat/penyakit
dengan tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat/paramedis dan
merujuknya ke rumah sakit bila dianggap perlu.
Memberikan pengobatan kasus pnemonia berat yang tidak bisa dirujuk ke
rumah sakit.

17

Bersama dengan staf puskesmas memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu


yang mempunyai anak balita perihal pengenalan tanda-tanda penyakit
pnemonia serta tindakan penunjang di rumah.
Melatih semua petugas kesehatan di wilayah puskesmas yang diberi
wewenang mengobati penderita penyakit ISPA.
Melatih kader untuk bisa mengenal kasus pnemonia serta dapat menyuluh
ibu-ibu perihal penyakit ini.
Memantau aktifitas pemberantasan penyakit ISPA, mendeteksi hambatan
yang ada serta menanggulanginya termasuk aktifitas pencatatan dan
pelaporan serta pencapaian target.
Paramedis Puskesmas/Pustu
Melakukan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA sesuai dengan
petunjuk yang ada.
Melakukan konsultasi kepada dokter puskesmas unruk kasus-kasus ISPA
tertentu seperti pnemonia berat, penderita dengan wheezing, stridor.
Bersama dokter atau dibawah petunjuk dokter melatih kader
Memberikan penyuluhan terutama kepada ibu-ibu.

Kader kesehatan :10


Kader adalah para relawan warga masyarakat yang mempunyai kemauan
dan kemampuan bekerja secara sukarela dan telah mengikuti latihan kader di
bidang kesehatan untuk membantu program kesehatan.

18

Dilatih untuk bisa membedakan kasus pnemonia (Pnemonia berat dan


pnemonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pnemonia.
Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa
(bukan pneminia) serta penyakit pnemonia kepada ibu-ibu serta perihal
tindakan yang dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit ini.
Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan
pnemonia) dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional/obat batuk
putih.
Merujuk kasus pnemonia berat ke puskesmas?RS terdekat.
Bagi kader-kader di daerah terpencil (atau bila cakupan layanan
puskesmas tidak menjangkau daerah tersebut) dapat diberi wewenang
mengobati kasus-kasus pnemonia (tidak berat) dengan antibiotik
kotrimoksasol.
Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuknya.
Latihan kader merupakan kegiatan yang penting dalam program P2 ISPA,
sebab kader inilah yang diharapkan mempunyai peranan besar dalam membantu
menemukan kasus pnemonia di lapangan. Program tidak akan mencapai hasil
maksimal apabila masyarakat, terutama kader belum mampu membedakan apakah
seorang balita yang mengalami batuk, menderita pnemonia atau bukan. Oleh
karena itu meteri yang paling utama pada pelatihan kader adalah hal-hal praktis
yang memberikan ketrampilan dalam mendiagnosa pnemonia, membedakan batuk
pilek biasa (bukan pnemonia) dari pnemonia serta segi perawata di rumah.
Kegiatan pelatihan juga harus mencakup materi penyuluhan kesehatan masyarakat

19

tentang ISPA, sehingga kelak masyarakat bisa memanfaatkan kader yang telah
dilatih.10
Tujuan pelatihan kader :
Setelah selesai pelatihan diharapkan kader :10
1. Mampu mendiagnosa pnemonia pada balita serta merujuk ke fasilitas
kesehatan.
2. Mampu memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang batuk pilek yang
meliputi usaha perawatan di rumah, kewaspadaan akan tanda-tanda
penyakit pnemonia.
3. Mampu mengobati batuk pilek yang bukan pnemonia.
4. Untuk kader tertentu : diberikan kemampuan mengobati pnemonia dengan
obat antibiotik kotrimoksasol.
5. Mampu mencatat kasus batuk yang ditemukan.
Kader tertentu ialah : kader yang juga akan dilatih untuk mengobati pnemonia.
Ada beberapa ketentuan untuk kader tertentu yaitu :10
a. Latar belakang pendidikan kader, kalau mungkin tamat SLTP, minimal
bisa membaca dan menulis.
b. Selesai pelatihan, kader benar mampu melaksanakan tugasnya.
c. Diingatkan untuk tidak menggunakan tablet kotrimoksasol bagi kasus lain
seperti diare, batuk pilek biasa.
Pencatatan dan pelaporan kasus :10
a. Kader dilatih untuk mencatat kasus yang diperiksa, catatan ini disimpan di
Posyandu.

20

b. Petugas puskesmas harus mengumpulkan catatan kader yang disimpan di


posyandu secara berkala.
Berikut ini hal-hal yang dilakukan dalam pelatihan kader : 10
1. Memberikan penyuluhan mengenai pengetahuan tentang batuk serta
pnemonia pada balita.
Bahan :
Buku pegangan kader dengan judul Penanggulangan Pnemonia pada balita
Materi yang diberikan :
Pengertian pnemonia, cara pemeriksaan anak yang batuk, indikasi rujukan,
cara penyuluhan dan cara pencatatan.
Waktu :
Dilakukan selama 30 menit
2. Peragaan kasus dan cara pemeriksaan penderita pnemonia pada balita
Alat peraga :
- Video kaset
- Monitor (TV)
- Timer atau jam tangan
Kalau tidak ada video bisa langsung hanya menggunakan timer atau jam
tangan.
Materi :
- Menentukan ada tidaknya pnemonia pada balita yang batuk dengan :
- Menghitung pernapasan
- Melihat tarikan dinding dada kedalam

21

Metode :
- Video kaset diputar, ditunjukkan pernapasan normal, napas cepat, dan
tarikan dinding dada kedalam
- Latihan menghitung napas dengan melihat kasus dalam video. Dihitung
selama 1 menit penuh dengan memakai timer
- Menentukan ada tidaknya tarikan dinding dada kedalam dengan melihat
video.
Waktu :
Dilakukan selama 1 jam
2. Praktek pemeriksaan dan penatalaksanaan kasus beserta pencatatannya.
Peraga yang dibutuhkan :
Kasus balita yang sakit batuk
- Timer
- Tablet parasetamol
- Alat tulis/formulir pencatatan kader, formulir rujukan.
Materi :
- Memeriksa dan mengobati kasus batuk pilek
- Mengobati kasus bukan pnemonia
- Untuk kader tertentu dilatih juga mengobati kasus pnemonia (tidak
berat).
- Merujuk kasus pnemonia berat.
- Mencatat kasus pnemonia berat
- Mencatat kasus-kasus yang diperiksa dan yang dirujuk.

22

Waktu :
Dilakukan selama 2 Jam
Metode :
Peserta diminta untuk memeriksa kasus yang ada yaitu dengan cara melihat
gerakan dinding dada bagian bawah apakah ada atau tidak tarikan dinding
dada. Perlu diingat bahwa cara memeriksa yang baik ialah dengan ibu
memangku anaknya. Usahakan agar selama pemeriksaan anak tidak
menangis/meronta.

BAB III
KESIMPULAN

23

Dalam upaya menurunkan angka kesakitan, perlu dilakukan promosi


penanggulangan ISPA balita yang ditujukan pada masyarakat (terutama ibu
balita), tidak cukup hanya dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan
saja. Melalui peran aktif kader posyandu, diharapkan dapat membantu petugas
kesehatan dalam mempromosikan penanggulangan ISPA balita kepada ibu balita
sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan ISPA. Salah satu cara
untuk meningkatkan peran aktif kader posyandu dengan mengadakan pelatihan
kader posyandu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut


untuk Penanggulangan Pnemonia pada Balita. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta 2002.
2. Anonim. Pedoman Promosi Penaggulangan Pnemonia Balita. Direktorat
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta 2002.

24

3. Hasan R, Alatas H, ed. Pneumonia. Dalam : Buku Kuliah Ilmu Kesehatan


Anak Jilid 2. Bagian FKUI, Jakarta ; 2000 : 1228-1233
4. Anonim. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut
untuk Penanggulangan Pnemonia pada Balita dalam Pelita IV. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta 1996.
5. Solomon W. Penyakit Pernapasan restriktif. Dalam : Anugerah P (Alih
Bahasa). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4 Buku 1.
EGC, Jakarta ; 1994 : 710
6. Nelson, W. Pneumonia. Dalam : Wahab S (alih Bahasa). Nelson Ilmu
Kesehatan Anak Edisi 15 Volume 2. EGC, Jakarta ; 2000 : 883-889
7. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985, Buku Ilmu Kesehatan Anak
Jilid 3. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI Jakarta.
8. Tim Penyusun Pedoman Kerja Puskesmas. Pedoman Kerja Puskesmas
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1999
9. Tim Penyusun departemen Kesehatan. 1987. Buku Paket Pemberantasan
Penyakit Menular dan Penyehatan lingkungan Pemukiman (PPM dan PLP)
bagi pekarya Kesehatan Puskesmas cetakan ke 4. Pusat pendidikan dan
Latihan Pegawai Departemen Kesehatan RI Jakarta
10. Anonim. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut
Departemen Kesehatan RI. Jakarta 1992.

25