Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH MATEMATIKA TEKNIK

PERSAMAAN REAKSI PADA REAKTOR

Oleh:
Arina Hidayati

(1314004)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG
2014

KATA PENGANTAR

Kami mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena dengan berkat dan rahmat-Nya maka penyusunan makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah yang mengulas jurnal Coupling of Steam and Dry Reforming of
Methane in Catalytic Fluidized Bed Membrane Reactors ini bertujuan untuk
memenuhi pembuatan tugas mata kuliah matematika teknik. Secara khusus, tujuan
dalam penulisan makalah ini adalah untuk lebih mendalami serta memberikan
informasi mengenai reaksi jamak kompleks Coupling of Steam and Dry
Reforming of Methane pada Fluidized Bed Membran Reactor. Dalam
penyelesaian makalah ini, kami mengalami beberapa kesulitan, terutama
disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan dan pengalaman. Namun, berkat
bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan meskipun mungkin masih banyak kekurangan. Karena itu,
sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Ibu Fadhliyah Nilna Minah yang telah memberikan kepercayaan dan
kesempatan untuk membuat makalah ini, serta memberikan pengarahan dan
bimbingannya kepada kami;
2.
Semua pihak yang telah membantu, yang tidak dapat disebutkan satu per
satu.
Kami berharap makalah yang sederhana ini dapat menambah pengetahuan
pembaca. serta bermanfaat bagi rekan mahasiswa dan semua kalangan
masyarakat. Apabila terdapat kekurangan kami mengharapkan adanya kritik dan
saran yang positif dan bersifat membangun agar makalah ini dapat menjadi lebih
baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.
Malang April 2014

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Reaksi jamak
Reaktor kimia adalah suatu bejana tempat berlangsungnya reaksi kimia.
Rancangan dari reaktor ini tergantung dari banyak variabel yang dapat dipelajari
di teknik kimia. Perancangan suatu reaktor kimia harus mengutamakan efisiensi
kinerja reaktor, sehingga didapatkan hasil produk dibandingkan masukan (input)
yang besar dengan biaya yang minimum, baik itu biaya modal maupun operasi.
Tentu saja faktor keselamatan pun tidak boleh dikesampingkan. Biaya operasi
biasanya termasuk besarnya energi yang akan diberikan atau diambil, harga bahan
baku, upah operator, dll. Perubahan energi dalam suatu reaktor kimia bisa karena
adanya suatu pemanasan atau pendinginan, penambahan atau pengurangan
tekanan, gaya gesekan (pengadukdan cairan), dll.
Ada dua jenis utama reaktor kimia:
- Reaktor tangki atau bejana
- Reaktor pipa
Kedua jenis reaktor dapat dioperasikan secara kontinyu maupun partaian/batch.
Biasanya, reaktor beroperasi dalam keadaan ajeg namun kadang-kadang bisa juga
beroperasi secara transien. Biasanya keadaan reaktor yang transien adalah ketika
reaktor pertama kali dioperasikan (mis: setelah perbaikan atau pembelian baru) di
mana komponen produk masih berubah terhadap waktu. Biasanya bahan yang
direaksikan dalam reaktor kimia adalah cairan dan gas, namun kadang-kadang ada
juga padatan yang diikutkan dalam reaksi (mis: katalisator, regent, inert). Tentu
saja perlakuan terhadap bahan yang akan direaksikan akan berbeda.
Ada 4 tipe reaksi jamak, yaitu :
a. Reaksi Seri atau disebut juga consecutive reaction
Adalah reaksi dimana reaktan membentuk produk intermediate, yang beraksi
lebih lanjut membentuk produk lain.
A k1 B k 2C

b. Reaksi Paralel atau disebut juga competing reaction

Adalah reaksi dimana reaktan dikonsumsi oleh dua reaksi yang berbeda untuk
membentuk produk yang berbeda.
k1
B
A
C

k2

c. Reaksi Kompleks
Adalah reaksi jamak yang melibatkan kombinasi reaksi seri dan paralel, seperti
A + B C+ D
A +C E
d. Reaksi Independen
Adalah reaksi yang terjadi pada waktu yang sama namun produk maupun
reaktan beraksi sendiri satu sama lain.
A B+C
D E+ F
Dalam reaksi jamak menyebabkan ada reaksi yang diinginkan (desired reaction)
dan reaksi yang tidak diinginkan (undesired reaction). Misalnya pada reaktan
yang dikonsumsi untuk pembentukan produk yang diinginkan, D, dan
pembentukan produk yang tidak diinginkan, U, baik pada reaksi seri maupun
paralel. Sequence pada reaksi paralel :
A kD D

A kU U

Atau pada reaksi seri :


A k D D kU U

Dengan selektivitas, kita dapat mengetahui bagaimana pembentukan satu produk


lebih dibandingkan yang lain apabila kita mempunyai reaksi jamak.
Instantaneous selectivity D terhadap U adalah rasio laju pembentukan D terhadap
laju pembentukan U.
r
laju pembentukan D
SD/U= D =
r U laju pembentukan U
Definisi lain dari selektivitas,
adalah overall selectivity.

~
S

D/U

, adalah laju alir keluar reaktor.

~
S

D/U

F
laju alir molar D yang keluar reaktor
~
S D /U = D =
F U laju alir molar U yang keluar reaktor
Untuk reaktor batch, overall selectivity adalah jumlah mol D dan U pada akhir
waktu reaksi :
N
~
S D /U = D
NU

1.1.

REAKTOR FLUIDIZED BED [Fluidized Bed Reactor (FBR)]


Jika suatu aliran udara melewati suatu partikel unggun

yang ada dalam tabung, maka aliran tersebut akan memberikan


gaya seret (drag force) pada partikel dan memberikan pressure
drop sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika ecepatan
superficial naik (kecepatan superficial adalah kecepatan aliran
jika tabung kosong). Pada kecepatan superficial rendah, unggun
mula-mula diam. Jika kecepatan superficial dinaikkan maka pada
suatu saat gaya seret fluida menyebabkan unggun mengembang
dan tahanan terhadap aliran udara mengecil, sampai akhirnya
gaya seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel
unggun dan unggun akan terfluidisasi. Sementara itu, pressure
drop akan tetap walaupun kecepatan superficial terus dinaikkan
dan

sama

dengan

berat

efektif

unggun

persatuan

luas.

Kecepatan superficial terendah yang dibutuhkan untuk terjadinya


fluidisasi disebut Minimum Fluidization Velocity (Umf).
Konsep dasar dari suatu partikel unggun yang terfluidisasi
dapat diilustrasikan dengan fenomena yang terjadi saat adanya
perubahan laju alir gas seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 1. Fenomena fluidisasi dengan variasi laju alir gas

Reaktor unggun terfluidisasi [Fluidized Bed Reactor (FBR)] adalah tipe


peralatan reaktor yang digunakan untuk membawa, mengeluarkan, dan
menghasilkan berbagai reaksi kimia multifase. Pada reaktor jenis ini, suatu fluida
(gas atau cairan) dilewatkan melalui material padatan granular (biasanya sebuah
katalis yang mungkin berbentuk sebagai bola kecil) pada kecepatan yang cukup
tinggi untuk mensuspensi padatan yang menyebabkan perilakunya seolah-olah
sebagai fluida. Proses ini disebut sebagai fluidisasi yang memberikan banyak
manfaat bagi FBR dan digunakan dalam banyak aplikasi industri. Jenis reaktor
unggun terfluidakan memiliki keunggulan dalam hal pencampuran yang baik serta
perpindahan massa dan panas yang baik pula.

Gambar 2. Diagram dasar dari Fluidized Bed Reactor (FBR)


Prinsip dasar :
Bahan substrat padat (bahan katalitik yang di atasnya terjadi reaksi spesies kimia)
dalam reaktor unggun terfluidisasi biasanya didukung oleh sebuah plat berpori,
yang dikenal sebagai distributor. Fluida kemudian dipaksa melalui distributor ke
atas melalui bahan padatan. Pada kecepatan aliran fluida yang rendah, zat padat
bersifat tetap saat cairan melewati rongga dalam materi. Ketika kecepatan fluida
meningkat, reaktor akan mencapai tahap di mana kekuatan cairan pada padatan
cukup untuk menyeimbangkan berat bahan padatan. Tahap ini dikenal sebagai
awal fluidisasi dan terjadi pada kecepatan minimum fluidisasi ini. Setelah
kecepatan minimum ini terlampaui, isi dari bed pada reaktor ini mulai
mengembang dan berputar-putar di sekitarnya dan kebanyakan seperti tangki
berpengaduk atau panci air mendidih. Reaktor akhirnya menjadi bed terfluidisasi.
Berbagai rezim aliran dapat diamati dalam reaktor ini, tergantung pada jenis
operasi dan sifat padatan itu sendiri.

Gambar 3. FBR dalam skala industri


Keunggulan penggunaan gasifier BFB adalah:

Perolehan gas produk lebih seragam


Profil temperatur di sepanjang reaktor lebih seragam

Rentang ukuran partikel yang dapat dioperasikan dalam gasifier ini lebih

lebar, termasuk partikel halus


Laju perpindahan panas antara material inert, bahan bakar, dan gas lebih

cepat
Konversi tinggi sedangkan produk tar dan karbon yang tak terkonversi rendah

Kekurangan utama penggunaan gasifier BFB adalah kemungkinan terbentuknya


ukuran gelembung yang besar di sepanjang unggun.
1.2.

REAKTOR MEMBRAN FLUIDIZED BED [Fluidized Bed Membrane


Reactor (FBMR)]
Reaktor membran unggun terfluidisasi merupakan reaktor modifikasi dari

reaktor unggun terfluidisasi. Semua prinsip dari reaktor unggun terfluidisasi


diasumsikan dapat digunakan dalam prinsip dan perhitunga rektor membran
unggun terfluidisasi. Yang berbeda dari reakror ini adalah adanya tambahan
membran didalam reaktor yang berguna untuk menggambil produk yang
diinginkan seperti prinsip membran. Gunanya adalah meningkatkan konversi
karena kesetimbangan akan bergeser kearah produk dengan berkurangnya
konsentrasi produk itu sendiri yang terdifusi ke membran. Selanjutnya hasil difusi
dalam membran akan keluar bersama gas pembawa menuju jalur keluar dan
secara otomatis terpisahkan dari senyawa lain.
Perbedaan yang perhitungan simulasinya adalah adanya konsentrasi yang
keluar. Hal ini dalam perhitungan disimbolkan dengan R produk, yaitu negatif dari
laju reaksi yang terdifusi dalam membran.
Berikut adalah ilustrasi dari reaktor membran unggun terfluidisasi:

membran
(b)

(a)
Gambar 4. (a) Tampak dari depan. (b) Tampak dari
atas

membran

Gambar 3. Reaktor membran unggun terfluidisasi (tampak samping)


(Abashar, 2003)
Jumlah tube dalam reactor ini dapat divariasikan jumlahnya untuk meningkatkan
konversi metan. Dalam jurnal Abashar disebutkan bahwa tube yang digunakan
adalah 18 tube. Namun tube yang digunakan dalam simulasi kelompok 6 ini
diasumsikan hanya ada dua tube.
1.3.

GAS ALAM
Gas alam merupakan campuran dari hidrokarbon, terutama metana (CH4)

yang ditemukan terjebak di kerak bumi, di tempat yang dapat dihasilkan dari

sumur untuk digunakan sebagai bahan bakar dan sebagai bahan baku untuk
pembuatan bahan kimia.
1.4.1. Metana
Metan atau biasa disebut gas alam adalah senyawa hidrokarbon dengan
satu atom karbon dan dikelilingi oleh empat atom hydrogen yang dapat dilihat
pada gambar berikut ini:

gas yang tidak berwarna dan tidak berbau (T


dan P ruangan)

3
Densitas 655,6 g/ cm

Titik nyala -188 0 C

Kelarutan dalam air 35 m/

dm 3

(pada 17

C)

H f =74.87

kj
mol

H c =891.1 s . d .890.3

Methane ini didapatkan dari kilang minyak atau gas, distilasi minyak bumi,
fermentasi pada biogas, metanogenesis seperti pada rayap, mikroorganisme, dan
lain sebagainya
1.4.3. Steam Reforming
Steam reforming dengan cara konvensional biasanya menggunakan reaktor
fixed bed catalytic. Catalyst yang biasanya digunakan umumnya dimasukkan ke
dalam banyak tubes yang diletakan di dalam furnace (850-1100 K). Terbatasnya
proses difusi. Serta menghasilkan jumlah CO2 yang signifikan sehingga berpotensi
membahayakan lingkungan.

STEAM REFORMING
Energi
H2
KATALIS

H2O
CH4

CH4

+ H2O

3 H2

+ CO

CO2
Adapun reaksinya adalah sebagai berikut:

CO

H2O

H2

CO 2

H298 =206 kJ/mol


CH4

2 H2O

4 H2

CO 2

H298 =-41 kJ/mol


H298 =165 kJ/mol
Masih menjadi dominant untuk menghasilkan hidrogen, gas sintetis. Sekitar
50% hidrogen yang dihasilkan melalui proses steam reforming methane. Namun
masih memiliki banyak kekurangan salah satunya masih terbentuk CO2 yang
berbahaya bagi lingkungan sehingga dibutuhkan suatu modifikasi yaitu dengan
menggabungkan steam reforming dan dry reforming.
1.4.4. Modification: Coupling steam and dry reforming of methane
Memproduksi hydrogen dan syngas membutuhkan modifikasi

untuk

meningkatkan konversi metan dengan menggunakan Fluized bed membrane


reactor. Prinsip dari modifikasi ini adalah menggabungkan reaksi steam reforming
dan dry reforming dalam waktu yang bersamaan. Adapun keunggulan dari
modifikasi ini adalah mengubah posisi kesetimbangan thermodinamika,
meningkatkan konversi, reaksi secara simultan dalam pemisahan hydrogen,
menghilangkan proses difusi yang terbatas, transfer panas yang baik, dan desain
lebih padat. Adapun reaksinya adalah sebagai berikut:
Reaksi steam reforming:
CO

H2O

H2

CO 2CH4

+ H2O

3 H2

+ CO

H298 =206 kJ/mol


CH4

2 H2O

4 H2

CO 2

H298 =-41
kJ/mol
H298 =165 kJ/mol
CH4

CO 2

2 H2

2CO

Reaksi dry reforming:


H298 =247,3 kJ/mol

Berdasarkan analisis uji gas menunjukkan bahwa komposisi gas Natuna adalah 71
% CO, 28 % metan dan hidrokarbon, 0,6 % H 2S dan 0,4 % nitrogen. Kandungan
CO2 dan HS yang tinggi merupakan tantangan bagi pengembangan gas Natuna
yang berdampak pada skala proyek dan harga gas yang kompetitif. Gas alam ini
dapat digunakan sebagai reaktan pada reaksi dry reforming.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Algoritma
Dalam pembuatan simulasi ulang dari hasil penelitian Abashar
didapatkan beberapa data dan persamaan untuk simulasi ulang diantaranya
adalah sebagai berikut: persamaan untuk mencari nilai k1, k2, k3, k4, K1,
K2, K3, K4, tekanan awal, diameter reaktor, panjang reaktor, jenis reaktor,
serta asumsi-asumsi yang digunakan. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai
perlu dibuat algoritma sebagai berikut:
Memahami mekanisme reaktor dan jenis reaksi yang terjadi

Membuat asumsi-asumsi yang akan memudahkanmembran


perhitungan

tidak ada membran

Menentukan Transport keluar reactor dan kcc


Membuat neraca mol

TIDAK

Menentukan RelativeMembuat
rates
net rate per spesies
Membuat Rate LawMenentukan stoikiometri

YA

Gambar 4. Algoritma kcc


simulasi
ut nilai FCH4, FH2O, FCO2,FH2=0,FCO=0 k1,k2,k3,k4,K1,K2,K3,K4,
(bila ada membrane), CT0, R, T0, P0,
Untuk mempelajari reaksi jamak pada FBMR, kami melakukan studi kasus pada
jurnal Coupling of Steam and Dry Reforming of Methane in Catalytic Fluidized
Output: konsentrasi
reaktan
turun,Reaksi
produk
naik
dengan
pola
dansteam
interval
tertentu
Bed Membrane
Reactors.
yang
terjadi
adalah
reaksi
reforming
dan

dry reforming sebagai berikut :


FINISH
Reaksi steam reforming dengan katalis
Ni/Mg Al2O4 :

CH 4 + H 2 O H 2 +CO 2

[ H 298=206.0 kJ /mol ]

CO+ H 2 O H 2 +CO2

[ H 298=41.0 kJ /mol]

(1)
(2)

CH 4 +2 H 2 O 4 H 2+ CO2

[ H 298=164.9 kJ /mol ]

(3)

Reaksi dry reforming dengan katalis Ni/La2O3:


CH 4 +CO2 2 H 2 +2 CO

[ H 298=247.3 kJ /mol ]

(4)

Kombinasi reaksi steam reforming dan dry reforming termasuk reaksi jamak
kompleks karena melibatkan kombinasi reaksi seri dan paralel.
Asumsi
1. Steady state
2. Diasumsikan gas ideal
3. Partikel katalis yang kecil sehingga resistansi interfase dan difusi
interpartikel dapat diabaikan
4. Isotermal pada suhu tinggi
5. P diabaikan karena reactor fluidized bed
Dengan menggunakan data-data yang telah diketahui, dilakukan simulasi dengan
variasi jenis reaktor (FBR dan FBMR) dan suhu operasi, sehingga didapatkan
profil laju alir masing-masing komponen, konversi dan selektivitasnya terhadap
volume reaktor yang kemudian dikonversikan terhadap berat katalis.
Langkah-langkah penyelesaian permasalahan antara lain :
1. Pemisalan komponen-komponen yang terlibat dalam reaksi dan penentuan
laju reaksi :
A :CH 4
B : H2 O
C : H2
D:CO 2
E :CO

Reaksi 1 :

A + B k1 3 C + D

k-1

C C
( A C B+ C D )
K1
k1
r 1 A=k 1 C A C B + C C C D=k 1
K1

dimana : K 1=

k1
k 1

D+B k 2 C +E

Reaksi 2 :

k-2

CCCE
)
K2
k
r 2 B =k 2 C D C B + 2 C C C E =k 2
K2
( DC B +

dimana : K 2=

k2
k 2

A +2 B k 3 4 C+ E

Reaksi 3 :

k-3

4
k3
4
2 CC CE
r 3 A =k 3 C A C B + CC C E =k 3 (C A C B +
)
K3
K3
2

dimana : K 3=

k3
k 3

A + E k 4 2 C+ 2 D

Reaksi 4 :

k-4

r 4 E=k 4 C A C E +

k4
C C 2 C D2
2
2
CC C D =k 4 (C A C E +
)
K4
K4

dimana : K 4 =

k4
k4

2. Penyusunan neraca mol :


a. Komponen A (tidak terdifusi)

+ V + V r A V =0

V F A|
F A|

d FA
=r A
dV
b. Komponen B (tidak terdifusi)

+ V + V r B V =0

V F B|
F B|

d FB
=r B
dV
c. Komponen C (Terdifusi)
V +V R C V + r C V =0
V FC|
FC|
Dimana RC adalah laju alir molar dari B yang berdifusi melalui sisi reaktor per
unit volume reaktor (mol/dm3.s)
d FC
=r C RC
dV

d. Komponen D (tidak terdifusi)


+ V + V. r D V =0
V. F D|
F D|
d FD
=r D
dV
e. Komponen E (tidak terdifusi)
+ V + V. r E V =0
V. F E|
F E|
d FE
=r E
dV

Transport keluar reaktor dan kcc (konstanta laju reaksi adsorpsi)


Rc= kCC CC

FC
Rc= kCC ( CT 0 F T )

FC
Rc= kCC ((P0/RT0) FT )
Jenis membrane yang digunakan adalah membrane palladium-silver alloy
yang spesifik untuk memisahkan hydrogen, dengan kcc=10 kg m3/s, P0=1
MPa, T0=800 K (dapat divariasi), R=0,008314 MPa m3/kmol K.
3. Persamaan laju reaksi relatif :
r 1 A r 1B r 1 C
r1 D
=
=
Reaksi 1:
1 1 3 = 1
Reaksi 2:

r 2 D r 2 B r 2C
r2 E
= =
1 1
1 = 1

Reaksi 3:

r3 A r 3 B r3 C
r3 D
=
=
1 2
4 = 1

Reaksi 4:

r4 A r 4E r 4C
r 4D
=
=
1 1
2 = 2

4. Stoikiometri :
Komponen A
F
C A =C T 0 A
FT
Komponen B
F
C B=C T 0 B
FT
Komponen C
F
CC =CT 0 C
FT
Komponen D
F
C D =CT 0 D
FT
Komponen E
F
C E=CT 0 E
FT
5. Net rates of formation :
Spesies A:r1A + r3A + r4E
Spesies B: r1A+ r2D + 2r3A
Spesies C:-3r1A-r2D-4r3A-2r4E
Spesies D:-r1A + r2D -2r4E
Spesies E: -r2D - r3A + r4E

6. Penyusunan program Polymath :


T
(K)
273
300
400
500
600
700
800
900
100
0
110
0

k1
9.54116E29
1.30114E24
3.68114E14
6.87032E08
0.001041
455
1.008854
754
175.1740
526
9669.697
331
239313.5
907
3304823.
752

k2
1.74272E12
2.49607E11
2.08662E08
1.18238E06
1.74434E05
0.000119
273
0.000504
34
0.001547
943
0.003796
468
0.007909
768

k3
4.31783E30
6.84571E26
2.83446E15
6.64817E09
0.000117
361
0.126755
456
23.88082
494
1404.617
465
36573.37
637
526488.5
822

k4
3.76795E10
1.55508E09
5.59725E08
4.80516E07
2.01464E06
5.6083E06
1.20867E05
2.19623E05
3.54139E05
5.23533E05

Tabel 1. Kontanta laju reaksi

K1
2.54846E20
1.76863E16
9.07273E07
0.6078527
15
4654.1317
97
2767917.8
05
33334126
0.4
13843286
433
2.72847E
+11
3.12754E
+12

K2
17182
2.3
40282.
27
1029.6
77
114.09
14
26.320
11
9.2323
56
4.2080
53
2.2839
1
1.4007
39
0.9389
43

K3
4.37883E15
7.12444E12
0.0009341
98
69.350775
5
122497.26
67
25554402.
94
14027175
92
31616820
395
3.82188E
+11
2.93658E
+12

2
1

BAB 4
KESIMPULAN