Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sektor pertanian di indonesia memang bisa dikatakan cukup luas, hal ini dapat
dibuktikan dengan terdapatnya lahan-lahan pertanian yang terletak di berbagai
tempat, oleh sebab itu rata-rata penduduk indonesia berprofesi sebagai petani.
Dalam hal ini tentu tujuan utama mereka melakukan tanam adalah untuk
memperoleh hasil yang maksimal supaya dapat memenuhi kebutuhan mereka
sehari-hari dengan menggunakan hasil mereka dari bekerja. Untuk
menghasilkhan hasil yang maksimal maka salah satu faktor yang harus di
perhatikan adalah pola tanam. Pelaksanaan pola tanam juga harus
mengkondisikan tempat/lokasi dimana tanaman itu akan tumbuh nantinya.
Pola tanam yang paling banyak di gunakan adalah sistim monokultur, sedang
Monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan
menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Monokultur menjadikan
penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan
secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja
karena wajah lahan menjadi seragam. Selain itu ada juga faktor yang harus
diperhatikan lagi, yakni sifat fisika maupun kimia dari tanah tersebut. Dengan
memperhatikan faktor-faktor yang ada maka pelaksanaan pola tanam tentu akan
mempunyai hasil yang baik dan nantinya akan berdampak pada hasil ahir dari
tanaman tersebut.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui pengertian dari pola tanam
Untuk mengetahui potensi dan dampak pengenbangan pola tanam
Untuk mengetahui macam-macam sistem pola tanam

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian tanam
tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media
tanam baik media tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola
tanam. (Musyafa, 2011)
melakukan pekerjaan tanam-menanam: petani daerah ini
umumnya. (Anonymous, 2012)

2.2 Pengertian Pola tanam


Pola tanam atau (cropping patten) iyalah suatu urutan pertanaman pada
sebidang tanah selama satu periode. Lahan yang dimaksut bisa berupa lahan
kosong atau lahan yang sudah terdapat tanaman yang mampu dilakukan
tumpang sirih. (saiful anwar, 2011)
Pola tanam adalah usaha yang dilakukan dengan melaksanakan penanaman
pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dari tanaman dan tata
urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan
tanah dan masa tidak ditanami selama periode tertentu. (Musyafa,2011)
2.3 Faktor yang mempengaruhi pola tanam :
1.
2.
3.
4.
5.

Ketersediaan air dalam satu tahun


Prasarana yang tersedia dalam lahan tersebut
Jenis tanah setempat
Kondisi umum daerah tersebut, misal genangan
Kebiasaan dan kemampuan petani setempat
(Wirosoedarmo, 1985)

2.4 Macam-Macam Pola Tanam


Pola penanaman dapat dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan
polikultur. Monokultur adalah penanaman satu jenis tanaman pada lahan dan
waktu penanaman yang sama. Sedangkan polikultur adalah penanaman lebih
dari satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama.
Dalam pola tanam polikultur terdapat beberapa macam istilah dari sistem ini,
yang mana pengertiannya sama yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman
pada lahan yang sama tetapi alasan dan tujuannya yang berbeda, yaitu :
Tumpang Campuran yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu
lahan dan dalam waktu yang sama dan umumnya bertujuan mengurangi hama
penyakit dari jenis tanaman yang satu atau pendampingnya.
Tumpang Sari yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan
dalam waktu yang sama dengan barisan-barisan teratur.

Tumpang Gilir yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan
yang sama selama satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panen.
Tanaman Pendamping yaitu penanaman dalam satu bedeng ditanam lebih dari
satu tanaman sebagai pendamping jenis tanaman lainnya yang bertujuan untuk
saling melengkapi dalam kebutuhan fisik dan unsur hara.
Penanaman Lorong yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu
lahan dengan penanaman tanaman berumur pendek diantara larikan atau lorong
tanaman berumur panjang atau tanaman tahunan.
Pergiliran atau Rotasi Tanaman yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman
yang tidak sefamili secara bergilir pada satu lahan yang bertujuan untuk
memutuskan siklus hidup hama penyakit tanaman. (Wirosoedarmo, 1985)

2.5 Macam-macam Sistem pola tanam tumpang sari


Penggolongan sistem pola tanam tumpangsari antara lain :
1. Mixed Cropping merupakan penanaman jenis tanaman campuran yang
ditanam dilahan yang sama, pada waktu yang sama atau dengan jarak/interval
waktu tanam yang singkat, dengan pengaturan jarak tanam yang sudah
ditetapkan dan populasi didalamnya sudah tersusun rapi. Kegunaan sistem ini
dalam substansi pertanian adalah untuk mengatur lingkungan yang tidak stabil
dan lahan yang sangat variable, dengan penerapan sistem ini maka dapat
melawan/menekan terhadap kegagalan panen total. Pada lingkungan yang lebih
stabil dan baik total hasil yang diperoleh lebih tinggi pada lahan tersebut, sebab
sumber daya yang tersedia seperti cahaya, unsur hara, nutrisi tanah dan air
lebih efektif dalam penggunaannya.
2. Relay Cropping merupakan sistem pola tanam dengan penanaman dua atau
lebih tanaman tahunan. Dimana tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih
panjang ditanam pada penanaman pertama, sedang tanaman yang ke-2 ditanam
setelah tanaman yang pertama telah berkembang atau mendekati panen.
Kegunaan dari sistem ini yaitu pada tanaman yang ke dua dapat melindungi
lahan yang mudah longsor dari hujan sampai selesai panen pada tahun itu.
3. Strip Cropping/Inter Cropping adalah sistem format pola tanam dengan
penanaman secara pola baris sejajar rapi dan konservasi tanah dimana
pengaturan jarak tanamnya sudah ditetapkan dan pada format satu baris terdiri
dari satu jenis tanaman dari berbagai jenis tanaman. Kegunaan sistem ini yaitu
biasanya digunakan pada tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih
pendek, sehingga dalam penggolahan tanah tidak sampai membongkar lapisan
tanah yang paling bawah/bedrock, sehingga dapat menekan penggunaan waktu
tanam.
4. Multiple Cropping merupakan sistem pola tanam yang mengarahkan pada
peningkatan produktivitas lahan dan melindungi lahan dari erosi. Teknik ini

melibatkan tanaman percontohan, dimana dalam satu lahan tumbuh dua atau
lebih tanaman budidaya yang mempunyai umur sama serta pertumbuhan dari
tanaman tersebut berada pada lahan dan waktu tanam yang sama, dalam satu
baris tanaman terdapat dua atau lebih jenis tanaman (Romulo A. del Castillo,
1994).
2.6 Kelebihan dan kekurangan monokultur
Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan
perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan
menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Kelemahan
utamanya adalah keseragaman kultivar mempercepat penyebaran organisme
pengganggu tanaman (OPT, seperti hama dan penyakit tanaman).
(Wirosoedarmo, 1985)
2.7 Kelebihan dan kekurangan polikultur
Pada sistem polikultur ini akan memberikan bermacam keuntungan, diantaranya
adalah :
Dapat menambah kesuburan tanah. Menanam tanaman kacang-kacangan
berdampingan dengan tanaman jenis lainnya dapat menambah kandungan
unsur Nitrogen dalam tanah karena pada bintil akar kacang-kacangan menempel
bakteri Rhizobium yang dapat mengikat Nitrogen dari udara. Dan menanam
secara berdampingan tanaman yang perakarannya berbeda dapat membuat
tanah menjadi gembur.
Meminimalkan hama dan penyakit tanaman. Sistem polikultur dibarengi dengan
rotasi tanaman dapat memutuskan siklus hidup hama dan penyakit tanaman.
Menanam tanaman secara berdampingan dapat mengurangi hama penyakit
tanaman salah satu pendampingnya, misalnya : bawang daun yang
mengeluarkan baunya dapat mengusir hama ulat pada tanaman kol atau kubis.
Mendapat hasil panen beragam yang menguntungkan. Menanam dengan lebih
dari satu tanaman tentu menghasilkan panen lebih dari satu atau beragam
tanaman. Pemilihan ragam tanaman yang tepat dapat menguntungkan karena
jika satu jenis tanaman memiliki nilai harga rendah dapat ditutupi oleh nilai
harga tanaman pendamping lainnya.
Sistem penanaman polikultur juga memiliki kekurangan terutama jika tidak
sesuai dengan pemilihan jenis tanaman, diantaranya adalah :
Persaingan antara tanaman dalam menghisap unsur hara dalam tanah.
Dengan beragam jenis tanam maka hama penyakit juga semakin banyak atau
beragam.
Pertumbuhan tanaman akan saling menghambat.
2.7 Starat yang Harus diperhatikan dalam pola tanam.

(Harjadi, 1979)

1. Tanah
Kondisi tanah harus diatur agar fungsi tanah dapat berperan sebagaimana
mestinya. Karena peranan tanah yang sangat penting, maka kondisi tanah harus
benar-benar dijaga dengan cara pengolahan tanah yang baik. Yang mana tujuan
dari pengolahan tanah itu sendiri antara lain:
-

Mengetahui suhu, peredaran air dan udara dalam tanah

Meningkatkan sifat fisik tanah

Mempermudah penggunaan obat-obatan dan pupuk dalam tanah.

2. Jenis tanaman yang diusahakan


Setiap jenis tanaman memiliki cara penanaman yang berbeda-beda. Ada jenis
tanaman yang bijinya di tanam langsung, ada juga yang disemaikan terlebih
dahulu sebelum ditanam di lapang.
3. Bahan Tanam yang Digunakan
Bahan tana menentukan cara menanam dan pertumbuhan tanaman, baik biji
atau dengan stek dan lain sebagainya.
4. Musim dan Waktu Tanam
Tanaman harus di tanam di musim yang tepat. Tanaman yang ditanam pada
musim yang tidak tepat pertumbuhannya akan lambat atau mudah terserang
serangan hama atau penyakit sehingga produksinya akan berkurang. Tiap
tanaman memiliki waktu tanam yang berbeda ada yang baik di tanam pada
musim hujan, kemarau dan akhir musim hujan atau akhir musim kemarau.
(Harjadi, 1979)

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan bahan
Alat :

Bahan :

Tugal

Benih jagung

Pancong

Pupuk urea , SP36 dan KCl

Tali raffia

Gembor

Cangkul

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Tinggi Tanaman
Mingg
u ke-

Petak 1

ratarata
/
minggu

Sampe
l1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

3
2

1
9

35

22

28

24

21

18

26

21

27

26

24,9

5
6

3
8

63

49

54

53

62

56

61

48

60

59

54,9

8
2

5
6

10
5

78

84

83

10
0

87

95

83

98

94

87

8
5

7
3

15
5

12
2

13
6

13
5

14
5

13
0

12
2

98

13
6

13
4

122,
6

9
6

7
5

19
5

17
0

18
2

16
7

18
6

16
8

14
0

21
3

19
2

18
2

163,
9

Mingg
u ke-

Petak 2

Rata
-rata

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

25

18

22

21

28

23

26

29

33

32

29

27

26

59

42

51

36

60

57

58

66

68

53

58

44

54,3

78

70

86

69

89

79

99

95

10
2

95

75

ma
ti

78

13
2

12
4

12
6

11
2

14
0

12
0

13
0

11
6

14
7

12
0

11
0

ma
ti

114,
7

18
6

17
5

16
8

14
6

15
8

15
0

17
3

16
4

19
0

15
6

15
6

ma
ti

151,
9

Mingg
u ke-

Petak 3

Rata
-rata

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

25

24

25

15

26

Mat

13

29

23

25

25

35

22

i
5

55

39

51

31

60

Mat
i

25

60

46

48

47

60

43,5

82

71

81

61

93

Mat
i

49

89

71

77

78

89

70,0

11
1

10
2

13
0

87

14
3

Mat
i

70

10
5

10
4

11
6

10
8

13
5

100,
9

18
0

16
0

12
7

10
2

19
7

Mat
i

18
1

11
0

16
2

13
5

16
9

15
9

140,
1

4.1.2 jumlah daun (rata2 tiap minggu)


Mingg
u ke-

Petak 1

Ratarata
/mingg
u

Sampe
l1

Sampel
2

Sampel
3

Sampel
4

Sampel
5

Sampe
l6

5,83

11

1
0

1
0

9,08

11

11

10

8,17

13

1
1

10

10

11

1
0

1
0

9,25

Mingg
u ke-

Petak 2

Ratarata
/minggu

Sampe
l1

Sampe
l2

Sampe
l3

Sampe
l4

Sampe
l5

Sampel 6

4,75

1
0

1
0

mati

7,8

mati

5,58

1
0

mati

7,83

Mingg
u ke-

Petak 1

Rata
-rata

Sampe
l1

Sampel
2

Sampel 3

Sampe
l4

Sampe
l5

Sampel
6

mati

4,45

mati

6,27

1
1

mati

1
0

1
0

mati

6,5

1
1

mati

1
0

7,9

4.1.3 jumlah tongkol

Didapat saat jagung pada minggu ke-9


Petak 1

Petak 2

Petak 3

Sampel 1

Sampel 4

Sampel 2

Sampel 5

Sampel 3

Sampel 6

Sampel 1

Sampel 4

Sampel 2

Sampel 5

Sampel 3

Sampel 6

Sampel 1

Sampel 4

Sampel 2

Sampel 5

Sampel 3

Sampel 6

4.1.4 saat muncul x malai


Berdasarkan hasil pengamatan malai jagung mulai terlihat pada minggu ke-7,
apalagi pada minggu ke-8 sudah terlihat bunga yang mekar, bahkan sudah
bertongkol yakni pada sampel 3B dan 2A dalam petak 1. Sehingga pada minggu
ke-9 kita dapat menghitung jumlah tongkol disetiap sampel pada masing-masing
petak.
4.1.5 Bobot tongkol jagung pertanaman
Berat
tongk
ol

PETAK 1
Samp
el 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel
4

Sampel 5

Sampel
6

Dg
klobo
t

15
0

40
0

25
0

35
0

30
0

75

35
0

35
0

16
0

10
0

40
0

30
0

27
5

Tanpa
klobo
t

11

30
0

15
0

26
0

24
0

50

22
5

20
0

10
0

40

30
0

20
0

19
0

Berat

PETAK 2

tongk
ol

Sampel 1

Sampel
2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel
5

Sampel
6

Dg
klobo
t

23
0

300

11
0

35
0

125

16
0

160

11
0

30
0

15
0

20
0

50

Tanpa
klobo
t

15
0

200

90

22
0

60

11
0

160

75

20
0

10
0

15
0

20

Berat
tongk
ol

PETAK 3
Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Sampel 6

Dg
klobot

30
0

200

50

350

250

50

50

100

75

Tanpa
klobot

20
0

150

25

300

200

25

25

25

50

4.1.6 Bobot jagung per petak


Jumlah berat tongkol pada petak 1 :
1. Dengan klobot
= 3.460 gr
2. Tanpa klobot

= 2.266 gr

Jumlah berat tongkol pada petak 2 :


1. Dengan klobot
= 2.245 gr
2. Tanpa klobot

= 1.535 gr

Jumlah berat tongkol pada petak 3 :


1. Dengan klobot
= 1.425 gr
2. Tanpa klobot

= 1000 gr

4.1.7 Konversi per hektar (10.000 m2)


Luas lahan seluruhnya = 3,5 m x 21 m
= 73,5 m2
= 7,35 x 10-3 ha
Jika 7,35 x 10-3 ha 57,3 kg (dengan klobot dari seluruh tanaman)

Maka 1 ha x kg
X = = 7796 kg = 7,8 ton

4.1.8 Data kelompok lain (yang sama jenis pola tanamnya, namun berbeda
perlakuan pemberian pupuk dasar) terlampir

4.2 Pembahasan
4.2.1

Tinggi tanaman

Minggu ke-4
Rata-rata tinggi tanaman = = = 25,06 cm
Minggu ke-5
Rata-rata tinggi tanaman = = = 52,37 cm
Minggu ke-6
Rata-rata tinggi tanaman = = = 80,65 cm
Minggu ke-7
Rata-rata tinggi tanaman = = = 117,37 cm
Minggu ke-8
Rata-rata tinggi tanaman = = = 155,71 cm
Pada tinggi tanaman terlihat bahwa pada patak 1 dari masing-masing
sampel mulai dari 1 sampai 6 terlihat pertumbuhan tinggi tanaman jagung A
terus meningkat dengan nilai presentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan
tanaman jagung B, dalam perkembangannya menunjukkan hasil yang selalu
meningkat sampai dengan minggu ke-8, ditunjukkan juga dengan nilai rata-rata
tinggi tanaman yang setiap minggu mengalami kenaikan mulai dari 24,9 54,9
87 122,6 dan pada minggu ke 8 mencapai 163,9.
Kemudian pada petak 2, tidak jauh berbeda dengan petak ke 1. Jadi setiap hari
perkembangan pertumbuhan tinggi tanaman jagung semakin meningkat hingga
190 m (tanaman jagung paling tinggi pada sampel 5) tetapi pada sampel ke-6
pada tanaman B mulai minggu ke-6 sampai minggu ke-8 mati.
Selanjutnya pada petak ke 3, terlihat bahwa mulai minggu ke 4 sampai minggu
ke 8 mengalami kenaikan tinggi tanaman tetapi berbeda dengan sampel ke 3
yang tanaman B, terlihat tumbuhan itu mati dari minggu ke-4 dan seterusnya,
dilhat dari kondisinya memang dari awal tanaman jagung ini tidak mengalami

pertumbuhan sama-sekali jadi hanya satu biji jagung yang tumbuh di sampel 3
ini.

4.2.2

Jumlah daun

Mingu ke-4
Rata-rata jumlah daun = = = 4,88 daun = 5 daun
Minggu ke-5
Rata-rata jumlah daun = = = 6,03 daun = 6 daun
Minggu ke-6
Rata-rata jumlah daun = = = 8,44 daun = 8 daun
Minggu ke-7
Rata-rata jumlah daun = = = 7,14 daun = 7 daun
Minggu ke-8
Rata-rata jumlah daun = = = 8,6 daun = 9 daun
Pada tanaman jagung yang kita tanam di Ngijo, sesuai dengan tabel di atas
terlihat jumlah daun yang paling banyak ada pada minggu ke-8, memang pada
sebelumnya dapat dilihat bahwa terjadi penurunan jumlah daun dari minggu ke
6 ke minggu 7 dengan presentase yang awalnya 9,08 menjadi 8,17, penurunan
ini sangat menonjol di sampel 1 baik tanaman jagung A maupun B jumlah daun
berkurang, begitu juga di sampel 3 dan sampel 6, hal ini terjadi sebab memang
ada daun yang mati dari tangkainya sehingga tidak terhitung pada minggu ke 7.
Kemudian untuk petak 2 dari minggu ke 4 sampai minggu ke 6 terlihat
mengalami kenaikan baru ketika minggu ke 7 mengalami penurunan dengan
rata-rata jumlah daun yang awalnya 7,8 menjadi 5,58 dan ketika minggu ke 8
kembali mengalami kenaikan bahkan diminggu ke 8 memiliki rata-rata daun
tertinggi yakni 7,83. Untuk jumlah daun yang ada dipetak 3, terlihat tidak ada
penurunan, jadi mulai minggu ke 4 sampai minggu ke 8 terus mengalami
peningkatan jumlah daun, pada tabel terlihat untuk sampel 4 yang B ,
dinyatakan mati karena memang dari awal sudah tidak ada pertumbuhan
jagung, jadi di sampel 3 itu hanya ada satu yang tumbuh.
4.2.3 Perbandingan dengan kelompok lain
a.

Jumlah tongkol

Dengan melihat perbandingan yang ada :


Data monokultur jagung milik kelompok lain

Data ini diambil dari kelas agribisnis yang menyatakan bahwa tongkol jagung ini
dapat diamati ketika mulai minggu ke 9, dengan total tongkol jagung 9 buah,
berbeda dengan kelompok kami yang menyatakan bahwa tongkol yang kita
amati pada minggu ke 9 terhitung sebanyak 20 buah.
Data jagung dengan pola tanam tumpang sari
Data ini kami ambil saya ambil dari kelas M yang menyatakan bahwa jumlah
tongkol jagung juga hanya 10 buah pada minggu ke 9, beda lagi dengan
kelompok kami yang sudah dapat diamati sebanyak 20 buah. Hali ini mugkin
saja terjadi sebab dalam pola tanam tumpang sari disitu terdapat persaingan
unsure hara juga cahaya matahari dan factor pertumbuhan yang lainyya
sehingga menimbulkan perbedaan banyaknya tongkol yang ada di lahan.
b.

saat muncul x malai

Dengan melihat perbandingan yang ada :


Data monokultur jagung milik kelompok lain
Berdasarkan data yang saya dapat dari kelas agribisnis ini, terlihat bahwa malai
jagung tumbuh pada hari-hari di miggu ke 9 (tepatnya akhir hari pada inggu ke
9) , begitupun dengan jagung kami muncul malai juga ketika akhir-akhir hari
pada minggu ke 9, Cuma yang berbeda adalah jumlah malai di kelompok kami
lebih banyak.
Data jagung dengan pola tanam tumpang sari
Berdasarkan data yang kami peroleh dari kelompok ini dapat dinyatakan bahwa
saat munculnya malai juga sama seperti pada pola tanam jagung monokultur,
jadi pada saat minggu ke 9 atau pada bulan ke 3 akhir malai jagung di lahan
tumpang sari ini tumbuh, dan lagi-lagi yang membedakan hanyalah banyaknya
malai saja.
c.

bobot tongkol jagung pertanaman

Melihat data dari kelompok dengan pola tanam tumpang sari bobot tongkol
jagung dengan klobot menyatakan rata-rata kurang lebih 200 gr dari masingmasing sampel jagung yang diambil dan saya lihat sepertinya setiap satu
tanamn jagung dari masing-masing sampel hanya 1 tongkol jagung, dalam artian
dalam satu sampel hanya 1 tanaman jagung yg menghasilkan tongkol itupun
hanya 1, berbeda dengan milik kelompok kami yang mana pada bobot tongkol
jagung dengan klobot rata-rata kurang lebih 350 dan itu setiap sampel disa
ditemukan 3 tongkol.
Kemudian berat jagung jika dihitung tanpa klobot, rata-rata dari kelompok yang
memakai pola tanam tumpang sari adalah sekitar 120 gram, sedangkan pada
kelmpok kami rata-rata bobot jagungnya adalah sekitar 200 gram.
d.

bobot jagung per petak

Kemudian dari bobot jagung per petak sudah dapat dilihat dari penjelasan point
c, jadi dengan presentase banyaknya tongkol jagung yang ada pada lahan
monokultur kami dan bobot yang lebih tinggi juga dari kelompok tumpang sari,
dapat dijelaskan bahwa bobotnya lebih tinggi kelompok jagung dengan pola
tanan monokultur, dengan perincian:

Pada lahan monokultur =


Jumlah berat tongkol pada petak 1 :
1. Dengan klobot
= 3.460 gr
2. Tanpa klobot

= 2.266 gr

Jumlah berat tongkol pada petak 2 :


1. Dengan klobot
= 2.245 gr
2. Tanpa klobot

= 1.535 gr

Jumlah berat tongkol pada petak 3 :


1. Dengan klobot
= 1.425 gr
2. Tanpa klobot

= 1000 gr

Pada lahan tumpang sari =


Jumlah berat tongkol pada petak 1 :
1. Dengan klobot
= 860 gr
2. Tanpa klobot

= 595 gr

Jumlah berat tongkol pada petak 2 :


1. Dengan klobot
= 955 gr
2. Tanpa klobot

= 725 gr

Jumlah berat tongkol pada petak 3 :


1. Dengan klobot
= 470 gr
2. Tanpa klobot

e.

= 280 gr

konversi per hektar

Konversi per hektar pada lahan kami:


Luas lahan seluruhnya = 3,5 m x 21 m
= 73,5 m2
= 7,35 x 10-3 ha

Jika 7,35 x 10-3 ha 57,3 kg (dengan klobot)


Maka 1 ha x kg
X = = 7796 kg = 7,8 ton

Kelompok lain:

X = = 7199 kg = 7,2 ton


Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa lahan yang dapat menghasilkan
jagung paling bayak adalah kelompok kami.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada praktikum Dasar Budidaya tanaman ini kami menaman jagung dengan pola
tanam monoultur di lahan Ngijo milik Universitas brawijaya, setelah kami tanam
bibit jagung itu dan mengamati pertumbuhan hingga saatnya panen pada
minggu ke 10, dan dengan perbandingan dari kelompok lain, dapat disimpulkan
bahwa system monokultur jagung menghasilkan hasil yang banyak dari pada
system tumpang sari dari kelas M, dengan data yang tertulis mulai dari jumlah
tongkol sampai bobot tongkol enunjukkan angka yang tinggi pada jagung yang di
tanam dengan monokultur, Hal ini bias saja dikarenakan pada system tumpang
sari terjadi persaingan unsur hara, cahaya matahari yang tinggi atau mungkin
karena faktr yang lain misalnya kebutuhan air yang kurang dan kondisi tanah
pada lahan yang bagian bawah di lahan Ngijo tersebut lebih baik dari pada yang
bagian atas, misal aerasi, pengairan, drainase dan lain sebagainya.
5.2 Saran

Mohon pada praktikum Dasar Budidaya Selanjutnya, format laporan sudah


ditempel langsung setelah praktikum selesae (jauh-jauh hari) karena apa, seperti
ini sangat-sangat berat apalagi laporannya banyak sekali sub bab.
Penambahan kesan sedikit dari saya, dimana saya punya kesan yang amat lucu
ketika praktikum Dasar Budidaya Tanaman ini waktu di Ngijo mulai dari
kebersamaan buat membersihkan gulma, Friska yang lagi ultah waktu itu,
asisten yang lucu sampai si Anto yang kejebur di pengairan irigasi lahan. Tertawa
ngakak_ heheheheeee
Dan yang paling membuat saya kaget dan kagum waktu itu adalah ketika jagung
yang sudah siap dipanen terlihat begitu besar dan bahkan ada yang satu tongkol
sudah tua itu terlihat kayak ada malai lagi yang muncul di tongkol tua itu, baru
kali ini memiliki rasa senang dan bangga dengan hasil pertanaman sendiri
bersama teman-teman kelas j yang amat-amat menakjubkan. Thanks to
Asisten.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2012. http://www.artikata.com/arti-353188-tanam.html . diakses
pada tanggal 15 Juni 2012
Anonymous, 2012. http://semutuyet.blogspot.com/2011/12/pengertian-dantujuan-pola-tanam.html . diakses pada tanggal 15 Juni 2012
Anonymous, 2012. http://abdee-jurnal.blogspot.com/2010/02/macam-polatanam-tumpangsari.html . diakses pada tanggal 15 Juni 2012
Aulia, 2012. http://aulia-nm.blogspot.com/2010/02/pola-tata-tanam-pola-tanamadalah.html . diakses pada tanggal 15 Juni 2012
Harjadi, 1979. http://pdf.kq5.org/doc/ . diakses pada tanggal 15 Juni 2012
Musyafa. 2012. http://Musafa _Al ihyar.blogspot.com// diakses pada tanggal 15
Juni 2012
Romulo A. del Castillo, 1994. Terjemahan Budiono. Fisiologi Lingkungan Tanaman.
Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Saiful Anwar, 2011. http://lampung.litbang.deptan.go.id/i . diakses pada tanggal
15 Juni 2012

wirosoedarmo. 1985. Dasar-dasar Irigasi Pertanian. universitas brawijaya:


malang.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan
daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasil kan
sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam. Sedangkan
pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur
susunan tata letak dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu,
termasuk masa pengolahan tanah dan masa baru atau tidak ditanam selama
periode tertentu. Didalam pola tanam terdapat berbagai jenis yaitu tumpangsari,
monokultur dan pola tanam bergilir. Tetapi di Indonesia sendiri, banyak petani
yang tidak tahu tentang pola tanam itu sendiri, apa funsi dari pola tanam itu.
Oleh karena itu, dalam praktikum dasar budidaya tanaman yang membahas
tentang pola tanam sangat penting bagi kita untuk mengetahuinya. Diharapkan
dengan adanya laporan ini, petani dapat mengaplikasikannya dalam
berbudidaya tanaman yang dilakukan.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui pengertian tanam dan pola tanam
Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi pola tanam
Untuk mengetahui macam-macam tumpangsari
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan system pola tanam monokultur
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan system pola tanam tumpangsari
Untuk mengetahui syarat yang harus diperhatikan dalam pola tanam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian tanam dan pola tanam


a)

Pengertian tanam

Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan
daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasil kan
sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam.
( Anonymousa, 2012 )
Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media
tanam baik media tanah maupun bukan media tanah dalam satu bentuk pola
tanam. (Anonymousa, 2012 )
b)

Pengertian pola tanam

Pola tanam adalah penyusunan cara dan saat tanaman dari jenis-jenis tanaman
yang akan ditanam berikutnya pada waktu-waktu kosong pada sebidang lahan
tertentu. (Novitan, 2002)
Pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur
susunan tata letak dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu,
termasuk masa pengolahan tanah dan masa baru atau tidak ditanam selama
periode tertentu. (Campbell, 2002)
2.2 Faktor yang mempengaruhi pola tanam
1. Ketersediaan air dalam satu tahun
2. Prasarana yang tersedia dalam lahan tersebut
3. Jenis tanah setempat
4. Kondisi umum daerah tersebut, missal genangan
5. Kebiasaan dan kemampuan petani setempat. (Anonymousa, 2012)

2.3 Macam-macam pola tanam

a)

Pola tanam monokultur

Yaitu system tanaman tunggal yang merupakan penanaman satu jenis tanaman
pada sebidang lahan pada waktu yang sama. (Vincent, 1996)
b)

Pola tanam campuran

Yaitu penanaman serentak dua jenis tanaman atau lebih dalam barisan
berseling-seling pada sebidang tanah. (Semeru, 1995)

c)

Pola tanam bergilir

Yaitu menanam tanaman secara bergilir beberapa jenis tanaman pada waktu
berbeda di areal yang sama. (Anonymousb, 2012)

2.4 Macam-macam tumpangsari


a)
Multi cropping : penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada sebidang
tanah yang sama dalam suatu lahan.
b)
Pergiliran tanaman ialah penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada
sebidang lahan dimana tanaman kedua ditanam setelah tanaman pertama
dipanen.
c)
Maximum cropping (system tanaman maksimum) ialah penguasaan lahan
untuk mendapatkan hasil panen yang setinggi-tingginya.
d)
Cropping index (indek tanaman) ialah banyaknya jumlah jenis tanaman
yang ditanam pada lahan yang sama.
e)
Relay cropping ialah penanaman suatu jenis tanaman kedalam pertanaman
yang ada sebelum tanaman yang ada tersebut dipanen.
f)
Land Aquinakar Ratio ialah perbandingan luas lahan yang diperlukan pada
monokultur dibandingkan pada tumpangsari untuk memberikan hasil panen yang
sama pada tingkat pengolahan yang sama pula. (Beets, 1982)
2.5 Kelebihan dan kekurangan system pola tanam monokultur
Kelebihan
Kemudahan dalam dalam pembuatan, pengolaan, dan pemanenan serta
pengawasannya
Kekurangan
Rentan terserang hama dan penyakit yang cukup besar
Tidak ada diferensiasi produk untuk pendapatan alternatif

Kurang fleksibel terhadap perubahan harga pasar. (Anonymousb, 2012)


2.6 Kelebihan dan kekurangan system pola tanam tumpangsari
Kelebihan
Terjadi peningkatan efisiensi( tenaga kerja, pemanfaatan lahan maupun
penyerapan sinar matahari )
Populasi tanaman dapat diatur sesuai yang dikehendaki
Dalam satu areal diperoleh produksi lebih dari satu komoditas
Tetap mempunyai peluang mendapatkan hasil, apabila tanaman yang lain gagal
Kombinasi beberapa jenis tanaman, sehingga dapat menekan serangan hama
dan penyakit
Mempertahankan sumber kelestarian sumber daya lahan ( kesuburan tanah )
Kekurangan
Terjadi persaingan unsur hara antar tanaman
OPT yang banyak sehingga sulit dalam pengendaliaannya. (Anonymousb, 2012)
2.7 Syarat yang harus diperhatikan dalam pola tanam
a)

Awal tanam

Pada awal tanam ditentukan pola tanam yang akan digunakan agar tanaman
yang digunakan atau dibudidayakan dapat asupan air dan unsur hara yang
cukup setiap pergantian musim.
b)

Jenis tanaman

Setiap jenis tanaman mempunyai tingkatan kebutuhan air dan unsur hara yang
berbeda-beda, sehingga pemilihan jenis tanaman diusahakan harus sesuai
dengan kebutuhan air. (Anonymousa, 2012)

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan bahan


Alat
Cangkul

: untuk mengolah lahan

Cetok

: untuk mengelola lahan

Gembor

: untuk menyiram tanaman

Tugal

: untuk melubangi tanah

Rol meter

: unutk mengukur jarak tanam

Bahan
Biji jagung

: sebagai bahan tanam

3.2 Cara Kerja


Siapkan alat dan bahan
Buat petak dan ukur sesuai jarak tanam yang ditentukan
Tanam biji jagung ke dalam lubang
Tutup lubang tanam
Lakukan perawatan setiap minggu
Lakukan pengamatan dan dokumentasi setiap minggu
Lakukan pemanenan pada hari ke 90
Dokumentasikan dan timbang hasil panen

Catat hasil pengamatan


Tulis dalam laporan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Tinggi tanaman (rata-rata tiap minggu)
Pengukuran tinggi tanaman dimulai pada minggu keempat setelah tanam,
sedangkan pada minggu pertama sampai minggu ketiga tidak dilakukan
pengukuran.
Minggu keempat
Pada petak 1
PETAK 1

TINGGI

SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

32

19

35

22

28

24

21

18

26

21

27

26

Pada petak 2
PETAK 2

TINGGI

SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

25

18

22

21

28

23

26

29

33

32

29

27

Pada petak 3

PETAK 3

TINGGI

SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

25

24

25

15

26

MATI 13

29

23

25

25

35

Dari data tersebut dapat diperoleh perhitungan rata-rata tinggi tanaman per
minggu sebagai berikut :
Rata-rata tinggi tanaman = = = 25,06 cm

Minggu kelima
PETAK 1

TINGGI

SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

56

38

63

49

54

53

62

56

61

48

60

59

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

59

42

51

36

60

57

58

66

68

53

58

44

PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

55

39

51

31

60

MATI

25

60

46

48

47

60

Rata-rata tinggi tanaman = = = 52,37 cm

Minggu keenam

PETAK 1

TINGGI

SAMPEL 1 SAMPEL2

SAMPEL 3 SAMPEL 4

SAMPEL 5 SAMPEL 6

82

56

105

78

84

83

100

87

95

83

98

94

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

78

70

86

69

89

79

99

95

102

95

75

MATI

PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

82

71

81

61

93

MATI

49

89

71

77

78

89

Rata-rata tinggi tanaman = = = 80,65 cm

Minggu ketujuh
PETAK 1

TINGGI

SAMPEL
SAMPEL2
1

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5 SAMPEL 6

85

73

155

122

136

134

145

130

152

98

136

134

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

132

124

126

112

140

120

130

116

147

120

110

MATI

PETAK 3

SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

111

102

130

87

143

MATI

70

125

104

116

108

135

Rata-rata tinggi tanaman = = = 117,37 cm

Minggu kedelapan
PETAK 1

TINGGI

SAMPEL
SAMPEL2
1

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

76

75

195

170

182

167

186

168

140

213

192

182

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

186

175

168

146

158

150

173

164

190

156

156

MATI

PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

180

160

127

102

197

MATI

181

110

162

135

169

159

Rata-rata tinggi tanaman = = = 155,71 cm


4.1.2 Jumlah daun (rata-rata tiap minggu)
Minggu keempat
PETAK 1

DAUN

SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

MATI

Rata-rata jumlah daun = = = 4,88 daun = 5 daun

Minggu kelima
PETAK 1

DAUN

SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

MATI

Rata-rata jumlah daun = = = 6,03 daun = 6 daun

Minggu keenam
PETAK 1

DAUN

SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

11

10

10

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

10

10

MATI

PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

11

MATI

10

Rata-rata jumlah daun = = = 8,44 daun = 8 daun

Minggu ketujuh
PETAK 1

DAUN

SAMPEL
SAMPEL2
1

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5 SAMPEL 6

11

11

10

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

MATI

PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

10

MATI

Rata-rata jumlah daun = = = 7,14 daun = 7 daun

Minggu kedelapan
PETAK 1

DAUN

SAMPEL
SAMPEL2
1

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

13

11

10

10

11

10

10

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

10

MATI

PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

11

MATI

10

Rata-rata jumlah daun = = = 8,6 daun = 9 daun


4.1.3 Jumlah tongkol
Minggu kesembilan
PETAK 1
SAMPEL 1
JML TGKOL 0

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

SAMPEL 1

SAMPEL2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

PETAK 3

4.1.4 Saat munculnya malai


Pada minggu ke 8, telah tumbuh tessel pada petak 1 sampel 3B dan sampel 2A
terdapat tessel dan tongkol, sedangkan pada petak yang lain belum tumbuh
tessel maupun tongkol.
4.1.5 Bobot tongkol jagung per tanaman
PETAK 1
BERAT
TONGKOL SAMPEL SAMPEL 2
1

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

DG
KLOBOT

150 400 250 350 300 75 350 350

160 100 400 300 275

TANPA
KLOBOT

100 300 150 260 240 50 225 200

100 40

300 200 190

PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL 2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

230

300

110

350

125

160

160

110

300

150

200

50

150

200

90

220

60

110

140

75

200

100

150

20

PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL 2 SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

300

200

50

350

250

50

50

100

75

200

150

25

300

200

25

25

25

50

4.1.6 Bobot tongkol jagung per petak


PETAK 1
BERAT
TONGKOL SAMPEL SAMPEL 2
1

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

DG
KLOBOT

150 400 250 350 300 75 350 350

160 100 400 300 275

TANPA
KLOBOT

100 300 150 260 240 50 225 200

100 40

300 200 190

Jumlah bobot jagung per petak dengan klobot = 3460 gram


Jumlah bobot jagung per petak tanpa klobot = 2355 gram
PETAK 2
SAMPEL 1

SAMPEL 2

SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

230

300

110

350

125

160

160

110

300

150

200

50

150

200

90

220

60

110

140

75

200

100

150

20

Jumlah bobot jagung per petak dengan klobot = 2245 gram


Jumlah bobot jagung per petak tanpa klobot = 1515 gram
PETAK 3
SAMPEL 1

SAMPEL 2 SAMPEL 3

SAMPEL 4

SAMPEL 5

SAMPEL 6

300

200

50

350

250

50

50

100

75

200

150

25

300

200

25

25

25

50

Jumlah bobot jagung per petak dengan klobot = 1425 gram


Jumlah bobot jagung per petak tanpa klobot = 1000 gram
Jadi, jumlah bobot jagung keseluruhan dengan klobot adalah 7130 gram serta
jumlah bobot jagung keseluruhan tanpa klobot adalah 4870 gram.
4.1.7 Konversi per hektar
Luas lahan seluruhnya = 3,5 m x 21 m
= 73,5 m2
= 7,35 x 10-3 ha
Jika 7,35 x 10-3 ha 57,3 kg (dengan klobot)
Maka 1 ha x kg
X = = 7796 kg = 7,8 ton
4.1.8 Data kelompok lain
(Terlampir)
4.2 Pembahasan
4.2.1 Tinggi tanaman
Minggu ke-4
Rata-rata tinggi tanaman = = = 25,06 cm
Minggu ke-5
Rata-rata tinggi tanaman = = = 52,37 cm
Minggu ke-6
Rata-rata tinggi tanaman = = = 80,65 cm
Minggu ke-7
Rata-rata tinggi tanaman = = = 117,37 cm
Minggu ke-8
Rata-rata tinggi tanaman = = = 155,71 cm

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan tanaman jagung yang
ditanam di daerah Jatikerto, pertumbuhannya sangat bagus. Hal itu karena factor
cuaca yang sangat cocok bagi pertumbuhan jagung. Selain itu, pertumbuhan

tanaman jagung dikatakan baik karena dilihat dari tinggi tanaman yang semakin
meningkat setiap minggunya.
4.2.2 Jumlah daun
Minngu ke-4
Rata-rata jumlah daun = = = 4,88 daun = 5 daun
Minggu ke-5
Rata-rata jumlah daun = = = 6,03 daun = 6 daun
Minggu ke-6
Rata-rata jumlah daun = = = 8,44 daun = 8 daun
Minggu ke-7
Rata-rata jumlah daun = = = 7,14 daun = 7 daun
Minggu ke-8
Rata-rata jumlah daun = = = 8,6 daun = 9 daun
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan tanaman jagung dilihat
dari rata-rata jumlah daun yang tumbuh setiap minggunya cukup baik. Hal itu
dikarenakan pada minggu keempat sampai minggu keenam jumlah daunnya
selalu meningkat tetapi pada minggu ketujuh jumlah daunnya menurun. Tetapi
seminggu kemudian, pada minggu kedelapan jumlah daunnya meningkat
kembali. Pada minggu ketujuh, jumlah daun menurun mungkin disebabkan
karena pada minggu tersebut banyak hama yang menyerang daun jagung
sehingga daun jagung banyak yang mati atau layu.
4.2.3 Perbandingan dengan Kelompok Lain
a. Jumlah Tongkol
Jumlah tongkol pada tanaman jagung A2 rata-rata sebanyak I tongkol,
sedangkan pada kelas J2 rata-rata sebanyak 2 tongkol. Hal tersebut sesuai
dengan teori yang ada. Menurut Subekti dkk (2012), tanaman jagung
mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung
diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas
umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada
bagian bawah.
b. Saat Munculnya Malai
pada lahan A2 yang ditanami jagung, munculnya malai jagung rata-rata terjadi
pada minggu kedua atau minggu ketiga. Pada kelas A2, hanya ada satu sampel
yang muncul pada minggu keempat. Sedangkan pada kelas J2 munculnya malai
jagung. Menurut Subekti dkk (2012), tanaman jagung adalah protandry, di

mana pada sebagian besar varietas, bunga jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari
sebelum rambut bunga betina muncul (silking).
c. Bobot Tongkol Jagung per Tanaman
pada lahan A2 bobot tongkol yang diperoleh sangat beragam. Bobot tongkol
jagung pada lahan A2 paling kecil adalah 100 gram yang terdapat pada sampel
14, sedangkan bobot tongkol yang paling besar adalah pada sampel 11 sebesar
750 gram.
Pada lahan J2, bobot tongkol yang diperoleh dengan kelobot
adalah 7130/35 = 203,71 gram. Sedangkan bobot tongkol jagung tanpa kelobot
yaitu 4870/35 = 139,14 gram.

d. Bobot Jagung per Petak


Jumlah bobot jagung per petak adalah 4,870 kg pada sampel jagung J2,
sedangkan pada sampel jagung A2 bobot jagung sampel sebesar 5,2 kg. Hal ini
disebabkan karena pada lahan A2 dan pada lahan J2, unsur hara yang
terkandung dalam tanah berbeda. Selain itu, perbedaan tersebut disebabkan
juga karena hama yang menyerang lahan J2 lebih banyak daripada lahan A2.
e. Konversi per Hektar
Konversi per hektar pada lahan J2
Luas lahan seluruhnya = 3,5 m x 21 m
= 73,5 m2
= 7,35 x 10-3 ha
Jika 7,35 x 10-3 ha 57,3 kg (dengan klobot)
Maka 1 ha x kg

X = = 7796 kg = 7,8 ton


Konversi per hektar pada lahan A2
X = = 7199 kg = 7,2 ton
Jadi dapat disimpulkan bahwa lahan yang lebih memnghasilkan produksi jagung
yang tinggi adalah lahan dari J2.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan
daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasil kan
sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam. Sedangkan
pola tanam adalah penyusunan cara dan saat tanaman dari jenis-jenis tanaman
yang akan ditanam berikutnya pada waktu-waktu kosong pada sebidang lahan
tertentu. Pola tanam ada tiga yaitu pola tanam monokultur, pola tanam
campuran, pola tanam bergilir. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola tanam
yaitu ketersediaan air dalam satu tahun, prasarana yang tersedia dalam lahan
tersebut, jenis tanah setempat, kondisi umum daerah tersebut, dan kebiasaan
dan kemampuan petani setempat. Sedangkan syarat yang harus dipenuhi dalam
pola tanam adalah awal tanam dan jenis tanaman.
5.2 Kritik dan Saran
Dalam praktikum berjalan dengan lancar dan sangat enjoy. Mohon maaf apabila
selama ini banyak kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja. Terima
kasih atas bimbingannya selama ini.
J

DAFTAR PUSTAKA

Anonymousa. 2012. http://id.wikipedia.org/wiki/ . Diakses tanggal 9 Juni 2012


Anonymousb 2011 . Pengaturan Pola Tanam dan Pengolahan Tanah,
Serambi Indonesia: Indonesia. Diakses tanggal 9 Juni 2012

Beets, W,C. 1982. Multiple cropping and tropical faring system growth pusb. Co.
Ltd. Aldersho
Campbell, Vell,A. 2002. Biology. Erlangga. Jakarta
Novitan. 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Semeru,1995.Hortikultura dan Aspek Budaya. UI Press. Jakarta
Vincent,H Rubalzky,1998.Agriculture Fertilizer and Envisement.CO.BI
Publishing.New York