Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Bijih besi merupakan batuan yang mengandung mineral-mineral besi dan
sejumlah mineral gangue seperti silika, alumina, magnesia, dan lain-lain. Besi
yang terkandung dalam batuan tersebut dapat diekstraksi dengan teknologi
tertentu secara ekonomis (Hurlbut, 1971).
Besi merupakan unsur kuat golongan VIII B yang mempunyai nomor
atom 26. Kita dapat melihat besi di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari.
Segala barang yang harus kuat pasti terbuat dari besi, seperti tiang listrik,
jembatan, pintu air, dan kerangka bangunan. Peralatan perang juga semuanya
berbahan dasar besi. Tidak hanya barang-barang besar sampai yang berkekuatan
raksasa saja yang terbuat dari besi, barang-barang kecil pun banyak sekali yang
terbuat dari besi, seperti peniti, paku, pisau, pines, cangkul, kawat dan
sebagainya (Widyamartaya, 1983). Kegunaan utama besi adalah untuk membuat
baja. Baja tahan karat yang terkenal adalah stainless stell yang merupakan
paduan besi dengan 14-18% kromium 7-9% dan nikel. Melihat sangat banyaknya
peran besi dalam kehidupan maka sebagai Mahasiswa Pertambangan harus bisa
dan mengerti tentang bagaimana pengolahan besi itu sendiri hingga bisa menjadi
produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
I.2 Ruang Lingkup Penulisan
Adapun ruang lingkup yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
bagaimana proses pengolah bijih besi (Fe) menjadi benda-benda yang sering kita
temukan dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
I.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan dari penulisan makalahEkstraksi Metalurgi Pada Bijih Besi ini


adalah agar setiap orang khususnya mahasiswa Pertambangan mengerti dan
memahami pentingnya mengetahui proses yang terjadi dalam pengolahan hasil
tambang menjadi produk lain yang banyak dijumpai dalam kehidupan seharihari. Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui unsur yang terkandung dalam bijih besi.
2. Mengetahui pengolahan bejih besi.
3. Mengetahui manfaat dari bijih besi.
I.4 Metode Penulisan
Adapun metode yang digunkan oleh penulis, yaitu makalah ini disusun
dengan menggunakan metode studi pustaka, yaitu dengan mengacu kepada
literatur- literatur yang dapat diambil informasinya yang berkaitan dengan
makalah ini, serta informasi melalui internet.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Pengertian Bijih Besi
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak
digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari dari yang bermanfaat sampai
dengan yang merusakkan. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe dan
nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, terdiri atas
oksigen dan atom besi yang berikatan bersama dalam molekul. Besi sendiri
didapatkan dalam bentuk magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), goethit, limonit atau
siderit, yang biasanya kaya akan besi oksida dan beragam dalam hal warna, dari
kelabu tua, kuning muda, dan ungu tua.
II.2 Sumber Bijih Besi
Besi hampir tidak dijumpai di permukaan Bumi kecuali sebagai besi-nikel
paduan dari meteorit dan bentuk yang sangat jarang yaitu xenoliths. Meskipun
zat besi adalah unsur yang paling berlimpah keempat dalam kerak bumi, yang
terdiri dari sekitar 5%, sebagian besar terikat dalam mineral silikat atau karbonat
namun lebih jarang. Hambatan termodinamika untuk memisahkan besi murni
dari mineral-mineral adalah ikatan yang kuat dan energi yang besar, oleh karena
itu semua sumber besi yang digunakan oleh industri adalah mineral oksida besi,
bentuk utama yang digunakan sering hematit. Sebelum revolusi industri, besi
sebagian besar diperoleh dari goethite banyak tersedia atau bijih rawa, misalnya
selama Revolusi Amerika dan perang-perang Napoleon. Salah satu kelemahan
besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan banyak kerugian
karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang
menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah
besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal
untuk kebanyakan penggunaan besi. Korosi besi memerlukan oksigen dan air,

berbagai jenis logam contohnya Zink dan Magnesium dapat melindungi besi dari
korosi.
II.3 Penambangan Bijih Besi
Tambang aluvial adalah tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang
endapan-endapan alluvial, misalnya tambang bijih timah, pasir besi, emas dan
lain-lain.

Berdasarkan cara penggaliannya, maka alluvial mine dapat dibedakan


menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :
1. Tambang Semprot (Hydraulicking).
Pada tambang semprot penggalian endapan alluvial dilakukan dengan
menggunakan semprotan air yang bertekanan tinggi yang berasal dari
penyemprotan yang disebut monitor atau water jet atau giant. Tekanan aliran
air yang dihasilkan oleh monitor dapat diatur sesuai dengan keadaan material
yang akan digali atau disemprot yang biasanya bisa mencapai tekanan sampai
10 atm.
Untuk mengangkut material hasil galian atau semprotan ke instalasi
pengolahan digunakan air yang digerakkan dengan pompa. Jadi jika
digunakan cara penambangan tambang semprot harus tersedia cukup air, baik

untuk

sperasi

penambangan

maupun

untuk

proses

pengolahannya

(konsentrasi).
2. Manual mining method.
Manual

method

atau

penambangan

secara

sederhana

adalah

penambangan yang menggunakan tanaga manusia atau hampir tidak


menggunakan tenaga masin atau alat mekanis.
Cara ini biasanya dilakukan oleh rakyat setempat atau kontraktor kecil
untuk menambang endapan yang :
Ukuran atau jumlah cadangannya tidak besar.
Letaknya tersebar dan terpencil.
Tetapi endapannya cukup kaya.
Selain digunakan ditambang dengan cara alluvial mining pada beberapa lokasi
dilakukkan dengan cara open pit mining

BAB III
PEMBAHASAN
III.1 Pengertian Ekstraksi Metalurgi
Ekstraksi adalah teknik yang sering digunakan bila senyawa organik
(sebagian besar hidrofob) dilarutkan atau didispersikan dalam air. Pelarut yang
tepat (cukup untuk melarutkan senyawa organik, seharusnya tidak hidrofob)
ditambahkan pada fasa larutan dalam airnya, campuran kemudian diaduk dengan
baik sehingga senyawa organik diekstraksi dengan baik. Lapisan organik dan air
akan dapat dipisahkan dengan corong pisah, dan senyawa organik dapat diambil
ulang dari lapisan organik dengan menyingkirkan pelarutnya. Pelarut yang paling
sering digunakan adalah dietil eter C2H5OC2H5, yang memiliki titik didih rendah
(sehingga mudah disingkirkan) dan dapat melarutkan berbagai senyawa organik.
Untuk menghasilkan logam dari bijihnya, diperlukan suatu proses ekstraksi
metalurgi. Karena di alam bijih logam umumnya dalam bentuk oksida dan
sulfida, maka untuk menghasilkan logam diperlukan reaksi reduksi dan oksidasi.
Metalurgi adalah pengetahuan yang mengkaji tentang cara-cara pengolahan
logam dari bijihnya hingga memperoleh logam yang siap untuk digunakan.
Proses metalurgi dibagi menjadi 3 prinsip pengerjaan : (1) Perlakuan awal,
dengan cara melakukan pemekatan bijih (concentration of ore) agar bijih yang
diinginkan terpisah dari materi pengotor (gangue). (2) Proses reduksi, yaitu
mereduksi senyawa logam yang ada pada bijih agar berubah menjadi logam
bebas. (3) Pemurnian (refining), yaitu melakukan pengolahan logam kotor
melalui proses kimia agar diperoleh tingkat kemurnian tinggi.

Klasifikasi Proses Ekstraksi Metalurgi :


1. Pirometalurgi

Proses pirometalurgi ini merupakan pengambilan logam dari bijihnya


yang umumrnya paling tua. Proses ini berhubungan dengan temperatur
tinggi dan sebagian besar berlangsung sampai terjadi peleburan. Sifat dari
proses pirometalurgi ini cepat (jam).
2. Hidrometalurgi
Proses ekstraksi logam yang biasanya berlangsung pada temperatur kamar
dan melibatkan reaksi air. Proses hidrometalurgi ini lebih mampu untuk
mengolah bijih-bijih yang berkadar rendah. Proses yang terjadi biasanya
pelarutan. Sifat dari proses hidrometalurgi ini adalah lamabt (proses
berlangsung antara hari sampai bulan)
3. Elektrometalurgi
Proses-proses ekstraksi dan pemurnian yang melibatkan energi listrik
sebagai dasar-dasar ekstraksinya. Prinsip yang digunakan adalah elektrolisis
dan elektrokimia. Proses-proses hidrometalurgi umumnya berhubungan
dengan elektrometalurgi baik secara fisik maupun kepada penggunaannya.
Sedangkan suatu proses pirometalurgi yang pembangkit panasnya dari energi
listrik disebut proses elektrothermik.
III.2 Sifat-sifat Logam
Logam murni besi sangat reaktif secara kimiawi dan mudah terkorosi,
khususnya di udara yang lembab atau ketika terdapat peningkatan suhu.
Memiliki 4 bentuk allotroik ferit, yakni alfa, beta, gamma dan omega dengan
suhu transisi 700, 928, dan 1530oC. Bentuk alfa bersifat magnetik, tapi ketika
berubah menjadi beta, sifat magnetnya menghilang meski pola geometris
molekul tidak berubah.

Besi bersifat keras, rapuh, dan umumnya mudah dicampur, dan digunakan untuk
menghasilkan alloy lainnya, termasuk baja. Besi tempa yang mengandung kurang
dari 0.1% karbon, sangat kuat, dapat dibentuk, tidak mudah campur dan biasanya

memiliki struktur berserat. Baja karbon adalah alloy besi dengan sedikit Mn, S, P, dan
Si. Alloy baja adalah baja karbon dengan tambahan seperti nikel, khrom, vanadium
dan lain-lain. Besi relatif murah, mudah didapat, sangat berguna dan merupakan
logam yang sangat penting. Adapun Sifat Sifat istimewa logam yaitu :
1.

Kuat
Kecuali raksa, semua berwujud padat pada suhu kamar. Kekerasan dan
kekuatan logam dapat ditingkatkan dengan cara mencampurkan logam dengan
logam yang lain atau dengan non logam yang disebut aliase(alloy) misalnya
aliase aluminium denganmagnesium yang dimanfaatkan sebagai bahan
konstruksi bangunan, jembatan dan kendaraan bermotor.

2. Dapat ditempa dan dapat direnggangkan


Logam tidak hancur bila dipukul. Maka, logam dapat ditempa untuk
membuat berbagai perkakas, barang kerajinan atau perhiasan. Logam dapat
pula diulur menjadi kawat.
3. Konduktor lsitrik yang baik
Sifat ini yang mendasari penggunaan logam sebagai kabel listrik, serta alat
memasak seperti ketel, panci dan kuali.
4. Mengkilap jika digosok
Logam dimanfaatkan sebagai perhiasan maupun untuk dekorasi karena
memiliki sifat mengkilap jika di gosok.
5. Pada suhu kamar berwujud padat kecuali raksa (berwujud cair).

III.3 Bijih Besi (Iron Ore)


Bijih besi adalah bahan baku utama untuk pembuatan besi kasar, sedangkan
besi kasar tersebut adalah bahan baku untuk pembuatan besi tempa, besi tuang

dan baja. Bijih besi didapat dari hasil penambangan bijih besi. Sedangkan
bahan-bahan lain yang bercampur dengan bijih tersebut selain kotoran yang
merugikan antara lain belerang ,pospor silika , tanah liat juga ada kotoran yang
menguntungkan antara lain emas, platina, perak. Adapun yang termasuk bijih
besi tersebut antara lain :
1. Haematite ( Fe2O3 )
Bijih besi jenis ini, mempunyai kandungan besi sekitar 65 70 %.
Sedangkan warnanya adalah merah tua sampai hitam. Berat Jenis sekitar 4,5
s/d 5,3. Bijih besi ini banyak terdapat di negara India ,Brasilia, Rusia,
Spanyol , AS dan Afrika serta Jerman.
2. Magnetite ( Fe3O4)
Kandungan besinya sekitar 70 % s/d 73% ,Bijih besi ini merupakan bijih
besi yang terbanyak mengandung kadar besi, sedangkan warnanya :hitam
atau abu-abu ,Berat jenisnya berkisar: 4,9 s/d 5,2 ,Bijih besi ini sangat kuat
dan keras. Bijih besi ini banyak terdapat di Negara India, Swedia, Rusia, A
S, Norwegia dan Kanada.
3. Pyrities (FeS2 )
Bijih besi ini termasuk besi sulpat, dengan kandungan besinya berkisar 45
s/d 47 %, sedangkan warnanya kuning sampai coklat Berat Jenis berkisar 4,8
s/d 5,1. Bijih besi ini banyak terdapat di negara India, AS, Rusia dan
Kanada.
4. Limonite (2Fe2O3.3H2O )
Bijih besi ini disebut juga sebagai Hydratited-Haematite, warnanya dari
kuning sampai hitam, dan kandungan Fe nya sekitar 60 %, sedang kadar air
sekitar 14,5 %,Berat jenisnya berkisar 3,6 s/d 4 . Bijih besi ini terdapat di
negara India, Jerman dan AS.
5. Siderites (FeCO3).

Kandungan besinya sekitar 40 s/d 48 % ,sedangkan Berat jenisnya


berkisar: 3,7 s/d 3,9 Warnanya kuning sampai coklat. Terdapat di negara
Rusia dan Inggris.
Bijih besi ini terdapat di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan
Sumatera dengan kandungan hampir 2 miliar ton. Potensi kandungan bijih besi
dapat dilihat pada tabel Tabel 1.
Tabel 1 Potensi sumber daya besi di Indonesia
Jenis

Bijih (ton)

Logam (ton)

Cebakan
Bijih besi

320 462 611

182 908 676

besi

1 391 246 630

589 359 013

Pasir besi

42 169 416

21 307 662

Statistik Direktori Geologi dan Sumberdaya Mineral, 2005

III.4 Reaksi kimia


Besi(III) klorida merupakan asam Lewis yang relatif kuat, dan bereaksi
membentuk adduct dengan basa-basa Lewis. Contohnya adalah reaksi dengan
trifenilfosfin oksida, membentuk adduct FeCl3(OPPh3)2 dimana Ph = fenil.
Besi(III) klorida bereaksi dengan garam klorida lainnya membentuk ion
tetrahedral FeCl4 yang berwarna kuning. Garam-garam dari FeCl 4 dalam
asam klorida dapat diekstraksikan ke dietil eter. Jika dipanaskan bersama
besi(III) oksida pada temperatur 350 C, besi (III) klorida membentuk besi
oksiklorida, sebuah padatan berlapis.
FeCl3 + Fe2O3 3 FeOCl
Dalam suasana basa, alkoksida dari logam alkali bereaksi membentuk kompleks
dimer :
2 FeCl3 + 6 C2H5OH + 6 NH3 (Fe(OC2H5)3)2 + 6 NH4Cl
Besi(III) klorida bereaksi dengan cepat terhadap oksalat membentuk kompleks
[Fe(C2O4)3]3. Garam-garam karboksilat lainnya juga membentuk kompleks,
seperti sitrat dan tartarat. Besi(III) klorida adalah agen oksidator yang sedang,

mampu mengoksidasi tembaga(I) klorida to menjadi tembaga(II) klorida. Agen


pereduksi seperti hidrazin dapat mengubah besi(III) klorida menjadi kompleks
dari besi(II).
III.5 Proses Pembuatan Besi
1. Metalurgi
Metalurgi adalah proses pengolahan bahan-bahan alam menjadi logam
unsur yang selanjutnya menjadi logam dengan sifat-sifat yang diinginkan.
Bahan an organic alam yang ditemukan di kerak bumi disebut mineral,
contohnya bauksit dan aluminosilikat, sedang mineral yang dapat dijadikan
sumber untuk memproduksi bahan secara komersial disebut bijih. Bijih
logam yang paling umum adalah berupa oksida, sulfida, karbonat, silikat,
halida dan sulfat. Silikat sebenarnya paling melimpah, tetapi relatif tidak
berharga karena pengolahannya sulit. Metalurgi melalui tiga tahapan, yaitu :
a. Pemekatan bijih
Di dalam bijih mengandung batuan tak berharga yang disebut batureja
(gangue). Pemekatan bijih bertujuan untuk menyingkirkan sebanyak
mungkin batureja. Biji dihancurkan dan digiling sehingga butiran terlepas
dari batureja. Pemisahan selanjutnya dapat dilakukan dengan cara fisis
seperti pengapungan (flotasi) atau penarikan dengan magnet. Pada proses
pengapungan, bijih yang telah dihancurkan diberi minyak tertentu.
Mineral akan melekat pada buih sehingga terlepas dari batureja atau
batureja akan melekat pada buih.
b. Peleburan
Peleburan (smelting ) adalah proses reduksi bijih sehingga menjadi
logam unsur yang dapat digunakan berbagai macam zat seperti karbid,
hidrogen, logam aktif atau dengan cara elektrolisis. Pemilihan zat
peredusi ini tergantung darkereaktifan masing-masing zat. Makin aktif
logam makin sukar direduksi, sehingga diperlukan pereduksi yang lebih
kuat. Logam yang kurang aktif sepeti tembaga dan emas dapat direduksi

hanya dengan pemanasan. Logam dengan kereaktifan sedang, seperti besi,


nikel dan timah dapat direduksi denagn karbon, sedang logam aktif
seperti magnesium dan almuinium dapat direduksi dengan elektrolisis.
Seringkali proses peleburan ditambah dengan fluks, yaitu suatu bahan
yang mengikat pengotor dan membentuk zat yang mudah mencair, yang
disebut terak.
c. Pemurnian
Pemurnian (refining ) adalah penyesuaian komposisi kotoran dalam
logam kasar. Beberapa cara pemurnian :

Elektrolisis, Misalnya pemurnian tembaga dan nikel.

Destilasi, misalnya pemurnian seng dan raksa.

Peleburan ulang, misalnya pemurnian besi.


Pemurnian zona, yaitu suatu cara modern yang dilaksanakan dalam

pemurnian logam.
2. Pengolahan Besi
Ada 2 tahap untuk mengolah besi, yaitu peleburan yang bertujuan
untuk mereduksi bijih besi sehingga menjadi besi dan peleburan ulang yang
berguna dalam pembuatan baja. Peleburan besi dilakukan dalam suatu
tanur tiup (blast furnance). Tanur tiup adalah suatu bangunan yang
tingginya sekitar 30 meter dan punya diameter sekitar 8 meter yang terbuat
dari baja tahan karat yang dilapisi dengan bata tahan panas. Zat reduksi
yang digunakan adalah karbon denagan prinsip reaksi:
2FeO3 +3C 4Fe + 3CO2
Bahan yang dimasukkan dalam tanur ada 3 macam :
Bijih besi yang dikotori pasir.
Karbon (kokas )sebagai zat pereduksi

Batu kapur (CaCo3) untuk mengikat kotoran pasir (FLUKS) Suhu


dalam reaksi tersebut sangat tinggi sehingga besi mencair dan
disebut besi gubal (pig iron).
Besi cair pada umumnya langsung diproses untuk membuat baja.
Tetapi, juga dilairkan ke dalam cetakan untuk membuat besi tuang (cast
iron) yang mengandung 3-4 % karbon dan sedikit pengotor lain seperti Mn,
Si, P. Besi yang mengandung karbon sangat rendah (0,005-0,2%) disebut
besi tempa (wrought iron). Batu kapur berfungsi sebagai fluks, yaitu untuk
mengikat pengotor yang bersifat asam, seperti SiO2 membentuk terak.
Reaksi pembentukan terak adalah sebagai berikut. Mula mula batu kapur
terurai membentuk kalsium oksida (CaO) dan karbondioksida (CO2).
CaCO3(s) CaO(s) + CO2(g) Kalsium oksida kemudian bereaksi dengan
pasir membentuk kalsium silikat, komponen utama dalam terak. CaO(s) +
Si O2(s) CaSiO3 (l) Terak ini mengapung di atas besi cair dan harus
dikeluarkan dalam selang waktu tertentu.
Besi dan baja merupakan logam yang banyak digunakan dalam teknik;
dan meliputi 95% dari seluruh produksi logam dunia. untuk penggunaan
tertentu, besi dan baja merupakan satu-satunya logam yang memenuhi
persyaratan teknis maupun ekonomis, namun di beberapa bidang lainnya
logam ini mulai mendapat persaingan dari logam bukan besi dan bahan
bukan logam. diperkirakan bahwa besi telah dikenal manusia disekitar
tahun 1200 SM.
Proses pembuatan baja diperkenalkan oleh Sir Henry Bessemer dari
Inggris sekitar tahun 1800, sedang William Kelly dari Amerika pada waktu
yang hampir bersamaan berhasil membuat besi malleable. hal ini
menyebabkan timbulnya persengketaan mengenai masalah paten. Dalam
sidang-sidang pengasilan terbukti bahwa WIlliam Key lebih dahulu
mendapatkan hak paten.

Gambar 1. Proses ekstraksi dan daur ulang logam.

2.1. Pengolahan awal (pemekatan)


Bijih logam yang masih mengandung pengotor dihancurkan dan
digiling hingga terbentuk partikel-partikel berukuran kecil. Material
yang tidak diperlukan dikeluarkan dengan cara magnetik atau metode
pengapungan (flotasi) hingga terbentuk bijih murni.
2.2 Pengeringan dan pembakaran
Bijih murni dikeringkan dan dilebur (direduksi). Proses reduksi dalam
industri logam disebut peleburan (melting). Pada proses tersebut bijih
murni direduksi dari oksidanya menjadi logam bebas.
2.3. Pemurnian
Logam yang diperoleh pada tahap pengeringan dan pembakaran masih
mengandung pengotor sehingga perlu dilakukan pemurnian. Beberapa
metode pemurnian di antaranya elektrolisis (nikel dan tembaga), distilasi
(seng dan raksa), dan peleburan ulang (besi).
2.4 Pirometalurgi Besi
Sejumlah besar proses metalurgi menggunakan suhu tinggi untuk
mengubah bijih logam menjadi logam bebas dengan cara reduksi.

Penggunaan kalor untuk proses reduksi disebut pirometalurgi.


Pirometalurgi diterapkan dalam pengolahan bijih besi. Reduksi besi
oksida dilakukan dalam tanur sembur (blast furnace), yang merupakan
reaktor kimia dan beroperasi secara terus-menerus (Gambar 2).

Gambar 2. Pirometalurgi besi.


Campuran material (bijih besi, kokas, dan kapur) dimasukkan ke
dalam tanur melalui puncak tanur. Kokas berperan sebagai bahan
bakar dan sebagai reduktor. Batu kapur berfungsi sebagai sumber
oksida untuk mengikat pengotor yang bersifat asam. Udara panas yang
mengandung oksigen disemburkan ke dalam tanur dari bagian bawah
untuk membakar kokas. Di dalam tanur, oksigen bereaksi dengan
kokas membentuk gas CO.
2C(s) + O2(g) 2CO(g)

H = 221 kJ

Reaksinya melepaskan kalor hingga suhu tanur sekitar 2.300 C.


Udara panas juga mengandung uap air yang turut masuk ke dalam
tanur dan bereaksi dengan kokas membentuk gas CO dan gas H2.
C(s) + H2O(g) CO(g) + H2(g)

H = +131 kJ

Reaksi kokas dan oksigen bersifat eksoterm, kalor yang


dilepaskan dipakai untuk memanaskan tanur, sedangkan reaksi dengan
uap air bersifat endoterm. Oleh karena itu, uap air berguna untuk
mengendalikan suhu tanur agar tidak terlalu tinggi ( 1.900 C). Pada
bagian atas tanur ( 1.000 C), bijih besi direduksi oleh gas CO
dan H2 (hasil reaksi udara panas dan kokas) membentuk besi tuang.
Persamaan reaksinya :
Fe3O4(s) + 4CO(g) 3Fe(l) + 4CO2(g)
H = 15 kJ
Fe3O4(s) + 4H2(g) 3Fe(l) + 4H2O(g)
H = +150 kJ
Kokas adalah batu bara yang dipanaskan tanpa udara, mengandung 80
% 90 % karbon.Batu kapur yang ditambahkan ke dalam tanur, pada
1.000 C terurai menjadi kapur tohor. Kapur ini bekerja mereduksi
pengotor yang ada dalam bijih besi, seperti pasir atau oksida fosfor.
CaCO3(s)

CaO(l) + CO2(g)

CaO(l) + SiO2(l)

CaSiO3(l)

CaO(l) + P2O5(l)

Ca3(PO4)2(l)

Gas CO2 yang dihasilkan dari penguraian batu kapur pada bagian
bawah tanur (sekitar 1.900 C) direduksi oleh kokas membentuk gas
CO.
Persamaan reaksinya :
CO2(g) + C(s) CO(g) H = +173 kJ
Oleh karena bersifat endoterm, panas di sekitarnya diserap hingga
mencapai suhu 1.500 C. Besi tuang hasil olahan berkumpul di
bagian dasar tanur, bersama-sama terak (pengotor). Oleh karena terak
lebih ringan dari besi tuang, terak mengapung di atas besi tuang dan
mudah dipisahkan, juga dapat melindungi besi tuang dari oksidasi.

3. Pembuatan Besi Kasar


Bahan utama besi dan paduannya adalah besi kasar, yang dihasilkan
dalam tanur tinggi. Bijih besi yang dicampur dengan kokas dan batu
gamping (batu kapur) dilebur dalam tanur ini. Komposisi kimia besi yang
dihasilkan bergantung pada jenis bijih yang digunakan. Jenis bijih besi
yang lazim digunakan adalah hematit, magnetit, siderit dan himosit.
Hematit (Fe2O3) adalah bijih besi yang paling banyak dimanfaatkan
karena kadar besinya tinggi, sedangkan kadar kotorannya relatif rendah.
Meskipun pirit (FeS2) banyak ditemukan, jenis bijih ini tidak digunakan
karena kadar sulfur yang tinggi sehingga diperlukan tahap pemurnian
tambahan. Karena di alam ini besi berbentuk oksida dan karbonat, atau
sulfida sehingga hampir semua proses produksinya diawali dengan reduksi
dengan gas reduktor H2 atau CO. Ada dua jenis proses reduksi yaitu :
1. Proses Reduksi Tidak Langsung (Indirect Reduction)
Pada proses ini menggunakan tungku tanur tinggi (blast furnace)
dengan porsi 80% diproduksi dunia. Besi kasar dihasilkan dalam tanur
tinggi. Diameter tanur tinggi sekitar 8m dan tingginya mencapai 60 m.
Kapasitas perhari dari tanur tinggi berkisar antara 700 1600
Megagram besi kasar. Bahan baku yang terdiri dari campuran bijih,
kokas, dan batu kapur, dinaikkan ke puncak tanur dengan pemuat
otomatis,

kemudian

dimasukkan

ke

dalam

hopper.

Untuk

menghasilkan 100 Megagram besi kasar diperlukan sekitar 2000


Megagram bijih besi, 800 Megagram kokas, 500 Megagram batu
kapur dan 4000 Megagram udara panas. Bahan baku tersebut disusun
secara berlapis-lapis.
Udara

panas

dihembuskan

melalui

tuyer

sehingga

memungkinkan kokas terbakar secara efektif dan untuk mendorong


terbentuknya karbon monoksida (CO) yang bereaksi dengan bijih besi

dan kemudian menghasilkan besi dan gas karbon dioksida (CO2).


Dengan digunakannya udara panas, dapat dihemat penggunaan kokas
sebesar 30% lebih. Udara dipanaskan dalam pemanas mula yang
berbentuk menara silindris, sampai sekitar 500*C. Kalor yang
diperlukan berasal dari reaksi pembakaran gas karbon monoksida yang
keluar dari tanur. Udara panas tersebut memasuki tanur melalui tuyer
yang terletak tepat di atas pusat pengumpulan besi cair.
Batu kapur digunakan sebagai fluks yang mengikat kotorankotoran yang terdapat dalam bijih-bijih, dan membentuk terak cair.
Terak cair ini lebih ringan dari besi cair dna terapung diatasnya dan
secara berkala disadap. Besi cair yang telah bebas dari kotoran-kotoran
dialirkan kedalam cetakan setiap 5 6 jam.
Disamping setiap Megagram besi dihasilkan pula 0,5 Megagram
terak dan 6 Megagram gas panas. Terak dapat dimanfaatkan sebagai
bahan bangunan (campuran beton) atau sebagai bahan isolasi panas.
Gas panas dibersihkan dan digunakan untuk pemanas mula udara,
untuk membangkitkan energi atau sebagai media pembakar dapurdapur lainnya. Komposisi besi kasar dapat dikendalikan melalui
pengaturan kondisi operasi dan pemilihan susunan campuran bahan
baku.
2. Proses Reduksi Langsung (Direct Reduction)
Pada proses reduksi langsung bijih besi bereaksi dengan gas
atau bahan padat reduksi membentuk sponge iron. Proses ini
diterapkan di PT Krakatau Steel, CIlegon. Disini bijih besi / pellet
direaksikan dengan gas alam dalam dua unit pembuat sponge iron,
yang masing-masing berkapasitas 1juta ton pertahun. Dengan Tingkat
metalisasi 86 90 % Sponge Iron yang berbentuk butiran kemudian
diolah lebih lanjut dalam dapur listrik. Disini sponge iron bersama-

sama besi tua (scrap), dan paduan ferro dilebur dan diolah menjadi
billet baja. Untuk menghasilkan 63 megagram sponge iron
diperlukan sekitar 100 megagram besi pellet. Proses ini sangat efektif
untuk mereduksi oksida-oksida dan belerang sehingga dapat
dimanfaatkan bijih besi berkadar rendah.

BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.

Besi dijumpai berikatan dengan oksida dan karbonat, atau sulfida.

2.

Besi dapat di ekstrak dari mineral seperti Haematite ( Fe2O3 ),Magnetite


( Fe3O4),Pyrities (FeS2 ),Limonite (2Fe2O3.3H2O ),Siderites (FeCO3).

3.

Proses pembuatan besi melalui empat tahapan, yaitu pengolahan awal


(pemekatan),pengeringan dan pembakaran,pemurnian,dan pirometalurgi besi.

4.

Pada proses pirometalurgi besi, didalam tanur membentuk campuran material


(bijih besi, kokas, dan kapur) Kokas berperan sebagai bahan bakar dan sebagai
reduktor. Batu kapur berfungsi sebagai sumber oksida untuk mengikat pengotor
yang bersifat asam.

IV.2 Saran
Makalah ini berisi sedikit mengenai proses pembuatan besi, oleh karena itu sebaiknya
pembaca tidak merasa puas dan menulis yang lebih lagi, selain itu makalah ini hanya
sebagai bacaan bukan pedoman.

PENGOLAHAN BIJIH BESI

TUGAS II

Dibuat untuk memenuhi syarat kurikulum mata kuliah Ekstraksi Metalurgi


pada Jurusan Teknik Pertambangan

Oleh :
Budi Darmawan
Imam Purwadi
Exsa Apriansyah Ritonga
Rinaldy Nuri Agung

03101002001
03101002087
03111002058
03111002038

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
2014