Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

PSORIASIS VULGARIS
OLEH: RETNO UTAMI, S.Kep
NIM 102311101045

A. Konsep teori tentang penyakit (pengertian, etiologi, patofisiologi, tanda


dan gejala, kemungkinan komplikasi yang muncul, pemeriksaan khusus
dan penunjang, terapi yang dilakukan)
1. Pengertian
Psoriasis adalah gangguan kulit yang ditandai dengan adanya plak,
bercak-bercak, dan skuama yang disebut penyakit papuloskuamosa.
Penyakit ini tampak sebagai plak tebal eritematosa dan papula-paula
yang tertutup oleh sisik putih seperti perak. Plak ini biasanya terdapat
di daerah lutut, siku, dan kulit kepala. Tetapi erupsi kulit dapat
menyerang bagian tubuh manapun kecuali selaput lendir (Price &
Wilson, 2005).
Psoriasis merupakan penyakit inflamasi noninfeksius yang kronik pada
kulit dimana produksi sel-sel epidermis terjadi dengan kecepatan
kurang lebih enam hingga sembilan kali lebih besar daripada kecepatan
yang normal. Sel-sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu
cepat, dan sel-sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke
permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik atau plak jaringan
epidermis yang profus. Sel epidermis yang mengalami psoriasis dapat
berjalan dari lapisan sel basal epidermis ke stratum korneum dan
melepaskan diri dalam waktu 3 hingga 4 hari sehingga sangat berbeda
dengan waktu 26 hingga 28 hari yang normal. Sebagai akibat dari
peningkatan jumlah sel basal dan pergerakan sel yang cepat, kejadian
maturasi dan pertumbuhan sel yang normal tidak dapat berlangsung.
Proses yang abnormal ini tidak memungkinkan terbentuk lapisan
protektif kulit yang normal (Smeltzer & Bare, 2002).

2. Etiologi
Psoriasis merupakan penyakit yang diturunkan, meskipun cara
penurunan penyakit ini belum dimengerti sepenuhnya. Riwayat
kelaurga dapat ditemukan pada 66% pasien psoriasis. Antigen leukosit
manusia histokompatibilitas HLA-B13, HLA-B17 dan HLA-Cw6
meningkat empat kali lipat pada pasien psoriasis. Faktor lingkungan
juga memegang peranan penting pada penyakit ini. Trauma pada kulit
dapat menimbulkan lesi baru psoriasis, terutama di tempat kulit
tertusuk, tergores, atau tersayat (Price & Wilson, 2005).
Sebagai salah satu penyakit kulit yang paling sering ditemukan,
psoriasis menjangkiti kurang lebih 2% populasi. Diperkirakan bahwa
keadaan ini berasal dari cacat herediter yang menyebabkan over
produksi keratin. Meskipun penyebab primernya tidak diketahui,
kombinasi susunan genetik yang spesifik dan rangsangan dari
lingkungan dapat memicu terjadinya penyakit tersebut. Ada beberapa
bukti yang menunjukkan bahwa proliferasi sel diantarai oleh sistem
imun. Periode stres emosional dan ansietas turut memperburuk
keadaan, sementara trauma, infeksi serta perubahan musim dan
hormonal merupakan faktor pemicu. Awitan psoriasis dapat terjadi
pada segala usia kendati lebih sering dijumpai diantara usia 10 dan 30
tahun. Psoriasis memiliki kecenderungan untuk membaik sendiri dan
kemudian muncul kembali serta periodik di sepanjang usia
penderitanya (Smeltzer & Bare, 2002). Beberapa faktor pencetus
terjadinya psoriasis antara lain:
1. Infeksi: oleh streptococcus, candida albicans,
HIV,Staphylococcus
2. Obat-obatan: antimalaria, beta-adrenergic blocker,
corticosteroid, lithium, ACE- Inhibitor
3. Trauma fisik: koebner phenomenon

4. Stress: pada sebagian penderita faktor stres dapat menjadi


faktor pencetus. Penyakit ini sendiri dapat menyebabkan
gangguan psikologis pada penderita, sehingga menimbulkan
satu lingkaran setan, dan hal ini memperberat penyakit. Sering
pengobatan psoriasis tidak akan berhasil apabila faktor stres
psikologis ini belum dapat dihilangkan.
5. Cuaca yang panas dan sinar matahari dilaporkan memiliki efek
yang menguntungkan, sementara cuaca dingin memiliki efek
yang berlawanan.
6. Alkohol: Umumnya dipercaya bahwa alkohol berefek
memperberat psoriasis tetapi pendapat ini belum dikonfirmasi
dan kepercayaan ini muncul berdasarkan observasi peminum
alcohol yang mengalami flare up ketika mengkonsumsi alcohol.
7. Faktor endokrin: Puncak insiden psoriasis pada waktu pubertas
dan menopause. Pada waktu kehamilan umumnya membaik,
sedangkan pada masa pasca partus memburuk.

3. Patofisiologi
Pada kulit dengan psoriasis, siklus sel epidermal terjadi lebih cepat.
Perubahan morfologik dan kerusakan sel epidermis akan menimbulkan
akumulasi sel monosit dan limfosit pada puncak papil dermis dan di
dalam stratum basalis sehingga menyebabkan pembesaran dan
pemanjangan papil dermis. Sel epidermodermal bertambah luas,
lipatan dilapisan bawah stratum spinosum bertambah banyak. Proses
ini menyebabkan pertumbuhan kulit lebih cepat dan masa pertukaran
kulit menjadi lebih pendek dari normal, dari 28 hari menjadi 3-4 hari.
Stratum granulosum tidak terbentuk dan didalam stratum korneum
terjadi parakeratosis.

Pembelahan sel pada stratum basale terjadi setiap 1.5 hari, dan migrasi
keratinosit ke stratum corneum terjadi kira-kira dalam 4 hari. Karena
sel-sel mencapai permukaan dengan sangat cepat, sel-sel tersebut tidak
berdiferensiasi dan berkembang dengan sempurna. Stratum corneum
tidak terkeratinisasi secara sempurna dan sel-sel epidermal
berkembang dan menumpuk dengan abnormal dan menjadi berskuama.
Epidermis pada lesi psoriasis tiga hingga lima kali lebih tebal dari
normal. Pembuluh darah dalam stratum papilare dermis terdilatasi dan
sel-sel inflamasi, seperti neutrofil, menginfiltrasi epidermis. Pada
psoriasis terjadi peningkatan mitosis sel epidermis sehingga terjadi
hiperplasia, juga terjadi penebalan dan pelebaran kapiler sehingga
tampak lesi eritematous. Pendarahan terjadi akibat dari rupture kapiler
ketika skuama dikerok.
4. Tanda dan gejala
Lesi muncul sebagai bercak-bercak merah menonjol pada kulit yang
ditutupi oleh sisik berwarna perak. Bercak-bercak bersisik tersebut
terbentuk karena penumpukan kulit yang hidup dan mati akibat
peningkatan kecepatan pertumbuhan serta pergantian sel-sel kulit yang
sangat besar. Jika sisik tersebut dikerok, maka terlihat dasar lesi yang
berwarna merah gelap dengan titik-titik perdarahan. Bercak-bercak ini
tidak basah dan bisa terasa gatal atau tidak basah. Lesi dapat tetap
berukuran kecil sehingga terbentuk psoriasis gutata. Biasanya lesi
melebar secara perlahan-lahan, tetapi setelah beberapa bulan
kemudian, lesi-lesi tersebut akan menyatu sehingga terbentuk bercak
irreguler yang lebar. Psoriasis dapat menimbulkan permasalahan mulai
dari masalah kosmetika yang mengganggu hingga keadaan yang
menimbulkan cacat dan ketidakmampuan fisik. Tempat-tempat tertentu
pada tubuh cenderung terkena kelainan ini, tempat-tempat tersebut
mencakup kulit kepala, daerah disekitar siku serta lutut, punggung
bagian bawah dan genitalia. Psoriasis juga dapat ditemukan pada
permukaan ekstensor lengan dan tungkai, daerah disekitar sakrum serta
lipatan intergluteal. Distribusi simetris bilateral merupakan ciri khas

psoriasis. Pada kurang lebih seperempat hingga separuh dari pasienpasien, kelainan tersebut mengenai kuku yang menyebabkan terjadinya
pitting, perubahan warna kuku serta penggumpalan pada ujung bebas
dan pemisahan lempeng kuku. Kalau psoriasis terjadi pada telapak
kaki dan tangan, keadaan ini bisa menimbulkan lesi pustuler (Smeltzer
& Bare, 2002).
Tanda gan gejala yang sering muncul pada pasien dengan psoriasis
adalah sebagai berikut.
1. Lesi psoriasis, dengan karakteristik sebagai berikut.
Bercak-bercak eritem yang meninggi (plak) dengan

skuama di atasnya.
skuama berlapis-lapis, kasar, dan berwarna putih

seperti mika dan transparan.


Pada kulit terdapat eritema mengkilap yang homogen

dan terdapat perdarahan kecil jika skuama dikerok.


Ukuran lesi bervariasi-lentikuler, numuler, plakat.
2. Kelainan bentuk kuku yaitu juga perubahan warna lokal yang
spesifik yaitu bercak berwarna kuning atau coklat disebabkan
karena debris seluler di bawah kuku.

Gambar 1. Kelainan kuku pada penderita pasoriasis


3. Fenomena tetesan lilin yaitu lesi yang berbentuk skuama
dikerok maka skuama akan berubah warna menjadi putih yang
disebabkan oleh karena perubahan indeks bias.

Gambar 2. Fenomena tetesan lilin psoriasis


4. Auspitz sign ialah bila skuama yang berlapis-lapis dikerok
akan timbul bintik-bintik pendarahan yang disebabkan
papilomatosis yaitu papilla dermis yang memanjang tetapi bila
kerokan tersebut diteruskan maka akan tampak pendarahan
yang merata.

Gambar 3. Auspitz sign


5. Fenomena kobner ialah bila kulit penderita psoriasis terkena
trauma misalnya garukan maka akan muncul kelainan yang
sama dengan kelainan psoriasis.
5. Komplikasi
Penyakit ini dapat disertai artritis asimetris pada lebih dari satu sendi
dengan faktor reumatoid yang negatif. Perubahan artritik ini dapat
terjadi sebelum atau sesudah munculnya lesi kulit. Hubungan antara
artritis dan psoriasis belum dipahami. Komplikasi lainnya berupa
keadaan psoriatik eksfoliatif di mana penyakit tersebut berlanjut
dengan mengenai seluruh permukaan tubuh. Psoriasis dapat
menimbulkan keputusasaan dan frustasi pada pasien, orang yang
melihatnya dapat saja mengamati, berkomentar, mengajukan
pertanyaan yang menjengkelkan pasien atau bahkan menghindari

pasien. Penyakit ini pada akhirnya bisa menghabisakan sumber daya


pasien, mempengaruhi pekerjaannya dan membuat hidup pasien
sebagai penderitaan. Pada remaja merupakan kelompok yang rentan
terhadap efek psikologik dari penyakit ini. Keluarga juga dapat terkena
efek tersebut karena pengobatan yang menghabiskan waktu,
pemakaian salep yang mengotori dan pengelupasan sisik yang terusmenerus dapat mengacaukan kehidupan rumah serta menimbulkan
kekesalan. Frustasi pasien dapat diekspresikan lewat sikap bermusuhan
yang ditunjukkan kepada petugas kesehatan dan orang lain (Smeltzer
& Bare, 2002).
6. Pemeriksaan penunjang
1. Histopatologi
Menurut Gudjonsson dan Elder (2012) beberapa perubahan
patologis pada psoriasis yang dapat terjadi pada epidermis maupun
dermis adalah sebagai berikut:
Hiperkeratosis adalah penebalan lapisan korneum.
Parakeratosis adalah terdapatnya inti stratum korneum

sampai hilangnya stratum granulosum.


Akanthosis adalah penebalan lapisan stratum spinosum

dengan elongasi reteridge epidermis.


Granulosit neutrofilik bermigrasi melewati epidermis

membentuk mikro abses munro di bawah stratum korneum.


Peningkatan mitosis pada stratum basalis.
Edema pada dermis disertai infiltrasi sel-sel

polimorfonuklear, limfosit, monosit dan neutrofil.


Pemanjangan dan pembesaran papila dermis.
2. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk menganalisis penyebab
psoriasis seperti pemeriksaan darah rutin, kimia darah, gula darah,
kolesterol, dan asam urat. Bila penyakit tersebar luas, pada 50%
pasien dijumpai peningkatan asam urat, dimana hal ini berubungan
dengan luasnya lesi dan aktifnya penyakit. Hal ini meningkatkan
resiko tejadinya artritis gout. Laju endapan eritrosit dapat
meningkat terutama terjadinya pada fase aktif. Dapat juga

ditemukan peningkatan metabolit asam nukleat pada ekskresi urin.


Pada psoriasis berat, psoriasis pustular general dan eritroderma
keseimbangan nitrogen terganggu terutama penurunan serum
albumin. Protein C reakti, makroglobulin, level Ig A serum dan
komplek IgA meningkat, dimana sampai saat ini peranan pada
psoriasis tidak diketahui.
7. Terapi
Pengobatan psoriasis kronik memerlukan pengetahuan tentang
berbagai metode pengobatan, kesabaran dan dokter serta perawat yang
berpengalaman. Penyakit yang terlokalisasi diobati dengan
kortikosteroid topikal pada wajah dan daerah intertriginosa, dan pada
anak-anak digunakan steroid yang lemah seperti hidrokortison 1,5%.
Steroid lain yang lemah adalah alclometason (Aclovate) dan desonid.
Sedangkan pada tubuh, ekstremitas dan kulit kepala dianjurkan
pemakaian steroid kekuatan sedang, seperti triamsinolon (aristocort),
mometason (elocon), betametason valerat (valison), dan flutikason
(cultivate). Steroid kuat- fluosionida (lidex), halsinonida (halog),
klobetasol (temovate), halobetasol (ultravate), dan betametason
dipropionat (diprolene) di pakai hanya untuk plak yang resisten.
Steroid topikal yang kuat lebih efektif dibandingkan dengan steroid
berkekuatan sedang namun dapat menyebabkan atrofi kulit yang
ireversibel dan penekanan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal. Tidak
dianjurkan pengobatan dengan steroid topikal yang kuat melebihi 2
minggu, dan dosis total tidak boleh melebihi 50 gram krim perminggu
(Price & Wilson, 2005).
Preparat ter dalam krim atau shampo jarang dipakai. Menggosok tubuh
dengan minyak yang mengandung ter (Balnetar) juga membantu.
Semua obat-obatan ini berefek mengurangi proliferasi sel, membuat
epidermis menjadi lebih tipis dan menyebabkan plak dan skuama yang
ditimbulkan oleh psoriasis menghilang. Derivat vitamin D terbaru
yaitu, salep 1,25 dihidroksi vitamin D3 (Donovex), dapat digunakan
dengan keberhasilan yang tinggi pada sekitar 30% pasien dengan plak

psoriasis. Seringkali donovex digunakan 3 hingga 4 kali perminggu


yang dikombinasikan dengan steroid topikal yang kuat. Derivat
retinoid (Tazorac) digunakan sebagai gel topikal untuk plak tebal
psoriasis yang terlokalisir. Pengobatan tersebut dapat menyebabkan
iritasi lokal dan seharusnya tidak digunakan pada wanita yang dapat
hamil ketika menjalani operasi (Price & Wilson, 2005).
Psoriasis generalisata yang berat perlu dirawat di rumah sakit untuk
mendapatkan perawatan intensif dengan steroid topikal, ter, dan
penyinaran dengan sinar ultraviolet. Kekambuhan psoriasis sering
timbul 3 sampai 6 bulan setelah pasien dipulangkan dari rumah sakit.
psoriasis berat sekarang dapat diobati pada pasien rawat jalan dengan
pengobatan yang didasarkan pada kombinasi penggunaan psoralen
yaitu suatu pengobatan fotosensitisasi oral dengan psoralen dan sinar
ultraviolet panjang (PUVA), UVA tidak efektif kecuali bila
dikombinasikan dengan psoralen. Pengobatan ini sebaiknya jangan
dilakukan terhadap pasien yang memiliki riwyat radiasi sinar X,
kanker kulit, atau katarak. Pengobatan dengan cara ini dapat
menyebabkan karsinoma sel skuamosa, terutama bila dilakukan pada
skrotum. Sinar ultraviolet yang lebih pendek (UVB) berhasil dipakai
pada pengobatan psoriasis yang berat. Modifikasi sinar UVB membuat
para dokter mengobati pasiennya dengan bekas UVB yang sangat tipis,
yang lebih efektif dibandingkan sinar UVB yang konvensional. Obat
antineoplastik oral yaitu metotreksat tampaknya berguna untuk
mengobati pasien dengan psoriasis tipe plak yang berat, psoriasis
pustularis, atau artritis yang membuat pasien menjadi cacat. Tetapi,
obat oral ini dapat menyebabkan sirosis hati yang ireversibel, atau
menekan sumsum tulang. Pengobatan yang lama dengan menggunakan
metotreksat membutuhkan pengawasan enzim hati, jumlah leukosit,
dan eritrosit yang lebih sering. Biopsi hati biasanya diperlukan ketika
dosis kumulatif metotreksat mencapai 1 gram (Price & Wilson, 2005).
Metode pengobatan terbaru untuk psoriasis adalah etretinat oral
(Tegison). Retinoid aromatik oral yang baru ini sangat baik untuk

mengobati psoriasis eritrodermik dan pustularis dan berguna untuk


psoriasis plak yang membandel. Obat ini tidak boleh diberikan pada
perempuan usia subur karena merupakan teratogen yang kuat. Retinoid
juga meningkatkan kadar enzim hati, kolesterol, dan trigliserida. Efek
samping yang timbul termasuk pengeringan kulit, kehilangan rambut,
sakit kepala, diare, mialgia, dan atralgia. Bila dipakai lebih dari 12
bulan, harus dilakukan pemeriksaan radiogram tulang untuk
memeriksa deposit kalsium pada sendi (Price & Wilson, 2005).
Ada tiga terapi yang standar (Smeltzer & Bare, 2002)
1. Terapi topikal
Preparat yang dioleskan secara topikal digunakan untuk
melambatkan aktivitas epidermis yang berlebihan tanpa
mempengaruhi jaringan lainnya. Obat-obatnya mencakup preparat
ter, anthralin, asam salisilat dan kortikosteroid. Terapi dengan
preparat ini cenderung mensupresi epidermopiosis (pembentukan
sel-sel epidermis).
2. Terapi intralesi
Penyuntikan triamsinolon asetonida intralesi (Aristocort, Kenalog10, Trymex) dapat dilakukan langsung ke dalam bercak-bercak
psoriasis yang terlihat nyata atau yang terisolasi dan resisten
terhadap bentuk terapi lainnya. Kita harus berhati-hati agar kulit
yang normal tidak disuntik dengan obat ini.
3. Terapi sistemik
Preparat sitotoksik sistemik seperti metotreksat pernah digunakan
untuk mengobati psoriasis yang luas tidak responsif terhadap
bentuk-bentuk terapi yang lain. Preparat sistemik lainnya yang
dipakai akhir-akhir ini adalah hidroksiurea (Hydrea) dan
siklosporin A (CyA).

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Biodata
Biodata pasien secara lengkap yang mencakup umur (penyakit psoriasis
dapat menyerang semua kelompok umur, tetapi umumnya pada orang
dewasa), jenis kelamin (insiden pada laki-laki agak lebih banyak
daripada wanita) suku bangsa (lebih banyak terjadi pada orang kulit
putih daripada kulit berpigmen).
b. Keluhan utama
Keluhan yang timbul, lesi bersisik pada kulit, terasa agak gatal dan
panas.
c. Riwayat penyakit sekarang
Adanya infeksi sehingga tanda-tanda infeksi dapat ditemukan, dapat
juga karena faktor psikologis. Biasanya pasien sedang mengalami
kondisi psikologis ang tidak menyenangkan (stres, sedih, marah, dll).
Lesi yang timbul semakin hebat pada cuaca yang dingin, dan rasa gatal
semakin terasa terutama pada daerah predileksi.
d. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit dahulu sebagian pasien pernah menderita pennyakit
yang sama dengan kondisi yang dirasa sekarang. Riwayat penyakit
infeksi juga perlu dikaji (misal: tonsilitis, faringitis, atau TB paru).
e. Riwayat penyakit keluarga
Diduga faktor genetik juga mempengaruhi sehingga perlu dikaji riwayat
keluarga yang menderita penyakit psoriasis.
f. Riwayat psikososial
Meskipun psoriasis tidak menyebabkan kematian, penyakit ini
menyebabkan gangguan kosmetik karena psoriasis dapat mengenai
seluruh tubuh sehingga tidak enak dipandang mata.
g. Kebiasaan sehari-hari
Perlu dikaji kebiasaan membersihkan diri pasien yaitu cara mandi (lesi
psoriasis tidak boleh digosok secara kasar karena dapat menimbulkan
trauma [fenomena kobner]) dan dapat merangsang proses pertumbuhan
kulit lebih cepat. Kebersihan lingkuan pasien, terutama tempat tidur
perlu dikaji karena skuama lesi sering dijumpai ditempat tidur terutama
saat pasien bangun tidur pagi.
h. Pola fungsi kesehatan

1) Pola persepsi kesehatan


Adanya riwayat infeksi sebelumnya
Pengobatan sebelumnya tidak berhasil
Riwayat mengkonsumsi obat-obatan tertentu
Adakah konsultasi rutin ke dokter
Personal hygiene yang tidak baik
Lingkungan yang kurang sehat, tinggal berdesak-desakan.
2) Pola nutrisi metabolik
Pola makan sehari-hari: jumlah makan, waktu makan, berapa

kali sehari makan


Kebiasaan mengkonsumsi makanan tertentu: berminyak dan

pedas
Jenis makanan yang disukai
Nafsu makan menurun
Muntah-muntah
Penurunan berat badan
Turgor kulit buruk, kering, bersisik, pecah-pecah, benjolan
Perubahan warna kulit, terdapat bercak-bercak, gatal-gatal, rasa

terbakar atau perih.


3) Pola eliminasi
Sering berkeringat
Tanyakan pola berkemih dan bowel
4) Pola aktivitas dan latihan
Pemenuhan sehari-hari terganggu
Kelemahan umum, malaise
Toleransi terhadap aktivitas rendah
Mudah berkeringat saat melakukan aktivitas ringan
Perubahan pola napas saat melakukan aktivitas.
5) Pola tidur dan istirahat
Kesulitan tidur pada malam hari karena stres
Mimpi buruk.
6) Pola persepsi kognitif
Perubahan dalam konsentrasi dan daya ingat
Pengetahuan akan penyakitnya.
7) Pola persepsi dan konsep diri
Perasaan tidak percaya diri atau minder
Perasaan terisolasi.
8) Pola hubungan dengan sesama
Hidup sendiri atau berkeluarga
Frekuensi interaksi berkurang
Perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.

9) Pola reproduksi seksual


Gangguan pemenuhan kebutuhan biologis dengan pasangan
Penggunaan obat KB mempengaruhi hormon.
10) Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres
Emosi tidak stabil
Ansietas, takut akan penyakitnya
Disorientasi, gelisah.
11) Pola sistem kepercayaan
Perubahan dalam diri pasien dalam melakukan ibadah
Agama yang dianut
i. Pemeriksaan fisik
Saat inspeksi pada beberapa tempat lesi ditemukan adanya perubahan
struktur kulit. Tampak adanya makula dan papil eritematosa jika
terkumpul akan membentuk lesi yang lebar pada daerah prediksi, dapat
ditemukan ruang dan skuama yang berlapis-lapis seperti lilin atau mika
berwarna putih perak berbentuk bulat atau lonjong. Pada palpasi teraba
skuama yang kasar, tebal, dan berlapis-lapis.
j. Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan histopatologi untuk menentukan kepastian diagnosisi
dari psoriasis dapat ditemukan:
1) Pemanjangan dan pembesaran papil dermis
2) Penipisan sampai hilangnya stratum granulosum
3) Peningkatan mitosis pada stratum basalis
4) Edema dermis disertai infiltrasi limfosit dan monosit.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi akibat
aktifitas infiltrasi sel-sel CD4
2. Resiko infeksi dengan faktor risiko pertahanan tubuh primer
yang tidak adekuat: kerusakan integritas kulit, dan pengetahuan
yang tidak cukup untuk menghindari pemajanan patogen.
3. Gangguan body image berhubungan dengan adanya skuama
4. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
terhadap penyakit

4. Evaluasi
S : data subjektif berisi data dari pasien melalui anamnesis
(wawancara) yang merupakan ungkapan langsung
O : data objektif data yang dari hasil observasi melalui pemeriksaan
fisik
A : analisis dan interpretasi berdasarkan data yang terkumpul
kemudian dibuat kesimpulan yang meliputi diagnosis, antisipasi
diaognosis atau masalah potensial, serta perlu tidaknya dilakukan
tindakan segera.
P : perencanaan merupakan rencana dari tindakan yang akan diberikan
termasuk asuhan mandiri, serta konseling untuk tindak lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Ajunadi, Purnawan dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius:


Jakarta.
Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.
Gudjonsson dan elder. 2012. Identification of 15 new psoriasis
susceptibility loci highlights the role of innate immunity.
http://www.nature.com/ng/journal/v44/n12/full/ng.2467.html
[Diakses tanggal 26 April 2015].
Price, Sylvia A. & Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC.

Smeltzer & Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah


Brunner & Suddarth. Edisi 8 Volume 3. Jakarta: EGC.