Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

PID (Pelvic Inflammatory Disease)

Oleh :
PRISILLA DESFIANDI , S.Ked
110.2010.220
Pebimbing :
dr. Mathius S Gasong, Sp.OG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN
KANDUNGAN
RUMAH SAKIT MOHAMMAD RIDWAN MEURAKSA
OKTOBER DESEMBER 2014

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pelvic Inflammatory Disease (PID) adalah istilah klinis umum untuk
infeksi traktus genital atas. Terdapat sekitar 1 juta kasus PID di Amerika Serikat
setiap tahunnya. Prevalensi ini meningkat pada negara berkembang dengan
masyarakat sosioekonomik rendah.
Lebih dari seperempat pasien PID membutuhkan rawatan di rumah sakit.
Resiko meningkat pada daerah dengan prevalensi penyakit menular seksual tinggi
akibat dari aktivitas seksual bebas dan berganti pasangan. Negara berkembang
seperti Indonesia memiliki segala resiko yang menyebabkan rentannya terjadi PID
pada wanita Indonesia.
Untuk itu, diperlukan pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat untuk
mengurangi prevalensi PID. Karenanya, dibutuhkan pengetahuan tentang PID
agar dapat dicegah, didiagnosa dini, dan ditatalaksana dengan cepat dan segera.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk membahas lebih
lanjut dan menambah wawasan pembaca mengenai PID dalam populasi secara
umum, deteksi dini, manifestasi klinis dan cara penatalaksanaannya secara tepat.
Dan untuk memenuhi persyaratan kepaniteraan klinik poliklinik ginekologi
minggu 8 departemen obstetri dan ginekologi.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 PELVIC INFLAMMATORY DISEASE
2.1.1 Definisi
Pelvic inflammatory disease (PID) adalah penyakit infeksi dan inflamasi
pada traktur reproduksi bagian atas, termasuk uterus, tuba fallopi, dan struktur
penunjang pelvis. PID merupakan sebuah spektrum infeksi pada traktus genitalia
wanita yang termasuk di dalamnya endometritis, salpingitis, tuba-ovarian abses,
dan peritonitis.
PID biasanya disebabkan oleh kolonisasi mikroorganisme di endoserviks
yang bergerak ke atas menuju endometrium dan tuba fallopi. Inflamasi dapat
timbul kapan saja dan pada titik manapun di traktus genitalia.
2.1.2 Epidemiologi dan Faktor Resiko
Epidemiologi
PID adalah masalah kesehatan yang cukup sering. Sekitar 1 juta kasus PID
terjadi di Amerika Serikat dalam setahun dan total biaya yang dikeluarkan
melebihi 7 juta dollar per tahun. Lebih dari seperempat kasus PID membutuhkan
rawatan inap. PID menyebabkan 0,29 kematian per 1000 wanita usia 15-44 tahun.
Diperkirakan 100000 wanita menjadi infertil diakibatkan oleh PID.
WHO mengalami kesulitan dalam menentukan prevalensi PID akibat dari
beberapa hal termasuk kurangnya pengenalan penyakit oleh pasien, kesulitan
akses untuk merawat pasien, metode subjektif yang digunakan untuk
mendiagnosa, dan kurangnya fasilitas diagnosti pada banyak negara berkembang,
dan sistem kesehatan masyarakat yang sangat luas.

Faktor Resiko
Terdapat beberapa faktor resiko terjadinya PID, namun yang utama adalah
aktivitas seksual. PID yang timbul setelah periode menstruasi pada wanita dengan
aktivitas seksual berjumlah sekitar 85%, sedangkan 15% disebabkan karena luka
pada mukosa misalnya akbiat AKDR atau kuretase.
Resiko juga meningkat berkaitan dengan jumlah pasangan seksual. Wanita
dengan lebih dari 10 pasangan seksual cenderung memiliki peningkatan resiko
sebesar 3 kali lipat.
Usia muda juga merupakan salah satu faktor resiko yang disebabkan oleh
kurangnya kestabilan hubungan seksual dan mungkin oleh kurangnya imunitas.
Factor resiko lainnya yaitu pemasangan kontrasepsi, etnik, status
postmarital dimana resiko meningkat 3 kali dibanding yang tidak menikah, infeksi
bakterial vaginosis, dan merokok. Peningkatan resiko PID ditemukan pada etnik
berkulit putih dan pada golongan sosioekonomik rendah. PID sering muncul pada
usia 15-19 tahun dan pada wanita yang pertama kali berhubungan seksual.
Pasien yang digolongkan memiliki resiko tinggi untuk PID adalah wanita
berusia dibawah 25 tahun, menstruasi, memiliki pasangan seksual yang multipel,
tidak menggunakan kontrasepsi, dan tinggal di daerah yang tinggi prevalensi
penyakit menular seksual. PID juga sering timbul pada wanita yang pertama kali
berhubungan seksual. Pemakaian AKDR meningkatkan resiko PID 2-3 kali lipat
pada 4 bulan pertama setelah pemakaian, namun kemudian resiko kembali
menurun. Wanita yang tidak berhubungan seksual secara aktif dan telah menjalani
sterilisasi tuba, memiliki resiko yang sangat rendah untuk PID.
2.1.3 Etiologi
PID biasanya disebabkan oleh mikroorganisme penyebab penyakit
menular seksual seperti N. Gonorrhea dan

C. Trachomatis. Mikroorganisme

endogen yang ditemukan di vagina juga sering ditemukan pada traktus genitalia
wanita dengan PID. Mikroorganisme tersebut termasuk bakteri anaerob seperti
prevotella dan peptostreptokokus seperti G. vaginalis. Bakteri tersebut bersama

dengan flora vagina menyebar secara asenden dan secara enzimatis merusak
barier mukosa serviks.
N. gonorrhea dan C. Trachomatis telah diduga menjadi agen etiologi
utama PID, baik secara tunggal maupun kombinasi. C. trachomatis adalah bakteri
intraseluler patogen. Secara klinis, infeksi akibat parasit intraseluler obligat ini
bermanifestasi dengan servisitis mukopurulen.
Bakteri fakultatif anaerob dan flora endogen vagina dan perineum juga
diduga menjadi agen etiologi potensial untuk PID. Yang termasuk diantaranya
adalah Gardnerella vaginalis, Streptokokus agalactiae, Peptostreptokokus,
Bakteroides, dan mycoplasma genital, serta ureaplasma genital. Patogen
nongenital lain yang dapat menyebabkan PID yaitu haemophilus influenza dan
Haemophilus parainfluenza.
Actinomices diduga menyebabkan PID yang dipicu oleh penggunaan
AKDR. Pada negara yang kurang berkembang, PID mungkin disebabkan juga
oleh salpingitis granulomatosa yang disebabkan Mycobakterium tuberkulosis dan
Schistosoma.
2.1.4 Patofisiologi
PID disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme secara asenden ke
traktus genital atas dari vagina dan serviks. Mekanisme pasti yang bertanggung
jawab atas penyebaran tersebut tidak diketahui, namun aktivitas seksual mekanis
dan pembukaan serviks selama menstruasi mungkin berpengaruh.
Banyak kasus PID timbul dengan 2 tahap. Tahap pertama melibatkan
akuisisi dari vagina atau infeksi servikal. Penyakit menular seksual yang
menyebabkannya mungkin asimptomatik. Tahap kedua timbul oleh penyebaran
asenden langsung mikroorganisme dari vagina dan serviks. Mukosa serviks
menyediakan barier fungsional melawan penyebaran ke atas, namun efek dari
barier ini mungkin berkurang akibat pengaruh perubahan hormonal yang timbul
selama ovulasi dan mestruasi. Gangguan suasana servikovaginal dapat timbul
akibat terapi antibiotik dan penyakit menular seksual yang dapat mengganggu
keseimbangan flora endogen, menyebabkan organisme nonpatogen bertumbuh
|

secara berlebihan dan bergerak ke atas. Pembukaan serviks selama menstruasi


dangan aliran menstrual yang retrograd dapat memfasilitasi pergerakan asenden
dari mikrooragnisme. Hubungan seksual juga dapat menyebabkan infeksi asenden
akibat dari kontraksi uterus mekanis yang ritmik. Bakteri dapat terbawa bersama
sperma menuju uterus dan tuba.
Faktor resiko meningkat pada wanita dengan pasangan seksual multipel,
punya riwayat penyakit menular seksual sebelumnya, pernah PID, riwayat
pelecehan seksual, berhubungan seksual usia muda, dan mengalami tindakan
pembedahan. Usia muda mengalami peningkatan resiko akibat dari peningkatan
permeabilitas mucosal serviks, zona servical ektopi yang lebih besar, proteksi
antibody chlamidya yang masih rendah, dan peningkatan perilaku beresiko.
Prosedur pembedahan dapat menghancurkan barier servikal, sehingga menjadi
predisposisi terjadi infeksi.
Figure 16.1 Micro-organisms originating in the endocervix ascend into the
endometrium, fallopian tubes, and peritoneum, causing pelvic inflammatory
disease (endometritis,salpingitis,peritonitis).

AKDR telah diduga merupakan predisposisi terjadinya PID dengan


memfasilitasi transmisi mikroorganisme ke traktus genitalia atas. Kontrasepsi oral
justru mengurangi resiko PID yang simptomatik, mungkin dengan meningkatkan

viskositas mukosa oral, menurunkan aliran menstrual antegrade dan retrograde,


dan memodifikasi respon imun local.
Pada traktus bagian atas, jumlah mikroba dan factor host memiliki peranan
terhadap derajat inflamasi dan parut yang dihasilkan. Infeksi uterus biasanya
terbatas pada endometrium, namun dapat lebih invasive pada uterus yang gravid
atau postpartum. Infeksi tuba awalnya melibatkan mukosa, tapi inflamasi
transmural yang dimediasi komplemen yang bersifat akut dapat timbul cepat dan
intensitas terjadinya infeksi lanjutan pun meningkat. Inflamasi dapat meluas ke
struktur parametrial, termasuk usus. Infeksi dapat pula meluas oleh tumpahnya
materi purulen dari tuba fallopi atau via penyebaran limfatik dalam pelvis
menyebabkan peritonitis akut atau perihepatitis akut.
2.1.5 Jenis - Jenis
Beberapa jenis inflamasi yang termasuk PID dan sering ditemukan adalah :
Salpingitis
Mikroorganisme yang tersering menyebabkan salpingitis adalag N.
Gonorhea dan C. trachomatis. Salpingitis timbul pada remaja yang memiliki
pasangan seksual multiple dan tidak menggunakan kontrasepsi. Gejala meliputi
nyeri perut bawah dan nyeri pelvis yang akut. Nyeri dapat menjalar ke kaki. Dapat
timbul sekresi vagina. Gejala tambahan berupa mual, muntah, dan nyeri kepala.
Temuan

laboratorium

yaitu

normal

leukosit

atau

leukositosis.Penatalaksanaan adalah dengan antimicrobial terapi. Pasien harus


dihospitalisasi, tirah baring, dan diberi pengobatan empirik. Prognosis bergantung
pada terapi antimicrobial spectrum luas dan istirahat yang total. Komplikasi
berupa hidrosalping, pyosalping, abses tubaovarian, dan infertilitas.
Abses Tuba Ovarian
Abses ini dapat muncul setelah onset salpingitis, namun lebih sering akibat
infeksi adnexa yang berulang. Pasien dapat asimptomatik atau dalam keadaan
septic shock. Onset ditemukan 2 minggu setelah menstruasi dengan nyeri pelvis

dan abdomen, mual, muntah, demam, dan takikardi. Seluruh abdomen tegang dan
nyeri. Leukosit dapat rendah, normal, atau sangat meningkat.
Diagnosa diferensial yaitu kista ovarium, neoplasma ovarium, kehamilan
ektopik, dan periapendiceal abses. Penatalaksanaan awal dengan antibiotik. Jika
massa tidak mengecil setelah 2-3 minggu terapi antibiotic, merupakan indikasi
pembedahan.
2.1.6 Diagnosis
Secara tradisional, diagnosa PID didasarkan pada trias tanda dan gejala
yaitu, nyeri pelvik, nyeri pada gerakan serviks, dan nyeri tekan adnexa, dan
adanya demam. Namun, saat ini telah terdapat beberapa variasi gejala dan tanda
yang membuat diagnosis PID lebih sulit. 3 beberapa wanita yang mengidap PID
bahkan tidak bergejala.
Table 16.4 Clinical Criteria for the Diagnosis of Pelvic Inflammatory Disease

Gejala dan Tanda

Nyeri tekan organ pelvis


Leukorrhea dan mucopurulen endoservisitis

Kriteria tambahan untuk meningkatkan spesifisitas diagnose

Biopsy endometrium yang menunjukkan endometritis


Paningkatan C-reactive protein atau erythrocyte sedimentation rate
Suhu lebih dari 38C
Leukositosis
Test Positif untuk gonorrhea atau chlamydia

Criteria rumit

Ultrasound menunjukkan tubo-ovarian abscess


Laparoscopi menunjukkan konfirmasi salpingitis
Penegakan diagnosa dimulai dengan anemnese, dimana pasien dapat
mengeluhkan gejala yang bervariasi. Gejala muncul pada saat awal siklus
menstruasi atau pada saat akhir menstruasi. Nyeri abdomen bagian bawah
|

dijumpai pada 90% kasus dengan kriteria nyeri tumpul, bilateral, dan
konstan.Nyeri diperburuk oleh gerakan, olahraga, atau koitus.1 Nyeri dapat juga
dirasakan seperti tertusuk, terbakar, atau kram. Nyeri biasanya berdurasi <7 hari.
Sekresi cairan vagina terjadi pada 75% kasus. Demam dengan suhu >38,
mual, dan muntah. gejala tambahan yang lain meliputi perdarahan per vaginam,
nyeri punggung bawah, dan disuria. Nyeri organ pelvis dijumpai pada PID.
Adanya nyeri pada pergerakan serviks menandakan adanya inflamasi peritoneal
yang menyebabkan nyeri saat peritoneum teregang pada pergerakan serviks dan
menyebabkan tarikan pada adnexa.
PID dapat didiagnosa dengan riwayat nyeri pelvis, sekresi cairan vagina,
nyeri tekan adnexa, demam, dan peningkatan leukosit.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, biasanya didapati :

Nyeri tekan perut bagian bawah

Pada pemeriksaan pelvis dijumpai : sekresi cairan mukopurulen, nyeri


pada pergerakan serviks, nyeri tekan uteri, nyeri tekan adnexa yang
bilateral

Mungkin ditemukan adanya massa adnexa

Beberapa tanda tambahan adalah :

Suhu oral lebih dari 38C

Pemeriksaan Laboratorium

Pada pemeriksaan darah rutin dijumpai jumlah leukosit lebih dari 100.000
pada 50% kasus. Hitung leukosit mungkin normal, meningkat, atau
menurun, dan tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan PID.

Peningkatan erythrocyte sediment rate digunakan untuk membantu


diagnose namun tetap tidak spesifik.

Peningkatan c-reaktif protein, tidak spesifik.

Pemeriksaan DNA dan kultur gonorrhea dan chlamidya digunakan untuk


mengkonfirmasi PID.

Urinalisis harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi


saluran kemih.

Pemeriksaan Radiologi

Transvaginal ultrasonografi : pemeriksaan ini memperlihatkan adnexa,


uterus, termasuk ovaroium. Kehadiran cairan bebas di cul de sac atau
kantong Douglas bukanlah suatu tanda spesifik dari PID; mungkin dalam
kondisi lain juga ada seperti pecahnya folikel/ pecahnya kista ovarium,
overdistensi kandung kemih, keganasan atau kehamilan ektopik. Telah
diperkirakan bahwa 50% dari pasien dengan PID dapat menunjukkan
cairan bebas dalam cul de sac

Transvaginal US demonstrating fluid in the cul de sac


(pouch of Douglas)

CT digunakan untuk mendiagnosa banding PID. Penemuan CT pada PID


adalah servisitis, ooforitis, salpingitis, penebalan ligament uterosakral, dan
adanya abses atau kumpulan cairan pelvis. Penemuan CT scan tidak
spesifik pada kasus PID dimana tidak bukati abses. Sejumlah kecil cairan
dalam cul de sac bisa dideteksi oleh CT. Suatu abses Tubo-ovarium
mungkin tergambar sebagai massa peradangan dengan komponen padat

10

dan kistik, dengan peningkatan semua atau bagian dari komponen padat.
Tampilan paling sering dari Tubo-ovarium abcess adalah adanya cairan
yang mengandung massa dengan dinding tebal.

Enhanced CT demonstrating a large pelvic inflammatory mass (tubo-ovarian in


origin) with an abscess (a), the arrow point to the thick wall of the abscess

MRI jarang mengindikasikan PID. Namun jika digunakan akan terlihat


penebalan, tuba yang berisi cairan dengan atau tanpa cairan pelvis bebas
atau kompleks tubaovarian.

Prosedur Lain
Laparoskopi adalah standar baku untuk diagnosis defenitif PID.
Mengevaluasi cairan di dalam abdomen dilakukan untuk menginterpretasi
kerusakan. Pus menunjukkan adanya abses tubaovarian, rupture apendiks, atau
abses uterin. Darah ditemukan pada ruptur kehamilan ektopik, kista korpus
luteum, mestruasi retrograde, dll.
Criteria minimum pada laparoskopi untuk mendiagnosa PID adalah edema
dinding tuba, hyperemia permukaan tuba, dan adanya eksudat pada permukaan
tuba dan fimbriae. Massa pelvis akibat abses tubaovarian atau kehamilan ektopik

11

dapat terlihat. Endometrial biopsi dapat dilakukan untuk mendiagnosa


endometritis secara histopatologis.
2.1.7 Diagnosa Differensial
Beberapa diagnosa banding untuk PID adalah :

tumor adnexa

appendicitis

servisitis

kista ovarium

torsio ovarium

aborsi spontan

infeksi saluran kemih

kehamilan ektopik

endometriosis

2.1.8 Pencegahan
Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pencegahan dapat dilakukan dengan mecegah terjadi infeksi yang
disebabkan oleh kuman penyebab penyakit menular seksual, terutama
chlamidya. Peningkatan edukasi masyarakat, penapisan rutin, diagnosis
dini, serta penanganan yang tepat terhadap infeksi chlamidya berpengaruh
besar dalam menurunkan angka PID. Edukasi hendaknya focus pada
metode pencegahan penyakit menular seksual, termasuk setia terhadap
satub pasangan, menghindari aktivitas seksual yang tidak aman, dan
menggunakan pengaman secara rutin.
2. Adanya program penapisan penyakit menular seksual dapat mencegah
terjadinya PID pada wanita. Mengadakan penapisan terhadap pria perlu
dilakukan untuk mencegah penularan kepada wanita.
3. Pasien yang telah didiagnosa dengan PID atau penyakit menular seksual
harus diterapi hingga tuntas, dan terapi juga dilakukan terhadap
pasangannya untuk mencegah penularan kembali.
|

12

4. Wanita usia remaja harus menghindari aktivitas seksual hingga usia 16


tahun atau lebih.
5. Kontrasepsi oral dikatakan dapat mengurangi resiko PID.
6. Semua wanita berusia 25 tahun ke atas harus dilakukan penapisan terhadap
chlamidya tanpa memandang faktor resiko.
2.1.9 Penatalaksanaan
CDC memperbaharui panduan untuk diagnosis dan manajemen PID.
Panduan CDC terbaru membagi criteria diagnostic menjadi 3 grup :
1. Grup 1 : minimum kriteria dimana terapi empiris diindikasikan bila
tidak ada etiologi yang dapat dijelaskan. Kriterianya yaitu adanya
nyeri tekan uterin atau adnexa dan nyeri saat pergerakan serviks.
2. Grup 2 : kriteria tambahan mengembangkan spesifisitas diagnostic
termasuk kriteria berikut : suhu oral >38,3C, adanya secret
mukopurulen dari servical atau vaginal, peningkatan erythrocyte
sedimentation rate, peningkatan c-reactif protein, adanya bukti
laboratorium infeksi servikalis oleh N. gonorhea atau C.
trachomatis.
3. Grup 3 : kriteria spesifik untuk PID didasarkan pada prosedur yang
tepat untuk beberapa pasien yaitu konfirmasi laparoskopik,
ultrasonografi transvaginal yang memperlihatkan penebalan, tuba
yang terisi cairan dengan atau tanpa cairan bebas pada pelvis, atau
kompleks

tuba-ovarian,

dan

endometrial

biopsy

yang

memperlihatkan endometritis.
Kebanyakan pasien diterapi dengan rawatan jalan, namun terdapat indikasi
untuk dilakukan hospitalisasi yaitu :

Diagnosis yang tidak jelas

Abses pelvis pada ultrasonografi

Kehamilan

Gagal merespon dengan perawatan jalan

13

Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap regimen oral

Sakit berat atau mual muntah

Imunodefisiensi

Gagal untuk membaik secara klinis setelah 72 jam terapi rawat jalan

Terapi dimulai dengan terapi antibiotik empiris spectrum luas. Jika terdapat
AKDR, harus segera dilepas setelah pemberian antibiotic empiris pertama. Terapi
terbagi menjadi 2 yaitu terapi untuk pasien rawat inap dan rawat jalan.
Terapi pasien rawatan inap
Regimen A : berikan cefoxitin 2 gram iv atau cefotetan 2 gr iv per 12 jam
ditambah doxisiklin 100 mg per oral atau iv per 12 jam. Lanjutkan regimen ini
selama 24 jam setelah pasien pasien membaik secara klinis, lalu mulai doxisiklin
100 mg per oral 2 kali sehari selama 14 hari. Jika terdapat abses tubaovarian,
gunakan metronoidazole atau klindamisin untuk menutupi bakteri anaerob.
Regimen B : berikan clindamisin 900 mg iv per 8 jam tambah gentamisin 2 mg/kg
BB dosis awal iv diikuti dengan dosis lanjutan 1,5 mg/kg BB per 8 jam. Terapi iv
dihentikan 24 jam setelah pasien membaik secara klinis, dan terapi per oral 100
mg doxisiklin dilanjutkan hingga 14 hari.
Terapi pasien rawatan jalan
Regimen A : berikan ceftriaxone 250 mg im dosis tunggal tambah doxisiklin 100
mg oral 2 kali sehari selama 14 hari, dengan atau tanpa metronidazole 500 mg 2
kali sehari selama 14 hari.
Regimen B : berikan cefoxitin 2 gr im dosis tunggal dan proibenecid 1 gr per oral
dosis tunggal atau dosis tunggal cephalosporin generasi ketiga tambah dozisiklin
100 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazole 500 mg
oral 2 kali sehari selama 14 hari.
Pasien dengan terapi intravena dapat digantika dengan terapi per oral
setelah 24 jam perbaikan klinis. Dan dilanjutkan hingga total 14 hari. Penanganan

14

juga termasuk penanganan simptomatik seperti antiemetic, analgesia, antipiretik,


dan terapi cairan.
Terapi Pembedahan
Pasien yang tidak mengalami perbaikan klinis setelah 72 jam terapi harus
dievaluasi ulang bila mungkin dengan laparoskopi dan intervensi pembedahan.
Laparotomi digunakan untuk kegawatdaruratan sepeti rupture abses, abses yang
tidak respon terhadap pengobatan, drainase laparoskopi. Penanganan dapat pula
berupa salpingoooforektomi, histerektomi, dan bilateral salpingooforektomi.
Idealnya, pembedahan dilakukan bila infeksi dan inflamasi telah membaik.
Panduan CDC untuk penatalaksanaan PID3

2.1.10 Prognosis

15

Prognosis pada umunya baik jika didiagnosa dan diterapi segera. Terapi
dengan antibiotik memiliki angka kesuksesan sebesar 33-75%. Terapi
pembedahan lebih lanjut dibutuhkan pada 15-20% kasus. Nyeri pelvis kronik
timbul oada 25% pasien dengan riwayat PID. Nyeri ini disangka berhubungan
dengan perubahan siklus menstrual, tapi dapat juga sebagai akibat perlengketan
atau hidrosalping. Gangguan fertilitas adalah masalah terbesar pada wanita
dengan riwayat PID. Rerata infertilitas meningkat seiring dengan peningkatan
frekuensi infeksi. Resiko kehamilan ektopik meningkat pada wanita dengan
riwayat PID sebagai akibat kerusakan langsung tuba fallopi.
2.1.11 Komplikasi
Abses tuba ovarian adalah komplikasi tersering dari PID akut, dan timbul
pada sekitar 15-30% wanita yang dirawat inap di RS. Sekuele yang
berkepanjangan, termasuk nyeri pelvis kronik, kehamilan ektopik, infertilitas, dan
kegagalan implantasi dapat timbul pada 25% pasien. Lebih dari 100000 wanita
diperkirakan akan mengalami infertilitas akibat PID.
Keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan dapat menyebabkan sekuele
seperti infertilitas. Mortalitas langsung muncul pada 0,29 pasien per 100000 kasus
pada wanita usia 15-44 tahun. Penyebab kematian yang utama adalah rupturnya
abses tuba-ovarian. Kehamilan ektopik 6 kali lebih sering terjadi pada wanita
dengan PID.

16

BAB 3
PENUTUP
3.1.1 KESIMPULAN
Pelvic inflammatory disease (PID) adalah penyakit infeksi dan inflamasi
pada traktur reproduksi bagian atas, termasuk uterus, tuba fallopi, dan struktur
penunjang pelvis. PID biasanya disebabkan oleh mikroorganisme penyebab
penyakit menular seksual seperti N. Gonorrhea dan

C. Trachomatis. PID

disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme secara asenden ke traktus genital


atas dari vagina dan seviks. Mekanisme pasti yang bertanggung jawab atas
penyebaran tersebut tidak diketahui, namun aktivitas seksual mekanis dan
pembukaan serviks selama menstruasi mungkin berpengaruh. Secara tradisional,
diagnose PID didasarkan pada trias tanda dan gejala yaitu, nyeri pelvic, nyeri pada
gerakan serviks, dan nyeri tekan adnexa, dan adanya demam. Laparoskopi adalah
standar baku untuk diagnosis defenitif PID. Terapi dimulai dengan terapi
antibiotik empiris spectrum luas. Penanganan juga termasuk penanganan
simptomatik seperti antiemetic, analgesia, antipiretik, dan terapi cairan. Pasien
yang tidak mengalami perbaikan klinis setelah 72 jam terapi harus dievaluasi
ulang bila mungkin dengan laparoskopi dan intervensi pembedahan. Prognosis
pada umunya baik jika didiagnosa dan diterapi segera. Prognosis pada umunya
baik jika didiagnosa dan diterapi segera.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Shepherd, Suzanne M. Pelvic Inflammatory Disease. 2010. Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/256448-print [diperbaharui tanggal
4 Februari 2010]
2. Reyes, Iris. Pelvic Inflammatory Disease. 2010. Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/796092-print [diperbaharui tanggal
10 September 2010]
3. Berek, Jonathan S. 2007. Pelvic Inflammatory Disease dalam Berek &
Novaks Gynekology 14th Edition. California : Lippincott William &
Wilkins.
4. Pernoll, Martin L. 2001. Pelvic Inflammatory Disease dalam Benson &
Pernolls handbook of Obstetric and Gynecology 10th edition. USA :
McGrawhill Companies.
5. Edmonds, Keith D. 2007. The Role of Ultrasound in Gynaecology dalam
Dewhursts Textbook of Obstetric and Gynaecology 7th edition. London :
Blackwell Publishing.
6. Mudgil, Shikha. 2009. Pelvic Inflammatory Disease/Tubo-ovarian
Abscess. Diunduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/404537print [diperbaharui tanggal 10 Agustus 2009]

18

Anda mungkin juga menyukai