Anda di halaman 1dari 10

Bab II

Tinjauan Pustaka
2.1 Produksi H2
Sampai saat ini, bahan bakar minyak masih menjadi sumber energi yang utama. Karena
kelangkaan serta harganya yang mahal, saat ini orang-orang berlomba untuk mencari sumber
energi alternatif, dan di antaranya adalah H2. Hingga saat ini, berbagai cara produksi H2
terus dikembangkan. Berikut merupakan beberapa penjelasan mengenai metode produksi H2
yang telah banyak dikembangkan.

2.1.1 Elektrolisis air


Elektrolisis air merupakan penguraian air menjadi H2 dan O2 dengan cara mengalirkan arus
listrik. Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi elektrolisis ini akan membentuk
gelembung pada elektroda dan kemudian dapat dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai
bahan bakar.
Sumber energi listrik dihubungkan dengan dua buah elektroda. Reaksi yang terjadi pada
anoda saat elektrolisis berlangsung adalah terurainya dua molekul air menjadi O2 dan
melepaskan empat ion H+ serta mengalirkan elektron ke katoda.
2H2O O2 + 4H+ + 4e
Pada katoda, elektron ditangkap oleh dua molekul air menghasilkan H2 dan OH-.
2H2O + 2e H2 + 2OHSecara keseluruhan, reaksi elektrolisis air adalah sebagai berikut.
2H2O(l) 2H2(g) + O2(g)
Proses elektrolisis ini membutuhkan energi yang tinggi sehingga biaya yang diperlukan
cukup mahal dibandingkan dengan nilai energi yang diperoleh.

2.1.2 SRM (Steam Reforming of Methanol)


Steam Reforming of Methanol merupakan reaksi metanol dengan uap air pada suhu tinggi
dengan bantuan katalis untuk menghasilkan H2. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
CH3OH + H2O CO2 + 3H2
SRM biasanya dilakukan pada suhu 200-3000C, tekanan 1 bar, dan perbandingan metanol air
yang biasa digunakan adalah 1:1 sampai 1:3. Katalis yang digunakan untuk SRM pada
umumnya adalah katalis CuO/ZnO dengan menggunakan alumina sebagai penyangga.
Hanya saja, reaksi bersifat endotermik sehingga untuk menjalankan reaksi diperlukan panas
dari luar. Berbagai katalis telah dikembangkan untuk SRM, dan saat ini telah ditemukan
katalis yang memiliki nilai konversi dan selektivitas mencapai lebih dari 90%. Produk utama
dari SRM adalah gas H2, karbon dioksida dan sebagian kecil karbon monoksida2, 3.

2.1.3 Gasifikasi biomas


Gasifikasi merupakan proses konversi bahan bakar padat (pada umumnya) menjadi bahan
bakar gas dengan cara pembakaran. Proses pembakaran yang dilakukan merupakan proses
pembakaran tidak sempurna sehingga dihasilkan gas yang masih memiliki nilai bakar (CO,
H2, CH4). Gasifikasi biomassa merupakan salah satu metoda untuk merubah bahan bakar
padat seperti tandan kelapa sawit , sekam padi, kayu, dan sampah organik lainnya menjadi
gas bernilai bakar seperti CO, CH4, dan H2. Selama proses gasifikasi, biomassa mengalami
urutan reaksi yang kompleks (pengeringan, pirolisis, pembakaran).)
Pembakaran biomassa juga menghasilkan karbon dioksida. Akan tetapi, karbondioksida yang
dihasilkan akan distabilkan dengan penyerapan kembali oleh tumbuhan. Hal ini
menyebabkan tidak adanya penimbunan gas karbon dioksida dalam atmosfer dan
keberadaannya terus seimbang.
Selain gasifikasi biomassa, terdapat pula gasifikasi batu bara yang dapat menghasilkan H2.
Batu bara adalah bahan bakar padat yang memiliki nilai bakar yang tinggi. Gasifikasi
batubara pada prinsipnya adalah proses pengubahan batubara menjadi gas yang mudah
terbakar. Batubara bersama-sama oksigen akan dikonversi menjadi H2, CO, dan CH4. Semua
gas tersebut memiliki nilai bakar yang sangat tinggi4, 5.

2.2 Katalis
Katalis merupakan suatu zat yang dapat mempercepat terjadinya reaksi kimia. Katalis
bekerja secara spesifik untuk reaksi tertentu dan dapat menurunkan besarnya energi aktivasi
6

suatu reaksi. Penurunan energi aktivasi ini disebabkan oleh aktivitas katalis yang mencari
jalur reaksi lain yang memiliki energi aktivasi lebih rendah. Katalis akan bereaksi dengan
pereaksi, namun katalis akan diperoleh kembali di akhir reaksi.
Katalis terbagi dua jenis, yaitu katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis homogen
adalah katalis yang memiliki fasa yang sama dengan pereaksi. Keunggulan dari katalis
homogen adalah aktivitasnya yang sangat tinggi. Selain itu, reaksi berlangsung pada seluruh
bagian katalis sehingga efisiensinya tinggi. Hanya saja, karena fasanya sama dengan
pereaksi, setelah reaksi selesai katalis akan bercampur dengan hasil reaksi. Katalis memang
dapat diperoleh kembali, namun biaya pemisahan katalis dari produk sangat tinggi sehingga
sangat tidak menguntungkan.
Jenis katalis yang kedua adalah katalis heterogen. Katalis heterogen memiliki fasa yang
berbeda dengan pereaksi sehingga katalis heterogen dapat diperoleh dengan mudah di akhir
reaksi. Reaksi pada katalis heterogen hanya berlangsung pada beberapa bagian dari katalis
saja. Selain itu, aktivitas katalis heterogen biasanya sangat kecil jika dibandingkan dengan
katalis homogen. Oleh karena itu, untuk menutupi kekurangan tersebut, reaksi dijalankan
pada pada suhu dan atau tekanan yang sangat tinggi.
Katalis heterogen memiliki tiga komponen, yaitu fasa aktif, promotor dan penyangga. Fasa
aktif merupakan sisi aktif dari katalis yang merupakan tempat terjadinya reaksi pada katalis.
Semakin luas permukaan fasa aktif, maka aktivitas akan semakin baik. Fasa aktif tersebut
biasanya disebar dalam suatu penyangga. Dengan kata lain, penyangga berperan dalam hal
sebaran fasa aktif. Semakin luas permukaan penyangga, maka fasa aktif akan tersebar lebih
banyak sehingga akan meningkatkan aktivitas. Penyangga juga berfungsi untuk
menstabilkan katalis. Reaksi dengan menggunakan katalis heterogen biasanya dijalankan
pada suhu tinggi. Pada suhu tinggi fasa aktif mudah terdekomposisi sehingga penyangga
biasa digunakan untuk mencegah dekomposisi fasa aktif.
Komponen lain pada katalis heterogen adalah promotor. Promotor berfungsi untuk
memperbaiki kinerja katalis. Misalnya untuk mencegah sintering, untuk mencegah reaksi
samping, dan lain-lain. Fasa aktif, penyangga dan promotor merupakan komponen katalis
heterogen, namun tidak semua katalis heterogen memiliki ketiga komponen tersebut. Ada
juga katalis yang hanya berupa zat aktif dengan penyangga atau zat aktif dengan promotor.

2.3 Fotokatalisis
Fotokatalisis berasal dari kata foto dan katalis. Foto didefinisikan sebagai sinar, sedangkan
katalis didefinisikan sebagai suatu zat yang mempercepat reaksi. Fotokatalis merupakan
7

percepatan dari reaksi yang berjalan karena adanya cahaya. Salah satu contoh dari reaksi
yang berjalan karena adanya cahaya adalah reaksi fotosintesis. Untuk reaksi jenis tersebut,
reaksi dapat dipercepat dengan cara menambahkan katalis. Jadi, fotokatalisis adalah suatu
proses untuk mempercepat reaksi yang berjalan karena adanya cahaya dengan menggunakan
katalis6.
Aktivitas fotokatalis bergantung pada kemampuan katalis untuk menghasilkan sepasang
electron-hole pada pita valensinya. Holes ini kemudian akan berfungsi sebagai tempat
terjadinya oksidasi. Keberadaan electron-hole tersebut akan mempercepat proses transfer
elektron yang terjadi. Dengan demikian, keberadaan dari pasangan elektron-hole akan
mempercepat reaksi redoks7-10. Mekanisme fotokatalis ditunjukan pada Gambar 2.1.
Saat ini, semikonduktor biasa dipilih sebagai fotokatalis karena semikonduktor memiliki
energy gap yang relatif kecil antara valence band dan conduction band. Energy gap adalah
perbedaan energi antara valence band dan conduction band. Untuk berlangsungnya proses
katalisis, semikonduktor memerlukan serapan energi yang sama atau lebih dari energy gap.

A -

ee
nn
ee
rr
g
g
i
i

D +

Gambar 2.1 Mekanisme fotokatalisis

Secara umum, mekanisme fotokatalisis adalah pembentukan radikal OH- dan pembentukan
spesi super oksida anion dari oksigen. Ketika fotokatalis mengabsorpsi cahaya dengan
panjang gelombang tertentu, maka fotokatalis akan memperoleh energi. Energi tersebut akan
digunakan untuk eksitasi elektron dari pita valensi (valence band) menuju pita konduksi
(conduction band). Setelah elektron tereksitasi, akan dihasilkan suatu hole pada pita valensi.
8

Hole akan memecah air membentuk suatu hidroksi radikal. Hidroksi radikal tersebut
kemudian akan bereaksi dengan molekul organik dan memecah senyawa organik tersebut
menjadi senyawa intermediet lain yang akan mengalami reaksi lebih lanjut. Elektron yang
tereksitasi akan bereaksi dengan oksigen untuk membentuk spesi anion super oksida. Anion
super oksida akan bereaksi dengan senyawa hasil pemecahan molekul organik membentuk
produk. Siklus ini akan terus berulang sampai reaksi selesai,11,12.
Aplikasi fotokatalitik sangatlah luas. Aplikasi yang telah diterapkan saat ini adalah untuk
mendegradasi zat warna, degradasi molekul organik, dan penguraian limbah. Katalis untuk
reaksi fotokatalitik yang umum digunakan saat ini adalah senyawa TiO2.

2.4 Reaksi Fotokatalisis


Hingga saat ini, sangat banyak reaksi fotokatalisis yang telah diteliti. Sebagian besar
menggunakan TiO2 sebagai katalis. Namun, ada juga reaksi fotokatalisis yang menggunakan
katalis yang lain, misalnya ZnO. ZnO telah diketahui dapat mengkatalisis reaksi penguraian
H2S menjadi H2 dan S 13. Reaksi total yang terjadi adalah :
H2S H2 + S
Tahapan reaksi yang diperkirakan terjadi adalah13 :
Fotokatalis

hv

e- + hole+

hole+ + H2S

2H+ + S

H2S + 2OH-

S2- + 2H2O

H2S + OH-

HS- + H2O

2HS- + hole+

S2- + H+

2S2- + hole+

S2 -

HS- + OH-

S + 2 e- + H2O

S2- + 2 hole+

2S

2H+ + 2e-

H2

Contoh lain dari reaksi fotokatalisis adalah fotooksidasi anilin menjadi azobenzen dengan
bantuan katalis CdO. Tahapan reaksi yang terjadi adalah14 :
CdO + hv hole+ + ePhNH2 + hole+ PhNH2+
9

O2 + e- O2PhNH2+ + O2- PhNO + H2O


PhNO + PhNH2 PhNNPh + H2O
Satu hal yang cukup menarik adalah ternyata selain melalui proses elektrolisis, air juga dapat
diurai menjadi H2 dan O2 melalui fotokatalisis dengan menggunakan katalis MTiO3 dan
MTaO2N. Hanya saja reaksi fotokatalisis tersebut kurang efektif karena reaksi pembentukan
air kembali juga terjadi. Reaksi yang terjadi adalah15 :
2hv 2hole+ + 2e2hole+ + H2O(l) O2(g) + 2H+
2H+ + 2e- H2(g)
Untuk fotokatalisis metanol sendiri telah cukup banyak diteliti, hanya saja katalis yang
digunakan adalah TiO2 yang di-doped dengan logam transisi15, 16. Reaksi yang diusulkan
adalah sebagai berikut :
CH3OH

HCHO + H2

HCHO + H2O
HCO2H

HCO2H + H2

CO2 + H2

Sehingga reaksi total yang terjadi adalah :


CH3OH + H2O CO2 + 3H2
Pada tahapan tersebut tidak terlihat adanya peran pasangan elektron-hole. Ilustrasi lebih
lengkap ditunjukkan pada Gambar 2.2.
Pada Gambar 2.2 terlihat dengan jelas peran dari spesi hidroksi radikal dan anion super
oksida oksigen. Pada pita valensi maupun pita konduksi terjadi reaksi yang menghasilkan
gas H2. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses konversi metanol dengan menggunakan
metode fotokatalisis dapat memberikan efisiensi yang sangat tinggi dalam produksi H2.

10

Gambar 2.2 Ilustrasi reaksi yang terjadi pada kedua pita semikonduktor

2.5 Senyawa ZnO dan CuO/ZnO


Senyawa yang banyak digunakan untuk aplikasi fotokatalisis adalah TiO2. Titanium dioksida
(TiO2 ) merupakan salah satu material dasar yang secara luas digunakan sebagai pigmen
putih dalam cat, kosmetik, dan bahan makanan. Secara umum, TiO2 merupakan material
semikonduktor yang secara kimia dapat diaktivasi oleh sinar. Hal ini memungkinkan karena
TiO2 memiliki nilai energy gap yang tidak terlalu besar.
Pada tahun 1972, Fujishima dan Honda menemukan splitting dari air pada elektroda TiO2.
Hal tersebut menandai awal dari era baru keberagaman fotokatalisis. Meskipun TiO2
menyerap hanya 5% sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi, TiO2 merupakan
semikonduktor terbaik dalam konversi kimia dan penyimpanan energi matahari. Dalam
tahun-tahun terakhir, fotokatalisis menggunakan semikonduktor TiO2 telah diterapkan pada
penanganan masalah lingkungan seperti detoksifikasi air dan udara.
TiO2 memiliki tiga tipe struktur kristal yaitu rutile, anatase, dan brookite. Ketiga jenis
struktur tersebut diekspresikan dengan nama rumus kimia yang sama yaitu TiO2. Akan
tetapi, struktur kristal tersebut berbeda. Struktur tipe rutile dapat mengabsorpsi sinar yang
lebih dekat dengan sinar tampak. Meskipun faktanya bahwa energy gap untuk jenis rutile
sebesar 3,0 eV dan 3,2 eV untuk jenis anatase, keduanya hanya dapat mengabsorpsi sinar
UV. Ketiga struktur dari senyawa TiO2, ditunjukkan pada Gambar 2.3.

11

Gambar 2.3 Struktur rutile, anastase, dan brookite


Selain TiO2, terdapat senyawa ZnO dengan karakteristik yang mirip namun harganya lebih
murah. ZnO merupakan semikonduktor yang telah umum digunakan dalam peralatan
elektronik. ZnO memiliki nilai energy gap 3,3 eV pada temperatur ruang, memiliki struktur
wurzite (ditunjukkan pada Gambar 2.4), dan titik leleh yang tinggi (2248 K). ZnO
merupakan material penting yang biasa diaplikasikan dalam pigmen, aditif, karet, sensor
gas, dan peralatan optik. Karakteristik ZnO bergantung pada ukuran dan metode persiapan.
Aktivitas fotokatalitik partikel berukuran nanometer lebih besar daripada partikel yang
berukuran mikrometer.

Gambar 2.4 Struktur wurzite


Penyiapan ZnO berukuran nano dapat dilakukan dengan metoda seperti kopresipitasi,
aerosol, micro-emulsion, ultrasonic, sol-gel method, evaporasi larutan dan suspensi,
evaporasi dekomposisi larutan, reaksi solid state, dan metode spray pyrolysis17. Dalam
penelitian ini, digunakan metode kopresipitasi. Spesi yang diendapkan adalah Zn dan Cu.
Pengendapan logam tersebut dilakukan oleh basa yang ditambahkan sehingga mencapai pH
pengendapan optimum untuk kedua logam tersebut.
Penggunaan CuO sebagai dopan diharapkan mampu meningkatkan aktivitas senyawa ZnO
dalam mengkatalisis reaksi penguraian metanol menjadi H2. Penggunaan CuO akan
memberikan suatu ketidak murnian pada ZnO. Ketidak murnian tersebut akan menyebabkan
proses transfer elektron terjadi lebih mudah sehingga mekanisme pembentukan pasangan
hole-elektron akan menjadi lebih mudah.
12

2.6 Fuel Cell


Fuel cell adalah salah satu sumber energi alternatif yang menggunakan H2 untuk
menghasilkan energi secara kimia. Secara sederhana fuel cell adalah suatu alat elektrokimia
yang mampu mengkonversi energi kimia menjadi energi listrik secara kontinu dengan
efisiensi yang tinggi dengan emisi yang rendah atau tanpa emisi sama sekali. Terdapat
beberapa jenis fuel cell, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.1. Klasifikasi fuel cell tersebut
berdasarkan tipe elektrolit yang dipakai18, 19.
Dari beberapa tipe fuel cell tersebut yang sedang menjadi pusat perhatian adalah PEMFC.
PEMFC mampu beroperasi pada suhu yang tidak terlalu tinggi di bawah 1250C. Hal ini
memberikan suatu keuntungan operasional. DMFC adalah jenis PEMFC yang langsung
menggunakan metanol tanpa adanya proses konversi terlebih dahulu. Jadi, metanol langsung
bereaksi pada anoda menghasilkan H+ yang akan dikonversi menjadi energi. Skema dari fuel
cell secara umum ditunjukkan pada Gambar 2 5.
Tabel 2.1 Jenis-jenis fuel cell
Tipe fuel cell

Elektrolit

Suhu kerja (0C)

PEMFC

Polimer penghantar proton

50-125

DMFC

Polimer penghantar proton

50-120

SOFC

Zirconia terstabilkan

900-1000

AFC

Larutan natrium

50-90

13

Gambar 2 5 Skema fuel cell


Mekanisme dari fuel cell adalah ketika H2 masuk dan berinteraksi dengan anoda, H2 akan
terdisosiasi jadi proton dan elektron. Elektron akan mengalir menuju sirkuit listrik dan
menghasilkan energi listrik. Sedangkan proton akan menembus membran dan menuju katoda
yang kemudian akan bereaksi dengan O2 membentuk H2O.

14