Anda di halaman 1dari 8

Epidemiologi Kandidiasis oral

2.2.3. Kandidiasis atrofi kronis

Kandidiasis oral atau dikenal juga dengan thrush adalah infeksi oportunistik umum
pada rongga mulut yang disebabkan oleh pertumbuhan yang berlebihan dari spesies
Candida. Penyakit ini kerap terjadi pada pasien HIV/AIDS yang jumlah CD4+ dibawah
3
200sel/mm (Akpan A, 2008; Gabler IG et al, 2008).

Disebut juga denture stomatitis. Bentuk tersering pada pemakai protese (1 diantara 4
pemakai) dan 60% diatas usia 65 tahun, wanita lebih sering terkena. Gambaran khas
berupa eritema kronis dan edema disebagian palatum di bawah prostesis maksilaris.
Ada tiga

Kira-kira 40% dari populasi mempunyai spesies Candida di dalam mulut dalam jumlah
kecil sebagai bagian yang normal dari mikroflora oral, dengan berbagai hal mikroflora
oral normal ini bisa menjadi pathogen pada keadaan: imunokompromise, obat-obatan
(antibiotik, kortikosteroid), chemotherapy, diabetes mellitus, produksi saliva yang
menurun, dan protese (Lewis Michael AO, 1998; Suhonen RE, 1999).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka prevalensi untuk kandidiasis oral pada
pasien HIV/AIDS di India sekitar 43,2%, di Rumah sakit Eduardo de Menezes di Brazil
sekitar 50%, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta sekitar 80,8%, Rumah
Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung sekitar 27%, RSUP H Adam Malik Medan jumlah
kasus kandidiasis oral dari tahun 2008 sampai tahun 2009 terdapat 28,7% (Gabler IG,
et al. 2008; Sudjana P, 2009; VCT- Pusyansus RSUP. HAM Medan, 2009).

stadium yang berawal dari lesi bintik-bintik (pinpoint) yang hiperemia, terbatas pada
asal duktus kelenjar mukosa palatum. Kemudian dapat meluas sampai hiperemia
generalisata dan peradangan seluruh area yang menggunakan protese. Bila tidak
diobati pada tahap selanjutnya terjadi hiperplasia papilar granularis (Akpan A, 2008;
Gayford JJ, 1993; Rossie K, 2005).
Pada kandidiasis atrofi kronis sering disertai kheilitis angularis, tidak menunjukkan
gejala atau hanya gejala ringan. Candida albicans lebih sering ditemukan pada
permukaan gigi palsu daripada di permukaan mukosa. Bila ada gejala umumnya pada
penderita dengan peradangan granular atau generalisata, keluhan dapat berupa rasa
terbakar, pruritus dan nyeri ringan sampai berat (Unandar BK et al, 2004; Jacob LS,
2001; Rossie K, 2005).
2.2.4. Kandidiasis hiperplastik kronis

2.2. Pembagian kandidiasis oral berdasarkan bentuk lesi klinis 2.2.1.


Kandidiasis pseudomembran akut
Universitas Sumatera Utara
Disebut juga Oral thrush, kandidiasis pseudomembran akut. Tampak plak /
pseudomembran, putih seperti sari susu, mengenai mukosa bukal, lidah dan
permukaan oral lainnya. Pseudomembran tersebut terdiri atas kumpulan hifa dan sel
ragi, sel radang, bakteri, sel epitel, debris makanan dan jaringan nekrotik. Bila plak
diangkat tampak dasar mukosa eritematosa atau mungkin berdarah dan terasa nyeri
sekali (Ross PW, 1989; Suhonen RE, 1999; Jacob LS, 2001; Unandar BK et al,2004).
2.2.2. Kandidiasis atrofi akut
Disebut juga midline glossitis, kandidiasis antibiotik, glossodynia, antibiotic tongue,
kandidiasis eritematosa akut mungkin merupakan kelanjutan kandidiasis
pseudomembran akut akibat menumpuknya pseudomembran. Daerah yang terkena
tampak khas sebagai lesi eritematosa, simetris, tepi berbatas tidak teratur pada
permukaan dorsal tengah lidah, sering hilangnya papilla lidah dengan pembentukan
pseudomembran minimal dan ada rasa nyeri. Sering berhubungan dengan pemberian
antibiotik spektrum luas, kortikosteroid sistemik, inhalasi maupun topikal (Lewis
Michael AO, 1998; Unandar BK et al, 2004; Rossie K, 2005).

Disebut juga leukoplakia kandida. Gejala bervariasi dan bercak putih, yang hampir
tidak teraba sampai plak kasar yang melekat erat pada lidah, palatum atau mukosa
bukal. Keluhan umumnya rasa kasar atau pedih di daerah yang terkena. Tidak seperti
kandidiasis pseudomembran, plak disini tidak dapat dikerok. Harus dibedakan dengan
leukoplakia oral oleh sebab lain yang sering dihubungkan dengan rokok dan
keganasan. Terbanyak pada pria, umumnya diatas 30 tahun dan perokok (Gayford JJ,
1993; Midgley G, 1999; Unandar BK et al, 2004)
.2.2.5. Glositis rhomboid median
Merupakan bentuk lanjutan atau varian kandidiasis hiperplastik kronis. Pada bagian
tengah permukaan dorsal lidah terjadi atrofi papilla (Akpan A, 2008; Midgley G, 1999;
Unandar BK et al, 2004).
2.2.6. Kheilosis kandida
Sinonim perleche, angular cheilitis, angular stomatitis. Khas ditandai eritema, fisura,
maserasi dan pedih pada sudut mulut. Biasanya pada mereka yang mempunyai
kebiasaan menjilat bibir atau pada pasien usia lanjut dengan kulit yang kendur pada
komisura mulut. Juga karena hilangnya dimensi vertical pada 1/3 bawah muka karena
hilangnya susunan gigi atau pemasangan gigi palsu yang jelek dan oklusi yang salah.
Biasanya dihubungkan dengan kandidiasis atrofi kronis karena pemakaian protese

(Akpan A, 2008; Midgley G, 1999; Ross PW, 1989; Suhonen RE,1999; Unandar BK et
al, 2004).

Ditandai dengan hipertrofi papilla lidah (khas), mungkin invasi sekunder Candida
albicans dari papilla filiformis hipertrofi pada sisi dorsum lidah (Unandar BK et al,
2004; Rippon JW, 1988; Rossie K, 2005).

Hifa Candida albicans memiliki kemampuan untuk menempel erat pada epitel
manusia dengan perantara protein dinding hifa, hal ini dimungkinkan karena protein
ini memiliki susunan asam amino mirip dengan substrat transaminase keratinosit
mamalia sehingga diikat dan menempel pada sel epithelial. Selain itu pada jamur ini
terdapat mannoprotein yang mirip integrin vertebrata sehingga jamur ini mampu
menempel ke matriks ekstraseluler seperti fibronektin kolagen, dan laminin. Selain itu
hifa juga mengeluarkan proteinase dan fosfolipase yang mencerna sel epitel inang
sehingga invasi lebih mudah terjadi (Kenneth M et al, 2008; Nasronudin, 2007;
Sudjana P, 2008).

2.3. Differensial Diagnosis Kandidiasis oral

2.6. Diagnosis Kandidiasis oral 2.6.1. Gambaran Klinis

1. Difteria2. Leukoplakia karena sebab lain (merokok atau keganasan) 3. Kheilitis.

Pada rongga mulut (oral) tampak infeksi yaitu sariawan, terutama terjadi pada selaput
mukosa pipi dan tampak sebagai bercak-bercak putih yang sebahagian besar terdiri
atas pseudomeselium dan epitel yang terkelupas dan hanya terdapat erosi minimal
pada selaput (Jawetz, 2005; Jagdish C, 2002).2.6.2. Pemeriksaan Laboratorium
2.6.2.1. Bahan:

2.2.7. Black Hairy tongue

2.4. Beberapa spesies ragi genus Candida penyebab kandidiasis oral 1. Candida
albicans2. Candida tropicalis3. Candida glabrata 4. Candida krusei5. Candida
guilliermondii 6. Candida parapsilosis 7. Candida dubliniensis 8. Candida stellatoidea
9. Candida lusitaniae.
Dari sembilan spesies Candida diatas 80% penyebab tersering untuk kandidiasis oral
adalah: Candida albicans, Candida glabrata, dan Candida tropicalis, dari hasil isolasi
(A Akpan, 2008; Suhonen RE, 1999; Dismukus WE et al, 2003).
2.5. Patogenesis
Secara alamiah Candida ditemukan di permukaan tubuh manusia (mukokutan), bila
terjadi suatu perubahan pada inang, jamur penyebab atau keduanya maka terjadi
infeksi. Beberapa factor virulensi Candida albicans antara lain: kemampuan adhesi,
kemampuan mengubah diri secara cepat dari ragi kehifa, memproduksi enzim
hidrolitik (proteinase asam dan fosfolipase) perubahan fenotip dan ketidakstabilan
kromosom, variasi antigenik, mimikri, dan produksi toksin.

Terdiri atas usapan / swab dari permukaan Lesi 2.6.2.2. Pemeriksaan Langsung /
Mikroskopis :
Universitas Sumatera Utara
Usapan mukokutan diperiksa dengan sediaan apus yang diwarnai dengan Gram,
untuk mencari pseudohifa dan sel-sel bertunas (Arayu S et al, 2008; Winn Jr, et al,
2006 ; Jawetz, 2005).2.6.2.3. Pemeriksaan Biakan
Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam Sabaroud s Dextrosa Agar (SDA) pada
O
suhu 37 c dalam Inkubator selama 24 48 jam. Koloni tumbuh berupa Yeast Like
Form (Jawetz, 2005).

Faktor inang yang menyebabkan infeksi baik lokal maupun invasive oleh Candida.
Pemakaian antibiotika menyebabkan proporsi jamur meningkat, kapasitas imun inang
menurun akibat lekopenia dan pemberian kortikosteroid, pada AIDS fungsi sel T yang
terganggu karena intervensi virus HIV melalui kulit dan mukosa yang dimungkinkan
karena peran lektin yang spesifik pada sel dendrite, DC-SIGN sehingga mampu
berikatan dengan virus HIV meskipun tidak mampu mengantarkan masuk kedalam
sel, tetapi memudahkan transport HIV oleh dendrite ke organ limfoid dan menambah
jumlah limfosit T yang

2.6.2.4. Serologi

terinfeksi. Munculnya lesi pada mukosa akibat intervensi HIV yang diperantarai peran
lektin dan DC-SIGN yang mengakibatkan infeksi jamur pada mukosa mulut dan
mukosa lain ditubuh, mengawali munculnya infeksi sekunder pada mulut penderita.

Tes Candida pada orang dewasa normal hampir selalu positif. Tes tersebut digunakan

Ekstrak karbohidrat Candida kelompok A memberikan reaksi presipitin yang positif


dengan serum pada 50% orang normal dan pada 70% orang dengan kandidiasis
mukokutan ( Jagdish C, 2002).
2.6.2.5. Tes kulit (Skin Test)

sebagai indikator kompetensi imunitas seluler ( Jagdish C, 2002).

2.7. Pengobatan Kandidiasis oral 2.7.1. Umum

2.7.3. Sistemik

Universitas Sumatera Utara

Ketokonazol 200mg 400 mg / hari selama 2 4 minggu, untuk infeksi kronis perlu 3
5 minggu

- Mengurangi dan mengobati faktor predisposisi, bila karena pemakaian


protese perlu melepas protese setiap hari, terutama pada malam hari saat tidur dan
mencuci dengan antiseptik seperti khlorheksidin.
- Selama pengobatan tidak dianjurkan merokok, karena akan menghambat
reaksi adekuat terhadap pengobatan ( Unandar BK et al, 2004 ). 2.7.2. Topikal 1.
Nistatin suspensi oral:

- Dosis: 4-6 ml (400.000-600.000), 4 x / hari sesudah makan

- Harus ditahan di mulut beberapa menit sebelum ditelan

- Dosis untuk bayi 2 ml ( 200.000), 4 x / hari

- Perlu 10 14 hari untuk kasus akut atau beberapa bulan untuk


yang kronis (Blignaut E, 2007; Unandar BK et al, 2004). 2. Amfoterisin B:Bekerja
melalui pengikatan pada sterol dalam membran sel jamur dan mengubah
permeabilitas membran sel, tidak diserap pada saluran pencernaan sehingga
dianjurkan pemberian secara topikal. Sediaan :
- Suspensi oral 100 mg / ml
- Salep 3%
- Lozenge 10 mg (Akpan A, 2008; Unandar BK et al,
2004).
3. Mikonazol.
UIni sejenis Imidazole dapat digunakan sebagai aplikasi lokal dalam mulut, akan
tetapi pemakaian dengan cara ini terbatas karena efek samping seperti muntah dan
diare. Obat lain yang termasuk kelompok ini klotrimazol dan ketokonazol.Sediaan: Gel
oral 25mg/ml, krem 2%, tablet 250 mg. Pengobatan diteruskan sampai 2 hari sesudah
gejala tidak tampak.4. Solusio gentian violet 1 2% :
Masih sangat berguna, tetapi memberi warna biru yang tidak menarik. Dapat
dipertimbangkan untuk kasus sulit dan kekambuhan. Dioleskan 2 x / hari selama 3
hari ( Akpan A, 2008; Michael A O Lewis, 1998; Unandar BK, et al. 2004 ).

Itrakonazol 100 200 mg / hari selama 4 minggu


Flukonazol 50 200 mg / hari selama 1- 2 minggu
Vorikonazol Adalah triazole yang memiliki struktur kimia seperti flukonazol, menjadi
salah satu pilihan bila kurang sensitive terhadap flukonazol(Kwon Chung KJ,1992;
Unandar BK, et al. 2004; Depkes RI Dirjen Pengendalian PPPL, 2009; Dismukes WE
et al, 2003).
2.7.4. Flukonazol
Adalah antifungal bis-triazole fluorinated bistriazole yang sering dipakai dalam
pengobatan kandidiasis Bekerja sebagai penghambat enzim sitokrom P450(CYP3A4
dan CYP2C9) C-14 alfa demetilase yang berperan dalam sintesis ergosterol yang
merupakan bagian penting membrane sel jamur. Flukonazol diserap secara sempurna
melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya makanan atau keasaman lambung.
Sembilan puluh persen obat dieliminasi lewat ginjal dan waktu paruhnya antara 25-30
jam. Efek samping yang terjadi seperti : mual, muntah, sakit kepala, ruam kulit, nyeri
perut, diare, sedikit peningkatan transaminase serum dan hipokalemi. Flukonazol
efektif terhadap banyak spesies Candida, terutama Candida albicans, Candida
tropicalis, Candida parapsilosis dan beberapa spesies yang bukan albicans, tetapi
kurang efektif terhadap Candida glabrata dan Candida krusei. Penelitian artemisk disk
menunjukkan bahwa flukonazol masih efektif pada Candida albicans sekitar (97,9%),
Candida tropicalis (90,4%), Candida parapsilosis 93,3%, namun hanya (9,2%) pada
Candida krusei. Penelitian di India melaporkan (87,8%) Flukonazol efektif pada
Candida albicans, dan sekitar (68,9%) pada Candida yang bukan albicans efektif
terhadap flukonazol. Kandidiasis oro-faringeal pada penderita HIV yang disebabkan
oleh Candida albicans (84,5%), Candida glabrata (6,8%), Candida krusei(3,4%),
dimana (84,7%) dari isolasi efektif terhadap flukonazol serta ada (9,7%) yang
susceptible dose dependent (SDD). Ketiga penelitian tersebut memberi bahwa
flukonazol masih menjadi pilihan utama dalam upaya mengobati kandidiasis. Dosis
yang dianjurkan: 100-200mg p.o , 200mg ( 1x / hari ) dilanjutkan dengan 100mg
selama 5-10 hari. Hasil suatu penelitian cara pemberian flukonazol 750mg (dosis
tunggal) sama efektifnya dengan pemberian 150mg/hari selama 2 minggu pada
penderita kandidiasis oro-faringeal, flukonazol adalah pilihan utama pada penderita
HIV dengan kandidiasis oral (Akpan A, 2008; Blignaut E, 2007; Sudjana P, 2009;
Barchiesi F et al, 2008; Dismukes WE et al, 2003).

Journal of Dentistry Indonesia 2012, Vol. 19, No. 2, 47-50


CASE REPORT
1
Candidal Leukoplakia on Patient with Removable Denture Shiril Paskalis ,
2
Anandina Irmagita
1

Undergraduate Program, Faculty of Dentistry, Universitas Indonesia, Jakarta 10430,


2
Indonesia Department of Oral Medicine, Faculty of Dentistry, Universitas Indonesia,
Jakarta 10430, Indonesia Corresponding e-mail to: pikik@yahoo.com
ABSTRACT
Candida infection is a common problem in patients using removable dentures, with the
most frequent type is denture stomatitis. But other type of candidal infection could also
happen in these patients, such as candidal leukoplakia. We reported a 61 years old
female patient who complained a painful lesion under her lower removable denture.
Oral examination revealed white plaque that could not be rubbed over an ulcer on the
lingual part of alveolar processes under the lower removable denture plate, and also
an erythematous area on palatum durum above the upper full denture. The patient
was suspected to have candidal leukoplakia on the lingual part of the mandible and
denture stomatitis on the palate area. The treatment consisted of nystatin oral
suspension, chlorhexidine solution, multivitamins, along with denture replacement and
oral health education. The entire lesion resolved within 2 months therapy. Candidal
infection treatment on denture patient needs not only medication or denture
replacement, but also patient compliance to achieve maximal result.
ABSTRAK
Candidal leukoplakia pada pasien dengan gigi tiruan lepasan. Infeksi kandida
merupakan masalah yang umum terjadi pada pasien dengan gigi tiruan lepasan,
dengan bentuk tersering adalah denture stomatitis. Namun, bentuk lain dari infeksi
candida juga dapat terjadi pada pasien dengan gigi tiruan lepasan, seperti halnya
candidal leukoplakia. Kami melaporkan seorang pasien wanita berusia 61 tahun yang
mengeluhkan adanya lesi yang sakit di bawah gigi tiruan rahang bawahnya.
Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya plak putih yang tidak dapat diangkat di atas
ulkus pada daerah lingual prosesus alveolaris di bawah plat gigi tiruan lepasan rahang
bawah dan area eritematous pada palatum durum di balik plat gigi tiruan rahang atas.
Pasien diduga mengalami candidal leukoplakia pada rahang bawah dan denture
stomatitis pada palatum. Perawatan pasien meliputi suspensi oral mengandung
nistatin, larutan klorheksidin, multivitamin, disertai penggantian gigi tiruan dan
pendidikan kesehatan mulut. Semua lesi membaik dalam terapi selama 2 bulan.

Perawatan infeksi kandida pada pasien dengan gigi tiruan tidak hanya memerlukan
terapi medikasi ataupun penggantian gigi tiruan, namun diperlukan juga kepatuhan
pasien untuk memperoleh hasil yang maksimal.
Keywords: candidal leukoplakia, denture patient PENDAHULUAN
Kandida adalah organisme komensal yang merupakan bagian flora normal rongga
mulut pada 30-50% populasi. Organisme ini dapat menimbulkan infeksi oportunis
1
dalam rongga mulut jika terdapat faktor- faktor predisposisi yang mendukung. Infeksi
kandida terkait dengan faktor lokal dan sistemik, seperti pada kondisi imunosupresi,
pengaruh faktor diet, keganasan, penggunaan antibiotik spektrum luas, pemakaian
2
gigi tiruan, merokok, dan serostomia. Penyebab tersering dari infeksi oportunis
kandida adalah penggunaan gigi tiruan, terutama yang sudah longgar atau pember3
sihannya tidak baik. Kondisi ini terjadi mencapai
65% pada populasi lanjut usia yang menggunakan gigi tiruan lengkap rahang atas.

Secara klinis, infeksi kandida pada rongga mulut atau kandidasis oral dapat
menimbulkan ketidaknyamanan pada rongga mulut, nyeri, kehilangan pengecapan,
4
dan penurunan selera makan. Klasifikasi kandidiasis oral secara umum terdiri dari 2
bagian besar yaitu kandidiasis oral primer, dengan infeksi yang terbatas pada jaringan
lunak oral dan perioral, serta kandidiasis oral sekunder, dengan kandidiasis oral
merupakan manifestasi dari infeksi kandida sistemik generalisata. Kelompok Kandidiasis oral primer terdiri dari 3 varian utama, yaitu pseudomembran, eritematus, dan
4
hiperplastik. Kandi47
Journal of Dentistry Indonesia 2012, Vol. 19, No. 2, 47-50
diasis hiperplastik atau candidal leukoplakia biasanya merupakan lesi kronik, dengan
tampilan klinis berupa plak putih yang tidak dapat hilang saat dikerok dan lo- kasi
tersering pada regio komisura mukosa mulut. Lesi ini dapat dibedakan dari
leukoplakia idiopatik, karena terapi antifungal yang sesuai biasanya dapat menyem5
buhkan candidal leukoplakia.
Pada makalah ini akan dilaporkan suatu kasus candidal leukoplakia pada pasien yang
menggunakan gigi tiruan lepasan, disertai dengan bentuk infeksi kandida lain seperti
denture stomatitis dan thrush. Melalui makalah ini diharapkan agar sejawat dokter gigi
akan lebih memperhatikan pentingnya pemberian edukasi dan informasi bagi pasien
pengguna gigi tiruan lepasan, untuk dapat menjaga kebersihan mulut pasien dan

mencegah timbulnya infeksi kandida.

kemudian dibuatkan gigi tiruan penuh se- bagai pengganti gigi tiruan lamanya yang
telah longgar.

LAPORAN KASUS
Seorang pasien wanita berusia 61 tahun, pada kun- jungan pertamanya ke klinik
integrasi RSGMP FKG UI, datang dengan keluhan terdapat benjolan putih di rahang
bawah kanan yang terasa nyeri berdenyut sejak 1 minggu sebelumnya, terutama jika
ia menggunakan gigi tiruannya. Pasien juga mengeluhkan adanya da ging tumbuh di
gusi bawah kiri yang terasa nyeri dan mudah berdarah, yang membuatnya sering
minum obat penghilang rasa sakit. Gigi tiruan dibuat di tukang gigi sejak 6 tahun yang
lalu dan terasa sudah longgar. Pasien biasanya menggunakan gigi tiruan terusmenerus juga saat tidur malam, kecuali saat dibersihkan saat pagi hari dan sesudah
makan. Sejak timbul rasa sakit jika benjolan di rahang bawah tersentuh, pasien tidak
menggunakan gigi tiruan rahang bawahnya, sehingga ia hanya dapat mengkonsumsi
makanan lunak. Pasien menyatakan tidak ada kesulitan dalam menelan makanan
ataupun keluhan rasa panas di dalam mu- lutnya. Dalam anamnesis, pasien
menyangkal adanya penyakit sistemik.
Pemeriksaan ekstra oral tidak menunjukkan adanya kelainan. Pemeriksaan intra oral
memperlihatkan ke- bersihan mulut yang buruk. Di daerah lingual prosesus alveolaris
regio 43-45 terdapat plak putih homogen, ireguler, kenyal, permukaan tidak rata, tidak
dapat di kerok, berukuran 15x3x2mm, nyeri tekan (+), dikel- ilingi area eritematous. Di
palatum durum terdapat beberapa daerah eritematous berukuran 1 mm pada lokasi
yang tertutup gigi tiruan, sedang pada gingiva bukal regio 13-15 terdapat plak-plak
putih ireguler, berbatas jelas, dapat diangkat meninggalkan dasar kemerahan.
Sebagian besar gigi-geligi telah hilang, yang tersisa adalah gigi 23 karies dentin, 26,
27, dan 46 sisa akar, sedang pada gigi 36 karies mencapai pulpa disertai polip. Gigi
tiruan sebagian lepasan rahang atas dan bawah longgar. Saat dipakai, tampak bahwa
tepi lingual gigi tiruan rahang bawah menekan lesi putih di regio 43-45.

Satu minggu setelah kunjungan pertama, pasien datang untuk kontrol. Pada saat itu,
nyeri di rahang bawah pasien sudah tidak terasa kecuali bila gigi tiruannya digunakan.
Menurut pasien, benjolan putih juga sudah berkurang. Nystatin dan klorheksidin
sudah habis digunakan, namun multivitamin masih ada. Pada pemeriksaan intra oral
tampak bahwa lesi putih di lingual regio 43-45 sudah berkurang ukurannya menjadi
1x1x2mm dan tampak adanya ulserasi ireguler berwarna putih dengan tepi er- itema
berukuran 15x3mm di bawah lesi putih tersebut. Plak putih di gingiva regio 13-15
telah menghilang dan terdapat area eritema. Pada palatum durum masih ter- dapat
area-area eritema. Perawatan yang diberikan masih sama dengan kunjungan
sebelumnya.
Kontrol berikutnya dilakukan satu minggu setelah kunjungan kedua .Keluhan nyeri
sudah tidak dirasakan pasien. Gigi tiruan rahang bawah pasien sudah dapat
digunakan untuk makan. Obat-obatan yang digunakan pasien masih tersisa sedikit.
Pemeriksaan klinis intra oral menunjukkan bahwa lesi putih pada lingual regio 43-45
telah hilang, ulserasi telah mengalami perbaikan dengan ukuran 15 x 2mm, dan area
eritema di sekitar ulser telah berkurang. Pada palatum durum area eritema telah
menghilang. Pasien kembali diresepkan suspensi oral Nystatin untuk penggunaan
selama 1 minggu, intruksi merendam gigi tiruan dan mengkompres lesi ulser dengan
larutan klorheksidin glukonat 0,2% serta pemberian multivitamin mengandung Seng.
Dua minggu setelah kontrol kedua, pasien datang kembali. Saat itu, keluhan nyeri
sudah tidak ada dan semua obat telah habis. Pasien juga telah menjalani pencabutan
gigi-geligi yang tersisa kecuali gigi 23 yang rencananya akan dicabut pada hari
tersebut.
48

Diagnosis kerja dari keluhan utama pasien adalah susp. candidal leukoplakia pada
gingiva lingual 43- 45 dengan diagnosis banding leukoplakia. Selain itu, pasien juga
didiagnosis mengalami denture stomatitis pada palatum durum, yang terkait dengan ill
fitting denture, dan kandidiasis pseudomembran (thrush) pada gingiva regio 13-15.
Diagnosis untuk kelainan pada gigi-geligi adalah 23 hiperemia pulpa, 26, 27, dan 46
radiks, serta 36 pulpitis hiperplastika kronik.
Perawatan yang diberikan adalah pasien diinstruksikan untuk melepaskan gigi tiruan
dan merendamnya pada larutan klorheksidin glukonat 0,2% pada saat tidur, serta
tidak menggunakan gigi tiruan rahang bawah sampai nyeri hilang. Pasien juga
diresepkan suspensi oral Nystatin 4 kali sehari sebanyak mL yang dikulum ke seluruh
rongga mulut selama 2-3 menit. Selain itu, pasien diinstruksikan untuk mengompres
lesi putih pada rahang bawah menggunakan kassa yang dilembabkan dengan larutan
klorheksidin glukonat 0,2%. Pasien diberikan multivitamin yang mengandung Seng.
Pada pasien direncanakan untuk pencabutan seluruh gigi yang tersisa, untuk

Journal of Dentistry Indonesia 2012, Vol. 19, No. 2, 47-50

Pada pemeriksaan intra oral, di regio lingual 43-45 tampak ulserasi sudah semakin
membaik walau area eritema masih ada. Area bekas pencabutan tampak eritem.
Untuk kali ini pasien hanya diresepkan larutan klorheksidin glukonat 0,2% yang
digunakan untuk berkumur setelah sikat gigi, mengompres ulser, dan merendam gigi
tiruannya, serta melanjutkan penggunaan multivitamin.
Selanjutnya, pasien dikontrol dalam periode 2 ming- guan, untuk mengetahui kondisi
lesi jaringan lunak- nya bersamaan dengan kunjungannya saat menjalani prosedur
pembuatan gigi tiruan penuh yang baru. Keluhan dari pasien sudah tidak ada.
Pemeriksaan jaringan lunak pada kontrol terakhir menunjukkan bahwa ulser di regio

lingual 43-45 sudah tidak ada, kemudian pasien diinstruksikan untuk tetap menjaga
kebersihan mulutnya serta melakukan perendaman gigi tiruan lama dalam larutan
klorheksidin glukonat sampai pembuatan gigi tiruannya yang baru selesai.
PEMBAHASAN

peningkatan permeabilitas epitel terhadap antigen serta toksin akibat trauma dari gigi
tiruan, serta buruknya kebersihan mulut, merupakan beberapa faktor resiko yang
2,3
dapat menjadi predisposisi terjadinya kandidiasis.
Untuk predisposisi infeksi
kandida dari segi faktor sistemik disingkirkan, karena dari anamnesis dan kondisi
umum tidak terlihat adanya tanda-tanda adanya kelainan sistemik.

Pada kasus di atas, keluhan utama pasien yang meru- pakan plak putih pada rahang
bawah didiagnosis sebagai candidal leukoplakia. Diagnosis ini ditegakkan dengan
pertimbangan adanya gambaran klinis lesi yang meny- erupai leukoplakia pada
pasien yang juga mengalami tanda-tanda infeksi kandida secara klinis, yaitu denture
stomatitis dan thrush. Dalam sekitar sepertiga kasus candidal leukoplakia, bentuk lain
dari kandidiasis oral juga dapat ditemukan, seperti denture stomatitis terkait kandida,
angular cheilitis, median rhomboid glossitis, dan lesi di palatum terkait median
1
rhomboid glossitis.

Perawatan pada pasien mencakup pemberian medikasi, pencabutan gigi-geligi yang


tersisa, dan perencanaan penggantian gigi tiruan, yang dilakukan setelah pasien
diberikan informasi tentang pentingnya menjaga ke- bersihan rongga mulut dan gigi
tiruan. Pada perawatan kandidiasis oral, menghilangkan faktor predisposisi
merupakan yang utama dilakukan, dilanjutkan dengan terapi antifungal, dan terapi
5
lain. Faktor predisposisi pada pasien adalah akibat penggunaan gigi tiruan, sehingga perlu diberikan pemahaman pada pasien untuk tidak menggunakan gigi tiruan
saat tidur malam, cara

Pemeriksaan penunjang pada kasus ini tidak dilakukan karena adanya kesulitan biaya
dari pasien. Selain itu, saat diperhatikan secara klinis tampak infeksi kandida lainnya,
berupa pseudomembran putih yang hilang pada saat diseka dengan meninggalkan
area kemerahan (thrush) serta lesi kemerahan di bawah basis gigi tiruan (denture
stomatitis). Terapi empiris dilakukan meng- gunakan antifungal, dengan tetap
melakukan observasi pada pasien untuk melihat perkembangan dari terapi. Observasi
perkembangan terapi diperlukan karena jika tidak terjadi perubahan pada lesi diduga
candidal leukoplakia setelah terapi antifungal, maka perlu dilaku- kan biopsi. Hal ini
penting dilakukan karena beberapa penelitian melaporkan bahwa pada candidal
4
leukoplakia terjadinya transformasi maligna mencapai 15%.
5
Secara umum, lesi candidal leukoplakia asimtomatis, namun pada pasien ini terjadi
keluhan berupa rasa nyeri. Hal ini terjadi karena lesi candidal leukoplakia pada kasus
ini terdapat pada ulser yang awalnya terjadi akibat iritasi dari gigi tiruannya yang telah
longgar. Faktor utama yang mengawali timbulnya candidal leukoplakia adalah adanya
kerusakan integritas dari mukosa oral, dalam kasus ini berupa adanya ulserasi akibat
5
gigi tiruan. Ulserasi merupakan salah satu lesi mukosa mulut yang dapat terjadi pada
penggunaan gigi tiruan, dan terjadi paling sering dalam 5 tahun pertama penggunaan
6
gigi tiruan. Seiring dengan waktu, ukuran hiperplasia lesi akibat invasi candida pada
pasien semakin berkembang, sehingga ketika gigi tiruan digunakan lesi mengalami
penekanan dan menim-bulkan rasa sakit akibat ulserasi yang tertekan.
Berbagai bentuk infeksi kandida pada kasus ini teru- tama terjadi karena pasien
merupakan pengguna gigi tiruan lepasan yang sudah tidak baik (ill fitting denture)
namun terus memakainya bahkan pada saat tidur, dan kurang memperhatikan
5
kebersihan mulutnya. Gigi tiruan dapat menjadi reservoir poten dari kandida.
Penggunaan gigi tiruan di malam hari, penurunan re- sistensi jaringan dan

49
Journal of Dentistry Indonesia 2012, Vol. 19, No. 2, 47-50
5
menjaga kebersihan rongga mulut dan gigi tiruan, serta pentingnya pembuatan gigi
tiruan baru sebagai peng- ganti gigi tiruan lama yang sudah tidak baik.
Terapi antifungal yang diberikan pada pasien, yaitu suspensi oral Nystatin, digunakan
sampai 1 minggu setelah tanda-tanda klinis infeksi kandida hilang. Nystatin adalah
salah satu antifungal dari golongan polyene yang umum digunakan dalam terapi
kandi- diasis oral. Antifungal ini memiliki efek fungisidal dan fungistatik, yang
penggunaannya dilanjutkan sampai beberapa hari setelah penyembuhan secara
4
klinis.
Larutan klorheksidin glukonat 0,2% juga diresepkan pada pasien untuk digunakan
sebagai campuran peren- dam gigi tiruan lepasan yang dimiliki pasien. Klorhek- sidin
memiliki aktivitas melawan organisme gram negatif dan gram positif, ragi, jamur, serta
organisme aerob dan anaerob fakultatif, sehingga dapat digunakan sebagai
7
desinfektan yang dalam kasus ini bagi gigi tiruan pasien. Selain itu, klorheksidin
glukonat 0,2% digunakan sebagai larutan pengompres pada lesi yang dirasakan nyeri
oleh pasien. Obat kumur klorheksidin glukonat 0,2% terbukti mengurangi keparahan
ulserasi dan dalam bentuk gel dapat lebih efektif untuk mengu- rangi nyeri pada lesi
8
ulserasi aftosa.
Berdasarkan hasil anamnesis dan kondisi umum pasien, tidak ditemukan adanya

tanda kelainan sistemik. Sebagai terapi suportif, multivitamin yang mengandung Seng
merupakan salah satu medikasi yang diberikan pada pasien, dengan tujuan untuk
mempercepat penyembuhan. Seng merupakan elemen esensial yang berpengaruh
dalam sistem imun. Adanya defisiensi seng akan menimbulkan kerentanan terhadap
9,10
infeksi dan penyembuhan luka menjadi terhambat.
Defisiensi Seng ringan
merupakan kondisi yang umum terjadi pada orang lanjut usia sehat, sehingga
9
pemberian suplemen seng dapat memberikan efek positif.
Perbaikan yang terjadi pada kasus ini, baik dalam ke- luhan subjektif maupun dari
segi tampilan klinis dari lesi, menunjukkan bahwa terapi yang diberikan telah sesuai
dengan yang dibutuhkan oleh pasien. Pena- talaksanaan kasus kandidiasis oral
bergantung kepada diagnosis yang akurat, identifikasi dan eliminasi faktor
3
predisposisi, serta pemberian resep agen antifungal. Walau demikian, keberhasilan
perawatan tidak dapat dicapai dengan maksimal jika kooperasi pasien tidak diperoleh.
Pada kasus ini, pasien diberikan informasi dan edukasi untuk mendapatkan
pemahaman tentang kelainan yang dideritanya, cara perawatan, dan juga cara
pencegahan agar kelainan tersebut tidak terjadi kembali. Hal ini penting untuk
dilakukan oleh setiap dokter gigi yang melakukan perawatan dan pembuatan gigi
tiruan lepasan bagi pasiennya. Berbagai kelainan mukosa mulut yang terkait dengan
penggunaan gigi tiruan dapat dicegah jika dilakukan kontrol setelah insersi gigi tiruan
untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasien, yang disertai informasi tentang
metode pembersihan dan
instruksi tentang bagaimana menjaga kesehatan jaringan rongga mulut.

candida and nocturnal denture wear: quantitative study. J Oral Rehabil. 2007;34:6005.
Milillo L, Lo Muzio L, Carlino P, Serpico R, Coccia E, Scully C. Candida-related
denture stomatitis: a pilot study of the efficacy of an amorolfine antifun- gal varnish. Int
J Prosthodont. 2005;18:55-9.
Samaranayake LP, Leung WK, and Jin L. Oral muco- sal fungal infections. Periodontol
2000. 2009;49:39- 59.
Sitheeque MAM and Samaranayake LP. Chronic hyperplastic candidosis/candidiasis
(candidal leu- koplakia). Crit Rev Oral Biol Med. 2003;14:253-67.
Coelho CMP, SousaYTCS, and Dare AMZ. Denture- related oral mucosal lesion in a
Brazilian school of dentistry. J Oral Rehabil. 2004;31:135-9.
Pavarina AC, Pizzolitto AC, Machado AL, Vergani CE, Giampaolo ET. An infection
control protocol: effectiveness of immersion solution to reduce the microbial growth on
dental prostheses. J Oral Re- habil. 2003; 30:532-6.
50
8. Porter S, Scully C. Aphthous ulcers (recurrent): about this condition. Clin Evid.
2007;06:1303.[cited 2012 Jan 5]. Available at http://clinicalevidence.bmj.
com/ceweb/conditions/orh/1303/1303_background. jsp.

SIMPULAN
Candidal leukoplakia merupakan salah satu bentuk infeksi candida yang dapat timbul
pada pasien pengguna gigi tiruan lepasan. Keberhasilan dalam penatalaksanaan
kasus candidal leukoplakia diperlukan ketepatan diagnosis, penghilangan faktor
predisposisi, dan terapi antifungal, disertai kooperasi pasien dalam menjaga
kebersihan mulutnya. Dokter gigi bertindak tidak hanya sebagai tenaga kesehatan
yang melakukan perawatan namun juga berperan penting dalam mencegah terjadinya
infeksi candida yang diakibatkan oleh penggunaan gigi tiruan lepasan.
DAFTAR PUSTAKA
H

Scardina GA, Fuca F, Ruggieri A, Carini F, Ca- cioppo A, Valenza V, et al. Oral
candidiasis and oral hyperplastic candidiasis: Clinical Presentation. Res J Bio Sci.
2007;2:408-12.

Compagnoni MA., Souza RF, Marra J, Pero AC, Barbosa DB. Relationship between

9. Kahman L, Uciechowski P, Warmuth M, Malavolta M, Mocchegiani E, Rink L. Effect


of improved zinc status on T helper cell activation and TH1/TH2 ratio in healthy elderly
individuals. Biogerontol. 2006;7: 429-35.
10. LansdownABG,MirastschijskiU,StubssN,Scan- lon E, Agren MS. Zinc in wound
healing: theoretical, experimental, and clinical aspects. Wound Rep Reg. 2007;15: 216.

Definisi
Kandidiasis adalah suatu penyakit infeksi pada kulit dan mukosa yang disebabkan
oleh jamur candida. Candida adalah suatu spesies yang paling umum ditemukan di
rongga mulut dan merupakan flora normal. Spesies candida mencapai 40 60 % dari
seluruh populasi mikroorganisme rongga mulut. Terdapat lima spesies candida, yaitu
candida albicana, candida tropikalis, candida glabarata, candida krusel, dan candida
parapsilosis. Dari kelima candida tersebut candida albicana merupakan spesies yang
paling umum menyebabkan infeksi di rongga mulut.
Struktur candida albicana terdiri dari dinding sel, sitoplasma nucleus, membrane golgi
dan endoplasmic retikuler. Dinding sel terdiri dari beberapa lapis dan dibentuk oleh
mannoprotein, gulkan, gulkan ohitin. Candida albicana dapat tumbuh pada media
yang mengandung sumber karbon misalnya glukosa dan nitrogen biasanya digunakan
ammonium atau nitrat, kadang-kadang memerlukan biotin. Pertumbuhan jamur
ditandai dengan pertumbuhan ragi yang berbentuk oval atau sebagai elemen fillamen
hyfa atau pseudohyfa ( sel ragi yang memanjang ) dan suatu masa filament hyfa
disbeut mycelium. Spesies ini tumbuh pada temperature 20- 40 derajat celcius.
2. Etiologi dan Patogenesis
Kandidiasis terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa factor, terutama pada pasien
pengguna protesa, xerostomia ( Sjorgen syndrome ), penggunaan radio theraphy,
obat-obatan sitotoksis, konsentrasi gula dalam darah ( diabetes ), penggunaan
antibiotic atau kortikosteroid, penyakit keganasan (neoplasma) , kehamilan,
defisisnesi nutrisi, penyakit kelainan darah, dan penderita immunosupresi ( AIDS ).
Penggunaan protesa menyebabkan kurangnya pembersihan oleh saliva dan

pengelupasan epitel, hal ini mengakibatkan perubahan pada mukosa. Pada penderita
xerostomia, penderita yang diobati dengan radio aktif, dan yang menggunakan obatobatan sitotoksis mempunyai mekanisme pembersih dan di hubungkan dengan
pertahanan host menurun, hal ini mengakibatkan mukositits dan glositis. Penggunaan
antibiotic dan kortikosteroid akan menghambat pertumbuhan bakteri komersial
sehingga mengakibatkan pertumbuhan candida yang lebih banyak, dan menurunkan
daya tahan tubuh, karena kortikosteroid mengakibatkan penekanan sel mediated
immune. Pada penderita yang mengalami kelainan darah atau adanya pertumbuhan
jaringan ( keganasan ), system fagositosisnya menurun, karena fungsi netrofil dan
makrofag mengalami kerusakan.
Terjadinya kandidiasis pada rongga mulut di awali dengan adanya kemampuan
candida untuk melekat pada mukosa mulut. Hal ini yang menyebabkan awal
terjadinya infeksi. Sel ragi atau jamur tidak melekat apabila mekanisme pembersihan
oleh saliva, pengunyahan dan penghancuran oleh asam lambung berjalan normal.
Perlekatan jamur pada mukosa mulut mengakibatkan proliferasi, kolonisasi tanpa atau
dengan gejala infeksi.
Bahan-bahan polimerik ekstra seluler ( mannoprotein ) yang menutupi permukaan
candida albicana merupakan komponen penting untuk perlekatan pada mukosa
mulut. Candida albicana menghasilkan proteinase yang dapat mengdegradasi protein
saliva termasuk sekretori immunoglobulin A, laktoferin, musin dan keratin juga
sitotoksis terhadap sel host. Batas-batas hidrolisis dapat terjadi pada pH 3,0/3,5-6,0.
Dan mungkin melibatkan beberapa enzim lain seperti fosfolipase, akan di hasilkan
pada pH 3,5-6,0. Enzim ini menghancurkan membrane sel selanjutnya akan terjadi
invasi jamur tersebut pada jaringan host. Hyfa mampu tumbuh meluas pada
permukaan sel host