Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air adalah kehidupan, boleh dikatakan semua kehidupan dijagad raya ini
bergantung pada ketersediaan air. Oleh karena itu air menjadi indikasi utama adanya
kehidupan di suatu tempat di jagat raya. Air merupakan sumber daya alam yang
diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh
karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik
oleh manusia dan makhluk hidup yang lain. Air digunakan manusia untuk air minum,
kebutuhan rumah tangga, maupun keperluan industri. Tanpa air, manusia dan makhluk
hidup lainnya tidak dapat hidup.
Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Karena itu
jika kebutuhan akan air tersebut belum tercukupi maka dapat memberikan dampak yang
besar terhadap kerawanan kesehatan maupun sosial. Pengadaan air bersih di Indonesia
khususnya untuk skala yang besar masih terpusat di daerah perkotaan, dan dikelola oleh
Perusahan Air Minum (PAM) kota yang bersangkutan. Namun demikian secara nasional
jumlahnya masih belum mencukupi dan dapat dikatakan relatif kecil yakni 16,08 %.
Untuk daerah yang belum mendapatkan pelayanan air bersih dari PAM umumnya mereka
menggunakan air tanah (sumur), air sungai, air hujan, air sumber (mata air) dan lainnya
(Said Dan Wahjono, 1999).
Permasalahan yang timbul yakni sering dijumpai bahwa kuaitas air tanah maupun
air sungai yang digunakan manusia kurang memenuhi syarat sebagai air yang sehat
bahkan di beberapa tempat bahkan tidak layak untuk dimanfaatkan oleh manusia. Air
yang layak dimanfaatkan mempunyai standar persyaratan tertentu yakni persyaratan fisis,
kimiawi dan bakteriologis yang merupakan satu kesatuan. Jadi jika ada satu saja
parameter yang tidak memenuhi syarat maka air tesebut tidak layak untuk digunakan.
Pemakaian air bersih yang tidak memenuhi standar kualitas tersebut dapat menimbulkan
gangguan kesehatan, baik secara langsung dan cepat maupun tidak langsung dan secara
perlahan.
1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah :


1) Mengerti dan dapat melakukan uji fisik kualitas air.
2) Dapat mengetahui dan mengoperasikan instrumen Water Quality Checker.
3) Dapat melakukan uji ammonia (NH3-N) dalam sampel air dengan menggunakan
metode Phenat
4) Dapat melakukan analisa nitrit dalam sampel air.
5) Dapat melakukan preparasi sampel air untuk penentuan kadar logam.
6) Dapat menentukan kadar logam besi (Fe), mangan (Mn), dan Klorida (Cl) pada
sampel air.
7) Mengetahui dan mengaplikasikan penggunaan instrument AAS untuk analisa
logam.
1.3 Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari dilakukan percobaan dan penyusunan makalah ini adalah
makalah ini dapat memberikan informasi kepada dosen, rekan-rekan mahasiswa dan
para pembaca mengenai kandungan berbagai bahan kimia dalam sampel air dalam
kemasan.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Tinjauan Umum Tentang Air
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas
dua

atom

hidrogen

yang

terikat

secara

(www.wikipedia.org, 2002).
Seperti pada tabel dan gambar berikut:

kovalen

pada

satu

atom

oksigen

Gambar 1. Struktur molekula air


Tabel 1. Informasi dan Sifat-sifat Air
Nama sistematis
air
Nama alternatif
aqua, dihidrogen monoksida,Hidrogen hidroksida
Rumus molekul
H2O
Massa molar
18.0153 g/mol
Densitas dan fase
0.998 g/cm (cariran pada 20 C) 0.92 g/cm (padatan)
Titik lebur
0 C (273.15 K) (32 F)
Titik didih
100 C (373.15 K) (212 F)
Kalor jenis
4184 J/(kgK) (cairan pada 20 C)
Sumber http://id.wikipedia.org
Uraian kimia dari air adalah H2O. yang terdiri atas sebuah atom oksigen yang
terikat pada dua atom hidrogen. Atom-atom hidrogen tertempel pada sebuah sisi dari
atom oksigen, menghasilkan sebuah molekul air yang mempunyai muatan positif pada
bagian di mana terdapat atom hidrogen dan bermuatan negative pada bagian yang lain di
mana atom oksigen berada. Seperti pada muatan listrik yang berlawanan selalu tarik
menarik, maka molekul air condong untuk saling tarik menarik. Inilah sebabnya air
menetes (Krisnandi, 2009).
2.2 Sumber Air
Air yang berada di permukaan bumi berasal dari berbagi sumber, berdasarkan letak
sumbernya air dapat dibagi sebagai berikut (Indirawati, 2009):
a. Air Angkasa (Hujan)
Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di bumi. Walaupun pada
saat presipitasi merupakan air yang paling bersih, air tersebut cenderung mengalami
pencemaran ketika berada di atmosfir.
b. Air Permukaan
Air permukaan yang meliputi badan-badan air semacam sungai, danau, waduk,
rawa, air terjun dan sumur permukaan, sebagian besar berasal dari air hujan yang jatuh ke
permukaan bumi.
c. Air Tanah
Air tanah berasal dari hujan yang jatuh ke permukaan bumi yang kemudian
mengalami perkolasi atau penyerapan ke dalam tanah dan mengalami filtrasi secara
alamiah. Proses yang telah dialami air hujan tersebut, di dalam perjalanannya ke bawah

tanah, membuat air tanah menjadi lebih baik dan lebih murni dibandingkan air
permukaan.
2.3 Kualitas air
Air bersih umumnya berasal dari Air Permukaan (Surface Water) seperti danau,
sungai dan cadangan air lainnya di permukaan Bumi atau dari Air Tanah (Ground Water)
atau air yang di pompa (melalui pengeboran) dari dalam tanah yang umumnya bebas dari
kandungan zat berbahaya, namun tidak selalu bersih (Krisnandi, 2009).
Kualitas air yang baik ini minimal mengandung oksigen terlarut sebanyak lebih 5
mg/l. Oksigen terlarut ini dapat ditingkatkan dengan menambah oksigen ke dalam air
dengan menggunakan aerator atau air yang terus mengalir. Kelebihan plankton dapat
menyebabkan kandungan oksigen didalam air menjadi berkurang. Maka dengan itu
plankton dalam kolam harus selalu dipantau (Ansori, 2008).
2.4 Sifat Air
Air baku adalah air yang memenuhi persyaratan air bersih, sesuai dengan
Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor

907/MENKES/SK/VII/2002

tentang

Syaratsyarat dan Pengawasan Kualitas Air. Standar air baku air minum yang berlaku
meliputi parameter fisik, kimia dan mikrobiologi dan parameter radioaktivitas yang
terdapat di dalam air tersebut (Depkes, 2006).
1. Sifat fisika air
Sifat fisika merupakan sifat materi yang dapat dilihat secara langsung dengan
indra. Sifat fisika terdiri dari :
- Jernih atau tidak keruh
Air yang keruh disebabkan oleh adanya butiran-butiran koloid dari tanah liat.
Semakin banyak kandungan koloid maka air semakin keruh.
- Tidak berwarna
Air yang berwarna berarti mengandung bahan-bahan lain yang berbahaya bagi
kesehatan.
- Tidak Berasa (tawar)
Secara fisika, air bisa dirasakan oleh lidah. Air yang terasa asam, manis, pahit atau
asin menunjukan air tersebut tidak baik. Rasa asin disebabkan adanya garamgaram tertentu yang larut dalam air, sedangkan rasa asam diakibatkan adanya
asam organik maupun asam anorganik.
- Tidak berbau

Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari dekat.
Air yang berbau busuk mengandung bahan organik yang sedang mengalami
dekomposisi (penguraian) oleh mikroorganisme air.
- Temperaturnya normal
Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak terjadi pelarutan zat
kimia yang ada pada saluran/pipa, yang dapat membahayakan kesehatan dan
menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
- Tidak banyaknya padatan yang terlarut di dalamnya

Sifat Fisik Air


Rumus molekul

H2O

Massa molar

18.0153 g/mol

Densitas

0.998 g/cm

Titik Lebur

0 C (273.15 K) (32 F)

Titik didih

100 C (373.15 K) (212F)

Titik Beku

0 C pada 1 atm

Kalor jenis

4184 J/(kgK) (cairan pada 20 C)

Tegangan permukaan

73 dyne/cm pada 20o

Tekanan uap

0,0212 atm pada 20 oC

Kalor penguapan

40,63 kJ/mol

Kalor pembentukan

6,013 kJ/mol

Kapasitas kalor

4,22 kJ/kg K

Konstanta dielektrik

78,54 pada 25 oC

Viskositas

1,002 centipoise pada 20 oC

Konduktivitas panas

0,60 W m-1K-1(T= 293 K)

Kalor pelelehan

3,34 x 105 J/kg

Temperatur kritis

647 K

Tekanankritis

22,1 x 106Pa

Kecepatan suara

1480 m/s (T= 293 K)

Permitivitas relatif

80 (T= 298 K)

Indeks

refraksi

terhadap udara)

(relatif 1,31 (es; 598 nm; T= 273 K; p= p0)


1,34 (air; 430-490 nm; T= 293 K; p= p0)
1,33 (air; 590-690 nm; T= 293 K; p= p0)
5

2. Sifat kimia air


Parameter kimia dikelompokkan menjadi kimia an-organik dan kimia
organik. Dalam standard air minum di Indonesia zat kimia anorganik dapat berupa
logam, zat reaktif, zat-zat berbahaya serta beracun serta derajat keasaman (pH).
Sedangkan zat kimia organik dapat berupa insektisida dan herbisida. Sumber
logam dalam air dapat berasal dari industri, pertambangan ataupun proses
pelapukan secara alamiah. Korosi dari pipa penyalur air bersih dapat juga sebagai
penyebab kehadiran logam dalam air (Mulia, 2005). Sifat kimia biasanya
digunakan untuk menyatakan, antara lain:
a. elektronegativitas
b. potensial ionisasi
c. jenis ikatan kimia yang dibentuk, antara lain logam, ion, dan kovalen.
Tabel Baku Mutu Air

2.5

Standar Kualitas Air


a. Turbidity atau kekeruhan
Turbiditas merupakan suatu ukuran yang menyatakan sampai seberapa jauh cahaya
mampu menembus air, dimana cahaya yang menembus air akan mengalami "pemantulan"
oleh bahan-bahan tersuspensi dan bahan koloidal. Satuannya adalah Jackson Turbidity
Unit (JTU), dimana 1 JTU sama dengan turbiditas yang disebabkan oleh 1 mg/l SiO2
dalam air.
b. pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman
atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma
aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut.Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada
suhu 25 C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut

bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau
alkali.
c. EC (Electrical Conductivity)
EC (Electrical Conductivity) atau konduktansi adalah ukuran kemampuan suatu
bahan untuk menghantarkan arus listrik. Konduktansi suatu larutan akan sebanding
dengan konsentrasi ion-ion dalam larutan tersebut.
d. Suhu
Suhu merupakan parameter yang sangat berperan dalam reaksi-reaksi kimia dan
pertumbuhan mikroba dalam air. Mikroba yang merugikan bagi makhluk hidup dapat
hidup pada temperature tertentu sehingga jika kita menaikkan atau menurunkan suhu,
maka pertumbuhan mikroba tersebut dapat terganggu.
e. Oksigen terlarut (DO)
Kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting
dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini
menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar
nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya
jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO
juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan
dan mikroorganisme. Selain itu kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga
ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air.
f. Salinitas
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga
dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.
g.

Kadar Nitrit

Adanya nitrit ( NO2 ) dalam air minum / air bersih dapat di deteksi dan di analisa.
Dalam hal ini nitrit di tentukan secara koorimetris dengan alat spektrofotometer. Pada pH
2.0 sampai 2.5 nitrit bereaksi dengan diazo asam sulfanilik ( sulfanilamid ) dan N-(1naftil)etilendiamin dihidroklorida atau Naftilamin. Akan terbentuk senyawa berwarna
ungu atau merah atau ungu kemerah merahan. Warna tersebut mengikuti hukum
Lambert Beer dan menyerap sinar dengan panjang gelombang 543 nm. Metode
kolorimetri seperti ini sangat peka sehingga biasanya perlu pengenceran sampel.
h. Kadar Ammonia
Amonia umumnya bersifat basa (pKb=4.75), namun dapat juga bertindak sebagai
asam yang amat lemah (pKa=9.25). Lingkungan akan menjadi tidak seimbang, apabila

perairan terganggu oleh adanya limbah industri, baik industri pertanian maupun industri
pertambangan serta penggunaan pakan yang berlebihan pada usaha budidaya di tambak.
Salah satu senyawa toksin dalam perairan adalah amonia (NH3-N). Kadar amonia dalam
air laut sangat bervariasi dan dapat berubah secara cepat. Amonia dapat bersifat toksik
bagi biota jika kadarnya melebihi ambang batas maksimum. Meningkatnya kadar amonia
di laut berkaitan erat dengan masuknya bahan organik yang mudah terurai (baik yang
mengandung unsur nitrogen maupun tidak). Penguraian bahan organik yang mengandung
unsur nitrogen akan menghasilkan senyawa nitrat (NO3), nitrit (NO2) dan selanjutnya
menjadi amonia (NH3)
i.

Kadar Cl

Klorida adalah ion yang terbentuk sewaktu unsur klor mendapatkan satu elektron
untuk membentuk suatu anion (ion bermuatan negatif) Cl. Garam dari asam klorida HCl
mengandung ion klorida; contohnya adalah garam meja, yang adalah natrium klorida
dengan formula kimia NaCl. Dalam air, senyawa ini terpecah menjadi ion Na+ dan Cl.
Uji klorida dalam sampel air ini menggunakan metoda argentometri cara Mohr pada
kisaran 1,5 mg/L sampai dengan 100 mg/L. Senyawa klorida dalam contoh air dapat
dititrasi dengan larutan perak nitrat dalam suasana netral atau sedikit basa (pH 7 sampai
dengan pH 10), menggunakan larutan indikator kalium kromat. Perak klorida diendapkan
secara kuantitatif sebelum terjadinya titik akhir titrasi, yang ditandai dengan mulai
terbentuknya endapan perak kromat yang berwarna merah kecoklatan.
j.

Kadar Besi dan Mangan

Mineral yang sering berada dalam air dengan jumlah besar adalah kandungan Fe.
Apabila Fe tersebut dalam jumlah yang banyak akan muncul berbagai gangguan
lingkungan. Kadar Fe dalam air tanah di wilayah jakarta semakin meningkat. Beberapa
sumur memiliki kadar Fe melebihi baku mutu. Intake Fe dalam dosis besar pada manusia
bersifat toksik karena besi fero bisa bereaksi dengan peroksida dan menghasilkan radikal
bebas.
Mangan(Mn) adalah logam berwarna abu-abu keputihan,memiliki sifat yang mirip
dengan besi(Fe),merupakan logam keras ,mudah retak, dan mudah teroksidasi. Logam
Mn merupakan salah satu logam dengan jumlah sangat besar di dalam tanah, dalam
bentuk oksida maupun hidroksida. Logam Mn bereaksi denganair dan larut dalam larutan
asam. Kadar Mn di lingkungan meningkat sejalan dengan meningkatnya

aktifitas

manusia dan industri ,yaitu berasal dari pembakaran bahan bakar. Mangan yang
bersumber dari aktifitas manusia dapat masuk ke linngkungan air,tanah,udara dan
makanan. Kadar mangan dalam dosis tinggi bersifat toksik.
2.6 Atomic Absorption Spectrophotometre (AAS)
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) atau Spektrofotometri Serapan Atom
adalah salah satu jenis analisa spektrofometri dimana dasar pengukurannya adalah
pengukuran serapan suatu sinar oleh suatu atom, sinar yang tidak diserap, diteruskan
dan diubah menjadi sinyal listrik yang terukur.AAS merupakan suatu metode yang
populer untuk analisa logam, karena disamping sederhana, ia juga sensitif dan selektif.
Dalam AAS, atom bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi
panas, energi elektromagnetik, energi kimia dan energi listrik. Interaksi ini menimbulkan
proses-proses dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran)
radiasi dan panas. Radiasi yang dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang
gelombang yang karakteristik untuk setiap atom bebas.
Adanya absorpsi atau emisi radiasi disebabkan adanya transisi elektronik yaitu
perpindahan elektron dalam atom, dari tingkat energi yang satu ke tingkat energi lain.
AAS menganut hukum lambert beer sama seperti spektrofotometer UV/Vis. Cara
perhitungannya pun sama, yaitu dengan membuat deret standar dan setelah ditetapkan
harga absorbansi atau % transmisinya, kemudian dibuat grafik.
Pada AAS umumnya pencatatan hasil analisis memakai sistem digital atau dapat
dipakai rekorder atau komputer. Bila dipakai rekorder dengan memprogramkan tinggi
puncak salah satu deret standar, maka untuk mengetahui kepekatan (ppm) contoh yaitu
dengan membandingkan tinggi puncak dari contoh dan deret standar.
Sampel yang akan diselidiki ketika dihembus ke dalam nyala terjadi peristiwa berikut
secara berurutan dengan cepat :
1. Pengisatan pelarut yang meninggalkan residu padat.
2. Penguapan zat padat dengan disosiasi menjadi atom-atom penyusunnya, yang mulamula akan berada dalam keadaan dasar.
3. Atom-atom tereksitasi oleh energi termal (dari) nyala ketingkatan energi lebih tinggi.
Bagian-bagian penting dari alat SSA adalah sumber radiasi resonansi, tabung gas,
ducting, kompresor, atomizer, monokromator, detektor, dan rekorder. Proses-proses
dalam AAS yaitu emisi, absorpsi, dan atomisasi.
Keuntungan metoda AAS adalah:

10

Spesifik
Batas (limit) deteksi rendah
Dari satu larutan yang sama, beberapa unsur berlainan dapat diukur
Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh (preparasi contoh
sebelum pengukuran lebih sederhana, kecuali bila ada zat pengganggu)
Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh.
Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (mg/L hingga persen)
2.7 Spektrofotometer UV-VIS
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya oleh
suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu (Day, 2002).Sinar ultraviolet (UV)
mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, dan sinar tampak (visible)
mempunyai panjang gelombang 400-750 nm. Pengukuran spektrofotometri menggunakan
alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul
yang dianalisis, sehingga spektrofotometer UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis
kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spektrum UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran
secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan
mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum
Lambert-Beer (Rohman, 2007).
Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linieritas antara absorban dengan
konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik dengan transmitan. Dalam hukum
Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu :
- Sinar yang digunakan dianggap monokromatis
- Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang yang sama
- Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain
dalam larutan tersebut
- Tidak terjadi fluorensensi atau fosforisensi
- Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan
Hukum Lambert-Beer dinyatakan dalam rumus sbb :
A = e.b.c
dimana :
A = absorban
e = absorptivitas molar
b = tebal kuvet (cm)
c = konsentrasi
2.8 Water Quality Checker

11

Water Quality Checker adalah alat multi-parameter yang dapat mengukur kualitas air
dari segi delapan parameter mendasar. Keenam parameter tersebut adalah pH,
konduktivitas, DO, kekeruhan, suhu, turbiditas, salinitas, dan kedalaman.

BAB III
METODE PENELITIAN
Waktu dan tempat penelitian
Penelitian dilakukan pada :
Hari,Tanggal : Rabu, 10 September 22 Oktober 2014
Waktu
: Pukul 09.20 WIB - Selesai
Tempat : Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sampel : Air Bersih di Rumah Makan Tangerang Selatan

3.1 Sampling Air dan Uji Fisik Sampel


A. Lokasi dan tanggal percobaan
Lokasi
: Pusat Lab. Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Waktu
: 17 September 2014, 09.20 WIB
B. Alat dan Bahan
Alat:
1) Botol Polietilen (PE) steril
2) Water Quality Checker
Bahan :
Sampel air minum dalam kemasan 600ml merk Nestle dan Cleo
Aquadest
larutan HNO3
C. Prosedur Kerja
1) Persiapan wadah sampel
Botol sampel dibersihkan dan dicuci dengan sabun.Setelah itu,
dibilas dengan aquadest sampai bersih. Kemudian wadah dibilas dengan
larutan HNO3. Selanjutnya wadah dibilas lagi menggunakan aquades
hingga bersih dan dikeringkannya dengan cara membalikan botol.
2) Analisa Uji Fisik

12

Uji fisik ini digunakan alat WQC. Parameter yang diuji oleh alat ini
ada enam, yakni nilai pH, suhu, DO, turbidity, conductivity, salinity dan
kedalaman. Langkah yang dilakukan adalah membilas wadah untuk
sampel dengan aquadest, lalu sampel dimasukkan ke dalam wadah
tersebut. Setelah itu dicelupkan WQC ke dalam sampel tersebut, sehingga
akan didapat data dari sampel tersebut berdasarkan keenam parameter tadi.
3.2Uji Ammonia Sampel Air dengan Metode Phenat
A.

B.

Lokasi dan Waktu Percobaan


Lokasi
: Pusat Lab. Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Waktu
: 27 September 2014, 09.30 WIB
Alat dan Bahan :
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain, UV Vis

Spektrofotometer, Timbangan Analitik, Labu Erlenmeyer 25ml, Gelas Piala 50ml,


Labu ukur 100 ml, pipet volumetrik 1.0 ml; 2.0; 3.0 ml; 4.0 ml, dan 5.0 ml
Bahan yang digunakan antara lain: Akuadest, Sampel Air, Larutan Fenol,
Natrium Nitroprusida, Larutan Alkalin Sitrat, Natrium Hipoklorit, Larutan
Pengoksida, Larutan Amonia 1000, 100, 10 ppm
C. Prosedur Kerja
1. Pembuatan larutan
1. Larutan Fenol (C6H5OH)
11.1 mL Fenol yang dicairkan (kadar Fenol 89 %) dicampurkan
dengan etil alkohol 95 % didalam labu ukur 100 mL. Lalu diencerkan
dengan aquades hingga batas tanda tera dan dihomogenkan. Catatan :
Larutan ini tahan selama 1 minggu.
2. Larutan Nitroprusida (C5FeN6Na2O) 0.5 %
0.5 gram Natrium Nitroprusida diencerkan dalam 100 mL air suling
lalu dihomogenkan. Catatan : Larutan disimpan dalam botol gelap dan
tahan sampai 1 bulan.
3. Larutan hipoklorit (NaOCl) 5 %

13

Catatan : larutan yang tersedia di pasaran berkonsentrasi 5 %,


larutan ini akan terdekomposisi setelah segel dilepas, oleh karena itu ganti
larutan setelah 2 bulan.
4. Larutan pengoksidasi
100 mL larutan alkalin sitrat dicampurkan dengan 25 mL larutan
NaOCl 5 %. Larutan ini harus disiapkan setiap kali sebelum pengujian.
5. Larutan induk Ammonia 1000 mg/L
3.819 g NH4Cl (yang sudah dikeringkan pada 100oC) dicampurkan
dengan 100 ml aquades dalam labu ukur 1 L. Kemudian diencerkan
hingga batas tanda tera dengan aquades Setiap 1 mL larutan ini
mengandung 1 mg N /L = 1 mg NH3 /L.
2. Kalibrasi
Di pipet 0.0 ml; 1 ml; 3ml dan 5 ml larutan baku amonia 10 mg N/L dan
dimasukkan masing masing ke dalam labu ukur 100ml lalu ditambahkan air
suling sampai tepat tanda tera sehingga diperoleh kadar amonia 0.0 mg N/L; 0.1
mg N/L; 0.2 mg N/L; 0.3 mg N/L; 0.5 mg N/L. Dioptimalkan alat
spektrofotometer sesuai petunjuk alat untuk pengujia kadar amonia. Lalu di pipet
25 ml larutan standar dan masukkan masing masing ke dalam erlenmeyer 25ml
lalu di tambahkan 1 ml larutan fenol dan homogenkan, lalu ditambahkan 1ml
larutan natrium nitroprusida dan homogenkan selanjutnya ditambahkan 2.5 ml
larutan

pengoksidasi

dan

homogenkan

selanjutnya

ditutup

erlenmeyer

menggunakan parafilm lalu dibiarkan selama 1 jam untuk pembentukan warna


kemudian diukur absorbansi pada sprekfotometer dengan panjang gelombang 640
nm.
3. Pengukuran sampel
Dipipet 25 ml sampel dan dimasukkan masing masing ke dalam erlenmeyer
25 ml lalu ditambahkan 1 ml larutan fenol dan homogenkan kemudian
ditambahkan 1 ml larutan natrium nitroprusida dan homogenkan kemudian
ditambahkan 2.5 ml larutan pengoksidasi dan homogenkan selanjutnya di tutup
erlenmeyer menggunakan parafilm dan dibiarkan selama 1 jam untuk

14

pembentukan warna kemudia diukur absorbansi pada sprektofotometer dengan


panjang gelombang 640 nm.
3.3 Uji Nitrit dalam Air
A. Lokasi dan Waktu Percobaan
Lokasi
: Pusat Lab. Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Waktu
: 14 Oktober 2013, 07.30 WIB
B. Alat dan Bahan :
Perlatan yang di gunakan pada percobaan kali ini adalah UV-Vis
Spektofotometer dan kurvet silica, labu erlenmeyer 100 dan 250 ml, pipet mikro
1000 L dan neraca analitik.
Untuk bahan yang di gunakan adalah air suling bebas nitrat, larutan standar nitrit
250 mg/L, gelass wool, kertas saring bebas nitrit berukuran pori 0,45 m, larutan
sulfanilamida, larutan NED Dihidroklorida, larutan natrium oksalat 0,05 N, larutan
ferro ammonium sulfat (FAS) 0,05 N, larutan KmnO4 0,05 N dan larutan 1,6 gram
KmnO4 dalam 1000 ml air suling.
C. Prosedur Kerja
Pembuatan larutan
1.

Larutan standar nitrit 250 mg/L


1,232 g NaNO dilarutkan dalam aquades bebas nitrit dan ditepatkan
sampai 1000 mL. Kemudian diawetkan dengan 1 ml CHCl,

2. Larutan sulfanilamid
5 g sulfanilamid dilarutkan dalam campuran 300 ml
aquades dan 50 ml HCl pekat. Lalu diencerkan dengan
aquades sampai 500 ml.
3. Larutan NED Dihidroklorida
500 mg N-(1-naphtyl)-ethylene diamine dihydrochloride (NEDH)
dalam 500 ml aquades. Lalu disimpan didalam botol gelap dalam refrigerator.
Ganti setiap bulan atau bila berwarna coklat.
Dilarutkan natrium oksalat 0,05 N
3,350 g NaCO dalam aquades bebas nitrit dan ditepatkan sampai
1000 ml

15

Larutan ferro ammonium sulfat (FAS) 0,05 N


19,607 g Fe(NH)(SO).6HO dilarutkan dalam air suling bebas
nitrit dan ditambahkan 20 ml HSO pekat lalu ditepatkan sampai

1000 ml
Larutan KMnO 0,005 N
1,6 g KMnO dilarutkan dalam 1000ml aquades. Dibiarkan 1 minggu,
lalu disaring dengan glass wool dan disimpan dalam botol berwarna
coklat.

Pembakuan larutan induk nitrit 250 mg/L


Dilakukan pembakuan larutan induk nitrit 250 mg/L, kemudaian di bakukab
kembali larutan KmnO4 0,05 N. Lalu disiapkan larutan itermedia nitrit 50 mg/L
dan di bakukan larutan nitrit 0,05 mg/L. Selanjutanya yaitu di buat larutan nitrti
0%, 2%, 10%, 20%, 30% dan 40% dalam 50 ml. Dibuat kurva kalibrasi dengan
memipet 50 ml nitrit dan dimasukkan kedalam gelas piala 200 ml. Ditambahkan 1
ml larutan sulfailamida, di kocok dan dibiarkan selama 2 menit sampai dengan 8
menit. Tahap selanjutnya yaitu ditambahkan larutan 1 ml NEDH, di kocok dan
dibiarkan selama 10 menit. Kemudian dilakukan pengukuran yang tidak boleh
lebih dari 2 jam. Tahap terakhir dibaca adsorbansinya pada panjang gelombang
543 nm. Perlakuan samel sama saat pembuatan kurva kalibrasi.
3.4 Penentuan Klorida Dalam Sampel Air
A. Lokasi dan Waktu Percobaan
Lokasi
Waktu

: Pusat Lab. Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


: 22 Oktober 2013, 07.30 WIB

B. Alat dan Bahan :


Pada praktikum ini, alat-alat yang digunakan antara lain erlenmeyer, gelas
beaker, bulb (pushball), buret, botol semprot, corong, pipet tetes, statif, tissue dan
pipet volume.
Bahan-bahan yang digunakan adalah aquadest, indikator K2Cr)4 5%, larutan
AgNO3, larutan NaCl 0,0141 N dan sampel.
C. Prosedur Kerja

16

1. Titrasi standarisasi AgNO3


Dipipet 10 ml larutan baku NaCl 0,1 N ke dalam Erlenmeyer 100 mL. Larutan
blanko dibuat menggunakan 10 mL air suling. Lalu ditambahkan 5 tetes larutan
K2CrO4 5% b/v dan diaduk. Kemudian dititrasi dengan larutan AgNO 3 hingga larutan
berwarna coklat. Dikocok hingga warna tidak hilang dan dicatat volume yang
dibutuhkan untuk contoh uji (A mL) dan blanko (B mL). Dilakukan secara duplo.
Volume AgN)3 yang digunakan dicatat kemudian dirata-ratakan. Normalitas larutan
baku AgNO3 dihitung dengan cara sebagai berikut :
V 1xV 2
N AgNO3 = VA - VB

Dengan pengertian :
VA = volume larutan baku AgNO3 untuk titrasi larutan NaCl
VB= volume larutan baku AgNO3 untuk titrasi blanko
N1 = normalitas larutan NaCl yang digunakan (mgrek/mL)
V1 = volume larutan NaCl yang digunakan
2. Titrasi sampel
Sebanyak 10 mL sampel air digunak dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL.
Larutan blanko dibuat. Larutan indikator K2Cr)4 5% sebabnyak 5 tetes ditambahkan.
Lalu ditirasi dengan larutan baku AgNO3 sampai titik akhir titrasi. Volume AgNO3
yang digunakan dicatat. Titrasi diulangi dua kali (dengan titik akhir titrasi yang
konsisten), rata-ratakan volume AgNO3 yang diperoleh. Selanjutnya titrasi blanko
dilakukan dengan langkah yang sama terhadap 10 mL air suling bebas klorida.
(A - B)xNx35,450
V
Kadar Cl- (mg/L) =

17

Dengan pengertian :
A = volume larutan baku AgNO3 untuk titrasi sampel (mL)
B = volume larutan baku AgNO3 untuk titrasi blanko (mL)
N = normalitas larutan baku AgNO3 (mgrek/mL)
V = volume sampel (mL)
3.5 Penentuan Kadar Logam Besi dan Mangan Dalam Sampel Air
A. Lokasi dan Waktu Percobaan
Lokasi
Waktu

: Pusat Lab. Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


: 22 Oktober 2013, 07.30 WIB

B. Alat dan Bahan


Peralatan yang dibutuhkan pada praktikum ini diantaranya adalah AAS(Atomic
Absorption Spectrophotometer), gelas ukur 100 ml, gelas beker 100 ml, labu ukur
100 ml, pipet ukur, filter paper 0,45 + filter apparatus, dan centrifuge.
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan penentuan kadar logam besi dan
mangan antara lain berupa, larutan induk Fe dan Mn 1000 ppm, HNO3, aquadest dan
sampel air.
C. Prosedur kerja
Diambil 100 ml sampel dan ditambahkan HNO3 1 ml(1% dari volume sampel),
Apabila sampel agak keruh,dilakukan penyaringan dengan filter paper atau
centrifuge. Kemudian dibuat larutan standar Fe dan Mn dari larutan induk Fe dan Mn
dengan konsentrasi 0,1 ppm;0,5 ppm;1 ppm dan 2 ppm. Instrumen AAS
dioptimalkan sesuai dengan instruksi kerja alat, diukur konsentrasi larutan standar
masing-masing logam dengan AAS, dipastikan kurva kalibrasinya membentuk kurva
linier(garis lurus) dengan koefisien korelasi mendekati 1(0,99..). Dilakukan
pengukuran sampel dan dicatat konsentrasi yang tertera pada AAS. Apabila tidak ada
pengenceran atau pemekatan pada sampel, maka konsentrasi sampel pada AAS
merupakan konsentrasi logam sampel tersebut. Kemudian Tabel dilengkapi dan

18

dibuat kurva kalibrasi untuk logam Fe berdasarkan data pada tabel tersebut.
Konsentrasi logam Fe yang tertera pada AAS dicatat. Tabel selanjutnya dilengkapi
dan dibuat kurva kalibrasi untuk logam Mn berdasarkan data pada tabel. Konsentrasi
logam Mn sampel yang tertera pada AAS dicatat.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisi Kualitas Air (Fisika dan Kimia) Rumah Makan di Tangerang Selatan
4.1 Tabel Analisis Fisika

Sample

pH

Suhu
(C)

DO
Turbidity Conducticity
(mg/L) (NTU)
(ms/cm)

1.1
1.2
2.1
2.2
3.1
3.2
4.1
4.2
5.1
5.2
6.1
6.2

5.07
5.39
5.84
5.85
5.62
5.74
5.84
5.85
5.62
5.74
5.78
5.79

26.72
27.38
27
26.76
26.92
26.82
27
26.76
26.92
26.82
26.69
26.83

6.45
6.51
6.50
6.46
6.68
6.41
6.50
6.46
6.38
6.41
6.38
6.40

3.3
3.7
3.9
3.5
2.3
2.98
3.9
3.5
2.8
2.9
2.7
3.4

Salinity
(%)

TDS
(g/L)

0.01
0.01
0.02
0.01
0.01
0.01
0.02
0.01
0.01
0.01
0.01
0.02

0.20
0.173
0.2149
0.151
0.173
0.181
0.214
0.151
0.1739
0.181
0.199
0.208

0.308
0.267
0.329
0.232
0.205
0.209
0.329
0.232
0.265
0.279
0.306
0.320

4.2 Tabel Analisis Kimia


No
1
2
3
4

Sampel
1.1
1.2
2.1
2.2

Nitrit
0,01
<0,01
0,72
0,05

Amoniak
<0,1
<0,1
0,72
<0,1

19

Klorida

Logam

Logam

Fe
0,581
4,950
0,786
0,242

Mn
0,162
0,229
0,233
0,548

5
6
7
8
9

3.1
3.2
4.1
4.2
5.1

1,29
1
0,02
0,2
0,02

1,29
0,99
<0,1
1,68
<0,1

0,334
0,461
0,036
0,193
0,277

0,200
2,166
0,63
0,352
0,279

10

5.2

0,62

2,98

0,0375

0,278

11
12

6.1
6.2

0,05
<0,01

<0,1
<0,1

1,252
0,351

0,0277
0,024

Penentuan Sampling Air


Pada uji fisik dalam air ini sampel yang digunakan adalah sampel air sumur dari
berbagai.Terdapat 12 sampel air yang di uji sifat fisikdalam air tersebut.Pertama sampel
air telah ditambahkan larutan asam nitrat (HNO3), yang bertujuan untuk mengawetkan
sampel air tersebut. Selanjutnya, sampel yang diperoleh dibawa ke laboratorium untuk
dilakukan uji sifat fisik air dengan menggunakan alat Water Quality Checker. Dengan
menggunakan alat tersebut dapat diketahui pH, suhu, DO, turbidity, conductifity, salinity
dan TDS. Pada hasil pengamatan dapat di lihat pH yang didapatkan sangat kecil masing
masing sampel phnya bernilai berkisar pada 5, berdasarkanKeputusanMenteriKesehatan
RI Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air
sumur bahwa pH yang diperbolehkan sekisar 6.5-9.0. Hal ini berarti pH yang dimiliki
sampel terlalu bersifat asam. pH yang berada di bawah 5,6 dapat menimbulkan korosi
pada wadah besi dan

dapat meningkatkan mikroorganisme patogen yang dapat

membahayakan kesehatan manusia oleh karena itu semua sampel sangatlah


berbahayauntuk di konsumsi.
Dari data yang dihasilkan oleh Water Quality Checker nilai suhu rata-rata sampel
adalah diantara 26-27C, suhu semua sampel berarti diatas baku mutu air sumur yang
seharusnya sekitar 1-3C. Selain itu, nilai DO atau kadar oksigen terlarut untuk semua
sample memenuhi baku mutu air sumur yaitu sebesar 6-8 mg/L. Nilai Turbidity atau
kekeruhan semua sampel adalah sekitar 2.3-3.5 NTU, sesuai dengan standar baku mutu
nilai kekeruhan sampel dibawah baku mutu standar. Kemudian nilai conductivity semua
sampel berkisar pada 0.2-0.3 ms/cm. Hal ini berarti semua sampel memenuhi baku
standar mutu air sumur. Kemudian nilai salinity atau kadar garam dari semua sampel
berkisar 0.01-0.02%, semua sampel memenuhi baku standar mutu air sumur. Selanjutya

20

nilai TDS atau padatan terlarut semua sampel dibawah baku standar mutu, hal ini berarti
padatan yang terlarut berjumlah sedikit.
Penentuan Kadar Ammonia
Praktikan menguji kadar ammonia (NH3) dengan metode phenat. Ammonia dan
hypochlorite dengan katalis sodium nitroprusside akan menghasilkan intensitas senyawa
biru dari indofenol yang diukur dengan alat spektrofotometer pada panjang gelombang
640 nm. Cara uji ini digunakan untuk penentuan kadar ammonia (NH 3-N) dalam sampel
air dengan metode Phenat yaitu dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang
gelombang 640 nm dan dengan konsentrasi NH3-N antara 0,1 mg/L sampai 0,6 mg/L.
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat hasil analisis pengukuran kadar amoniak yang ter
tinggi di peroleh dari sample 5.2 yaitu sebesar 2,98 mg/L dan kadar amoniak paling
rendah didapat dari sample 1.2 yaitu sebesar 0,002 mg/L. Menurut Baku mutu nasional
berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 batas
kadar ammonia yang terkandung dalam air yang akan dikonsumsi yaitu 0,15 mg/L. dan
untuk batas nilai MDL untuk penentuan kadar ammonia yaitu0,1 mg/L sampa 0,6 mg/L.
Dari hasil pengamatan, terdapat 6 sampel yang memiliki nilai kadar ammonia <
0,1 mg/L. Keberadaan ammonia dalam air minum dapat menyebabkan perubahan fisik air
seperti timbulnya bau gas ammoniak dan perubahan warna jika kandungan ammonia
terlalu tinggi. Standar kualitas air minum yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI
tidak memperbolehkan ammonia terdapat dalam air minum. Jika ditinjau dari lokasi
pengambilan sampel, semua sampel yang diambil dari 6 lokasi memiliki nilai kadar
ammonia masih berada dibawah nilai MDL dan 4 lokasi sampelnya memiliki nilai kadar
ammonia yang melebihi nilai MDL, dan nilai baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
Penentuan Nitrit (N-NO2)
Selanjutnya yaitu penentuan kadar nitrit didalam air bersih. Seperti juga nitrat
maupun ammonia, nitrit memiliki sifat toksik bagi makhluk hidup seperti hewan dan
manusia. Jika nitrit terdapat dalam air minum, kemudian terminum oleh hewan atau
manusia maka nitrit akan masuk kedalam pembuluh darah dalam tubuh kita yang
menyebabkan methemoglobinemia. Methemoglobinemia ini menghalangi Hb untuk
mengikat O2 dan menimbulkan blue baby syndrome ( tubuh menjadi berwarna kebiru

21

biruan ). Nitrit ini juga berfungsi sebagai inhibitor korosi. Selain itu, nitrit dapat
membentuk senyawa Nitrosamin ( RRN NO ), senyawa ini dapat menimbulkan kanker.
Berdasarkan PERMENKES No 416/MENKES/PER/IX/1990 kadar maksimum nitrit
dalam air minum dan air bersih adalah 1 mg/L. Sehingga berdasarkan percobaan
kandungan nitrit pada air bersih yang tidak memenuhi nitrit standar pemerintah adalah
sampel 5.1 yaitu sampel yang terletak di RM. Sabana di Jl. Juanda dekat pintu masuk
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penentuan Cl- dengan metode Argentometri
Kadar Cl- dalam air dibatasi oleh standar untuk berbagai pemanfaatan yaitu air
minum, irigasi dan konstruksi. Konsentrasi 250 mg/l unsure ini dalam air merupakan
batas maksimal konsentrasi yang dapat mengakibatkan timbulnya rasa asin. Konsentrasi
klorida dalam air dapat meningkat dengan tiba-tiba dengan adanya kontak dengan air
bekas. Klorida mencapai air alam dengan banyak cara. Kotoran manusia khususnya urine,
mengandung klorida dalam jumlah yang kira-kira sama dengan klorida yang dikonsumsi
lewat makanan dan air. Jumlah ini rata-rata kira-kira 6 gr klorida perorangan perhari dan
menambah jumlah Cl dalam air bekas kira-kira 15 mg/l di atas konsentrasi di dalam air
yang membawanya, disamping itu banyak air buangan dari industri yang mengandung
klorida dalam jumlah yang cukup besar. Klorida dalam konsentrasi yang layak adalah
tidak berbahaya bagi manusia. Klorida dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfectan.
Unsur ini apabila berikatan dengan ion Na+dapat menyebabkan rasa asin, dan dapat
merusak pipa-pipa air.
Volume AgNO3 yang terpakai berbeda tiap larutan. Untuk sampel air pada
RM.Sabana (5.1) diperoleh 1,5 ml larutan AgNO 3 yang terpakai dan untuk sampel air
pada ASPI (5.2) diperoleh 0,8 ml larutan AgNO 3 yang terpakai. Hal ini menunjukkan
semakin banyak larutan AgNO3 yang terpakai maka semakin banyak kandungan Cl dalam
larutan. Hal ini disebabkan karena jika semakin banyak kandungan Cl yang terkandung
maka semakin banyak Ag yang diperlukan untuk mengikat Cl. Berdasarkan hasil
percobaan, semua sampel yang digunakan dibawah standar baku mutu Menurut Peraturan
Menteri Kesehatan RI No.416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat-syarat Air Bersih, dan
Keputusan Menteri Kesehatan RI No.907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat

22

dan pengawasan Kualitas Air Minum, maka kadar maksimum yang diperbolehkan untuk
Cl adalah 250 mg/L. Jadi semua sampel layak dimanfaatkan oleh manusia dalam
kehidupan.
Penentuan Fe dan Mn
Dilihat dari kurva kalibrasi untuk pengujian logam Fe, besarnya absorbansi
berbanding lurus dengan besarnya konsentrasi sampel. Semakin besar konsentrasi serta
absorbansinya maka kadar Fe yang dihasilkan semakin besar. Begitu pula pada kurva
kalibrasi pengujian logam Mn, besarnya absorbansi berbanding lurus dengan besarnya
konsentrasi sampel. Semakin besar konsentrasi sampel serta absorbansinya maka kadar
Mn yang dihasilkan semakin besar. Nilai ini diperoleh dari hasil analisis kadar logam
dengan menggunakan instrumen Atomic Absobtion Spectrofotometer (AAS).
Kadar logam dalam air menentukan kualitas air di suatu lokasi ataupun air minum
kemasan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416/Menkes/Per/IX/1990 tentang
Syarat-syarat

Air

Bersih,

dan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

No.907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat dan pengawasan Kualitas Air


Minum, maka kadar maksimum yang diperbolehkan untuk Fe adalah 0,3 mg/L sedangkan
kadar maksimum yang diperbolehkan untuk mangan adalah sebesar 0,1 mg/L.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1.

Nilai ph dari semua sampel sangatlah kecil dapat dikatakan sangat asam dan
berbahaya bagi tubuh. Nilai ini kemungkinan adanya kesalahan dalam menggunakan
alat WQC.pH yang diperbolehkan dalam air minum berkisar antara 6,5 8,5,sehingga untuk sampel-sampel ini memilki tingkat keasaman yang tinggi untuk
standar air minum.

2.

Untuk kadar ammonia, dari semua sampel air bersih dalam rumah makan yang
dianalisis, disimpulkan bahwa kandungan amonia yang tertinggi terdapat pada
sampel 5.2 yang melebihi nilai MDL. Sampel tersebut di dapatkan dari air kantin
Asrama putri Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

23

3.

Untuk kadar nitrit, semua sampel memiliki kadar yang sesuai dengan batasan yaitu
dibawah 0,1, kecuali kadar nitrit yang tidak memnuhi standar adalah sampel 3.1.

4.

Untuk penentuan kadar logam dan klorida, berdasarkan hasil percobaan tersebut
dapat disimpulkan bahwa sampel layak untuk dikonsumsi karena mempunyai kadar
Fe dan Mn yang rendah. Semua sampel mempunyai kadar Cl- yang rendah sehingga
layak dimanfaatkan oleh manusia.

5.2 Saran
Dalam pengujian zat-zat yang terkandung dalam air untuk pengambilan sampel
uji lebih baik dilakukan sesuai dengan prosedur, untuk menghindarkan kontaminasi
terhadap sampel. Instrumen yang digunakan untuk analisis sebaiknya sudah dikalibrasi
terlebih dahulu sehingga diperoleh data dengan presisi dan keakuratan yang tinggi.

Daftar Pustaka
Achmad, Rukaesih.2004.Kimia Lingkungan.Yogyakarta : Penerbit Andi
Alaerts, G. dan Sri Santika Sumestri. 1987. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha
Nasional
Khaerina.G. A,Prasetyo. Y, Miftahul. F./2013/02 Penentuan Kadar Nitrit
http://bioryzarticle.blogspot.com/2011/06/laporan-praktikum-kimia-lingkungan.html
diakses pada tanggal 13 November 2014 pada pukul 17.00 wib
http://kumpulan-segalailmu.blogspot.com/2013/08/standar-baku-mutu-air.html
diakses pada tanggal 13 November 2014 pada pukul 17.10 wib
http://alipanca5.blogspot.com/2012/07/analisa-uji-fisik-fosfat-po4-ammonia.html
diakses pada tanggal 13 November 2014 pada pukul 17.20 wib

24

25

Lampiran
Standarisasi AgNO3
V 1xV 2
N AgNO3 = VA - VB
10mL.0,014 N
0,0139 N
= 10,25mL 0,15mL

Sampel 5.1
(A - B)xNx35,450
V
Kadar Cl- (mg/L) =
(1,5 0,15)mL.0,0139 N .35,45
x1000
10mL
=

= 66 mg/L
Sampel 5.2

(0,8 0,15)mL.0,0139 N ,35,45


x1000
10mL
Kadar Cl- =
= 32 mg/L

26