Anda di halaman 1dari 5

Nama : Farlian Satrio Nugroho

NIM : 040610543

BASIC EXCHANGE RATE THEORIES


by
CHARLES VAN MARREWIJK
ERASMUS UNIVERSITY ROTTERDAM
AND TINBERGEN INSTITUTE
February 2005

Pendahuluan
Pada paper ini dijelaskan pendekatan-pendekatan untuk mengetahui dasar
teori nilai tukar, yang pertama adalah (i) the elasticity and absorption approach,
(ii) the (long-run) implications of the monetary approach, (iii) the short-run
effects of monetary and fiscal policy under various economic conditions, and (iv)
the transition from short-run to long-run in a sticky-price model with rational
expectations. Tetapi pada kesempatan kali ini, makalah tentang dasar teori nilai
tukar akan membahasas dari sisi pendekatan pertama, yakni the elasticity and
absorption approach saja.
Pendekatan elastisitas berfokus pada hubungan antara nilai tuikar dan neraca
transaksi berjalan. Pendekatan daya serap (absorption) memberikan kerangka
kerja yang didalamnya terdapat efek pendapatan, yang mana terdapat analisis
terhadap simple policy – penyesuaian masalah.
Terlebih dahulu kita bicarakan mengenai konsekuensi ekonomi pada
perubahan nilai tukar dan dampaknya terhadap transaksi berjalan. Hal ini penting
untuk diingat bahwa pada pembahasan kali ini, kita mengabaikan neraca modal
pada neraca pembayaran dan peraturannya, meskipun kemungkinan memberikan
pengaruh terhadap nilai tukar dan keseimbangan nilai tukar.

Elastisitas dan Marshall-Lerner Condition


Pada pembahasan berikut ini, kita akan mendefinisikan nilai tukar riil Q
sebagai produk dari nilai tukar nominal S dan rasio harga yang ditunjukkan
kedua negara P. Sebagai contoh Uni Eropa merupakan home industry dan
Amerika Serikat adalah negara asing. Kita menggambarkan S sebagai nilai tukar
nominal US dollar, jadi banyaknya Euro yang kita punya untuk mendapatkan
satu US dollar, dan kita EUP dan USP sebagai tingkat harga di EU dan US.
Tentu saja, tingkat harga diukur dengan euro di EU dan dolar di US. Nilai tukar
riil yang terbentuk adalah sebagai berikut:
PUS
PEU
Q=S ....... 1.1

Perlu dicatat bahwa nilai tukar riil merupakan hasil yang dieroleh dari nilai
tukar yang diukur pada €/$, dapat juga diukur pada $/€. Hal ini yang biasa
disebut dengan harga relatif barang yaitu harga relatif barang Amerika terhadap
harga relatif barang eropa. Ketika nilai tukar riil meningkat, ini menunjukkan
bahwa barang-barang Amerika menjadi relatif lebih mahal dibandingkan dengan
barang-barang Eropa, jika:
1. Nilai tukar nominal S meningkat (katakan dari 0.80 menjadi 1.20 euro
per dolar)
2. Tingkat harga di Amerika meningkat, atau
3. Tingkat harga di Eropa menurun.
Secara umum, kita mengharapkan peningkatan nilai tukar riil untuk
menyebabkan substitusi dari barang Amerika menjadi barang Eropa di kedua
negara. Pendekatan elastisitas berfokus pada hubungan yang terjadi antara nilai
tukar (riil) dan aliran barang dan jasa yang diukur dengan neraca transaksi
berjalan. Kita notasikan X sebagai ekspor barang Eropa ke Amerika dan M
sebagai impor barang Amerika ke Eropa.
Berdasarkan uraian tersebut, tingkat ekspor dan impor adalah fungsi dari
nilai tukar riil. Jika nilai tukar riil Q meningkat, barang-barang Amerika menjadi
lebih mahal, yang mana tidak hanya mengurangi permintaan impor M Eropa
tetapi juga meningkatan permintaan ekspor X Eropa. Kita dapat simpulkan
bahwa efeknya terdapat pada neraca transaksi berjalan CA, yang mana
mengukur nilai ekspor bersih. Anggap barang-barang Eropa sebagai bentuk
angka, kemudian neraca transaksi berjalan adalah sebagai berikut:
CA (Q) = X(Q) - Q.M(Q)...... 1.2
+ -

Catatan bahwa kita harus mengalikan terlebih dahulu impor M dari


Amerika, yang mana diukur dalam barang-barang Amerika, dengan nilai tukar
riil Q, harga relatif barang-barang Amerika untuk memastikan bahwa semua
pengukuran yakni dalam barang-barang Eropa. Persamaan tersebut memberi
kesimpulan bagaimana tingkat ekspor dan impor, dan oleh sebab itu neraca
transaksi berjalan tergantung dari nilai tukar riil yang terjadi.

Figure 1.1 The exchange rate and current account equilibrium

Figur tersebut menggambarkan keseimbangan sederhana nilai tukar riil,


karena dalam figur tersebut tidak dimasukkan neraca modal, dan hal ini sesuai
dengan perekonomian di negara berkembang mengingat bahwa pergerakan
kapital masih cukup rendah atau sangat terbatas. Keseimbangan neraca transaksi
berjalan terdapat pada titik pertemuan antara kurva X dan kurva QM (titik E0),
mendorong keseimbangan nilai tukar riil ke Q0. Bagaimanapun, jika kita
mengasumsikan bahwa tingkat harga di Eropa dan Amerika adalah konstan, dan
persamaan 1.2 menunjukkan nilai keseimbangan untuk nilai tukar nominal S.
Peningkatan pada net exports sering barkaitan dengan improvement dari
transaksi berjalan dan penurunan sebagai deterioriation. Catat bahwa kurva QM
digambarkan downward sloping pada figur 1.2, yang mana secara implisit
mengasumsikan bahwa value effect dari peningkatan Q, yang digambarkan
melalui tingkat impormeningkatkan QM, ini lebih dikompensasikan oleh volume
effect dari penurunan imports M disebabkan oleh peningkatan pada nilai tukar
riil. Secara umum, yang mana Marshall (1923) dan Lerner (1944) menganalisis
kondisi peningkatan pada nilai tukar riil mendorong kemajuan pada transaksi
berjalan. Untuk melakukan hal tersebut, mereka mendefinisikan elastisitas harga
permintaan ekspor ε ≡ (Q / X )X ' > 0 x, dan elastisitas harga permintaan
impor ε ≡ −(Q/ M)M' > 0 m , untuk mencari apa yang disebut Marshall-
Lerner condition (dimulai dari keseimbangan):
CA' (Q) > 0 ⇔ ε x + ε m > 1 .... 1.3
Seandainya terdapat surplus pada transaksi berjalan Eropa ( X > QM),
mengindikasikan bahwa nilai ekspor barang dan jasa Eropa ke Amerika lebih
tinggi daripada nilai impor Eropa dari Amerika. Jika kita melihat terdapat
indikasi bahwa barang-barang Amerika lebih mahal (atau barang Eropa lebih
murah), kita seharusnya mengharapkan harga relatif barang-barang Amerika
turun (Q↓). Sama halnya apabila deficit terjadi di Eropa.
Ilustrasi berikutnya yaitu figur 1.3, menunjukkan range dari nilai tukar riil
yang mana value effect lebih dominan daripada volume effect dari QM. Ini
memberikan banyak titik keseimbangan E0 , E1 , dan E2, dengan tingkat nilai
tukar Q0 , Q1 , and Q2. Tanda panah pada gambar tersebut menunjukkan
apakah nilai tukar tersebut naik atau turun, menunjukkan keseimbangan E0 dan
E2 stabil, dimana E1 tidak. Ini berarti kondisi Marshall-Lerner dicapai pada
keseimbangan E0 dan E2, dan buka E1.

Figure 1.3 The Marshall – Lerner condition and stability

Kesimpulan
Ketika nilai tukar riil meningkat, menunjukkan bahwa barang-barang
Amerika menjadi relatif lebih mahal dibandingkan dengan barang-barang Eropa,
jika:
1. Nilai tukar nominal S meningkat (katakan dari 0.80 menjadi 1.20 euro
per dolar)
2. Tingkat harga di Amerika meningkat, atau
3. Tingkat harga di Eropa menurun.
Pendekatan elastisitas memfokuskan pada efek harga relatif pada neraca
transaksi berjalan. Berdasarkan Marshall-Lerner condition, yang mana bahwa
jumlah elastisitas harga dari permintaan ekspor dan impor negara bagian harus
melebihi elastisitas keseluruhan. Depresiasi mata uang domestik akan
mendorong neraca transaksi berjalan. Perhitungan empiris menunjukkan bahwa
Maeshall-Lerner condition dapat diterapkan di berbagai negara, tetapi setelah
mencapai periode yang dijalani telah cukup panjang untuk memastikan bahwa
kuantitas ekspor dan impor dapat menyesuaikan dengan perubahan harga relatif.