Anda di halaman 1dari 9

BAB V

SIFAT KIMIA MINYAK


A. Tujuan
1. Mahasiswa dapat melakukan uji pembentukan emulsi dan uji bilangan penyabunan
2. Mahasiswa dapat menghitung bilangan penyabunan
B. Landasan Teori
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid, yaitu
senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut
organik non-polar, misalnya

dietil

eter (C2H5OC2H5), kloroform (CHCl3), benzena dan

hidrokarbon lainnya. Lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas
karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut tersebut.
Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti
triester dari gliserol. Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester. Hasil hidrolisis
lemak danminyak adalah asam karboksilat dan gliserol. Asam karboksilat ini juga disebut asam
lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.
Sifat-sifat kimia Minyak dan Lemak
1. Esterifikasi
Proses esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida, menjadi
bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi
atau penukaran ester yang didasarkan pada prinsip transesterifikasi Fiedel-Craft.

2. Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisis, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam lemak bebas
dan gliserol. Reaksi hidrolisis mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak. Ini terjadi karena
terdapat terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut.

3. Penyabunan
Angka penyabunan menunjukkan berat molekul lemak dan minyak secara kasar. Minyak
yang disusun oleh asam lemak berantai karbon yang pendek berarti mempunyai berat molekul
ytang relatif kecil, akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya bila minyak
mempunyai berat molekul yang besar, maka angka penyabunan relatif kecil. Angka penyabunan
ini dinyatakan sebagai banyaknya (mg) NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram
lemak atau minyak.
Angka penyabunan=

( Titrasi blankoTitrasi contoh ) x NHCl x BM KOH


W sampel( gram)

Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila
penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dan gliserol
dipulihkan dengan penyulingan.
4. Hidrogenasi
Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai karbon asam lemak
pada lemak atau minyak. setelah proses hidrogenasi selesai, minyak didinginkan dan katalisator
dipisahkan dengan disaring. Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras, tergantung
pada derajat kejenuhan.

5. Oksidasi
Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak
atau minyak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada lemak atau
minyak.
Emulsi adalah campuran antara partikel-partikel suatu zat cair (fase terdispersi) dengan
zat cair lainnya (fase pendispersi). Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya
terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi tersusun atas tiga
komponen utama, yaitu: Fase terdispersi, fase pendispersi, dan emulgator. Ada dua tipe emulsi,
yaitu:
a. Emulsi a/m yaitu butiran-butiran air terdispersi dalam minyak
b. Emulsi m/a yaitu butiran-butiran minyak terdispersi dalam air.
Pada emulsi a/m, maka butiran-butiran air yang diskontinyu terbagi dalam minyak yang
merupakan fase kontinyu, Sedangkan untuk emulsi m/a adalah sebaliknya. Kedua zat yang
membentuk emulsi ini harus tidak atau sukar membentuk larutan dispersirenik.
Zat Pengemulsi (Emulgator)
Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil. Untuk itu kita memerlukan suatu zat
penstabil yang disebut zat pengemulsi atau emulgator. Tanpa adanya emulgator, maka emulsi
akan segera pecah dan terpisah menjadi fase terdispersi dan medium pendispersinya, yang ringan
terapung di atas yang berat. Adanya penambahan emulgator dapat menstabilkan suatu emulsi
karena emulgator menurunkan tegangan permukaan secara bertahap. Adanya penurunan
tegangan permukaan secara bertahap akan menurunkan energi bebas yang diperlukan untuk
pembentukan emulsi menjadi semakin minimal. Artinya emulsi akan menjadi stabil bila
dilakukan penambahan emulgator yang berfungsi untuk menurunkan energi bebas pembentukan
emulsi semaksimal mungkin. Semakin rendah energi bebas pembentukan emulsi maka emulsi
akan semakin mudah terbentuk. Tegangan permukaan menurun karena terjadi adsorpsi oleh
emulgator pada permukaan cairan dengan bagian ujung yang polar berada di air dan ujung
hidrokarbon pada minyak.

C. Alat dan Bahan


1. Alat
a) Rak tabung reaksi
b) Tabung reaksi
c) Pipet tetes
d) Pipet ukur 25 ml
e) Pipet ukur 5 ml
f) Penjepit
g) Buret
h) Statif dan klem
i) Erlenmeyer 100 ml
j) Labu takar 100 ml
k) Corong kaca
l) Gelas arloji
m) Spatula
n) Mortar dan alu
o) Ball filler
p) Kompor listrik
q) Neraca analitik
2) Bahan
a)
b)
c)
d)

Aquades
Larutan sabun 1%
Larutan soda 1%
Minyak goreng

e)
f)
g)
h)

D. Skema Kerja
Tabung reaksi
1
i)

Etanol 95%
Indikator PP
Larutan KOH 0,5 N
Larutan HCl 0,5 M
m)

n)Tabung reaksi 3
Minyak goreng
KOH 0,5 N
Aquades
Aquades
Aquades
j)
o)
+ 5 tetes
+ larutan soda 1%
+ larutan sabun 1%
Minyak goreng
k)
p)
Gambar
V.1 Uji Pembentukan Emulsi
Aquades + soda
Aquades + sabun Campuran
Campuran 3
l)
+ 5 tetes
+ 5 tetes
Dipanaskan selama 30 menit
Minyak goreng
Minyak goreng
dikocok
Campuran tersabunkan (panas)
Campuran 2
Campuran 1
Diamati
Didinginkan
dikocok
Diamati

Tabung reaksi 2

dikocok
Campuran dingin
Diamati
+ indikator PP
Dengan indikator PP
Campuran berwarna merah muda
Gambar V.
2Campuran
Uji Bilangan
Penyabunan
bening
Dititrasi
dengan
HCl
0,5 M

q)

PEMBAHASAN

r)

Sabun yang biasa di gunakan sehari-hari dibuat dengan proses saponifikasi

yaitu dengan mereaksikan suatu asam lemak atau minyak dengan basa alkali sehingga
terbentuk sabun. Minyak yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu minyak goreng kelapa
sawit yang banyak mengandung asam oleat. Sedangkan basa alkali yang di gunakan yaitu
KOH. Alasan menggunakan minyak goreng kelapa sawit dan KOH sebagai bahan baku yaitu
untuk menghasilkan sabun yang lunak dan kualitasnya lebih bagus.
s)

Minyak kelapa sawit yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebanyak 20

ml, sedangkan KOH yang digunakan adalah sebanyak 12 gram yang di larutkan dalam 40 ml
air. Selain bahan baku utama, pada percobaan ini juga digunakan bahan pendukung NaCl
sebesar 5,4 gram. NaCl yang digunakan dibagi menjadi dua variabel, yaitu 15 % (3 gram) dan
12 % (2,4 gram) yang masing-masing dilarutkan dalam 20 ml air. Tujuan dilarutkannya KOH
dan NaCl adalah untuk memudahkan dan mempercepat terjadinya reaksi saponifikasi
sehinggaproduk yang dihasilkanakanbermutubaik.
t)

Pada proses pembuatan sabun, minyak goreng terlebih dahulu dipanaskan

hingga suhu 600C. Pemanasan minyak pada suhu tersebut yaitu agar trigliserida yag terdapat
pada minyak dapat cepat bereaksi dengan KOH sehingga dapat membentuk sabun dan
gliserol. Untuk memperoleh sabun yang baik, suhu larutan pada proses pembuatan pada range
60 70C. Jika suhu dibawah 60C sabun yang dihasilkan akan menggumpal sedangkan jika
suhu terlalu panas akan mengoksidasi minyak sehingga warnanya menjadi kecoklatan.
u)

Tahap selanjutnya yaitu memasukan larutan KOH dan NaCl 15% kedalam

minyak yang sudah dipanaskan. Garam NaCl ditambahkan untuk memisahkan antara produk
sabun dan gliserol sehingga sabun akan tergumpalkan sebagai sabun padat yang memisah
dari gliserol. Campuran dipanaskan pada suhu 700C selama 1 jam dan dilakukan pengadukan
untuk mempercepat pelarutan sehinggalarutan cepat bereaksi. Kemudian tambahkan NaCl
12% kedalam campuran dan diaduk selama 30 menit. Ketika campuran telah homogen,
campuran didinginkan hingga suhu mencapai 400C. Campuran yang telah dingin kemudian
dilakukan penyaringan untuk memisahkan produk sabun dan gliserolnya.
v)

Pada hasil akhir, produk yang terbentuk hanya berupa sabun tanpa hasil

samping berupa gliserol. Sabun yang dihasilkan pun tidak mengeras, karena basa yang
digunakan adalah KOH. Sabun yang dihasilkan ditimbang untuk mengetahui berat sabun
basah. Kemudian sabun dioven untuk mengurangi kadar air dalam sabun sampai beratnya
konstan.

w)

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, dapat diketahui kadar air

dalam sabun adalah sebesar 53,66 %. Berat sabun yang dihasilkan dalam percobaan yaitu
sebanyak 9,04 gram sedangkan hasil sabun yang seharusnya menurut teori adalah sebanyak
18,24 gram. Dengan demikian yield sabun yang dihasilkan adalah sebesar 49,56%.
x)

Untuk mengetahui kualitas sabun yang dihasilkan, pada percobaan ini

dilakukan uji menghasilkan busa terhadap sabun yang dihasilkan. Dalam uji tersebut sabun
menghasilkan sedikit busa. Hal ini dikarenakan sabun terbuat dari 100% minyak goreng
kelapa sawit yang akan membuat sabun menjadi sulit berbusa. Oleh karena itu, sebaiknya
minyak goreng kelapa sawit dicampur dengan bahan lainnya untuk meningkatkan kualitas
sabun yang dihasilkan.
y) Kesimpulan

Sabun dapat dibuat dengan reaksi penyabunan (Saponifikasi) antara basa alkali
dengan minyak goreng kelapa sawit

Kadar air pada sabun hasil praktikum yaitu sebesar 53,66%

Yield sabun hasil praktikum sebesar 49,56%


z)

aa)

Saran

Sebaiknya minyak nabati (minyak goreng kelapa sawit) yang digunakan harus

dicampur dengan bahan lainnya agar busa yang dihasilkan lebih banyak
Usahakan suhu pengadukan dijaga agar tetap konstan
Daftar pustaka
ab) Fathatun, Nurul. 2013. Reaksi Saponifikasi. Laboratorium Satuan
Proses Prodi DIV Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung
ac)
ad) Anonim. 2013. Praktikum Saponifikasi. Dari
http://infokimiawan13o1b-04.blogspot.com/2013/12/praktikumsaponifikasi-i.html. Diakses 06 Mei 2014
ae)

af)
ag)
ah)
ai)
aj) LAMPIRAN GAMBAR
1. Uji Pembentukan Emulsi

ak)

Gambar V.3 Campuran sebelum dikocok

al)
2. Uji Bilangan Penyabunan
am)
an)
ao)
ap)
aq)
ar)

Gambar V.4 Campuran setelah dikocok

as)
at)
au)

Gambar V.5
Pemanasan campuran selama 30 menit

Gambar V.6
Pendinginan campuran

Gambar V.7
Titrasi campuran menggunakan
HCl 0,5 M ( + ind.PP )