Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM GENETIKA
PERSILANGAN MONOHIBRID PADA TANAMAN KACANG
PANJANG (Vigna unguiculata subsp. sesquipedalis)

KELOMPOK 4
Pendidikan Biologi Internasional
Fitarahmawati

(13304241062)

Miftakhurrohmah

(13304241071)

Ruchyan Intani

(13304244073)

Lanna Murpi Pertiwi

(13304244010)

An Nisaa Rakhmi

(13304244028)

Jurusan Pendidikan Biologi


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Yogyakarta
2015
BAB I
1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pola pewarisan sifat merupakan salah satu kajian penting dalam
biologi, khususnya bidang genetika. Pola pewarisan sifat dengan cara
melakukan persilangan pertama kali diteliti oleh Gregor Mendel pada
tahun 1866. Mendel melakukan percobaan persilangan monohibrid
terhadap tanaman kapri (Pisum sativum). Persilangan

monohibrid

merupakan persilangan antara dua tetua dengan satu sifat yang


berbeda. Tanaman yang dibuat model oleh Mendel merupakan
tanaman

yang

mudah

dipelihara/tumbuh,

menghasilkan

banyak

keturunan, dan memiliki sifat-sifat yang dapat dibedakan dengan


mudah.
Pada persilangan monohibrid, tiap parent /tetua harus mempunyai
sifat kontras atau berlawanan untuk suatu sifat tertentu. Selain itu,
tiap parent yang digunakan merupakan lini murni (sudah hasil selfing
beberapa generasi). Untuk generasi pertama (F1 = fillial1) dari
persilangan antar tetua yang beda sifat dihasilkan tanaman yang
serupa dengan salah satu tetua
Untuk lebih memahami tentang persilangan monohibrid, maka
dilakukan penelitian tentang persilangan ini dengan menggunakan
kacang panjang (Vigna unguiculata). Pemilihan kacang panjang
sebagai model dilakukan karena kacang panjang mudah dipelihara,
menghasilkan banyak keturunan, dan memiliki sifat-sifat yang dapat
dibedakan dengan mudah, seperti syarat tanaman model persilangan
Mendel.
B. Tujuan
1. Menggunakan tanaman model untuk percobaan persilangan
2. Mengamati beberapa sifat yang berbeda antar 2 tetua lini murni
3. Menghasilkan populasi F1 dari persilangan dan menentukan dominasi beberapa sifat
pada tanaman kacang panjang.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Tinjauan Pustaka
Orang pertama yang melakukan percobaan perkawinan silang adalah Gregor
Mendel (1822-1884). Pada tahun 1857, ia mulai mengumpulkan beberapa jenis ercis
(Pisum sativum) untuk dipelajari perbedaan antara satu dengan yang lainnya dan
melakukan percobaan perkawinan silang pada ercis tersebut. Mendel memilih tanaman
ercis untuk percobaannya karena:

Tanaman ini hidupnya tak lama (merupakan tanaman setahun), mudah


tumbuh, dan mudah disilangkan.

Memiliki bunga sempurna, pada bunga tersebut terdapat benang sari dan putik
sehingga bias terjadi penyerbukan sendiri. Perkawinan silang dapat
berlangsung dengan pertolongan orang. Penyerbukan sendiri yang berlangsung
beberapa generasi terus menerus akan menghasilkan galur murni, yaitu
keturunan yang memiliki sifat keturunan yang sama dengan induknya.

Tanaman ini memiliki tujuh sifat dengan perbedaan menyolok, antara lain:
batang tinggi lawan kerdil, buah polong berwarna hijau lawan kuning, bunga
berwarna ungu lawan putih, bunga terletak aksial (sepanjang batang) lawan
terminal (ujung batang), biji masak berwarna hijau lawan kuning, permukaan
biji licin lawan berkerut, warna kulit biji abu-abu lawan putih (Suryo, 2008:7).
Pada saat Mendel mengawinkan tanaman ercis berbatang tinggi dengan yang

berbatang kerdil, semua tanaman keturunan pertama seragam berbatang tinggi. Sifat
tinggi mengalahkan sifat kerdil. Sifat demikian disebut sifat dominan. Sifat yang
dikalahkan disebut sifat resesif. Ketika tanaman-tanaman keturunan pertama tadi
dibiarkan menyerbuk sendiri didapatkan tanaman-tanaman kedua yang memperlihatkan
pemisahan dengan perbandingan kira-kira batang tinggi : batang kerdil (Suryo,
2008:7).
Hasil perkawinan antara dua individu yang mempunyai sifat beda dinamakan
hibrid. Monohibrid ialah suatu hibrid dengan satu sifat beda (Aa) (Suryo, 2008:9).
3

Menurut Suryo (2008:10), kesimpulan penting yang dapat diambil dari


perkawinan individu dengan satu sifat beda yaitu:

Semua individu F1 adalah seragam.

Jika dominansi tampak sepenuhnya, maka individu F 1 memiliki fenotip seperti


induknya yang dominan.

Pada waktu individu F1 yang heterozigot membentuk gamet-gamet, terjadilah


pemisahan sel, sehingga gamet hanya memiliki salah satu alel saja.
Jika dominansi tampak sepenuhnya, maka perkawinan monohibrid (Tt x Tt)

menghasilkan keturunan yang memperlihatkan perbandingan fenotip 3:1 ( tinggi :


kerdil), tetapi memperlihatkan perbandingan genotip 1:2:1 (1/4 TT : 2/4 Tt : tt).
Orang yang pertama kali mengadakan percobaan persilangan dengan
menggunakan tumbuhan sebagai bahan adalah seorang alim ulama berkebangsaan
Austria bernama Gregor Mendel (1822-1884). Dalam tahun 1900, beberapa biologiwan
dari negara secara terpisah meneliti kembali penelitian Mendel dan disimpulkan bahwa
hasil penemuan Mendel adalah benar. Maka, sejak saat itulah Mendel dinyatakan
sebagai Bapak Genetika (Suryo, 1996).
Dalam percobaannya, Mendel menggunakan tanaman ercis/kapri (Pisum
sativum). Mendel memilih tanaman itu karena selain umurnya pendek ( 3 bulan) dan
bijinya mudah didapat, Mendel dapat mengamati 7 sifat tanaman itu, seperti;
1. Batang tinggi dan pendek
2. Bunga letakya di terminal (ujung batang/cabang) dan aksial (ketiak cabang)
3. Bunga ungu dan putih
4. Buah polong berwarna hijau dan kuning
5. Buah polong rata dan bergelombang
6. Biji bulat dan keriput
7. Kotiledon hijau dan kuning (Suryo, 1996).

(Campbell, 2005)
Mendel bekerja menggunakan kacang ercis karena kacang ercis memiliki
banyak varietas. Ahli genetika menggunakan istilah karakter untuk menjelaskan sifat
yang dapat diturunkan seperti warna bunga, yang terdapat pada individu. Setiap varian
dari dari suatu karakter, seperti warna bunga ungu dan putih pada bunga, dinamakan
sifat (trait) (Campbell, 2005). Sifat tersebut memperlihatkan perbedaan yang kontras
sehingga memudahkan dalam mengamati (Suryo, 1996).
Penggunaan kacang ercis juga membuat Mendel dapat melakukan kontrol yang
ketat berkenaan dengan tanaman mana saja yang akan saling dikawinkan. Organ
kelamin dari tanaman ercis terdapat pada bunganya dan setiap bunga kacang ercis
mempunyai sekaligus organ kelamin jantan dan betina masing-masing stamen
(benang sari) dan karpel (putik) dan biasanya berfertilisasi sendiri. Untuk mendapatkan
penyerbukan silang (fertilisasi diantara dua tanaman yang berbeda), Mendel
memindahkan stamen yang belum matang (dewasa) dari sebuah tanaman sebelum
stamen-stamen tersebut menghasilkan polen dan selanjutnya butir-butir polen tanaman
lain keatas bunga tersebut (Campbell, 2005).
Mendel menyilangkan tanaman ercis berbatang tinggi dengan tanaman
berbatang pendek.
T = gen dominan untuk batang tinggi

t = gen resesif untuk batang pendek


Hasilnya adalah sebagai berikut; semua tanaman F1 seragam, yaitu berupa
tanaman berbatang tinggi. Tanaman F1 ini disebut monohibrid. Jika tanaman F1 ini
menyerbuk sendiri maka bunganya akan membentuk sebuk yang yang embawa gen T
atau t, dan sel telur yang membawa gen T atau t (Suryo, 1996).

(Suryo, 1996)
Keturunan F2 yang diharapkan adalah sebagai berikut :

Mendel mengemukakan beberapa kesimpulan penting dari percobaannya;


1. Gen-gen diwariskan dari induk kepada keturunannya lewat gamet
2. Gen-gen yang sealel memisah. Ini dikenal dengan hukum I dari Mendel yang
berbunyi : Hukum Pemisahan Gen yang Sealel (The Law of Segregation of Allelic
Genes)
3. Banyaknya macam gamet yang dibentuk oleh suatu hibrid mengikuti rumus 2 n, n =
banyaknya sifat beda
6

4. Keturunan F1 adalah seragam


5. Banyaknya kombinasi

yang dapat diharapkan dalam keturunan dari persilangan

hibrid mengikuti rumus (2n)2


6. Jika dominansi nampak sepenuhnya, maka persilangan monohibrid (Tt x Tt)
menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotip 3 : 1 (Suryo,1996).

BAB III
METODE
A. Metode
1. Waktu dan Tempat Praktikum
Hari, tanggal
: Selasa, Maret April 2015
Tempat
: Kebun Biologi FMIPA UNY
2. Alat dan Bahan
a. Peralatan bercocok tanam
b. Polybag 5 kg
c. Lanjaran bambu (tinggi 2 m)
d. Gunting
e. Pinset
f. Benih kacang panjang 2 varietas
7

g. Campuran tanah : kompos = 2 : 1


h. Pupuk NPK
3. Cara Kerja
Mencatat sifat-sifat yang membedakan kedua tanaman tetua,
meliputi : bentuk daun, bentuk tajuk, warna bunga, warna
polong/buah, dan warna biji yang dihasilkan.
Menyiapkan alat bahan yang akan digunakan dalam praktikum serta memilih
induk betina dan jantan yang telah siap disilangkan

Melakukan kastrasi dengan cara memotong mahkota bunga, dilakukan


sebelum jam 08.00 pagi atau setelah jam 17.00 sore
Melakukan emaskulasi dengan cara membuang alat kelamin jantan (stamen)
pada induk betina dengan menggunakan pinset, di lakukan sebelum bunga
mekar.
Melakukan penyerbukan dengan cara menggoyang benang sari jantan diatas
induk betina yang telah diemaskulasi.

Melakukan isolasi dengan cara membungkus bunga betina yang telah


diserbuki dengan menggunakan kantong plastik dan diikat dengan tali, agar
tidak diserbuki oleh benang sari asing

Memberi label di kantong plastik pembungkus bunga induk betina sebagai


tanda dengan menuliskan nomer yang berhubungan dengan lapangan, waktu
persilangan, nama induk jantan & betina serta kode penyilangan
Mengamati hasil persilangan tersebut dengan mengamati biji hasil persilangan
setelah kering

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Data Pengamatan
Jantan
Merah ulir
Merah ulir
Putih

Betina
Putih
putih
Merah ulir

F1
Separuh hitam separuh putih, jumlah 11
Separuh hitam separuh putih, jumlah 3
Merah ulir, jumlah 9

B. Pembahasan
Praktikum kali ini berjudul Persilangan monohibrid pada tanaman
kacang panjang (Vigna unguiculata Subsp. sesquipedalis). Yang
bertujuan untuk mengamati beberapa sifat yang berbeda antar 2 tetua
lini murni dan menghasilkan populasi F1 dari persilangan dan
menentukan dominasi sifat pada tanaman kacang panjang. Percobaan
ini dilakukan berlatar belakang percobaan yang telah dilakukan oleh
Mendel dengan menggunakan kacang kapri.
Pada percobaan ini kacang kapri diganti dengan kacang panjang,
karena

kacang

panjang

mudah

tumbuh

di

Indonesia,

dapat

menghasilkan banyak biji, memiliki keturunan yang banyak, dapat


disilangkan secara artificial, memiliki sifat contrast yang dapat
diamati, dan mempunyai beberapa sifat yang membedakan antar
varietas dan dapat disilangkan. Tanaman kacang panjang juga
termasuk famili yang sama dengan kapri sehingga mempunyai
struktur bunga yang serupa.
Persilangan yang telah dilakukan termasuk ke dalam persilangan
monohibrid. Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua
tetua

dengan

salah

satu

sifat

yang

membedakan

keduanya.

Diharapkan keturunan pertamanya (F1) akan memiliki sifat dengan


9

salah satu tetua jika sifat tersebut dipengaruhi oleh alel dominan dan
resesif sera tidak ada tautan seperti yang ditemukan Mendel pada
tanaman kapri.
Persilangan monohibrid dilakukan oleh Mendel sebaagai langkah
awal penelitiannya dalam mempelajari sifat organisme. Akan tetapi
sebelum melakukan persilangan Mendel harus memperoleh materi
tetua yang sudah dalam keadaan murni atau homozigot yang
diperoleh dari metode selfing pada suatu varietas tanaman.
Persilangan yang dilakukan oleh praktikan merupakan persilangan
buatan yang dilakukan denga menyilangkan kacang panjang biji
merah ulir dengan tanaman kacang panjang biji putih. Untuk masing
masing

jenis

biji

dijadikan

sebagai

parental

sebanyak

kali

pengulangan. Jadi bunga tanaman kacang panjang biji merah ulir


sebagai induk jantan disilangkan dengan bunga tanaman kacang
panjang biji putih sebagai induk betina, dilakukan sebanyak 3 kali
pengulangan. Setelah itu perlakuan untuk indukan dibalik, bunga
tanaman kacang panjang biji merah ulir sebagai induk betina
sementara bunga tanaman kacang panjang biji putih sebagai induk
jantan, dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan.
Persilangan buatan pada tanaman kacang panjang yang dilakukan
dengan cara pertama yaitu melakukan emaskulasi bunga betina
dengan membuang kepala sari. Memilih bunga betina yang masih
kuncup (pada ujung bunga tersebut telah muncul kelopak bunga kirakira 0,5 mm). Kuncup bunga tersebut dipegang dengan telunjuk dan
ibu jari. Mengambil daun kelopak bunga tersebut dengan pinset.
Menarik ke bawah atau ke samping daun kelopak bunga, sehingga
seluruh daun kelopak bunga terlepas dan tersisa hanya mahkota
bunga. Setelah daun kelopak terbuang terlihat mahkota bunga
membungkus benang sari dan putik.
Setelah benang sari tampak maka kumpulan benang sari- benang
sari tersebut dipotong dengan menggunakan gunting, kemudian
menyentuhkan kepala sari ke putik bunga yang dijadikan sebagai
bunga betina agar serbuk sari menempel. Bunga yang diemaskulasi
10

menjadi bunga betina. Emaskulasi biasanya dilakukan pada pagi hari


antara pukul 07.00-08.00 atau ketika matahari belum tinggi. Hal
tersebut dilakukan karena tidak semua bunga kacang panjang siap
untuk diserbukan atau disilangkan sehingga praktikan harus setiap
pagi

memerikas

apakah

terdapat

bunga

yang

bisa

dilakukan

persilangan. Waktu persilangan tidak boleh terlalu siang karena serbuk


sari bisa mengering dan apabila serbuk sari telah mengering maka
serbuk sari tersebut tidak akan berkembang ketika disilangkan.
Hasil yang diperoleh dari persilangan pertama yaitu kacang
merah ulir sebagai indukan jantan dan putih sebagai indukan betina
yaitu dihasilkannya kacang dengan warna biji separuh hitam dan
separuh putih dengan jumlah sebanyak 11 biji.
Pada persilangan kedua juga menggunakan kacang merah ulir
sebagai

indukan

jantan

dan

putih

sebagai

indukan

betina

menghasilkan kacang dengan biji berwarna separuh hitam dan


separuh putih dengan jumlah 3 biji.
Pada persilangan ketiga yaitu menggunakan putih sebagai
indukan jantan dan merah ulir sebagai indukan betina menghasilkan
biji dengan warna merah dengan jumlah 9 biji.
Dari persilangan bunga tanaman kacang panjang dengan jantan
merah ulir dan betina putih tidak menghasilkan keturunan yang
memiliki sifat yang sama dengan induknya (merah dominan, putih
dominan, atau separuh merah separuh putih), tetapi menghasilkan biji
dengan

fenotip

separuh

hitam

separuh

putih.

Menurut

Suryo

(2008:10), perkawinan individu dengan satu sifat beda memiliki sifat:

Semua individu F1 adalah seragam.

Jika dominansi tampak sepenuhnya, maka individu F1 memiliki


fenotip seperti induknya yang dominan.

Pada waktu individu F1 yang heterozigot membentuk gametgamet, terjadilah pemisahan sel, sehingga gamet hanya
memiliki salah satu alel saja.

Dari hasil persilangan yang dilakukan oleh kelompok kami, ketika


tanaman kacang panjang berbiji merah ulir dijadikan indukan baik
11

induk jantan maupun induk betina disilangkan dengan tanaman


kacang panjang berbiji putih dominan baik sebagai induk jantan
maupun induk betina, hasil yang diperoleh menunjukkan semua biji
memiliki separuh hitam dan separuh putih tidak sesuai dengan teori.
Hal ini disebabkan karena bunga sudah mengalami penyerbukan
sebelumnya.
Sementara itu, untuk persilangan dengan induk jantan putih dan
induk betina merah ulir, menghasilkan keturunan biji merah ulir. Hal ini
berarti terjadi dominansi sepenuhnya dari induk betina yaitu merah
ulir, sehingga sifat yang tampak pada keturunan perislangan tersebut
hanya merah ulir.
Sedangakan pada persilangan indukan jantan putih dengan
indukan
Sehingga

betina
dapat

merah

ulir

diketahui

menghasilkan
bahwa

biji

indukan

berwarna

betina

merah.

merah

ulir

memberikan sifat dominan pada keturunannya.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Persilangan tanaman yang dilakukan menggunakan tanaman kacang panjang
karena kacang

panjang mudah dipelihara, menghasilkan banyak keturunan, dan

memiliki sifat- sifat yang dapat dibedakan dengan mudah seperti syarat tanaman model
persilangan Mendel.

12

Kacang panjang yang digunakan oleh kelompok adalah tanaman kacang panjang
berbiji merah ulir dan berbiji putih dominan. Yang membedakan diantara keduanya
adalah warna biji.
Persilangan kedua tanaman menghasilkan F1 dengan fenotip separuh hitam dan
separuh putih 100% ketika tanaman merah ulir sebagai induk jantan dan biji putih
dominan sebagai induk betina. Sementara F1 memiliki fenotip merah ulir 100% ketika
tanaman kacang panjang biji putih dominan sebagai induk jantan dan tanaman kacang
panjang biji merah ulir sebagai induk betina.
B. Saran
1. Praktikan sebaiknya lebih memahami

morfologi

dan

tahap

perkembangan tanaman kacang panjang agar ketika menyilangkan


bunga berada dalam kondisi yang tepat.
2. Praktikan sebaiknya lebih berhati- hati dalam memilih bunga yang
akan disilangkan. Bunga yang akan disilangkan harus merupakan
bunga yang belum mengalami penyerbukan.
3. Praktikan sebaiknya lebih rutin dalam memeriksa perkembangan
bunga yang telah disilangkan.
C. Diskusi
1. Berapa sifat yang dapat membedakan kedua tetua varietas kacang panjang yang
digunakan ? sebutkan!
Jawab :
Pada praktikum ini hanya menggunakan satu sifat, yaitu warna biji dari tanaman
kacang panjang
2. Apakah kedua tetua yang digunakan dalam persilangan monohibrid (seperti mendel)
harus merupakan lini murni ? Jelaskan ?
Jawab:
Kedua tetua yang digunakan harus lini murni agar sift parentalnya merupakan sifat
asli bukan dari persilangan.
3. Apa hasil kesimpulan anda mengenai biji pada F1 ? apakah hasil nya sama untuk
semua jenis persilangan ? Jelaskan !
Jawab :
Kesimpulannya, mengenai biji F1 mempunyai semua sifat yang dimiliki tetuanya,
hasil semua jenis adalah sama.
4. Pada percobaan ini telah dilakukan persilangan resiprok. Apa yang dimaksud
dengan persilangan resiprok ? Hasil apa yang akan diperoleh ?
Jawab :

13

Pada kesempatan praktikum ini tidak dilakukan persilangan resiprok. Namun


pengertian persilangan resiprok adalah persilangan/perkawinan yang merupakan
kebalikan dari perkawinan yang semula dilakukan. Hasil yang akan diperoleh
adalah keturunan yang sama baik F1 maupun F2

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A., dkk., 2005. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Suryo. 1996. Genetika. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Suryo. 2008. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

14