Anda di halaman 1dari 7

DESKRIPSI STANDAR KOMPETENSI ASISTEN

APOTEKER/TTK
DESKRIPSI STANDAR KOMPETENSI
ASISTEN APOTEKER/TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN
Deskripsi ini akan dikelompokkan berdasarkan kualifikasi pendidikan sesuai standar profesi Asisten Apoteker tahun 2008

A. bidang apotek / apotek rumah sakit


1. P elayanan Resep, meliputi ;

M engidentifikasi isi resep

Melakukan konsultasi

Memastikan resep dapat dilayani

Menghitung harga resep

Menginformasikan harga resep

Menyiapkan atau meracik sediaan Farmasi

Memeriksa hasil akhir

Menyerahkan sediaan Farmasi sesuai resep disertai informasi yang diperlukan.

2. Pelayanan Non Resep, meliputi ;

M enerima permintaan pelayanan obat bebas, obat bebas

terbatas dan komoditi

lain

Menganalisis permintaan

Memberikan alternative macam macam obat bebas, obat bebas terbatas dan
komoditi lain.

Menyerahkan obat bebas, bebas terbatas dan komoditi lain

Memberikan informasi obat bebas, bebas terbatas dan komoditi lain.

1. Pengelolaan sediaan Farmasi

M enyusun pesanan dan menerima sediaan Farmasi

Memeriksa sediaan Farmasi yang habis

Memeriksa dan mengendalikan sediaan Farmasi yang mendekati waktu


kadaluarsa

Memeriksa dan mengendalikan sediaan Farmasi sesuai dengan pola pembelian


konsinyasi

Menyimpan sediaan Farmasi sesuai dengan golongannya.

1. Pengelolaan Dokumen
1.

Melaksanakan tata cara menyimpan resep

2.

Pencatatan persediaan Farmasi

3.

Penyimpanan surat pesanan

4.

Ikut serta dalam pencatatan dan penyimpanan laporan narkotik dan


generic berlogo (OGB)

B. bidang toko obat


1. P elayanan ;

1)

Menerima permintaan pelayanan obat bebas, obat bebas terbatas dan komoditi
lain.

2)

Menganalisis permintaan

3)

Memberikan alternative macam macam obat bebas, bebas terbatas dan


komoditi lain

4)

Memberikan pilihan harga obat bebas, obat bebas terbatas dan komoditi lain.

5)

Menyerahkan obat bebas, obat bebas terbatas dan komoditi lain

6)

Memberikan informasi obat bebas, obat bebas terbatas dan komoditi lain.

psikotropik,

obat

1. P engelolaan sediaan Farmasi :


1)

Merencanakan kebutuhan sediaan Farmasi

2)

Memesan sediaan Farmasi

3)

Menerima sediaan Farmasi

4)

Menyimpan sediaan Farmasi

5)

Pengendalian sediaan Farmasi

1. Pengelolaan Dokumen Bidang Toko Obat


1)

Melaksanakan tata cara penyampaian faktur

2)

Pencatatan persediaan Farmasi

3)

Penyimpanan surat pesanan

C. Bidang pedagang besar farmasi


1. Pengelolaan sediaan Farmasi
M emesan dan menerima sedang Farmasi
Memeriksa sediaan Farmasi yang habis
Memeriksa dan mengendalikan sediaan Farmasi yang
mendekati waktu kadaluarsa
Menyimpan sediaan Farmasi sesuai dengan golongannya.
Menghitung harga sediaan Farmasi
Menerima pesanan sediaan Farmasi dari institusi farmasi
2. Pengelolaan Dokumen
Melaksanakan tata cara menyimpan resep
Pencatatan persediaan Farmasi
Penyimpanan surat pesanan
Ikut serta dalam pencatatan dan penyimpanan laporan
3. Marketing

Pencatatan dan pendataan konsumen


Menerima pemesanan sediaan Farmasi
Memberikan informasi harga produk / harga
Melakukan pengiriman pesanan sediaan Farmasi
Melakukan penyelesaian faktur
D. Bidang puskesmas
1. P elayanan Resep, meliputi ;

M engidentifikasi isi resep


Melakukan konsultasi/konseling
Memastikan resep dapat dilayani
Menyiapkan atau meracik sediaan Farmasi
Memeriksa hasil akhir
Menyerahkan sediaan Farmasi sesuai resep disertai informasi yang diperlukan.
2. Pengelolaan sediaan Farmasi
M enyusun pesanan dan menerima sediaan Farmasi dan alat kesehatan
Memeriksa sediaan Farmasi dan alat kesehatan yang habis
Memeriksa dan mengendalikan sediaan Farmasi dan alat kesehatan yang mendekati
waktu kadaluarsa
Menyimpan sediaan Farmasi sesuai dengan golongannya.

3. Pengelolaan Dokumen
Melaksanakan tata cara menyimpan resep
Pencatatan persediaan, permintaan, penerimaan dan pemakaian Farmasi
Penyimpanan surat permintaan dan LPLPO
Ikut serta dalam pencatatan dan penyimpanan laporan narkotik dan psikotropik, obat
generic berlogo (OGB)

E. Bid ang Industri


1. pemeriksaan mutu
Mempersiapkan reagen sesuai kebutuhan
Melakukan pemeriksaan dan pengujian bahan baku
Melakukan pemeriksaan dan pengujian produk jadi
Membuat kesimpulan pemeriksaan dan pengujian bahan baku produk jadi
Melakukan evaluasi dan monitoring menindaklanjuti produk jadi
2.

bagian produksi industri


Membaca formula dengan baik dan benar
Menghitung kebutuhan baku obat
Membuat sediaan sesuia formula
Mengerti spesifikasi alat / mesin
Mengerti spesifikasi produk dalam proses dan ruahan
Mengkoordinasi pemakaian sumber daya manusia, mesin dan bahan
Membuat laporan dibidang produksi

3.

Pengembangan produk
Ikut serta dalam perencanaan produk baru
Ikut serta melakukan percobaan sesuai literature
Ikut serta dalam pembuatan laporan

4.

bagian pengemasan
Menyiapkan kemasan sesuai produk jadi
Menyiapkan produk dan kelengkapan produk jadi
Menyortir produk jadi dengan kemasan yang tidak sesuai
Mengkoordinasi sumber daya manusia, mesin dan material

5.

bagian gudang
Melakukan administrasi bahan masuk dan keluar
Melakukan admnistrasi produk jadi masuk dan keluar
Menyediakan bahan baku dan produk jadi sesuai sesuai dengan jumlah dan waktu
yang dibutuhkan.

F. Bidang Instalasi Perbekalan Farmasi

Ikut serta dalam perencanaan pengadaan bahan Farmasi


Memeriksa bahan sediaan Farmasi yang habis
Memeriksa dan mengendalikan sediaan Farmasi yang mendekati waktu kadaluarsa
Menyimpan sediaan Farmasi sesuai dengan golongannya
Menerima pesanan sediaan Farmasi dari sarana pelayanan kesehatan
Melaksanakan tata cara menyimpan dokumen penerimaan

PERAN DAN KOMPETENSI ASISTEN APOTEKER


Written by Drs. Sjukri Kimin

Page 1 of 2

Pendahuluan

Article Index
PERAN DAN
KOMPETENSI ASISTEN
APOTEKER
Page 2

Akhir akhir ini telah timbul polemik tentang siapa, apa dan bagaimana peran seorang
Asisten Apoteker, terutama untuk pekerjaan pelayanan kefarmasian ( Pharmaceutical
care ) yakni satu bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Asisten apoteker sebenarnya bukanlah gelar akademis, tetapi sebutan
untuk orang yang bekerja membantu apoteker dalam kerja profesi farmasi. Sering ada terjadi bahwa seorang
apoteker di apotik bekerja sebagai asisten (pembantu) apoteker lain yang menjadi APA di apotik itu. Malah ada pula
apoteker menjadi apoteker pendamping yang bertugas membantu APA di apotik tersebut.

Dalam Permenkes No. 679/2003 seolah terkesan asisten apoteker adalah gelar yang
diberikan kepada lulusan untuk sekaligus tiga jenis institusi pendidikan yang berbeda
kurikulum kompetensinya dan stratanya.
Profesi apoteker ( dulu dikenal dengan istilah polyvalent ) dapat dilaksanakan diberbagai bidang pekerjaan, seperti
apotik, industri, distribusi, litbang, pengawasan mutu, dll. Kesemua bidang ini dalam kerja profesi apoteker
memerlukan pembantu yang sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya.
Jika kita pahami masalahnya, tentu tidak sulit memperjelas mana asisten apoteker untuk membantu apoteker di
laboratorium sebagai analis farmasi dan makanan, mana yang berkompetensi membantu apoteker dalam pelayanan
farmasi di apotik, di industri, di litbang, dst.Sejarah dan latar belakang asisten apoteker.
Di Indonesia, pada zaman Hindia Belanda sudah ada pendidikan asisten apoteker. Semula asisten apoteker dididik
di tempat kerjanya di apotik oleh apoteker Belanda. Setelah calon tersebut memenuhi syarat maka diadakanlah ujian
pengakuan bertempat di Semarang, Surabaya dan Jakarta. Warga Indonesia asli yang lulus pertama ujian di
Surabaya adalah pada thn 1908. Menurut buku Verzameling Voorschriften Thn 1936 yang di keluarkan D.V.G dapat
diketahui bahwa dengan keputusan pemerintah Belanda No.38 thn 1918 dan diperbaharui dengan Kep No. 15 thn
1923 ( Stb. No. 5 ) dan Kep No.45 thn 1934 (Stb 392) didirikanlah Sekolah Asisten Apoteker dengan namaLeergang
voor de opleiding van apothekers-bedienden onder de naam van apothekers-assistentenschool. Syarat pendidikan
dasarnya Mulo bag B (setara SMP PaspaL). Pada waktu itu jumlah murid sangat dibatasi dan jumlah yang diluluskan
juga dibatasi sampai hanya 20% (luar biasa ketatnya).

Pada zaman pendudukan Jepang, sekolah asisten apoteker baru dimulai lagi pada tahun 1944 di Jakarta, lamanya
hanya 8 bulan dan hanya dua angkatan. Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia membuka sekolah asisten
apoteker di beberapa kota seperti Yogyakarta, Jakarta dan beberapa ibukota provinsi lainnya.
Jadi melihat sejarahnya memang semula asisten apoteker diadakan untuk membantu kerja apoteker Belanda yang
bekerja di apotik pada waktu itu sangat kurang jumlahnya. Sekarang di Indonesia ternyata masih diperlukan mungkin
karena apoteker sangat jarang berada di apotik selama waktu buka apotik.

Pembahasan
Kita ingin membahas untuk menjawab dua pertanyaan pokok. Pertama, apakah tenaga menengah farmasi asisten
apoteker ( lulusan SMF/SAA ) untuk pharmaceutical care masih diperlukan. Atau seperti tuntutan pihak tertentu,
pelayanan tsb harus dilakukan oleh tenaga lulusan JPT ? Istilah asisten berasal dari kata assistent ( bahasa
Belanda) yang artinya pembantu, asisten, wakil ( A.L.N. Kramer Sr. Kamus Belanda).
Untuk menjawabnya kita lihat ke negeri yang melahirkan tenaga asisten apoteker, yakni Negeri Belanda.
Kenyataannya dalam sistem pelayanan kefarmasian di apotik di Belanda, saat ini masih menggunakan tenaga
asisten apoteker sebagai pembantu kerja apoteker. Asisten apoteker disebut tenaga menengah karena dasar
pendidikan umum dari jalur MAVO, Middelbaar Algemeen Vormend Onderwijs ( setingkat SMP plus, yakni SD +4
thn ) lalu dididik 3 tahun di MBO, Middelbaar Beroeps Onderwijs (setingkat SMK) bidang farmasi. Dalam sistem
pendidikan nasional mereka memang sudah ada pengarahan bakat dan minat mau kemana siswa akan melanjutkan
pelajaran. Kalau mau ke akademi, maka liwat jalur HAVO, Hoger Algemeen Vormend Onderwijs ( SD plus 5 tahun).
Untuk ke perguruan tinggi maka harus lewat jalur VWO, Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs (setara SMA).
Pemilihan jalur itu tergantung prestasi akademik siswa sendiri dan ditetapkan oleh sekolahnya. Memang ini karena
pemerintah Belanda punya program bahwa hanya sekitar 30 % siswa bisa ke perguruan tinggi. Sejumlah 70 %
diarahkan ke pendidikan kejuruan dan keterampilan yang sangat banyak butuh tenaga kerja.
Di Indonesia dalam Undang - Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, telah ditetapkan
wadah Sekolah Menengah Kejuruan, dimana telah ditetapkan pula pada bidang keahlian Kesehatan, program
keahlian Farmasi. Ini memantapkan bahwa asisten apoteker adalah produk pendidikan menengah setara SMK
( seperti sistem di Negeri Belanda saat ini)
Didalam beberapa kesempatan, pejabat Diknas sering menyampaikan bahwa ratio pendidikan antara SMA dan SMK
saat ini adalah 70 : 30 dan akan dibalik menjadi 70 SMK dan 30 SMA. Ini berarti secara logika bahwa pendidikan
menengah kejuruan farmasi ( SMF /SMK Far ) akan lebih ditingkatkan jumlah dan kualitasnya pada masa
mendatang.

Kesimpulan dan saran


1. Melihat sejarahnya di Indonesia, nama dan peran asisten apoteker sudah melekat hampir 100 tahun ( lulusan
pertama tahun 1908 di Surabaya).
Dihitung secara jumlah, mungkin sudah ratusan ribu lulusan A.A dan mungkin masih puluhan ribu A.A diseluruh
Indonesia yang tetap mengabdikan profesinya membantu apoteker di apotik atau fasilitas kesehatan lainnya, dan
mereka bekerja tanpa menghitung hitung apakah apotekernya sama - sama bekerja profesi hadir ditempatnya
bekerja.
2. Dengan pembahasan diatas, diharapkan makin mudah kita memahami eksistensi dan peran asisten apoteker
selama ini, maka diharapkan kita lebih arif dan bijaksana pula memahami materi dan jiwa dari Kep.Menkes R.I No.
679/Menkes/SK/V/2003 tentang Registrasi dan Izin Kerja Asisten Apoteker.

Ditilik dari sebutan yang tertulis dalam keputusan tsb, istilah asisten apoteker untuk tenaga ketiga jenis institusi
lulusan itu mempunyai arti yang sama yakni membantu kerja profesi apoteker.
Yang berbeda adalah bidang kerjanya. Itu tergantung dari kurikulum pendidikan yang didapatnya dan kompetensi
yang dimilikinya. Sekali lagi kita lihat bahwa kerja profesi apoteker itu mencakup semua bidang ( apotik, industri,
litbang, pengawasan mutu, distribusi, pemasaran dll. ). Untuk setiap bidang tentu disesuaikan kompetensi apa yang
diperlukan dan harus sesuai dengan kompetensi / kurikulum pendidikan yang dimilikinya. Kompetensi di laboratorium
berbeda dengan kompetensi di apotik yang memerlukan ketrampilan membaca resep, meracik, ketelitian dan
kecepatan.
Untuk industri atau Litbang atau Lembaga pengawasan mutu tentu sangat diperlukan kemampuan ilmu yang lebih
dari sekadar trampil dari membaca resep, meracik atau menyerahkan obat kepada pasien di apotik.
3. Sebagai penutup penulis ingin menyampaikan bahwa sumbangan pemikiran dalam pembahasan asisten apoteker
ini adalah sebagai sumbang saran, karena penulis ( yang telah menggeluti dunia pendidikan menengah farmasi
selama 40 tahun ) sangat prihatin atas komentar , pendapat yang dilontarkan tanpa informasi yang lengkap. Kita
bersama ingin mencegah berkembangnya budaya salah menyalahkan, mau menang sendiri dan yang paling
mengkhawatirkan adalah lupa bahwa kita sebenarnya bergerak dalam dunia pendidikan yang penuh etika.
4. Terima kasih.
Ref :
1. U.U No.20 / 2003 tentang. Sisdiknas
2. P.P 25 Thn 1980 ttg Apotik
3. Kep. Menkes No. 679 / 2003 tentang. Reg dan izin kerja A.A
4. Kep.Menkes No. 1027 /2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotik
5. Drs. Sunarto Prawirosujanto , Sejarah Perkembangan Farmasi di Indonesia ( Penerbit UGM 1972)
6. Drs. J. Hazeveld, Hilversum, Belanda. (ex SAA, wawancara)