Anda di halaman 1dari 40

1

GAMBARAN UMUM
LATAR BELAKANG
Sejak 10 tahun terakhir ini, Angka Kematian Ibu di Indonesia berada pada tingkat yang tertinggi
diantara negara berkembang di dunia dan belum menunjukkan adanya kecenderungan untuk
menurun walau pun sudah cukup banyak intervensi dalam bentuk berbagai macam program yang
dilakukan. Dari berbagai faktor yang berperan pada kematian ibu, kemampuan kinerja petugas
kesehatan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maternal. Di sisi
yang lain, kesiapan pelayanan kegawatdaruratan dalam sistem pelayanan kesehatan nasional belum
dikelola dan dipersiapkan dengan baik.
Sesuai dengan inisiatif Safe Motherhood, setiap pilar yang merupakan penyangga program harus
berfungsi seperti yang diharapkan. Sumber daya manusia disadari memiliki peranan yang cukup
penting dalam upaya untuk membuat seluruh komponen dan sistem pelayanan kesehatan bekerja
secara sempurna, sebagai bagian dari program kesehatan maternal dan neonatal yang
komprehensif, kesiapan pelayanan kegawat daruratan harus dipersiapkan dan dikembangkan oleh
tenaga kesehatan yang memiliki kualifikasi dalam bidang tersebut, terutama di tingkat pelayanan
kesehatan primer.
Peninngkatan kinerja petugas kesehatan akan memiliki dampak langsung terhadap kualitas
pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal. Peningkatan kinerja ini akan menggunakan
jalur mekanisme pengembangan ketrampilan klinik yang sudah terdapat dalam Jaringan Nasional
Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi POGI. Ini berarti bahwa jaringan harus menyelenggarakan
kegiatan yang berkesinambungan yang menyertakan Kementerian Kesehatan RI dan beberapa
mitra kerja dan institusi yang ada pada setiap tingkat pelayanan. Penatalaksanaan kerjasama,
koordinasi, integrasi program dan prinsip kesinambungan program akan memberikan kepastian
pada pemantapan pelatihan dan pelayanan yang efektif dan efisien.
Petugas pelaksana pelayanan yang kompeten, peningkatan kemampuan untuk melaksanakan
pelatihan di tingkat kabupaten, prosedur standar pelayanan kesehatan maternal dan neonatal,
kesertaan pelaksana program kesehatan setempat dan kesinambungan kinerja akan menjadi
tumpuan dan tujuan intervensi untuk mengembangkan kualitas pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah peningkatan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal
melalui prosedur standar pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh petugas pelaksana pelayanan
yang terampil di tingkat pelayanan kesehatan primer dengan dukungan mitra kerja organisasi
pemerintah dan non pemerintah setempat.

SEBELUM MEMULAI KETRAMPILAN


Pelatihan ketrampilan Pelayanan Kegawat Daruratan Obstetri Neonatal Esensial Dasar ini akan
menggunakan prinsip-prinsip orang dewasa belajar dengan asumsi bahwa peserta datang untuk
mengikuti pelatihan ini karena:

Mereka tertarik pada topik pelatihan


Mengharapkan agar dapat memperbaiki tingkat pengetahuan atau ketrampilan, dan
kemudian memperbaiki tampilan kinerja
Berkeinginan untuk terlibat secara aktif dalam mempelajari pengetahuan, perilaku dan
ketrampilan baru

Untuk alasan tersebut di atas semua materi pelatihan berfokus pada kepentingan peserta. Sebagai
contoh, materi dan berbagai kegiatan dalam pelatihan, dirancang untuk meningkatkan proses
belajar, dan peserta diharapkan akan terlibat secara aktif dalam setiap aspek pelatihan. Para pelatih
berusaha untuk menciptakan lingkkungan yang menyenangkan dan mendorong berbagai kegiatan
yang dapat membantu penguasaan pengetahuan, perilaku dan ketrampilan baru.
Pelatih dan peserta akan menggunakan materi pembelajaran yang sama. Dengan modal dari
pelatihan dan pengalaman sebelumnya, para pelatih akan bekerjasama dengan peserta, dalam
kapasitasnya sebagai pakar topik tertentu dan memandu proses belajar.
Pendekatan pelatihan berdasarkan kompetensi yang digunakan dalam pelatihan ini,
menekankan kepentingan penggunaan sumber daya secara efektif, aplikasi teknologi pendidikan
yang relevan dan penggunaan berbagai teknik pelatihan. Kuesioner aspek pengetahuan yang
berdasarkan kompetensi, disusun agar mampu membantu pelatih untuk melakukan evaluasi kinerja
setiap peserta secara objektif.
MASTERY LEARNING
Pendekatan mastery learning pada pelatihan klinik mengesankan, karena semua peserta dapat
menguasai (belajar) pengetahuan, perilaku/ketrampilan yang diperlukan apabila disediakan cukup
waktu dan menggunakan metode pelatihan yang sesuai. Tujuan akhir mastery learning adalah
bahwa 100% peserta pelatihan akan mampu menguasai pengetahuan dan ketrampilan dalam
pelatihan ini.
Sementara beberapa peserta mampu untuk menguasai suatu ketrampilan baru dalam waktu yang
singkat, yang lain mungkin akan memerlukan tambahan waktu atau metode belajar alternatif
sebelum mereka mampu menampilkan kemahirannya. Bukan saja karena bervariasinya faktor
kemampuan untuk menyerap materi baru, tetapi juga karena masing-masing individu akan belajar
secara baik pada kondisi yang berbeda, dalam artian melalui media cetak, lisan atau visual. Konsep
mastery learning akan sangat memperhitungkan dan menggunakan berbagai variasi metode
pembelajaran dan pelatihan.
3

Pendekatan mastery learning pada suatu pelatihan, juga memberi peluang bagi para peserta untuk
mendapatkan pengalaman belajar yang terarah secara mandiri. Hal ini dapat dicapai melalui peran
pelatih sebagai fasilitator dan dengan mengubah konsep penilaian dan bagaimana menggunakan
hasil penilaian tersebut. Pada metode pelatihan tradisional, digunakan hasil penilaian sebelum dan
setelah pelatihan untuk menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta, tanpa
memperhatikan apakah perubahan tersebut akan memberi dampak terhadap tampilan kinerja.
Sebaliknya, filosofi dari pendekatan mastery learning adalah penilaian proses belajar peserta secara
berkesinambungan. Adalah sangat penting bahwa pelatih harus secara berkala memberitahukan
kepada peserta tentang kemajuan mereka dalam mempelajari informasi dan ketrampilan baru dan
tidak menjadikan hal ini sebagai rahasia pelatih.
Dengan pendekatan mastery learning, penilaian terhadap pembelajaran adalah:

Berdasarkan kompetensi, harus sesuai dengan tujuan pelatihan dan ditekankan pada
diperolehnya pengetahuan esensial dan konsep perilaku dan ketrampilan yang diperlukan
untuk melaksanakan suatu pekerjaan, tidak sekedar mengukur perolehan pengetahuan baru.
Dinamis, karena hal ini memungkinkan para pelatih memberikan umpan balik kepada para
peserta secara berkesinambungan tentang keberhasilannya dalam memenuhi tujuan
pelatihan dan melakukan (bila perlu) adaptasi proses pelatihan sebagai upaya untuk
memenuhi kebutuhan belajar.
Tanpa beban berlebihan karena baik secara individu maupun kelompok, peserta
mengetahui materi apa yang seharusnya dipelajari dan dimana mereka dapat mencari
informasi tersebut dan mempunyai banyak kesempatan untuk berdiskusi dengan para
pelatih.

CIRI UTAMA PELATIHAN KLINIK YANG EFEKTIF


Pelatihan klinik yang efektif dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan prinsip orang dewasa
belajar belajar adalah partisipatif, relevan dan praktis dan :

Menggunakan model perilaku / behavior modeling


Berdasarkan kompetensi
Mencakup tehnik pelatihan humanistik

Perilaku Panutan (Behavior Modeling)


Teori pembelajaran sosial menyatakan bahwa dalam kondisi yang ideal, seseorang akan lebih cepat
dan efektif dalam belajar, dengan mengamati orang lain (panutan) melaksanakan suatu ketrampilan
atau kegiatan. Agar proses percontohan memberi hasil seperti yang diinginka, pelatih harus
memperagakan oetrampilan atau kegiatantersebut secara jelas, sehingga peserta juga memperoleh
gambaran yang jelas tentang kinerja yang diharapkan.

Belajar untuk menmpilkan suatu ketrampilan, berlangsung dalam tiga tahapan. Pada tahap pertama,
ketrampilan awal (skill acquisition), peserta melihat orang lain mengerjakan ketrampilan tersebut
dan secara mental akan mendapatkan gambaran tentang langkah-langkah yang diperlukan.
Setelah gambaran diperoleh, peserta mencoba untuk mengerjakan prosedur tersebut, umumnya
dilakukan dengan bimbingan. Kemudian peserta berlatih kembali hinngga mereka mencapai tahap
mampu (skill competency) dan ada rasa percaya diri dalam mengerjakan ketrampilan tersebut.
Akhirnya setelah melaksanakan praktek berulang kali, mereka akan mencapai tahapa mahir (skill
proficiency)
Skill acquisition

mengetahui langkah-langkah dan urutannya (bila diperlukan) dalam


mengerjakan ketrampilan yang diperlukan tetapi masih memerlukan
bantuan/pengawasan melekat.

Skill competency

mengetahui langkah-langkah dan urutannya (bila diperlukan) dan manpu


mengerjakan ketrampilan yang diperlukan, hanya kadang-kadang perlu perlu
bantuan/pengawasan sekali-kali

Skill proficiency

mengetahui langkah-langkah dan urutannnya (bila diperlukan) dan


mengerjakan secara efisien ketrampilan yang diperlukan

Pelatihan Bedasarkan Kompetensi (PBK)


Ada perbedaan khusus antara pelatihan berdasarkan kompetensi dan proses edukasi tradisional.
Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah belajar sambil mengerjakan. Hal ini terfokus pada
pengetahuan yang spesifik, perilaku dan ketrampilan yang harus dikuasai untuk melaksanakan
suatu prosedur atau kegiatan. Penekanan tentang bagaimana peserta menampilkan (kombinasi dari
pengetahuan, perilaku dan yang paling penting ketrampilan) adalah sesuatu yang sangat berarti dan
bukan sekedar melihat tingkat pengetahuan yang sudah diperoleh.terlebih lagi PBK membutuhkan
para pelatih yang dapat memfasilitasi dan mendukung proses belajar, bukan seperti intruktor atau
pengajar tradisional. Tingkat kompetensi ketrampilan atau kegiatan yang baru dipelajari, akan
dinilai secara obyektif terhadap tampilan kinerja secara keseluruhan.
Untuk menerapkan pelatihan berdasarkan kompetensi, ketrampilan atau prosedur yang akan
diajarkan, harus uraikan menjadi langkah-langkah esensial. Kemudian setiap langkah akan
dianalisis untuk menentukan cara yang paling efektif dan aman untuk dilaksanakan dan dipelajari.
Proses ini dikenal sebagai standarisasi. Setelah prosedur standarisasi (misalnya prosedur ekstraksi
vakum) diselesaikan, maka penuntun belajar (pengembangan ketrampilan berdasarkan kompetensi)
dan daftar tilik penilaian kinerja (penilaian) dapat dikembangkan. Instrumen ini membuat proses
pembelajaran langkah atau prosedur yang diperlukan menjadi lebih mudah dan upaya penilaian
kinerja menjadi lebih obyektif.
5

Komponen esensial dalam PBK adalah coaching dimana akan digunakan umpan balik positif,
mendengar aktif, bertanya efektif dan ketrampilan pemecahan masalah untuk membangkitkan
iklim belajar yang positif. Dalam coaching pelatih klinik terlebih dulu akan menjelaskan
ketrampilan atau prosedur, kemudian melakukan demonstrasi dengan menggunakan model anatomi
atau alat bantu latih lain, seperti misalnya slide atau videotape. Setelah demontrasi dan diskusi
tentang prosedur, para pelatih atau pembimbing akan mengamati dan berinteraksi dengan para
peserta untuk membantu mereka dalam mempelajari suatu ketrampilan atau prosedur, memantau
kemajuan dan membantu peserta mengatasi masalah-masalah yang mungkin terjadi.
Proses coaching akan menjamin bahwa setiap peserta akan menerima umpan-balik berkaitan
dengan tampilan kinerja:

Sebelum praktek para pelatih dan peserta akan melakukan pertemuan singkat untuk
mengkaji ulang ketrampilan/kegiatan termasuk langkah-langkah yang perlu diperhatikan
selama sesi
Selama praktek para pelatih mengamati, membimbing dan memberikan umpan
balikkepada para peserta pada saat mereka melakukan langkah-langkah/kegiatan-kegiatan
seperti yang dicantum dalam penuntun belajar
Setelah praktek umpan balik diberikan sesegera mungkin setelah praktek. Dengan
menggunakan penuntun belajar, para pelatih mendiskusikan hasil baik dari kinerja yang
telah ditampilkan dan juga memberikan saran spesifik untuk perbaikan.

Tehnik Pelatihan Humanistik


Penggunaan teknik manusiawi (humanistik) memberi kontribusi tertentu terhadap kualitas
pelatihan klinik. Komponen utama pelatihan humanistik adalah penggunaan model anatomi, yang
sedapat mungkin dapat mewakilli tubuh mannusia, dan juga alat bantu belajar yang lain,seperti
misalnya videotape. Penggunaan model secara efektif akan memfasilitasi proses belajar,
mempersinngkat waktu pelatihan dan mengurangi resiko pada klien. Sebagai contoh, melalui
penggunaan model anatomi sejak awal, pencapaian tingkat kompetensi akan lebih mudah dan
mungkin mencapai tahap profisiensi awal pada model, sebelum melaksanakan praktek klinik
dengan klien.
Sebelum peserta melakukan prosedur klinik pada klien, harus diselesaikan 2 kegiatan belajar
berikut ini:

Pelatih klinik mendemonstrasikan ketrampilan yang diinginkan dan berinteraksi beberapa


kali dengan klien, gunakan model anatomik dan peralatan audiovisual (misalnya
slide/video)

Sambil dipantau, para peserta mempraktekkan ketrampilan yang diinginkan dan


berinteraksi dengan klien, menggunakan model anatomi dan sedapat mungkin
menggunakan instrumen yang dibutuhkan dimana situasi yang ada, dibuat semirip mungkin
dengan keadaan yang sebenarnya.

Bila peserta telah mencapai tahap kompetensi dan tingkat awal profisiensi pada model anatomik,
baru mereka diperbolehkan melakukan praktek pada klien.
Jika mastery learning yang berdasarkan prinsip oranng dewasa belajar dan behavior modeling
diintegrasikan dengan PBK, maka akan menghasilkan metode yang sangat efektif dan kuat untuk
menyelenggarakan pelatihan. Apabila hal ini digabungkan pula dengan tehnik pelatihan humanistik
(penggunaan model) dan alat bantu latih lainnya, maka waktu dan biaya pelatihan dapat ditekan
secara bermakna
KOMPONEN-KOMPONEN DALAM PAKET PELATIHAN KETRAMPILAN KLINIK
Pelatihan ketrampilan pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal esensial dasar dibangun
dari beberapa komponen berikut:

Buku acuan yang berisi informasi yang perlu diketahui/pengetahuan esensial


Buku Panduan peserta yang berisi kuisioner, studi kasus, permainan peran dan latihan
Buku Pegangan Pelatih yang berisi kunci jawaban kuesioner, studi kasus dan latihan dan
informasi rinci tentang cara menyelenggarakan pelatihan
Audio-visual yang telah dirancang khusus untuk pelatihan seperti slide atau video, gambar,
tabel, model anatomik dan alat bantu latih lainnya
Evaluasi kinerja berdasarkan kompetensi

Buku Acuan yang dianjurkan untuk digunakan dalam pelatihan ketrampilan ini adalah Pelatihan
Pelayanan Kegawatdaruratan Obstetri Neonatal Esensial Dasar, yang berisi informasi dan tehnik
pengelolaan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar yang terutama diperlukan oleh petugas
kesehatan di tingkat pelayanan kesehatan primer.
MENGGUNAKAN PAKET PELATIHAN KETRAMPILAN KLINIK
Dalam merancang materi pelatihan untuk pelatihan ini, perhatian khusus diberikan agar semua itu
memudahkan pengguna dan memberikan kebebasan pada peserta dan pelatih untuk menyesuaikan
proses pelatihan menjadi lebih mengarah pada kebutuhan belajar para peserta (baik kelompok
maupun perorangan). Misalnya, di awal pelatihan, dilakukan penilaian terhadap tingkat
pengetahuan peserta. Hasil penilaian awal, akan digunakan secara bersama oleh peserta dan pelatih
utama/ madya untuk mengadaptasi materi pelatihan menjadi lebih sesuai dan proses pelatihan
terfokus pada akuisisi informasi dan ketrampilan baru.
Ciri yang kedua, lebih banyak hubungannya dengan penggunaan buku acuan dan buku panduan
pelatihan. Buku Acuan dirancang untuk memberikan semua informasi esensial untuk pelayanan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dalam urutan yang logis. Tidak diperlukan materi khusus
sebagai tambahan, karena buku ini telah memenuhi kebutuhan sebagai bahan bacaan bagi peserta
dan sumber rujukan bagi pelatih. Selain itu, buku acuan berisi informasi yang konsisten terhadap
tujuan dan sasaran pelatihan sehingga merupakan bagian integral dari berbagai kegiatan dalam
kelas, mulai dari memberikan kuliah partisipatif hingga pemberian informasi untuk memecahkan
masalah.
7

Buku Panduan Peserta berfungsi untuk memandu peserta dalam mengikuti semua tahapan dalam
pelatihan. Buku ini berisi silabus pelatihan, jadwal dan alur pelatihan, kunci jawaban kuisioner
awal dan kuisioner tengah pelatihan, studi kasus, tugas dan daftar tilik penilaian ketrampilan
Agar pelatihan berlangsung sejalan dengan filosofi yang mendasari pelatihan ini, semua kegiatan
pelatihan dilakukan secara interaktif dan partisipatif. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan
penyesuaian peran pelatih secara terus menerus selama pelatihan berlangsung. Sebagai contoh
pelatih harus mampu berperan sebagai instruktur pada saat melakukan demonstrasi di dalam kelas;
kemudian berperan sebagai fasilitator pada saat diskusi kelompok kecil atau kegiatan bermain
peran dan mengubah peran menjadi coach pada saat melatih pembimbing baru dalam praktek
melatih. Akhirnya berperan sebagai evaluator pada saat melakukan penilaian kinerja secara
obyektif.
Ringkasan
Pendekatan PBK akan melibatkan berbagai prinsip utama. Pertama, berdasarkan prinsip belajar
orang dewasa belajar, yang berarti interaktif, relevan dan praktis. Selain itu, peran pelatih lebih ke
arah memandu terbentuknya pengalaman belajar daripada peran tradisional sebagai instruktur atau
guru. Dua, menggunakan perilaku panutan yang dapat memfasilitasi pembelajaran ketrampilan/
prosedur yang telah distandarisasi. Ketiga, berdasarkan kompetensi berarti evaluasi peserta
didasarkan padasebaik apa peserta mengerjakan ketrampilan, bukan pada seberapa banyak
mendapat bahan ajaran. Keempat, menggunakan model anatomik dan alat bantu latih sebanyak
mungkin, dimana peserta dapat melakukan praktek ketrampilan standar secara berulang kali
sebelum melakukan prosedur tersebut terhadap klien. Dengan demikian, saat pelatih melakukan
evaluasi setiap peserta akan menunjukkan kompetensi ketrampilan atau prosedur seperti yang
diharapkan. Hal inilah yang menjadi acuan utama dalam membuat penilaian tentang keberhasilan
suatu pelatihan.

RANCANGAN PELATIHAN
Pelatihan ketrampilan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar ini dirancang untuk
mempersiapkan petugas pelayanan kesehatan agar mampu melakukan pengelolaan
kegawatdaruratan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar di tingkat pelayanan kesehatan . primer.
Proses pelatihan disusun berdasarkan pengalaman sebelumnya dari para peserta serta
memanfaatkan motivasi yanng tinggi untuk menyelesaikan kegiatan belajar dalam waktu yang
sesingkat mungkin. Fokus pelatihan adalah bagaimana mereka mengerjakan, bukan hanya sekedar
mengetahui, dan evaluasi kinerja dilakukan berdasarkan kompetensi yang dicapai.
Pelatihan ketrampilan Pelayanan Kegawatdaruratan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar ini, terdiri
dari empat belas komponen:

Partograf
Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Medik
Perdarahan pada Kehamilan Muda
Perdarahan Pospartum
Preeklamsia dan Eklamsia
Persalinan Macet (distocia)
Infeksi Nifas
Bayi Berat Lahir Rendah
o Hipotermi
o Hipoglikemi
o Ikterus
o Masalah Pemberian Minum
Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Kejang pada Bayi Baru Lahir
Infeksi Neonatal
Rujukan dan Transportasi Bayi Baru Lahir
Persiapan Umum Sebelum Tindakan Kegawatdaruratan Obstetri dan Neonatal
Persalinan di Rumah

Rancangan jadwal pelatihan ini mengacu pada asumsi bahwa peserta pelatihan ini adalah petugas
pelaksana pelayanan kesehatan yang masih aktif melaksanakan pelayanan dan mempunyai minat
dalam pelayanan kegawatdaruratan obstetri & neonatal. Ada beberapa perbedaan cara pelatihan ini
dibandingkan dengan pelatihan tradisional pada umumnya yaitu:

Pada hari pertama pelatihan, tingkat pengetahuan dan kinerja para peserta akan ditampilkan
melalui pengisian kuesioner awal pelatihan dan penilaian ketrampilan klinik awal
Sesi-sesi di dalam kelas terfokus pada aspek-aspek utama ketrampilan pengelolaan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal
Kemajuan serapan pengetahuan, akan diukur selama pelatihan melalui kegiatan selama dan
setelah masing-masing sesi beserta kuesioner tengah pelatihan
Evaluasi kinerja kelompok dan pemecahan masalah setiap peserta dilakukan oleh pelatih
dengan menggunakan ceklis kompetensi ketrampilan
Dasar penilaian keberhasilan pelatihan adalah penguasaan komponen pengetahuan maupun
ketrampilan dari setiap peserta
9

EVALUASI
Pelatihan ini dirancang untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang mampu melakukan pengelolaan
Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar di tingkat pelayanan kesehatan primer. Kualifikasi
sebagai tenaga kesehatan yang terampil diperoleh melalu praktik melakukan pengelolaan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dengan menggunakan metode diskusi, studi kasus, praktik
mandiri pada model dan klien.
Kualifikasi adalah pernyataan yang diberikan oleh organisasi pelatihan bagi peserta pelatihan yang
telah memenuhi ketentuan yang ditetapkan, baik elemen pengetahuan, ketrampilan dan praktik.
Kualifikasi bukanlah sertifikasi, karena hal ini akan dinyatakan oleh organisasi/instansi yang
mempunyai kewenangan untuk itu.
Kualifikasi didasarkan pada pencapaian peserta dalam tiga area :

Pengetahuan paling sedikit nilai 85% pada kuesioner tengah pelatihan


Ketrampilan kinerja memuaskan untuk ketrampilan klinik pada pengelolaan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal
Praktek menunjukkan kemampuan dalam melaksanakan ketrampilan pengelolaan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal pada model dan klien.

Tanggung jawab dalam membuat peserta memenuhi persyaratan kualifikasi akan dibebankan pada
peserta dan pelatih.
Metode evaluasi yang digunakan dalam pelatihan ini adalah sebagai berikut:

Kuesioner Tengah Pelatihan. Penilaian pengetahuan dilakukan apabila semua materi yang
diperlukan telah diberikan. Kemampuan untuk menjawab secara benar kuesioner tengah
pelatihan sejumlah 85% atau lebih, merupakan indikasi penguasaan materi yang ada di
dalam buku acuan. Harus dilakukan pembahasan bersama (peserta-pelatih) bila ternyata
hasil pencapaian di bawah 85%. Lakukan bimbingan dan bantuan agar peserta lebih materi
yang dibutuhkan. Mereka dengan pencapaian di bawah 85% dapat dilakukan evaluasi ulang
melalui pengisian kuesioner tengah pelatihan di setiap saat dalam sisa waktu pelatihan
Ketrampilan kinerja memuaskan pada ketrampilan klinik pada pengelolaan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal (anamnesis, penyelesaian masalah dan membuat
keputusan klinik) yang dinilai selama pelatihan
Praktek menunjukkan kemampuan dalam melaksanakan ketrampilan klinik pada
pengelolaan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal pada model. Setelah dinyatakan
terampil pada model, setiap peserta diberi kesempatan untuk melaksanakan pengelolaan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal pada klien, dibantu (dan dievaluasi) oleh pelatih
hingga mencapai tingkatan kompeten dan berkualifikasi sebagai petugas pelaksana
pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal.

10

SILABUS PELATIHAN
Deskripsi pelatihan
Pelatihan selama 7 hari (seminggu) ini dirancang untuk menyiapkan peserta agar memiliki
kemampuan untuk menyelenggarakan pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar berdasarkan
pendekatan partisipatif dan humanistik dalam pelatihan.

Evaluasi Kinerja (dilakukan selama pelatihan) terhadap ketrampilan pengelolaan Pelayanan


Obstetri Neonatal Emergensi Dasar

PENUNTUN BELAJAR KETRAMPILAN


MENGGUNAKAN PENUNTUN BELAJAR
Penuntun-penuntun belajar yang terdapat di dalam panduan peserta ini dirancang untuk menolong
peserta mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk memberi pelayanan
persalinan fisiologis yang bersih dan aman.
Penuntun belajar digunakan untuk membantu peserta mempelajari langkah-langkah baku yang
sederhana tetapi efektif untuk melaksanakan pertolongan persalinan normal sesuai dengan ruang
lingkup dan kewenangan penolong atau petugas pelaksana Asuhan Persalinan Normal.
Penuntun belajar dapat juga digunakan untuk mengikuti peragaan atau demonstrasi langkahlangkah baku dalam persalinan normal dan diskusi-diskusi yang terkait dengan pelaksanaan
prosedur tersebut. Kemudian, selama pelatihan berlangsung, peserta dapat menggunakan penuntun
belajar ini sebagai pedoman untuk mengenali dan menguasai prosedur pertolongan persalinan serta
saling memberikan umpan balik pada saat peserta lain memperagakan prosedur tersebut pada
model anatomi.
Karena penuntun belajar ini digunakan untuk menolong pengembangan ketrampilan maka
penilaian harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan subjektif mungkin. Kinerja peserta untuk
setiap ketrampilan/kegiatan dinilai dengan menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau
urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan).
2. Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus
berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk
kondisi di luar normal.
3. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat
efisien.
T/D langkah tidak diamati (penilaian menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).

11

Jenis Ketrampilan

: ASUHAN PERSALINAN NORMAL

Lahan Praktek

: ............ Tanggal : ..........


NILAI
KOMPONEN
1

A. MENGENALI GEJALA DAN TANDA KALA II


1. Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua
o Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran
o Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan
vagina
o Perineum tampak menonjol
o Vulva dan sfingter ani tampak membuka
B. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN
2. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk
menolong persalinan dan melaksanakan komplikasi ibu dan bayi baru
lahir. Untuk resusitasi BBL tempat resusitasi datar rata, cukup
keras, bersih kering dan hangat, lampu 60 watt dengan jarak 60 cm
dari tubuh bayi, 3 handuk/ kain bersih dan kering, alat penghisap
lendir, tabung atau balon dan sungkup.
o Menggelar kain di atas tempat resusitasi, siapkan ganjal bahu bayi
o Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril pakai dalam
partus set
3. Pakai celemek plastik
4. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai, cuci
tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan
tangan dengan kertas tisu atau handuk pribadi yang bersih dan kering
5. Pakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan digunakan untuk
periksa dalam
6. Masukkan oksitosin kedalam tabung suntik (gunakan tangan yang
memakai sarung tangan DTT atau pastikan tidak terjadi kontaminasi
pada alat suntik)
C. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP DAN KEADAAN
JANIN BAIK
7. Membereskan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari
depan dan kebelakang dengan meggunakan kapas atau kasa yang
dibasahi air DTT
o Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja,
bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang
o Buang kapas atau kasa pembersih yang (terkontaminasi) dalam
wadah yang tersedia.
o Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (Dekontaminasi, lepaskan
dan rendam dalam larutan klorin 0,5 %)
8. Lakukan periksa dalam dan pastikan pembukaan lengkap
o Bila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap
12

maka lakukan amniotomi


9. Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang
masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5 %
kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan
klorin 0,5 % selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung
tangan dilepaskan.
10. Periksa denyut jantung janin atau DJJ setelah kontraksi atau saat
relaksasi untuk memastikan DJJ dalam batas normal (120 160
/menit)
o Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
o Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ, dan
semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainya pada partograf
D. MENYIAPKAN IBU DAN KELUARGA UNTUK MEMBANTU
PROSES BIMBINGAN MENERAN
11. Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan bantu ibu dalam
menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya.
o Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan
kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman
penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua temunan
yang ada
o Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka
untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran
secara benar.
12. Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran (bila ada rasa
ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat), bantu ibu ke posisi
setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu
merasa nyaman).
13. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan
kuat untuk meneran :
o Bimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif
o Dukung dan beri semangat pada semangat pada saat meneran
apabila caranya tidak sesuai
o Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya
(kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama)
o Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
o Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu
o Berikan cukup asupan cairan per oral (minum)
o Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai
o Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah
120 menit (2 jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1 jam)
meneran (multigravida)
14. Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang
nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam
60menit.
o Posisi tersebut untuk membantu kepala janin lebih cepat turun ke
panggul oleh karena adanya daya gravitasi.
13

E. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI


15. Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika
kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm
16. Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu
17. Buka tutup partus set perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan.
18. Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan
F. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI
Lahirnya Kepala
19. Setelah tampak kepala janin di bawah simpisis dengan diameter 5-6
membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang
dilapisi dengan kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahan
puncak kepala janin untuk menahan posisi defleksi dan membantu
lahirnya kepala. Anjurkan ibu untuk tidak meneran atau bernafas
dengan cepat dan dangkal (pendek-pendek)
20. Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil tindakan
yang sesuai jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan proses kelahiran
bayi.
o Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian
atas kepala bayi .
o Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua
tempat diantara dua klem tersebut.
21. Tunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan
Lahirnya Bahu
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara
biparietal. Anjurkan ibu untuk menekan saat kontraksi. Dengan
lembut gerakkan kepala ke arah bawah hingga bahu depan lahir di
bawah arkus pubis dan kemudian gerakkan arah atas untuk
melahirkan bahu belakang
Lahirnya Badan dan Tungkai
23. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah untuk memegang
kepala dan bahu. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan
memegang lengan dan siku sebelah atas
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke
punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki
(masukkan telunjuk di antara kaki dan pegang masing- masing mata
kaki dengan ibu jari dan jari jari lainnya)
G. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR
25. Lakukan penilaian bayi baru lahir sebagai berikut :
o Sebelum bayi lahir :
a. Apakah kehamilan cukup ?
b. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium (warna
kehijauan)
o Segera setelah bayi lahir (jika bayi cukup bulan)
Sambil menempatkan bayi di atas perut ibu lakukan penilaian
(selintas) :
a. Apakah bayi menangis atau bernafas/tidak megap megap?
b. Apakah tonus otot bayi baik / bayi bergerak aktif ?
14

Jika bayi cukup bulan, ketuban tidak bercampur mekonium,


menangis atau bernafas normal/ tidak megap-megap dan bergerak
aktif, lakukan langkah 26.
Jika bayi tidak cukup bulan atau ketuban bercampur mekonium dan
bayi tidak bernafas/ megap-megap dan bayi lemas, lakukanlah
menejeman bayi dengan asfiksia.
26. Mengeringkan tubuh bayi
Keringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya
kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk
basah dengan handuk/ kain yang kering. Biarkan bayi di atas perut
ibu.
27. Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam
uterus (hamil tunggal)
28. Beritahu ibu bahwa ia akan di suntik oksitosin agar uterus
berkontraksi baik
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit
IM (intra muskuler) di paha atas bagian distal lateral (lakukan
aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Dalam waktu 2 menit setelah bayi lahir, jepit tali pusat dengan klem
kira-kira 3 cm, dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal
(ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat
o Dengan satu tangan, peganng tali pusat yang telah di jepit
(lindungi perut bayi), dan lakukan penggutingan tali pusat diantara
2 klem tersebut.
o Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi
kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan
mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya
o Lepaskan klem dan masukkan pada wadah yang telah disediakan
32. Letakkan bayi agar ada kontak ibu ke kulit bayi
Letakkan bayi tengkurap di dada, kulit bayi kontak dengan kulit ibu.
Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada/ perut ibu.
Usahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi
lebih rendah dari puting payudara ibu.
33. Selimuti ibu& bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi
H. PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA III
34. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 6 cm dari vulva.
35. Letak satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas sympisis,
untuk mendeteksi apakah plasenta telah lepas dari dinding uterus,
tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat sejajar lantai sambil
tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang atas (dorso
kranial) secara hati hati untuk mencegah inversio uteri. Jika plasenta
tidak lahir setelah 30 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan
tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur di
atas.
Mengeluarkan Plasenta
15

37. Lakukan penegangan dan dorongan dorso kranial hingga plasenta


terlepas. Minta ibu meneran sambil menolong menarik tali pusat
dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti poros
jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso kranial)
o Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga
berjarak sekitar 5 10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
o Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali
pusat :
1. Beri dosis ulang oksitosin 10 unit IM
2. Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh
3. Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan
4. Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya
5. Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir atau
bila terjadi perdarahan, segera lakukan plasenta manual
38. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan
kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban
terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang
telah disediakan.
o Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau steril
untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jarijari tangan untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.
Rangsangan Taktil (Masase) Uterus
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase
uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus
teraba keras)
o Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi
setelah 15 detik masase.
I. MENILAI PERDARAHAN
40. Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan
selaput ketuban lengkap dan utuh.
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan
penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif ,segera lakukan
penjahitan.
J. MELAKUKAN PROSEDUR PASCA PERSALINAN
42. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam
43. Lakukan inisiasi menyusu dini dan biarkan bayi tetap melakukan
kontak kulil ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
o Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu
dini dalam waktu 30 60 menit. Menyusu pertama biasanya
berlangsung sekitar 10 15 menit. Bayi cukup menyusui dari satu
payudara.
o Biarkan bayi di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah
berhasil menyusu
o Setelah bayi selesai menyusu dalam 1 jam pertama, beri vitamin K
16

1 mg intramuscular di paha kiri dan salep/ tetes mata antibiotika


44. Lakukan pemeriksaan fisik BBL
45. Setelah pemberian vitamin K 1, beri imunisasi Hepatitis B di paha
kanan.
Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu waktu bisa
disusukan.
Letakkan kembali bayi pada dada ibu, jika bayi belum berhasil
menyusu dalam 1 jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil
menyusu.
Evaluasi
46. Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan
pervaginam.
o 2 3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan
o Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan
o Setiap 20 30 menit pada jam kedua pasca persalinan
o Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan
yang sesuai untuk penatalaksanaan atonia uteri.
47. Ajarkan ibu/ keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai
kontraksi
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah
49. Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama
jam kedua pasca persalinan.
o Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam
pertama pasca persalinan
o Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
50. Pantau tanda tanda bahaya pada bayi setiap 15 menit. Pastikan
bahwa bayi bernafas dengan baik (40 60 x/menit) serta suhu tubuh
normal (36.5 37,5 C).
o Jika terdapat nafas cepat, retraksi dinding dada bawah yang berat,
sulit bernafas, merintih, lakukan rujukan (lihat MTBM)
o Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat. Kembalkan bayi
untuk kontak kulit bayi ke kulit ibunya, selimuti ibu dengan satu
selimut.
Kebersihan dan Keamanan
51. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5 %
untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di
dekontaminasi.
52. Buang bahan bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
53. Bersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Bersihkan sisa cairan
ketuban, lendir, dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih
dan kering.
54. Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI. Anjurkan
keluarga untuk memberi ibu minuman dan makananyang di
inginkannya.
17

55. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5 %.


56. Celupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5 %, balikkan
bagian dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0,5 % selama
10 menit.
57. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
Dokumentasi
58. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital
dan asuhan kala IV.

18

Jenis Ketrampilan
Lahan Praktek

: PENGELOLAAN PREEKLAMPSIA BERAT / EKLAMPSIA


: ............ Tanggal : ..........
NILAI
KOMPONEN
1

PERSIAPAN
1. Sapa ibu dengan ramah dan sopan
2. Beritahukan pada ibu apa yang akan dikerjakan dan berikan
kesempatan untuk mengajukan pertanyaan
3. Dengarkan apa yang akan disampaikan oleh ibu
4. Berikan dukungan emosional dan jaminan pelayanan
PENGELOLAAN SEGERA
5. Mintalah bantuan tenaga yang lain
6. Baringkan ibu dengan kepala dimiringkan ke kiri, untuk
mengurangi risiko aspirasi ludah, muntahan dan darah.
Bersihkan dengan penghisap lendir.
7. Pastikan bahwa jalan nafas ibu terbuka :
Bila ibu tidak bernafas, segera lakukan tindakan resusitasi
8. Berikan oksigen 4-6 liter/menit melalui sungkup atau kanula
9. Bila ibu kejang
Lindungi ibu dari kemungkinan trauma
- Lidah jangan tergigit: gunakan/ pasang sudip lidah
- Jatuh dari tempat tidur: ibu jangan/ tidak boleh ditinggal,
kalau perlu diikat, tapi jangan terlalu kuat agar tidak
melukai kulit
10. Pasang infus intravena dengan menggunakan larutan Ringer
Laktat dan pasang kateter urine
11. Lakukan pemeriksaan pembekuan darah (pengelolaan syok)
PENGOBATAN ANTI KEJANG ( MAGNESIUM SULFAT )
1. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, keringkan
dengan handuk kering dan bersih atau pengering udara
2. Beritahu bahwa ibu akan merasakan panas pada saat magnesium
sulfat diberikan
ALTERNATIF 1
3. Berikan 4g MgSO4 (10 ml) larutan 40% IV secara perlahanlahan selama 5 menit
4. Segera dilanjutkan dengan 6g MgSO4 40% (15 ml) dalam
larutan Ringer Asetat / Ringer Laktat selama 6 jam
5. Jika kejang berulang setelah 15 menit, berikan MgSO4 (40%) 2g
IV selama 5 menit
6. MgSO4 1 g/ jam
ALTERNATIF II
7. Berikan 4 g MgSO4 40% (10 ml) melalui infus intravena secara
perlahan-lahan dalam 5 menit
8. Diikuti dengan MgSO4 (40%) 5 gr IM bokong kiri/ kanan
19

dengan 1 ml Lignokain (dalam semprit yang sama)


9. Apabila kejang berulang SETELAH 15 menit :
Ambil 2 gr magnesium sulfat 40% (5 ml)
Berikan melalui suntikan intravena secara perlahan-lahan
selama 5 menit
PEMBERIAN DOSIS PEMELIHARAAN MAGNESIUM SULFAT
10. Masukkan 6 g MgSO4 40% (15 ml) melalui infus Ringer Asetat/
Laktat untuk 6 jam yang diberikan sampai 24 jam postpartum
11. Awasi :
a.
b.
c.
d.
e.

Kesadaran
Tensi
Nadi
Nafas
Produksi urin tiap 1 jam
Denyut jantung janin tiap 30

f.
12. Bila terjadi henti nafas :
Bebaskan jalan nafas
Berikan kalsium glukonat 1 g (10 ml dari larutan 10 %)
melalui suntikan intravena perlahan-lahan sampai terjadi
pernafasan spontan kembali
Pemantauan Keracunan Magnerium Sulfat
1. Hitung nafas selama 1 menit setiap jam
2. Periksa reflek patella setiap jam
3. Pasang kateter menetap, lakukan pengukuran urin setiap 4jam
4. Catat pemberian obat dan temuan dalam catatan medik untuk ibu
PENGOBATAN DIAZEPAM UNTUK PENCEGAHAN KEJANG
Perhatian: Diazepam hanya digunakan apabila tidak tersedia MgSO4
1. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, keringkan
dengan handuk basah atau pengering udara
2. Ambil 10 mg Diazepam
3. Berikan injeksi intravena secara perlahan-lahan selama 2 menit
4. Bila digunakan alat suntik pemakaian, isap larutan klorin 0,5%
sampai memenuhi tabung suntik dan rendam selama 10 menit
untuk tindakan dekontaminasi
5. Bila digunakan alat suntik sekali pakai, buang dalam tempat
sampah yang tahan tusukan
6. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, keringkan
dengan handuk basah atau pengering udara
7. Apabila kejang berulang, berikan suntikan dosis awal Diazepam
Pemberian Dosis Pemeliharaan untuk Diazepam
1. Berikan diazepam injeksi 40 mg dalam 500 ml, cairan infus
(NaCL 0,9% atau Ringer Laktat), dengan 15 tetesan/ menit
2. Bila terjadi depresi pernafasan (dapat terjadi pada dosis melebihi
30 mg dalam 1 jam)
3. Bebaskan jalan nafas, bila diperlukan (Lihat Resusitasi )
Jenis Ketrampilan : PENGELOLAAN SYOK
20

Lahan Praktek

: ............ Tanggal : ..........


NILAI
KOMPONEN
1

A. PERSIAPAN
1. Sapa ibu dengan ramah dan sopan
2. Beritahu pada ibu apa yang akan dikerjakan dan berikan
kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yaitu mengembalikan
kestabilan dengan mengembalikan cairan tubuh yang hilang dan
memperbaiki sistem sirkulasi
3. Dengarkan apa yang disampaikan oleh ibu
4. Berikan dukungan emosional dan jaminan pelayanan
B. PENGELOLAAN SYOK
5. Baringkan ibu di tempat tidur
6. Periksa dan lihatlah tanda tanda syok :
- Nadi cepat dan kecil: > 100 x/menit
- Menurunnya tekanan darah: diastolik < 60 mmHg
- Pernafasan cepat: respirasi > 32/menit
- Pucat: pada konjungtiva palpebra, telapak tangan, bibir
- Berkeringat, gelisah, apatis, bingung atau pingsan/tidak sadar
C. PENANGANAN AWAL & CEPAT : ABCD
7. Periksa tanda-tanda vital ibu
8. Tinggikan tungkai: bila menjadi sesak, turunkan tungkai dan
tinggikan tubuh
9. Posisikan kepala ibu miring ke kanan atau ke kiri
10. Pastikan bahwa jalan nafas ibu terbuka :
- Bila ibu tidak bernafas, segera lakukan tindakan resusitasi
- Jangan berikan sesuatu melewati oral untuk mencegah aspirasi
11. Berikan oksigen 6-8 liter/menit melalui sungkup atau kanula
12. Cegah ibu dari hipotermi
13. Pasang infus intravena :
- Berikan segera cairan isotonik (Ringer laktat atau garam
fisiologis NaCl) 1 liter dalam 20 menit, dilanjutkan sampai 3
liter dalam 2 3 jam
14. Cek Hb :
- Bila anemia Hb < 6 mg% atau hemotokrit < 20, mutlak harus tranfusi
darah agar perfusi (pasokan oksigen) ke jaringan pulih.
D. TERAPI DEFINITIF
15. Setelah stabilisasi tercapai, tetap melanjutkan pengelolaan dan
pantau tanda - tanda vital
16. Cari penyebab syok lain sebagai terapi kausatif untuk
menghentikan perdarahan: kegagalan kontraksi uterus, sisa
plasenta, robekan uterus dan jalan lahir.
Jenis Ketrampilan: PENGELOLAAN ANTIBIOTIK PADA INFEKSI METRITIS
Lahan Praktek
: ............ Tanggal : ..........
21

NILAI
KOMPONEN
1

PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIK


PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN
- Pasien
- Penolong
PENCEGAHAN INFEKSI SEBELUM TINDAKAN
PENYIAPAN INFUS
1. Siapkan peralatan di atas meja
2. Hubungkan cairan infus, slang, buret, dan milipore
PEMASANGAN INFUS
3. Oleskan povidon iodin 10% atau alkohol 70% pada tempat yang
sudah ditentukan
4. Pegang pangkal kateter intravena dengan tangan kanan arahkan
ujungnya pada vena yang telah difiksasi dengan tangan kiri
5. Tusukkan ujung jarum kateter intravena dengan sudut 30
hingga menembus dinding vena (tabung berisi darah vena)
kemudian dorong kateter sejajar dengan jalannya vena
6. Tarik ujung jarum ke dalam selubung elastis kateter
7. Dorong kateter hingga masuk
8. Tekan kanula (dari luar) sambil menarik dari jarum/ mandrin
hingga keluar seluruhnya
9. Ambil tabung suntik yang berisi cairan infus, hubungkan dengan
pangkal kateter, kemudian bilas darah yang ada pada tabung
elastik dengan larutan NaCl 0,9%
10. Lepaskan tabung suntik dan hubungkan pangkal kateter dengan
ujung slang infus
11. Buka katup aliran cairan dan atur kecepatan aliran, sesuai
kebutuhan dan fiksasi kateter intravena.
Rencana memasukkan cairan sbb :
a. Basal 2000 ml/24 jam
b. Tambahan 500 ml/1 C
12. Berikan suntikan ampicillin 2 g/IV tiap 6 jam + gentamicin 5
mg/kg BB/IV/24 jam + metronidazol 500 mg/IV/8 jam
13. Lakukan pemantauan suhu
14. Terapi suportif
a. Kompres
b. Antipiretik
DEKONTAMINASI DAN PENCEGAHAN INFEKSI PASCA
TINDAKAN
PERAWATAN PASCA TINDAKAN
Jenis Ketrampilan

: DISTOSIA BAHU

Lahan Praktek

: ............ Tanggal : ..........


22

NILAI
KOMPONEN
1

SEBELUM TINDAKAN PERHATIKAN


1. Kandung kemih
2. Kemungkinan tindakan episiotomi lebar/ luas
MANUVER McROBERTS
1. Baringkan ibu terlentang pada punggung
2. Minta ibu untuk melipat kedua pahanya sehingga kedua lututnya
berada sedekat mungkin dengan dada. Gunakan kedua tangan
untuk membantu fleksi maksimal paha
3. Lahirkan bahu depan dengan menarik kepala bayi ke arah bawah
sesuai dengan APN
MANUVER MASSANTI
1. Asisten menekan suprapubik (menekan ke bawah bahu janin)
menggunakan telapak tangan bagian bawah. Oleh karena distosia
bahu disebabkan karena bahu janin memasuki panggul pada posisi
antero-posterior, maka penekanan bahu depan ke satu sisi akan
mengubah posisi bahu menjadi oblique, sehingga bahu dapat
dilahirkan
2. Melahirkan bahu sesuai dengan APN
MANUVER RUBIN
1. Menyusuri bahu depan menggunakan 2 jari
2. Mendekatkan bahu depan ke arah dada (30) dengan menekan
dinding belakang bahu depan
3. Melahirkan bahu sesuai dengan APN
MANUVER CORKCREW (WOODS)
1. Memutar bahu belakang menjadi bahu depan untuk melepaskan
bahu depan yang berada di bawah simpisis, sehingga
menyebabkan fleksi bahu ke arah dada dan pemendekan jarak
antara kedua bahu
2. Melahirkan bahu sesuai dengan APN
MANUVER SCHWARTZ & DIXON
1. Memasukan jari tengah dan jari telunjuk mengikuti lengkung
sakrum hingga mencapai fosa antecubiti
2. Dengan tekanan jari tengah, lipat lengan bawah ke arah dada
3. Setelah terjadi fleksi tangan, keluarkan lengan dari vagina
(menggunakan jari telunjuk untuk melewati dada dan kepala bayi
atau seperti mengusap muka), kemudian tarik hingga bahu
belakang dan seluruh lengan belakang dapat dilahirkan
4. Bahu depan dapat lahir dengan mudah setelah bahu dan lengan
belakang dilahirkan
5. Bila bahu depan sulit dilahirkan, putar bahu belakang ke depan
(jangan menarik lengan bayi tetapi dorong bahu posterior) dan
putar bahu depan ke belakang (mendorong anterior bahu depan
dengan jari telunjuk dan jari tengah operator) mengikuti arah
23

punggung bayi sehingga bahu depan dapat dilahirkan


6. Melanjutkan tindakan sesuai dengan APN
MANUVER ZAVANELLI
- Jarang sekali dilakukan pada distosia bahu
- Hanya dilakukan apabila persalinan dilakukan di meja operasi dan
kondisi siap SC
- Bayi dapat diselamatkan apabila tidak terjadi kompresi tali pusat
1. Mengembalikan kepala ke dalam jalan lahir
2. Memutar kapala anak menjadi occiput anterior/posterior,
sesuai dengan arah putaran paksi luar yang sudah terjadi
3. Membuat kepala anak menjadi fleksi secara perlahan,
mendorong kepala ke arah vagina
DEKONTAMINASI DAN PENCEGAHAN INFEKSI PASCA
TINDAKAN
PERAWATAN PASCA TINDAKAN

24

Jenis Ketrampilan

: EKSTRAKSI VAKUM

Lahan Praktek

: ............ Tanggal : ..........


NILAI
KOMPONEN
1

PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIK


Pelajari untuk memastikan bahwa ditemukan keadaan yang merupakan
indikasi dan syarat ekstraksi vakum :
Presentasi kepala posisi, sutura sagitalis, U2 kecil
Pembukaan serviks lengkap
Penurunan kepala pada stasion 0 atau tidak lebih dari 2/5 di atas
sympisis
PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN
- Pasien
- Penolong
- Bayi
PENCEGAHAN INFEKSI SEBELUM TINDAKAN
TINDAKAN SEBELUM MELAKUKAN EKSTRAKSI VAKUM
1. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, keringkan
dengan handuk kering dan bersih atau pengering udara
2. Pakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi pada kedua tangan
3. Bersihkan vulva sekitarnya dengan larutan antiseptik
4. Lakukan kateterisasi urin bila penuh
5. Periksa apakah semua bagian dari ekstraktor vakum telah
tersambung dengan baik dan cek kemampuan ekstraktor vakum
pada tangan yang bersarung tangan
6. Periksa persiapan untuk menolong bayi
7. Lakukan pemeriksaan dalam untuk :

Memastikan terpenuhinya persyaratan ekstraksi vakum

Menilai sutura sagitalis dan menentukan letak ubun-ubun kecil


PEMASANGAN MANGKOK VAKUM
1. Masukkan mangkok vakum melalui introitus vagina secara miring,
dan setelah melewati introitus pasangkan pada kepala bayi
(perhatikan agar tepi mangkok tidak terpasang pada bagian yang
tidak rata/ moulage di daerah ubun- ubun kecil)
2. Dengan jari tengah dan telunjuk, tahan mangkok pada posisinya
dan dengan jari tengah dan telunjuk tangan yang lain, lakukan
pemeriksaan di sekeliling tepi mangkok untuk memastikan tidak
ada bagian vagina atau porsio yang terjepit di antara mangkok dan
kepala
3. Lakukan episiotomi, bila diperlukan, agar mangkok terpasang
dengan benar
4. Setelah hasil pemeriksaan baik, keluarkan jari tangan kanan dan jari
tangan kiri penahan mangkok tetap pada posisinya
25

5. Instruksikan asisten untuk menurunkan tekanan membuat tekanan


negatif (dalam mangkok) secara bertahap
6. Pompa tekanan hingga mencapai -0,2 kg/cm, periksa ulang
pemasangan mangkok vakum, kemudian naikkan hingga -0.6
kg/cm (menaikkan tekanan tunggu tiap 2 menit)
Ingat: jangan gunakan tekanan maksimal pada kepala lebih dari
8 menit
7. Sambil menunggu adanya his, jelaskan pada pasien bahwa pada
puncak his, pasien harus mengedan sekuat dan selama mungkin.
Tarik lipat lutut menggunakan lipat siku agar tekanan abdomen
menjadi lebih efektif
PENARIKAN
1. Pada puncak his, minta pasien untuk mengedan, secara simultan
lakukan penarikan mangkuk vakum dengan pengait dengan arah
sesuai sumbu panggul dan tegak lurus terhadap mangkok. Letakkan
jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri di batas tepi mangkok
dengan kulit kepala bayi (untuk meraba kemungkinan mangkok
terlepas dan menilai penurunan kepala) dan ibu jari di atas
mangkok bagian anterior (untuk menekan mangkok bila akan
terlepas)
2. Minta asisten untuk memeriksa denyut jantung janin
Bila belum berhasil pada tarikan pertama ulangi kembali pada
tarikan kedua. Episiotomi (pada perinium yang kaku) dapat
dilakukan pada saat kepala mendorong perinium dan tidak
masuk kembali
Bila dilakukan tarikan ketiga dengan benar dan kepala bayi tidak
turun, sebaiknya dilakukan rujukan pasien
Bila pada penarikan ternyata mangkok terlepas hingga dua kali,
lakukan rujukan pasien
Lakukan tarikan dengan ekstraktor vakum maksimal 25 menit
3. Saat suboksiput berada di bawah simpisis, arahkan tarikan ke atas
hingga berturut-turut lahir dahi, muka, dan dagu
4. Lepaskan mangkok vakum setelah kepala lahir dengan melepaskan
tekanan negatif.
MELAHIRKAN BAYI
1. Kepala bayi dipegang biparietal, gerakkan ke bawah untuk
melahirkan bahu depan kemudian gerakkan ke atas untuk
melahirkan bahu belakang, dilanjutkan dengan hand manuver
untuk melahirkan badan dan kaki
2. Bersihkan muka (hidung dan mulut) dengan kain bersih, letakkan
bayi pada perut ibu, keringkan kepala dan badan, potong tali pusat
dan serahkan bayi pada ibu untuk disusui/ IMD
MELAHIRKAN PLASENTA
1. Berikan suntikan Oksitosin 10 IU intramuskuler
2. Lakukan tarikan tali pusat terkendali, lahirkan plasenta dengan
menarik tali pusat ke arah bawah serta tangan yang lain ke arah
26

dorso kranial
3. Lakukan masase fundus uteri untuk merangsang kontraksi uterus
4. Periksa kelengkapan plasenta (perhatikan adanya bagian yang lepas
atau tidak lengkap)
5. Masukkan plasenta ke dalam tempat yang telah disediakan
EKSPLORASI JALAN LAHIR
1. Perhatikan dan periksa apakah terdapat robekan perpanjangan luka
episiotomi atau robekan dinding vagina di tempat lain
2. Pasang spekulum Sims , ambil 2 buah klem ovum, lakukan
penjepitan secara bergantian ke arah samping serta searah jarum
jam dan perhatikan ada tidaknya robekan pada porsio
3. Bila terdapat robekan, lakukan penjahitan. Bila dilakukan
episiotomi, lakukan perbaikan luka episiotomi.
PENCEGAHAN INFEKSI PASCA TINDAKAN
1. Sebelum melepaskan sarung tangan, kumpulkan dan buang kasa,
sampah lain yang telah dipakai pada tempat yang telah disediakan
atau kantong plastik
2. Masukkan selang karet, mangkok dan penarik ekstraktor vakum
dalam larutan chlorin 0,5% untuk dekontaminasi
3. Bilas dan bersihkan sarung tangan dalam larutan klorin 0,5%,
lepaskan sarung tangan dan rendam dalam larutan tersebut
4. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, keringkan
dengan handuk kering dan bersih atau pengering udara
PERAWATAN PASCA TINDAKAN
1. Periksa kembali tanda vital pasien, lakukan tindakan dan berikan
instruksi lebih lanjut bila diperlukan
2. Catat kondisi pasien pasca tindakan dan buat laporan tindakan
dalam kolom/ formulir yang tersedia dalam status pasien
3. Tegaskan pada petugas yang merawat untuk melaksanakan instruksi
pengobatan dan perawatan serta melaporkan segera bila pada
pemantauan lanjut terdapat perubahan yang harus diwaspadai

Jenis Ketrampilan

: VERSI EKSTRAKSI (Gemeli anak kedua lintang)


27

Lahan Praktek

: ............ Tanggal : ..........


NILAI
KOMPONEN
1

A. PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIK


B. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN
a. Pasien
1. Nilai keadaan ibu layak/tidak dilakukan anestesi
2. Cairan dan selang infus sudah terpasang
3. Uji fungsi dan perlengkapan peralatan resusitasi
4. Siapkan alas bokong, dan penutup bawah
5. Medikamentosa :
- Obat-obatan anestesi
- Uterotonika
6. Larutan antiseptik
7. Oksigen dengan regulator
8. Instrumen :
a. Ruang tindakan
b. Instrumen anestesi
c. Partus set dan hecting set
d. Kateter
e. Kain/doek steril
b. Penolong
1. APD (alat pelindung diri)
2. Sarung tangan steril : 4 pasang
3. Instrumen
a. Lampu sorot
b. Stetoskup monoaural, tensimeter
c. Bayi
1. Instrumen
a. Penghisap lendir
b. Kain penyeka, muka, dan badan
c. Meja bersih, kering, dan hangat
d. Pemotong dan pengikat tali pusat
e. Popok dan selimut
2. Oksigen dan regulator
C. PENCEGAHAN INFEKSI SEBELUM TINDAKAN
D. TINDAKAN VERSI EKSTRAKSI
1. Ibu pada posisi litotomi dan ditenangkan
2. Cuci tangan dengan sabun, air mengalir dan menggunakan APD
3. Pakai sarung tangan dan bersihkan vulva, perineum dengan air
DTT
4. Lakukan kateterisasi kandung kemih
- Pastikan kandung kemih kosong
- Cabut kateter dan rendam dalam larutan klorin 0,5%
5. Bersihkan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% dan ganti
28

sarung tangan kanan menggunakan sarung tangan panjang


6. Prosedur Versi Ekstraksi
a. Buka vulva dengan ibu jari dan telunjuk, tangan kanan masuk
ke dalam jalan lahir secara obstetrik
b. Lakukan amniotomi (jika kulit ketuban masih ada)
c. Setelah tangan kanan masuk ke dalam jalan lahir, tangan kiri
menahan fundus uteri (untuk mencegah ruptur uteri)
d. Tangan dalam mencari kaki janin untuk dibawa keluar
- Pada letak lintang punggung di depan, pegang kaki bawah
dan apabila punggung di belakang pegang kaki atas
(posisikan bayi dalam keadaan tengkurap)
- Kalau susah mencapai satu kaki maka kita boleh pegang
dua kaki sekaligus
- Setelah kaki dipegang (antara jari tengah dan telunjuk)
disini tunggu fase relaksasi
- Cara memutar :
o Pasif (tangan dalam: hanya membimbing)
o Aktif (tangan luar: menekan fundus)
e. Setelah dilakukan rotasi segera periksa apakah versi telah
berhasil dengan baik (letak janin sudah memanjang, kepala
sudah di fundus uteri, kaki janin dilepaskan tidak masuk lagi)
f. Setelah evaluasi berhasil dengan baik, janin dilahirkan secara
ekstraksi kaki dengan teknik seperti persalinan sungsang
g. Setelah bokong lahir maka dilanjutkan dengan cara Muller,
klasik, atau Lovset
h. Lahirkan kepala bayi dengan cara Mouriceau
i. Nilai sepintas keadaan bayi, letakkan di atas perut ibu, dan
hangatkan
E. MELANJUTKAN KALA III DAN KALA IV SESUAI APN
(diucapkan saja )

Jenis Ketrampilan

: KOMPRESI BIMANUAL INTERNA & EKSTERNAL (KBI / KBE)

Lahan Praktek

: ............ Tanggal : ..........


29

NILAI
KOMPONEN
1

A. PERSIAPAN TEMPAT
Ruangan tertutup, aman, nyaman, dan tenang
B. PERSIAPAN ALAT
1. Lembar informed consent (persetujuan)
2. Alas bokong dan alas penutup perut bawah
3. Larutan antiseptik
4. Analgesik (Tramadol 1-2 mg/kg BB)
5. Oksitosin 20 IU (2 Ampul)
6. Ergometrin 0,2 mg/ml
7. Set infus (jarum ukuran 16 atau 18)
8. Cairan infus RL 3-4 botol
9. Misoprostol 600-1000 microgram
10. Oksigen dan regulator 10,1 U/ml
11. Tensimeter dan stetoskop
12. Lampu sorot
13. Sarung tangan DTT/ steril panjang (4 panjang)
14. Tabung dan jarum suntik (5 ml dan nomor 23) 2 buah
15. Kateter nelaton
16. Handuk bersih
17. Minuman manis untuk rehidrasi
C. LANGKAH-LANGKAH
Mengusahakan informed consent diisi oleh pasien/ keluarga
D. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN
1. Pasien: pasien sudah mengerti dengan tindakan yang akan
dilakukan, keluarga sudah mengerti perannya untuk melakukan
KBE
2. Penolong: siap melakukan KBI, tangan sudah memakai sarung
tangan DTT/steril
E. TINDAKAN
1. Membersihkan bekuan darah dan/ selaput ketuban dari vagina
dan uterus
2. Melakukan pemeriksaan dengan benar sehingga dapat dipastikan
bahwa perdarahan ini disebabkan oleh atonia uterus
3. Lakukan dengan segera KBI
Penolong berdiri di depan vulva
Membasahi tangan kanan dengan larutan antiseptik
Menyisihkan kedua labia mayora ke arah lateral dengan ibu
jari dan jari telunjuk
Memasukkan tangan yang lain secara obstetrik ke dalam
introitus vagina (bila perlu analgesik)
Mengubah tangan obstetrik menjadi kepalan dan letakkan
dataran punggung jari telunjuk hingga kelingking pada
forniks anterior dan dorong SBR (segmen bawah rahim) ke
30

kranioanterior
Meletakkan telapak tangan luar pada dinding perut, upayakan
untuk mencakup bagian belakang korpus uterus seluas atau
sebanyak mungkin
Melakukan kompresi uterus selama 5 menit dengan cara
mendekatkan telapak tangan luar dengan kepalan tangan
dalam forniks anterior
Mempertahankan posisi demikian bila perdarahan berhenti,
hingga kontraksi uterus benar-benar membaik kemudian
lanjutkan langkah berikutnya.
Amati apakah uterus berkontraksi, jika :
YA, maka lanjutkan KBI selama 2 menit, kemudian
keluarkan tangan perlahan-lahan, lalu pantau kala IV
dengan ketat
TIDAK, maka lanjutkan langkah berikutnya
4. Meminta dan mengajarkan keluarga untuk melakukan kompresi
bimanual eksterna (KBE). Keluarkan tangan perlahan-lahan
dengan mengubah kepalan menjadi tangan obstetrik. Sementara
keluarga melakukan KBE, bidan memasang infus dan
memberikan obat uterotonika.
Cara melakukan KBE adalah sebagai berikut :
Penolong berdiri menghadap sisi kanan pasien
Tekan ujung jari telunjuk, tengah dan manis satu tangan di
antara simpisis dan umbilikus pada korpus depan bawah
sehingga fundus uterus naik ke arah dinding abdomen
Meletakkan sejauh mungkin telapak tangan lain di korpus
uterus bagian belakang dan dorong uterus ke arah korpus
depan
Menggeser perlahan-lahan ujung ketiga jari pertama ke
arah fundus sehingga telapak tangan dapat menekan
korpus uteri bagian depan
Melakukan kompresi korpus uterus dengan jalan menekan
dinding belakang dan dinding depan uterus dengan telapak
tangan kiri dan kanan (mendekatkan tangan belakang dan
depan)
Perhatikan Perdarahan!
Bila perdarahan berhenti, pertahankan posisi tersebut hingga uterus
dapat berkontraksi dengan baik. Bila perdarahan belum berhenti,
lanjutkan pertolongan berikutnya.
5. Memasukkan kedua tangan ke dalam wadah yang sudah berisi
larutan klorin 0,5%, lalu bersihkan sarung tangan
6. Memberikan ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 600-1000
microgram per rektal.
Ergometrin tidak diberikan untuk ibu hipertensi
7. Memasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan
berikan oksitosin 20 unit dalam 500 ml ringer laktat, habiskan

31

500 cc pertama secepat mungkin


8. Memakai sarung tangan DTT/steril dan ulangi KBI
Amati perkembangannya, apakah uterus berkontraksi, jika :
YA, maka pantau pasien dengan seksama selama kala IV
TIDAK, maka lanjutkan ke langkah berikutnya
9. Segera merujuk pasien
10. Mendampingi pasien ke tempat rujukan
11. Melanjutkan infus oksitosin 20 unit dalam 500 cc ringer laktat
dengan laju 500 ml/jam hingga tiba di tempat rujukan atau
hingga menghabiskan 1,5 liter infus, kemudian lanjutkan dengan
kecepatan sedang dan berikan minuman untuk rehidrasi
F. PENCEGAHAN INFEKSI PASCA TINDAKAN APABILA
KOMPRESI BERHASIL
1. Perhatikan tanda vital, perdarahan dan kontraksi uterus tiap 10
menit dalam 2 jam pertama
2. Dekontaminasi peralatan dan bersihkan pasien. Lepaskan sarung
tangan, lepaskan secara terbalik dan rendam dalam klorin 0,5%
3. Cuci tangan dan keringkan

Jenis Ketrampilan
Lahan Praktek

: PLASENTA MANUAL
: ............ Tanggal : ..........
KOMPONEN

NILAI
32

PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN


PASIEN
Infus dan cairan
Oksitosin
Verbal-anestesia atau analgesia per rektal
Kateter nelaton steril dan penampung urin
Klem penjepit atau kocher
Kain alas bokong
Tensimeter dan stetoskop
II. PENOLONG
Sarung tangan panjang DTT (untuk tangan dalam)
Sarung tangan DTT (untuk tangan luar)
Topi, masker, kacamata pelindung, celemek
PENCEGAHAN INFEKSI SEBELUM TINDAKAN
Kenakan pelindung diri
Cuci tangan sabun dan air mengalir
Keringkan tangan dan pakai sarung tangan DTT
Bersihkan vulva dan perineum dengan air DTT /sabun antiseptik
Pasang alas bokong yang bersih dan kering
TINDAKAN PENETRASI KE KAVUM UTERI
1. Lakukan anestesia-verbal atau analgesia per rektal sehingga perhatian
ibu teralihkan dari rasa nyeri atau sakit
2. Lakukan kateterisasi kandung kemih
Pastikan kateter masuk dengan benar
Cabut kateter setelah kandung kemih dikosongkan
3. Jepit tali pusat dengan klem kocher, kemudian tegangkan tali pusat
sejajar lantai
4. Secara obstetrik masukkan satu tangan (punggung tangan ke bawah) ke
dalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat
5. Setelah tangan mencapai pembukaan serviks, minta asisten atau
keluarga untuk memegang kocher, kemudian tangan lain penolong
menahan fundus uteri
6. Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam ke kavum uteri
sehingga mencapai tempat implantasi plasenta
7. Buka tangan obstetrik menjadi seperti memberi salam (ibu jari merapat
ke pangkal jari telunjuk)
MELEPAS PLASENTA DARI DINDING UTERUS
8. Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah/
yang telah lepas dari dinding uteri

Implantasi di korpus belakang, tangan dalam tetap pada sisi bawah tali
pusat. Bila implantasi di korpus depan, pindahkan tangan dalam ke sisi
atas tali pusat dengan punggung tangan menghadap ke atas
Implantasi di korpus belakang: lepaskan plasenta dari tempat
33

implantasinya dengan jalan menyelipkan ujung jari di antara plasenta dan


dinding uterus, dengan punggung tangan pada dinding dalam uterus
bagian belakang (menghadap sisi bawah tali pusat)
Implantasi di korpus depan : lakukan penyisipan ujung jari di antara
plasenta dan dinding uterus dengan punggung tangan pada dinding dalam
uterus bagian depan (menghadap sisi atas tali pusat)

9. Kemudian gerakkan tangan dalam ke kiri dan kanan sambil bergeser ke


kranial sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan.
Catatan : sambil melakukan tindakan, perhatikan keadaan ibu (pasien),
lakukan penanganan yang sesuai bila terjadi penyulit.
MENGELUARKAN PLASENTA
10. Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi
ulangan untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih
melekat pada dinding uterus
11. Pindahkan tangan luar ke supra simpisis untuk menahan uterus pada
saat plasenta dikeluarkan
12. Instruksikan asisten atau keluarga yang memegang kocher untuk
menarik tali pusat sambil tangan dalam menarik plasenta keluar
(hindari percikan darah)
13. Letakkan plasenta ke dalam tempat yang telah disediakan
14. Lakukan sedikit pendorongan uterus (dengan tangan luar) ke
dorsokranial setelah plasenta lahir
Perhatikan kontraksi uterus dan jumlah perdarahan yang keluar
Sementara masih menggunakan sarung tangan, kumpulkan semua
barang, bahan, atau instrumen bekas pakai dan bersihkan tubuh ibu
dan ranjang tindakan
Lakukan dekontaminasi sarung tangan dan semua peralatan yang
tercemar darah atau cairan tubuh lainnya
Lepaskan sarung tangan dan segera cuci tangan dengan sabun dan
air bersih mengalir
Keringkan tangan dengan handuk pribadi yang bersih dan kering
PERAWATAN PASCA TINDAKAN
15. Periksa kembali tanda vital pasien, segera lakukan tindakan dan
instruksi apabila masih diperlukan
16. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan di dalam kolom yang
tersedia
17. Buat instruksi pengobatan lanjutan dan hal-hal penting untuk dipantau
18. Beritahukan pada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai
tetapi pasien masih memerlukan perawatan
19. Ajarkan ibu dan keluarga tentang asuhan mandiri dan tanda-tanda bahaya
yang mungkin terjadi. Minta keluarga segera melapor pada penolong jika
terjadi gangguan kesehatan ibu atau timbul tanda-tanda bahaya tersebut .

Jenis Ketrampilan

: PENJAHITAN PERLUKAAN JALAN LAHIR DAN PORTIO

Lahan Praktek

: ............ Tanggal : ..........


KOMPONEN

NILAI
34

PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN


- Pasien
- Penolong
PENCEGAHAN INFEKSI SEBELUM TINDAKAN
TINDAKAN
1. Pasien dengan posisi litotomi, pasangkan kain penutup
2. Kosongkan kandung kemih
3. Lakukan periksa dalam
4. Ganti sarung tangan
5. Pasang spekulum bawah dan atas
EKSPLORASI ULANG (SEBELUM TINDAKAN )
6. Eksplorasi dinding vagina
7. Jepit porsio dengan klem ovum secara bergantian sehingga
porsio dapat diperiksa menurut arah putaran jarum jam. Pasang
klem ovum kanan dan kiri, masing masing 2 cm dari tepi luka
8. Bila timbul nyeri akibat penjepitan beri sedativa dan analgetika
9. Penjahitan mulai dari ujung luka, 1 cm ke atas (proksimal
porsio) dari kanan luar menembus permukaan dalam, menyilang
ke kiri dalam (proksimal), tembus ke kiri luar, menyeberang ke
kanan luar (proksimal) menembus permukaan dalam kanan,
menyilang ke kiri dalam (distal), menembus luar kiri (distal)
baru dibuat simpul kunci dengan pangkal benang di kanan luar
(distal)
10. Jahitan angka 8 tersebut di atas, dilanjutkan ke arah distal
sehingga seluruh robekan porsio dijahit dan perdarahan dapat
diatasi
EKSPLORASI ULANGAN ( PASCA TINDAKAN)
11. Dengan bantuan spekulum, periksa ulang bahwa perdarahan
dapat diatasi. Periksa permukaan dalam porsio dengan jalan
menjepit porsio dengan klem ovum kemudian balik posisi
gagangnya
12. Lakukan penjahitan di bagian lain jalan lahir apabila ditemukan
13. Bersihkan porsio dan lumen vagina dengan kapas dan larutan
antiseptik
14. Lepaskan jepitan cunam pada porsio, cabut spekulum
DEKONTAMINASI DAN PENCEGAHAN INFEKSI PASCA
TINDAKAN
PERAWATAN PASCA TINDAKAN
Jenis Ketrampilan : RESUSITASI BAYI BARU LAHIR
Lahan Praktek

: ............ Tanggal : ..........


KOMPONEN

NILAI
35

I. PENILAIAN
1. Setelah bayi lahir (dalam beberapa detik), lakukan penilaian segera
sambil memindahkan bayi dari tempat lahir ke atas perut ibu.
a. Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap, anggota gerak lunglai
atau tidak
1) Jepit dan potong tali pusat, beritahukan masalah bayi pada ibu
dan keluarga
2) Selimuti bayi dengan kain alas yang telah disiapkan dan
diletakkan di atas perut ibu kemudian pindahkan bayi ke
tempat resusitasi yang telah disiapkan
II. LANGKAH AWAL
2. Menjaga bayi tetap hangat
a. Pertahankan selimut yang melingkupi tubuh bayi untuk menjaga
kehangatan tubuhnya
3. Mengatur posisi bayi
a. Letakkan bayi pada posisi terlentang, kemudian ganjal bahu bayi
menggunakan lipatan kain yang telah disiapkan
b. Atur kepala bayi dengan posisi setengah ekstensi agar jalan nafas
terbuka
4. Menghisap lendir
a. Lakukan penghisapan lendir dengan alat penghisap lendir De Lee
b. Terlebih dulu, lakukan penghisapan lendir pada mulut ( < 5 cm )
c. Setelah itu, lakukan pengisapan lendir pada hidung ( < 3 cm )
Pengisapan lendir dilakukan sambil menarik keluar pipa pengisap
5. Keringkan dan rangsang bayi
a. Keringkan bayi dengan memberikan sedikit tekanan, mulai dari
muka, kepala, ke seluruh tubuh
b. Gunakan telapak tangan untuk menggosok punggung, perut, dan
dada
6. Mengatur kembali posisi kepala bayi dan bungkus bayi
a. Ganti kain yang menyelimuti tubuh bayi dengan kain yang bersih
dan kering yang telah disiapkan di bawah tubuh bayi
b. Selimuti bayi dengan kain kering tersebut, biarkan bagian muka
dan dada sedikit terbuka
c. Atur kembali posisi kepala bayi menjadi sedikit ekstensi
7. Melakukan penilaian bayi
Menilai pernafasan bayi: normal, tidak bernafas, megap megap ?
a. Bila bayi bernafas normal
1. Letakkan bayi pada dada ibu, selimuti bayi bersama ibunya
2. Anjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya
b. Bila bayi tak bernafas, megap megap atau menangis lemah
Segera lakukan tindakan ventilasi
III.

VENTILASI
36

8. Pasang sungkup
Pasang sungkup sehingga melingkupi hidung, mulut, dan dagu
9. Lakukan ventilasi percobaan (2 x)
a. Tiup pangkal tabung atau tekan balon untuk mengalirkan udara (30
cm air) ke jalan nafas bayi
b. Lihat apakah dada bayi mengembang setelah peniupan ( 2 x )
Bila dada bayi tidak mengembang
c. Periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara bocor
d. Periksa posisi kepala dan bila salah, perbaiki posisinya hingga
menjadi setengah ekstensi
e. Periksa adanya sumbatan yang disebabkan oleh cairan atau lendir
di mulut. Lakukan pengisapan ulang bila ada sumbatan
Bila dada bayi mengembang
f. Lanjutkan tindakan ventilasi
10. Lakukan ventilasi 20x dalam 30 detik
Lakukan ventilasi sebanyak 20x dalam 30 detik
Bila bayi mulai bernafas normal
a. Hentikan ventilasi secara bertahap
b. Pantau kondisi bayi secara seksama
Bila bayi belum bernafas
Lakukan kembali tindakan ventilasi
11. Hentikan ventilasi dan lakukan penilaian setiap 30 detik
a. Hentikan ventilasi setiap 30 detik
b. Apakah bayi bernafas normal, tidak bernafas, atau megap-megap
Bila bayi mulai bernafas normal
c. Hentikan ventilasi secara bertahap
d. Pantau kondisi bayi secara seksama
Bila bayi tidak bernafas atau masih megap megap
e. Teruskan ventilasi 20 kali/30 detik
f. Hentikan ventilasi dan lakukan penilaian ulang setiap 30 detik
12. Bila bayi tak bernafas spontan sesudah 2-3 menit resusitasi
a. Teruskan ventilasi dengan interval 30 detik
b. Siapkan rujukan bayi bersama ibunya
13. Bila bayi tak bernafas sesudah ventilasi 20 menit
Pertimbangkan untuk menghentikan resusitasi
IV.

PEMANTAUAN DAN DUKUNGAN


14. Lakukan pemantauan seksama bayi pasca resusitasi selama 2 jam
Perhatikan tanda-tanda kesulitan bernafas pada bayi
a. Periksa adanya tarikan dinding dada
b. Amati apakah nafas bayi megap-megap
c. Hitung frekuensi nafas bayi, apakah < 30/menit atau > 60/menit
Memperhatikan apakah bayi sianosis
15. Jaga bayi tetap hangat dan kering
a. Tunda memandikan bayi sampai 6-24 jam
16. Bila nafas bayi dan warna kulit normal, berikan bayi bersama ibunya
37

a. Letakkan bayi di dada ibu (kulit ke kulit) dan menyelimuti


keduanya
b. Anjurkan ibu segera menyusui bayinya
c. Anjurkan ibu mengusap bayinya dengan kasih sayang
17. Bila kondisi bayi memburuk, rujuk segera
Perhatikan tanda-tanda bahaya pada bayi
a. Hitung frekuensi nafas, apakah < 30 atau > 60/ menit
b. Periksa adanya tarikan dinding dada
c. Amati apakah bayi merintih atau megap-megap
d. Amati apakah seluruh tubuh bayi pucat atau sianosis
e. Amati apakah bayi lemas
f. Segera rujuk bila ada salah satu tanda-tanda bahaya
V. PENCATATAN
a. Buat catatan resusitasi selengkapnya
b. Cantumkan tanggal dan waktu bayi lahir
c. Kondisi saat bayi baru lahir
d. Jam mulai resusitasi
e. Tindakan yang dilakukan selama resusitasi
f. Kapan bayi bernafas spontan atau berhenti resusitasi
g. Hasil tindakan resusitasi
h. Asuhan pasca resusitasi yang diberikan

38

Jenis Keterampilan

: PERSALINAN DI RUMAH

Indikasi persalinan di rumah adalah sebagai berikut:

Multipara, umumnya ibu yang baru pertama kali bersalin dianjurkan bersalin di rumah sakit
atau di klinik bersalin. Jika pada waktu melahirkan bayi pertama itu tidak mengalami
kesulitan melahirkan bayi berikutnya di rumah sendiri dapat diizinkan.
Selama melakukan asuhan antenatal tidak didapati adanya kelainan atau penyakit yang akan
menyulitkan proses persalinan.
Jauh dari tempat pelayanan kesehatan (tinggal di pemukiman pedesaan).

Persiapan penolong (bidan).


1. Kemampuan analisa.
Mengingat pentingnya dan risiko yang dihadapi, bidan harus mempunyai kemampuan yang
cukup terampil, cepat berpikir, cepat menganalisis, cepat menginterpretasi tanda dan gejala,
cepat menyusun konsep, dan mempunyai pengetahuan serta pengalaman.
2. Ketrampilan
Pekerjaan bidan adalah pekerjaan yang bersifat ketrampilan. Oleh karena itu, bidan harus
memiliki ketrampilan yang cukup banyak dalam segala perawatan, pertolongan, dan
persalinan.
3. Kepribadian
Kepribadian adalah kesehatan jasmani dan rohani dalam segala aspek, yang merupakan
organisasi yang dinamis yang akan selalu mengalami perubahan dan perkembangan, aspek
aspek tersebut ialah fisik, maturitas atau kematangan, mental, emosi dan sikap.
4. Mempersiapkan rujukan
Mempersiapkan rujukan bersama ibu dan keluarganya. Karena jika terjadi keterlambatan
merujuk ke fasilitas yang lebih memadai dapat membahayakan keselamatan ibu dan
bayinya.Apabila ibu dirujuk, siapkan dokumentasi asuhan yang telah diberikan.
5. Memberikan asuhan sayang ibu
Seperti memberikan dukungan emosional, membatu pengaturan posisi ibu, memberikan
cairan dan nutrisi, memberikan keleluasaan untuk menggunakan kamar mandi secara teratur,
serta melakuakn pertolongan persalinan yang bersih dan aman dengan teknik pencegahan
infeksi.
4. Persiapan Lingkungan
Ruangan atau lingkungan dimana proses persalinan akan berlangsung harus memiliki
pencahayaan penerangan yang cukup, ranjang sebaiknya diletakkan di tengah tengah ruangan
agar mudah didekati dari kiri maupun kanan, dan cahaya sedapat mungkin tertuju pada tempat
persalinan.
Persiapan untuk mencegah terjadinya kehilangan panas tubuh yang berlebihan, perlu disiapkan
juga lingkungan yang sesuai bagi bayi baru lahir dengan memastikan bahwa ruangan bersih,
hangat, pencahayaan yang cukup dan bebas dari tiupan angin.Apabila lokasi tempat tinggal ibu
di daerah pegunungan atau yang beriklim dingin, sebaiknya sediakan minimal 2 selimut, kain
atau handuk yang kering dan bersih untuk mengeringkan dan menjaga kehangatan tubuh bayi.
39

PERALATAN PERSALINAN DI RUMAH


Alat alat yang dibawa untuk menolong persalinan (set partus) berupa kit melahirkan (kit
komunitas kecil) yang berisi:
Tensi meter
Stetoskop janin
Termometer
Sarung tangan
Gunting
Bengkok
Klem hemostatis arteri
Klem tali pusat
Celemek plastik
Kasa dan kapas
Duk
Jarum dan benang jahit
Pemegang jarum (Nallfoelder)
Setengah koker
Gunting benang
Alkohol
Obat yang diperlukan (oksitosin 40 unit, ergometrin, vitamin K, antibiotik lidokain
1% )
Spuit dan jarum
Kateter
Infus set
IV kateter/abbocat
Persiapan ibu/pasien
1. Jika akan melahirkan di rumah, pasien dianjurkan untuk memilih kamar yang terbaik untuk
bersalin.
2. Sediakan perlak berukuran sekitar 1,5 m sebagai alas tempat tidur bersalin.
Lampu yang cukup terang jika melahirkan di malam hari atau ruangan gelap.
3. Dua baskom, satu untuk cuci tangan dan lainnya berisi air hangat untuk memandikan ibu.
4. Sabun cuci tangan

40

Anda mungkin juga menyukai