Anda di halaman 1dari 83

LAPORAN PENDAHULUAN DERMATITIS

A.PENDAHULUAN
Ada banyak sekali penyakit yang menyerang kulit manusia, salah satunya adalah
dermatitis.Dermatitismerupakansebuahkelainankulitdengangejalasubyektifrasagatal.
Penyakitinibiasanyaditandaidenganruamyangpolimorfidanumumnyaberbatasdengan
tegas.Kulittampakmeradangdaniritasi.Peradanganinibisaterjadidimanasajanamunyang
palingseringterkenaadalahtangandankaki.
Penyakitdermatitisinimemangtidakpandangbulu,semuaorangbaiktuamaupun
mudaberpeluangterkenapenyakitini.Gejalaeksimakanmulaimunculpadamasaanak
anak terutama saat mereka berumur diatas 2 tahun. Pada beberapa kasus, eksim akan
menghilang dengan bertambahnya usia, namun tidak sedikit pula yang akan menderita
seumurhidupnya.Denganpengobatanyangtepat,penyakitinidapatdikendalikandengan
baiksehinggamengurangiangkakekambuhan.
B.PENGERTIAN
Dermatitisadalahsuatuperadanganmenahunpadalapisanataskulityangmenyebabkanrasa
gatal.PadaumumnyaDermatitisjugadisertaidengantandatandasepertiterbentuknyabintikyang
berisicairan(beningataunanah)danbersisik.
Dermatitisadalahsuatukondisiumumyangbiasanyatidakmengancamjiwaataumenular.
Tapikondisiinidapatmembuatseseorangmerasatidaknyamandanpercayadiri.Langkahperawatan
diridanobatobatandapatmembantumengobatipenyakitdermatitis.
Dermatitis adalah istilah umum yang menggambarkan suatu peradangan pada kulit. Ada
berbagai jenis dermatitis, termasuk dermatitis seboroik dan dermatitis atopik (eksim). Meskipun
gangguantersebutdapatmemilikibanyakpenyebabdanterjadidalamberbagaibentuk,gambaran
klinisyangditimbulkanantaralainbengkak,memerahdankulitgatal.
Dermatitis adalah istilah yang luas yang mencakup berbagai gangguan yang semua
mengakibatkanruam,merahgatal.Beberapajenisdermatitishanyamempengaruhibagiantertentu
dari tubuh, sedangkan yang lain dapat terjadi di mana saja. Beberapa jenis dermatitis memiliki
penyebab yang diketahui, sedangkan yang lainnya tidak. Namun, penyakit dermatitis selalu
berhubungan dengan kulit yang bereaksi terhadap kekeringan berat, menggaruk, zat iritasi, atau
alergen.Biasanya,substansiyangdatangdalamkontaklangsungdengankulit,tetapikadangkadang

substansijugadatangkarenaditelan(sepertialergimakanan).Dalamsemuakasus,menggarukterus
menerusataumenggosokakhirnyadapatmenyebabkanpenebalandanpengerasankulit.
C.GEJALA
Dimanapun lokasi timbulnya eksim, gejala utama yang dirasakan pasien adalah gatal.
Terkadang rasa gatal sudah muncul sebelum ada tanda kemerahan pada kulit. Gejala kemerahan
biasanya akan muncul pada wajah, lutut, tangan dan kaki, namun tidak menutup kemungkinan
kemerahanmunculdidaerahlain.
Daerahyangterkenaakanterasasangat kering, menebal ataukeropeng. Padaorangkulit
putih,daerahinipadamulanyaakanberwarnamerahmudalaluberubahmenjadicokelat.Sementara
itupadaorangdengankulitlebihgelap,eksimakanmempengaruhipigmenkulitsehinggadaerah
eksimakantampaklebihterangataulebihgelap.

DermatitisAtopik:Bisaterjadipadabayiyangdisebuteksimsusu.Timbuldisekitar
pipidanbibir.Sedangpadaanakdapatdijumpaididaerahlipatansiku.DermatitisKontak:
Pada bayi yang menggunakan popok sekali pakai bisa terkena dermatitis kontak karena
popokterlalulembabdankontaklangsungdenganairkemihberjamjamsehinggatimbul
gejala kemerahan pada lipatan paha dan pantat. Dermatitis Numularis Gejala pada kulit
tampakbulatsepertiuanglogam,kemerahan,bengkakdanberisicairandanpenderitamerasa
sangatgatal
D.PENYEBAB
Penyebab dari eksim sebenarnya belum diketahui dengan pasti, namun beberapa ahli
mencurigaieksimberhubungandenganaktifitasdayapertahanantubuh(imun)yangberlebihan.Hal
inimenyebabkantubuhmengalamireaksiberlebihanterhadapbakteriatauiritanyangsebenarnya
tidakberbahayapadakulit.Olehkarenaitu,eksimbanyakditemukanpadakeluargadenganriwayat
penyakitalergiatauasma.
Tiaptiaporangmempunyaipencetuseksimyangberbedabeda.Adaorangyangsetelah
memegangsabunataudeterjenakanmerasakangatalyangluarbiasa,adapulayangdisebabkanoleh
bahanataualatrumahtanggayanglain.Gejalayangtimbulpunbervariasi,adayanggatalnyaringan
tetapirasapanasyangdominan,adapulayangsebaliknya.Infeksisalurannafasbagianatasatauflu
jugabisamenjadipencetustimbulnyaeksim.Stressyangdialamipenderitaakanmembuatgejala
menjadilebihburuk.
Meskipun penyembuhan eksim sangat sulit dilakukan, namun pada banyak kasus, pasien
dapatmengurangiterjadinyakekambuhandenganmelakukanpengobatanyangtepatdanmenghindari

iritan/alergenyangmenyebabkaneksim. Perludiingat,penyakit initidakmenular dantidakakan


menyebardarisatuorangkeorangyanglain.

E.PATOFISIOLOGI
1.DermatitisKontak
Terdapat2tipedermatitiskontakyangdisebabkanolehzatyangberkontakdengan
kulityaitudermatitiskontakiritandandermatitiskontakalergik.
a.DermaitisKontakIritan:
Kulitberkontakdenganzatiritandalamwaktudankonsentrasicukup,umumnyaberbatas
relatif tegas.Paparan ulangakan menyebabkanproses menjadikronik dankulit menebal
disebutskinhardering.
b.DermatitisKontakAlergik:
Batastaktegas.Prosesyangmendasarinyaialahreaksihipersensitivitas.Lokalisasidaerah
terpapar,tapitidaktertutupkemungkinandidaerahlain.
2.DermatitisAtopik
Bersifat kronis dengan eksaserbasi akut, dapat terjadi infeksi sekunder. Riwayat
stigmataatopikpadapenderitaataukeluarganya.
3.DermatitisNumularis
Kelainanterdiridarieritema,edema,papel,vesikel,bentuknumuler,dengandiameter
bervariasi540mm.Bersifatmembasah(oozing),batasrelatifjelas,bilakeringmembentuk
krusta.bagiantubuh
4.DermatitisStatis
Akibatbendungan,tekananvenamakinmeningkatsehinggamemanjangdanmelebar.
Terlihatberkelokkelokseperticacing(varises).Cairanintravaskulermasukkejaringandan
terjadilahedema.Timbulkeluhanrasaberatbilalamaberdiridanrasakesemutanatauseperti
ditusuktusuk. Terjadi ekstravasasi eritrosit dan timbul purpura. Bercakbercak semula
tampakmerahberubahmenjadihemosiderin.Akibatgarukanmenimbulkanerosi,skuama.
Bilaberlangsunglama,edemadigantijaringanikatsehinggakulitterabakaku,warnakulit
lebihhitam
5.DermatitisSeiboroika
Merupakanpenyakitkronik,residif,dangatal.Kelainanberupaskuamakering,basah
ataukasar;krustakekuningandenganbentukdanbesarbervariasi.Tempatkulitkepala,alis,
daerah nasolabial belakang telinga, lipatan mammae, presternal, ketiak, umbilikus, lipat
bokong,lipatpahadanskrotum.Padakulitkepalaterdapatskuamakeringdikenalsebagai
dandruffdanbilabasahdisebutpytiriasissteatoides;disertaikerontokanrambut.Lesidapat
menjalarkedahi,belakangtelinga,tengkuk,sertaoozing(membasah),damenjadinkeadaan

eksfoliatif generalisata. Pada bayi dapat terjadi eritroderma deskuamativa atau disebut
penyakitLeiner.
F.FASEPENYAKITDERMATITIS
Adaduafaseyangbiasanyadialamiolehpenderitadermatitis.Pertama,Faseanak,
faseinidimulaidenganmunculnyadermatitissubakut.Jenisdermatitisinicenderunglebih
kering.Dermatitisiniseringmunculdilipatsiku/lutut.Kedua,Fasedewasa,faseinidisertai
denganmunculnyahiperpigmentasi(kelebihanpigmenpadakulityangbisamenyebabkan
warnahitampadabekaslukayangterinfeksi),hiperkeratosisdanlikenifikasi(penebalankulit
danbertambahjelasnyagarisgarisnormalkulit).
Untukmencegahnyapenyakitiniadabeberapamacamcarapenanganandiantaranya
adalahpemeriksaanhispatologi(lesiakut,kronik)danmelakukanserangkaianujitusukdan
tempel(reaksipositifsetelah2448jam).
G.FAKTORRISIKO
Seringkaliterjadipadapenderitarinitisalergikaataupenderitaasmadanpadaorang
orangyanganggotakeluarganyaadayangmenderitarinitis alergikaatauasma.Berbagai
keadaanyangbisamemperburukdermatitisatopik:

Stresemosional.

Perubahansuhuataukelembabanudara.

Infeksikulitolehbakteri.

Kontakdenganbahanpakaianyangbersifatiritan(terutamawol).

Padabeberapaanakanak,alergimakananbisamemicuterjadinyadermatitis.

H.KOMPLIKASI
Dapatterjadikomplikasiyaituinfeksibakteri.Gejalanyaberupabintikbintikyang
mengeluarkannanah.Pembengkakankelenjargetahbeningsehinggapenderitamengalami
demamdanlesu.
I.BAGAIMANADERMATITISTERJADI?

Dermatitis mungkinmerupakanreaksisingkatuntuksubstansi.Dalamkasusseperti
itudapatmenghasilkangejalagejala,sepertigataldankemerahan,hanyabeberapajamatau
hanyasatuatauduahari.Dermatitiskronisbertahanselamajangkawaktutertentu.Tangan
dankakisangatrentanterhadapdermatitiskronis,karenatanganseringkontakdenganzatzat
asingdankakiberadadibagianbawahyangkondisinyahangatlembabsehinggapenggunaan
kauskakidansepatudapatmendukungpertumbuhanjamur.
Dermatitiskronisdapatmewakilisalahsatukontak,jamur,ataupenyakitkulitlainnya
yangtidakcukupdidiagnosisataudiobati,ataumungkinsalahsatudaribeberapakelainan
kulitkronisyangtidakdiketahuiasalnya.Karenadermatitiskronismenghasilkanretakdan
lecetdikulit,semuajenis dermatitis kronisdapatmenyebabkaninfeksibakteri.Terdapat
berbagaijenispenyakitdermatitis,namundermatitiskontakdandermatitisatopikmerupakan
jenisyangpalingseringditemukan.
J.PENCEGAHAN
1. Hindarikontakdenganiritanatauallergen.Jikaandaalergimakahindarilahfaktor
pencetusalergi,sepertidebu,bulubinatang
2. Jikagatal,janganmenggarukkarenadapatterjadiluka,radangdanbernanah
3. Hindaristresdanmenjalankanpolahidupyangsehat
4. Jagakebersihandiridanlingkungan.
5. Jagakelembabankultdengancaramenghndariperubahansuhu.
6. Hindariberkeringatterlalubanyakataukepanasan.
7. Hindarisabundenganbahanyangterlalukeras
K.PEMERIKSAANPENUNJANG
1.Laboratorium
a.Darah:Hb,leukosit,hitungjenis,trombosit,elektrolit,proteintotal,albumin,globulin
b.Urin:pemerikasaanhistopatologi
2.Penunjang:pemeriksaanhistopatologi

L.PENGOBATAN
Tujuanutamadaripengobatanadalahmenghilangkanrasagataluntukmencegahterjadinya
infeksi.Ketikakulitterasasangatkeringdangatal,lotiondankrimpelembabsangatdianjurkanuntuk
membuatkulitmenjadilebihlembab.Tindakaninibiasanyadilakukansaatkulitmasihsedikitbasah,
sepertisaathabismandisehinggalotionyangdioleskanakanmempertahankankelembabankulit.
Kompresdinginjugadidugadapatmengurangirasagatalyangterjadi.

Krim atau salep kortikosteroid seperti hydrokortison bisa mengurangi ruam dan
mengendalikanrasagatal.Krimkortikosteroidyangdioleskanpadadaerahyangluas
ataudipakaidalamjangkapanjangbisamenyebabkanmasalahkesehatanyangserius,
karenaobatinidiserapkedalamalirandarah.Untukkasuskasusyangberat,dokter
akanmemberikantabletkortikosteroiddanapabilapadadaeraheksimtelahterinfeksi
maka bisa diberikan antibiotika untuk membunuh bakteri penyebab infeksi.
Mengoleskanjeliminyakatauminyaksayurbisamembantumenjagakehalusandan
kelembabankulit.

Padabeberapapenderita,ruamsemakinmemburuksetelahmerekamandi,bahkan
sabundanairmenyebabkankulitmenjadikeringdanpenggosokandenganhanduk
bisamenyebabkaniritasi.Karenaitudianjurkanuntuklebihjarangmandi,tidakterlau
kuat mengusapusap kulit dengan handuk dan mengoleskan minyak atau pelumas
yangtidakberbau(misalnyakrimpelembabkulit).

Antihistamin (difenhidramin, hidroksizin) bisa mengendalikan rasa gatal, terutama


dengan efek sedatifnya. Obat ini menyebabkan kantuk, jadi sebaiknya diminum
menjelang tidur malam hari. Kuku jari tangan sebaiknya tetap pendek untuk
mengurangikerusakankulitakibatgarukandanmengurangikemungkinanterjadinya
infeksidancyclosporinuntukpenderitayangtidakberesponterhadapsemuajenis
pengobatanyangdiberikan.

Penderitasebaiknyabelajarmengenalitandatandadariinfeksikulitpadadermatitis
atopik(yaitukulitbertambahmerah,pembengkakan,terdapatguratguratmerahdan
demam).Jikaterjadiinfeksi,berikanantibiotik.

M.JENISJENISDERMATITIS

Jenis penyakit yangsering disebut denganeksim olehkebanyakanorangini, mempunyai


beberapajenisdiantaranyadermatitisseboroik,dermatitisatopik(eksim)dandermatitiskontak.

1.DERMATITISKONTAK
Dermatitiskontakadalahinflamasipadakulityangterjadikarenakulittelahterpapar
olehbahanyangmengiritasikulitataumenyebabkanreaksialergi.Dermatitiskontakakan
menyebabkanruamyangbesar,gataldanrasaterbakardanhaliniakanbertahansampai
bermingguminggu.Gejaladermatitiskontakakanmenghilangbilakulitsudahtidakterpapar
olehbahanyangmengiritasikulittersebut.
Dermatitisdibagimenjadi2:
a.DermatitisKontakIritan(DKI)
Dermatitiskontakiritandicetuskandaripaparankebahanyangtoksinatauiritatifke
kulit manusia, dan tidak disebabkan reaksi alergi. DKI terjadi seringkali karena paparan
sabundandeterjen
Epidemiologidanetiologi
Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan
umur, ras, danjenis kelamin. Penyebab munculnya dermatitis jenis ini ialah bahan yang
bersifatiritan,misalnyabahanpelarut,detergen,minyakpelumas,asam,alkali,danserbuk
kayu. Kelainan kulit yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut,
konsentrasi,kohikulum,sertasuhubahaniritantersebut,jugadipengaruhiolehfaktorlain.
Faktoryangdimaksudyaitu:lamakontak,kekerapan(terusmenerusatauberselang)adanya
oklusimenyebabkankulitlebihpermeabel,demikianjugagesekandantraumafisis.Suhudan
kelembabanlingkunganjugaikutberperan.
Faktorindividujugaberpengaruhpadadermatitiskontakiritan,
Gejalaklinis
dermatitiskontakiritanjugaadaduamacamyaitudermatitiskontakiritanakutdan
dermatitis kontak iritan kronis. Dermatititis kontak iritan akut Penyebabnya iritan kuat,
biasanya karena kecelakaan. Kulit terasa pedih atau panas, eritema, vesikel, atau bula.
Dermatitis kontak iritan kronis ialah dermatitis iritan kumulatif, disebabkan oleh kontak
dengan iritan lembah yang berulangulang (oleh faktor fisik, misalnya gesekan, trauma
mikro,kelembabanrendah,panasataudingin;jugabahancontohnyadetergen,sabun,pelarut,
tanah,bahkanjugaair).
Pengobatan
Upaya pengobatan dermatitis kontak iritan yang terpenting adalah menyingkirkan
pajananbahaniritan,baikyangbersifatmekanik,fisikmaupunkimiawi.
b.DERMATITISKONTAKALERGI(DKA)

Dermatitiskontakalergiadalahreaksikekebalantubuhyangterjadipadaseseorang
yangterlalusensitifterhadapbahankimiatertentu.PadaDKA,peradanganmungkinbelum
terjadisampai24?36jamjamsetelahkontakdenganbahankimiatersebut.Bentukalergi
berbedadarisatuorangkeoranglain.Dermatitiskontakbiasanyahanyaterjadiditempat
yangberkontaklangsungdenganallergen
Gejaladantandadematitiskontakantaralain:
Bintikbintikataubenjolankemerahan
Gataldanbengkak
Keluarcairandarikulityangterkenaatautimbullentinglentingdanbulapadakasusyang

berat
Kemerahanataulentingpadakulitterbataspadaareayangterkenasaja

EpidemiolgiDanEtiologi
Biladibandingkandengandermatitiskontakiritan,jumlahpenderitadermatitiskontak
alergiklebihsedikit.Penyebabdermatitiskontakalergikadalahalergen,palingseringberupa
bahankimiadenganberatmolekulkurangdari5001000Da,yangjugadisebutbahankimia
sederhana. Dermatitis yang timbul dipengaruhi oleh potensi sensitisasi alergen, derajat
pajanan,danluasnyapenetrasidikulit
GejalaKlinis
Tangan. Kejadian dermatitis kontak baik iritan maupun alergik paling sering di tangan,

misalnyapadaiburumahtangga.Demikianpulakebanyakandermatitiskontakakibatkerja
ditemukanditangan.Sebagianbesarmemangolehkarenabahaniritan.Bahanpenyebabnya
misalnyadeterjen,antiseptik,getahsayuran/tanaman,semen,danpestisida.
Lengan.Alergenumumnyasamadenganpadatangan,misalnyaolehjamtangan(nikel),

sarungtangankaret,debusemen,dantanaman.
Wajah.Dermatitiskontakpadawajahdapatdisebabkanolehbahankosmetik,obattopikal,

alergen yang di udara, nekel (tangkai kaca mata). Bila di bibir atau sekitarnya mungkin
disebabkan oleh lipstik, pasta gigi, getah buahbuahan. Leher. Penyebanya kalung dari
nikel,catkuku(yangberasaldariujungjari),parfum,alergendiudara,zatwarnapakaian.
Badan. Dermatitis kontak di badan dapat disebabkan oleh pakaian, zat warna, kancing

logam,karet(elastis,busa),plastik,dandetergen.
Genitalia.Penyebabnyadapatantiseptik,obattopikal,nilon,kondom,pembalutwanita,dan

alergenyangadaditangan.

Pahadantungkaibawah.Dermatitisditempatinidapatdisebabkanolehpakaian,dompet,

kunci (nikel) di saku, kaos kaki nilon, obat topikal (misalnya anestesi lokal, neomisin,
etilendiamin),semen,dansepatu.
Pengobatan
Hal yang perlu diperhatikan pada pengobatan dermatitis kontak adalah upaya
pencegahanterulangnyakontakkembalidenganalergenpenyebab,danmenekankelainan
kulityangtimbuldanpemberianobatKortikosteoroiduntukmengatasiperadangan.
2.DERMATITISSEBOROIK
Dermatitis Seboroik (Seborrhoeic Dermatitis, Seborrheic Dermatitis) merupakan
peradangan permukaan kulit berbentuk lesi squamosa (bercak disertai semacam sisik),
bersifat kronis, yang sering terjadi di area kulit berambut dan area kulit yang banyak
mengandungkelenjarsebasea(kelenjarminyak,lemak),sepertikulitkepala,wajah,tubuh
bagianatasdanareapelipatantubuh(ketiak,selangkangan,pantat).
AngkaKejadian
Prevalensi Dermatitis Seboroik diperkirakan sekitar 35 %. Jika ketombe yang
merupakan Dermatitis Seboroik ringan ditambahkan, angka kejadian mencapai 1520 %.
DermatitisSeboroikdapatdialamiolehsemuaras.
Berdasarkanusia,DermatitisSeboroikdapatterjadipadasemuaumur,terutamausia
pubertashinggausia40tahun.Padabayi,DermatitisSeboroikkerapdijumpaidiareakepala
danpelipatantubuh.Berdasarkanjeniskelamin,DermatitisSeboroiksedikitlebihbanyak
dialamipriaketimbangwanita.
Penyebab
PenyebabDermatitisSeboroikhinggakinibelumdiketahuisecarapasti.Faktorfaktor
yangdidugasebagaipenyebabDermatitisSeboroik,antaralain:infeksijamur Malassezia
ovale,faktorimunologi,iklim,genetik,lingkungan,hormonal,danaktifitaskelenjarsebasea
yangberlebihan.
Selainitu,beberapaobatobattertentudidugamemicuterjadinyaDermatitisSeboroik,
seperti: auranofin, aurothioglucose, buspirone, chlorpromazine, cimetidine, ethionamide,
griseofulvin,haloperidol,interferonalfa,lithium,methoxsalen,methyldopa,phenothiazines,
psoralens,stanozolol,thiothixene,dantrioxsalen.
Gejala
Dermatitis Seboroik relatif mudah dikenali karena tandanya yang khas, yakni
dijumpainyakrusta(bercakdisertaisemacamsisik)berminyak.
GejalaPadaBayi:

Diareakepala(bagiandepandansamping)ditandai:krustatebal,pecahpecah,berwarna
kekuningandanberminyak.Tandainidisebutcradlecapkarenabentuknyayangmiriptopi
menutupikulitkepala.
Dibagiantubuhyanglain,ditandai:ruamberwarnakemerahan,merahkekuningan,dengan
krustaberminyakyangmenutupipermukaannya.
GejalaPadaDewasa:
Keluhangatal
Peradanganpadaareaseboroikdengangambaranberbagaibentuklesi,berwarnakemerahan
atau kekuningan disertai dengan adanya skuama, krusta, basah berminyak, dan bisa juga
kering.
Residif (mudah kambuh) dan bersifat kronis. Diduga behubungan dengan faktor stress,
kelelahan,sinarmataharidaniklim.
Pengobatan
Padadasarnya,pengobatanDermatitisSeboroikditujukanuntukmenghilangkanpenyebabnya,
jikapenyebabnyadiketahui,danuntukmeredakangejalanya.

ObatMinum(sistemik):
Antihistaminuntukmeredakangataldanreaksialergi,misalnya:Loratadine10mg,Cetirizine
10mgatauantihisamingolonganlainnya.
Steroid,digunakanpadaDermatitisSeboroikyangberat.Padapemakaianjangkalama,steroid
digunakansecaratapperingdown,yaknidosisobatditurunkansecarabertahapdanberkala.
Antibiotika,digunakanjikaDermatitisSeboroikdisertaiinfeksisekunderolehkumanakibat
garukan,gesekan,danlainlain.
ObatTopikal(obatluar:salep,krim,gel,lotion,shampo,dll)
Krimatausalepsteroid.Padaareawajahdigunakansteroidpotensirendahagarkulitwajah
tidakmenipispadapenggunaanjangkalama.
Krimatausalepyangmengandungasamsalisilat25%,atausulfur4%,atauter2%,atau
ketokonazole2%,atauobatkombinasi.
Shampoyangmengandungasamsalisilat,sulfur,seleniumsulfida2%,zincpirition12%.
Digunakanuntukkeramas23kalisemingguselama510menit,kemudiandibilasdenganair
bersih.
Pencegahan
Sedapat mungkin penderita Dermatitis Seboroik mengamati pemicu timbulnya
kekambuhan.Jikasudahmengenalipemicunya,diupayakanuntukmencegahpaparanfaktor
pemicu.

Pada umumnya penderita Dermatitis Seboroik mengalami kesulitan mengenali


pemicutimbulnyakekambuhan.Haliniwajarmengingatberagamnyafaktorfaktorpemicu.
Kalaupun faktor pemicunya dapat dikenali, tak jarang penderita sulit menghindarinya,
terutamajikafaktorfaktorpemicutersebutmerupakanbagiandarikehidupanseharihari,
misalnyastress,iklimdansejenisnya.
3.DERMATITISATOPI
penyakit dermatitis atopi, pada jenis penyakit dermatitis ini, merupakan keadaan
dimana terjadi peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal. Penyakit ini biasanya
mempunyairiwayat/stigmataatopi(sekelompokpenyakitpadaindividuyangmempunyai
riwayat kepekaan terhadap alergen dalam keluarganya, misalnya asma, bronchial,rintis
alergik).
Penyabab
Meskipun merupakan penyakit warisan, eksim terutama diperburuk oleh kontak
denganalergenatauasupan.
Halinijugadapatdipengaruhiolehfaktorlainyangmempengaruhisistemkekebalan
tubuhsepertistresataukelelahan.
Eksimatopikterdiridariperadangankronis,seringterjadipadaorangdenganriwayat
gangguanalergisepertiasmaataudemamjerami.Tidakadapenyebabtertentudermatitis
atopik.

ASUHANKEPERAWATAN
PADAPASIENDENGANDERMATITIS
I.PENGKAJIAN
1.IdentitasPasien
2.KeluhanUtama:
Biasanyapasienmengeluhgatal,rambutrontok
3.RiwayatKesehatan
a.RiwayatPenyakitSekarang:
Tanyakansejakkapanpasienmerasakankeluhansepertiyangadapadakeluhanutamadan

tindakanapasajayangdilakukanpasienuntukmenanggulanginya.
b.RiwayatPenyakitDahulu:
Apakahpasiendulupernahmenderitapenyakitsepertiiniataupenyakitkulitlainnya.
c.RiwayatPenyakitKeluarga:
Apakahadakeluargayangpernahmenderitapenyakitsepertiiniataupenyakitkulitlainnya.
d.RiwayatPsikososial:

Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang mengalami stress
yangberkepanjangan.
e.RiwayatPemakaianObat:
Apakahpasienpernahmenggunakanobatobatanyangdipakaipadakulit,ataupernahkah
pasientidaktahan(alergi)terhadapsesuatuobat.
II.POLAFUNGSIONALGORDON
1.PolaPersepsidanPenangananKesehatan
Persepsiterhadappenyakit:
Tanyakan kepada klien pendapatnya mengenai kesehatan dan penyakit. Apakah pasien

langsungmencaripengobatanataumenunggusampaipenyakittersebutmenggangguaktivitas
pasien
Penggunaan:
Tanyakan tentang penggunaan obatobat tertentu (misalnya antidepresan trisiklik,
antihistamin, fenotiasin, inhibitor monoamin oksidase ( MAO), antikolinergik dan
antispasmotikdanobatantiparkinson
Tanyakantentangpenggunaanalcohol,dantembakauuntukmengetahuigayahidupklien.
2.PolaNutrisi/Metabolisme
Tanyakanbagaimanapoladanporsimakanseharihariklien(pagi,siangdanmalam)
Tanyakanbagaimananafsumakanklien,apakahadamualmuntah,pantanganataualergi
Tanyakanapakahklienmengalamigangguandalammenelan
Tanyakan apakah klien sering mengkonsumsi buahbuahan dan sayursayuran yang
mengandungvitaminantioksidant
3.PolaEliminasi
TanyakanbagaimanapolaBAKdanBAB,warnadankarakteristiknya
Berapakalimiksidalamsehari,karakteristikurindandefekasi
Adakahmasalahdalamprosesmiksidandefekasi,adakahpenggunaanalatbantuuntukmiksi
dandefekasi
4.PolaAktivitas/Olahraga
Perubahanaktivitasbiasanya/hobisehubungandengangangguanpadakulit
Kekuatan Otot:Biasanya klien tidak ada masalah dengan kekuatan ototnya karena yang
tergangguadalahkulitnya
KeluhanBeraktivitas:kajikeluhankliensaatberaktivitas.
5.PolaIstirahat/Tidur
Kebiasaan:tanyakanlama,kebiasaandankualitastidurpasien
MasalahPola Tidur: Tanyakan apakahterjadi masalah istirahat/tiduryang berhubungan
dengangangguanpadakulit
Bagaimanaperasaankliensetelahbanguntidur?Apakahmerasasegaratautidak?
6.PolaKognitif/Persepsi
Kajistatusmentalklien
Kajikemampuanberkomunikasidankemampuankliendalammemahamisesuatu

Kaji tingkat anxietas klien berdasarkan ekspresi wajah, nada bicara klien. Identifikasi
penyebabkecemasanklien
Kajipenglihatandanpendengaranklien
Kajiapakahklienmengalamivertigo
Kajinyeri:Gejalanyayaitutimbulgatalgatalataubercakmerahpadakulit.
7.PolaPersepsidanKonsepDiri
Tanyakanpadaklienbagaimanaklienmenggambarkandirinyasendiri,apakahkejadianyang
menimpaklienmengubahgambarandirinya
Tanyakanapayangmenjadipikiranbagiklien,apakahmerasacemas,depresiatautakut
Apakahadahalyangmenjadipikirannya
8.PolaPeranHubungan
Tanyakanapapekerjaanpasien
Tanyakantentangsystempendukungdalamkehidupanklienseperti:pasangan,teman,dll.
Tanyakanapakahadamasalahkeluargaberkenaandenganperawatanpenyakitklien
9.PolaSeksualitas/Reproduksi
Tanyakanmasalahseksualklienyangberhubungandenganpenyakitnya
Tanyakankapanklienmulaimenopausedanmasalahkesehatanterkaitdenganmenopause
Tanyakanapakahklienmengalamikesulitan/perubahandalampemenuhankebutuhanseks
10.PolaKopingToleransiStres
TanyakandankajiperhatianutamaselamadirawatdiRS(financialatauperawatandiri)
Kaji keadan emosi klien seharihari dan bagaimana klien mengatasi kecemasannya
(mekanismekopingklien).Apakahadapenggunaanobatuntukpenghilangstressatauklien
seringberbagimasalahnyadenganorangorangterdekat.
11.PolaKeyakinanNilai
Tanyakanagamakliendanapakahadapantanganpantangandalamberagamasertaseberapa
taatklienmenjalankanajaranagamanya.OrangyangdekatkepadaTuhannyalebihberfikiran
positif.
III.PEMERIKSAANFISIK
a.Subjektif:
Gatal
b.Objektif:
Skuamakering,basahataukasar
Krustakekuningandenganbentukdanbesarbervariasi(Yangseringditemuipadakulit

kepala, alis, daerah nasolabial belakang telinga, lipatan mammae, presternal, ketiak,
umbilikus,lipatbokong,lipatpahadanskrotum)
Kerontokanrambut
IV.DIAGNOSAKEPERAWATAN
1.Ganguanintegritaskulitb.dkekeringanpadakulit
Kriteriahasil: klienakanmempertahankankulitagarmempunyaihidrasiyangbaikdan

turunnyaperadangan,ditandaidengan:

Mengungkapkanpeningkatankenyamanankulit
Berkurangnyaderajatpengelupasankulit
Berkurangnnyakemerahan
Berkurangnyalecetkarenagarukan
Penyembuhanareakulityangtelahrusak
Intervensi:
a. Mandipalingtidaksekalisehariselama1520menit.Segeraoleskansalepataukrimyang
telahdiresepkansetelahmandi.Mandilebihseringjikatandadangejalameningkat.
Rasionalisasi : dengan mandi air akan meresap dalam saturasi kulit. Pengolesan krim
pelembabselama24menitsetelahmandiuntukmencegahpenguapanairdarikulit.
b.Gunakanairhangatjanganpanas
Rasionalisasi:airpanasmenyebabkanvasodilatasiyangakanmeningkatkanpruritus.
c.Gunakansabunyangmengandungpelembabatausabununtukkulitsensitive.Hindarimandi
busa
Rasionalisasi:sabunyangmengandungpelembablebihsedikitkandunganalkalindantidak
membuatkulitkering,sabunkeringdapatmeningkatkankeluhan.
d.Oleskan/berikansalepataukrimyangtelahdiresepkan2atautigakaliperhari.
Rasionalisasi:salepataukrimakanmelembabkankulit.
2.Resikokerusakankulitb.dterpaparalergen
Kriteriahasil:klienakanmempertahankanintegritaskulit,ditandaidengan:
Menghindarialergen
Intervensi:
a.Ajariklienmenghindariataumenurunkanpaparanterhadapalergenyangtelahdiketahui.
Rasionalisasi:menghindarialergenakanmenurunkanresponalergi
b.Bacalabelmakanankaleng
Rasionalisasi:agarterhindardaribahanmakanyangmengandungallergen
c.Hindaribinatangpeliharaan.
Rasionalisasi:jikaalergiterhadapbulubinatangsebaiknyahindarimemeliharabinatangatau
batasikeberadaanbinatangdisekitararearumah
d.Gunakanpenyejukruangan(AC)dirumahatauditempatkerja,bilamemungkinkan.
Rasionalisasi: ACmembantumenurunkanpaparanterhadapbeberapaalergenyangadadi
lingkungan.
3.Perubahanrasanyamanb.dpruritus
Kriteriahasil:klienmenunjukkanberkurangnyapruritus,ditandaidengan:
Berkurangnyalecetakibatgarukan
Klientidurnyenyaktanpaterganggurasagatal
Klienmengungkapkanadanyapeningkatanrasanyaman
Intervensi:
a. Jelaskangejalagatalberhubungandenganpenyebanya(misalkeringnyakulit)danprinsip
terapinya(misalhidrasi)dansiklusgatalgarukgatalgaruk.

Rasionalisasi: denganmengetahuiprosesfisiologisdanpsikologisdanprinsipgatalserta
penangannyaakanmeningkatkanrasakooperatif.
b. Cucisemuapakaiansebelumdigunakanuntukmenghilangkanformaldehiddanbahankimia
lainsertahindarimenggunakanpelembutpakaianbuatanpabrik.
Rasionalisasi:pruritusseringdisebabkanolehdampakiritanatauallergendaribahankimia
ataukomponenpelembutpakaian.
c. Gunakandeterjenringandanbilaspakaianuntukmemastikansudahtidakadasabunyang
tertinggal.
Rasionalisasi:bahanyangtertinggal(deterjen)padapencucianpakaiandapatmenyebabkan
iritasi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA DERMATITIS DAN EXZEMA.

I.

EXZEMA / DERMATITIS.

A. DEFINISI.

Merupakan reaksi inflamasi kulit terhadap unsur unsur fisik, kimia, biologi.
( brunner and suddarth , 2002 )
Reaksi peradangan kulit yang karacteristic terhadap berbagai rangsangan
endogen ataupun exogen ( harahap M. 2000 ).
Exzema dari bhs yunani eksein : menggambarkna epidermis mengalami
spongioisis yaitu adanya vesikula intraepidermal yang terjadi karena adanya
edema interseluler.

B.

Tipe dermatitis secara umum.

A. Dermatitis endogen
B.

Dermatitis eksogen

C.

Dermatitis yang belum jelas penyebabnya.

1.

Dermatitis endogen terbagi menjadi:

Dermatitis atopik, seboroik, liken simpleks kronis, dermatitis nonspesifik


( pompoliks, D. numuler, D. xerotik, D. otosensitisasi ) dan D. karena obat.
2.

Dermatitis Eksogen terbagi menjadi : kontak iritan, D. kontak iritan, D. foto


alergik, D. infektif, Dan dermatofitid.

A. Dermatitis .
a.

Macam macam dermatitis.


Dermatitis atopik adalah dermatitis yanmg tejadi pada seseorang yang
mempunyairiwayat atopi.

Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang sering terjadi pada


daerah tubuh berambut terutam pada kulit kepala alis mata dan muka, kronik
dan superfisialis.

Liken simplek kronik adalah dermatitis dengan penebalan kulit dari


jaringan tanduk karena garukan ataugosokan yang berulang ulang.

Dermatitis stasis adalah dermatitis yangterjadi akibat adanya gangguan


aliran darah vena ditungkai bawah.

Dermatitis / exzema nonspesifik adalah suatu erupsi epidermal yang dapat


berlangsung akut, kranik, terlokalisasi dan generalis.

D. Pomfolik adalah dermatitis yang ditandai dengan adanya vesikula yang


dalam, mengenai telapak tangan / kaki, dan jari jari.

D. otosensitisasi merupakan perluasan yang ceapat dari reksi exzematus


atau vesikuler.

D. numuler adalah dermatitis yang bentuk lesinya bulat seperti uang logam.

D. xerotik merupakan dermatitis yang terjadi pada musim dingin dan banyak
dijumpai pada orang tua dan punya predisposisi.

D. medikamentosa adalah peradangan pada kulit akibat reaksi dari obat.

D. kontak adalah dermatitis yang disertai dengan adanya spongiosis / edema


interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi langsung dengan bahan
kimia.

D. infektif adalah dermatitis yang disebabkan oleh mikroorganisme atau


produknya dan menyembuh jika organismenya sudah diobati.

Dermatofitid : adalah Reaksi alergi dari dermatifites

D. eksfolatifa generalisata adalah peradangan yang ditandai dengan


adanya eritema, dan skuama yang hampir mengenai seluruh tubuh.

a. Pengertian dermatitis Atopik.


Sinonim : prurigo besnier, neurodermatitis, desimenata, exzema konstitusional.
DA adalah dermatitis yg terjadi pada orang yang mempunyai riwayat atopi.
Atopi bersal dari bhs yunani berarti: penyakit aneh / hipersensitivitas.

b.

Etiologi.
Bahan iritan, allergen ( sabun, deterjen, bahan pembersih, dan kimia industri
yang lain).

c.

Manifestasi klinik.
Rasa gatal, eritema, perubahan histologik dengan sel Radang yang bulat,
edema eridermal yang spongiostik, edema, papula, vesikel serta perembasan

cairan atau secret, pengelupasan kulit, likenifikasi, pigmentasi.


Sering terjadi pada muka, lipatan kulit ( fosa cubiti, poplitea ).
Pembentukan krusta, pengeringan, pembentukan fissura.
d.

Faktor predisposisi

Asma, konjungtivitis alergik, rinitis alergika, urtikaria dan Reaksi dari


makanan.
Keadaan panas dingin yang extrem
Kontak dengan iritan dengan frekuensi yang sering
Penyakt kulit yang ada sebelumnya.

e.

Patofisiologi
Peningkatan Imunoglobin E ( Ig E ) dalam darah / tubuh serta terjadi
peningkatan histamin kulit dan darah sebagai marker untuk adanya aktifitas
sel mast dan basofil.
Sel langerhans juga meningkat.

Pada lesi yang akut djumpai spongiosis, vesikula, dan edema interselular, sel
peradangan yang domonan adalah limfosit. Sel endotel mengalami hipertropi,
pada lesi likenifikasi yang kronis dijumpai penebalan epidermal serabut saraf
mengalami demielinisasi dan sclerosis akibat dari iskemi.

faktor turunan atauy genetic juga bisa, yang diturunkan secara outosomal,
resesif autosomal, dan multifactoral.

Faktor imunologi : Peningkatan Imunoglobin E ( Ig E ) dalam darah / tubuh


serta terjadi peningkatan histamin kulit dan darah sebagai marker untuk adanya
aktifitas sel mast dan basofil.
Peningkatan aktivitas limfosit karena pengaruh dari IL 4 , yang dipengaruhi oleh
aktifitas sel T helper.
sel TH2 merangsang sel B memproduksi Ig E.

f.

Diagnosis

Dagnosis ditegakan apabila ada tiga criteria mayor dan ditambah 3 kriteria
minor , serta criteria Svensson, criteria William dan criteria berdasarkan SCORAD
yang menggunakan foto berwarna.

g. Penatalaksanaan.
1.
-

Tindakan umum:
Memberitahu rencana pengobatan yang akan diberikan pada klien

keluarga.

Latihan gerak ringan untuk menghilangkan gelisah.

Mempertahankan kelembaban ruangan 50% - 60 % untuk mencegah

kekeringan kulit.

Mandi berendam denga air yang telah ditambah bahan minyak .

Hindari rangsanga pada kult .

Hindari bahan pembersih yang dapa tmerangsang kulit.

Hindari faktor pencetus.( seperti makanan, mikroba, allergen dll )

2.

Pengobatan :

kortikosteroid.

Antihistamin.( klorfenraminel, hydroxizine dll.)

Antibiotik : kloxasiline, eritromisine, sefalosporin dll.)

Hindari faktor penyebab.


-

Kompres yang sejuk dan basah.

Perhatian

Untuk mencegah dermatitis berulang :


-

Pelajari pola dan lokasi dermatitis dan coba ingat benda apa yang terakhir
emnempel pada pada kult.
Hindari benda / bahan yang dapat menyebabkan Reaksi dermatitis.

Hindari panas, sabun, dan gosokan,

Hindari pemakain obat secara bebas.

Mengistirahatkan kulit yang sakit dan melindungi dari kerusakan lebih lanjut.

kajian.

1).

Riwayat kesehatan ( awitan , tanda dan gejala, lokasi, dan durasi nyeri, gatal
gatal, ruam gangguan ras nyaman).

2).

Riwayat alergi kulit

3).

Reaksi lergi t erhadap makanan

4).

Raeksi alergi terhadap obat kimia

5).

Riwayat penyakit kulit sebelumnya.

6).

Riwayat kanker.

osis dan Intervensi.

ritas kulit b/d kerusakan barier kulit

ulit.

lindungi kulit yang sehat terhadap kemungkinan maserasi.

Hilangkan kelembaban dengan menutulkan untuk menghisap dan menghindari


friksi.

Jaga dengan cermat terhadap resiko terjadinya cidera termal akibat


penggunaan compress hangat dengan suhu yang terlalu tinggi.

Anjurkan pasien menggunakan kosmetik dan preparat tabir surya.

Upayakan untuk mnenemukan penyebab gangguan rasa


nyaman
Mencatat hasik obervasi secra rinci dengan memekai
terminology deskriptif.
Mengantisipasi Reaksi alergi yang mungkin terjadi.
2.

Kendalikan faktor faktor iritan:

Perthankan kelembaban kira- kira 50 % gunakbn alat pelembab.

Pertahankan lingkungan yang dingin.


Gunakan sabun ringan
Lepaskan kelebihan pakaian dan peralatan ditempat tidur.
Hentikan pemajanan berulang terhadap deterjen pembersih dan pelarut.

c.

Gangguan citra tubuh b/d penampakan kulit yang tidak baik.

1.

Kaji adanya gangguan citra tubuh

2.

Identifikaasi stadium psikososial tahap perkembangan

3.

Berikan kesempatan untuk pengungkapan.

4.

Beikan support pada klien untuk mengenal dirinya dan mengembangkan dan
memperbaiki citra diri.

5.

Membantu klien kearah penerimaan diri.

6.

Mendorong sosialisasi dengan orang lain.

7.

Memberikan nasehat kepada klien mengenai cra cara perawatan kosmetik


untuk menyembunyikan kondisi kulit yang abnormal.

d.
1.
2.
3.

Kurang pengetahuan tentang perawatan kulit.

Tentukan apakah pasien mengetahui tentang kondisi dirinya.


Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar memperbaiki
kesl;ahanperepsi.
peragaan penerapan terapi yan diprogramkan.

4.
5.

Berikan nasehat kapada pasien untuk menjaga agar kulit tetap lembab dan
fleksibel dengan tindakan hidarsi dan pengolesan krim serta losionkulit.
Dorong pasien untuk mendapatkan status nutrisi yang sehat.
V.

Evaluasi.

Hasil yang diharapkan :

1.

Pemeliharaan / mempertahankan integriras kulit.

menunjukan tidak adanya keretakan kulit.

Melindungi kulit terhadap kontak dengan substansi yang iritatif.

Mengoleskan preparat emolien pada kulit


2.

Memenuhi kebutuhan rasa aman dan nyaman.

Menggunakan preparat topical dan menjalani terapi yang telah diprogramkan.

Melaporkan peredaran rasa gatal.

3.

memperlihatkan Pengembangan peningkatan penerimaan diri;

lebuh sedikit mengucapkan kata kata yang mencela diri.

Memberikan perhatian terhadap penampakan diri.

4.

mencapai tidur yang lebih nyenyak.

o Menyatakan bahwa tidur lebih nyenyak.


o Melaporkan bahwa hidup lebih sehat.

5.

Pemahaman tentang perwatan diri.

Mengucapkan dengan kata kata dasar pemikiran untuk terapi yang


diprogramkan.
Memperlhatkan kemampuan untuk melaksanakan perawatan diri.

Criteria diagnosis Dermatitis Atopik dari hanifin dan rajka

N
o

Criteria moyor

Criteria minor

1.

Pruritus

Kulit kering ( xerosis ).

2.

Adanya riwayat atopik

Keratosis

3.

Kronis dan sering kambuh

Reaktivits uji kulit tipe I

4.

Klinis dan distribusi yang khas:

Kadar Ig E meningkat.( > 2000 IU ).

Lipatan kulit mengalami likenifikasi.

Dimulai pada usia dini.( 3 6


bulan ).

Mengenai muka dan bagian


extensor pada bayi dan anak
anak.

Terdapat infeksi kulit.


Eksema pada putting susu
Cheilitis , konjungtivitis yang
berulang ulang, dll.

Criteria diagnosis Dermatitis Atopik dari Svennson


N
o

Kelompok I (nilai 3 ).

1.

Perjalanan penyakit dipengaruhi musim


Xerosis.
Diperburuk dengan kegangan jiwa.
Kulit sangat kering.
Gatal pada kulit yang sehat saat berkeringat.
Serum Ig E 80 IU /ml.
Menderita rinitis alergik.

Iritasi dengan tekstil.


Eksema pada tangan pada masa kanakkanak.dermatitis atopik.

2.

Kelompok II ( nilai 2 ).
Kulit muka pucat
Dermatitis pada buku jari2x tangan.
Dermatitis nnumuler.
Penderita punya asma, keratosis, alergi thd makanan,.
Eksema putting susu.

3.

Kelompok III ( nilai 1 ).


Pomfolik
Iktiosis
Lipatan denni morga.

Criteria diagnosis Dermatitis Atopik dari William

Criteria

Keterangan

Harus ada :

Rasa gatal( pada anak ada bekas


garutan ).

Ditambah tiga / lebih

Terkena daerah lipatan siku, paha,


lutut, didepan mata kaki, sekitar
leher,pada pipi untuk anak dibawah
10 tahun).
Anamnesis ada riwayat atropi, asma,
demam.
Kulit kering secara menyeluruh.
Eksema pada lipatan ( termasuk pipi,
kening badan luar [pada anak .< 4

tahun).
Mengenai umur <2 tidak digunakan
untuk anak dibawah tahun.

Tingkatan dermatitis atopik


No
.
1.

Criteria

Nilai

Luasnya kelainan kulit.


Fase anak anak dan dewasa / remaja

2.

3.

4.

< 9 % luas tubuh

9 % - 36 %

> 36 % luas tubuh.

Fase infantile
18 % luas tubuh terkena

18 % - 54 %

54 % luas tubuh terkena.

Perjalanan penyakit
Remisi > 3 bulan dalam 1 tahun

Remisi < 3 bulan dalam 1 tahun

Kambuhan

Intensitas penyakit.
Gatal ringan kadang kadang terganggu
tidur.
Gatal sedang
Gatal hebat selalu ganggu tidur.

Penilaian :

1
2
3

34

: Ringan

4,5 7,5

: Sedang

8,5 9

: Berat

Stadium Exzema / Dermatitis.

No

Stadium

Pengobatan

1.

Akut ( ada vesikula, edema, eksudasi,


krusta,, erosi )

Kompres da krim hyrofilik.

2.

Subakut ( eritema, edema, papula,


skuama yang basah ).

Krim anti flogistik, pasta


yang lembut.

3.

Kronik ( deskuamasi yg kering,


likenifikasi, infiltrat paula. )

Salap hydro s/d lipofilik.

4.

Hyperkeratosis

Keratofilik, salap rehidrasi


yang mnegandung asam
salisil, urea, Nacl 4 12 jam
tertutup.

5.

Eksudasi , lesi maserasi.

Keringkan dengan kompres


yg mengandung air/ alkohol,
/pasta.

5.

Semua stadium

Mandi berendam.

Tipe tipe preparat kortikosteroid topical yang sering


digunakan.m
No

Potensi

Preparat kortikosteroid.

1.

Paling rendah

Deksametason 0.1%
Hirokortison 0.25 2.5 %
Metilprednisolon 0.1/1 %

2.

Rendah

Betametason 0.01 %
Klokortolon / cloderm 0.1 %
Hidrokortison valerat 0.2 %

3.

Sedang

Betametason benzoat 0.01%


Cordran 0.05 %

4.

Tinggi

Amsinonid / cyclokort 0.1 %


Halog 0.1 %

5.

Paling tinggi

Betametason dipropionat
0.05 %
Klobetasol propionat 0.05%

LAPORAN PENDAHULUAN
A. Definisi
Dermatitis adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap paparan bahan
iritan eksternal yang mengenai kulit. (Gell dan Coombs: ).
Dermatitis adalah epidermo yang berupa gejala subyektif pruritus dan obyektif tampak
imflamasi eritema( arief masjoer.1998.Kapita Selekta.Edisi 3.Jakarta:EGC).
Dermatitis adalah peradangan pada kulit ( umlamasi pada kulit ) yang disertai dengan
pengelupasan kulit ari( Brunner dan Suddart dan pembentukkan sisik 2000 ).
Kata dermatitis berarti adanya inflamasi pada kulit. Ekzema merupakan bentuk khusus
dari dermatitis. Beberapa ahli menggunakan kata ekzema untuk menjelaskan inflamasi yang
dicetuskan dari dalam pada kulit. Prevalensi dari semua bentuk ekzema adalah 4,66%,
termasuk dermatitis atopik 0,69%, eczema numular 0,17%, dan dermatitis seboroik 2,32%
yang menyerang 2% hingga 5% dari penduduk.1-3

Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan yang timbul melalui
mekanisme non imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan mekanisme
imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan meka nisme imunologik yang
spesifik.
Dermatitis kontak iritan adalah efek sitotosik lokal langsung dari bahan iritan pada
sel-sel epidermis, dengan respon peradangan pada dermis. Daerah yang paling sering terkena
adalah tangan dan pada individu atopi menderita lebih berat. Secara definisi bahan iritan kulit
adalah bahan yang menyebabkan kerusakan secara langsung pada kulit tanpa diketahui oleh
sensitisasi. Mekanisme dari dermatis kontak iritan hanya sedikit diketahui, tapi sudah jelas
terjadi kerusakan pada membran lipid keratisonit.
Menurut Gell dan Coombs dermatitis kontak alergik adalah reaksi hipersensitifitas tipe
lambat (tipe IV) yang diperantarai sel, akibat antigen spesifik yang menembus lapisan
epidermis kulit. Antigen bersama dengan mediator protein akan menuju ke dermis, dimana
sel limfosit T menjadi tersensitisasi. Pada pemaparan selanjutnya dari antigen akan timbul
reaksi alergi.
B. Anatomi Fisiologi
Fisiologi
kulit terdiri dari

Epidermis

Dermis

Lemak subkutan
1. epidermis

Paling luar, ketebalan < 1 mm

Dibagi menjadi 5 lapisan : Stratum corneum, Stratum lusidum, Stratum granulosum, Stratum
spinosum, Stratum basale

> sel utama yang berdiferensiasi adalah keratinosit > keratin (suatu protein fibrosa)

Proses migrasi sel epiermis > 28 hari

> melanosit > melanosoma > melanin

2. dermis

Terdiri dari serabut kolagen elastin dan retikulin kulit kuat dan lentur

Mempunyai pembuluh darah dan saraf

Terdapat limposit, histiosit, sel mast, leukosit

Adneksa: rambut, kuku kel ekrin, sebasea dan apokrin


3. Lemak subkutan

Isolasi suhu dan penyimpanan energi

Daya tarik sexual

Kelenjar keringat, kecuali telinga

Kelenjar sebasea; di dada, wajah, punggung aktivitasnya diatur oleh homon


Kulit

Dapat dilihat, diraba, menjamin kelangsungan hidup

Menyokong penampilan dan kepribadian

Mempunyai arti estetik, ras

Komunikasi non verbal


Fungsi kulit

Proteksi

Absorpsi

Ekskresi

Persepsi sensori
Kelenjar sekitar kulit

Kelenjar keringat

Kelenjar ekrin
Kecil, dangkal I ermis, bermuara di permukaan kulit, sekret encer 1,5 lt/24 jam, pada
udara panas/kering 6 lt/24 jam. Sekresi dipengaruhi stress emosional, panas, sara simpatis

Kelenjar apokrin
Letak lebih dalam, sekresi kental, terdapat pada axila, areola mamae, pubis.

Kelenajr sebasea

Terdapat di permukaan kulit, kecuali telapak tangan+kaki

Terletak I samping akar rambut, muara pada folikel rambut

Sekresi sebum hormon androgen, pada remaja meningkat, menopause+manula menurun


rambut

Fungsi: memberi lap[isan lemak pada kulit, kuku, rambut, menahan evaporasi

Struktur keratin, 100.000 folikel rambut di kepala, N : 100-150 rambut gugur/hr

Warna ditentukan oleh kuantitas melanin, bila putih ada kegagalan membentik melanin

Siklus pertumbuhan rambut; fase pertumbuhan, atropi, istirahat(rontok)

Stressor lokal dan sistemik rontok


Kuku

Bagian terminal lapisan tanduk yang menebal (stratun corneum).

Tdd; akar kuku (bagian yang terbenam di dalam kulit jari), badan kuku; bagian atas jaringan
lunak ujung jari

Tumbuh 1 mm/mg, kontinue selama hidup

Fungsi melindungi jaringan dengan khususnya rabaan halus unung jari

C.

Etiologi
1. Dermatitis Kontak Iritan
Penyebab munculnya dermatitis kontak iritan ialah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan
pelarut, detergen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu. Kelainan kulit yang terjadi
selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut, konsentrasi, kohikulum, serta suhu bahan
iritan tersebut, juga dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor yang dimaksud yaitu : lama kontak,
kekerapan (terus-menerus atau berselang) adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeabel,
demikian juga gesekan dan trauma fisis. Suhu dan kelembaban lingkungan juga ikut
berperan.
Faktor individu juga berpengaruh pada dermatitis kontak iritan, misalnya perbedaan
ketebalan kulit di berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas; usia (anak di
bawah umur 8 tahun lebih mudah teriritasi); ras (kulit hitam lebih tahan dari pada kulit putih);
jenis kelamin (insidens dermatitis kontak iritan lebih tinggi pada wanita); penyakit kulit yang
pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan turun), misalnya
dermatitis
2. Dermatitis Kontak Alergi

atopik

Dermatitis kontak alergi disebabkan karena kulit terpapar oleh bahan-bahan tertentu,
misalnya alergen, yang diperlukan untuk timbulnya suatu reaksi alergi. Hapten merupakan
alergen yang tidak lengkap (antigen), contohnya formaldehid, ion nikel dll. Hampir seluruh
hapten memiliki berat mo lekul rendah, kurang dari 500- 1000 Da. Dermatitis yang timbul
dipengaruhi oleh potensi sensitisasi alergen, derajat pajanan dan luasnya penetrasi di kulit.
Dupuis dan Benezra membagi jenis -jenis hapten berdasarkan fungsinya yaitu:
1.Asam, misalnya asam maleat.
2.Aldehida, misalnya formaldehida.
3.Amin, misalnya etilendiamin, para-etilendiamin.
4.Diazo, misalnya bismark-coklat, kongo- merah.
5.Ester, misalnya Benzokain
6.Eter, misalnya benzil eter
7.Epoksida, misalnya epoksi resin
8.Halogenasi, misalnya DNCB, pikril klorida.
9.Quinon, misalnya primin, hidroquinon.
10.Logam, misalnya Ni2+, Co2+,Cr2+, Hg2+.
11.Komponen tak larut, misalnya terpentin.

D. Manifestasi Klinik
Penderita umumnya mengeluh gatal. Kelainan bergantung pada keparahan dermatitis.
Dermatitis kontak umumnya mempunyai gambaran klinis dermatitis, yaitu terdapat
efloresensi kulit yang bersifat polimorf dan berbatas tegas. Dermatitis kontak iritan umunya
mempunyai ruam kulit yang lebih bersifat monomorf dan berbatas lebih tegas dibandingkan
dermatitis
1. Fase akut.

kontak

alergik.

Kelainan kulit umumnya muncul 24-48 jam pada tempat terjadinya kontak dengan bahan
penyebab. Derajat kelainan kulit yang timbul bervariasi ada yang ringan ada pula yang berat.
Pada yang ringan mungkin hanya berupa eritema dan edema, sedang pada yang berat selain
eritema dan edema yang lebih hebat disertai pula vesikel atau bula yang bila pecah akan
terjadi erosi dan eksudasi. Lesi cenderung menyebar dan batasnya kurang jelas. Keluhan
subyektif berupa gatal

2. Fase Sub Akut


Jika tidak diberi pengobatan dan kontak dengan alergen sudah tidak ada maka proses akut
akan menjadi subakut atau kronis. Pada fase ini akan terlihat eritema, edema ringan, vesikula,
krusta

dan

pembentukan

papul-papul.

3.Fase Kronis
Dermatitis jenis ini dapat primer atau merupakan kelanjutan dari fase akut yang hilang timbul
karena kontak yang berulang-ulang. Lesi cenderung simetris, batasnya kabur, kelainan kulit
berupa likenifikasi, papula, skuama, terlihat pula bekas garukan berupa erosi atau ekskoriasi,
krusta serta eritema ringan. Walaupun bahan yang dicurigai telah dapat dihindari, bentuk
kronis ini sulit sembuh spontan oleh karena umumnya terjadi kontak dengan bahan lain yang
tidak dikenal.

E. Patofisiologi
Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh
bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, dalam
beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut akan berdifusi melalui
membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Dengan
rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan

asam arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan
dilatasi pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan system
kinin. Juga akan menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan
membebaskan histamin, prostaglandin dan leukotrin. PAF akan mengaktivasi platelets yang
akan menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan merangsang ekspresi gen dan
sintesis protein. Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratisonit dan keluarnya
mediator- mediator. Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak alergik
sangat

tipis

yaitu

dermatitis

kontak

iritan

tidak

melalui

fase

sensitisasi.

Ada dua jenis bahan iritan yaitu : iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan menimbulkan
kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang, sedang iritan lemah hanya
pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulang-ulang. Faktor kontribusi,
misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklusi, mempunyai andil pada terjadinya
kerusakan tersebut.

F. Pemeriksaan Penunjang
Alergi kontak dapat dibuktikan dengan tes in vivo dan tes in vitro. Tes in vivo dapat
dilakukan dengan uji tempel. Berdasarkan tehnik pelaksanaannya dibagi tiga jenis tes tempel
yaitu

1. Tes Tempel Terbuka


Pada uji terbuka bahan yang dicurigai ditempelkan pada daerah belakang telinga karena
daerah tersebut sukar dihapus selama 24 jam. Setelah itu dibaca dan dievaluasi hasilnya.
Indikasi

uji

tempel

2. Tes Tempel Tertutup

terbuka

adalah

alergen

yang

menguap.

Untuk uji tertutup diperlukan Unit Uji Tempel yang berbentuk semacam plester yang pada
bagian tengahnya terdapat lokasi dimana bahan tersebut diletakkan. Bahan yang dicurigai
ditempelkan dipunggung atau lengan atas penderita selama 48 jam setelah itu hasilnya
dievaluasi.
3.Tes tempel dengan Sinar
Uji tempel sinar dilakukan untuk bahan-bahan yang bersifat sebagai fotosensitisir yaitu
bahan-bahan yang bersifat sebagai fotosensitisir yaitu bahan yang dengan sinar ultra violet
baru akan bersifat sebagai alergen. Tehnik sama dengan uji tempel tertutup, hanya dilakukan
secara duplo. Dua baris dimana satu baris bersifat sebagai kontrol. Setelah 24 jam
ditempelkan pada kulit salah satu baris dibuka dan disinari dengan sinar ultraviolet dan 24
jam berikutnya dievaluasi hasilnya. Untuk menghindari efek daripada sinar, maka punggung
atau bahan test tersebut dilindungi dengan secarik kain hitam atau plester hitam agar sinar
tidak

bisa

menembus

bahan

tersebut.

Untuk dapat melaksanakan uji tempel ini sebaiknya penderita sudah dalam keadaan tenang
penyakitnya, karena bila masih dalam keadaan akut kemungkinan salah satu bahan uji tempel
merupakan penyebab dermatitis sehingga akan menjadi lebih berat. Tidak perlu sembuh tapi
dalam keadaan tenang.

G. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik yang baik
adalah mengidentifikasi penyebab dan menyarankan pasien untuk menghindarinya, terapi
individual yang sesuai dengan tahap penyakitnya dan perlindungan pada kulit.
1.Pencegahan
Merupakan hal yang sangat penting pada penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak
alergik. Di lingkungan rumah, beberapa hal dapat dilaksanakan misalnya penggunaan sarung

tangan karet di ganti dengan sarung tangan plastik, menggunakan mesin cuci, sikat bergagang
panjang, penggunaan deterjen.
2.Pengobatan
Pengobatan

yang

diberikan

dapat

berupa

pengobatan

topikal

dan

sistemik.

a. Pengobatan topical
Obat-obat topikal yang diberikan sesuai dengan prinsip-prinsip umum pengobatan dermatitis
yaitu bila basah diberi terapi basah (kompres terbuka), bila kering berikan terapi kering.
Makin akut penyakit, makin rendah prosentase bahan aktif. Bila akut berikan kompres, bila
subakut diberi losio, pasta, krim atau linimentum (pasta pendingin ), bila kronik berikan
salep. Bila basah berikan kompres, bila kering superfisial diberi bedak, bedak kocok, krim
atau pasta, bila kering di dalam, diberi salep. Medikamentosa topikal saja dapat diberikan
pada kasus-kasus ringan.
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Untuk menetapkan bahan alergen penyebab dermatitis kontak alergik diperlukan anamnesis
yang teliti, riwayat penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisik dan uji tempel.
Anamnesis ditujukan selain untuk menegakkan diagnosis juga untuk mencari kausanya.
Karena hal ini penting dalam menentukan terapi dan tindak lanjutnya, yaitu mencegah
kekambuhan. Diperlukan kesabaran, ketelitian, pengertian dan kerjasama yang baik dengan
pasien. Pada anamnesis perlu juga ditanyakan riwayat atopi, perjalanan penyakit, pekerjaan,
hobi, riwayat kontaktan dan pengobatan yang pernah diberikan oleh dokter maupun
dilakukan sendiri, obyek personal meliputi pertanyaan tentang pakaian baru, sepatu lama,
kosmetika, kaca mata, dan jam tangan serta kondisi lain yaitu riwayat medis umum dan
mungkin faktor psikologik.

Pemeriksaan fisik didapatkan adanya eritema, edema dan papula disusul dengan
pembentukan vesikel yang jika pecah akan membentuk dermatitis yang membasah. Lesi pada
umumnya timbul pada tempat kontak, tidak berbatas tegas dan dapat meluas ke daerah
sekitarnya. Karena beberapa bagian tubuh sangat mudah tersensitisasi dibandingkan bagian
tubuh yang lain maka predileksi regional diagnosis regional akan sangat membantu
penegakan

diagnosis.

Kriteria

diagnosis

dermatitis

kontak

alergik

adalah

1. Adanya riwayat kontak dengan suatu bahan satu kali tetapi lama, beberapa kali atau satu
kali

tetapi

2.Terdapat

sebelumnya
tanda-tanda

pernah

atau

dermatitis

sering

kontak

terutama

dengan

pada

bahan

tempat

serupa.
kontak.

3. Terdapat tanda-tanda dermatitis disekitar tempat kontak dan lain tempat yang serupa
dengan tempat kontak tetapi lebih ringan serta timbulnya lebih lambat, yang tumbuhnya
setelah pada tempat kontak.
4. Rasa gatal
5.Uji
Berbagai

tempel
jenis

dengan
kelainan

bahan
kulit

yang

banding

yang
harus

dicurigai
dipertimbangkan

hasilnya

positif.

dalam

diagnosis

adalah

1. Dermatitis atopik : erupsi kulit yang bersifat kronik residif, pada tempat-tempat tertentu
seperti lipat siku, lipat lutut dise rtai riwayat atopi pada penderita atau keluarganya. Penderita
dermatitis atopik mengalami efek pada sisitem imunitas seluler, dimana sel TH2 akan
memsekresi IL-4 yang akan merangsang sel Buntuk memproduksi IgE, dan IL-5 yang
merangsang pembentukan eosinofil. Sebaliknya jumlah sel T dalam sirkulasi menurun dan
kepekaan terhadap alergen kontak menurun.
2. Dermatitis numularis : merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif dengan lesi
berukuran sebesar uang logam dan umumnya berlokasi pada sisi ekstensor ekstremitas.

3. Dermatitis dishidrotik : erupsi bersifat kronik residif, sering dijumpai pada telapak tangan
dan telapak kaki, dengan efloresensi berupa vesikel yang terletak di dalam.
4. Dermatomikosis : infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur dengan efloresensi kulit
bersifat

polimorf,

berbatas

tegas

dengan

tepi

yang

lebih

aktif.

5. Dermatitis seboroik : bila dijumpai pada muka dan aksila akan sulit dibedakan. Pada muka
terdapat

di

sekitar

alae

nasi,

alis

mata

dan

di

belakang

6. Telinga.
7. Liken simplek kronikus : bersifat kronis dan redisif, sering mengalami iritasi atau
sensitisasi. Harus dibedakan dengan dermatitis

2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan rasa gatal.
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kehilangan fungsi kulit.
3. Gangguan body image berhubungan dengan inflamasi kulit.

3. Intervensi
No Diagnosa
Kep

Tujuan

Implementasi

1.

Setelah dilakukan
tindakan kep dalam
3 x 24 jam , fungsi
kulit dapat kembali
normal
NOC :
- nyeri akut
- tingkat kenyamanan
- mengendalikan rasa
sakit
- tingkat nyeri
- tingkat stres

NIC :
analgesik
Administation
Mandiri :
Menentukan lokasi
nyeri keparahan
kualitas charateristic
sebelum mengobati
pasien
Cek perintah medis
untuk obat untuk obat,
dosis dan frekuensi
resep analgesik
Menentukan pilihan
analgesik didasarkan
pada tipe dan beratnya

Nyeri akut
berhubungan
dengan rasa
gatal

Rasional

Untuk mengetahui
lokasi nyeri

Agat tidak terjadi


kesalahan dalam
pemberian obat
Agar neri teratasi
secara cepat dan

nyeri
normal
Memilih rute iIV dari
pada IM untuk injeksi
obat sakit frekuesin
Rute mana yang
bila memungkinkan
membuat obat cepat
Pengurangan
bereaksi atau
kecemasan Mandiri : terabsorbsi
- menyatakan jelas
harapan untuk perilaku Membuat klien
pasien
mempunyai harapan
Menjelaskan semua untuk kesembuhan
prosedur termasuk
sensasi diperkirakan
akan dialami selama
Agar klien
prcodure yang
mengetahui dan tidak
dilakukan
terjadi syok
Mendengarkan dengan
penuh perhatian
Kolaborasi
- Mengelola kembali/
menggosok leher
Klien merasa
dengan bantuan
diperhatikan
keluarga
Menyediakan kegiatan Kedekatan hubungan
diversional yg
dengan keluarga
diarahkan ke bangsal
untuk pengurangan
ketegangan
Membantu pasien
Membuat klien lebih
mengidentifikasi
rileks dan santai
kecemasan situasi yang
buruk
Membantu klien
untuk mengatasi rasa
cemas yg ia hadapi
2

Kerusakan
integritas kulit
berhubungan
dengan
kehilangan
fungsi kulit

Setelah dilakukan
tindakan kep dalam
3 x 24 jam , fungsi
kulit dapat kembali
normal
NOC :
- nyeri akut
- tingkat kenyamanan
- mengendalikan rasa
sakit
- tingkat nyeri
- tingkat stres
-

NIC :
analgesik
Administation
Mandiri
Menentukan lokasi
nyeri keparahan
kualitas charateristic
sebelum mengobati
pasien
Cek perintah medis

Untuk mengetahui
sejauh mana
keparahan dan cara
mengatasinya
untuk megetahui
ketepatan dalam
pemerian obat

untuk obat untuk obat,


dosis dan frekuensi
resep analgesik
Kolaborasi
Menentukan pilihan
analgesik didasarkan
pada tipe dan beratnya
nyeri
Memilih rute iv
daripada im untuk
injeksi obat sakit
frequen bila
memungkinkan

Agar nyeri capat


hilang dan teratasi

Memilih rute mana


yang baik untuk
pemberian obat

Mengatasi
- Agar klien dapat
enchacement :
beradaptasi
Mandiri
- Menilai penyesuaian
pasien untuk perubahan
body image seperti
yang ditunjukkan
Mendorong pasien - Agar lien mengetahui
untuk mengidentifikasi perubahangambaran realistis
perubahan yang
perubahan dalam peran terjadi
Menilai pemahaman
pasien dari proses
- Klien mengetahui
penyakit
dampak penyakitnya
-Mendorong kegiatan
sosial dan masyarakat

3 Gangguan body Setelah dilakukan


image
tindakan kep dalam
berhubungan 3 x 24 jam
dengan
NOC :
inflamasi kulit -Mandi
- Pemotongan
perawatan
pengurangan
perdarahan luka
- Cast perawatan:
pemeliharaan

Menjelajahi pasien
dalam identifikasi
nilai-nilai kehidupan tertentu
NIC :
Mandi
Kolaborasi
Membantu dengan
kursi bak mandi
pancuran mandi
shower berdiri di
samping tempat tidur
atau mandi sitz yang
sesuai atau yang
diinginkan

klien mampu
beradaptsi

Agar klien terlihat


bersih dan rapi

pencegahan peredaran
darah
Cuci rambut yang
diperlukan dan
diinginkan
Mandi dengan suhu
air yang nyaman
perawatan amputasi
Mandiri
Mendorong pasien
untuk berpartisipasi
keputusan untuk
mengamputasi jika
possiible sebagai
partisipasi pateint
merupakan faktor
penting dalam
adjuscement pasca
bedah dan rehabilitasi

kebersihan diri klien


terawat
Kulit klien terawat
dan mempercepat
proses penyembuhan
Memberikan terapi
agar pasien tidak
terkejut / shok setelah
dilakukannya
tindakan tersebut

Pasien memperoleh
Memberikan informasi informasi yg jelas
dan dukungan sebelum
dan sesudah
pembedahan
Agar klien merasa
berikan posisi tubuh nyaman
yang tepat sejalan
Memberikan
Menilai suatu
penelian yg jelas
penyesuaian diri pasien
untuk perubahan body
image
DAFTAR PUSTAKA

Engram,
Barbara.
(1998).
Rencana
Asuhan
Keperawatan
volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Medikal

Bedah.

http://www.asuhan keperawatan pada lansia dengan kasus dermatitis.com. Kamis 25-11-2010. 20:25

Eksim atau dermatitis

LAPORAN PENDAHULUAN
A. Pengertian
Eksim atau dermatitis adalah istilah kedokteran untuk kelainan kulit yang
ditandai kulit tampak meradang dan iritasi
Dermatitis merupakan epidermo-dermis dengan gejala subjektif pruritus
(Kapita Selekta Kedokteran )
Dermatitis merupakan reaksi inflamasi pada kulit dan didasari factor herediter
dan lingkungan ( Cory. S Matundang )
Pengertian umum dari dermatitis adalah suatu reaksi radang terhadap banyak
rangsang, reaksi ini dapat berasal dari luar ( eksogen ) maupun dari dalam
(endogen)
B. Etiologi
Penyebab dermatitis kadangkadang tidak diketahui sebagian besar merupakan
respon kulit terhadap agen-agen yang beraneka ragam, misalnya
1. Zat kimia, protein, bakteri, dan fungus
2. Alergi terhadap debu, serbuk sari tanaman / bulu hewan
3. Alergi / toleransi terhadap makanan tertentu
4. Pemakaian kosmetik dan perhiasan imitasi ( bahan kimia lainnya )
5. Virus dan infeksi lain
C. Patofisiologi
Dermatitis merupakan reaksi alergi tipe 4 yakni respon lambat tipe tuberculin
yang bersifat cell mediated reaksi spesifik memerlukan beberapa jam mencapai
maksimum. Klinis biasanya baru tampak respon sesudah 24 48 jam. Pada
reaksi antara antigen dan antibody terjadi pembebasan berbagai mediator
farmakologik. Misalnya histamine, serotonin, bradikinin, asetikoline, heparin, dan
anafilaktosin
D. Manifestasi klinis
Dimanapun lokasi timbulnya dermatitis, gejala utama yang dirasakan pasien
adalah gatal. Terkadang rasa gatal sudah muncul sebelum ada tanda kemerahan
pada kulit. Gejala kemerahan biasanya akan muncul pada wajah, lutut, tangan
dan kaki. Namun tidak menutup kemungkinan kemerahan muncul didaerah lain.
Daerah yang terkena akan terasa sangat kering, menebal atau keropeng. Pada
orang kulit putih daerah ini pada mulanya akan berwarna merah muda lalu
berubah menjadi coklat. Sementara itu pada orang dengan kulit lebih gelap,
dermatitis akan mempengaruhi pigmen kulit, sehingga daerah dermatitis akan
tampak lebih terang atau lebih gelap.
Subjektif pada tanda-tanda radang akut, terutama pruritus ( sebagai pengganti
dolor ). Selain itu juga terdapat kenaikan suhu ( kalor ), kemerahan ( rubor ),
edema atau pembengkakan dan gangguan fungsi kulit ( fungsiolesa ).
E. Jenis- jenis Dermatitis
Adapun jenis-jenis dermatitis yaitu (Mahadi, 2000:7):
1. Dermatitis atopik

adalah dermatitis yang terjadi pada orang yang mempunyai riwayat atopi.
2. Dermatitis seboroik
adalah peradangan kulit yang sering terdapat pada daerah tubuh berambut,
terutama pda kulit kepala, alis mata, dan muka, kronik dan superficial.
3. Dermatitis statis
adalah dermatitis yang terjadi akibat adanya gangguan aliran darah vena
ditungkai bawah.
4. Dermatitis (ekzema) nonspesifik
adalah suatu erupsi epidermal yang dapat berlangsung akut, kronik, terlokalisir
atau generalis.
5. Dermatitis pomfolik
adalah dermatitis yang ditandai dengan adanya vesikula yang dalam, mengenai
telapak tangan, kaki, dan sisi jari-jari.
6. Dermatitis otosentisisasi
adalah perluasan yang cepat dari reaksi ekzematus atau vesikuler.
7. Dermatitis numuler
adalah dermatitis yang bentuk lesinya bulat seperti uang logam.
8. Dermatitis xerotik
adalah dermatitis yang terjadi pada musim dingin dan sering dijumpai pada
orang tua dan mempunyai predisposisi dapat dijumpai pada laki-laki maupun
perempuan.
9. Dermatitis medikamentosa
10. Dermatitis kontak
adalah suatu dermatitis yang disertai dengan adaanya spongiosis atau edema
interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi dengan bgahan-bahan kimia
yang berkontak atau terpajan pada kulit.
11. Dermatitis infektif
adalah suatu eczema yang disebabkan oleh suatu mikroorganisme ataupun
produknya dan menyembuh bila organismenya sudah diobati.
12. Dermatofitid
adalahdermatitis yang terjadi secara sekunder, jauh dari lesi infeksi, analog
dengan tuberkulid kulit pada tuberculosis.
13. Dermatitis eksfoliatifa generalisata
adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan eritema dan skuama
yang hampir mengenai seluruh tubuh.
F. Penatalaksanaan
Tujuan utama dari pengobatan adalah menghilangkan rasa gatal untuk
mencegah terjadinya infeksi. Ketika kulit terasa sangat kering dan gatal, lotion
dan cream pelembab sangat dianjurkan untuk membuat kulit menjadi lembab.
Tindakan ini biasanya dilakukan saat kulit masih basah, seperti saat habis mandi
sehingga cream yang dioleskan akan mempertahankan kelembaban kulit.
Kompres dingin juga diduga dapat mengurangi rasa gatal yang terjadi. Salep
atau cream yang mengandung kortikosteroid seperti hydri kortison dibrikan
untuk mengurangi proses inflamasi / peradangan. Untuk kasus-kasus yang berat
dokter akan memberikan tablet kortikosteroid dan apabila pada daerah

dermatitis setelagh terinfeksi maka bisa diberikan antibiotika untuk membunuh


bakteri penyebab infeksi. Pengobatan menurut FKUI yaitu :

1. Pengobatan secara sistemik


Pada kasus dermatitis ringan diberi antihistamin atau kombinasi antihistaminanti serotonin, anti bradikinin, anti-SRS-A, dsb. Pada kasus berat dapt
dipertimbangkan pemberian kortikosteroid.
2. Pengobatan secara topical
Prinsip umum terapi topical diuraikan dibawah ini :
Dermatitis basah ( madidans ) harus diobati dengan kompres terbuka.
Dermatitis kering ( sika ) diobati dengan krim atau salep
Makin berat atau akut penyakitnya, makin rendah presentase obat spesifik
Bila dermatitis akut, diberi kompres. Bila subakut, diberi losion ( bedak kocok ),
pasta, krim atau linimentum ( pasta pendingin ). Bila kronik diberi salep
Pada dermatitis sika, bila superficial diberi bedak, losio, krim atau pasta. Bila
kronik diberi salep. Krim diberikan pada daerah berambut, sedangkan pasta
pada daerah yang tidak berambut. Penetrasi salep lebih besar daripada krim.
G. Pencegahan
Munculnya dermatitis dapat dihindari dengan melakukan hal-hal sebagai
berikut :
1. Menjaga kelembaban kulit
2. Hindari perubahan suhu dan kelembaban yang mendadak
3. Hindari berkeringat terlalu banyak / kepanasan
4. Kurangi stress
5. Hindari pakaian yang menggunakan bahan yang menggaruk seperti wool dan
lain-lain.
6. Hindari sabun dengan bahan yang terlalu keras, deterjen dan larutan lainnya.
7. Hindari factor lingkungan lain yang dapat mencetuskan alergi seperti serbuk
bunga, debu, bulu binatang dan lain-lain.
8. Hati-hati dalam memilih makanan yang bias menyebabkan alergi
H. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi sekunder oleh bakteri, septikemi,
diare, dan pneumonia. Gangguan metabolic mengakibatkan suatu resiko
hipotermia, dekompensasi kordis, kegagalan sirkulasi perifer dan
trombophlebitis. Bila pengobatan kurang baik, akan terjadi degenerasi visceral
yang menyebabkan kematian.

ASUHAN KEPERAWATAN
I. Pengkajian
Menurut Doengus 2000:899
a. Riwayat kesehatan
Klien dengan Dermatitis harus dikaji bagaimana kebiasaan hygiene seharihari(missal: apakah klien menggunakan sabun dan air panas?), pengobatan yang
telah diberikan, terpapar oleh allergen, lingkungan dan riwayat kerusakan kulit.
1) Adanya riwayat alergi bahan makanan, kosmetik, suhu, dan protein.
2) Suhu kesehatan keluarga ditanyakan apakah ada anggota keluarga menderita
gangguan kulit, dan kapan mulainya.
3) Kebiasaan aktifitas sehari-hari misalnya lingkungan pasien yang dapat
menyebabkan gangguan kulit.
b. Pemeriksaan fisik
Inspeksi mengenai warna, jaringan parut, vesikel, lesi, dan kondisi vaskularisasi
supervisial.
c. Periksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk dermatitis, misal:
Usap kulit(skin swab)
Dilakukan pada:
Pasien eksema yang di RS dengan eksema yang terbuka, terkeskoriasi, atau
berkerak untuk menentukan jenis bakteri penyabab dan pengobatan paling
tepat.
Kecurigaan bahwa infeksi disebabkan oleh bakteri S, auereus yang resisten
terhadap pengobatan standar.
Usap hidung (nasal swab) dari pasien dan orang tua

Hanya dilakukan jika ada infeksi berulang atau bisul


Tes alergi pada kulit
Dilakukan jika:
Anak memiliki riwayat gatal, kemerahan, bentol-bentol, atau kambuhnya
eksema setelah makan makanan tertentu
Anak berusia kurang dari 12 bulan dengan eksema sedang-berat yang tidak
membaik dengan pengobatan.
Anak yang patuh dengan pengobatan selama 6 minggu, namun tidak
menunjukan perbaikan.
Dermatografisme puth
Percobaan asetikolin
Percobaan histamine
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kerusakan integritas kulit b.d terpapar allergen
2. Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan
3. Gangguan rasa aman : nyeri (gatal) b.d agen injuri atau allergen
4. Gangguan pola tidur b.d stimulasi yang berlebih ( gatal-gatal)
III. INTERVENSI
DX I :Kerusan intregritas kulit b.d terpapar alergen.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kerusakan kulit
dapat dihindari.
Criteria hasil :
NOC : Integritas jaringan
Integritas kulit yang baik bias dipertahankan
Tidak ada luka atau lesi pada kulit
Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
cedera berulang.
Mampu melindungi kulit dan memepertahankan kelembaban kulit dan perawatan
alami.
NIC : Manajemen tekanan
a. Anjurkan pasien mengenakan pakaian yang longgar
b. Hindari kerutan pada tempat tidur
c. Jaga kebersihan kulit agar cepat bersih dan kering
d. Mobilisasi pasien secara teratur
e. Monitor kulit akan adanya kemerahan
DX II : Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan dan peningkatan paparan
lingkungan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko infeksi dapat
dihindari
Criteria hasil :
NOC : Control resiko
Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi
penularan dan penataksanaannya.

Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.


Menunjukan perilaku hidup sehat.
NIC : Control infeksi
a. Anjurkan klien untuk mencuci tangan sebelum atau sesudah melakukan
kegiatan
b. Gunakan sabun anti mikroba untuk mencuci tangan.
c. Berikan terapi antibiotic bila perlu ( Infection Protection)
d. Monitor tanda dan gejala infeksi sitemik dan local
e. Monitor kerentangan terhadap infeksi
f. Berikan perawatan kulit
g. Inspeksi kulit terhadap tanda-tanda infeksi
h. Instruksikan klien minum antibiotic sesuai resep
i. Ajarkan pasien ( keluarga) tentang tanda dan gejala infeksi
j. Laporkan kecurigaan infeksi
k. Laporkan kultur positif
DX. III :Gangguan rasa nyaman : nyeri (gatal)
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan rasa gatal pasien
hilang atau berkurang.
NOC :

DX IV : Gangguan) pola tidur b.d stimulasi yang berlebih ( gatal-gatal)


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidur tercukupi
NOC : Tidur
Jam tidur cukup
Pola tidur baik
Kualitas tidur baik
Gangguan tidur berkurang
Vital sign dalam batas normal
NIC : Perubahan tidur
a. Kaji pangaruh pengaruh pengobatan terhadap pola tidur
b. Monitor pola tidur dan jam tidur pasien
c. Instruksikan pasien untuk mencari factor pendukung gangguan pola tidur
d. Bantu mengurangi stress sebelum tidur
e. Anjurkan penggunaan obat tidur yang sesuai ketentuan

f. Ciptakan lingkungan yang mendukung kenyamanan untuk tidur

IV. EVALUASI
Dx Criteria hasil Skala penilaian
1 Integritas kulit yang baik bias dipertahankan
Tidak ada luka atau lesi pada kulit
Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
cedera berulang.
Mampu melindungi kulit dan memepertahankan kelembaban kulit dan perawatan
alami.
1 = tidak pernah menunjukan
2 = jarang menunjukan
3 = kadang menunjukan
4 = sering menunjukan
5 = selalu menunjukan
2 Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi
penularan dan penataksanaannya.
Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.
Menunjukan perilaku hidup sehat.
1 = tidak pernah menunjukan
2 = jarang menunjukan
3 = kadang menunjukan
4 = sering menunjukan
5 = selalu menunjukan
3
1 = tidak pernah menunjukan
2 = jarang menunjukan
3 = kadang menunjukan
4 = sering menunjukan
5 = selalu menunjukan
4 Jam tidur cukup
Pola tidur baik
Kualitas tidur baik
Gangguan tidur berkurang
Vital sign dalam batas normal 1 = tidak pernah menunjukan
2 = jarang menunjukan

3 = kadang menunjukan
4 = sering menunjukan
5 = selalu menunjukan

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall,2000.Diagnosa Keperawatan, Alih bahasa Monica Ester
dkk, EGC:Jakarta
Doengoes, Marilyn E dkk, 1998. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3. Alih
Bahasa 1 Made Karisa,S.Kep dkk, EGC : Jakarta
FKUI.1993. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Edisi: 2. Jakarta
Harahap, marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates
______,2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3,Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
http://www.google.com

BAB I
PENDAHULUAN
1. A. Latar Belakang
Ekzema berasal dari bahasa Yunani. Artinya air mendidih. Penggunaan kata ini merupakan
refleksi kelainan kulit yang tampak berbintil, menggelembung pada permukaan kulit sperti
buih air mendidih. Di Eropa, ekzema merupakan nama penyakit yang mempunyai ciri khas
gatal. Di Amerika ekzema ini dinamakan Dermatitis. Ciri khasnya terutama keluhan gatal.
Rasa gatal merupakan perwujudan rasa nyeri yang berada dibawah nilai ambang. Rangsangan
dapat berbentuk trauma fisik, kimiawi, dan mekanisme alergi. (Banjarmasin post, 2005)
Ekzema mempunyai banyak bentuk gambaran klinis, sehingga sulit dibuat defenisi untuk kata
Ekzema. Disarankan istilah tersebut tidak dipakai lagi dan digantikan dengan istilah
dermatitis. Sebenarnya istilah dermatitis sudah banyak dipakai untuk ekzema karena kontak,
ekzema pada atopik, dan pada dermatitis seboroik. Pengarang lainnya beranggapan istilah
ekzema dan dermatitis ini tidak sama. Ada yang lebih senang menggunakan istilah dermatitis.
Karena pengertian dermatitis dan ekzema sampai saat ini masih juga diperdebatkan, penulis
masih mengangap kedua istilah itu mempunyai pengertian yang sama. Jadi dermatitis adalah
suatu reaksi peradangan kulit yang karakteristik terhadap berbagai rangsangan endogen
ataupun eksogen. Penyakit ini sangat sering dijumpai. (Marwali, 2000)
Prevalensi dari semua bentuk dermatitis adalah 4,66%, termasuk dermatitis atopik 0.69%,
dermatitis numuler 0,17%, dan dermatitis seboroik 2,82%. (Marwali, 2000)
Di Amerika Serikat, 90% klaim kesehatan akibat kelainan kulit pada pekerja diakibatkan oleh
dermatitis kontak. Antigen penyebab utamanya adalah nikel, potassium dikromat dan
parafenilendiamin. Konsultasi ke dokter kulit sebesar 4-7% diakibatkan oleh dermatitis
kontak. Dermatitis tangan mengenai 2% dari populasi dan 20% wanita akan terkena
setidaknya sekali seumur hidupnya. Anak-anak dengan dermatitis kontak 60% akan positif

hasil uji tempelnya. Di Skandinavia yang telah lama memakai uji tempel sebagai standar,
maka insiden dermatitis kontaknya lebih tinggi dari pada Amerika. Dermatitis kontak alergik
yang terjadi akibat kontak dengan bahan-bahan di tempat pekerjaan disebut dermatitis kontak
alergik akibat kerja (DKAAK) yang mencapai 25% dari seluruh dermatitis kontak akibat
kerja (DKAK). Dermatitis kontak akibat kerja mencapai 90% dari dermatitis akibat kerja
(DAK) prevalensi DKAAK berbeda-beda di tiap Negara tergantung macam serta derajat
industrialisasi Negara tersebut. Di Eropa insiden juga tinggi seperti Swedia dermatitis kontak
dijumpai pada 48% dari populasinya. Di belanda 6% di Stockholm 8% dan Bergen 12%.
(Iwan Trihapsoro, 2003)
Menurut Survei Rumah Tangga dari beberapa Negara menunjukkan penyakit alergi adalah
satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga.
Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar
80% dantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi.
Penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi
meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi.
Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai asma, 6 juta orang
mempunyai Dermatitis (alergi kulit). (Widodo Judarwanto, 2000)
Di Indonesia laporan dari bagian penyakit kulit dan kelamin FK Unsrat Manado dari tahun
1988-1991 dijumpai insiden dermatitis kontak sebesar 4,45%. Di RSUD Dr. Abdul Aziz
Singkawang Kalimantan Barat pada tahun 1991-1992 dijumpai insiden dermatitis kontak
sebanyak 17,76%. Sedangkan di RS Dr. Pirngadi Medan insiden dermatitis kontak pada
tahun 1992 sebanyak 37,54% tahun 1993 sebanyak 34,74% dan tahun 1994 sebanyak
40,05%. Dari data kunjungan pasien baru di RS Dr. Pirngadi Medan, selama tahun 2000
terdapat 3897 pasien baru di poliklinik alergi dengan 1193 pasien (30,61%) dengan diagnosis
dermatitis kontak dari bulan Januari hingga Juni 2001 terdapat 2122 pasien alergi dengan 645
pasien (30,40%) menderita dermatitis kontak. Di RSUP H. Adam Malik Medan, selama tahun
2000 terdapat 731 pasien baru dipoliklinik alergi dimana 201 pasien (27,50%) menderita
dermatitis kontak. Dari bulan januari hingga juni 2001 terdapat 270 pasien dengan 64 pasien
(23,70%) menderita dermatitis kontak. (Widodo Judarwanto, 2000)
Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas tawanga bahwa jumlah kasus dermatitis
pada tahun 2007 pasien yang berobat sebanyak 26 orang pasien. Kemudian pada tahun 2008
pasien sebanyak 31 orang sedangkan. Pada periode januari juni 2009 jumlah pasien
sebanyak 38 orang. (sumber data sekunder buku registrasi jumlah kunjungan pasien
puskesmas tawanga)
Penyebab dermatitis tidak diketahui, namun jika salah satu atau lebih anggota keluarga
mengalami dermatitis, asma, atau rinitas alergika maka anak anda memiliki kemungkinan
lebih besar untuk mengalami ekzema dibanding populasi umum. Sebagian anak dengan
ekzema juga mengalami asma atau rinitas alergika. Ekzema dapat dipicu oleh berbagai hal,
antara lain : 1) keringnya kulit 2) iritasi oleh sabun detergen, pelembut pakaian, dan bahan
kimia lain 3) menciptakan kondisi yang terlalu hangat untuk anak, misalnya membungkus
anak dengan pakaian berlapis-lapis 4) alergi atau intoleransi terhadap makanan tertentu 5)
alergi terhadap tungau debu, serbuk sari makanan, atau bulu hewan 6) virus dan infeksi lain
7) perjalanan ke Negara dengan iklim berbeda.
1. B. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui faktor apa saja
yang berhubungan dengan penyakit dermatitis dalam upaya pencegahan dan penanggulangan
dermatitis di masyarakat di puskesmas tawanga kec. Konawe Kabupaten Konawe tahun
2009
1. C. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut diatas adapun rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan
penelitian yaitu : Faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan kejadian Dermatitis di
Puskesmas Tawanga Kecamatan Konawe kabupaten Konawe Tahun 2009.
1. D. Tujuan penelitian
1. 1. Tujuan Umum
Untuk diketahui beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis di Puskesmas
Tawanga Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe Tahun 2009
1. 2. Tujuan Khusus
a)
Untuk mengetahui hubungan alergi makanan dengan kejadian Dermatitisdi Puskesmas
Tawanga Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe Tahun 2009
b)
Untuk mengetahui hubungan Lingkungan dengan kejadian Dermatitis di Puskesmas
Tawanga Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe Tahun 2009
c)
Untuk mengetahui hubungan Genetik dengan kejadian Dermatitis di Puskesmas
Tawanga Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe Tahun 2009
1. E. Manfaat Penelitian
1. a. Manfaat Parktis
1. sebagai masukan bagi peneliti-peneliti selanjutnya khususnya mereka
yang berminat untuk meneliti lebih lanjut mengenai Dermatitis.
2. sebagai masukan untuk dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan
khususnya mengenai fator yang berhubungan dengan Dermatitis.
3. b. Manfaat Teoritis
1. Bagi masyarakat merupakan suatu informasi yang sangat
penting di dapatkan yang berguna untuk kesehatan seluruh
anggota keluarganya masing-masing.
2. sebagai aplikasi ilmu yang telah di dapatkan untuk menambah
wawasan ilmiah khususnya mengenai kejadian Dermatitis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1. A. Tinjauan Umum Tentang Dermatitis
1. Pengertian
Dermatitis merupakan epidermo-dermitis dengan gejala subyektif pruritus. Obyektif tampak
inflamasi eritema, vesikulasi, eksudasi, dan pembentukan fisik. Tanda-tanda polimorf tersebut
tidak selalu timbul pada saat yang sama. Penyakit bertendensi residif dan menjadi kronis.
Sinonim :
1. Unitaris: eczema dan dermatitis dianggap sinonim. Anggapan ini, yang berasal dari
kontinen eropa, tidak dianut lagi.
2. Dualistis: Ekzema dan dermatitis merupakan nama yang tidak sinonim. Anggapan
dualistis sekarang dianut disemua negeri. Semua kelainan dianggap dermatitis dan
dengan demiklian dicari factor-faktor penyebab. Yang dulu disebut eczema ialah salah
satu bentuk dermatitis, yakni yang dinamakan dermatitis atopik. (Arif Mansjoer dkk,
2000)
Dermatitis adalah peradangan epidermis dan dermis yang memberikan gejala subjektif gatal
dan dalam perkembangannya memberikan efloresensi yang polimorf. Peradangan tersebut
merupakan reaksi kulit terhadap zat endogen maupun eksogen misalnya zat kimia, bakteri,
fungus. (Purnawan Junadi dkk, 1992)
2. Etiologi
Penyebab dermatitis kadang-kadang tidak diketahui. Sebagian besar merupakan respon kulit
terhadap agen-agen, misalnya zat kimia, protein, bakteri, dan fungus. Respon tersebut dapat
berhubungan dengan alergi. Alergi ialah perubahan kemampuan tubuh yang didapat dan
spesifik untuk bereaksi.
Reaksi alergi terjadi atas dasar interaksi antara antigen dan antibody. Karena banyaknya agen
penyebab, ada anggapan bahwa nama dermatitis digunakan sebagai nama sampah (catch
basket term). Banyak penyakit alergi yang disertai tanda-tanda polimorf disebut dermatitis.
(Arif Mansjoer dkk, 2000)
3. Klasifikasi
Klasifikasi dermatitis didasarkan atas kriteria patogenik, walaupun kebanyakan bentuk
penyakit tidak diketahui. Dermatitis dibagi atas 2 tipe: endogen (konstitusional) dan eksogen.
Ada lagi yang membaginya tiga: endogen, eksogen, dan penyebabnya yang tidak diketahui.
Contoh dermatitis endogen adalah dermatitis atopik, dermatitis seboroik, liken simplek
kronis, dermatitis nonspesifik (pompoliks, dermatitis numuler, dermatitis xerotik, dermatitis
otosensitasi), dan dermatitis karena obat. Sedangkan contoh dermatitis eksogen adalah
dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergik, dermatitis fotoalergik, dermatitis infektif,
dan dermatofitid. Beberapa buku memasukkan dermatitis atopik, dermatitis seboroik, liken
simplek kronik, dermatitis stasis, pompoliks, dan dermatitis numularis pada dermatitis yang
tidak diketahui penyebabnya. (Marwali Harahap, 2000)

Menurut perjalanan penyakitnya, dermatitis dibagi menjadi stadium :


1. Akut : ditandai dengan gambaran klinik eritema, edema, vesikel dan eksudasi.
2. Subakut : eritema tidak begitu menonjol, terdapat krusta, erosi, ekskoriasi. Pada
penyembuahan tampak krusta mulai melepas, terdapat skuama dan mulai mengering.
3. Kronik ditandai likenifikasi, hiperpigmentasi, atau hipopigmentasi.
(Purnawan Junadi dkk, 1992)
Dermatitis Endogen :
a. Dermatitis Atopik
1) Defenisi
Dermatitis atopik (DA) adalah dermatitis yang terjadi pada orang yang mempunyai riwayat
atopi. Atopi ini diperkenalkan pertama sekali oleh Coca dan Cooke tahun 1923. atopi berasal
dari bahasa yunani, yang berarti penyakit aneh ataupun hipersensivitas abnormal untuk
melawan fakor-faktor lingkungan, dijumpai pada penderita ataupun keluarganya, tanpa
sensitasi yang jelas sebelumnya. (Marwali Harahap, 2000)
Dermatitis endogen sering disertai dengan riwayat penyakit alergi pada keluarga atau
perorangan seperti asma, hay fever, dan rhinitis. Dermatitis atopik mengenai 3% dari semua
anak. (David Ovedoff, 2002)
2) Etiologi
Terdapat stigma atopi (herediter) pada pasien/anggota keluarga berupa :
a).

Rhinitis alergik, asma bronchial, hay fever.

b). Alergi terhadap berbagai alergin protein (polivalen).


c).

Pada kulit : dermatitis atopi, dermatografisme putih, dan kecenderungan timbul urtikaria

d). Reaksi abnormal terhadap perubahan suhu (hawa udara panas dingin) dan ketegangan
(stress).
e).

Resistensi menurun terhadap infeksi virus dan bakteri.

f).

Lebih sensitive terhadap serum dan obat.

g).

Kadang-kadang terdapat katarak juvenilis.

(Arif Mansjoer dkk, 2000)


3) Manifestasi klinik

Subyektif selalu terdapat pruritus. Terdiri atas tiga bentuk, yaitu:


a). Bentuk infantil (2 bulan-2 tahun). Karena letaknya didaerah pipi yang berkontak dengan
payudara, secara salah sering di sebut ekzema susu. Terdapat eritema berbatas tegas, dapat
disertai papul-papul dan vesikel-vesikel miliar, yang menjadi erosif, eksudatif dan berkrusta.
Tempat predileksi kedua pipi, ekstremitas bagian fleksor dan ekstensor.
b). Bentuk anak (3-10 tahun). Pada anamnesis dapat di dahului bentuk infantir. Lesi tidak
eksudatif lagi, sering disertai hyperkeratosis, hiperpigmentasi dan hipogmentasi. Tempat
predileksi tengkuk, fleksor kubita dan fleksor popliteal.
c). Bentuk dewasa (13-30 tahun). Pada anamnesis terdapat bentuk infantil dan bentuk anak.
Lesi selalu kering dan dapat disertai likenifikasi dan hiperpigmentasi. Tempat predileksi
tenkuk serta daerah fleksor kubital dan popliteal.
Manifestasi lain berupa kulit kering dan sukar berkeringat, gatal-gatal terutama jika
berkeringat. Berbagai kelainan yang dapat menyertainya ialah xerosis kutis, iktiosis,
pomfoliks, pitiriasis alba, keratosis pilaris (berupa papul-papul miliar, di tengahnya terdapat
lekukan), dll. (Arif Mansjoer dkk, 2000)
4) Penatalaksanaan
Semua rangsang yang dapat memperhebat penyakit harus di hindarkan, misalnya pada
kelainan kulit, tidak boleh memakai cita kasar/wool, kamar harus bebas debu, juga perubahan
suhu yang mendadak harus dihindarkan. Makanan tidak mempengaruhi penyembuhan
penyakit, tetapi dapat mempengaruhi terjadinya residif. Oleh karena itu makanan yang
menyebabkan residif harus di hindari. Dilakukan perbaikan keadaan umum yang buruk.
(Purnawan Junadi dkk, 1992)
Pengobatan lokal (lebih penting dari pada pengobatan umum). Obat pilihan ialah obat yang
mengandung kortison, seperti hidrokortison 1% atau 2% (untuk bentuk infantil) sedangkan
untuk bentuk dewasa obat lain yang efektif ialah prefara ter, misalnya liantral 2-5%.
(Punawan Junadi dkk, 1992)
1. Dermatitis seboroik
1) Pengertian
Dermatitis seboroik ialah istilah yang dipakai secara luas untuk melukiskan erupsi kulit
kronik residif yang mengenai daerah-daerah seborea. Nama dermatitis sebenarnya tidak tepat
karena tidak tergolong dalam dermatitis atau eksim. Secara umum kelainan ini meliputi
bermacam-macam kelainan kulit berupa eritema, skuama yang kering atau berlemak dengan
krusta. (Purnawan Junadi dkk, 1992)
Dermatitis seboroik biasanya menyerang kulit kepala, alis, lipatan nasolabial, telinga dan
anterior dada. Timbul bercak-bercak eritematosa dan berskuama yang intermiten. Keadaan ini
dapat timbul setiap saat sejak masa bayi sampai masa tua dan dapat terasa gatal. (Sylvia
A.Price dkk, 2005)
2) Etiologi

Penyebab belum diketahui pasti. Hanya didapati aktivitas kelenjar sebasea berlebihan.
Dermatitis seboroik dijumpai pada bayi dan pada usia setelah pubertas. Kemungkinan ada
pengaruh hormon. Pada bayi dijumpai hormone transplasenta meninggi beberapa bulan
setelah lahir dan penyakitnya akan membaik bila kadar hormon ini menurun.. (Marwali
Harahap, 2000)
3) Gambaran klinik
Ada 3 gambaran klinik dari penyakit ini menurut letak lesinya :
a).

Dandruf, sarak :

Terdapat terutama pada bayi dan anak umur 6-10 tahun. Lokasinya adalah pada daerah
berambut/scalp, dapat meluas sampai ke dahi dan di daerah retroaurikularis. Efloresensinya
berupa skuama yang berminyak (Greasy) warnanya kuning-kuningan disebut pitiriasis
okosa. Kadang-kadang ditemukan skuama yang kering disebut pitriasi sika (ketombe). Bila
meluas sampai ke dahi disebut korona seborea. Bila yang terkena daerah retro aurikularis
sering dijumpai selain skuama juga krusta warna kekuning-kuningan dan fisura. Sering
disertai infeksi sekunder.
b).

Facial Seborrhoica

Lokasinya selalu pada lipatan naso-labial. Efloresensi berupa macula eritematosa dan
diatasnya ada skuama berminyak berwaran kekuning-kuningan. Pada wanita sering disertai
blefaritis (radang dari palpebra) pada laki-laki sering disertai folikulitis pada Shave area
(daerah yang berambut dan sering dicukur missal jenggot, kumis dsb). Bila timbul pada
daerah jenggot disebut Sycosis barbae (harus dibedakan dengan Tinea Barbae).
c).

Scorporis

Lokasinya tersering adalah pada daerah presternal dan interskapula. Efloresensinya berupa
eritema dengan diatasnya ada skuama yang berminyak dan berwarna kekuning-kuningan
kadang-kadang dapat berbentuk cincin dengan penyembuhan di sentral (central healing).
Hampir selalu disertai folikulitis. Kalau berat, badan dapat terkena semua dan bisa meluas
sampai ke lengan dan paha bagian atas. Sinter Triginalis, lokasi pada aksila, infra mama,
umbilicus, efloresensi macula eritematosa dan di atasnya ada skuama yang berminyak dan
berwarna kekuning-kuningan. Kemudian timbul fissura dan sering disertai dengan infeksi
sekunder. Kadang-kadang dapat menjadi generalisata dan bila ini terjadi maka sering sekali
disertai dengan adanya pompholi (vesikel-vesikel milier yang ternyata lebih dalam jika
dibandingkan dengan vesikel biasa), pada daerah telapak tangan, telapak kaki dan disela-sela
jarinya. (Purnawan Junadi dkk, 1992)
4) Pengobatan
Tindakan umum
Penderita harus diberi tahu bahwa penyakit ini berlangsung kronik dan sering kambuh. Harus
dihindari faktor pencetus, seperti stress emosional, makanan berlemak, dan sebagainya.
(Marwali Harahap, 2000)

1. Liken Simplek Kronis


1) Pengertian
Liken simplek kronik aalah suatu dermatitis dengan penebalan kulit dari jaringan tanduk
(likenifikasi) karena garukan atau gosokan yang berulang-ulang. Kebanyakan lesi hanya dari
satu tempat, namun dapat juga dijumpai atau beberapa tempat. (Marwali Harahap, 2000)
2) Manifestasi Klinik
Liken simplek kronik ini berupa likenifikasi, papel, skuama, dan hiperpigmentasi. Pada lesi
yang sudah lama, kulit menebal dan mengalami hipopigmentasi. Lesi berbatas tegas. Secara
klinis, selain likenifikasi, bentuk-bentuknya dapat juga berupa papula besar yang disebut
Prurigo Nodularis. Lesi yang sudah lama akan mengalami hiperpigmentasi dan ditengahnya
akan mengalami hipopigmentasi. (Marwali Harahap, 2000)
3) Pengobatan
Terutama hindari garukan. Harus diyakini oleh pasien bahwa bila tidak digaruk lesi akan
hilang. Sebaiknya diberikan salep kortikosteroid yang dibungkus polictilen (plastic) diganti
tiap 24 jam, ataupun dapat diberikan suntikan intralesi, misalnya suspensi triamsinolon.
(Marwali Harahap, 2000)
1. Dermatitis stasis
1) Pengertian
Dermatitis statis adalah dermatitis yang terjadi akibat adanya gangguan aliran darah vena
ditungkai bawah. (Marwali Harahap, 2000)
2) Etiologi
Suatu keadaan yang meyebabkan stasis peredaran darah di tungkai bawah. (Arif Mansjoer
dkk, 2000)
3) Gambaran klinik
Keluhan subjektif berupa rasa gatal. Efloresensi akibat garukan berupa skuama,
hiperpigmentasi dan erosi. Apabila penderita mengobati sendiri dapat terjadi dermatitis
kontak, dan lesi bertambah tergantung pada iritannya.
Kelainan lebih lanjut akan timbul infeksi sekunder dan terjadi kerusakan jaringan (nekrosis),
timbul daerah iskemik yang dapat memacu ulkus yang disebut ulkus varikosum. Insidens
pada wanita lebih banyak menderita dari pada pria. Dijumpai pada orang dewasa dan orang
tua, tidak pada anak-anak. Banyak terjadi pada orang gemuk, banyak berdiri dan banyak
melahirkan. (Purnawan Junadi dkk, 1992)
4) Pengobatan

Prinsip pengobatannya adalah menghindarkan gangguan aliran vena dan edema. Harus
dihindari banyak berdiri lama, kalau pasien gemuk, berat badannya harus diturunkan.
Pada dermatitis yang akut, dapat diberikan salep yang tidak menimbulkan iritasi dan sensitasi
kulit, misalnya salep iktiol 2% dalam salep seng oksida. (Marwali Harahap, 2000)
1. Dermatitis (Ekzema) Nonspesifik
1) Pengertian
Dermatitis Nonspesifik adalah suatu erupsi epidermal yang dapat berlangsung akut, kronik,
terlokalisir atau generalis. (Marwali Harahap, 2000)
2) Manifestasi klinik
Rasa gatal merupakan gejala yang sangat dikeluhkan penderita, sehingga dapat mengganggu
kegiatan sehari-hari maupun tidur. Gatalnya dapat konstan ataupun episodic. Dermatitis
nonspesifik biasanya mengenai penderita yang selalu mengeluh bahwa kulitnya sensitif,
seperti selalu tidak cocok dengan kosmetik, pelembab, sabun dan detergen. (Marwali
Harahap, 2000)
1. Dermatitis Pomfoliks
Dermatitis pofoliks adalah dermatitis yang ditandai dengan adanya vesikula yang dalam,
mengenai telapak tangan, kaki, dan sisi jari-jari. Biasanya jenis dermatitis ini simetris dan
bilateral. (Marwali Harahap, 2000)
1. Dermatitis Otosensitasi
Dermatitis otosensitasi merupakan perluasan yang cepat dari reaksi ekzematus atau vesikuler.
Lesi primer mengeluarkan suatu bahan yang dapat berdifusi melalui epidermis atau melalui
peredaran darah yang dapat menurunkan tingkat ambang kulit terhadap bahan iritan.
Hipersensivitas tipe lambat juga ada pengaruhnya pada keadaan hiperiritabilitas ini.
Bagaimana mekanisme terjadinya masih belum jelas. Kemungkinan terjadi karena adanya
penyebaran bahan kimia atau sel, atau mungkin karena adanya pengaruh mekanisme
neurologik.
Whitfield adalah orang pertama yang menjelaskan bahwa penyebaran dermatitis
kemungkinan disebabkan oleh adanya proses otosensitisasi terhadap antigen dikulit normal.
(Marwali Harahap, 2000)
1. Dermatitis numuler
1) Pengertian
Dermatitis numuler adalah dermatitis yang bentuk lesinya yang bulat seperti uang logam.
(Marwali Harahap, 2000)
2) Gambaran klinik

Gejala subjektif adalah gatal. Terdapat efloresensi berukuran numuler bulat, vesikel, erosi,
eritema dan eksudasi. Akibat garukan terdapat ekskoriasi, bila kering meninggalkan krusta
berwarna hitam. Lokalisasinya adalah di ekstremitas bagian ekstensor, punggung dan bokong.
Sisa penyembuhan sering berupa bercak hiperpigmentasi. Kadang-kadang penyebuhan tidak
sempurna yaitu terdapat hiperpigmentasi dan skuama, tapi tidak gatal. Apabila penderita
menggunakan obat, timbul sensitasi dan penyakit meluas. ( Purnawan Junadi dkk, 1992)
3) Pengobatan
Prinsip pengobatannya sama dengan pengobatan eczema. Pada prinsipnya, harus dijaga
kelembaban kulit; harus sering mandi dengan bahan yang mengandung minyak, kemudian
lesi dioles vaselin; preparat tar; hindari minuman alcohol. Kelembaban ruangan harus
dipertahankan supaya kulit jangan kering. (Marwali Harahap, 2000)
1. Dermatitis Xerotik
1) Pengertian
Dermatitis xerotik atau xerosis adalah gangguan peradangan yang sering terjadi dan ditandai
oleh kekeringan kulit hebat dan rasa gatal. Kekeringan diduga berkaitan dengan pengurangan
lemak permukaan kulit, walaupun penyebab yang tepat tidak diketahui. Dermatitis xerotik
paling sering terjadi pada orang lanjut usia. (Beth G. Goldstein dkk, 1998)
2) Manifestasi klinik
Dijumpai skuama yang kering dan halus, kulit kelihatan pecah-pecah. Kulit kelihatan seperti
susunan genteng (crazy paving). Fisura-fisura tersebut dapat menjadi merah dan meradang.
Lokalisasi yang sering adalah daerah tulang kering, yang dapat meluas ke paha, tubuh, dan
lengan. Muka dan bagian lipatan yang lembab jangan terkena. (Marwali Harahap, 2000)
3) Pengobatan
Preparat emoien dibutuhkan pada kebanyakan kasus. Dianjurkan pasien mandi dengan
minyak atau emolien daripada menggunakan sabun. Kortokosteroid yang ringan dapat
digunakan. (Marwali Harahap, 2000)
1. Pomfoliks
1) Pengertian
Pomfoliks adalah suatu dermatitis endogen yang ditandai dengan erupsi vesikula menonjol di
telapak tangan atau telapak kaki. Karena lokalisasinya ditempat yang banyak berkeringat
(hiperhidrosis), diduga keringat sebagai penyebabnya (dihidrotik), secara histologik dijumpai
vesikula yang penuh berisi cairan, di epidermis. (Marwali Harahap, 2000)
2) Manifestasi klinik
Pada stadium akut dijumpai banyak vesikula, yang berisi cairan. Munculnya tiba-tiba.
Vesikula tersebut kadang-kadang dapat berkelompok dan kemudian membentuk bula yang
besar.

Pada stadium subakut atau kronis, kulit kering dan berskuama. Pada 80% penderita,
mengenai telapak tangan, bagian lateral jari-jari, hanya 12% yang mengenai telapak kaki.
Erupsinya simetris dan sering rekuren. (Marwali Harahap, 2000)
3) Pengobatan
1)

Astrigen untuk mengeringkan kulit

2)

Emolien pada lesi kulit yang kering

3)

Steroid topical

4)

Kortokosteroid sistemik hanya perlu pada kasus yang berat

(Marwali Harahap, 2000)


1. Medikamentosa
Dermatitis medikamentosa merupakan penyakit yang manifestasinya pada kulit dan selaput
lendir sebagai akibat obat-obatan. Obat tersebut dapat masuk ke dalam tubuh baik secara oral,
injeksi maupun perinhalasi, sehingga menimbulkan erupsi. Absorbsi obat dapat melalui kulit
yang utuh atau yang luka, melalui selaput lender seperti kandung kencing, konjungtiva,
vagina, oral, dan nasal. Secara tiba-tiba penyakit ini timbul dengan kelainan pada kulit yang
sering tampak simetris dan biasanya tersebar luas diseluruh badan. Morfologi klinik yang
sering tampak pada erupsi akibat obat, yaitu: makulo-papula (morbiliforn), urtikaria,
vesikobulosa dan purpura. Disamping kelainan kulit itu, beberapa jenis obat dapat pula
menyebabkan kelainan bentuk lain seperti eritema multiforme oleh penisilin, eritema
nodusun oleh sulfonamide dan yodida, dermatitis eksfoliativa. (Purnawan Junadi dkk, 1992)
Dermatitis eksogen :
1. Dermatitis kontak
Dermatitis kontak adalah peradangan kulit yang akut atau kronik akibat terpajan keiritan
(dermatitis iritan) atau allergen (dermatitis alergik). Lokasi dermatitis dikulit sesuai dengan
tempat pajanan. Dermatitis kontak alergik terjadi karena sel langerhans mengolah dan
menyajikan suatu allergen ke sel-sel T didekatnya. Sel-sel T menanggapinya dengan respon
hipersensitivitas tipe IV terhadap allergen. Respon tersebut bersifat lambat yaitu memerlukan
waktu beberapa jam atau beberapa hari untuk muncul. Dermatitis iritan tidak melibatkan
system imun, hanya respon peradangan. (Elizabeth J. Corwin, 2000).
Berdasrkan penyebabnya, dermatitis kontak dibagi atas :
a).

Dermatitis kontak toksik

b).

Dermatitis kontak alergik

Pembagian lainnya adalah:


a).

Dermatitis kontak iritan

Dermatitis iritan akut

Dermatitis iritan kronik (kumulatip)

b).

Dermatitis kontak alergik

c).

Dermatitis fotokontrak

d). Dermatitis fotokontrak toksik


e).

Dermatitis fotokontrak alergik

Dermatitis kontak iritan merupakan 80% dari seluruh dermatitis kontak. (Marwali Harahap,
2000)
1. Dermatitis Infektif
Dermatitis infekti adalah suatu ekzema yang disebabkan oleh suatu mikroorganisme ataupun
produknya, dan menyembuh bila organismenya sudah di obati. Jadi bentuk dermatitis ini
harus dibedakan dengan dermatitis yang mengalami infeksi sekunder oleh bakteri ataupun
virus karena kulit terluka. Kadang-kadang dalam praktek kedua penyakit ini susah dibedakan.
Istilah ini masih kontroversial, sehingga banyak ahli kulit tidak pernah membuat diagnosis
ini. (Marwali Harahap, 2000)
1. Dermatofitid
Reaksi dermatitis dapat terjadi sebagai reaksi alergi terhadap infeksi dermatofites. Harus ada
kriteria dibawah ini untuk menegaskan diagnosis.
1)

Ada focus infeksi dermatofites.

2)

Hasil tes kulit terhadap grup antigen trikofitin.

3)

Tidak dijumpai jamur pada lesi dermatofitid.

4)

Dermatofitid sembuh setelah jamurnya di obati.

Jadi dermatofitid terjadi secara sekunder, jauh dari lesi infeksi, analog dengan tuberkulid kulit
pada tuberculosis. Keadaan ini jarang dijumpai. (Marwali Harahap, 2000)
1. Dermatitis Ekssfoliatifa Generalisata
Dermatitis eksfoliata generalisata adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan
eritema dan skuama yang hampir mengenai seluruh tubuh. Prosesnya dapat primer ataupun
idiopatik, tanpa didahului penyakit kulit ataupun sistemik sebelumnya.Empat puluh persen
kasus didahului oleh dermatosis, seperti psoriasis, obat-obatan, tinea, kelainan limforetikuler.
Laki-laki 2-3 kali lebih banyak daripada perempuan. (Marwali Harahap, 2000)

1. B. Tinjauan Umum Tentang Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan


Kejadian Dermatitis
Penyebab ekzema atau dermatitis tidak diketahui, namun jika salah satu atau lebih anggota
keluarga mengalami ekzema, asma, atau rinitas alergika maka anak anda memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mengalami ekzema dibanding populasi umum. Sebagian anak
dengan ekzema juga mengalami asma atau rinitas alergika. Ekzema dapat dipicu oleh
berbagai hal, antara lain : 1) keringnya kulit 2) iritasi oleh sabun detergen, pelembut pakaian,
dan bahan kimia lain 3) menciptakan kondisi yang terlalu hangat untuk anak, misalnya
membungkus anak dengan pakaian berlapis-lapis 4) alergi atau intoleransi terhadap makanan
tertentu 5) alergi terhadap tungau debu, serbuk sari makanan, atau bulu hewan 6) virus dan
infeksi lain 7) perjalanan ke Negara dengan iklim berbeda.
Dari penjabaran penyebab dermatitis diatas, dapat disimpulkan bahwa dermatitis secara
umum disebabkan oleh faktor keturunan, alergi makanan, dan lingkungan. (Nurul Itqiyah,
2007)
1. 1. Tinjauan Khusus Tentang Alergi Makanan
Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenal banyak organ dan system
tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Tidak semua reaksi yang tidak
diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter atau
masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi yang tidak
diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologik. (Judarwanto, 2000)
Alergi makanan didefenisikan sebagai respon abnormal tehadap makanan. Insiden alergi
makanan jumlahnnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan alergi ini dialami oleh
0,3-50% populasi penduduk dunia. Gejala-gejala alergi adalah timbulnya gangguan saluran
pencernaan, saluran pernapasan, dan kulit. Dan umumnya gangguan akibat alergi ini bersifat
ringan, tetapi dapat bersifat parah yang mengakibatkan terjadinya shock, kegagalan
pernapasan dan kematian. Beberapa jenis makanan yang menimbulkan alergi misalnya : susu
sapi, telur, kedele, kacang tanah, ikan, kerang, tomat, jeruk, coklat dan sebagainya. Makanan
penyebab alergi ini kadang-kadang dapat dikurangi sensivitasnya melalui proses pemasakan,
sebagai contoh susu yang tidak dimasak lebih sering menyebabkan alergi dibandingkan susu
yang dimasak. Zat penyebab alergi seringkali adiptif. Artinya, seseorang mungkin tidak
mengalami gangguan alergi bila dia mengkonsumsi makanan tertentu dalam jumlah sedikit.
Tetapi bila makanan tersebut dikonsumsi dalam jumlah banyak/sering, maka timbullah
gejala-gejala alergi. (Ali Khomsan, 2004)
Alergi makanan (alergi terhadap allergen ingestan) umumnya disebabkan oleh mekanisme
imunologis, sedangkan itoleransi makanan tidak. Intoleransi makanan umum terjadi beberapa
zat kimia dalam makanan dapat memperburuk dermatitis, misalnya tetrazine atau pewarna
makanan. Meskipun demikian, mekanismenya masih belum jelas. Alergi makanan sifatnya
bergantung usia. Alergi jenis ini bisa sangat parah terjadi pada bayi dan makin lama makin
ringan. Alergi pada beberapa jenis makanan (seperti telur dan susu sapi) biasanya sementara,
sedangkan alergi terhadap kacang atau ikan biasanya menetap seumur hidup. Hubungan
antara dermatitis atopik dan alergi makanan cukup kompleks meskipun biasanya anak yang
alergi makanan yang menderita dermatitis alergi berat. Kemungkinan kurang dari 10% dari
semua anak dengan dermatitis atopik memiliki alergi makanan termediasi IgE dengan
angioedema dan urtikaria (biduran). (Banjarmasin post, 2005)

Kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang mete dan sejenisnya dapat menyebabkan
reaksi akan tetapi biasanya bersifat ringan. Gejalanya biasanya berupa gatal di tenggorokan.
Walaupun demikian, di Amerika serikat alergi terhadap kacang dilaporkan sebagai penyebab
kematian tersering karena reaksi anafilaksis. Protein kacang-kacangan terdiri dari albumin
(yang larut dalam air) dan globulin (yang tidak larut dalam air) yang terdiri dari fraksi arachin
dan conarachin. Ikan merupakan alergen yang kuat terutama ikan laut. Bentuk reaksi alergi
yang sering berupa urtikaria, atau asma. Pada anak yang sangat sensitif. Dengan hanya
mencium bau ikan yang sedang dimasak dapat juga menimbulkan sesak napas atau bersin.
Jenis hidangan laut lain (sea food) yang sering menimbulkan alergi adalah udang kecil, udang
besar (lobster) serta kepiting, gejala yang sering timbul adalah urtikaria serta angioedema.
Alergi terhadap ikan laut. Dengan proses pemasakan (pemanasan) sebagian besar dapat
menghancurkan alergen utama yang ada dalam hidangan laut ini. (Zakiudin Munasir, 2006)
1. 2. Tinjauan Khusus Tentang Lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi kejadian suatu penyakit. Interaksi antara penjamu, agen,
dan lingkungan sangat erat kaitannya dengan kondisi penyakit seseorang tetapi ada beberapa
penyakit yang hanya disebabkan oleh kesalahan letak kode atau informasi genetik yang
dinamakan oleh penyakit keturunan. Akan tetapi, hampir semua penyakit pada manusia
berada di antara kedua ujung spectrum ini dan kedua faktor baik intrinsik maupun ekstrinsik
saling mempengaruhi secara bermakna.
Faktor-faktor di lingkungan yang memicu atau memperparah ekzema, misalnya :
1)

Bahan seperti wol atau pelapis car seat

2)

Detergen, sabun, bubble baths, antiseptic

3)

Kontak dengan bulu hewan

4)

Menggunakan krim pelembab (moisturizer)

(Nurul Itqiyah, 2007)


Alergen penyebab serangan asma/pilek pada penderita atopi/alergi, antara 70-80% adalah
debu yang terdapat di dalam rumah. Sebetulnya penyebabnya adalah tungau yang berukuran
0,3 x 1,2 mm yang hidup dan berkembang biak di dalam debu rumah. Kutu/tungau ini di
sebut Dermatophagoides pteronyssinus dan banyak dijumpai kasur, bantal, guling berisi
kapuk, selimut karpet, mainan anak yang berisi kapuk, atau berbulu, perabotan rumah tangga
dll. Pada sekitar 12% orang yang mempunyai tendensi alergi, paparan debu akan
menimbulkan rasa gatal yang amat sangat pada hidung dan tenggorokan, mata membengkak
merah dan gatal, hidung mengeluarkan cairan dan pilek, seringkali kesulitan bernafas atau
asma. Di samping debu rumah penyebabnya dapat pula serpihan kulit manusia. Kulit
manusia, terutama kulit kepala, setiap hari melepaskan serpihan kulit, umpamanya saat
menggaruk atau menggosok kulit. Jika jatuh ke sarung bantal untuk orang yang peka
menimbulkan asma, atau pilek atau bersin. Begitu pula dengan serpihan kulit binatang
(anjing, kucing, kuda, lembu, dan ternak bersayap) juga spora bermacam-macam jamur
(jamur tempe, oncom, jamur pada Air Conditioner), tepung sari tumbuh-tumbuhan. (Eliss,
2008)

Dermatitis kontak alergika timbul pada individu yang telah tersensitasi bahan tersebut, reaksi
hipersensivitas immun. Bahan penyebab ini meliputi bahan kosmetika, asesoris, pakaian,
sepatu, obat topikal, semen, sabun pestisida, cat dll. Dan bahan penunjang yang menimbulkan
dermatitis kontak alergika adalah suhu udara, kelembaban/gesekan. Macam-macam bahan
iritan :
1) Air : Melarutkan bahan pengikat air dalam lapisan permukaan kulit sehingga
mengakibatkan kekeringan (Ca, Mg, Fe, Khlor, Brom)
2)
Pembersih kulit : Sabun detergen meningkatkan PH melarutkan lemak, pewangi,
pembersih iritan
3)

Alkalis : Soda, Amonia, semen, Kapur

4)

Asam : asam asetat, oksalat, nitrat

5)

Tumbuh-tumbuhan : Kulit jeruk, bawang putih, rempah, padi, dll

6)

Iklim : panas, dingin, lembab. (Sapto Harnowo, 2001)

Jika dermatitis terjadi setelah menyentuh zat tertentu lalu terkena sinar matahari, maka
keadaannya disebut dermatitis kontak fotoalergika atau dermatitis kontak fototoksik. Zat-zat
tersebut antara lain tabir surya, loysen setelah bercukur, parfum tertentu, antibotik dan
minyak. Penyebab dari dernatitis kontak alergika :
1)
Kosmetika : cat kuku, penghapus cat kuku, deodoran, pelembab, loysen sehabis
bercukur, parfum, tabir surya
2)

Senyawa kimia (dalam perhiasan) : nikel

3)

Tanaman : racun ivy, (tanaman merambat), sejenis rumput liar.

4)
Obat-obat yang terkandung dalam krim kulit : antibiotik (penisilin, sulfonamid,
neomisin), antihistamin (difenhidramin, prometasin). Anestesi (benzokain), antiseptik
(timeosal)
(Medicastore, 2004)
Bahan yang dapat mencetuskan terjadinya dermatitis adalah bahan yang tergolong sebagai
iritan. Bahan wool yang kontak langsung dengan kulit merupakan iritan utama. Bahan nilon
yang mengkilat dan beberapa akrilik mungkin dapat mengiritasi kulit, tetapi campuran katun
dan poliester biasanya tidak. Sabun dan busa yang berlebihan akan membuat kulit kering dan
banyak produk yang berparfum atau mengandung obat yang dipakai di kulit dapat
menyebabkan iritasi. Beberapa preparat ekstrak tanaman yang digunakan oleh pengobat
alternatif bisa menjadi iritan atau alergen dan karenanya riwayat penggunaan zat ini harus
dicari pada saat anamnesis. (Barnetson, 2002)
1. 3. Tinjauan Umum Tentang Genetik

Memang saat ini kasus dermatitis makin meningkat dibanding dulu. Jika di keluarga ada yang
mengalami alergi atau asma maka resiko alergi meningkat. Biasanya yang menjadi penyebab
alergi adalah protein susu sapi dan jika memang ada alergi atau asma di keluarga maka
pemberian ASI eksklusif atau susu hipoalergi sangat membantu mengurangi resiko terkena
alergi (dermatitis, asma, termasuk penyakit alergi). Dengan pengobatan dan diet maka
dermatitis ini dapat dihilangkan gejalanya tetapi dapat muncul kembali bila terkena faktor
pencetus dan untuk penyembuhannya diperlukan waktu. (Rudi Hartono, 2003)
Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau kakek/nenek pada penderita. Bila ada orang tua
menderita alergi kita harus mewaspadai terhadap alergi pada anak sejak dini. Bila ada salah
satu orang tua yang menderita gejala alergi maka dapat menurunkan resiko pada annak
sekitar 20-40%, kedua orang tua alergi resiko meningkat menjadi 40-80%. Sedangkan bila
tidak ada riwayat alergi pada kedua orang tua maka resikonya adalah 5-15%. Pada kasus
terakhir ini bisa saja terjadi bila nenek, kakek atau saudara dekat orang tuanya mengalami
alergi. Bisa saja alergi pada saat anak timbul, setelah menginjak usia dewasa akan banyak
berkurang. (Widodo Judarwanto, 2000)
Dalam kehidupan sehari-hari, dermatitis atopik merupakan peradangan menahun pada lapisan
atas kulit yang menyebabkan rasa gatal; seringkali terjadi pada penderita rhinitis alergika atau
penderita asma dan pada orang-orang yang anggota keluarganya ada yang menderita rhinitis
alergika atau asma. Meski penyebabnya genetic (keturunan), sepanjang tidak ada faktor
pencetusnya, eksema ini tidak akan timbul. Jadi kalau gejalannya masih sedikit gatal atau
merah, lebih baik langsung diingat-ingat apa yang sudah dimakan dan dikenakan, lalu cepat
hindari agar tidak berkepanjangan. (Ayu, 2000)
Jelas bahwa faktor-faktor keturunan ikut memegang peranan. Jika kedua orangtua memiliki
dermatitis atopik, sekitar 80% anak-anaknya mengalami perubahan yang sama pada keadaan
kulitnya. (Sylvia A. Price dkk, 2005)
BAB III
KERANGKA KERJA PENELITIAN
1. A. Kerangka Konsep
Berdasarkan uraian yang dikemukakan pada latar belakang dan tinjauan pustaka serta
landasan teori, maka dikembangkan kerangka konsep yang merupakan perpaduan dari teori
tersebut.
Pada penelitian ini akan menganalisis mengenai faktor yang berhubungan dengan kejadian
Dermatitis dengan variabel bebas adalah alergi makanan, genetik (keturunan), dan
lingkungan sedangkan variabel terikat ialah Dermatitis.
SKEMA KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Variabel Independent

Keterangan :

Variabel Dependen

Variable Independent
Variable Dependen
1. B. Hipotesa
1)

Hipotesa Alternatif (Ha)


1. Ada hubungan antara Alergi Makanan dengan kejadian penyakit Dermatitis
2. Ada hubungan antara kebersihan Lingkungan dengan kejadian penyakit Dermatitis
3. Ada hubungan antara Genetik (keturunan) dengan kejadian penyakit Dermatitis

2)

Hipotesa Nol (H0)


1. Tidak ada hubungan antara Alergi Makanan dengan kejadian penyakit Dermatitis
2. Tidak ada hubungan antara Kebersihan Lingkungan dengan kejadian penyakit
Dermatitis
3. Tidak ada hubungan antara Alergi Makanan dengan kejadian penyakit Dermatitis
1. C. Defenisi Operasional

Variablel
Variablel
Dependen
Kejadian
Dermatitis

Variable
Independen
1. Alergi
Makanan

Defenisi
Operasional
Suatu peradangan
pada lapisan atas
kulit yang
menyebabkan rasa
gatal. Pada
umumnya dermatitis
juga disertai dengan
tanda-tanda seperti
terbentuknya bintil
yang berisi cairan
(bening/nanah) dan
bersisik.
Reaksi imunologis
(kekebalan tubuh)
yang menyimpang
karena masuknya
bahan penyebab
alergi dalam tubuh

Kriteria Obyektif

Alat ukur

Menderita : Apabila Kuesioner


dokter mendiagnosa
bahwa pasien
menderita dermatitis.

skala
Ordinal

Tidak menderita :
Apabila dokter
mendiagnosa bahwa
pasien tidak
menderita dermatitis.

Dikatakan beresiko: Kuesioner


Apabila timbul gejala
dermatitis setelah
makan.
Dikatakan tidak
berisiko : Apabila
tidak timbul gejala
dermatitis setelah

Ordinal

makan.
2. Kebersihan
Lingkungan

Segala sesuatu yang Dikatakan Berisiko : Kuesioner


ada disekitarnya baik Apabila tidak terdapat
berupa benda hidup, faktor-faktor yang
benda mati, benda memicu dermatitis.
nyata/abstrak.
Seperti debu, bahan Dikatakan tidak
wool, air, suhu,
berisiko : Apabila
cuaca dll
terdapat faktor-faktor
yang memicu
dermatitis.

Ordinal

3. Genetik

Adanya riwayat
Dikatakan berisiko : Kuesioner
dermatitis dalam
Apabila bapak/ibu
keluarga di masa lalu atau kedua-duanya
yang didapatkan dari mempunyai riwayat
keluarga, yakni
dermatitis.
bapak, ibu, saudara
kandung, kakek dan Dikatakan tidak
nenek.
berisiko : Apabila
bapak/ibu atau keduaduanya tidak
mempunyai riwayat
dermatitis.

Ordinal

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
1. A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah survey dengan pendekatan Cross Sectional Study,
merupakan rencana penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat
bersamaan (sekali waktu) dengan maksud untuk mengetahui hubungan dengan varibel.
Dimana data-data yang berkaitan dengan variabel independen maupun dependen
dikumpulkan secara bersamaan untuk mendapatkan informasi tentang faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian dermatitis.
1. B. Populasi dan Sampel
1. 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang datang berobat di puskesmas
tawanga dengan diagnosa dermatitis periode Januari Juni 2009 sebanyak 38 orang.
1. 2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien datang berobat di puskesmas tawanga.
Teknik pengambilan sampel yang di gunakan adalah Total Sampling.
1. C. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu
Penelitian ini dilakukan dimulai pada Tanggal 26 Oktober 07 November 2009
1. Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di puskesmas Tawanga Kec. Konawe
1. D. Cara Pengumpulan Data

Data Primer

Pengumpulan data dilakukan melalui pembagian kuesioner langsung kepada responden pada
saat penelitian yang berkaitan dengan variabel yang akan diteliti.

Data Sekunder

Diperoleh melalui pencatatan dan pelaporan atau dokumentasi yang ada di puskesmas
tawanga
1. E. Pengolahan Data
Prosedur pengolahan data yang dilakukan sebagai berikut :
1. Editing
Editing dilakukan untuk memeriksa ulang jumlah responden dan meneliti kelengkapan
jawaban
1. Koding
Untuk memudahkan pengelolaan data, semua jawaban perlu disederhanakan dengan cara
memberikan simbol tertentu pada setiap jawaban
1. Tabulasi
Setelah data terkumpul dan tersusun, selanjutnya data dikelompokkan dalam satu tabel
menurut sifat-sifat pengelompokannya/sesuai penelitian.
1. F. Analisa data
Setelah data terkumpul maka data tersebut dianalisa dengan menggunakan jasa komputer
program SPSS Versi 14.0 yang meliputi :
1. Analisa univariat

Dilakukan terhadap tiap-tiap variabel-variabel penelitian untuk melihat tampilan distribusi


frekuensi dan persentase dari tiap-tiap variabel independen.
1. Analisa Bivariat
Untuk melihat hubungan tiap-tiap variabel independen dengan kejadian penyakit dermatitis
sebagai variabel dependen maka digunakan uji statistik chi-squre. Dengan tingkat kemaknaan
= 0,05 hasil perhitungan manual akan diperiksa ulang dengan menggunakan program
komputer SPSS versi 14.0.
Rumus chi- square (kai kuadrat) sebagai berikut : (Sugiyono,2004 Hal 244)
Dengan menggunakan table kontingensi 22(dua baris x dua kolom) sebagai
berikut :
Sampel
Sampel A
Sampel B
Jumlah

Frekwensi pada
Obyek I
Obyek II
a
b
c
d
a+c
b+d

Jumlah sampel
a+b
c+d
n

n = jumlah sampel
dengan menggunakan rumus uji hipotesis sebagai berikut :
X

n([ad bc] n)

(a+b)(a+c)(b+d)(c+d)
(Sugiyono, 2004 : 244)
Untuk menguji keeratan hubungan antara variabel yang diteliti adalah dengan menggunakan
rumus :
C = X hitung
X hitung + n

C maks =

m- 1
m

Keterangan :
X = nilai Chi kuadrat
n = total sampel
m = nilai minimum baris/kolom
dengan syarat penggunaan jika Ha diterima, dengan ketentuan sebagai berikut:

0,0 C/Cmaks 0,20

: hubungan sangat rendah

0,20 C/Cmaks 0,40 : hubungan rendah


0,40 C/Cmaks 0,60 : hubungan sedang
0,60 C/Cmaks 0,80 : hubungan tinggi
0,80 C/Cmaks 1,00 : hubungan sangat tinggi (sugiarto,2002)
1. G. Etika Penelitian
Menurut Azis Alimul Hidayat (2003), etika penelitian meliputi :
1. Informed Consent
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi
kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian, bila subjek menolak maka
peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak subjek.
1. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama responden tetapi lembar
tersebut diberi kode.
1. Kerahasiaan (Cofidentiality)
Menjelaskan masalah-masalah responden yang harus dirahasiakan dalam penelitian.
Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya data
tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. A. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
1. 1. Letak Geografis
Puskesmas tawanga terletak dikelurahan tawanga kecamatan Konawe akb. Konawe dengan
68 km dari ibu kota Propinsi sulawesi tenggara dan 10 km dari ibu kota kabupaten konawe
(unaaha) dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Unaaha
2. Sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Wawotobi
3. Sebalah Selatan berbatasan dengan kecamatan Wonggeduku
4. Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Uepai

Wilayah kerja puskesmas tawanga terdiri dari 9 desa dan pada umumnya adalah daratan
rendah, dan potensial untuk area persawahan. Kecamatan konawe mempunyai 2 musim yaitu
musim kemarau dan hujan
Jumlah penduduk diwilayah kerja puskesmas unaaha pada tahun 2009 tercatat 7.641 jiwa
dengan jumlah kepala keluarga 1.931 KK.
1. 2. Sosial Ekonomi
Masyarakat kecamatan konawe bermata pencaharian sebagai PNS, wiraswasta, TNI, tani,
Polri, secara umum pendapatan atau penghasilan rata-rata sudah mencukupi kebutuhan
keluarga
1. 3. Agama
penduduk dalam wilayah kerja puskesmas tawanga 90 % penduduknya memeluk agama
islam selabihnya Kristen protestan dan katolik.
1. 4. Budaya
Penduduk wilayah kerja puskesmas tawanga terdiri dari berbagai macam suku, dimana suku
tolaki adalah suku yang mayoritas dan hanya sebagian kecil suku lain yang ada di kecamatan
konawe, seperti bugis, makassar, muna, dan buton jawa.
1. 5. Sarana Kesehatan
Sarana Kesehatan kesehatan yang terdapat dikecamatan tawanga adalah sebagai berikut :
1. fisik ( bangunan)
1)

puskesmas induk 1 buah

2)

pustu 1 buah

3)

polindes 1 buah

4)

posyandu 9 buah
1. Tenaga Medis

1)

dokter umum 1 Orang

2)

SKM 3 Orang

3)

Bidan 5 Orang

4)

Perawat 10 Orang

5)

Gizi 6 Orang

6)

Perawat gigi 1 Orang

7)

SMU/ Umum 6 Orang


1. B. HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel yang disertai narasi dengan uraian sebagai
berikut : (1) karakteristik responden dan (2) variabel penelitian .
1. 1. Karakteristik Responden
1. Jenis Kelamin
Tabel. 5.1
Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tentang Kejadian Dermatitis Di
Puskesmas Tawanga Kec. Konawe
Kab. Konawe Tahun 2009
Jensi kelamin
Laki-laki

Frekwensi
11

Persentase
28,9%

perempuan

27

71,1%

Jumlah

38

100 %

Sumber : data primer


Berdasarkan tabel 5.1 diatas dari 38 responden lebih besar yang berjenis kelamin perempuan
yaitu 27 orang (71,1%) dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 11 orang (28,9%).
1. Umur
Tabel 5.2
Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Umur Tentang Tentang Kejadian Dermatitis Di
Puskesmas Tawanga Kec. Konawe
Kab. Konawe Tahun 2009
Umur
15- 20

Frekwensi
6

Persentase
15,8 %

21-25

21,1%

26-30

18,4%

31- 35

15,8%

36-40

5,3%

41-45

10,5%

46>

13,2%

Jumlah

38

100%

Sumber : Data primer


Berdasarkan tabel 5.2 diatas menunjukkan bahwa dari 38 orang responden yang paling
banyak pada kelompok umur 21-25 tahun yaitu sebesar 8 (21,1%) dan paling sedikit
responden pada usia 36-40 2 (5,3%)
1. Tingkat Pendidikan
Tabel 5.3
Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tentang Tentang Kejadian
Dermatitis Di Puskesmas Tawanga
Kec. Konawe Kab. Konawe Tahun 2009
Pendidikan
SD

Frekwensi
9

Persentase
23,7%

SMP

16

42,1%

SMA

23,7%

Perguruan tinggi

10,5%

Jumlah

38

100%

Sumber : data primer


Berdasarkan tabel 5.3 diatas menunjukkan bahwa responden yang berpendidikan SD 9 Orang
(23,7%), responden yang berpendidikan SMP 16 orang (42,1%), responnden yang
berpendidikan SMA 9 orang (23,7%) dan responden yang bependidikan perguruan tinggi 4
orang (10,5%).
1. kejadian dermatitis
Tabel 5.4

Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan kejadian Dematitis


Di Puskesmas Tawanga Kec. Konawe Kab. Konawe
Tahun 2009
Kejadian dermatitis
Menderita

Frekwensi
19

Persentase
50,0%

Tidak menderita

19

50,0%

Jumlah

38

100%

Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel 5.4 diatas menunjukkan bahwa dari 38 responden yang menderita
dermatitis sebanyak 19 orang (50,0%) dan responden yang tidak menderita dermatitis
sebanyak 19 orang (50,0%)
1. Faktor Alergi Makanan
Tabel 5.5
Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Faktor Alergi Makanan
Di Puskesmas Tawanga Kec. Konawe Kab. Konawe
Tahun 2009
Alergi Makanan
Beresiko

Frekwensi
27

Persentase
71,1%

Tidak Beresiko

11

28,9%

Jumlah

38

100%

Sumber : data primer


Berdasarkan tabel 5.5 diatas menunjukkan bahwa dari 38 responden yang bersiko menderita
dermatitis sebanyak 27 orang (71,1%) dan responden yang tidak beresiko menderita
dermatitis sebanyak 11orang (28,9%)
1. Faktor Kebersihan lingkungan
Tabel 5.6
Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Faktor kebersihan Lingkungan Di Puskesmas
Tawanga Kec. Konawe

Kab. Konawe Tahun 2009


Kebersihan lingkungan
Beresiko

Frekwensi
19

Persentase
50,0%

Tidak Beresiko

19

50,0%

Jumlah

38

100%

Sumber : data primer


Berdasarkan tabel 5.6 diatas menunjukkan bahwa dari 38 responden yang bersiko menderita
dermatitis sebanyak 19 orang (50,0%) dan responden yang tidak beresiko menderita
dermatitis sebanyak 19 orang (50,0%)
1. Faktor Genetik
Tabel 5.7
Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Faktor Genetik
Di Puskesmas Tawanga Kec. Konawe Kab. Konawe
Tahun 2009
Genetik
Beresiko

Frekwensi
21

Persentase
55,3%

Tidak beresiko

17

44,7%

Jumlah

38

100%

Sumber : data Primer


Berdasarkan tabel 5.7 diatas menunjukkan bahwa dari 38 responden yang beresiko menderita
dermatitis sebanyak 21 orang (55,3%) dan responden yang tidak beresiko dermatitis sebanyak
17 orang (44,7%)
1. 2. Variabel Penelitian
1. a. Analisis hubungan antara variabel alergi makanan dengan kejadian
dermatitis
Tabel. 5.8
Hubungan Antara dermatitis Dengan faktor alergi Makanan
Di Puskesmas Tawanga Kec. Konawe Kab. Konawe

Tahun 2009
Kejadian Dermatitis
Menderita
Tidak Menderita
n
%
n
%
Beresiko
10
26,32
17
44,74
Tidak Beresiko 9
23,68
2
5,26
Jumlah
18
50
17
50
Alergi
Makanan

Total
n
25
10
38

%
71,06
28,94
100

Sumber : data primer


Berdasarakan Tabel 5.8 menunjukkan bahwa dari 38 responden yang menderita dermatitis
dan beresiko terhadap faktor alergi makanan sebesar 10 (26,32%) dan responden yang tidak
menderita dermatitis dan beresiko terhadap faktor alergi makanan sebesar 17 (44,74%).
Sedangkan responden yang menderita dermatitis dan tidak beresiko terhadap faktor alergi
makanan sebesar 9 (23,68%) dan yang tidak menderita dermatitis dan tidak beresiko terhadap
faktor alergi makanan sebesar 2 (5,26%).
Hipotesis yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara faktor
alergi makanan dengan kejadian dermatitis di puskesmas tawanga kec konawe kab. Konawe .
Untuk maksud tersebut, penulis menggunakan analisis Chi Square, pengambilan keputusan
didasarkan pada kriteria X hitung lebih besar dari X tabel, maka hipotesis penelitian (Ha)
Diterima atau ada hubungan antara faktor alergi makanan dengan kejadian dermatitis,
sebaliknya jika X hitung lebih kecil dari X tabel maka hipotesis (Ha) ditolak atau tidak ada
hubungan antara faktor alergi makanan dengan kejadian dermatitis.
Hasil uji analisis menunjukkan bahwa nilai X hitung lebih besar
8,188552dan X tabel
3,841 sehingga didapat X hitung lebih besar X tabel (8,188552>3,841) maka hipotesis
penelitian Ha diterima dan H0 Ditolak atau ada hubungan yang bermakana antara faktor
alergi makanan dengan kejadian dermatitis hasil perhitungan dapat dilihat seperti berikut :
Xhit

= n ([a.d b.c] n)

(a+b)(a+c)(b+d)(c+d)
= 38 ([10.2-17.9]- .38)
(10+17).(10+9).(17+2).(9+2)
= 38([20-153]- .38)
(27).(19).(19).(11)
= 38([-133]-19)
107217
= 38 . 23104

107217
= 877952
107217
= 8,188552
Jadi X = 8,188552
Keterangan : Dk

=1

Xtabel

= 3,841

X hit

= 8,188552

Kesimpulan : karena X hitung > X tabel maka Ha diterima, Ho ditolak artinya ada
hubungan yang bermakna antara dermatitis dengan alergi makanan
Derajat hubungan dermatitis dengan alergi makanan
Dik = X hit

= 8,188552

Xtabel

= 3,841

= 38

=2

Rumus = C

X hit+n

8,188552

8,188552+38

8,188552

46,188552

0,1772853

X hit

= 0,4210526

C maks

m -1

2-1

0,5

= 0,7071
C/C maks

= 0,4210526

0,7071
= 0,595464
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sedang antara dermatitis dengan alergi
makanan
1. b. Analisis Hubungan Antara Variabel Kebersihan Lingkungan Dengan
Kejadian Dermatitis
Tabel. 5.9
Hubungan Antara dermatitis Dengan faktor kebersihan lingkungan
Di Puskesmas Tawanga Kec. Konawe Kab. Konawe
Tahun 2009
Kejadian Dermatitis
Menderita
Tidak Menderita
n
%
n
%
Beresiko
6
15,78
13
34,22
Tidak Beresiko 13
34,22
6
15,78
Jumlah
18
50
17
50
Kebersihan
Lingkungan

Sumber : data primer

Total
n
19
19
38

%
50
50
100

Berdasarakan Tabel 5.9 menunjukkan bahwa dari 38 responden yang menderita dermatitis
dan beresiko terhadap faktor kebersihan lingkungan sebesar 6 (15,78%) dan responden yang
tidak menderita dermatitis dan beresiko terhadap faktor kebersihan lingkungan sebesar 13
(34,22%). Sedangkan responden yang menderita dermatitis dan tidak beresiko terhadap faktor
kebersihan lingkungan sebesar 13 (34,22%) dan yang tidak menderita dermatitis dan tidak
beresiko terhadap faktor kebersihan lingkungan sebesar 6 (15,78%).
Hipotesis yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara faktor
kebersihan lingkungan dengan kejadian dermatitis di puskesmas tawanga kec konawe kab.
Konawe . Untuk maksud tersebut, penulis menggunakan analisis Chi Square, pengambilan
keputusan didasarkan pada kriteria X hitung lebih besar dari X tabel, maka hipotesis
penelitian (Ha) Diterima atau ada hubungan antara faktor kebersihan lingkungan dengan
kejadian dermatitis, sebaliknya jika X hitung lebih kecil dari X tabel maka hipotesis (Ha)
ditolak atau tidak ada hubungan antara faktor kebersihan lingkungan makanan dengan
kejadian dermatitis.
Hasil uji analisis menunjukkan bahwa nilai X hitung lebih besar
10,666 dan X tabel
3,841 sehingga didapat X hitung lebih besar X tabel (10,666>3,841) maka hipotesis
penelitian Ha diterima dan H0 Ditolak atau ada hubungan yang bermakana antara faktor
kebersihan lingkungan dengan kejadian dermatitis hasil perhitungan dapat dilihat sebagai
berikut:
Xhit

= n ([a.d b.c] n)

(a+b)(a+c)(b+d)(c+d)
= 38 ([6.6-13.13]- .38)
(6+13).(6+6).(13+6).(13+6)
= 38([36-169]- .38)
(19).(12).(19).(19)
= 38([-133]-19)
82308
= 35 . 23104
82308
= 877952
82308
= 10,666
Jadi X = 10,666

Keterangan : Dk

=1

Xtabel

= 3,841

X hit

= 10,666

Kesimpulan : karena X hitung > X tabel maka Ha diterima, Ho ditolak artinya ada
hubungan yang bermakna antara dermatitis dengan kebersihan lingkungan
Derajat hubungan dermatitis dengan kebersihan lingkungan
Dik = X hit

= 10,666

Xtabel

= 3,841

= 38

=2

Rumus = C

X hit

X hit+n
=

10,666

10,666+35

10,666

48,666

0,2191673

= 0,468153

C maks

2-1

m -1

0,5

= 0,7071
C/C maks

= 00,468153= 0,6620746

0,7071
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang tinggi antara dermatitis dengan
kebersihan lingkungan
1. c. Analisis hubungan variabel genetik dengan kejadian dermatitis
Analisis hubungan antara variabel genetik dengan kejadian dermatitis akan ditampilkan
dalam tabel berikut :
Tabel. 5.10
Hubungan Antara Genetik Dengan kejadian dermatitis Di Puskesmas Tawanga Kec. Konawe
Kab. Konawe
Tahun 2009
Kejadian Dermatitis
Genetik
Menderita
Tidak Menderita
n
%
n
%
Beresiko
13
34,21
8
21,05
Tidak Beresiko 6
15,79
11
28,95
Jumlah
18
50
17
50

Total
n
27
11
38

%
55,26
44,74
100

Sumber : data primer


Berdasarakan Tabel 5.10 menunjukkan bahwa dari 38 responden yang menderita dermatitis
dan beresiko terhadap faktor genetik sebesar 13 (34,21%) dan responden yang tidak
menderita dermatitis dan beresiko terhadap faktor genetik sebesar 8 (21,05%). Sedangkan
responden yang menderita dermatitis dan tidak beresiko terhadap faktor genetik sebesar 6
(15,79%) dan yang tidak menderita dermatitis dan tidak beresiko terhadap faktor genetik
sebesar 17 (28,95%).
Hipotesis yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara faktor
genetik dengan kejadian dermatitis di puskesmas tawanga kec konawe kab. Konawe . Untuk
maksud tersebut, penulis menggunakan analisis Chi Square, pengambilan keputusan
didasarkan pada kriteria X hitung lebih besar dari X tabel, maka hipotesis penelitian (Ha)
Diterima atau ada hubungan antara faktor genetik dengan dengan kejadian dermatitis,

sebaliknya jika X hitung lebih kecil dari X tabel maka hipotesis (Ha) ditolak atau tidak ada
hubungan antara faktor genetik dengan kejadian dermatitis.
Hasil uji analisis menunjukkan bahwa nilai X hitung lebih kecil
1,7030812 dan X tabel
3,841 sehingga didapat X hitung lebih kecil X tabel (1,7030812<3,841) maka hipotesis
penelitian Ha ditolak dan H0 Diterima atau tidak ada hubungan yang bermakana antara faktor
genetik dengan kejadian dermatitis hasil perhitungan dapat dilihat seperti berikut :
Xhit = n ([a.d b.c] n)
(a+b)(a+c)(b+d)(c+d)
=

38 ([13.11-8.6]- .38)

(13+8).(13+6).(8+11).(6+11)
=

38 ([143-48]- .38)

(21).(19).(19).(17)
=

38 ([95]-19)

128877
=

35 . 5766

128877
=

129488

128877
=

1,7030812

Jadi X = 1,7030812
Keterangan : Dk

=1

Xtabel

= 3,841

X hit

= 1,7030812

Kesimpulan : karena X hitung < X tabel maka Ha dittolak, Ho diterima artinya tidak ada
hubungan yang bermakna antara dermatitis dengan genetik
1. C. Pembahasan
Pembahasan analisis data tentang hubungan antara dermatitis dengan faktor genetik, alergi
makanan dan kebersihan lingkungan dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Hubungan Alergi Makanan Dengan Kejadian Dermatitis


Berdasarakan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tawanga kec. Konawe kab.
Konawe, menunjukkan bahwa dermatitis mempunyai hubungan dengan faktor alergi
makanan atau hipotesis penelitian (Ha) yang menyatakan ada hubungan antara dermatitis
dengan faktor alergi makanan diterima, hal ini didasarkan pada nilai X hitung 8,188552 lebih
besar dari X tabel 3,841 (8,188552> 3,841).
Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Dwiana Safitri dalam
Cermin Dunia Kedokteran yang menyatakan bahwa Alergi terhadap makanan, atau biasa kita
sebut sebagai alergi makanan,merupakan sistem kekebalan tubuh (reaksi imun) terhadap
makanan atau unsure makanan pada seseorang yang mempunyai bakat alergi. Selain reaksi
alergi, reaksi terhadap makanan dapat juga terjadi bukan karena reaksi imun. Reaksi terhadap
makanan yang bukan merupakan reaksi alergi disebut sebagai intoleransi makanan, artinya
tubuh.tidak memberi toleransi atas kehadiran benda atau zat tersebut. Seperti telah disebutkan
semula maka intoleransi makanan dapat terjadi melalui efek farmakologi, toksik, metabolik
atau neuropsikologis,secara umum reaksi terhadap makanan yang terdiri dari alergi makanan
dan intoleransi makanan disebut sebagai reaksi simpang terhadap makanan (adverse food
reactions). Dalam kehidupan sehari-hari kedua ha1tersebut sering dikacaukan dan menjadi
rancun sehingga semua kelainan yang berhubungan atau diduga disebabkan oleh makanan,
secara salah dengan mudah dikatakan sebagai alergi makanam Beberapa jenis makanan yang
menimbulkan alergi misalnya : susu sapi, telur, kedele, kacang tanah, ikan, kerang, tomat,
jeruk, coklat dan sebagainya. Makanan penyebab alergi ini kadang-kadang dapat dikurangi
sensivitasnya melalui proses pemasakan, sebagai contoh susu yang tidak dimasak lebih sering
menyebabkan alergi dibandingkan susu yang dimasak. Zat penyebab alergi seringkali adiptif.
Artinya, seseorang mungkin tidak mengalami gangguan alergi bila dia mengkonsumsi
makanan tertentu dalam jumlah sedikit. Tetapi bila makanan tersebut dikonsumsi dalam
jumlah banyak/sering, maka timbulah gejala-gejala alergi. (Dwiana Safitri, 2008)
Alergi makanan (alergi terhadap allergen ingestan) umumnya disebabkan oleh mekanisme
imunologis, sedangkan itoleransi makanan tidak. Intoleransi makanan umum terjadi beberapa
zat kimia dalam makanan dapat memperburuk dermatitis, misalnya tetrazine atau pewarna
makanan. Meskipun demikian, mekanismenya masih belum jelas. Alergi makanan sifatnya
bergantung usia. Alergi jenis ini bisa sangat parah terjadi pada bayi dan makin lama makin
ringan. Alergi pada beberapa jenis makanan (seperti telur dan susu sapi) biasanya sementara,
sedangkan alergi terhadap kacang atau ikan biasanya menetap seumur hidup. Hubungan
antara dermatitis atopik dan alergi makanan cukup kompleks meskipun biasanya anak yang
alergi makanan yang menderita dermatitis alergi berat. Kemungkinan kurang dari 10% dari
semua anak dengan dermatitis atopik memiliki alergi makanan termediasi IgE dengan
angioedema dan urtikaria.(Zakiudin Munasir, 2006)
Kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang mete dan sejenisnya dapat menyebabkan
reaksi akan tetapi biasanya bersifat ringan. Gejalanya biasanya berupa gatal di tenggorokan.
Walaupun demikian, di Amerika serikat alergi terhadap kacang dilaporkan sebagai penyebab
kematian tersering karena reaksi anafilaksis. Protein kacang-kacangan terdiri dari albumin
(yang larut dalam air) dan globulin (yang tidak larut dalam air) yang terdiri dari fraksi arachin
dan conarachin. Ikan merupakan alergen yang kuat terutama ikan laut. Bentuk reaksi alergi
yang sering berupa urtikaria, atau asma. Pada anak yang sangat sensitif. Dengan hanya
mencium bau ikan yang sedang dimasak dapat juga menimbulkan sesak napas atau bersin.
Jenis hidangan laut lain (sea food) yang sering menimbulkan alergi adalah udang kecil, udang

besar (lobster) serta kepiting, gejala yang sering timbul adalah urtikaria serta angioedema.
Alergi terhadap ikan laut. Dengan proses pemasakan (pemanasan) sebagian besar dapat
menghancurkan alergen utama yang ada dalam hidangan laut ini. (Zakiudin Munasir, 2006)
Dengan demikian dari hasil penelitian diperoleh bahwa ada hubungan antara alergi makanan
dengan kejadian dermatitis, hal tersebut disebabkan karena pada orang yang sistem imunnya
reaktif terhadap salah satu jenis makanan akan mudah terkena reaksi alergi yang ditimbulkan
berupa dermatitis.
1. Hubungan Kebersihan Lingkungan Dengan Kejadian Dermatitis
Berdasarakan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tawanga kec. Konawe kab.
Konawe, menunjukkan bahwa dermatitis mempunyai hubungan dengan faktor kebersihan
lingkungan atau hipotesis penelitian (Ha) yang menyatakan ada hubungan antara dermatitis
dengan faktor kebersihan lingkungan diterima, hal ini didasarkan pada nilai X hitung 10,666
lebih besar dari X tabel 3,841 (10,666> 3,841).
Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat yang dikemukakan oleh (Nurul Itqiyah, 2007)
yang menyatakan bahwa Lingkungan sangat mempengaruhi kejadian suatu penyakit.
Interaksi antara penjamu, agen, dan lingkungan sangat erat kaitannya dengan kondisi
penyakit seseorang tetapi ada beberapa penyakit yang hanya disebabkan oleh kesalahan letak
kode atau informasi genetik yang dinamakan oleh penyakit keturunan. Akan tetapi, hampir
semua penyakit pada manusia berada di antara kedua ujung spectrum ini dan kedua faktor
baik intrinsik maupun ekstrinsik saling mempengaruhi secara bermakna. Faktor-faktor di
lingkungan yang memicu atau memperparah ekzema, misalnya :Bahan seperti wol atau
pelapis car seat, Detergen, sabun, bubble baths, antiseptic, Kontak dengan bulu hewan
Menggunakan krim pelembab (moisturizer), serta bahan-bahan kosmetik (Nurul Itqiyah,
2007).
Hal ini berarti bahwa faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap timbulnya penyakit dermatitis ini, terutama faktor cuaca yang panas ini akan
memicu timbulnya dermatitis terutama dermatitis atopik, dan kemungkinan juga di picu oleh
faktor debu yang berada dilingkunagn sekitar yang dapat dapat menyebabkan iritasi pada
kulit berupa dermatitis.
1. Hubungan Genetik Dengan Kejadian Dermatitis
Berdasarakan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tawanga kec. Konawe kab.
Konawe, menunjukkan bahwa dermatitis tidak mempunyai hubungan dengan faktor genetik
atau hipotesis penelitian (H0) yang menyatakan tidak ada hubungan antara dermatitis dengan
faktor genetik diterima, hal ini didasarkan pada nilai X hitung 1,7030812 lebih kecil dari X
tabel 3,841 (1,7030812<3,841).
Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Dwiyana Safitri, 2008
Dalam Cermin Dunia Kedokteran yang menyatakan bahwa penyebabnya genetic
(keturunan), sepanjang tidak ada faktor pencetusnya, eksema ini tidak akan timbul. Jadi kalau
gejalannya masih sedikit gatal atau merah, lebih baik langsung diingat-ingat apa yang sudah
dimakan dan dikenakan, lalu cepat hindari agar tidak berkepanjangan.. (Dwiyana Safitri,
2008)

Dari hasil penelitian didapatkan tidak ada hubungan antara faktor genetik dengan kejadian
dermatitis, hal tersebut disebabkan karena pada saat penelitian rata-rata mereka yang datang
berobat kepuskesmas mengatakan bahwa dalam keluarga ada yang menderita gatal-gatal dan
mereka menganggap bahwa gatal-gatal tersebut merupakan penyakit dermatitis sehingga
pada saat memberi jawaban responden menyatakan bahwa dalam keluarganya ada yang
menderita dermatitis sehingga pada saat penelitian didapatkan ada faktor gentik namun tidak
memiliki hubungan antara kejadian dermatitis dengan faktor genetik tersebut.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
1. A. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis pada
pasien di puskesmas tawanga kecamatan konawe kabupaten konawe dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Ada hubungan yang bermakna antara alergi makanan dengan kejadian dermatitis pada
pasien di puskesmas tawangan Kec. Konawe Kab. Konawe Tahun 2009 dimana dari
hasil uji statistik didapatkan nilai didapatkan nilai X hitung (8, 188552) lebih besar
dari X tabel (3,841)
2. Ada hubungan yang bermakna antara kebersihan lingkungan dengan kejadian
dermatitis pada pasien di puskesmas tawangan Kec. Konawe Kab. Konawe Tahun
2009 dimana dari hasil uji statistik didapatkan nilai didapatkan nilai X hitung
(10,666) lebih besar dari X tabel (3,841)
3. Tidak ada hubungan yang bermakna antara genetik dengan kejadian dermatitis pada
pasien di puskesmas tawangan Kec, Konawe Kab. Konawe Tahun 2009 dimana dari
hasil uji statistik didapatkan nilai didapatkan nilai X hitung (1,7030812) lebih lebih
kecil dari dari X tabel (3,841)
4. B. Saran
Merujuk pada pada hasil pembahasan dan kesimpulan dalam penelitian ini maka dapat
dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :
1. Peneliti selanjutnya agar dapat lebih memahami tentang penyebab penyakit dermatitis
2. Masyarakat agar lebih memahami tentang faktor-faktor penyebab dari penyakit
dermatitis sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit dermatitis
3. Kepada pihak institusi Akper Pemda Konawe agar dapat memperbanyak literatur
tentang penyekit dermatitis guna mempermudah jalannya penyusunan penelitian bagi
peneliti selanjutnya, sehingga lebih baik dan dapat bermanfaat bagi perkembangan
ilmu keperawatan khusunya pada penyakit- penyakit tertentu.
s