Anda di halaman 1dari 58

Kepemimpinan Transformasional

Kepemimpinan Transformasional.
Menurut Bass dalam Swandari (2003) mendefinisikan bahwa
kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin yang mempunyai
kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu.
Dengan penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan
merasa dipercaya, dihargai, loyal dan tanggap kepada pimpinannya.
Kepemimpinan transformasional adalah tipe pemimpin yang
menginsprirasi
para
pengikutnya
untuk
mengenyampingkan
kepentingan pribadi mereka dan memiliki kemampuan mempengaruhi
yang luar biasa, Aspek utama dari kepemimpinan transformasional
adalah penekanan pada pembangunan pengikut, oleh karena itu, ada
tiga
cara
seorang
pemimpin
transformasional
memotivasi
karyawannya, yaitu dengan:
1. Mendorong karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil
usaha;
2. Mendorong karyawan untuk mendahulukan kepentingan
kelompok; dan
3. Meningkatkan kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti
harga diri dan aktualisasi diri.
Bass dalam Robbin dan Judge, (2008) mengemukakan adanya empat
ciri karakteristik kepemimpinan transformasional, yaitu:

A. Kharisma (Charisma) / Pengaruh yang Ideal


Merupakan proses pemimpin mempengaruhi bawahan dengan
menimbulkan emosi-emosi yang kuat, Kharisma atau pengaruh yang
ideal berkaitan dengan reaksi bawahan terhadap pemimpin. Pemimpin
di identifikasikan dengan dijadikan sebagai penutan oleh bawahan,
dipercaya, dihormati dan mempunyai misi dan visi yang jelas menurut
persepsi bawahan dapat diwujudkan. Pemimpin mendapatkan standard
yang tinggi dan sasaran yang menantang bagi bawahan.

kharisma dan pengaruh yang ideal dari pemimpin menunjukkan


adanya pendirian, menekankan kebanggan dan kepercayaan,
menempatkan isu-isu yang sulit, menunjukkan nilai yang paling
penting dalam visi dan misi yang kuat, menekankan pentingnya tujuan,
komitmen dan konsekuen etika dari keputusan serta memiliki sence of
mission. Dengan demikian pemimpin akan diteladani, membangkitkan
kebanggaan, loyalitas, hormat, antusiasme, dan kepercayaan
bawahan. Selain itu pemimpin akan membuat bawahan mempunyai
kepercayaan diri. Sunarsih, (2001)

B. Rangsangan intelektual (intellectual stimulation)


Berarti mengenalkan cara pemecahan masalah secara cerdik dan
cermat, rasional dan hati-hati sehingga anggota mampu berpikir
tentang masalah dengan cara baru dan menghasilkan pemecahan
yang kreatif. Rangsangan intelektual berarti menghargai kecerdasan
mengembangkan rasionalitas dan pengambilan keputusan secara hatihati. Pemimpin yang mendorong bawahan untuk lebih kreatif,
menghilangkan keengganan bawahan untuk mengeluarkan ide-idenya
dan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada menggunakan
pendekatan-pendekatan baru yang lebih menggunakan intelegasi dan
alasan-alasan yang rasional dari pada hanya didasarkan pada opiniopini atau perkiraan-perkiraan semata. Bass dalam Sunarsih, (2001).

C. Inspirasi (Inspiration)
Pemimpin yang inspirasional adalah seorang pemimpin yang bertindak
dengan cara memotivasi dan menginspirasi bawahan yang berarti
mampu mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi dari
bawahannya, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada
kerja keras, mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana.
Pemimpin mempunyai visi yang menarik untuk masa depan,
menetapkan standar yang tinggi bagi para bawahan, optimis dan
antusiasme, memberikan dorongan dan arti terhadap apa yang perlu
dilakukan. Sehingga pemimpin semacam ini akan memperbesar
optimisme dan antusiasme bawahan serta motivasi dan menginspirasi
bawahannya untuk melebihi harapan motivasional awal melalui
dukungan emosional dan daya tarik emosional.

D. Perhatian Individual (Individualized consideration)


Perhatian secara individual merupakan cara yang digunakan oleh
pemimpin untuk memperoleh kekuasaan dengan bertindak sebagai
pembimbing, memberi perhatian secara individual dan dukungan
secara pribadi kepada bawahannya.
Pemimpin mampu memperlakukan orang lain sebagai individu,
mempertimbangkan kebutuhan individual dan aspirasi-aspirasi,
mendengarkan, mendidik dan melatih bawahan. Sehingga pemimpin
seperti ini memberikan perhatian personal terhadap bawahannya yang
melihat bawahan sebagai individual dan menawarkan perhatian
khusus untuk mengembangkan bawahan demi kinerja yang bagus.
Pimpinan memberikan perhatian pribadi kepada bawahannya, seperti
memperlakukan mereka sebagai pribadi yang utuh dan menghargai
sikap peduli mereka terhadap organisasi.
http://aprian.blogdetik.com/kepemimpinan-transformasional/

Pengertian Kepemimpinan Transformasional - Definisi kepemimpinan, menurut Terry (Kartono 1998 :


38) Kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai
tujuan-tujuan kelompok. Menurut Ordway Teod dalam bukunya The Art Of Leadership (Kartono 1998 :
38). Kepemimpinan merupakan kegiatan mempengaruhi orang-orang bekerja sama untuk mencapai
tujuan yang mereka inginkan. Kepemimpinan dapat terjadi dimana saja, asalkan seseorang menunjukkan
kemampuannya mempengaruhi perilaku orang lain ke arah tercapainya suatu tujuan tertentu.
Young dalam Kartono (1998) mendefinisikan bahwa kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari
atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu,
berdasarkan akseptasi atau penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi
situasi khusus.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan
mempengaruhi bawahan atau kelompok untuk bekerja sama mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
Menurut Bass (1998) dalam Swandari (2003) mendefinisikan bahwa kepemimpinan
transformasional sebagai pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan
dengan cara-cara tertentu. Dengan penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa
dipercaya, dihargai, loyal dan respek kepada pimpinannya. Pada akhirnya bawahan akan termotivasi
untuk melakukan lebih dari yang diharapkan.
Menurut OLeary (2001) kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang
digunakan oleh seseorang manajer bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja
melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.
Kepemimpinan transformasional pada prinsipnya memotivasi bawahan untuk berbuat lebih baik dari apa
yang bisa dilakukan, dengan kata lain dapat meningkatkan kepercayaan atau keyakinan diri bawahan
yang akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasionalmencakup


upaya perubahan terhadap bawahan untuk berbuat lebih positif atau lebih baik dari apa yang biasa
dikerjakan yang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja.
Daftar Pustaka
- Kartono, Kartini. 1983. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta : Rajawali
- Swandari, Fifi 2003. Menjadi Perusahaan yang Survive Dengan Transformasional Leadership Jurnal
Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi vol.1 No.2 Mei 2003 :93-102
- OLeary, Elizabeth. 2001. Kepemimpinan. Edisi Pertama. Yogyakarta : Andi

MAKALAH Kepemimpinan Transformasional di Era Reformasi


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Saya juga
bersyukur atas berkat rezeki dan kesehatan yang diberikan kepada saya sehingga
saya dapat mengumpulkan bahan bahan materi makalah ini dari internet. Saya
telah berusaha semampu saya untuk mengumpulkan berbagai macam bahan
tentang sosial politik.
Saya sadar bahwa makalah yang saya buat ini masih jauh dari sempurna,
karena itu saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk
menyempurnakan makalah ini menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu saya mohon
bantuan dari dosen pembimbing.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan merupakan alternative
bacaan yang berguna bagi pembaca lainnya. Kepada sumber yang telah membantu
dalam pembuatan makalah ini penulis mengucapkan terima kasih.
Demikianlah makalah ini saya buat, apabila ada kesalahan dalam penulisan,
saya mohon maaf yang sebesarnya dan sebelumnya saya mengucapkan terima
kasih.

Surakarta, Januari 2013


Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... .............................................. 1
DAFTAR ISI.. .............................................. 2

BAB 1 PENDAHULUAN. .............................................. 3


a. Latar Belakang................................................................................. 3
b. Rumusan Masalah............................................................................ 4
c. Tujuan Penulisan.............................................................................. 5
d. Manfaat Penulisan........................................................................... 5
BAB 2 PEMBAHASAN............................................................................... 6
a. Konsep Kepemimpinan Tranformasional...................................... 6
b. Kepemimpinan Transformasional di Era Reformasi...................... 8
c. Kelebihan dan Kelemahan Kepemimpinan Transformasinal......... 10

BAB 3 PENUTUP......................................................................................... 13
a. Kesimpulan..................................................................................... 13
b. Saran.............................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 16

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG

Di lingkungan masyarakat, dalam organisasi formal maupun nonformal selalu


ada seseorang yang dianggap lebih dari yang lain. Seseorang yang memiliki
kemampuan lebih tersebut kemudian diangkat atau ditunjuk sebagai orang yang
dipercayakan untuk mengatur orang lainnya. Biasanya orang seperti itulah disebut
pemimpin atau manajer. Dari kata pemimpin itulah kemudian muncul istilah
kepemimpinan setelah melalui proses yang panjang.
Masalah kepemimpinan sama tuanya dengan sejarah manusia. Dalam
kepemimpinan dibutuhkan manusia karena adanya keterbatasan dan kelebihan
tertentu pada manusia. Apakah orang-orang dalam masyarakat atau organisasi
tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya tanpa adanya pimpinan? Pimpinan
diperlukan, sedikitnya terdapat empat macam alasan yaitu;
a.

Karena banyak orang memerlukan figure pemimpin

b.

Dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya

c.

Sebagai tempat pengambil alihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelompoknya

d.

Sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan

Namun, di dalam pemahaman sehari-hari seringkai terjadi tumpang tindih


antara pengguna istilah pemimpin dan manajer. Dalam praktek, seseorang yang
seharusnya menjalankan fungsi kepemimpinan lebih tampil sebagai seorang
manager, namum ada pula seseorang yang memiliki posisi sebagai seorang
manager kenyataanya menunjukan kemampuan sebagai pemimpin.
Pendekatan dan penelitian tentang kepemimpinan terus berkembang sejak
munculnya istilah pemimpin dan kepemimpinan tersebut. Oleh karena itu,
kepemimpinan pada ahakikatnya adalah :
a.

Proses mempengaruhi atau member contoh dari pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai
tujuan organisasi.

b.

Seni mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan, dan
kerjasama yang semangat dalam mencapai tujuan bersama.

c.

Kemampuan untuk mempengaruhi, member inspirasi dan mengarahkan tindakan seseorang atau
kelompok untuk mencapai tujuan yang di harapkan.

d.
1.2

Melibatkan tiga hal yaitu pemimpin, pengikut, dan situasi tertentu.


RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa masalah antara lain sebagai berikut:

1.3

a.

Konsep dan definisi Kepemimpinan Tranformasional

b.

Kepemimpinan Tranformasional di Era Reformasi

c.

Kelebihan dan Kekurangan Kepemimpinan Transformasional

TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan dari Latar belakang dan Rumusan masalah diatas sebagai berikut:

a.

Mengetahui konsep dan definsi dari Kepemimpinan

b.

Mengetahui Kepemimpinan Tranformasional di Era Reformasi

c.

Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari kepemimpinan tranformasional

1.4

MANFAAT PENULISAN

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada


semua pihak, khususnya kepada mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan
wawasan dalam manajemen pelayanan publik . Manfaat lain dari penulisan makalah
ini adalah dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan dapat dijadikan acuan
didalam pembuatan makalah selanjutnya bagi mahasiswa yang membutuhkannya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

KONSEP KEPEMIMPINAN TRANFORMASIONAL

Diantara teori kepemimpinan yang unggul adalah teori kepemimpinan


transformasional.
Kepemimpinan
transformasional
adalah
pendekatan
kepemimpinan dengan melakukan usaha mengubah kesadaran, membangkitkan
semangat dan mengilhami bawahan atau anggota organisasi untuk mengeluarkan
usaha ekstra dalam mencapai tujuan organisasi, tanpa merasa ditekan atau
tertekan.
Seorang pemimpin dikatakan bergaya transformasional apabila dapat
mengubah situasi, mengubah apa yang biasa dilakukan, bicara tentang tujuan yang
luhur, memiliki acuan nilai kebebasan, keadilan dan kesamaan. Pemimpin yang
transformasional akan membuat bawahan melihat bahwa tujuan yang mau dicapai
lebih dari sekedar kepentingan pribadinya. Sedangkan menurut Yukl kepemimpinan
transformasional dapat dilihat dari tingginya komitmen, motivasi dan kepercayaan
bawahan sehingga melihat tujuan organisasi yang ingin dicapai lebih dari sekedar
kepentingan pribadinya.
Kepemimpinan transformasional secara khusus berhubungan dengan
gagasan perbaikan. Bass menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional akan
tampak apabila seorang pemimpin itu mempunyai kemampuan untuk:
1) Menstimulasi semangat para kolega dan pengikutnya untuk melihat pekerjaan
mereka dari beberapa perspektif baru.
2) Menurunkan visi dan misi kepada tim dan organisasinya.
3) Mengembangkan kolega dan pengikutnya pada tingkat kemampuan dan
potensial yang lebih tinggi.

4) Memotivasi kolega dan pengikutnya untuk melihat pada kepentingannya masingmasing, sehingga dapat bermanfaat bagi kepentingan organisasinya.
Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Devanna dan Tichy karakteristik dari
pemimpin transformasional dapat dilihat dari cara pemimpin mengidentifikasikan
dirinya sebagai agen perubahan, mendorong keberanian dan pengambilan resiko,
percaya pada orang-orang, sebagai pembelajar seumur hidup, memiliki
kemampuan untuk mengatasi kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakpastian, juga
seorang pemimpin yang visioner.
kepemimpinan
transformasional
(transformational
leadership)
istilah
transformasional
berinduk
dari
kata
to
transform,
yang
bermakna
mentransformasilkan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda.
Seorang pemimpin transgformasional harus mampu mentransformasikan secara
optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna
sesuai dengan target yang telah ditentukan. Sumber daya dimaksud bias berupa
SDM, Fasilitas, dana, dan factor eksternal organisasi. Dilembaga sekolah SDM yang
dimaksud dapat berupa pimpinan, staf, bawahan, tenaga ahli, guru, kepala sekolah,
dan siswa.
Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional ini dikemukakan oleh
Burn yang menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah
proses di mana pimpinan dan para bawahannya untuk mencapai tingkat moralitas
dan motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin transformasional mencoba
menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menentukan cita-cita yang lebih
tinggi dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan, dan bukan didasarkan
atas emosi kemanusiaan, keserakahan,kecemburuan, atau kebencian.

2.2

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DI ERA REFORMASI

Kepemimpinan transformasional merupakan sebuah proses di mana para


pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yang
lebih tinggi. Para pemimpin transformasional mencoba menimbulkan kesadaran
para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-niali moral
seperti kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan, bukan didasarkan atas emosi
seperti
keserakahan,
kecemburuan
atau
kebencian.
Kepemimpinan
transformasional berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran
(perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab yang justru nilai
seperti ini hal yang sangat sulit ditemui di Indonesia.
S.J. Woro Astuti dalam tulisannya Meluruskan Demokrasi Lokal, Menggagas
Kepemimpinan Daerah yang Ideal di Era Pilkada Langsung mengungkapkan
pernyataan Weber bahwa ada dua syarat yang harus dipenuhi agar demokrasi
berjalan efektif. Pertama, adanya partai yang memiliki kepentingan dan pandangan
berbeda. Jika partai-partai yang bersaing itu mirip satu sama lain maka masyarakat
tidak akan bisa menggunakan hak pilihnya secara efektif. Kedua, harus ada

pemimpin politis yang memiliki imajinasi dan semangat untuk mengatasi birokrasi
yang menjemukan.
Itulah peran penting kepemimpinan dalam demokrasi. Namun kepemimpinan
ini bukanlah pemimpin model orde lama dan orde baru yang sama-sama otoritarian
dan menggunakan birokrasi sebagai alat mempertahankan kekuasaan. Kalaupun
ada pelaksanaan fungsi kepemimpinan, tidak lebih dari tipe kepemimpinan
transaksional,
yang
mana
kepemimpinan
ini
dijalankan
hanya
melalui reward andpunishment, sangat pragmatis, dan
tidak
memikirkan
kepentingan rakyat yang lebih besar.
Namun pada kenyataannya, nilai-nilai kedua orde itu masih banyak mewarnai
upaya penegakan demokrasi di era reformasi ini. Kuatnya dimensi patronase dapat
dilihat dari pemilihan menteri-menteri kabinet yang bukan karena keahlian atau
kecapakannya tetapi karena dia memiliki patron politik. Demikian juga di daerah,
pemilihan sekretaris daerah, kepala-kepala dinas dan pejabat struktural lainnya
lebih banyak didasarkan pada pertimbangan politik. Begitu pula DPRD, tidak
berorientasi pada kepentingan masyarakat melainkan mengabdi pada kepentingan
politik yang ada.
Untuk itu diperlukan tipe kepemimpinan transformasional dimana relasi yang
dijalin antara pemimpin dan pengikut tidak semata-mata didasarkan
pada reward and punishment melainkan lebih menekankan kepada peningkatan
hubungan pemimpin dan pengikut, baik secara moral maupun motivasi timbal balik.
Pemimpin model ini selalu berupaya mendorong pengikutnya untuk melepaskan
kepentingan pribadinya, untuk kemudian secara bersama-sama menuju pencapaian
visi kelompok yang lebih besar. Pemimpin ini selalu berusaha memperhatikan
kebutuhan rakyatnya, selalu dekat dengan rakyat dan memberi pengaruh idealisme
sebagai teladan dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.
Prasyarat pertama untuk menjadi pemimpin transformasional adalah
mengakui kebutuhan untuk melakukan perubahan, kemudian diikuti dengan
penciptaan sebuah visi dan pelembagaan perubahan secara konsisten. Untuk itu
pula pemimpin transformasional adalah seseorang yang memiliki keberanian
menerima resiko dengan memulai perubahan bahkan perubahan yang paling
fundamental sekalipun. Pemimpin yang memiliki dimensi transformasional ini dapat
mengembangkan kreativitas dan inovasinya, jika kepadanya tidak diletakkan
beban berupa hutang budi yang besar terhadap para konstitiuen dan para
pendukungnya.
Syarat berikutnya untuk menjadi pemimpin transformasional ini adalah
masalah efektifitas. Menjadi pemimpin yang efektif tidak tergantung pada
gendernya, tetapi ada faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain: (1) pemilihan
dan penempatan pemimpin; yaitu disesuaikan dengan gaya kepemimpinan yang
dimilikinya, (2) pendidikan kepemimpinan; dengan menekankan agar pemimpin
menampilkan sifat-sifat yang dikehendaki daam kadar yang lebih tinggi, (3)
pemberian imbalan pada prestasi pemimpin dan bawahan, (4) teknik pengelolaan

organisasi untuk menghadapi perubahan lingkungan, (5) membangun kolaborasi,


dan (5) pemanfaatan teknologi.
2.3

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL


Dalam tinjauan keilmuan, saat ini masih sulit untuk menentukan siapa, kapan, dan bagaimana
ilmu tentang kepemimpinan itu muncul, dalam setiap peradaban yang muncul didunia selalu didahului
dengan lahirnya tokoh pemimpin yang membangun peradaban tersebut. Dalam ilmu manajemen sendiri,
teori tentang kepemimpinan memiliki sebuah sejarah yang bisa dirunut sebagai berikut : Teori Harapan
1957 Teori Kepemimpinan yang Motivasional 1960an Teori Kepemimpinan yang Efektif 1970an
Teori Gaya Kepemimpinan Humanistik 1980an Gaya Kepemimpinan transformasional dan
transaksional 1990-sekarang.
Para pengembang teori kepemimpinan mengidentifikasi pendekatan transformasional sebagai
pendekatan kepemimpinan abad ke 21. Dalam konteks tersebut kepemimpinan transformasional
digambarkan

sebagai

bentuk

kepemimpinan

yang

mampu

meningkatkan

komitmen

staf;

mengkomunikasikan suatu visi dan implementasinya; memberikan kepuasan dalam bekerja; dan
mengembangkan fokus yang berorientasi pada klien. Kepemimpinan transformasional adalah sebuah
sebuah proses yang ada pada para pemimpin dan pengikut untuk saling menaikan motivasi moralitas dan
motivasi yang lebih tinggi (Burns 1978).
Kepemimpinan transformasional juga sering diartikan sebagai sebuah proses kepemimpinan
dimana para pemimpin menciptakan kesuksesan pada bawahannya dengan menampilkan lima perilaku
(visioner, menginspirasi, merangsang bawahan, melatih bawahan, membangun tim secara signifikan
lebih dari kebanyakan manajer (Boehenke et al.1999) Bass dan Avolio (1994), mengemukakan bahwa
kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai The Four Is:

Perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati sekaligus mempercayai
(Pengaruh ideal).

Pemimpin

transformasional

digambarkan

sebagai

pemimpin

yang

mampu

mengartikulasikan

pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan (Motivasi-inspirasi)

Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif
terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan (stimulasi intelektual).

Pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan
penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhankebutuhan bawahan akan pengembangan karir (konsederasi individu).
Kelebihan dari kepemimpinan transformasional :

Tidak membutuhkan biaya yang besar (organisasi profit)


Komitmen yang timbul pada karyawan bersifat mengikat emosional
Mampu memberdayakan potensi karyawan
Meningkatkan hubungan interpersonal
Kekurangan dari kepemimpinan transaksional :
Waktu yang lama agar komitmen bawahan tumbuh terhadap pemimpin
Tidak ada jaminan keberhasilan pada bawahan secara menyeluruh
Membutuhkan pehatian pada detail
Sulit dilakukan pada jumlah bawahan yang banyak
Dalam menerapkan suatu model kepemimpinan maka perlu di perhatikan :

Tingkat keterampilan dan pengalaman tim anda.

Pekerjaan yang dilakukan (rutin atau baru dan kreatif)

Lingkungan organisasional (stabil atau berubah radikal, konservatif atau penuh petualangan)

Gaya alami pilihan anda.

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN

Dalam kepemimpinan transformasional, peran seorang pemimpin yang utama adalah sebagai
katalis bagi perubahan yang akan dilaksanakan, artinya pemimpin berperan meningkatkan sumber daya
manusia yang ada dan berusaha memberikan reaksi yang menimbulkan semangat dan daya kerja yang
tinggi bagi anggota, tetapi tidak bertindak sebagai pengawas perubahan, yang lebih penting lagi adalah
tuntutan untuk memiliki visi yang kuat.
Tingkat kepercayaan yang rendah merupakan refleksi dari perilaku kepemimpinan yang
dipersepsikan oleh anggota dari pemimpin yang kurang memiliki kecakapan dalam menjalankan
perannya. Indikasi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: (1) perilaku pemimpin yang terlalu
mengawasi (over control) dan terlibat sampai hal kecil (micro-manager), (2) perilaku pemimpin yang
hanya fokus pada hal-hal yang dapat dikontrol dan jangka pendek (concrete), dan (3) perilaku pemimpin
yang sangat berhati-hati, ragu dalam mengambil keputusan, dan tidak menyukai perubahan (risk averse).
Perilaku tersebut dianggap sebagai penghambat. Tingkat kepercayaan yang rendah dari perilaku
kepemimpinan yang over control menjadikan anggota bekerja kurang leluasa dan tentu saja akan bersifat
kontra-produktif serta berdampak pada demotivasi sehingga dapat menurunkan kinerja organisasi.
Kepemimpinan transformasional secara khusus menekankan pada pendekatan secara rasional
dan emosional untuk memotivasi anggotanya, dengan harapan dapat menciptakan komitmen dari
anggota

dibandingkan

dengan

loyalitas

yang

hanya

didasarkan

intensitas.

Pemimpin

yang

transformasional yang efektif akan menunjukkan sifat sebagai berikut: (1) melihat diri sebagai agen
perubahan, (2) pengambil resiko yang berhati-hati, (3) memiliki kepercayaan kepada anggota dan peka
terhadap kebutuhannya, (4) mampu membimbing, (5) fleksibel dan terbuka terhadap pengalaman, (6)
memiliki kemampuan kognitif, disiplin, dan mampu menganalisis masalah secara berhati-hati, dan (7)
memiliki

visi.

KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL


a.

Kharisma
Kepemimpinan kharismatik diakui oleh sejumlah ahli menjadi nilai penting bagi kepemimpinan
transformasional. Dalam kondisi perubahan lingkungan yang dinamis dengan turbulensi tinggi dan sulit
untuk diprediksi (unpredictable), seorang pemimpin harus mampu memberikan sifat-sifat kharismatik
dalam mengkomunikasikan visi dan misi organisasi.Kharisma merupakan daya kekuatan memotivasi
pengikut dalam menjalankan kegiatan organisasi. Pemimpin yang memiliki kharisma akan lebih mudah
mempengaruhi pengikut agar bertindak sesuai dengan yang diharapkan untuk keberhasilan suatu
organisasi. Pemimpin kharismatik mampu membangkitkan emosi-emosi yang kuat. Pemimpin

diidentifikasi untuk dijadikan panutan oleh pengikut, dipercaya, dihormati, dan memiliki tujuan yang jelas.
Memiliki integritas terhadap kesesuaian antara exposed values dan enacted values. Nilai-nilai yang
diungkapkan lewat kata-kata.
b.

Inspirasional
Pemimpin

yang

inspirasional

didefinisikan

sebagai

seorang

pemimpin

yang

mampu

mengkomunikasikan suatu visi yang menarik dan berwawasan ke depan. Pemimpin transformasional
memotivasi dan menginspirasi dengan jalan mengkomunikasikan harapan dan tantangan kerja secara
jelas, serta mengekspresikan tujuan-tujuan penting, dengan membangkitkan antusiasme dan optimisme
pada anggota.
c.

Stimulasi Intelektual
Melalui stimulasi intelektual, pemimpin berupaya menciptakan iklim yang kondusif bagi
berkembang inovasi dan kreativitas. Mampu mendorong pengikutnya untuk memunculkan ide-ide baru
dan solusi kreatif atas masalah-masalah yang dihadapi.

d.

Perhatian individual
Pemimpin transformasional memberikan perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk
berprestasi dan berkembang dengan jalan bertindak selaku penasehat. Berinteraksi dan berkomunikasi
secara individual dengan anggota. Tugas yang didelegasikan akan dipantau untuk memastikan arahan
tambahan dan untuk menilai kemajuan yang dicapai.
3.2

PENUTUP

Dalam penulisan ini penulis meminta kritik dan saran bagi pembaca terutama pada dosen mata
pelajaran, karena di dalam penulisan makalah ini penulis masih merasa banyak terdapat kekurangan dan
kekeliruan. Bak kata pepatah tidak ada gading yang tidak retak. Oleh karena saran dan kritik sangat
diperlukan untuk kemajuan penulis dalam menulis makalah selanjutnya

DAFTAR PUSTAKA
http://herube.wordpress.com/2010/02/11/kepemimpinan-transformasional-dalamreformasi/ (di akses tanggal 9 januari 2013)

http://muharamtuhalal.wordpress.com/2011/12/05/kepemimpinan-transformasional/
(diakses tanggal 8 januari 2013)
http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-kepemimpinan.html (di
tanggal 8 januari 2013)

akses

Rivai, Veithzal. 2004. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Menurut James M. Black dalam bukunya Management, A Guide to Executive Command,
kepemimpinan adalah kemampuan untuk meyakinkan orang lain supaya bekerja sama
di bawah pimpinannya sebagai suatu team untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sedangkan Artitonang (2007) menyebutkan pengertian kepemimpinan adalah pada
dasarnya berhubungan dengan keterampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang
dimiliki seseorang, oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan
pemimpin.
Jika kita melihat dengan kasat mata kepemimpinan di Indonesia saat sekarang ini,
masih bisa dikatakan serba terbelakang dan miskin prestasi,membuat Indonesia harus
mampu untuk mencari sosok pemimpin yang ideal, karena sulitnya Indonesia mencari
pemimpin yang ideal, sehingga Indonesia dikategorikan negara dengan krisis
kepemimpinan.
Ada gaya kepemimpinan transformasional yang berkaitan dengan nilai-nilai yang
relevan bagi proses pertukaran (perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung
jawab yang justru nilai seperti ini hal yang sangat sulit ditemui di Indonesia. Sedangkan
kita lebih sering melihat pemimpin-pemimpin yang ada di Indonesia sekarang ini lebih
banyak sebagai pemimpin transaksional saja, dimana jenis kepemimpinan ini
memotivasi para pengikut dengan mengarahkannya pada kepentingan diri pemimpin
sendiri, misalnya para pemimpin politik melakukan upaya-upaya untuk memperoleh
suara.
Jenis pemimpin transaksional ini sangat banyak di Indonesia, hal ini bisa kita perhatikan
pada saat menjelang PEMILU dimana rakyat dicekoki dengan berbagai janji setinggi
langit agar pemimpin tersebut dipilih oleh rakyat, bahkan ada yang disertai dengan
imabalan tertentu (money politic).
Untuk itu pada makalah ini saya akan membahas perbedaan antara kepemimpinan
transaksional dan transformasional. Sehingga kita bisa mengetahui gaya kepemimpinan
yang khas dari mereka. Dan diharapkan kita akan mampu untuk mengetahui gaya
kepemimpinn apakah yang sekarang dibutuhkan di Indonesia agar Indonesia berani
tampil dan bersaing dengan negara lain, sehingga keberadaannya akan diakui dan
dihormati.
B. RUMUSAN MASALAH
Beberapa rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini antara lain sebagai
berikut:

a. Pengertian kepemimpinan transaksional


b. Pengertian kepemimpinan transformasional
c. Hubungan antara persepsi gaya kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan
transformasional dengan kepuasan kerja
C. TUJUAN
Beberapa tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan transaksional
b. Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan transformasional
c. Untuk mengetahui hubungan antara persepsi gaya kepemimpinan transaksional dan
kepemimpinan transformasional dengan kepuasan kerja
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transaksional, pemimpin yang memandu atau memotivasi pengikut
mereka dalam arah tujuan yang di tegakkan dengan memperjelas peran dan tuntutan
tugas.Kepemimpinan transaksional merupakan salah satu gaya kepemimpinan yang
intinya menekankan transaksi di antara pemimpin dan bawahan. Kepemimpinan
transaksional memungkinkan pemimpin memotivasi dan mempengaruhi bawahan
dengan cara mempertukarkan reward dengan kinerja tertentu. Artinya, dalam sebuah
transaksi bawahan dijanjikan untuk diberi reward bila bawahan mampu menyelesaikan
tugasnya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama.
Alasan ini mendorong Burns untuk mendefinisikan kepemimpinan transaksional sebagai
bentuk hubungan yang mempertukarkan jabatan atau tugas tertentu jika bawahan
mampu menyelesaikan dengan baik tugas tersebut. Jadi, kepemimpinan transaksional
menekankan proses hubungan pertukaran yang bernilai ekonomis untuk memenuhi
kebutuhan biologis dan psikologis sesuai dengan kontrak yang telah mereka setujui
bersama.
Menurut Bass (1985), sejumlah langkah dalam proses transaksional yakni pemimpin
transaksional memperkenalkan apa yang diinginkan bawahan dari pekerjaannya dan
mencoba memikirkan apa yang akan bawahan peroleh jika hasil kerjanya sesuai dengan
transaksi. Pemimpin menjanjikan imbalan bagi usaha yang dicapai, dan pemimpin
tanggap terhadap minat pribadi bawahan bila ia merasa puas dengan kinerjanya.
Kepemimpinan Transaksional mendasarkan pada asumsi bahwa kepemimpinan
merupakan kontrak sosial antara pemimpin dan para pengikutnya. Pemimpin dan para
pengikutnya merupakan pihak-pihak yang independen yang masing-masing mempunyai
tujuan, kebutuhan dan kepentingan sendiri. Sering tujuan, kebutuhan dan kepentingan
tersebut saling bertentangan sehingga mengarah ke situasi konflik. Misalnya, di
perusahaan sering tujuan pemimpin perusahaan dan tujuan karyawan bertentangan
sehingga terjadi peerselisihan industrial.
Dalam teori kepemimpinan ini hubungan antara pemimpin dan para pengikutnya
merupakan hubungan transaksi yang sering didahului dengan negosiasi tawar
menawar. Jika para pengikut memberikan sesuatu atau melakukan sesuatu untuk
pemimpinnya, pemimpin juga akan memberikan sesuatu kepada para pengikutnya. Jadi

seperti ikan lumba-lumba di Ancol yang akan meloncat jika pelatihnya memberikan
ikan. Jika pelatihnya tidak memberikan ikan, lumba-lumba tidak akan meloncat.
Prinsip dasar teori kepemimpinan transaksional adalah:
(1) Kepemimpinan merupakan pertukaran sosial antara pemimpin dan para
pengikutnya.
(2) Pertukaran tersebut meliputi pemimpin dan pengikut serta situasi ketika terjadi
pertukaran.
(3) Kepercayaan dan persepsi keadilan sangat esensial bagi hubungan pemimpin dan
para pengikutnya.
(4) Pengurangan ketidak pastian merupakan benefit penting yang disediakan oleh
pemimpin.
(5) Keuntungan dari pertukaran sosial sangat penting untuk mempertahankan suatu
hubungan sosial.
B. Pengertian Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin transformasional, pemimpin yang memberikan pertimbangan dan
rangsangan intelektual yang di individualkan, dan yang memiliki karisma.
Kepemimpinan transformasional menunjuk pada proses membangun komitmen
terhadap sasaran organisasi dan memberi kepercayaan kepada para pengikut untuk
mencapai sasaran-sasaran tersebut. Teori transformasional mempelajari juga
bagaimana para pemimpin mengubah budaya dan struktur organisasi agar lebih
konsisten dengan strategi-strategi manajemen untuk mencapai sasaran organisasional.
Secara konseptual, kepemimpinan transformasional di definisikan (Bass, 1985), sebagai
kemampuan pemimpin mengubah lingkungan kerja, motivasi kerja, dan pola kerja, dan
nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu
mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Berarti, sebuah proses
transformasional terjadi dalam hubungan kepemimpinan manakala pemimpin
membangun kesadaran bawahan akan pentingnya nilai kerja, memperluas dan
meningkatkan kebutuhan melampaui minat pribadi serta mendorong perubahan
tersebut ke arah kepentingan bersama termasukkepentingan organisasi (Bass,1985).
Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional telah diformulasi oleh Burns
(1978) dari penelitian deskriptif mengenai pemimpin-pemimpin politik. Burns,
menjelaskan kepemimpinan transformasional sebagai proses yang padanya para
pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang
lebih tinggi, seperti kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan, dan bukan di dasarkan
atas emosi, seperti misalnya keserakahan, kecemburuansosial, atau kebencian
(Burns,1997).
Kepemimpinan jenis ini didefinisikan sebagai kepemimpinan yang melibatkan suatu
proses pertukaran (exchange process) di mana para pengikut mendapat imbalan yang
segera dan nyata untuk melakukan perintah-perintah pemimpin. Sementara itu
kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang dipertentangkan dengan
kepemimpinan yang memelihara status quo. Kepemimpinan transformasional inilah
yang sungguh-sungguh diartikan sebagai kepemimpinan yang sejati karena
kepemimpinan ini sungguh bekerja menuju sasaran pada tindakan mengarahkan
organisasi kepada suatu tujuan yang tidak pernah diraih sebelumnya.
Di dalam merumuskan proses perubahan, biasanya digunakan pendekatan

transformasional yang manusiawi, di mana lingkungan kerja yang partisipatif, peluang


untuk mengembangkan kepribadian, dan keterbukaan dianggap sebagai kondisi yang
melatarbelakangi proses tersebut, tetapi di dalam praktek, proses perubahan itu
dijalankan dengan bertumpu pada pendekatan transaksional yang mekanistik dan
bersifat teknikal, di mana manusia cenderung dipandang sebagai suatu entiti ekonomik
yang siap untuk dimanipulasi dengan menggunakan sistem imbalan dan umpan balik
negatif, dalam rangka mencapai manfaat ekonomik yang sebesar-besarnya (Bass, 1990;
Bass dan Avolio, 1990; Hater dan Bass, 1988.
Seperti diungkapkan oleh Andi Mapiare, pertumbuhan jabatan dalam pekerjaan dapat
dialami oleh seorang hanya apabila dijalani proses belajar dan berpengalaman, dan
diharapkan orang yang bersangkutan memiliki sikap kerja yang bertambah maju kearah
positif, memiliki kecakapan (pengetahuan) kerja yang bertambah baik serta memiliki
ketrampilan kerja yang bertambah dalam kualitas dan kuantitas (Rakhmat, 1996). Lama
menjabat pada Jabatan sekarang Seperti halnya dengan lama bekerja di organisasi,
lama menjabat pada jabatan sekarang juga berkaitan dengan penyesuaian jabatan.
Seperti diungkapkan oleh Andi Mapiare, penyesuaian di sini berkaitan dengan
penyesuaian-penyesuaian diri sendiri terhadap pekerjaan atau jabatan itu sendiri,
terhadap jam kerja, terhadap personal yang lain terutama terhadap bawahannya
(Rakhmat, 1996).
Secara garis besar ditemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara
kepemimpinan transformasional dengan karakteristik personal pemimpin, sedangkan
seluruh dimensi kepemimpinan transformasional karismatik, motivasi inspirasional,
stimulasi intelektual, dan konsiderasi individual berhubungan paling erat dan searah
dengan karakteristik personal tingkat pendidikan pemimpin. Walaupun tidak ada
hubungan yang berarti antara dimensi kepemimpinan transformasional dengan
karakteristik personal pemimpin pada organisasi yang bergerak dalam bidang
pendidikan, organisasi tetap harus memperhatikan hubungan dari kedua variabel ini
karena karakteristik personal tidak hanya terbatas pada pengalaman (experience),
tetapi juga meliputi derajat kemampuan pemimpin menghadapi kegagalan dan memiliki
kekuatan pribadi (emotional coping), derajat kemampuan pemimpin mendukung
perilaku yang efektif dan memelihara rasa optimis (behavioral coping), kemampuan
pemimpin untuk menyalurkan dan mengevaluasi ide kritis (abstrak orientation), derajat
kesediaan pemimpin untuk menerima tantangan (risk taking), kesediaan pemimpin
untuk mecoba hal baru dan menantang status quo (inovation), derajat kemampuan
pemimpin menggunakan humor untuk menyenangkan bawahannya (use of humor)
(Dubinsky, Yammarino, Jolson, 1995).
C. Hubungan Antara Persesi Gaya Kepemimpinan Transaksional Dan Transformasional
Dengan Kepuasan Kerja
Salah satu teori yang menekankan suatu perubahan dan yang paling komprehensif
berkaitan dengan kepemimpinan adalah teori kepemimpinan transformasional dan
transaksional (Bass, 1990). Gagasan awal mengenai gayakepemimpinan
transformasional dan transaksional ini dikembangkan oleh James MacFregor Gurns yang
menerapkannya dalam konteks politik. Gagasan ini selanjutnya disempurnakan serta
diperkenalkan ke dalam konteks organisasional oleh Bernard Bass (Berry dan Houston,
1993).

Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997) mengemukakan bahwa gayakepemimpinan


transformasional dan transaksional dapat dipilah secara tegas dan keduanya
merupakan gaya kepemimpinan yang saling bertentangan. Kepemimpinan
transformasional dan transaksional sangat penting dan dibutuhkan setiap organisasi.
Selanjutnya Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997; Keller, 1992) mengembangkan
konsep kepemimpinan transformasional dan transaksional dengan berlandaskan pada
pendapat Maslow mengenai hirarki kebutuhan manusia. Menurut Burn (dalam Pawar
dan Eastman, 1997) keterkaitan tersebut dapat dipahami dengan gagasan bahwa
kebutuhan karyawan yang lebih rendah, seperti kebutuhan fisiologis dan rasa aman
hanya dapat dipenuhi melalui praktik gaya kepemimpinan transaksional. Sebaliknya,
Keller (1992) mengemukakan bahwa kebutuhan yang lebih tinggi, seperti harga diri dan
aktualisasi diri, hanya dapat dipenuhi melalui praktik gaya kepemimpinan
transformasional.
Sejauh mana pemimpin dikatakan sebagai pemimpin transformasional, Bass (1990) dan
Koh, dkk. (1995) mengemukakan bahwa hal tersebut dapat diukur dalam hubungan
dengan pengaruh pemimpin tersebut berhadapan karyawan. Oleh karena itu, Bass
(1990) mengemukakan ada tiga cara seorang pemimpin transformasional memotivasi
karyawannya, yaitudengan:
1) Mendorong karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha;
2) Mendorong karyawan untuk mendahulukan kepentingan kelompok; dan
3) Meningkatkan kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti harga diri dan
aktualisasi diri.
Hubungan antara Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformasional Berkaitan dengan
kepemimpinan transformasional, Bass (dalam Howell dan Hall-Merenda, 1999)
mengemukakan adanya empat karakteristik kepemimpinan transformasional, yaitu:
1) Karisma,
2) Inspirasional,
3) Stimulasi intelektual, dan
4) Perhatian individual.
Selanjutnya, Bass (1990) dan Yukl (1998) mengemukakan bahwa hubungan pemimpin
transaksional dengan karyawan tercermin dari tiga hal yakni:
1) Pemimpin mengetahui apa yang diinginkan karyawan dan menjelasakan apa yang
akan mereka dapatkan apabila kerjanya sesuai dengan harapan;
2) Pemimpin menukar usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan imbalan;
3) Pemimpin responsif terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan
tersebut sebanding dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan karyawan.
Bass (dalam Howell dan Avolio, 1993) mengemukakan bahwa karakteristik
kepemimpinan transaksional terdiri atas dua aspek, yaitu imbalan kontingen, dan
manajemen eksepsi.
Berkaitan dengan pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap perilaku
karyawan, Podsakoff dkk. (1996) mengemukakan bahwa gayakepemimpinan
transformasional merupakan faktor penentu yang mempengaruhi sikap, persepsi, dan
perilaku karyawan di mana terjadi peningkatan kepercayaan kepada pemimpin,
motivasi, kepuasan kerja dan mampu mengurangi sejumlah konflik yang sering terjadi
dalam suatu organisasi.
Menurut Bycio dkk. (1995) serta Koh dkk. (1995), kepemimpinan transaksional adalah

gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpin menfokuskan perhatiannya pada


transaksi interpersonal antara pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan
pertukaran. Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klasifikasi
sasaran, standar kerja, penugasan kerja, dan penghargaan.
Judgedan Locke (1993) menegaskanbahwa gaya kepemimpinan merupakan salah satu
faktor penentu kepuasan kerja. Jenkins (dalam Manajemen, 1990), mengungkapkan
bahwa keluarnya karyawan lebih banyak disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap
kondisi kerja karena karyawan merasa pimpinan tidak memberi kepercayaan kepada
karyawan, tidak ada keterlibatan karyawan dalam pembuatan keputusan, pemimpin
berlaku tidak objektif dan tidak jujur pada karyawan. Pendapat ini didukung oleh Nanus
(1992) yang mengemukakan bahwa alasan utama karyawan meninggalkan organisasi
disebabkan karena pemimpin gagal memahami karyawan dan pemimpin tidak
memperhatikan kebutuhan-kebutuhan karyawan. Dalam kaitannya dengan koperasi,
Kemalawarta (2000) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kendala yang
menghambat perkembangan koperasi di Indonesia adalah keterbatasan tenaga kerja
yang terampil dan tingginya turnover.
Pada dasarnya, kepemimpinan merupakan kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi
karyawan dalam sebuah organisasi, sehingga mereka termotivasi untuk mencapai
tujuan organisasi. Dalam memberikan penilaian terhadap gayakepemimpinan yang
diterapkan pemimpin, karyawan melakukan proses kognitif untuk menerima,
mengorganisasikan, dan memberi penafsiran terhadap pemimpin (Solso, 1998).
Berbagai penelitian yang dilakukan berkaitan dengan kepuasan kerja terutama dalam
hubungannya dengan gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional.
Penelitian yang dilakukan oleh Koh dkk. (1995) menunjukkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan transaksional dengan
kepuasan kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Popper dan Zakkai (1994) menunjukkan
bahwa pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap organisasi sangat besar.
BAB III
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal berikut:
1. Kepemimpinan Transaksional mendasarkan pada asumsi bahwa kepemimpinan
merupakan kontrak sosial antara pemimpin dan para pengikutnya.
2. Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang dipertentangkan dengan
kepemimpinan yang memelihara status quo.
3. Mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional dapat
dipilah secara tegas dan keduanya merupakan gaya kepemimpinan yang saling
bertentangan. Kepemimpinan transformasional dan transaksional sangat penting dan
dibutuhkan setiap organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
http://boyzkers.blogspot.com/2010/01/makalah-kepemimpinan.html

http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-kepemimpinantransaksional.html
Rivai, Veithzal. 2004. Kepemimpinan Perilaku Organisasi Edisi ke Dua. Jakarta. Penerbit:
PT Raja Grafindo Persada
Robbins, Stephen. 2006. Perilaku Organisasi Edisi Lengkap. Jakarta. PT: Macanan Jaya
Cemerlang
About these ads

KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK IV
1.

Novita Sari

2.

Fuji Istia Muslaeni

3.

Siti Zuhra

4.

Deby Kezia

5.

Moh. Ishak Ladjadji

6.

Muh. Aksya

KEMENTRIAN KESEHATAN R.I.


POLITEKNIK KESEHATAN PALU
PRODI KEPERAWATAN POSO

T.A 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmatnyalah sehingga kami dari kelompok IV dapat menyelesaikan
tugas makalah Manajemen dan Kepemimpinan dalam Keperawatan yang berjudul
KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN.
Namun kami manusia yang penuh dengan kekurangan menyadari akan
ketidaksempurnaan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan adanya saran dan kritik dari teman-teman dan dari dosen mata
kuliah yang bersangkutan, demi kesempurnaan makalah kami.
Lebih dan kurangnya kami mengucapkan terima kasih.

POSO, 29 SEPTEMBER
2012
PENYUSUN

KELOMPOK IV

DAFTAR ISI

Halaman
Judul............................................................................................................................ i
Kata
Pengantar.....................................................................................................................
..... ii
Daftar
Isi..................................................................................................................................
. iii
BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar
Belakang........................................................................................................ 1
B.Tujuan.........................................................................................................
............ 2
C.Masalah......................................................................................................
............. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.Definisi
Keperawatan............................................................................................. 3
B.Teori
Keperawatan.................................................................................................. 4
C.Gaya
Keperawatan.................................................................................................. 5
D.Kriteria

Pemimpin

dalam

Keperawatan

yang

Efektif........................................... 10
E.Tugas

Kepemimpinan

dalam

Keperawatan........................................................... 11
F.Penerapan

Kepemimpinan

dalam

Keperawatan.................................................. ..12
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan.................................................................................................
........ ..15
B.Saran..........................................................................................................
......... ..15
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................................... ..16

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan pada saat ini tengah mengalami beberapa perubahan mendasar
baik

sebagai

sebuah

profesi

maupun

sebagai

pemberi

pelayanan

kepada

masyarakat dimana tuntutan masyarakat pada keperawatan agar berkontribusi


secara berkualitas semakin tinggi.
Sebagai sebuah profesi, keperawatan dihadapkan pada situasi dimana
karakteristik profesi harus dimiliki dan dijalankan sesuai kaidahnya. Sebaliknya,
sebagai pemberi pelayanan, keperawatan juga dituntut untuk lebih meningkatkan
kontribusinya dalam pelayanan kepada masyarakat yang semakin terdidik, dan
mengalami masalah kesehatan yang bervariasi serta respon terhadap masalah
kesehatan tersebut menjadi semakin bervariasi pula.
Oleh karena itu, pada saat ini diperlukan kepemimpinan yang mampu
mengarahkan profesi keperawatan dalam menyesuaikan dirinya ditengah-tengah
perubahan dan pembaharuan sistem pelayanan kesehatan. Kepemimpinan ini
sekiranya yang fleksible, accessible, dan dirasakan kehadirannya, serta bersifat
kontemporer.
Mc. Gregor menyatakan bahwa setiap manusia merupakan kehidupan
individu secara keseluruhan yang selalu mengadakan interaksi dengan dunia
individu lainnya. Apa yang terjadi dengan orang tersebut merupakan akibat dari
perilaku orang lain. Sikap dan emosi dari orang lain mempengaruhi orang tersebut.
Bawahan sangat tergantung pada pimpinan dan berkeinginan untuk diperlakukan
adil. Suatu hubungan akan berhasil apabila dikehendaki oleh kedua belah pihak.
Untuk dapat melakukan hal tersebut di atas, baik atasan maupun bawahan
perlu memahami tentang pengelolaan kepemimpinan secara baik, yang pada
akhirnya akan terbentuk motivasi dan sikap kepemimpinan yang profesional.

B. Tujuan

Sebagai salah satu acuan dalam memenuhi penilaian penguasaan,khususnya pada


mata kuliah Manajemen & Kepemimpinan Dalam Keperawatan

C. Masalah

Bagaimana definisi kepemimpinan ?

Bagaimana teori kepemimpinan ?

Bagaimana gaya kepemimpinan ?

Bagaimana kriteria pemimpin dalam keperawatan yang efektif ?

Bagaimana tugas kemepimpinan dalam keperawatan ?

Bagaimana penerapan kepemimpinan dalam keperawatan ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Kepemimpinan
Definisi kepemimpinan menurut Stogdill yaitu kepemimpinan sebagai
suatu proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok terorganisasi dalam upaya
menyusun dan mencapai tujuan. Definisi kepemimpinan dari Strogdill dapat
diterapkan dalam keperawatan.
Gardner mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu proses persuasi dan
memberi

contoh

sehingga

individu

(atau

pemimpin

kelompok)

membujuk

kelompoknya untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan usulan pimpinan atau
usulan bersama.
Merton menguraikan kepemimpinan sebagai suatu transaksi masyarakat
dimana seorang anggota mempengaruhi yang lainnya.
Menurut McGregor, akhirnya ada empat variabel besar yang diketahui
sekarang untuk memahami kepemimpinan: (1) karakteristik pimpinan; (2) sikap; (3)
kebutuhan, dan karakteristik lainnya dari bawahan; dan (4) keadaan sosial,
ekonomi, dan polotik lingkungan. McGregor mengatakan bahwa kepemimpinan
merupakan hubungan yang sangat kompleks yang selalu berubah dengan waktu
seperti perubahan yang terjadi pada manajemen, serikat kerja atau kekuatan dari
luar.
Talbott mengatakan kepemimpinan adalah bumbu yang sangat vital yang
mengubah sekelompok orang menjadi suatu organisai yang berfungsi dan berguna.
Kepemimpinan adalah suatu proses yang menopang suatu kegiatan atas inisiatif
seseorang. Bukan semata-mata hanya menunjukan arah dan membuarkan sesuatu
terjadi. Kepemimpinan adalah suatu konsep dari suatu tujuan dan metode untuk
mencapainya, suatu mobilisasi dari seluruh fasiltas yang diperlukan untuk mencapai
hasil, dari penyesuaian dan nilai-nilai terhadap faktor lingkungan pada akhir dari
tujuan yang dikehendaki nantinya.

B. Teori Kepemimpinan
Dalam mengembangkan model kepemimpinan terdapat beberapa teori
yang mendasari terbentuknya gaya kepemimpinan. Menurut Whitaker (1996), ada
empat macam pendekatan kepemimpinan yaitu:
1)

Teori Bakat
Teori bakat terdiri dari bakat intelegensi dan kepribadian.
Kemampuan ini merupakan bawaan sejak lahir yang mempunyai pengaruh besar
dalam kepemimpinan. Beberapa hal yang menonjol pada teori bakat adalah
kepandaian

berbicara,

kemampuan/keberanian

dalam

memutuskan

sesuatu,

penyesuaian diri, percaya diri, kreatif, kemampuan interpersonal dan prestasi yang
dapat menjadi bekal dalam membentuk kepemimpinan sehingga seseorang
pemimpin dapat mempengaruhi bawahannya.
2)

Teori Perilaku
Teori perilaku kepemimpinan memfokuskan pada perilaku yang dipunyai oleh
pemimpin dan yang membedakan dirinya dari non pemimpin. Menurut teori ini
seorang pemimpin dapat mempelajari perilaku pemimpin supaya dapat menjadi
pemimpin yang efektif. Dengan demikian teori perilaku kepemimpinan lebih sesuai
dengan pandangan bahwa pemimpin dapat dipelajari, bukan bawaan sejak lahir.

3)

Teori Situasi (Contingency)


Teori situasi mengasumsikan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan yang paling
baik, tetapi kepemimpinan tergantung pada situasi, bentuk organisasi, kekuasaan
atau otoriter dari pemimpin, pekerjaan yang kompleks dan tingkat kematangan
bawahan.

4)

Teori Transformasi
Teori

transformasi

mengasumsikan

bahwa

pemimpin

mampu

melakukan

kepemimpinannya dalam situasi yang sangat cepat berubah atau situasi yang
penuh

krisis.

Menurut

Bass

(Dikutip

Gibson,

1997)

seorang

pemimpin

transformasional adalah seorang yang dapat menampilkan kepemimpinan yang


kharismatik, penuh inspirasi, stimulasi intelektual dan perasaan bahwa setiap
pengikut diperhitungkan.

C. Gaya Kepemimpinan
Menurut para ahli, terdapat gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan
dalam suatu organisasi antara lain:
a)

Gaya Kepemimpinan Menurut Tannenbau dan Warrant H. Schmitdt


Menurut kedua ahli tersebut, gaya kepemimpinan dapat dijelaskan melalui dua
titik ekstrim yaitu kepemimpinan berfokus pada atasan dan kepemimpinan berfokus
pada bawahan. Gaya tersebut dipengaruhi oleh faktor manajer, faktor karyawan
dan faktor situasi. Jika pemimpin memandang bahwa kepentingan organisasi harus
didahulukan jika dibanding kepentingan pribadi maka pemimpin akan lebih otoriter,
akan

tetapi

jika

bawahan

mempunyai

pengalaman

yang

lebih

baik

dan

menginginkan partisipasi, maka pemimpin dapat menerapkan gaya partisipasinya.


b)

Gaya Kepemimpinan Menurut Likert


Likert mengelompokkan gaya kepemimpinan dalam empat sistem yaitu:

1) Sistem Otoriter-Eksploitatif
Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap
bawahannya, memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi
yang dilakukan satu arah ke bawah (top-down).
2) Sistem Benevolent-Authoritative
Pemimpin mempercayai bawahan sampai tingkat tertentu, memotivasi bawahan
dengan ancaman atau hukuman tetapi tidak selalu dan membolehkan komunikasi
ke atas. Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang,
meskipun dalam pengambilan keputusan masih melakukan pengawasan yang ketat.
3) Sistem Konsultatif
Pemimpin mempunyai kekuasaan terhadap bawahan yang cukup besar. Pemimpin
menggunakan balasan (insentif) untuk memotivasi bawahan dan kadang-kadang
menggunakan ancaman atau hukuman. Komunikasi dua arah dan menerima
keputusan spesifik yang dibuat oleh bawahan.
4) Sistem Partisipatif

Pemimpin mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, menggunakan


insentif

ekonomi

untuk

memotivasi

bawahan.

menjadikan bawahan sebagai kelompok kerja.

Komunikasi

dua

arah

dan

c)

Gaya Kepemimpinan Menurut Teori X dan Teori Y


Dikemukakan oleh Douglas Mc Gregor dalam bukunya The Human Side
Enterprise (1960), dia menyebutkan bahwa perilaku seseorang dalam suatu
organisasi dapat dikelompokkan dalam dua kutub utama, yaitu sebagai Teori X dan
Teori Y. Teori X mengasumsikan bahwa bawahan itu tidak menyukai pekarjaan,
kurang ambisi, tidak mempunyai tanggung jawab, cenderung menolak perubahan,
dan lebih suka dipimpin daripada memimpin. Sebaliknya Teori Y mengasumsikan
bahwa, bawahan itu senang bekerja, bisa menerima tanggung jawab, mampu
mandiri, mampu mengawasi diri, mampu berimajinasi, dan kreatif. Dari teori ini,
gaya kepemimpinan dibedakan menjadi empat macam yaitu:

1) Gaya Kepemimpinan Diktator


Gaya

kepemimpinan

yang

dilakukan

dengan

menimbulkan

ketakutan

serta

menggunakan ancaman dan hukuman merupakan bentuk dari pelaksanaan Teori X.


2) Gaya Kepemimpinan Autokratis
Pada dasarnya kepemimpinan ini hampir sama dengan gaya kepemimpinan diktator
namun bobotnya agak kurang. Segala keputusan berada di tangan pemimpin,
pendapat dari bawahan tidak pernah dibenarkan. Gaya ini juga merupakan
pelaksanaan dari Teori X.
3) Gaya Kepemimpinan Demokratis
Ditemukan adanya peran serta dari bawahan dalam pengambilan keputusan yang
dilakukan dengan musyawarah. Gaya ini pada dasarnya sesuai dengan Teori Y.
4) Gaya Kepemimpinan Santai
Peranan dari pemimpin hampir tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan
pada bawahannya (Azwar dalam Nursalam, 2008: 64)

d)

Gaya Kepemimpinan Menurut Robbet House


Berdasarkan Teori Motivasi pengharapan, Robert House dalam Nursalam (2002)
mengemukakan empat gaya kepemimpinan yaitu:

1) Direktif
Pemimpin menyatakan kepada bawahan tentang bagaimana melaksanakan suatu
tugas. Gaya ini mengandung arti bahwa pemimpin selalu berorientasi pada hasil
yang dicapai oleh bawahannya.

2) Suportif
Pemimpin berusaha mendekatkan diri kepada bawahan dan bersikap ramah
terhadap bawahan.
3) Parsitipatif
Pemimpin berkonsultasi dengan bawahan untuk mendapatkan masukan dan saran
dalam rangka pengambilan sebuah keputusan.
4) Berorientasi Tujuan
Pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan mengharapkan bawahan
berusaha untuk mencapai tujuan tersebut dengan seoptimal mungkin (Sujak dalam
Nursalam, 1990)

e)

Gaya Kepemimpinan Menurut Hersey dan Blanchard


Ciri-ciri kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard (1997) meliputi:

1) Instruksi

Tinggi tugas dan rendah hubungan

Komunikasi sejarah

Pengambilan berada pada pemimpin dan peran bawahan sangat minimal

Pemimpin banyak memberikan pengarahan atau instruksi yang spesifikserta


mengawasi dengan ketat

2) Konsultasi

Tinggi tugas dan tinggi hubungan

Komunikasi dua arah

Peran pemimpin dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan cukup


besar

3) Parsitipatif

Tinggi hubungan rendah tugas

Pemimpin dan bawahan bersama-sama member gagasan dalam pengambilan


keputusan

4) Delegasi

Rendah hubungan dan rendah tugas

Komunikasi dua arah, terjadi diskusi antara pemimpin dan bawahan dalam
pemecahan masalah serta bawahan diberi delegasi untuk mengambil keputusan

f)

Gaya Kepemimpinan Menurut Lippits dan K. White


Menurut Lippits dan White, terdapat tiga gaya kepemimpinan yaitu otoriter,
demokrasi, liberal yang mulai dikembangkan di Unversitas Lowa.

1) Otoriter
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Wewenang mutlak berada pada pimpinan

Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan

Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan

Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan

Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan
dilakukan secara ketat

Prakarsa harus selalu berasal dari pimpinan

Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau
pendapat

Tugas-tugas dari bawahan diberikan secara instruktif

Lebih banyak kritik daripada pujian

Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan tanpa syarat

Pimpinan menuntut kesetiaan tanpa syarat

Cenderung adanya paksaan, ancaman dan hukuman

Kasar dalam bersikap

Tanggung jawab dalam keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh pimpinan

2) Demokratis
Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan dalam mempengaruhi orang
lain agar besedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan,
berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan
bawahan.
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Wewenang pimpinan tidak mutlak

Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan

Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan

Komunikasi berlangsung timbal balik

Pengawasan dilakukan secara wajar

Prakarsa datang dari bawahan

Banyak kesempatan dari bawahan untuk menyampaikan saran dan pertimbangan

Tugas-tugas dari bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan daripada


instruktif

Pujian dan kritik seimbang

Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan dalam batas masingmasing

Pimpinan kesetiaan bawahan secara wajar

Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan bertindak

Tercipta

suasana

saling

percaya

saling

hormat

menghormati,

dan

saling

menghargai

Tanggung jawab keberhasilan organisasi ditanggung secara bersama-sama

3) Liberal atau Laissez Faire


Kepemimpinan gaya liberal atau Laisssez Faire adalah kemampuan mempengaruhi
orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan dengan cara
berbagai kegiatan dan pelaksanaanya dilakukan lebih banyak diserahkan kepada
bawahan.
Gaya kepemimpinan ini bercirikan sebagai berikut:

Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan

Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan

Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh bawahan

Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahan

Hampir tiada pengawasan terhadap tingkah laku

Prakarsa selalu berasal dari bawahan

Hampir tiada pengarahan dari pimpinan

Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok

Kepentingan pribadi lebih penting dari kepentingan kelompok

Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh perseorangan

g)

Gaya Kepemimpinan Berdasarkan Kekuasaan dan Wewenang


Menurut Gillies (1996), gaya kepemimpinan berdasarkan wewenang dan
kekuasaan dibedakan menjadi empat yaitu:

1) Otoriter

Merupakan

kepemimpinan

Menggunakan

kekuasaan

yang
posisi

berorientasi
dan

pada

kekuatan

tugas

dalam

atau

memimpin.

pekarjaan.
Pemimpin

menentukan semua tujuan yang akan dicapai dalam pengambilan keputusan.


Informasi

yang

diberikan

hanya

pada

kepentiungan

tugas.

Motivasi

denganreward dan punishment.

2) Demokratis
Merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan setiap staf.
Menggunakan kekuatan posisi dan pribadinya untuk mendorong ide dari staf,
memotivasi kelompok untuk menentukan tujuan sendiri. Membuat rencana dan
pengontrolan dalam penerapannya. Informasi diberikan seluas-luasnya dan terbuka.
3) Partisipatif
Merupakan gabungan antara otoriter dan demokratis, yaitu pemimpin yang
menyampaikan hasil analisis masalah dan kemudian mengusulkan tindakan
tersebut

pada

bawahannya.

Staf

dimintai

saran

dan

kritiknya

serta

mempertimbangkan respon staf terhadap usulannya, dan keputusan akhir ada pada
kelompok.
4) Bebas Tindak
Merupakan

pimpinan

ofisial,

karyawan

menentukan

sendiri

kegiatan

tanpa

pengarahan, supervisi dan koordinasi. Staf/bawahan mengevaluasi pekarjaan sesuai


dengan

caranya

sendiri.

Pimpinan

hanya

sebagai

sumber

informasi

dan

pengendalian secara minimal.

D. Kriteria Pemimpin dalam Keperawatan yang Efektif


Kepemimpinan yang efektif di RS akan terwujud apabila pemimpin
menelaah dengan sistem yang efektif. Seorang pemimpin
seorang

pemimpin

yang efektif adalah

yang dapat mempengaruhi orang lain agar dapat bekerja

sama untuk mencapai hasil yang memuaskan bagi terjadinya perubahan yang
bermanfaat. Ada beberapa kepemimpinan yang efektif antara lain menurut :

a) Ruth M. Trapper (1989 ), membagi menjadi 6 komponen :


1) Menentukan tujuan yang jelas, cocok, dan bermakna bagi kelompok. Memilih
pengetahuan dan ketrampilan kepemimpinan dan dalam bidang profesinya.
2) Memiliki kesadaran diri dan menggunakannya untuk memahami kebutuhan sendiri
serta kebutuhan orang lain.
3) Berkomunikasi dengan jelas dan efektif.
4) Mengerahkan energi yang cukup untuk kegiatan kepemimpinan
5) Mengambil tindakan
b) Hellander ( 1974 )
Dikatakan efektif bila pengikutnya melihat pemimpin sebagai seorang yang
bersama-sama mengidentifikasi tujuan dan menentukan alternatif kegiatan.

c) Bennis ( Lancaster dan Lancaster, 1982 )


Mengidentifikasi empat kemampuan penting bagi seorang pemimpin, yaitu :
1) Mempunyai pengetahuan yang luas dan kompleks tentang sistem manusia
( hubungan antar manusia ).
2) Menerapkan pengetahuan tentang pengembangan dan pembinaan bawahan.
3) Mempunyai kemampuan hubungan antar manusia, terutama dalam mempengaruhi
orang lain.
4) Mempunyai sekelompok nilai dan kemampuan yang memungkinkan seseorang
mengenal orang lain dengan baik.
d) Gibson ( Lancaster dan Lancaster,1982 )
Seorang pemimpin harus mempertimbangkan :
1) Kewaspadaan diri ( self awarness )

Kewaspadaan diri berarti menyadari bagaimana seorang pemimpin mempengaruhi


orang lain. Kadang seorang pemimpin merasa ia sudah membantu orang lain, tetapi
sebenarnya justru telah menghambatnya.
2) Karakteristik kelompok
Seorang pemimpin harus memahami karakteristik kelompok meliputi : norma, nilai nilai kemampuannya, pola komunikasi, tujuan, ekspresi dan keakraban kelompok.
3) Karakteristik individu
Pemahaman tentang karakteristik individu juga sangat penting karena setiap
individu unik dan masing - masing mempunyai kontribusi yang berbeda.

E. Tugas Kepemimpinan dalan Keperawatan


Tugas penting seorang pemimpin di ruang rawat adalah:
a. Selalu siap menghadapi setiap perubahan. Setiap pemimpin di ruang rawat harus
mampu bersikap proaktif dalam setiap perubahan yang terjadi, berperan dalam
setiap aspek kehidupan berorganisasi, serta mengkaji setiap kemungkinan untuk
mengembangkan sesuatu yang baru serta mampu menanggapi setiap kesempatan
sebagai suatu tantangan yang dapat menghasilkan.
b. Mengatasi konflik yang terjadi sebagai dampak dari kegiatan, kebijakan, ataupun
hubungan yang terkait dengan atasan, bawahan atau pasien dan keluarganya.
c. Meningkatkan dinamika kelompok diantara bawahan sebagai upaya pemimpin
untuk memotivasi bawahan
d. Meningkatkan komunikasi dengan atasan, bawahan, rekan sejawat dan konsumen
lainnya. Keterbukaan dalam berkomunikasi akan dapat memperlancar proses
pelaksanaan kegiatan sehingga akan mempermudah pencapaian tujuan.
e. Melatih kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki dengan menerapkan berbagai
cara untuk membuktikan bahwa kekuasaan dan kewenangan itu masih dapat
dihargai oleh bawahan.

f.

Menggunakan aspek politik untuk mempengaruhi orang lain, dalam rangka


memperlancar pencapaian tujuan.

g. Menatalaksanakan

waktu

dengan

baik.

Penatalaksanaan

waktu

yang

baik

mencerminkan pemanfaatan sumber-sumber yang tersedia digunakan dengan baik


pula sehingga produktivitas kerja menjadi meningkat.

F. Penerapan Kepemimpinan dalam Keperawatan


Pemberian pelayanan dan asuhan keperawatan merupakan suatu kegiatan
yang kompleks dan melibatkan berbagai individu. Agar tujuan keperawatan tercapai
diperlukan berbagai kegiatan dalam menerapkan keterampilan kepemimpinan.
Menurut Kron, kegiatan tersebut meliputi :
1. Perencanaan dan Pengorganisasian
Pekerjaan dalam suatu ruangan hendaknya direncanakan dan diorganisasikan.
Semua kegiatan dikoordinasikan sehingga dapat dikerjakan pada waktu yang tepat
dan dengan cara yang benar. Sebagai seorang kepala ruangan perlu membuat
suatu perencanaan kegiatan di ruangan.
2. Membuat Penugasan dan Memberi Penghargaan
Setelah membuat penugasan, perlu diberikan pengarahan kepada para perawat
tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan secara singkat dan jelas. Dalam
memberi pengarahan, seorang pemimpin harus mampu membuat seseorang
memahami apa yang diarahkan dan juga mempunyai tanggung jawab untuk
melihat apakah pekerjaan tersebut dikerjakan dengan benar.
3. Pemberian bimbingan
Bimbingan merupakan unsur yang penting dalam keperawatan. Bimbingan berarti
menunjukkan cara menggunakan berbagai metode mengajar dan konseling.
Bimbingan

yang

diberikan

meliputi

pengetahuan

dan

keterampilan

dalam

keperawatan. Hal ini akan membantu bawahan dalam melakukan tugas mereka
sehingga dapat memberikan kepuasan bagi perawat dan klien.

4. Medorong Kerjasama dan Partisipasi


Kerjasama diantara perawat perlu ditingkatkan dalam melaksanakan keperawatan.
Seorang

pemimpin

perlu

menyadari

bahwa

bawahan

bekerjasama

dengan

pemimpin bukan untuk atau dibawah pimpinan. Kerjasama dapat ditingkatkan


melalui suasana demokrasi dimana setiap individu/perawat mengetahui apa yang
diharapkan
membangun.

dari

mereka,

Bawahan

dan
perlu

mereka

mendapat

mengetahui

bahwa

pujian

serta

pemimpin

kritik

yang

mempercayai

kemampuan mereka. Hubungan antar manusia yanng baik dapat meningkatkan


kerjasama. Disamping itu setiap individu dalam kelompok diusahakan untuk
berpartisipasi. Hal ini akan membuat setiap perawat merasa dihargai termasuk bagi
mereka yang sering menarik diri atau yang pasif. Partisipasi setiap perawat dapat
berbeda-beda, tergantung kemampuan mereka.
5. Kegiatan Koordinasi
Pengkoordinasian kegiatan dalam suatu ruangan merupakan bagian yang penting
dalam kepemimpinan keperawatan. Seorang pemimpin perlu mengusahakan agar
setiap perawat mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam suatu ruangan.
Hal lain yang perlu dilakukan adalah melaporkan kepada atasan langsung tentang
pencapaian kerja bawahan. Agar dapat melakukan koordinasi dengan efektif,
diperlukan suatu perencanaan yang baik dan penggunaan kemampuan setiap
individu dan sumber-sumber yang ada.
6. Evaluasi Hasil Penampilan Kerja
Evaluasi hasil penampilan kerja dilakukan melalui pengamatan terhadap staf dan
pekerjaan mereka. Evaluasi merupakan proses berkelanjutan untuk menganalisa
kekurangan

dan

kelebihan

staf

sehingga

dapat

mendorong

mereka

mempertahankan pekerjaan yang baik dan memperbaiki kekuranngan yang ada.


Agar seorang pemimpin dapat menganalisa perawat lain secara efektif, ia juga
harus dapat menilai diri sendiri sebagai seorang perawat dan seorang pemimpin
secara jujur.

Melalui kegiatan-kegiatan ini diharapkan seorang kepala ruangan dapat melakukan


tanggung

jawabnya

sebagai

manajer

dan

pemimpin

yang

efektif.

Dalam

melaksanakan pelayanan dan asuhan keperawatan, kepala ruangan sebagai


seorang pemimpin bertanggung jawab dalam :
a. Membantu perawat lain mencapai tujuan yang ditentukan
b. Mengarahkan kegiatan-kegiatan keperawatan
c. Tanggungjawab atas tindakan keperawatan yang dilakukan
d. Pelaksanaan keperawatan berdasarkan standar
e. Penyelesaian pekerjaan dengan benar
f.

Pencapaian tujuan keperawatan

g. Kesejahteraan bawahan
h. Memotivasi bawahan

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kepemimpinan dipandang sebagai suatu proses interaktif yang dinamis
yang mencakup tiga dimensi; pimpinan, bawahan, dan situasi. Masing-masing dari
dimensi tadi saling mempengaruhi misalnya, pencapain tujuan tergantung bukan
karena hanya sifat pribadi dari seorang pemimpin, tetapi juga tergantung dari
kebutuhan bawahan dan bentuk dari suatu keadaan.

B. Saran
Kami menyarankan kepada pembaca agar makalah ini dapat dimengerti
dan dipahami dengan baik, sehingga kita dapat mengetahui tentang model-model
kepemimpinan dalam keperawatan. Agar dapat menjadi pedoman buat kita sebagai
perawat.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Swansburg, Russel C. Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan; alih


bahasa, Suharyati Samba; editor, Monica Ester. Jakarta : EGC, 2000

2.

http://nursedc.blogspot.com/2012/03/kepemimpinan-dalam-keperawatan.html

3.

http://nursing-academy.blogspot.com/2011/09/gaya-gaya-kepemimpinandalam.html

4.

http://www.scribd.com/doc/35540876/KEPEMIMPINAN

5.

http://vulnus-equatum.blogspot.com/2011/12/kepemimpinan-dalamkeperawatan.html#!/2011/12/kepemimpinan-dalam-keperawatan.html

6.

http://tiparkidul.blogspot.com/2009/05/kepemimpinan-dalam-keperawatan.html

7.

http://www.beri-beri.com/2010/02/kepemimpinan-dalam-keperawatan.html

8.

http://ryrilumoet.blogspot.com/2009/10/manajemen-kepemimpinan-dalam.html

9.

Nursalam. 2008. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam prektik Keperawatan


Profesional Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

10. Suarli S dan Bahtiar nYanyan.____. Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan


Praktis. Jakarta: Erlangga

makalah kepemimpinan Transformasional dan


Transaksaksional
Pendahuluan

BAB I

A. Latar Belakang
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah
pimpinannya sebagai suatu team untuk mencapai suatu tujuan tertentu, demikian ditulis James M Black
dalam bukunya Management, A Guide to Executive Command.
Sedangkan Artitonang (2007) menyebutkan pengertian kepemimpinan adalah pada dasarnya
berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab
itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan pemimpin.
Kepemimpinan Strategik, adalah kepemimpinan yang mampu memantapkan nilai-nilai yang akan menjadi

landasan berpikir bersama agar mampu beradaptasi dengan perubahan , mennginisiasi perubahan,
melebur dengan perubahan itu, menggerakkan sumber daya organisasi menuju pencapaian perubahan
yang diinginkan, serta mengarahkan roda organisasi kepada hari depan yang lebih baik.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Kepemimpinan.
Salah satu teori yang menekankan suatu perubahan dan yang paling komprehensif berkaitan dengan
kepemimpinan adalah teori kepemimpinan transformasional dan transaksional (Bass, 1990). Gagasan
awal mengenai gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional ini dikembangkan oleh James
MacFregor Gurns yang menerapkannya dalam konteks politik. Gagasan ini selanjutnya disempurnakan
serta diperkenalkan ke dalam konteks organisasional oleh Bernard Bass (Berry dan Houston, 1993).
Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997) mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan transformasional
dan transaksional dapat dipilah secara tegas dan keduanya merupakan gaya kepemimpinan yang saling
bertentangan. Kepemimpinan transformasional dan transaksional sangat penting dan dibutuhkan setiap
organisasi.

B. Kepemimpinan Transformasional
Selanjutnya Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997; Keller, 1992) mengembangkan konsep
kepemimpinan transformasional dan transaksional dengan berlandaskan pada
pendapatMaslow mengenai hirarki kebutuhan manusia. Menurut Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997)
keterkaitan tersebut dapat dipahami dengan gagasan bahwa kebutuhan karyawan yang lebih rendah,
seperti kebutuhan fisiologis dan rasa aman hanya dapat dipenuhi melalui praktik gaya kepemimpinan
transaksional. Sebaliknya, Keller (1992) mengemukakan bahwa kebutuhan yang lebih tinggi, seperti
harga diri dan aktualisasi diri, hanya dapat dipenuhi melalui praktik gaya kepemimpinan transformasional.
Sejauhmana pemimpin dikatakan sebagai pemimpin transformasional, Bass (1990) dan Koh, dkk. (1995)
mengemukakan bahwa hal tersebut dapat diukur dalam hubungan dengan pengaruh pemimpin tersebut
berhadapan karyawan. Oleh karena itu, Bass (1990) mengemukakan ada tiga cara seorang pemimpin
transformasional memotivasi karyawannya, yaitu dengan:
1) mendorong karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha;
2) mendorong karyawan untuk mendahulukan kepentingan kelompok; dan
3) meningkatkan kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti harga diri dan aktualisasi diri.
Hubungan antara Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformasional 38 Berkaitan dengan kepemimpinan
transformasional, Bass (dalam Howell dan Hall-Merenda, 1999) mengemukakan adanya empat
karakteristik kepemimpinan transformasional, yaitu:
1) karisma,
2) inspirasional,
3) stimulasi intelektual, dan
4) perhatian individual.
Selanjutnya, Bass (1990) dan Yukl (1998) mengemukakan bahwa hubungan pemimpin transaksional
dengan karyawan tercermin dari tiga hal yakni:
1) pemimpin mengetahui apa yang diinginkan karyawan dan menjelasakan apa yang akan mereka

dapatkan apabila kerjanya sesuai dengan harapan;


2) pemimpin menukar usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan
imbalan; dan
3) pemimpin responsif terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan tersebut sebanding
dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan karyawan.
C. Kepemimpinan Transaksional
Bass (dalam Howell dan Avolio, 1993) mengemukakan bahwa karakteristik kepemimpinan transaksional
terdiri atas dua aspek, yaitu imbalan kontingen, dan manajemen eksepsi.
Berkaitan dengan pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap perilaku karyawan, Podsakoff
dkk. (1996) mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan transformasional merupakan faktor penentu
yang mempengaruhi sikap, persepsi, dan perilaku karyawan di mana terjadi peningkatan kepercayaan
kepada pemimpin, motivasi, kepuasan kerja dan mampu mengurangi sejumlah konflik yang sering terjadi
dalam suatu
organisasi.
Menurut Bycio dkk. (1995) serta Koh dkk. (1995), kepemimpinan transaksional adalah gaya
kepemimpinan di mana seorang pemimpin menfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal
antara pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran. Pertukaran tersebut
didasarkan pada kesepakatan mengenai klasifikasi sasaran, standarkerja, penugasan kerja, dan
penghargaan.
Judge dan Locke (1993) menegaskan bahwa gaya kepemimpinan merupakan salah satu faktor penentu
kepuasan kerja. Jenkins (dalam Manajemen, 1990), mengungkapkan bahwa keluarnya karyawan lebih
banyak disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap kondisi kerja karena karyawan merasa pimpinan tidak
memberi kepercayaan kepada karyawan, tidak ada
keterlibatan karyawan dalam pembuatan keputusan, pemimpin berlaku tidak objektif dan tidak jujur pada
karyawan. Pendapat ini didukung oleh Nanus (1992) yang mengemukakan bahwa alasan utama
karyawan meninggalkan organisasi disebabkan karena pemimpin gagal memahami karyawan dan
pemimpin tidak memperhatikan kebutuhan-kebutuhan karyawan. Dalam kaitannya dengan koperasi,
Kemalawarta (2000) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kendala yang menghambat
perkembangan koperasi di Indonesia adalah keterbatasan tenaga kerja yang terampil dan tingginya
turnover.
Pada dasarnya, kepemimpinan merupakan kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi karyawan dalam
sebuah organisasi, sehingga mereka termotivasi untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam memberikan
penilaian terhadap gaya kepemimpinan yang diterapkan pemimpin, karyawan melakukan proses kognitif
untuk menerima, mengorganisasikan, dan memberi penafsiran terhadap pemimpin (Solso, 1998).
Berbagai penelitian yang dilakukan berkaitan dengan kepuasan kerja terutama dalam hubungannya
dengan gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional. Penelitian yang dilakukan oleh Koh dkk.
(1995) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan
transaksional dengan kepuasan kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Popper dan Zakkai (1994)
menunjukkan bahwa pengaruh
kepemimpinan transformasional terhadap organisasi sangat besar.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari uraian diatas bahwa peningkatan kualitas kinerja seorang penididik bisa dilakukan dengan

memperhatikan kepuasan kerja secara intensif baik kepuasan intrinsik maupun kepuasan ekstrinsik dan
memperbaiki budaya organisasi yang hanya berorientasi tugas semata dengan menerapkan budaya kerja
yang berorientasi kinerja, persaingan, yang di sinergiskan dengan upaya re-inveting organisasi dan
pengembangan jenjang karier secara berkala atau memperbaiki budaya organisasi yang berpola
paternalistik dengan budaya organisasi berpola profesionalisme.

DAFTAR PUTAKA
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/kepemimpinan-transformasional-dan.html
makalah kepemimpinan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Leadership is capability of persuading others to
work together undertheir direction as a team to accomplish certain designated objectives Kepemimpinan adalah
kemampuan untuk meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah pimpinannya sebagai suatu team untuk
mencapai suatu tujuan tertentu, demikian ditulis James M Black dalam bukunya Management, A Guide to Executive
Command. Sedangkan Artitonang (2007) menyebutkan pengertian kepemimpinan adalah pada dasarnya
berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu
kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan pemimpin. Kepemimpinan Strategik, adalah kepemimpinan yang
mampu memantapkan nilai-nilai yang akan menjadi landasan berpikir bersama agar mampu beradaptasi dengan
perubahan , mennginisiasi perubahan, melebur dengan perubahan itu, menggerakkan sumber daya organisasi
menuju pencapaian perubahan yang diinginkan, serta mengarahkan roda organisasi kepada hari depan yang lebih
baik. Kita sering mendengar istilah yang mirip, tapi sesungguhnya berbeda makna, yakni Systematic thinking
(berpikir sistematik), Systemic thingking (berpikir sistemik), dan Systems thinking (berpikir serba-sistem). Semua
istilah itu berakar dari kata yang sama sistem dan berpikir, namun menunjukkan konotasi yang berbeda, karena
itu memiliki tujuan yang berbeda pula.Konsep sistem setidaknya menyangkut pengertian adanya elemen atau unsur
yang membentuk kesatuan, lalu ada atribut yang mengikat mereka, yaitu tujuan bersama. Karena itu, setiap elemen
berhubungan satu sama lain (relasi) berdasarkan suatu aturan main yang disepakati bersama. Kesatuan antar
elemen (sistem) itu memiliki batas (boundary) yang memisahkan dan membedakannya dari sistem lain ai sekitarnya.
Perbedaan di antara ketiga istilah tersebut bisa ditelusuri lebih lanjut. Berpikir sistematik, artinya memikirkan segala
sesuatu berdasarkan kerangka metode tertentu, ada urutan dan proses pengambilan keputusan. Di sini diperlukan
ketaatan dan kedisiplinan terhadap proses dan metoda yang hendak dipakai. Metoda berpikir yang berbeda akan
menghasilkan kesimpulan yang berbeda, namun semuanya dapat dipertanggungjawabkan karena sesuai dengan
proses yang diakui luas. Berpikir sistemik, maknanya mencari dan melihat segala sesuatu memiliki pola keteraturan
dan bekerja sebagai sebuah sistem. Misalnya, bila kita melihat otak, maka akan terbayangkan sistem syarat dalam
tubuh manusia atau hewan. Bila kita melihat jantung akan terbayangkan sistem peredaran darah di seluruh tubuh.
Bila kita melihat koperasi, unit usaha kecil dan menengah (UKM), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan
konglomerat, maka kita memandangf sistem perekonomian nasional. BAB II PEMBAHASAN A. Defenisi Kepemimpin
Sehubungan dengan kepemimpinan Bennis (1959:259) menyimpulkan : "selalu tanpaknya, konsep tentang
kepemimpinan menjauh dari kita atau muncul dalam bentuk lain yang lagi-lagi mengejek kita dengan kelicinan dan
kompleksitasnya. dengn demikian kita mendptkan sutu proliferasi dari istlah-istilah yang tak habis-habisnya harus
dihadapi... dan konsep tersebut tetap tidak didefinisikan dengan memuaskan". Garry Yukl (1994:2) menyimpulkan
definisi yang mewakili tentang kepemimpinan antara lain sebagai berikut : Kepemimpinan adalah prilaku dari
seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (share
goal) (Hemhill& Coons, 1957:7) Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi
tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannenbaum, Weschler & Massarik, 1961:24) kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan
struktur dalam harapan dan interaksi (Stogdill, 1974:411) kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi
sedikit pada dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan rutin organisasi (Katz & Kahn, 1978:528)
kepeimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi kearah pencapaian tujuan
(Rauch & Behling, 1984:46) kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti) terhadap
usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang dinginkan untuk mencapai sasaran
(Jacob & Jacques, 1990:281) para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten memberi kontribusi yang efektif
terhadap orde sosial dan yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya (Hosking, 1988:153) Kepemimpinan
sebagai sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang
terhadap orang lain untuk menstruktur aktifitas-aktifitas serta hubungan-hubungan didalam sebuah kelompok atau
organisasi (Yukl, 1994:2) B. Teori Kepemimpinan. Salah satu prestasi yang cukup menonjol dari sosiologi

kepemimpinan modern adalah perkembangan dari teori peran (role theory). Dikemukakan, setiap anggota suatu
masyarakat menempati status posisi tertentu, demikian juga halnya dengan individu diharapkan memainkan peran
tertentu. Dengan demikian kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu aspek dalam diferensiasi peran. Ini berarti
bahwa kepemimpinan dapat dikonsepsikan sebagai suatu interaksi antara individu dengan anggota kelompoknya.
Menurut kaidah, para pemimpin atau manajer adalah manusia-manusia super lebih daripada yang lain, kuat, gigih,
dan tahu segala sesuatu (White, Hudgson & Crainer, 1997). Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yang
jumlahnya sedikit, namun perannya dalam organisasi merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang
hendak dicapai. Berangkat dari ide-ide pemikiran, visi para pemimpin ditentukan arah perjalanan suatu organisasi.
Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dari tingkat kinerja organisasi, akan tetapi kenyataan
membuktikan tanpa kehadiran pemimpin, suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah.
Dalam sejarah peradaban manusia, dikonstatir gerak hidup dan dinamika organisasi sedikit banyak tergantung pada
sekelompok kecil manusia penyelenggara organisasi. Bahkan dapat dikatakan kemajuan umat manusia datangnya
dari sejumlah kecil orang-orang istimewa yang tampil kedepan. Orang-orang ini adalah perintis, pelopor, ahli-ahli
pikir, pencipta dan ahli organisasi. Sekelompok orang-orang istimewa inilah yang disebut pemimpin. Oleh karenanya
kepemimpinan seorang merupakan kunci dari manajemen. Para pemimpin dalam menjalankan tugasnya tidak hanya
bertanggungjawab kepada atasannya, pemilik, dan tercapainya tujuan organisasi, mereka juga bertanggungjawab
terhadap masalah-masalah internal organisasi termasuk didalamnya tanggungjawab terhadap pengembangan dan
pembinaan sumber daya manusia. Secara eksternal, para pemimpin memiliki tanggungjawab sosial kemasyarakatan
atau akuntabilitas publik. C. Kepemimpinan Abad 21 Uraian dan pemikiran mengenai kepemimpinan Abad 21 ini
beranjak dari pandangan bahwa pemimpin publik harus mengenali secara tepat dan utuh baik mengenai dirinya mau
pun mengenai kondisi dan aspirasi masyarakat atau orang-orang yang dipimpinnya, perkembangan dan
permasalahan lingkungan stratejik yang dihadapi dalam berbagai bidang kehidupan utamanya dalam bidang yang
digelutinya, serta paradigma dan sistem organisasi dan manajemen di mana ia berperan. Tanggung jawab pemimpin
adalah memberikan jawaban secara arief, efektip, dan produktif atas berbagai permasalahan dan tantangan yang
dihadapi zamannya, yang dilakukan bersama dengan orang-orang yang dipimpinnya. Untuk itu setiap pemimpin
perlu memenuhi kompetensi dan kualifikasi tertentu. model kepemimpinan Abad ke-21. a. Kepemimpinan
Transformasional. Kepemimpinan transformasional menunjuk pada proses membangun komitmen terhadap sasaran
organisasi dan memberi kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut. Teori
transformasional mempelajari juga bagaimana para pemimpin mengubah budaya dan struktur organisasi agar lebih
konsisten dengan strategi-strategi manajemen untuk mencapai sasaran organisasional. Secara konseptual,
kepemimpinan transformasional di definisikan (Bass, 1985), sebagai kemampuan pemimpin mengubah lingkungan
kerja, motivasi kerja, dan pola kerja, dan nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu
mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Berarti, sebuah proses transformasional terjadi dalam
hubungan kepemimpinan manakala pemimpin membangun kesadaran bawahan akan pentingnya nilai kerja,
memperluas dan meningkatkan kebutuhan melampaui minat pribadi serta mendorong perubahan tersebut ke arah
kepentingan bersama termasuk kepentingan organisasi (Bass, 1985). Konsep awal tentang kepemimpinan
transformasional telah diformulasi oleh Burns (1978) dari penelitian deskriptif mengenai pemimpin-pemimpin politik.
Burns, menjelaskan kepemimpinan transformasional sebagai proses yang padanya para pemimpin dan pengikut
saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi, seperti kemerdekaan, keadilan, dan
kemanusiaan, dan bukan di dasarkan atas emosi, seperti misalnya keserakahan, kecemburuan sosial, atau
kebencian (Burns, 1997). b. Kepemimpinan Transaksaksional. Pengertian kepemimpinan transaksional merupakan
salah satu gaya kepemimpinan yang intinya menekankan transaksi di antara pemimpin dan bawahan.
Kepemimpinan transaksional memungkinkan pemimpin memotivasi dan mempengaruhi bawahan dengan cara
mempertukarkan reward dengan kinerja tertentu. Artinya, dalam sebuah transaksi bawahan dijanjikan untuk diberi
reward bila bawahan mampu menyelesaikan tugasnya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama.
Alasan ini mendorong Burns untuk mendefinisikan kepemimpinan transaksional sebagai bentuk hubungan yang
mempertukarkan jabatan atau tugas tertentu jika bawahan mampu menyelesaikan dengan baik tugas tersebut. Jadi,
kepemimpinan transaksional menekankan proses hubungan pertukaran yang bernilai ekonomis untuk memenuhi
kebutuhan biologis dan psikologis sesuai dengan kontrak yang telah mereka setujui bersama. Menurut Bass (1985),
sejumlah langkah dalam proses transaksional yakni; pemimpin transaksional memperkenalkan apa yang diinginkan
bawahan dari pekerjaannya dan mencoba memikirkan apa yang akan bawahan peroleh jika hasil kerjanya sesuai
dengan transaksi. Pemimpin menjanjikan imbalan bagi usaha yang dicapai, dan pemimpin tanggap terhadap minat
pribadi bawahan bila ia merasa puas dengan kinerjanya. BAB III PENUTUP KESIMPULAN Dari uraian diatas bahwa
peningkatan kualitas kinerja seorang penididik bisa dilakukan dengan memperhatikan kepuasan kerja secara intensif

baik kepuasan intrinsik maupun kepuasan ekstrinsik dan memperbaiki budaya organisasi yang hanya berorientasi
tugas semata dengan menerapkan budaya kerja yang berorientasi kinerja, persaingan, yang di sinergiskan dengan
upaya re-inveting organisasi dan pengembangan jenjang karier secara berkala atau memperbaiki budaya organisasi
yang berpola paternalistik dengan budaya organisasi berpola profesionalisme. Sehingga para pendidik memiliki
kemampuan untuk mengkomunikasikan secara langsung kepada rekan kerja ataupun kepada pihak pimpinan
mengenai hal-hal yang menjadi hambatan psikologis dan komunikasi yang berhubungan dengan pemenuhan
kebutuhan baik instrinsik maupun ekstrinsik dan pihak pimpinan senantiasa memperhatikan dan memegang teguh
prinsip keadilan dan humanitas dalam pengembangan diri dimasa yang akan datang.
Copy and WIN : http://ow.ly/KfYkt

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
A.

Kepemimpinan Transformasional (Transformational leadership)

Kepemimpinan dilaksanakan ketika seseorang memobilisasi sumber daya


intitusional, politis, psikologis dan sumber lain untuk membangkitkan,
melibatkan dan memotivasi pengikutnya (Bass & Avolio, 2002 dalam Hartiti,
2013).
Pemimpin transformasional adalah seseorang pemimpin yang menguasai
situasi dengan menyampaikan visi yang jelas tentang tujuan kelompok,
bergairah dalam pekerjaan dan kemampuan untuk membuat anggota
kelompok merasa diisi ulang dan berenergi (Kendra, 2013).
Kepemimpinan transformasional adalah jenis gaya kepemimpinan yang
mengarah ke perubahan positif pada mereka yang mengikuti (pengikut).
Pemimpin transformasional umumnya energik, antusias dan bergairah. Tidak
hanya para pemimpin memperhatikan dan terlibat dalam proses, mereka
juga difokuskan untuk membantu setiap anggota kelompok untuk dapat
berhasil juga (Pmcounseling, 2011).
Kepemimpinan Transformasional adalah suatu model kepemimpinan untuk
meningkatkan sumberdaya manusia dengan dan hubungan efek pemimpin
terhadap bawahan dapat diukur, dengan indikator adanya kepercayaan,
kekaguman, kesetiaan, dan hormat terhadap pemimpin, berusaha untuk
memotivasi pengikut untuk melakukan sesuatu yang lebih dan
melakukannya melampaui harapan mereka sendiri (Bass, 1994).
B.

Sejarah Kepemimpinan Transformasional

Konsep kepemimpinan transformasional awalnya diperkenalkan oleh ahli


kepemimpinan dan penulis biografi presiden James MacGregor Burns.
Menurut Burns, kepemimpinan transformasional dapat dilihat ketika para
pemimpin dan pengikut membuat satu sama lain untuk meningkatkan moral
dan motivasi Melalui kekuatan visi dan kepribadian mereka, pemimpin
transformasional mampu menginspirasi pengikutnya untuk mengubah
harapan, persepsi dan motivasi untuk bekerja menuju tujuan bersama
(Kendra, 2013).
Kemudian, peneliti Bernard M. Bass menerapkan ide Burn untuk
mengembangkan apa yang sekarang disebut sebagai Bass teori
kepemimpinan Transformasional. Menurut Bass (1994) kepemimpinan
transformasional dapat didefinisikan berdasarkan dampak yang ada pada
pengikut. Bass menyarankan kepada pemimpin transformasional agar dapat
menggalang kepercayaan, hormat dan kekaguman dari para pengikut
mereka .
C.

Komponen Perilaku Kepemimpinan Transformasional

1. Kharismatik
Bahwa kharisma secara tradisional dipandang sebagai hal yang bersifat
inheren dan hanya dimiliki oleh pemimpin-pemimpin kelas dunia. Penulisan
membuktikan bahwa kharisma bisa saja dimiliki oleh pimpinan di level
bawah dari sebuah organisasi (Hartiti, 2013). Pemimpin yang memiliki ciri
tersebut, memperlihatkan visi, kemampuan, dan keahliannya serta tindakan
yang lebih mendahulukan kepentingan organisasi dan kepentingan orang
lain (masyarakat) daripada kepentingan pribadi. Karena itu, pemimpin
kharismatik dijadikan suri tauladan, idola, dan model panutan oleh
bawahannya.
Bawahan mempercayai pemimpin karena pemimpin dianggap mempunyai
pandangan, nilai dan tujuan yang dianggapnya benar. Oleh sebab itu
pemimpin yang mempunyai karisma lebih besar dapat lebih mudah
mempengaruhi dan mengarahkan bawahan agar bertindak sesuai dengan
apa yang diinginkan oleh pemimpin. Selanjutnya dikatakan kepemimpinan
karismatik karena pemimpin dapat memotivasi bawahan untuk

mengeluarkan upaya kerja ekstra karena mereka menyukai pemimpinnya


(Hartiti, 2013).
2. Pengaruh idealis
Para pemimpin transformasional berfungsi sebagai role model bagi pengikut.
Karena pengikut percaya dan menghormati pemimpin, mereka meniru orang
ini dan internalisasi kedalam dirinya. Mereka percaya pada filosofi bahwa
seorang pemimpin dapat mempengaruhi pengikutnya hanya ketika
pemimpin mempraktekan apa yang dia katakan. Para pemimpin bertindak
sebagai role-model bagi pengikutnya (Kendra, 2013). Pemimpin tipe ini
berupaya mempengaruhi bawahannya melalui komunikasi langsung dengan
menekankan pentingnya nilai-nilai, asumsi-asumsi, komitmen dan keyakinan,
serta memiliki tekad untuk mencapai tujuan dengan senantiasa
mempertimbangkan akibat-akibat moral dan etik dari setiap keputusan yang
dibuat. Ia memperlihatkan kepercayaan pada cita-cita, keyakinan, dan nilainilai hidupnya (Hartiti, 2013). Dampaknya adalah dikagumi, dipercaya,
dihargai, dan bawahan berusaha mengindentikkan diri dengannya. Hal ini
disebabkan perilaku yang menomorsatukan kebutuhan bawahan, membagi
resiko dengan bawahan secara konsisten, dan menghindari penggunaan
kuasa untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, bawahan bertekad dan
termotivasi untuk mengoptimalkan usaha dan bekerja ke tujuan bersama.
3. Motivasi Inspirasi
Pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas bahwa mereka mampu
mengartikulasikan kepada pengikut. Para pemimpin ini juga mampu
membantu meningkatkan gairah pengikut dan motivasi untuk memenuhi
tujuan (Kendra, 2013). Pemimpin transformasional bertindak dengan cara
memotivasi dan memberikan inspirasi kepada bawahan melalui pemberian
arti dan tantangan terhadap tugas bawahan (Hartiti, 2013). Perilaku
pemimpin yang inspirational menurut Yulk, (2002) dapat merangsang
antusiasme bawahan terhadap tugas-tugas kelompok dan dapat mengatakan
hal-hal yang dapat menumbuhkan kepercayaan bawahan terhadap
kemampuannya untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan kelompok
(Hartiti, 2013). Pemimpin transformasional membimbing pengikut dengan

menyediakan rasa, makna dan tantangan. Mereka bekerja dengan antusias


dan optimis untuk menumbuhkan semangat kerja tim dan komitmen
(Managementstudyguide,2013).
Bawahan diberi keleluasaan untuk berpartisipasi secara optimal dalam hal
gagasan-gagasan, memberi visi mengenai keadaan organisasi masa depan
yang menjanjikan harapan yang jelas dan transparan. Pengaruhnya
diharapkan dapat meningkatkan semangat kelompok, antusiasisme dan
optimisme dikorbankan sehingga harapan-harapan itu menjadi penting dan
bernilai bagi mereka dan perlu di realisasikan melalui komitmen yang tinggi.
4. Stimulasi intelektual
Pemimpin mendorong bawahan untuk memikirkan kembali cara kerja dan
mencari cara-cara kerja baru dalam menyelesaikan tugasnya. Pengaruhnya
diharapkan, bawahan merasa pimpinan menerima dan mendukung mereka
untuk memikirkan cara-cara kerja mereka, mencari cara-cara baru dalam
menyelesaikan tugas, dan merasa menemukan cara-cara kerja baru dalam
mempercepat tugas-tugas mereka. Pengaruh positif lebih jauh adalah
menimbulkan semangat belajar yang tinggi oleh Peter Senge, hal ini disebut
sebagai learning organization (Hartiti, 2013).
Pemimpin mendorong pengikutnya untuk mengeksplorasi cara-cara baru
melakukan sesuatu dan kesempatan baru untuk belajar (Kendra, 2013).
Pemimpin seperti mendorong pengikut mereka untuk menjadi inovatif dan
kreatif. Mereka mendorong ide-ide baru dari para pengikut mereka dan tidak
pernah mengkritik mereka secara terbuka untuk kesalahan yang dilakukan
oleh mereka. Mereka tidak ragu-ragu membuang praktek lama yang
ditetapkan oleh mereka jika praktek lama tersebut diketahui tidak efektif
(Managementstudyguide,2013).
Melalui stimulasi intelektual, pemimpin merangsang kreativitas bawahan dan
mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru terhadap
masalah-masalah lama. Melalui stimulasi intelektual, bawahan didorong
untuk berpikir melalui relevansi cara, sistem nilai, kepercayaan, harapan dan
didorong melakukan inovasi dalam menyelesaikan masalah, melakukan
inovasi dalam menyelesaikan masalah dan berkreasi untuk mengembangkan

kemampuan diri serta didorong untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang
menantang. Kontribusi intelektual dari seorang pemimpin pada bawahan
harus didasari sebagai suatu upaya untuk memunculkan kemampuan
bawahan (Hartiti, 2013).
5. Konsiderasi Individu
Perhatian secara individual yaitu pimpinan memberikan perhatian pribadi
kepada bawahannya, seperti memperlakukan mereka sebagai pribadi yang
utuh dan menghargai sikap peduli mereka terhadap organisasi. Perhatian
atau pertimbangan terhadap perbedaan individual implikasinya adalah
memelihara kontak langsung face to face dan komunikasi terbuka dengan
para pegawai (Hartiti, 2013). Dalam rangka mendorong hubungan yang
mendukung, pemimpin transformasional menjaga jalur komunikasi tetap
terbuka sehingga pengikutnya merasa bebas untuk berbagi ide dan agar
pemimpin dapat secara langsung untuk mengetahui kontribusi unik setiap
pengikutya (Kendra, 2013).
Perhatian secara individual tersebut dapat sebagai identifikasi awal terhadap
para bawahan terutama bawahan yang mempunyai potensi untuk menjadi
seorang pemimpin. Pemimpin bertindak sebagai mentor bagi pengikut
mereka dan menghargai pengikutnya atas kreativitas dan inovasinya. Para
pengikut diperlakukan berbeda sesuai dengan bakat dan pengetahuan
mereka. Mereka diberdayakan untuk membuat keputusan dan selalu
memberikan dukungan yang diperlukan untuk melaksanakan keputusan
tersebut (Managementstudyguide,2013). Sedangkan monitoring merupakan
bentuk perhatian individual yang ditunjukkan melalui tindakan konsultasi,
nasehat dan tuntutan yang diberikan oleh senior kepada yunior yang belum
berpengalaman bila dibandingkan dengan seniornya. Pengaruh terhadap
bawahan antara lain, merasa diperhatikan dan diperlakukan manusiawi dari
atasannya (Hartiti, 2013).

teori kepemimpinan
transformasional
Ditulis pada April 11, 2013 oleh feea

Pembicaraan mengenai organisasi tidak akan terlepas dari konsepsi kepemimpinan.


Definisi kepemimpinan, menurut Terry (Kartono 1998 : 38) Kepemimpinan adalah aktivitas
mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok. Menurut
Ordway Teod dalam bukunya The Art Of Leadership (Kartono 1998 : 38). Kepemimpinan merupakan
kegiatan mempengaruhi orang-orang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Kepemimpinan dapat terjadi dimana saja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya
mempengaruhi perilaku orang lain ke arah tercapainya suatu tujuan tertentu.
Young dalam Kartono (1998) mendefinisikan bahwa kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang
didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat
sesuatu, berdasarkan akseptasi atau penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus
yang tepat bagi situasi khusus.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa esensi kepemimpinan adalah upaya seseorang
untuk mempengaruhi orang lain agar berperilaku sesuai dengan yang diinginkan olehnya. Dalam
rangka mempengaruhi orang lain, seorang pemimpin mempunyai banyak pilihan gaya kepemimpinan
yang akan digunakannya. Salah satu gaya kepemimpinan yang relatif populer adalah kepemimpinan
transformasional.
Konsepsi Kepemimpinan Transformasional
Konsepsi kepemimpinan transformasional pertama kali dikemukakan oleh James McGregor Burns.
Dalam kaitannya dengan kepemimpinan transformasional, Bernard Bass (Stone et al, 2004)
mengatakan sebagai berikut: Transformational leaders transform the personal values of followers to
support the vision and goals of the organization by fostering an environment where relationships can
be formed and by establishing a climate of trust in which visions can be shared. Selanjutnya, secara
operasional Bernard Bass (Gill et al, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut:
Leadership and performance beyond expectations. Sedangkan Tracy and Hinkin (Gill dkk, 2010)
memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut: The process of influencing major
changes in the attitudes and assumptions of organization members and building commitment for the
organizations mission or objectives.
Dari beberapa pengertian tersebut kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan
yang berupaya mentransformasikan nilai-nilai yang dianut oleh bawahan untuk mendukung visi dan
tujuan organisasi. Melalui transformasi nilai-nilai tersebut, diharapkan hubungan baik antar anggota
organisasi dapat dibangun sehingga muncul iklim saling percaya diantara anggota organisasi.
Seorang pemimpin dikatakan bergaya transformasional apabila dapat mengubah situasi, mengubah
apa yang biasa dilakukan, bicara tentang tujuan yang luhur, memiliki acuan nilai kebebasan, keadilan
dan kesamaan. Pemimpin yang transformasional akan membuat bawahan melihat bahwa tujuan yang
mau dicapai lebih dari sekedar kepentingan pribadinya. Sedangkan menurut Yukl kepemimpinan
transformasional dapat dilihat dari tingginya komitmen, motivasi dan kepercayaan bawahan sehingga
melihat tujuan organisasi yang ingin dicapai lebih dari sekedar kepentingan pribadinya.
Kepemimpinan transformasional secara khusus berhubungan dengan gagasan perbaikan. Bass
menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional akan tampak apabila seorang pemimpin itu
mempunyai kemampuan untuk:

1) Menstimulasi semangat para kolega dan pengikutnya untuk melihat pekerjaan mereka dari
beberapa perspektif baru.
2) Menurunkan visi dan misi kepada tim dan organisasinya.
3) Mengembangkan kolega dan pengikutnya pada tingkat kemampuan dan potensial yang lebih tinggi.
4) Memotivasi kolega dan pengikutnya untuk melihat pada kepentingannya masing-masing, sehingga
dapat bermanfaat bagi kepentingan organisasinya.
Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Devanna dan Tichy karakteristik dari pemimpin
transformasional dapat dilihat dari cara pemimpin mengidentifikasikan dirinya sebagai agen
perubahan, mendorong keberanian dan pengambilan resiko, percaya pada orang-orang, sebagai
pembelajar seumur hidup, memiliki kemampuan untuk mengatasi kompleksitas, ambiguitas, dan
ketidakpastian, juga seorang pemimpin yang visioner.
kepemimpinan transformasional (transformational leadership) istilah transformasional berinduk dari
kata to transform, yang bermakna mentransformasilkan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain
yang berbeda. Seorang pemimpin transgformasional harus mampu mentransformasikan secara
optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target
yang telah ditentukan. Sumber daya dimaksud bias berupa SDM, Fasilitas, dana, dan factor eksternal
organisasi. Dilembaga sekolah SDM yang dimaksud dapat berupa pimpinan, staf, bawahan, tenaga
ahli, guru, kepala sekolah, dan siswa.
Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional ini dikemukakan oleh Burn yang menjelaskan
bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah proses di mana pimpinan dan para
bawahannya untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin
transformasional mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menentukan cita-cita
yang lebih tinggi dan nilai-nlai moral seperti kemerdekaan, keadilan, dan bukan didasarkan atas emosi
kemanusiaan, keserakahan,kecemburuan, atau kebencian.
Tingkat sejauhmana seorang pemimpin disebut transformasional terutama diukur dalam hubungannya
dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikut. Para pengikut seorang pemimpin
transformasional merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan, dan hormat kepada
pememimpin tersebut, dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih dari pada yang awalnya
diharapkan terhadap mereka.
Adapun, karakteristik kepemimpinan transformasional menurut Avolio dkk (Stone et al, 2004) adalah
sebagai berikut:
(1) Idealized influence (or charismatic influence)
Idealized influence mempunyai makna bahwa seorang pemimpin transformasional harus kharisma
yang mampu menyihir bawahan untuk bereaksi mengikuti pimppinan. Dalam bentuk konkrit,
kharisma ini ditunjukan melalui perilaku pemahaman terhadap visi dan misi organisasi, mempunyai
pendirian yang kukuh, komitmen dan konsisten terhadap setiap keputusan yang telah diambil, dan
menghargai bawahan. Dengan kata lain, pemimpin transformasional menjadi role model yang
dikagumi, dihargai, dan diikuti oleh bawahannya.
(2) Inspirational motivation

Inspirational motivation berarti karakter seorang pemimpin yang mampu menerapkan standar yang
tinngi akan tetapi sekaligus mampu mendorong bawahan untuk mencapai standar tersebut. Karakter
seperti ini mampu membangkitkan optimisme dan antusiasme yang tinggi dari pawa bawahan.
Dengan kata lain, pemimpin transformasional senantiasa memberikan inspirasi dan memotivasi
bawahannya.
(3) Intellectual stimulation
Intellectual stimulation karakter seorang pemimpin transformasional yang mampu mendorong
bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan dengan cermat dan rasional. Selain itu, karakter ini
mendorong para bawahan untuk menemukan cara baru yang lbih efektif dalam menyelesaikan
masalah. Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu mendorong (menstimulasi) bawahan
untuk selalu kreatif dan inovatif.
(4) Individualized consideration
Individualized consideration berarti karakter seorang pemimpin yang mampu memahami perbedaan
individual para bawahannya. Dalam hal ini, pemimpin transformasional mau dan mampu untuk
mendengar aspirasi, mendidik, dan melatih bawahan. Selain itu, seorang pemimpin transformasional
mampu melihat potensi prestasi dan kebutuhan berkembang para bawahan serta memfasilitasinya.
Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu memahami dan menghargai bawahan
berdasarkan kebutuhan bawahan dan memperhatikan keinginan berprestas dan berkembang para
bawahan.