Anda di halaman 1dari 13

Proteksi Gardu Induk

Buat tulisan tentang peralatan proteksi di gardu induk beserta mekanisme kerjanya.
Cantumkan jenis, spesifikasi dari alat-alat (sistem proteksi tersebut).

PROTEKSI GARDU INDUK


Sistem proteksi merupakan bagian yang sangat penting dalam suatu instalasi
tenaga listrik, selain untuk melindungi peralatan utama bila terjadi gangguan
hubungsingkat, system proteksi juga harus dapat mengeliminiir daerah yang
terganggu dan memisahkan daerah yang tidak tergangggu, sehingga gangguan tidak
meluas dan kerugian yang timbuk akibat gangguan tersebut dapat di minimalisasi.
Relai proteksi gardu induk seperti yang terlihat pada gambar 1.1 terdiri dari :

Relai proteksi Trafo Tenaga

Relai proteksi busbar atau kopel

Relai proteksi PMT

Relai proteksi kapasitor dan reaktor

Gambar Diagram Proteksi gardu induk

1. Proteksi Trafo Tenaga


Peralatan proteksi trafo tenaga terdiri dari Relai Proteksi, Trafo Arus
(CT), Trafo Tegangan (PT/CVT), PMT, Catu daya AC/DC yang terintegrasi

Proteksi Gardu Induk

dalam suatu rangkaian, sehingga satu sama lainnya saling keterkaitan. Fungsi
peralatan proteksi adalah untuk mengidentifikasi gangguan dan memisahkan
bagian jaringan yang terganggu dari bagian lain yang masih sehat serta
sekaligus mengamankan bagian yang masih sehat dari kerusakan atau kerugian
yang lebih besar

Gambar Peralatan sistem proteksi trafo tenaga 150/20 kV

Fungsi Proteksi Trafo tenaga terhadap gangguan


Untuk memperoleh efektifitas dan efisen dalam menentukan sistem
proteksi trafo tenaga, maka setiap peralatan proteksi yang dipasang harus
disesuaikan dengan kebutuhan dan prediksi gangguan yang akan terjadi
yang mengancam ketahanan trafo itu sendiri. Jenis relai proteksi yang
dibutuhkan seperti tabel-1
Tabel-1 : Kebutuhan fungsi relai proteksi thd berbagai gangguan

Proteksi Gardu Induk

Pola Proteksi Trafo tenaga berdasarkan SPLN 52-1


Kebutuhan peralatan proteksi trafo berdasarkan kapasitas trafo sesuai
SPLN adalah seperti pada tabel-2.
Tabel-2 :Kriteria sistem proteksi sesuai SPLN 52-1

1.1.

Differential relay ( 87T )

Relai diferensial arus berdasarkan H. Kirchof, dimana arus yang


masuk pada suatu titik, sama dengan arus yang keluar dari titik
tersebut Relai diferensial arus membandingkan arus yang melalui
daerah pengamanan

Proteksi Gardu Induk

Jika pada peralatan yang diamankan tidak terjadi gangguan


tersebut berada diluar daerah yang diamankan maka arus dan fasa
mengalir pada trafo arus CT1 dan CT2 sama, atau mempunyai
perbandingan arus serta pergeseran sudut fasa tertentu, sehingga relai
tidak bekerja.
Tetapi

jika

terjadi

gangguan

pada

peralatan

yang

diamankan,maka akan terjadi perbedaan arus atau perbandingan arus


berubah serta sudut fasa, hal ini akan menyebabkan relai bekerja.
Dengan demikian, relai ini tidak perlu diberi perlambatan waktu,
karena relai bekerja di daerah pengamanannya saja. Adapun cara
membandingkan I1 dan I2 ialah dengan membandingkan besar dan
sudut fasa ialah dengan arus sekunder dari CT1 dan CT2 dengan
demikian pengaman diferensial adalah merupakan pengaman yang
sangat selektif dan cepat bekerjanya, karena sifat tersebut diatas maka
relai diferensial mempunyai sifat selektif mutlak.
Relai ini harus bekerja kalau terjadi gangguan di daerah
pengamanan, dan tidak boleh bekerja dalam keadaan normal atau
gangguan di luar daerah pengamanan
1.2.

Restricted Earth Fault (REF)


Prinsip kerja relai REF sama dengan dengan relai differensial

yaitu membandingkan besarnya arus sekunder kedua trafo arus yang


digunakan, akan tetapi batasan daerah kerjanya hanya antara CT fasa
dengan CT titik netralnya.

REF ditujukan unuk memproteksi

gangguan 1-fasa ketanah.


Pada waktu tidak terjadi gangguan/keadaan normal atau
gangguan di luar daerah pengaman, maka ke dua arus sekunder
tersebut di atas besarnya sama, sehingga tidak ada arus yang mengalir
pada relai, akibatnya relai tidak bekerja.
Pada waktu terjadi gangguan di daerah pengamanannya, maka
kedua arus sekunder trafo arus besarnya tidak sama oleh karena itu,
akan ada arus yang mengalir pada relai, selanjutnya relai bekerja.

Proteksi Gardu Induk

Fungsi dari REF adalah untuk mengamankan transformator bila ada


gangguan satu satu fasa ke tanah di dekat titik netral transformator
yang tidak dirasakan oleh rele differensial

Gambar Rangkaian arus relai REF saat terjadi ggn ekternal

1.3.

Relai Arus Lebih (50/51)


Prinsip kerja relai arus lebih adalah berdasarkan pengukuran arus,

yaitu relai akan bekerja apabila merasakan arus diatas nilai settingnya.
OCR dirancang sebagai pengaman cadangan Trafo jika terjadi gangguan
hubung singkat

baik dalam trafo (internal fault) maupun gangguan

ekternal (external fault). Oleh karena itu, setting arus OCR harus lebih
besar dari kemampuan arus nominal trafo yang diamankan (110 120%
dari nominal), sehingga tidak bekerja pada saat trafo dibebani nominal,
akan tetapi harus dipastikan bahwa setting arus relai masih tetap bekerja
pada arus hubung singkat fasa-fasa minimum.
Relai ini digunakan untuk mendeteksi gangguan fasa fasa,
mempunyai karakteristik inverse (waktu kerja relai akan semakin cepat
apabila arus gangguan yang dirasakannya semakin besar) atau definite
(waktu kerja tetap untuk setiap besaran gangguan). Selain itu pada relai
arus

lebih

tersedia

fungsi

high

set

yang

bekerja

seketika

(moment/instantaneous).
Untuk karakteristik inverse mengacu kepada standar IEC atau
ANSI/IEEE. Relai ini digunakan sebagai proteksi cadangan karena tidak

Proteksi Gardu Induk

dapat menentukan titik gangguan secara tepat, dan juga ditujukan untuk
keamanan peralatan apabila proteksi utama gagal kerja.
Agar dapat dikoordinasikan dengan baik terhadap relai arus lebih
disisi yang lain (bukan relai arus lebih yang terpasang di penghantar),
maka karakteristik untuk proteksi penghantar yang dipilih adalah kurva
yang sama yaitu standard inverse (IEC) / normal inverse (ANSI/IEEE).

1.4.

Ground Fault Relay (50N/51N)


Prinsip kerja GFR sama dengan OCR yaitu berdasarkan pengukuran

arus, dimana relai akan bekerja apabila merasakan arus diatas nilai
settingnya.
GFR dirancang sebagai pengaman cadangan Trafo jika terjadi
gangguan hubung singkat fasa terhadap tanah, baik dalam trafo (internal
fault) maupun gangguan ekternal (external fault). Setting arus GFR lebih
kecil daripada OCR, karena nilai arus hubungsingkatnya pun lebih kecil
dari pada arus hubung singkat fasa-fasa.
Relai ini digunakan untuk mendeteksi gangguan fasa tanah,
sehingga karakteristik waktu yang dipilihpun cenderung lebih lambat
daripada waktu OCR. Pada GFR setting highset diblok, kecuali untuk
tahanan 500 ohm di sisi sekunder trafo.

1.5.

Stand By Earth Fault (SBEF)


Di Indonesia ada tiga jenis pentanahan netral yaitu dengan tahanan

rendah (12 , 40 ), langsung (solid) dan pentanahan dengan tahanan


tinggi (500 ). Stand By Earth Fault adalah rele pengamanan untuk
sistem pentanahan dengan Neutral Grounding Resistance (NGR) pada
trafo.
Penyetelan relai SBEF ini mempertimbangkan faktor faktor sebagai
berikut :
o

Pola pentanahan netral trafo

Ketahanan termis tahanan netral trafo (NGR)

Proteksi Gardu Induk

Ketahanan shielding kabel disisi dipasang NGR (khususnya

pada sistem dengan netral yang ditanahkan langsung atau dengan


NGR tahanan rendah)
o

Sensitifitas relai terhadap gangguan tanah

Pengaruh konfigurasi belitan traso (dilengkap dengan belitan


delta atau tidak)

Untuk

pemilihan

waktu

dan

karakteristik

SBEF

dengan

memperhatikan ketahanan termis NGR. Karena arus yang mengalir ke


NGR sudah dibatasi oleh resistansi terpasang pada NGR iru sendiri.
Karena nilai arus yang flat, maka pemilihan karakteristik waktu
disarankan menggunakan Definite atau Long Time Inverse.
1. Tahanan Rendah, NGR 12 Ohm, 1000 A, 10 detik
Jenis relai
: relai gangguan tanah tak berarah (SBEF, 51NS)
Karakteristik
: long time inverse
Setelan arus
: (0.1 0.2) x In NGR
Setelan waktu
: 50% x ketahanan termis NGR, pada If=1000 A
Setelan arus highset : tidak diaktifkan
2. Tahanan Rendah, NGR 40 Ohm, 300 A, 10 detik
Jenis
: relai gangguan tanah (SBEF, simbol 51NS)
Karakteristik
: Long Time Inverse
Setelan arus
: (0.3 0.4) x In NGR
Setelan waktu
: 50 % x ketahanan termis NGR, pada If=300 A
Setelan arus high-set
: tidak diaktifkan
3. Tahanan Tinggi, NGR 500 Ohm, 30 detik.
Jenis
Karakteristik
Setelan arus
Setelan waktu

:
:
:
:

relai gangguan tanah tak berarah


long time inverse (LTI)/ definite
(0.2 0.3) x In NGR
1. 8 detik (LTI) trip sisi incoming dan 10 detik untuk sisi
150 KV pada If=25 A untuk NGR yang mempunyai t =
30 detik
2. Apabila belum ada relai dengan karakteristik LTI maka
menggunakan definite, t1=10 detik (trip sisi 20 kV) dan t2
= 13 detik (trip sisi 150 kV).

Proteksi Gardu Induk

1.6.

Over/Under Voltage Relay (59/27)

Over Voltage Relay (OVR dan Under Voltage Relay adalah relay yang
mengamankan peralatan instalasi dari pengaruh perubahan tegangan
lebih atau tegangan kurang. Peralatan instalasi mempunyai nilai batas
maksimum dan minimum dalam pengoperasiannya. Jika melebihi nilai
maksimum atau minimum batas kerja operasinya, peralatan tersebut
dapat rusak. Sehingga untuk mejaga peralatan dari kerusakan akibat
perubahan tegangan yang signifikan tersebut dibutuhkan OVR dan
UVR.
Prinsip dasar OVR dan UVR adalah bekerja apabila dia mencapai titik
setingannya. OVR akan bekerja jika tegangan naik, melebihi dari
setingannya, sedangka UVR bekerja jika tegangan turun, kurang dari
nilai setingannya.
2. Trafo Arus (CT)
Trafo

arus

merupakan

trafo

yang

dipergunakan

untuk

mentransformasikan arus atau menurunkan arus besar pada tegangan tinggi


menjadi arus kecil pada tegangan rendah untuk keperluan pengukuran dan
pengamanan.. Kumparan primernya dihubungkan secara seri dengan beban yang
akandiukur atau dikendalikan. Beban inilah yang menentukan besarnya arus
yang mengalir ke trafo tersebut. Kumparan sekundernya dibebani impedansi
konstan dengan syarat tertentu. Fluks inti dan arus yang mengalir pada rangkaian
sekunder akan tergantung pada arus primer. Trafo ini disebut juga dengan trafo
seri.
Trafo arus terdiri atas 2 tipe :

Tipe wound primary

Tipe bar primary

Klasifikasi CT (Berdasarkan IEC 44-1) :

Class 0.2 S and 0.2 digunakan untuk pengukuran dengan presisi tinggi

Class 0.5 and 0.5 S digunakan untuk pengukuran normal

Class 1.0 and 3 digunakan untuk pengukuran insttrument dan statistic

Proteksi Gardu Induk

Class 5P and 10P digunakan pada relai proteksi, contoh spesifikasi


penulisan: 5P20(20menyatakan faktor limit akurasi terhadap arus rating)

Class TPX, TPY and TPZ digunakan untuk kondisi transient dimana
TPY and TPZ dilengkapi dengan celah udara dan inti yang besar.

3. Relai
Relai adalah alat yang memproteksi sistem tenaga listrik dengan cara
mendeteksi gangguan yang terjadi pada saluran, jika terjadi gangguan maka relai
akan memberikan suplay daya kepada rangkaian proteksi untuk memutuskan
arus yang menyebabkan gangguan tersebut.
Klasifikasi relai
Berdasarkan besaran input :

Arus [ I ]
Tegangan [V]

Frekuensi [f]

Daya [P;Q]

Impedansi [Z]
Beda arus

: Relai Arus lebih [ OCR ], Relai Arus kurang [UCR]


: Relai tegangan lebih [OVR], Relai tegangan kurang
[UVR]
: Relai frekuensi lebih {OFR], Relai frekuensi kurang
[UFR]
: Relai daya Max / Min, Relai arah / Directional, Relai
Daya balik.
:Relai jarak [Distance]
: Relai diferensial

Berdasarkan karakteristik waktu kerja :

Seketika [Relai instant / Moment /high speed ]


Penundaan waktu [ time delay ]
Definite time relai
Inverse time relai

Kombinasi instant dengan tundaan waktu

Berdasarkan jenis kontak :

Relai dengan kontak dalam keadaan normal terbuka [ normally open

contact]
Relai dengan kontak dalam keadaan normal tertutup [ normally close
contact]

Berdasarkan fungsi :

Relai Proteksi
Relai Monitor

Proteksi Gardu Induk

Relai programming ; Reclosing relai, synchro check relai


Relai pengaturan {regulating relai}
Relai bantu: sealing unit, lock out relai, closing relai dan tripping relai

Berdasarkan prinsip kerja :

Tipe Elektromekanis
a. Tarikan magnit ; tipe plunger, tipe hinged armature, tipe tuas seimbang
b. Induksi : tipe shaded pole, tipe KWH, tipe mangkok { Cup }

Tipe Thermis
Tipe gas ; relai buccholz
Tipe Tekanan ; pressure relai
Tipe Statik (Elektronik)

4. Circuit Breaker (CB)


Circuit breaker merupakan perangkat pengaman arus lebih yang bekerja
membuka dan memutus rangkaian secara non-otomatis dan memutus
rangkaian secara otomatis ketika arus yang mengalir dirangkaian melebihi
rating arus yang telah ditentukan tanpa menimbulkan kerusakan pada peralatan
(CB dan rangkaian) pada saat terjadi gangguan.
Klasifikasi Circuit Breaker
Berdasarkan Pemakaian :

LVCB (Low Voltage Circuit Breaker, < 600 V)


MVCB (Medium Voltage Circuit Breaker, 600 V 1000 V)
HVCB (High Voltage Circuit Breaker, > 1000 V )

Berdasarkan Konstruksi :

MCCB (Molded Case Circuit Breaker)

ICCB (Insulated Case Circuit Breaker)

Berdasarkan Medium :

Air : Medium pemutus udara.


Oil : Medium pemutus minyak
Gas : Medium pemutus gas (SF6)
Vacuum : Medium pemutus hampa udara.

5. Fuse ( Pelebur )
Fuse adalah alat yang memproteksi sistem tenaga listrik dengan cara
mendeteksi gangguan yang terjadi pada saluran berdasarkan seting nilai

Proteksi Gardu Induk

tertentu, jika terjadi gangguan yang melewati batas seting yang ditentukan
maka fuse akan secara langsung memutuskan arus yang menyebabkan
gangguan tersebut dengan mekanisme meleburnya elemen fuse yang
menghubungkan sistem tersebut.
Klasifikasi Fuse
Berdasarkan konstruksi :
Klasifikasi fuse menurut konstruksi fisiknya diperlihatkan pada gambar berikut:

semi-enclosed fuse
cartridge fuse

Expulsion fuse

Liquid fuse

Berdasarkan rating (kapasitas pemutusan):


Berdasarkan ratingnya, standard EEI-NEMA mengelompokkan fuse kedalam 3
tipe yaitu:

Tipe E : merupakan fuse dengan rating tegangan 2.4 kV 161 kV,


biasanya digunakan sebagai pengaman pada trafo maupun pengaman back up

Proteksi Gardu Induk

CB.
Tipe K : merupakan fuse dengan kecepatan lebur tinggi dengan rating arus 6

200 A, biasanya digunakan pada percabangan sistem distribusi.


Tipe T : merupakan fuse dengan kecepatan lebur rendah dengan rating arus
6 200A, digunakan pada percabangan yang mensuplai motor yang
membutuhkan waktu tunda untuk arus starting.
Masing masing perusahaan produsen fuse memiliki tingkatan rating

tersendiri yang mengacu kepada ketiga tipe fuse diatas, sehingga untuk
keperluan proteksi dibutuhkan katalog khusus yang memuat informasi rating,
rasio koordinasi dan jenis fuse yang sesuai untuk aplikasi proteksi tertentu.
6. Arester
Arester petir disingkat arester, atau sering juga disebut penangkap
petir, adalah alat pelindung bagi peralatan sistem tenaga listrik terhadap,
surja petir. la berlaku sebagai jalan pintas sekitar isolasi. Arester membentuk
jalan yang mudah dilalui oleh arus kilat atau petir, sehingga tidak timbul
tegangan

lebih

yang

tinggi

pada

peralatan.

Jalan

pintas

itu

harus

sedemikian rupa sehingga tidak menganggu aliran arus daya sistem 50 Hz.
Adalah arus pelepasan dengan harga puncak dan bentuk
gelombangtertentu yang digunakan untuk menentukan kelas dari lightning
arrester sesuai dengan:
1. Kemampuannya melalukan arus.
2. Karakteristik pelindungnya.
Bentuk gelombang arus pelepasan tersebut adalah:
1. Menurut standard Inggris/Eropa (IEC) 8 s/20 s.
2. Menurut standard Amerika 10 s/20 s dengan kelas PP 10 kA; 2.5 kA dan
1.5 kA.
a. Kelas Arus 10 kA, untuk perlindungan gardu induk yang besardengan
frekuensi sambaran petir yang cukup tinggi dengantegangan sistem diatas
70 kv.
b. Kelas Arus 5 kA sama seperti (a), untuk tegangan sistem dibawah70 kV.
c. Kelas Arus 2.5 kA, untuk gardu-gardu kecil dengan tegangansistem
dibawah 22 kV, dimana pemakaian kelas 5 kA tidak lagiekonomis.
d. Kelas Arus 1.5 kA, untuk melindungi trafo-trafo kecil di daerah-daerah
pedalaman.
Klasifikasi Arester

Proteksi Gardu Induk

Arrester dengan celah udara (Gapped Type Surge Arrester)


Merupakan

tipe

konvensional

dimana

arrester

memiliki

celah

untuk

mencegah terbentuknya busur api pada saat operasi normal, terdiri atas
beberapa tipe: tipe expulsion, tipe spark gap dan tipe katup.

Arrester tanpa celah (Gappless Type Surge Arrester)


Merupakan tipe yang banyak digunakan sampai sekarang, dikembangkan
dari material semikonduktor seperti ZnO yang berfungsi sebagai pengganti
celah.