Anda di halaman 1dari 36

BAB I

STATUS PSIKIATRI
A. IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis kelamin
Usia
Agama
Alamat
Suku-bangsa
Pendidikan
Status pernikahan
Pekerjaan
Tanggal Masuk RS

: Nn. Nisa
: Perempuan
: 16 tahun
: Islam
: Jaya Mekar Rt. 05/03, Baros, Kota Sukabumi
: Sunda
: SMP
: Belum menikah
: Tidak Bekerja
: 22 April 2015

B. RIWAYAT PSIKIATRI
Berdasarkan :
Autoanamnesis : diambil tanggal 30 April 2015 di bangsal Kemuning
Alloanamnesis : diambil tanggal 30 April 2015 (dengan ibu pasien)
1. Keluhan Utama
Os berbicara sendiri
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Os berbicara sendiri sejak 8 hari yang lalu. Pasien ngamk-ngamuk sambil
memukul orang dan suka berbicara sendiri. Pasien suka memikirkan mengenai
masalah ujian. Pasein jika diajak bicara selalu menjawab dengan jawaban yang tidak
sesuai dan ngelantur. Kadang pasien sering menangis sendiri tanpa sebab. Pasien
pernah dibawa ke orang pintar 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Kejadian berawal
sejak Os meminta ijin kepada ibunya untuk berziarah kemakan bapaknya. Nisa pergi
kesana diantar oleh pacarnya, setelah nisa sampai disana ibu menelpon saudara ibu
yang disana bilang nisa tidak jadi berziarah kemakam bapaknya.
Sepulangnya Nisa 2 hari sejak keberangkatannya, Nisa tampak terlihat lebih
berbeda. Pada saat Nisa berangkat dari rumahnya Nisa mengenakan pakaian gamis
dan menggunakan kerudung. Namun pada saat Nisa pulang penampilan dan cara
berpakaiannya tamapak sangat berbeda. Nisa menggunakan celana dengan baju yang
terlihat seksi dan tidak menggunakan kerudung, dandanan Nisa pun terlihat lebih
menor dan omongannya pun sedikit ngelantur. Nisa terlihat lebih ceria dibandingkan
sebelum dia berangkat.
1

Sebelum ayahnya meninggal Nisa sempat ditinggalkan oleh ibunya bekerja di


Arab Saudi. Nisa tinggal berempat dengan bapak dan adik-adiknya. Nisa juga diasuh
oleh uwanya (kakak dari bapak Nisa) namun mereka tinggal di rumah yang berbeda.
Karena ibunya diluar negeri, Nisa jarang mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Saat bapaknya Nisa sudah meninggal ibu Nisa juga kembali pergi ke Arab saudi dan
Nisa hanya tinggal dengan adik-adiknya. Nisa sempat bercerita kepada ibunya saat
ibunya sedang di Arab Saudi, setiap Nisa membawa main pacarnya kerumah
tetangga rumahnya sering berbicara buruk tentang Nisa. Mereka sering mengatakan
Nisa seperti jablay yang sering membawa laki-laki masuk kedalam rumahnya.
Namun Nisa selalu mengatakan kepada ibunya bahwa selama dia berpacaran dia
tidak pernah melakukan hal-hal yang dilanggar, bahkan pada saat bersalaman pun
Nisa tidak pernah sampai berpegangan tangan.
Menurut ibunya Nisa merupakan anak yang pendiam dan jika ada masalah
jarang sekali bercerita tentang masalah tersebut kepada ibunya. Kadang Nisa
bercerita kepada ibu bahwa nanti pada saat usianya 17 tahun Nisa ingin mencari
kerja dan menggantikan ibu mencari nafkah untuk keluarga. Pada saat ibu ditawari
kerja Nisa selalu melarang ibu bekerja, Nisa bilang tidak mau melihat ibu cape dan
mungkin Nisa tidak mau ditinggal jauh lagi oleh ibu.
3. Riwayat Gangguan Sebelumnya
a. Riwayat Psikiatri
Pasien baru pertamakali mengalami hal seperti ini, dan sebelumnya pasien belum
pernah dirawat di bagian jiwa sebelumnya dan belum pernah berobat sebelumnya,
namun orangtua pasien pernah memanggil orang pintar kerumah untuk mengobati
pasien.
b. Gangguan Medik
Pasien tidak memiliki gangguan bawaan sejak lahir, tidak pernah mempunyai
riwayat kejang sebelumnya, tidak pernah menderita sakit berat hingga membutuhkan
perawatan Rumah Sakit, namun pasien pernah terserempet oleh motor dan terjatuh
namun tidak begitu parah dan tidak sampai dirawat di rumah sakit.
c. Gangguan Zat Psikoaktif
Keluarga pasien menyangkal pasien merokok, menyangkal menggunakan obatobatan dan minuman beralkohol.

4. Riwayat Kehidupan Pribadi


a. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pada saat ini keluarga pasien tidak ada yang mengetahui riwayat prenatal dan
perinatal.
b. Masa Kanak-kanak dini ( 0-3 tahun)
Pada saat ini keluarga pasien tidak ada yang mengetahui riwayat kanak-kanak dini.
c. Masa Kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)
Perkembangan fisik pasien sama dengan anak sebayanya. Pasien tidak bersekolah
di taman kanak-kanak. Pasien langsung sekolah ditingkat sekolah dasar. Pasien diasuh
oleh orang tua. Pasien bersekolah disekolah dasar dan menurut ibunya pasien adalah
anak yang cukup berprestasi tetapi tidak mendapat peringkat 10 besar, karena hal ini
lah dia dimanja oleh kedua orang tuanya dan juga karena pasien termasuk anak yang
baik dan penurut.
Pasien termasuk anak yang memiliki banyak teman. Pasien tidak memiliki masalah
belajar, tidak pernah mengompol, tidak pernah melakukan kekerasan terhadap
binatang.
d. Masa pubertas dan remaja
Hubungan sosial
Pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan komunikasi antara
keluarga juga baik, pasien termasuk anak yang dimanja orang tuanya dan
termasuk anak yang penurut. pasien lebih sering tinggal dirumah. Pasien juga
sangat sayang kepada adik-adiknya.

Riwayat Pendidikan Formal


Pasien bersekolah di SD dekat rumahnya, yang ditempuh selama 6 tahun,
kemudian dilanjutkan ke SMP ditempuhnya selama 3 tahun. Pasien tidak
melanjutkan ke jenjang SMA karena keadaan ekonomi dan ingin bekerja
setelah berusia 17 tahun.

Perkembangan motorik dan kognitif


Tidak terdapat gangguan pertumbuhan fisik, sesuai dengan usianya, dalam
perkembangan kognitif tidak terlihat adanya gangguan dalam belajar. Tidak ada
gangguan dalam perkembangan motorik.

Masalah emosi dan fisik


Pasien termasuk orang yang penurut dan cenderung menghindari konflik
dengan teman-temannya, jika terjadi masalah pasien sering menghindar. Dalam
perkembangan fisik, pasien terlihat sesuai dengan anak seusianya.
3

Riwayat Psikoseksual
Pasien tidak pernah

mengalami

penyiksaan

seksual,

keluarga

tidak

memberikan pengetahuan tentang seks. Pasien pernah pacaran lebih dari 2kali.

Riwayat agama
Pasien termasuk orang yang taat beribadah. Sehari-hari pasien menggunakan
hijab dan pakaian tertutup. Namun beberapa hari sebelum masuk Rumah Sakit
menurut ibu pasien penampilannya terlihat beda, hijabnya mulai dibuka dan
menggunakan pakaian yang terbuka.

e. Masa Dewasa
Riwayat pekerjaan
Pasien tidak pernah bekerja sebelumnya, pasien baru keluar sekolah SMP
namun pasien sering berkata kepada ibunya jika usia dia sudah mencapai 17
tahun dia ingin mencari kerja untuk bisa menggantikan ibunya mencari nafkah
dan ingin membahagiakan ibunya. Bahkan saat ibunya ditwari pekerjaan dia
tidak membolehkan ibunya bekerja karena dia tidak mau ibunya cape menari
uang.

Aktivitas sosial
Hubungan pasien dengan lingkungan sekitar cukup baik. Menurut ibu pasien,
pasien merupakan orang yang pendiam dan sopan terhadap semua orang.
Pasien tidak pernah menceritakan masalahnya kepada orang di rumah. Namun
pasien pernah bercerita kepada ibunya pada saat ibunya kerja menjadi TKI di
Arab Saudi tetangganya sering berkata kurang baik karena pasien suka
mengajak pacarnya main kerumah.

Riwayat pernikahan
Pasien belum pernah menikah sebelumnya.

f. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak pertma dari tiga bersaudara. Ibu kandung masih hidup, tapi
ayah kandungnya sudah meninggal sejak 5 tahun yang lalu saat pasien sekolah
kelas 6 SD, karena sakit. Dalam keluarga tidak ada yang pernah menderita gejala
yang sama dengan pasien.
SKEMA KELUARGA

Keterangan :
Laki laki
Perempuan
Pasien
g. Situasi hidup sekarang
Pasien tinggal didaerah pemukiman yang cukup padat, hubungan pasien dengan
tetangga baik. Pasien tinggal bersama ibukandung dan adik keduanya. Jumlah
kamar di rumah pasien sebanyak 2 kamar tidur dan satu buah kamar mandi. Pasien
saat ini tidak bekerja hanya bergantung pada keluarganya.
Wawancara Psikiatri
Alloanamnesis Tanggal 30 April 2015
Lokasi : Ruang kemuning
D : dokter Muda K : keluarga
D : Assalamualaikum, bu.
K : Waalaikum salam.
D : Maaf ini dengan ibu siapa?
K : Saya ibunya Nisa
D : Oh ya bu perkenalkan kami dokter muda
K : Iya dok
D : Kami mau bertanya tanya dulu ya bu ?
K : Boleh dok.
D : Kenapa Nisa dibawa kesini ya bu ?
K : Gini dok, dia suka ngamuk-ngamuk terus di rumah, terus kadang suka menangis
sendiri.
D : Sejak kapan bu?
K : Sejak 1 minggu yang lalu dok
D : Kenapa bisa marah marah bu?
K : Jadi 5 jam sebelum berangkat ke RS dia marah marah dok.
5

D : Marah marahnya tiba tiba atau bagaimana bu ?


K : jadi awalnya dia tu, ceritanya gini, mah katanya anis mau jiarah ke makam bapak
(sambil menangis). Iya kata ibu gak papa tapi mama gak bisa ikut teteh aja yah, iya
katanya mau di jemput sama a elan pacarnya. Katanya mau menginap 2 hari.
D : Pacarnya?
K : iya pacarnya, katanya mau menginap disana selama 2 hari. Pas udah nyampe
disana, lalu ibu telpon ke tetangga ibu yang ada disana teteh katanya anis gak jadi
pulang kan bilang sama dia mau pulang besok, sekarang mau nginep lagi. Pas pulang
pagi sekitar jam 09.30 ada perbedaan kaya gimana ya kayak orang yang ceria.
D : itu pas hari apa bu?
K : hari rabu
D : bulan-bulan ini?
K : iya bulan-bulan ini
D : itu berapa hari sebelum masuk rumah sakit?
K : seminggu, pas seminggunya masuk RS. Pas hari rabu itu pas datang mah katanya
neng pulang. Pas pulang berbeda kelihatannya dari dandanannya berbeda pas berangkat
pake kerudung pake baju gamis pas pulang pake celana pake baju seksi gitu.
Dandanannya menor.
D : gak pake kerudung ya bu ?
K : iya gak pake kerudung. Pake make up berbeda. Ibu lagi dirumah si teteh. Mah ini
katanya.. sendal dari uak. Saya nanya, jadi enggak ke makamnya ? iah katanya ntar hari
minggu mau kesana lagi. Mahh katanya (sambil menangis) mamah bilang sama uak.
Uak katanya, sawah uak teh dijual, mau di ganti gak sama mamah ? Iah kata saya mau
di bayar ntar, katanya bilangin aja maaf sama mamah yah gitu katanya. Jadi
ngomongnya ngelantur.
D : jadi uak itu siapa ?
K : kakak bapaknya. Katanya mau di jual, barang-barang habis, jadi da ikut mikirin.
Udah lama sebelum ke saudi.
D : jadi ibu dulu kerja di saudi berapa tahun ?
K : iyah saya dulu kerja di saudi, lama, iya itu sebelum bapak meninggal 2 tahun.
D : itu sebelum bapak meninggal ?
K : iya sebelum bapak meninggal. Setelah 2 tahun itu tah barang habis. Sebelum ke
saudi itu ibu punya sawah, di jual, sama saudaranya, gara-gara nolongin saudara suami,

gara-gara pas di bayar, uangnya di cicil, jadi tidak bisa ketebus lagi sama saya. Kata
ibu, ah, saya mendingan kerja di saudi biar bisa beli lagi.
D : jadi si nisa sama adik-adiknya di tinggal ibu berapa lama di arab ?
K : pertama 2 tahun.
D : sama siapa tinggalnya ?
K : sama bapaknya.
D : sama uaknya juga tidak ?
K : iyah ada.
D : satu rumah tidak ?
K : tidak. Pisah rumah.
D : terus selama ibu disana, Nisa suka cerita tentang dia gak?
K : iya nisa pernah cerita sama ibu saat ibu disana, kata nisa tetangga rumah sering
berkata hal-hal yang buruk soal nisa. Mereka sering bilang nisa itu jablay karena nisa
sering membawa pacarnya main kerumah. Tapi nisa bilang sama bu katanya pacarnya
kerumah juga hanya sebatas main saja tidak pernah macam-macam selam pacaran.
D : kalau di rumah nisa suka cerita lihat bayangan gitu gak bu?
K : iya kadang nisa suka bilang ada bayangan-bayangan kakek, nenek sama bapaknya
yang sudah meninggal. Kadang nisa juga bilang kalau dia itu adalah kakek, jadi dia
suka mengaku kalau dia itu jadi orang yang sudah meninggal. Sebelum dibawa ke
rumah sakit semua orang yang datang kerumah selalu diramal sama dia, dia bilang
kalau dia bisa melihat masa yang akan datang dan bisa meramalkan nasib orang-orang.
D : ooh gitu, iya bu mungkin sampai sini saja pertanyaan dari saya. Terima kasih ibu
sudah mau meluangkan waktunya dan mau menjawab seluruh pertanyaan yang sudah
saya ajukan kepada ibu. Mudah-mudahan nisa cepat sembuh ya bu.
K : iya neng, ibu juga makasih banyak sama neng yah.
D : assalamualaikum bu..
K : waalaikumsalam..
Autoanamnesis Tanggal 30 April 2015
Lokasi: Ruang Kemuning
D: Dokter Muda; P : (Pasien)
D: assalamualaikum
P: waalaikumsalam wr.wr
D: nisa namanya siapa?
7

P: Nisa Suhardini Monica


D: mau nikah?
P: mau nikah, mau nikah mah tar aja kalo udah beres kuliah. Pas 17 tahun aja
D: ooh gitu
P: 17 kali 17 24, jadi 24 tahun aja juga boleh
D : oh iyah. Ya udah. Nisa umurnya berapa sekarang ?
P : nisa umurnya sekearang 2 tahun bun. Berarti setahun lagi. Tiga..tiga..tiga.
D : udah. Bu dokter mau nanya lagi.
P : Apa sayang, cantik
D : Nisa kenapa di bawa kesini ? keluhannya apa ?
P : pengen itu pengen resiko bunuh diri, problemnya apa, seksinya kayak gimana. Terus
reflokfotasenya kayak gimana, terus keluhannnya apa terus kalo msalkan kita keluar,
terus orang tua kita gak ada, kita ngapain aja, terus kalo misalkan kakinya kayak gini ga
boleh yah lagi tidur, lagi bobo. Ba kekok ba.. ba kekok ba..kekok ba. kekok ba.
D : jadi nisa mau bunuh diri ?
P : iya kalo gini terus mau bunuh diri, cape.
D : kenapa gitu mau bunuh diri ?
P : lepaskan aku kembali padanya aku.. (nyanyi)
D : nisa di tanya, nisa kenapa mau bunuh diri ?
P : iiyah kan misalkan kayak gini mah cewek-cewek banyak yah pada suka, masa
cewek sama cewek gay, gay, gay, gak mau cowo sama cowo gay ga mau. Pengennya
cewek sama cowok. Cowok sama cewek sepasang gitu loh kayak sepatu kaca. Maju
mundur.
D : oh gitu, kayak sepatu kaca yah, emang siapa yang suka sama cewek ?
P : iyah katanya waktu jaman dulu di lompin banyak. Waktu itu banyak
D : nisa suka sama cewe ?
P : enggak! Nisa suka sama cowok. Amir khan. Enggak sayang. (meludah)
D : terus, engga boleh gitu nisa kan lagi di tanya.
P : iyah atuh ga boleh gitu makanya, laptop 4x kemana laptop saya, kemana laptop saya
(nyanyi)
D : laptop nisa kemana ?
P : katanya mah ada di mekkah, di Allah tapi aku tidak tau. La illa ha illallah. Allah itu
kayak gimana tapi aku enggak tau. Aku enggak tau. Aku gak pernah tau Allah itu kayak

gimana. Makanya.. makanya Allah itu kayak gimana aku enggak pernah tahu. Coba aku
mau cari.
D : laptop nisa hilang ?
P : mm.. iyaaah!! Iya kana budu wa iya kanastain, tak ada yang abadi.. tak ada yang
abadiiii (nyanyi)
D : nisa ngerasa sakit nggak sekarang ?
P : enggak ada. Lalalalala (nyanyi)
D : ada bisikan-bisikan gitu ?
P : Lalala (nyanyi)
D : Nisa cantik, lagi ditanya.
P : Iah apah ?
D : Nisa pernah dengar bisikian bisikan gitu tidak ?
P : Pernah
D : Kayak gmana bisikannya ?
P : Audzubillahi minassyaithonir rojim.
D : bisikian nisa pernah denger enggak ?
P : Bismillahir rahmannir rohim. Alhamdulillah hirobbil alamin. Arohmaanni rohim.
Malikkiyaumiddin.
D : suka ada bisikan yang bilang nisa menyuruh nisa melakukan jahat ini itu ?
P : banyak.
D : kayak gimana ?
P : laptop dari bawah .nikah lagi yuk. Ayuk. Gak mau.
D : nisa punya pacar enggak ?
P : punya . Amir khan. Tapi amkir khan teh di kemanain. Aku ga ridho.
D : amir khan umur berapa ?
P : aku bedanya sama amir khan cuma 7 tahun. Aku .. aku.. aku..aku 24, eh, kalo
misalkan aku 17 ntar dia 24 kayak gitu.
D : Oh, dia ngapain nisa ?
P : dia mah baik dari ujung kaki sampai ujung rambut dia enggak pernah ngapangapain, tetapi dia selalu mengajarkan aku supaya caranya berbagi , resiko bunuh diri
itu gak boleh sayang.. problem itu tuh masalah, ntar nda seksi, diperkosa kayak
gimana ? nda ga mau kan kayak gini. Ini siapa. Aliando. Ini siapa, ini siapa sayang ..
D : siapa yang di perkosa ?
P : enggak ada, kalo misalkan kayak gini resikonya kayak gitu.
9

D : kalo pacaran resikonya diperkosa ?


P : taah, kalo pacar kan seksi.. seksi... seksi.. kayak gitu tapi kalo misalkan gak seksi di
tutup auratnya. La illaha illa anta ana sipa sipa auha kata abhi. Enggak akan kata abhi.
Abhi juga kuat. Abhi punya iman.. astaaagfirullah robbal baroyaahh (nyanyi)
D : berapa lama nisa pacaran ?
P : 7 tahun.
D : 7 tahun sama orang itu ?
P : heehm (mengangguk). Kalau misalkan 5 tahun lagi mau nikah.
D : oh. Kalo pacaran ngapain aja ?
P: enggak pernah ngapa-ngapain sayaang. Paling beli es krim beli makanan, beli baju,
beli kain , kan nisa suka singlet, gitu. Lihat matanya sayang.
D : oh terus kenapa punya problem kalo tidak kenapa-kenapa ?
P : iya, takutnya aku tuh gila gila karena apa. Gila-gila karena cinta, gila karena harta,
gila karena apa ? (Nyanyi)
D: tergila-gila contohnya apa ?
P : gila karena cinta contohnya banyak (nyanyi)
D : nisa tergila-gila sama cowok itu ?
P : tah, eta gening terang. Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka ya ya ya
(nyanyi)
D : oh gitu, terus cowok itu sekarang kemana gitu ?
P : eh, ada lah pasti ada. Karena dia selalu mengingatku dan aku selalu mengingat dia.
Terbayang satu wajah penuh kasih (nyanyi)
D : bertepuk sebelah tangan gitu ?
P : penuh cintaaaa (masih nyanyi)
D : Nisa
P : apa sayang ?
D : cintanya bertepuk sebelah tangan gitu ?
P : iya dulu sama si nda, tapi sekarang si nda udah cinta. Kaho na pyaar hai (nyanyi).
Masih tetep orang india, masih tetep orang india sayang.
D : Nisa sekarang kemana dia kok enggak nengokin nisa ?
P : Alam, alam lagi bobo di belakang. Kak Alam itu kakakku, kakakku. Aku Nisa
Suhardini. Jangan mencintai aku tapi cintai Allah. La illaha illallah (bersenandung),
astagfirullah robbal baroyah (nyanyi) astagfirullah, ih da gak bisa keluar lagi.
D : jadi nisa ngerasa sakit disini, ngerasa gila?
10

P : iyah, kalau misalkan enggak ada abhi. Walau malam gelap tiada berbintang Asalkan
laguku kan tetap berdendang (nyanyi).
D : Abhinya kemana ?
P : menggoyangkan kaki (masih nyanyi)
D : abhinya kemana nisa ?
P : sini sayang. Ini sayang. One two three four five six seven eight. (2x). Natural. Nda
enggak boleh dandan. Kenapa ? kalau nda dandan, nda jelek. Nda tuh jelek kayak badut
tahu kalau dandan. Oke lah oke. Astagfirullah robbal baroyah. Astagfirullah minal
hatoyah (nyanyi )
D : udah lulus belum sekolahnya ?
P : na sayib ya ta sahe.. yoa meri beti yarna noo (nyanyi). Udah sayang..
D : udah. Kapan ujian ?
P : ya sayib na tarmaa hooo. Rab maho su meri mano. (nyanyi)
D : nisa.. kapan ujian ?
P : na sayin ya ta sahe.. ( masih nyanyi)
D : engga mau jawab ..nisa kan lagi di tanya, katanya mau jawab kalo di tanya.
P : enam.. enam berarti kalo puasanya enam pada tujuh enam ya.. berarti 5 tahun lagi
kebelakang. Sekarang atau 50 tahun lagi ku masih akan tetap mencintaimu, tak ada
bedanya rasa cintaku masih sama seperti pertama bertemu (nyanyi)
D : Anisa katanya mau jawab sejujur-jujurnya, tapi nyanyi terus.
P : harus jawab apa,jawab apa ?
D : Nisa udah lulus belum ?
P : Udah, kemarin kan udah ujian. Wisuda, wisuda putri. Putra dan putri. Apa yang
dimaksud dengan putra ? apa yang dimaksud dengan putri ? Aku menjawab La illaha
illallah, kenapa kamu pakai bahasa itu ? karena aku ini orang mekkah sayang. Ehm.
Kamu tergila-gila sama siapa ? Amir khan. Asik. Amir khan. La illaha illallah.
D : nisa suka nyanyi yah ?
P : iyah. Kan. Kameliaaa maafkanlah abhi (nyanyi)
D : nisa kalau sedih ngapain ?
P : nangis.. kayak gini .. ngngngng (muka sedih)
D: nisa udah dulu nanti kita tanya lagi yah. Pertanyaan terakhir, jadi nisa sekarang
ngerasa gila ?
P : gila karena kamu sayang.
D : oh gitu, sayangnya ke siapa sih ?
11

P : na sayep pyarr ke na nasa hai (nyanyi), yu meri bath yamannoo. Ya samne yarr
tupejaoo.. raho naho sume dibawalooo.. kuik kuik kuik kuik.. twinklw-twinkle little star
how are you seven amsterdaw.. lalala.. (nyanyi)
D : nisa pengen sembuh enggak ?
P : pengen, gimana caranya ? au, enggak boleh gitu sayang. Kamu enggak boleh gitu
salim dulu. Ini siapa. Anna uhibbu kafilah. Heh! Dengerin (teriak)
D : tenang, siapa namanya ?
P : Amir khan. Anna uhibbu kafilahi lillahi taala. Ku mencintaimu lebih dari apapun
meskipun tiada satu orangpun yang tahu. Ku mencintaimu sedalam dalam hatiku.
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku. (nyanyi) mau sembuh aah.
D : harus alim diem kalem.
P : alim diem kalem (2x)
C. STATUS MENTAL
1. Deskripsi Umum
a. Raut wajah

: kadang ceria, kadang sedih

b. Penampilan
Pasien seorang perempuan berusia 16 tahun taksiran tinggi badan 155 cm dan
berat badan kurang lebih 58 kg. Postur tubuh pasien terlihat gemuk. Pasien memiliki
kulit berwarna coklat, rambut pendek keriting terlihat kurang rapi. Pasien
berpenampilan tampak seperti usianya, saat diwawancara pasien menggunakan
pakaian kaos berwarna merah muda dengan jaket berwarna abu-abu dengan jelana
jins berwarna biru, kuku jari tangan dan kaki terpotong rapi, pasien terlihat cukup
bersih. Pasien tampak sehat, pasien tampak hiperaktif.
c. Aktivitas dan Prilaku Psikomotor
Selama wawancara pasien duduk bersebelahan dengan dipegangi oleh keluarga
pasien, pasien bersikap aneh berbicara dan bernyanyi serta tertawa sendiri. Pasien
tidak koopeatif saat diajak wawancara serta tidak menjawab pertanyaan dokter muda.
Selama wawancara pasien duduk dengan sesekali turun ke lantai bahkan sempat kaki
pasien menendang dokter muda, dan sesekali meludah.
d. Pembicaraan

12

Volume

: sedang

Irama

: tidak teratur

Kelancaran: artikulasi kadang-kadang kurang jelas

Kecepatan : sedang

e. Sikap terhadap pemeriksa


Tidak kooperatif dan kurang sopan, kontak mata banyak melihat ke arah depan,
menjawab pertanyaan dengan ngelantur, perhatian mudah dialihkan.
2. Pola pikir
a. Bentuk

: Autistik

b. Isi

: waham (+), halusinasi (+)

c. Jalan

: Flight of idea, neologisme, verbigerasi

3. Gangguan persepsi
a. Auditorik

: tidak ada

b. Visual

: ada

c. Taktil

: tidak ada

d. Olfaktorius

: tidak ada

e. Gustatorik

: tidak ada

f. Ilusi

: tidak ada

4. Afek

: appropriate

5. Mood

: labil

6. Persepsi

: halusinasi visual

7. Perhatian

: distraktibilitas

8. Tingkah Laku

: hiperaktif

9. Decorum

: Penampilan : kurang rapi


Kebersihan

: cukup bersih

Sopan santun : kurang


10. Tilikan

: Derajat I
13

11. Taraf dapat dipercaya : Tidak dapat dipercaya


D. STATUS FISIK
1. Status Internus

Keadaan umum

: tampak sehat

Kesadaran

: compos mentis

Tanda vital:

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Suhu

: 36 oC

Nadi

: 86 kali/menit

Pernafasan

: 18 kali/menit

Mata dan THT


Mulut dan Gigi
Thorax
Abdomen
Ekstremitas

: Normal
: Normal
: Normal
: Normal
: Normal

2. Status Neurologi

Gangguan rangsang Meningeal : (-)

Mata

Gerakan

: Baik kesegala arah

Bentuk Pupil

: Bulat isokor

Reflek cahaya

: +/+ (langsung, tidak langsung)

Motorik

Tonus

: baik

Turgor

: baik

Kekuatan

: baik

Koordinasi

: baik

Refleks

: tidak dilakukan

E. PEMERIKSAAN MULTIAKSIS
Aksis I

: F31.2 Ganggua afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala


psikotik
14

Aksis II

: Gangguan kepribadian histrionik

Aksis III

: Tidak ditemukan kelainan organobiologik

Aksis IV

: Masalah dengan percintaan, masalah keluarga, masalah ekonomi

Aksis V

: 60-51 : gejala sedang (moderate), disabilitas sedang.

F. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Dari riwayat penyakit sekarang didapatkan seorang pasien perempuan usia 16 tahun
datang dengan keluhan bicara sendiri tanpa sebab sejak 8 hari SMRS. Pasien bicara
sendiri tanpa sebab, bernyanyi dan terlihat bahagia, dan terkadang menendang orang di
sekitarnya. Pasien juga terkadang sering tiba-tiba menangis ketakutan dan sering
mengatakan mengenai ayahnya.
Menurut keluarga pasien, keluhan pasien baru pertama kali seperti ini. Sebelumnya
pasien sempat ingin menjiarahi kuburan ayahnya yang sudah meninggal namun tidak jadi.
Ayah pasien sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Pasien di antarkan oleh pacar pasien saat
hendak berjiarah mengunjungi ke makan ayahnya. Sepulangnya dari menjiarahi ayahnya
awalnyy pasien berangkat hanya mengenakan gamis dan kerudung saat pulang pasien
mengenakan baju dan celana yang seksi serta dandanan yang menor. Pasien juga berkatakata tidak nyambung serta ngelantur. Selain itu setelah ayah pasien meninggal pasien
tinggal hanya dengan adik pasien dan dengan uak pasien namun berbeda rumah,
disamping itu tetangga sering berkata dan menghina pasien menganggap pasien seperti
seorang jablay dikarenakan sering membawa pacar kedalam rumah. Pasien merasa
terganggu akan hal itu dan sering mengatakan kepada ibunya bahwa hal itu tidak benar.
Pasien sering berkata jika umurnya 17 tahun ia ingin mencari kerja agar ibunya tidak
harus kembali ke Arab Saudi untuk bekerja . Pasien pernah dibawa ke orang pintar atau
dukun 4 hari SMRS. Riwayat penyalahgunaan obat disangkal keluarga pasien.
Status Mentalis
Keadaan Umum
: Tidak kooperatif terhadap pemeriksa
Roman Muka
: kadang ceria, kadang sedih
Pola pikir
- Bentuk
: Autistik
- Jalan
: Flight of idea, neologisme, verbigerasi
- Isi
: Waham, Halusinasi
Persepsi
: Halusinasi visual
Gangguan Tingkah Laku
: Hiperaktif
Gangguan Afek
: appropriate
15

Gangguan Mood
Penampilan
Kebersihan
Sopan santun
Tilikan

: labil
: Cukup
: Baik
: Kurang baik
: Derajat I

G. DIAGNOSIS BANDING
1.
2.

Ganggua afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik


Skizofrenia hebefrenik, gangguan skizoafektif.

H. DIAGNOSIS KERJA
Ganggua afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
I. PROGNOSIS
Dubia ad malam

Faktor yang mendukung ke arah buruk :


- Riwayat pekerjaan pramorbid yang buruk
- Sifat pasien yang tertutup dan suka memendam masalahnya sendiri.
- Tidak memiliki pekerjaan
- Tidak menikah
- Terdapat gejala yang berulang

Faktor yang mendukung kearah baik :


- Situasi keluarga yang mendukung kesembuhan pasien dan masih membiayai
-

pengobatan pasien.
Kepatuhan minum obat
Terdapat gejala positif

J. RENCANA TERAPI
1. Farmakoterapi

Haloperidol 5 mg

3 x1

Trihexyphenidyl 2 mg

3x1

Chlorpromazine 100 mg

1x1

2. Psikoterapi
16

Suportif :
- Memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi
-

masalah.
Mengingatkan pasien untuk rajin minum obat secara teratur dan sering

kontrol setelah pulang dari perawatan.


Mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat seperti maen
tenis meja.

Terapi Religius :
- Memotivasi pasien untuk selalu taat beribadah kepada ALLAH SWT,
-

seperti: shalat,dzikir, puasa ,berdoa dan berdzikir.


Rajin membaca buku tentang keagamaan.

Terapi Keluarga
- Menjelaskan pada kelurga mengenai kondisi pasien yang sebenarnya, agar
-

keluarga dapat membantu dan mendukung rencana terapi.


Memotivasi keluarga pasien untuk memperlakukan pasien sebagai bagian
dari anggota keluarga.

Edukasi
- Keteraturan meminum obat dengan pantauan keluarga
- Keluarga mengetahui tanda-tanda kekembuhan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR
17

a. Latar Belakang
Gangguan afektif bipolar adalah kondisi umum yang dijumpai, dan diantara
gangguan mental menempati posisi kedua terbanyak sebagai penyebab ketidak
mampuan/disabilitas. Depresi bipolar sama pada kelompok pria dan wanita
dengan angka kejadian sekitar 5 per 1000 orang. Penderita depresi bipolar dapat
mengalami bunuh diri 15 kali lebih banya dibandingkan dengan penduduk umum.
Bunuh diri pertama-tama sering terjadi ketika tekanan pada pekerjaan, studi,
tekanan emosional dalam keluarga terjadi pada tingkat yang paling berat. Pada
risiko bunuh diri dapat meningkat selama menopause.6
Kebanyakan pasien dengan gangguan afektif bipolar secara potensial dengan
terapi yang optimal dapat kembali fungsi yang normal. Dengan pengobatan yang
kurang optimal hasilnya kurang baik dan dapat kambuh untuk melakukan bunuh
diri lagi. Data menunjukkan bahwa pengobatan sering kurang optimal.6
Studi longitudinal bahwa pasien dengan kecenderungan bunuh diri pada kasus
dengan

afektif

bipolar

50%

dapat

dikurangi

dengan

terapi

maintenance/pemeliharaan dan terapi depresi yang tepat.6


Prof dr Sasanto Wibisono, SpKJ (K), guru besar di bagian Psikiatri FKUI
menjelaskan perbedaan ekstrem perasaan (manik dan depresi) penderita Bipolar
tidak selalu bisa diamati oleh lingkungannya karena masing-masing individu
reaksinya berlainan. Ada yang menonjol kutub maniknya, sementara yang lain
menonjol depresinya.
Kondisi tidak normal itu bisa terjadi hanya beberapa minggu sampai 2-3
bulan.Setelah itu kembali ''normal'' untuk jangka waktu relatif lama, namun di
kesempatan lain muncul kembali.7
b. Definisi
Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu
gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada
suasana perasaan, dan proses berfikir. Disebut Bipolar karena penyakit kejiwaan
ini didominasi adanya fluktuasi periodik dua kutub, yakni kondisi manik
(bergairah tinggi yang tidak terkendali) dan depresi.8
c. Etiopatofisiologi

18

Dahulu virus sempat dianggap sebagai penyebab penyakit ini. Serangan virus
pada otak berlangsung pada masa janin dalam kandungan atau tahun pertama
sesudah kelahiran. Namun, gangguan bipolar bermanifestasi 15-20 tahun
kemudian. Telatnya manifestasi itu timbul karena diduga pada usia 15 tahun
kelenjar timus dan pineal yang memproduksi hormon yang mampu mencegah
gangguan psikiatrik sudah berkurang 50%.
Penyebab gangguan Bipolar multifaktor. Mencakup aspek bio-psikososial.
Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di
otak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang
menyakitkan, stres kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi
faktor lainnya.
Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar (adanya
episode manik dan depresi) memiliki kecenderungan menurun kepada
generasinya, berdasar etiologi biologik. 50% pasien bipolar mimiliki satu orangtua
dengan gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar
(depresi saja). Jika seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27%
anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtua
mengidap gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki resiko mengidap
gangguan alam perasaan. Keturunan pertama dari seseorang yang menderita
gangguan bipolar berisiko menderita gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan
risiko pada anak kembar sangat tinggi terutama pada kembar monozigot (4080%), sedangkan kembar dizigot lebih rendah, yakni 10-20%.
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar
dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana
dari kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang
telah diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan
21q22. Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down
(trisomi 21) berisiko rendah menderita gangguan bipolar.
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar,
peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan
bipolar. Neurotransmiter tersebut adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin.
Gen-gen yang berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti
seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase,
catechol-O-metiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT).7
19

Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit ini
yaitu gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF
adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis
dan perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam mood. Gen yang
mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat 3 penelitian yang
mencari tahu hubungan antara BDNF dengan gangguan bipolar dan hasilnya
positif. Kelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini.
Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita
bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positronemission tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah
yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk
dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada
amygdala dan hipokampus. Korteks prefrontal, amygdala dan hipokampus
merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).7
Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada
otak penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran
myelin yang membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran
konduksi antar saraf. Bila jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan
komunikasi antar saraf tidak berjalan lancar.7
d. Neurotransmiter Pada Gangguan Bipolar
Otak menggunakan sejumlah senyawa neurokimiawi sebagai pembawa pesan
untuk komunikasi berbagai beagian di otak dan sistem syaraf. Senyawa
neurokimiawi ini, dikenal sebagai neurotransmiter, sangat esensial bagi semua
fungsi otak. Sebagai pembawa pesan, mereka datang dari satu tempat dan pergi ke
tempat lain untuk menyampaikan pesan-pesannya. Bila satu sel syaraf (neuron)
berakhir, di dekatnya ada neuron lainnya. Satu neuron mengirimkan pesan dengan
mengeluarkan neurotrasmiter menuju ke dendrit neuron di dekatnya melalui celah
sinaptik, ditangkap reseptor-reseptor pada celah sinaptik tersebut.
Neurotransmiter yang berpengaruh pada terjadinya gangguan bipolar adalah
dopamin, norepinefrin, serotonin, GABA, glutamat dan asetilkolin. Selain itu,
penelitian-penelitian juga menunjukksan adanya kelompok neurotransmiter lain
yang berperan penting pada timbulnya mania, yaitu golongan neuropeptida,
termasuk endorfin, somatostatin, vasopresin dan oksitosin. Diketahui bahwa
20

neurotransmiter-neurotransmiter ini, dalam beberapa cara, tidak seimbang


(unbalanced) pada otak individu mania dibanding otak individu normal.
Misalnya, GABA diketahui menurun kadarnya dalam darah dan cairan spinal
pada pasien mania. Norepinefrin meningkat kadarnya pada celah sinaptik, tapi
dengan serotonin normal. Dopamin juga meningkat kadarnya pada celah sinaptik,
menimbulkan hiperaktivitas dan nsgresivitas mania, seperti juga pada skizofrenia.
Antidepresan trisiklik dan MAO inhibitor yang meningkatkan epinefrin bisa
merangsang timbulnya mania, dan antipsikotik yang mem-blok reseptor dopamin
yang menurunkan kadar dopamin bisa memperbaiki mania, seperti juga pada
skizofrenia.
1) Monoamin dan Depresi
Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa zat-zat yang
menyebabkan berkurangnya monoamin, seperti reserpin, dapat menyebabkan
depresi.Akibatnya timbul teori yang menyatakan bahwa berkurangnya
ketersediaan neurotransmiter monoamin, terutama NE dan serotonin, dapat
menyebabkan depresi. Teori ini diperkuat dengan ditemukannya obat
antidepresan trisiklik dan monoamin oksidase inhibitor yang bekerja
meningkatkan monoamin di sinap. Peningkatan monoamin dapat memperbaiki
depresi.
2) Serotonin
Neuron serotonergik berproyeksi dari nukleus rafe dorsalis batang otak ke
korteks serebri, hipotalamus, talamus, ganglia basalis, septum, dan
hipokampus. Proyeksi ke tempat-tempat ini mendasari keterlibatannya dalam
gangguan-gangguan psikiatrik. Ada sekitar 14 reseptor serotonin, 5-HT1A dst
yang terletak di lokasi yang berbeda di susunan syaraf pusat.
Serotonin berfungsi sebagai pengatur tidur, selera makan, dan libido.
Sistem serotonin yang berproyeksi ke nukleus suprakiasma hipotalamus
berfungsi mengatur ritmik sirkadian (siklus tidur-bangun, temperatur tubuh,
dan fungsi axis HPA). Serotonin bersama-sama dengan norepinefrin dan
dopamin memfasilitasi gerak motorik yang terarah dan bertujuan. Serotonin
menghambat perilaku agresif pada mamalia dan reptilia.
Neurotransmiter serotonin terganggu pada depresi. Dari penelitian dengan
alat pencitraan otak terdapat penurunan jumlah reseptor pos-sinap 5-HT1A
dan 5-HT2A pada pasien dengan depresi berat. Adanya gangguan serotonin
21

dapat menjadi tanda kerentanan terhadap kekambuhan depresi. Dari penelitian


lain dilaporkan bahwa respon serotonin menurun di daerah prefrontal dan
temporoparietal pada penderita depresi yang tidak mendapat pengobatan.
Kadar serotonin rendah pada penderita depresi yang agresif dan bunuh diri.
Triptofan merupakan prekursor serotonin. Triptofan juga menurun pada
pasien depresi. Penurunan kadar triptofan juga dapat menurunkan mood pada
pasien depresi yang remisi dan individu yang mempunyai riwayat keluarga
menderita depresi. Memori, atensi, dan fungsi eksekutif juga dipengaruhi oleh
kekurangan triptofan. Neurotisisme dikaitkan dengan gangguan mood, tapi
tidak melalui serotonin. Ia dikaitkan dengan fungsi kognitif yang terjadi
sekunder akibat berkurangnya triptofan. Hasil metabolisme serotonin adalah
5-HIAA (hidroxyindolaceticacid). Terdapat penurunan 5-HIAA di cairan
serebrospinal pada penderita depresi. Penurunan ini sering terjadi pada
penderita depresi dengan usaha-usaha bunuh diri.
Penurunan serotonin pada depresi juga dilihat dari penelitian EEG tidur
dan HPA aksis. Hipofontalitas aliran darah otak dan penurunan metabolisme
glukosa otak sesuai dengan penurunan serotonin. Pada penderita depresi
mayor

didapatkan

penumpulan

respon

serotonin

prefrontal

dan

temporoparietal. Ini menunjukkan bahw adanya gangguan serotonin pada


depresi.
3) Noradrenergik
Badan sel neuron adrenergik yang menghasilkan norepinefrin terletak di
locus ceruleus (LC) batang otak dan berproyeksi ke korteks serebri, sistem
limbik, basal ganglia, hipotalamus dan talamus. Ia berperan dalam mulai dan
mempertahankan keterjagaan (proyeksi ke limbiks dan korteks). Proyeksi
noradrenergik ke hipokampus terlibat dalam sensitisasi perilaku terhadap
stressor dan pemanjangan aktivasi locus ceruleus dan juga berkontribusi
terhadap rasa ketidakberdayaan yang dipelajari. Locus ceruleus juga tempat
neuron-neuron yang berproyeksi ke medula adrenal dan sumber utama sekresi
norepinefrin ke dalam sirkulasi darah perifer.
Stresor akut dapat meningkatkan aktivitas LC. Selama terjadi aktivasi
fungsi LC, fungsi vegetatif seperti makan dan tidur menurun. Persepsi
terhadap stressor ditangkap oleh korteks yang sesuai dan melalui talamus
22

diteruskan ke LC, selanjutnya ke komponen simpatoadrenalsebagai respon


terhadap stressor akut tsb. Porses kognitif dapat memperbesar atau
memperkecil respon simpatoadrenal terhadap stressor akut tersebut.
Rangsangan terhadap bundel forebrain (jaras norepinefrin penting di otak)
meningkat pada perilaku yang mencari rasa senang dan perilaku yang
bertujuan. Stressor yang menetap dapat menurunkan kadar norepinefrin di
forbrain medial. Penurunan ini dapat menyebabkan anergia, anhedonia, dan
penurunan libido pada depresi.
Hasil metabolisme norepinefrin adalah 3-methoxy-4-hydroxyphenilglycol
(MHPG). Penurunan aktivitas norepinefrin sentral dapat dilihat berdasarkan
penurunan ekskresi MHPG. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa MHPG
mengalami defisiensi pada penderita depresi. Kadar MHPG yang keluar di
urin meningkat kadarnya pada penderita depresi yang di ECT (terapi kejang
listrik).
e. Epidemiologi
Dapat dikatakan insiden gangguan bipolar tidak tinggi, berkisar antara 0,31,5%. Namun, angka itu belum termasuk yang misdiagnosis. Risiko kematian
terus membayangi penderita bipolar. Biasanya kematian itu dikarenakan mereka
mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. Risiko bunuh diri meningkat pada
penderita bipolar yang tidak diterapi yaitu 5,5 per 1000 pasien. Sementara yang
diterapi hanya 1,3 per 1000 pasien.7
Gangguan pada lelaki dan perempuan sama, umumnya timbul di usia remaja
atau dewasa. Hal ini paling sering dimulai sewaktu seseorang baru menginjak
dewasa, tetapi kasus-kasus gangguan bipolar telah didiagnosis pada remaja dan
bahkan anak- anak.
f. Gambaran Klinis
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar
dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Perbedaannya adalah pada
gangguan bipolar I memiliki episode manik sedangkan pada gangguan bipolar II
mempunyai episode hipomanik. Beberapa ahli menambahkan adanya bipolar III
dan bipolar IV namun sementara ini yang 2 terakhir belum dijelaskan.
Gangguan bipolar I dibagi lagi menjadi beberapa bagian menurut perjalanan
longitudinal gangguannya. Namun hal yang pokok adalah paling tidak terdapat 1
23

episode manik di sana. Walaupun hanya terdapat 1 episode manik tanpa episode
depresi lengkap maka tetap dikatakan gangguan bipolar I. Adapun episodeepisode yang lain dapat berupa episode depresi lengkap maupun episode
campuran, dan episode tersebut bisa mendahului ataupun didahului oleh episode
manik.
Gangguan bipolar II mempunyai ciri adanya episode hipomanik. Gangguan
bipolar II dibagi menjadi 2 yaitu tipe hipomanik, bila sebelumnya didahului oleh
episode depresi mayor dan disebut tipe depresi bila sebelum episode depresi
tersebut didahului oleh episode hipomanik.
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)
III, gangguan ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan
pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu
tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan serta peningkatan energi dan
aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana
perasaan serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah
terdapat penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai
dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, sedangkan
depresi cenderung berlangsung lebih lama.
Episode pertama bisa timbul pada setiap usia dari masa kanak-kanak sampai
tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin
dini seseorang menderita bipolar maka risiko penyakit akan lebih berat, kronik
bahkan refrakter.
Episode manik dibagi menjadi 3 menurut derajat keparahannya yaitu
hipomanik, manik tanpa gejala psikotik, dan manik dengan gejala psikotik.
Hipomanik dapat diidentikkan dengan seorang perempuan yang sedang dalam
masa ovulasi (estrus) atau seorang laki-laki yang dimabuk cinta. Perasaan
senang, sangat bersemangat untuk beraktivitas, dan dorongan seksual yang
meningkat adalah beberapa contoh gejala hipomanik. Derajat hipomanik lebih
ringan daripada manik karena gejala- gejala tersebut tidak mengakibatkan
disfungsi sosial.
Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga mengacaukan hampir
seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial. Harga diri membumbung tinggi dan terlalu
optimis. Perasaan mudah tersinggung dan curiga lebih banyak daripada elasi.
Tanda manik lainnya dapat berupa hiperaktifitas motorik berupa kerja yang tak
kenal lelah melebihi batas wajar dan cenderung non-produktif, euphoria hingga
24

logorrhea (banyak berbicara, dari yang isi bicara wajar hingga menceracau dengan
'word salad'), dan biasanya disertai dengan waham kebesaran, waham kebesaran
ini bisa sistematik dalam artian berperilaku sesuai wahamnya, atau tidak
sistematik, berperilaku tidak sesuai dengan wahamnya. Bila gejala tersebut sudah
berkembang menjadi waham maka diagnosis mania dengan gejala psikotik perlu
ditegakkan.
g. Diagnosis Dan Klasifikasi
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar
dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I atau tipe
klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkan
gangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi. PPDGJ III
membaginya dalam klasifikasi yang berbeda yaitu menurut episode kini yang
dialami penderita.
Tabel 1. Pembagian Gangguan Afektif Bipolar Berdasarkan PPDGJ III (F31)
F31.

Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik

0
F31.

Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik

1
F31.

Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik

2
F31.

Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang

3
F31.

Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala

4
F31.

psikotik
Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala

5
F31.

psikotik
Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran

6
F31.

Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi

7
F31.

Gangguan afektif bipolar lainnya

8
F31.

Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan

9
F31 Gangguan Afektif Bipolar

25

Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya dua) yang
menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat aktivitasnya jelas
terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana
perasaan (mood) serta peningkatan enersi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan
pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan (mood) serta pengurangan enersi
dan aktivitas depresi). Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna
antar episode, dan insidensi pada kedua jenis kelamin kurang lebih sama dibanding
dengan gangguan suasana perasaan (mood) lainnya. Dalam perbandingan, jarang
ditemukan pasien yang menderita hanya episode mania yang berulang-ulang, dan
karena pasien-pasien tersebut menyerupai (dalam riwayat keluarga, kepribadian
pramorbid, usia onset, dan prognosis jangka panjang) pasien yang mempunyai juga
episode depresi sekali-sekali, maka pasien itu digolongkan sebagai bipolar.
F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini hipomanik
-

Pedoman diagnostik
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania (F30.0)
dan,
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.

F31.1 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik tanpa Gejala


Psikotik
-

Pedoman diagnostik
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala
psikotik (F30.1) dan,
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.

F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan Gejala


Psikotik
-

Pedoman diagnostik
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala
psikotik (F30.2) dan,
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.

26

F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, episode kini Depresif Ringan atau


Sedang
-

Pedoman diagnostik
Untuk mendiagnosis pasti :
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
ringan (F32.0) ataupun sedang (F32.1), dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya gejala
somatic dalam episode depresif yang sedang berlangsung.

F31.30 Tanpa gejala somatik


F31.31 Dengan gejala somatik
F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa
Gejala Psikotik
-

Pedoman diagnostik
Untuk mendiagnosis pasti :
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat tanpa gejala psikotik (F32.2), dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.

F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan


Gejala Psikotik
-

Pedoman diagnostik
Untuk mendiagnosis pasti :
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat dengan gejala psikotik (F32.3), dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
Jika dikehendaki, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau
tidak serasi dengan afeknya.
27

F31.6 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran


-

Pedoman diagnostic
a. Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanikdan
depresif

yangtercampur

atau

bergantian

dengan

cepat

(gejala

mania/hipomania dan depresi sama-sama mencolok selama masa


terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung
sekurang-kurangnya 2 minggu) dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau.
F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, Kini dalam Remisi
Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan
terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif
hipomanik, manik atau campuran di masa lampau dan ditambah sekurangkurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran).
F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT
h. Komorbid
Sebagian besar penderita bipolar tidak hanya menderita bipolar saja tetapi juga
menderita gangguan jiwa yang lain (komorbid). Penelitian oleh Goldstein BI dkk,
seperti dilansir dari Am J Psychiatry 2006, menyebutkan bahwa dari 84 penderita
bipolar berusia diatas 65 tahun ternyata sebanyak 38,1% terlibat dalam
penyalahgunaan alkohol, 15,5% distimia, 20,5% gangguan cemas menyeluruh, dan
19% gangguan panik.2 Sementara itu, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
menjadi komorbid yang paling sering didapatkan pada 90% anak-anak dan 30%
remaja yang bipolar.
i. Penatalaksanaan

28

a. Farmakoterapi
Fluoxetin (prozac) telah digunakan dengan suatu keberhasilan pada remaja
dengan gangguan depresif barat. Karena beberapa anak dan remaja yang
menderita depresif akan mengalami gangguan bipolar, klinisi harus mencatat
gejala hipomanik yang mungkin terjadi selama pemakaian fluoxetin dan anti
depresan lain. Pada kasus tersebut medikasi harus dihentikan untuk menentukan
apakah episode hipomanik selanjutnya menghilang. Tetapi, respon hipomanik
terhadap antidepresan tidak selalu meramalkan bahwa gangguan bipolar telah
terjadi.8 Gangguan bipolar pada masa anak-anak dan remaja adalah diobati
dengan lithium (Eskalith) dengan hasil yang baik. Tetapi, anak-anak yang
memiliki gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas) dan selanjutnya mengalami
29

gangguan bipolar pada awal masa remaja adalah lebih kecil kemungkinannya
untuk berespon baik terhadap lithium dibandingkan mereka yang tanpa gangguan
perilaku.
Pasien dengan gangguan bipolar membutuhkan dorongan untuk mencari dan
mempertahankan pengobatan dan tindak lanjutnya dengan segala keterbatasannya
lithium merupakan pengobatan untuk gangguan bipolar yang telah lama
digunakan meskipun banyak obat-obat generasi baru yang ditemukan, namun
efektifitas pencegahan bunuh diri masih belum jelas.
Garam Lithium (carbonate) merupakan antidepresan yang dianjurkan untuk
gangguan depresi bipolar (terdapatnya episode depresi dan mania) dan penderita
gangguan depresi. Lithium tidak bersifat sedative, depresan ataupun eforian, inilah
yang membedakannya dari antidepresan lain.
Mekanis aksi lithium mengendalikan alam perasaan belum diketahui, diduga
akibat efeknya sebagai membrana biologi. Sifat khas ion lithium dengan ukuran
yang amat kecil tersebar melalui membrana biologik, berbeda dari ion Na dan K.
Ion lithium menggantikan ion Na mendukung aksi potensial tunggal di sel saraf
dan melestarikan membrana potensial itu. Masih belum jelas betul makna interaksi
antara lithium (dengan konsentrasi 1 mEq per liter) dan transportasi monovalent
atau divalent kation oleh sel saraf.2 Aksi lithium disusunan saraf pusat
dispekulasikan merobah distribusi ion didalamsel susunan saraf pusat, perhatian
terpusat pada efek konsentrasi ionnya yang rendah dalam metabolisme biogenik
amin yang berperanan utama dalam patofisiologi gangguan alam perasaan.
Sudah lebih dari 50 tahun lithium digunakan sebagai terapi gangguan bipolar.
Keefektivitasannya telah terbukti dalam mengobati 60-80% pasien. Pamornya
semakin berkibar karena dapat menekan ongkos perawatan dan angka kematian
akibat bunuh diri.
Tapi bukan berarti lithium tanpa cela. Terdapat orang-orang yang kurang
memberi respon terhadap lithium di antaranya penderita dengan riwayat cedera
kepala, mania derajat berat (dengan gejala psikotik), dan yang disertai dengan
komorbid. Bila penggunaanya dihentikan tiba-tiba, penderita cepat mengalami
relaps. Selain itu, indeks terapinya sempit dan perlu monitor ketat kadar lithium
dalam darah. Gangguan ginjal menjadi kontraindikasi penggunaan lithium karena
akan menghambat proses eliminasi sehingga menghasilkan kadar toksik. Di
samping itu, pernah juga dilaporkan lithium dapat merusak ginjal bila digunakan

30

dalam jangka lama. Karena keterbatasan itulah, penggunaan lithium mulai


ditinggalkan.2 Antipsikotik mulai digunakan sebagai antimanik sejak tahun 1950.
Antipsikotik lebih baik daripada lithium pada penderita bipolar dengan agitasi
psikomotor. Perhatian ekstra harus dilakukan bila hendak merencanakan
pemberian antipsikotik jangka panjang terutama generasi pertama (golongan
tipikal) sebab dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti ekstrapiramidal,
neuroleptic malignant syndrome, dan tardive dyskinesia.
Valproat menjadi pilihan ketika penderita bipolar tidak memberi respon
terhadap lithium. Bahkan valproat mulai menggeser dominasi lithium sebagai
regimen lini pertama. Salah satu kelebihan valproat adalah memberikan respon
yang baik pada kelompok rapid cycler. Penderita bipolar digolongkan rapid cycler
bila dalam 1 tahun mengalami 4 atau lebih episode manik atau depresi. Efek
terapeutik tercapai pada kadar optimal dalam darah yaitu 60-90 mg/L. Efek
samping dapat timbul ketika kadar melebihi 125 mg/L, di antaranya mual, berat
badan meningkat, gangguan fungsi hati, tremor, sedasi, dan rambut rontok. Dosis
akselerasi valproat yang dianjurkan adalah loading dose 30 mg/kg pada 2 hari
pertama dilanjutkan dengan 20 mg/kg pada 7 hari selanjutnya. Pencarian obat
alternatif terus diupayakan. Salah satunya adalah lamotrigine.
Lamotrigine merupakan antikonvulsan yang digunakan untuk mengobati
epilepsi. Beberapa studi acak, buta ganda telah menyimpulkan, lamotrigine efektif
sebagai terapi akut pada gangguan bipolar episode kini depresi dan kelompok
rapid cycler. Sayangnya, lamotrigine kurang baik pada episode manik.

31

1) Litium
Indikasi:
Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagai
terapi rumatan GB.
Dosis:
Respons litium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan
menitrasi dosis hingga mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,01,4 mEq/L. Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari.Dosis awal yaitu 20
mg/kg/hari. Dosis untuk mengatasi keadaan akut lebih tinggi bila
dibandingkan dengan untuk terapi rumatan. Untuk terapi rumatan, dosis
berkisar antara 0,4-0,8 mEql/L. Dosis kecil dari 0,4 mEq/L, tidak efektif
sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala toksisitas litium dapat terjadi
bila dosis 1,5 mEq/L.
2) Valproat.
Dosis:
Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalam
serum berkisar antara 45 -125 ug/mL. Untuk GB II dan siklotimia
diperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma 50 ug/mL. Dosis awal
untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250 500 mg/hari dan
dinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45- 125
ug/mL. Efek samping, misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan
penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi bila konsentrasi serum 100
ug/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma yang
dianjurkan adalah antara 75-100 ug/mL.
Indikasi:
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut,
terapi rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan
litium, siklus cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada lanjut usia.
3) Lamotrigin
Indikasi:
Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akut
maupun rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.
Dosis:
Berkisar antara 50-200 mg/hari.
32

Antipsikotika Atipik
1) Risperidon
Dosis:
Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu
tablet dan cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan
besoknya dapat dinaikkan hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian
besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka panjang
(RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB. Dosis yang
dianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua
minggu. Bila tidak berespons dengan 25 mg, dosis dapat dinaikkan
menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.
Indikasi:
Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi
rumatan
2) Olanzapin
Indikasi:
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut
mania dan campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi
rumatan GB.
Dosis:
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.
3) Quetiapin.
Dosis:
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari.
Tersedia dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg,
100 mg, 200 mg, dan 300 mg, dengan pemberian dua kali per hari. Selain
itu, juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.
Indikasi:
Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran,
siklus cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan.

33

4) Aripiprazol
Dosis:
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran
dosis efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang
direkomendasikan yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari.
Apabila ada rasa mual, insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk
menurunkan dosis. Beberapa klinikus mengatakan bahwa dosis awal 5 mg
dapat meningkatkan tolerabilitas.
Indikasi:
Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia
juga efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai
terapi tambahan pada GB I, episode depresi.
Antidepresan
Antidepresan

efektif

untuk

mengobati

GB,

episode

depresi.

Penggunaannya harus dalam jangka pendek. Penggunaan jangka panjang


berpotensi meginduksi hipomania atau mania. Untuk menghindari terjadinya
hipomania dan mania, antidepresan hendaklah dikombinasi dengan stabilisator
mood atau dengan antipsikotika atipik
Intervensi Psikososial
Intervensi psikososial meliputi berbagai pendekatan misalnya, cognitive
behavioral therapy (CBT), terapi keluarga, terapi interpersonal, terapi
kelompok, psikoedukasi, dan berbagai bentuk terapi psikologi atau psikososial
lainnya. Intervensi psiksosial sangat perlu untuk mempertahankan keadaan
remisi.
b. Psikoterapi
Sedikit data yang menguatkan keunggulan salah satu pendekatan psikoterapi
dibandingkan yang lain dalam terapi gangguan mood masa anak-anak dan remaja.
Tetapi, terapi keluarga adalah diperlukan untuk mengajarkan keluarga tentang
gangguan mood serius yang dapat terjadi pada anak-anak saat terjadinya stres
keluarga yang berat. Pendekatan psikoterapetik bagi anak terdepresi adalah
pendekatan kognitif dan pendekatan yang lebih terarah dan lebih terstruktur
34

dibandingkan yang biasanya digunakan pada orang dewasa. Karena fungsi psikososial
anak yang terdepresi mungkin tetap terganggu untuk periode yang lama, walaupun
setelah episode depresif telah menghilang, intervensi keterampilan sosial jangka
panjang adalah diperlukan. Pada beberapa program terapi, modeling dan permainan
peran dapat membantu menegakkan keterampilan memecahkan masalah yang baik.
Psikoterapi adalah pilihan utama dalam pengobatan depresi.8
j. Prognosis
Pada kasus mengarah ke buruk
Prognosis Buruk
Akut
Onset terjadi pada usia muda
Riwayat kerja yang buruk
Penyalahgunaan alcohol
Gambaran psikotik
Gambaran
depresif
diantara

Prognosis Baik
Fase manic (dalam durasi pendek)
Onset terjadi pada usia yang lanjut
Pemikiran untuk bunuh diri yang rendah
Gambaran psikotik yang rendah
Masalah kesehatan (organik) yang rendah.

episode manic dan depresi


Adanya bukti keadaan depresif
Jenis kelamin laki-laki.
k. Komplikasi
Komplikasi dari gangguan ini antara lain bunuh diri, pembunuhan, dan adiksi.

35

DAFTAR PUSTAKA
1. Dorland, W.A Newman. Kamus Kedokteran Dorland edisi kedua puluh sembilan.
Jakarta: EGC. 2002.
2. Depkes RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta. Departemen Kesehatan. 1993.
3. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis Jilid Dua. Jakarta. Binarupa Aksara. 2010.
4. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis Jilid Satu. Jakarta. Binarupa Aksara. 2010.
5. David A. Tomb, Buku Saku Psikiatri, Edisi 6, , Jakarta : EGC, 2003.
6. Widiodiningrat R. Membangun Kesadaran-Mengurangi Resiko gangguan Mental dan
Bunuh Diri. http://pdpersi.co.id . diakses 28 Desember 2011.
7. Hilary. Bipolar Disorder. http://hilary.wordpresss.com. Diakses 28 Desember 2011

36