Anda di halaman 1dari 36

REFERAT

TRAUMA VERTEBRA

Oleh :
Ratu Nur Annisa Shafira AF, S.Ked

Pembimbing :
Dr. Giri Marsela, Sp.OT

Kepanitraan Klinik Bedah RS Moh. Ridwan Meuraksa


Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga
penulisan referat ini selesai tepat pada waktunya.
Referat dengan judul Trauma Vertebra ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran YARSI di Rumah Sakit Moh. Ridwan Meuraksa periode 5
Januari 2015 14 Maret 2015.
Pada kesempatan ini, ijinkan penulis untuk berterimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang
terhormat :

dr. Giri Marsela., Sp.OT selaku pembimbing kepaniteraan klinik ilmu bedah orthopedi

RS Moh. Ridwan Meuraksa yang juga sebagai pembimbing dalam penulisan referat ini.
dr. Firmansyah, Sp.B, selaku ketua SMF dan pembimbing kepaniteraan klinik ilmu bedah

RS Moh. Ridwan Meuraksa.


dr. Sabarullah, Sp.B, selaku pembimbing kepaniteraan klinik ilmu bedah RS Moh.

Ridwan Meuraksa.
dr. Abidin Sp.OT, selaku pembimbing kepanitraan klinik ilmu bedah orthopedi Moh.

Ridwan Meuraksa.
dr. Senja Sp.BP, selaku pembimbing ilmu bedah plastik RS Moh. Ridwan Meuraksa.
semua pihak yang membantu penulisan referat ini baik secara langsung maupun tidak
langsung.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam referat ini, oleh karena itu penulis
sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak, sehingga referat ini
menjadi lebih baik. Harapan penulis semoga referat ini bermanfaat. Mohon maaf atas segala
kekurangan dalam penyusunan referat ini, atas kritik dan sarannya, penulis mengucapkan
terimakasih.
Jakarta, Februari 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Vertebra dimulai dari cranium sampai pada apex coccigeus, membentuk skeleton dari
leher, punggung dan bagian utama dari skeleton (tulang cranium, costa dan sternum). Fungsi
vertebra yaitu melindungi medulla spinalis dan serabut saraf, menyokong berat badan dan
berperan dalam perubahan posisi tubuh. Vertebra pada orang dewasa terdiri dari 33 vertebra
dengan pembagian 5 regio yaitu 7 cervical, 12 thoracal, 5 lumbal, 5 sacral, 4 coccigeal.1
Tulang belakang merupakan suatu satu kesatuan yang kuat diikat oleh ligamen di depan
dan dibelakang serta dilengkapi diskus intervertebralis yang mempunyai daya absorbsi tinggi
terhadap tekanan atau trauma yang memberikan sifat fleksibel dan elastis. Semua trauma tulang
belakang harus dianggap suatu trauma hebat sehingga sejak awal pertolongan pertama dan
transportasi ke rumah sakit harus diperlakukan dengan hati-hati.2,3
Trauma medulla spinalis dapat terjadi bersamaan dengan trauma pada tulang belakang
yaitu terjadinya fraktur pada tulang belakang, ligamentum longitudinalis posterior dan duramater
bisa robek, bahkan dapat menusuk ke kanalis vertebralis serta arteri dan vena-vena yang
mengalirkan darah ke medula spinalis dapat ikut terputus. Cedera medulla spinalis merupakan
kelainan yang pada masa kini banyak memberikan tantangan karena perubahan dan pola trauma
serta kemajuan di bidang penatalaksanaannya. Jika di masa lalu cedera tersebut lebih banyak
disebabkan oleh jatuh dari ketinggian, pada masa kini penyebabnya lebih beraneka ragam seperti
kecelakaan lalu lintas, jatuh dari tempat ketinggian dan kecelakaan olah raga. Pada masa lalu,
kematian penderita dengan cedera medulla spinalis terutama disebabkan oleh terjadinya penyulit
berupa infeksi saluran kemih, gagal ginjal, pneumoni / decubitus.4

Trauma tulang belakang dapat mengenai jaringan lunak berupa ligamen, diskus dan faset
tulang belakang dan medulla spinalis. Penyebab trauma tulang belakang adalah kecelakaan lalu
lintas (44%), kecelakaan olah raga (22%), terjatuh dari ketinggian (24%), kecelakaan kerja.2,3
Di U.S., insiden cedera medulla spinalis sekitar 5 kasus per satu juta populasi per tahun
atau sekitar 14.000 pasien per tahun. Insiden cedera medulla spinalis tertinggi pada usia 16-30
tahun (53,1 %). Insiden cedera medulla spinalis pada pria adalah 81,2 %. Sekitar 80 % pria
dengan cedera medulla spinalis terdapat pada usia 18-25 tahun. SCIWORA (spinal cord injury
without radiologic abnormality) terjadi primer pada anak-anak. Tingginya insiden cedera
medulla spinalis komplit yang berkaitan dengan SCIWORA dilaporkan terjadi pada anak-anak
usia kurang dari 9 tahun.5
Pasien dengan trauma tulang belakang komplit berpeluang sembuh kurang dari 5 %. Jika
terjadi paralisis komplit dalam waktu 72 jam setelah trauma, peluang perbaikan adalah nol.
Prognosis trauma tulang belakang inkomplit lebih baik. Jika fungsi sensoris masih ada, peluang
pasien untuk dapat berjalan kembali lebih dari 50 %.5
Oleh karena itu, penulis menyusun referat ini untuk mengetahui mekanisme trauma,
diagnosis dan penatalaksanaan dari cedera tulang belakang , secara tepat sehingga dapat
membantu meningkatkan kualitas dan harapan hidup penderita.

BAB II
TRAUMA VERTEBRA
II.1. ANATOMI
Vertebra adalah pilar yang berfungsi sebagai penyangga tubuh dan melindungi medulla
spinalis. Pilar itu terdiri atas 33 ruas tulang belakang yang tersusun secara segmental yang
terdiri atas 7 ruas tulang servikal (vertebra servikalis), 12 ruas tulang torakal (vertebra
torakalis), 5 ruas tulang lumbal (vertebra lumbalis), 5 ruas tulang sakral yang menyatu
(vertebra sakral), dan 4 ruas tulang ekor (vertebra koksigea).6

Gambar 1. Anatomi Tulang Belakang


5

Setiap ruas tulang belakang dapat bergerak satu dengan yang lain oleh karena adanya
dua sendi di posterolateral dan diskus intervertebralis di anterior. Pada pandangan dari
samping, pilar tulang belakang membentuk lengkungan atau lordosis di daerah servikal dan
lumbal. Keseluruhan vertebra maupun masing-masing tulang vertebra berikut diskus
intervertebralisnya

merupakan

satu

kesatuan

yang

kokoh

dengan

diskus

yang

memungkinkan gerakan antar korpus ruas tulang belakang. Lingkup gerak sendi pada
vertebra servikal adalah yang terbesar. Vertebra torakal berlingkup gerak sedikit karena
adanya tulang rusuk yang membentuk toraks, sedangkan vertebra lumbal mempunyai ruang
lingkup gerak yang lebih besar dari torakal tetapi makin ke bawah lingkup geraknya
semakin kecil.6
Secara umum, struktur tulang belakang tersusun atas dua yaitu :
1.
2.

Korpus vertebra beserta semua diskus intervetebra yang berada di antaranya.


Elemen posterior (kompleks ligamentum posterior) yang terdiri atas lamina, pedikel,
prosesus spinosus, prosesus transversus dan pars artikularis, ligamentum-ligamentum
supraspinosum dan intraspinosum, ligamentum flavum, serta kapsul sendi.6
Setiap ruas tulang belakang terdiri atas korpus di depan dan arkus neuralis di belakang

yang di situ terdapat sepasang pedikel kanan dan kiri, sepasang lamina, 2 pedikel, 1 prosesus
spinosus, serta 2 prosesus transversus. Beberapa ruas tulang belakang mempunyai bentuk
khusus, misalnya tulang servikal pertama yang disebut atlas dan ruas servikal kedua yang
disebut odontoid. Kanalis spinalis terbentuk antara korpus di bagian depan dan arkus
neuralis di bagian belakang. Kanalis spinalis ini di daerah servikal berbentuk segitiga dan
lebar, sedangkan di daerah torakal berbentuk bulat dan kecil. Bagian lain yang menyokong
kekompakan ruas tulang belakang adalah komponen jaringan lunak yaitu ligamentum
6

longitudinal anterior, ligamentum longitudinal posterior, ligamentum flavum, ligamentum


interspinosus, dan ligamentum supraspinosus.6
Stabilitas tulang belakang disusun oleh dua komponen, yaitu komponen tulang dan
komponen jaringan lunak yang membentuk satu struktur dengan tiga pilar. Pertama yaitu
satu tiang atau kolom di depan yang terdiri atas korpus serta diskus intervertebralis. Kedua
dan ketiga yaitu kolom di belakang kanan dan kiri yang terdiri atas rangkaian sendi
intervertebralis lateralis. Tulang belakang dikatakan tidak stabil, bila kolom vertikal terputus
pada lebih dari dua komponen. 6

Gambar 2. Sendi dan Ligamen Kolumna Vertebra


Medulla spinalis berjalan melalui tiap-tiap vertebra dan membawa saraf yang
menyampaikan sensasi dan gerakan dari dan ke berbagai area tubuh. Semakin tinggi
kerusakan saraf tulang belakang, maka semakin luas trauma yang diakibatkan. Misal, jika

kerusakan saraf tulang belakang di daerah leher, hal ini dapat berpengaruh pada fungsi di
bawahnya dan menyebabkan seseorang lumpuh pada kedua sisi mulai dari leher ke bawah
dan tidak terdapat sensasi di bawah leher. Kerusakan yang lebih rendah pada tulang sakral
mengakibatkan sedikit kehilangan fungsi.6

Gambar 3. Persarafan Tulang Belakang

Gambar 4. Gerakan Kolumna Vertebra

Gambar 5. Otot yang Memproduksi Gerakan dari Sendi Intervertebra Torakal dan Lumbal
9

Semua trauma tulang belakang harus dianggap suatu trauma yang hebat, sehingga sejak
awal pertolongan pertama dan transportasi ke rumah sakit penderita harus diperlakukan secara
hati-hati.
Trauma pada tulang belakang dapat mengenai :
1. Jaringan lunak pada tulang belakang, yaitu ligament, diskus dan faset
2. Tulang belakang sendiri
3. Sumsum tulang belakang
Sebagian besar trauma tulang belakang yang mengenai tulang tidak disertai kelainan pada
sumsum tulang belakang (80%) dan hanya sebagian (20%) yang disertai kelainan pada sumsum
tulang belakang.
Penyebab kelainan tulang belakang:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kecelakaan lalu lintas


Kecelakaan olahraga
Kecelakaan industry
Kecelakaan lain seperti jatuh dari pohon atau bangunan
Luka tusuk, luka tembak
Trauma karena tali pengaman (fraktur Chance)
Kejatuhan benda keras

II.2. MEKANISME CEDERA


Pada cedera tulang belakang, mekanisme cedera yang mungkin adalah:
1. Fleksi
Trauma ini terjadi akibat fleksi dan disertai kompresi pada vertebra. Vertebra
akan mengalami tekanan dan remuk yang dapat merusak ligamen posterior. Jika
ligamen posterior rusak maka sifat fraktur ini tidak stabil sebaliknya jika
ligamentum posterior tidak rusak maka fraktur bersifat stabil. Pada daerah
cervical, tipe subluksasi ini sering terlewatkan karena pada saat dilakukan
pemeriksaan sinar-X vertebra telah kembali ke tempatnya.7
10

2. Rotasi-fleksi
Cedera spina yang paling berbahaya adalah akibat kombinasi fleksi dan rotasi.
Ligamen dan kapsul sendi teregang sampai batas kekuatannya, kemudian dapat
robek, permukaan sendi dapat mengalami fraktur atau bagian atas dari satu
vertebra dapat terpotong. Akibat dari mekanisme ini adalah pergeseran atau dislokasi
ke depan pada vertebra di atas, dengan atau tanpa kerusakan tulang. Semua
fraktur-dislokasi bersifat tak stabil dan terdapat banyak risiko munculnya kerusakan
neurologik.7

3. Kompresi vertical (aksial)


Kekuatan vertikal yang mengenai segmen lurus pada spina servikal atau lumbal akan
menimbulkan kompresi aksial. Nukleus pulposus akan mematahkan lempeng vertebra
dan menyebabkan fraktur vertikal pada vertebra, dengan kekuatan yang lebih besar,
bahan diskus didorong masuk ke dalam badan vertebral, menyebabkan fraktur remuk
(burst fracture). Karena unsur posterior utuh, keadaan ini didefinisikan sebagai
11

cedera stabil. Fragmen tulang dapat terdorong ke belakang ke dalam kanalis


spinalis dan inilah yang menjadikan fraktur ini berbahaya , kerusakan neurologik
sering terjadi. 7

4. Hiperekstensi (kombinasi distraksi dan ekstensi)


Hiperekstensi jarang terjadi di daerah torakolumbal tetapi sering pada leher,
pukulan pada muka atau dahi akan memaksa kepala ke belakang dan tanpa
menyangga oksiput sehingga kepala membentur bagian atas punggung. Ligamen
anterior dan diskus dapat rusak atau arkus saraf mungkin me ngalami fraktur.
Cedera ini stabil karena tidak merusak ligamen posterior. 7

5. Fleksi dan kompresi digabungkan dengan distraksi posterior

12

Kombinasi fleksi dengan kompresi anterior dan distraksi posterior dapat


mengganggu kompleks vertebra pertengahan, di samping kompleks posterior.
Fragmen tulang dan bahan diskus dapat bergeser ke dalam kanalis spinalis.
Berbeda dengan fraktur kompresi murni, keadaan ini merupakan cedera tak
stabil dengan risiko progresi yang tinggi. Fleksi lateral yang terlalu banyak dapat
menyebabkan kompresi pada setengah corpus vertebra dan distraksi pada unsur
lateral dan posterior pada sisi sebaliknya. Jika permukaan dan pedikulus remuk, lesi
bersifat tidak stabil.7
6. Translasi Horizontal
Kolumna vertebralis teriris dan segmen bagian atas atau bawah dapat bergeser ke
anteroposterior atau ke lateral. Lesi bersifat tidak stabil dan sering terjadi kerusakan
syaraf.7

II. 3. TRAUMA VERTEBRA SERVIKAL


Trauma pada vertebra servikalis lebih jarang dari pada trauma pada vertebra torakal dan
lumbal, tetapi merupakan suatu trauma yang serius dan dapat menyebabkan kematian segera oleh
karena gangguan pernafasan. Walaupun kelainan pada trauma vertebra servikalis hanya
mengenai jaringan lunak seperti whiplash, tetapi harus tetap dilakukan penanganan yang
memadai.
13

Klasifikasi trauma servikal berdasarkan mekanismenya


A. Klasifikasi berdasarkan mekanisme trauma
a. Trauma Hiperfleksi
1. Subluksasi anterior
terjadi robekan pada sebagian ligament di posterior tulang leher ; ligament
longitudinal anterior utuh. Termasuk lesi stabil. Tanda penting pada subluksasi
anterior adalah adanya angulasi ke posterior

(kifosis) local pada tempat

kerusakan ligament. Tanda-tanda lainnya :


Jarak yang melebar antara prosesus spinosus
Subluksasi sendi apofiseal

Gambar 1. Subluksasi anterior

2. Bilateral interfacetal dislocation


Terjadi robekan pada ligamen longitudinal anterior dan kumpulan ligament di
posterior tulang leher. Lesi tidak stabil. Tampak diskolasi anterior korpus
vertebrae. Dislokasi total sendi apofiseal.

14

Gambar 2. Bilateral interfacetal


dislocation
3. Flexion tear drop fracture dislocation
Tenaga fleksi murni ditambah komponen kompresi menyebabkan robekan pada
ligamen longitudinal anterior dan kumpulan ligamen posterior disertai fraktur
avulse pada bagian antero-inferior korpus vertebra. Lesi tidak stabil. Tampak
tulang servikal dalam fleksi :
Fragmen tulang berbentuk segitiga pada bagian antero-inferior
korpus vertebrae
Pembengkakan jaringan lunak pravertebral

Gambar 3. Flexion tear drop fracture dislocation


4. Wedge fracture
Vertebra terjepit sehingga berbentuk baji. Ligament longitudinal anterior dan
kumpulan ligament posterior utuh sehingga lesi ini bersifat stabil.

15

Gambar 4. Wedge fracture

5. Clay shovelers fracture


Fleksi tulang leher dimana terdapat kontraksi ligament posterior tulang leher
mengakibatkan terjadinya fraktur oblik pada prosesus spinosus ; biasanya pada
CVI-CVII atau Th1.

b. Trauma Fleksi-rotasiGambar 5. Clay Shovelers fracuter


Terjadi dislokasi interfacetal pada satu sisi. Lesi stabil walaupun terjadi kerusakan
pada ligament posterior termasuk kapsul sendi apofiseal yang bersangkutan.
Tampak dislokasi anterior korpus vertebra. Vertebra yang bersangkutan dan
vertebra proksimalnya dalam posisi oblik, sedangkan vertebra distalnya tetap dalam
posisi lateral.

16

Gambar 6. Trauma Fleksi-rotasi


a. Tampak Lateral
b. Tampak AP
c. Tampak oblik
c. Trauma Hiperekstensi
1. Fraktur dislokasi hiperekstensi
Dapat terjadi fraktur pedikel, prosesus artikularis, lamina dan prosessus spinosus.
Fraktur avulse korpus vertebra bagian postero-inferior. Lesi tidak stabil karena
terdapat kerusakan pada elemen posterior tulang leher dan ligament yang
bersangkutan.
2. Hangmans fracture
Terjadi fraktur arkus bilateral dan dislokasi anterior C2 terhadap C3.

Gambar 7. Hangmans Fracture


d. Ekstensi-rotasi
Terjadinya fraktur pada prosesus artikularis satu sisi
e. Kompresi vertical
Terjadinya fraktur ini akibat diteruskannya tenaga trauma melalui kepala, kondilus
oksipitalis, ke tulang leher.
1. Bursting fracture dari atlas (jeffersons fracture)

17

Gambar tengah
8. Jeffersons
fracture
2. Bursting fracture vertebra servikal
dan bawah

8. Bursting
vertebra servical tengah & bawah
B. KlasifikasiGambar
berdasarkan
derajatfracture
kestabilan
a. Stabil
b. Tidak stabil
Stabilitas dalam hal trauma tulang servikal dimaksudkan tetap utuhnya komponen
ligament-skeletal pada saat terjadinya pergeseran satu segmen tulang leher terhadap lainnya.
Cedera dianggap stabil jika bagian yang terkena tekanan hanya bagian medulla spinalis
anterior, komponen vertebral tidak bergeser dengan pergerakan normal, ligamen posterior tidak
rusak sehingga medulla spinalis tidak terganggu, fraktur kompresi dan burst fraktur adalah
contoh cedera stabil. Cedera tidak stabil artinya cedera yang dapat bergeser dengan gerakan
normal karena ligamen posteriornya rusak atau robek, Fraktur medulla spinalis disebut tidak
stabil jika kehilangan integritas dari ligamen posterior.
Menentukan stabil atau tidaknya fraktur membutuhkan pemeriksaan radiograf.
Pemeriksaan radiografi minimal ada 4 posisi yaitu anteroposterior, lateral, oblik kanan dan kiri.
Dalam menilai stabilitas vertebra, ada tiga unsur yamg harus dipertimbangkan yaitu kompleks
posterior (kolumna posterior), kompleks media dan kompleks anterior (kolumna anterior).

18

Pembagian bagian kolumna vertebralis adalah sebagai berikut :


1.

kolumna anterior yang terbentuk dari ligament longitudinal dan duapertiga

bagian

anterior dari corpus vertebra, diskus dan annulus vertebralis


2.

kolumna media yang terbentuk dari satupertiga bagian posterior dari corpus vertebralis,
diskus dan annulus vertebralis

kolumna posterior yang terbentuk dari pedikulus, sendi-sendi permukaan, arkus tulang posterior,
ligamen interspinosa dan supraspinosa
Jenis fraktur daerah cervical, sebagai berikut:
1. Fraktur Atlas C 1
Fraktur ini terjadi pada kecelakaan jatuh dari ketinggian dan posisi kepala menopang badan dan
daerah cervical mendapat tekanan hebat. Condylus occipitalis pada basis crani dapat
menghancurkan cincin tulang atlas. Jika tidak ada cedera angulasi dan rotasi maka pergeseran
tidak berat dan medulla spinalis tidak ikut cedera. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan adalah
posisi anteroposterior dengan mulut pasien dalam keadaan terbuka. Terapi untuk fraktur tipe
stabil seperti fraktur atlas ini adalah immobilisasi cervical dengan collar plaster selama 3 bulan,
namun jika terjadi terjadi kelaina pada sumsum tulang keadaan ini merupakan suatu kelainan
yang serius yang perlu ditangani segera dengan menggunakan traksi serta perawatan pada
perawatan dengan kelainan tertrapalegi.
2. Pergeseran C 1 C2 ( Sendi Atlantoaxial)
Atlas dan axis dihubungkan dengan ligamentum tranversalis dari atlas yang menyilang
dibelakang prosesus odontoid pada axis. Dislokasi sendi atlantoaxial dapat mengakibatkan
arthritis rheumatoid karena adanya perlunakan kemudian akan ada penekanan ligamentum
transversalis.
Fraktur dislokasi termasuk fraktur basis prosesus odontoid. Umumnya ligamentum tranversalis
masih utuh dan prosesus odontoid pindah dengan atlas dan dapat menekan medulla spinalis.
Pemeriksaan

radiologi

yang

dilakukan

adalah

posisi

anteroposterior

dengan

mulut

terbuka,pemeriksaan Tomogram dan CT-Scan. Terapi untuk fraktur tidak bergeser yaitu
imobilisasi vertebra cervical. Terapi untuk fraktur geser atlantoaxial adalah reduksi dengan traksi
continues.
19

3. Fraktur Kompresi Corpus Vertebral


Tipe kompresi lebih sering tanpa kerusakan ligamentum spinal namun dapat mengakibatkan
kompresi corpus vertebralis. Sifat fraktur ini adalah tipe tidak stabil. Terapi untuk fraktur tipe ini
adalah reduksi dengan plastic collar selama 3 minggu ( masa penyembuhan tulang)
4. Flexi Subluksasi Vertebral Cervical
Fraktur ini terjadi saat pergerakan kepala kearah depan yang tiba-tiba sehingga terjadi deselerasi
kepala karena tubrukan atau dorongan pada kepala bagian belakang, terjadi vertebra yang
miring ke depan diatas vertebra yang ada dibawahnya, ligament posterior dapat rusak dan fraktur
ini disebut subluksasi, medulla spinalis mengalami kontusio dalam waktu singkat.Tindakan yang
diberikan untuk fraktur tipe ini adalah ekstensi cervical dilanjutkan dengan imobilisasi leher
terekstensi dengan collar selama 2 bulan.
5. Fleksi dislokasi dan fraktur dislokasi cervical
Cedera ini lebih berat dibanding fleksi subluksasi. Mekanisme terjadinya fraktur hampir sama
dengan fleksi subluksasi, posterior ligamen robek dan posterior facet pada satu atau kedua sisi
kehilangan kestabilannya dengan bangunan sekitar. Jika dislokasi atau fraktur dislokasi pada C7
Th1 maka posisi ini sulit dilihat dari posisi foto lateral maka posisi yang terbaik untuk
radiografi adalah swimmer projection. Tindakan yang dilakukan adalah reduksi fleksi dislokasi
ataupun fraktur dislokasi dari fraktur cervical termasuk sulit namun traksi skull continu dapat
dipakai sementara.
6. Ekstensi Sprain ( Kesleo) Cervical (Whiplash injury)
Mekanisme cedera pada cedera jaringan lunak yang terjadi bila leher tiba-tiba tersentak ke
dalam hiperekstensi. Biasanya cedera ini terjadi setelah tertabrak dari belakang; badan
terlempar ke depan dan kepala tersentak ke belakang. Terdapat ketidaksesuaian mengenai
patologi yang tepat tetapi

kemungkinan ligamen longitudinal anterior meregang atau robek

dan diskus mungkin juga rusak. Pasien mengeluh nyeri dan kekakuan pada leher, yang refrakter
dan bertahan selama setahun atau lebih lama. Keadaan ini sering disertai dengan gejala lain
yang lebih tidak jelas, misalnya nyeri kepala, pusing, depresi, penglihatan kabur dan rasa
baal atau paraestesia pada lengan. Biasanya tidak terdapat tanda-tanda fisik, dan pemeriksaan
20

dengan sinar-X hanya memperlihatkan perubahan kecil pada postur. Tidak ada bentuk terapi
yang telah terbukti bermanfaat, pasien diberikan analgetik dan fisioterapi.
7. Fraktur Pada Cervical Ke -7 (Processus Spinosus)
Prosesus spinosus C7 lebih panjang dan prosesus ini melekat pada otot. Adanya kontraksi otot
akibat kekerasan yang sifatnya tiba-tiba akan menyebabkan avulsi prosesus spinosus yang
disebut clay shovelers fracture . Fraktur ini nyeri tetapi tak berbahaya.

II.4. TRAUMA VERTEBRA THORAKOLUMBAL


Penyebab tersering cedera torakolumbal adalah jatuh dari ketinggian serta kecelakaan lalu
lintas. Jatuh dari ketinggian dapat menimbulkan patah tulang vertebra tipe kompresi. Pada
kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi dan tenaga besar sering didapatkan berbagai
macam kombinasi gaya, yaitu fleksi, rotasi, maupun ekstensi sehingga tipe frakturnya
adalah fraktur dislokasi.6
Terdapat dua tipe berdasarkan kestabilannya, yaitu:
-

Cedera stabil : jika bagian yang terkena tekanan hanya bagian medulla spinalis
anterior, komponen vertebral tidak bergeser dengan pergerakan normal, ligamen
posterior tidak rusak sehingga medulla spinalis tidak terganggu, fraktur kompresi dan

burst fraktur adalah contoh cedera stabil.


Cedera tidak stabil : cedera yang dapat bergeser dengan gerakan normal karena
ligamen posteriornya rusak atau robek. Fraktur medulla spinalis disebut tidak stabil
jika kehilangan integritas dari ligamen posterior. Menentukan stabil atau tidaknya
fraktur membutuhkan pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan radiografi minimal ada 4
posisi yaitu anteroposterior, lateral, oblik kanan dan kiri. Dalam menilai stabilitas

21

vertebra, ada tiga unsur yamg harus dipertimbangkan yaitu kompleks posterior
(kolumna posterior), kompleks media dan kompleks anterior (kolumna anterior).6
Pembagian kolumna vertebralis adalah sebagai berikut :
3.

kolumna anterior yang terbentuk dari ligament longitudinal dan 2/3 bagian anterior
dari corpus vertebra, diskus dan annulus vertebralis.

4.

kolumna media yang terbentuk dari 1/3 bagian posterior dari corpus vertebralis, diskus
dan annulus vertebralis.

5.

kolumna posterior yang terbentuk dari pedikulus, sendi-sendi permukaan, arkus tulang
posterior, ligamen interspinosa dan supraspinosa.6

Berdasarkan mekanisme cederanya, dapat dibagi menjadi:


1.

Fraktur kompresi (Wedge fractures)


Adanya kompresi pada bagian depan corpus vertebralis yang tertekan dan membentuk
patahan irisan. Fraktur kompresi adalah fraktur tersering yang mempengaruhi kolumna
vertebra. Fraktur ini dapat disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan
posisi terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala, osteoporosis dan adanya
22

metastase kanker dari tempat lain ke vertebra kemudian membuat bagian vertebra
tersebut menjadi lemah dan akhirnya mudah mengalami fraktur kompresi. Vertebra
dengan fraktur kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya daripada ukuran
vertebra sebenarnya. 8

2. Fraktur remuk (Burst fractures)


Fraktur yang terjadi ketika ada penekanan corpus vertebralis secara langsung, dan
tulang menjadi hancur. Fragmen tulang berpotensi masuk ke kanalis spinalis.
Terminologi fraktur ini adalah menyebarnya tepi korpus vertebralis kearah luar yang
disebabkan adanya kecelakaan yang lebih berat dibanding fraktur kompresi. Tepi tulang
yang menyebar atau melebar itu akan memudahkan medulla spinalis untuk cedera dan
ada fragmen tulang yang mengarah ke medulla spinalis dan dapat menekan medulla
spinalis dan menyebabkan paralisis atau gangguan syaraf parsial. Tipe burst fracture
sering terjadi pada thoraco lumbar junction dan terjadi paralysis pada kaki dan
gangguan defekasi ataupun miksi. Diagnosis burst fracture ditegakkan dengan x-rays
dan CT scan untuk mengetahui letak fraktur dan menentukan apakah fraktur tersebut
merupakan fraktur kompresi, burst fracture atau fraktur dislokasi. Biasanya dengan scan
MRI, fraktur ini akan lebih jelas mengevaluasi trauma jaringan lunak, kerusakan
ligamen dan adanya perdarahan.9
23

3. Fraktur dislokasi
Terjadi ketika ada segmen vertebra berpindah dari tempatnya karena kompresi, rotasi
atau tekanan. Ketiga kolumna mengalami kerusakan sehingga sangat tidak stabil, cedera
ini sangat berbahaya. Terapi tergantung apakah ada atau tidaknya korda atau akar syaraf
yang rusak. Kerusakan akan terjadi pada ketiga bagian kolumna vertebralis dengan
kombinasi mekanisme kecelakaan yang terjadi yaitu adanya kompresi, penekanan,
rotasi dan proses pengelupasan. Pengelupasan komponen akan terjadi dari posterior ke
anterior dengan kerusakan parah pada ligamentum posterior, fraktur lamina, penekanan
sendi facet dan akhirnya kompresi korpus vertebra anterior. Namun dapat juga terjadi
dari bagian anterior ke posterior. kolumna vertebralis. Pada mekanisme rotasi akan
terjadi fraktur pada prosesus transversus dan bagian bawah costa. Fraktur akan melewati
lamina dan seringnya akan menyebabkan dural tears dan keluarnya serabut syaraf.2

24

Tipe fraktur

Bagian yang terkena

Stable vs Unstable

Wedge fractures

Hanya Anterior

Stable

Burst fractures

Anterior dan middle

Unstable

Fracture/dislocation injuries

Anterior, middle, posterior

Unstable

Seat belt fractures

Anterior, middle, posterior

Unstable

4.

Cedera pisau lipat (Seat belt fractures)


Sering terjadi pada kecelakaan mobil dengan kekuatan tinggi dan tiba-tiba mengerem
sehingga membuat vertebra dalam keadaan fleksi, dislokasi fraktur sering terjadi pada
thoracolumbar junction.10
Kombinasi fleksi dan distraksi dapat menyebabkan tulang belakang pertengahan
membentuk pisau lipat dengan poros yang bertumpu pada bagian kolumna anterior
vertebralis. Pada cedera sabuk pengaman, tubuh penderita terlempar kedepan melawan
tahanan tali pengikat. Korpus vertebra kemungkinan dapat hancur selanjutnya kolumna
posterior dan media akan rusak sehingga fraktur ini termasuk jenis fraktur tidak stabil.7

Tabel 1. Klasifikasi Fraktur Stabil dan Tidak Stabil

25

Gambar 6. Klasifikasi Magerl


Terdapat 3 jenis fraktur berdasarkan mekanismenya (mechanism of failure):
1. Type A
Compressive loads
2. Type B
Distraction forces
3. Type C
Multidirectional forces and translation11
II.5. CEDERA MEDULLA SPINALIS
Antara Vertebra Th I dan Th X
Segmen korda lumbal pertama pada orang dewasa berada pada tingkat vertebra T10.
Akibatnya, transeksi korda pada tingkat itu akan menghindarkan korda toraks tetapi
mengisolasikan seluruh korda, lumbal dan sakral, disertai paralisis tungkai bawah dan visera.
Akar toraks bagian bawah juga dapat mengalami transeksi tetapi tak banyak pengaruhnya.7

Di Bawah Vertebra Th X

26

Korda membentuk suatu tonjolan kecil (konus medularis) di antara vertebra T I dan LI, dan
meruncing pada ruang di antara vertebra LI dan L2. Akar saraf L2 sampai S4 muncul dari
konus medularis dan beraturan turun dalam suatu kelompok (cauda equina) untuk muncul
pada tingkat yang berurutan pada spina lumbosakral. Karena itu, cedera spinal di atas
vertebra T10 menyebabkan transeksi korda, cedera di antara vertebra T10 dan LI dapat
menyebabkan lesi korda dan lesi akar saraf, dan cedera di bawah vertebra Ll hanya
menyebabkan lesi akar saraf. 7
Akar sakral mempersarafi:
(1) sensasi dalam daerah "pelana", suatu jalur di sepanjang bagian belakang paha dan tungkai
bawah, dan dua pertiga sebelah luar telapak kaki
(2) tenaga motorik pada otot yang mengendalikan pergelangan kaki dan kaki
(3) refleks anal dan penis, respons plantar dan refleks pergelangan kaki
(4) pengendalian kencing.7
Akar lumbal mempersarafi:
(1) sensasi pada seluruh tungkai bawah selain bagian yang dipasok oleh segmen sakral
(2) tenaga motorik pada otot yang mengendalikan pinggul dan lutut
(3) refleks kremaster dan refleks lutut. 7

Bila cedera tulang berada pada sambungan torakolumbal, penting untuk membedakan antara
transeksi korda tanpa kerusakan akar saraf dan transeksi korda dengan kerusakan akar saraf.
Pasien tanpa kerusakan akar saraf jauh lebih baik.7
Lesi Korda Lengkap

27

Paralisis lengkap dan tidak ada sensasi di bawah tingkat cedera menunjukkan transeksi
korda. Selama stadium syok spinal, bila tidak ada refleks anal (tidak lebih dari 24 jam
pertama) diagnosis tidak dapat ditegakkan dan jika refleks anal pulih kembali dan defisit
saraf terus berlanjut, lesi korda bersifat lengkap. Setiap lesi korda lengkap yang berlangsung
lebih dari 72 jam tidak akan sembuh.7
Lesi Korda Tidak Lengkap
Adanya sisa sensasi apapun di bagian distal cedera (uji menusukkan peniti di daerah
perianal ) menunjukkan lesi tak lengkap sehingga prognosis baik. Penyembuhan dapat
berlanjut sampai 6 bulan setelah cedera. Penyembuhan paling sering terjadi pada sindroma
korda centra. Di bawah vertebra Th X, diskrepansi antara tingkat neurologik dan tingkat
rangka adalah akibat transeksi akar yang turun dari segmen yang lebih tinggi dari lesi
korda.12

Sindrom
Deskripsi
Anterior cord Lesi yang mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensitivitas terhadap
Brown-

nyeri, temperature namun fungsi propioseptif masih normal


Proposeptif ipsilateral normal, motorik hilang dan kehilangan sensitivitas

Sequard
nyeri dan temperatur pada sisi kontralateral
Central cord Khusus pada regio sentral, anggota gerak atas lebih lemah dibanding anggota
Dorsal cord

gerak bawah
Lesi terjadi pada bagian sensori terutama mempengaruhi propioseptif

(posterior
cord)
Conus

Cedera pada sacral cord dan nervus lumbar dengan kanalis neuralis ; arefleks

medullaris
Cauda

pada vesika urinaria, pencernaan dan anggota gerak bawah


Cedera pada daerah lumbosacral dengan kanalis neuralis yang mengakibatkan

28

equina

arefleksia vesika urinaria, pencernaan dan anggota gerak bawah


Tabel 2. Incomplete Cord Syndromes

Grading system pada cedera medulla spinalis :


1. Klasifikasi Frankel :
Grade A : motoris (-), sensoris (-)
Grade B : motoris (-), sensoris (+)
Grade C : motoris (+) dengan ROM 2 atau 3, sensoris (+)
Grade D : motoris (+) dengan ROM 4, sensoris (+)
Grade E : motoris (+) normal, sensoris (+) 8
2. Klasifikasi ASIA (American Spinal Injury Association)
Grade
A
B
C
D
E

Description
Lengkap: tidak ada sensorik maupun motorik dibawah level defisit
neurologi
Tidak lengkap : sensorik baik namun motorik nya menurun di bawah level
defisit neurology
Tidak lengkap : sensorik baik dan fungsi motorik dibawah defisit
neurology memiliki kekuatan otot dibawah 3
Tidak lengkap : sensorik baik namun kekuatan otot motoriknya lebih dari 3
atau sama dengan 3
Fungsi sensorik dan motorik normal

Tabel 3. ASIA Impairment Scale 8


II.6. DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN TRAUMA VERTEBRA
Diagnosis klinik adanya trauma vertebra didapatkan melalui anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Kecurigaan yang tinggi akan adanya cedera pada
vertebra pada pasien trauma sangat penting sampai kita mengetahui secara tepat bagaimana
mekanisme cedera pasien tersebut. Setiap pasien dengan cedera tumpul diatas klavikula,
cedera kepala atau menurunnya kesadaran, harus dicurigai adanya cedera cervical sebelum
curiga lainnya. Dan setiap pasien yang jatuh dari ketinggian atau dengan mekanisme
29

kecelakaan high-speed deceleration harus dicurigai ada cedera thoracolumbal. Selain itu
patut dicurigai pula adanya cedera medulla spinalis, jika pasien datang dengan nyeri pada
leher, tulang belakang dan gejala neurologis pada tungkai. 13
Pemeriksaan klinik pada punggung hampir selalu menunjukkan tanda-tanda fraktur
yang tak stabil namun fraktur remuk yang disertai paraplegia umunya bersifat stabil. Sifat
dan tingkat lesi tulang dapat diperlihatkan dengan sinar-X, sedangkan sifat dan tingkat lesi
saraf dengan CT atau MRI. Pemeriksaan neurologik harus dilakukan dengan amat cermat.
Tanpa informasi yang rinci, diagnosis dan prognosis yang tepat tidak mungkin ditentukan.
Pemeriksaan rektum juga harus dilakukan. Pemeriksaan tentang tanda-tanda shock juga
sangat penting. 13
Macam-macam shock yang dapat terjadi pada cadera tulang belakang :
a.

b.

c.

Hypovolemic shock yang ditandai dengan takikardia, akral dingin dan hipotensi jika
sudah lanjut.
Neurogenic shock adalah hilangnya aktivitas simpatis yang ditandai dengan hipotensi,
bradikardi.
Spinal shock : disfungsi dari medulla spinalis yang ditandai dengan hilangnya fungsi
sensoris dan motoris. Keadaan ini akan kembali normal tidak lebih dari 48 jam.13

Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan:


1. Roentgenography: pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat tulang vertebra, untuk melihat
adanya fraktur ataupun pergeeseran pada vertebra.
2. Computerized Tomography : pemeriksaan ini sifatnya membuat gambar vertebra 2
dimensi . Pemeriksaan vertebra dilakukan dengan melihat irisan-irisan yang dihasilkan CT
scan.

30

3. Magnetic Resonance Imaging: pemeriksaan ini menggunakan gelombang frekuensi radio


untuk memberikan informasi detail mengenai jaringan lunak di daerah vertebra. Gambaran
yang akan dihasilkan adalah gambaran 3 dimensi . MRI sering digunakan untuk mengetahui
kerusakan jaringan lunak pada ligament dan discus intervertebralis dan menilai cedera
medulla spinalis.13

II.7. PENANGANAN DAN TERAPI


Pertolongan pertama dan penanganan darurat trauma spinal terdiri atas: penilaian
kesadaran, jalan nafas, pernafasan, sirkulasi, kemungkinan adanya perdarahan dan segera
mengirim penderita ke unit trauma spinal ( jika ada). Selanjutnya dilakukan pemeriksaan
klinik secara teliti meliputi pemeriksaan neurologis fungsi motorik, sensorik dan reflek
untuk mengetahui kemungkinan adanya fraktur pada vertebra.2
Terapi pada trauma vertebra diawali dengan mengatasi nyeri dan stabilisasi untuk mencegah
kerusakan yang lebih parah lagi, semuanya tergantung dari tipe fraktur.
1. Braces & Orthotics
Ada tiga hal yang dilakukan yakni,
a. mempertahankan kesejajaran vertebra (alignment)
b. imobilisasi vertebra dalam masa penyembuhan
c. mengatasi rasa nyeri yang dirasakan dengan membatasi pergerakan.
Fraktur yang sifatnya stabil membutuhkan stabilisasi, sebagai contoh; brace rigid collar
(Miami J) untuk fraktur cervical, cervical-thoracic brace (Minerva) untuk fraktur pada
punggung bagian atas, thoracolumbar-sacral orthosis (TLSO) untuk fraktur punggung
bagian bawah, dalam waktu 8 sampai 12 minggu brace akan terputus, umumnya fraktur
pada leher yang sifatnya tidak stabil ataupun mengalami dislokasi memerlukan traksi,
halo ring dan vest brace untuk mengembalikan kesejajaran.3
31

2. Pemasangan alat dan proses penyatuan (fusion).


Teknik ini adalah teknik pembedahan yang dipakai untuk fraktur tidak stabil. Fusion
adalah proses penggabungan dua vertebra dengan adanya bone graft dibantu dengan alatalat seperti plat, rods, hooks dan pedicle screws. Hasil dari bone graft adalah penyatuan
vertebra dibagian atas dan bawah dari bagian yang disambung. Penyatuan ini
memerlukan waktu beberapa bulan atau lebih lama lagi untuk menghasilkan penyatuan
yang solid. 3

3. Vertebroplasty & Kyphoplasty


Tindakan ini adalah prosedur invasi yang minimal. Pada prinsipnya teknik ini digunakan
pada fraktur kompresi yang disebabkan osteoporosis dan tumor vertebra. Pada
vertebroplasti bone cement diinjeksikan melalui lubang jarum menuju corpus vertebra
sedangkan pada kypoplasti, sebuah balon dimasukkan, dikembungkan untuk melebarkan
vertebra yang terkompresi sebelum celah tersebut diisi dengan bone cement.3

32

Pengelolaan penderita dengan paralisis meliputi :


a.

Pengelolaan kandung kemih dengan pemberian cairan yang cukup, kateterisasi


tetapatau intermiten, dan evakuasi kandung kemih dengan kompresi supra pubik

b.

c.
d.

e.
f.

setelah2 minggu
Pengelolaan saluran pencernaan dengan pemberian laksansia atau enema setiap hari
atau setiap dua hari
Monitoring cairan masuk dan cairan yang keluar dari tubuh
Pemberian nutrsi yang baik dengan diet tinggi protein tinggi, cairan secara intravena,
kalsiumdan transfuse
Cegah decubitus
Fisioterapi untuk mencegah kontraktur 2
BAB III
PENUTUP

Vertebra pada orang dewasa terdiri dari 33 vertebra dengan pembagian 5 regio yaitu 7
cervical, 12 thoracal, 5 lumbal, 5 sacral, 4 coccigeal.1 Fungsi vertebra yaitu melindungi medulla
spinalis dan serabut saraf, menyokong berat badan dan berperan dalam perubahan posisi tubuh.
Pada cedera tulang belakang, mekanisme cedera yang mungkin adalah: Hiperekstensi
(kombinasi distraksi dan ekstensi), fleksi, fleksi dan kompresi digabungkan dengan distraksi
posterior, kompresi, rotasi-fleksi, translasi horizontal.
Penyebab tersering cedera torakolumbal adalah jatuh dari ketinggian serta kecelakaan lalu
lintas. Jatuh dari ketinggian dapat menimbulkan patah tulang vertebra tipe kompresi. Pada
kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi dan tenaga besar sering didapatkan berbagai
macam kombinasi gaya, yaitu fleksi, rotasi, maupun ekstensi sehingga tipe frakturnya adalah
fraktur dislokasi.6 Terdapat dua tipe berdasarkan kestabilannya, yaitu: cedera stabil, cedera tidak
stabil.

33

Berdasarkan mekanisme cederanya, dapat dibagi menjadi: Fraktur kompresi (Wedge


fractures), Fraktur remuk (Burst Fracture), fraktur dislokasi, Seat Belt Fracture.
Diagnosis klinik adanya cedera vertebra didapatkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang. Pertolongan pertama dan penanganan darurat trauma spinal terdiri
atas: penilaian kesadaran, jalan nafas, pernafasan, sirkulasi, kemungkinan adanya perdarahan.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan neurologis fungsi motorik, sensorik dan reflek untuk
mengetahui kemungkinan adanya fraktur pada vertebra.2
Terapi pada fraktur vertebra diawali dengan mengatasi nyeri dan stabilisasi untuk
mencegah kerusakan yang lebih parah lagi, semuanya tergantung dari tipe fraktur : Braces &
Orthotics, Pemasangan alat dan prosoes penyatuan (fusion), Vertebroplasty & Kyphoplasty

34

DAFTAR PUSTAKA
1.

Moore K. Essential Clinical Anatomy. Second Edition. Baltimore: Williams and Wilkins.
2002

2.

Rasjad C. Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Lamumpatue. 2003

3.

Roper S. Spine Fracture. In: Dept. Neurosurgery Unversity of Florida. (Last updated:
2003;

accesed:

14

April

2012).

Available

from

http://www.neurosurgery.ufl.edu/Patients/fracture.shtml
4.

Harna. Trauma Medulla Spinalis. (Last updated: 2008; accesed: 14 April 2012). Available from :

5.

http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/17/trauma-medula-spinalis/.
Schreiber, D. Spinal Cord Injury. (Last updated: 2004; accesed: 14 April 2012). Available from :

6.
7.

http://emedicine.medscape.com/article/793582-overview.
Jong, W.D, Samsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. 2005; 870-874.
Apley,A.Graham. Apleys System O Orthopaedic And Fracture.Seventh Edition. London:

8.

Butterworth Scientific. 2000; 658-665.


Young W. Spinal Cord Injury Level And Classification. (Last updated: 2000; accesed: 14 April

9.

2012). Available from : http://www.neurosurgery.ufl.edu/Patients/fracture.shtml


Deblick T. Burst Fracture. (Last updated: 2001; accesed: 14 April 2012). Available from :
http://www.emedicine.medscape.com/specialties

35

10.

Claire M. The Three Column Concept. (Last updated: 2005; accesed: 14 April 2012). Available

11.

from: http://www.spineuniverse/columnconcept.html
Rimel R.W. An Educational Training Program for the Care at the Site of Injury of Trauma to

12.

Central Nervous System. 2001; 9:23-28.


Thomas, V.M. Thoracolumbal Vertebral Fracture. Journal of Orthopaedics. (Last updated: 2004;

13.

accesed: 14 April 2012). Available from : http://www.jortho.org/index.html


Kuntz C. Spine Fracture. Emedicine Journals. (Last updated: 2004; accesed: 14 April 2012).
Available from : http://www.emedicine.com/orthoped/topic567.htm

14. Japardi I. Cervical Injury : FK USU. Last updated 2002. http://www.Bedah-

iskandar

Japardi7.pdf. download at 08-10-2010

36