Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Dasar
Dispnea atau sesak nafas merupakan keadaan yang sering ditemukan
pada penyakit paru maupun jantung. Bila nyeri dada merupakan keluhan yang
paling dominan pada penyakit paru. Akan tetapi kedua gejala ini jelas dapat
dilihat pada emboli paru,bahkan sesak napas merupakan gejala utama pada
payah jantung.
Secara

umum

yang

dimaksud

dispnea

adalah

kesulitan

bernapas,kesulitan bernapas ini terlihat dengan adanya kontraksi dari otot-otot


pernapasan tambahan. Perubahan ini biasanya terjadi dengan lambat, akan
tetapi dapat pula terjadi dengan cepat.
Berat ringannya dispnea tidak dapat diukur dan kadang-kadang sulit
untuk dinilai, sehingga dokter yang memeriksa akan timbul pertanyaan sebagai
berikut:
Dispnea merupakan suatu perasaan yang subyektif dari pasien atau
berhubungan dengan suatu penyakit.
Apakah yang dinilai ini bukannya suatu takipnea atau hiperpnea atau suatu
tipe pernapasan yang lain, misalnya pernapasan cheyne stoke.
Apakah yang terjadi bukannya hanya suatu rasa nyeri saja, sehingga
penderita takut untuk bernapas dalam.
Sulit untuk menilai apakah suatu dispnea bersifat fisiologi atau patologi.
Akan tetapi terdapat beberapa pegangan untuk menilai dispnea yang patologi,
yakni sebagai berikut:
Berdasarkan riwayat penyakit apakah dispnea tersebut terjadi secara
mendadak.
Apakah dispnea tersebut terjadi secara berulang (recurrent).
Waktu terjadinya dispnea menentukan pula apakah setelah bekerja berat
atau terjadi tiba-tiba pada tengah malam.
Sedangkan berdasarkan riwayat penyakit yang mendukung terjadimya
dispnea yang bersifat subyektif, yakni bila terjadinya dispnea berhubungan
banyak dengan umur, seperti misalnya dalam menjalankan pekerjaan yang
tidak sebanding dengan usia.

2.1.1 Klasifikasi Dispnea


Dispnea dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Inspiratori dispnea, yakni kesukaran bernapas pada waktu inspirasi


yang disebabkan oleh karena sulitnya udara untuk memasuki paruparu.

Ekspiratori dispnea, yakni kesukaran bernapas pada waktu


ekspirasi yang disebabkan oleh karena sulitnya udara yang keluar
dari paru-paru.

Kardiak dispnea, yakni dispnea yang disebabkan primer penyakit


jantung.

Exertional dispnea, yakni dispnea yang disebabkan oleh karena


olahraga.

Exspansional dispnea, dispnea yang disebabkan oleh karena


kesulitan exspansi dari rongga toraks.

Paroksismal dispnea, yakni dispnea yang terjadi sewaktu-waktu,


baik pada malam maupun siang hari.

Ortostatik dispnea, yakni dispnea yang berkurang pada waktu posisi


duduk.
Pembagian tersebut di atas tidak berdasarkan atas klasifikasi

etiologi maupun tipe dispnea, akan tetapi istilah-istilah tersebut sering


dipergunakan.
Berdasarkan etiologi maka dispnea dapat dibagi menjadi 4
bagian, yakni:

Kardiak dispnea, yakni dispnea yang disebabkan oleh karena adanya


kelainan pada jantung.

Pulmunal dispnea, dispnea yang terjadi pada penyakit jantung.

Hematogenous, dispnea yang disebabkan oleh karena adanya asidosis,


anemia atau anoksia, biasanya dispnea ini berhubungan dengan
exertional (latihan).

Neurogenik, dispnea terjadi oleh karena kerusakan pada jaringan otototot pernapa

Fisiologi

Yang dimaksud dengan dispnea adalah kesulitan bernapas yang


disebabkan karena suplai oksigen ke dalam jeringan tubuh tidak
sebanding dengan oksigen kedalam jaringan tubuh tidak sebanding
dengan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh.
Patofisiologi dari dispnea yakni:
Kekurangan oksigen (O2)
a. Penyebab dari kekurangan oksigen dapat di bagi atas:

Tekanan oksigen inspirasi yang rendah, misalnya pada


tempat yang sangat tinggi, respirasi dengan gas-gas yang
berbahaya, ruang dekompresi, atau karena bertambahnya
volume dead space.

Gangguan konduksi maupun difusi gas ke paru-paru.

Gangguan pertukaran gas dan hipoventilasi.

b. Pertukaran gas di dalam paru-paru normal, tetapi kadar oksigen


didalam paru-paru berkurang.
c. Stagnasi dari aliran darah.
Kelebihan Karbon Dioksida (CO2)
Karena terdapatnya shunting pada COPD sehingga menyebabkan
terjadinya aliran dari kanan ke kiri.
Tingkat-Tingkat Dispnea
Dispnea dapat dibagi atas dua dasar, yakni:
Atas dasar klinis
Pembagian ini berdasarkan New York Heart Association dan dapat
dibagi menjadi empat tingkatan, yakni:
Tingkat 1 : bila dispnea tidak membatasi aktivitas artinya kebutuhan
oksigen baik pada masa istirahat maupun pada masa setelah latihan
dapat dikompensasi oleh paru-paru.
Tingkat 2 : terjadi pembatasan yang ringan darin fungsi paru,
artinya pada penderita yang melakukan aktivitas fisik dapat terjadi
dispnea, akan tetapi pada waktu istirahat tidak terjadi dispnea.
Tingkat 3 : aktivitas fisik penderita sangat terbatas dan dengan
aktivitas fisik yang ringan saja sudah dapat menimbulkan sesak
napas.
Tingkat 4 : dispnea terjadi pada keadaan istirahat. Kerja yang ringan
akan memperberat keadaan dispneanya.

Atas Dasar Pemeriksaan Paru-Paru


Dispnea dapat dibagi menjadi dua, yakni:
Obstruksi dispnea, yakni dispnea yang terjadi karena adanya
kelainan dari fungsi obstruksi paru.
Berdasarkan nilai restriktif maka dispnea dapat dibagi atas
(angka-angka di bawah adalah presentase dari normal):
-

Restriktiif normal

Restriktif ringan sampai sedang

Restriktif sedang

Restriktif berat

Atas Dasar Terjadinya


Dispnea dapat dibagi menjadi dua, yakni:
o Dispnea yand terjadi mendadak, biasanya disebabkan oleh
karena emboli paru, pneumothoraks, atau obstruksi jalan napas.
o Dispnea yang terjadi secara perlahan-lahan, biasanya disebabkan
oleh karna payah jantung dan efusi pleura.
Atas Dasar Respirasi
Dispnea dapat dibagi menjadi dua, yakni:
o Dispnea inspirasi
o Dispnea ekspirasi
Evaluasi
Dari pemeriksaan fisik terlihat bahwa pasien menggunakan otot-otot
pernapasan tambahan. Ekspirasi maupun inspirasi tergantung kepada
tipe dari dispnea. Pemeriksaan yang dilakukan adalah sangat luas,
akan tetapi dapat digolongkan menjadi 7 bagian, yakni:
o Tanda-tanda yang menyokong pada paru-paru
-

Wheezing

Ronchi

o Tanda-tanda yang menyokong adanya dispnea


-

Cuping hidung yang bergerak

Sianosis

o Pemeriksaan laboratorium
-

EKG

o Pemeriksaan fungsi paru dan analisis gas.


o Pemeriksaan skantigrafi.
o Pemeriksaan pemeriksaan infasif jantung.