Anda di halaman 1dari 13

Hama Penyakit Tanaman Jagung - Tanaman jagung merupakan salah satu

komoditas pertanian subsektor tanaman pangan. Pada saat proses produksi atau
dalam fase budidaya, tanaman jagung juga tidak luput dari serangan hama
penyakit, seperti halnya tanaman pertanian lain. Kerugian akibat serangan hama
penyakit jagung bisa dibilang tidak kecil, bahkan beberapa diantaranya
berpotensi menimbulkan kegagalan panen. Oleh karena itu, penanganan tepat
terhadap serangan hama dan penyakit tanaman jagung akan meningkatkan hasil
produksi petani. Pada artikel ini akan kami uraikan satu per satu hama dan
penyakit yang biasa menyerang tanaman jagung di areal budidaya.
Hama Tanaman Jagung
Hama tanaman pada budidaya jagung meliputi hama ulat tanah , ulat grayak,
belalang, kumbang bubuk, lalat bibit, penggerek tongkol, penggerek batang,
serta kutu daun. Hama ini berpotensi menggagalkan panen jika tidak dapat
dikendalikan. Sebagai petani, pengamatan maupun pemahaman mengenai
masing-masing hama perlu dipelajari agar selama proses budidaya jagung dapat
mengendalikan serangan hama sehingga hasil produksi jagung meningkat.
Ulat Tanah (Agrotis sp.)
Hama jenis ini menyerang tanaman jagung muda di malam hari, sedangkan
siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Ulat tanah menyerang batang
tanaman jagung muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan
juga sebagai ulat pemotong. Pengendalian hama ulat pada budidaya jagung
dapat dilakukan menggunakan insektisida biologi dari golongan bakteri seperti
Bacilius thuringiensis atau insektisida biologi dari golongan jamur seperti
Beauvaria bassiana. Secara kimiawi pengendalian hama ulat bisa dilakukan
dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos,
sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai
petunjuk di kemasan.
Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis)
Belalang yang menyerang tanaman jagung ada dua jenis, yaitu Locusta sp., dan
Oxya chinensis. Seperti halnya ulat tanah, hama jenis ini menyerang tanaman
jagung saat masih muda, dengan cara memakan tunas jagung muda (baru
tumbuh). Hama belalang pada tanaman jagung merupakan hama migran,
dimana tingkat kerusakannya tergantung dari jumlah populasi serta tipe
tanaman yang diserang.
Gejala Serangan :
Hama ini menyerang terutama di bagian daun, daun terlihat rusak karena
serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak serta belalang sedang
dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan tanaman jagung
sekaligus sampai tulangtulang daunnya.
Pengendalian hama belalang pada budidaya jagung secara kimiawi bisa
dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos,

sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai


petunjuk di kemasan.
Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)
Kerusakan biji oleh kumbang bubuk dapat mencapai 85% dengan penyusutan
bobot biji 17%. Sitophilus zeamais Motsch dikenal dengan maize weevil atau
kumbang bubuk, merupakan serangga polifag (memiliki banyak tanaman inang).
Selain menyerang jagung, hama kumbang bubuk juga menyerang beras,
gandum, kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa maupun jambu
mente. S. Zeamais lebih dominan menyerang jagung dan beras. S. Zeamais
merusak biji jagung saat penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol
jagung di lahan.
Telur diletakkan satu per satu di lubang gerekan di dalam biji, Keperidian imago
sekitar 300-400 butir telur, stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 25C.
Larva menggerek biji jagung serta hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari
pada suhu 25C, kelembaban nisbi 70%. Pupa terbentuk di dalam biji jagung
dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari.
Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum
membuat lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu sekitar 35 bulan jika tersedia makanan, sekitar 36 hari jika tanpa makan.
Siklus hidup sekitar 30-45 hari saat kondisi suhu optimum 29C, kadar air biji
14% serta kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila
bahan simpanan kadar airnya di atas 15%.
Pengendalian
a) Pengelolaan Tanaman
Serangan selama tanaman masih di lahan dapat terjadi jika tongkol terbuka.
Tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupuk rendah menyebabkan
tanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang
bubuk. Panen tepat waktu saat jagung mencapai masak fisiologis dapat
mencegah Sitophilus zeamais, karena pemanenan tertunda dapat menyebabkan
meningkatnya kerusakan biji jagung saat penyimpanan.
b) Varietas Resisten/Tahan
Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan
asam aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk, serta penggunaan
varietas berpenutup kelobot yang baik.
c) Kebersihan dan Pengelolaan Gudang
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi
sesudah gudang tersebut kosong. Untuk itu harus dibersihkan semua struktur
gudang serta membakar semua biji yang terkontaminasi. Biji-biji terkontaminasi
ini dijauhkan dari area gudang, lalu dimusnahkan. Selain itu, karung-karung

bekas yang masih berisi sisa biji jagung juga harus dibuang. Semua struktur
gudang diperbaiki, termasuk dinding retak, dimana serangga dapat bersembunyi
di dinding retak. Pada dinding maupun plafon gudang disemprot menggunakan
insektisida.
d) Persiapan Biji Jagung Simpanan
Sebelum penyimpanan, perhatikan kadar air dalam biji jagung. Kadar air biji
12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Perkembangan
populasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih.
e) Fisik dan Mekanis
Ketika suhu lebih rendah dari 50C dan di atas 35C perkembangan serangga
akan berhenti. Penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk.
Sortasi dilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga
dengan biji sehat (utuh).
f) Bahan Tanaman
Pengendalian hama kumbang bubuk selama budidaya jagung dapat
menggunakan bahan organik dari tanaman, seperti daun Annona sp., Hyptis
spricigera, Lantana camara, daun Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata,
akar dari Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp.,
Capsicum sp., maupun tepung biji dari Annona sp. dan Melia sp.
g) Hayati
Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti
Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat
mencapai kematian 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae
juga mampu menekan kumbang bubuk.
h) Fumigasi
Fumigan merupakan senyawa kimia dimana senyawa ini dalam suhu serta
tekanan tertentu berbentuk gas. Fumigan dapat membunuh serangga/hama
melalui sistem pernapasan. Fumigasi dapat dilakukan di tumpukan komoditas
jagung kemudian ditutup rapat menggunakan lembaran plastik. Fumigasi dapat
pula dilakukan saat penyimpanan kedap udara seperti penyimpanan dalam silo,
menggunakan kaleng kedap udara atau pengemasan menggunakan jerigen
plastik, botol yang diisi sampai penuh kemudian mulut botol atau jerigen dilapisi
parafin untuk penyimpanan skala kecil. Fumigasi menggunakan phospine (PH3),
atau Methyl Bromida (CH3Br).
Lalat Bibit (Atherigona sp.)
Artikel Terkait :
Jagung
Mengenal Tanaman Jagung

Budidaya Jagung
Hama dan Penyakit Cengkeh
Hama dan Penyakit Durian
Hama dan Penyakit Cabe
Hama dan Penyakit Jagung
Hama dan Penyakit Kentang
Hama Jahe
Penyakit Jahe
Penyakit Patek atau Antraknosa
Lalat Buah (Bactrocera sp.)
Thrips
Tungau (Mites)
Virus Tanaman
Lalat bibit yang menyerang tanaman jagung hanya ditemukan di daerah Jawa
dan Sumatera. Lalat bibit dapat merusak pertanaman jagung hingga 80%
bahkan lebih (puso). Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai
23 hari, serangga betina hidup dua kali lebih lama daripada serangga jantan.
Serangga dewasa sangat aktif terbang serta sangat tertarik dengan kecambah
atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. Imago kecil
berukuran panjang 2,5-4,5 mm.
Telur Imago betina mulai meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin
dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago
betina meletakkan telurnya selama tiga sampai tujuh hari. Telur ini diletakkan
secara tunggal, berwarna putih, memanjang, serta diletakkan di bawah
permukaan daun.
Awalnya, larva terdiri dari tiga instar berwarna putih krem, selanjutnya menjadi
kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi batang,
kemudian membuat terowongan sampai dasar batang, sehingga tanaman
menjadi kuning, akhirnya mati.
Pupa terdapat di pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah, umur
pupa 12 hari. Puparium berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat,
memiliki ukuran panjang 4,1 mm.
Gejala :
Tanaman muda menguning karena larva yang baru menetas melubangi batang,
kemudian membuat terowongan hingga ke dasar batang sehingga tanaman
menguning, akhirnya mati. Jika tanaman mengalami proses pemulihan, maka
pertumbuhannya akan kerdil.

Pengendalian
a) Hayati
- Parasitoid Trichogramma spp. memarasit telur, Opius sp. dan Tetrastichus sp.
memarasit larva
- Predator Clubiona japonicola, merupakan predator imago.
b) Kultur Teknis
Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan saat musim
hujan, secara kultur tenis dapat melakukan pengubahan waktu tanam, pergiliran
tanaman, atau melakukan tanam serempak.
c) Varietas Resisten
- Galur jagung QPM putih tahan lalat bibit adalah MSQ-P1(S1)-C1-11, MSQP1(S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45,
- Galur jagung QPM kuning adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQK1(S1)-C1-50.
d) Kimiawi
Pengendalian menggunakan insektisida dapat dilakukan saat perlakuan benih
menggunakan thiodikarb (dosis 7,5-15 g b.a./kg benih) atau karbofuran (dosis 6
g b.a./kg benih). Selanjutnya setelah tanaman jagung berumur 5-7 hari, tanaman
disemprot menggunakan karbosulfan (dosis 0,2 kg b.a./ha) atau thiodikarb (0,75
kg b.a/ha). Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik.

Ulat Grayak (Spodoptera sp.)


Larva kecil merusak daun serta menyerang secara serentak bergerombol dengan
meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan bahkan tinggal tulang
daunnya saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya
terjadi saat musim kemarau.
Pengendalian secara fisik menggunakan alat perangkap ngengat sex feromonoid
sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berumur 2 minggu.
Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami
seperti : Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea
rileyi, atau Metarhizium anisopliae. Dapat juga dari golongan bakteri seperti
Bacillus thuringensis. Pemanfaatan patogen virus untuk ulat ini juga dapat
dilakukan menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura - Nuclear Polyhedrosis Virus).
Parasit lain yang dapat dimanfaatkan adalah Parasitoid Apanteles sp., Telenomus
spodopterae, Microplistis similis, atau Peribeae sp.
Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan
aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin.

Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.


Kemampuan ulat grayak merusak tanaman jagung berkisar antara 5-50%.
Ngengat aktif saat malam hari, sayap bagian depan berwarna coklat atau
keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan. Telur berbentuk hampir
bulat dengan bagian datar melekat di bagian daun (kadang tersusun 2 lapis),
warnanya coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25500
butir) tertutup bulu seperti beludru.
Larva mempunyai warna bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau
muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan serta hidup secara
bergerombol. Ulat menyerang tanaman jagung di malam hari, saat siang hari
bersembunyi dalam tanah (tempat lembab). Biasanya ulat berpindah ke
tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.
Pupa, ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa
(kokon) berwana coklat kemerahan, memiliki panjang sekitar 1,6 cm. Siklus
hidup berkisar antara 3060 hari (lama stadium telur 24 hari, larva yang terdiri
dari 5 instar : 2046 hari, pupa 811 hari).
Tanaman inang hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tanaman
tomat, kubis, cabe, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam,
padi, tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias,
gulmaLimnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., Trema sp.
Penggerek Tongkol (Heliotis armigera, Helicoverpa armigera.)
Imago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Rata-rata
produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari
setelah diletakkan dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk ke
dalam tongkol jagung lalu memakan biji yang sedang mengalami perkembangan.
Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas mupun kuantitas tongkol
jagung.
Pada lubanglubang bekas gorokan hama ini terdapat kotorankotoran yang
berasal dari hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang bagian
tangkai bunga.
Musuh alami sebagai pengendali hayati serta cukup efektif untuk mengendalikan
penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma sp. ( parasit telur) atau Eriborus
argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit larva muda.
Pengendalian kimiawi hama ulat grayak efektif dilakukan setelah terbentuk
rambut jagung pada tongkol dan selang 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna
coklat.
Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)
Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung di seluruh fase
pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangan pnggerek batang dapat

mencapai 80%. Ngengat aktif di malam hari, serta menghasilkan beberapa


generasi pertahun, umur imago/ngengat dewasa 7-11 hari. Telurberwarna
putih, diletakkan berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir,
seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4
hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung
yang tinggi, telur diletakkan di permukaan bagian bawah daun, utamanya pada
daun ke 5-9, umur telur 3-4 hari.
Larva (baru menetas) berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindahpindah, larva muda memakan bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut
menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam
batang, berwarna coklat kemerah-merahan, umur pupa 6-9 hari.
Gejala Serangan
Larva O. Furnacalis ini mempunyai karakteristik membuat kerusakan di setiap
bagian tanaman jagung yaitu membentuk lubang kecil pada daun, lubang
gorokan di batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang
mudah patah, serta tumpukan tassel yang rusak.
Pengendalian
Kultur teknis
Waktu tanam tepat
Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman)
Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti :
- Parasitoid Trichogramma sp.. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O.
Furnacalis.
- Predator Euborellia annulata. Predator ini selain memangsa larva juga pupa O.
Furnacalis.
- Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. Furnacalis,
- Cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan
larva O. Furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.
Kimiawi
Penggunaan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, atau
karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung.
Kutu Daun (Mysus persicae)
Hama kutu daun pada tanaman jagung adalah Mysus persicae. Hama ini
mengisap cairan tanaman jagung terutama pada daun muda, kotorannya berasa
manis sehingga mengundang semut serta berpotensi menimbulkan serangan

sekunder yaitu cendawan jelaga. Serangan parah menyebabkan daun tanaman


mengalami klorosis(menguning), serta menggulung. Kutu daun Mysus juga
menjadi serangga vektor penular virus mosaik.
Pengendalian hama kutu daun Mysus persicae dapat menggunakan insektisida
berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin,
atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.
Peyakit Tanaman Jagung
Seperti halnya hama tanaman jagung, penyakit yang menyerang selama
budidaya jagung juga berpotensi menimbulkan kerugian. Serangan parah
penyakit-penyakit ini jika tidak dikendalikan dapat menurunkan hasil produksi
jagung sehingga juga menurunkan pendapatan petani. Adapun penyakit
tanaman jagun biasanya disebabkan oleh serangan hawar daun, busuk pelepah,
penyakit bulai, busuk tongkol, busuk batang, karat daun, bercak daun, serta
virus.
Hawar Daun (Helmithosporium turcicum)
Gejala
Awal terinfeksinya hawar daun, menunjukkan gejala berupa bercak kecil,
berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan
berkembang menjadi nekrotik (disebut hawar), warnanya hijau keabu-abuan atau
coklat. Panjang hawar 2,5-15 cm, bercak muncul di mulai dari daun terbawah
kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat akibat serangan penyakit
hawar daun dapat mengakibatkan tanaman jagung cepat mati atau mengering.
Cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot jagung, cendawan dapat
bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau sisa-sisa
tanaman di lahan.
Penyebab
Penyakit hawar daun disebabkan oleh Helminthosporium turcicum.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan hawar daun, seperti : Bisma, Pioner-2, pioner-14,
Semar-2 dan semar-5.
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman)
pada tanaman terinfeksi bercak daun.
- Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif mankozeb atau
dithiocarbamate. Dosis/konentrasi sesuai petunjuk di kemasan.
Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani)
Gejala
Penyakit busuk pelepah pada budidaya jagung umumnya terjadi di pelepah
daun, gejalanya terdapat bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah
menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas, seringkali diikuti pembentukan
sklerotium berbentuk tidak beraturan, berwarna putih kemudian berubah

menjadi cokelat.
Gejala serangan penyakit ini dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat
dengan permukaan tanah kemudian menjalar ke bagian atas. Penanaman
varietas tidak tahan penyakit ini (rentan), serangan cendawan penyebab busuk
pelepah dapat mencapai pucuk atau tongkol jagung. Cendawan ini bertahan
hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji jagung, di dalam tanah serta
pada sisa-sisa tanaman di lahan. Keadaan tanah basah, lembab, serta drainase
kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium dan sklerotia, sehingga
kondisi semacam ini merupakan sumber inokulum utama.
Penyebab
Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizoctonia solani.

Pengendalian
- Menggunakan varietas/galur tahan sampai agak tahan terhadap penyakit
hawar pelepah seperti : Semar-2, Rama, Galur GM 27
- Diusahakan agar penanaman jagung tidak terlalu rapat sehingga kelembaban
tidak terlalu tinggi
- Lahan memiliki drainase baik
- Pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama
- Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif mancozeb atau
karbendazim. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.
Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)
Penyakit bulai merupakan penyakit utama budidaya jagung. Penyakit ini
menyerang tanaman jagung khususnya varietas rentan hama penyakit serta
saat umur tanaman jagung masih muda (antara 1-2 minggu setelah tanam).
Kehilangan hasil produksi akibat penularan penyakit bulai dapat mencapai 100%,
terutama varietas rentan.
Gejala
Gejala khas penyakit bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar
tulang daun dengan batas terlihat jelas antara daun sehat. Bagian daun
permukaan atas maupun bawah terdapat warna putih seperti tepung, sangat
jelas di pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat,
termasuk pembentukan tongkol buah, bahkan tongkol tidak terbentuk, daundaun menggulung serta terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun
yang berlebihan.
Penyakit bulai tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik dimana gejalanya
meluas ke seluruh bagian tanaman jagung serta menimbulkan gejala lokal
(setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh
sehingga semua daun akan terinfeksi. Tanaman terinfeksi penyakit bulai saat

umur tanaman masih muda umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila
terinfeksi saat tanaman sudah tua masih dapat terbentuk buah, sekalipun
buahnya kecil-kecil karena umumnya pertumbuhan tanaman mengerdil.
Penyebab
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis
dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan
Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera
Utara serta di Batu Malang Jawa Timur.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan penyakit bulai seperti varietas Bima 1, Bima 3, Bima
9, Bima 14, Bima 15, Lagaligo, atau Gumarang
- Melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai
satu bulan
- Penanaman jagung secara serempak
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman)
pada tanaman terserang penyakit bulai
- Penggunaan fungisida metalaksil saat perlakuan benih dengan dosis 2 gram
(0,7 g bahan aktif) per kg benih
Busuk Tongkol

a. Busuk tongkol Fusarium


Gejala
Gejala penyakit ini ditandai permukaan biji tongkol jagung berwarna merah
jambu sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti
kapas berwarna merah jambu. Cendawan berkembang baik pada sisa tanaman
maupun di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, penyebarannya
dapat melalui angin atau tanah.
Penyakit busuk tongkol Fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium
moniliforme.
b. Busuk tongkol Diplodia
Gejala
Serangan busuk tongkol diplodia ditandai adanya warna coklat pada klobot. Jika
infeksi terjadi setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung menyebabkan biji
berubah menjadi coklat, kisut akhirnya busuk. Miselium cendawan diplodia
berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai
dari dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan
biji serta menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora
dan piknidia berdinding tebal pada sisa tanaman di lahan.
Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia
maydis.

c. Busuk tongkol Gibberella


Gejala
Serangan dini pada tongkol jagung dapat menyebabkan tongkol jagung menjadi
busuk, kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, serta buahnya berwarna
biru hitam di permukaan kelobot maupun bongkol.
Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella
roseum.
Pengendalian :
- Menggunakan pemupukan berimbang.
- Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lahan, jika musim hujan
bagian batang di bawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah ke
atas.
- Pergiliran tanaman mengunakan tanaman bukan termasuk padi-padian, karena
patogen ini mempunyai banyak tanaman inang.
Busuk Batang
Gejala
Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan pada varietas
rentan hingga 65%. Tanaman jagung terserang penyakit ini tampak layu atau
kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif,
yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang terserang berubah warna dari
hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam batang busuk, sehingga mudah rebah,
serta bagian kulit luarnya tipis. Pangkal batang teriserang akan memperlihatkan
warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.
Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan
seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium
moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum,
Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi Selatan,
penyebab penyakit busuk batang yang telah berhasil diisolasi adalah Diplodia
sp., Fusarium sp. dan Macrophomina sp.
Penularan
Cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada
permukaan tanaman inangnya. Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan
ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan
pada sisa-sisa tanaman terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia
yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya,
spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman
jagung akan tumbuh lalu menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang.
Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria, serta mampu
masuk ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat
menginfeksi ke tongkol jagung. Akibat lebih kanjut, biji terinfeksi jika ditanam
dapat menyebabkan penyakit busuk batang.

Pengendalian
- Menanam varietas tahan serangan penyakit busuk batang seperti BISI-1, BISI-4,
BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923, Pioneer-8,
Pioneer-10, Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar-9, Palakka, atau J1-C3.
- Melakukan pergiliran tanaman.
- Melakukan pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K
rendah.
- Drainase baik.
- Pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan
dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.
Karat Daun (Puccinia polysora)
Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat di
permukaan daun jagung bagian atas maupun bawah, uredinia menghasilkan
uredospora berbentuk bulat atau oval serta berperan penting sebagai sumber
inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung lainnya, sebarannya melalui angin.
Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi, infeksinya
berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.
Penyebab
Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia polysora
Pengendalian
- Menanam varietas tahankarat daun, seperti Lamuru, Sukmaraga, Palakka,
Bima-1 atau Semar-10
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman)
pada tanaman terinfeksi karat daun maupun gulma
- Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif benomil. Dosis/konsentrasi
sesuai petunjuk di kemasan.
Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn.)
Gejala
Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras
patogennya yaitu ras O dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan
berukuran 0,6 x (1,2-1,9) cm, sedangkan Ras T bercak berukuran lebih besar
yaitu (0,6-1,2)x(0,6-2,7) cm. Ras T berbentuk kumparan, bercak berwarna hijau
kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Kedua ras ini, ras T
lebih berbahaya (virulen) dibanding ras O. Serangan pada bibit tanaman
menyebabkan tanaman menjadi layu atau mati dalam waktu 3-4 minggu setelah
tanam.
Tongkol terserang/terinfeksi dini menyebabkan bijinya akan rusak lalu busuk,
bahkan tongkol jagung dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat di seluruh
bagian tanaman (baik daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, maupun
tongkol jagung). Permukaan biji terinfeksi tertutup miselium berwarna abu-abu

sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil produksi secara signifikan.


Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam
sisa tanaman di lahan atau pada biji jagung di penyimpanan. Konidia yang
terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama pada
tanaman jagung.
Penyebab
Penyakit bercak daun penyebabnya adalah Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis
ada dua ras yaitu ras O dan ras T.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan serangan bercak daun, seperti Bima-1, Srikandi
Kuning-1, Sukmaraga atau Palakka
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai akarnya (Eradikasi tanaman)
pada tanaman terinfeksi bercak daun
- Penggunaan fungisida menggunakan bahan aktif mancozeb atau karbendazim.
Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.
Virus Mosaik
Gejala
Gejala penyakit virus mozaik pada budidaya jagung ditandai tanaman jagung
menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis
kuning, jika dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak
kekuningan mirip gejala bulai namun permukaan daun bagian bawah maupun
atas apabila dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat
terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan
Rhopalopsiphum maydis secara nonpersisten. Tanaman jagung terinfeksi virus ini
umumnya menjadikan penurunan hasil secara signifikan.
Pengendalian
- Mencabut tanaman jagung terinfeksi virus seawal mungkin agar tidak menjadi
sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman musim
mendatang.
- Melakukan pergiliran tanaman, tidak menanam tanaman jagung secara terus
menerus di lahan yang sama.
- Penyemprotan pestisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi.
Dosis/konsentrasi tidak melebihi anjuran dalam kemasan.
- Tidak menanam benih jagung dari tanaman terinfeksi virus.