Anda di halaman 1dari 42

TUGAS PBL BLOK ENDOKRIN

Skenario 2
GONDOK

Kelompok A-8

Ketua :

Keyko Septiyanti

(1102010143)

Sekertaris

Dyana Pastria Utami

(1102010084)

Anggota

Andhika Dwianto

(1102010019)

Annisa Chaerani B.

(1102010027)

Dicha Oseanni Andriswari

(1102010076)

Fitri Rahmawati

(1102010104)

Fitria Nurulfath

(1102010105)

Fitria Rizka Utami

(1102010106)

Hafidiani

(1102010117)

Lisa Chairunnisa

(1102010153)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
Tahun 2011/2012

SKENARIO 2
GONDOK
Nn. B, 36 tahun, ibu rumah tangga, mengeluh terdapat benjolan di leher sebelah kanan
sejak 6 bulan yang lalu. Mula-mula benjolan hanya sebesar kelereng, namun saat ini sedikit
membesar.Tidak ada keluhan nyeri menelan, perubahan suara ataupun gangguan pernafasan.
Pasien tidak mengeluh berdebar-debar, banyak berkeringat dan perubahan berat badan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg dengan frekuensi nadi
80x/menit.Pada leher sisi sebelah kanan teraba nodul berukuran 5x4 cm, berbatas tegas, tidak
nyeritekan dan turut bergerak saat menelan.Tidak didapatkan kelainan pada mata, jantung, paru,
abdomen ataupun ekstremitas.
Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium fungsi tiroid, USG tiroid
dan sidik tiroid (thyroid scintigraphy).
Tiga hari kemudian pasien datang menunjukkan hasil bahwa hasil laboratorium fungsi
tiroidnya eutiroid, USG menunjukkan massa padat berdegenerasi kistik, sedangkan pemeriksaan
sidik tiroid dengan technetium 99 didapatkan cold nodule di lobus kanan tiroid. Oleh karena itu
dokter memutuskan untuk melakukan pemeriksaan aspirasi jarum halus tiroid.Hasil sitologi yang
diperoleh kemudian tidak didapatkannya sel ganas pada potongan kelenjar tiroid.
Pasien kemudian diberikan terapi hormone tiroksin, sambil dimonitor fungsi tiroidnya
dengan melakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, namun diingatkan pula kepada
pasien, bahwa bila nodulnya makin membesar maka perlu dilakukan operasi tiroidektomi.
Mendengarkan penjelasan dokter, pasien yang merupakan seorang Muslimah merasa cemas
menghadapi kemungkinan akan perlu dilakukan operasi.

KATA KATA SULIT


1)
2)
3)
4)
5)
6)

USG Tiroid : Dapat membedakan bentuk atau kelainan pada Tiroid


Sidik Tiroid : Dapat membedakan keganasan atau jinaknya kelainan Tiroid
Cold Nodule : Nodul dingin berupa suatu keganasan
Technetium 99 : Untuk evaluasi fungsi Tiroid
Pemeriksaan aspirasi jarum halus tiroid : Gold standard pemeriksaan Tiroid
Tiroidektomi : Merupakan prosedur pembedahan di mana semua atau sebagian dari
kelenjar tiroid akan dihilangkan

BRAINSTORMING
1) Mengapa didapatkan cold nodule di lobus kanan pada pemeriksaan sidik tiroid dengan
technetium 99?
2) Mengapa dokter memutuskan untuk melakukan pemeriksaan aspirasi jarum halus tiroid?
3) Mengapa pasien perlu diberikan terapi hormone tiroksin?

JAWABAN
1) Struma difusa lobus kanan, sisa jaringan lobus kiri disertai dengan nodul dingin (cold
nodul) karena uptake thyroid yang rendah.
2) Karena pemeriksaan BAJAH (Biopsi Aspirasi Jarum Halus) merupakan gold standard
dan efektif untuk membedakan penyakit tiroid jinak atau ganas.
3) Untuk mengendalikan kadar hormone pada pasien yang medapat yodium radioaktif

HIPOTESIS
3

Pasien dengan benjolan di leher sebelah kanan

Pemeriksaan Lab

USG : Massa padat, berdegenerasi kistik


Sidik Tiroid :Cold Nodule

Aspirasi Jarum Halus

Terapi Tiroksin dengan pemonitoran

Diagnosis : Nodul Tiroid Adenoma

SASARAN BELAJAR
4

1) Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopis dan Mikroskopis Tiroid


1.1 Makroskopis Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid berada di kedalaman dari otot sternothyroid dan sternohyoid,
terletak di anterior leher sepanjang C5-T1 vertebrae.Kelenjar ini terdiri dari lobus kanan
dan kiri di anterolateral dari laring dan trakea.Kedua lobus ini disatukan oleh bagian yang
menyatu yang disebut isthmus, di cincin trakea kedua dan ketiga.Kelenjar tiroid
dikelilingi oleh suatu fibrous capsule tipis, yang membuat septa kedalam
kelenjar.Jaringan ikat padat menempel pada cricoid cartilage dan superior tracheal ring.
Dari external ke capsule adalah loose sheath yang dibentuk oleh visceral portion dari
lapisan pretracheal di kedalaman cervical fascia.
Arteri; kelenjar tiroid memiliki aktivitas vaskular yang tinggi dan disuplai oleh
arteri superior dan inferior.Pembuluh darah ini berada di antara fibrous capsule dan loose
fascial sheath.Biasanya cabang pertama dari arteri eksternal karotid adalah superior tiroid
arteri, turun ke bagian superior kelenjar, menembus lapisan pretracheal di kedalaman
cervical fascia, dan membagi kedalam cabang anterior dan superior yang menyuplai
bagian anterosuperior dari kelenjar.
Arteri inferior tiroid, cabang terbesar dari thyrocervical trunks dari arteri subclavian, ke
bagian posterior secara superomedial ke carotid sheath untuk mencapai bagian posterior
dari kelenjar tiroid.Merekan terbagi kedalam beberapa cabang yang menembus lapisan
pretracheal di kedalaman cervical fascia dan menyuplai bagian posterioinferior, termasuk
ke bagian inferior kelenjar.Kanan dan superior kiri dan arteri inferior tiroid beranatomosis
kedalam kelenjar dan menyuplai kelenjar.
Vena; Tiga pasang vena tiroid biasanya membentuk tiroid plexus vena di
permukaan anterior kelenjar tiroid dan anterior trachea.Vena superior tiroid bersama
arteri superior tiroid, mereka memperdarahi bagian superior tiroid. Vena middle tiroid
tidak disertai arteri dan memperdarahi bagian medial tiroid. Sedangkan vena inferior
tiroid memperdarahi bagian inferior tiroid. Vena superior dan middle tiroid akan
bermuara ke internal jugular vein sedangkan vena inferior tiroid bermuara ke
brachiocephalic vein.
Lymph; pembuluh lymph dari kelenjar tiroid melewati jaringan ikat interlobular,
biasanya didekat arteri.Mereka berkomunikasi dengan suatu jaringan capsular pembuluh
lymphatic.Dari sini, pada mulanya pembuluh ini melewati prelaryngeal, pretracheal, dan
paratracheal lymph nodes.Prelaryngeal mengalir ke superior cervical lymph nodes, dan
pretracheal dan paratracheal lymph nodes mengalir ke inferior deep cervical
nodes.Disamping itu, pembuluh lymph berada di sepanjang vena superior tiroid melewati
langsung ke inferior deep cervical lymph nodes.Beberapa pembuluh lymph mengalir ke
brachiocephalic lymph nodes atau thoracic duct.

Nerve; Saraf dari kelenjar tiroid diturunkan dari superior, middle, dan inferior
cervical (symphatetic) ganglia.Mereka mencapai kelenjar melalui cardia dan superior dan
inferior thyroid periarterial plexuses yang bersama-sama tiroid arteri.Seratnya adalah
vasomotor, bukan secremotor.Mereka menyebabkan konstriksi pembuluh darah.Sekresi
endokrin dari kelenjar tiroid diregulasi secara hormonal oleh kelenjar pituitary.

1.2 Mikroskopis Kelenjar Tiroid


Kelenjar tiroid, yang terletak di daerah servikal, anterior terhadap laring, terdiri
atas dua lobus yang dihubungkan oleh suatu isthmus.Jaringan tiroid terdiri atas ribuan
folikel yang mengandung bulatan berepitel selapis dengan lumen berisikan suatu
substansi gelatinosa yang disebut koloid.Pada sediaan, sel-sel folikel berbentuk gepeng
sampai silindris dan folikel mempunyai diameter yang sangat bervariasi.Kelenjar
7

dibungkus oleh simpai jaringan ikat longgar yang menjulurkan septa ke dalam
parenkim.Septa ini berangsur-angsur menipis dan mencapai semua folikel, yamg saling
terpisah oleh ikatan jaringan ikat halus tak teratur yang terutama terdiri datas serat
retikulin.
Tiroid pengatur utama status anatomi dan fungsional kelenjar tiroid adalah
hormon perangsang-tiroid (tirotropin), yang dihasilkan hipofisis anterior.
Tampilan morfologi folikel tiroid bervariasi berdasarkan bagian kelenjar dan aktivitas
fungsionalnya. Pada kelenjar yang sama, folikel yang lebih besar penuh dengan koloid
dan mempunyai epitel kuboid atau gepeng, dan dijumpai bersebelahan dengan folikel
yang dilapisi epitel silindris. Meskipun ada variasi ini, kelenjar dikatakan hipoaktif bila
komposisi rata-rata folikel ini berupa epitel gepeng.Tirotropin merangsang sintesis
hormon tiroid sehingga epitel folikel tersebut meninggi.Keadaan ini diikuti pengurangan
jumlah koloid dan ukuran folikel.Membran basal sel-sel folikel memiliki banyak reseptor
tirotropin.
Epitel tiroid terdapat di atas lamina basal.Epitel folikel memiliki semua ciri sel
yang secara serentak menyintesis, menyekresi, mengabsorpsi, dan mencerna protein.
Bagian basal sel-sel ini kaya akan retikulum endoplasma kasar. Intinya biasanya bulat
terletak di pusat sel. Kutub apikal memiliki kompleks Golgi yang jelas dan granula
sekresi kecil dengan ciri morfologi koloid folikel. Di daerah ini terdapat banyak lisosom
yang berdiameter 0,5-0,6m, dan beberapa fagosom besar. Membran sel kutub apikal
memiliki cukup banyak mikrovili.Mitokondria dan sisterna retikulum endoplasma kasar
tersebar di seluruh sitoplasma.
Jenis sel lain, yaitu sel parafolikel atau sel C, terdapat sebagai bagian dari epitel
folikel atau sebagai kelompok tersendiri di antara folikel-folikel tiroid. Sel parafolikel
agak lebih besar dan terpulas kurang kuat (lebih pucat) dibandingkan dengan folikel
tiroid.Sel parafolikel mengandung sedikit retikulum endoplasma kasar, mitokondria
panjang dan kompleks Golgi yang besar.Ciri yang paling mencolok dari sel ini adalah
banyaknya granula kecil berisi hormon (berdiameter 100-180 nm). Sel-sel ini berfungsi
membuat dan menyekresikan kalsitonin, yakni suatu hormon yang pengaruh utamanya
adalah penurunan kadar kalsium darah dengan cara menghambat resorpsi tulang. Sekresi
kalsitonin dipacu oleh peningkatan kadar kalsium darah.

Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Hormon Tiroid


2.1 Memahami dan Menjelaskan Sintesis Hormon Tiroid
Kelenjar tiroid adalah satu-satunya kelenjar endokrin yang menyimpan hasil sekresinya
dalam jumlah besar. Sintesis dan sekresi dari T4 dan T3 sebagi berikut:

1. Iodine trapping. Sel folikular tiroid menangkap ion iodida (I -) dengan cara aktif transport
dari darah ke dalam sitosol. Normalnya kelanjar tiroid terdiri atas banyak ion iodida di
tubuhnya.
2. Synthesis of thyroglobulin. Ketika sel folikular menangkap I -, kelenjar tiroid juga
mensintesa tiroglobulin (TGB). TGB adalah glikoprotein besar dimana diproduksi di RE
kasar, lalu dimodifikasi di komplek Golgi, dan dibungkus kedalam vesikel sekretori.
Vesikel tadi mengalami eksositosis, dimana mengelurakan TGB ke dalam lumen folikel.
Material tadi mengalami akumulasi di dalam lumen yang dan disebut kolid.
3. Oxidation of iodide. Beberapa asam amino dalam TGB yaitu tirosin dimana akan
menjadi diiodinasikan. Tetapi, muatan ion iodida yang negatif tidak dapat berikatan
dengan tirosin hingga mengalami oksidasi (pemindahan elektron) menjadi iodin: 2I- I2.
Enzim yang mengkatalase reaksi ini adalah peroksidase. Setelah ion iodida dioksidasi,
lalu masuk melalui membran ke dalam tiroid.
4. Iodination of thyrosine. Setelah molekul iodin (I2) terbentuk, molekul ini berreaksi
dengan tirosin dimana menjadi bagian dari molekul tiroglobulin yang terdapat di koloid.
Jika satu atom iodin yang berikatan menjadi monoiodotirosin (T 1) sedangkan dua atom
yang berikatan menjadi diioditirosin (T2).
5. Coupling of T1 and T2. Tahap terakhir dari sintesa hormon tiroid ini adalah pemasangan
dua molekul T2 menjadi T4 atau satu molekul T1 dengan satu molekul T2 menjadi T3.
6. Pinocytosis and digestion of colloid. Droplet kolod kembali masuk kedalam sel folikular
dengan cara pinositosis dan dileburkan ikatannya dengan enzim yang dikeluarkan oleh
lisosom. Enzim penernaan mengkatabolisme TGB, sehingga T3 dan T4 tidak terikat
dengan apapun.
7. Secretion of thyroid hormones. Karena T3 dan T4 adalah larut dalam lipid maka hormon
tesebut berdifusi melalui membran plasma ke dalam cairan interstisial dan juga ketika
masuk ke dalam darah. Normalnya kuntitas T4 lebih banyak daripada T3, tetapi terkadang
T3 lebih berpotensi. Dan lagi, setelah T4 masuk ke dalam sel tubuh, sebagian besar akan
dirubah menjadi T3 dengan membuang satu iodin.
8. Transport in the blood. Lebih dari 99% baik T3 maupun T4 berikatan dengan protein
transport dalam darah, terutama dengan thyrosine-binding globulin (TGB).

10

Kira-kira dari tirosin yang telah diiodinasi di dalam tiroglobulin tidak akan pernah menjadi
hormon tiroid, tetapi akan tetap sebagai monoiodotirosin atau diiodotirosin. Selama terjadi
proses pencernaan molekul tiroglobulin untuk melepaskan T3 dan T4, tirosin yang telah
mengalami iodinasi ini juga dilepaskan dari sel-sel tiroid. Akan tetapi, tirosin ini tidak
diekskresikan ke dalam darah, melainkan dengan bantuan enzim deiodinase, iodium
dilepaskan dari tirosin sehingga akhirnya membuat semua iodium ini cukup tersedia di dalam
kelenjar untuk membentuk hormon tiroid kembali.

Pelepasan T3 dan T4 dari kelenjar tiroid :


1. Permukaan apikal sel-sel tiroid menjulurkan pseudopodia mengelilingi sebagian kecil
koloid, sehingga terbentuk vesikel pinositik yang masuk ke bagian apeks dari sel-sel
tiroid.
2. Lisosom bergabung dengan vesikel-vesikel tersebut untuk membentuk vesikel digestif
yang mengandung enzim-enzim pencernaan yang berasal dari lisosom yang sudah
bercampur dengan koloid.
3. Proteinase yang ada diantara enzim-enzim ini akan mencernakan molekul-molekul
tiroglobulin dan akan melepaskan T3 dan T4.
4. T3 dan T4 berdifusi melewati bagian basal dari sel-sel tiroid ke pembuluh darah kapiler
yang ada disekelilingnya (dilepaskan ke darah).

11

Tiap molekul tiroglobulin mengandung 1-3 molekul T4, dan rata-rata terdapat 1 molekul T3
untuk setiap 14 molekul T4. Dalam bentuk ini, homon tiroid disimpan di dalam folikel dalam
jumlah yang cukup untuk mensuplai tubuh dengan kebutuhan normal tubuh terhadap hormon
tiroid selama 1-3 bulan. Oleh karena itu, bila sintesis hormon tiroid terhenti, efek akibat
defisiensi hormon tersebut belum tampak untuk beberapa bulan.

2.2 Memahami dan menjelaskan sekresi hormon tiroid


Ada dua foktor utama yang mengotrol ukuran dan aktifitas sekresi dari kelenjar tiroid.
Pertama walaupun iodin dibutuhkan untuk sintesis hormon tiroid, konsentrasi iodin yang
tinggi di darah dapat menekan pengeluaran hormon tiroid. Kedua thyroid-releasing hormone
(TRH) dari hipotalamus dan thyroid-stimulating hormone (TSH) dari pituitasi anterior
menstimulasi sintesa dan pengeluaran hormon tiroid.

1. Penurunan kadar T3 dan T4 atau penurunanmetabolic rate menstimulasi hipotalamus


untuk mengeluarkan TRH.
2. TRH masuk melalui vena portal hipofiseal dan mengalir ke pituitari anterior, dimana
menstimulasi tirotrop untuk mensekresikan TSH.
3. TSH menstimulus seluruh aspek aktifitas sel folikular tiroid, termasuk iodine trapping,
sintesa hormon, dan sekresi, dan pertumbuhan sel folikular.
4. Sel folikular tiroid mengeluarkan T3 dan T4 kedalam darah hingga metabolic rate kembali
normal.
5. Peningkatan kadar T3 menginhibisi pengeluaran TRH dan TSH (efek umpan balik
negatif).
12

Efek TSH terhadap kelenjar tiroid


1. Meningkatkan proteolisis
Berhubungan dengan terlepasnya hormon hormon kelenjar tiroid
2. Meningkatkan aktivitas pompa yodium
Meningkatkan kecepatan iodide traping
3. Meningkatkaniodinasi tirosin
Meningkatkan pembentukan hormon tiroid
4. Meningkatkan ukuran dan aktifitas sekretorik sel tiroid
Sehingga banyak pembentukan hormon tiroid
5. Meningkatkan jumlah sel sel tiroid
Disertai dengan perubahan sel kuboid menjadi kolumnar dan menimbulkan banyak
lipatan epitel tiroid ke dalam folikel. Sehingga banyak sel sel yang mensekresi hormon
tiroid.

THYROID HORMONE TRANSPORT


Sebagian besar T3 (triiodothyronine) dan T4 (thyroxine) bersirkulasi dalam darah terikat
dengan protein plasma. Hanya 0,04% T4 dan 0,4% T3 yang tidak terikat (bebas).
Thyroid hormone transport protein :
1. Thyroxine-Binding Globulin (TBG)
- merupakan liver-derived glycoprotein
- memiliki single binding site untuk T4 atau T3
- konsentrasi dalam serum : 15-30 g/ml (280-560 nmol/L)
- memiliki afinitas yang tinggi untuk T 4 dan T3 sehingga memungkinkan untuk membawa
70% dari hormon tiroid yang bersirkulasi
2. Transthyretin (Thyroxine-Binding Prealbumin/TBPA)
- merupakan 55-kDa globular polipeptida
- mengikat 10% dari T4 yang bersirkulasi
13

- afinitas terhadap T4 10 kali lipat lebih tinggi daripada terhadap T3


3. Albumin
- mengikat T4 dan T3 dengan afinitas yang lebih rendah daripada TBG atau TBPA
- karena konsentrasi albumin dalam darah tinggi, maka albumin mentransport 15% dari T 4
dan T3 yang bersirkulasi
Setiap kelenjar tiroid mensekresikan T4 100 nmol, t3 5 nmol, rt3 < 5nmol.
Ketiganya akan berikatan dengan protein karier sebanyak 99% .
Jumlah free T4 = 0,004 dari T4
Free T3 = 0,4% dari T3
Hormon bebas adalah penyebab dari aktivasi hormon yaitu sebagai kontrol umpan balik,
kerja jaringan , metabolisme, dan eksresi.
FUNGSI (EFEK) HORMON THYROID
JARINGAN
TARGET

EFEK

MEKANISME

Jantung

Kronotropik

Meningkatkan jumlah dan afinitas reseptor adrenergik

Intropik

Meningkatkan respons terhadap katekolamin


dalam sirkulasi
Meingkatkan proporsi rantai berat miosin
(dengan aktivasi ATPase lebih tinggi)

Jaringan
adiposa

Katabolik

Merangsang lipolisis

Otot

Katabolik

Meningkatkan pemecahan protein

Tulang

Perkembanga
n

Meningkatkan pertumbuhan
perkembangan skeletal

Sistem saraf

Perkembanga
n

Meningkatkan perkembangan otak normal

Usus

Metabolik

Meningkatkan absorpsi karbojidrat

Lipoprotein

Metabolik

Merangsang pembentuka reseptor LDL

normal

da

\n

14

Lain-lain

Kalorigenik

Merangsang konsumsi oksigen oleh jaringan


yang aktif secara metabolis (pengecualian: testis,
uterus kelenjar getah bening, limpa, hipofisis
anterior)
Meningkatkan laju metabolisme

1.

Efek pada Kardiovascular


a) Aliran darah & curah jantung
-

Meningkatnya metabolisme dalam jaringan dapat mempercepat pemakaian oksigen


dan meningkatkan jumlah produk akhir metabolisme yang dilepaskan dari jaringan.

Efek ini menyebabkan vasodilatasi pada sebagian besar jaringan tubuh, sehingga
meningkatkan aliran darah. Akibatnya meningkatkan curah jantung.

Curah jantung meningkat sampai 60% atau lebih di atas normal bila kelebihan
hormone thyroid, dan turun sampai 50% dari normal bila hypothyroidism yang berat.

b) Frekuensi denyut jantung


-

Hormon thyroid berpengaruh langsung padi eksitabilitas jantung, sehingga dapat


meningkatkan frekuensi denyut jantung.

Efek ini sangat penting, karena frekuensi denyut jantung salah satu tanda fisik yang
sangat peka.

c) Kekuatan denyut jantung


-

Meningkatnya aktivitas enzimatik (karena produksi hormone thyroid yang


meningkat), dapat menyebabkan meningkatkan kekuatan denyut jantung (bila sekresi
hormone thyroid yang tinggi).

Bila meningkatnya hormone thyroid itu lebih nyata, maka kekuatan otot jantung akan
ditekan oleh karena timbulnya katabolisme yang berlebihan.

Penderita tirotoksikosis parah bisa meninggal karena ada dekompensasi jantung


sekunder akibat kegagalan miokard 7 peningkatan beban jantung karena
meningkatnya curah jantung.

d) Volume darah
15

Efek ini disebabkan paling sedikit oleh vasodilatasi yang mengakibatkan


bertambahnya jumlah darah yang terkumpul dalam system sirkulasi.

e) Tekanan arteri
-

2.

Rata-rata biasanya tidak berubah. Tapi karena dapat meningkatkan aliran darah
melalui jaringan di antara 2 denyut jantung, maka tekanan nadi sering meningkat,
bersama dengan kenaikantekanan sistolik sebesar 10-15 mmHg pada hyperthyroidism
dan tekanan diastole yang menurun secara bersamaan.
Efek pada Respirasi

Meningkatnya kecepatan metabolisme, dapat meningkatkan pemakaian oksigen &


pembentukan karbondioksida.

Akibatnya, aktifnya semua mekanisme yang meningkatkan kecepatan & kedalaman


dalam pernafasan.

3.

Efek pada Saluran Cerna


-

Selain meningkatkan nafsu makan & asupan makanan, hormone thyroid


meningkatkan kecepatan sekresi getah pencernaan & pergerakan saluran cerna.

Sering terjadi diare.

Menurunnya hormone thyroid konstipasi.

4.

Efek terhadap Fungsi Otot


-

Meningkatnya hormone thyroid otot bereaksi dengan kuat.

Bila jumlah hormone thyroid berlebihan, otot malahan jadi lemah berlebihan (karena
berlebihnya katabolisme protein).

Kekurangan hormone thyroid menyebabkan otot sangat lamban & otot tersebut
berelaksasi dengan perlahan setelah kontraksi.

Gejala yang khas dari hyperthyroidism timbulnya tremor halus pada otot.

5.

Efek pada Mekanisme Tubuh yang Spesifik


a) Efek pada Berat Badan
-

Bila produksi hormone thyroid sangat meningkat, maka hampir selalu menurunkan
berat badan & sebaliknya.

16

Hormon thyroid meningkatkan nafsu makan, keadaan ini dapat melebihi


keseimbangan perubahan kecepatan metabolisme.

b) Efek pada Metabolisme Karbohidrat


Hormon thyroid merangsang:
-

Penggunaan glukosa yang cepat oleh sel.

Meningkatkan glikolisis.

Meningkatkan glukogenesis.

Meningkatkan kacaptan absorpsi dari saluran cerna.

Meningkatkan sekresi insulin.

Keseluruhan di atas hasil akhirnya : efek pada metabolisme karbohidrat.


c) Efek pada Metabolisme Lemak
-

Lipid akan diangkut dari jaringan lemak, yang meningkatkan konsentrasi asam lemak
bebas di dalam plasma.

Hormon thyroid juga mempercepat proses oksidasi asam lemak bebas oleh sel.

d) Efek pada Plasma & Lemak Hati


-

Meningkatnya hormone thyroid menurunkan jumlah kolesterol, fosfolipid, dan


trigliserida dalam darah & juga meningkatkan asam lemak bebas.

Sebaliknya, penurunan hormone thyroid akan menimbulkan pengendapan lemak


secara berlebihan di dalam hati.

e) Efek pada Metabolisme Vitamin


-

Hormon thyroid meningkatkan jumlah enzim (vitamin merupakan bagian penting dari
beberapa enzim/koenzim).

Sekresi hormone thyroid berlebihan defisiensi vitamin relative.

f) Efek pada Laju Metabolisme Basal


Kelebihan hormone ini meningkatkan metabolisme basal sampai setinggi 60-100% di atas
nilai normal.
6.

Efek terhadap Pertumbuhan

17

Pada hipothyroidisme, kecepatan pertumbuhan menjadi sangat tertinggal.

Pada hiperthyroidisme, seringkali terjadi pertumbuhan tulang yang sangat berlebihan,


sehingga anak tadi jadi lebih tinggi daripada anak lain yang seumur.

Efek penting : Meningkatnya pertumbuhan & perkembangan otak selama kehidupan


janin & beberapa tahun pertama kehidupan pasca lahir.

7.

Hormon Thyroid Meningkatkan Transkripsi Sejumlah besar Gen


Efek umum thyroid adalah menyebabkan transkripsi inti dari sejumlah besar gen.

8.

Jenis-Jenis Peningkatan Aktivitas Metabolik Selular yang Penting


Hormon thyroid meningkatkan aktivitas metabolisme seluruh atau sebagian besar jaringan.
a) Efek dalam Meningkatkan Sintesis Protein
-

Fungsi tiroksin yang utama adalah: Meningkatkan jumlah & aktivitas mitokondria.

Selanjutnya thyroid meningkatkan kecepatan pembentukan adenosine trifosfat (ATP)


untuk membangkitkan fungsi selular.

b) Efek dala Meningkatkan Transpor Aktif Ion-Ion Melalui Membran Sel


Hormon thyroid menyebabkan membrane sel dari sebagian besar sel menjadi mudah dilewati
oleh ion natrium.
9.

Efek pada SSP


-

Hormon thyroid meningkatkan kecepatan berpikir, tapi juga sering menimbulkan


disosiasi pikiran, & sebaliknya.

Berkurangnya hormone thyroid , akan menurunkan fungsi di atas.

Penderita hyperthyroid cenderung menjadi sangat cemas & psikoneurotik, seperti


kompleks ansietas, kecemasan yang sangat berlebih (paranoia).

10.

Efek pada Fungsi Seksual


-

Pada Pria :

Meningkatnya hormone thyroid Impotensi

Penurunan hormone thyroid hilang libido.

18

11.

Pada wanita :

Menurunya hormone thyroid menorrhagia, polymenorrhea, periode mens tidak


teratur, bahkan amenorrhea.

Hipothyroid Penurunan libido yang sangat besar.

Hyperthyroid oligomenorrhea, amenorrhea.


Kerja hormone thyroid pada gonad, mungkin disebabkan oleh kombinasi pengaruh
metabolisme langsung pada gonad&melalui kelenjar perangsangan serta pertumbuhan
metabolisme hormone hipofisis enterior yang mengendalikan fungsi-fungsi seksual.

Efek pada Tidur


-

Karena efek yang melelahkan dari hormone thyroid pada otot & SSP.

Penderita hyperthyroid sering merasa lelah terus-menerus, tapi karena efek eksitasi
dari hormone thyroid pada sinaps, timbul kesulitan tidur.

Gejala khas hipohyroidism Somnolen yang berat, ditambah waktu tidur 12-14 jam
sehari.

12.

Efek pada Kelenjar Endokrin Lain


-

Meningkatnya hormone thyroid meningkatkan sekresi hormone sebagian besar


kelenjar endokrin lain.

Contoh : meningkatnya sekresi hormone tiroksin dapat meningkatkan metabolisme


glukosa di seluruh bagian tubuh, sehingga meningkatkan kebutuhan insulin yang
diekskresikan pancreas.

3. Memahami dan Menjelaskan Kelainan Kelenjar Tiroid


3.1 Definisi
A. HIPOTIROID
Hipotiroidisme adalah defisiensi aktivitas tiroid, ditandai dengan penurunan laju metabolisme
basal, kelelahan, dan letargi; bila tidak diobati dapat berkembagn menjadi myxedema. Pada
orang dewasa ini lebih sering mengenai wanita daripada pria, dan pada bayi dapat menyebabkan
kretinisme. Disebut juga athyria, athyroidosis, hypothyrosis, thyroprivia, dan thyroid
insufficiency.

19

B. HIPERTIROID
Keadaan yang disebabkan oleh berlebihannya produksi hormon tiroid yang teriodinasi,
produksi dan sekresi hormon tiroid meningkat akibat hiperfungsi kelenjar tiroid. Pada keadaan
ini uptake yodium oleh kelenjar meningkat, ini dibuktikan dengan tes uptake yodium radioaktif
selama 24 jam.
Pada kebanyakan pasien hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar 2-3 kali dari ukuran
normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel folikel ke dalam
folikel, sehingga jumlah sel-sel ini sangat meningkat. Selain itu setiap sel meningkatkan
kecepatan sekresinya beberapa kali lipat; dan penelitian ambilan yodium radioaktif menunjukan
bahwa kelenjar-kelenjar hiperplastik ini mensekresi hormon tiroid dengan kecepatan 5-15 kali
lebih besar daripada normal.
Hipertiroidisme dapat timbul secara spontan atau akibat asupan hormone tiroid secara
berlebihan. Terdapat 2 tipe hipertiroidisme spontan yang paling sering dijumpai, yaitu (1)
penyakit Graves dan (2) goiter nodular toksik.
Gejala yang sering muncul adalah sangat mudah terangsang, intoleransi terhadap panas,
berkeringat banyak, berat bada berkurang sedikit atau banyak, berbagai derajat keparahan diare,
kelemahan otot, kecemasan atau kelainan psikis lainnya, rasa capai yang sangat, namun pasien
tidak dapat tidur, dan tremor pada tangan. Manifestasi klinis khasnya adalah exofthalus, yaitu
akibat pembengkakan pada jaringan retroorbita dan timbulnya perubahan degenerative pada otototot ekstraokular.
Hipertiroid adalah suatu kondisi dimana suatu kelenjar tiroid yang terlalu aktif
menghasilkan suatu jumlah yang berlebihan dari hormon-hormon tiroid yang beredar dalam
darah. Thyrotoxicosis adalah suatu kondisi keracunan yang disebabkan oleh suatu kelebihan
hormon-hormon tiroid dari penyebab mana saja. Thyrotoxicosis dapat disebabkan oleh suatu
pemasukan yang berlebihan dari hormon-hormon tiroid atau oleh produksi hormon-hormon
tiroid yang berlebihan oleh kelenjar tiroid.
Menurut Martin A. Walter, hipertiroid adalah kondisi umum yang berkaitan dengan
meningkatnya morbiditas dan mortalitas, khususnya yang disebabkan oleh komplikasi
kardiovaskuler. Sebagian besar disebabkan oleh penyakit graves, dengan nodul toksik soliter dan
goiter multinodular toksik menjadi bagian pentingnya walaupun dengan frekuensi yang sedikit.

3.2 Klasifikasi :

Goiter Toksik Difusa (Graves Disease)


20

Etiologi: gangguan pada sistem kekebalan tubuh dimana zat antibodi menyerang kelenjar
tiroid, sehingga menstimulasi kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid terus
menerus.

Lebih banyak ditemukan pada wanita, gejalanya dapat timbul pada berbagai usia,
terutama pada usia 20 40 tahun. Faktor keturunan dapat mempengaruhi terjadinya
gangguan pada sistem kekebalan tubuh, yaitu dimana zat antibodi menyerang sel dalam
tubuh itu sendiri.

Nodular Thyroid Disease

Manifestasi: kelenjar tiroid membesar tanpa rasa nyeri. Penyebabnya pasti belum
diketahui. Tetapi umumnya timbul seiring dengan bertambahnya usia.

Subacute Thyroiditis

Ditandai dengan rasa nyeri, pembesaran kelenjar tiroid dan inflamasi, dan mengakibatkan
produksi hormon tiroid dalam jumlah besar ke dalam darah. Umumnya gejala
menghilang setelah beberapa bulan, tetapi bisa timbul lagi pada beberapa orang.

Postpartum Thyroiditis

Timbul pada 5 10% wanita pada 3 6 bulan pertama setelah melahirkan dan terjadi
selama 1 -2 bulan. Umumnya kelenjar akan kembali normal secara perlahan-lahan.

3.3 Etiologi
Lebih dari 95% kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves, suatu penyakit tiroid
autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk menghasilkan hormon yang berlebihan.
Penyebab hipertiroid lainnya yang jarang selain penyakit graves adalah:
-

Toksisitas pada strauma multinudular

Adenoma folikular fungsional atau karsinoma (jarang)

Edema hipofisis penyekresi-torotropin (hipertiroid hipofisis)

Tumor sel benih, misal karsinoma (yang kadang dapat menghasilkan bahan mirip-TSH) atau
teratoma (yang mengandung jarian tiroid fungsional)

Tiroiditis (baik tipe subkutan maupun hashimato) yang keduanya dapat berhubungan dengan
hipertiroid sementara pada fase awal.

21

3.4 Patofisiologi
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika. Pada kebanyakan
penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali dari ukuran normalnya,
disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel folikel ke dalam folikel, sehingga
jumlah sel-sel ini lebih meningkat beberapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar.
Juga, setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat dengan kecepatan 5-15
kali lebih besar daripada normal.
Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu yang
menyerupai TSH, Biasanya bahan bahan ini adalah antibodi immunoglobulin yang disebut
TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulin), yang berikatan dengan reseptor membran yang sama
dengan reseptor yang mengikat TSH. Bahan bahan tersebut merangsang aktivasi cAMP dalam
sel, dengan hasil akhirnya adalah hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme
kosentrasi TSH menurun, sedangkan konsentrasi TSI meningkat. Bahan ini mempunyai efek
perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 12 jam, berbeda dengan efek TSH
yang hanya berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon tiroid yang disebabkan oleh TSI
selanjutnya juga menekan pembentukan TSH oleh kelenjar hipofisis anterior.
Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid dipaksa mensekresikan hormon hingga diluar batas,
sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar tiroid membesar. Gejala
klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa dingin termasuk akibat dari sifat hormon
tiroid yang kalorigenik, akibat peningkatan laju metabolisme tubuh yang diatas normal. Bahkan
akibat proses metabolisme yang menyimpang ini, terkadang penderita hipertiroidisme
mengalami kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung tonus otot sebagai
akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya tremor otot yang halus dengan frekuensi
10-15 kali perdetik, sehingga penderita mengalami gemetar tangan yang abnormal. Nadi yang
takikardi atau diatas normal juga merupakan salah satu efek hormon tiroid pada sistem
kardiovaskuler. Eksopthalmus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi autoimun yang mengenai
daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokuler, akibatnya bola mata terdesak keluar.

3.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis Hipotiroid
Kulit dan Rambut : Kulit kering, pecah-pecah, bersisik dan menebal, bengkak pada tangan,
rambut rontok, alopeksia, pertumbuhan kuku buruk dan menebal, tidak tahan dingin.

22

Muskuloskeletal : Volume otot bertambah, glossomegali, kejang otot, paramitoni, arthralgia,


efusi synovial, osteoporosis, pertumbuhan tulang terhambat pada usia muda, kadar fosfatase
alkali menurun.
Neurologik : Letargi, mental lambat, aliran darah ke otak menurun, kejang, koma, dementia,
gangguan psikosis, ataksia, gangguan saraf, rasa kecap, penciuman terganggu.
Kardiorespiratorik : Bradikardi, disritmia, hipotensi, curah jantung menurun, gagal jantung,
efusi pleural, dyspnea.
Gastrointestinal : Konstipasi, anoreksia, BB naik, distensi abdomen, obstruksi usus halus
oleh efusi peritoneal.
Renalis : Aliran darah ginjal menurun, GFR menurun, retensi air (volume plasma) menurun,
hipokalsemia.
Hematologi : Anemia normositik normokrom, anemia mikrositik.
Sistem Endokrin : Pada perempuan terjadi perubahan menstruasi seperti amenore atau masa
menstruasi yang panjang, Gangguan fertilitas, Gangguan hormone pertumbuhan dan respon
ACTH, Gangguan sintesis kortison, Moon face, Edema periorbita, Serak, Pembesaran leher,
Lida menebal.
Manifestasi klinis Hipetiroid
Tanda dan gejala yang timbul umumnya merupakan manifestasi dari hipermetabolisme,
antara lain :
Tidak tahan panas
Berkeringat, karena peningkatan kerja hormone tiroid dalam pembentukan panas.
Mudah lelah, karena terjadi degradasi netto simpanan karbohidrat, lemak, dan protein.
Penurunan massa protein otot rangka menyebabkan kelemahan.
Tremor
Ansietas
Eksoftalmus
Berat badan turun, karenan tubuh membakar bahan bakar dengan kecepatan abnormal.
Nasfu makan meningkat

23

Takikardi
Disritmia cordis
Masa difus di leher
Kenaikan ringan suhu tubuh

3.6 Diagnosis, Diagnosis Banding, Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum penderita, kesadaran dan status psikologisnya
Tekanan darah meningkat
Denyut jantung cepat dan tidak teratur oleh karena atrium fibrila
Adanya gambaran kolateral di daerah tiroid oleh karena hipervaskularisasi.
Pada palpasi tiroid didapatkan struma yang noduler, batasnya jelas, dan konsistensi
kenyal. Cara melakukan pemeriksaan ini, penderita disuruh duduk dan pemeriksa
memeriksa dari belakang pasien dengan menggunakan 3 jari, pasien disuruh menelan.
Yang bergerak saat menelan adalah tiroid.
Pada auskultasi di daerah tiroid terdengar bising sistolik / vascular bruit.
Hiperefleski pada pemeriksaan refleks APR (Ankle Patella Refleks) , KPR (Knee Patella
Reflex), refleks biseps dan triseps.
Tremor halus pada tangan penderita. Cara melakukan pemeriksaan ini, penderita dalam
keadaan duduk, tangan dan jari direntangkan (kira-kira tegak lurus pada posisi badan
yang duduk) lalu lihat ada tremor atau tidak.
Palpasi untuk melihat apakah ada pembesaran hati
Refleks kulit abdomen meningkat sehingga terjadi retraksi kulit abdomen
Kulit teraba lembab karena peningkatan produksi kelenjar keringat.
Pada mata dapat terjadi morbus sign, juga dapat terjadi pembengkakan di belakang mata
yang dikenal dengan istilah eksoftalamus/
24

Conjungtiva Chemosis.
Palpebra edema.
Pemeriksaan Penunjang
Fungsi Tiroid
Langkah pertama adalah menentukan status fungsi tiroid pasien dengan memeriksa kadar
TSH (sensitif) dan T4 bebas (Free T4 atau FT4). Pada keganasan tiroid, umumnya fungsi tiroid
normal. Namun, perlu diingat bahwa abnormalitas fungsi tiroid tidak menghilangkan
kemungkinan keganasan meskipun memang kecil.
Tes fungsi tiroid bertujuan untuk membantu menentukan status tiroid. Tes T4 digunakan
untuk menentukan suatu hipotiroidisme atau hipertiroidisme, menentukan maintenance dose
tiroid pada hipotiroidisme dan memonitor hasil pengobatan antitiroid pada hipertiroidisme. Tes
T3 digunakan untuk mendiagnosis hipertiroidisme dengan kadar T4 normal.
TSHs (Thyroid Stimulating Hormon sensitive) merupakan tes TSH generasi ketiga yang
dapat mendeteksi TSH pada kadar yang sangat rendah sehingga dapat digunakan sebagai
pemeriksaan tunggal dalam menentukan status tiroid, tes FT4 dan T3total dapat dilakukan
sebagai tes lanjutan bila dijumpai TSHs yang abnormal. Tes TRH digunakan untuk mengukur
respon hipofisis terhadap rangsangan dari TRH, caranya dengan menentukan kadar TSH serum
sebelum dan sesudah pemberian TRH eksogen.
Pada hipertiroidisme klinis/ subklinis tidak tampak peningkatan TSH setelah pemberian
TRH, sebaliknya bila pasien eutiroid/ sumbu hipotalamus-hipofisisnya masih intak maka
hipofisis akan memberi respons yang adekuat terhadap rangsangan TRH. Jika hasil tes TRH
normal, ini dapa menyingkirkan diagnosis hipertiroidisme.Maka, tes TRH ini hanya dilakukan
pada pasien yang dicurigai hipertiroidisme sedangkan kadar FT4 dan FT3 masih normal atau
dihunakan untuk mengevaluasi kadar TSH yang rendah atau tidak terdeteksi dengan atau tanpa
adanya hiper/hipotiroidisme yang penyebabnya tidak diketahui.
Pemeriksaan kadar antibodi antitiroid peroksidase dan antibodi antitiroglobulin penting untuk
diagnosis tiroiditis kronik Hashimoto, terutama bila disertai peningkatan kadar TSH. Sering pada
Hashimoto juga timbul nodul baik uni/bilateral sehingga pada tiroiditis kronik Hashimoto pun
masih mungkin terdapat keganasan.Pemeriksaan kadar tiroglobulin serum untuk keganasan tiroid
cukup sensitif tetapi tidak spesifik karena peningkatan kadar tiroglobulin juga ditemukan pada
tiroiditis, penyakit Graves, dan adenoma tiroid.
NILAI RUJUKAN DAN INTERPRETASI
1. TES T4

25

Interpretasi :

- Meningkat : hipertiroidisme, tiroiditis akut, kahamilan, penyakit hati kronik, penyakit ginjal,
diabetes mellitus, neonatus, obat-obatan: heroin, methadone, estrogen.
- Menurun : hipotiroidisme, hipoproteinemia, obat2an seperti androgen, kortikosteroid,
antikonvulsan, antitiroid (propiltiouracil) dll.
2. TES T3

Nilai Rujukan:

Dewasa: 0,8 2,0 ng/ml (60-118 ng/dl)


Wanita hamil, pemberian kontrasepsi oral : meningkat
Infant dan anak-anak kadarnya lebih tinggi.

Interpretasi

- Meningkat : hipertiroidisme, T3 tirotoksikosis, tiroiditis akut, peningkatan TBG, obatobatan:T3 dengan dosis 25 mg/hr atau lebih dan obat T4 300 mg/hr atau lebih, dextrothyroxine,
kontrasepsi oral
- Menurun : hipotiroidisme (walaupun dalam beberapa kasus kadar T3 normal), starvasi,
penurunan TBG, obat-obatan: heparin, iodida, phenylbutazone, propylthiuracil, Lithium,
propanolol, reserpin, steroid.
3. TES FT4

Nilai Rujukan: 10 27 pmol/L

Interpretasi:

- Meningkat : pada penyakit Graves dan tirotoksikosis yang disebabkan kelebihan produksi T4.
- Menurun : hipertiroidisme primer, hipotiroidisme sekunder, tirotoksikosis karena kelebihan
produksi T3.
4. TES FT3 (FREE TRI IODOTIRONIN)

Nilai Rujukan : 4,4 9,3 pmol/L

Interpretasi :

- Meningkat : pada penyakit Graves dan tirotoksikosis yang disebabkan kelebihan produksi T3.
26

- Menurun : hipertiroidisme primer, hipotiroidisme sekunder, tirotoksikosis karena kelebihan


produksi T3.
5. Tes TSH (THYROID STIMULATING HORMONE)

Nilai rujukan : 0,4 5,5 mIU/l

Interpretasi :

- Meningkat : hipotiroidisme pimer, tiroiditis (penyakit autoimun Hashimoto), terapi antitiroid


pada hipertiroidisme, hipertiroidisme sekunder karena hiperaktifitas kelenjar hipofisis, stress
emosional berkepanjangan, obat-obatan misalnya litium karbonat dan iodium potassium.
- Menurun : hipertiroidisme primer, hipofungsi kelenjar hipofisis anterior, obat-obatan misalnya
aspirin, kortikosteroid, heparin dan dopamin.
6. TES TSHs (TSH 3rd Generation)

Nilai rujukan : 0,4 5,5 mIU/l

Batas pengukuran : 0,002 20 mIU/L

Interpretasi

- Meningkat : hipotiroidisme pimer, tiroiditis (penyakit autoimun Hashimoto), terapi antitiroid


pada hipertiroidisme, hipertiroidisme sekunder karena hiperaktifitas kelenjar hipofisis, stress
emosional berkepanjangan, obat-obatan misalnya litium karbonat dan iodium potassium.
- Menurun : hipotiroidisme sekunder, hipertiroidisme primer, hipofungsi kelenjar hipofisis
anterior, obat-obatan misalnya aspirin, kortikosteroid, heparin dan dopamin.
7. Antibodi Tiroglobulin

Nilai rujukan : 3-42 ng/ml

Interpretasi :

- Meningkat : hipertiroidisme, subakut tiroiditis, kanker tiroid yang tidak diterapi, penyakit
Graves, tumor benigna, kista tiroid.
- Menurun : hipotiroidisme neonatal.
8. Antibodi Mikrosomal

Nilai rujukan : hasil tes negatif

27

Interpretasi :

Adanya antibodi mikrosomal menunjukkan penyakit tiroid autoimun, juga dapat ditemukan pada
kanker tiroid. Pada penderita dengan pengobatan tiroksin, bila ditemukan antibodi tiroid
memberi petunjuk kegagalan fungsi tiroid.
9. TS Ab

Nilai rujukan: hasil tes negatif

Interpretasi :

TSAb ditemukan pada 70-80% penderita Graves yang tidak mendapat pengobatan, 15% pada
penyakit Hashimoto, 60% pada penderita Graves oftalmik dan pada beberapa penderita kanker
tiroid.
Pencitraan
Pencitraan pada nodul tiroid dapat membantu mengarahkan dugaan nodul tiroid tersebut
cenderung jinak atau ganas. Modalitas yang sering dgunakan adalah sidik tiroid (scanning) dan
USG.
USG
Bertujuan untuk:

Dengan cepat dapat menentukan apakah tonjolan pada daerah leher berada di dalam atau di
luar tiroid

Dengan cepat dan akurat dapat membedakan lesi kistik atau lesi solid

Dengan lebih mudah dapat dikenali apakah tonjolan tersebut tunggal atau lebih dari satu.

Dapat membantu penilaian respon pengobatan pada terapi supresif.

Dapat membantu mencari keganasan tiroid pada metastasis yang tidak diketahui tumor
primernya.

Sebagai pemeriksaan penyaring terhadap golongan risiko tinggi untuk menemukan


keganasan tiroid.

Sebagai pengarah pada biopsi aspirasi tiroid.

Gambaran USG dengan karakteristik dan risiko kemungkiann ganas jika ditemukan nodul yang
hipoechogenik, mikrokalsifikasi, batas ireguler, peningkatan aliran vaskulat pada nodulu (via
pemeriksaan dengan teknik Doppler) serta bila ditemukan invasi/ limfadenopati regional.
28

Sidik Tiroid
Sidik tiroid dilakukan dengan menggunakan dua macam isotop yaitu iodium radioaktif (I123) dan teknetium perteknetat (Tc-99m dengan cara melihat kemampuan tiroid menangkap
radiofarmaka. Cara ini berguna untuk menetapkan apakah nodul dalam kelenjar tiroid bersifat
hiperfungsi, hipofungsi, atau normal yang umumnya disebut berturut-turut nodul panas, nodul
dingin, atau nodul normal. Kemungkinan keganasan ternyata lebih besar pada nodul yang
menunjukkan hipofungsi, meskipun karsinoma tiroid dapat juga ditemukan pada nodul yang
berfungsi normal.
Dari hasil sidik tiroid dapat dibedakan 3 bentuk:
-

Nodul dingin bila penangkapan iodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya. Hal ini
menunjukkan fungsi yang rendah.

Nodul panas bila penangkapan iodium lebih banyak dari pada sekitarnya.Keadaan ini
memperlihatkan aktivitas yang berlebih.

Nodul hangat bila penangkapan iodium di suatu daerah/nodul sedikit meninggi/hampir sama
dengan daerah sekitarnya; biasanya disebabkan oleh hiperplasia jaringan tiroid fungsional di
daerah tersebut.

Nodul normal jika distribusi penangkanap difus/rata di kedua lobi

29

Fig. 9. Four different iodine 123 (123I) thyroid scintigraphy patterns. (A) Normal thyroid showing
homogeneous function in both lobes. (B) Nonfunctioning cold nodule in the right thyroid lobe.
(C) Hyperfunctioning hot right thyroid nodule, with suppressed serum thyroid-stimulating
hormone level and suppressed uptake of 123I in the rest of the thyroid gland. (D) Typical pattern
of a multinodular goiter with irregular, patchy uptake of an enlarged thyroid gland, including
areas of normal, decreased, and increased 123I uptake.
CT SCAN & MRI
Computed Tomographic Scanning (CT Scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
tidak dianjurkan pada evaluasi awal nodul tiroid karena di samping tidak memberikan keterangan
berarti untuk diagnosis, juga sangat mahal. CTScan dan MRI baru diperlukan bila ingin
mengetahui adanya perluasan struma substernal atau terdapat penekanan trakea (organ
sekitarnya)
Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH)
BAJAH merupakan metode yang sangat efektif untuk membedakan nodul jinak atau
ganas. Pemeriksaan ini dianggap sebagai metode yang efektif untuk membedakan nodul jinak
atau ganas pada nodul tiroid yang soliter maupun pada yang multinoduler. Dilaporkan
pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus ini mempunyai sensitivitas sebesar 83% dan spesifisitas
30

92%. Angka negatif palsu sekitar 1-6% dan positif palsu sekitar 1%. Ini bisa karena kesalahan
pengambilan sampel (nodul kurang 1 cm atau lebih 4 cm).
Hasil BAJAH dibagi empat kategori:
-

Jinak (negatif): Tiroid normal, Nodul kolloid, Kista, Tiroiditis subakut, Tiroiditis Hashimoto

Mencurigakan: adenoma folikular, adenoma Hurtle, temuan kecurigan keganasan tapi tidak
pasti

Ganas (positif): karsinoma tiroid papilare, karsinoma tiroid medula, karsinoma tiroid
anaplastik

Tidak adekuat/memuaskan.

Keterbatasan metode ini adalah sering ditemukan hasil yang tidak adekuat sehingga tidak dapat
dinilai. Keterbatasan yang lain adalah tidak mampu membedakan neoplasma sel folikular dan sel
Hurtle adalah jinak atau ganas karena keduanya mirip. Keduanya bisa dibedakan dari ada atau
tidak adanya invasi kapsul atau invasi vaskular pada pemeriksaan histopatologis sediaan dari
operasi.
Ketepatan diagnostik FNAB akan meningkat bila sebelum biopsi dilakukan penyidikan
isotopik/USG. Sidik tiroid diperlukan untuk mentingkirkan nodul tiroid otonom dan nodul
fungsional hiperplastik, sedangkan USG selain untuk membedakan nodul kistik dari padat dan
menuntukan ukuran nodul, juga berguna untuk menuntun biopsi.
Teknik ini aman, murah serta dapat dilakukan pada pasien rawat jalan dengan risiko sangat kecil.

31

ALGORITME DIAGNOSIS

32

Diagnosis Banding :Struma difus toksik, struma nodosanontoksik, tiroiditis sun akut, tiroiditis
riedel, struma hashimoto, adenoma paratiroid, carcinoma paratiroid, metastasis tumor, teratoma,
limfoma malignum.

3.7 Penatalaksanaan
Tatalaksana Hipotiroidisme
Yang perlu diperhatikan ialah: a). Dosis awal; b). Cara menaikkan dosis tiroksin. Tujuan
pengobatan hipotiroidisme ialah: 1). Meringankan keluhan dan gejala; 2). Menormalkan
metabolisme; 3). Menormalkan TSH (bukan mensupresi); 4). Membuat T3 (dan T4) normal;
5).Menghindarkan komplikasi dan risiko. Beberapa prinsip dapat digunakan dalam
melaksanakan subsitusi: (a). Makin berat hipotiroidisme, makin rendah dosis awal dan makin
landai peningkatan dosis; (b) Geriatri dengan angina pektoris, CHF, gangguan irama, dosis harus
hati-hati.
Prinsip substitusi ialah mengganti kekurangan produksi hormon tiroid endogen pasien.
Indikator kecukupan optimal sel ialah kadar TSH normal. Dosis supresi tidak dianjurkan, sebab
ada risiko gangguan jantung dan densitas mineral.Tersedia L-tiroksin (T4), L-triodotironin (T3),
maupun pulvus tiroid.Pulvus tak digunakan lagi karena efeknya sulit diramalkan.T3 tidak
digunakan sebagai substitusi karena waktu paruhnya pendek hingga perlu diberikan beberapa
kali sehari.Obat oral terbaik ialah T4.Akhir-akhir ini dilaporkan bahwa kombinasi pengobatan T4
dengan T3 (50 ug T4diganti 12.5 ug T3) memperbaiki mood dan faal neuropsikologis.
Tiroksin dianjurkan diminum pagi hari dalam keadaaan perut kosong dan tidak bersama
bahan lain yang mengganggu serapan usus. Contohnya pada penyakit sindrom malabsorbsi, short
bowel syndrome, sirosis, obat (sukralfat, aluminium hidroksida, kolestiramin, formula kedele,
sulfas ferosus, kalsium karbonat.Dilantin, rifampisin, fenobarbital dan tegretol meningkatkan
ekskresi empedu.Dosis rerata substitusi L-T4 ialah 112 ug/hari atau 1.6 ug/kg BB atau 100-125
mg sehari.Untuk L-T3 25-50 ug. Kadar TSH awal seringkali dapat digunakan patokan dosis
pengganti: TSH 20 uU/ml butuh 50-75 ug tiroksin sehari, TSH 44-75 uU/ml butuh 100-150 ug.
Sebagian besar kasus membutuhkan 100-200 ug L-T4 sehari.
Pasien dewasa muda. Tiroksin untuk terapi sulih dosis yang umum adalah 1,5 2,2
g/kg berat badan ideal. Dosis penuh bisa diberikan sejak awal jika tujuannnya adalah untuk
terapi sulih total (full replacement therapy). Terapi awal bisa diberikan dosis 50% diberikan
selama 1 atau 2 minggu, dan dinaikkan bertahap bisa mengurangi gejala kecemasan atau
nervousness yang terkait dengan terapi sulih yang terlalu cepat. Pasien perlu mendapatkan
informasi bahwa perbaikan klinis terjadi secara bertahap selama beberapa minggu dan efek
eutiroid baru dicapai dengan pengobatan selama 2 atau 3 bulan. Laboratorium T4 menunjukkan
angka normal setelah beberapa hari pengobatan, serum T3 mencapai kadar normal setelah 2
33

sampai 4 minggu, tetapi serum TSH mencapai normal memerlukan waktu 6 8 minggu.
Penyesuaian dosis T4 dilakukan setelah waktu ini dengan mengatur dosis antara 12,5 g sampai
25 g untuk mendapatkan respon klinik yang optimal dan mendapatkan TSH dan T4 pada kadar
normal. Evaluasi klinik dan pemeriksaan serum hormon merupakan kombinasi untuk menaksir
optimasi keberhasilan terapi.
Pasien usia dewasa pertengahan. Hipotiroid pada individu sehat mungkin memerlukan
dosis 1,5 2,0 g/kg. Jika terdapat penyakit penyerta misal penyakit jangtung koroner, penyakit
paru kronik. Dosis dimulai dari kadar yang rendah yaitu T4 25 g dan dinaikkan 25 g per bulan
tergantung dari respon klinik. Strategi low show dirancang untuk mencegah dampak negatif
berupa: a) Pemulihan keadaan eutiroid meningkatkan kebutuhan dan angina menjadi lebih
sering, dan b) jantung lebih rentan terhadap efek kronotropik hormon tiroid, sehingga pasien
tertentu lebih rentan terjadin takhikardia yang bersifat fatal. Ketakutan dan kehati-hatian klinisi
bisa berlebihan menyebabkan pasien mengalami hipotiroid yang berkepanjangan, sehingga
pertimbangan prosedur harus jelas.
Pasien usia lanjut. Pada usia lanjut sebaiknnya harus selalu mempertimbangkan
kemungkinan keberadaan penyakit jantung iskemik, mungkin dalam bentuk subklinik,
pemberian dosis T4 harus serendah mungkin misalnya 12,5 25g/hari. Dosis ditingkatkan
bertahap sebesar 25 g per 4 atau 6 minggu sampai mencapai TSH dalam batas yang normal.
Kehamilan. Pasien Hipotiroidisme wanita yang kemudian hamil, maka selama kehamilan
hormon tiroid ditingkatkan sampai 25 atau 50 g untuk mencapai TSH yang normal.
Hipotiroidisme Subklinis (HSK)
Disebut demikian kalau TSH naik, kadar hormon tiroid dalam batas normal. Umumnya
gejala dan tanda tidak ada atau minimal. Banyak ditemukan pada wanita usia lanjut. Akibat
jangka panjangnya yaitu hiperkolesterolemia dan menurunnya faal jantung.Masih ada
kontroversi tentang diobati atau tidak diobati kasus hipotiroidisme subklinis ini.Pengalaman
menunjukkan substitusi tiroksin pada kasus dengan TSH > 10 mU/ml memperbaiki keluhan dan
kelainan objektif jantung.Dosis harus disesuaikan apabila pasien hamil.Untuk mencegah krisis
adrenal pada pasien dengan insufisiensi adrenal, glukokortikoid harus diberikan terlebih dahulu
sebelum terapi tiroksin.
Pemberian substitusi tiroksin pada usia lanjut harus berhati-hati, mulai dengan dosis
kecil, misalnya 25 mg sehari dan ditingkatkan perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya
fibrasi maupun gagal jantung. Harus lebih hati-hati pada mereka dengan hipotiroidisme berat dan
lama.
Tatalaksana Hipertiroidisme

34

Prinsip pengobatan: tergantung dari etiologi tirotoksikosis, usia pasien, riwayat alamiah
penyakit, tersedianya modalitas pengobatan, situasi pasien, risiko pengobatan dan sebagainya.
Perlu diskusi mendalam dengan pasien tentang cara pengobatan yang dianjurkan. Pengobatan
tirotoksikosis dapat dikelompokkan dalam :
a.

Tirostatika (OAT obat anti tiroid)

Terpenting adalah kelompok derivat tioimidazol (CBZ, karbimazol 5 mg, MTZ,


metimazol atau tiamazol 5, 10, 30 mg) dan derivat tiourasil (PTU propiltiourasil 50, 100 mg)
menghambat proses organifikasi dan reaksi autoimun, tetapi PTU masih ada efek tambahan yaitu
menghambat konversi T4 - T3 di perifer. CBZ dalam tubuh cepat diubah menjadi MTZ. Waktu
paruh MTZ 4-6 jam dan PTU 1-2 jam. MTZ berada di folikel 20 jam, PTU lebih pendek.
Tirostatika dapat lewat sawar plasenta dari air susu ibu. Dibanding MTZ, kadar PTU 10x lebih
rendah dalam air susu. Pemakaian teratur dan lama dosis besar tionamid berefek imunosupresif
intratiroidal. Dosis dimulai dengan 30 mg CMZ, 30 mg MTZ atau 400 mg PTU sehari dalam
dosis terbagi. Biasanya dalam 4-6 minggu tercapai eutiroidisme.Kemudian dosis dititrasi sesuai
respons klinis. Lama pengobatan 1-1,5 tahun, kemudian dihentikan untuk melihat apakah terjadi
remisi.
Tabel 2. Efek Berbagai Obat yang Digunakan dalam Pengelolaan Tirotoksikosis
Kelompok obat

Efeknya

Obat Anti Tiroid


Menghambat
sintesis
Propiltiourasi (PTU)
hormon tiroid dan berefek
Metimazol (MMI)
imunosupresif (PTU juga
Karbimazol (CMZ
menghambat konversi T4
MMI)
T3)
Antagonis adrenergik-
B-adrenergic-antagonis
Mengurangi
dampak
Propranolol
hormon tiroid pada jaringan
Metoprolol
Atenolol
Nadolol
Bahan mengandung Iodine
Menghambat keluarnya
Kalium Iodida
T4 dan T3
Solusi Lugol
Menghambat
T4 dan
Natrium Ipodat
T3 serta produksi T3
Asam Iopanoat
ekstratiroidal
Obat lainnya
Menghambat
transpor
Kalium perklorat
yodium, sintesis dan
Litium karbonat
keluarnya hormone
Glukokortikoids

Indikasi

Pengobatan
ini
pertama pada Graves
Obat jangka pendek
prabedah/pra-RAI

Obat tambahan, kadang


sebagai obat tunggal
pada tiroiditis

Persiapan
tiroidektomi
Pada krisis tiroid,
bukan
untuk
penggunaan rutin
Bukan indikasi rutin pada
subakut tiroiditis berat
dan krisis tiroid
35

Memperbaiki
efek
hormon di jaringan dan
sifat imunologis

Ada dua metoda yang dapat digunakan dalam penggunaan OAT ini. Pertama berdasarkan
titrasi: mulai dengan dosis besar dan kemudian berdasarkan klinis/labotaroris dosis diturunkan
sampai mencapai dosis terendah di mana pasien masih dalam keadaan eutiroidisme. Kedua
disebut sebagai blok-substitusi, dalam metoda ini pasien diberi dosis besar terus menerus dan
apabila mencapai keadaan hipotiroidisme, maka ditambah hormon tiroksin hingga menjadi
eutiroidisme pulih kembali. Rasional cara kedua ini yaitu bahwa dosis tinggi dalam lama
memberi kemungkinan perbaikan proses imunologik yang mendasari proses penyakit Graves.
Efek samping yang sering rash, urtikaria, demam dan malaise, alergi, eksantem, nyeri
otot dan artralgia, yang jarang keluhan gastrointestinal, perubahan rasa dan kecap, artritis dan
yang paling ditakuti yaitu agranulositosis. Yang terakhir ini kalau terjadi hampir selalu pada 3
bulan pertama penggunaan obat.Yang amat jarang trombositopenia, anemia aplastik, hepatitis,
vaskulitis, hipoglikemia (insulin autoimmune syndrome).
TIROIDEKTOMI
Merupakan prosedur pembedahan di mana semua atau sebagian dari kelenjar tiroid akan
dihilangkan.

36

Untuk menghapus kelenjar tiroid, sayatan dibuat di bagian depan leher (A). Otot dan
jaringan penghubung, atau fasia, dibagi (B). Pembuluh darah dan arteri atas dan di bawah tiroid
adalah putus (C), dan kelenjar akan dihapus dalam dua bagian (D). Jaringan dan otot diperbaiki
sebelum irisan kulit ditutup (E).
Tujuan: Semua atau bagian dari kelenjar tiroid dapat dipindahkan untuk memperbaiki
berbagai kelainan. Berguna jika seseorang memiliki nodul tiroid. Baik tumor kanker dan bukan
kanker (sering disebut nodul) dapat berkembang dalam kelenjar tiroid. Pertumbuhan ini harus
dikeluarkan, di samping beberapa atau seluruh kelenjar itu sendiri.
Pasien umumnya dirawat satu sampai empat hari setelah sebuah tiroidektomi.
Sebelum tiroidektomi yang dilakukan, berbagai tes dan penelitian biasanya diperlukan untuk
menentukan sifat penyakit tiroid.
Jika diagnosis hipertiroidisme, seseorang mungkin akan diminta untuk mengambil obat
antitiroid atau iodida sebelum operasi. Pengobatan lanjutan dengan obat antitiroid mungkin
merupakan pengobatan pilihan. Jika tidak, ada prosedur khusus lainnya harus diikuti sebelum
operasi.
Risiko: Ada risiko yang pasti terkait dengan prosedur. Kelenjar tiroid harus dihapus
hanya jika ada alasan menekan atau kondisi medis yang memerlukan itu.
Seperti semua operasi, orang yang mengalami obesitas, merokok, atau memiliki gizi
buruk memiliki resiko lebih besar untuk mengembangkan komplikasi berhubungan dengan
anestesi umum itu sendiri.
Suara serak atau kehilangan suara mungkin berkembang jika saraf laring berulang terluka
atau dihancurkan selama operasi. kerusakan saraf lebih mudah terjadi pada orang yang memiliki
gondok besar atau tumor kanker.
Hipoparatiroidisme (underfunctioning dari kelenjar paratiroid) dapat terjadi jika kelenjar
paratiroid terluka atau ikut diangkat pada saat tiroidektomi itu. Hipoparatiroidisme ditandai oleh
penurunan kadar kalsium darah yang mengakibatkan kejang otot dan berkedut.
Hipotiroidisme (underfunctioning dari kelenjar tiroid) dapat terjadi jika semua atau
hampir seluruh kelenjar tiroid akan dihilangkan. Solusinya adalah obat pengganti tiroid
diperlukan selama sisa hidupnya.Perdarahan di daerah operasi dapat terjadi dan sulit untuk
dikontrol dan dihentikan. Jika hematoma terjadi di sebagian tubuh, mungkin mengancam
nyawa. Jika hematoma meyebar, dapat menghalangi jalan napas. Jika hematoma tidak menyebar
di leher, ahli bedah mungkin perlu melakukan drainase untuk membersihkan jalan napas.

37

Luka infeksi dapat terjadi. Mortalitas tiroidektomi pada dasarnya adalah


nol. Hypothyroidism diperkirakan terjadi pada 12-50% orang pada tahun pertama setelah sebuah
tiroidektomi.
Kematian dari badai tiroid/ krisis tirotoksikosis, suatu komplikasi yang jarang pasca
tiroidektomi, berada di kisaran 20-30%. Badai tiroid ditandai dengan demam, kelemahan dan
pemborosan otot-otot, pembesaran kegelisahan, hati, perubahan suasana hati, perubahan status
mental, dan dalam beberapa kasus, koma badai tiroid. Setelah tiroidektomi parsial, fungsi tiroid
kembali normal pada 90-98% dari orang.

3.9 Komplikasi
1.

Paralisis pita suara

2.

Metastasis jauh

3.

Pendarahan

4.

Trauma nervus langerhan

5.

Abses

6.

Hipokalsemia

7.

Infeksi sebsis

3.10 Prognosis
Prognosis pasien dengan nodul thyroid berdiferensiasi baik tergantung pada umur, adanya
ekstensi, adanya lesi metastasis, diameter tumor dan jenis histopatologi.

3.11 Pencegahan

Primer

Tujuannya untuk menghindari diri dari faktor resiko.


-

Berikan edukasi

Konsumsi makanan sumber iodium (ikan laut, garam beryodium)

Iodisasi air minum untuk wilayah dengan resiko tinggi


38

Berikan kapsul minyak beriodium pada penduduk di daerah endemik berat dan sedang

Sekunder
-

Deteksi dini penyakit

Upayakan orang yang sakit agar sembuh

Hambat progresivitas penyakit

Tersier

Tujuannya untuk mengembalikan fungsi mental, fisik, dan sosial penderita setelah proses
penyakitnya dihentikan.
-

Kontrol
berkala
untuk
kekambuhan/penyebaran

memastikan

dan

mendeteksi

adanya

Lakukan rehabilitasi dengan membuat penderita lebih percaya diri, fisik sehat
bugar dan keluarga serta masyarakat daopet menerima kehadirannya melalui
fisioterapi

Menekan munculnya komplikasi dan kecacata

4. Memahami dan Menjelaskan Hukum Islam dalam Operasi


Terkadang seorang muslim diuji oleh Allah dengan suatu penyakit, dia ingin sembuh dari
penyakit tersebut, dia mengetahui bahwa berobat dianjurkan, akan tetapi penyakit dimana dia
diuji oleh Allah dengannya, jalan menuju kepada kesembuhannya menurut para dokter adalah
operasi. Pertanyaannya bagaimana pandangan syariat terhadap operasi medis yang umumnya
adalah tindakan pembedahan? Dalil-dalil dari al-Qur`an dan sunnah menetapkan dibolehkannya
operasi medis dengan syarat-syaratnya, dan bahwa tidak ada dosa atas seorang muslim
melakukannya untuk meraih kesembuhan dari penyakit yang Allah ujikan kepadanya dengan izin
Allah.
Adapun dalil-dalil tersebut maka ia sebagai berikut:
Firman Allah, Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Al-Maidah: 32).
Dalam ayat ini Allah memuji orang yang berusaha menghidupkan dan menyelamatkan
jiwa dari kematian dan sudah dimaklumi bahwa dalam banyak kasus operasi medis menjadi
sebab terselamatkannya jiwa dari kematian yang hampir dipastikan.Tidak sedikit penyakit di
mana kesembuhannya tergantung setelah Allah kepada operasi medis, tanpa operasi penyakit
39

penderita akan memburuk dan membahayakannya,jika tim medis melakukannya dan penderita
sembuh dengan izin Allah berarti mereka telah menyelamatkannya. Tanpa ragu ini termasuk
perbuatan yang dipuji oleh ayat di atas. Adapun dari sunnah maka ada beberapa hadits yang bisa
dijadikan pijakan dalam menetapkan dibolehkannya operasi medis, di antaranya:
1. Hadits hijamah (berbekam)
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw berbekam di kepalanya. (HR. Al-Bukhari).
Dari Jabir bahwa dia menjenguk orang sakit. Dia berkata, Aku tidak meninggalkan tempat ini
sebelum kamu berbekam karena aku mendengar Rasulullah saw bersabda,Padanya terdapat
kesembuhan. (HR. Al-Bukhari). Hadits tersebut menetapkannya disyariatkannya hijamah dan
sudah dimaklumi bahwa hijamah dilakukan dengan membedah atau menyayat tempat tertentu
pada tubuh untuk menyedot darah kotor dan membuangnya.Jadi disyariatkannya hijamah
merupakan dasar dibolehkannya membedah tubuh untuk membuang penyakit atau penyebab
penyakit.
2. Hadits Jabir bin Abdullah
Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah SAW mengirim seorang tabib kepada Ubay
bin Kaab maka tabib tersebut memotong pembuluh darahnya dan menempelnya dengan
besi panas . (HR. Muslim).
Dalam hadits ini Nabi SAW menyetujui apa yang dilakukan oleh tabib tersebut terhadap
Ubay bin Kaab, dan apa yang dilakukan oleh tabib tersebut adalah salah satu bentuk operasi
medis yaitu pemotongan terhadap anggota tertentu. Kemudian dari sisi pertimbangan kebutuhan
penderita kepada operasi yang tidak lepas dari dua kemungkinan yaitu menyelamatkan hidup dan
menjaga kesehatan,pertimbangan yang dalam kondisi tertentu bisa mencapai tingkat dharurat
maka tidak adaalasan yang rajih menolak operasi medis.
Syariat Islam tidak melarang operasi medis secara mutlak dan tidak membolehkan secara
mutlak, syariat meletakkan larangan pada tempatnya dan pembolehan pada tempatnya, masingmasing diberi hak dan kadarnya.Jika operasi medis memenuhi syarat-syarat yang diletakkan
syariat maka dibolehkankarena dalam kondisi ini target yang diharapkan yaitu kesembuhan
dengan izin Allah bias diwujudkan, sebaliknya jika tim medis berpandangan bahwa operasi tidak
bermanfaat, tidak mewujudkan sasarannya atau justru menambah penderitaan penderita maka
dalam kondisi ini syariat melarangnya. Inilah syarat-syarat dibolehkannya operasi medis yang
diletakkan oleh fuqaha Islam dalam buku-buku mereka, syarat-syarat ini diambil dari dasar-dasar
kaidah syariat.
1) Hendaknya operasi medis disyariatkan.
2) Hendaknya penderita membutuhkannya.

40

3) Hendaknya penderita mengizinkan.


4) Hendaknya tim medis menguasai.
5) Hendaknya peluang keberhasilan lebih besar.
6) Hendaknya tidak ada cara lain yang lebih minim mudharatnya
7) Hendaknya operasi medis berakibat baik.
8) Hendaknya operasi tidak berakibat lebih buruk daripada penyakit penderita.

41

Daftar Pustaka :

Cotran RS, Kumar V, Robbin SL (2004) Dasar Patologi, ed.7.


Gan S, Setiabudi R, Suyatna FD, dkk. 1995. Farmakologi dan Terapi, ed 4, Jakarta.
Bagian farmakologi FK UI.
Guyton dan Hall.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.Jakarta: EGC.
Luis, Juncqueira, Jose Carneiro, 1991. Histologi Dasar, ed.3. EGC, Jakarta.
Murray, Robert K.,dkk. 2003. Biokimia Harper. Jakarta: EGC.
Sherwood. L. 2004. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta : EGC.
http://www.scribd.com/doc/44632319/Hukum-Operasi-Dan-Bedah-Mayat-MenurutHukum-Islam oleh Ahmed Mawardi

42