Anda di halaman 1dari 13

LIKEN SIMPLEKS KRONIS

I.

DEFINISI
Liken simpleks merupakan dermatosis eksematous

yang ditandai oleh

sejumlah kecil plak likenoid atau paling sering lesi tunggal. Penyakit ini merupakan
peradangan kulit yang bersifat kronik, terlokalisasi, superfisial, pruritus, ditandai
dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai
kulit batang kayu, akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai
rangsangan pruritogenik. Nama lain liken simpleks kronikus ialah neurodermatitis
sirkumskripta. (1, 2)
II.

EPIDEMIOLOGI
Liken simpleks kronik sering muncul pada usia dewasa, terutama usia 30

hingga 50 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Pada wanita
yang sudah menopause dikatakan sering ditemukan neurodermatitis yang terlokalisasi
pada bagian posterior leher. Pasien dengan koeksistensi dermatitis atopik cenderung
memiliki onset umur yang lebih muda (rata-rata 19 tahun) dibandingkan dengan
pasien tanpa atopi (rata-rata 48 tahun).(3)
III.

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS


Liken simpleks kronik diinduksi oleh garukan atau gosokan pada kulit yang

terus menerus akibat dari rasa gatal. Etiologi pasti liken simpleks kronik masih belum
diketahui, dan kajian mengatakan bahwa hubungan antara liken simpleks kronik
dengan dermatitis atopik sekitar 26 75 %. (3)
Pruritus memainkan peran sentral dalam timbulnya pola reaksi kulit berupa
likenifikasi dan prurigo nodularis. Hipotesis mengenai pruritus dapat oleh karena
adanya penyakit yang mendasari, misalnya gagal ginjal kronis, obstruksi saluran
empedu, limfoma Hodgkin, hipertiroidea, penyakit kulit seperti dermatitis atopik,

dermatitis kontak alergi, gigitan serangga, dan aspek psikologik dengan tekanan
emosi.(2, 4)
Faktor lingkungan yang memiliki pengaruh dalam menginduksi gatal seperti
panas, keringat, dan iritasi yang terkait dengan liken simpleks kronik anogenital.
Faktor psikologis juga berperan dalam perkembangan penyakit ini. Gangguan depresi
dilaporkan sering ditemukan pada pasien liken simpleks kronik. Baik faktor emosi
yang merupakan akibat sekunder dari penyakit kulit primer mau pun penyakit kulit
itu sendiri yang menyebabkan munculnya persepsi pruritus, keduanya masih belum
dipahami. (3)
Pada prurigo nodularis jumlah eosinofil meningkat. Eosinofil berisi protein X
dan protein kationik yang dapat menimbulkan degranulasi sel mast. Jumlah sel
Langerhans juga bertambah banyak. Saraf yang berisi CGRP (calcitonin gene-related
peptide) dan SP (substance P), bahan imunoreaktif, jumlahnya di dermis bertambah
pada prurigo nodularis, tetapi tidak pada neurodermatitis sirkumskripta. SP dan
CGRP melepaskan histamin dari sel mast yang selanjutnya akan memicu pruritus.
Ekspresi faktor pertumbuhan saraf p75 pada membran sel Schwan dan sel perineurum
meningkat, mungkin ini menghasilkan hiperplasi neural.(2)
IV.

MANIFESTASI KLINIS
Penderita mengeluh gatal sekali, bila timbul malam hari dapat mengganggu

tidur. Rasa gatal memang tidak terus menerus, biasanya pada waktu tidak sibuk, bila
muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk. Penderita merasa enak bila digaruk, setelah
luka, baru hilang rasa gatalnya untuk sementara (karena diganti dengan rasa nyeri).
Gatal bertambah berat pada saat berkeringat, panas, atau iritasi dari pakaian. Gatal
juga bertambah dalam keadaan distress psikologis.(2, 3)
Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak erimatosa, sedikit
edematosa, lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama
dan menebal, likenifikasi dan ekskoriasi, sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan
kulit normal tidak jelas. Gambaran klinis dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya

lesi. (2, 5)
Liken simpleks kronik jarang terjadi pada anak, tetapi pada usia dewasa ke
atas, puncak insiden pada usia antara 30-50 tahun. Wanita lebih sering menderita
daripada pria. Letak lesi dapat timbul di mana saja, tetapi yang biasa ditemukan, pada
tengkuk, tungkai bawah dan pergelangan kaki, samping leher, kulit kepala, bagian
atas paha, vulva, pubis dan labia mayora pada wanita, perineum dan skrotum pada
laki-laki, pergelangan tangan dan ekstensor lengan bawah. Neurodermatitis di daerah
tengkuk (lichen nuchae) umumnya hanya pada wanita, berupa plak kecil di tengah
tengkuk atau dapat meluas hingga ke kulit kepala. Biasanya skuamanya banyak
menyerupai psoariasis.(2)

Gambar 1: Liken simpleks kronis pada kulit kepala


(Dikutip
kepustakaan
4) kronis pada bagian
Gambar dari
2: Liken
simpleks
medial pergelangan kaki (Dikutip dari kepustakaan
4)

Gambar 3: Liken simpleks kronis pada dorsum pedis


(Dikutip dari kepustakaan 4)

4 (a)

4 (b)

Gambar 4: Papul folikular pada siku (a) , Liken simpleks kronis (b)
(Dikutip dari kepustakaan 1)

Variasi
liken simpleks
dapat

klinis
kronis

berupa

prurigo nodularis, akibat garukan atau korekan tangan penderita yang berulang-ulang
pada suatu tempat. Lesi berupa nodus berbentuk kubah, permukaan mengalami erosi
tertutup krusta dan skuama, lambat laun menjadi keras dan berwarna lebih gelap
(hiperpigmentasi). Lesi biasanya multipel, lokalisasi tersering di ekstremitas,
berukuran mulai beberapa milimeter sampai 2 cm.(2)

Gambar 5: Liken simpleks kronis pada scrotum. Likenifikasi,


hipo-hiperpigmentasi dan eksoriasi. (Dikutip dari kepustakaan 4)

V.

HISTOPATOLOGI
Gambaran histopatologik neurodermatitis sirkumskripta berupa ortokeratosis,
hiperglanulosis, akantosis dengan rete ridges memanjang teratur. Bersebukan sel
radang limfosit dan histiosit di sekitar pembuluh darah dermis bagian atas, fibroblast
bertambah, kolagen menebal. Pada prurigo nodularis akantosis pada bagian tengah
lebih tebal, menonjol lebih tinggi dari permukaan, sel Schwan berproliferasi, dan
terlihat hiperplasi neural. Kadang terlihat krusta yang menutup sebagian epidermis. (2,
6)

Gambar 6: Panah menunjukkan akantosis dengan


rete ridges memanjang teratur (Dikutip dari
kepustakaan 6)

Gambar 7: (i) Panah merah menunjukkan hiperkeratosis, (ii) Panah biru


menunjukkan penebalan epidermis dan rete ridges memanjang teratur, (iii) Panah
hijau menunjukkan fibroblast bertambah, kolagen menebal. (Dikutip dari
kepustakaan 6)

VI.

IAGNOSIS BANDING
A.

Psoriasis
Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritem yang meninggi (plak)
dengan skuama di atasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada
stadium penyembuhan sering eritema di tengah menghilang dan hanya pada
pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika serta
transparan. Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner
(isomorfik). (2)

Gambar 8: Kronik plak pada psoriasis. Adanya lesi yang simetrik. (Dikutip dari
kepustakaan 3)

B.

Atopik Eksema
Dermatitis atopik ialah keadaan peradangan kulit kronis dan residif,
disertai gatal, yang berhubungan dengan atopi. Penyakit ini bisa terjadi pada
masa bayi (infantil), anak mau pun remaja dan dewasa. Terdapat riwayat
alergi pada pasien atau keluarga, lesi multipel, secara klasik tampak pada area
kubital, poplitea, dan wajah. (2, 4)

Gambar 9: Papul prurigo pada pasien atopik eksema (Dikutip dari kepustakaan 3)

C.
Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak merupakan dermatitis yang disebabkan oleh
bahan/substansi yang menempel pada kulit. Ada dua macam dermatitis kontak
yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi.
a.

Dermatitis kontak iritan, merupakan kelainan kulit yang terjadi

sangat beragam, bergantung pada sifat iritan.


b.

Dermatitis kontak alergi, merupakan dermatitis kontak dimana

penyebabnya adalah bahan kimia sederhana dengan berat molekul umunya


rendah (<1000 dalton), merupakan alergen yang belum diproses, disebut
hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dapat menembus stratum korneum
sehingga mencapai sel epidermis di bawahnya (sel hidup). (2)

Gambar 10: Tampak papul eritema dan vesikel pada fase


akut dermatitis kontak alergik. (Dikutip dari kepustakaan
4)

Gambar 11: Dermatitis kontak iritan pada tukang las.


(Dikutip dari kepustakaan 3)

D. Liken Planus
Liken planus ditandai timbulnya papul-papul yang mempunyai warna
dan konfigurasi yang khas. Papul-papul berwarna merah biru, berskuama, dan
berbentuk siku-siku. Lokasinya di ekstremitas bagian fleksor, selaput lendir,
dan alam kelamin. Sangat gatal, umumnya membaik dalam waktu 1-2 tahun. (2,
4)

E. Dermatitis

Gambar 12: Penonjolan ada kulit, rata, poligonal,


berbatas tegas dan berkelompok. (Dikutip dari
kepustakaan 3)

Dermatitis

Seboroik

seboroik

merupakan penyakit yang sering dialami, memberi gambaran papuloskuama


dan menyerang anak-anak serta orang dewasa. Lesi sering ditemukan pada
anggota badan yang mempunyai banyak folikel-folikel kelenjar sebacea
termasuk muka, kepala, telinga, trunkus dan fleksura. Efloresensinya yaitu
eritema, superficial patch dan plak yang berwarna kekuningan.(3)

10

Gambar 13: Dermatis seboroik pada regio


nasolabial, pipi, alis dan hidung. (Dikutip dari
kepustakaan 3)
VII.

DIAGNOSIS
Diagnosis

neurodermatitis

sirkumskripta

didasarkan gambaran klinis, biasanya tidak terlalu sulit. Namun perlu dipikirkan
kemungkinan penyakit kulit lain yang memberikan gejala pruritus misalnya liken
planus, liken amiloidosis, psoriasis dan dermatitis atopik. (2)
VII.

KOMPLIKASI
Kajian membuktikan terjadinya gangguan siklus tidur pada pasien liken

simpleks kronis. Non Rapid Eye Movement (Non REM) terganggu dan pasien
cenderung terbangun sewaktu tidur karena gatal. (3)
VIII.

PENATALAKSANAAN
Terapi bertujuan untuk memutuskan siklus gatal-garukan. Secara umum perlu

dijelaskan kepada penderita bahwa garukan akan memperburuk keadaan penyakitnya,


oleh karena itu harus dihindari. Untuk mengurangi rasa gatal dapat diberikan
antipruritus, kortikosteroid topikal atau intralesi, produk ter.(2)
Pertama, langkah-langkah untuk mengontrol gatal yaitu steroid topikal kuat

11

serta persiapan antipruritik nonsteroid seperti mentol, fenol, atau pramoxine. Emolien
adalah tambahan penting. Steroid intralesi seperti triamcinolone acetonide, yang
diberikan dalam berbagai konsentrasi sesuai dengan ketebalan plak atau nodul,
bermanfaat.(3, 5)
Antipruritus dapat berupa antihistamin yang mempunyai efek sedatif (contoh:
hidroksizin, difenhidramin, prometazin) atau tranquilizer. Antihistamin penenang
seperti hidroksizin, atau antidepresan trisiklik seperti doxepin, dapat digunakan untuk
menghilangkan gatal pada malam hari di kedua kondisi. Selective serotonin reuptake
inhibitor telah direkomendasikan untuk menghilangkan pruritus siang hari atau pada
pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. (2, 3)
Dapat pula diberikan secara topikal krim doxepin 5% dalam jangka pendek
(maksimum 8 hari). Kortikosteroid yang dipakai biasanya berpotensi kuat, bila perlu
ditutup dengan penutup impermeable; kalau masih tidak berhasil dapat diberikan
secara suntikan intralesi.Salep kortikosteroid dapat pula dikombinasi dengan ter yang
mempunyai efek anti-inflamasi.Ada pula yang mengobati dengan UVB dan PUVA.
Perlu dicari kemungkinan ada penyakit yang mendasarinya, bila memang ada harus
juga diobati. (2)
IX.

PROGNOSIS
Prognosis bergantung pada penyebab pruritus (penyakit yang mendasari), dan

status psikologik penderita. Dapat menjadi kronik dengan lesi persisten atau rekuren.
Eksaserbasi dapat terjadi dalam respon terhadap stress emosional.(2, 3)

12

DAFTAR PUSTAKA

1.
2.
3.

4.
5.
6.

Berth-Jones J. Eczema, Lichenification, Prurigo and Erythrodrma In: Burns T,


Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rook/s Textbook of Dermatology. 8
ed. United Kingdom: Blackwell Publishing; 2010. p. 23.39-23.41.
Sularsito SA, Djuanda S. Dermatitis In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S,
editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 6 ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2013. p. 129-48.
Burgin S. Nummular Eczema, Lichen Simplex Chronicus, Prurigo Nodularis.
In: Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolf K,
editors. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. 8 ed. New York: Mc
Graw Hill 2012. p. 289-94.
Hall JC. Pruritic Dermatoses. In: Hall JC, Seigafuse S, Ferran A, Winter N,
Brown K, Douherty B, et al., editors. Sauer's Manual of Skin Disease. 9 ed:
Lippincott Williams & Wilkins; 2006. p. 1-12.
SA J. Lichen Simplex Chronicus. Journal of Pakistan Association of
Dermatologist. 2006;1:62-3.
Rajendra Singh M. Lichen Simplex Chronicus Histopathology. My Derm
Path. 2013;1.

13