Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Epidemiologi merupakan salah satu bagian dari ilmu kesehatan masyarakat
yang menekankan perhatiannya terhadap masalah kesehatan baik penyakit
maupun non penyakit yang terjadi dalam masyarakat (Maryani, Mulyani, 2010).
Kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Belanda
abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan
adanya upaya pemberantasan penyakit yang sangat ditakuti masyarakat.
Pengorganisasian masyarakat dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan kesehatan
masyarakat, pada hakikatnya adalah menghimpun potensi masyarakat atau sumber
daya (resources) yang ada di dalam masyarakat itu sendiri untuk upaya-upaya,
yaitu: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif kesehatan mereka sendiri.
pengorganisasian masyarakat dalam bentuk penghimpunan dan pengembangan
potensi dan sumber-sumber daya masyarakat dalam konteks ini pada hakekatnya
menumbuhkan, membina dan mengembangan partisipasi masyarakat di bidang
pembangunan kesehatan (Notoadmodjo, 2007).
Perhatian terhadap penyakit menular semakin hari makin meningkat, karena
semakin meningkatnya frekuensi kejadiannya pada masyarakat. Selama ini
epidemiologi kebanyakan berkecimpung dalam menangani masalah penyakit
menular. Karena epidemiologi selalu dikaitkan dan dianggap sebagai epidemiologi
penyakit menular. Tetapi perkembangan sosio ekonomi, kultural bangsa dan dunia
telah menuntut epidemiologi untuk juga memberi perhatian pada penyakit tidak
menular (Bustan, 2000).
Pembahasan epidemiologi tidak dapat melepaskan diri dari konsep
epidemiologi itu sendiri dalam menangani masalah penyakit. Dalam hal ini
frekuensi pengetahuan masyarakat tentang faktor penyebab atau faktor risikonya
dan upaya pencegahan serta perencanaan terkait (Bustan, 2000).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud Epidemiologi?
2. Apa yang dimaksud penyakit endemik?
3. Bagaimana penanganan dan pencegahan dari puskesmas dan instansi lain
tentang masalah kesehatan?
4. Apa yang dimaksud dengan data medik?
1.3 Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah, penulisan makalah ini memiliki tujuan
untuk mengetahui dan memahami tentang pengetahuan akan epidemiologi
kesehatan, penyakit, statistik kesehatan dan data medik serta pencegahan dan
penanggulangan mengenai masalah kesehatan masyarakat.
1.4 Hipotesa
Puskesmas dan instansi-instansi kesehatan terkait berperan dalam penanganan
dan pencegahan guna menanggulangi dan mendata masalah kesehatan masyarakat.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
2.1 Epidemiologi
2.1.1 Definisi Epidemiologi
Kata epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu: Epi= pada/ diantara,
Demos= penduduk/ rakyat, dan Logos= ilmu. Jadi

epidemiologi sebenernya

berarti: ilmu mengenai hal-hal yang terjadi pada rakyat . Ruang lingkup
epidemiolgi yang semula mempelajari penyakit menular lambat laun diperluas,
sehingga epidemiologi menjadi ilmu yang mempelajari faktor-faktor yang
menentukan frekuensi dan distribusi penyakit pada rakyat. Bila ilmu kedokteran
klinik mempelajari penyakit pada individu-individu, epidemiologi mempelajari
penyakit dan lain-lain keadaan yang berhubungan dengan kesehatan pada
masyarakat. (Novian, Dkk., 1999).
2.1.2 Tujuan dan Manfaat Epidemiologi
1. Mempelajari riwayat alamiah Penyakit
2. Menentukan masalah komunitas
3. Melihat resiko dan pengaruhnya
4. Menilai dan meneliti
5. Menyempurnakan gambaran penyakit
6. Menentukan penyebab dan sumber penyakit (Wahyudin, 2009).
2.1.3 Elemen Epidemiologi
Di dalam batasan epidemiologi sekurang-kurangnya mencakup tiga
elemen, yaitu:
a. Masalah kesehatan
Epidemiologi mempelajari semua masalah kesehatan termasuk
penyakit, baik penyakit infeksi, seperti TB Paru, Flu burung dll
maupun penyakt non-infeksi3seperti kanker, kecelakaan, sakit jiwa dll.
b. Populasi
Epidemiologi memusatkan perhatiannya pada distribusi masalah
kesehatan pada populasi (masyarakat) atau kelompok.
c. Pendekatan ekologi

Pendekatan ekologi dalam epidemilogi mengkaji frekuensi dan


distribusi masalah kesehatan berdasarkan keseluruhan lingkungan
manusia baik lingkungan fisik, biologis mauoun sosial (Muliani, Dkk.,
2010).
2.1.4 Jenis Epidemiologi
Jenis epidemiologi dibagi tiga, yaitu:
1. Epidemiologi Deskriptif
Epidemiologi deskriptif adalah penelitian yang mempelajari frekuensi dan
distribusi masalah kesehatan tanpa memandang perlu mendapatkan
jawaban tentang faktor penyebab yang mempengaruhi frekuensi,
penyebaran dan munculnya masalah kesehatan tersebut. Ini menjawab
tentang siapa (Who), di mana (Where) dan kapan (When).
2. Epidemiologi Analitik
Epidemiollogi analitik adalah penelitian yang menganalisis faktor
penyebab (determinan) masalah kesehatan. Ini menjawab tentang,
mengapa (Why) untuk kemudian dianalisa hubungannya dengan akibat
yang ditimbulkan.
3. Epidemiologi Eksperimental
Epidemiologi eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan
melakukan peercobaan untuk membuktikan suatu faktor sebagai penyebab
terjadinya penyakit (Muliani, Dkk., 2010).
2.1.5 Ruang Lingkup Epidemiologi
Ruang lingkup epidemiologi dalam masalah kesehatan meliputi 6E, yaitu:
1. Etiologi
Hal ini berkaitan dengan identifikasi penyebab penyakit dan masalah
kesehatan lain. Misalnya etiologi dari kolera adalah vibrio cholerae.
2. Efikasi
Hal ini berkaitan dengan efek/ daya optimal yang dapat diperoleh dari
pemberian intervensi kesehatan, efikasi dimaksudkan untuk melihat hasil

atau efek suatu tindakan. Contoh, efikasi dari pemberantasan sarang


nyamuk adalah menurunnya angka kejadian demam berdarah
3. Efektifitas
Efektivitas adalah besarnya hasil yang diperoleh dari suatu tindakan
(intervensi) dan besarnya perbedaan dari suatu tindakan yang satu dengan
yang lain. Contoh, peningkatan kasus DBD 70 %, kemudian dilakukan
fogging dan kasus turun menjadi 50 %. Maka efektifitas melakukan
fogging adlah 20 %.
4. Efisiensi
Efisiensi adalah sebuah konsep ekonomi yang melihat pengaruh yang
dapat diperoleh berdasarkan besarnya biaya yang diberikan atau
ditunjukkan untuk mengetahui kegunaan dan hasil yang diperoleh
berdasarkan besarnya pengeluaran yang dikeluarkan.

Contoh, dalam

pemberantasan sarang nyamuk tidak perlu membersihkan semua


lingkungan, cukup efisien dengan menutup, menguras, dan mengubur.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian secara keseluruhan keberhasilan suatu
pengobatan atau program kesehatan masyarakat atau melihat dan memberi
nilai keberhasilan program seutuhnya. Contoh Imunisasi Tetanus Toxoid
pada ibu hamil >90% menurunkan angka kesakitan Tetanus Neonatrum.
6. Edukasi
Edukasi merupakan tindakan berupa peningkatan pengetahuan tentang
kesehatan masyarakat sebagai bagian dari upaya preventif terhadap
penyakit. Contoh, penyuluhan tentang gejala dan pencegahan DBD akan
menurunkan angka kesakitan akibat demam berdarah (Muliani, Dkk.,
2010).
2.1.6 Peranan Epidemiologi dalam Kesehatan Masyarakat
1. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi timbulnya ganggunan
kesehatan atau penyakit dalam suatu masyarakat tertentu dalam usaha
mencari data untuk penanggulangan serta cara pencegahannya.

2. Menyiapkan data/ informasi unutk keperluan program kesehatan dengan


menilai status kesehatan dalam masyarakat serta memberikan gambaran
tentang kelompok penduduk yang terancam.
3. Membantu menilai beberapa hasil program kesehatan.
4. Mengembangkan

metodologi

dalam

menganalisis

penyakit

serta

mengatasinya, baik penyakit perorangan (tetapi dianalisis dalam


kelompok) maupun kejadian luar biasa atau wabah dalam masyarakat
(Kasjono, Dkk., 2008).
2.1.7 Bidang Kajian Epidemiogi
Adapun bidang kajian epidemiologi adalah:
1. Epidemiologi penyakit menular
2. Epidemiologi penyakit tidak menular
3. Epidemiologi klinis
4. Epidemiologi kependudukan
5. Epidemiologi pengelolaan pelayanan kesehatan
6. Epidemiologi kesehatan dan lingkungan kerja
7. Epidemiologi kesehatan jiwa
8. Epidemiologi gizi
9. Epidemiologi perilaku
10. Epidemiologi genetika (Muliani, Dkk., 2008).
2.2 Kejadian Penyakit Infeksi dalam Masyarakat
A. Penyakit Infeksi dapat dibedakan menjadi dua, yakni :
1. Penyakit infeksi menular
2. Penyakit infeksi non menular (Ryadi & Wijayanti, 2011).
Penyakit infeksi menular adalah penyakit yang disebabkan oleh transmisi
suatu agen infeksius tertentu atau produk toksisnya, dari manusia atau hewan yang
terinfeksi ke host yang rentan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Contoh penyakit infeksi menular: Dipteri, TBC, Typhus, Abdominalis, Hepatitis.
Penyakit infeksi tidak menular adalah penyakit yang berlangsung secara berlarutlarut (kronik), contohnya : jantung, tetanus.
B. Beberapa Istilah Kejadian Penyakit dalam Masyarakat:
1. Endemik
Endemis adalah suatu keadaan dimana penyakit terjadi secara menetap,
tidak cepat hilang, jumlah orang yang terinfeksi tidak bertambah
secara luar biasa dalam masyarakat pada suatu tempat atau populasi

tertentu. Contohnya: kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di


Balikpapan merupakan kasus endemik selama 3 tahun berturut-turut
sejak tahun 2007-2009.
2. Epidemik
Epidemi adalah penyakit yang timbul sebagai kasus baru pada suatu
populasi tertentu dalam, suatu periode waktu tertentu, dengan laju
yang melampaui laju ekspektasi (dugaan) atau jumlah yang melebihi
atas jumlah normal atau jumlah yang biasa. Contohnya: tahun 2002
terjadi epidemik cikungunya di Bekasi (Jawa Barat, Purworejo dan
Klaten (Jawa Tengah).
3. Pandemik
Pandemi adalah epidemik yang terjadi dalam daerah yang sangat luas
dan biasanya mencakup proporsi yang banyak. Contohnya: pandemik
flu burung yang ada di Indonesia pada tahun 2009 dan sudah menyebar
ke seluruh dunia.
4. Kasus
Kasus adalah seseorang menderita penyakit yang telah didiagnosis
terhadapnya jadi bukan sekedar terinfeksi. Contohnya: seorang
dikatakan memiliki kasus TB paru jika dokter menegakkan diagnosa
orang tersebut terinfeksi tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan
diagnostik.
5. Kasus Indeks
Kasus indeks adalah kasus pertama yang diperoleh atau mendapat
laporan kejadian penyakit/wabah atau penelitian. Contohnya: flu
asiatik yang dilaporkan pertama kali pada bulan Mei 1889 di Bukhara,
Rusia.
6. Kasus Primer
Kasus primer adalah kasus pertama yang menjadi sumber penyebaran
penyakit menular yang terjadi dalam komuniti. Contohnya: Flu babi
pertama kali menyebar di Meksiko pada tahun 1976 (Muliani, Dkk.,
2010).
2.2.1 Konsep Dasar Epidemiologi Penyakit

2.2.1.1 Segitiga Epidemiologi


Segitiga epidemiologi yang sering dikenal dengan istilah

trias

epidemiologi merupakan konsep dasar yang memberikan gambaran tentang


hubungan antara tiga faktor utama yang berperan dalam terjadinya penyakit dan
masalah kesehatan lainnya yaitu: Host, Agen, dan Lingkungan (Muliani, Dkk.,
2010).
Agent

Host

Penjelasan:
a. Keadaan sehat, keadaan seimbang antara host, agen dan environment.
b. Keadaan sakit karena adanya peningkatan agent infeksius.
Contoh: mutasi influenza virus.
c. Keadaan sakit karena peningkatan suspectibility pada populasi.
Contoh: peningkatan jumlah anak yang rentan terhadap campak.
d. Keadaan sakit karena adanya perubahan lingungan yang mempermudah/
menguntungkan penyebaran agent. Contoh: akibat banjir.
e. Keadaan sakit karena terjadinya perubahan lingkungan yang merugikan/
menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh. Contoh: polusi udara.
Komponen pada segitiga epidemiologi:
A. Faktor host/ penjamu (Tuan rumah)
Penjamu adalah manusia atau makhluk hidup lainnya yang menjadi tempat
terjadinya proses alamiah perkembangan penyakit. Yang termasuk faktor
penjamu adalah:
1. Genetika, faktor keturunan dapat mempengaruhi status kesehatan.
Misalnya: buta warna, asma, hemofilia dll.
2. Umur dan keadaan imunologis, mempengaruhi status kesehatan karena
ada kecenderungan penyakit menyerang umur tertentu. Misalnya, pada
balita karena imunnya belum stabil, dan pada manula karena imunnya
sudah menurun.

3. Jenis kelamin, mempengaruhi status kesehatan karena ada penyakit


yang terjadi lebih banyak atau hanya ditemukan pada pria atau wanita
saja. Misalnya, kanker serviks pada wanita.
4. Etnis/ ras/ warna kulit. Mempengaruhi status kesehatan karena terdapat
perbedaan antara etnis/ ras tertentu. Misalnya, ras kulit putih lebih
berisiko terkena kanker kulit dibandingkan dengan ras kulit hitam.
5. Keadaan fisiologis tubuh, mempengaruhi status kesehatan. Misalnya,
kelelahan, kehamilan, pubertas, keadaan gizi dll.
6. Perilaku dan kebiasaan/ gaya hidup, mempengaruhi status kesehatan.
Misalnya, personal hygiene, hubungan antar pribadi dll
7. Penyakit sebelumnya, mempengaruhi status kesehatan karena ada
penyakit yang jika sudah pernah terkena maka ketika terjadinya
serangan kedua menimbulkan kondisi yang lebih parah atau ada juga
jika penyakit sebelumnya telah sembuh maka risiko kambuh lebih
kecil atau tidak terjadi (Muliani, Dkk., 2010).

B. Faktor Agen
Agen atau faktor penyebab adalah suatu unsur, organisme hidup atau
kuman infeksi yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit atau masalah
kesehatan lainnya Faktor lingkungan (Muliani, Dkk., 2010).
Agent/ penyebab bibit penyakit terdiri dari biotis dan abiotis.
1. Penyebab biotis, khususnya terjadi pada penyakit-penyakit menular
yang terdiri dari lima golongan, yaitu: Protozoa (plasmodium,
amoeba), Metazoa (arthopoda, helmintes), Bakteri (salmonela,
meningitis), Virus (dengue, polio), Jamur (candida, tinia algae).
2. Penyebab abiotis, terdiri dari:
a. Nutrient agent: kekurangan/ kelebihan gizi
b. Chemical agent: pestisida, logam berat, obat dll.
c. Physical agent: suhu, kelembaban, panas dll

10

d. Mechanical agent: pukulan, kecelakaan, trauma dll (Kasjono,


Dkk., 2008).
C. Lingkungan adalah semua faktor diluar individu yang dapat berupa
lingkungan fisik, biologis, sosial, dan ekonomi. Yang termasuk faktor
lingkungan adalah lingkungan fisik, lingkungan biologis, lingkungan
sosial dan lingkungan ekonomi (Muliani, Dkk., 2010).
D. Karakteristik Segitiga Utama Epidemiologi
Ketiga faktor dalam trias epidemiologi terus menerus berinteraksi satu
sama lain sehingga

perubahan pada unsur trias dapat menyebabkan

kesakitan yang tergantung pada karakteristik (ciri) dari ketiganya dan


interaksi antara ketiganya (Muliani, Dkk., 2010).
a. Karakteristik Penjamu
Penjamu mempunyai karakteristik dalam menghadapi ancaman
penyakit, misalnya:
1. Resistensi
Resistensi merupakan kemampuan penjamu untuk bertahan
terhadap infeksi tertentu, dan penjamu mempunyai mekanisme
pertahanan tersendiri dalam menghadapinya.
2. Imunitas
Imunitas merupakan kemampuan penjamu untuk mengambangkan
suatu respon imunologis, baik yang di dapat secara alamiah atau
non alamiah sehingga tubuh kebal terhadap penyakit tertentus.
3. Infektifitas
Infektifitas merupakan kemampuan penjamu yang terinfeksi untuk
menularkan penyakit pada orang lain karena kuman yang berada
dalam tubuh manusia dapat berpindah kepada tubuh manusia dan
sekitarnya.
b. Karakteristik Agen
Agen mempunyai

karakteristik tersendiri dalam menyebabkan

terjadinya penyakit, misalnya: Patogenisti (kemampuan penyakit


untuk menimbulkan reaksi pada penjamu), Virulensi (ukuran derajat
kerusakan yang ditimbulkan oleh bibit penyakit). Antigenisti
(kemampuan bibit penyakit merangsang timbulnya mekanisme imun
pada host. Infektivi (kemampuan bibit penyakit mengadakan invasi

11

dan menyesuaikan diri dan bereproduksi di dalam host (Kasjono, Dkk.,


2008).
c. Karakteristik Lingkungan
Lingkungan mepunyai karakteristik tersendiri dalam menimbulkan
status sakit, misalnya:
1. Topografi
Topografi berkaitan dengan situasi lokasi tertentu, baik yang
natural atau buatan manusia yang mungkin mempengaruhi
terjadinya dan penyebaran suatu penyakit tertentu.
2. Geografis
Geografis merupakan keadaan yang berhubungan dengan struktur
geologi bumi yang berhubungan dengan kejadian penyakit
(Muliani, Dkk., 2010).

2.3 Pencegahan dan Penanggulangan


2.3.1 Upaya Pencegahan
Upaya pencegahan dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan penyakit
dari waktu ke waktu sehingga upaya pencegahan di bagi atas berbagai tingkat
sesuai dengan perjalanan penyakit (Muliani, Dkk., 2010).
1. Pencegahan Tingkat Pertama (primary prevention)
Pencegahan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan melakukan
tindakan pencegahan khusus.Pencegahan tingkat pertama meliputi:
a. Promosi kesehatan (Health promotion)
merupakan upaya untuk menghindari adanya faktor resiko. Upaya
promosi kesehatan meliputi:
1. Penyuluhan kesehatan
2. Perbaikan perumahan
3. Penyediaan sanitasi yang baik
4. Perbaikan Gizi
5. Konsultasi genetik
6. Pengendalian faktor lingkungan
b. Pencegahan khusus (Specific protection)
Merupakan upaya untuk mengurangi atau menurunkan pengaruh
penyebab serendah mungkin. Upaya pencegahan khusus meliputi:
1. Pemberian imunisasi dasar

12

2. Pemberian nutrisi khusus


3. Pemberian Vitamin A, tablet zat besi
4. Perlindungan kerja terhadap bahan berbahaya (hazard protection)
5. Perlindungan terhadap sumber-sumber pencemaran
2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary prevention)
Pencegahan ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin
sehingga mendapatkan pengobatan yang tepat. Pencegahan tingkat kedua
(secondary prevention), meliputi:
A. Diagnosis awal dan pengobatan tepat merupakan upaya yang
ditujukan untuk diagnosis dini penderita atau yang dianggap
menderita suatu penyakit sehingga dapat diberikan pengobatan
tepat dan segera. (Muliani, Dkk., 2010). Upaya ini meliputi :
a. Melakukan general check-up secara rutin
b. Melakukan berbagai survey seperti screaning (penyaringan)
c. Pencarian kasus (case finding)
d. Pemeriksaan khusus (labolatorium dan tes)
e. Monitoring dan surveilans epidemiologi
f. Pemberian obat yang rational dan efektif
B. Pembatasan Kecacatan (Disability Limitation)
Merupakan upaya untuk mencegah penyakit tidak bertambah
parah, tidak mati atau timbul cacat atau kronik. Upaya ini meliputi:
a.
a.

Operasi plastik pada bagian/organ yang cacat


Pemasangan pin pada tungkai yang patah

3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)


Yang termasuk upaya pencegahan ketiga adalah rehabilitasi yang
merupakan upaya untuk memulihkan kedudukan, kemampuan atau fungsi
setelah penderita sembuh. Pada keadaan ini kerusakan patologis bersifat
irreversible, tidak bisa diperbaiki lagi, karena itu upaya rehabilitasi yang dapat
dilakukan, seperti:
a. Rehabilitasi fisik, misalnya rehabilitasi cacat tubuh, dengan alat bantu.
b. Rehabilitasi sosial, misalnya mendirikan tempat pendidikan untuk
tunanetra, tunarungu, anak cacat dan terbelakang.
c. Rehabilitasi kerja, misalnya rehabilitasi masuk ke tempat kerja
sebelumnya, mengaktifkan optimum organ yang cacat

13

Rehabilitasi mental, misalnya mengembalikan kepercayaan diri orang yang


terkena narkoba. (Muliani, Dkk., 2010).

2.3.2

Upaya Penanggulangan

2.3.2.1 Penanggulangan Penyakit


Penanggulangan penyakit dalam epidemiologi bisa diketahui dengan kecepatan
keputusan cara penanggulangan sangat tergantung dari diketahuinya etiologi
penyakit (Bustan, 2000).
1. Penyakit menular
Penyakit menular dalam epidemiologi dapat ditanggulangi dengan cara :
a. Menghilangkan atau mengurangi sumber infeksi
b. Memutuskan rantai penularan
Memutuskan

rantai penularan dilakukan berdasarkan hasil

penyelidikan dengan cepat akan memberikan indikasi cara


penularan berlangsung dapat dibedakan menjadi 3 yakni:
-

Kontak dari orang ke orang baik secara langsung maupun


tidak langsung

Dari sumber yang sama

Kombinasi antara a dan b

c. Melindungi populasi berisiko


Hubungan kepastian etiologi,sumber dan cara penularan dengan
keluasan penyelidikan dan kecepatan cara penanggulangan.

E
T
I
O
L
O
G
I

Tahu

Tidak

Keterangan:

Sumber dan cara penularan


Tahu
Tidak
Penyelidikan +
Penyelidikan + ++
Penanggulangan +++

Penanggulangan +

Penyelidikan + ++

Penyelidikan + ++

Penanggulangan +++

Penanggulangan +

14

Tanda +

: Tingkat indikasi respon

: Rendah

++

: Sedang

+++

: Tinggi

Upaya perlindungan pada penyakit yang ditularkan dari orang orang :


a. Pada pasien (Penanganan umum, Isolasi, Pelayanan medik, Evakuasi
medik, Desinfektan).
b. Pada kontak (Waktu kontak, Kemungkinan penularan, Dekatnya
kontak, Cara penularan, Kekebalan orang yang kontak).
c. Pada masyarakat (Imunisasi masal, Pembatasan pertemuan masal,
Pembatasan perjalanan, Survelans, Partisipasi masyarakat).
Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam penanggulangan penyakit
dalam epidemiologi ada 2 yaitu:
a. Upaya penanggulangan secara spesifik tergantung dari jenis
penyebab penyakit.
b. Upaya perlindungan terhadap petugas yang terlibat dalam
penyelidikan penyakit tersebut.
2. Penyakit tidak menular
Penanganan penyakit tidak menular lebih difokuskan kepada peningkatan
sarana dan prasarana karena dalam epidemiologi penyakit tidak menular
lebih ditekankan pada kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif hal disebabkan
karena penyakit tidak menular lebih bersifat kronik (Bustan, 2000).
2.3.3

Upaya Penanggulangan Melalui Sektor Publik

Upaya penanggulangan melalui sektor publik melalui:


1. Dinas Kesehatan
Peranannya

melakukan perencanaan strategis, mengambil langkah-

langkah untuk mensosialisasikan penanggulangan terhadap penyakit


Malaria dan PD3I (Penyakit Dapat Dicegah Dengan Imunisasi). Contoh:
TB Paru, Campak, Tetanus, dll.
Membuat

kebijakan program atau kegiatan yang bersifat antisipasif

terhadap perkembangan penyakit Malaria dan PD3I

15

Memanfaatkan

renstra dengan baik (Pusat Promosi Kesehatan, 2009).

Kendala untuk mengimplementasikan renstra:


1. Keterbatasan SDM pada beberapa instansi pemerintah yang mampu
mengimplementasikan perencanaan strategis
2. Memadukan anggaran dengan perencanaan yang didasarkan melalui
renstra
3. Pengumpulan data kinerja dan perumusan indicator kinerja
4. Rumusan sasaran belum spesifik dan belum menggambarkan hasil
5. Rumusan kebijakan pada pertimbangan kelayakan efektifitas, efisiensi
dan penetapan waktu
6. Pemanfaatan renstra (Pusat Promosi Kesehatan, 2009).
Peran interpersonal stakeholder (penyedia layanan) secara langsung dari
jabatannya antara lain :
a. Stakeholder berdasarkan atas posisinya sebagai kepala unit organisasi
harus melakukan komunikasi yang serius dan rutin
b. Stakeholder harus bertanggung jawab atas kerja orang lain pada unit
tersebut dengan cara mendorong dan memotivasi bawahnya
c. Stakeholder berfungsi sebagai penghubung
2. Puskesmas

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinkes yang bertanggung jawab


menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya

Puskesmas melakukan pemantauan terus menerus terhadap kejadian kasus


Malaria dan PD3I di masyarakat yang meliputi kegiatan pencatatan,
pelaporan, penyelidikan dan penganalisaan kasus malaria dan PD3I. Hal
ini dilakukan untuk mengetahui permasalahan dalam penanggulangan
Malaria dan PD3I yang meliputi kelompok umur, status imunisasi, wilayah
yang bermasalah, waktu kejadian dan memprediksi kemungkinan
terjadinya KLB Malaria dan PD3I (Pusat Promosi Kesehatan, 2009).

2.3.4

Upaya Penanggulangan Melalui Sektor Privat

Upaya penanggulangan melalui sektor privat melalui:


a.

Masyarakat

16

Semua anggota masyarakat yang bersedia berminat dan mempunyai


kepedulian terhadap masalah sosial dan kesehatan dalam hal ini masalah penyakit
Malaria dan PD3I. Masyarakat disini bisa berperan sebagai kader dalam
penanggulangan malaria dan PD3I, yaitu :

MENGGERAKAN MASYARAKAT UNTUK :

1. Memperlancar kegiatan sebelum selama dan sesudah penyemprotan


rumah
2. Memberantas sarang nyamuk malaria
3. Menghindari gigitan nyamuk malaria misalnya menggunakan kelambu
berinsektisida
4. Menggerakan masyarakat untuk mengikuti PIN

MELAKUKAN PENYULUHAN , YANG PERLU DISIAPKAN YAKNI

1. Mengenali dan memahami masalah disekitar masyarakat


2. Menyiapkan materi dan media penyuluhan

MENEMUKAN PENDERITA MALARIA DAN PD3I MELALUI CARA

1. Mengenal gejala klinis malaria dan PD3I


2. Meneriksa persediaan darah

MEMBERIKAN PENGOBATAN KEPADA PENDERITA KHUSUSNYA UNTUK


PENCEGAHAN

MENGAJAK

PENDERITA

MALARIA

DAN

PD3I

BEROBAT

KE

P USKESMAS

MERUJUK PENDERITA MALARIA DAN PD3I BERAT (P USAT PROMOSI


KESEHATAN , 2009).

2.4 Statistik dan Data Kesehatan


A. Definisi Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek
(responden) dan proses mencatat peristiwa atau mencatat karakteristik atau
mencatat nilai variable yang diperlukan dalam suatu penelitian. Variable
adalah semua objek yang menjadi sasaran penelitian yaitu gejala-gejala
yang menunjukan variasi, baik dalam jenisnya maupun tingkatnya. Variable

17

ini sesuatu yang nilainya berubah menurut waktu atau berbeda menurut
elemen atau tempat (Muliani, Dkk., 2010).
B. Tujuan Pengumpulan Data
Tujuan dari pengumpulan data dalam epidemiologi adalah untuk
menentukan dan mencatat hal-hal dibawah ini, yaitu :
1. Kelompok resiko terbesar dari masalah
2. Jenis agen dan karakteristiknya
3. Reservoir dari penyakit infeksi
4. Keadaan berlangsungnya transmisi
5. Kejadian penyakit atau masalah secara keseluruhan (Muliani, Dkk.,
2010).
C. Sumber Data
Data yang akurat memerlukan sumber dan metode pengumpulan data yang
tepat. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai cara atau sumber
pengumpulan data, yaitu :
1. Menurut cara pengumpulan
Berdasarkan cara pengumpulannya, data dibagi menjadi:
a. Langsung
Data langsung adalah data yang didapat dengan melakukan tanya jawab
langsung antara person dengan person, pengumpul data berhadapan
langsung dengan subjek (responden)
b. Tidak langsung
Data tidak langsung adalah data yang didapat melalui telepon atau
surat, melalui media atau cara tertentu untuk mencapai subjek
(responden) (Muliani, Dkk., 2010).
2. Menurut sumber pengumpulan
Berdasarkan sumber pengumpulannya, data dibagi menjadi:
a. Data primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung oleh pihak yang
memerlukan nya dari subjek pertama (responden) atau dari sumber
utamanya, melalui metode pengumpulan data.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak yang sudah
mengumpulkan data itu sebelumnya dimana pembaca data dapat
langsung membaca atau langsung memperolehnya secara tertulis dari
pengumpul data pertama. Contoh penyedia data, yaitu: BPS (Badan
Pusat Statistik), dll (Muliani, Dkk., 2010).

18

2.4.1 Statistik Kesehatan


Secara umum arti statistik dibedakan menjadi dua bagian besar yaitu:
1. Dalam arti sempit merupakan data ringkasan berbentuk angka
2. Dalam arti luas merupakan ilmu yang mempelajari cara pengumpulan,
pengolahan, penyajian dan analisis data termasuk cara pengambilan
kesimpulan dengan memperhitungkan unsur ketidakpastian berdasarkan
konsep probabilitas
2.4.1.1 Konsep Statistik
Merupakan suatu pendekatan modern untuk menyajikan mengenai konsepkonsep dasar dan metode statistik secara lebih jelas dan langsung dapat membantu
seseorang didalam pengembangan daya kritik dalam suatu kegiatan pengambilan
keputusan dengan menggunakan cara-cara kuantitatif (Notoatmodjo, 2007).
Oleh karena itu, penggunaan statistik adalah penting sifatnya dalam rangka
membantu memberi bobot dalam mengambil keputusan yang dibutuhkan oleh
statistik adalah data statistik atau bilangan yang mewakili suatu perhitungan atau
pengukuran suatu objek. Dengan demikian, melalui teori serta metodeologi dari
statistik kita dapat membantu dan menentukan mengenai data yang harus
dikompilasikan, bagaimana data tersebut dikumpulkan, diolah, disajikan, dan
dianalisis, serta kemudian ditarik kesimpulan (Notoatmodjo, 2007).
Statistik menurut definisi dibagi menjadi dua bagian atau sub kategori:
1. Descriotive statistic
Adalah penggunaan statistik untuk tujuan menggambarkan sesuatu
yang spesifik saja, dan tidak memikirkan mengenai implikasi atau
kesimpulan yang mewakili sesuatu yang besar dan umum.
2. Imferencial statistic
Adalah suatu cara penggambaran suatu kesimpulan dari suatu set
data yang sedang diteliti dan hasilnya dapat dibuat suatu generalisasi.
Contoh: dari kasus learning issue 2 data di puskesmas A menunjukkan
bahwa setahun terakhir terdapat peningkatan jumlah penderita yang
berkunjung ke puskusmas A dengan keluhan batuk berdahak. Data medik
(statistik) setahun terakhir menunjukan terdapat 325 kasus dari 1729

19

pengunjung

(18,7%),

meningkat

dibandingkan

data

tahun

tahun

sebelumnya yang hanya 245 kasus dari 1996 pengunjung (12,3%). Angka
12,3% yang kemudian digunakan untuk menyimpulkan mengenai keadaan
akseptor secara keseluruhan di puskesmas A yang disebut sebagai statistik
inferen.
2.4.2 Peranan Statistik
Manfaat dan peranan statistik adalah membantu para pengelola dan
pelaksana program khususnya dalam mengambil keputusan yang selanjutnya
dipakai dasar perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berbagai kegiatan yang
dilakukan (Notoatmodjo, 2007).
a. Statistik Sebagai Bahan Perencanaan
Statistik telah dijelaskan pada butir terdahulu adalah pengetahuan yang
berhubungan dengan pengumpulan data, pengolahan penganalisisan, penyajian
dan penarikan kesimpulan serta pembuatan keputusan berdasarkan data dan
kegiatan analisis yang dilakukan. Dengan kata lain, setiap data yang dibutuhkan
adalah data yang dapat dipercaya dan tepat waktu (Notoatmodjo, 2007).
b. Statistik sebagai bahan monitoring
Seperti telah tersebut dalam arti sempit bahwa statistik adalah data
ringkasan berbentuk angka, maka hal ini sangat membantu di dalam suatu
kegiatan monitoring. Oleh karena secara umum yang dilakukan dalam kegiatan
monitoring adalah memonitor seluruh kekuatan dan kelemahan program yang
menyangkut berbagai variabel yang berbentuk data ringkasan (Notoatmodjo,
2007).
c. Statistik sebagai bahan evaluasi
Dengan mengetahui berbagai data yang dapat dipercaya maka selanjutnya
kita dapat menganalisis dan memutuskan yang baik dan yang buruk. Selain itu
melalui berbagai data yang ada kita dapat membandingkan dan selanjutnya
membuat

suatu

generalisasi

dari

sampel

yang

kecil

kepada

populasi

(Notoatmodjo, 2007).
d. Statistik kesehatan
Penilaian atau assessment terhadap kesehatan individu didasarkan pada
pemeriksaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan-pemeriksaan lain terhadap
kesehatan orang yang bersangkutan. Sedangkan penilaian terhadap kesehatan
masyarakat didasarkan pada kejadian-kejadian penting yang menimpa penduduk

20

atau masyarakat, yang kemudian dijadikan sebagai indikator kesehatan


masyarakat, seperti angka kesakitan, angka kematian, angka kelahiran, dan
sebagainya. Semua kegiatan yang berkaitan dengan pencatatan dalam penilaian
kesehatan baik individu maupun masyarakat disebut statistik kesehatan
(Notoatmodjo, 2007).
Secara lebih terinci statistik kesehatan adalah suatu cabang dari statistik
kesehatan adalah suatu cabang dari statistik yang berurusan dengan cara-cara
pengumpulan, kompilasi, pengolahan dan interpretasi fakta-fakta numerik
sehubungan dengan sehat dan sakit, kelahiran, kematian, dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan itu pada populasi manusia. Apabila kegiatan pencatatan ini
ditunjukan khusus pada kejadian-kejadian kehidupan manusia tertentu, yakni :
kelahiran, kematian, perkawinan, dan perceraian, disebut statistik vital atau sering
juga disebut statistik kehidupan (biostatistic) (Notoatmodjo, 2007).
Statistik kesehatan mencakup juga statistik kehidupan dan data lain yang
berkaitan dengan kehidupan itu. Statistik kesehatan diperoleh dari berbagai
sumber, antara lain:
1. Institusi-institusi kesehatan: rumahsakit, puskesmas dll.
2. Program-program khusus: pelayanan kesehatan sekolah, pemberantasan
penyakit-penyakit menular
3. Survei epidemiologi: informasi yang diperoleh dari lapangan atau
masyarakat
4. Survei kesehatan rumah tangga, yang diadakan pada periode tertentu
5. Institusi-institusi yang mengumpulkan data dengan tujuan-tujuan
khusus (Notoatmodjo, 2007).
2.4.3 Pengolahan Dan Analisa Data
Statistik dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan bantuan
perangkat lunak komputer. Pengolahan data secara manual dewasa ini sudah
jarang dilakukan. Namun, untuk data yang berskala kecil dan kelangkaan
prasarana komputer dan kemampuan sumber daya manusia, pengolahan secara
manual masih digunakan (Notoatmodjo, 2007).
2.4.3.1 Prevalence Rate
Prevalence rate mengukur jumlah orang di kalangan penduduk yang
menderita suatu penyakit pada sutu titik waktu tertentu.

21

Prevalence rate =

Jumlah kasus penyakit yang ada


Pada suatu titik waktu

x 1000

Jumlah penduduk seluruhnya


Contoh kasus: penyakit TB paru di Kecamatan Moyang pada waktu dilakukan
survei pada juli 1998 adalah 48 orang dari 24.000 penduduk di kecamatan
tersebut.
Prevalence rate bergantung pada dua faktor berupa jumlah orang yang
telah sakit pada waktu yang lalu dan lamanya menderita sakit.
Prevalence (terutama untuk penyakit kronis) penting untuk perencanaan
kebutuhan fasilitas,tenaga,dan pemberantasan penyakit (Notoatmodjo, 2007).
2.4.3.2 Insidence Rate
Insidence rate (angka insidensi) adalah jumlah kasus baru penyakit
tertentu, yang terjadi di kalangan penduduk pada suatu jangka waktu tertentu
(umumnya 1 tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin
terkena penyakit baru tersebut pada pertengahan tahun jangka waktu yang
bersangkutan dalam persen atau permil (Muliani, dkk., 2010).
insidence rate =

Jumlah kasus baru suatu penyakit


selama periode tertentu

x K

populasi yang mempunyai resiko


K = konstanta (bisa 100/ 1000, dll, agar diperoleh angka terkecil dan
mudah membaca hasil)
2.4.4 Prinsip Dasar Surveilans Epidemiologi
A. Pengertian Surveilans
Dasar dari surveilans adalah pengumpulan data secara sistematik dan
terus-menerus untuk tujuan spesifik pada suatu kejadian dalam periode
waktu tertentu, mengelola dan mengorganisasi, melakukan analisis dan
interpretasi, serta mengkomunikasikan hasil surveilans kepada pihak-pihak
yang berkompetan untuk ditindak lanjuti (Notoatmodjo, 2007).
1. Pengamatan-Pengumpulan data
Pengamatan-Pengumpulan data dapat dilakukan baik secara
retrospektif

maupun

concurrent.

Disebut

concurrent

apabila

22

pengumpulan data dilakukan pada saat atau sesaat setelah timbulnya


kejadian. Disebut retrospektif n data dilakukan setelah timbulnya
kejadiaan.
2. Manajemen Data
Agar informasi yang dikumpulkan sesuai dengan tujuan surveilans
maka manajemen data harus dilakukan secara sistematik. Penggunaan
form-form pengumpulan data dengan format standar menjadi bagian
penting yang harus secara otomatis tersedian dan built in dengan proses
data entri yang biasanya dilakukan secara rutin. Sistem koding
sederhana menggunakan metode baku akan sangat membantu
mempercepat proses pengelaan data.
3. Analisis Data dan interpretasi hasil
Data yang terkumpul harus segera dianalisis dan diinterpretasi,
karena tujuan dari surveilans tidak hanya untuk menghitung insidensi
kejadiaan

penyakit

saja

tetapi

juga

untuk

mengidentifikasi

permasalahan secara cepat sehingga upaya intervensi dapatsegera


dilakukan untuk mengurangi terjadinya resiko lebih lanjut.
4. Mengkomunikasikan Hasil Surveilans
Hasil suatu surveilans harus diinterpretasikan dengan metode yang
baik dan benar. Audiens dari forum report ini harus memenuhi berbagai
unsur yang terlibat dalam penanggulangan penyakit/KLB. Presentasi
hendaknya dilakukan seringkas mungkin, dan lebih baik menggunakan
grafik dan diagram yang relative mudah dan dapat dipahami oleh
audiens (Kasjono, Dkk., 2008).
B. Tujuan Surveilans
Secara garis besar tujuan surveilans adalah guna mendapatkan
informasi epidemiologi masalah kesehatan, yang meliputi: frekuensi
masalah kesehatan, distribusi/gambaran masalah kesehatan, menurut
orang, waktu dan tempat, dan determinan/faktor resiko penyebab
masalah kesehatan tersebut (Kasjono, Dkk., 2008).

23

BAB III
PETA KONSEP

Epidemiologi
`

Penyakit dalam Masyarakat

Penyakit Menular

Penyakit Tidak Menular

24

Kasus lama

Kasus baru

Kasus lama

Kasus baru

Statistik Kesehatan

Pencegahan

Penanggulangan

BAB IV
PEMBAHASAN
25

Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan faktor-faktor yang


menentukan keadaan yang berhubungan dengan kesehatan atau kejadian-kejadian
pada kelompok penduduk tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada tiga hal
penting yang harus digaris bawahi dalam memahami epidemiologi, yaitu:
distribusi, determinan, dan kelompok penduduk. Distribusi artinya bahwa
epidemiologi mempelajari pola penyebaran, kecenderungan, dan dampak penyakit
terhadap kesehatan populasi. Misalnya: pola penyebaran penyakit batuk berdarah
di wilayah puskesmas A setahun terakhir. Determinan adalah bahwa epidemiologi
mempelajari factor-faktor resiko dan faktoe etiologi (kausa) penyakit. Misalnya:
factor-faktor resiko terjadinya batuk berdarah di wilayah puskesmas A adalah

25

kondisi rumah dan perilaku meludah. Sedangkan kelompok penduduk disini


biasanya dibatasi menurut wilayah geografi, misalnya: desa, kecamatan,
kabupaten atau kota, provinsi. Populasi dapat dibatasi menurut lainnya. Misalnya:
pasien-pasien yang ada di rumah sakit, di tempat kerja, dll (Adnani, 2011).
Epidemiologi perlu dipelajari karena mempunyai tujuan yang cukup baik
yaitu :
1. Mempelajari sebab akibat suatu penyakit
Artinya bahwa dalam epidemiologi tidak mengenal penyebab tunggal akan
tetapi banyak penyebab. Selain itu, penyebab semestinya mendahului
akibat. Di dalam masyarakat sering kali kita dikejutkan dengan berbagai
penyakit

yang

seolah-olah

dating

terlebih

dahulu

baru

dicari

penyebabnya . padahal, penyebab itu telah ada terlebih dahulu sebelum


adanya kasus. Hanya saja manusia terlambat atau tidak tahu dalam
mengenali penyebab. Misalnya: kasus AIDS/HIV, Flu burung, dll.
2. Mempelajari perjalanan alamiah
Pada dasarnya epidemiologi sangat peduli dalam mempelajari perjalanan
alamiah penyakit, sehingga dapat diupayakan pencegahan sebelum tahap
tahap dalam riwayat alamiah tersebut terjadi ketahap yang lebih berat.
Misalnya: ketika seseorang pekerja pabrik pemecah batu memasuki tahap
26

pre patogenesis diluar tubuh (misalnya: selalu terpapar dengan sumber


polusi udara dari buangan pabrik), maka epidemiologi mengupayakan
pencegahan terjadinya penyakit dengan cara mengidentifikasi besarnya
permasalahan, berbagai penyebab utama dan strategi strategi yang tepat
untuk pencegahan dan pengendaliannya. Misalnya dengan adanya undang
undang perlindungan kesehatan bagi pekerja, adanya program program
yang melindungi pekerja dari kemungkinan terjadinya kasus ( misalnya:
kewajiban memakai APD).
3. Menguraikan status kesehatan kelompok penduduk
Dalam epidemiologi dapat menguraikan status kesehatan penduduk
melalui penelitian epidemiologi. Misalnya: kelompok penduduk desa
Mentari di Kabupaten X diketahui mempunyai factor resiko terjadinya

26

KLB Malaria setelah dilakukan penelitian tentang perilaku mereka pasca


terjadinya kasus malaria di desa tersebut.
4. Mengevaluasi upaya kesehatan
Berbagai upaya kesehatan dapat dievaluasi dengan menggunakan berbagai
pengukuran epidemiologi, misalnya dengan insidensi rate (IR) (Adnani,
2011).
Epidemiologi menjadi lebih luas dan bukan hanya menganalisis penyakit
serta sebab terjadinya penyakit, melainkan dapat pula diterapkan dalam masalah
yang ada didalam masyarakat, baik yang bertalian dengan penyakit atau masalah
kesehatan lainya, maupun yang berhubungan dengan masyarakat.
Dalam bidang kesehatan, epidemiologi mempunyai tiga fungsi utama.
1. Menerangkan tentang besarnya masalah dan gangguan kesehatan
(termasuk penyakit) serta penyebaranya dalam suatu penduduk tertentu.
2. Menyiapkan data dan informasi yang isensial untuk keperluan
perencanaan, pelaksanaan program, dan evaluasi berbagai kegiatan
pelayanan(kesehatan masyarakat) pada masyarakat, baik yang bersifat
pencegahan dan penanggulangan penyakit maupun bentuk lainnya serta
menentukan prioritas terhadap kegiatan tersebut.
3. Mengidentifikasi berbagai factor yang menjadi penyebab masalah atau
factor yang berhubungan dengan terjadinya masalah tersebut (Noor, 2008).

27

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Epidemik adalah suatu masalah kesehatan yang umumnya terjadi di
masyarakat, di mana epidemiologi membahas penyakit menular dan tidak menular
baik secara langsung maupun tidak menular. Epidemiologi adalah ilmu
kedokteran dasar yang mempunyai tujuan meningkatkan kesehatan populasi
masyarakat.
5.2 Saran
Di harapkan semua masyarakat mengerti dan memahami akan
pentingnya masalah dan perilaku hidup sehat.

29