Anda di halaman 1dari 12

Pemikiran R.A.

Kartini Tentang Pendidikan Agama


1.

Surat-surat Kartini Tentang Pendidikan

Pendidikan menurut Kartini adalah mencerdaskan watak, dan


untuk membentuk budi pekerti, karena manusia
yang berakal dan berilmu belum tentu mempunyai budi pekerti.
Sebagaimana
yang tercantum dalam suratnya yang dikirimkan kepada Nyonya Abendanon
pada tanggal 21 Januari 1901, yaitu:
Telah lama dan telah banyak saya memikirkan perkara pendidika
n,
a

ah

u
s
a

,-

terutama dalam beberapa waktu yang akhir ini, dan pendidikan itu say
pandang kewajiban yang mulia dan suci, sehingga saya pandang suatu
kejahatan, jika saya menyerahkan tenaga kepada usaha mendidik itu,
sedangkan saya belum mempunyai kecakapan yang penuh. Harusl
ternyata dahulu adakah saya sanggupkah menjadi pendidik atau tidak.
Pendirian saya, pendidik itu adalah mendidik budi dan jiwa. Rasarasanya kewajiban seorang pendidik belumlah selasai jika ia hanya bar
mencerdaskan pikiran saja, belumlah boleh dikatakan selesai: dia haru
juga bekerja mendidik budi meskipun tidak ada hukum yang nyat
mewajibkan berbuat demikian,Acapkali saya dengar orang berkata,
bahwa kehalusan budi itu akan datang sendirinya, jika pikiran sudah
cerdas, bahwa oleh pendidikan akal budi itu sendirinya menjadi baik
dan halus, tetapi setelah saya perhatikan maka saya berpendapat
sungguh kecewa,- bahwa tiadalah selamanya benar yang demikian itu;
bahwa tahu adab dan bahasa serta cerdas pikiran belumlah lagi jadi
jaminan orang hidup susila ada mempunyai budi pekerti.29

Kartini juga mengkritik tentang metode pengajaran


pendidikan akhlak tidak diperhatikan.
Suratnya
yang dikirim pada nyonya Abendanon pada tanggal 21 Januari 9101, yaitu:
Dan orang yang tetap tiada berbudi, biarpun pikirannya sudah cerda
s
benar, tiadalah boleh dipisahkan benar, karena umumnya
pendidikannyalah yang salah; orang telah banyak, bahkan sudah
sangat banyak mengikhtiarkan kecerdasan pikirannya, tetapai apakah
yang telah diperbuat orang akan membentuk budinya? Suatupun
tiada!30
Menurut Kartini, pendidikan adalah suatau proses pembentuka
n
kepribadian peserta didik sehingga mereka mampu menyaring budaya asing,
Sebgaimana surat Kartini yang dikirimkan
kepada Nyonya Vana Kol pada bulan Agustus 1901, sebagai berikut:

Dengan pendidikan yang bebas itu, bukanlah sekali-kali maksud


kami akan menjadikan orang Jawa itu orang Jawa Belanda, melainkan
cita-cita kami ialah memberikan kepada mereka juga, sifat-sifat yang
bagus yang ada pada bangsa-bangsa lain, akan jadi penambah sifatsifat yang sudah ada padanya, bukanlah akan menghilangkan sifatsifat sendiri itu, melainkan akan memperbaiki dan
memperbagusnya!33

Menurut kartini, pendidikan watak atau akhlak kepada anak-anak


lebih banyak diperoleh dari pergaulannya di rumah, sebab, di sekolah anak
hanya sedikit saja memperoleh pendidikan tersebut.
Sebagaimana surat
Kartini yang diberikan kepada Prof.Dr.G.K. Anton dan isterinya pada tanggal 4
Oktober 1902, yaitu:
bukanlah sekolah itu saja yang mendidik hati sanubari itu, meliankan
pergaulan di rumah terutama harus mendidik pula! Sekolah
mencerdaskan
pikiran
di
rumah
tangga
membentuk
watak
anakIbulah yang jadi pusat kehidupan rumah tangga, dan kepada
ibu itulah dipertanggung jawabkan kewajiban pendidikan anak-anak
yang berat itu: yaitu bagian pendidikan yang yang membentuk
budinya.34

2.

Surat-surat Kartini Tentang Agama


Sebagaimana yang dituliskan Kartini di dalam

suratnya yang dikirimkan kepada Nyonya Abendanon pada tanggal 12


Desember 1902:
Tetapi dengarkanlah lagi, sehari sesudah kebakaran itu, orang itu
datang kerumah kami, dan coba, dia mengucaokan terima kasih
karena rumahnya terpelihara. Tiada boleh tidak, karena rahmat
kamilah maka api itu menjauh dari pada rumahnya. Berkat doa kami
minta rahmat baginya, karena itulah maka rumahnya terlindungi dari
mara bahaya!35
Adat pingitan itu lebih ketat berlakunya bagi gadis priyayi, di dalam

masyarakat biasa sedikit lebih bebas. Karena ini lebih berkaitan deng
an

kawin paksa dan poligami, juga nikah dalam usia dini. Sebagaimana i
si
suratnya pada tanggal 25 Mei 1899, sebagai berikut:
Dan adat kebiasaan negeri kami sungguh-sungguh bertentanga
n
dengan kemauan zaman baru, zaman baru yang saya inginkan masu

ke dalam masyarakat kami, siang dan malam saya pikir-pikirkan


saya heningkan daya upaya boleh terlepas juga dari pada
kongkongan adat istiadat negeri saya yang keras itu, akan tatapi ...
adat timur lama benar-benar kukuh dan kuat tetapi rasanya dapat
juga saya lebur, saya patahkan.36
Untuk menghadapi persoalan-persoalan itulah, Kartini sebagai
muslimah memandang agama sebagai sesuatu yang harus dipahami secar

34 Ibid., hlm. 151.


35 Ibid., 159.
36 Ibid., hlm. 32.

44

mendalam. Seperti dalam suratnya yang pernah ditulisnya pada tanggal 6


November 1899 yang dikirimkan kepada Nyonya zehandelar:
Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal
,
g

tiada boleh aku mengenalnya? Quran terlalu suci, tiada boleh


diterjemahkan ke dalam bahasa mana juapun. Di sini tiada oran
tahu bahasa Arab. Di sini orang membeca Quran tetapi yang ia baca
itu tiada ia mengerti. Pkirku pekerjaan gilakah pekerjaan seperti ini,
orang diajar membaca tetapi tidak diajarkan makna yang dibacanya
itu, sama saja engkau mengajar aku baca kitab bahasa Inggris,
sedangkan tiada sepatah kata juapun yang kau terangkan padaku.3
Kartini juga menulis pandangannya tentang agama atau um

at
beragama saat itu. Masyarakat saat itu banyak yang beragama Islam nam
un

masih juga banyak yang keberagamaannya hanya sekedar warisan da


ri
keturunannnya. Sebagaimana surat Kartini yang dikirimkan kepada Stella
Zeehandelaar pada tanggal 6 Nopember 1899: ..sebenarnya agamaku Isla
m
karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah aku cinta akan agamak
u,
kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya?38 Dan juga terdapat
pada surat Kartini yang dikirimkan kepada Tuan Abendanon Mandri pada
tanggal 15 Agustus 1902: Kami namanya orang Muslim, karena
kami
turunan orang Muslim, dan kami cuma namnya saja Muslim, lain dari pada
itu tidak.39
Kartini beranggapan bahwa agama adalah rahmat Tuhan terhad
ap
manusia sebagaimana suratnya yang tertanggal 6 Nopember 1899: Agam
a
itu maksudnya akan menurunkan rahmat kepada manusia, supaya ad
a
penghubungan silaturrhmi segala makhluk Allah, sekaliannya kita ini
bersaudara,..40 Namun Kartini juga sempat merasakan kebimbang
an
terhadap agama, karena memng masih banyak orang yang melakuka
n
kesalahan dengan mengatasnamakan agama. Pendapat Kartini ini juga ma
sih
dalam suratnya yang tertanggal 6 Nopember 1899: Benarkah agama itu
restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri, dengan

45

bimbang hati. Agama harus menjaga kita dari pada berbuat dosa, tet
api
berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!41
Suatu ketika Kartini sadar bahwa agama itu indah dan tidak

membeda-bedakan satu dengan yang lain.Yang menjadikan buruk bukanla


h
agama itu, namun tingkah manusia yang karena kebodohannya dan ketida
k

fahamannya tentang agama menjadikan agama tersebut menjadikan agam


a
itu tiada memberikan rahmat kepada umatnya. Sebagaimana surat Kartini
yang dikirimkan kepada nyonya Van Kol pada tanggal 21 Juli 1902:
bahwa ujud semua agama adalah berbuat baik, bahwa semua
agama itu bagus adanya. Tetapi aduhai manusia, apa jadinya agama
itu karena perbuatanmu. Agama dimaksudkan supaya membe

ri

berkah, supaya memperkaribkan semua makhluk Allah, yang berkulit


putih maupun yang berkulit hitam, tidak pandang pangkat perempuan
ataupun laki-laki agama mana yang dipeluknya, semua kita ini ialah
anak kepada Bapak yang seorang itu juga, kepada Tuhan yang Maha
Esa.42
Akhirnya Kartini pun merasa telah menemukan kembali Tuhannya,

Kartini telah meraskan hidayah yang diberikan oleh Allah. Pengalaman i


tu
Kartini tuliskan untuk E.C Abendanon Mandri pada tanggal 15 Agusrus 1902:
sudah kami dapatlahDia. Yang bertahun-tahun
lamanya
didahagakan oleh jiwa kami dengan tiada setahu diri. Betapa aman
sentosanya di dalam diri kami sekarang ini, betapa terima kasihnya
dan bahagianya, betapa sentosanya dan senangnya rasa diri kami,
karena sekarang ini telah mendapat Dia. Karena kini ini kami, dan
tahu, kami rasa, bahwa senantiasa ada Tuhan dekat kami, dan
menjagai kami. Tuhan itu akan menjadi penolong, pembujuk hati,
tempat kami berlindung di dalam kehidupan kami yang akan datang;
sudah terasa oleh kami.43
Perasaan itu digambarkan Kartini dengan sebutan habis gelap
terbitlah terang, habis malam datanglah siang, habis badai datanglah reda.
44
dan biasanya dalam Islam sering disebut dengan dari kegelapan men
uju
cahaya. Karena perempuan adalah pondasi peradaban maka tidak
an
41
42
43
44

Ibid.,
Ibid.,
Ibid.,
Ibid.,

hlm.
hlm.
hlm.
hlm.

39.
135-136
142-143.
141.

46

diskriminasi atasnya hanya akan menghancurkan peradaban itu sendir


i.
Pehaman keagamaan yang mendalam merupakan titik tekan pandang
an
Kartini karena agama merupakan media yang sangat efektif untu
k
mendoktrin masyarakat. Dalam suratnya yang dikirimkan kepada Non
a
Zeehandelaar pada tanggal 6 Nevember 1899: Akan agama Islam, Stella,
tiada boleh aku ceritakan. Agama melarang umatnya mempercakapkannya
dengan agama lain, sebenarnya agamaku agama Islam, hanya kerena nen
ek
moyangku beragama Islam.... Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkl
an
ke dalam bahasa mana juapun.45
Kemudian Kartini juga menghendaki, perempuan berhak untuk
memperoleh kesempatan mendapatkan pendidikan secara demokratis tan
pa
adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Hal ini
berdasarkan
pada suratnya yang dikirimkan kepada Nona Zeehandelaar pada tanggal 9
Januari 1901:

Dari semenjak dahulu kemajuan perempuan itu menjadi pasal


paling penting dalam usaha memajukan bangsa, kecerdasan pikiran
penduduk Bumiputera tidak akan maju dengan pesatnya, bil
perempuan itu ketinggalan dalam usaha itu, perempuan jadi
pembawa pembaharuan.46
Kritik Kartini yang lain tentang praktik kehidupan yang juga

menggunakan legitimasi agama adalah poligami. Padahal poligami itu


sangat merugikan perempuan. Sebagaimana isi suratnya yang dikirim
kan
kepada Zeehandelaar pada 6 November 1899:
Manakah boleh aku hormati yang sudah kawin dan sudah jadi
bapak, tetapi meskipun begitu, oleh karena telah puas beristerikan
ibu anak-anaknya, membawa perempuan lain pula ke dalam
rumahnya,... bukan dosa, bukan kecelakaan pula; hukum Islam
mengizinkan laki-laki menaruh empat perempuan sekaligus. ...
semua perbuatan yang menyebabkan orang menderita saya anggap

sebagai dosa.47

47

3.

Surat-surat Kartini Tentang Pendidikan Agama


Pandangan Kartini tentang pentingnya pendidikan agama diberika

n
kepada penduduk bumiputera berdasar kenyataan pada saat itu, bahwa terj
adi
penyebaran agama kristen yang dibawa oleh belanda dengan pelayanan sos
ial
pengobatan dan sembako lewat lembaga yang diberi nama zending. S
erta
realitas pemberian pendidikan agama Islam kepada anak bumiputera y
ang
tidak mendalam, sehingga banyak pula yang tergoda masuk ke agama lain
(kristen) dan itu menjadikan perpecahan di dalam masyarakat.
Untuk itu Kartini menginginkan bahwa apabila berniat mengajarkan
tentang agama, maka ajarkanlah agama dengan yang sebenarnya. Agama y
ang
mengajarkan tentang ketuhanan, tentang kasih sayang dan tentang tolerans
i
antar uamat beragama. Semua itu terdapat pada suratnya yang diberi
kan
kepada E.C.Abendanon pada tanggal 31 Januari 1903:

en

Jika orang hendak mengajarkan agama juga kepada orang Jawa,


ajarlah ia mengenal Tuhan Yang Maha Esa, Bapak pengasih dan
penyayang itu, yang menjadi Bapak semua makhluk, orang krist
maupun dia orang Islam. Budha, yahudi dan sebagainya. Ajarlah dia
agama yang sebenarnya, ialah agama yang melekat di rohani biarpun
ia memeluk agama itu seperti orang Islam dan sebagainya.48
Namun, Kartini juga merasa tidak suka pada pelayanan sosial yang

dilakukan oleh orang Kristen saat itu. Pelayanan sosial yang dilakukan

tidaklah tulus. Karena menurut mereka dengan dilakukannya kegiatan terse


but
akan menambah pengikut. Sehingga akan hal yang seperti itu menurut Karti
ni
akan menyebabkan perpecahan anatar umat beragama dan juga menggang
gu
keharmonisan kehidupan masyarakat. Untuk itu Kartini mengungkapkan
kegelisahannya lewat surat kepada Tuan E.C. Abendanon pada tanggal
31
Januari 1903:
betapa pikiranmu tentang Zending yang hendak berbuat baik kepad
a

ari

rakyat di pulau Jawa, semata-mata oleh karena kemauan rasa kasih,


jadi zending yang maksudnya bukan hendak mengajak orang
memeluk agama nasrsni, dan yang menjauhkan semua agama d
pada usaha nya? Apakah salahnya jika usaha seperti di Mojowarno
48 Ibid., hlm170.

48

dilakukan di kota yang lain-lain juga, usaha yang sama sekali tiada
panji-panji agama.49
Tentang pendidikan agama, Kartini menginginkan bahwa pendidikan
yang paling penting diusahakan adalah pendidikan moral atau kesusilaan, d
an
lebih baik lagi apabila diberikan suatu buku atau bacaan terhadap anak didik
.
Hal ini dimaksudkan untuk memperdalam pemahaman anak didik tenta
ng
agamanya sendiri. Pernyataan ini terdapat dalam surat Kartini yang tertangg
al
31 Januari 1903:
berulang-ulang aku mempercayakannya. Lebih dahulu harusla
h
diadakan pokok rasa kesusilaan, dan wajiblah hal ini diperhatikan

pada semua pelajaran yang hendak diberikan. Betapa jalann

ya

memasukkan dasar kesusilaan itu pada orang dewasa dan seteng

ah

dewasa? Pada pertimbanganku, dengan bacaan. [patutlah diterbitkan


majalah yang berisi bacaan menyenangkan hati (supaya banyak dibac

orang), tetapi selamanya dengan maksud hendak mendidik.50


Apa yang dialami serta direnungkan oleh Kartini di atas memikliki

orientasi ideal untuk mewujudkan sebuah tatanan pendidikan yang bai


k
mengedepankan kasih sayang dan kebaikan yang akan menjadi manifestasi
dari rahmat Tuhan. Sebagaimana dalam surat Kartini yang diberikan kepada
Dr. Adrianai pada tanggal 5 Juli 1903:

Aduhai, moga-moga Tuhan menurunkan rahmatnya, membolehkan


kami menjadi ibu, kakak kepada banyak-banyak orang!Janganlah
sekolah kami itu sekolah biasa, sedikitpun jangan hendaknya dan
janganlah kami menyerupai guru sekolah, melainkan haruslah sekolah
itu berupa kaum keluarga besar, dan kamilah ibunya. Dengan laku da

kata kami ajar dia menaruh kasih menurut paham kami. A

pa

pedulinya, agama mana yang dipeluk orang dan bangsa mana dia, jiw

yang mulia tetap jiwa yang mulia, dan orang yang budiman tetap juga
orang yang budiman. Hamba Allah ada di tiap-tiap agama, di tengahtengah tiap-tiap bangsa.51
Dengan semangat yang kuat itu Kartini menginginkan keluargany

a
nanti akan dididik tentang pemahaman agama yang lebih baik, tentan
g
toleransi terhadap semua umat beragama, dan bertingkah laku yang d
apat
49 Ibid., hlm. 169.
50 Ibid.
51 Ibid., hlm. 181.

49

memberikan kebaikan dan kedamaian terhadap sesama umat manusia yang


ada di muka bumi ini.
4.

Surat-surat Kartini Tentang Emansipasi

Kartini yang memang seorang gadis pribumi yang menginginkan


perubahan pada adat kebudayaannya, ia juga menulis beberapa surat tenta
ng
keinginannya mengenai kemajuan yang harus di dapat oleh para perempua
n
bumi putera. Sebagaimana surat Kartini yang dikirimkan kepada tuan Anton
dan Nyonya pada tanggal 4 Oktober 1902:
Perempuanlah yang menabur bibit rasa kebaktian dan kejahatan yan
g
pertama-tama kali dalam hati sanubari manusia, rasa kebaktian dan
kejahatan itu kebanyakannya tetaplah ada pada manusia itu selama
hidupnya. Ibulah yang pertama kali jadi pusat kehidupan rumah
tangga, dan kepada ibu itulah dipertanggungkan kewajiban pendidika

anak-anak yang berat itu: yaitu bagian pendidikan yang membentuk


budinya. Berilah anak-anak gadis pendidikan yang sempurna, jagalah
supaya ia cakap kelak memikul kewajiban yang berat itu.52
Juga terdapat dalam surat Kartini lainnya yang dikirimkan kepada

Nyonya Abendannon pada tanggal 21 Januari 1901:

kata:

Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikannya,


di haeribaannyalah anak itu belajar merasa dan berpikir, berkatadan makin lama makin tahulah saya, bahwa didikan yang mula-mula
itu bukan tidak besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di
kemudian harinya. Dan betapakah Ibu Bumiputera itu sanggu
mandidik anaknya., bila mereka itu sendiri tiada berpendididikan.53
Selain kewajiban sebagai seorang Ibu, perempuan juga merupaka

n
salah satu faktor penting dalam memajukan bangsa dan pendukung perada
ban.
Sebagaimana surat Kartini yang dikirimkan kepada nona Zeehandelaar pada
tanggal 9 Januari 1901 sebagai berikut: Dari semenjak dahulu kemajuan itu
menjadi pasal yang amat penting dalam usaha memajukan bangsa. Kecerda
san
pikiran penduduk pribumi tiada akan maju dengan pesatnya, bila perempua
n
itu ketinggalan dalam usaha itu. Perempuan jadi pembawa peradaban.54

52 Ibid., hlm. 151.


53 Ibid., hlm. 79.
54 Ibid., hlm. 74.

50

Secara tersirat Kartini menyimpulkan bahwa


perempuan itu adalah
soko guru peradaban. Sebagaimana suratnya yang di
kirimkan kepada nyonya
Abendanon pada tanggal 21 Januari 1901:
Perempuan itu jadi soko guru peradaban! Buk
an karena perempuan
yang dipandang cakap itu, melainkan oleh kar
ena saya sendiri yakin
sungguh yakin bahwa perempuan itu pun mun
gkin timbul penagruh
yang besar, yang besar akibatnya, dalam
hal membaikkan maupun
memburukkan
kehidupan, bahkan
yang
paling banyak
dapat
membentu memajukan kesusilaan manusia.5
5
Kartini juga mengkritik kenyataan terjadiny
a adat pingitan bagi
wanita serta adanya kawin paksa dan poligami, jug
a nikah dalam usia dini.
Sebagaimana isi suratnya pada tanggal 25 Mei 189
9, sebagai berikut:
Dan adat kebiasaan negeri kami sungguhsungguh bertentangan
dengan kemauan zaman baru, zaman baru yang saya inginkan masuk
ke dalam masyarakat kami, siang dan malam s
aya pikir-pikirkan saya
heningkan daya upaya boleh terlepas juga dari
pada kongkongan adat
istiadat negeri saya yang keras itu, akan t
atapi ...
adat timur lama
benar-benar kukuh dan kuat tetapi rasanya da
pat juga saya lebur, saya
patahkan.56

Dengan melihat beberapa surat Kartini di ata


s dapat diambil sebuah
pemahaman bahwa kartini sangat tidak setuju
dengan pola pemikiran
masyarakat jawa yang diskriminatif terhadap pere
mpuan. Di samping itu,
Kartini juga melihat ada deviasi atau penyimpa
ngan yang terjadi di
tingkatan masyarakat luas tentang pemahaman
agama yang cenderung
ekslusif. Sehingga, apa yang direnungkan Kartini te
rsebut tentunya menarik
untuk terus dikaji dan tentunya masih relevan
dengan zaman sekarang
karena mengingat masih banyaknya kasus-kasus
pelanggaran hak asasi
manusia serta kerusuhan bernuansa agama.

55 Ibid., hlm. 79.


56 Ibid., hlm. 32.