Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG

Sebelum membicarakan politik hukum Indonesia dalam catatan


sejarah atas keberlakuannya, terlebih dahulu untuk mendeskripsikn
pengertian sejarah itu sendiri, sebelum menjelaskan tentang penerapan
tata hukum Indonesia dalam kehidupan politik hukum sejak zaman pra
kemerdekaan sampai zaman kemerdekaan.
Kalau dilihat dari Bahasa Latin, sejarah berasal dari kata historis
dan dalam Bahasa Jermannya disebut geschichte yang berasal dari kata
geschehen, yang berarti suatu yang terjadi. Sedangkan istilah historis
yang berarti kumpulan fakta kehidupan dan perkembangan manusia. Di
kawasan orang orang yang berbahasa Melayu (termasuk Indonesia)
secara sederhana kata sejarah itu diartikan sebagai suatu cerita dan
kejadian masa lalu yang dikenal dengan sebutan legenda, babad, kisah,
hikayat, dan sebagainya yang kebenarannya belum tentu tanpa bukti
bukti sebagai hasil suatu penelitian.1
Oleh sebab itu, sejarah juga diartikan sebagai suatu pengungkapan
dari kejadian masa lalu. Atau dapat juga dikatakan sejarah adalah suatu
pencatatan dari kejadian kejadian penting masa lalu yang perlu
diketahui, diingat, dan dipahami oleh setiap orang atau bangsa masa kini.
Jadi kalau dikatakan sejarah politik hukum dalam penerapan tata hukum
Indonesia adalah suatu pencatatan dari kejadian kejadian penting
mengenai tata hukum Indonesia masa lalu yang perlu diketahui, diingat,
dan dipahami oleh setiap orang atau bangsa Indonesia generasi masa kini
yang dijadikan sebagai kebijakan politik hukum Indonesia. Perlu diketahui
dalam pengungkapan sejarah tata hukum dan politik hukum Indonesia
sejak

zaman

perjuangan

sampai

zaman

kemerdekaan

dapat

1 Abdoel Djamali, hlm 8


1

diklasifikasikan menjadi beberapa fase, yaitu fase pra kolonial, fase


kolonial, dan fase kemerdekaan. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan dari
tiap tiap fase sejarah hukum Indonesia berikut ini.
B.

C.

RUMUSAN MASALAH
1.

Bagaimana fase pra kolonial hukum Indonesia ?

2.

Bagaimana fase kolonial hukum Indonesia ?

3.

Bagaimana fase kemerdekaan hukum Indonesia ?

TUJUAN
1.

Mengetahui fase pra kolonial hukum Indonesia

2.

Mengetahui fase kolonial hukum Indonesia

3.

Mengetahui fase kemerdekaan hukum Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN
A. Fase Pra Kolonial
Membicarakan tata hukum khususnya yang berlaku di Indonesia
tidak dapat dilakukan tanpa mempelajari sejarahnya di samping politik
hukum yamg digunakan sebagai pelaksanaan berlakunya aturan hukum
itu. Hal ini disebabkan karena bangsa Indonesia memilki sejarah bangsa
yang luhur dan tidak ternilai harganya di dunia ini, juga adanya
perkembangan pelaksanaan hukum yang dialami sebagai tingkah laku
bangsa Indonesia di dalam pergaulan hidupnya. Hal ini ketika Bangsa
Indonesia masih dalam wilayah Nusantara. Sejak zaman Tandu di
Kepulauan

Nusantara

ini

telah

ada

kehidupan

manusia

dalam

perkembangan sejarah hidup manusia. Tetapi pencatatan dari kejadian


kejadian penting terhadap kehidupan Bangsa Indonesia di masa lalu baru
ada sejak memasuki abad 1, dan ini pun diketahui setelah adanya
penelitian penelitian dari adanya peninggalan peninggalan sejarah
yang bersifat arkeologis.
Kemudian setelah kehidupan manusia berkembang dan masuknya
kebudayaan dari luar, hubungan antar pulau mulai terjalin. Maka
terjadilah kehidupan kelompok sosial yang mulai teratur di bawah
kekuasaan seseorang atau beberapa orang yang dianggap kuat dan
mampu

untuk

menjalankan

pengawasan

dalam

pergaulan

hidup

masyarakat. Pengawasan dilakukan pada tiap tiap wilayah masing


masing kelompok sosial masyarakat yang masing masing tersebar di
seluruh kepulauan Nusantara. Terhadap fenomena kehidupan ini akan ada
bukti ketika kebenaran yang ditulis agak sistematis, seperti yang terjadi
pada masa kekuasaan raja raja nusantara dari perkembangan kelompok
sosial masyarakat nusantara yang tersebar luas di seluruh kepulauan
nusantara pada kejayaan kejayaan sistem kerajaan nusantara, yang
3

meliputi : Sriwijaya, Padjajaran, Singosari, Majapahit, Mataram, Kutai, dan


lain sebagainya.
Di bawah penguasaan kerajaan kerajaan nusantara yang tersebar
di wilayah nusantara itu, masa tata hukum bangsa Indonesia saat itu pula
masih bersifat kewilayahan berdasarkan batas wilayah kekuasaan dari
masing masing kerajaan. Sehingga tata hukum sebagai aturan hukum
yang merupakan salah satu pengaturan di bidang politik hukum di antara
masing masing kerajaan berbeda beda satu sama lainnya. Kemudian
bangsa Indonesia, dalam bidang hukum mulai jelas dan tampak sebagai
embrio tata hukum nasional, yaitu setelah kedatangan bangsa Eropa yang
bertujuan melakukan penjajahan kepada bangsa Indonesia yang tersebar
pada wilayah Nusantara.
Kedatangan Bangsa Eropa dengan tujuan penjajahan terutama
orang orang Belanda dengan usaha menanamkan pengaruhnya melalui
penjajahan tersebut.
B) Fase Kolonial
Prof.

Mr.

Dr.

Cornelis

van

Volenhoven,

ketika

pertama

kali

menginjakkan kaki di Indonesia mengatakan bahwa Wanner in 1596 ht


eerte schip cde driekleur aan den mast in den Indischen archipel
binnenvalt, is dad land staatsrechtelijk geen woest en ledig land. Het is
boendevol instituten van volksen gezagsordening : bewind door en ove
stammen, dorpen, bonden, republieken, vorstenrijken ( Ketika pada tahun
1956 kapal Belanda yang pertama kali tiba di Indonesia, maka terdapatlah
pada suatu negeri yang ditinjau dari sudut hukum negara bukan negeri
yang tandus dan kosong. Negeri tersebut penuh sesak dengan lembaga
Tata Negara

dan lembaga Tata Kuasa. Kekuasaan oleh dan atas suku,

desa, perserikatan, republik, kerajaan).


Memang, ketika Belanda datang ke Indonesia, Indonesia sudah
mempunyai suatu tata hukum ( rechtsorde ) sendiri, yaitu tata hukum asli
yang berlainan daripada tata hukum Belanda.
Pada masa ini (kolonialisme), berlangsung sekitar tiga setengah
abad sejak masa Verenigdeenigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada
4

akhir abad XVII, tatanan hukumnya dapat di kualifikasikan sebagai


tatanan hukum represif in optima forma. Keseluruhan tatanan hukum di
maksudkan untuk menjamin preservasi rysh and orde dan konservasi
kekuasaan kolonial demi kepentingan ekonomi negara dan bangsa
Belanda, dan sama sekali bukan untuk kepentingan rakyat yang
terhadapnya tatanan hukum untuk di berlakukan. Juga ketika menjalankan
politik hukum secara sadar dan menerapkannya dengan menetapkan
bahwa bangsa Indonesia dalam bidang hukum

perdata berlaku hukum

adatnya.2
politiknya terhadap hukum adat adalah wet verwachten wij Eorupanen
van het adatrecht voor onze regering soogmerken en onze economisce
oogmerken ? Tampak jelas bahwa pengakuan persamaan derajat dan
nilai budaya dengan hukumnya akan diberikan oleh pemerintah Hindia
Belanda hanya sepanjang diperlukan untuk menjamin kepentingan
dagang orang Belanda.3 Pertimbangan rush and orde itu pula yang
menyebabkan pemerintah Hindia Belanda menganut dan menerapkan
univikasi hukum. Karakter tatanan hukum yang represif ini tampak jelas
dalam ketentuan perundang - undangan pada masa Hindia Belanda
meliputi ketentuan aturan hukum pada masa berikut ini.
1. Masa Vereenidge Ost Indische Compagnie
Hukum yang berlaku bagi orang Belanda di pusat pusat VOC yang
pertama tama adalah hukum yang dijalankan di atas kapal kapal VOC.
Hukum kapal tersebut terdiri atas, yaitu Hukum Belanda Kuno ( Out
Nederlands atau Outvederlands recht ) ditambah dengan asas asas
Romawi. Bagian terbesar hukum yang dipakai di kapal itu berupa
tuchrecht ( hukum disiplin ). Sejak kedatangannya di Indonesia, maka
yang merupakan dasar tata hukum bagi orang Belanda adalah asas
konkordansi.
Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) yang didirikian oleh
para pedagang orang Belanda tahun 1602 maksudnya supaya tidak
2 Ibid, hlm 10
3 B.Arief Sidharta, op.cit hlm 53
5

terjadi persaingan antar para pedagang yang membeli rempah-rempah


dari orang-orang pribumi dengan tujuan dapat memperoleh keuntungan
yang besar dari pasaran Eropa. Sebagai kompeni dagang oleh pemerintah
Belanda kemudian hak-hak istimewa (octrooi), seperti hak monopoli
pelayaran dan perdagangan, hak membentuk angkatan perang, hak
mendirikan benteng, menggumumkan perang, mengadakan perdamaian
dan mencetak uang.4 Dengan hak Octrooi itu VOC melakukan ekspansi
penjajahan di daerah-daerah kepulauan nusantara

yang di datangi

terutama kepulauan Maluku- dan menanamkan penekanan dalam bidang


perekonomian dengan memaksanakan aturan-aturan hukumnya yang di
bawa. Di Kepulauan Maluku aturan aturan hukum yang dipaksakan
pentataannya bagi orang orang pribumi , ketentuan ketentuannya
merupakan hukum positif orang Belanda di daerah perdagangan, yaitu
ketentuan ketentuan hukum yang dijalankan di atas kapal kapal
dagang itu sama dengan ( konkordan ) hukum Belanda Kuno ( Out
Nederlandsrecht ) yang sebagian besar merupakan hukum disiplin
(tuchrecht).
Pada tahun 1610 pengurus pusat VOC di Belanda memberikan
wewenang

kepada

Gubernur

Jendral

Pieter

Both

untuk

membuat

peraturan dalam menyelesaikan perkara istimewa yang harus disesuaikan


dengan kebutuhan para pegawai VOC di daerah-daerah yang di kuasai, di
samping ia dapat memutuskan perkara perdata dan pidana. Peraturan
yang di buat oleh Gubernur Jendral itu kemudian berlaku berdampingan
dengan peraturan yang dibuat sendiri oleh Direksi VOC di Belanda dengan
nama Hereen Zeventieen. Setelah penyusunan selesai, maka pada
tahun 1642 di umumkan di Batavia dengan nama Statuta van Batavia.
Sejak Gubernur diberi wewenang dapat membuat peraturan yang
diperlukan untuk kepentingan VOC di daerah daerah yang dikuasai,
maka setiap peraturan yang dibuat itu diumumkan melalui plakat. Plakat
itu yang memuat setiap peraturan, setelah dimumkan tidak pernah
dikumpulkan dengan tataan yang baik. Dalam perkembangannya, maka
4 Abdoel Djamali, op.cit hlm 10
6

pada tahun 1635 tidak diketahui lagi plakat mana yang masih berlaku dan
plakat mana yang sudah dicabut atau dirubah. Kemudian selama 7 tahun
sejak itu semua plakat yang pernah diumumkan dikumpulkan lagi, dan
bagi plakat yang masih berlaku disusun secara sistematis. Setelah
penyususnannya selesai, maka pada tahun 1642 diumumkan di Batavia
dengan nama Statuta van Batavia. Usaha semacam ini dilakukan lagi
yang selesai pada tahun 1766 dan dibari nama Nieuwe Bataviase
Statuten ( Statuta Batavia Baru).
Peraturan Statue yang berlaku di daerah daerah kekuasaan VOC
berdampingan berlakunya dengan aturan aturan hukum lainnya sebagai
satu sistem hukum tersendiri dari orang orang pribumi dan pendatang di
luar orang Eropa. Terhadap aturan-aturan hukum itu pernah dicoba suatu
penelitian antara lain di lakukan oleh Freijer dan menghasilkan suatu kitab
hukum pada tahun 1760, kitab hukum (kompendium) Freijer itu ternyata
hanya berisi aturan-aturan hukum perkawinan dan hukum waris Islam.
Sampai masa berakhirnya VOC yang dibubarkan oleh pemerintah Belanda
pada tanggal 13 Desember 1799, karena banyak menanggung hutang,
tidak ada aturan-aturan hukum lainnya lagi yang berlaku, kecuali yang di
sebutkan tadi di masa VOC.
2. Masa Pemerintah Hindia Belanda 1800 - 1942
Sejak tanggal 1 januari 1800 daerah-daerah kekuasaan VOC diambil
alih oleh pemerintah Bataafsche Republiek yang kemudian di ubah
menjadi Konflijk Holand. Kepulauan nusantara sejak itu menggalami masamasa penjajahan pemerintah Belanda dengan melaksanakan pedoman
pemerintahan dan aturan-aturan hukumnya

negeri Belanda. untuk

mengurus daerah jajahan raja Belanda yang monarki Absolut waktu itu
menunjuk

Daendels

mempertahankan
kemungkinan

sebagai

tanah

serangan

Gubernur

jajahan
Inggris.

Jendral.

Ia

Nusantara

dalam

Pelaksanaan

tugas

ditugaskan
menghadapi
ini

banyak

memimbulkan korban terutama bagi orang orang di pulau Jawa yang


dipaksa sebagai pekerja rodi. Misalnya, dalam pembuatan jalan dari Anyar
Panarukan, Sumedang Bandung dan pembuatan pangkalan pangkatan

Laut dengan bentengnya di daerah Banten. Dalam bidang pemerintahan,


Daendels membagi pulau jawa menjadi 9 keresidenan (prevektur).5
Sedangkan para Bupati dijadikan pegawai pemerintah Belanda dan di
angkat oleh pemerintah di Batavia dan menerima gaji. Untuk menambah
keuangan, maka pelaksanaan pertanian diperketat dengan pajak, bahkan
tanah pemerintah banyak yang dijual kepada partikelir. Dalam bidang
hukum, Deandles tidak mau mengganti hukum hukum yang berlaku di
dalam pergaulan hidup pribumi dengan memberelakukan aturan atauran
hukum Eropa. Hanya saja dalam penetapanya dikatakan bahwa hukum
pribumi tetap berlaku jika tidak bertentangan dengan perintah yang
diberikan ataupun bertentangan dengan dasar dasar umum dari
keadilan

dan

kepatutan

demi

keamanan

umum.

Pada tahun 1811 Daendels di ganti oleh Jansens yang tidak lama
memerintah, karena tahun itu juga kepulauan nusantara di kuasai oleh
Inggris, pemerintah Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles menjadi
Letnan Gubernur. Dalam pemerintah Rafless, prefektur di jawa di ubah
menjadi 19 dan kekuasaan para Bupati di kurangi. Seluruh rakyat di
bebani

landrente

(pajak

bumi).

Dalam

Bidang

hukum

Rafless

menggutamakan mengenai susunan pengadilan yang di-konkordansi-kan


susunanya
a)

seperti

penggadilan

di

India

terdiri

dari:

Divisions Court
Terdiri dari beberapa pegawai pribumi, Wedana atau Demang dan

pegawai bawahannya. Mereka berwenang mengadili perkara pelanggaran


kecil dan sipil dengan pembatasan sampai 20 ropyen. Naik banding dalam
perkara sipil dapat dilakukan kepada Bupaties Court.
b)

Districts Court atau Bupatis Court

Terdiri dari Bupati sebagai ketua, penghulu, Jaksa dan beberapa


pegawai bumi putra dibawah pemerintah Bupati yang Wewenangnya
menggadili perkara sipil. Dalam memberikan putusan, Bupati meminta
pertimbangan jaksa dan penghulu. Jika tidak ada persesuaian pendapat,
maka perkaranya harus diajukan kepada residentt court.
5 Ibid, hlm 12-13
8

c)

Residents Court
Terdiri

dari

Residen,

para

Bupati,

Hooft

Jaksa

Hooft

Penghulu.Wewenangnya mengadili perkara pidana dengan mengadili


ancaman bukan hukuman mati. Dalam perkara sipil mengadili perkara
yang melebihi 50 ropyen.
d)

Coourt of circuit
Terdiri dari seorang ketua dan seorang anggota. Bertugas sebagai

penggadilan keliling dalam menangani perkara pidana dengan ancaman


hukuman mati. Dalam peradilan ini di anut sistem juri yang terdiri dari 5
sampai 9 orang bumi putra.
Raffles tidak melakukan perubahan terhadap hukum yang berlaku
dalam lingkungan masyarakat bumi putera. Anggapannya, hukum
hukum yang berlaku itu identik dengan hukum Islam. Bahkan bagi hakim
diperintahkan untuk tetap memberlakukan ketentuan ketentuan hukum
bumiputera dalam menyelesaikan perkara. Walaupun demikian, hukum
bumiputera dianggap lebih rendah derajatnya dari hukum Eropa.
Setelah inggris menyerahkan nusantara kepada Belanda pada tahun
1816

sebagai

hasil

Konvensi

London

1814,

maka

seluruh

tata

pemerintahannya mulai di atur dengan baik . Sejak saat itu sejarah


perundang undangan membagi tiga masa yang berjalan sebagai berikut :

i.

Masa Besluiten Regerings 1814 1855


Dalam melaksanakan kekuasaannnya, hanya raja yang berhak
membuat dan mengeluarkan peraturan yang berlaku umum dengan
sebutan Algemene Verordening ( peraturan pusat ). Karena peraturan
pusat itu dibuat oleh raja , maka dinamakan juga Koninklijk Besluit
(Besluit Raja ). Untuk melaksanakan pemerintahan di Nusantara yang oleh
Belanda disebut Nederlands Indie , raja mengankat komisaris Jendral
yang terdiri dari Elout, Buys Kes, dan Van der Capellen. Dalam bidang
9

hukum, peraturan peraturan yang berlaku bagi orang Belanda sejak VOC
,tidak diganti, dan tidak dicabut atau tidak mengalami perubahan karena
menunggu rencana peng-kodofikasi-an hukum Nasional Belanda.
Kemudian untuk Hindia Belanda dikehendaki juga adanya kodifikasi
hukum perdata yang akan diberlakukan bagi orang orang Belanda sesuai
dengan keadaan daerah jajahan. Untuk maksud itu pada tanggal 18
Agustus 1839 Menteri jajahan di Belanda mengangkat komisi undang
undang bagi Hindia Belanda yang terdiri dari Mr. Scolten van Oud Harlem
sebagai ketua, Mr. I Schneither dan Mr. I.F.H.van Nes masing masing
sebagai anggota. Komisi ini dalam tugasnya dapat menyelesaikan
beberapa peraturan yang kemudian oleh Mr. H.L. Wicher disempurnakan
yaitu meliputi :
a) Reglement of de Rechterlijke Organisatie ( RO ) atau
peraturan Organisasi Pengadilan
b) Algemene Bapalingen ven Wetgeving (AB) atau ketentuan
Umum tentang Perundang undangan
c) Burgerlijk Wetbook (BW) atau Kitab Undang Undang Hukum
Perdata
d) Wetbook ven Koophandel (WvK) atau Kitab Undang Undang
Hukum Dagang
e) Reglement op de Burgerlijk
ii.

Rechtsvordering (RV) atau

Peraturan Tentang Acara Perdata )


Masa Regerings Reglement 1855 1926
Pada tahun 1848 di Belanda terjadi

perubahan

terhadap

Grondwetnya sebagai akibat dari pertentangan de Staten General


(parlemen) dan Raja yang berakhir dengan kemenangan parlemen dalam
bidang mengelola kehidupan bernegara. Kemenangan itu mengubah
sistem pelaksanaan pemerintahan dari monarki konstitusional menjadi
monarki konstitusional parlementer. Adanya perubahan Grondwet itu
mengakibatkan juga terjadinya perubahan terhadap pemerintahan dan
perundang undangan jajahan Belanda di Indonesia. Hal ini terutama
dengan dicantumkannya ketentuan pasal 59 ayat (I,II, dan IV) Grondwet
yang menyatakan bahwa :

10

Ayat I : Raja mempunyai kekusaan tertinggi atas daerah daerah


jajahan dan harta kerajaan di bagian dari dunia .
Ayat II: Aturan aturan tentang kebijaksanaan pemerintahan
ditetapkan melalui

undang undang , Sistem keuangan ditentukan

melalui undang undang.


Ayat IV: Hal hal yang menyangkut mengenai daerah daerah
jajahan dan harta, kalau diperlukan akan diatur melalui undang undang.
Implikasi dari peraturan tersebut, dalam peraturan dasar
pemerintahan yang dibuat untuk kepentingan daerah jajahan di Indonesia
dan

berbentuk

undang

undang

(wet)

itu

dinamakan

Regering

Reglement (RR). RR ini diundangkan pada tanggal 1 Januari 1854, tetapi


mulai berlaku pada tahun 1855. RR ini dalam ketentuan materi
peraturannya dari 130 padal dalam 8 bab yang mengatur tentang tata
pemerintahan di Hindia Belanda, maka RR itu danggap sebagai undang
undang Dasar pemerintahan jajahan Belanda. Politik hukum pemerintahan
jajahan yang mengatur tentang pelaksanaan tata hukum pemerintah di
Hindia Belanda itu dicantumkan dalam pasal 75 RR.
Pada tahun 1920 , RR itu mengalami perubahan terhadap beberapa
pasal tertentu dan kemudian setelah diubah dikenal dengan sebutan
RR( baru) dan berlaku sejak tanggal 1 Januari 1920 sampai 1926. Karena
itu selama berlakunya dari tahun 1855 sampai 1926 dinamakan masa
Regerings Reglement. Sedangkan politik hukum daam pasal 75 RR baru
mengalami perubahan asas terhadap penentuan penghuni menjadi
pendatang dan yang didatangi, dan golongannya dibagi menjadi 3
golongan , yaitu :
a) Golongan Eropa
b) Golongan Pribumi
c) Golongan Timur Asing
Pada prinsipnya, masing masing golongan itu mempunyai stelsel
hukumnya sendiri. Dengan demikian, terdapatlah beberapa stelsel hukum
yang sama sama berlaku pada waktu dan tempat yang sama. Inilah
yang dinamakan Dualisme atau pluralisme hukum Indonesia.
iii. Masa Indische Staatsregeling 1926 1942
Pada

tahun

1918,

oleh

pemerintah

Belanda

dibentuk

sebuahVolksraad ( wakil rakyat ) sebagai hasil dari perjuangan bangsa


Indonesia

yang

menghendaki

ikut

menentukan

nasib

bangsanya.
11

Sebenarnya dengan dibentuknya wakil rakyat tahun 1918 itu, maka


pemerintahan jajahan Belanda merencanakan untuk merubah Regerings
Reglement. Rencana itu baru terlaksana beberapa tahun kemudian
setelah Grondwet Belanda mengalami perubahan lagi pada tahun 1922,
perubahan tersebut menyangkut tata pemerintahan Hindia Belanda. Hal
ini terutama yang berkenaan dengan wewenang raja terhadap daerah
jajahan. Dalam Grondwet Belanda tahun 1922 , disebutkan dalam pasal
61 ayat II dinyatakan bahwa :
Menyatakan tanpa mengurangi ketentuan dari ayat I pasal ini, maka
pengaturan tentang hal lainnya di Hindia Belanda diserahkan kepada alat
alat perlengkapan yang telah ada , sebagaimana caranya telah
ditentukan oleh udang undang, kecuali kalau undang undang
menentukan bahwa hak untuk mengatur hal hal atau peristiwa tertentu
ada di tangan raja.
Akibat dari perubahan Grondwet terutama pada ketentuan pasal
tersebut, maka tata pemerintahan Hindia Belanda mengalami perubahan
juga. RR yaang berlaku tahun 1855 diubah dan diganti menjadi Indische
Staatregeling (IS) , mulai berlaku pada 1 Januari 1926 melaui S. 1925 :
415. Indische Staatregeling mencantumkan politik hukumnya dalam pasal
131 yang seluruh isinya merupakan salinan dari pasal 75 RR baru. Pasal
itu terdiri dari 6 ayat yang menyatakan :
Ayat 1 : Hukum perdata dan pidana material dan formal akan ditulis
dan ditetapkan dalam ordonansi.
Ayat

2a: Memberi pedoman kepada pembentuk ordonansi untuk

hukum perdaata material yng harus diatur bagi orang Eropa.


Ayat 2b: Material pedoman kepada pembentuk ordonansi untuk
hukum perdata material yang harus diatur bagi orang Indonesia dan
orang Timur Asing
Ayat 3 : Untuk hukum acara perdata dan hukum acara pidana
ketentuan yang sama seperti mengenai hukum pidana
12

Ayat 4 : Orang orang Indonesia dan Timur Asing , sepanjang


mereka belum tunduk kepada aturan aturan bersama orang orang
Eropa, berhak untuk menundukkan dirinya secara sukarela yang diatur
dengan ordonansi
Ayat 5 : Menyatakan tidak berlakunya ordonansi berdasarkan pasal
ini di daerah daerah yang berlaku hukum adat
Ayat 6 : Tetap berlakunya hukum adat bagi orang Indonesia dan
Timur Asing sepanjang tidak ditentukan lain oleh kordonansi.
Dengan adanya ketentuan peraturan yang dicantumkan dalam S.
1925 : 415 ini, maka bagi orang orang yang disamakan dengan orang
Indonesia lainnya yang kemudian dikenal dengan sebutan Golongan Timur
Asing setelah berlakunya Regerings Reglement baru tahun 1920, tetap
berlaku hukum adatnya, kecuali mereka tunduk secara sukarela kepada
hukum perdata Eropa.

3. Masa Balatentara Jepang


Pada bulan Maret 1942 Balatentara Jepang dengan mudah dapat
menduduki seluruh daerah India Belanda. Dalam keadaan darurat waktu
itu ( Perang Dunia II ) pemerintah Jepang di Indonesia dilakukan oleh
Balatentara Jepang untuk melaksanakan tata pemerintahan Indonesia,
pemerintahan

Balatentara

Jepang

berpedoman

kepada

undang

undangnya yang disebut Gunseirei. Setiap peraturan yang diperlukan


demi kepentingan pemerintah di Jawa dan Madura dibuat dengan
berpedomankan kepada Gunseirei melalui Osamu Seirei yang mengatur
segala hal yang diperlukan untuk melaksanakan pemerintahan, melalui
peraturan pelaksana yang disebut Osamu Kanrei.
Peraturan Osamu Senrei berlaku secara umum, Osamu Kenrei
sebagai peraturan pelaksana isinya juga mengatur hal hal yang
diperlukan untuk menjaga keamanan ketertiban umum. Bagi daerah
daerah luar Jawa dan Madura ada sedikit perbedaan dalam membuat dan
13

melaksanakan peraturan. Yang sejenis dengan Osamu Senrei dinamakan


Tomi Kanrei , tetapi lebih tepat kalau dikatakan sebagai Undang
undang darurat atau yang sekarang dikenal dengan sebutan PP Pengganti
Undang Undang , karena tidak memerlukan peraturan pelaksana. Selain
itu, bagi tiap tiap daerah secara otonomi dapat membuat dan
melaksanakan peraturan daerah yang berlaku hanya untuk kepentingan
dan keamanan daerahnya sendiri. Peraturan itu dibuat oleh Komandan
Balatentara Jepang dalam Tomi Seirei.6
Dalam masa interregnnum ini, penguasa Balatentara Jepang dengan
peraturan yang disebut Osamu Seirei No. 1 Tahun 1942, yakni dalam pasal
3, menetapkan bahwa : Semua badan badan pemerintah dan
kekuasaannya, hukum dan undang undang pemerintah yang berlaku
dahulu, tetap diakui sah untuk sementara waktu, asal saja tidak
bertentangan dengan aturan pemerintah militer. 7 Dengan demikian, pada
masa interregnum itu tata hukum Hindia Belanda masih tetap berlaku
sebagai hukum positif. Perubahan penting yang dilakukan oleh penguasa
Balatentara Jepang tidak banyak, hanya terbatas pada susunan badan
badan

pengadilan

dengan

penyesuaian

hukum

acaranya

serta

menetapkan hukuman yang lebih berat terhadap pelanggaran di bidang


hukum pidana.
Wetbook van Strafrech Hindia Belanda tetap berlaku di samping
peraturan hukum pidana yang tidak dikodifikasikan lainnya dan peraturan
hukum pidana yang dikeluarkan oleh pemerintah Balatentara Jepang
berdasarkan Osamu Gunrei No. 1 Tahun 1942, Gunseirei Nomor Istimewa
Tahun 1942 dan Osamu Seirei No.25 Tahun 1944, tentang Gunrei Keizirei
yang memuat aturan aturan pidana mengenai peraturan umumdan
peraturan khusus mengenai Lembaga Peradilan Hindia Belanda juga tetap
digunakan, kecuali Resedentiegerecht yang dihapus. Adapun susunan
lembaga peradilan berdasarkan Gunseirei No. 14 Tahun 1942 terdiri dari :
6 Bid, hlm. 55 - 56
7 Arief Sidharta,op.cit,54 - 55
14

a) Tihoo Hooin, berasal dari Landraad ( Pengadilan Negeri )


b) Keizai Hooin, berasal dari Landgerecht ( Hakim Kepolisian )
c) Ken Hooin, berasal dari Regentschapgerecht ( Pengadilan
Kabupaten )
d) Gun Hooin,

berasal

Kewedanan )
e) Kaikyoo
Kootoo

dari

Hooin,

Districtsgerecht
berasal

dari

Pengadilan
Hof

voor

IslamietischeZaken Mahkamah Islam Tinggi )


f) Soooyoo Hooin, berasal dari Priesterraad ( Rapat Agama )
g) Gunsei Kensatu Kyoko, terdiri dari Tihoo Kensatu Kyoko
( Kejaksaan Pengadilan Negeri ), berasal dari Paket voor de
Landraden.8
Semua peraturan hukum dan proses peradilannya selama zaman
penjajahan Balatentara Jepang berlaku sampai Indonesia merdeka.
C . Fase Kemerdekaan
Kemerdekaan bangsa Indonesia ditandai oleh kekalahan Balatentara
Jepang dalam peperangan Asia Timur Raya, yaitu ketika Balatentara
Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus
1945, yang sebelumnya Negara Jepang telah diluluh lantahkan oleh
pasukan Sekutu dibawah pimpinan Negara Inggris dan Amerika Serikat
dengan menghancurkan kekuatan Negara Jepang di Hirosima dan
Nagasaki pada tanggal 13 dan 14 Agustus 1945. Momen penting atas
kekalahan Balatentara Jepang dalam perang Asia Timur Raya itu,
dimanfaatkan

oleh

kekuatan

bangsa

Indonesia

untuk

lepas

dari

penjajahan Jepang dengan memproklamirkan kemerdekaannya oleh


Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus
1945.
Dengan adanya Proklamasi tersebut, berarti pula bahwa sejak saat
itu bangsa Indonesia telah mengambil keputusan untuk menetukan dan
melaksanakan hukumnya sendiri, yaitu hukum bangsa Indonesia dengan
tata hukumnya yang baru yakni Tata Hukum Indonesia. Hal itu dinyatakan
dalam :
8 Abdoel Djamali, hlm. 57
15

a) Proklamasi Kemerdekaan : Kami bangsa Indonesia dengan ini


menyatakam kemerdekaan Indonesia
b) Pembukaan UUD Dasar 1945: Atas berkat rahmat Allah Yang Maha
Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia
menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian
daripada
itu,
................................

disusunlah

kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu Undang undang Dasar


Negara Indonesia ................
Sebagai bangsa yang merdeka, untuk melaksanakan
kemerdekaanya maka memerlukan wadah organisasi bangsanya dalam
bernegara. Pada tanggal 18 Agustus 1945 bangsa Indonesia telah
menetapkan dan memberlakukan sebuah UUD yang merupakan hasil dari
perumusan dan penyelidikan lembaga yang dibuat oleh Balatentara
Jepang sebagai janjinya umtuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa
Indonesia suatu saat dengan membentuk Lembaga bernama Dokuritsu
Zyunbi Choosakai(BPUPKI) yang telah menghasilkan rumusan UUD
Negara, yang kemudian hasil rumusan UUD Negara oleh BPUPKI itu,
setelah kemerdekaan bangsa Indonesia rumusan itu ditetapkan oleh PPKI
menjadi

UUD

dasar Negara

Republik

Indonesia

satu

hari

setelah

kemerdekaanya. Dimana sejak saat itu mulailah dilaksanakan hasil


perjuangan

kemerdekaan

bangsa

tersebut

dengan

tata

sususnan

kenegaraan berpedomankan kepada UUD yang telah ditetapkan oleh PPKI


yang kemudian dikenal dengan sebutan UUD 1945.
Selama kemerdekaanya bangsa Indonesia dalam menjalankan roda
pemerintahanya sampai saat ini mengalami pasang surut yang di
dalamnya memiliki dinamika politik hukum sebagai produk kebijakankebijakan Negara. Meskipun keadaan hukum di Indonesia pada waktu
bangsa kita memproklamirkan kemerdekaanya, masih tidak memilik
produk-produk hukum yang telah diciptakan bangsa sendiri. Dalam
ketentuan UUD 1945 yang batang tubuhnya terdiri dari 16 bab bab dan 37
pasal itu telah memberikan rumusan politik hukum Indonesia merdeka.
Namun untuk sementara, karena lembaga tingi Negara yang harus
16

dibentuk sesuai amanat UUD 1945 waktu itu belum bisa menjalankan
fungsinya dan jangan sampai terjadi kekosongan dalam bidang hukum,
maka disebutkan dalam pasal II Aturan Peralihan menyatakan : segala
badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama
belum diadakan yang baru menurut Undang-undang Dasar imi
Dengan pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 ini kekosongan hukum
dapat diatasi ;berarti bahwa aturan-aturan hukum yang berlaku pada
jaman Balatentara Jepang masih tetap berlaku. Sedangkan pemerintahan
jaman Balatentara Jepang memberlakukan aturan - aturan hukum yang
berlaku sebelumnya, yakni pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Untuk

melihat

perkembangan

tata

hukum

Indonesia

setelah

kemerdekaanya dari belenggu penjajahan bangsa lain mendasar pada


ketentuan normative UUD 1945 sampai sekarang; maka akan didapatkan
masa penyelenggaraan pemerintahan Indonesia merdeka sebagai roda
dan dinamikanya menerapkan tata hukum Indonesia sebagai kebijakan
politik

hukum yang akan terbagi menjadi 3 masa pemerontahan

Indonesia merdeka ,yaitu 1) masa Orde Lama ; (2) masa Orde; dan (3)
masa Orde Reformasi .
1. Masa Orde Lama
Masa

pemerintahan

Orde

Lama

dibawah

pimpinan

Presiden

Soekarno dan Moh.Hatta sebagai wakil Presiden yang ditetapkan pada


tanggal 18 Agustus 1945 bersamaan dengan penetapan UUD 1945 satu
hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dipilih secara
aklamasi oleh PPKI, Sejak tanggal 18 Agustus 1945 itu tata hukum positif
di Indonesia adalah system hukum yang tersusun atas subsistem hukum
adat, subsistem hukum Islam dan subsistem hukum Barat.
Yang dimaksud dengan subsistem hukum Islam disini adalah
perangakat kaedah hukum Islam yang dalam tata hukum Hindia Bekanda
berlaku sebagai hukum positif bagi golongan pribumi yang beragama
Islam dan yang disamakan, baik melalui resepsi kedalam hukum adat
maupun karena penetapan aturan perundang-undangan Hindia Belanda
17

sedangkan yang dimaksud dengan subsistem hukum Barat adalah


berbagai perangkat kaedah hukum yang berlaku bagi golongan Eropa dan
yang

disamakan,

yakni

sama

peraturan

perundang-undangan

dan

yurisprudensi yang terbentuk pada masa interregnum pendudukan


Balatentara Jepang masih berlaku berdasarkan Osamau seirei NO.1 Tahun
1942 dengan sejumlah perubahan yang terjadi pada masa interregnum itu
.9
Dalam penerapan kehidupan bernegara pada masa ini mengalami sebuah
dinamika politik yang selama pemerintahan presiden Soekarno pada masa
Orde Lama dalam menjalankan UUD 1945 menemukan pasang surutnya.
Dinamika politik itu yang berbentuk politik hukum pemerintahan dapat
diklasifikasikan pada beberapa penerapan masa kebijakan politik hukum
pemerintahan yang terbagi menjadi 3 peridoe yaitu : (i) periode 19451950 ; (ii) periode 1950-1959 ; dan (iii) periode 1959-1965. Dari
pembagian politik hukum pemerintahan pada masa Orde Lama lebih
lanjut dalam pembahasan berikut ini.

1. Periode 1945-1950 ( Masa UUD 1945 ke 1 )


Perubahan penting dalam bidang penyelenggaraan hukum pada
masa ini adalah penyederhanaan dan unifikasi badan pengadilan ke
dalam pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung,
dengan menunjukan hukum acaranya. Hal ini dilakukan dengan UU No.7
Tahun 1947 tentang Organisasi dan Kekuasaan Mahkamah Agung yang
kemudian diintegrasikan ke dalam UU no 19 Tahun 1948 tentang Susunan
dan kekuasaan Badan-badan kehakiman dan kejaksaan. Yang pada
dasarnya merupakan kelanjutan atau penyempurnaan dari apa yang
dilakukan

oleh

pemerintah

penduduk

Balatentara

Jepang

,dimana

bertujuan untuk memisahkan fungsi eksekutif dan fungsi yudikatif.10


9 Mohammad Najih ,op.cit.,hlm.36
10 Ibid.,hlm 37
18

Disebutkan dalam pasal 6 ayat (1) UU No.19 Tahun 1948 itu ditetapkan
bahwa dalam Negara Republik Indonesia terdapat tiga lingkungan, yakni
Peradilan

umum,

Peradilan

Tata

Usaha

Negara,

dan

Peradilan

Ketentaraan Disebutkan lebih lanjut dalam pasal 7 UU tersebut


menetapkan bahwa Kekuasaan kehakiman dalam lingkungan peradilan
umum dilaksanakan oleh peradilan Negeri untuk pemeriksaan tingkat
pertama, pengadilan Tinggi untuk pemeriksaan tingkat banding ,dan
Mahkamah Agung sebagai badan kehakiman tertinggi (Pasal 30 ayat (1))
untuk pemeriksaan tingkat kasasi.
Undang-undang itu menetapkan bahwa dalam tiap Kabupaten
sekurang-kurangyna terdapat satu pengadilan Negeri (pasal 31 ayat (1) ),
dan sekurang-kurangnya satu pengadilan Tinggi dalam satu Provinsi Pasal
41). Dalam tiap wilayah hukum pengadilan Negeri terdapat satu kejaksaan
Negeri (pasal 32 ayat (2) ) dan dalam tiap wilayah hukum pengadilan
Tinggi terdapat satu kejaksaan Tinggi (pasal 42 ayat (2) ) dan di samping
Mahkamah Agung terdapat kejaksaan Agung pasal 30 ayat (2) ). 11 Dengan
demikian

tampaknya

dalam

peraturan

Undang-undang

ini

mengungkapkan sikap dan kehendak untuk mengunifikasikan badan


peradilan yang mencerminkan semangat persatuan nasional. Reorganisasi
badan peradilan pada masa ini dapat di pandang sebagai strategi politik
untuk mempersatukan Indonesia di bawah satu kekuasaan nasional.
Namun sayangnya hal itu tidak berlangsung lama, karena adanya agresi
militer Belanda I dan II yang membonceng dari pasukan Sekutu di bawah
pimpinan tentara Inggris untuk mengembalikan roda pemerintahan
kolonial Hindia Belanda di Indonesia, yang menyebabkan pecahnya
perang kemerdekaan. Perang kemerdekan berakhir pada bulan Desember
1949 dengan konferensi Meja Bundar yang dikenal dengan sebutan KMB
di Den Haag, yang menyebabkan terjadinya perubahan ketata-negaraan
di Indonesia, yakni dari Negara kesatuan menjadi Negara federal dengan
diberlakukannya Konstitusi Republik Indonesia Serikat (Konstitusi RIS).
Keberadaan Negara federal ini hanya berlangsung 8 bulan, yaitu pada
11 Ibid.,hlm 37
19

tanggal

17 Agustus

1950, melalui UU Faderal No. 7 Tahun 1950

,Konstitusi RIS diganti dengan Undang-undang Dasar Sementara (UUDS)


tahun 1950 yang menghadirkan kembali Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI)
2. Periode 1950-1959 (Masa UUDS 1950 15 Agustus 1950 5 Juli
1959 )
Setelah berlakunya UUDS 1950, pemerintah melaksanakan berbagai
usaha pembenahan penyelenggaraan kehidupan bernegara. Salah satu
pembenahan yang dianggap sebuah keberhasilan pada masa ini ialah
pemerintah sudah dapat menciptakan sejumlah peraturan perundangundangan juga pemerintah berhasil melaksanakan pemilihan umum
dengan baik yang dilakukan secara demokratis, dengan menghasilkan
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan terbentuknya Badan Komstituante.
Dimana UUDS 1950 menetapkan bahwa Republik Indonesia adalah
Negara hukum yang demokratis dan terbentuk Negara kesatuan dengan
desentralisasi dan dekonsentrasi (Pasal 1 jo. Pasal 35 dan Pasal 131 ),
serta menganut sistem pemerintahan parlementer (pasal 83 jo.Pasal 84
dan 85 ) dan sistem multi partai yang liberalistik.
Pada periode ini ,langkah penting pada bidang penyelenggaraan
hukum adalah diperlakukanya UU Darurat No.1 Tahun 1951 tentang
tindakan-tindakan sementara untuk menyelenggarakan kesatuan susunan
kekuasaan

dan

acara

kedudukan

hakim

pengadilan-pengadilan

disertakan

dengan

Sipil.

kedudukan

Dalam
penuntut

UU

ini,

umum.

Berdasarkan ketentuan-ketentuan ini ( yang dapat dipandang sebagai


perumusan politik hukum), maka yang dikehendaki UUDS 1950 adalah
kodifikasi untuk beberapa bidang hukum tertentu tanpa secara eksplisit
mengharuskan unifikasi hukum. Sehubungan dengan hal ini, di kalangan
para ahli hukum Indonesia mengalami perdebatan berkenaan dngan
sistem kodifikasi dengan sistem unifikasi hukum yang ada.
Dimana pada masa ini, hanya hukum proseduralnya saja yang
sudah terunifikasi, sedangkan hukum subtantifnya masih tetap pluralistis
20

seperti pada saat kemerdekaan diproklamasikan 12. Sehingga aturan


hukum yang menunjukan pada proses seperti itu apabila dipandang dari
sudut proses politiknya, dapat dikatakan bahwa tatanan hukumnya
memperlihatkan ciri-ciri tatanan hukum otonomius. Tatanan hukum
yang memperlihatkan ciri-ciri tatanan hukum otonomius yang dalam
dinamikanya memunculkan tatanan poitik Demokrasi Terpimpin. Latar
belakang konsepsi demokrasi terpimpin dimunculkan oleh presiden
soekarno atas kekhawatiran terhadap masa depan bangsa Indonesia
dalam menjalankan roda pemerintahan yang mengalami kebuntukan
politik yang waktu itu sulit untuk dipertemukan, terutama di antara
kepentingan yang ada pada pengumpulan ideologi Nasionalis, Islamisme
dan Konomisme.
Pertentangan ideology yang sulit dikompromikan terutama yang berada
pada

Badan

Konstituante

ketika

melakukan

pembahasan

sidang-

sidangnya untuk melakukan perumusan dan pembahasan UUD Negara


sebagai pengganti dari UUDS 1950 sebagai amanat dari pemilihan umum
yang diselenggarakan pada tahun 1955, yang memang dipilih untuk
menjalankan amanat itu (yakni membuat UUD untuk melakukan Negara
yang tetap). Karena sulitnya untuk mempertemukan lumpuhnya Badan
Konstituante. Melihat hal ini dengan anggapan stabilitas Negara sangat
terancam, menciptakan peluang dan mendorong Presiden Soekarno,
dengan dukungan Angkatan Darat, untuk melakukan Dekrit Presiden
dengan memberlakukan kembali UUD1945 dan membubarkan Badan
Konstituante pada tanggal 5 juli 1595.
3. Periode 1959-1965
Perkembangan politik hukum pada masa demokrasi terpimpin,
setelah dikeluarkan dekrit presiden 5 juli 1959, awal mula lahirnya
gagasan

penyelenggaraan

pemerintahan

berdasarkan

demokrasi

terpimpin yang dimunculkan oleh presiden Soekarno. Produk perundangundangan

ada

masa

demokrasi

terpimpin

yang

penting

dalam

12 Ibid.,hlm 38
21

pertumbuhan tatanan hukum Indonesia adalah UU No.5 tahun 1960


tentang peraturan dasar pokok-pokok agrarian (UUPA), yang sekaligus
menyatakan sebagian besar Pasal-pasal yang tercantum dalam buku II
KUH perdata tidak berlaku lagi.
Pada tahun 1960 itu juga menteri kehakiman Sahardjo menerbitkan
Kepurusan yang mengganti lambang hukum Dewi justisia dengan
Pohon beringin dengan selokan Pengayoman . Kemudian pada tahun
1962, Sahardjo dalam suatu sidang badan perancang dari lembaga
pembinaan hukum nasiona , yang dibentuk pada tahun 1958 dan dibentuk
kembali

pada

tahun

1961

yang

sebelumnya

pernah

lembaga

ini

dibubarkan oleh presiden , dimana Sahardjo mengusulkan untuk tidak


memandang Burgelijk Weetboek dan Weetboek van koovandel sebagai
kitab undang-undang lagi , melainkan hanya sebagai sumber hukum
(Rechtsboek) yang memuat kaidah-kaidah hukum dan komentar terhadap
hukum tidak tertulis yang berlaku diseluruh pelosok bumi nusantara.
Pandangan Sahardjo ini kemudian diperkuat oleh Mahkamah Agung
atau (Wirjono Prodjodikoro) dengan mengeluarkan Surat Edaran Ketua MA
tertanggal 5 September 1963 kepada semua ketua pengadilan negeri dan
pengadilan

tinggi

dikemukakan

diseluruh

bahwa

Indonesia.

Burgelijk

Weetboek

Dalam
dibuat

Surat

Edaran

oleh

dan

itu
demi

kepentingan Belanda dan sehingga dalam zaman kemerdekaan sudah


tidak layak lagi dipandang sejajar dengan UU secara resmi berlaku di
Indonesia. Karena itu, pandangan untuk memandang Bugerlijk Weetboek
sebagai

buku

hukum

saja

seperti

yang

disarankan

oleh

Menteri

Kehakiman Sahardjo akan memberikan keleluasan kepada para hakim


untuk

mengesampingkan

Pasal

yang

tercantum

didalamnya

yang

dipandang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Tanpa harus


menunggu pencabutannya secara resmi, Surat Edaran itu ditutup dengan
menyebutkan secara eksklisit beberapa Pasal yang oleh MA dianggap
sudah tidak berlaku lagi, yakni Pasal-pasal : 108,110,184 ayat (3) .
1238.1460.1579,1603 x ayat (1 dan 2),serta 1682

13

13 Ibid.,hlm 40
22

Selain

itu,

produk

perundang-undangan

dalam

periode

demokrasi

terpimpin yang penting dalam kaitan dengan penyelenggaraan hukum,


secara tajam mengungkapkan sifat tatanan hukumnya adalah UU No.19
tahun 1964 tentang pokok-pokok kekuasaan kehakiman. Disebutkan
dalam Pasal 19 UU tersebut, menetapkan bahwa Demi kepentingan
revolusi, kehormatan bangsa dan Negara atau kepentingan masyarakat
yang sangat mendesak, presiden dapat turun atau campur tangan dalam
soal-soal peradilan. ketentuan dalam UU ini berdampak besar terhadap
proses penyelenggaraan peradilan dan merosotnya kehidupan hukum di
Indonesia karena dengan ketentuan tersebut membuka jalan bagi
eksekutif (terutama presiden) untuk mencampuri proses peradilan dengan
alasan kepentingan revolusi , yang didalam praktik berdampak selain
melemahkan posisi, juga mempercepat proses demoralisasi para halim
dan penegak hukum lainya .
Kondisi seperti ini sepanjang pelaksanaan demokrasi terpimpin yang
dicanankan oleh presiden Soekarno, sebagai salah satu usaha untuk
mengatasi pertentangan ideology dan untuk menyelesaikan revolusi,
dalam praktiknya menjurus pada pola kehidupan politik yang semakin
otoriter. Konflik-konflik politik menjurus menjadi pertentangan tentang
ideologis antara kekuatan komunis (yang bermuara pada PKI) melawan
dengan kekuatan nasionalis dan agamis (yang bermuara pada PNI dan
Masyumi) yang didukung oleh angkatan bersenjata (terutama angkatan
daerah). Konflik antara kekuatan komunis dengan nonkomunis (terutama
PKI dengan angkatan darat), akhirnya meletup dalam bentuk usaha
kudeta PKI yang disebut dengan gerakan 30 September (G.30.S/PKI) yang
gagal.

Kegagalan

kudeta

pemerintahan.Demokrasi

G.30.S/PKI

terpimpin

itu

yang
sejak

mengakhiri
1959,

roda

sehingga

menampilkan pemimpin-pemimpin baru dan kekuatan-kekuatan politik


anti komunis yang dalam pernyataanya berkomitmen pada cita-cita
pembaharuan seluruh bidang kehidupan berbangsa dan bernegara
dengan melaksanakan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan
konsekuen.

23

2. Masa Orde Baru


Setelah Kudeta G.30.S/PKI berhasil digagalkan, kemudian sejak
terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966 yang sering dikenal dengan
sebutan supersemar, maka dimulailah suatu babak baru dalam
perjalanan

sejarah

kehidupan

bangsa

Indonesia,

yang

kemudian

menyebutkan diri sebagai pemerintahan Orde Baru. Pemerintahan Orde


Baru berkeinginan dengan semangat perjuangan untuk mewujudkan
pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Untuk mewujudkan
itu,

pemerintah

Orde

Baru

menyuarakan

keinginan

itu

untuk

mewujudkannyaa dalam negara hukum dengan rule of lawnya dan


pemerintahan yang kuat, bersih, dan berwibawa. Sehingga dalam
penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam tambuk
pemerintahan dilaksanakan dengan mengacu pada kebijakan stabilisasi
politik dan ekonomi.
Dalam kerangka kabijakan itu, maka pemerintahan Orde Baru
merumuskan kebijakannya dalam Pembangunan Jangka Panjang I pada
tahun 1069 dengan rangkaian pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima
Tahun ( Repelita ), setelah terlebih dahulu diundangkan UU tentang
Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 1967 ( UU No. 1 Tahun 1967 )
dan Undang undang tentang penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
pada tahun 1968 ( UU No. 6 Tahun 1968 ). Kebijakan PJP I sangat menitik
beratkan pada pembangunan Ekonomi, karena pada saat itu situasi
ekonomi sangat buruk (inflasi angka mencapai 600%). Sehingga untuk
kelancaran pembangunan dan stabilitas ekonomi itu mensyaratkan
adanya stabilitas politik.
Sehubungan dengan itu, maka dapat dikatakan bahwa otoritas
politik pada masa ini , terutama bertumpu pada tingkat legitimasi
pembangunan/

stabilitas

ekonomi

dan

stabilitas

politik,

dengan

pendekatan keamanan ( security approech) terhadap berbagai masalah


kemasyarakatan.

Kebijakan

pembangunan

pada

masa

Orde

Baru

sebagaimana yang ditetapkan dalam GBHN ,yang sering dikenal dan

24

sangat

populer

pada

masa

itu,

yang

disebut

dengan

Trilogi

Pembangunan , yang terdiri atas :


a) Pemerataan Pembangunan yang hasil hasilnya kemakmuran
yang berkeadilan sosial bagi sekuruh rakyat Indonesia.
b) Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
c) Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis
Dengan mengacu pada Trilogi Pembangunan dengan prioritas
pembangunan ekonomi dan stabilitas politik, sejak GBHN 1973 sampai
dengan GBHN 1993, sasaran pembangunan selalu dibagi ke dalam 4
bidang , yaitu :
a) Bidang ekonomi
b) Bidang Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Ynag Maha
Esa, dan sosial budaya
c) Politik, aparatur pemerintah, hukum, dan hubungan luar
negeri
d) Pertahanan keamanan nasional
Pola pembagian sasaran pembangunan dalam GBHN tersebut, yang
menempatkan pembangunan hukum sebagai salah satu sektor dari
pembangunan bidang politik, maka tampak bahwa tatanan hukum lebih
dipandang sebagai subsistem dari tatanan politik., yang berarti bahwa
tatanan hukum disubordinasikan dari tatanan politik. Hal ini juga berarti
memandang hukum hanua sebagai instrumen saja.
Semua

itu

menunjukkan

bahwa

tatanan

hukum

masih

memperlihatkan sisa ciri tatanan hukum yang bersifat represif yang


merupakan tatanan politik dari masa Demokrasi Terpimpin. Walaupun
penempatannya disubordinasikan di bawah subsistem politik, namun dari
sudut politik hukum, GBHN sejak 1973sampai dengan 1993 itu tetap
menyandang makna penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara
sebagai payung hukumnya. Sebab, dengan demikina berarti bahwa
negara sudah meletakkan garis besar politik hukumnya secara eksplisit.
Hal ini diwujudkan secara sistematis dengan diciptakan berbagai produk

25

UU (organik) untuk melaksanakan berbagai ketentuan yang tercantum


dalam uud 1945 sebagai dasar hukum yang tertinggi.
Penuangan dalam bentuk perundang undangan organik ditentikan
berdasarkan ketentuan ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 jo. Ketetapan
MPR No.V/MPR.1973 tentang Tata Urutan Perundang Undangan sebagai
pelaksana dari amanat UUD 1945 .Ketentuan tata urutan perundang
undangan

merupakan

konsekuensi

pemerintah

Orde

Baru

yang

berkeinginan memjalankan dan mewujudkan cita cita Pancasila dan UUD


1945 secara murni dan konsekuen. Hierarki tata urutan perundang
undangan pada masa pemerintahan Orde Baru yaitu :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Undang undang Dasar 1945


Ketetapan MPR
Undang undang Perpu
Peraturan Pemerintah
Keputusan Presiden
Peraturan Pelaksanaan lainnya:
a) Intruksi Menteri
b) Dan lain lain.

Kemudian dalam perkembangannya pada masa pemerintahan Orde


Baru mulai terjadi perubahan paradigma politik hukum sejak tahun 1993
sampai

1997.

Di

mana

pembangunan

hukum

dikeluarkan

dari

pembangunan politik dan ditempatkan sebagai bidang tersendiri. Dengan


itu sekaligus secara formal GBHN 1993 1998 itu membuka jalan bagi
tampilnya pandangan yang tidak lagi melihat tatanan hukum sebagai
subsistem dari tatanan politik dari sistem nasional Indonesia, melainkan
pandangan yang melihat tatanan hukum sebagai subsistem dari sistem
nasional.Namun dalam kenyataannya pemerintahan Orde Baru masih
mencerminkan tatanan hukum yang masih bercirikan tatanan hukum yang
represif dalam mengimplementasikan kebujakan kebijakan hukumnya.
Hal itu dapat dilihat dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1993 tentang
GBHN, disebutkan sasaran pembangunan nasional dibagi ke dalam 7
bidang, yaitu :
1) Bidang ekonomi
26

2) Bidang kesejahteraan rakyat, pendidikan, dan kebudayaan


3) Bidang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa
4) Bidang ilmu pengerahuan dan teknologi
5) Bidang hukum
6) Bidang polotik, aparatur negara, penerangan, komunikasi dan
media massa
7) Bidang pertahanan keamanan
Dalam pembidangan ini, terkait dengan perkembangan politik
hukum sebagai kebijakan negara pada masa pemerintahan Orde Baru,
pembangunan hukum dikeluarkan dari pembangunan bidang politik dan
ditempatkan sebagai bidang tersendiri.
Namun dalam perjalanan penerapan kebijakan hukum pada masa
pemerintahan

Orde

Baru

untuk

mewujudkan

pemerintahan

yang

berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen tidak
dapat terimplementasikan dengan baik dan benar.
Justru

sebaliknya,

penyelenggaraan

pemerintahan

Orde

Baru

menyalahgunakan ketentuan peraturan perundang undangan demi


suatu kekuasaan. Penyimpangan rezim orde baru terhadap praktek
praktek ketatanegaraan dengan melakukan penafsiran paradigma UUD
1945

melalui

konsepsi

integralistik

sebagai

acuan

dasar

dalam

pemangunan politik. Di mana konsepsi negara integralistik dipahami


sebagai kedaulatan negara yang sepenuhnya ada di tangan Presiden
sebagai

pemangku

kekuasaan

negara,

untuk

dipergunakan

demi

kesejahteraan dan kemekmuran rakyat. Tetapi yang terjadi dalam sistem


ketatanegaraan dalam menjalankan kebijakan politik hukumnya selama
itu jauh dari cita cita negara demokrasi yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945, yaitu munculnya kekuasaan negara yang sangat kuat dan
tanpa kontrol, khususnya pada lembaga eksekutif.
Keterpurukan kondisi sistem ketatanegaraan yang dibangun pada
masa Orde Baru mencapai puncaknya ketika diiringi dengan munculnya
krisis ekonomi yang melanda dunia perekonomian bangsa Indonesia dan
negara negara Asia. Keterepurukan bangsa Indonesia menggugah
27

komponen generasi anak bangsa untuk melakukan perbaikan sistem


ketatanegaraan yang dibangun oleh pemerintah Orde Baru di bawah
Presiden Soeharto, dengan melalui gerakan reformasi yang dipelopori oleh
Gerakan Mahasiswa dan para cendekiawan Indonesia untuk menurunkan
Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan. Gerakan reformasi mencapai
puncak keberhasilannya melaui tuntutannya itu, ketika Presiden Soeharto
menyatakan diri untuk mundur dari jabatan Presiden RI pada tanggal 21
Mei 1998.
3. Masa Orde Reformasi
Keberhasilan gerakan reformasi ialah karena adanya semangat yang
satu dari komponen anak bangsa untuk menuntut reformasi politik di
dalam

sistem

ketatanegaraan

Indonesia.

Reformasi

politik

suatu

keniscayaan, ketika bangsa Indonesia berkeinginan untuk melakukan


perbaikan sistem kehidupan bernegara. Karena hal ini bercermin dari
sistem ketatanegaraan yang dibangun pada masa pemerintahan Orde
Baru tidak mencerminkan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara
yang demokratis. Dengan keberhasilan tingkat reformasi politik, yang
dibuktikan dengan adanya amandemen konstitusi (UUD 1945) sebagai
arah kebijakan hukum yang diambilnya, di mana selama pemerintahan
Orde Baru sangat disakralkan. Maka politik hukum yang terpenting pada
masa Orde Reformasi adalah diambilnya suatu keputusan politik untuk
melakukan peubahan UUD 1945.
Amandemen konstitusi yang dilakukan 4 kali perubahan (1999
2000 ) oleh MPR itu ialah dapat dikemukakan dalam perubahan UUD 1945
secara keseluruhan yang terdiri dari 16 bab dan 37 pasal sebelum
dilakukan amandemen. Jika dihitung dalam bagian bagian terkecil terdiri
dari 65 butir termasuk di dalamnya bab, pasal, dan ayat. Dari 37 pasal
UUD 1945 yang asli hanya 5 pasal yang tidak disentuh perubahan, yakni
Pasal 4 tentang Kekuasaan pemerintahan, Padal 10 tentang Presiden
Memegang Kekuasaan Tertinggi atasAngkatan Darat, Angkatan Laut,
Angkatan Udara, Pasal 12 tentang Presiden menyatakan Keadaan Bahaya,

28

Pasal 29 tentang Agama, dan Pasal 35 tentang Bendera. Sisanya,


sebanyak 33 pasal, diubah dan ditambah.14
Sedangkan dari butir butir perubahan UUD 1945 terdiri dari 65
butir yang kemudian bertambah menjadi 197 butir. Dari jumlah itu 20
butir diantaranya tetap, 43 butir diubah, dan 128 butir merupakan
tambahan baru. Dengan demikian, komposisi UUD 1945 dengan 4 kali
perubahan dalam satu rangkaian yang merupakan bentuk politik hukum
pada masa era reformasi yang diakhiri dengan disahkannya perubahan
keenpat UUD 1945 pada sidang tahunan MPR Tahun 2002 yang lau, maka
susunan UUD 1945 memiliki susunan sebagaimana berikut ini :
1)
2)
3)
4)
5)

Undang Undang Dasar 1945 naskah asli


Perubahan Pertama Undang Undang Dasar 1945
Perubahan Kedua Undang Undang Dasar 1945
Perubahan Krtiga Undang Undang Dasar 1945
Perubahan Keempat Undang Undang Dasar 1945.

Dalam amandemen UUD 1945 yang telah dilakukan MPR selama 4 kali
perubahan dapat digolongkan menjadi dua bagian persidangan , yaitu :
1) Sidang umum MPR tahun 1999 telah dirumuskan 9 pasal perubahan
(

dalam

amandemen

pertama

)yang

semuanya

menyangkut

pembatasan kekuasaan presiden meliputi pasal 5,7,9,13,14, 15, 17,


20, dan 21.
2) Sidang tahunan MPR yang terbagi dalam 3 persidangan , yaitu :
a) tahun 2000 telah dirumuskan 25 pasal perubahan
( amandemen kedua ) yang kesemuanya menyangkut tentang
Pemerintahan Daerah dan Hak Asasi Manusia, serta sedikit
menyinggug kekuasaan dan Kewenangan DPR dan Masalh
Kewarganegaraan,

Pertahanan

dan

Keamanan,

Bendera,

Bahasa dan Lambang Negara yang meliputi : Pasal 18, 18A,


18 B, 19, 20, 20A, 22A, 22B, 25E, 26, 27, 28A, 28J, 30 dan
36A-36C.

14 Soimin & Sulardi, Hubungan Badan Legislatif dan Yudikatif Dalam Sistem
Ketatanegaraan Indonesia , UMM Press, Malang, 2004, hlm.23
29

b) Sidang tahunan MPR tahun 2001 telah dirumuskan 23 pasal


perubahan

amandemen

ketiga

yang

semuanya

menyangkut tentng bentuk dan kedaulatan , serta sistem


pemerintahan yang meliputi : Pasal 1, 3, 6, 6A, 7A-7C,
8,11,17, 22C-22E, 23, 23 A, 23 C, 23E, 23 G, 24, 24A-24C.
c) Sidang Tahunan MPR tahun 2002 telah dirumuskan 13 pasal
perubahan dengan 3 aturan peralihan dan pasal Aturan
Tambahan ( dalam amandemen keempat ) yang semuanya
menyangkut tentang lembaga Kepresidenan dan Lembaga
Perwakilan yang belum terbahas dala amandemen ketiga ,
serta penghapusan lembaga negara DPA dan Pelembagaan
Biyang

diikuti

dengan

permasalahan

pendidikan

dan

Kebudayaan serta Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan


Sosial yang meliputi : Pasal 2, 6A, 8, 11, 16, 23B, 23D, 24, 31,
32, 33, 34, 37, I-IIIAP dan I-II AT

BAB III
PENUTUP

30

A. KESIMPULAN
Hukum di Indonesia sangat erat hubungannya dengan sejarah
perkembangan Indonesia, di mulai dari fase prakolonial, fase kolonial,
hingga

fase

kemerdekaan.

Proses

terbentukmnya

hukum

terus

berkembang dan mengalami perubahan pada tiap tiap fasenya.


Pada fase prakolonial, Indonesia yang masih dikenal dengan wilayah
Nusantara, manusia berkembang dan masuknya kebudayaan dari luar,
hubungan antar pulau mulai terjalin. Maka terjadilah kehidupan kelompok
sosial yang mulai teratur di bawah kekuasaan seseorang atau beberapa
orang yang dianggap kuat dan mampu untuk menjalankan pengawasan
dalam pergaulan hidup masyarakat. Pengawasan dilakukan pada tiap
tiap wilayah masing masing kelompok sosial masyarakat yang masing
masing tersebar di seluruh kepulauan Nusantara.
Masa ini adalah masa
kekuasaan raja raja nusantara dari
perkembangan kelompok sosial masyarakat nusantara yang tersebar luas
di seluruh kepulauan nusantara pada kejayaan kejayaan sistem kerajaan
nusantara, yang meliputi : Sriwijaya, Padjajaran, Singosari, Majapahit,
Mataram, Kutai, dan lain sebagainya.
Pada fase kolonial, kita ketahui dengan adanya Masa Vereenidge Ost
Indische Compagnie yang dengan

Octrooi, VOC melakukan ekspansi

penjajahan di daerah-daerah kepulauan nusantara

yang di datangi,

terutama kepulauan Maluku dan menanamkan penekanan dalam bidang


perekonomian dengan memaksanakan aturan-aturan hukumnya yang
dibawa.
Setelah dikuasai oleh pemerintahan Belanda, Indonesia dikuasai oeh
balatentara

Jepang.

Kemudian

Indonesia

memproklamirkan

kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 dan dibentuklah Undang


Undang Dasar 1945 yang mewarnai berbagai macam perubahan hukum
di Indonesia pada masing masing periode.
B. SARAN
Saran kami, agar tugas makalah yang membahas tentang Sejarah
Hukum Indonesia ini dapat diapahami dan dimanfaatkan semaksimal
mungkin oleh pembaca. Sehingga pembaca dapat mengerti apa saja yang
31

terkandung dalam peristiwa peristiwa yang terjadi pada sejarah hukum


di Indonesia baik di fase prakolonial hingga pada fase kemedekaan.
DAFTAR PUSTAKA

Najih, Muhammad dan Soimin, Pengantar Hukum Indonesia, Malang : Setara


Press,2012
Djamali , Abdoel, Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada,1996
Samidjo, Pengantar Hukum Indonesia, Bandung: CV. Armico, 1993
Kansil, C.S.T, Latihan Ujian Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika,
1999
Kansil, C.S.T, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta : Balai
Pustaka, 1989

32