Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Pembahasan tentang proses menua semakin sering muncul dengan
beratambahnya populasi usia lanjut di berbagai belahan dunia. Telah banyak
dikemukaan bahwa proses menua amat dipengaruhi oleh interaksi faktor
genetik dan lingkunganseharusnya dianggap sebagai suatu proses normal dan
tidak selalu menyebabkan gangguan fungsi atau penyaki. Proses penuaan
secara umum terdapat kecenderungan menurunnya kapasitas fungsional baik
pada tingkat selular maupun pada tingkat oragan sejalan dengan proses
menua. Akibat penurunan kapasitas fungsional tersebut, orang lanjut usia
biasanya tidak berespon pada berbagai rangsangan, baik internal maupun
eksternal, sesensitif yang dapat dilakukan orang yang lebih muda.
Menurunnya respon tersebut cenderung membuat oarng usia lanjut sulit untuk
memelihara kestabilan homeostatis tubuh.
Salah

satunya

adalah

inkontinensia

urin

dimana

terjadi

ketidakmampuan seseorang dalam menahan air kencingnya. Inkontinensia


urin merupakan salah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia, batasan
inkontinensia adalah pengluaran urin tanpa disadari, dalam jumlah dan
frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan
atau sosial.

1 SERING NGOMPOL

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pusat pengaturan refleks berkembih diatur di medula spinalis segmen
sakral. Proses berkemih dibagi menjadi 2 fase yaitu fase pengisian dan fase
pengosongan. Pada fase pengisian kandung kemih, terjadi peningkatan
aktivitas saraf otonom simpatis yang menyebabkan penutupan katup leher
kandung kemih, relaksasi dinding kandung kemih, serta penghambatan saraf
parasimpatis. Pada fase pengosongan, aktifitas simpatis dan somatik menutun,
sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor
dan pembukaan leher kandung kemih.

2 SERING NGOMPOL

Proses berkemih normal merupakan proses dinamis yang memerlukan


rangkaian koordinasi proses fisiologik berurutan yang pada dasarnya dibagi
menjadi 2 fase yaitu, fase pengisisan, dengan kandung kemih berfungsi
sebagai reservoar urine yang masuk secara berangsur-angsur dari ureter, dan
fase miksi dengan kandung kemih befungsi sebagai pompa serta menuangkan
urin melalui uretra dalam waktu relatif singkat. Pada keadaan normal selama
fase pengisian tidak terjadi kebocoran urin, walaupun kandung kemih penuh
atau tekanan intraabdomen meningkat seperti sewaktu batuk, meloncat-loncat
atau kencing. Peningkatan isi kandung kemih memperbesar keinginan ini dan
pada keadaan normal tidak terjadi kebocoran di luar kesadaran.
Pada fase pengosongan, isi seluruh kandung kemih dikosongkan sama
sekali. Orang dewasa dapat mempercepat atau memperlambat miksi menurut
kehendaknya secara sadar, tanpa dipengaruhi kuatnya rasa ingin kencing.
Cara kerja kandung kemih yaitu sewaktu fase pengisian otot kandung kemih
tetap relaksasi sehingga meskipun volume kandung kemih meningkat,
tekanan di dalam kandung kemih tetap rendah. Sebaliknya otot-otot yang
merupakan mekanisme penutupan selalu dalam keadaan kontraksi untuk
menutup aliran ke uretra. Sewaktu miksi, tekanan di dalam kandung kemih
meningkat karena kontraksi aktif otot-ototnya, sementara terjadi relaksasi
mekanisme penutup di dalam uretra. Uretra membuka dan urin memancar
keluar. Ada semacam kerjasama antara otot-otot kandung kemih dan uretra,
baik semasa fase pengisian maupun sewaktu fase pengeluaran. Pada kedua
fase itu urin tidak boleh mengalir balik ke dalam ureter (refluks).
Proses berkemih normal melibatkan mekanisme volunter dan
involunter. Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul berada dibawah
kontrol volunter dan disuplai oleh saraf pudenda, sedangkan m. detrusor
kandung kemih dan sfingter uretra internal berada di bawah kontrol sistem
safar otonom, yang mungkin dimodulasi oleh korteks otak. Kandung kemih
terdiri atas 4 lapisan, yakni lapisan serosa, lapisan otot detrusor, lapisan
submukosa dan lapisan mukosa.

3 SERING NGOMPOL

Ketika otot detrusor berelaksasi, pengisian kandung kemih terjadi dan


bila otot kandung kemih berkontraksi pengosongan kandung kemih atau
proses berkemih berlangsung. otot detrusor adalah otot kontraktil yang terdiri
atas beberapa lapisan kandung kemih. Mekanisme detrusor meliputi otot
detrusor, saraf pelvis, medula spinalis dan pusat saraf yang mengontrol
berkemih. Ketika kandung kemih seseorang mulai terisi oleh urin, rangsangan
saraf diteruskan melalui saraf pelvis dan medula spinalis ke pusar saraf
kortikal dan subkortikal. Pusat subkortikal (pada ganglia basal dan
serebelum) menyebabkan kandung kemih berelaksasi sehingga dapat mengisi
tanpa menyebabkan seseorang mengalami desakan untuk berkemih.

4 SERING NGOMPOL

Ketika pengisian kandung kemih berlanjut, rasa penggebungan kandung


kemih disadari, dan pusat kortikal (pada lobus frontal), bekerja menghambat
pengeluaran urin. Gangguan pada pusat kortikal dan subkortikal karena obat
atau penyakit dapat mengurangi kemampuan menunda pengeluaran urin.
Komponen penting dalam mekanisme sfingter adalah hubungan urethra
dengan kandung kemih dan rongga perut.
Mekanisme sfingter berkemih memerlukan agulasi yang tepat antara
urethra dan kandung kemih. Fungsi sfingter urethra normal juga tergantung
pada posisi yang tepat dari urethra sehiingga dapat meningkatkan tekanna
intraabdomen secara efektif ditrasmisikan ke ureter. Bila uretra pada posisi
yang tepat, urin tidak akan keluar pada saat tekanan atau batuk yang
meningkatkan tekanan intraabdomen.
Mekanisme dasar proses berkemih diatur oleh refleks-refleks yang
berpusat di medula spinalis segmen sakral yang dikenal sebagai pusat
berkemih. Pada fase pengisian kandung kemih, terjadi peningkatan aktivitas
saraf otonom simpatis yang mengakibatkan penutupan leher kandung kemih,
relaksasi dinding kandung kemih serta penghambatan aktivitas parasimpatis
dan mempertahankan inversi somatik pada otot dasar panggul. Pada fase
pengosongan,

aktivitas

simpatis

dan

somatik

menurun,

sedangkan

parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor dan


pembukaan leher kandung kemih. Proses reflek ini dipengaruhi oleh sistem
saraf yang lebih tinggi yaitu batang otak, korteks serebri dan serebelum.

5 SERING NGOMPOL

BAB III
PEMABAHASAN
3.1 SKENARIO
SERING NGOMPOL
Ny. L berusia 70 tahun datang ke poli umum RSUD kota M diantar
oleh cucunya. Ny. L mengeluhkan sudah kurang lebih 2 minggu ini tidak
bisa menahan kencing. Bahkan terkadang Ny. L suka mengompol
khususnya pada saat malam hari. Ny. L merasa sangat khawatir dengan
keadaannya saat ini karen Ny. L masih sering bertemu dengan sahabatsahabatnya. Selain itu Ny.L mempunyai riwayar DM dengan gula darah
terkontrol. Tidak ada riwayat trauma sebelumnya. Bagaimana anda sebagai
dokter menjelasakan keadaan ini ?
3.2 PERMASALAHAN
1. Apakah ada hubungan usia dengan keluhan pasien ?
Jawab : semakin bertambahnya usia maka seluruh organ-organ tubuh
fungsinya juga akan semakin menurun terutama seseorang yang sudah
menginjak masa lansia. Pada kasus dalam skanrio organ yang mengalami
penurunan fungsi adalah urinary track. Tidak bisa menhan kencing bisa
diakibatkan karena fungsi sfingter tidak adekuat lagi karena proses aging.
2. Apakah ada hubungan jenis kelamin dengan keluhan pasien ?
Jawab : wanita lebih sering terkena ini disebabkan karena wanita
mengalami penurunan hormon esterogen dan pernah melahirkan. Dimana
jika wnaita sudah pernah melahirkan maka akan mengalami kelemahan
otot-otot dasar panggul.

6 SERING NGOMPOL

3. Apakah ada hubungan menanyakan riwayat trauma dengan keluhan


pasien ?
Jawab : penting menanyakan riwayat trauma, karena bisa saja keluhan
oasien terjadi bukan karena proses penuaan tapi terjadi trauma tulang
belakang yg dapat mengenai saraf yang mempersarafi urinary track.
4. Apakah ada hubungan riwayat DM dengan keluhan pasien
sekarang ?
Jawab : terdapat obat DM yg menyebabkan keluhan pasien.
5. Penyebab tidak bisa menahan kencing ?
Jawab : penyebabnya berbagai macam, seluruh organ berkemih bisa
menyebabkan. Diantaranya terjadi radang pada kandung kemih atau
sistitis, kelemahan otot dasar panggul, trauma yang mengenai saraf tulang
belakang.

3.3 INKONTINENSIA URIN


1) Definisi
Menurut International Continence Society, inkontinensia urin
didefinisikan sebagai keluhan berkemih secara involunter (di luar
kesadaran).
2) Epidemiologi
Perempuan lebih sering mengalami inkontinensia urin daripada
laki-laki dengan perbandingan 1,5:1 . Survei yang dilakukan oleh Divisi
Geriatri Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
di Poliklinik Geriatri RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (2003) terhadap
179 pasien geriatri mendapatkan angka kejadian inkontinensia urin tipe
stres pada laki-laki sebesar 20,5% dan perempuan sebesar 32,5%.
Sedangkan hasil penelitian di India terhadap 3000 wanita berbagai umur
menunjukkan bahwa prevalensi inkontinensia urin sebesar 21,8% dan
42,8% nya memiliki usia 61-70 tahun.
3) Etiologi

7 SERING NGOMPOL

Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi beberapa perubahan


pada anatomi dan fungsi organ untuk berkemih, antara lain melemahnya
otot dasar panggul akibat multigravida, kebiasaan mengejan yang salah,
atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air
seni. Selain itu, adanya kontraksi abnormal dari dinding kandung kemih,
sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan
rasa ingin berkemih.
Penyebab inkontinensia urin antara lain terkait dengan gangguan di
saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat
atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran
kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih,
maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau
uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan terapi estrogen topical. Terapi
perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi.
Inkontinensia urin juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena
berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus,
yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang
berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang
bersifat diuretika seperti kafein.
Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab
produksi urin meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai.
Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik,
trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus
diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet.
Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus
disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik yang
tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena
penyakit yang dideritanya yang menjadi faktor pencetus inkontinensia
urin. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat
jika memungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian
obat.

8 SERING NGOMPOL

Golongan obat yang berkontribusi pada inkontinensia urin, antara


lain, diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergic
alfa, agonic adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik.
Golongan psikotropika seperti antidepresi, antipsikotik, dan sedatif
hipnotik juga memiliki andil dalam inkontinensia urin. Kafein dan alkohol
juga berperan dalam terjadinya inkontinensia urin. Selain hal-hal yang
disebutkan diatas inkontinensia urin juga terjadi akibat kelemahan otot
dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan
(obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina.
Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan
melemahnya

otot

dasar

panggul

karena

tertekan

selama

masa

mengandung.
Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul
rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan
lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urin.
Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia
menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina
dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya
inkontinensia urin. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau
kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko
mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar
kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan
struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.

4) Patofisiologi
Inkontinensia pada usia lanjut bukan merupakan kondisi normal ,
namun merupakan faktor predisposisi terjadinya inkontinensia urin.
Berbagai perubahan anatomis dan fisiologis terjadi pada orang tua.

9 SERING NGOMPOL

Perubahan-perubahan tersebut berkaitan dengan penurunan kadar estrogen


pada perempuan dan hormon androgen pada lak-laki.
Pada dinding kandung kemih terjadi peningkatan fibrosis dan
kandungan kolagen, sehingga mneyebabkan fungsi kontraktil tidak efektif
lagi, dan mudah terbentuk trabekulasi sampai divertikel. Selain itu juga
terjadi atrofi mukosa, perubahan vaskularisasi submukosa, dan menipisnya
lapisan otot uretra, sehingga terjadi penurunan tekanan penutupan uretra .
Dasar panggul mempunyai peran penting dalam mempertahankan
miksi. Melemahnya fungsi dasar panggul disebabkan berbagai faktor
fisiologis dan patologis (trauma, operasi). Perbahan fisiologis dasar
panggul tercantum pada tabel di bawah ini.
Perubahan-perubahan fisiologik terkait Proses Menua pada Saluran Kemih Bawah
Kandung kemih
Perubahan Morfologis
Trabekulasi
Fibrosis
Saraf otonom
Pembentukan divertikula
Perubahan Fisiologis
Kapasitas
Kemampuan menahan kemcing
Kontraksi involunter
Volume residu setelah berkemih
Uretra
Perubahan Morfologis
Komponen seluler
Deposit kolagen
Perubahan Fisiologis
Tekanan penutupan
Prostat
Hiperplasia dan membesar
Vagina
Komponen seluler
Mukosa atrofi
Dasar Panggul
Deposit kolagen
Rasio jaringan ikat-otot
Otot melemah

Secara keseluruhan perubahan akibat proses menua pada sistem urogenital


menyebabkan posisi kandung kemih prolaps sehingga melemahkan tekanan
akhiran kemih keluar.

10 SERING NGOMPOL

Pada usia lanjut biasanya ada beberapa jenis inkontinensia urin yaitu
ada inkontinensia urin tipe stress, inkontinensia tipe urgensi, tipe fungsional
dan tipe overflow. Patofisiologi yang akan dibahas adalah inkontinensia urin
tipe stress dimana inkontinensia urin tipe stres merupakan inkontinensia urin
yang paling banyak dijumai pada perempuan. Ada sebuah penelitian yang
melaporkan bahwa inkontinensia urin stres ternyata tidak hanya disebabkan
oleh kegagalan penyokong ureter tetapi juga karena penutupan leher vesika
yang tidak adekuat dan gangguan pada sestem kendali kontinensia urin
(neuromuskular).
Pemahaman itu memicu kesimpulan bahwa tatalaksana yang diberikan
pada perempuan dengan inkontinensia urin harus disesuaikan dengan jenis
inkontinensia urin dan penyebab kerusakan; sebaiknya tatalaksana ini tidak
disamaratakan untuk semua kasus inkontinensia urin. Untuk lebih memahami
patofisiologinya, inkontinensia urin akan dibahas dengan pendekatan anatomi
dan fisiologi.

11 SERING NGOMPOL

Gambar 1. Tampak lateral mekanisme kontinensia yang memperlihatkan


pendesakan fasia endopelvis menuju fascia arkus tendinosus pelvis dan otot
levator ani.
Irisan lateral organ panggul pada gambar 1 menunjukkan anatomi yang
berkaitan dengan sistem kendali kontinensia. Beberapa komponen penting
yang berperan ialah otot levator ani yang berjalan dari tulang pubis menuju ke
sfingter ani dibalik rectum untuk menyokong organ pelvis. Otot itu berjalan
disebelah lateral fascia arkus tendinosus pelvis yang merupakan fasia
endopelvis yang menghubungkan tulang pubis dengan spina isiadika. Fasia
tersebut cenderung berperan pasif dalam mekanisme kontinensia tetapi
hubungan fascia itu dengan otot levator ani merupakan elemen penting dalam
sistem kendali in. Hubungan tersebut memungkinkan kontraksi aktif otot
pelvis untuk memicu elevasi leher vesika. Aktivitas konstn normal otot
levator ani menyokong leher vesika dalam proses miksi normal.
Salah satu pertanyaan penting ialah bagaimana aparatus itu dapat
menjaga uretra tertutup rapat walaupun tekanan dalam vesika meningkat pada
waktu batuk keras tanpa dapat mendesak urin keluar melalui uretra. Pada
model konseptul dijelaskan bahwa stabilitas lapisan penyokong cenderung
lebih mempengaruhi terjadinya kontinensia dibandingkan dengan tinggi
uretra. Individu dengan lapisan penyokong yang kuat, uretra akan ditekan
antara tekanan abdominal dan fasia pelvis pada arah yang sama. Kondisi

12 SERING NGOMPOL

tersebut diibaratkan saaat seseorang dapat menghentikan aliran air yang


melalui selang taman dengan menginjak selang dan menekan ke arah lantai
keras yang mendasari.
Jika lapisan dibawah uretra tidak stabil dan tidak memberikan tahanan
yang kokoh terhadap tekanan abdominal yang menekan uretra, maka tekanan
yang berlawanan akan menyebabkan hilangnya penutupan dan kerja oklusi
akan berkurang. Kondisi yang terjadi selanjutnya dapat diibaratkan seperti
saat seseorang mencoba menghentikan aliran air melalui selang taman dengan
menginjak selang yang berada di atas tanah liat.

5) Klasifikasi Inkontinensia Urin


a) Inkontinensia Transien
Inkontinensia transien memiliki onset yang mendadak, biasanya
dihubungkan dengan penggunaan obat-obatan atau penyakit akut.
Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak
dapat pergi ke toilet sehingga berkemih tidak pada tempatnya. Bila
delirium teratasi maka inkontinensia urin umumnya juga akan teratasi.
Setiap kondisi yang menghambat mobilisasi pasien dapat memicu
timbulnya

inkontinensia

urin

fungsional

atau

memburuknya

inkontinensia persisten, seperti fraktur tulang pinggul, stroke, arthritis


dan sebagainya. Resistensi urin karena obat-obatan, atau obstruksi
anatomis dapat pula menyebabkan inkontinensia urin. Keadaan
inflamasi pada vagina dan urethra (vaginitis dan urethritis) mungkin
akan memicu inkontinensia urin. Konstipasi juga sering menyebabkan
inkontinensia akut.
Berbagai kondisi yang menyebabkan poliuria dapat memicu
terjadinya inkontinensia urin, seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal
jantung dan insufisiensi vena dapat menyebabkan edema dan nokturia
yang kemudian mencetuskan terjadinya inkontinensia urin nokturnal.
Berbagai macam obat juga dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia

13 SERING NGOMPOL

urin seperti Calcium Channel Blocker, agonist adrenergic alfa,


analgesic narcotic, psikotropik, antikolinergik dan diuretic.
Untuk mempermudah mengingat penyebab inkontinensia urin akut
reversible dapat menggunakan akronim (Resnick 1984) di bawah ini
D : Delirium
I : Infection of urinary tract or other infection
A : Atrophic urethritis and vaginitis
P : Pharmaceutical (diuretics, anticholinergic, antihistamine, Ca
channel blocker)
P : Psychological Problems, especially depression
E :

Excess

urine

output

(eg.

congestive

heart

failure,

hyperglycaemia)
R : Restricted mobility
S : Stool impaction

b) Inkontinensia Urin Persisten


Inkontinensia urin persisten dapat diklasifikasikan dalam berbagai
cara, meliputi anatomi, patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan
praktek klinis, klasifikasi klinis lebih bermanfaat karena dapat
membantu evaluasi dan intervensi klinis. Kategori klinis meliputi :
1. Inkontinensia urin stress (stres inkontinence)
Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya tekanan
intraabdominal, seperti pada saat batuk, bersin atau berolah raga.

14 SERING NGOMPOL

Umumnya disebabkan oleh melemahnya otot dasar panggul,


merupakan penyebab tersering inkontinensia urin pada lansia di
bawah 75 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita tetapi mungkin
terjadi pada laki-laki akibat kerusakan pada sfingter urethra setelah
pembedahan

transurethral

dan

radiasi.

Pasien

mengeluh

mengeluarkan urin pada saat tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah


urin yang keluar dapat sedikit atau banyak.
2. Inkontinensia urin urgensi (urgency inkontinence)
Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan
sensasi keinginan berkemih. Inkontinensia urin jenis ini umumnya
dikaitkan dengan kontraksi detrusor tak terkendali (detrusor
overactivity). Masalah-masalah neurologis sering dikaitkan dengan
inkontinensia urin urgensi ini, meliputi stroke, penyakit Parkinson,
demensia dan cedera medula spinalis. Pasien mengeluh tak cukup
waktu untuk sampai di toilet setelah timbul keinginan untuk
berkemih

sehingga

timbul

peristiwa

inkontinensia

urin.

Inkontinensia tipe urgensi ini merupakan penyebab tersering


inkontinensia pada lansia di atas 75 tahun. Satu variasi
inkontinensia urgensi adalah hiperaktifitas detrusor dengan
kontraktilitas yang terganggu. Pasien mengalami kontraksi
involunter tetapi tidak dapat mengosongkan kandung kemih sama
sekali. Mereka memiliki gejala seperti inkontinensia urin stress,
overflow dan obstruksi. Oleh karena itu perlu untuk mengenali
kondisi tersebut karena dapat menyerupai ikontinensia urin tipe
lain sehingga penanganannya tidak tepat.
3. Inkontinensia urin luapan / overflow (overflow incontinence)
Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan
distensi kandung kemih yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh
obstruksi anatomis, seperti pembesaran prostat, faktor neurogenik
pada diabetes melitus atau sclerosis multiple, yang menyebabkan
berkurang atau tidak berkontraksinya kandung kemih, dan faktor-

15 SERING NGOMPOL

faktor obat-obatan. Pasien umumnya mengeluh keluarnya sedikit


urin tanpa adanya sensasi bahwa kandung kemih sudah penuh.
4. Inkontinensia urin fungsional
Memerlukan identifikasi

semua

komponen

tidak

terkendalinya pengeluaran urin akibat faktor-faktor di luar saluran


kemih. Penyebab tersering adalah demensia berat, masalah
muskuloskeletal berat, faktor lingkungan yang menyebabkan
kesulitan untuk pergi ke kamar mandi, dan faktor psikologis.
6) Diagnosis
a) Anamnesis
Pada inkontinensia urin, pasien datang dengan keluhan sering tidak
dapat menahan kencing sehingga sering kencing dicelana sebelum
sampai ke kamar mandi. Passien juga mengatakan kadang saat tertawa
terbahak, tanpa sadar terkencing-kencing. Sedangkan penyakit jantung,
darah tinggi, kencing manis sebelumnya tidak ada.

b) Pemeriksaan Fisik.
Tujuan pemeriksaan fisik adalah mengenali pemicu inkontinensia
urin dan membantu menetapkan patofisiologinya. Selain pemeriksaan
fisik umum yang selalu harus dilakukan, pemeriksaan terhadap
abdomen, genitalia, rectum, fungsi neurologis, dan pelvis (pada
wanita) sangat diperlukan.
Pemeriksaan abdomen harus mengenali adanya kandung
kemih

yang

penuh,

rasa

nyeri,

massa,

atau

riwayat

pembedahan.
Kondisi kulit dan abnormalitas anatomis harus diidentifikasi

ketika memeriksa genitalia.


Pemeriksaan rectum terutama dilakukan untuk medapatkan
adanya obstipasi atau skibala, dan evaluasi tonus sfingter,
sensasi perineal, dan refleks bulbokavernosus. Nodul prostat
dapat dikenali pada saat pemeriksaan rectum.

16 SERING NGOMPOL

Pemeriksaan pelvis mengevaluasi adanya atrofi mukosa,


vaginitis atrofi, massa, tonus otot, prolaps pelvis, dan adanya

sistokel atau rektokel.


Evaluasi neurologis sebagian diperoleh saat pemeriksaan
rectum ketika pemeriksan sensasi perineum, tonus anus, dan
refles bulbokavernosus. Pemeriksaan neurologis juga perlu
mengevaluasi penyakit-penyakit yang dapat diobati seperti
kompresi medula spinalis dan penyakit parkinson.

c) Pemeriksaan Penunjang
Tes diagnostik pada inkontinensia perlu dilakukan untuk
mengidentifikasi faktor yang potensial mengakibatkan inkontinensia,
mengidentifikasi kebutuhan klien dan menentukan tipe inkontinensia.
Mengukur sisa urin setelah berkemih, dilakukan dengan cara setelah
buang air kecil, pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter diukur
atau menggunakan pemeriksaan ultrasonik pelvis, bila sisa urin > 100
cc berarti pengosongan kandung kemih tidak adekuat.
a) Urinalisis
Dilakukan terhadap spesimen urin yang bersih untuk
mendeteksi adanya faktor yang berperan terhadap terjadinya
inkontinensia

urin

seperti

hematuri,

piouri,

bakteriuri,

glukosuria, dan proteinuria. Tes diagnostik lanjutan perlu


dilanjutkan bila evaluasi awal didiagnosis belum jelas. Tes
lanjutan tersebut adalah:
b) Laboratorium tambahan
Kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin, kalsium glukosa
sitologi.
c) Tes urodinamik
Untuk mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih bagian
bawah.
d) Tes tekanan urethra
Mengukur tekanan di dalam urethra saat istirahat dan saat
dianmis.
e) Radiologi

17 SERING NGOMPOL

Imaging --> tes terhadap saluran perkemihan bagian atas


dan bawah.
7)

Komplikasi
Inkontinensia urin dapat menimbulkan komplikasi infeksi saluran
kemih, lecet pada area bokong sampai dengan ulkus dekubitus karena
selalu lembab, serta jatuh dan fraktur akibat terpeleset oleh urin yang

8)

tercecer.
Penatalaksanaan
Pada umumnya terapi inkontinensia urine adalah dengan cara
operasi. Akan tetapi pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan
terapi konservatif. Latihan otot dasar panggul adalah terapi non operatif
yang paling populer, selain itu juga dipakai obat-obatan, stimulasi dan
pemakaian alat mekanis.
Penatalaksanaan inkontinensia urin menurut Muller adalah
mengurangi faktor resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol
inkontinensia urin, modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis
dan pembedahan.
a) Terapi non farmakologi
Dilakukan dengan mengoreksi

penyebab

yang

mendasari

timbulnya inkontinensia urin, seperti hiperplasia prostat, infeksi


saluran kemih, diuretik, gula darah tinggi, dan lain-lain. Adapun terapi
yang dapat dilakukan adalah:
Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval
waktu berkemih) dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga
frekwensi berkemih 6-7 x/hari. Lansia diharapkan dapat menahan
keinginan untuk berkemih bila belum waktunya. Lansia dianjurkan
untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula setiap
jam, selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin

berkemih setiap 2-3 jam.


Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan

sesuai dengan kebiasaan lansia.


Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia mengenal
kondisi berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas atau

18 SERING NGOMPOL

pengasuhnya bila ingin berkemih. Teknik ini dilakukan pada lansia

dengan gangguan fungsi kognitif (berpikir).


Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksikan
otot dasar panggul secara berulang-ulang. Adapun cara-cara

mengkontraksikan otot dasar panggul tersebut adalah dengan cara :


Berdiri di lantai dengan kedua kaki diletakkan dalam keadaan
terbuka, kemudian pinggul digoyangkan ke kanan dan ke kiri 10
kali, ke depan ke belakang 10 kali, dan berputar searah dan

berlawanan dengan jarum jam 10 kali.


Gerakan seolah-olah memotong feses pada saat kita buang air besar
dilakukan 10 kali. Hal ini dilakukan agar otot dasar panggul
menjadi lebih kuat dan urethra dapat tertutup dengan baik.

b) Terapi farmakologi
Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah
antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine,

flavoxate, Imipramine.
Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu

pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra.


Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol
atau alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi
kontraksi, dan terapi diberikan secara singkat.

c) Terapi pembedahan
Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan
urgensi, bila terapi non farmakologis dan farmakologis tidak berhasil.
Inkontinensia

tipe

overflow

umumnya

memerlukan

tindakan

pembedahan untuk menghilangkan retensi urin. Terapi ini dilakukan


terhadap tumor, batu, divertikulum, hiperplasia prostat, dan prolaps
pelvic (pada wanita).

d) Modalitas lain
Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang
menyebabkan inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat
19 SERING NGOMPOL

bantu bagi lansia yang mengalami inkontinensia urin, diantaranya


adalah pampers, kateter, dan alat bantu toilet seperti urinal, komod dan
bedpan.

Pampers
Dapat digunakan pada kondisi akut maupun pada kondisi
dimana pengobatan sudah tidak berhasil mengatasi inkontinensia
urin. Namun pemasangan pampers juga dapat menimbulkan
masalah seperti luka lecet bila jumlah air seni melebihi daya
tampung pampers sehingga air seni keluar dan akibatnya kulit
menjadi lembab, selain itu dapat menyebabkan kemerahan pada

kulit, gatal, dan alergi.


Kateter
Kateter menetap tidak dianjurkan untuk digunakan secara
rutin karena dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, dan juga
terjadi pembentukan batu. Selain kateter menetap, terdapat kateter
sementara yang merupakan alat yang secara rutin digunakan untuk
mengosongkan kandung kemih. Teknik ini digunakan pada pasien
yang tidak dapat mengosongkan kandung kemih. Namun teknik ini

juga beresiko menimbulkan infeksi pada saluran kemih.


Alat bantu toilet
Seperti urinal, komod dan bedpan yang digunakan oleh
orang usia lanjut yang tidak mampu bergerak dan menjalani tirah
baring. Alat bantu tersebut akan menolong lansia terhindar dari
jatuh serta membantu memberikan kemandirian pada lansia dalam
menggunakan toilet.

9)

Prognosis

Inkontinensia urin tipe sterss biasanya dapat diatasi dengan latihan

otot dasar panggul, prognesia cukup baik.


Inkontinensia urin tipe urgensi atau overactive blader umumnya
dapat diperbaiki dengan obat obat golongan antimuskarinik,
prognosis cukup baik.

20 SERING NGOMPOL

Inkontinensia urin tipe overflow, tergantung pada penyebabnya


(misalnya dengan mengatasi sumbatan / retensi urin).

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN

21 SERING NGOMPOL

Berdasarkan keluhan pasien tidak bisa menahan kencing dan sering


mengopol di malam hari dan faktor usia serta jenis kelamin maka kelompok
kami mendiagnosa Ny. L mengalami inkontinensuia urin. Inkontinensia
urine

adalah

ketidakmampuan

menahan

kencing.

Anamnesis

dan

pemeriksaan fisik yang baik, dengan beberapa prosedur diagnostik yang


diperlukan mempunyai hasil yang baik untuk menegakkan diagnosis
gangguan ini. Inkontinensia pada usia lanjut bukan merupakan kondisi
normal , namun merupakan faktor predisposisi terjadinya inkontinensia urin.
Berbagai perubahan anatomis dan fisiologis terjadi pada orang tua.
Penatalaksanaan dapat dilakaukan yaitu non farnakologi , farmakologi,
pemnbedahan dan modifikasi lain.

DAFTAR PUSTAKA

22 SERING NGOMPOL

Setiati S dan Pramantara IDP. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam .Sudoyo
AW et al. editor. Jakarta : Interna Pulishing ;2009 : 865-875
Santoso BI. Inkontinensia urin pada perempuan. MKI. 2008 Juli; vol
58(no.7): 258-64
Setiati S, Pramantara IDP. Buka ajar ilmu penyakit dalam. Inkontinensia
urin dan kandung kemih hiperaktif. Jilid I. Edisi ke-5. Jakarta:
InternaPublishing; 2009: hal 86575.
Kong TK. Clinical Guidelines on Geriatric Urinary Incontinence.
Desember 2003.

23 SERING NGOMPOL